Disusun oleh :
Tim Kemanusiaan Wamena
Bagian Investigasi:
SKP Keuskupan Jayapura
(koordinator)
KONTRAS Papua
ELSHAM-Papua
LBH Jayapura
Peristiwa
Tragedi Kemanusiaan Wamena
6 Oktober 2000
Sebelum Dan
Sesudahnya
Sebuah Laporan Investigasi
Jayapura
Januari 2001
TIM KEMANUSIAAN WAMENA
BAGIAN INVESTIGASI
JL. Kesehatan No. 4, Kotak Pos 1379
Jayapura 99013, Telp/ Fax: 0967-534993
No.: 014/BD/2001/3.4.12
Hal: laporan Wamena
Kepada Yang Terhormat:
Ketua Sinode GKI, Pdt. Herman Saud MTh.
Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar OFM
Ketua Sinode GIDI, Pdt. Mestian Towolom STh.
Ketua Sinode GKII, Pdt. John Gobay STh.
Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja Baptis Indonesia, Pdt. Sofyan Joman
BSc.
Dengan hormat,
Bersama ini kami Tim Kemanusiaan Wamena khususnya Bagian Investigasi
menyerahkan hasil pekerjaan kami kepada para pimpinan Gereja di Papua yang telah
menugaskan kami selama ini. Tugas tersebut telah selesai kami laksanakan untuk
bagian pencarian fakta atau investigasi dan dituangkan dalam laporan yang berjudul :
PERISTIWA TRAGEDI KEMANUSIAAN WAMENA 6 OKTOBER 2000
SEBELUM DAN SESUDAHNYA.
Kami merasa lega bahwa akhirnya tugas ini selesai dilaksanakan tetapi terlebih
semoga dengan publikasi laporan ini, kepentingan masyarakat yang hidup di Baliem
dan Tanah Papua dilayani dengan langkah yang tidak mudah ini. Tugas yang
dipercayakan kepada kami tidak ringan karena kami ditugaskan untuk mengusut
permasalahan yang ternyata jauh lebih kompleks daripada peristiwa 6 Oktober 2000
itu sendiri. Karenanya, kami sajikan dua bagian penting: latarbelakang dan analisis
masalah agar setiap orang yang membaca laporan ini mampu mengerti duduk soal
Wamena secara lebih lengkap, akurat, dan berimbang.
Tugas selanjutnya masih dikerjakan oleh Tim Kemanusiaan Wamena, khususnya
Bagian Bantuan Hukum yang terus terlibat dalam persidangan kasus Wamena. Karena
itu kami mohon perhatian dan dukungan dari para pemimpin Gereja di Papua dan
seluruh masyarakat agar persoalan ini ditangani bersama secara jernih dan bijaksana.
Jayapura, 24 Januari 2001
Koordinator Bagian Investigasi, Anggota Tim Investigasi,
J. Budi Hernawan ofm Piet Sau
SKP Keuskupan Jayapura KONTRAS Papua
Koordinator Umum, Koordinator Bagian Bantuan Hukum,
Yohanis Bonay SH Demianus Wakman SH
Els-HAM Papua LBH Jayapura
PENGANTAR
L
aporan berikut ini merupakan hasil dari penggalian fakta mengenai
peristiwa kekerasan tanggal 6 Oktober 2000 di Wamena (lihat peta
terlampir) oleh Tim Kemanusiaan Wamena Bagian Investigasi yang
bekerja atas mandat dari lima pimpinan gereja-gereja1. Berdasarkan data
yang berhasil dikumpulkan dan mengingat keterbatasan akses informasi
akibat kebijakan isolasi daerah oleh Bupati Jayawijaya, laporan ini akhirnya
berhasil disusun.
Laporan ini secara sistematik terdiri atas tiga bagian inti yang diapit oleh kata
pengantar dan lampiran:
I. Latarbelakang Peristiwa
Bagian ini akan menguraikan perkembangan situasi kemasyarakatan
yang terjadi dalam perjalanan tahun 1999 – 2000 di lembah Baliem.
II. Uraian Peristiwa 6 Oktober 2000
Bagian ini akan menguraikan rangkaian fakta dalam peristiwa 6
Oktober 2000 dan berbagai kesaksian baik dari saksi, saksi korban,
dan pihak kepolisian setempat.
III. Analisis Pasca Peristiwa 6 Oktober 2000
Bagian ini menguraikan dampak-dampak yang terjadi akibat peristiwa 6
Oktober 2000 itu.
IV. Kesimpulan
1
Tim Kemanusiaan Wamena adalah kelompok kerja—terdiri dari SKP Keuskupan Jayapura,
Kontras Papua, Els-HAM, dan LBH Jayapura—yang dibentuk oleh lima pimpinan Gereja di
Jayapura (GKI, GKII, GIDI, Gereja Baptis, Gereja Katolik Keuskupan Jayapura) tanggal 10
Oktober 2000. Tim ini ditugaskan untuk tiga hal pokok: [1] menggali fakta peristiwa, [2]
melakukan pendampingan hukum, [3] melaksanakan pelayanan medis.
Bagian ini akan meneliti unsur-unsur kunci yang menggerakkan
peristiwa 6 Oktober 2000 sebagai rangkuman laporan dan
menggariskan rekomendasi kepada berbagai pihak guna
menyelesaikan akar persoalan yang ada.
V. Rekomendasi
Dalam bagian ini akan dirumuskan usulan-usulan kepada setiap pihak
yang terkait dengan situasi Baliem demi pemulihan situasi yang ada.
VI. Lampiran-lampiran
Bagian ini merupakan kumpulan data statistik yang terperinci mengenai
: [1] korban, [2] pengungsi, [3] tahanan, [4] peta wilayah, [5]
pernyataan-pernyataan resmi instansi pemerintah, presidium,
masyarakat.
BAGIAN I
LATAR BELAKANG
B
agian ini coba menguraikan secara singkat dua latarbelakang yang
menjadi kerangka pijakan untuk menempatkan peristiwa Wamena
dalam situasi sosio-politik yang ada di Jakarta dan Jayapura maupun
di wilayah Baliem terhitung dari Kongres Papua II 29 Mei-4 Juni 2000.
A. Kondisi sosio-politik di Jakarta dan Jayapura
Mulai dengan saat berlangsungnya Kongres Papua II, sikap elit politik di
Jakarta menjadi lebih keras terhadap aspirasi masyarakat Papua. Sikap yang
dipegang dan diungkapkan secara terbuka adalah bahwa masalah Papua
adalah masalah separatisme (lihat pernyataan sekitar kongres Juni 2000).
Saat dilangsungkan Sidang Umum MPR bulan Agustus 2000, masalah Papua
telah menjadi salah satu bahan komoditi politik yang bermuara pada tekanan
dari DPR dan MPR-RI kepada Presiden (pemerintah) untuk menindak secara
tegas aspirasi Merdeka masyarakat Papua. Desakan yang makin kuat
terhadap pemerintah semakin mereduksi persoalan kemanusiaan di Papua
menjadi hal-hal teknis menyangkut bendera Papua dan mempersoalkan
pemulihan nama Irian Jaya menjadi Papua seperti telah disetujui secara lisan
oleh Presiden RI sewaktu berkunjung ke Jayapura tgl. 31 Desember 1999.
Sikap ini semakin menjadi sikap umum di kalangan para elit politik nasional
sekaligus telah menjadi kerangka struktural kebijakan meskipun DPRD Tk. I
Irja sebagai representasi sah masyarakat di Propinsi Irja telah mensahkan
Keputusan No. 7/DPRD/2000 tentang ―Pengembalian nama Irian Jaya
menjadi Papua‖ tanggal 16 Agustus 2000.
Sikap dan kerangka struktural ini akhirnya melahirkan sebuah kebijakan dari
pemerintah saat Kapolri baru, Jend. Pol. Bimantoro menginstruksikan kepada
Kapolda Irian Jaya, Brigjend. Pol. S.Y Wenas, mengenai penurunan Bendera
Papua sesaat dilantik oleh Wapres Megawati tgl. 23 September 2000. Atas
dasar instruksi Kapolri tersebut, Kapolda Papua segera meneruskan instruksi
itu kepada seluruh kapolres di Tanah Papua. Kapolres Jayapura,
Superintenden Daud J. Sihombing, mengeluarkan surat kepada Presidium
Dewan Papua (disingkat: Presidium) untuk menurunkan bendera Papua 2
dengan merujuk kepada briefing Kapolri tertanggal 27 September 2000.
Sebagai tanggapan atas surat edaran dari Kapolres Jayapura tersebut, pada
tanggal 3 Oktober 2000 pihak Presidium mengadakan pertemuan dengan
Muspida Tk.I (Pjs. Gubernur, Pangdam XVII/Trikora, rektor Uncen, Kapolda),
Dan Lantamal, Kepala Kejaksaan tinggi Irja, tanpa dihadiri oleh Ketua DPRD
Irja (TN. Kaiway) karena ybs. harus memimpin sidang pemilihan gubernur
Papua. Dalam pembicaraan tersebut, presidium dengan jelas-jelas meminta
dengan sangat supaya instruksi Kapolri tersebut ditunda sampai Presidium
bertemu dengan Presiden. Akhirnya disepakati : patokan penurunan bendera
tgl. 19 Oktober 2000 tetapi bukan harga mati melainkan menunggu
pertemuan antara Presidium dengan Presiden RI dan Menkosospolkam
tentang masalah penurunan bendera dan nama Papua3.
Akan tetapi, tiga hari kemudian, 6 Oktober 2000 pecah insiden Wamena dan
presidium menelpon Kapolda Irja, Brigjen. S.Y. Wenas, dan menyesalkan
mengapa kesepakatan tidak dipegang sebab pihak Presidium mengaku
mendapatkan data dari Wamena yang menyatakan bahwa Brimob bertindak
atas dasar instruksi Kapolda Irja. Setelah dikonfirmasikan oleh Mediator
Presidium, Willy Mandowen, tindakan itu diambil karena ada banyak bendera
Papua yang dikibarkan di Wamena. Pak Willy menanggapi bahwa dalam
kesepakatan dengan muspida tidak diatur soal jumlah sehingga
dipertanyakan mengapa sekarang soal jumlah menjadi dalih oleh pihak
Kapolda.
2
Surat Kapolres Jayapura No.: B/857/IX/2000, tertanggal 29 September 2000 tentang
Penurunan Bendera Bintang Kejora.
3
Lihat ―Notulen Pertemuan Antara Muspida Propinsi Irian Jaya dengan Presidium Dewan
Papua di Gedung Negara Tanggal 03 Oktober 2000‖ yang ditandatangani oleh Ir. Sabirin
Harahap M.Mt, tertanggal 7 Oktober 2000, bagian III (KESIMPULAN) Butir 1.
7 Oktober 2000 Presidium mengadakan rapat di Jayapura dengan
membuahkan sejumlah rencana sbb:
1. Mengeluarkan Surat Pernyataan4 yang ditujukan kepada Presiden RI
berisikan: [1] minta diadakan rapat polkam yang melibatkan Presidium,
Muspida Irja guna membahas bendera dan nama Papua yang sudah
disahkan oleh DPRD Irja; [2] mengukuhkan penetapan Papua sebagai
Zona Damai; [3] mendesak Pemerintah Pusat agar beritikad baik dalam
penegakan hukum; [4] Pemerintah Pusat harus menjelaskan secara
terbuka dan jujur mengenai penempatan pasukan militer besar-besaran di
Papua; [5] meminta perlindungan sosial, politik, dan keamanan kepada
Presiden dan Pemerintah RI.
2. Akan mengadakan aksi damai hari Senin, 9 Oktober 2000 untuk
mendesak DPRD Papua
3. Akan mengirim utusan ke Wamena untuk berunding dengan masyarakat
dan aparat keamanan setempat. Yang diutus adalah Pdt. Komba, Pdt.
Herman Awom, dua mahasiswa dari Panel.
4. Mendesak segala pihak untuk segera menjadikan Papua sebagai Zone
Damai.
B. Kondisi sosio-politik di Baliem
Suasana kemasyarakatan di wilayah Baliem untuk sebagian besar digerakkan
oleh dinamika sosio-politik yang terjadi di tingkat Jakarta dan Jayapura.
Unsur-unsur berikut ini menunjukkan pengaruh tersebut, yakni:
1. proses sosialisasi hasil Kongres Papua II di Baliem
2. perkembangan Satgas Papua di Baliem
3. sistem penyebaran informasi antara Presidium dengan masyarakat biasa
4. perpecahan di antara masyarakat Baliem
5. kekaburan pemimpin dan tatanan hukum di Baliem
Ad.1 Proses sosialisasi hasil kongres Papua II
4
Lihat surat pernyataan Presidium Dewan Papua no. A-01-190/PDP/B-IX.2000 tertanggal 7
Oktober 2000.
Pasca Kongres Papua II, di seluruh Papua diadakan kegiatan yang disebut
dengan sosialisasi hasil kongres. Kegiatan tersebut dilaksanakan juga di
Baliem oleh anggota Presidium: Pdt. Obeth Komba, Bpk. Agus Alua, Bpk.
Thaha Alhamid, Bpk. Benny Giyai dan para anggota panel di antaranya: Bpk.
Yafet Yelemaken, Ibu Amelia Jigibalom, Bpk. Murjono Murip. Untuk wilayah
Wamena kota, sosialisasi hasil kongres dihadiri oleh Kapolres sendiri:
Superintendent Daniel Suripatty tetapi bupati dan Ketua DPRD Tk. II
Jayawijaya tidak pernah hadir. Dari sejumlah sumber diperoleh gambaran
bahwa sosialisasi di Wamena dengan hasil kongres yang menggariskan
sejumlah segi utama5: [1] pencarian jatidiri bangsa Papua a.l. dalam wujud
pemakaian nama 'Papua' sebagai identitas orang Papua; [2] segi pelurusan
sejarah; [3] perjuangan aspirasi kemerdekaan Papua lewat cara dialog damai.
Akan tetapi perlu dimengerti bahwa kegiatan sosialisasi adalah kegiatan
massal sehingga selalu melibatkan massa dalam jumlah besar, berisi pidato-
pidato tanpa teks yang bersemangat, dan setiap kali diiringi dengan lagu atau
seruan-seruan penyemangat massa. Karenanya isi pidato atau seruan tidak
jarang lebih diwarnai unsur emosional yang mudah ditafsirkan berlebihan6.
Sementara itu di lingkungan kecamatan yang jauh dari pusat Kabupaten,
sosialisasi berkembang di luar garis kebijakan kongres sendiri karena
masyarakat mempersepsi hasil kongres secara berlebihan; sementara di
pihak panel, kadangkala terlontar sejumlah janji yang kurang realistik. Unsur
yang paling tertanam di hati masyarakat Baliem dan Papua pada umumnya,
adalah bahwa ―M (erdeka)‖ adalah harga mati.
Ad. 2 Perkembangan Satgas Papua di Baliem
Salah satu pokok yang menjadi bahan sosialisasi adalah pembentukan
Satgas Papua sebagai instansi yang dipercaya oleh masyarakat Papua untuk
mengamankan proses penyaluran aspirasi kemerdekaan. Perkembangan
Satgas Papua di Baliem sangat pesat. Misalnya, di Kecamatan Kurulu (satu
dari 28 Kecamatan di Kabupaten Jayawijaya) berdiri 18 posko Satgas Papua.
5
Lihat Laporan Hasil Kongres Papua II 29 Mei - 4 Juni 2000.
6
Kegiatan sosialisasi serupa dengan kegiatan kampanye partai-partai politik menjelang
pemilu baik suasana maupun isinya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak janji dalam
Kegiatan dalam posko biasanya berpusat pada penjagaan bendera Papua
yang dikibarkan dan kegiatan latihan-latihan fisik semi-militer. Umumnya
Satgas Papua berisikan kaum laki-laki dewasa; dan satu-dua orang
perempuan.
