implementasi-pp-no41-th-2007-di-merauke
Shared by: hedongchenchen
-
Stats
- views:
- 7
- posted:
- 11/28/2011
- language:
- Indonesian
- pages:
- 24
Document Sample


IMPLEMENTASI PP No.41/2007
dan Reorganisasi Pemda di
Kabupaten Merauke
Dr. Wahyudi Kumorotomo, MPP
www.kumoro.staff.ugm.ac.id
kumoro@map.ugm.ac.id
Magister Administrasi Publik
Universitas Gadjah Mada
KONSEP DASAR
OTONOMI DAERAH
Devolution / decentralisation: The transfer
of functions or decision-making authority
from the central government to local
government (Cheema & Rondinelli, 1981).
Otonomi daerah (local autonomy):
kewenangan Daerah Otonom untuk
mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat menurut prakarsa
sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat
sesuai dengan peraturan perundang-
undangan (UU No.32 Tahun 2004).
METODE PELIMPAHAN
WEWENANG
“Ultra vires” is basically used for denoting the situation
where local governments “vires” (functions) are explicitly
listed, and therefore any local government action outside
this list would be deemed to be “ultra vires”, i.e. beyond
the scope of allowed functions.
“General competence”, on the other hand, is the
principle that allows local governments to take whatever
necessary actions in their territories, i.e. protecting citizens,
providing services, and developing the regions. Under the
“general competence” principle, local governments are free
to take actions as long as they do not breach provisions in
higher levels’ regulations. Ferrazzi (2002); Hoessein (2002)
Pelimpahan Wewenang di Indonesia
– Metode yang dianut adalah general
competence, dengan sedikit modifikasi
– Perumusan kewenangan daerah ditetapkan
berdasarkan “kewenangan residual”, dengan
rumusan eksplisit dimulai dari pemerintah
pusat, yi: bidang pertahanan dan keamanan,
kebijakan moneter dan fiskal, politik luar
negeri, agama, justisi.
– Dalam peraturan lebih teknis, perumusan
kewenangan didahului dengan kewenangan
pemerintah pusat dan pemerintah provinsi,
menurut PP No.25/2000.
– Perumusan berdasarkan pengakuan
kewenangan dalam tiga jenjang (pusat,
provinsi, kabupaten/kota) menurut PP
No.38/2007.
Muatan PP No.38/2007
Pembagian kewenangan antara
pemerintah pusat, provinsi, kab/kota
secara rinci (lampiran 856 hal, mirip
dengan muatan Kepmendagri 130-67 th
2002)
Kewenangan wajib (basic services): 26
urusan
Kewenangan pilihan (core competence) :
8 urusan.
Bagaimana dengan urusan pemerintahan
yang konkuren?
1. Pendidikan
URUSAN WAJIB
2. Kesehatan
3. Lingkungan hidup
4. Pekerjaan umum
5. Penataan ruang
6. Perencanaan pembangunan
7. Perumahan
8. Kepemudaan & olah-raga
9. Penanaman modal
10. Koperasi & usaha kecil-menengah
11. Kependudukan & catatan sipil
12. Ketenagakerjaan
13. Ketahanan pangan
14. Pemberdayaan perempuan & perlindungan anak
15. KB & keluarga sejahtera
16. Perhubungan
17. Komunikasi & Informatika
18. Pertanahan
19. Kesatuan bangsa & politik dalam-negeri
20. Otda, PU, adm. Keuangan daerah, perangkat daerah kepegawaian,
persandian
21. Pemberdayaan masyarakat dan desa
22. Sosial
23. Kebudayaan
24. Statistik
25. Kearsipan
URUSAN PILIHAN
1. Kelautan & perikanan
2. Pertanian
3. Kehutanan
4. Energi & sumberdaya mineral
5. Pariwisata
6. Industri
7. Perdagangan
8. Transmigrasi
Proses Terbentuknya Stuktur Organisasi
Pembagian
kerja 1
Struktur
organisasi
Pembagian
Kerja 2
Pembagian
Kerja 3 Koordinasi dan
integrasi
Perkembangan Organisasi dan Restrukturisasi
Kedewasaan
Pertumbuhan Kemunduran
Formasi
1. Tahap kewiraswastaan 2. Tahap kebersamaan 3. Tahap 4. Tahap 5. Tahap
formalisasi dan perluasan kemunduran
kontrol struktur
Tujuan tidak jelas Komunikasi dan Formalisasi Stuktur lebih Turnover pegawai
Kreativitas tinggi struktur informal Peraturan kompleks tinggi
Komitmen tinggi Struktur stabil Desentralisasi Konflik
Pemekaran Berbagai macam meningkat
pada efisiensi pasar Sentralisasi
Sistem Pemerintahan Daerah
setelah Reformasi
UU No 32/2004 meletakkan otonomi atas dasar lima landasan
yaitu: (1) demokrasi, (2) partisipasi dan pemberdayaan, (3)
persamaan dan keadilan, (4) pengakuan atas potensi daerah dan
perbedaannya, (5) penguatan parlemen lokal.
