Docstoc

tugas_seni_suara

Document Sample
tugas_seni_suara Powered By Docstoc
					SEJARAH DARI GAMELAN
Bagi masyarakat Jawa khususnya, gamelan bukanlah sesuatu yang asing dalam kehidupan
kesehariannya. Dengan kata lain, masyarakat tahu benar mana yang disebut gamelan atau
seperangkat gamelan. Mereka telah mengenal istilah 'gamelan', 'karawitan', atau 'gangsa'. Namun
barangkali rnasih banyak yang belum mengetahui bagaimana sejarah perkembangan gamelan itu
sendiri, sejak kapan gamelan mulai ada di Jawa?.

Seorang sarjana berkebangsaan Belanda bernama Dr. J.L.A. Brandes secara teoritis mengatakan
bahwa jauh sebelum datangnya pengaruh budaya India, bangsa Jawa telah rnemiliki ketrampilan
budaya atau pengetahuan yang mencakup 10 butir (Brandes, 1889):
                    (1) wayang,
                    (2) gamelan,
                    (3)ilmu irama sanjak,
                    (4) batik,
                    (5) pengerjaan logam,
                    (6) sistem mata uang sendiri,
                    (7) ilmu teknologi pelayaran,
                    (8) astronomi,
                    (9) pertanian sawah,
                    (10) birokrasi pemerintahan yang teratur

Sepuluh butir ketrampilan budaya tersebut bukan dari pemberian bangsa Hindu dari India. Kalau teori
itu benar berarti keberadaan gamelan dan wayang sudah ada sejak jaman prasejarah. Namun tahun
yang tepat sulit diketahui karena pada masa prasejarah masyarakat belum mengenal sistem tulisan.
Tidak ada bukti-bukti tertulis yang dapat dipakai untuk melacak dan merunut gamelan pada masa
prasejarah.

Gamelan adalah produk budaya untuk memenuhi kebutuhan manusia akan kesenian. Kesenian
merupakan salah satu unsur budaya yang bersifat universal. Ini berarti bahwa setiap bangsa
dipastikan memiliki kesenian, namun wujudnya berbeda antara bangsa yang satu dengan bangsa yang
lain. Apabila antar bangsa terjadi kontak budaya maka keseniannya pun juga ikut berkontak sehingga
dapat terjadi satu bangsa akan menyerap atau mengarn bila unsur seni dari bangsa lain disesuaikan
dengan kondisi seternpat. Oleh karena itu sejak keberadaan gamelan sampai sekarang telah terjadi
perubahan dan perkembangan, khususnya dalam kelengkapan ansambelnya.

Istilah “karawitan” yang digunakan untuk merujuk pada kesenian gamelan banyak dipakai oleh
kalangan masyarakat Jawa. Istilah tersebut mengalami perkembangan penggunaan maupun
pemaknaannya. Banyak orang memaknai "karawitan" berangkat dari kata dasar “rawit” yang berarti
kecil, halus atau rumit. Konon, di lingkungan kraton Surakarta, istilah karawitan pernah juga
digunakan sebagai payung dari beberapa cabang kesenian seperti: tatah sungging, ukir, tari, hingga
pedhalangan (Supanggah, 2002:5¬6).

Dalarn pengertian yang sempit istilah karawitan dipakai untuk menyebut suatu jenis seni suara atau
musik yang mengandung salah satu atau kedua unsur berikut (Supanggah, 2002:12):
(1) menggunakan alat musik gamelan - sebagian atau seluruhnya baik berlaras slendro atau pelog -
sebagian atau semuanya.
(2) menggunakan laras (tangga nada slendro) dan / atau pelog baik instrumental gamelan atau non-
gamelan maupun vocal atau carnpuran dari keduanya.

Gamelan Jawa sekarang ini bukan hanya dikenal di Indonesia saja, bahkan telah berkembang di luar
negeri seperti di Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Canada. Karawitan telah 'mendunia'. Oleh karna itu
cukup ironis apabila bangsa Jawa sebagai pewaris langsung malahan tidak mau peduli terhadap seni
gamelan atau seni karawitan pada khususnya atau kebudayaan Jawa pada umumnya. Bangsa lain
begitu tekunnya mempelajari gamelan Jawa, bahkan di beberapa negara memiliki seperangkat
gamelan Jawa. Sudah selayaknya masyarakat Jawa menghargai karya agung nenek moyang sendiri.

Sumber data tentang gamelan
Kebudayaan Jawa setelah masa prasejarah memasuki era baru yaitu suatu masa ketika kebudayaan
dari luar -dalam hal ini kebudayaan India- mulai berpengaruh. Kebudayaan Jawa mulai memasuki
jaman sejarah yang ditandai dengan adanya sistem tulisan dalam kehidupan masyarakat. Dilihat dari
perspektif historis selama kurun waktu antara abad VIll sampai abad XV Masehi kebudayaan Jawa,
mendapat pengayaan unsur-unsur kebudayaan India. Tampaknya unsur-unsur budaya India juga
dapat dilihat pada kesenian seperti gamelan dan seni tari. Transformasi budaya musik ke Jawa melalui
jalur agama Hindu-Budha.