Kehadiran Satgas Papua boleh dikatakan berdampak ganda: positif dan
negatif. Dampak positif adalah memberantas orang mabuk dan penjualan
minuman keras yang sangat mengganggu kehidupan harian masyarakat
Baliem. Di sejumlah tempat, Satgas Papua juga melindungi guru-guru yang
sudah lama tinggal di tempat tersebut; juga saat terjadi tragedi kemanusiaan
6 Oktober 2000.
Dampak negatifnya adalah pertama, bahwa karena kaum laki-laki
terkonsentrasi dalam posko, kehidupan keluarga-keluarga yang menjadi
tanggung jawabnya sangat terganggu. Kaum perempuan mau tak mau harus
menanggung seluruh beban pekerjaan, nafkah, tanggung jawab keluarga.
Secara komunal, kebun-kebun/ ladang yang menjadi dasar hidup masyarakat
kurang terpelihara karena mayoritas tenaga kerja terserap dalam kegiatan
posko. Ada bahaya kelaparan jika kebun-kebun tidak segera dikerjakan. Hal
kedua adalah bahwa kehadiran Satgas Papua mendorong terciptanya
suasana militeristik di segenap sudut Wilayah Baliem dengan sistem pos-pos
pemeriksaan, sistem komando, menjatuhkan denda kepada pihak yang
dianggap melanggar ketertiban. Tidak jarang sikap militeristik itu
mendatangkan kesulitan yang tidak sedikit di antara sesama masyarakat. Hal
ketiga adalah kehadiran Satgas Papua serentak membuka peluang
munculnya unsur kelompok tandingan atau mengundang reaksi kontra dari
pihak aparat keamanan.
Ad. 3 Sistem Penyebaran Informasi antar Presidium dengan masyarakat
biasa
Sudah menjadi kenyataan bahwa semenjak Kongres Papua II, mayoritas
masyarakat Papua sangat menghargai dan mengikuti arahan Presidium
kampanye parpol ternyata tidak dipenuhi dan masyarakat sudah tahu hal ini sebelumnya.
Dewan Papua. Presidium telah menjadi pedoman gerak bagi masyarakat
Papua secara luas. Presidium juga mengambil langkah dalam melaporkan
kegiatan-kegiatan Presidium dan Kongres kepada Presiden RI. Presidium
juga mengadakan perjalanan sosialisasi masalah Papua ke dunia
internasional. Sebagai kelompok pemimpin, Presidium memang telah
menempatkan diri seperti diamanatkan dalam Kongres Papua II. Yang
menjadi kendala adalah bagaimana menyamakan persepsi antara Presidium
dengan masyarakat biasa. Kerapkali informasi yang dimiliki Presidium tidak
bisa menyebar kepada masyarakat hingga kampung-kampung. Hal inilah
yang menjadi salah satu penyebab menggelembungnya harapan masyarakat
hingga tidak realistik lagi.
Ad. 4 Perpecahan di antara masyarakat
Seiring dengan perkembangan aspirasi kemerdekaan di Papua, berkembang
juga kubu-kubu pendukung masing-masing kelompok. Di Baliem, di antara
masyarakat sendiri terbelah antara kubu M(erdeka) dengan kubu O(tonomi)--
yang diidentikkan dengan pro-pemerintah—secara cukup nyata. Setiap
langkah yang berusaha menangani kehidupan harian: mengolah kebun
dengan lebih baik, memajukan pendidikan, menangani kesehatan,
memperbaiki jembatan, segera dicap sebagai kelompok O oleh kelompok M.
Dengan demikian pelan-pelan keduanya sudah tidak bisa bertemu lagi. Hal ini
masih diwarnai juga dengan perseteruan antar fam yang sudah berlangsung
turun-temurun di Baliem yang dulu terwujud dalam perang suku.
Dengan kelompok etnis lain, terdapat juga jurang yang makin renggang
karena tidak ada ruang bicara yang bebas antara kelompok etnis lain dengan
kelompok Papua. Seluruh dinamika perjuangan aspirasi M cukup
mengeksklusifkan kelompok-kelompok etnis lainnya tidak hanya di Wamena
tetapi di Papua seluruhnya.
Ad. 5 Kekaburan kepemimpinan dan tatanan hukum
Dalam perkembangan situasi masyarakat di Papua, pihak pemerintah dan
pimpinan Polri/ TNI kiranya belum memiliki format yang tepat selain pola
'menjalankan instruksi dari Pusat'. Bupati dan DPRD Tk.II tidak mampu
mengolah dinamika kehidupan masyarakat sehingga semuanya berkembang
menurut iramanya sendiri. Indikasi yang paling jelas adalah seringnya Bupati
tidak hadir di Wamena sehingga tidak sepenuhnya mengalami sendiri setiap
tahap dalam dinamika kehidupan masyarakat. Banyak kali unjuk rasa
masyarakat bermuara ke DPRD Tk. II dan ditampung di situ tanpa
menghasilkan satu kebijakan politis yang melayani kebutuhan masyarakat
luas.
Hal ini cukup jelas dalam peristiwa Wamena dimana pemerintah daerah Tk.II
dan Polres tidak mampu untuk menangani perkembangan masyarakat dalam
bulan-bulan terakhir hingga perlu menggunakan kekerasan untuk menangani
masyarakat.
BAGIAN II
URAIAN PERISTIWA 6 OKTOBER 2000
A. KRONOLOGI
Rabu, 4 Oktober 2000
Ada usaha penurunan bendera Bintang Kejora di wilayah Sinakma oleh
Brimob tetapi gagal terlaksana karena sudah sempat diketahui oleh pihak
Satgas Papua di setiap posko, tempat Bendera Papua dikibarkan.
Kamis, 5 Oktober 2000
Ada desas-desus yang berkembang pada malam hari bahwa bendera Bintang
kejora di salah satu posko Satgas di wilayah Sinakma telah diturunkan secara
paksa oleh pasukan Brimob dan benderanya sudah dirobek-robek serta
poskonya pun dibakar. Ternyata hal ini tetap tinggal sebagai kabar angin.
Jumat, 6 Oktober 2000
Pk. 06.15 WIT,
Di lapangan Mapolres Jayawijaya dilaksanakan penyiagaan pasukan oleh
Kapolres Jayawijaya Superintenden Daniel Suripatty untuk menurunkan
Bendera Bintang Kejora. Penyiagaan iini berlangsung sekitar 30 menit.
Selanjutnya, atas perintah Kapolres Jayawijaya, Daniel Suripatty, pasukan
gabungan polri yang sebagian besar terdiri dari anggota Brimob dibantu TNI
mulai bertindak.
Posko Sinakma Atas
Di Posko Sinakma Atas, Satgas Papua menurunkan sendiri bendera Papua
yang ada di tempat tersebut sehingga tidak terjadi tindak kekerasan dari pihak
polisi. ―Brimob tidak datang turunkan bendera di Sinakma Atas ini. Di Sinakma
ini memang ada tiga (3) posko satgas Papua, tetapi bendera kami turunkan
sendiri. Brimob hanya beraksi di Sinakma bawah--Jl. Bhayangkara, Posko di
PGRI dan YPK, dan selanjutnya di posko-posko lain hingga akhirnya posko
induk di pasar lama, Jl.Trikora. Saat kejadian, warga Sinakma atas tidak turun
ke kota baik untuk menonton atau pun untuk menyerang. Semuanya tertahan
tetap di tempat, berjaga di tempat masing-masing. Karena pada saat kejadian
baik di posko induk maupun di Wouma itu, ada berita sampai ke kami warga
Sinakma atas bahwa Pak Dandim 1702 Jayawijaya minta supaya orang
Sinakma Atas tidak turun ke kota.‖ Demikian ungkap informan dari Sinakma
Atas.
Pk. 06.45 WIT di Posko I Agung Mulia, Jl. Bhayangkara, Sinakma Bawah
Pasukan gabungan yang terdiri dari Dalmas (Pengendalian Massa) Polres,
Brimob dan TNI, dibawah pimpinan Kapolres Daniel Suripatty, didampingi
para kepala stafnya beraksi melakukan penurunan Bendera Bintang Kejora
secara paksa di Posko I. Semua anggota satgas lari karena aparat
mengeluarkan tembakan beberapa kali. Tidak ada korban karena tidak ada
perlawanan. Bendera diturunkan lalu tiangnya dipotong dengan gergaji mesin;
sedangkan honai posko dibakar. Bendera dibawa polisi. 6 orang anggota
Satgas Papua ditangkap dan dibawa ke Mapolres, yakni:
1. Yeremias Mosip (laki-laki, 30 tahun, petani, dari Desa Ibele)
2. Martinus Heleue Kalolik (laki-laki, 27 tahun, siswa SMU YPK, dari
Desa Hulekama)
3. Ananias Kosay (laki-laki, 30 tahun, pemuda, dari Desa Aikima)
4. Primus Oagay (laki-laki, 28 tahun, Pegawai Dinas Sosial, dari Desa
Kulagaima)
5. Marthen Komba (laki-laki, 25 tahun, penganggur, asal Desa
Piramid)
6. Niko Meage (laki-laki, 27 tahun, Kepala Desa Landia)
Pk. 06:55 WIT di Posko II YPK Jl. Bhayangkara
Pasukan Brimob menurunkan bendera Bintang Kejora di Posko II- YPK, Jl.
Bhayangkara, 100 m dari posko I- PGRI. Posko II ini berada di depan gubuk
anak-anak sekolah dari kampung-kampung yang kebetulan sekolah di PGRI
dan YPK. Pasukan datang dengan tembakan peringatan beberapa kali.
Mereka datang dengan menggunakan tiga buah truk dan dua mobil. Semua
anggota satgas melarikan diri mencari perlindungan ke asrama YPK, 50 m
dari TKP. Tembakan beruntun menyusuli mereka. Tidak ada korban jatuh.
Tiang bendera baik Merah Putih maupun Bintang Kejora langsung digergaji
dengan gergaji mesin. Dua bendera diturunkan secara paksa oleh aparat,
honai posko dirusak/ dirobohkan tetapi tidak dibakar. Bendera dibawa ke
Mapolres, tujuh (7) orang dipaksa naik ke atas truk aparat: 6 orang di
antaranya adalah anak sekolah dan wakil ketua satgas di posko II-YPK.
Ke 7 (tujuh) orang satgas yang ditangkap saat itu adalah:
1. Ismael Omoldoman (laki-laki, 37 tahun), tukang bangunan, wakil
ketua posko,
2. Jan Pieter Siringon (laki-laki, 17 tahun), SMK Yapis, anggota
Satgas
3. Seartiel Siringon (laki-laki, 18 tahun), SMK Yapis, anggota
4. Otniel Taes (laki-laki, 18 tahun), SMK Yapis, anggota
5. Demianus Kabak (laki-laki, 29 tahun), penganggur, anggota
6. Enos Biridoman (laki-laki, 20 tahun), penganggur, anggota
7. Elias Kabak (laki-laki, 18 tahun), penganggur anggota
Pk. 07:15 WIT di Posko III Kama I, Sinapuk
Pasukan Brimob bersama ketujuh orang (gelombang pertama) dari posko II
itu tiba di posko satgas Lokasi III (posko III) di Sinapuk. Di sana hanya
seorang bapak, Yurdi Kogoya (24 th) dan dua orang ibu, yakni: Tuminah (35
th) dan Kendina (27 th), yang berada di dalam honai. Ketika pasukan mulai
mendobrak pintu pagar untuk masuk menurunkan bendera Bintang Kejora,
bapak itu berkata ―Kamu mau menurunkan bendera atas perintah siapa?
Apakah Presiden yang perintah?‖ Menjawab itu, Kapolres Jayawijaya berkata
dengan tegas, ―Saya ini Kapolres Jayawijaya. Saya yang perintahkan untuk
turunkan bendera Bintang Kejora.‖ Brimob bertindak dengan menurunkan
bendera dan tiang bendera digergaji. Dua (2) orang anggota satgas yang baru
muncul dari rumah kediamannya yang tidak jauh dari posko langsung dipaksa
naik ke truk, yakni Alpius Matuan (26 th, asal dari Desa Kama) dan Pieter
Matuan (20 th, asal dari Desa Kama). Honai Posko tidak dirusak aparat
karena merupakan rumah penduduk, milik bapak tersebut; sedangkan
bendera disita oleh polisi. Sementara itu berita tentang aksi penurunan
bendera Bintang Kejora oleh aparat keamanan sudah meluas ke posko-posko
lain di seluruh Wamena Kota. Para anggota Satgas Papua dan para
pendukungnya mulai melakukan aksi pemalangan jalan di dalam kota dengan
merobohkan pohon dan meletakkannya di jalan-jalan, membakar ban-ban
mobil, memasang drum-drum kosong di jalan-jalan, dan menimbun batu-batu
di setiap jalan yang ada.
Pk. 07:30 WIT di Posko IV, Kama, Jl. Pasar Baru
Pasukan tiba di posko IV di Kama yang biasa dikenal juga dengan sebutan
posko Jibama. Mereka langsung menurunkan bendera secara paksa, tiang
bendera digergaji dengan gergaji mesin. Honai posko dibakar, seorang
anggota satgas ditendang oleh Brimob hingga jatuh tersungkur tak berdaya,
lalu ditarik dengan kasar naikkan ke atas truk. Di posko ini tidak ada
perlawanan dari pihak satgas Papua. Akhirnya ada sebelas orang Satgas
Papua yang ditangkap dan dinaikkan ke truk polisi untuk dibawa ke Polres,
yakni:
1. Melianus Matuan (laki-laki, 20 tahun, Desa Kama)
2. Marselino Matuan (laki-laki, 25 tahun, Desa Kama)
3. Paulus Matuan (laki-laki, 49 tahun, Desa Kama, Kepala Suku Kama)
4. Pieter Matuan (laki-laki, 22 tahun, Desa Kama)
5. Yohanes Itlay (laki-laki, 30 tahun, Desa Kama)
6. Carlos Lagawan (laki-laki, 20 tahun, Desa Kama)
7. Kornelis Itlay (laki-laki, 25 tahun, Desa Kama)
8. Henky Matuan (laki-laki, 29 tahun, Desa Kama)
9. Tobi Lokobal (laki-laki, 18 tahun, Desa Kama)
10. Musa Hisage (laki-laki, 26 tahun, Desa Kama)
11. Wemi Matuan (laki-laki, 18 tahun, Desa Kama)
Pk. 07:45 WIT di Posko V, Doksar (Pertigaan Hom-hom-Pikhe-Pasar
Baru)
Pasukan tiba di posko V di Doksar atau Pertigaan Hom-hom, Pikhe dan Pasar
baru di Jl. Pikhe. Posko ini berdampingan dengan Pos Penjagaan Kehutanan
Jayawijaya. Di posko Pikhe ini, masyarakat sudah siap bersama para anggota
Satgas Papua untuk mempertahankan bendera Bintang Kejora. Melihat
kesiagaan masyarakat yang memenuhi lokasi itu untuk mempertahankan
bendera Papua, Kapolres Jayawijaya dengan menggunakan megaphon
memerintahkan supaya bendera segera diturunkan dari tiang. Masyarakat
tidak mau membiarkan bendera Bintang Kejora itu diturunkan. Tampak
beberapa anggota Satgas Papua berdiri mengelilingi tiang bendera, siap mati
ditembak. Kapolres memerintahkan pasukan untuk bertindak. Rentetan
tembakan ke udara dikeluarkan oleh anggota brimob dan polisi serta gergaji
mesin dibunyikan. Terjadi bentrokan fisik antara pasukan gabungan dengan
satgas Papua mengakibatkan dua orang anggota satgas luka-luka, satu orang
Brimob luka-luka. Brimob kembali mengeluarkan tembakan beruntun dan
maju dengan gergaji mesin ke arah dua tiang bendera yang berakibat
anggota satgas mundur.