Pengakuan adanya otonomi luas, kecuali lima urusan pemerintah
pusat (politik LN, pertahanan & keamanan, justisi, moneter &
fiskal nasional, agama)
Bertanggung jawab terhadap semua urusan yang telah diserahkan
kepada daerah mulai dari perencanaan, penganggaran,
implementasi, dan evaluasinya.
Daerah diberi kewenangan untuk mengurus urusan keuangan,
kepegawaian dan organisasi daerah.
Pemerintah daerah tidak termasuk DPRD (ada pemisahan yang
jelas).
Instansi vertikal digabung dengan dinas daerah.
Kecamatan (distrik) memiliki fungsi dekonsentrasi, pemerintahan
desa (kampung, mukim) berhak untuk memilik kepala
pemerintahan dan Badan Perwakilan sendiri.
REALISASI PEMBAGIAN
KEWENANGAN DALAM PENATAAN
KELEMBAGAAN PERANGKAT DAERAH
Diberikan keleluasaan daerah untuk
menatanya sesuai dengan kemampuan
dan kebutuhan
Daerah mempunyai keadaan dan
kemampuan yang berbeda
Kewenangan daerah dalm konstruksi
otonomi UU No.32/2004 seharusnya lebih
leluasa ketimbang ketika diatur oleh UU
No.5/1974
Peraturan pemerintah seharusnya tidak
mengatur yang cenderung membatasi
keleluasaan dan keberagaman daerah
Muatan PP No.41/2007
Penyusunan SOT berdasarkan penilaian mandiri (self-
assessment)
Struktur diharapkan lebih ramping & sesuai kebutuhan
daerah; Ukuran maksimal: 15 dinas, 10 badan.
Struktur inti: kepala daerah & wakil dibantu staf
(sekretariat), unsur pengawas (inspektorat), unsur
perencana (badan), unsur pendukung (lembaga teknis
daerah), unsur pelaksana (dinas).
Struktur tambahan: unsur pelaksana sesuai potensi
unggulan (core competence) daerah
Kemungkinan pembentukan lembaga lain sesuai kebijakan
nasional (Sekr. Badan Narkoba, Komisi Penyiaran, dsb)
Kriteria objektif (?) dengan pembobotan: 40% variabel
penduduk, 35% luas wilayah, 25% besaran APBD. Masalah:
apakah eselonisasi sudah sesuai dengan beban kerja?
Penurunan eselon Kabid pd dinas & badan IIIa menjadi
IIIb. Penghapusan Wakil Kepala Dinas.
Kepala Daerah dapat merekrut hingga 5 orang staf ahli
(eselon IIa untuk staf ahli Gub, IIb untuk staf ahli
Bup/Walikota). Masalah: kemungkinan nepotisme?
Kecemburuan?
Struktur Dasar Organisasi
Strategic apex
Middle Support
Techno- line
structure Staff
Operating core
Sb: Mintzberg (1979:20)
Deskripsi masing-masing
Strategic Apex
– Suatu unit satuan organisasi yang
berfungsi membuat kebijakan strategis
untuk kelangsungan hidup dan
pengembangan suatu orgaisasi
– Fungsi ini biasanya terletak pada posisi
tertinggi atau dijabat oleh Pimpinan
tertinggi suatu Organisasi (Untuk
Dinas=Kepala Dinas)
Lanjutan I
Middle Line
– Satuan Organisasi ini berfungsi sebagai
perantara yang menyalurkan kebijakan
strategis untuk dilaksanakan oleh
satuan pelaksana organisasi
– Satuan organisasi mediator ini
umumnya pengelola dari fungsi bantuan
dan fasilitasi (biasanya dijabat oleh
Sekretaris)
Lanjutan II
Operating Core
– Unit organisasi berfungsi melaksanakan
tugas pokok suatu organisasi. Unit ini
yang berfungsi sebagai pelaksana yang
bertanggungjawab atas berhasil
tidaknya pelaksanaan kebijakan
strategis yang ditetapkan oleh Strategic
Apex
– Unit ini berada di depan yang erat
kaitanya dengan terwujudnya tugas
pokok suatu organisasi (Dinas
kesehatan= rumah sakit, poli klinik
dsb.)
