Docstoc

mempelajari pantai

Document Sample
mempelajari pantai Powered By Docstoc
					MEMPELAJARI PANTAI (STUDYING SHORE)
Pantai merupakan daerah yang tidak asing bagi masyarakat Indonesia karena sebagian besar penduduk bermukim di daerah pesisir. Adanya karakter pantai yang khas seperti semilir angin yang bertiup, deburan ombak, pemandangan matahari terbenam (sunset), pasang surut dan berbagai organisme seperti cangkang kerang-kerangan yang terdampar serta tepian pantai yang berpasir putih menjadi daya tarik seseorang untuk mendatangi dan mempelajari pantai lebih jauh. Pada dasarnya pantai merupakan wilayah yang sangat kompleks sebagai hasil dari berbagai interaksi antara faktor fisik, kimiawi dan biologis. Daerah pantai merupakan wilayah pertemuan antara ekosistem daratan dan lautan sehingga memiliki karakteristik yang spesifik. Dengan demikian pantai menjadi wilayah yang sangat menarik untuk dipelajari karena banyaknya aspek yang dapat dikaji. Akses menuju pantai umumnya sangat mudah karena pantai termasuk wilayah umum yang menjadi milik bersama (common property). Pantai dapat diibaratkan sebagai laboratorium terbuka yang sangat besar dan lengkap sehingga kita dapat mempelajari berbagai bidang ilmu seperti taksonomi, ekologi, biologi laut, evolusi, geologi, oseanografi, kimia, fisika dan lain-lain. Mempelajari pantai termasuk hal yang relatif mudah dan menyenangkan karena adanya stratifikasi yang jelas dari faktor fisik dan biologis, mulai dari daratan yang tidak pernah tergenang oleh pasang tertinggi hingga daerah yang terekspose pada saat surut terendah. Pada pantai berbatu sebagian besar hewan hidup dengan melekat di dasar substrat serta sesekali melakukan pergerakan yang lambat. Identifikasi terhadap jenis hewan dan tumbuhan yang lebih besar akan lebih mudah dilakukan dengan menggunakan pedomen identifikasi. Dalam tulisan ini akan diuraikan bagaimana tahap dan metode yang dapat dilakukan untuk mempelajari pantai. Berbeda dengan pantai berbatu, pantai berpasir dan rataan berlumpur umumnya lebih cepat rusak, misalnya ketika penyaringan dilakukan untuk menghitung hewan infauna. Jenis polychaeta dan bivalvia umumnya sulit dicari karena lebih cepat

meloloskan diri. Pendekatan eksperimen dengan perlakuan terhadap sedimen tanpa merusak sampel dan merubah struktur lingkungan lumpur umumnya begitu rumit karena hewan-hewan yang ada didalamnya sangat berasosiasi dengan badan lumpur sebagai habitatnya.

Tulisan ini menguraikan beberapa aspek tentang hal-hal yang dapat dilakukan jika seseorang ingin melakukan penelitian di daerah pantai, khususnya daerah intertidal. Pada bagian pertama akan diuraikan tentang bagaimana cara untuk melakukan survei sebagai tahap awal untuk memulai penelitian dan melakukan deskripsi terhadap kondisi pantai yang menjadi lokasi penelitian. Bagian kedua membahas tentang metode umum yang dapat dilakukan untuk penelitian. Pada bagian ketiga dan keempat berturut-turut akan dijelaskan mengenai metode yang dapat diterapkan pada pantai berbatu dan pantai bersedimen. Sedangkan pada dua bagian terakhir, yaitu bagian kelima dan keenam akan diuraikan tentang studi jangka panjang serta eksperimen lapangan yang dapat di lakukan di daerah intertidal. DESKRIPSI PANTAI SURVEY SKALA LUAS Untuk memulai suatu penelitian di daerah pantai, beberapa ilmuwan menetapkan dengan tegas tujuan yang ingin dicapai terlebih dahulu kemudian memutuskan metode apa yang akan digunakan. Selanjutnya, para ilmuwan memulai penelitian dengan membuat ilustrasi berupa sketsa kasar yang bersifat umum. Sketsa ini selanjutnya diberi warna. Tidak disarankan untuk membuat sketsa detail secara langsung lebi dahulu karena pengamatan dan interpretasi terhadap sketsa yang sederhana jauh lebih mudah. Setelah diperoleh hal-hal pokok seperti jenis pantai, tipe substrat, topografi pantai, tipe gelombang, jenis organisme dominan dan lain-lain maka sketsa dilanjutkan kepada halhal yang lebih detail.

1

Gambar 1.

Contoh pendekatan skala luas (broad scale survey). Contoh di atas merupakan sebuah gambar sketsa dan gambar yang lebih detail dari sebuah pantai (Garrison, 2006).