Kejadian ini membuat masyarakat panik dan lari dari tempat kejadian, yang
lainnya langsung berlari menuju kota. Sementara itu, bendera diturunkan
secara paksa oleh aparat dengan memotong tiang baik bendera Merah Putih
maupun Bintang Kejora dengan gergaji mesin. Setelah tiang-tiang
ditumbangkan barulah bendera disita oleh Brimob; honai posko dirusak tetapi
tidak dibakar; 8 orang anggota Satgas Papua ditangkap dan dinaikkan ke atas
truk dan dibawa ke Polres :
1. Yohakim Huby (laki-laki, 32 th, dari Desa Pikhe)
2. Frans Huby (laki-laki, 36 th, dari Desa Hubykosy)
3. Heri Kosay (laki-laki, 25 th, dari Desa Hubykosy)
4. Hendrik Siep (laki-laki, 42 th, dari Desa Pikhe)
5. Agus Sorabut (laki-laki, 30 th, dari Desa Jibama)
6. Jakson Itlay (laki-laki, 32 th, dari Desa Hubykosy)
7. Edi Marian (laki-laki, 32 th, dari Desa Pikhe)
8. Hubertus Pawika (laki-laki, 28 th, dari Desa Pikhe)
Pk. 07:50 WIT di Posko Honai Resor, Jl. Pikhe
Pasukan mulai beraksi lagi di posko Honai Resort di Jl. Pikhe. Saat pasukan
yang dipimpin oleh Kapolres datang ke posko, satgas coba menutup jalan
masuk ke posko sambil bersiap dengan panah. Pasukan gabungan lalu
mengepung. Pada saat itu, Jakson Jikwa (penginjil dari Gereja Baptis Honai
Resor, 35 tahun) datang berusaha menengahi dan mencegah bentrokan.
Penginjil Jakson berusaha membujuk supaya baik pasukan keamanan
maupun satgas tidak bertindak brutal. Akhirnya menghormati dua bendera,
bendera Merah Putih dan Bintang Kejora diturunkan baik-baik. Penginjil
menurunkan bendera Merah Putih dan seorang anggota Brimob menurunkan
bendera Bintang Kejora. Saat bendera sudah diturunkan, penginjil bermaksud
melepaskan ikatan tapi tiba-tiba salah seorang anggota Brimob memukulnya
dengan popor senapan. Pukulan yang sama terjadi pada Teri Wenda saat dia
hendak melepas ikatan bendera Bintang Kejora hingga kepalanya berdarah.
Selanjutnya kedua bendera dibawa oleh Brimob.
Bendera diturunkan secara paksa, tiang bendera dipotong dengan gergaji
mesin oleh pasukan gabungan; honai posko dirusak; bendera disita oleh
Brimob; 21 orang ditangkap dan dipaksa naik truk, yakni:
1. Timanus Kogoya (laki-laki, 25 th, dari Desa Pikhe)
2. Pilius Wenda (laki-laki, 27 th, dari Desa Pikhe)
3. Les Wenda (laki-laki, 26 th, dari Desa Pikhe)
4. Atinus Wenda (laki-laki, 35 th, dari Desa Pikhe)
5. Teri Wenda (laki-laki, 36 th, dari Desa Pikhe)
6. Isak Wenda (laki-laki, 34 th, dari Desa Pikhe)
7. Yoel Wenda (laki-laki, 26 th, dari Desa Pikhe)
8. Jules Wenda (laki-laki, 22 th, dari Desa Pikhe)
9. Elius Wenda (laki-laki, 23 th, dari Desa Pikhe)
10. Jakson Jikwa (laki-laki, 35 th, dari Desa Pikhe)
11. Ukien Wenda (laki-laki, 22 th, dari Desa Pikhe)
12. Elipius Wenda (laki-laki, 20 th, dari Desa Pikhe)
13. Aman Jikwa (laki-laki, 20 th, dari Desa Pikhe)
14. Lamber Kogoya (laki-laki, 30 th, dari Desa Pikhe)
15. Gonam Kogoya (laki-laki, 35 th, dari Desa Pikhe)
16. Yosep Kogoya (laki-laki, 30 th, dari Desa Pikhe)
17. Ben Jigibalom (laki-laki, 29 th, dari Desa Pikhe)
18. Lukas Kogoya (laki-laki, 30 th, dari Desa Pikhe)
19. Nas Wenda (laki-laki, 30 th, dari Desa Pikhe)
20. Yalinus Yanengga (laki-laki, 25 th, dari Desa Pikhe)
21. NN, gembala Sidang Gereja Baptis (laki-laki, 40 th, dari
Wanggogome)
Sekitar pk. 08.00 WIT di Pertigaan Doksar
Tak lama sesudah penurunan bendera, datanglah satu taksi kijang dari
Kurulu. Seorang tenaga TU SLTPN I Kurulu bernama Yohanes Audi
Sumolang (36 th) bersama Kepala Suku Besar Yiwika, Dauke Mabel (55 th),
dan istrinya: Palekdek Faluk (52 th) berada di dalam taksi yang bermaksud ke
kota Wamena untuk urusan keluarga. Taksi itu hendak dihentikan Satgas
Papua di Posko Doksar. Sopir taksi takut dan tidak menghentikan
kendaraannya. Menyadari hal ini Satgas Papua melempar batu dan membidik
dengan panah ke arah Audi tetapi coba dihalangi oleh Dauke Mabel yang
bermaksud melindungi orang tersebut serta istri Dauke. Tindakan
penyelamatan ini mengakibatkan Dauke mengalami patah rahang, istrinya
terluka di dagu, dan tenaga TU mengalami luka di bagian kepala. Menyadari
situasi sedemikian sopir taksi segera lari menyelamatkan diri ke Polsek Hom-
hom. Karena luka-luka, mereka dibawa oleh Polisi ke RSUD Wamena guna
memperoleh perawatan. Bpk. Dauke Mabel akhirnya dirujuk untuk dirawat di
RSUD Dok. II Jayapura pada hari Sabtu, 7 Oktober 2000.
Pk. 08.00 WIT,
Pasukan gabungan itu tiba kembali di Mapolres. Penyiksaan terhadap para
tahanan sewenang-wenang, sekitar 80 orang itu mulai berlangsung. Mereka
dipukul, ditendang, diinjak, kumis dicabut, dipukul dengan popor senjata atau
kayu bertubi-tubi dari semua anggota pasukan yang ada di Mapolres.
Pasukan beristirahat sebentar. Bendera Bintang Kejora di posko Induk, Jl.
Trikora belum diturunkan; sementara massa sudah berkumpul di posko Induk
dan siap untuk mempertahankan Bendera Papua.
Di Mapolres, Kapolres Jayawijaya memberikan instruksi lagi kepada seluruh
anggota pasukan gabungan itu untuk melakukan penurunan bendera Bintang
Kejora di Posko Induk, Jl.Trikora, kompleks Pasar Lama. Sementara
penyiagaan pasukan berlangsung, penambahan personil pasukan dari Brimob
maupun TNI-AD tiba di Mapolres.
Pk. 10.00 WIT di Posko Induk, Jl. Trikora-Kompleks Pasar Lama.
Atas perintah Kapolres, pasukan mulai beraksi lagi di posko induk di Jl.Trikora
kompleks Pasar lama Wamena kota. Pasukan gabungan itu langsung
bergerak ke posko Induk yang tidak jauh dari Mapolres. Jaraknya kira-kira
100 meter. Suasana tegang. Masyarakat menghadang pasukan dengan
busur-panah, tombak, dan parang. Melihat hal ini, Kapolres segera
memanggil Yesaya Pigome yang dikenalnya. Kapolres mengatakan kepada
Yesaya Pigome supaya memerintahkan satgas mengumpulkan alat-alat
tajam. Sebelumnya pemuda dan satgas diperintahkan agar angkat tangan,
selanjutnya Yesaya Pigome mengatakan kepada Kapolres, ―Bapak, dalam
situasi seperti ini apa bila saya memerintahkan satgas mengumpulkan panah
dan tombak, pasti saja saya akan diancam (panah) oleh satgas, jadi kalau
bisa kita turunkan dulu bendera-bendera yang ada di posko pinggiran kota
dan yang ada di posko induk, kita turunkan bersama‖.
Mendengar usulan Yesaya Pigome, Kapolres tidak terima. Kapolres mundur
tiga langkah ke belakang, kemudian memerintahkan anak buahnya untuk
bertindak. Dengan disertai dengan rentetan tembakan, pasukan polisi
mendekati tiang bendera dan dengan menggunakan gergaji mesin kedua
tiang bendera dipotong. Maka terjadilah bentrokan antara rakyat dan pasukan
gabungan. Beberapa orang satgas luka tertembak.
Ketika massa yang berada dipertigaan Jl. Trikora dan Jl. Ikan Tawes melihat
seorang satgas tertembak di paha belakang dan tumit kaki kirinya, massa
mulai beraksi mengambil batu dan mulai melempari rumah-rumah yang ada di
pinggiran jalan sekitar Apotik Delta Cipta, maka datanglah Brimob mengejar
massa dengan tembakan, massa lari. Saat itu Bpk. Eliezer Alua yang sedang
berjalan bersama anaknya laki-laki, Frans Alua (8 tahun), di pertigaan Jl.
Tawes dan Jl. Sulawesi terkena tembakan. Dia masih sempat berlari masuk
ke rumah Bpk. Frans Yogi yang ada di pinggir jalan Tawes dan meninggal di
situ.
Akhirnya, tiang bendera dipotong; honai posko dibakar; bendera disita. Di
tempat kejadian ini, terdapat sejumlah korban baik dari pihak pasukan
gabungan maupun dari masyarakat dan satgas Papua. Dari pihak pasukan,
ada dua (2) anggota kepolisian yang terluka tembak, yakni:
1. Serda Mochtar Odewelo (21 th), anggota Dalmas Polres
Jayawijaya, luka tembak di bagian pantat, dan
2. Serda M. Arifin (22 th), anggota Brimob Jayawijaya, luka tembak di
siku tangan kanan.
Sedangkan korban dari masyarakat yang teridentifikasi sebanyak 10 orang,
yakni:
1. Eliezer Alua (laki-laki, 50-an tahun), ditembak mati
2. Umaryono (laki-laki, 22 tahun), luka tembak
3. Anthon Aso (laki-laki, 27 tahun, Anggota Satgas Papua), luka
tembak
4. Thomas Itlay (laki-laki, 26 tahun, Anggota Satgas Papua), luka
tembak
5. Merius Jikwa (laki-laki, 23 tahun, Anggota Satgas Papua), luka
tembak
6. Daud Alua (laki-laki, 24 tahun, Anggota Satgas Papua), luka
tembak
7. Yesaya Pigome (laki-laki, 25 tahun, Anggota Satgas Papua), luka
tembak
8. Keniken Jikwa (laki-laki, 27 tahun, Anggota Satgas Papua), luka
tembak
9. Opitis Pagawak (laki-laki, 24 tahun, Anggota Satgas Papua), luka
tembak
10. Deni Itlay (laki-laki, 25 tahun, Anggota Satgas Papua), luka tembak
Kegiatan jual-beli di Pasar Lama terhenti. Semua orang berlari mencari
tempat perlindungan yang aman.
kira-kira pk. 10.00-11.00
Massa telah melumpuhkan kota Wamena dengan pemalangan jalan. Dari
segala arah kota Wamena telah dikepung oleh massa. Tetapi setelah ada
pengarahan dari anggota Panel Papua dan kepala-kepala suku, massa mulai
berangsur-angsur keluar Wamena. Kelompok massa yang datang dari Kurulu
dan Pikhe ditahan oleh tua-tua adat di Pikhe dan berhasil dibujuk untuk tidak
masuk kota. Kelompok dari arah Hom-hom juga berhasil dibujuk oleh
sejumlah tokoh masyarakat dan anggota Panel. Massa dan Satgas kemudian
bersiaga di Posko Hom-hom. Kelompok massa yang datang dari arah selatan
(Kurima, Hepuba, Hitigima) mundur dan berkumpul di Desa Wouma.
Jembatan yang menghubungkan Wamena kota dengan Wouma itu sudah
dipalang. Massa bersiap-siap dengan kampak, tombak, panah. Suasana kota
sepi mencekam. Warga masyarakat mulai mengungsi ke tempat-tempat yang
dianggap aman: gereja-gereja, Kodim, Polres, Mesjid, Lembaga
7
Pemasyarakatan, dan kampung-kampung di luar kota . (lihat lampiran
mengenai daftar pengungsi).
7
Pengungsi yang keluar Baliem dengan Hercules sulit dipastikan karena tidak ada instansi
yang mencatatnya.
Pk. 12.00 di Posko II YPK, Jl. Bhayangkara.
Meski bendera sudah diturunkan dan posko sudah dirusak, pasukan
gabungan masih kembali melakukan penyisiran ke posko ini. Sesaat datang
langsung menendang pintu-pintu asrama pelajar Yali, lalu mengeluarkan
anak-anak pelajar yang ada didalam gubuk dengan kekerasan, mereka
ditendang, dipukul, ditodong dengan senjata, baru tembakan ditelinga
mereka, penyiksaan dan intimidasi selama 15 menit di posko.
Ketua LMA Suku Yali yang sekaligus anggota Panel Jayawijaya: John Wilil
dan pelajar yang jumlahnya 27 orang ini digiring dari posko ke polres yang
jaraknya kurang lebih 700 m, dalam perjalanan mereka dikawal oleh 12
anggota kostrad, 2 polisi disebelah kiri dan kanan jalan. Jumlah polisi
bertambah lagi di perjalanan. Selama perjalanan itu 28 orang tersebut disuruh
merayap dan dianiaya dengan pukulan popor senjata dan batang Pohon Wilo
sepanjang jalan hingga tiba di Jl. Sudirman. John Wilil berada di depan
barisan. Rombongan dipisahkan. John Wilil ke kantor bupati Jayawijaya
sedangkan27 orang pelajar digiring terus ke Polres dengan jalan jongkok.
Sesampai di depan Kantor Bupati, datanglah Thomas Elosak Spd memanggil
John Wilil untuk masuk ke kantor Bupati atas panggilan Sekwilda Jayawijaya.
Tetapi Thomas Elosak justru menjadi korban pemukulan oleh Brimob dengan
ranting pohon Wilo di kepalanya hingga berdarah sehingga dia lari masuk
kembali ke kantor Bupati di Jl. Thamrin, Wamena. John Wilil diantar sampai
ke gerbang kantor bupati dan disambut oleh 5 orang anggota TNI Kostrad
yang berjaga di situ. Mereka ini menembak ke udara persis di dekat telinga
John Wilil.
Saat masuk di ruangan, John Wilil yang berlumuran darah segera dipeluk
oleh Pdt. Satia, Bpk. Warikar, Dandim 1702 Wamena, Agus Sularso, dan
Sekwilda. John mengadu kepada Dandim dengan mengatakan, ―Mengapa
anak buah bapak berbuat seperti ini?‖ Dandim mengatakan bahwa mereka itu
bukan anak buahnya tetapi Kostrad sedangkan anak buahnya tidak keluar
dari Kodim. Setelah itu, mereka mengadakan rapat bersama anggota panel
yang lain yang sudah berkumpul di Kantor Bupati untuk menangani insiden
yang sedang terjadi. Sesudah pertemuan, John diantar ke RSUD Wamena
oleh Pdt. Otto Kabak dan mendapatkan obat jalan meski memar di kepala
belakang belum sempat diperiksa dengan teliti.