Data-data tentang keberadaan gamelan ditemukan di dalam sumber verbal yakni sumber - sumber
tertulis yang berupa prasasti dan kitab-kitab kesusastraan yang berasal dari masa Hindu-Budha dan
sumber piktorial berupa relief yang dipahatkan pada bangunan candi baik pada candi-candi yang
berasal dari masa klasik Jawa Tengah (abad ke-7 sampai abad ke-10) dan candi-candi yang berasal dari
masa klasik Jawa Timur yang lebih muda (abad ke-11 sampai abad ke¬15) (Haryono, 1985). Dalam
sumber-sumber tertulis masa Jawa Timur kelompok ansambel gamelan dikatakan sebagai “tabeh -
tabehan” (bahasa Jawa baru 'tabuh-tabuhan' atau 'tetabuhan' yang berarti segala sesuatu yang
ditabuh atau dibunyikan dengan dipukul). Zoetmulder menjelaskan kata “gamèl” dengan alat musik
perkusi yakni alat musik yang dipukul (1982). Dalam bahasa Jawa ada kata “gèmbèl” yang berarti 'alat
pemukul'. Dalam bahasa Bali ada istilah 'gambèlan' yang kemudian mungkin menjadi istilah
'gamelan'. Istilah 'gamelan' telah disebut dalam kaitannya dengan musik. Namur dalam masa Kadiri
(sekitar abad ke¬13 Masehi), seorang ahli musik Judith Becker malahan mengatakan bahwa kata
'gamelan' berasal dari nama seorang pendeta Burma dan seorang ahli besi bernama Gumlao. Kalau
pendapat Becker ini benar adanya, tentunya istilah 'gamelan' dijumpai juga di Burma atau di
beberapa daerah di Asia Tenggara daratan, namun ternyata tidak.
Gambaran instrument gamelan pada relief candi
Pada beberapa bagian dinding candi Borobudur dapat 17 dilihat jenis-jenis instrumen gamelan yaitu:
kendang bertali yang dikalungkan di leher, kendang berbentuk seperti periuk, siter dan kecapi, simbal,
suling, saron, gambang. Pada candi Lara Jonggrang (Prambanan) dapat dilihat gambar relief kendang
silindris, kendang cembung, kendang bentuk periuk, simbal (kècèr), dan suling.

Gambar relief instrumen gamelan di candi-candi masa Jawa Timur dapat dijumpai pada candi Jago
(abad ke -13 M) berupa alat musik petik: kecapi berleher panjang dan celempung. Sedangkan pada
candi Ngrimbi (abad ke - 13 M) ada relief reyong (dua buah bonang pencon). Sementara itu relief gong
besar dijumpai di candi Kedaton (abad ke-14 M), dan kendang silindris di candi Tegawangi (abad ke-14
M). Pada candi induk Panataran (abad ke-14 M) ada relief gong, bendhe, kemanak, kendang sejenis
tambur; dan di pandapa teras relief gambang, reyong, serta simbal. Relief bendhe dan terompet ada
pada candi Sukuh (abad ke-15 M).

Berdasarkan data-data pada relief dan kitab-kitab kesusastraan diperoleh petunjuk bahwa paling
tidak ada pengaruh India terhadap keberadaan beberapa jenis gamelan Jawa. Keberadaan musik di
India sangat erat dengan aktivitas keagamaan. Musik merupakan salah satu unsur penting dalam
upacara keagamaan (Koentjaraningrat, 1985:42-45). Di dalam beberapa kitab-kitab kesastraan India
seperti kitab Natya Sastra seni musik dan seni tari berfungsi untuk aktivitas upacara. keagamaan
(Vatsyayan, 1968). Secara keseluruhan kelompok musik di India disebut 'vaditra' yang dikelompokkan
menjadi 5 kelas, yakni: tata (instrumen musik gesek), begat (instrumen musik petik), sushira
(instrumen musik tiup), dhola (kendang), ghana (instrumen musik pukul). Pengelompokan yang lain
adalah:
(1) Avanaddha vadya, bunyi yang dihasilkan oleh getaran selaput kulit karena dipukul.
(2) Ghana vadya, bunyi dihasilkan oleh getaran alat musik itu sendiri.
(3) Sushira vadya, bunyi dihasilkan oleh getaran udara dengan ditiup.
(4) Tata vadya, bunyi dihasilkan oleh getaran dawai yang dipetik atau digesek.

