Embed
Email

SEPUTAR RAKYAT

Document Sample
SEPUTAR RAKYAT
Shared by: HC11112907811
Categories
Tags
Stats
views:
20
posted:
11/28/2011
language:
Indonesian
pages:
8
SEPUTAR RAKYAT

Edisi 01/Tahun I/November 2002





KABAR REDAKSI : Membangun Jembatan Komunikasi





BAYANGKAN,jika seseorang hanya berdiam diri dalam kamar, tanpa pernah berkomunikasi dengan orang lain.

Paling banter bisa bertahan tujuh hari. Jika lewat dari itu, bisa dipastikan dia mengalami kelainan.



Begitulah realitas yang terjadi dalam hubungan sosial. Sebagai aktivis organisasi non pemerintah (Ornop), kami

pun tentu tak bisa pungkiri pentingnya komunikasi. Harus diakui, jerit tangis, dan sejumlah persoalan yang

menghimpit rakyat, bisa direkam melalui komunikasi sosial. Tapi, komunikasi dengan bertatap muka secara

langsung (face to face) itu, rupanya belumlah cukup. Keterbatasan waktu, tenaga, dan kemampuan yang kami

miliki, merupakan salah satu penghambat. Belum lagi, jika mempertimbangkan jarak sesama komunitas

dampingan yang tergolong jauh. Karena itu, dibutuhkan sebuah sarana penghubung sesama komunitas

dampingan, termasuk kami pendamping. Ini penting, untuk merekam kata dan mata hati rakyat. Sebaliknya,

gagasan dan sedikit pengalaman yang kami miliki, sebagian harus disalurkan melalui media.



Nah, menyadari berbagai hambatan tersebut, kami merasa perlu menerbitkan sebuah media, sebagai kelanjutan

dari yang telah terbit sebelumnya. Meski namanya tergolong sederhana, yakni, SEPUTAR RAKYAT, tapi cakupan

isi dan penggarapannya kali ini, lebih serius. Pemberian nama tersebut, dimaksudkan agar media yang

rencananya terbit dua bulanan ini, senantiasa menjadi jembatan komunikasi yang efektif, untuk menangkap kata

hati rakyat, dan menjadi mata hati rakyat.



Salam hangat dari kami.









Pemimpin Umum/Penanggung Jawab: Arianto Sangadji

Pemimpin Redaksi: Darwis Waru

Redaktur: Lahmudin Yoto, Y.L. Franky, Sugiharto, Hamdin

Sekretaris Redaksi: Yusriwati

Liputan: Silas Lahigi [Kulawi], Ferdinan Lumeno Besoa, Harianto [Tomado-Lindu], Nurdin Yabu [Anca-Lindu],

Halim [Bungku]









SIKAP REDAKSI : Nego Inco [Lagi dan Lagi]





KEHADIRAN industri pertambangan dimanapun, selain membawa peluang, juga berpotensi menghadirkan

persoalan. Dalam kerangka pemikiran pelaku pertambangan, mereka adalah industri pionir, penarik untuk

tumbuh dan berkembangnya industri lain. Karakter industri yang high-cost, high-risk, dan long-term ini masuk ke

wilayah baru yang biasanya jauh dari permukiman, membukanya untuk melahirkan sebuah “kota baru”. Kota

yang hingar-bingar dalam wajah kemajuan: jalanan beraspal, kerlap-kerlip lampu listrik menjadi bauran warna-

warni kehidupan di jalur gelap dan terang. Sebuah kota yang kompleks dan tentu saja dengan segenap belitan

persoalan di dalamnya.



Inco telah hadir di bumi Sulawesi. Sejak tahun 1968, perusahan nikel raksasa dari Kanada ini masuk ke wilayah

Soroako, Sulawesi Selatan. Segera, wilayah kecil itu kemudian tumbuh bersama derum dozer pengupas muka

tanah serta hilir-mudik dump-truck di atas jalanan yang disusun dari tumpukan slag sisa pengolahan. Dalam

tungku pengolahan yang panas membara, bijih nikel diolah dan kemudian dikapalkan keluar Indonesia. Pasaran

Jepang merupakan pasar potensial yang siap menampung produk ini.



Hanya itukah yang bisa diceritakan dari tumbuh dan meraksasanya Inco di Soroako? Tentu tidak. Jangan juga

dilupakan adanya asap tebal yang mengapung ke angkasa. Limbah pengolahan nikel juga mengalir meresapi

tanah-tanah pertanian milik penduduk. Bahkan, kalau mau dirunut-runut jauh ke belakang; persoalan ganti rugi

hak milik penduduk masih belum tuntas. Akibatnya, ada-ada saja ekskalasi pro-kontra dalam masya-rakat

sendiri yang berpotensi menjadi konflik. Itulah kenyataan yang tidak bisa dibantah.



Kini, Inco sudah bersiap meneruskan jalur eksploitasi ke wilayah Bungku, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.

Bagi pemerintah setempat, rencana garapan atas lahan seluas 36.625 ha menerbitkan harapan bahwa industri

pertambangan bisa menjadi penarik industri lainnya. Itulah yang telah menjadikan pemerintah terkesan

terlampau bersemangat menanggapi ajakan kerjasama. Ataukah iming-iming landrent dan royalty telanjur

membius pemerintah untuk bergegas menyetujui rencana eksploitasi itu?



Padahal, kalau mau dihitung-hitung, setumpuk persoalan sudah menunggu. Untuk urusan hitung-hitungan pun,

royalti sebesar sekitar enam persen masih harus dibagi-bagi lagi dan hanya menyisakan ampas bagi sang tuan

rumah. Penambahan dana pengembangan masyarakat yang diajukan oleh Pemerintah Provinsi Sulteng pun

sebenarnya masih jauh dari menggembirakan. Belum lagi masalah relokasi 500-an warga transmigrasi

Bahomotefe di sekitar calon lokasi yang belum usai. Belum lagi persoalan klasik nanti, seperti soal-soal

lingkungan hidup.