Daftar nama 28 orang yang ditangkap di posko II adalah:
No Nama Umur Pekerjaan Alamat
01 John Wilil 32 th Guru honorer, Jl. Gatot Subroto
Ketua LMA suku 15, (Toar) Wamena
Yali (anggota
panel)
02 Matias Yare 20 th Siswa SMU Jl. Bhayangkara
YPPGI, anggota
Satgas Papua
03 Metusalak 25 th Mahasiswa SKIP Potikelek, Kompleks
Yulahap Gereja Ebenhezer
04 Alius Alua 26 th Guru Honorer Jl. Bhayangkara
SPMA
05 Oskar Walela 18 th Siswa SMU YPK Jl. Irian (pabrik tahu)
06 Yapi Mabel 18 th Siswa SMU YPK Asrama GJPI, Jl.
Irian
07 Riman Nekwek 20 th Siswa SMU PGRI Asrama GJPI, Jl.
Irian
08 Leo Yare 18 th Siswa SMU Negeri Potikelek, Kompleks
Gereja Ebenhezer
09 Robinson 16 th Siswa SLTP St. Kompleks Lapangan
Sambom Thomas Pendidikan
10 Nelson Siringon 16 th Siswa SLTP YPK Asrama GKI, Jl.
Bhayangkara
11 Albert Kabak 15 th Siswa SLTP Yapis Asrama GKI, Jl.
Bhayangkara
12 Paulus Yare 19 th Siswa SMU PGRI Potikelek, Kompleks
Gereja Ebenhezer
13 Yonathan Tabla 18 th Siswa SMK Yapis Asrama GKI, Jl.
Bhayangkara
14 Anis Siringon 15 th Siswa SLTP PGRI Asrama GKI, Jl.
Bhayangkara
15 Enos Yando 125th Siswa SLTP Asrama GKI, Jl.
Negeri III Bhayangkara No. 25
Megapura,
16 Esau Yando 16 th Siswa SLTP Asrama GKI, Jl.
Negeri III Bhayangkara No. 25
Megapura
17 Lukas Ulunggi 18 th Siswa SMU YPK Asrama GKI, Jl.
Bhayangkara No. 25
18 Nikius Miram 18 th Siswa SMU YPK Asrama GKI, Jl.
Bhayangkara No. 25
19 Ayub Sama 19 th Siswa SMU Asrama GKI, Jl.
YPPGI, Bhayangkara No. 25
20 Gamaniel 18 th Siswa SMU PGRI Asrama GJPI Jl.
Wandikbo Irian
21 Alex Lintamon 19 th Tamatan SMU Asrama GKI, Jl.
Kristen Hom-hom, Bhayangkara No. 25
anggota Satgas
Papua
22 Semuel Peyon 19 th Siswa SMK Yapis Asrama GKI, Jl.
Bhayangkara No. 25
23 Niko Yando 18 th Siswa SMU Yapis Potikelek, Kompleks
Gereja Ebenhezer
24 Napius Yando 18 th Siswa SMK Yapis Potikelek, Kompleks
Gereja Ebenhezer
25 Fredrik Salak 19 th Mahasiswa STKIP Asrama GKI, Jl.
Wamena Bhayangkara No. 25
26 Mihel Siringon 17 th Siswa SLTP Asrama GKI, Jl.
terbuka Bhayangkara No. 25
27 Yesaya Pusop 17 th Siswa SMU PGRI Kompleks Lembaga
Pemasyarakatan,
Hom-hom
28 Yusak Yando 18 th Siswa SMU YPPGI Asrama GJPI Jl.
Irian
Pk. 13.00 WIT
Bertiup kabar burung bahwa rumah Sertu Pol. Herman Pasa di Jl. SD
Percobaan Wamena dibakar massa. Serma Pol. P.L. Tahapari bersama tiga
anggota polisi mendatangi tempat kejadian dengan motor. Tiba-tiba dari jauh
masyarakat mengepung dan melepaskan anak panah sehingga
mengakibatkan tiga (3) orang polisi korban luka-luka. Korban luka-luka dari
anggota polisi itu adalah:
1. Serka Pol. Nababan, terluka oleh anak panah di lengan atas.
2. Serma Pol. Tahapari, terluka oleh anak panah.
3. Serma Pol. G.Septori, terluka oleh anak panah, sebuah handy talkie
dan dua kotak amunisi yang dibawanya hilang dicuri.
Saat Sertu Pol. Marwan bermaksud mencabut anak panah dari lengan Serka
Pol. Nababan, pistol beserta peluru dan sarung senjatanya hilang dicuri. Akan
tetapi, selang satu-dua hari, pistol tersebut dikembalikan kepada polisi berkat
usaha tua-tua adat.
Pk. 14.00 WIT,
Suasana sunyi senyap. Tak satu pun bunyi senjata api aparat keamanan
terdengar. Masih ada posko di Wouma yang belum disentuh oleh aparat
keamanan. Massa berkumpul di tempat tersebut, di seberang kali Uwe;
sementara penduduk Wouma sendiri telah banyak yang mengungsi antara
lain ke Pugima (lihat lampiran daftar pengungsi).
Pk.15.00 WIT di Pasar Kaget, Desa Wouma
Haji Debo dan Sumario sudah dibunuh oleh massa yang sudah berkumpul
sejak pagi hari di seberang Kali Uwe (dari arah kota). Massa bergerak ke
seberang kali Uwe menuju ke kota. Sesampainya di seberang, massa
membakar rumah di tepi kali. Pada saat itu pasukan gabungan belum datang.
Tak lama kemudian, pasukan gabungan tiba dan bergerak ke arah Desa
Wouma. Anggota pasukan itu menggunakan dua buah truk dan mulai
membersihkan palang-palang dengan membunyikan tembakan ke udara
untuk bisa maju. Pasukan gabungan maju hingga ke bagian jalan yang
menurun mengejar massa dengan tembakan ke arah kaki. Massa berpencar
untuk mengepung pasukan gabungan dan menyerang balik. Pasukan
kemudian mundur ke arah kota.
Bentrokan terus terjadi: massa menyerang pasukan dengan panah dan
tombak sedangkan pasukan mundur sambil menembak ke arah kaki massa.
Sesampainya di Pasar Kaget, ternyata terdengar bunyi tembakan dari arah
rumah-rumah penduduk di situ ke arah massa. Mendengar bunyi tembakan,
diduga kuat bahwa ada pihak bersenjata api di dalam rumah-rumah
penduduk8. Karena itu sebagian massa yang bersenjatakan parang, sege
(tombak), panah, pisau, menyerang rumah-rumah penduduk di situ dan
membakar serta membunuh penghuni rumah tersebut.
Sebagian massa lainnya terus mendesak pasukan gabungan. Pasukan
mundur hingga sampai di depan Gereja Katolik Wamena. Tak lama
8
Dugaan ini diperkuat dengan bukti tiga magazen dan tiga selongsong peluru yang
ditemukan di lokasi bekas-bekas rumah yang dibakar oleh massa di Pasar Kaget-Wouma
saat dilakukan evakuasi korban.
kemudian, pesawat Hercules mendarat dan menurunkan pasukan bantuan
dari Jayapura di Bandara Wamena. Pasukan itu menurut saksi mata
merupakan pasukan gabungan dari Brimob dan TNI yang kebanyakan tidak
berseragam militer. Begitu pasukan turun dari pesawat, langsung diangkut
menuju Wouma. Bersama dengan pasukan yang masih bertahan, mereka
mendesak massa ke seberang jembatan. Massa mundur ke seberang kali
sambil merusak papan-papan jembatan dan membubarkan diri. Massa
banyak yang mengalami luka-luka tembak khususnya di bagian kaki.
Korban yang meninggal di pihak masyarakat:
1. Sumario (laki-laki, 45 tahun, pedagang kios)
2. Haji Debo (laki-laki, 50 tahun, penjagal sapi)
3. Nurhaidah Sihombing (perempuan, 27 tahun, perawat, dalam keadaan
hamil)
4. Rossye Wuwungan (perempuan, 40 tahun, ibu rumah tangga)
5. Agus Murip (laki-laki, 25 tahun, anggota Satgas Papua)
6. Lewi Heselo (laki-laki, 35 tahun, anggota Satgas Papua)
7. Robert Hesegem (laki-laki, 19 tahun, anggota Satgas Papua)
8. Ny. Saidi (perempuan, 38 tahun, pengusaha salon kecantikan)
9. Misnati (perempuan, 38 tahun)
10. Vivi (perempuan, 7 tahun, anak dari Misnati)
11. Abd. Muis alias Kacong (laki-laki, 45 tahun, pedagang)
12. Anisa Choirun (perempuan, 25 tahun, istri Kacong)
13. Walindia (perempuan, 3 tahun, anak Kacong)
14. Huda (Laki-laki, 23 tahun, famili Kacong)
15. Diah (Perempuan, 22 tahun, famili dari Kacong)
16. Ismadji (laki-laki, 58 tahun, pengawas sekolah TK dan SD Wamena)
17. Linus Gombo (laki-laki, 23 tahun)
18. Feky Panambungan (laki-laki, 32 tahun, pendeta)
19. Luther Limbong (laki-laki, 26 tahun)
20. Ernes Tabuni (laki-laki, 40 tahun, anggota Satgas)
21. M. Mudal (laki-laki, 23 tahun)
22. Sakka (laki-laki, 40 tahun)
23. Muhammad (laki-laki, 60-an tahun, pensiunan tentara)
24. Ny. Muhammad (perempuan, 55 tahun, istri Muhammad)
Setelah suasana reda, pasukan melakukan evakuasi bagi penduduk yang
masih selamat dan jenazah yang sempat ditemukan a.l. Nurhaidah Sihombing
(bidan) yang sedang hamil.
Pk. 16.00
Bentrokan reda. Hujan turun sangat lebat. Masyarakat di sekitar kompleks
missi telah mengungsi ke kompleks missi. Listrik padam karena salah
seorang warga masyarakat, Yohanes Kogoya, memutuskan salah satu kabel
listrik dengan batang pohon Wilo di sekitar rumah Bupati Jayawijaya tetapi
akhirnya dirinya sendiri terkena arus listrik tegangan tinggi sehingga
meninggal.
Di Pikhe, Kepala Suku dan tokoh masyarakat Pikhe mengumpulkan sekitar 20
orang warga masyarakat suku-suku lain (pendatang) ke Honai Resor dengan
maksud dijadikan jaminan atas penahanan para anggota Satgas Papua oleh
pihak kepolisian. Tak jauh dari Pasar Jibama seseorang bernama Nazir
dibunuh oleh massa dan jenasahnya dibuang di kebun-kebun.
Josep Udin9 ditangkap dan ditahan di Aula Polres bersama dengan tahanan
yang lain dan mengalami penganiayaan yang sama.
Sabtu, 7 Oktober 2000
Pagi-pagi, sekitar pk.07.00 WIT, Dandim Jayawijaya, Danramil Wamena Kota,
Sekwilda Jayawijaya dan beberapa anggota DPRD Jayawijaya menggerakan
massa dan aparat kepolisian/ Dalmas untuk mengevakuasi korban-korban
yang meninggal baik yang ditembak, dipanah, atau dibakar di Wouma.
Semuanya dibawa ke RSUD untuk diotopsi. Perinciannya pada saat itu
adalah sbb:
9
Identitas orang ini tidak diketahui secara pasti. Nama ―Udin‖ adalah nama julukan yang
diberikan oleh masyarakat khususnya pedagang kios kepadanya.
1. 19 jenazah berhasil ditemukan dalam keadaan yang mengenaskan. Di
antaranya terdapat 4 kerangka korban yang tidak bisa dikenali lagi di
lokasi rumah Abd. Muis alias Kacong tetapi bukan keluarga Abd. Muis.
2. 17 rumah telah hancur dibakar.
3. 11 kios telah hancur dibakar.
4. 3 buah rumah dirusak.
5. Di salah satu lokasi kebakaran sempat ditemukan tiga buah magazen
peluru : 1 magazen M-16 dan 2 magazen uzi; dan 4 butir selongsong
peluru dengan jenis 38 SPL (Winchester): 1 buah; jenis PS-83 : 2 buah;
AD-81 : 1 buah.
7 orang korban dari masyarakat Baliem (baik di lokasi Wouma maupun lokasi
lain) dibawa untuk dikuburkan di kampung-kampung atas permintaan
keluarga-keluarga korban; sedangkan 24 korban meninggal dari kalangan
warga pendatang diserahkan kepada Pemda setempat untuk mengurusnya.
Muspida menyetujui pengadaan penguburan secara massal untuk warga
pendatang. Penguburan massal terlaksana pada pk.17.00-18.00 WIT di
pekuburan Sinakma Atas. Jenazah-jenazah itu dikuburkan di dua liang lahat
yang dipisahkan berdasarkan keyakinan Agama Kristen (11 orang) dan
Agama Islam (13 orang). Pencarian jenazah korban meninggal masih
berlanjut karena diduga bahwa masih banyak yang belum ditemukan.
Pk.11.00 di Sinakma
Pk. 11.00, Mashudi (32 tahun) guru SD Inpres Aikima, Pikhe, pergi ke arah
Sinakma dan bertemu massa di depan Posko Satgas Papua yang berada di
depan asrama YPPGI. Massa mengantar ke kompleks asrama YPPGI dimana
ada bangunannya. Massa ribut sendiri antara yang mau membunuh dan yang
berniat membebaskan dia. Akhirnya ada yang membunuhnya dengan tombak
dengan dua kali tikaman. Sore hari sekitar pk. 18.30 jenazah dipikul oleh
massa dan dibuang ke kali Uwe. (lima hari kemudian, 12 Oktober 2000,
jenazah itu ditemukan di bawah jembatan kali Uwe dan selanjutnya
dikuburkan oleh keluarga).
Sore hari
Suasana masih mencekam tetapi pergerakan massa tidak ada lagi.
Tembakan dari pihak aparat keamanan tidak terdengar. Penangkapan
semena-mena terhadap anggota masyarakat yang dicurigai tetap dijalankan
oleh Brimob. Sebagian besar dari kelompok orang yang telah ditangkap
sehari sebelumnya, pada malam hari sekitar pk. 18.30 dibebaskan. Akan
tetapi, 16 orang khususnya yang berasal dari Posko Doksar dan Honai resor
tetap ditahan oleh polisi tanpa surat penahanan dan pendampingan hukum
malah dengan penyiksaan yang sungguh tidak manusiawi. Selain kelompok
itu masih ditambah dengan Josep Udin yang sudah dalam keadaan tak
berdaya dan berbaring tak sadarkan diri.
Dari Posko Doksar:
1. Yohakim Huby (laki-laki, 32 th, dari Desa Pikhe)
2. Frans Huby (laki-laki, 36 th, dari Desa Hubykosy)
3. Heri Kosay (laki-laki, 25 th, dari Desa Hubykosy)
4. Hendrik Siep (laki-laki, 42 th, dari Desa Pikhe)
5. Agus Sorabut (laki-laki, 30 th, dari Desa Jibama)
6. Jakson Itlay (laki-laki, 32 th, dari Desa Hubykosy)
7. Edi Marian (laki-laki, 32 th, dari Desa Pikhe)
Dari Posko Honai Resor:
1. Timatus Kogoya (laki-laki, 25 th, dari Desa Pikhe)
2. Pilius Wenda (laki-laki, 25 th, dari Desa Pikhe)
3. Les Wenda (laki-laki, 26 th, dari Desa Pikhe)
4. Atinus Wenda (laki-laki, 36 th, dari Desa Pikhe)
5. Teri Wenda (laki-laki, 35 th, dari Desa Pikhe)
6. Isak Wenda (laki-laki, 35 th, dari Desa Pikhe)
7. Yoel Wenda (laki-laki, 20 th, dari Desa Pikhe)
8. Jules Wenda (laki-laki, 20 th, dari Desa Pikhe)
9. Elius Wenda (laki-laki, 23 th, dari Desa Pikhe)
Sejak malam ini, ada pemberlakuan jam malam mulai pk. 18.00.
Sekitar pk. 21.00
Udin dilarikan ke RSUD Wamena setelah dianiya dan dalam keadaan tak
berdaya. Polisi memberi keterangan bahwa Udin ditemukan dalam keadaan
tak berdaya karena dianiya massa dengan benda keras/benda tumpul 10. Pada
saat itu Udin ternyata sudah meninggal dunia.
Minggu, 8 Oktober 2000,
Sekitar pk. 09.00 WIT, sejumlah aparat kepolisian dan pasukan Brimob
kembali mengadakan aksi penyisiran di sekitar rumah-rumah penduduk di
Wamena kota dan terutama di wilayah Tolikara, Wouma. Penyisiran juga
dilakukan di Desa Kama. Brimob dan polisi masuk ke rumah-rumah penduduk
kadangkala disertai dengan mendobrak pintu rumah. Barang-barang yang
ada di dalam rumah disita: perabot dapur, perkakas tukang, dengan tuduhan
bahwa itu hasil curian. Tindakan ini membuat masyarakat mengungsi ke
sekitar Kali Baliem.
