; limbah puskesmas
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

limbah puskesmas

VIEWS: 9,027 PAGES: 16

  • pg 1
									Bagaimana sikap anda bila mengetahui bahwa limbah klinis adalah salah satu sumber penyakit dan berbahaya bagi masyarakat? Apakah nantinya pusat layanan kesehatan masyarakat akan benar-benar berubah menjadi “sumber penularan penyakit” hanya karena limbah klinis tidak terolah dengan baik? Lalu bagaimana cara menangani limbah klinis ini ? Masyarakat di negara maju ternyata tidak hanya menuntut teknologi yang mampu memenuhi kebutuhan dengan cepat. Namun masyarakat di negara tersebut juga menuntut adanya teknologi yang bersahabat dengan lingkungan. Lalu bagaimana dengan tuntutan masyarakat di negara berkembang? Apakah juga sudah ada kesadaran untuk memikirkan kelestarian lingkungan? Ternyata harapan munculnya kesadaran akan kelestarian lingkungan masih cukup jauh karena perilaku masyarakat kita yang masih kurang peduli dengan alam. Dunia medis nampaknya juga harus berpacu untuk memenuhi pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Berbagai penelitian terus dilakukan karena jenis penyakit dari tahun ke tahun bukannya semakin berkurang namun malah sebaliknya. Fungsi Puskesmas dari dulu sampai sekarang adalah sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan di masyarakat. Mengapa demikian? Karena Puskesmas langsung bersentuhan dengan masyarakat terutama di pedesaan atau masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Bentuk pelayanan itu dapat penanganan langsung kepada pasien atau dalam tahap membuka wacana kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan lingkungan. Namun kadang dari aktivitas pusat layanan kesehatan kadang memunculkan persoalan baru. Sering kali Puskesmas kurang memperhatikan masalah penanganan limbah klinis yang biasanya terdiri dari bekas kain kasa, kapas, plastik, logam dll. Apalagi sekarang telah banyak Puskesmas dan klinik kesehatan swasta yang membuka layanan rawat inap dan tentu saja limbah klinis yang dihasilkan juga bertambah. Padahal limbah klinis sangatlah berbahaya karena mengandung berbagai macam jenis penyakit dan racun. Limbah klinis ini bila tidak ditangani secara baik dan benar maka fungsi atau peran dari Puskesmas atau klinik kesehatan sebagai pembawa kehidupan sehat bagi masyarakat justru akan terbalik. Untuk menjawab penanganan limbah klinis, maka Yayasan Dian Desa mengembangkan sebuah teknologi tepat guna untuk menangani limbah klinis. Riset yang panjang ini telah menghasilkankan mesin pengolah limbah yang disebut Incineratot DD Midi dan Incinerator DD Midi Incinerator sebenarnya adalah hasil dari pengembangan dari teknologi tungku kayu tradisional. Prinsip kerjanya sangatlah sederhana yaitu pembakaran secara tertutup untuk menghasilkan panas yang maksimal dengan suplai oksigen sangat minimal. Dinding bagian dalam (insulation) incinerator terbuat dari bak semen tahan api (insulation cement 1400 derajat celcius). Sedangkan dinding luarnya terbuat dari stainless steel (baja tahan karat). Incinerator juga praktis karena tidak memerlukan atap