Deskripsi kualitatif Survey skala luas (Broad-scale survey) termasuk metode pendekatan nonkuantitatif. Untuk memulai metode ini dapat dilakukan dengan menggambarkan karakterisik utama dari pantai dan habitatnya. Sebagai contoh, apakah lokasi pantai termasuk tipe berbatu, sedimen, atau campuran? Apakah pantainya termasuk terekspos atau terlindung? Jika berbatu apakah jenisnya tergolong hamparan (bed rock) atau lebih didominasi oleh bongkahan (builders)? Berapa ukuranbatu atau substratnya dan sejauh mana tingkatan dari sedimen yang terbentuk? Apakah tipe pantai tergolong terjal atau berbatu-batu? Apa tipe dari bebatuannya? dan sebagainya. Survei skala luas dapat digunakan untuk melihat penyusun utama komunitas organisme di daerah intertidal. Salah satu contohnya, pada bagian tengah pantai apakah tertutup oleh alga, teritip atau kerang-kerangan?. Cara terbaik untuk mendapatkan informasi ini adalah dengan menggunakan standarisasi untuk survey skala luas “Broadscale survey” yang dikeluarkan oleh “Joint Nature Conservancy Committee” di Inggris.
2

Daftar dari faktor-faktor yang berhubungan dengan nilai konservasi telah menjadi catatan tersendiri, seperti pembangunan daerah pesisir, aktifitas rekreasi, polusi dan pencemaran serta daerah perlindungan pantai (Raffaelli dan Hawkins, 1996). Pendekatan semi-quantitatif : skala kelimpahan. Cara untuk menentukan kelimpahan organisme dengan pendekatan semiquantitatif telah ditemukan oleh Crisp and Southward (1958) dalam Raffaelli dan Hawkins, 1996. Pendekatan ini dilakukan dengan penentuan batasan nilai untuk menggambarkan populasi dari organisme pada lokasi tertentu. Beberapa batasan nilai yang dapat digunakan, misalnya : melimpah, umum, sering, jarang, langka, atau tidak ditemukan. Salah satu contoh hasil survei skala luas yang dapat digunakan untuk melihat skala kelimpahan dapat dilihat pada Gambar 2. Skala kelimpahan merupakan cara cepat yang umum digunakan untuk membandingkan pola zonasi bagian-bagian pantai dalam satu kawasan. Metode pendekatan dengan survei skala luas ini menyerupai metode yang sekarang sering digunakan yang disebut “REA: Rapid Ecological Assesment” (kajian ekologi secara cepat). Keuntungan dari metode/teknik ini adalah dapat menarik kesimpulan secara cepat mengenai sebagian atau keseluruhan dari pantai. Kesulitan terbesar dalam

menggunakan semi-quantitatif adalah adanya perbedaan kelimpahan yang dilakukan pengamat karena tanpa disertai hasil analisis statistik yang berupa ukuran atau variabel. Masalah-masalah ini sangat sulit untuk mengkaji trend dalam jangka waktu yang lama. PENDEKATAN KUANTITATIF Untuk survey yang lebih detail, metode estimasi kuantitatif dengan menggunakan transek kuadrat dapat dilakukan untuk menghitung kelimpahan. Pada

pantai bersedimen, pendekatan kuantitatif umumnya bersifat destruktif, karena merusak habitat dengan membongkar sedimen untuk disortir. Demikian pula pada pantai berbatu, upaya estimasi biomassa dengan memotong bagian dari lamun, alga, serta mengambil individu hewan sessil juga merupakan kegiatan yang sifatnya destruktif. Upaya mempelajari tumbuhan dan hewan yang hidup di daun lamun atau di alga juga bersifat destruktif, karena harus memotong daun lamun atau alga yang menjadi habitat bagi obyek yang diteliti (Wimbaningrum, 2002).

3

Gambar 2. Penggunaan survei skala luas untuk melihat skala kelimpahan beberapa spesies organisme yang hidup di pantai berbatu di Inggris (Raffaelli & Hawkins, 1996). Sampling dengan menggunakan kuadrat dan core Untuk mengetahui kelimpahan populasi dan pola zonasi organisme di daerah intertidal, dapat dilakukan dengan beberapa teknik sampling, diantaranya dengan menggunakan transek kuadrat dan core (Gambar 3a). Berbagai jenis mikrohabitat yang bervariasi dapat ditemukan seperti daerah pantai terbuka yang menghadap ke laut, rataan bebatuan yang selalu kering, rock pools (kolam kecil pada batu), celah batu, dan dibawah bongkahan batu. Semuanya memiliki kondisi lingkungan yang spesifik, jenis organisme yang berbeda dan terpisah satu sama lain. Pantai bersubstrat sedimen,

umumnya lebih homogen dimana pasang surut menjadi faktor lingkungan utama yang mempengaruhi kondisi mikrohabitat sehingga perlu dilakukan teknik pengambilan sampel yang berbeda saat kondisi pasang maupun surut (Raffaelli dan Hawkins, 1996).

4

Salah satu metode yang umum digunakan untuk mengestimasi kelimpahan spesies yang terdapat di pantai, terutama pada pantai yang lebih landai dengan kisaran pasang surut yang rendah adalah transek sabuk (Belt transects). Penentuan ukuran (lebar) transek merupakan hal yang penting dalam metode ini . Lebar transek perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan dan obyek yanga akan diteliti. Jika transek terlalu sempit maka akan diperoleh nilai yang berbeda dari kelimpahan dan kisaran zonasi yang sesungguhnya secara vertikal. Jika transek terlalu lebar, maka hasil yang diperoleh akan menyimpang dari kondisi gradien horisontal akibat hempasan gelombang.