Klasifikasi tersebut dapat disamakan dengan membranofon (Avanaddha vadya), ideofon (Ghana
vadya), aerofon (sushira vadya), kordofon (tata vadya). Irama musik di India disebut “laya” dibakukan
dengan menggunakan pola 'tala' yang dilakukan dengan kendang. Irama tersebut dikelompokkan
menjadi: druta (cepat), madhya (sedang), dan vilambita (lamban).
Angklung, Alat Musik Pendidikan dan Persahabatan
Oleh: jagad
Selasa,15 september 2009


Membaca judul di atas anda mungkin bertanya-tanya, apa hubungan antara angklung
dengan pendidikan dan persahabatan? Bagaimana sebuah alat musik tradisional dari
bambu dapat melatih kepekaan bermusik dan pada saat yang sama juga mengajarkan
pentingnya kerjasama dan mempererat persahabatan? Mari kita simak dalam tulisan ini.


       Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dar Tanah Sunda,
terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh
benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan
nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat
musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan
pelog.Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang terbuat dari bambu. Sebuah
angklung terdiri beberapa tabung bambu (tergantung fungsinya) yang berbeda
ketinggian dan diameternya untuk mencapai harmoni nada yang diinginkan.Sebuah
angklung melodi biasanya terdiri dari dua tabung yang menghasilkan nada terpaut satu
oktaf,sementara angklung pengiring (accompagnement)terdiri daritiga atau bahkan
empat tabung tergantung accord yang dimainkan.Tabung-tabung tersebut kemudian
diikatkan pada rangka batang bambu untuk membentuk alat musik angklung yang
lengkap. Sebuah angklung hanya menghasilkan satu nada, jadi untuk memainkan
sebuah lagu dibutuhkan beberapa set angklung yang dimainkan oleh banyak orang.

                          Kurang lebih seperti kelompok paduan suara dalam
                   membawakan sebuah lagu. Untuk memainkannya, kita cukup
                   menggoyangkan atau menggetarkannya.Sejarah Angklung dipercayai
                   berasal dari pulau Jawa, khususnya tanah Sunda. Beberapa catatan
                   dari orang Eropa yang melakukan perjalanan ke tanah Sunda pada
                   abad 19 mengatakan bahwa di daerah ini sering terlihat "permainan"
                   angklung oleh orang-orang setempat. Angklung memang juga dikenal
                   di daerah-daerah lain di pulau Jawa, tetapi di tanah Sunda alat musik
ini lebih populer. Pada awalnya, angklung tradisional digunakan oleh orang-orang desa
pada masa itu sebagai bagian dari ritual kepada Dewi Sri untuk meminta panen
melimpah. Umumnya dibawakan dalam tangga nada pentatonis (terdiri dari lima nada)
dan memainkan melodi yang berulang. Acara seperti ini biasanya dilakukan di ruang
terbuka, sambil menari-nari dengan dengan diiringi alat musik tradisional lain seperti
goong, kendang, dan tarompet. Kesenian semacam ini masih dilestarikan di beberapa
tempat di Jawa Barat.Lahirnya Angklung Modern Awal abad 20, angklung tradisional
mulai menghilang. Pada tahun 1938, Daeng Sutigna, seorang guru berpendidikan
Belanda di Bandung, menciptakan angklung dalam tangga nada diatonis yang terdiri dari
tujuh nada. Hal ini menandai lahirnya angklung modern. Kelebihan angklung ini adalah ia
dapat membawakan lagu-lagu Barat klasik dan populer yang rata-rata bernada diatonis,
sehingga dapat menjangkau selera musik masyarakat yang lebih luas.Kini lagu yang
dimainkan tidak lagi berkisar pada lagu-lagu tradisional, tetapi juga lagu-lagu klasik, lagu
pop, new age, bahkan lagu rock. Dengan angklung modern, lagu rock melodius seperti
We Are the Champion dan Bohemian Rapshody
dari Queen dapat dibawakan oleh alat musik angklung! Angklung "jenis baru" ini
pertama kali diperkenalkan pa Daeng kepada sekelompok anak-anak pramuka. Setelah
dipertunjukkan oleh murid-murid sekolah pada acara Konferensi Asia Afrika tahun 1955
di Bandung, angklung diatonis atau angklung modern ini semakin dikenal masyarakat
hingga saat ini menjadi kegiatan ekstrakurikuler di berbagai sekolah.
        Memang pada awalnya pak Daeng menginginkan angklung sebagai alat
pendidikan. Mottonya adalah 5 M : Murah, Mudah, Menarik, Massal, dan Mendidik. Murah,
karena bahan-bahan untuk membuat alat musik ini murah dan mudah didapat di
Indonesia. Mudah, karena untuk memainkan angklung seseorang tidak perlu memiliki
keterampilan khusus. Menarik, dilihat dari keunikannya bentuknya dan cara
memainkannya. Massal karena untuk memainkannya melibatkan banyak orang. Dan
Mendidik dalam arti alat musik ini memiliki unsur pendidikan selain musik. Alat Musik
Pendidikan dan Persahabatan Untuk memainkan sebuah lagu sederhana, seseorang
dapat memainkan satu set angklung sendiri, atau membentuk sebuah kelompok yang
terdiri dari beberapa orang (tergantung lagunya). Semakin kompleks aransemen sebuah
lagu
yang dimainkan, semakin banyak angklung dan pemain yang dibutuhkan. Disini unsur
massal dari angklung berperan.Terlibatnya banyak orang dalam memainkan sebuah lagu,
melatih para pemain menjadi peka akan musik, lagu dan bagian-bagiannya, dan juga
mendidik mereka akanpentingnya kerjasama antar anggota kelompok yang memegang
nada yang berbeda agar bersama-sama dapat menghasilkan musik yang indah dan
harmoni.