Jadi, masihkah ada jalan bagi Inco untuk kembali ke Sulteng? Jika sekali ini harus ada negosiasi kembali, itu

semata-mata dilandasi kesadaran bahwa bumi d an air dan kekayaan di bawahnya harus dipergunakan untuk

kemakmuran rakyat. Jika kesepakatan yang sudah telanjur terjadi ternyata tidak pernah menjadi solusi,

bersediakah semuanya kembali semeja? Untuk bernegosiasi, memikirkan kepentingan masyarakat lebih luas.

Semestinya tidak ada kata berhenti. Berjuang lagi dan lagi.









SOROTAN UTAMA : Surga Diharap Neraka Didapat





Meski rakyat terjepit dengan kehadiran PT.Inco, Pemerintah belum beranjak dari kebijakannya yang bermasalah.

Demi PAD atau salahkaprah?



INILAH kawasan Bahodopi sepuluh tahun mendatang; Arus kendaraan proyek hilir mudik di atas aspal licin. Deru

mesin industri berat memekakkan telinga. Bus angkutan khusus melaju mengitari perumahan mewah berAC,

menjemput putera-puteri karyawan ke sekolah gratis. Tapi, jangan lupa, memandang ke angkasa. Di atas sana,

Anda akan menemukan asap hitam mengepul sepanjang hari. Tak hanya itu, masyarakat pemilik hak tanah

sebelumnya, pelan tapi pasti akan tergusur, menelusuri wilayah pegunungan yang tandus. Sebagian lagi memilih

bertahan hidup di pinggir laut, tempat pembuangan limbah industri. Dalam waktu satu atau dua tahun, hidup

mereka memang masih tertolong dengan hasil pancing tradisional. Tetapi tahun-tahun berikutnya, pancing, kail,

dan alat tangkap tradisionl lainnya, tinggallah seutas tali dan sebatang bambu yang kaku, sementara umpan

yang disiapkan dari rumah hanyut ditelan arus, ikan dan makhluk lainnya satu persatu musnah, akibat limbah

yang terus bertambah.



Gambaran di atas tentu saja akan terwujud, jika rencana yang sudah dicanangkan sejak 27 Juli 1968 itu berjalan

mulus. Dan tanda-tanda ke arah itu, seperti tak pernah surut. Lihat saja antusias pemerintah pusat, melalui surat

persetujuan tertanggal 15 Januari 1996, pemerintah Indonesia yang diwakili Menteri Pertambangan dan Energi,

dan PT. International Neckel Indonesia (INCO), memperpanjang kontrak karya sampai 28 Desember 2025. Dan

Pemerintah Daerah pun manggut-manggut. Dalam Rapat Terpadu Pemprov Sulteng dan Pemkab Morowali, 10

Juni 2002 silam, para pejabat pemerintah dari berbagai instansi itu menegaskan, bahwa tidak ada istilah ganti

rugi, melainkan kompensasi atas tanaman warga yang ada sekarang ini. Tak hanya itu, peserta rapat juga

menganggap perlu adanya klarifikasi mengenai hasil kesepakatan antar warga trans Bahodopi dengan konsultan

PT. Inco soal ganti rugi sebesar Rp.40 Juta per KK.



Janji tinggallah janji, dan “neraka” (musibah) itu kini sudah di depan mata. Sebagai perbandingan, Blok Soroako

adalah contoh konkrit yang tepat. Wilayah yang terletak di ujung utara Sulawesi selatan itu, cerobong pabrik

milik PT.Inco, tak henti-hentinya mengeluarkan asap berwarna-warni. Hitam, putih dan coklat. “Jemuran pakaian

ibu-ibu tak bisa bersih, karena abu yang beterbangan melengket di serat-serat pakaian” kata Tokoh masyarakat

Soroako, Andi Baso.



Memang untuk mengeruk perut bumi memiliki resiko yang besar, selain dampak sosial budaya, juga akan

membawa kerusakan alam tergolong parah. Dalam hal pembuangan limbah (tailing) industri misalnya, praktis

akan merusak kesinambungan lingkungan yang membahayakan manusia. Berdasarkan laporan Nostromo

Research (November 2000), penanganan limbah tailing ke laut, atau yang dikenal dengan Submarine Tailing

Disposal (STD), sama buruknya dengan ketidaklayakan secara sosial, merugikan nilai-nilai ekonomi, dan ekologi,

juga mengabaikan hak asasi manusia dan hak politik. Tak percaya? Lihatlah, penggunaan sistem pembuangan

limbah pertambangan di laut (STD) yang gagal. Kasus PT. Newmont Minahasa Raya adalah contohnya.

Masyarakat di sekitar perusahaan bermasalah itu, menderita penyakit gatal-gatal, keracunan, dan tak sedikit di

antaranya yang diserang kanker lambung.



Lalu bagaimana dengan kondisi Sulawesi tengah? “Ya, tak ada pilihan lain. Inco harus ditolak”, kata Aristan,

Koordinator Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Sulawesi.



Nah, jika fenomenanya seperti itu, pertanyaannya adalah, apa yang mendorong PT.Inco begitu antusias

melakukan ekspansi di dua lokasi di Kabupaten Morowali ? Ditinjau dari potensi dan kapasitas kandungan nikel,

dan barang tambang lainnya, Bahodopi memang tergolong menggiurkan. Berdasarkan data yang dihimpun

Yayasan Tanah Merdeka (YTM) Palu, PT Inco akan mengeruk keuntungan nikel di areal pertambangan seluas

218.528,99 ha di tiga Provinsi. 36.625 ha di antaranya akan digali di Kabupaten Morowali Sulawesi Tengah, yang

dikenal dengan Blok Bahodopi. Data ini diperkuat oleh temuan PT.Internasional Nickel Indonesia Tbk, 1999, yang

menyebutkan. indikasi cadangan nikel di Bahodopi mengandung 165 Juta ton, berkadar 1,79 persen. Asal tahu

saja, Nikel yang diproduksi di Indonesia, mendominasi pasaran di Jepang.