Gambar 3a. Beberapa contoh teknik sampling dengan menggunakan metode kuantitatif. Dari atas ke bawah : pengambilan sedimen dengan core, jenis core yang digunakan untuk mengestimasi kelimpahan hewan bentos di pantai bersedimen, contoh kuadrat, pemotretan obyek studi dalam kuadrat, penggalian hewan bentos secara destruktif dan LIT (McKenzie 2002). Untuk mempelajari ekologi organisme daerah intertidal yang memiliki perbedaan ukuran dan kelompok taksa, maka disarankan untuk menggunakan metode sampling acak bertingkat/stratified random sampling (Reef Watch, 2004b, 2004c). Metode ini sangat
5

baik digunakan untuk mengkaji zonasi pantai dengan perbedaan strata yang tinggi seperti misalnya : seperti zona kerang Mytilus edulis, zona kelp dan alga dengan interval setinggi 0,5 m di atas muka air terendah. Ulangan secara acak pada setiap strata tersebut dapat dilakukan serta diuji dengan menggunakan metode transek kuadrat. Jika pola zonasi yang terbentuk sudah pernah diteliti, maka stasiun pengamatan berikutnya diusahakan tegak lurus dengan pantai dan dilakukan sampling secara acak pula. Jika pada

penempatan transek kuadrat terdapat kolam (pool), celah, atau beberapa mikrohabitat lainnya, penolakan pengambilan sampel pada daerah ini dapat dibenarkan sesuai tujuan dalam penentuan pola zonasi pada pantai berbatu dan berpasir. Proses ini membutuhkan lebih banyak waktu dibanding metode skala kelimpahan semi-quantitatif, tetapi untuk membandingkan beberapa site pengamatan dapat buat dalam model statistik dengan estimasi interval kepercayaan tertentu (Raffaelli dan Hawkins, 1996). Menentukan ukuran dan jumlah sampel Salah satu hal yang penting dilakukan sebelum memulai suatu kegiatan survei atau penelitian di daerah intertidal adalah menentukan ukuran petak sampling (plot) dan berapa banyak unit sampling yang dibutuhkan. Hal ini berlaku untuk semua metode penelitian baik yang bersifat destruktif atau non-destruktif, melibatkan satu spesies atau banyak spesies, serta dilakukan pada pantai bersedimen atau pantai berbatu. Jika ragam sampel suatu spesies organisme yang diambil dari populasi sedikit, maka data yang diperoleh akan sulit digunakan untuk membandingkan kepadatan populasi dengan ukuran sebenarnya. Data distribusi spasial serta uji statistik yang tepat untuk membandingkan setiap site pengamatan di lapangan juga tidak dapat dilakukan. Pemilihan ukuran petak sampling (panjang x lebar plot) yang tepat juga penting. Jika transek kuadrat dan core yang dipilih terlalu kecil maka akan lebih banyak sampling yang akan dilakukan. Oleh karena itu penentuan ukuran petak sampel yang tepat sangat penting untuk meminimalisir jumlah unit sampling yang diperlukan. Ukuran transek kuadrat dan corer yang digunakan umumnya bersifat tetap dan sering digunakan pada lahan yang sesuai dengan peruntukannya. Ukurannya bisa sama atau lebih besar dari ukuran organisme yang ditemukan, dan sebaiknya mudah digunakan di lapangan. Transek kuadrat dengan ukuran 1 x 1 m biasanya agak sulit untuk digunakan pada semua daerah. Unit sampling yang harus diambil tidak harus selalu berjumlah
6

banyak karena akan mengakibatkan jumlah oganisme (tumbuhan dan hewan) yang tercatat akan banyak pula atau akan banyak memperoleh petak yang kosong jika

distribusi organismenya mengelompok (Barnes, 1999 ; Reef Watch 2004a, 2004b, 2004c). Pada pantai berbatu, jumlah individu antara 0 – 100 ekor umumnya lebih mudah untuk dihitung. Tetapi jika jumlahnya sudah melebihi ratusan individu, maka pengambilan data dengan sub-sampling atau kuadrat yang lebih kecil amat dibutuhkan. Jika sampling dilakukan pada sedimen, maka kebutuhan akan suatu alat bantu pengukuran amat penting. Usaha untuk menyampling volume pasir sebesar 25 x 25 x 25 cm dengan mesh size saringan 1 mm atau lebih kecil akan sangat berat untuk dilakukan. Volume pasir dapat diambil lebih banyak jika ukuran saringan lebih kasar tetapi hanya bisa menahan organisme yang lebih besar. Misalnya, jika volume pasir 50 x 50 x 25 cm maka sebaiknya dilakukan penyaringan dengan mesh size 2 mm. Masalah yang sering dihadapi dalam proses pengayakan sedimen adalah jumlah organime yang diperoleh umumnya sedikit, sehingga proses pengayakan tidak maksimal. Penyeragaman terhadap variasi sampel yang digunakan amat penting untuk dilakukan agar lebih banyak diperoleh sampel dan sub-sampel. Pendekatan terbaik yang dapat dilakukan untuk lebih cepat menguasai studi ini adalah dengan melakukan proses sampling dengan berbagai ukuran transek untuk menguji dan memilih yang terbaik atau menggunakan ayakan berlapis (Gambar 3b). Pengambilan data dengan menggunakan satu ukuran petak sampling (plot) untuk semua jenis organisme tidak dapat dilakukan. Misalnya, petak sampling untuk teritip (transek 5 x 5 cm) tidak dapat digunakan untuk siput (yang lebih tepat menggunakan transek 25 x 25 cm atau 50 x 50 cm) dan lebih tidak tepat lagi jika digunakan untuk mengukur alga (yang direkomendasikan menggunakan transek ukuran 1 x 1 m). Dengan demikian, untuk mempelajari komunitas hewan dan tumbuhan di daerah berbatu yang memiliki bermacam-macam jenis dan ukuran harus menggunakan plot dengan ukuran yang berbed-beda. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk menghitung populasi hewan dan tumbuhan dengan ukuran yang bervariasi adalah dengan menggunakan petak sampling acak berlapis (stratified random) seperti tampak pada Gambar 3b.