atau konstruksi pendukung lain maka pembakaran limbah dilakukan di luar ruangan (out door). Apalagi Incinerator DD Mini karena ukurannya yang kecil sangat tepat untuk pengolahan limbah klinis Puskesmas. Pemilihan bahan bakar biomassa selain murah ternyata berfungsi sebagai filter dari senyawa dioksin yang muncul selama proses pembakaran. Pencegahan munculnya senyawa dioksin adalah melakukan pembakaran dengan suhu tinggi di dalam ruangan yang tertutup. Apabila limbah klinis dibakar dengan alat pembakaran biasa (burner) maka suhu maksimal yang dicapai hanya akan sampai pada angka 700 derajat celcius dan dalam temperatur sekian senyawa dioksin akan terbentuk. Lain halnya bila kita menggunakan Incinerator maka suhu maksimal yang dihasilkan akan sampai pada angka 1000 derajat celcius. Pembakaran dengan Incinerator yang suhunya demikian tinggi akan mampu menekan resiko terbentuknya senyawa dioksin. Hal ini dikarenakan dengan superheated steam maka siklus rantai hidrokarbon akan pecah. Penggunaan Incinerator sangatlah mudah karena hanya dengan menyusun kayu dan limbah yang akan dibakar secara berselang-seling. Namun untuk hasil yang maksimal maka kita harus menggunakan bahan bakar yang keras, misalnya tempurung kelapa. Tentu saja tempurung kelapa sangatlah melimpah di negeri ini dan akan menjadi bahan bakar yang tak pernah habis di muka bumi. Pada tahap reduksi, oksigen dimasukkan untuk mengubah volatile gas menjadi CO2 dan H2O. Turbulensi dengan suhu tinggi dan ruang bakar yang tepat merupakan syarat utama agar proses pembakaran berlangsung sempurna. Oleh karena dua buah jet port disediakan untuk mensuplai oksigen. Dari pembakaran 8 kg limbah dengan durasi 3 jam dengan Incinerator DD Midi maka residu abu yang tertinggal kurang lebih hanya 0,5 kg. Yang lebih mengagumkan bahwa sampah metal seperti jarum suntik juga terurai sampai menjadi abu. Bukankah cara seperti ini sangatlah ramah untuk lingkungan? Dari segi biaya pun juga sangat ringan karena tidak membutuhkan BBM dan listrik.. Mari kita pikirkan kembali supaya pusat layanan kesehatan tidak lagi menjadi sumber penyakit bagi masyarakat yang menginginkan hidup sehat! (Jokek) Spesifikasi Incinerator DD Midi & DD Mini Incinerator DD Midi Dimensi : 680 x 500 x 1000mm (L x W x H) Volume reaktor : 40 lt Tipe : Cross draft Lining material : Refracktory Cement 1550 C Insulation : Insulation Cement 1400 C Cover : Stainless steel

Kapasitas : 8 kg sampah/jam Temperatur kerja : > 1000 C Bahan bakar : Biomassa (batok kelapa, kayu serpih, kulit kacang, tongkol Jagung dll) Incinerator DD Mini Dimensi : 520 x 320 x 700mm (L x W x H) Volume reaktor : 15 lt Tipe : Cross draft Insulation : Insulation Cement 1400 C Cover : Stainless steel Kapasitas : 2 kg sampah/jam Temperatur kerja : > 1000 C Bahan bakar : Biomassa (batok kelapa, kayu serpih, kulit kacang, tongkol jagung dll) OPERASIONAL Persiapan 1. Siapkan biomassa yang akan digunakan (tempurung kelapa, tongkol jagung dll) dengan ukuran 3 – 6 cm. 2. Kumpulkan limbah klinis ke dalam wadah yang aman (kantong plastik, kardus dll). 3. Masukkan kertas atau material lain (yang mudah terbakar) secukupnya pada dasar ruang bakar. 4. Masukkan biomassa di atas kertas tersebut hingga memenuhi 2/3 bagian. 5. Isi parit dan landasan tutup atas dengan air (untuk seal udara) agar asap tidak keluar dari pintu pengisian. Cara Pemakaian 1. Siapkan bahan bakar kayu sesuai dengan keranjang ukur 2. Masukkan limbah dan bahan bakar secara berselang-seling melalui pintu atas 3. Setelah bak pembakaran penuh, nyalakanlah api. Apabila nyala api sudah stabil maka tutuplah pintu pembakaran. 4. Setelah kurang lebih tiga jam maka limbah dan kayu akan menjadi abu lalu bersihkanlah memalui pintu abu. Penulis : Prianti Utami