Mungkin karena itu, Pemprov Sulteng, sedang mengincar target pendapatan asli Daerah (PAD). Harapannya, jika

investasi berjalan mulus, pemerintah akan mendapatkan kucuran dana segar, melalui pungutan landrent (pajak

sewa tanah) dan royalty (pembagian hasil). Di sinilah pintu gerbang masuk “neraka” itu, sebab, kata Direktur

Yayasan Tanah Merdeka Arianto Sangadji, jika rencana eksploitasi itu terlaksana, Pemerintah hanya mendapat

royalty (iuran eksploitasi/produksi) yang sangat kecil, berkisar 6 persen. Itu pun masih harus dibagi tiga oleh

Pemerintah harus dibagi tiga oleh Pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten. “Ya, saya

kira pemerintah harus sadar, bahwa bagian kita sangat sedikit. Ibarat tamu dapat saripatinya, kita sebagai tuan

rumah hanya kebagian ampasnya. Ini kan kebijakan tolol” sebut Arianto. Sayangnya bantahan Arianto yang

akrab disapa Anto ini, terkesan lewat begitu saja. Dengan iming-iming pembagian hasil, pemerintah tetap

bergeming. Bahkan pejabat eksekutif dan legislatif kini terkesan “main mata”. Meski DPRD Sulteng terkadang

nampak seram terhadap PT. Inco, dengan ancaman akan mengusir Inco jika merugikan kepentingan rakyat. Tapi

ancaman tinggallah ancaman, hingga saat ini tanda-tanda akan pengusiran itu tak juga muncul, bahkan upaya

rujuk terkesan lebih kencang.



Adalah Sekretaris Provinsi Sulawesi Tengah, Drs.Samijono, terbilang nekad. Di tengah desakan masyarakat yang

didukung sepenuhnya beberapa LSM, Samijono bukannya mendukung ancaman DPRD, tetapi cenderung

melakukan negosiasi murahan. Melalui pertemuan yang digelar 26 Juli 2001 silam, Samijono berjanji akan

mengajukan usulan tambahan anggaran Kepada PT Inco, dari Rp.13 Miliar menjadi Rp.17 Miliar, untuk anggaran

pembinaan warga Bahodopi yang belum sempat direlokasi ke Saembawalati. Sayang seribu sayang, janji

Samijono bukannya membawa hasil, tapi justru kabar buruk datang dari Kepala BPN Sulawesi Tengah, Ir.Chairul

Basri Ahmad. Chairul, mengaku mendapat instruksi dari Gubernur Sulawesi tengah. Lantaran itu, dia pun

membatalkan penyerahan sertifikat tanah warga trans yang terkena konsesi Inco. Nah, jika fenomenanya seperti

itu, ke mana lagi rakyat akan mengadu? Inilah yang membuat warga kebingungan, sementara, pihak PT. Inco

terkesan cuci tangan.



Memang posisi PT. Inco saat ini, boleh dikata berada dalam kondisi yang menguntungkan. Artinya berkelik sedikit

saja, mereka dengan gampang bisa selamat dari hantaman berbagai arah. Ada banyak jurus yang bisa mereka

gunakan, salah satunya adalah membalas ancaman. Tengoklah langkahnya yang tergolong cerdik. Dalam sebuah

dialog dengan anggota DPRD Sulteng yang berhembus sejak awal Tahun lalu itu, tak pernah digubris oleh pihak

Inco, bahkan dalam satu kesempatan, Humas PT.Inco, S. Koencoro, balik mengancam, “Kalau areal konsesi

Bahodopi bermasalah, ya, sudah, kami akan menarik diri” katanya, Desember 1999 silam.



Dan ancaman itu, tampaknya cukup membuat mereka lega. Dengan alasan dana belum cair, mereka kini lebih

konsentrasi untuk pengembangan investasi di Daerah Goro New Kaledonia. Sedang wilayah garapan di Sulawesi

Tengah ditunda untuk sementara. “PT. Inco belum mampu melakukan eksploitasi di Sulteng, karena kesulitan

dana” kata Edward Hodkin dari PT.Inco.



Begitulah drama keberadaan PT.Inco di Sulawesi tengah. Pertanyaannya kemudian, skenario apalagi yang akan

dimainkan oleh PT.Inco untuk berkelik? Tentu saja bagi mereka, mencari formula jurus ampuh, bukanlah

masalah. Toh selama ini, mereka belum mendapat perlawanan sengit dari pemerintah setempat. Maklum, dalam

kontrak karya, posisi Pemerintah pusat terpojok, sehingga Pemprov dan Pemkab berada dalam posisi yang

sangat lemah. Belum lagi jika mengamati situasi dan kondisi politik di Kabupaten Morowali yang tidak menentu.

Artinya kesempatan untuk meningkatkan permainan, dan membangun stamina (tenaga) terdapat waktu yang

cukup panjang. Dan boleh jadi, tarik ulur Gubernur Sulteng, dan Bupati terpilih Andi Muhammad, menjadi

kesempatan untuk mencuri star. Tentu saja hal ini akan terjadi, jika rakyat terlena dengan kondisi politik lokal

yang ada. Maka, bersatulah wahai komunitas tertindas, galang kekuatan, dan capai keberhasilan. Bukankah

rakyat bersatu tak bisa dikalahkan?

[tim]









SOROTAN UTAMA : Pemerintah Bermasalah, Warga Menderita, Pengusaha Tertawa





“Bukan salah ibu mengandung, tapi salah bapak mengurut perut ibu. Bukan salah bumi mengandung nikel, tapi

salah pejabat mengundang PT.Inco” Begitu kira-kira untaian kalimat dalam melukiskan rencana eksploitasi nikel

di Sulawesi tengah



ANDI Samsu kini belum bias tidur nyenyak. Pikirannya terus menerawang. Dia membayangkan tanah

kelahirannya beberapa tahun silam. Saat itu, hubungan sesama warga rukun dan damai, dengan suasana alami

yang mempesona. Aneka ragam suku di sana menyatu dengan penduduk asli setempat yakni, To Bungku.