7

Gambar 3b. Beberapa contoh petak sampling yang digunakan untuk meneliti populasi hewan dan tumbuhan dengan ukuran tubuh yang berbeda-beda. Dari atas ke bawah : Plot dengan 8 sub-sampling ukuran 50 x 25 cm, plot 1 x 1 m untuk hewan sesil yang menempel di batu, penggunaan kuadrat pada daerah pantai berbatu dan pantai berpasir (lamun), skema ayakan berlapis, dan contoh stratified quadrat (Dari berbagai sumber).

8

Gambar 4a. Perubahan yang terjadi dari hasil rata-rata setiap pertambahan jumlah sampel dengan tingkat kepercayaan 95% dari dari dua jenis invertebrata esturaia. Untuk setiap spesies, dibutuhkan 6 core untuk memperoleh hasil estimasi rata-rata terbaik dengan usaha yang minimum.

Pada Gambar 4a. di atas dapat dilihat bagaimana cara menentukan jumlah ulangan atau jumlah petak sampel dengan selang kepercayaan 95 %. Tampak bahwa pengambilan sampel yang dilakukan dapat dianggap mewakili populasi jika dilakukan pengambilan sampel dengan menggunakan petak contoh atau plot sebanyak minimal 6 kali. Frekuensi pengambilan tersebut diharapkan dapat menghasilkan data yang akurat, mencapai estimasi rata-rata yang terbaik dengan efisiensi waktu dan tenaga yang tinggi.

9

METODE UMUM YANG DIGUNAKAN UNTUK PANTAI BERBATU/ BERPASIR. MENSURVEI PROFIL PANTAI
Untuk melakukan survei terhadap profil pantai (Gambar 4b) dapat digunakan beberapa metode dari yang paling sederhana dan kurang akurat hingga metode yang lebih rumit tetapi dengan tingkat keakuratan yang tinggi (Hawkins and Jones, 1992). Salah satu contoh metode yang disarankan adalah dengan menggunakan “Split-prism level”. Metode ini memiliki tingkat keakuratan yang tinggi (mendekati cm), relatif tidak mahal dan direkomendasikan dalam banyak kasus. Sedangkan metode yang paling sederhana adalah dengan menggunakan dua tiang vertikal yang dihubungkan dengan tali yang direnggangkan atau tiga tiang (lebih baik) sebagai pendukung untuk melakukan kegiatan pembagian tingkatan (levelling) dengan jarak yang saling berdekatan di pantai. Tabel pasang surut umumnya memberikan grafik yang lebih detail, dengan kisaran harian tinggi rendah permukaan air yang dapat dihitung. Jika ada penelitian lain melakukan pencatatan pada daerah yang berdekatan dan dalam waktu yang sama, data tersebut dapat dihubungkan atau dipadukan (Raffaelli dan Hawkins, 1996).

MENGESTIMASI PENGARUH AKSI GELOMBANG
Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan pada pantai berbatu adalah melalui visualisasi terhadap karateristik angin dan gelombang pada lokasi penelitian dengan periode pengamatan yang panjang. Pendekatan ini dapat dibandingkan dengan “broad scale survey” tetapi tanpa data topografi pantai. Untuk mengidentifikasi daerah yang terekspose gelombang dapat dilakukan dengan pemeriksaan melalui peta. Seringkali sistem ekologi suatu pantai dapat dengan mudah diketahui hanya dengan satu kali pengamatan saja yaitu dengan cara mengumpulkan material biologis penyusunnya, tanpa harus banyak menghabiskan waktu dan tenaga dengan metodemetode seperti di atas. Oleh karena itu umumnya para peneliti melakukan pengamatan atau survei dengan cepat untuk mendapatkan skala yang sesuai, akan tetapi diperlukan pengetahuan yang luas untuk memahami perubahan distribusi spesies yang terjadi berdasarkan besar kecilnya pengaruh gelombang (Raffaelli dan Hawkins, 1996 ; Barnes 1999 ; Mann, 2000).

10

Gambar 4b. Beberapa bentuk profil pantai. Kiri atas : Pantai dengan hamparan batuan (bed rocks). Kanan atas : pantai berbatu dengan aksi gelombang yang sangat besar. Kiri tengah : pantai yang tersusun dari bongkahan batu-batu besar (boulders). Kanan tengah : pantai berbatu yang terekspose saat surut. Kanan bawah : kombinasi pantai berpasir dengan dinding yang curam. Kanan bawah : pantai yang sangat terjal dengan dinding tegak 90⁰. (Dari berbagai sumber).

11

METODE-METODE YANG SESUAI UNTUK PANTAI BERBATU MENGESTIMASI PERSENTASE PENUTUPAN
Untuk mengetahui Kelimpahan suatu tumbuhan atau hewan dapat dilakukan dengan memperkirakan persentase penutupan/distribusi suatu populasi tanpa merusak struktur atau habitatnya. Disarankan agar pelaksanaan studi tentang dinamika populasi atau studi komunitas dilakukan tanpa banyak melakukan interfensi terhadap obyek yang diamati dengan pendekatan eksperimental yang dapat dipertanggungjawabkan. Beberapa upaya untuk memanipulasi suatu populasi agar terhindar dari proses sampling yang destruktif dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya: memindahkan sebagian individu ke tempat lain baik secara horizontal ataupun secara vertikal berdasarkan perbedaan zonasi intertidal untuk menguji kemampuan daya tahan suatu organisme terhadap lingkungan baru atau interaksi biologis dengan organisme lain. Interaksi dengan lingkungan baru dapat dilihat dari cara berteduh atau bersembunyi, grazing atau pemangsaan serta perubahan densitas dari populasi (Rogers, C. S. et al, 1994).

