Makalah Kelompok by r.djsiradjang

VIEWS: 79 PAGES: 8

									                                Kompetensi Matematika



Pendahuluan

Pemerintah Indonesia beberapa tahun terakhir ini mulai menunjukkan perhatian yang lebih baik
dengan memberikan anggaran pendidikan yang lebih banyak dari pada tahun-tahun sebelumnya.
Secara politik, Undang-undang telah mengamanatkan untuk menaikkan anggaran pendidikan
sampai 20% dari APBN, walaupun sampai saat ini jumlah tersebut belum dapat direalisasikan
oleh Pemerintah. Keputusan politik lain untuk meningkatkan mutu guru, Pemerintah dan DPR
telah membentuk UU Guru dan Dosen (UUGD) pada tahun 2005.
       Salah satu point penting pada UUGD tersebut adalah adanya sertifikasi guru dan dosen
sebagai upaya untuk meningkatkan mutu guru dan dosen sebagai upaya menuju pendidikan yang
bermutu. Civil effect dari program sertifikasi adalah diberikannya tunjangan profesi bagi guru
dan dosen yang telah bersertifikat, yang pelaksanaanya dimulai tahun 2007 untuk guru dan tahun
2008 untuk dosen.
       Kebijakan dalam UUGD pada intinya untuk meningkatkan mutu dan kompetensi guru
seiring dengan peningkatkan kesejahteraan. Dalam UUGD disebutkan juga bahwa:
   Pendidik wajib memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi pendidik sebagai agen
    pembelajaran.
   Kompetensi profesi pendidik meliputi kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian,
    kompetensi profesional, dan kompetensi social
Kompetensi Guru Matematika.
       Pendidikan di Indonesia belum seperti yang diharapkan, karena lembaga–lembaga
pendidikan belum mampu menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas.
Bahkan pendidikan nasional pun dinilai gagal membangun karakter bangsa. Hal ini terbukti dari
rendahnya nilai hasil ujian nasional, terutama nilai bidang studi matematika . Padahal
matematika adalah bidang studi yang mendasari semua disiplin ilmu.Berdasarkan data Institute
of Education (2003), hasil penelitian statistikyang dilakukan secara internasional dalam Trends
in International Mathematics and Science Study (TIMSS) menunjukan bahwa Indonesia pada
peringkat ke-34 dari 45 negara untuk penguasaan pelajaran di bidang matematika. Score


      1   Tugas. MA. 5111. Daya Matematika
Indonesia (411) masih berada di bawah Singapura (605) dan Malaysia (508), tetapi tetap berada
di atas Filipina (378).
        Diduga hal ini disebabkan oleh pendekatan pembelajaran matematika di Indonesia masih
menggunakan pendekatan tradisional atau mekanistik. Yang menekankan pada latihan
mengerjakan soal atau drill and practice, prosedur serta penggunaan rumus. Siswa kurang
terbiasa memecahkan masalah atau aplikasi yang banyak di sekeliling mereka. Sementara itu
banyak negara telah mereformasi sistim pendidikan matematika dari pendekatan tradisional ke
arah aplication based curricular, yaitu mendekatkan matematika ke alam nyata bagi siswa
melalui aplikasi atau masalah kontekstual yang bermakna serta proses yang membangun sikap
siswa ke arah yang positif tentang matematika.
        Sebagai contoh : Jepang menggunakan “open indeed approach” pendekatan yang
menekankan pada soal aplikasi yang memungkinkan banyak solusi dan strategi. United State of
America (USA) dengan standar yang dibuat National Council of Teacher Mathematics (NCTM),
yakni standar yang terkenal dengan lima keterampilan prosesnya yaitu matematika adalah
„communication‟, ‟reasoning‟, ‟connection‟, ‟problem solving‟, dan „understanding‟.
        Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diajarkan sejak tingkat pendidikan
dasar sampai tingkat tinggi. Guru mengajarkan kegiatan atau aktivitas bermatematika kepada
siswa dengan tujuan setiap siswa dapat melakukan matematika. Bahkan lebih khusus ditekankan
siswa menjadi mahir dalam matematika atau memiliki kompetensi matematika sehingga layak
disebut kompeten dalam matematika.
        Dalam buku “Adding Up it Up” yang diterbitkan oleh The National Academy Press
Washington DC, dikemukakan ada lima kemahiran matematika untuk dapat dikatakan bahwa
seseorang itu mahir dalam bermatematika.         Kelima kemahiran tersebut adalah pemahaman
konseptual, kelancaran proscedural, kompetensi strategis, penalaran adaptif dan disposisi
produktif. Kelima komponen ini bagaikan tali yang dipilin menjadi satu, saling bergantung,
terkait satu sama lain dalam membangun kemahiran bermatematika, menjadi kekuatan dalam
matematika yang melibatkan penalaran, pemecahan masalah, menghubungkan ide-ide
matematika dan dapat berkomunikasi matematika dengan orang lain. Kemahiran matematika
tersewbutdapat di peroleh melalui proses belajar.
        Badan yang bergerak dibidang pendidikan matematika di USA yaitu National Council of
Teacher Mathematics (NCTM) menyajikan Prinsip dan Standar Matematika Sekolah             yang