Sedang suku pendatang lainnya, seperti suku Mori (Sulteng), Bugis dan Toraja Mori (Sulteng), Bugis dan Toraja

(Sulsel), serta suku Tolaki (Sultra), ikut memperkaya khasanah keberagaman dalam berdemokrasi. Tapi kini,

suasana itu mulai luntur akibat pergesekan sesama warga. Pemicunya, ya, apalagi jika bukan kehadiran PT. Inco.

Perusahaan asal Kanada itu telah membuat keberadaan warga tak jelas, ada yang tetap berjuang, sebagian lagi

taat pada pejabat, dan tak sedikit pula yang terbuai mimpi indah. “Beginilah resiko menjadi rakyat kecil,” kata

Andi pada Seputar Rakyat.



Kegelisahan Andi Samsu, berawal Tahun 1976 silam. Bahkan ada yang menyebut, pengeboran berlangsung sejak

Tahun 1969 secara diam-diam. Saat itu, PT. Inco mulai melakukan penggalian. Caranya, membuat sumur yang

cukup dalam di areal perkebunan penduduk, bahkan beberapa sumur galian itu dilakukan di halaman rumah

masyarakat Bahomotefe. Tak ayal, Andi Samsu pun berang karenanya. Dia lalu mengajak masyarakat lainnya

untuk negosiasi dengan PT. Inco. Hasilnya? Ya, untuk sementara bisa menenangkan hati mereka. PT. Inco

menyatakan kesediaanya untuk membayar kerusakan tanaman penduduk sebesar Rp 35 Ribu setiap pohonnya.



Tapi, ketenangan itu tak berlangsung lama. Berselang beberapa bulan kemudian, masyarakat kembali gelisah.

Bagaimana tidak, PT. Inco, hanya membayar ganti rugi kepada warga sebesar Rp.7 Ribu setiap pohon, bahkan

ada warga yang hanya menerima Rp. 4 Ribu setiap pohon. Sudah begitu, warga Bahomotefe pun dipaksa

menandatangani kwitansi pembayaran pembebasan lahan, bukan ganti rugi sebagaimana yang disepakati

sebelumnya. “Ini bukti kecurangan dan pengkhianatan PT. Inco,” katanya.



Nah, dengan berbekal bukti-bukti pelanggaran itulah, Andi Samsu terus menggalang kekuatan rakyat untuk

merebut kembali hak-haknya. 24 November 2000, dia bersama ratusan anggota masyarakat lainnya, mendatangi

DPRD Sulawesi tengah di Palu, sekitar 567 Km dari Bahomotofe. Dalam dialog itu, Andi mempertegas, bahwa

warga Bahomotefe sudah lebih dulu menghuni kawasan itu, sebelum kontrak karya antara Pemerintah Indonesia

dan PT.Inco diteken 27 Juli 1968 silam.



Tapi badai (kegelisahan) yang menimpa warga Bahomotefe, belumlah usai. Perjuangan untuk mendapatkan hak-

hak rakyat serasa masih panjang. Fatalnya, kegelisahan warga yang notabene (sebenarnya) adalah penduduk

asli, tidaklah berdiri sendiri, ada banyak orang yang ikut menderita. Salah satunya adalah warga Desa One pute

jaya. Mereka ini adalah transmigran asal NTB, Jawa barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Belum lagi

wilayah yang telah digarapnya menghasilkan, mereka telah mendapat kabar buruk dari Pemprov Sulteng.

Pemerintah menganggap tanah harapan yang dihuni transmigran itu, tumpang tindih dengan wilayah konsesi PT.

Inco. Karenanya, Pemerintah memaksakan relokasi sebanyak 500 kk warga trans itu. Berdasarkan laporan

pemerintah, hingga saat ini, 200 unit rumah yang disiapkan di desa Saembawalati, Kabupaten Poso, telah

ditempati secara keseluruhan. Laporan itu, berbeda dengan hasil investigasi YTM. Ornop yang selama ini konsen

(aktif) melakukan penguatan masyarakat adat dan pemantauan soal Sumber Daya Alam (SDA) mencatat, jumlah

warga trans yang telah direlokasi di Desa Saembawalati, hanya berkisar 30 kk.



Mungkin karena terus mendapat perlawanan dari warga, Pemerintah pun berindak gegabah. Untuk memenuhi

kebutuhan warga trans, Pemerintah membuka lahan baru di Desa Labota. Lokasi yang terletak sekitar 75 km dari

Desa Onepute Jaya itu, tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Lokasi itu, sangat tidak cocok untuk usaha

pertanian. Buruknya kondisi ini diakui oleh staf ahli pemukiman Menteri Transmigrasi dan PPH. Dalam sebuah

rapat dengan Pemprov dan Pemkab Poso 6 sampai 9 Oktober 1998. Tim yang telah melakukan peninjauan

lapangan itu menyimpulkan, bahwa usaha tani sawah di Saembawalati tidak layak huni. Selain masih buruknya

lokasi tujuan relokasi itu, warga hanya dijanjikan lahan penggantian seluas 1 hektar. “Bagaimana mungkin kami

mau menerima tanah pengganti itu, sementara lokasi persawahan di desa semula sudah siap ditanami, sedang

lokasi baru yang disiapkan masih berupa hutan belantara” kata seorang warga trans Onepute jaya itu. Karena

pengganti tanah tak seimbang itulah, warga trans sepakat menolak tawaran relokasi.