TOPOGRAFI PERMUKAAN PANTAI
Kasar atau tidaknya suatu permukaan pantai berbatu dipengaruhi oleh terlindung atau tereksposenya suatu pantai dari aliran air yang melalui permukaan bebatuan. Cara yang baik untuk mengukur perubahan bentuk ini adalah dengan merentangkan transek garis mengikuti kontur pantai dan membaginya berdasarkan tingkat kekasaran bebatuan yang terbentuk. Jarak yang sesuai (1 m, 5 m, 10 m) dapat ditentukan dan dipilih secara acak dengan menentukan besar kecilnya partikel dengan menggunakan transek garis tersebut (Trudgill, 1988 dalam Raffaelli dan Hawkins, 1996).

FAKTOR-FAKTOR LAIN
Faktor-faktor lain yang berpengaruh besar terhadap obyek studi juga harus diukur seperti temperatur, kelembaban, salinitas dan lain-lain. Referensi dari Baker dan Crothers (1987) misalnya dapat dijadikan sebagai salah satu rujukan. Berbagai penelitian-

penelitian yang mengukur tentang salinitas, kelembaban relatif, dan faktor lingkungan lainnya makin banyak dan dapat dijumpai dengan mudah dalam beberapa tahun terakhir.

12

METODE-METODE YANG SESUAI UNTUK PANTAI BERSEDIMEN LINGKUNGAN FISIKA DAN KIMIA Sebaran Ukuran Partikel Sedimen adalah merupakan faktor utama yang mempengaruhi kehidupan organisme yang hidup pada pantai berlumpur. Penggolongan ukuran sedimen dari

kisaran ukuran yang terbesar sampai yang terkecil dapat dilakukan dengan metode pengayakan bertingkat untuk memperoleh persentase ukuran pada setiap kisaran intervalnya. Skala “Wentworth” (Gambar 5 dan 6) dapat digunakan untuk menentukan nilai ukuran suatu partikel dan dapat pula dikonversi ke dalam unit phi sebagai interval nilai. Data yang diperoleh antara persentase kumulatif yang dapat diplotkan dengan median (rata-rata) ukuran partikel. Bahan Organik Penentuan jumlah bahan organik yang terdapat dalam sedimen dapat dilakukan dengan mengoksidasi karbon pada sampel pasir yang telah ditimbang dan kemudian mencatat bobot yang hilang. Hal ini dapat dicapai dengan menambahkan agen oksidasi yang sangat kuat seperti asam khromik, yang diikuti dengan titrasi menggunakan alkali untuk mengestimasi berapa banyak asam yang digunakan dan berapa banyak bahan organik yang terdapat dalam sampel. Meskipun metode ini cukup akurat, namun

berpotensi untuk membahayakan sehingga harus dikerjakan secara hati-hati pada kondisi laboratorium yang terkontrol dalam suatu lemari asam dengan tingkat keamanan (safety) yang ketat. Alternatif lain adalah dengan membakar karbon menggunakan oven pada suhu 450oC kemudian mencatat jumlah sampel yang hilang sehingga tidak terjadi pengurangan berat. Beberapa karbon inorganik mungkin akan mengalami oksidasi tetapi kesalahan ini kecil dan tidak dipermasalahkan. Namun teknik ini tidak dapat dilakukan pada pantai yang didominasi kulit kerang karena partikel inorganik yang didominasi oleh kalsium karbonat (CaCO3) yang akan larut dalam asam kuat (Baker, 1987 ; Barnes, 1999).

13

Md Ø

14

Tabel 1. Klasifikasi ukuran partikel berdasarkan Skala Wentworth.

15

Potensial Reduksi-Oksidasi Pengukuran hasil reduksi persenyawaan yang terjadi dalam sedimen memerlukan suatu keahlian khusus. Alat ukur yang digunakan umumnya berupa rangkaian platinum elektroda yang ditancapkan pada sedimen. Pengukuran nilai potensial ini dilakukan pada beberapa kedalaman berbeda, dan nilainya dinyatakan dalam (redox potential discontunity (RDP)” = keadaan potensial redoks) (Pearson and Stanley, 1979 dalam Raffaelli dan Hawkins, 1996). Nilai RDP menggambarkan hasil dari reduksi dan oksidasi, hubungan antara kondisi lingkungan aeraob dan anaerob, meskipun oksigen bebas tidak terdapat dalam jumlah banyak didalam sedimen. Kebanyakan pantai nilai RDP dapat ditentukan dengan melihat perubahan warna sedimen secara visual seperti dari coklat (oksidasi besi) ke abu-abu atau hitam (sulfittereduksi besi). Kedalaman masing-masing lapisan dapat diukur dengan menggunakan mistar penggaris atau menggali untuk mengungkap profil sedimen yang sebenarnya. Penyortiran Hewan Pemilihan mesh size ayakan yang tepat untuk memisahkan hewan dari sedimen, amat bergantung pada ukuran hewan yang akan diteliti. Untuk jenis bivalvia, mesh size 2 mm sudah cukup untuk digunakan, tetapi untuk mempelajari komunitas hewan pada pantai berpasir sebaiknya digunakan mesh 1 mm. Adapun mesh dengan ukuran 0,5 mm dipastikan dapat lebih banyak menyortir hewan, terutama jenis cacing kecil atau hewan infauna yang berada dalam bentuk juvenil pada tahap-tahap awal perkembangannya. Meiofauna Penggunaan core plastik dengan diameter 2-3 cm pada pantai berpasir dapat menampung ratusan nematoda dan pada rataan berlumpur dengan diameter core 1-2 cm dapat memperoleh hasil yang serupa. Meiofauna biasanya berukuran kecil dan ruang antar partikel menjadi habitat bagi mereka. Sampel yang diperoleh dapat diawetkan dengan menggunakan formalin (atau alkohol). Selain itu, pemberian zat tersebut dapat digunakan untuk membedakan meiofauna dari sedimen dimana organisme yang ditemukan akan berwarna kemerahan sedangkan sedimen tidak. Hal ini sangat
16