      2    Tugas. MA. 5111. Daya Matematika
terdiri dari standar isi dan standar proses. Standar isi memuat bilangan dan operasinya, aljabar,
geometri, pengukuran serta data analisis dan peluang. Sedangkan standar proses terdiri atas
pemecahan masalah, penalaran dan bukti, komunikasi, koneksi dan penyajian (representasi).

       Pada NCTM Standar Proses dipandang perlu untuk diberi penekanan karena melalui
proseslah kompetensi matematika seseorang dapat diketahui.. Standar proses dalam NCTM
meliputi:

   Pemecahan Masalah (Problem Solving)
    Dalam pemecahan masalah, siswa mendapat kesempatan untuk membangun pengetahuan
    matematika yang baru, memperkuat dan memperluas wawasannya bahkan merangsang daya
    nalar siswa. Melalui pemecahan masalah siswa berusaha untuk menerapkan dan
    mengadaptasikan strategi-strategi yang tepat. Jika siswa sudah terbiasa menyelesaikan
    masalah maka dengan sendirinya dapat memonitor, merefleksikan dan menilai kemajuan
    yang telah dicapainya.
   Penalaran dan Bukti
    Siswa harus memahami bahwa matematika adalah mata pelajaran yang membutuhkan alasan.
    Dengan memberi alasan inilah siswa akan memahami aspek yang paling penting dalam
    matematika yaitu bernalar dan membuktikan. Pada proses bernalar siswa menjadi aktif
    berfikir, mencoba membuat dugaan, menyelidiki dugaan dengan menggunakan kata-kata
    sendiri, hal ini menjadikan matematika menjadi sesuatu yang indah. Siswa juga dapat belajar
    tentang mengembangkan dan mengevaluasi argument matematika dan bukti, misalnya dalam
    diskusi kelas. Mereka bisa membandingkan argument /ide-idenya dengan ide orang lain yang
    dapat menyebabkan mereka bisa memodifikasi serta memperkuat proses penalaran antara
    siswa yang satu dengan yang lain.
   Komunikasi
    Komunikasi adalah bagian penting dari matematika dan pendidikan matematika. Melalui
    komunikasi orang bisa berbagi ide dan memperluas pemahaman. Proses komunikasi dalam
    matematika dipergunakan saat siswa berhadapan dengan masalah dan saat harus
    mempresentasikan ide, menyampaikan alasan didepan teman-temannya atau guru secara jelas
    dan akurat. Siswa diberi kebebasan untuk mengorganisir pemikiran matematikanya dan
    kemudian bisa mengkomunikasikannya baik secara lisan maupun tulisan. Secara lebih