Memang untuk menyelesaikan kasus trasmigrasi di Desa Onepute jaya , tak semudah membalikkan telapak

tangan. Ini dikarenakan oleh terjadinya tumpang tindih kebijakan, antara Departemen Pertambangan,

Transmigrasi, dan Pemerintah Provinsi. Dalam berita acara serah terima lahan, 26 Juni 1984, menunjukkan

keberadaan trasmigran secara sah di atas areal sekitar 2.200 Ha. Serah terima itu sendiri ditandatangani oleh

Kepala Desa Bahomotefe, Kepala Desa Bahodopi, Sarapung atas nama Gubernur, Tahasyim, SH atas nama

Direktorat Agraria, dan Drs. Chairuddin mewakili Departemen Transmigrasi. Anehnya, pihak PT. Inco memiliki

hak yang sama dengan lokasi yang sama pula. Kekuatan hukumnya adalah persetujuan perpanjangan kontrak

tertanggal 15 Januari 1996. Kesepakatan yang ditandatangani oleh menteri pertambangan dan PT.Inco itu,

menyepakati perpanjangan kontrak karya, dengan. luasan lahan 218.528,99 Hektar, dan Desa Onepute Jaya

termasuk di dalamnya.



Begitulah benang kusut yang melilit rakyat di Kawasan Bungku Kabupaten Morowali. Nah, lantaran terjadinya

tumpang tindih kebijakan itu, berbagai kalangan mencoba menawarkan jalan tengah. Anggota DPRD Sulteng,

Yus Mangun, berulang-ulang mengancam akan membawa kasus ini ke pengadilan internasional (arbitrase).

Alasannya, pihak PT.Inco telah merugikan rakyat setempat, sedang keuntungan yang masuk ke kas daerah tak

kunjung tiba. Tapi Arianto Sangadji meragukan ancaman Yus Mangun. Kata dia, keinginan itu tidaklah semudah

yang dibayangkan banyak orang, kalau tak mau dikatakan mustahil, sebab wewenang untuk meninjau ulang

kontrak karya ada pada Pemerintah pusat dan perusahaan yang bersangkutan. “Di sinilah rumitnya, sebab

kontrak karya ditandatangani oleh pemerintah pusat dan PT.Inco, tak pernah melibatkan masyarakat. Yang bisa

kita lakukan sekarang ini adalah bersama-sama Pemerintah Daerah untuk mendo-rong Pemerintah Pusat dalam

meninjau ulang kontrak karya yang telah diperpanjang sampai 2025.



Meski peluang itu agak berat, Anto mengajak kepada masyarakat agar tidak berhenti memperjuangkan hak-

haknya. “Bukan tidak mungkin rakyat setempat akan menggugat Inco, dalam hal pelanggaran HAM”. Tak hanya

itu, masalah lain yang kerap muncul dalam dunia industri keruk adalah soal gender. Adalah George Junus

Aditjhondro memberi penilaian. Kata Antroplog Universitas Kristen Satya Wacana itu, industri tambang identik

dengan “industri maskulin”, yang tidak hanya membutuhkan kecanggihan tehnologi, tetapi juga “keperkasaan”

yang didominasi laki-laki. Hal ini kata Aditjhondro, mengakibatkan seringnya terjadi pelecehan perempuan,

maupun kekerasan fisik dalam bentuk paling berat, yakni perkosaan. Dan yang lebih menyayat hati, perilaku PT.

Inco yang tergolong nakal. Koordinator Nasional Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), Chalid Muhammad, punya

data tentang sejumlah pelanggaran perusahaan yang mengklaim dirinya sebagai penambang terbersih di dunia

itu. Kata Chalid, hingga 1993, PT.Inco, tidak pernah melakukan kewajibannya membayar pajak perusahaan

(corporate tax) sebesar Rp.35 persen dari keuntungan yang didapatnya. Padahal, sejak 1987, PT.Inco telah

memperoleh laba. Maka bersiaplah menerima gugatan Mister. [Tim]

SOROTAN KHUSUS : Rakyat Bangkit Pejabat Tersesat





Aksi besar-besaran Forum Rakyat Miskin Sulawesi Tengah (FRM-ST) 1 Mei lalu, menuntut Megawati

mengundurkan diri sebagai Presiden. Alasannya, pemerintahan saat ini, membuat rakyat jadi tamu di negeri

sendiri.



EMAN, 28 tahun berjalan lunglai. Kedua kakinya tampak tak kuat menopang tubuhnya yang kurus. Bola matanya

menerawang ke angkasa, sekali-kali dia membungkukkan badan menatap tanah tumpah darahnya. Sejurus

kemudian, dia memalingkan wajahnya yang kusut ke samping kiri dan kanan, memandang arus kendaraan yang

lalu lalang. Lama sekali. Dia bingung melihat mobil mewah dan gedung megah tampak angkuh di sekelilingnya.

“Eh, lihat, mereka tak pakai baju” teriak seorang bocah di pinggir jalan, menatap sosok Eman bersama dua orang

kawannya setengah telanjang.



Begitulah ragam kreatifitas yang ditampilkan para aktivis Organisasi Non Pemerintah (ORNOP) di Sulteng, dalam

memberi perlawanan terhadap segala bentuk penindasan. Melalui sebuah wadah yang diberi nama Forum Rakyat

Miskin Sulawesi Tengah (FRM-ST), para aktivis menyatukan diri dalam menggalang kekuatan rakyat. Isu yang

ditawarkan pun tidak tanggung-tanggung, terwujudnya pemerintahan rakyat miskin.



Boleh jadi, 1 Mei 2002 itulah puncak perlawanan rakyat Sulteng. Lihat saja jumlah massa yang diturunkan

menghampiri angka 3000 menutup ruas Jalan Sam Ratulangi Palu. Dengan membentang berbagai spanduk, dan

mengedarkan selebaran tuntutan, massa yang berdatangan dari berbagai desa dan beberapa kabupaten itu,

mengawali aksinya di Taman GOR Palu. Menariknya, massa yang berdatangan dari berbagai pelosok desa itu, tak

melulu “menjual” orasi, tapi juga menampilkan kreasi dari berbagai sektor dampingan. Selain adegan kemiskinan

yang ditampilkan sebelumnya, para aktivis juga secara bergiliran tampil membacakan puisi bernuansa

perjuangan kaum tertindas. Tak hanya itu, para tukang becak yang biasanya polos, pendiam, tiba-tiba jadi

periang. Di sela-sela suara gemuruh demonstran, mereka uji ketangkasan di antara ribuan pasang mata. Kontan

saja, para pegawai dan pengguna jalan lainnya ramai-ramai bertepuk tangan, atas hiburan gratis yang

dipamerkan massa.