membantu dalam pemisahan dan penghitungan populasi meiofauna dalam sampel sedimen tersebut. Sampel kemudian dikocok dengan air untuk mengendapkan partikel sedimen dan spesimen meiofauna. Setelah beberapa detik, partikel pasir akan mengendap ke bawah dan spesimen meiofauna akan melayang dala kolom air. Sampel kemudian dituang secara perlahan ke dalam saringan (mesh 45 μm). Jika proses ini diulang beberapa kali, 95% spesimen meiofauna dapat terekstraksi. Pada beberapa pengulangan akan terlihat jelas spesimen meiofauna yang berwarna kemerahan. Namun teknik ini kurang cocok jika digunakan untuk memisahkan hewan yang lebih berat seperti ostracoda, foraminifera, bivalvia.

Gambar 6. Salah satu teknik analisis hewan meiofauna (Sumber : //http : www.sbg.ac at.)
17

STUDI JANGKA PANJANG Studi jangka panjang untuk keseluruhan komunitas dapat dilakukan dengan metode transek, tetapi dalam beberapa kasus membutuhkan banyak waktu dan sumberdaya. Upaya monitoring telah banyak dilakukan untuk meneliti daerah pantai yang terpilih dalam jangka waktu yang lama. Selama tahun 1970-an Lewis dkk 1979 (dalam Raffaelli dan Hawkins, 1996) dengan tekun mengamati beberapa tempat pantai berbatu di pesisir Inggris. Beberapa komunitas di pantai berbatu umumnya memiliki beberapa spesies dominan seperti kerang, teritip, dan alga serta beberapa predator dan grazer yang menetap di daerah tersebut. Dengan terus mengamati daerah yang diteliti kita akan dapat memahami apa yang sebenarnya terjadi serta melihat adanyaperubahan populasi akibat proses rekruitmen dan mortalitas. Jumlah sampling dapat dijadikan tujuan suatu studi. Untuk menggambarkan suatu pola distribusi musiman, dibutuhkan sampling bulanan, dengan harapan pola distribusi seperti pola pelekatan musiman teritip dapat diketahui. Studi jangka panjang juga membutuhkan banyak frekuensi sampling. Pengamatan 6 atau 4 kali dalam setahun pada pantai berbatu akan memberikan gambaran yang berbeda dengan pengamatan selama beberapa tahun. Salah satu keuntungan mengurangi frekuensi sampling adalah kita dapat mengurangi kerusakan yang ditimbulkan dengan seringnya menginjak organisme di daerah pantai. Pada pantai berbatu subtropis pengamatan dilakukan pada awal musim semi dan akhir musim gugur dirasakan dapat memberikan informasi yang cukup untuk studi jangka panjang. Jika tujuan dari studi adalah untuk melihat variasi rekruitmen dan mortalitas maka frekuensi sampling harus diperbanyak.

18

PENELITIAN LAPANGAN PANTAI BERBATU Daerah pantai berbatu merupakan ekosistem yang sangat ideal untuk penelitian ekologi khususnya ekologi intertidal. Beberapa penelitian ekologi pada awalnya dimulai dari ekosistem ini, utamanya dalam hal interaksi biologis. Perbedaan penting antara penelitian lapangan dan laboratorium adalah bahwa pada penelitian laboratorium semua parameter dapat dikendalikan, sementara dalam penelitian lapangan semua parameter bervariasi dan berada di luar kontrol peneliti. Sebagian besar penelitian memakai pendekatan deskriptif terutama pada dekade 1970-an, sehingga eksperimen ekologi dengan penelitian lapangan dapat dianggap sebagai suatu kemajuan berarti. Kebanyakan penelitian yang dilakukan pada era 70-an hingga 80-an tidak sepenuhnya direncanakan dan dianalisa sesuai standar penelitian yang baik, sehingga hasilnya pun sebaiknya dicermati dengan hati-hati. Ada dua masalah dengan kualitas penelitian-penelitian pada masa tersebut. Pertama adalah kurangnya replikasi/pengulangan dan kecenderungan untuk melakukan replikasi semu atau pseudoreplication. Masalah kedua adalah kurangnya kemandirian (Underwood, 1983 dalam Raffaelli dan Hawkins, 1996). Suatu hasil penelitian yang meyakinkan harus mempunyai perbedaan yang sangat jelas antara stasiun untuk perlakuan dan stasiun kontrol (ingat teori BACI dan BACIP). Hasil yang diperoleh akan lebih meyakinkan dan diterima untuk analisa statistik jika perbedaan tersebut secara konsisten terlihat pada hasil yang diperoleh dari dua atau lebih stasiun perlakuan yang dibandingkan dengan dua atau lebih stasiun kontrol. Jika hal ini tidak dilakukan maka apapun hasil yang diperoleh hanya akan dianggap sebagai perbedaan alami dari lokasi/stasiun yang ada di suatu ekosistem pantai. Olehnya, penting untuk peneliti melakukan pengulangan yang di setiap stasiun perlakuan dan kontrol seperti dapat dilihat pada Gambar. 4a (Raffaelli dan Hawkins, 1996).