Sekitar pk. 13.00 WIT, penyisiran dilakukan di sekitar Pekuburan Lama. Satu
truk Brimob mendatangi Posko Sinar di Pekuburan Lama. Karena bendera
Bintang Kejora sudah diturunkan pada tanggal 6 Oktober 2000, Brimob hanya
merusak posko tersebut yang letaknya tak jauh dari Sekretariat Panel
Jayawijaya, rumah Bpk. Yafet Yelemaken. Tiang bendera dicabut dan
dibuang tak jauh dari lokasi posko.
Senin, 9 Oktober 2000
Di Jl. Irian, satu truk polisi menangkap Sudirman Pagawak (laki-laki, 37 th,
tinggal di Jl. Bhayangkara Wamena) yang sedang berkendaraan motor
dengan nomor polisi DS 6003 saat dia hendak membeli minyak tanah.
Sudirman kemudian diangkut dalam truk dan motor disita. Dia dibawa ke
Polres dan mendapat penyiksaan seperti 16 orang tahanan yang sudah lebih
dulu masuk. Dengan demikian jumlah tahanan seluruhnya sebanyak 17
orang.
10
Informasi mengenai Udin bisa dilihat pada keterangan dari salah seorang saksi yang sama-
sama berada di dalam tahanan Polres. Lihat Bagian Kesaksian dalam laporan ini.
Selasa, 10 Oktober 2000
Pemda Jayawijaya dan DPRD TK.II Jayawijaya secara resmi membentuk
Satuan Koordinasi Pelaksanaan (Satkorlak) Penanggulangan Pengungsi dan
dipimpin oleh Bpk. Drs. Yason Muabuay (Sekretaris Jayawijaya). Selain itu
diadakan rapat koordinasi antara pihak Pemda Tk. II Jayawijaya dengan
DPRD Tk. II Jayawijaya yang memutuskan:
1. jalur penerbangan harus dibuka kembali untuk semua penerbangan
yang biasa melayani Wamena khususnya dan Jayawijaya umumnya
2. kegiatan ekonomi harus dihidupkan kembali
3. kegiatan perkantoran harus dibuka seperti biasa
4. penyaluran bantuan melalui Satkorlak setempat
Rabu, 11 Oktober 2000
Diadakan kesepakatan bersama antara berbagai pihak yang berkepentingan,
yakni Muspida Kabupaten Jayawijaya, Presidium, Panel, Satgas Papua, dan
perwakilan Muspida Propinsi Irian Jaya11. Dalam kesepakatan itu diatur
sejumlah hal seperti: penurunan bendera, kewajiban pihak Presidium, Panel,
dan Satgas untuk melakukan sosialisasi kesepakatan itu, perencanaan
upacara perdamaian, dan kewajiban pihak aparat keamanan untuk mencegah
terjadinya pelanggaran oleh para anggotanya dalam melaksanakan tugas.
Setelah terjadi perubahan redaksi terus-menerus akhirnya sekitar pk. 19.30,
kesepakatan itu ditandatangani di ruang kerja bupati David Huby.
Sesudahnya anggota kepolisian dari Polda Irja meminta Pdt. Obeth Komba
untuk mendampingi Bpk. Yafet Yelemaken, Bpk. Murjono Murip, Ibu Amelia
ke Polres. Polisi mengatakan kepada Pdt. Obeth Komba bahwa mereka ingin
berkenalan. Kira-kira pk. 20.00, mereka diantar ke Polres.
kira-kira pk. 21.00 WIT hingga 02.30 dini hari
Sesampainya di Polres, anggota Presidium: Obet Komba, dan panel
Jayawijaya: Murjono Murip, Yafet Yelemaken, Murjono Murip dan Amelia
Jigibalom dipisahkan dan diminta ke ruang Serse untuk dimintai keterangan
sebagai saksi. Hal ini sempat diprotes oleh Pdt. Obeth Komba tapi tidak
11
Teks selengkapnya bisa dilihat pada bagian lampiran dalam laporan ini.
dihiraukan. Mereka diperiksa Polres Jayawijaya secara marathon tanpa surat
panggilan dan penasihat hukum serta tidak dibuat BAP (Berita Acara
Pemeriksaan).
Kamis, 12 Oktober 2000 hingga pk. 15.00
Presidium: Obet Komba, dan 4 orang anggota Panel terus diperiksa oleh
Polres Jayawijaya hingga sore hari pk. 15.00. Alasan yang dipakai Polres
adalah ―demi menjaga keselamatan para mahasiswa Papua di Jawa” yang
telah mengalami penyerangan di asrama mahasiswa Papua di Yogyakarta.
Jumat, 13 Oktober 2000 pk. 10.00
Presidium dan Panel Jayawijaya kembali diperiksa oleh Polisi di Polres
Jayawijaya. Kali ini mereka didampingi oleh penasihat hukum. Pihak
presidium dan Panel diminta untuk mencari pelaku perusakan dan
pembunuhan di Wouma kepada pihak polres dalam waktu 2 hari. Jika mereka
tidak berhasil, pihak polres akan menjadikan panel dan presidium sebagai
penanggung jawab peristiwa tersebut. Pihak Panel meminta waktu 5 hari
untuk mencari pelaku tetapi tidak diizinkan oleh Kapolres. Dalam pemeriksaan
tersebut, polisi mulai mengarahkan Presidium dan Panel ke arah dugaan
makar.
Sabtu, 14 Oktober 2000
Pdt. Obeth Komba dan Panel pergi ke Kurima untuk memenuhi tuntutan
Kapolres supaya mencari dan menyerahkan pelaku peristiwa Wouma. Usaha
ini gagal karena masyarakat tidak mau menyerahkan pelaku tersebut.
Masyarakat menyatakan bahwa polisi sendiri harus mencari pelaku bukan
memperalat Presidium dan Panel.
Sabtu, 21 Oktober 2000
Presidium dan panel berangkat ke Tiom untuk membujuk masyarakat di situ
supaya menurunkan Bendera Bintang Kejora. Hal ini dilakukan sesuai dengan
kesepakatan tgl. 11 Oktober 2000. Perjalanan dilakukan dengan helikopter
Rusia yang dibiayai oleh Pemda Tk. II. Perundingan ini berlangsung sangat
tegang dan keras. Pdt. Obeth Komba sempat dipukul oleh salah seorang
masyarakat. Anggota Panel dilempari lumpur sehingga baju mereka kotor
oleh lumpur. Setelah perundingan alot itu, akhirnya masyarakat bersedia
menurunkan bendera. Rombongan Presidium dan Panel masuk ke heli dan
bermaksud berangkat kembali ke Wamena. Tetapi mesin helikopter macet
sehingga pilot harus memperbaikinya selama kurang lebih satu jam. Selama
waktu perbaikan itu, massa mengurung rombongan dalam heli dan melarang
mereka turun. Massa melampiaskan kemarahan dan kekecewaan mereka
dengan melontarkan kata-kata marah atau caci maki. Akhirnya mesin bisa
diperbaiki dan rombongan kembali ke Wamena.
B. RANGKUMAN DATA KORBAN
Berdasarkan uraian peristiwa di atas bisa dirangkumkan unsur-unsur penting
sebagai berikut:
1. Korban meninggal dunia: 37 orang yang terdiri dari 33 orang
teridentifikasi dan 4 orang tak teridentifikasi.
2. Korban luka-luka : 89 orang
3. Pengungsi di Baliem: 13.565 orang yang ditampung di 20 lokasi.
4. Pengungsi ke luar Baliem : 76 orang ditampung di Kampus Akademi
Kesehatan Jayapura. Yang lain tidak diketahui.
5. Seluruh tahanan : 83 orang sebagian besar dilepaskan setelah 2 hari
ditahan.
6. Orang yang ditahan dan diproses secara hukum: 22 orang yang terdiri
dari: 16 orang anggota Satgas Papua; 1 orang PNS; 1 orang anggota
Presidium; 4 orang anggota Panel.
C. BERBAGAI KESAKSIAN
Dalam bagian ini akan diungkapkan berbagai kesaksian dari macam-macam
sumber yang menjadi indikator suasana yang terjadi.
1. EY, laki-laki, 38 tahun, guru SD12
Saat terjadi peristiwa Wamena, pagi-pagi guru ini masih ke sekolah
meski sudah mendengar penurunan bendera di Pasar. Dia menyaksikan
12
Identitas saksi ini dirahasiakan demi keselamatan saksi.
bahwa batu, kayu sudah dilemparkan ke semua jalan kota dan massa
sudah kumpul di berbagai sudut kota. Di sekolah murid tinggal segelintir
dan hanya beberapa guru. Saat tiba di rumah massa sudah berkumpul
di dekat rumahnya. Siang situasi sudah reda tembakan terdengar di
kejauhan saja. Dia mendengar bahwa di antara massa ada yang
membujuk supaya mereka tidak turun dan melawan Brimob sebab
mereka hanya memiliki busur, anak panah, tombak, dan parang saja.
―Sebelum jam tiga, brimob sudah datang membersihkan jalan. Persis
jam tiga massa yang datang dari arah selatan tiba di seberang kali.
Brimob juga ada di situ. Brimob tembak tapi tembak peringatan saja. Dor
satu kali. Saya suruh ibu dan anak pergi mengungsi. Saya dan adik
tinggal dalam rumah. Massa terus maju dan arah kiri dan kanan, semua
maju serang brimob dengan panah. Brimob mundur terus ke depan
gereja. Mungkin sambil mundur Brimob ada yang lari ke rumah-rumah.
Massa mulai lempar rumah dan bakar rumah. Saya sempat lihat. Dan
saya dengar ada teriakan minta tolong, saya panik. Kami keluar dari
rumah sambil merayap tetapi sampai di pinggir ada rombongan yang
siap di situ. Ada yang satu yang tinggal tertawa mau bunuh saya. Saya
bilang : ‗saya ini guru‘. Lalu ada orang lain yang bilang, ―Jangan! Itu kita
punya saudara‖. Dari situ orang tadi langsung tancap sege (tombak),
terus minta korek sama saya. Saya bilang, ‗Saya korek tidak ada‘.
Rumah saya terbuka lebar. Bisa pergi ambil. Lalu saya pergi sama adik
ke rumah ambil korek. Dan dia biarkan kami lalu kami terobos masuk ke
gereja‖.
Guru tersebut bersama keluarga tinggal di gereja. Akan tetapi, saat
kembali ke rumahnya, barang-barang perabot rumah tangga, pakaian-
pakaian, barang-barang kios sekitar Rp. 3-4 juta habis dicuri orang. Tiga
anak dan istrinya mengalami trauma saat kembali ke rumah. Tengah
malam, anaknya yang kecil (1 th) menangis 1-2 jam dan dua yang lain
takut tidur sendiri.
2. I. Tukiman, Kepala Sekolah SD YPPK Honai Lama,
Pada saat peristiwa Wamena terjadi, Pak Tukimin, yang sudah 18 tahun
bekerja di Wamena, berada di rumah dan memantau dari HT frekuensi
polisi bahwa keadaan Wamena kacau karena penurunan bendera oleh
Brimob. Guru ini mengaku bahwa dia beserta keluarga mengungsi ke
Wamena kota dari tempat tinggalnya di Honai Lama dengan diantar oleh
Satgas Papua Pos Honai Lama. Satgas di situ mengatakan, ―Jika pos
kami yang bergerak, maka kami bisa jamin keselamatan pak guru. Tapi
karena orang di balik gunung sudah bergerak, maka kami tidak bisa
jamin karena mereka pasti tidak kenal pak guru‖.
Karena alasan itu, Satgas Papua mengawal keluarga guru tersebut
berangkat ke Wamena kota dengan berjalan kaki saat pemalangan
sudah terjadi di setiap jalan di kota dan massa sudah turun ke setiap
sudut jalan sehingga keluarga tersebut tiba dengan selamat di salah
satu keluarga guru lainnya di kota. Saat hari berikut kembali ke
rumahnya untuk mengambil pakaian dan barang lainnya, ia mendapati
rumahnya sudah dibongkar orang. Nyaris seluruh barang perabot
rumah, pakaian, perabot dapur, TV, VCD player, hilang; bahkan kaca
jendela dan daun pintupun hilang.
3. 17 tahanan Polres Jayawijaya
17 orang yang ditahan ini pada mulanya ditangkap bersama puluhan
orang lainnya sehingga seluruhnya berjumlah 80-an orang. Mereka
semua ditangkap dari posko-posko Satgas Papua dan dari tempat lain
saat diadakan penurunan bendera secara paksa. Mereka semua dibawa
ke Aula Polres. Semua disuruh membuka pakaian kecuali celana dalam.
Mereka disuruh duduk di lantai berurutan dengan membuka kedua kaki,
kepala tertunduk, kedua tangan memegang pundak orang di depannya,
dalam barisan seturut posko masing-masing.
Selanjutnya setiap polisi atau brimob yang masuk ke aula tersebut
memberikan pukulan dengan rotan, kayu, atau tendangan sepatu lars.
Makanan yang diberikan adalah satu nasi bungkus yang disuapkan
sendiri oleh polisi kepada sekitar 15-20 orang. Polisi juga memberikan
permen kepada barisan tersangka yang harus diedarkan dari satu orang
kepada yang lain dengan mulut (bukan dengan tangan). Polisi juga
memberikan satu bungkus kecil biskuit (seharga Rp. 500,-) dan harus
dibagi rata untuk 80-an orang tersebut. Jika hal ini tidak ditepati, mereka
mendapatkan pukulan dan tendangan dari polisi. Mereka dibiarkan tidur
di atas lantai tanpa alas apapun; apalagi ruang aula tersebut tidak
mampu menampung mereka untuk dapat tidur telentang sehingga
mereka semua tidur dalam posisi duduk.
Pada tanggal 8 Oktober 2000, para tersangka dibebaskan kecuali 17
orang yang tetap ditahan dan disiksa. Setelah dua hari disiksa, barulah
pada tgl. 9 Oktober 2000 mereka dibawa ke ruang Serse untuk diperiksa
oleh penyidik tanpa didampingi penasihat hukum meski hal ini sudah
diminta. Juga baru pada saat itu, Surat Perintah Penahanan diberikan.
Dalam Surat Penahanan itu para tersangka dituduh telah melakukan
tindak pidana kejahatan terhadap ketertiban umum (melawan petugas)
dan membawa senjata tajam tanpa dilengkapi surat izin seperti telah
diatur dalam pasal 214 KUHP jo. pasal 2 ayat (1) UU Darurat No. 12
Tahun 1951. Mereka masih tetap ditahan hingga tgl. 11 Oktober 2000
dan baru pada tanggal 12 Oktober 2000, 17 orang tersebut dipindahkan
ke LP Wamena dengan status titipan tahanan Polres Jayawijaya.
Tuduhan terus dikembangkan oleh polisi sehingga mereka akhirnya
dikenai pasal ―makar‖ 106 KUHP.
4. Demianus Kabak, 29 tahun, laki-laki, anggota Satgas Papua Posko II
Kumbik
Menurut pengakuannya, dia adalah anak putus sekolah dari SMU PGRI
Wamena dan bergabung dengan Satgas Papua. ―Kami belum tahu
tentang informasi penuruan. Teman-teman bilang hari ini katanya aparat
mau menurunkan Bintang Kejora. Saat itu aparat sudah dilihat teman-
teman lewat jalan Bhayangkara menuju PGRI. Lalu saya dan teman-
teman lain tinggal di Posko. Setelah kasih naik bendera, beberapa menit
begitu, langsung aparat datang turunkan bendera. Kami tidak buat apa-
apa. Waktu mereka turukan bendera, ditarik seperti biasa, setelah ambil
benderanya baru tiangnya digergaji. Kami 6 orang langsung dipaksa
dengan todongan senjata naik ke truk. Enam orang itu: Otniel, Elias, Jan
Pieter, Ismail, Enos, Seartiel, dan saya. Pasukan itu ada Brimob, polisi,
tentara, pakai empat truk. Dari Jl. Bhayangkara mereka ke Sinapuk
Posko III dan turunkan bendera di sana. Aparat langsung masuk dan
tarik bendera. Tiangnya disensor. Setelah itu kami langsung terus lagi ke
Posko Kama, Jl. Pasar Baru‖.