       Kemudahan dalam memainkan alat musik ini membuat banyak orang tertarik akan
angklung. Karena sebuah angklung hanya menghasilkan satu nada, orang yang
memegang angklung nada tertentu hanya memainkannya jika nada tersebut muncul
dalam lagu. Cukup mengikuti instruksi dari konduktor, tanpa memerlukan keahlian musik
tertentu. Karena kemudahan inilah, di acara-acara pertunjukan musik angklung,
penonton sering ikut dilibatkan untuk bermain setelah pertunjukan utama selesai.
Contohnya yang dilakukan di Saung Angklung Udjo, Bandung. Setelah pertunjukan yang
dibawakan oleh anak-anak selesai, para penonton yang rata-rata wisatawan
mancanegara diajak sama-sama bermain angklung, dan karenanya hubungan antara
pemain dan penonton semakin dekat dan suasananya lebih bersahabat.
Kemudahan dan unsur persahabatan ini pula yang menjadikan angklung semakin
diterima sebagai "duta musik" Indonesia di luar negeri. Musik angklung seringkali
dipertunjukkan dalam acara pertukaran budaya Indonesia di luar negeri, dan kini
bermunculan grup-grup angklung di berbagai negara. Angklung telah menjadi identitas
bangsa dan duta musik Indonesia dalam menjalin persahabatan dengan bangsa lain.
Maka tidak salah jika angklung disebut alat musik
persahabatan. Jika anda ingin mengetahui lebih jauh dan melihat lebih jelas tentang
keunikan angklung, sempatkan untuk singgah ke Saung Angklung Udjo di jalan
Padasuka, Bandung. Disana anda akan mengerti mengapa angklung dikatakan alat musik
persahabatan.
                                           KOLINTANG

                               SEJARAH & PERKEMBANGANNYA

Kolintang merupakan alat musik khas dari Minahasa (Sulawesi Utara) yang mempunyai bahan dasar
yaitu kayu yang jika dipukul dapat mengeluarkan bunyi yang cukup panjang dan dapat mencapai nada-
nada tinggi maupun rendah seperti kayu telur, bandaran, wenang, kakinik atau sejenisnya (jenis kayu
yang agak ringan tapi cukup padat dan serat kayunya tersusun sedemikian rupa membentuk garis-
garis sejajar).

 Kata Kolintang berasal dari bunyi : Tong (nada rendah), Ting (nada tinggi) dan Tang (nada tengah).
Dahulu Dalam bahasa daerah Minahasa untuk mengajak orang bermain kolintang: "Mari kita ber Tong
Ting Tang" dengan ungkapan "Maimo Kumolintang" dan dari kebiasaan itulah muncul nama
"KOLINTANG” untuk alat yang digunakan bermain.

Pada mulanya kolintang hanya terdiri dari beberapa potong kayu yang diletakkan berjejer diatas
kedua kaki pemainnya dengan posisi duduk di tanah, dengan kedua kaki terbujur lurus kedepan.
Dengan berjalannya waktu kedua kaki pemain diganti dengan dua batang pisang, atau kadang-kadang
diganti dengan tali seperti arumba dari Jawa Barat. Sedangkan penggunaan peti sesonator dimulai
sejak Pangeran Diponegoro berada di Minahasa (th.1830). Pada saat itu, konon peralatan gamelan dan
gambang ikut dibawa oleh rombongannya.

Adapun pemakaian kolintang erat hubungannya dengan kepercayaan tradisional rakyat Minahasa,
seperti dalam upacara-upacara ritual sehubungan dengan pemujaan arwah para leluhur. Itulah
sebabnya dengan masuknya agama kristen di Minahasa, eksistensi kolintang demikian terdesak
bahkan hampir menghilang sama sekali selama ± 100th.