“Ini bukti, bahwa rakyat kita bisa diatur. Masalahnya, apakah pejabat kita juga bisa mengatur yang baik.” Teriak

salah seorang presidium FRM-ST, M. Ridha Saleh, seraya mengacungkan kepalan tinju ke udara. “Hidup rakyat”,

teriak massa secara serentak. Dan nyatanya memang, aksi besar-besaran itu, berlangsung tertib dan lancar.

Mungkin karena itu, para wakil rakyat yang didaulat untuk membacakan tuntutan tak bernyali menolak. Adalah

Helmy D.Yambas (FPG), dan Haelani Umar (FPP), tampil membacakan tuntutan massa. Beberapa tuntutan itu

antara lain, kenaikan upah buruh dan prajurit rendahan seratus persen, stop Galian C di Teluk Palu, stop tanah

erfpacht Panimba untuk petani, cabut perda tentang pelarangan becak, stop rencana pertambangan Inco di

Bungku, dan stop rencana penambangan emas di Tahura Poboya.



Aksi yang sama juga berlangsung di Kabupaten Tolitoli. Di bawah koordinasi Yayasan Dopalak Indonesia dan

Dewan Adat Masyarakat Dondo, massa mengangkat berbagai kasus yang dianggap merugikan masyarakat,

antara lain, perampasan tanah oleh perkebunan sawit Cipta Karya Murdaya (PT.CCM), penguasaan hutan bakau

di Desa Doyan oleh Wakil Bupati Tolitoli, Harsono Hamu, dan berbagai tuntutan kaum miskin lainnya.



Soal kepemimpinan Mega-Hamzah, FRM-ST menemukan kejanggalan dan kekeliruan. Beberapa hal yang nampak

dan mudah ditelusuri adalah, keterikatan Megawati dengan militer, penyembahan kepada IMF, kenaikan bahan

bakar minyak (BBM), dan sederet kekeliruan lainnya. Ironisnya, kata Ridha Saleh, yang akrab disapa Edang itu,

kebijakan Megawati, malah membuat perekonomian Indonesia semakin terpuruk, rakyat melarat, dan krisis

ekonomi semakin menjadi-jadi. Wajar, jika banyak kalangan menilai Megawati telah mengambil kebijakan sesat.

Karenanya, kata Edang, FRM-ST meminta Megawati segera mengundurkan diri dan mengganti pemerintahan

menjadi pemerintahan rakyat Miskin. Sebelum membubarkan diri, ribuan massa itu ramai-ramai membakar

gambar Megawati.



Mungkin karena itu, sejumlah simpatisan PDI-P melancarkan gugatan. Sehari setelah aksi berlangsung, seorang

aktivis PDI-P Cabang Tolitoli “kebakaran jenggot”. Anehnya, gugatan yang muncul bukan dari kalangan wakil

rakyat (baca DPRD Sulteng), sebagai sasaran aksi. Dan tujuan gugatan pun bukannya ditujukan kepada Edang

selaku Presidium FRM-ST, tetapi gugatan aneh itu dikaitkan dengan posisi Edang sebagai Direktur Yayasan

Pendidikan Rakyat (YPR) Palu. Adalah Irfan Pontoh memicu munculnya polemik itu. Kata dia, Edang, telah

mencemarkan nama baik Megawati, karena itu harus dituntut sesuai prosedur hukum.



Entah solidaritas dadakan sesama anggota partai atau sekadar gertak sambal semata, Jumadi Agam, salah

seorang pengurus PDI-P Sulteng bersama tiga orang rekannya mengajukan gugatan, dengan Nomor laporan

pengaduan polisi (NOPOL): B-328/V/2002/LP/PMP/Resta Palu. Mereka juga menantang FRM-ST untuk debat

terbuka. Nah, atas tantangan itu, FRM-ST mencoba melayani tantangan. Maka digelarlah sebuah dialog di

Gedung Pogombo Kantor Gubernur Sulteng. Tapi sang penantang PDI-P tak kunjung datang.



Lalu apa sebenarnya motif gugatan? Inilah yang disesalkan oleh berbagai kalangan. “Mestinya, PDI-P hadir untuk

memperlihatkan sportifitasnya. Kalau begini, sama artinya lempar batu sembunyi tangan, ” kata Soleman Sekjen

FRM-ST.

Senada dengan Soleman, Edang mengajak kepada segenap rakyat agar menetapkan Megawati sebagai musuh

bersama. “Tidak ada pilihan lain bagi kita, melawan atau Miskin”sebut Edang, seraya mempertegas kesiapannya

menghadapi gugatan sesuai laporan pengaduan PDI-P. [Tim]









SOROTAN KHUSUS : Jalan Panjang Membangun Gerakan





8 Januari 2002

Puluhan buruh dari Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) Palu, menggelar aksi menolak kenaikan

BBM, TDL, dan tarif telepon.



20 Februari 2002

Ratusan buruh PT.SMJP, FNPBI, LBHR, dan aktivis Ornop lainnya, mendatangi DPRD Donggala, menuntut

penyelesaian masalah dengan Ketua DPC PSN Donggala, atas proyek pengadaan perahu Tahun 2001.



23 Februari 2002

Nelayan Desa Lero, mendesak DPRD Donggala. Mereka menuntut pnyelesaian masalah dengan Ketua DPC PSN

Donggala atas proyek pengadaan perahu Tahun 2001.



28 Februari

Buruh PT. Leang Yang, menuntut penyesuaian gaji dengan UMP sebesar Rp 350 Ribu per bulan. Tuntutan ini

berlanjut sampai 2 Maret 2002.



8 Maret 2002

Ratusan aktivis Ornop, petani, nelayan melakukan aksi memperingati hari perempuan sedunia.