5. Ismael Omoldoman, 37 tahun, laki-laki, wakil ketua Posko II Kumbik
Dia memberikan kesaksian sebagai berikut, ―Dari posko-posko semua
bendera diturunkan dulu, baru disengsor tiangnya kecuali di Posko
Pikhe. Sampai di Honai resor, aparat turunkan bendera dan 15 orang
dinaikkan lagi. Semuanya dibawa ke aula Polres.Tidak terjadi
perlawanan karena kami yang sudah di atas truk itu berteriak supaya
mereka (anggota satgas) jangan melawan. Lebih baik kita ikut saja.
Kami semua dibawa ke Polres dulu dan langsung disiksa di sana.
Sementara kejadian di Posko Induk itu kami tidak tahu. Kami sudah
ditahan. Tiga hari sebelumnya kami sudah tahu informasi penurunan
bendera tetapi kami tidak mau pusing karena kami ada yang lebih
bertanggung jawab yaitu Presidium dan Panel. Di tahanan kami dipukul
dengan tangan, rotan, karet mati, popor senjata, ditendang, diinjak
dengan sepatu laras. Kami mungkin bersalah tapi ada yang tanggung
jawab. Hampir semua yang ditangkap itu anak-anak sekolah yang tidak
tahu apa-apa. Mereka itu sekolah di PGRI, YPK, Yapis; ada yang
mahasiswa. Sekarang kami setelah dilepas ada yang sudah pulang
kampung karena takut, trauma, dan ada yang masih di sekitar kota.
Posko di sini dibongkar oleh kami sendiri atas perintah Brimob. Saya
dipukul puluhan kali dan dikeroyok. Siapa saja anggota Brimob di aula
itu melakukan hal yang sama terhadap kami. Mereka bilang, ‗Sekarang
HAM habis! Kami menjalankan perintah!‘ Sekarang kami sudah begini,
kami hanya minta Presidium dan Panel untuk bertanggung jawab dan
yang mengatur kami selama ini‖.
Hal yang sama menimpa diri Udin yang ditangkap dan dibawa ke tempat
yang sama sekitar pk. 16.00 pada hari yang sama. ―Begitu dia masuk,
pukulan jalan, dipukul terus dengan gulungan kabel, ditendang sampai
tidak-tidak. Dia ditanya, ‗Kau dari mana?‘ Dijawab, ‗Dari Timor timur‘.
Polisi lanjutkan, ‗Ah, yang benar. Jadi gara-gara kamu semua
masyarakat bisa masuk di sini?!‘ Dijawab, ‗Ya, benar‘. Dia bilang begitu
karena sudah terlalu disiksa. Dia punya muka tidak berbentuk. Dia punya
kumis dicukur dengan sangkur dan Pieter disuruh makan. Ya, karena
ditodong dengan senjata, maka dia makan, tapi tidak boleh pakai tangan
tapi langsung dengan mulut. Ya, karena kita takut, kita ikut yang dorang
mau‖.
6. Yafet Yelemaken, 43 tahun, laki-laki, anggota Panel Jayawijaya
Pak Yafet mengaku bahwa Panel diminta mencari pelaku pembunuhan
di Wouma oleh pihak Polres Jayawijaya. Jika mereka tidak berhasil
menemukan dan menyerahkankan kepada pihak polisi, panel sendiri
akan dijadikan tersangka dalam peristiwa Wamena. Setelah diadakan
kesepakatan dengan muspida tgl. 11 Oktober 2000, panel justru
diperiksa oleh polisi secara marathon dari pk. 21.00 hingga 2.30 dini
hari. Pemeriksaan masih dilanjutkan pada keesokan harinya. Mengingat
Pak Yafet adalah orang Kurima dan diduga oleh pihak kepolisian bahwa
pelaku peristiwa di Wouma adalah orang Kurima, Yafet ditugaskan untuk
mencari pelaku dan menyerahkannya kepada pihak kepolisian dalam
waktu 2 hari. Hal ini sangat sulit dilakukan karena dia sendiri tidak keluar
rumah pada waktu kejadian.
7. HS dan ES13, saksi Pembunuhan Wouma
Waktu saya pulang dari tempat tugas ke rumah, pagi-pagi masyarakat
sudah bakar ban di Wouma situ dan dong sudah tebang pohon Wilo. Jl.
Sumatera dong sudah pagar rapat mati. Massa dari Tolikara, dari
Wouma, dari sana kumpul di jam kota Wouma situ. Dong bilang, ‗Kita
serang sudah!‘ tapi ada yang bilang ‗Kita tunggu komando dulu!‘ Dong di
13
Identitas saksi ini dirahasiakan demi keselamatan saksi.
bawah jembatan juga sudah kumpul dari Hepuba, Megapura, Hitigima,
dong campur. Kitong turun ke rumah ganti baju. Pas saya turun ke
bawah ada yang kasih tau, ‗Bapak, kitong nanti jam 3 nanti picah. Kitong
tunggu yang dari Kurima‘. Rombongan kedua turun datang. Dong dari
Kurima. Kitong duduk-duduk di depan rumah situ. Massa mulai lempar-
lempar rumah pendatang tapi saya kasih tahu mereka, ‗Jangan kalian
ancam-ancam mereka. Yang kalian lawan hanya Brimob‘. Massa dong
sudah siap dengan panah, sege (tombak), bensin yang dong isi dalam
botol, parang. Waktu rombongan datang lagi, dong mulai kipas. Brimob
belum ada. Dong bakar rumah di pinggir kali. Tapi sebelum dong bakar,
dong sudah bantai pace madura di sebelah kali, Sumario. Baru dong
bunuh Haji Debo. Waktu itu pasukan belum masuk. Tapi intel-intel sudah
masuk ke rumah-rumah. Sebenarnya masyarakat Wouma sudah kasih
tahu Haji Debo supaya masuk ke mereka punya rumah. Tapi pak Haji ini
anggap biasa-biasa saja.
Nah, sesudah itu pasukan datang dengan 3 truk dan tembak-tembak
peringatan tiga kali. Saya pas ada di jalan tapi langsung lari masuk ke
rumah. Waktu aparat sampai di turun-turun, massa menyebar. Aparat
posisi ada di bukit-bukit dan masyarakat kejar mereka terus sehingga
aparat mundur. Saya lihat semua itu. Pas saya lari ke rumah, saya kaget
kenapa masyarakat dong bakar rumah pace menado ini, pak Willy
Wuwungan. Dan saya dengar bunyi tembakan dari dekat situ. Massa
cari aparat ke situ. Masyarakat mulai bakar rumah di sebelah kami,
rumah pak Rudi Karundeng. Bakar pertama belum menyala. Kedua tidak
menyala. Baru setelah buang rumput kering dan siram minyak, baru
menyala. Waktu menyala ibu tidak tahan, lalu lari keluar dan dong kapak
dia (Rosse Wuwungan). Memang ada aparat di dalam rumah tapi
mereka itu intel dari Brimob yang mungkin dong sudah ada dari pagi.
Aparat mundur sampai jam kota situ. Tapi karena peluru habis, aparat
dong mundur sampai Gereja Katolik. Pas dong bakar terus, aparat dong
sudah maju lagi dan tembak-tembak. Waktu itu saya tidak bisa keluar
karena keluarga pendatang dong ada di dalam. Pendatang dong lari pas
dibakar dan masyarakat kejar. Dong lari lagi dan masyarakat panah
kena Pak Ismadji di perut, baru kapak dia. Begitu pak Ismadji dibunuh,
masyarakat kejar terus. Dong lari masuk dalam saya punya rumah dari
belakang. Waktu masyarakat tanya saya, ‗Dong lari kemana?‘ Saya
bilang, ‗Dong lari ke rumah masing-masing‘. Masyarakat dong kasih
tahu, ‗Bapak berdiri di luar supaya kami tahu, ini bapak punya rumah‘.
Begitu saya masuk, mereka lempar kaca picah. Saya keluar saya kasih
tahu, ‗Hei, kau tidak punya mata ini saya punya rumah‘. Mereka
langsung bilang, ‗Aduh bapak, saya minta maaf saya tidak tahu‘. Di
belakang, mungkin aparat yang di dalam rumah tembak dua orang dari
Kurima dan mati di tempat. Satu orang lain kena tembak di tangan,
tangan putus. Yang lain lagi kena di tangan tapi tidak putus.
Jadi saya tinggal di dalam rumah dan tutup kain korden karena kalau
mereka tahu saya kasih sembunyi pendatang di dalam rumah, saya juga
dibantai. Saya dengar tembakan-tembakan mulai maju, makin dekat,
makin dekat. Saya keluar, masyarakat sudah kosong. Saya kasih tahu
yang ada di dalam rumah, ‗Aparat ada di depan semua yang ada di
dalam lari ke aparat‘. Saya lalu kasih keluar barang sama ipar. Adik
brimob satu datang dan kasih tahu, ‗Kakak sebaiknya pergi kasih tinggal
barang-barang. Yang penting kakak selamat‘. Waktu saya lari naik ke
atas, saya lihat rumah-rumah sudah dibakar, rumah suster juga dibakar.
Lalu saya ketemu satu aparat lagi dan bilang, ‗Kakak bantu dulu angkat
mayat ini‘. Itu rupanya mayat suster. Dong kapak dia dan buang di
samping sumur‖.
8. Kapolres Jayawijaya, Superintenden Daniel Suripatty
Dalam pembicaran dengan Tim Kemanusiaan, Kapolres Jayawijaya
mengaku tidak mengetahui kesepakatan resmi antara Muspida Tk. I Irja
dengan Presidium tanggal 3 Oktober 2000. Pihaknya mengaku bahwa
penurunan bendera secara paksa ini adalah berdasarkan instruksi
Kapolda Irja, Brigjend. Pol. S.Y. Wenas; juga mengingat banyaknya
bendera yang dikibarkan di Jayawijaya. Pasca kejadian, Kapolres
berketetapan bahwa meskipun ada upacara perdamaian yang
direncanakan secara adat tetapi proses hukum bagi para tahanan harus
jalan terus. Itu berarti adat ―bayar kepala‖—yang dalam adat Baliem
berarti melunasi hutang nyawa—tidak bisa menggantikan proses hukum
yang dilakukan oleh pihak kepolisian. ―Tanya saja kepada pihak
keluarga korban yang dibantai, apakah mereka bersedia menerima
pembayaran dan proses hukum dihentikan. Proses perdamaian sudah
terjadi di antara masyarakat sendiri di Kecamatan Kurulu seperti terjadi
tgl. 20 Oktober lalu,‖ demikian pernyataan Kapolres.
9. Kapolda Irja, Brigjend. Pol. S.Y. Wenas
Sebenarnya sebagai bagian dari Muspida Tk. I Irja, Kapolda Irja telah
menyetujui penundaan penurunan Bendera Bintang Kejora saat
diadakan perundingan antara pihak Presidium dengan Muspida Tk. I.
Persetujuan ini masih diungkapkan kepada media lokal sebagai berikut,
―Sesuai hasil rapat antara jajaran Muspida (Kapolda, Pangdam, dan
Gubernur) serta pihak Presidium Dewan Papua di Gedung Negara
kemarin malam (3/10), upaya penurunan kita tunggu setelah anggota
PDP bertemu dengan Menkopolkam atau Presiden. Kita tunggu saja
bagaimana hasil pertemuan di Jakarta nanti dan ini kan sebagai langkah
baik dan masih bisa kita tolerir‖14.
Sesudah terjadi peristiwa Wamena, Kapolda Irja menyatakan sikap
seperti dikutip media lokal, ―Atas peristiwa ini, Presidium Dewan Papua
tertutama Panel Wamena harus ikut bertanggung jawab dalam kasus
Wamena berdarah. Apalagi puluhan korban telah bergelimpangan
disiksa, dibakar, termasuk seorang ibu yang sedang hamil‖15. Dalam
wawancara dengan TVRI Stasiun Jayapura tgl. 7 Oktober 2000 pk.
19.30, Kapolda menjelaskan bahwa insiden Wamena terjadi karena
panel tidak mentaati perintah Presidium Papua yang menyatakan bahwa
mengenai pengibaran bendera hanya diperbolehkan satu bendera di tiap
kabupaten. Di Wamena ada banyak sekali bendera Papua sehingga
perlu diambil tindakan. Kapolda masih mengungkapkan sikap yang lebih
keras dalam wawancara dengan RCTI tgl. 11 Oktober 2000 pk. 20.30
14
Harian Cenderawasih Pos, 6 Oktober 2000, hlm. 2 kolom 1.
WIT dengan menyatakan, ―Kalau dalam radius 5 km dari Wamena,
senjata tajam tidak diserahkan, maka polisi akan bertindak keras dan
siap menanggung risiko korban‖.
15
Harian Cenderawasih Pos, 9 Oktober 2000, hlm. 2 kolom 2.
BAGIAN III
ANALISIS PASCA PERISTIWA
6 OKTOBER 2000
P eristiwa 6 Oktober 2000 telah mengubah peta kehidupan masyarakat di
Baliem dan Papua pada umumnya. Berbagai unsur di bawah ini
menunjukkan perubahan yang bersifat fundamental dan jangka panjang.
1. Terbangunnya lingkaran kekerasan
Tindakan kekerasan dari pihak aparat keamanan berdampak ke dua arah.
Pertama, masyarakat yang tinggal di Wamena dan Baliem tidak
diperlakukan sebagai warganegara yang dihargai dan dijamin hak-hak
kewarganegaraan. Hal ini tampak nyata dalam berbagai tindakan aparat
kepolisian dan TNI:
Penurunan bendera tidak mengikuti kesepakatan resmi di tingkat
Muspida TK. I Irian Jaya tanggal 3 Oktober 2000
Penangkapan semena dan penahanan dengan penyiksaan tanpa
mengindahkan prosedur hukum yang diatur dalam KUHP; bahkan tidak
menyediakan penasihat hukum sebagai kewajiban yang diatur KUHP
bagi para tahanan yang dikenai kemungkinan hukuman di atas 15
tahun.
Operasi-operasi penyisiran dilakukan oleh aparat kepolisian pasca
kejadian dengan dalih mencari pelaku pembunuhan dan penjarahan
Mendorong terciptanya sekat-sekat pemisah antar berbagai warga
masyarakat dengan pernyataan, dukungan sikap, atau tindakan nyata
yang cenderung diskriminatif.
Kedua, tindakan kekerasan aparat keamanan mengobarkan kembali
budaya perang di Baliem yang memiliki ciri khas pembalasan yang
setimpal. Saat jatuh korban meninggal dunia di kalangan Papua, kalangan
suku-suku lain dalam masyarakat menjadi pelampisan pembalasan karena
perlawanan terhadap aparat keamanan tidak berimbang. Tindakan
sedemikian menjadi lebih subur dalam situasi militeristik yang sudah
berkembang sebelumnya akibat keberadaan Satgas Papua dan akibat
perkembangan kondisi sosio-politik Baliem pasca sosialisasi hasil kongres
Papua II.
2. Terciptanya situasi ketakutan traumatik
Kekerasan luar biasa itu mendatangkan ketakutan yang bersifat traumatik
kepada setiap lapisan masyarakat tanpa pandang suku, agama, ataupun
warna kulit. Banyak keluarga mengalami trauma mendalam karena
mendengar, mengalami, melihat kekerasan yang luar biasa di depan mata
kepala sendiri. Banyak kaum perempuan dan anak tetap mengidap tanda-
tanda trauma seperti anak-anak menangis tengah malam, takut tidur
sendiri, mengigau. Kaum tua-tua Baliem teringat kembali akan peristiwa
tragis tahun 1977 ketika pecah kekerasan luar biasa antara TNI dengan
masyarakat Baliem. Situasi ketakutan dengan terang benderang
ditunjukkan dengan jumlah pengungsi, korban yang luka-luka, korban yang
meninggal dunia, dan kerusakan fisik di sejumlah tempat, khususnya di
Wouma.