Incinerator Medis Alat Pengolahan Sampah Klinik/Puskesmas/Rumah Sakit
Dewasa ini limbah merupakan masalah yang cukup serius, terutama dikota-kota besar. Sehingga banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah daerah, swasta maupun secara swadaya oleh masyarakat untuk menanggulanginya, dengan cara mengurangi, mendaur ulang maupun memusnahkannya. Namun semua itu hanya bisa dilakukan bagi limbah yang dihasilkan oleh rumah tangga saja. Lain halnya dengan limbah yang di hasilkan dari upaya medis seperti Puskesmas, Poliklinik, dan Rumah Sakit. Karena jenis limbah yang dihasilkan termasuk dalam kategori biohazard yaitu jenis limbah yang sangat membahayakan lingkungan, dimana disana banyak terdapat buangan virus, bakteri maupun zat zat yang membahayakan lainnya, sehingga harus dimusnahkan dengan jalan dibakar dalam suhu diatas 800 derajat celcius Oleh karena itu penangannannya pun haruslah memakai alat khusus yang memiliki kriteria kriteria yang ditentukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang diantaranya adalah sebagai berikut:

       

Pengurangan sampah yang efektif Lokasi jauh dari area penduduk Adanya sistem pemisahan sampah Desain yang bagus Pembakaran sampah mencapai suhu 1000 derajat Emisi gas buang memenuhi standar baku mutu. Perawatan yang teratur/periodik Pelatihan Staf dan Manajemen

Namun umumnya alat ini didatangkan dari luar negeri yang harganya mencapai milyaran rupiah, serta membutuhkan tenaga operator maupun teknisi yang terdidik dan terlatih. Namun dalam pengoperasiannya cukup memakan biaya besar karena dalam proses pemusnahan limbah membutuhkan bahan bakar dan listrik yang cukup besar secara kontinyu. Selain itu komponen alat tidak mudah didapatkan dipasaran dalam negeri. Sehingga cukup merepotkan takala terjadi kerusakan.

SOLUSI LIMBAH MAXPELL
Maxpell menawarkan solusi terbaik dalam menangani permasalahan limbah medis dan non medis jenis padat (kering dan basah) yang terdapat di Puskesmas, Poliklinik, dan Rumah Sakit yaitu dengan menggunakan incinerator dengan sistem pembakaran yang sempurna dengan berbagai media bahan bakar yang terus dikembangkan baik dari sisi teknologi maupun kapasitas. Solusi yang ditawarkan oleh maxpell adalah untuk mengatasi limbah medis dan non medis jenis padat (kering dan basah) dengan melakukan pemilahan jenis limbah berdasarkan pemusnahannya. Dibawah ini terdapat tabel jenis limbah yang dapat ditangani oleh teknologi maxpell.

KEGIATAN Perawatan Bedah Laboratorium Poliklinik Farmasi

PRODUKSI LIMBAH Alat suntik , tabung infus , kasa, kateter, sarung tangan, masker , bungkus/botol obat, dlsb Alat suntik , tabung infus , kasa, kateter, sarung tangan, masker , bungkus/botol obat , pisau bedah, jaringan tubuh, kantong darah Alat suntik , pot sputum, pot urine/faeces, reagent, chemicals, kaca slide Alat suntik , tabung infus , kasa, kateter, sarung tangan, masker , bungkus/botol obat, dlsb Dos, botol obat plastik/kaca, bungkus plastik, kertas, obat kedaluarsa, sisa obat.

Radiologi IGD Dapur Laundry Kantor KM / WC
Keterangan :

Cartrige film, film, sarung tangan , kertas, plastik . Alat suntik , tabung infus , kasa, kateter, sarung tangan, masker , bungkus/botol obat, dlsb Sisa bahan makanan (sayur, daging, tulang, bulu,dlsb), sisa makanan, kertas, plastik bungkus Kantong plastik Sisa bahan makanan (sayur, daging, tulang, bulu,dlsb), sisa makanan, kertas, plastik bungkus Pembalut, sabun, odol

Incinerator Needle Pit/ Needle Cruisher Incenerator / Dijual Kembali

Pengelolaan limbah jika diolah secara baik dapat memberikan keuntungan yang cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat dengan konsep mata rantai daur ulang sampah yang terdapat di negeri kita. Gambar dibawah ini memperlihatkan konsep mata rantai daur ulang sampah.