      3     Tugas. MA. 5111. Daya Matematika
    khusus siswa harus mampu menggunakan bahasa matematika untuk menyajikan gagasan
    matematika yang     pada dasarnya adalah abstrak sehingga dalam merepresentasikannya
    membutuhkan komunikasi.
   Koneksi
    Ketika siswa dapat menghubungkan ide-ide matematika maka pemahaman mereka lebih
    mendalam dan lebih kekal. Siswa dapat melihat koneksi gagasan / ide matematika dalam
    konteks yang berhubungan dengan mata pelajaran lain. Siswa harus memahami bahwa ide-
    ide matematika saling terkait satu sama lain untuk menghasilkan suatu kesatuan yang utuh.
    Pengalaman matematika sekolah di semua tingkat harus mencakup kesempatan untuk belajar
    tentang matematika dengan bekerja pada masalah yang timbul dalam konteks di luar
    matematika. Kesempatan bagi siswa untuk mengalami matematika dalam konteks adalah
    penting. Matematika banyak digunakan dalam ilmu pengetahuan, ilmu-ilmu social,
    kedokteran dan perdagangan. Hubungan matematika dengan ilmu pengetahuan lain tidak
    hanya melalui konten tetapi juga melalui proses.
   Representasi
    Representasi adalah elemen penting yang dapat mendukung pemahaman siswa tentang
    hubungan konsep-konsep matematika dan dalam menerapkan matematika untuk situasi-
    situasi masalah yang realistic melalui pemodelan. Bentuk-bentuk representasi seperti
    diagram, tampilan grafis, dan simbolis bahkan bentuk lain yang berhubungan dengan
    teknologi elektronik.
    Dalam proses pembelajaran siswa diharapkan dapat menciptakan dan menggunakan
    representasi untuk mengorganisir dan mengkomunikasikan ide atau gagasan matematika.
    Representasi diperlukan terutama saat siswa dalam pemecahan masalah dan menyelidiki ide-
    ide matematika. Oleh karena itu siswa bebas memilih, menerapkan dan menerjemahkan antar
    penyajian matematika untuk pemecahan masalah.
    Representasi dapat membantu siswa mengorganisasi pemikiran mereka, membuat ide-ide
    matematika yang kebanyakan abstrak menjadi lebih konkrit. Teknologi yang semakin maju
    sekarang ini menawarkan kesempatan bagi siswa untuk memiliki pengalaman lebih dan
    berbeda dalam penggunaan representasi.




      4   Tugas. MA. 5111. Daya Matematika
       Jadi secara singkat dapat disimpulkan bahwa memiliki kompetensi matematika versi
NCTM adalah memiliki kemampuan sesuai dengan standar isi (bilangan, aljabar, geometri,
pengukuran, data dan peluang) dan dapat menerapkannya sesuai standar proses (pemecahan
masalah, penalaran dan bukti, komunikasi, koneksi dan representasi)
       Sementara itu, Programme for International Student Assessment (PISA) yaitu suatu studi
internasional yang mengukur kemampuan anak usia 15 tahun (ujung masa wajib belajar) dalam
literasi membaca, matematika dan ilmu pengetahuan, mengadakan pengukuran setiap tiga tahun.
PISA mentransformasikan prinsip-prinsip literasi matematika menjadi tiga komponen yaitu
komponen konten, proses dan konteks. Literasi matematika adalah kemampuan seseorang untuk
merumuskan, menerapkan dan menafsirkan matematika dalam berbagai konteks, termasuk
kemampuan melakukan penalaran secara matematis dan menggunakan konsep, prosedur dan
fakta untuk menggambarkan, menjelaskan atau memperkirakan kejadian atau suatu fenomena.

   Komponen konten, yaitu isi atau materi matematika yang dipelajari disekolah meliputi
    perubahan dan keterkaitan, ruang dan bentuk, kuantitas dan ketidakpastian data.
   Komponen proses yaitu hal-hal atau langkah-langkah seseorang untuk menyelesaikan suatu
    permasalahan dalam situasi atau konteks tertentu dengan menggunakan matematika sebagai
    alat sehingga permasalahan itu dapat diselesaikan. Kemampuan proses didefinisikan sebagai
    kemampuan seseorang dalam merumuskan, menggunakan dan menafsirkan matematika
    untuk memecahkan masalah yang melibatkan kemampuan dalam berkomunikasi,
    matematisasi, representasi, penalaran dan argumentasi, menentukan strategi untuk
    memecahkan masalah, penggunaan bahasa dan symbol, bahasa formal dan bahasa teknis
    sebagai alat matematika.
   Komponen konteks yaitu sebagai situasi yang bergambar dalam suatu permasalahan yang
    diujikan yang terdiri atas konteks pribadi, konteks pekerjaan, konteks sosial dan konteks
    ilmu pengetahuan.

    Pada PISA, soal-soal matematika yang diujikan lebih banyak mengukur kemampuan
bernalar, memecahkan masalah dan berargumentasi dibandingkan dengan mengukur kemampuan
teknis baku yang berkaitan dengan ingatan dan perhitungan semata. Dengan kata lain soal
matematika dalam PISA tidak menguji kemampuan pada kompetensi dasar tertentu, melainkan



      5   Tugas. MA. 5111. Daya Matematika
lebih banyak menguji kemampuan untuk menggunakan matematika sebagai alat untuk
memecahkan masalah.