Pasca kejadian, tanda-tanda trauma tetap terlihat dalam menurunnya
kegiatan di pasar baru Jibama dan kegiatan di kebun-kebun masyarakat.
Memang lalu-lintas taksi sudah berjalan tetapi tidak seramai sebelum
kejadian. Situasi traumatik di satu sisi berkaitan dengan sisi lainnya:
kemarahan massa yang terpendam. Peristiwa penyerangan di Tiom
terhadap 4 tentara Yonif 713 tgl. 15 Desember 2000 menunjukkan bahwa
luka batin tetap tertanam dalam hati dan ingatan masyarakat. Tanda
trauma yang paling terang benderang adalah rusaknya sistem pendidikan
di Baliem.
3. Rusaknya sistem pendidikan
Dengan peristiwa 6 Oktober 2000, dampak yang mulai nyata dan akan
berlangsung dalam jangka waktu panjang adalah rusaknya sistem
pendidikan di Baliem. Dari data yang dihimpun oleh Tim Kemanusiaan16,
16
Lihat lampiran data mengenai keadaan pendidikan di Baliem.
menjadi jelas bahwa seluruh unsur dalam sistem pendidikan (guru, murid,
sarana belajar-mengajar) telah rusak akibat situasi trauma yang belum juga
ditangani secara serius. Saat terjadi peristiwa tersebut, tercatat :
2 tenaga pendidikan (Ismadji dan Mashudi) meninggal dibunuh oleh
massa dan 1 anak dari keluarga guru (Abdul Hafid) luka berat dan
akhirnya meninggal di rumah sakit.
4 rumah guru dibakar massa : Ismadji, Kamari, Jamal Hadi, Sumadi.
17 rumah guru dibongkar dan dicuri habis oleh massa.
Pasca kejadian, pemerintah daerah Tk.II memang telah memberikan
santunan baik kepada kalangan guru maupun anggota masyarakat lainnya.
Akan tetapi, goresan luka batin tetap tinggal. Akibatnya: banyak guru telah
pergi dari Baliem, khususnya di tiga kecamatan: Tiom, Bokondini, Pirime.
Kebanyakan tidak mau kembali atau resmi pindah ke daerah lain, bahkan
sejumlah sekolah mengalami kekosongan guru. Hal yang sama terjadi juga
pada murid-murid. Guru dan murid yang masih tersisa tidak mampu
melaksanakan kegiatan belajar-mengajar semestinya karena tujuan ke
depan sudah menjadi kabur dan sarana kegiatan belajar-mengajar rusak
berat atau hilang dicuri. Situasi ini telah berlangsung sejak Oktober 2000
dan belum berubah hingga Januari 2001. Kandep Diknas Kabupaten
Jayawijaya mencatat : 200 guru sudah mengajukan pindah keluar
Jayawijaya.
Dalam rentang waktu 3 bulan, tidak ada langkah apapun dari para pejabat
di Departemen Pendidikan Nasional terhadap nasib guru, murid, dan aset
pendidikan yang rusak di Baliem entah dalam bentuk kunjungan ke
Wamena dan kampung-kampung, entah perbaikan sarana, entah
menangani keluarga-keluarga guru yang mengalami trauma. Langkah yang
ditempuh Kandep Diknas Kabupaten Jayawijaya adalah sebatas
mengeluarkan kebijakan khusus bagi para guru untuk cuti panjang
Oktober-Desember 2000.
Barulah pada awal tahun 2001, Kepala Kandep Diknas Kabupaten
Jayawijaya, George de Fretes, mengambil langkah dengan mengajukan
usul17 kepada Kepala Bagian Biro Kepegawaian di Depdiknas Jakarta
untuk membuka formasi guru sebanyak 350 orang: 200 orang guru untuk
SLTP, 100 orang guru untuk SMU, 50 orang guru untuk SMK. Tetapi
formasi guru baru akan sangat bergantung pada pemulihan luka batin
masyarakat. Bagaimanapun juga, jika tidak ada langkah serius dari pihak-
pihak yang berkepentingan, satu tahap dalam sebuah generasi Baliem
akan kehilangan kesempatan untuk maju.
4. Terciptanya tembok pemisah di antara masyarakat
Seiring dengan peningkatan arus pengungsi, tercipta sekat-sekat pemisah
di antara masyarakat: orang lembah Baliem dengan luar lembah, Papua
dengan non-Papua, Papua pantai dengan Papua gunung. Kepercayaan di
antara masyarakat satu sama lain yang sudah terbangun selama belasan
tahun runtuh akibat kekerasan yang luar biasa itu. Hubungan baik satu
sama lain dirusakkan dengan peristiwa tersebut sehingga setiap kelompok
cenderung kembali menutup diri pada suku masing-masing. Hal ini
menjadi lebih nyata dengan terbentuknya ―Gerakan Solidaritas Masyarakat
Indonesia Non-Papua‖ (GSMINP) dengan Fitri Tudin sebagai ketuanya18
yang menuntut DPRD Tk. II supaya memperhatikan keadaan pengungsi
Wamena yang kekurangan bahan makanan dan mengevakuasi pengungsi
ke luar Wamena. Keterpecahan di antara masyarakat ini cenderung
diperkuat oleh pemberitaan media massa yang tidak etis, atau tidak faktual
atau tidak profesional. Contoh:
―Ibu Hamilpun dibantai‖ (Cenderawasih Pos, 9 Oktober 2000, tajuk
utama)
―Sudah Dipotong Tangannya, Uangnya Masih dirampas‖
(Cenderawasih Pos, 10 Oktober 2000, hlm. 1)
―Terhindar dari Maut Dengan Tertatih-tatih‖ (Cenderawasih Pos, 11
Oktober 2000, hlm. 1).
17
Usulan ini didukung oleh Kanwil Depdiknas Irja dalam suratnya kepada Menteri Pendidikan
Nasional No. 6626/I18.H.I/MIN/2000 tertanggal 23 Desember 2000.
18
Lihat harian Cenderawasih Pos, 11 Oktober 2000, hlm. 1.
―Bidan Hamil itu Tewas Ditikam Panah Satu Ikat‖ (Cenderawasih Pos,
14 Oktober 2000).
―65 warga pendatang terkurung di Jayawijaya‖ (Kompas, 23 Oktober
2000)
―Suara Pengungsi Wamena: Biar Dibangun seperti Surga Kami Tetap
Trauma‖ (Kompas, 26 Oktober 2000).
―Report of Witnessed Actions by Government of Indonesia armed
forces against West Papua civilians. Beginnings 06 October 2000. By
Aaron Maness‖ (jaringan email).
Situasi demikian tentu menjadi salah satu pendorong berkembangnya
kecurigaan satu sama lain yang hanya memperkokoh suasana takut yang
sudah tercipta.
5. Arus pengungsi di Baliem dan ke luar Baliem
Dampak langsung dan lanjutan dari peristiwa kekerasan 6 Oktober 2000
adalah terciptanya arus pengungsi baik di dalam wilayah Baliem maupun
ke luar lembah Baliem; baik Papua maupun non-Papua. Arus pengungsi ini
merupakan indikator bahwa ketakutan sudah menguasai masyarakat di
segala lapisan. Hal ini dengan terang benderang bisa dilihat dalam data
mengenai pengungsi yang sekurang-kurangnya berjumlah 13.565 orang
saat kejadian. Tidak ada satu pihakpun yang mampu memberikan
perlindungan dan rasa aman kepada masyarakat. Para pengungsi yang
telah keluar dari Baliem pada umumnya tidak mau kembali lagi ke Baliem.
Hal ini secara nyata berdampak pada surutnya kegiatan ekonomi seperti di
Pasar Baru Jibama, sekolah-sekolah, kantor-kantor swasta, dan kantor-
kantor pemerintah.
6. Isolasi daerah
Menanggapi peristiwa kekerasan 6 Oktober 2000 berikut dampaknya,
Pemerintah Daerah Tk.II Jayawijaya dan Polres Jayawijaya mengisolasi
daerah dalam minggu Pertama. Akibatnya: Tim medis independen atau tim
kemanusiaan lainnya dari luar Wamena tidak bisa hadir segera dan
memberikan bantuan darurat secara medis dan bantuan kemanusiaan
lainnya; meski de facto kebijakan ini tidak sepenuhnya efektif untuk
masyarakat yang hendak keluar dari Wamena karena aliran pengungsi ke
luar Wamena cukup besar. Kesulitan tenaga dokter ini diakui secara
terbuka oleh Sekda Jayawijaya, Drs. Yason Muabay, karena tinggal
tersedia 2 dokter yang harus menangani puluhan korban yang luka-luka
(tgl. 8 Oktober 2000).
Kebijakan ini patut dipertanyakan karena de facto terdapat tiga tuntutan
dasar masyarakat yang dihalangi oleh pemerintah:
Informasi yang tepat, objektif, dan transparan mengenai apa yang
terjadi. Pada saat kejadian terjadi macam-macam berita yang tidak bisa
dijernihkan karena fakta sebenarnya sulit didapatkan di tempat oleh
pihak yang datang dari luar Wamena maupun masyarakat yang tinggal
di Wamena sendiri.
Perlunya pendampingan hukum bagi para tahanan agar jaminan hukum
dipenuhi karena senyatanya aparat keamanan telah bertindak di luar
tatanan hukum sebagaimana diatur oleh KUHP. Jalan ke arah ini
ternyata dihalangi.
Bantuan darurat kemanusiaan seperti tenaga medis yang diterima oleh
semua, bahan makanan, kebutuhan darurat pengungsi. Hal ini tidak
bisa dipenuhi karena ada isolasi daerah.
Sementara itu de facto orang yang keluar dari Wamena tetap mendapatkan
jalan keluar.
7. Pembelokan akar masalah
Akar peristiwa Wamena adalah kekerasan yang dilakukan oleh aparat
keamanan kepada masyarakat. Dalam peristiwa tersebut tidak ada bukti
yang menunjukkan bahwa kekerasan tersebut dipicu oleh perbedaan suku,
perbedaan warna kulit, atau perbedaan agama. Yang menjadi korban
dalam peristiwa tersebut adalah semua golongan masyarakat. Namun
demikian, kenyataan ini pelan-pelan menjadi kabur karena tidak adanya
sebuah penyelidikan yang akurat dan terbuka mengenai apa yang terjadi
sesungguhnya. Karenanya, gambaran yang berkembang adalah hasil dari
persepsi masyarakat, pemberitaan media massa, dan pernyataan-
pernyataan polisi yang cenderung sepihak, mengkotak-kotakkan. Buah dari
kekaburan ini adalah persepsi bahwa peristiwa Wamena adalah kekerasan
dari pihak Papua kepada non-Papua.
8. Reaksi massa di luar Jayawijaya
Peristiwa Wamena pada gilirannya memicu kemarahan massa di Jayapura.
Dengan diwakili oleh kelompok mahasiswa UNCEN, massa
mengungkapkan kemarahannya dengan memasang palang dan membakar
ban-ban bekas di depan Kampus UNCEN Abepura sehari sesudah pecah
peristiwa Wamena (7 Oktober 2000). Peristiwa Abepura ini nyaris
mendatangkan bentrokan antara mahasiswa dengan pihak aparat
kepolisian jika tidak ada pihak penengah yang kebetulan lewat di tempat
itu: Direktur Els-HAM, Bpk. Yohanis Bonay dan Sekum Persekutuan Gereja
Baptis di Irja, Pdt. Sofyan Joman.
Sikap senada kembali dikemukakan oleh Komunitas Mahasiswa dan
Pelajar Jayawijaya (KMPJ) di Jayapura tgl. 12 Oktober 2000 yang
menyatakan keprihatinan atas tragedi 6 Oktober sekaligus menuntut agar
Kapolres Jayawijaya ditarik. KMPJ juga menyerukan agar aparat kepolisian
dan elit politik tidak menjadikan masyarakat sebagai boneka politik dan
akhirnya selalu menjadi korban19.
Hal serupa terjadi di Manokwari 13 Oktober 2000. Massa mahasiswa,
pemuda, Satgas Papua melakukan unjuk rasa damai ke DPRD II
Manokwari dan diterima oleh Ketua DPRD II Manokwari: Daud Mandowen.
19
Harian Cenderawasih Pos, 13 Oktober 2000, hlm. 2
Massa menyesalkan peristiwa Wamena dan mempertanyakan instruksi
penurunan bendera Bintang Kejora oleh Menkosospolkam.
9. Reaksi elit politik di Jakarta dan Jayapura
Yang penting dicatat adalah bahwa dalam seluruh peristiwa Wamena sikap
pertama yang ditunjukkan oleh elit politik Jakarta adalah tetap
mempersoalkan izin Presiden untuk mengibarkan bendera Bintang Kejora
dan mengupayakan penurunannya segera. Hal ini dikemukakan oleh Ketua
DPR RI, Akbar Tandjung20, dan dilanjutkan dalam Rakerpolkam tgl. 12
Oktober 2000 yang menyibukkan diri dengan upaya menyusun peraturan
mengenai bendera yang bersifat kultural. Kembali masalah kemanusiaan
direduksi kepada soal ideologis. Tidak satupun pejabat pemerintah di
tingkat Pusat maupun propinsi segera mengambil langkah untuk
menangani korban, nasib guru yang terbengkalai, trauma masyarakat,
keterpecahanan di antara masyarakat. Patut dipertanyakan sebenarnya
warganegara Indonesia yang sedang mengalami musibah di Papua dilihat
sebagai apa oleh para pejabat negara mengingat tidak ada langkah
perlindungan kepada mereka melainkan terus diperalat demi karier politik?
Sikap yang berbeda diambil oleh salah pihak DPRD Tk. I Irja melalui
wakilnya. Wakil Ketua DPRD Tk. I Irja, Ben Jeharu, kiranya lebih berfokus
pada korban karena ia menyerukan supaya mengesampingkan
kepentingan politik dan segera menangani keadaan darurat yang ada.
Untuk itu ia mempertanyakan isolasi daerah yang dilakukan oleh Bupati
dan Kepolisian setempat.
10.Stigmatisasi terhadap masyarakat Baliem dan Papua
Ternyata perisitiwa Wamena 6 Oktober 2000 memiliki jangkauan lebih luas
daripada Baliem. Akibat dari kekaburan fakta mengenai peristiwa Wamena
maka terjadilah penyerangan Asrama Mahasiswa Papua di Yogyakarta.
Kiranya hal ini menjadi salah satu indikator adanya upaya stigmatisasi
terhadap kelompok Papua sebagai pihak pencipta kekerasan padahal
20
Harian Cenderawasih Pos, 10 dan 11 Oktober 2000.
kekerasan itu terjadi akibat tindakan dua pihak: aparat keamanan dan
masyarakat dan memiliki kerangka struktural yang lebih luas dan lebih jauh
daripada insiden itu sendiri.
Stigmatisasi dikembangkan oleh pihak Kepolisian dengan terus
membebankan tanggung jawab seluruh peristiwa Wamena kepada pihak
Presidium baik yang ada di Jayapura maupun di Wamena. Berbagai
pernyataan Kapolda yang dikutip media massa menunjukkan dengan jelas
hal ini21. Hal ini kiranya mengikuti sikap yang diambil sebelumnya oleh
Menkosospolkam Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Megawati yang
telah mengambil langkah tegas dalam rakerpolkam tgl. 12 Oktober 2000 di
Jakarta : [1] melarang pengibaran bendera Bintang Kejora, [2] meninjau
ulang peran Presidium dan Satgas Papua.
Stigmatisasi juga berkembang di dalam lingkungan Papua seperti
dikemukakan oleh Sem Yaru yang mengemukakan garis pemikiran yang
sama dengan pihak kepolisian. Tgl. 14 Oktober 2000, dia meminta
tanggung jawab dari pihak Presidium atas kejadian Wamena.