Dengan adanya konsep pemilahan limbah padat medis maupun non medis, tentunya akan dengan mudah diperkirakan berapa keuntungan rumah sakit/puskesmas/poliklinik dari hasil pengolahan limbah yang dapat di daur ulang. Untuk memudahkan perkiraan keuntungan dari hasil pengolahan sampah dapat dilihat pada tabel dibawah ini

No Jenis Barang

Harga Per-Kg (Rp)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

Kertas bersih 400 Kertas kotor 50 Kardus 250 Plastik lemas 300 Plastik ember 700 Botol Infus 50 / bh Botol aqua 100 Kresek (HD) 50 Kaleng 75 Tulang 100 Beling putih 50 Kuningan 5000 Tembaga 5000 Aluminium 4000 Besi super (asli) 300 Besi Campuran 250 Kaleng minuman (Sari) 3000 Sandal, slang (Nilek) 750 Tempat odol (Pepsodent)700
Hasil penelitian YDD di TPA Kricak Desember 1999

Dari tabel diatas dapat diperkirakan dengan mudah berapa banyak sampah yang dapat di daur ulang atau dijual kembali untuk mendapatkan keuntungan. Solusi penanganan limbah sebenarnya sangat mudah dan efisien jika ditangani dengan baik dan benar. Contoh lain penanganan limbah dengan metode pemilahan dan pemusnahan menggunakan incinerator Maxpell Technology dapat dilihat pada contoh kasus income sampah dari RS type B Yogyakarta Bulan Juni 2003 dibawah ini.

No 1

Jenis Sampah Sampah Plastik Tabung Infus Plastik bekas (tabung suntik, botol obat,dll)

Qty/hari Qty / bulan

Harga / unit Rp. 50,-

Jumlah

200 pcs 10 kg 40 kg

6000 pcs 300 kg 1200 kg

Rp. 300.000

Rp. 700,- Rp. 210.000,Rp. 700,- Rp. 840.000,Rp. 3000,-

2 3

Sampah kertas Koran bekas, sampah kantor, dll. Sampah basah Sisa makanan, sampah dapur Rata rata pendapatan dari Sampah per Bulan 15 ember 450 ember Rp. 1.350.000,Rp. 2.700.000,-

Incinerator Konsumsi Minyak Solar

per Hari Konsumsi Minyak Solar

per Hari 10 lt

per Bulan 300 lt

Harga /Lt Rp. 2.500,-

Biaya Minyak / Bulan Rp. 750.000,-

TEKNOLOGI MAXPELL
Selain menggunakan metode pemilahan limbah yang dapat didaur ulang atau yang dapat dijual kembali, Maxpell juga memiliki teknologi yang dapat memusnahkan limbah medis atau non medis padat (basah dan kering) dengan menggunakan Incinerator. Teknologi incinerator Maxpell adalah sebuah alat penghancur limbah berupa tungku pembakaran yang didesain secara sempurna dalam sistem pembakaran dengan menggunakan berbagai media bahan bakar yang terus dikembangkan baik dari sisi teknologi maupun kapasitas. Teknologi Incinerator Maxpell dirancang agar memiliki beberapa kemudahan untuk dioperasikan. Beberapa keunggulan tersebut adalah:

    

   

Tidak membutuhkan tempat luas; Bisa membakar sampah kering hingga sampah basah; Daya musnah sistem pembakaran mencapai suhu diatas 1000 o C; Bekerja efektif dan irit bahan bakar; Tingkat dari pencemaran rendah. Dalam operasional dibeberapa tempat terbukti asap hasil pembakaran yang keluar dari cerobong hampir tidak kelihatan dan tidak mengeluarkan bau yang menganggu; Suhu pembuangan udara panas pada cerobong asap terkendali secara konstan; Suhu dinding luar tetap dingin sama dengan suhu udara luar; Perawatan yang mudah dan murah; Abu sisa pembakaran bisa diolah menjadi beragam produk bahan bangunan.