   Menurut PISA yang menjadi focus dalam pembelajaran matematika adalah prosesnya,
dimana siswa harus bisa mengembangkan kemampuan berfikirnya secara optimal. Siswa harus
terlatih sampai memiliki kebiasaan membaca sambil berfikir dan bekerja agar dapat memahami
informasi esensial dan strategis dalam menyelesaikan soal. Diharapkan setiap siswa melewati 5
tingkat pencapaian individual seperti berikut ini :


                                                   5            Penyelesaian
             Penyelsaian Real
                                                                Matematika
                      5
                                                                   4

                 Masalah                 1, 2, 3
                                                                  Masalah
                Sehari-hari
                                                                 Matematika


       Jadi seseorang dikatakan memiliki kompetensi matematika menurut PISA apabila siswa
tersebut lebih banyak memiliki kemampuan bernalar, dapat               memecahkan masalah,
berargumentasi dan berkomunikasi daripada kemampuannya dalam hal ingatan dan perhitungan
semata.

       Namun menurut Trends in International Mathematics and Science Study (TIMMS) studi
internasional yang salah satu kegiatannya adalah menguji kemampuan matematika siswa kelas 4
dan siswa kelas 8. Dimensi penilaian pada TIMMS meliputi dimensi konten dan dimensi kognitif
yang masing-masing terdiri dari beberapa domain. Penilaian terhadap siswa SMP:

       Dimensi konten, sesuai dengan materi (konten) pada standar isi mata pelajaran
matematika SMP yang mencakup bilangan, aljabar, geometri, data dan peluang. Dimensi
kognitif dimaknai sebagai perilaku yang diharapkan dari siswa ketika mereka berhadapapan
dengan domain matematika yang tercakup dalam dimensi konten. Dimensi konten terdiri atas 3
domain yaitu mengetahui fakta dan prosedur, menggunakan konsep (penerapan), memecahkan
masalah rutin dan penalaran. Pemecahan masalah merupakan focus utama dalam dimensi
kognitif.

      6     Tugas. MA. 5111. Daya Matematika
       Dalam studi TIMMS, soal-soal matematika terutama mengukur tingkat kemampuan
siswa dari sekedar mengetahui fakta, prosedur atau konsep hingga dapat menggunakannya dalam
memecahkan masalah. Dalam menyusun penilaian team merancang item penilaian yang cukup
menunjukkan berbagai kesulitan dan kompleksitas. Oleh karena itu jika pada siswa tidak ada
tanggung jawab belajar maka pasti tidak mencapai hasil yang diharapkan. Seperti kenyataan
bahwa hasil / prestasi Indonesia pada TIMMS sampai tahun 2007 masih sangat rendah.

       Jadi memiliki kompetensi matematika menurut TIMMS berarti memiliki kemampuan
dalam menguasai domain konten dan domain kognitif. Seseorang memiliki kemampuan
mengetahui fakta, konsep, prosedur dan menerapkan pengetahuan tersebut untuk memecahkan
masalah baik masalah-masalah rutin dalam berbagai konteks maupun masalah-masalah non rutin
yang membutuhkan penalaran yang berkaitan dengan dunia nyata.

       Dari uraian di atas, penulis mencoba menarik benang merah dari keempat badan tersebut
dalam suatu kesimpulan yaitu. Seseorang dikatakan kompeten dalam matematika jika yang
bersangkutan mahir dalam kegiatan matematika, yaitu dapat mengaitkan antar konsep dalam
matematika untuk menyelesaiakn masalah-masalah matematika ataupun masalah sehari-hari
yang telah dibawah dalam model matematika




      7   Tugas. MA. 5111. Daya Matematika
                               DAFTAR RUJUKAN



Kilpatrick, J., J. Swafford, dan B. Findell (eds), ,Adding Up it Up: Helping Children
        Learn Mathematics. http://www.nap.edu/catalog/9822.html       The Nationan
        Academies, 2001


PISA 2009 Assessment Framework: Key Competencies in Reading, Mathematics and
        Science, OECD. 2009


Principles and Standards for School Mathematics, NCTM, 2000


TIMMS 20011 Assessment Framework, IEA, 2009


Ruseffendi, E. T. Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinya daa Pengajaran
        Matematika. TARSITO, Bandung 1991
.




8   Tugas. MA. 5111. Daya Matematika

								
To top