19

Tanpa Ulangan pada Perlakuan dan controls (e.g. Hawkins, 1981b)

Perlakuan dan control berdekatan dengan sekat Tanpa ulangan, O (ulangan semu / psedoreplication) Bad design (e.g. Hawkins, 1983)

Perlakuan terpencar dan control terpisah O (ulangan semu / psedoreplication) Bad design (e.g. Raffaeli, 1978)

Ulangan secara berkelompok, kurang terpencar, Tidak memungkinkan untuk melakukan perlakuakn pada area terpisah. Bad design.

Ulangan secara berkelompok, perlakuan dan kontrol terpisah. Good design.

Perlakuan dan control dilakukan secara acak dan banyak dan dalam area yang berbeda. Excellent design.

Gambar 7. Beberapa contoh desain penelitian (bad or good design) dalam eksperimen lapangan. Pentingnya melakukan pengulangan (perlakuan dan kontrol) dalam eksperimen lapangan.

20

Burrows & Lodge (1950), melakukan penelitian tentang organisme bentik predator di pantai dengan cara membagi ekosistem menjadi dua, yaitu: stasiun pengamatan dan stasiun kontrol. Pembersihan terhadap organisme predator/grazer dilakukan pada stasiun pengamatan. Sedangkan stasiun kontrol dibiarkan apa adanya. Meskipun hasilnya terlihat signifikan bagi sebagian orang pada waktu itu, namun karena tidak adanya pengulangan di beberapa lokasi dalam ekosistem tersebut yang dilakukan dalam beberapa titik waktu, maka hasilnya banyak menuai kritik karena bersifat kasuistik dan terbatas hanya pada satu titik waktu. Hal terbaik yang perlu atau seharusnya dilakukan oleh ketiga peneliti tersebut adalah dengan menetapkan beberapa stasiun perlakuan (yang telah “bersih” dari bentik predator) dan stasiun kontrol (dengan kondisi alami) di beberapa lokasi di sepanjang pantai sebagai bentuk pengulangan ruang (spatial replication). Replikasi terhadap daerah sampling perlu dilakukan untuk memaksimalkan jumlah stasiun pengamatan dan kontrol. Namun replikasi ini berbeda dengan pseudo-replication atau pengulangan semu, di mana pengulangan hanya dilakukan di sekitar stasiun pengamatan saja tanpa ada stasiun kontrol sebagai pembanding (Hurlbert, 1984; Gambar. 4). Untuk dapat melakukan penelitian lapangan dengan standar seperti di atas membutuhkan bukan saja waktu, tapi juga tenaga dan dana yang cukup besar. Meskipun sebagian besar peneliti tidak dapat menyanggupi besarnya biaya penelitian dengan jumlah stasiun dan banyaknya sampel replikasi, namun mereka lebih memilih resiko tersebut dibanding besarnya resiko melakukan penelitian dengan rancangan penelitian yang salah (Raffaelli dan Hawkins, 1996). Banyaknya replikasi yang dibutuhkan dapat diestimasi dengan menggunakan beberapa metode untuk menunjukkan efek dari besarnya dampak, jika keragaman normal dari parameter terukur telah diketahui. Namun seringkali penelitian lapangan memberikan hasil yang mengejutkan dan tidak diinginkan, sehingga sulit untuk memperkirakan jumlah replikasi yang harus dilakukan (Raffaelli dan Hawkins, 1996). Beberapa kasus tertentu mengkondisikan penelitian dengan replikasi sampel maupun stasiun perlakuan tidak mungkin untuk dilakukan. Contohnya, pada penelitian yang membandingkan pengaruh aktivitas manusia terhadap populasi flora dan fauna
21

pantai di suatu kawasan lindung, dengan daerah di sekitarnya di luar kawasan lindung. Untuk melakukan replikasi pada hutan lindung sejenis sangat tidak mungkin mengingat bahwa tidak mudah untuk membuat suatu kawasan lindung baru. Pada kasus ini, solusi terbaik adalah dengan melakukan beberapa penelitian di stasiun kontrol di lokasi yang berbatasan langsung dengan kawasan lindung tersebut. Setidaknya hasil yang akan diperoleh dapat dimasukkan dalam konteks “variasi antar daerah dampak” (Morrisey et al., 1992; Underwood, 1992 dalam Raffaelli dan Hawkins, 1996).. Kemandirian (independence) adalah merupakan salah satu masalah lain yang perlu diperhatikan. Terkadang peneliti dihadapkan pada kondisi dimana tidak banyak pilihan lokasi yang tepat untuk daerah kontrol karena sebagian besar daerah di sekitar lokasi dampak/stasiun perlakuan mendapat pengaruh dari obyek penelitian ataupun perlakuan yang diberikan. Hal Inilah yang disebut sebagai tidak mempunyai kemandirian ruang atau (spatial independence). Masalah lain yang juga seringkali muncul adalah adanya ketidakmandirian waktu (time independence). Contoh yang tepat untuk menggambarkan ini adalah jika rentang waktu dari suatu dampak akan diteliti, contohnya peningkatan ukuran atau penurunan jumlah dalam suatu rentang waktu. Apa yang anda lihat pada daerah tertentu di waktu B (masa depan) adalah hasil dari apa yang terjadi di daerah tersebut di waktu A (masa kini/masa lalu). Konsekuensi dari keadaan ini adalah akan ada banyak replikasi dari penelitian tersebut dan hanya sedikit yang akan terukur. Untuk menghemat waktu dan tenaga, solusi yang tepat adalah dengan menganggap rentang waktu dari A ke B adalah satu replikasi dan menarik garis atau kurva dari semua data yang ada di waktu A hingga di waktu B. Analisa statistiknya dapat menggunakan analisa co-variance dengan membuat perbandingan antar garis atau kurva (Raffaelli dan Hawkins, 1996).