Lanjutan III
Techno-Structure
–Unit ini berfungsi sebagai analis
yang memberikan bantuan (hasil
analisisnya) kepada Strategic Apex
mengenai segala aspek yang
berkaitan dengan tugas pokok
organisasi untuk masukan
pengambilan kebijakan (Misalnya:
bagian Litbang)
Lanjutan IV
Support Staff
–Unit organisasi ini terdiri dari
satuan penunjang yang
memperlancar pelaksanaan tugas
pokok organisasi
–Unit ini biasanya dipandang kurang
penting, akan tetapi tanpa unit ini
organisasi bisa lumpuh (misalnya
bagian Tata Usaha)
LEMBAGA DI PEMDA MERAUKE
(Sekretariat & Badan/Inspektorat)
1. Sekretariat Daerah (Pola 3 Asek)
2. Sekretariat DPRD
Asisten Sekretariat Daerah:
1. Pemerintahan & Kesejahteraan Rakyat
1. Bagian Pemerintahan
2. Bagian Administrasi Kesejahteraan Rakyat
3. Bagian Administrasi Kemasyarakatan
2. Pembangunan Daerah
1. Administrasi Pembangunan
2. Administrasi Sumberdaya Alam
3. Administrasi Perekonomian
3. Administrasi Umum
1. Hukum
2. Organisasi
3. Umum
4. Perlengkapan dan Aset
LEMBAGA TEKNIS DAERAH DI MERAUKE
(8 Badan, 1 Satuan Teknis, 1 RSUD)
Badan (8 bh):
1. Badan Perencana Pembangunan Daerah (Bappeda)
2. Badan Pengawas Daerah (Bawasda)
3. Kesatuan Bangsa & Perbatasan Daerah
4. Badan Penelitian, Pengembangan, Pendidikan dan
Pelatihan (Balitbangdiklat)
5. Badan Promosi dan Investasi Daerah
6. Pengumpulan Data dan Arsip Daerah
7. Kantor Informasi, Komunikasi, dan Perpustakaan
8. Kantor Kependudukan, Keluarga Berencana dan Catatan
Sipil
Satuan lain:
1. Satuan Polisi Pamong Praja
2. Rumah Sakit Umum Daerah
LEMBAGA DI PEMDA MERAUKE
(Dinas & Distrik)
Dinas (16 bh):
1. Dinas Pendapatan Daerah
2. Dinas Pekerjaan Umum
3. Dinas Kesehatan
4. Dinas Pendidikan Sekolah Dasar
5. Dinas Pendidikan Menengah
6. Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat
7. Dinas Tanaman Pangan
8. Dinas Peternakan
9. Dinas Kehutanan dan Perkebunan
10. Dinas Perikanan dan Kelautan
11. Dinas Perhubungan
12. Dinas Migrasi, Permukiman, dan Ketenagakerjaan
13. Dinas Perindagkop
14. Dinas Pemuda, Olah-raga dan Pendidikan Luar Sekolah
15. Dinas Pengendalian Dampak Lingkungan
16. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Wilayah:
1. Distrik (20)
PERUBAHAN ESELONISASI
DI MERAUKE
Keadaan Sekarang Konsultasi Depdagri
Eselon IIa 1 Eselon IIa 1
Eselon IIb 30 Eselon IIb 27
Eselon IIIa 121 Eselon IIIa 63
Eselon IIIb 11 Eselon IIIb 113
Eselon IVa 319 Eselon IVa 477
Eselon IVb 32 Eselon IVb 89
Pasal 22 PP No.41/2007
Pembentukan Dinas / LTD agar disesuaikan
dengan Perumpunan Urusan. Perumpunan
urusan Dinas tidak boleh digabung dg LTD
Plus Kebijakan Nasional.
1. BP4K (Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian,
Perikanan dan Kehutanan) UU No.16/2006
2. BPBD (Badan Penanggulangan Bencana
Daerah) UU No.24/2007
3. Badan Ketahanan Pangan Perpres
No.83/2006
4. UPTSA (Unit Pelayanan Terpadu Satu Atap)
Permendagri No.20/2008.
Strategi Reorganisasi
1. Tetapkan “fungsi” sebelum “struktur” (money
follows function)
2. Lakukan perubahan dari yang potensi
konfliknya terendah
3. Jangan menghapus satuan organisasi yg
kinerjanya baik (Do not kill the golden goose)
4. Analisis ttg kinerja SKPD dan individual dg
indikator kemampuan yg objektif
5. Arahkan reorganisasi pada tujuan otonomi
daerah; peningkatan ekonomi & kemakmuran
rakyat di daerah, pelayanan publik yg efisien,
responsif, akuntabel
6. Kembangkan sistem insentif berdasarkan
kinerja, bukan semata-mata pada jabatan
struktural
7. Utamakan good-will dalam mengoptimalkan
kinerja, bukan mencari-cari kelemahan dalam
peraturan untuk diri-sendiri & ego-sektoral.
Get documents about "