Dua bulan sesudahnya, peristiwa Wamena dijadikan dalih oleh pihak
kepolisian untuk bertindak di luar hukum saat mencari pelaku peristiwa
penyerangan Polsek Abepura 7 Desember 2000. Dengan dalih tersebut,
polisi telah melakukan penangkapan dan penahanan di luar prosedur
hukum terhadap asrama-asrama mahasiswa di Abepura khususnya yang
dihuni oleh mahasiswa/i asal Jayawijaya dan Pegunungan Tengah, yakni
asrama Ninmin, asrama IMI Puncak Jaya, asrama Nayak, asrama Yapen
Waropen. Polisi juga telah melakukan penangkapan dan penahanan
dengan penyiksaan terhadap kelompok warga masyarakat pencari gaharu
(rumah masyarakat Anggruk di Skyline, pemukiman masyarakat Lani di
Kotaraja, pemukiman Suku Gem di Abe pantai), dengan dalih sebagai
pelaku peristiwa Abepura.22
21
Lihat Harian Cenderawasih Pos, 14 Oktober 2000, hlm. 1
22
Lihat Siaran Pers Els-HAM Papua Barat 14 Desember 2000 tentang Kasus Penyerbuan
Polsek Abepura dan Penanganannya dan Surat Gereja-gereja kepada Komnas HAM
11.Upaya pemulihan situasi oleh pemerintah daerah
Langkah berikut pemerintah daerah berusaha menangani problem
pengungsi, perawatan terhadap yang luka-luka. Untuk itu pemerintah
daerah bersama DPRD Tk.II Jayawijaya telah membentuk Satkorlak
Penanggulangan Bencana 6 Oktober 2000. Pemerintah daerah juga
berupaya mempertemukan semua pihak yang terlibat dalam peristiwa
Wamena dan menyusun kesepakatan bersama yang mengikat semua
pihak. Salah satu butir kesepakatan adalah rencana upacara perdamaian.
Meski secara formal telah direncanakan penyelenggaraan upacara
perdamaian23, pemerintah tidak mampu menunjukkan langkah-langkah
serius untuk menangani proses perdamaian (rekonsiliasi) guna
menyembuhkan luka batin di hati dan ingatan kolektif masyarakat. Upacara
itu sendiri tidak pernah dilaksanakan.
Pasca kejadian pemerintah mengambil tindakan pemberian santunan
kepada yang meninggal dan luka-luka. Keluarga 31 korban meninggal
dunia mendapatkan santunan masing-masing sebesar Rp. 7.500.000,- dan
16 korban luka atau cacat masing-masing mendapatkan Rp. 3.375.000,-
berdasarkan catatan dari Satkorlak tertanggal 4 November 200024.
Sebernarnya ada niat dari kepala-kepala suku untuk melaksanakan adat
‗bayar kepala‘ kepada korban yang bukan orang Baliem. Niat itu
didasarkan pada adat perdamaian Baliem supaya sungguh masyarakat
tidak merasa memiliki hutang nyawa. Tetapi, niat ini kemudian diambil alih
oleh Bupati yang memberikan santunan kepada semua korban. Menjadi
pertanyaan mengapa niat baik masyarakat untuk pelan-pelan
membereskan soal di antara masyarakat sendiri justru diambil alih oleh
pemerintah? Apakah dengan mengambil alih rasa tanggung jawab tersebut
masyarakat Baliem dipulihkan harga dirinya dan didamaikan dengan warga
masyarakat lainnya?
tertanggal 16 Desember 2000.
23
Lihat ―Surat Pernyataan Bersama Pemerintah Kab. Jayawijaya, Presidium, Panel, dan
Satgas Papua Jayawijaya dihadiri Perwakilan Muspida Propinsi Irian Jaya‖ butir no. 5.
24
Daftar santunan dari Satlak PB Kabupaten Jayawijaya 4 November 2000 yang
ditandatangani ole A. Djufriadi.
12. Dampak penambahan polisi dan tentara
Dampak lain dari peristiwa Wamena adalah penambahan pasukan brimob
dan TNI di Baliem. Kehadiran tambahan pasukan yang mencolok ini cukup
mengubah suasana Wilayah Baliem. Berdasarkan penjelasan Bupati
Jayawijaya, Drs. David Hubi, penambahan pasukan Brimob dan TNI adalah
untuk mengamankan daerah. Untuk itu ditempatkan 10-20 orang tentara di
setiap kecamatan; bahkan jika banyak guru-guru yang pergi, kekosongan
itu akan diisi oleh tentara yang akan bertindak sebagai guru.
Tindakan lain yang dilakukan pasca kejadian adalah operasi-operasi
penyisiran untuk mencari pelaku pembunuhan dan pencurian massal.
Tindakan ini dilakukan oleh aparat kepolisian dan banyak kali terjadi di luar
prosedur hukum karena dilakukan dengan kekerasan seperti telah terjadi di
wilayah Kama, Tolikara tgl. 8-11 Oktober 2000.
Fakta lain adalah bahwa kehadiran tentara dan polisi tambahan kiranya
tidak sekedar dimaksudkan untuk mengamankan wilayah. Kejadian
penurunan pasukan Yonif 433 Kostrad dengan terjun payung di Desa
Aikima, Pikhe, tgl. 23 November 2000 tidak membantu memulihkan situasi
malah patut dipertanyakan mengapa cara hadir pasukan TNI harus
memakai cara yang lazim dalam sebuah suasana perang? Apakah cara itu
semata-mata hendak menunjukkan suatu ancaman dan arogansi kepada
masyarakat?
Tindakan lain yang dilakukan oleh pihak kepolisian adalah melakukan razia
di Bandara Wamena bagi setiap penumpang yang hendak masuk ke
Wamena. Alasan yang dipergunakan oleh polisi adalah untuk mencari
senjata tajam atau minuman keras. Patut dipertanyakan mengapa tindakan
ini baru muncul sesudah peristiwa 6 Oktober 2000 dan tidak sebelumnya?
Apa sebenarnya tujuan dari razia ini?
BAGIAN IV
KESIMPULAN
D ari perisitwa kekerasan 6 Oktober 2000 terdapat sejumlah unsur kunci
yang memainkan peran utama di dalamnya. Unsur-unsur tersebut
adalah sebagai berikut:
1. Kekerasan dari pihak negara kepada masyarakat
Segi kekerasan telah menjadi unsur yang menentukan dalam peristiwa
Wamena. Di tingkat negara, kekerasan terjadi dalam wujud: [1] pembuatan
kebijakan yang bersifat menutup pintu dialog dengan masyarakat Papua,
[2] tidak berpegang pada kesepakatan-kesepakatan resmi yang diadakan
antara pemerintah dengan perwakilan masyarakat, [3] penurunan bendera
dengan kekerasan senjata, [4] penangkapan tanpa mengindahkan
prosedur hukum bahkan dengan penyiksaan. Dengan melihat tindakan-
tindakan yang dilakukan oleh elit politik maupun pihak kepolisian itu, tidak
bisa dihindari munculnya pertanyaan fundamental: sebenarnya
masyarakat Papua hendak diperlakukan sebagai apa? Mengapa
kesepakatan-kesepakatan yang telah ditandatangani secara resmi begitu
mudah dilanggar bahkan dengan tindakan kekerasan justru oleh pihak
yang berkewajiban untuk menegakkan hukum? Mengapa dalam
menangani masalah, kepolisian mengedepankan tindakan yang tidak
mengindahkan tatanan hukum padahal setiap kali melontarkan slogan
‗pendekatan kasih sayang‘?
2. Kekerasan antar sesama masyarakat
Di tingkat masyarakat, kekerasan terwujud dalam tindak : [1] perusakan
pemukiman penduduk, [2] pembakaran rumah-rumah dan kios-kios, [3]
pencurian harta benda, dan [4] pembunuhan terhadap sesama
masyarakat. Kekerasan ini juga bersifat luar biasa. Khusus untuk wilayah
Wouma, peristiwa perusakan, pembakaran, dan pembunuhan adalah
akibat dari kemelut situasi yang ada saat terjadi penurunan bendera oleh
aparat keamanan. Kemelut tersebut telah mendatangkan kemarahan
massa yang tak terkendali. Tekanan kemarahan massa ini masih
ditambah oleh tembakan dari arah rumah-rumah penduduk di sisi jalan
yang tertuju kepada kelompok massa yang bergerak dari arah Wouma ke
Wamena kota.
3. Pemutarbalikkan hukum
Dari proses pemeriksaan polisi terhadap anggota presidium dan panel,
ditunjukkan secara jelas bahwa hukum telah diputar balikkan. Polisi
sebagai instansi penegak hukum memiliki kewajiban untuk mengusut
pelaku pembunuhan dan perusakan. Kewajiban ini tidak bisa dialihkan
kepada pihak presidium atau panel apalagi jika pengalihan itu sebenarnya
merupakan dalih untuk menjatuhkan tuduhan kepada pihak tersebut.
Berdasarkan kenyataan itu, patut dipertanyakan : mengapa kepolisian
melemparkan tanggungjawabnya kepada pihak masyarakat? Apakah
langkah ini dimaksudkan untuk mengadu domba pihak Presidium dan
Panel dengan pihak masyarakat sendiri?
Sementara itu di tingkat propinsi, Kapolda memutarbalikkan kesepakatan
Muspida tgl. 3 Oktober 2000 dengan dalih bahwa jumlah bendera di
Baliem terlalu banyak. Mengapa hal-hal sedemikian tidak diutarakan
dalam perundingan di tingkat pimpinan Propinsi Irja? Apakah dengan
begitu mudahnya mengabaikan kesepakatan Muspida, Kapolda hendak
menyatakan diri sebagai pihak yang mengatasi hukum dan berada di atas
pemerintah sipil?
4. Pola kebijakan membiarkan
Ada sejumlah indikasi kuat bahwa pola kebijakan pembiaran dijalankan.
Pertama, 12 November 1999 saat diadakan hari ulang tahun Bpk. Theys
H. Eluay di Sentani yang dihadiri oleh sejumlah pejabat muspida Tk.I.
Kedua, pada tanggal 1 Desember 1999, bendera Papua dikibarkan di
berbagai tempat di Tanah Papua dan tidak ada reaksi apapun dari
pemerintah dan Polisi. Ketiga, saat diadakan Kongres Papua II 29 Mei – 4
Juni 2000, seluruh Muspida Tk. I Irja menghadirinya saat bendera
dikibarkan dan lagu ―Hai, Tanahku Papua‖ dinyanyikan. Dengan demikian,
masyarakat memahami bahwa pengibaran Bendera Papua adalah sah
seperti halnya pengungkapan aspirasi kemerdekaan meskipun tidak ada
pernyataan resmi dari pihak pemerintah dan kepolisian bahwa hal itu
dijamin secara hukum. Dengan demikian masyarakat dibiarkan
mengambang, berpegang pada persepsi sendiri, mengalami kebingungan
karena pernyataan yang bertentangan dari anggota Muspida. Dalam
suasana mengambang itulah, muncul kebijakan represif dari kepolisian
yang dengan penurunan Bendera Papua secara paksa yang bermuara
pada jatuhnya korban di pihak masyarakat. Kebijakan itu tidak hanya
berhenti pada tgl. 6 Oktober 2000 tetapi terus berlanjut dengan
membiarkan masyarakat hidup dalam ketakutan, berpegang pada
persepsi sendiri atau kelompok sendiri karena tidak ada proses investigasi
dan proses rekonsiliasi.
5. Persilangan kepentingan politik di tingkat atas
Tak bisa dipungkiri bahwa kerangka dari peristiwa Wamena adalah
perbenturan kepentingan elit politik Jakarta dengan dinamika sosio-politik
di Papua. Perbenturan itu pertama-tama berakar dari perbenturan
kepentingan di antara elit sendiri di Jakarta. Konflik di tingkat atas ini
menjadikan masalah kemanusiaan di Papua dibelokkan dan dipersempit
kepada problem ideologis sehingga akar masalah tidak tertangani tetapi
justru kepentingan elit politik yang bersangkutan dipertahankan. Dinamika
politik ini akhirnya berbenturan dengan kondisi nyata masyarakat Papua
yang makin tidak tahan karena suaranya terus tidak didengarkan sehingga
bermuara pada peristiwa kekerasan yang luar biasa.
REKOMENDASI
B
erdasarkan seluruh analisis latarbelakang masalah, pemaparan fakta
temuan dari lapangan, berikut segala dampak yang ditimbulkan dari
peristiwa 6 Oktober 2000, Tim Kemanusiaan Wamena
merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:
1. Meminta kepada semua untuk memahami dan menerima bahwa
masalah Wamena adalah masalah yang kompleks yang berakar pada
dinamika sosio-politik di tingkat pusat, propinsi, maupun di Wilayah
Baliem sendiri yang menciptakan suatu lingkaran kekerasan yang luar
biasa.
2. Meminta kepada semua pihak untuk tidak menciptakan suasana yang
mengarah kepada kekerasan baik melalui pernyataan-pernyataan di
media massa, sikap arogan di lapangan, unjuk kekuatan senjata,
maupun intimidasi kepada pihak yang berbeda warna kulit, agama,
suku, gender, dan keyakinan politik.
3. Meminta kepada pemerintah di segala tingkat dan masyarakat Baliem
untuk segera memulihkan sistem pendidikan yang mengalami kerusakan
yang serius dan akan membawa dampak yang berkepanjangan.
4. Meminta kepada pemerintah di segala tingkat untuk mengambil langkah
yang konkret, segera, dan cermat untuk menangani nasib para guru dan
keluarganya yang telah menjadi korban peristiwa 6 Oktober 2000
dengan tidak mempersulit segala proses administratif yang diperlukan.
5. Meminta kepada pemerintah di segala tingkat untuk mengambil langkah
serius terhadap para murid yang tidak memiliki kesempatan belajar yang
layak karena guru dan sarana belajar-mengajar telah rusak di seluruh
Wilayah Baliem.
6. Meminta kepada para penegak hukum supaya menjalankan proses
litigasi berdasarkan prinsip hukum, keadilan, dan kebenaran dan bukan
didasarkan pada desakan-desakan yang bersifat politis.
7. Meminta kepada pemerintah di segala tingkat untuk memperhatikan luka
batin (trauma) yang diderita oleh warga masyarakat Baliem maupun
warga masyarakat lainnya.
8. Meminta pemerintah dan Komisi Nasional Hak Azasi Manusia untuk
membentuk KPP HAM independen guna melakukan empat tugas utama
: [1] uji forensik atas korban yang tidak teridentifikasi dengan cara biasa,
[2] melakukan investigasi menyeluruh, [3] mengumumkan secara luas
dan terbuka hasil temuannya dalam waktu singkat, [4] melakukan
upaya-upaya penuntutan melalui peradilan HAM terhadap pihak
manapun yang terbukti bersalah dan mengorbankan nasib masyarakat
biasa.
9. Meminta kepada para pejabat di segala tingkat baik di jajaran
pemerintahan maupun kepolisian untuk bertanggung jawab secara
hukum atas segala pernyataan dan tindakan yang terbukti telah
mendatangkan korban di tingkat masyarakat biasa.
10. Hanya berdasarkan pelaksanaan rekomendasi 1-9, meminta kepada
segenap unsur untuk melakukan proses rekonsiliasi atau pendamaian
dengan syarat-syarat berikut ini:
a. membentuk Tim Kerja Rekonsiliasi yang terdiri dari segenap unsur
keahlian dan adat Baliem guna mengolah tahap-tahap rekonsiliasi
secara matang dan terencana dan menuangkannya dalam sebuah
kerangka kerja.
b. membentuk Forum Musyawarah Rekonsiliasi yang menjadi
representasi dari setiap unsur yang ada dalam masyarakat Baliem
yang mendiskusikan hasil kerja dari Tim Kerja Rekonsiliasi
c. memulihkan kondisi-kondisi fisik yang rusak akibat peristiwa 6
Oktober 2000 maupun sesudahnya
d. melaksanakan proses-proses rekonsiliasi yang tidak sebatas pada
upacara perdamaian yang bersifat seremonial dan formal belaka
melainkan berdasarkan kajian yang mendalam dari Tim Kerja
Rekonsiliasi.
*************