22

KESIMPULAN

Banyak hal yang perlu diperhatikan jika kita ingin mempelajari pantai dengan lebih mendalam atau ingin melakukan suatu kegiatan penelitian khususnya di daerah intertidal. Sebagai langkah awal adalah melakukan survei untuk mengumpulkan informasi yang sifatnya umum. Hal ini dapat dilakukan dengan mengamati profil pantai secara kualitatif, baik dengan menggunakan sketsa yang dilanjutkan dengan deskripsi detail maupun dengan survei dalam skala yang sifatnya luas. Jika data awal telah terkumpul dapat dilakukan pengambilan data menggunakan metode kuantitatif. Untuk memperoleh gambaran tentang perubahan berdasarkan waktu pada populasi yang diteliti, maka dapat dilakukan pemantauan/monitoring. Hal ini penting untuk digunakan sebagai dasar dalam merumuskan hipotesis penelitian. Pemilihan metode statistik yang sesuai perlu dilakukan dengan hati-hati serta memiliki argumentasi yang kuat agar tidak memperoleh kesimpulan yang bias. Penelitian tahap awal (pre-research) direkomendasikan untuk dilakukan agar dapat mengidentifikasi dan mengenali masalah-masalah yang akan timbul, pada saat penelitian yang sebenarnya.

23

DAFTAR PUSTAKA
Baker, J.M. and Crothers, J.H. (1987). Intertidal rock (biological surveys/coastal zone), in Biological Surveys of Estuaries and Coasts (eds J.M. Baker and W.J. Wolff), Cambridge University Press, Cambridge, 449 pp. Baker, J.M. and Wolff, W.J. (eds) (1987) Biological Surveys of Estuaries and Coasts. (Estuar. Brackish Wat. Sci. Assoc. Handb.), Cambridge University Press, Cambridge. Barnes, R. S. K. dan R. N. Hughes. 1999. An Introduction to Marine Ecology. Third Edition. Blackwell Science, Ltd. Oxford. vii+ 286 halaman. Borum, J., C. M. Duarte, D. Krause-Jensen, Tina M. Greve. 2004. European Seagrass: An Introduction to Monitoring and Management. EU project monitoring and managing of Eurpean seagrasses (M&MS) EVK3-CT-2000-00044. 88 pp. Burrows, E.M. and Lodge, S.M. (1950) Note on the inter-relationships of Patella, Balanus and Fucus on a semi-exposed coast. Rep. mar. boil. Stn Port Erin, 62, 30-34. Conservation International. 2005. Conservation International Annual Report 2005. (Foto sampul pada paper ini oleh : Frans Lanting/Minden Pictures), Washington D. C, Amerika Serikat. English, S., C. Wilkinson, dan V. Baker., 1994. Survey Manual for Tropical Marine Resources. Australian Institute of Marine Science. Townsville, Queensland. Garrison, T. 2006. Essential of Oceanography 4th. Thomson Books/cole. Belmont, USA. Hodgson, G., et al. 2004. Reef Check Instruction Manual: A Guide to Reef Check Coral Reef Monitoring. Reef Check, Institute of The Environment, University of California at Los Angeles.
http: // www.sbg.ac at/. Diakses tanggal 23 Juni 2008.

Mann, K. H. 2000. Ecology of Coastal Waters: with Implications for Management. Second Edition. Blackwell Science Publishing. Massachusetts. xix + 406 halaman. McKenzie, L. J. and Campbell, S. J. 2002. Seagrass-watch: Manual for Community (Citizen) Monitoring of Seagrass Habitat, Western Pacific Edition (QFS, NFC, Cairns) Australia 43 pp. Raffaelli, D. dan Stephen Hawkins. 1996. Intertidal Ecology. Chapman & Hall. London. xi + 356 halaman. Reef Watch. 2004a. Reef Watch Benthic Identification Manual. Version 4 (14th October 2004). Reef Watch Monitoring Community Program. Adelaide. Australia. Reef Watch. 2004b. Reef Watch Benthic Quadrat Survey Manual. Version 4 (17th August 2004). Reef Watch Monitoring Community Program. Adelaide. Australia. Reef Watch. 2004c. Reef Watch Line Intercept Transect Survey Manual. Version 4 (8th October 2004). Reef Watch Monitoring Community Program. Adelaide. Australia.
24

Reef Watch. 2006. Reef Watch Fish Survey Manual. Version 4 (9th February 2006). Reef Watch Monitoring Community Program. Adelaide. Australia. Rogers, Caroline S., et al. 1994. Coral Reef Monitoring Manual for the Carribean and Western Atlantic. National Park Service. Virgin Islands National Parks. Wimbaningrum, R. (2002). Pola Zonasi Lamun (Sea Grass) dan Invertebrata Makrobentik yang Berkoeksistensi di Rataan Terumbu Pantai Bama, Taman Nasional Baluran, Jawa Timur. Jurnal ILMU DASAR , Vol.3 No.1, 2002:1-7

25


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2543
posted:9/1/2009
language:Indonesian
pages:26