Sesudah Perang Dunia II, barulah kolintang muncul kembali yang dipelopori oleh Nelwan Katuuk
(seorang yang menyusun nada kolintang menurut susunan nada musik universal). Pada mulanya hanya
terdiri dari satu Melody dengan susunan nada diatonis, dengan jarak nada 2 oktaf, dan sebagai
pengiring dipakai alat-alat "string" seperti gitar, ukulele dan stringbas.

Tahun 1954 kolintang sudah dibuat 2 ½ oktaf (masih diatonis). Pada tahun 1960 sudah mencapai 3 ½
oktaf dengan nada 1 kruis, naturel, dan 1 mol. Dasar nada masih terbatas pada tiga kunci (Naturel, 1
mol, dan 1 kruis) dengan jarak nada 4 ½ oktaf dari F s./d. C. Dan pengembangan musik kolintang tetap
berlangsung baik kualitas alat, perluasan jarak nada, bentuk peti resonator (untuk memperbaiki
suara), maupun penampilan.

Saat ini Kolintang yang dibuat sudah mencapai 6 (enam) oktaf dengan chromatisch penuh.

PERALATAN & CARA MEMAINKAN

Setiap alat memiliki nama yang lazim dikenal. Nama atau istilah peralatan Musik kolintang selain
menggunakan bahasa tersebut diatas juga memiliki nama dengan menggunakan bahasa Minahasa, dan
untuk disebut lengkap alat alat tersebut berjumlah 9 buah. Tetapi untuk kalangan professional,
cukup 6 buah alat sudah dapat memainkan secara lengkap. Kelengkapan alat tersebut sebagai
berikut:

B      -      Bas              =Loway
C      -      Cello            =Cella
T      -      Tenor 1          =Karua
       -      Tenor 2          =Karua rua
A      -      Alto 1           =Uner
       -      Alto 2           =Uner rua
U      -      Ukulele/Alto 3   =Katelu
M      -      Melody 1         =Ina esa
       -      Melody 2         =Ina rua
       -      Melody 3         =Ina taweng

MELODY
Fungsi pembawa lagu, dapat disamakan dengan melody gitar, biola, xylophone, atau vibraphone. Hanya
saja dikarenakan suaranya kurang panjang, maka pada nada yang dinginkan; harus ditahan dengan
cara menggetarkan pemukulnya( rall). Biasanya menggunakan dua pemukul, maka salah satu melody
pokok yang lain kombinasinya sama dengan orang menyanyi duet atau trio (jika memakai tiga
pemukul). Bila ada dua melody, maka dapat digunakan bersama agar suaranya lebih kuat. Dengan
begitu dapat mengimbangi pengiring (terutama untuk Set Lengkap) atau bisa juga dimainkan dengan
cara memukul nada yang sama tetapi dengan oktaf yang berbeda. Atau salah satu melody memainkan
pokok lagu, yang satunya lagi improvisasi.

CELLO
Bersama melody dapat disamakan dengan piano, yaitu; tangan kanan pada piano diganti dengan
melody, tangan kiki pada piano diganti dengan cello. Tangan kiri pada cello memegang pemukul no.1
berfungsi sebagai bas, sedangkan tangan kanan berfungsi pengiring (pemukul no.2 dan no.3). Maka
dari itu alat ini sering disebut dengan Contra Bas. Jika dimainkan pada fungsi cello pada orkes
keroncong, akan lebih mudah bila memakai dua pemukul saja. Sebab fungsi pemukul no.2 dan no.3
sudah ada pada tenor maupun alto.




TENOR I & ALTO I
Keenam buah pemukul dapat disamakan dengan enam senar gitar.

ALTO II & BANJO
Sebagai ukulele dan "cuk" pada orkes keroncong.

ALTO III (UKULELE)
Pada kolintang, alat ini sebagai ‘cimbal’, karena bernada tinggi. Maka pemukul alto III akan lebih baik
jika tidak berkaret asal dimainkan dengan halus agar tidak menutupi suara melody (lihat petunjuk
pemakaian bass dan melody contra).
TENOR II (GITAR)
Sama dengan tenor I, untuk memperkuat pengiring bernada rendah.

BASS
Alat ini berukuran paling besar dan menghasilkan suara yang paling rendah.

SUSUNAN ALAT

Lengkap (9 pemain) :

Melody              -      Depan tengah
Bass               -      Belakang kiri
Cello              -       Belakang kanan
Alat yang lain tergantung lebar panggung (2 atau 3 baris) dengan memperhatikan fungsi alat (Tenor
& Alto).
NADA NADA DASAR

Nada nada dalam alat kolintang sebagai berikut:

C =     1   3   5      Cm =       1       2       5

D =     2   4   6       Dm =      2       4       6

E =     3   5   7      Em =       3       5       7

F   =   4   6   1       Fm    =       4       5       1

G =     5   7   2      Gm =       5       6       2

A =     6   1   3      Am =       6       1       3

B =     7   2   4      Bm =       7       2       4

Sedangkan chord lain, yang merupakan pengembangan dari chord tersebut diatas, seperti C 7
=      1   3 5 6, artinya nada do diturunkan 1 nada maka menjadi le . Sehingga saat
membunyikan 3 bilah dan terdengar unsur bunyi nada ke 7 dalam chord C, maka chord tersebut
menjadi chord C7. Demikian pula dengan chord yang lain.