16 Maret 2002

144 buruh PT Leang Yang, menolak di PHK.



20-25 Maret 2002

Buruh PT. Leang Yang, mogok kerja. Aksi tersebut berlangsung di halaman kantor nakerstrans. Mereka menuntut

hak-hak normatifnya



3 April 2002

Ratuan masyarakat Desa Soi Dusun Noo, menuntut janji Bupati Donggala, tentang bantuan pembangunan

masjid.



10 April 2002

Rakyat Desa Sibualong membakar kantor balai desa. Mereka kecewa karena Kades yang bermasalah diaktifkan

kembali.



25 April 2002

Buruh PT.FSA mogok kerja menuntut hak-hak normatifnya.



30 April 2002

Buruh PT Indotama Pura, mendatangi kantor DPRD kota Palu. Mereka menuntut pembayaran gaji akibat diPHK.



1 Mei 2002

Ribuan massa yang tergabung dalam FRM-ST melakukan aksi dalam memperingat hari buruh sedunia. Aksi yang

dikenal dengan May Day itu, memadati Jl.Sam Ratulangi Palu. Di tempat lain, yakni Kabupaten Tolitoli, juga

berlangsung aksi yang sama.



8 Mei 2002

Pelajar melakukan aksi protes atas kenaikan sewa angkot.



21 Mei 2002

Ratusan mahasiwa yang tergabung dalam LMND dan HMI-MPO menuntut kepemimpinan Mega-Hamzah turun dari

jabatannya.



3 Juni 2002

100-an warga yang menamakan diri barisan penyelamat hutan rakyat, melakukan aksi menuntut IPTKM di Desa

Tuva dicabut.



18 Juni 2002

Puluhan masyarakat Poboya menolak dilaksanakannya penambangan di daerahnya.



17 Juli 2002

Ratusan massa dari FRM-ST kembali melakukan aksi prakondisi dalam memperingati 27 Juli.



24 Juli 2002

Ribuan massa aksi Forum Petani Merdeka (FPM) Dongidongi, menuntut Pemerintah memberikan

legalitas/pengakuan atas tanah yang telah direclaiming.



27 Juli 2002

Ribuan massa aksi FRM-ST menuntut penyelesaian kasus 27 Juli dan penggantian Mega Hamzah dengan

Pemerintahan rakyat miskin



30 Juli 2002

300-an massa PRD Sulawesi Tengah, aksi nasional menuntut penggantian Pemerintah Mega Hamzah dan

pembentukan pemerintahan rakyat miskin.



31 Juli 2002

Ratusan anak sekolah dan guru dan kepsek di Bangkep aksi menuntut penyebaran guru secara adil dan dana

bantuan sekolah.



1 Agustus 2002

Puluhan massa partai keadilan Sulawesi tengah aksi menuntut amandemen UUD 45



3 Agustus 2002

Ribuan anak sekolah SMUN 1 Palu, solidaritas menuntut pihak sekolah membatalkan sangsi pemecatan dan

skorsing kepada 8 orang siswa, dikarenakan versi sekolah yang menyatakan bahwa terjadi pelanggaran dalam

kegiatan MOS.



12 Agustus 2002

Puluhan buruh PT Leang Yang, aksi menuntut percepatan penyelesaian hak-hak normatif yang sedang di peroses

di P4P.



13 Agustus 2002

Ratusan massa TERKAM menolak tambang galian C di seluruh teluk Palu



4 September 2002

Ribuan masyarakat yang tergabung dalam FRM-ST menggelar aksi memperingati hari tani nasional.

[tim]









SOROTAN KHUSUS : Kekuatan Belum Berimbang, Bung!





"Maksud hati memeluk gunung apa daya tangan tak sampai. Maksud partai unjuk kekuatan, apa daya kurang

legitimasi"



Massa partai politik yang mendapat kursi di DPRD Sulteng, akhirnya terpancing juga. Setelah berkali-kali diserbu

ribuan rakyat, mereka pun menyatukan sikap untuk melakukan aksi tandingan. Maka, pada 1 Oktober lalu, niat

untuk melakukan show force terkabulkan. “Kami tak mau kalah, kami ingin memperlihatkan bahwa kami duduk

di sini, juga punya massa konkrit”, kata seorang anggota DPRD Sulteng.



Maka, digelarlah apel akbar dengan menggunakan momen Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober, di lapangan

Vatulemo Palu. Beberapa parpol besar terlibat, antara lain Partai Golkar, PAN, PBB, PDI-P, dan PPP. Kelima

parpol itu pun mencoba unjuk gigi dengan menggiring massa sekitar 700 orang. Sayangnya kemudian, para

peserta aksi terkesan tak terkoordinir dengan baik. Lihatlah, pola gerakan mereka yang kocar-kacir. PPP

memobilisir massa dari pasar Manonda dan Kelurahan Palu utara, PAN mengarahkan massa dari Kecamatan

Biromaru, PDI-P memobilisir massa dari berbagai sektor. Yang tergolong unik adalah, mobilisir pelajar SMP dan

SMU. Saat itu, mereka baru saja mengikuti upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila. “Inilah keahlian mereka

menangkap momen,” kata seorang warga, menyindir PDI-P.



Fenomena unik juga terjadi saat massa sudah berkumpul. Entah persiapan yang kurang matang atau saling

mencurigai antar partai, sehingga aksi berjalan serampangan. Tengoklah ulah massa PAN dan PPP yang menjaga

jarak dengan partai lain. Tatkala, pembacaan pernyataan sikap 11 partai politik akan dibacakan, pukul 09.45,

unsur Ketua PAN dan PPP protes. Sontak saja, suasana menjadi tegang. Mereka lalu mengancam menarik

massanya. Berselang beberapa menit kemudian,PBB angkat kaki, mereka pun menolak menandatangani petisi.



Lalu bagaimana tanggapanFRM-ST tentang aksi tandingan yang digelar sejumlah partai itu? “Itu hak mereka,

yang jelas kami tak pernah gentar menghadapi tantangan murahan seperti itu. Toh massa yang kami turunkan

ril, tanpa paksaan” kata Sekjen FRM-ST, Soleman. Diimbuhinya, rakyat Sulteng saat ini tak bisa lagi dikelabui.

Mereka tahu mana yang harus diikuti, mana yang hanya bisa memberi janji muluk.

Nah, atas fenomena menarik itu, banyak kalangan menilai reputasi wakil rakyat kini semakin surut. Dan boleh

jadi, ini adalah indikasi ketidakpercayaan rakyat terhadap sejumlah partai politik. Selama ini, memang ada istilah

yang populer di kalangan masyarakat, misalnya saja, “Rakyat dilirik sekali dalam lima Tahun”. Sejauhmana

kebenarannya? Hanya rakyat jualah yang tahu. Toh, pemilihan umum masih tersisa beberapa tahun lagi. Artinya

kesempatan untuk memahami sebuah partai masih panjang. [tim]









HAK BICARA : Arianto Sangadji



Kapitalisme Keruk dalam Pertambangan Nikel di Indonesia





Indonesia adalah salah satu negara penting dalam industri pertambangan nikel dunia, memiliki cadangan nikel

sebanyak 8 persen, 8,3 persen produksi penambangan dan 0,9 persen dari total produksi pengolahan nikel dunia.

Hal ini mengantar posisi Indonesia ke peringkat kelima, dalam hal cadangan dan produksi penambangan. Sedang

untuk produksi pengolahan nikel dunia, Indonesia menempati posisi ke delapan belas. (Armitage, 2001).



Meski kaya dengan deposit nikel, namun perkembangan industri di Indonesia boleh dikata masih pemula. Saya

menyebut tahap perkembangan industri seperti ini sebagai kapitalisme ekstraktif atau kapitalisme keruk. Yakni,

sebuah proses yang tahap perkembangan awalnya, hanya menghasilkan bahan mentah atau setengah jadi,

dalam pengerukan sumber daya mineral untuk diekspor. Dalam tahap ini, penambangan tidak sampai pada

tingkat produksi campuran nikel, semi manufaktur atau produk yang lebih tinggi lainnya. Ini mengisyaratkan

bahwa, Indonesia telah kehilangan momentum dalam mendapatkan nilai tambah yang lebih besar. Sebab, harga

komoditi nikel yang dihasilkan, sama sekali tidak sebanding dengan nilai sesungguhnya, jika diproduksi dalam

bentuk semi manufaktur atau produk lebih tinggi lainnya.



Sebagai negara dengan potensi cadangan nikel yang besar di dunia, Indonesia benar-benar dilirik oleh

perusahaan-perusahaan lintas negara yang sudah malang melintang di industri pertambangan. Selain Inco Ltd di

Soroako, tercatat beberapa perusahaan-perusahaan lain. Sebutlah misalnya, BHP Billiton Ltd dan Falconbridge.

Kedua perusahaan ini, dikenal sebagai ekportir batubara terbesar dunia, produser biji besi terbesar ketiga dunia,

dan juga terlibat dalam industri minyak, gas, LNG, nikel, diamon dan perak.



Pemain asing lain dalam penambangan nikel di Indonesia adalah Weda Bay Mineral Inc Ltd (Kanada). Perusahaan

ini bersama-sama dengan PT Antam membentuk PT Weda Bay Nickel, yang 90 persen sahamnya dikuasai oleh

Weda Bay Minerals. Sedang sisanya, sebesar 10 persen, dimiliki oleh PT Antam.



Tetapi, dari semua perusahaan lintas negara yang telah melirik Indonesia, PT Incolah yang memiliki peran paling

signifikan. Anak perusahaan dari Inco Ltd ini, merupakan produsen terbesar kedua nikel dunia. Mereka telah

menancapkan kukunya di bumi Sulawesi sejak 1968. Dengan memproduksi nickel matte (nikel setengah jadi).

Sedikitnya 90 persen telah diproduksi dari total produksi nikel Indonesia.



Berada dalam lingkup kapitalisme ekstraktif, membuat PT Inco meraup keuntungan tidak sedikit. Jika dikalkulasi

dengan cermat, kita bisa menemukan angka yang fantastis. Tengok saja keuntungan yang telah diperoleh. Pada

1989, PT Inco memperoleh keuntungan bersih sebesar US$ 182 juta. Total keuntungan bersih PT Inco dari 1988

hingga 1998–di luar tahun 1990, 1991, 1992 dan 1993 mencapai US$ 588 juta.



Bandingkan dengan keuntungan yang diraih pemerintah Indonesia dengan jangka waktu yang sama. Antara

1988-1999, pemerintah hanya menerima US$ 25.7 dari PT.Inco dalam bentuk royalty, pajak perusahaan, sewa

tanah, dan sewa air. Ini menunjukkan bahwa, selama periode tersebut, total keuntungan bersih pemerintah

hanya berkisar 4,37 persen, dari total keuntungan bersih yang diperoleh PT Inco.



Kenyataan ini tentu saja sangat memprihatinkan. Betapa tidak, kekayaan dan sumber daya mineral yang kita

miliki, tidak memberi kontribusi yang signifikan pada peningkatkan kesejahteraan rakyat. Ratusan Juta dolar

yang mengalir ke luar negeri, cuma dinikmati orang asing, sementara rak-yat sebagai pemilik sumber daya

mineral, tetap saja menderita. Berjuta-juta perut rakyat tetap saja kelaparan.


Related docs
Other docs by HC11112907811
Sheet1
Views: 0  |  Downloads: 0
GHID DE UTILIZARE ACCESS
Views: 31  |  Downloads: 0
Jan 1
Views: 0  |  Downloads: 0
slidshow
Views: 0  |  Downloads: 0
comp
Views: 7  |  Downloads: 0
Nov 1999
Views: 3  |  Downloads: 0
Slide 1
Views: 0  |  Downloads: 0
The Wednesday Wars study guide
Views: 11  |  Downloads: 0
getfile
Views: 8  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!