CARA MEMEGANG PEMUKUL/ STICK KOLINTANG

Memegang Pemukul Kolintang, memang tidak memiliki ketentuan yang baku, tergantung dari
kebiasaan dan kenyamanan tangan terhadap stik. Tetapi umumnya memegang stick kolintang
dilakukan dengan cara :

No. 1 Selalu di tangan kiri
No. 2 Di tangan kanan (antara ibu jari dengan telunjuk)

No. 3 Di tangan kanan (antara jari tengah dengan jari manis) – agar pemukul no.2 dapat digerakkan
dengan bebas mendekat dan menjauh dari no.3, sesuai dengan accord yang diinginkan. Dan cara
memukul dan disesuaikan dengan ketukan dan irama yang diinginkan, dan setiap alat memiliki, ciri
tertentu sesuai fungsi didalam mengiringi suatu lagu. Pada alat Bass dan alat Melody umumnya hanya
menggunakan 2 stick, sehingga lebih mudah dan nyaman pada tangan.
( Nomor nomor tersebut diatas telah tertera disetiap pangkal pemukul stick masing masing alat
kolintang)

Teknik Dasar memainkan stick pada bilah kolintang sesuai alat dan jenis irama

Dari sekian banyak irama dan juga lagu yang ada, beberapa lagu sebagai panduan untuk memainkan
alat musik kolintang disertakan dalam materi ini. Seperti:

      Sarinande
      Lapapaja
      Halo halo Bandung
      Besame Mucho

Lagu lagu tersebut memiliki tingkat kesulitan yang berbeda baik chord dan irama. Lagu lagu tersebut
telah dilengkapi dengan partitur serta chord/ accord untuk memudahkan memahami alat musik
kolintang.

Demikian pula dengan teknik memukulkan stick pada bilah kolintang. Karena sesuai irama yang
beraneka ragam, maka untuk menghasilkan irama tertentu maka teknik memukulkan stik pada tiap
alat pun berbeda beda. Pada materi ini, diberikan teknik teknik dasar cara memukulkan stick pada
kolintang. Untuk dapat memahami teknik, dibutuhkan pengetahuan akan harga dan jumlah ketukan
dalam setiap bar nada. Dan berbekal pengetahuan dasar dasar bermain kolintang ini saja, ditambah
dengan bakat individu, maka grup/ kelompok musik kolintang telah dapat memainkan berbagai jenis
lagu dengan tingkat kesulitan yang variatif secara spontan.
        Seni Talempong Botuang jo Ratok Silungkang Oso


Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalangnya, lain daerah lain pula kebiasaannya. Setiap
daerah punya ciri khas, baik bahasa, seni dan budaya. Barangkali tak salah pepatah mengatakan
bahwa “Bahasa menunjukkan bangsa”.

Begitu pula negeri kita, Silungkang. Kita punya Rabona Marapulai, Pidato Adek, kain songket,
sapu ijuak, ale-ale dan ulek-ulek, dan lain-lain. Kesenian Silungkang asli yang saat ini tak lagi
dapat kita nikmati dan tak mustahil generasi yang saat ini berusia dibawah lima puluh tahun
tidak pernah mengenal dan mendengarnya. Kesenian itu adalah “Talempong Botuang dan
Ratok Silungkang Tuo” yang lebih dikenal sebagai “Marungguih”.

Talempong Botuang dan Ratok Silungkang Tuo adalah kesenian lama Silungkang yang
dahulunya dimainkan oleh kaum ibu di rumah, di sawah atau di ladang untuk sekedar
menghilangkan kepenatan setelah bekerja seharian. Biasanya kesenian ini dimainkan di dangau
sambil berleha-leha. Syairnya sangat didominasi oleh pantun parosaian dan pantun kerinduan
pada anak dan suami tercinta nun jauh di rantau orang (diera tersebut perantau Silungkang jarang
sekali yang menyertakan istri dan kalau ada – anak lelakinya – sementara si istri ditinggal di
kampung dengan segala penderitaannya – lahir batin – karena tak jarang “mungkin karena
terpaksa keadaan” sang suami” Taposo bauma lo” di rantau urang.

Kato rang saisuak : “Lautan sakti rantau batuah”

Perlu diketahui di zaman itu merantau di Sawahlunto atau di Solok saja (yang jaraknya tak
menjadikan kita musafir, sudah dianggap merantau).

Di era tahun 50 an “Talempong Botuang jo Ratok Silungkang Tuo”, ini pernah disosialisasikan
kepada kerabat muda. Tapi sayang … umurnya pun muda. Sejak tahun 1955, kedua keseninaan
itu seperti lenyap ditelan bumi.

Rupanya, nasib masih berpihak pada Silungkang. Saat ini, siapa saja yang ingin menikmati
kesenian yang terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara ditabuh tersebut sudah dapat
menikmatnya kembali. Hal ini dimungkinkan karena Silungkang masih menyisakan seorang
seniman yang masih konsisten untuk tetap memelihara dan melestarikannya. Beliau itu adalah
Datuak Umar Malin Parmato.

Bersama Dinas Kebudayaan, Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata Kota Sawahlunto beliau saat
ini telah membina sebuah grup kesenian Talempong Botuang jo Ratok Silungkang Tuo, di
Sungai Cocang. Dan sudah pula dimasukkan ke dalam pelajaran ekstra kurikuler di SD No. 13
Sungai Cocang.

Kiprahnya cukup membanggakan. Selain penampilan perdananya di Sawahlunto pada acara
Pekan Seni dan Budaya, juga telah dipergelarkan pada Acara EXPO 2000 dan Pergelaran Seni
dan Budaya se Sumatera Barat di Taman Budaya Padang pada tahun 2001.
Ratok berarti Ratap – maratok artinya meratap – meratapi. Karena pada mulanya kesenian ini
memang diperuntukan sebagai sarana untuk meratapi atas meninggalnya seseorang. Caranya
dengan menyebut-nyebut sambil mendendangkan bersama-sama oleh para karib kerabat, bako
dan tetangga, semua perangai/tingkahlaku si mayit semasa hidupnya hingga wafat.

Lahirlah istilah “Ratok Pertolongan” karena apabila dalam keluarga si mayit tidak ada yang
dapat melantunkan Ratok maka harus dimintai tolonglah pada orang/kelompok profesional,
dengan membayar sejumlah uang – kira-kira – mungkin seperti “seksi ngangis” pada upacara
prosesi kematian orang Tionghoa.

Tahun batuka, musim bagonti (Tahun bertukar, musim berganti). Misi kesenian ini yang pada
mulanya hanya untuk meratapi kematian akhirnya berubah. Setelah berganti nama dengan nama
menjadi “Marungguih” kesenian ini lebih identik untuk “Baibi-ibo” (mengiba-iba), meratapi
nasib dan peruntungan nasib dan peruntungan baik yang tidak berpihak padanya. Kaum muda
memanfaatkan Marunguih ini untuk bersenandung ria demi sekedar melepaskan beban rindu
dendam yang menyesakkan dada pada sang kekasih. Ini juga perlu diketahui oleh pembaca,
bahwa pada zaman itu, bagi sepasang kekasih, jangankan untuk bercengkrama – berpapasan
dijalan saja sudah diterima sebagai suatu karunia yang amat besar, laksana mukjizat.

Dengan segala kebersahajaannya, kini grup Marungguih dan Talempong Botuang di Sungai
Cocang yang minim peralatan, kostum dan pembinaan ini tetap mencoba untuk tampil dalam
setiap event yang ada. Uluran tangan siapa saja sangat didambakan oleh grup ini, agar bisa
dipoles sehingga punya nilai jual. Sy
              Sasando: Alat Musik Tradisional Dari Rote
ndonesia begitu kaya dengan berbagai kesenian daerah yang mengagumkan, termasuk di dalamnya
adalah berbagai alat musik tradisional dengan kekhasan bunyiannya. Salah satu alat musik yang harus
sungguh-sungguh diperhatikan untuk tetap dipelihara adalah sebuah alat instrumen petik asal pulau
Rote, Nusa Tenggara Timur yang bernama Sasando, suatu puncak pencapaian seni musik yang
ditemukan sejak abad 15.

Bentuk sasando mirip dengan instrumen petik lainnya seperti gitar, biola dan kecapi. Tetapi keunikannya
adalah bahwa bagian utama sasando berbentuk tabung panjang seperti Harpa yang biasanya terbuat
dari bambu. Sasando mempunyai media pemantul suara yang terbuat dari daun Pohon Gebang (sejenis
Pohon Lontar yang banyak tumbuh di Pulau Timor dan Pulau Rote) yang dilekuk menjadi setengah
melingkar. Tempat senar-senar diikat terbuat dari bambu yang keras, penahan senar yang sekaligus
sebagai pengatur nada senar juga terbuat dari bambu. Batang bambu itu lalu diikat menyatu dengan
daun Gebang yang dibuat melingkar tadi. Tabung sasando ini terletak dalam sebuah wadah yang terbuat
dari semacam anyaman daun lontar yang dibuat seperti kipas. Wadah ini adalah tempat resonansi
sasando.

Bunyi sasando sangat unik, karena dibanding gitar biasa sasando lebih bervariasi. Jangan heran, hal ini
karena sasando memiliki 28 senar. Itulah sebabnya memainkan Sasando tidaklah mudah karena
seorang pemain Sasando harus mampu membuat ritme dan feeling bunyi nada yang tepat dari seluruh
senar yang ada. Sasando dengan 28 senar ini dinamakan Sasando engkel, sedangkan jenis Sasando
dobel memiliki 56 senar, bahkan ada yang 84 senar.

Cara memainkan Sasando adalah dengan dipetik seperti memainkan gitar. Tetapi Sasando tidak memiliki
chord (kunci) dan senarnya harus dipetik dengan dua tangan, sehingga lebih mirip Harpa. Sampai
sekarang hampir semua bahan yang dipakai untuk membuat Sasando adalah bahan asli, kecuali senar
Sasando. Saat ini Sasando sudah mulai di modifikasi. Pemantul bunyi dari daun gebang sudah diganti
dengan spul gitar listrik yang ditempelkan pada batang bambu ditengah Sasando. Tentu Sasando model
ini   hanya     bisa       mengeluarkan     bunyi    keras  dengan     bantuan    sound    system.

Luar biasanya hampir semua jenis musik bisa dimainkan dengan Sasando: musik tradisional, pop, slow
rock bahkan dangdut.

Pada kenyataannya, tidak banyak lagi orang yang mampu memainkan alat musik ini. Orang-orang tua
yang selalu bangga memainkan Sasando bagi anak-anak mereka atau dalam upacara-upacara adat,
lengkap dengan topi TiiLangga, pakaian dan tarian adat, sudah banyak yang meninggal. Sementara itu
generasi muda tak banyak yang tertarik untuk sekedar mengenal apalagi belajar memainkan.

Legenda Sasando

Sasando sunggguh telah menjadi identitas Rote. Sasando memiliki kisah hikayat yang patut kita simak.
Sasando berasal dari kata sari (petik) dan sando (bergetar) yang diyakini diciptakan Sanggu Ana pada
abad ke-15 di pulau kecil dekat Pulau Rote, yaitu Pulau Dana, yang waktu itu dikuasai Raja Taka La’a.
Sanggu adalah warga Nusa Ti’i di Pulau Rote Barat Daya. Dia ditahan Raja Dana saat terdampar di
pulau itu ketika mencari ikan bersama kawannya, Mankoa. Selain seorang nelayan, Sanggu juga seorang
seniman.

Saat itu Raja Dana memiliki putri. Putri jatuh cinta kepada Sanggu. Kepada Sanggu, putri menyampaikan
permintaannya untuk memiliki alat musik baru yang diciptakan Sanggu dan bisa menghibur rakyat. Putri
memang suka membuat hiburan rakyat saat purnama tiba.
Sanggu kemudian menciptakan sari sando yang artinya bergetar saat dipetik. Saat itu dengan tujuh tali
yang terbuat dari serat kulit kayu atau akar-akaran. Hubungan putri dengan Sanggu itu ketahuan Raja
Dana. Sang Raja Taka La’a marah besar dan menghukum mati Sanggu.

Kawan Sanggu yang sempat melarikan diri, Mankoa, melaporkan kejadian itu ke Nusa Ti’i. Anak Sanggu
di Ti’i, Nale Sanggu, marah mendengar ayahnya tewas. Nale balas dendam bersama 25 kesatria Ti’i.
Seisi Pulau Dana dimusnahkan, hanya anak-anak dan alat musik sasando warisan ayahnya yang
diselamatkan ke Ti’i.

Di Ti’i sasando dimodifikasi, talinya menjadi sembilan. ”Musiknya sudah bisa lima not terdiri dari mi, sol,
la, do, re. Si dan fa tidak ada,” jelas Nggebu.

Pada zaman Belanda, abad ke-18, jumlah tali ditambah menjadi 10 tali. Sesudah merdeka kembali
mengalami perubahan dengan menambahkan tali menjadi 11 tali. Pada abad ke-19, sasando sasando
haik itu dimodifikasi menjadi sasando biola oleh putra Ti’i bernama Kornelis Frans. Disebut sasando biola
karena saat membuat nadanya disesuaikan nada biola.

Jumlah tali menjadi 39 buah dan nada pokok menjadi tujuh not. Kepada Tim Lintas Timur-Barat, Nggebu
menunjukkan sasando biola miliknya yang sudah dimodifikasi. Ruang resonansinya tak lagi
menggunakan haik, namun diganti kotak kayu dan dihubungkan amplifier agar suaranya nyaring.

Sasando akan membawa Anda mengunjungi dan menikmati pulau Rote yang indah.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:78
posted:11/29/2011
language:Indonesian
pages:13