Keunggulan teknologi Maxpell berbeda dengan teknologi lainnya, teknnologi lain biasanya hanya dapat melakukan penghancuran sampah kering dengan tungku pembakaran, akan tetapi teknologi Maxpell menggunakan teknologi khusus yang didesain untuk mengelola dan sekaligus menghancurkan hampir seluruh limbah pada medis atau non medis secara maksimal. Silkus atau proses pengolahan limbah medis atau non medis Maxpell dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Keunggulan lain teknologi Maxpell adalah dengan diterapkannya Teknologi Ramah Lingkungan pada incinerator Maxpell. Teknologi ini berbeda dengan teknologi pembakaran sampah konvensional, pada tungku Maxpell l imbah ditempatkan dalam ruangan yang kedap, lalu di injeck dengan bahan bakar yang sudah dicampur oksigen dan terbakar dengan suhu yang tinggi, asap hasil pembakaran di imbas dengan molekul air sehingga asap yang keluar menjadi hidrocarbon yang akan terbakar habis pada secondary chamber. Dengan demikian asap akan bersih dan ramah lingkungan

PRODUCT TEKNOLOGI MAXPELL
Maxpell memiliki beberapa produk pengolahan limbah medis atau non medis yang disesuaikan dengan kebutuhan Puskesmas/Rumah Sakit/Poliklinik. Penyesuaian kebutuhan ini dilakukan agar teknologi yang dipilih tepat guna bagi instansi tersebut. Penyesuaian kebutuhan dapat dilihat dari berapa banyak jumlah pasien dan tamu per hari, jumlah sampah yang dihasilkan per hari (dapat dilihat dari berapa banyak angkutan truk sampah yang mengambil sampah) yang terdapat di Puskesmas/Rumah Sakit/Poliklinik itu sendiri.

Berikut ini adalah beberapa produk teknologi Maxpell untuk pengolahan limbah padat medis maupun non medis beserta spesifikasinya.

Maxpell Needle Crusher Spesifikasi Teknis
Motor Listrik 100 Watt / 220 Volt Pengaman motor dengan sensor panas Ukuran : 293 x 197 x 163 mm Berat : 8,5 kg Body anti karat : Acrylic dan Fiberglass Penghancur Jarum : +/- 8 detik / jarum Bak penampung : +/- 300 jarum Keterangan Produk Pemusnah jarum suntik bertenaga listrik ramah lingkungan

Needle Pit Spesifikasi Teknis Needle Pit
Material : PVC pipe Dimensi : ¯ 6” x 1350 mm Volume : 26 liter Kapasitas : + 40.000 Jarum Keterangan Produk : Penampung potongan jarum suntik

S 512 - Mini Incinerator

Spesifikasi Teknis
Dimensi : 1260 x 940 x 1270 Volume Reaktor : 120 liter Tipe : Cross draft Lining Material : Refractory Cement 1 70 0 o C Insulation : Insulation Cement 1400 o C Cover : Steel / Stainless Steel Kapasitas : 40 kg sampah / jam Temperatur kerja : > 1000 o C Bahan Bakar : Gas LPG Keterangan Produk Pemusnah sampah medis dan non medis jenis padat (basah dan kering)

SS 01 - Incinerator Soft Metal

Spesifikasi Teknis
Dimensi : 600 x 800 x 1200 Volume Reaktor : 48 liter Tipe : Down Draft Lining Material : Refractory Cement 1 70 0 o C Insulation : Insulation Cement 1400 o C Cover : Steel / Stainless Steel Kapasitas : 10 kg sampah / jam Temperatur kerja : > 1300 o C Bahan Bakar : Gas LPG Keterangan Produk Pemusnah sampah medis dan non medis jenis padat (basah dan kering) mampu menghancurkan metal/besi ringan

Hasil Uji Laboratorium Gas Buang (Emisi)

No 1. 2.

Parameter FISIKA Opasitas Partikel KIMIA Amonia (NH 3 ) Gas Klorin (CL 2 ) Hidrogen Klorida (HCL) Hidrogen Florida (HF) Nitrogen Oksida (NO 2 ) Sulfur Dioksida (SO 2 )

Unit % mg/m 3

Baku Mutu Specification 40 400

Testing Result 15 97.47

3. 4. 5. 6. 7. 8.

mg/m 3 mg/m 3 mg/m 3 mg/m 3 mg/m 3 mg/m 3

1 15 10 20 1,700 1,500

0.15 tt tt tt 1.34 0.55

9.

Total Sulfur Tereduksi (H 2 S)

mg/m 3

70

0.07

Keterangan : tt = Tidak Terditeksi * Mengacu Kepada Kep-13/MENLH/3/1995 tentang Baku Emisi tidak bergerak untuk jenis kegiatan lain * Metode Uji & Sampling untuk perameter tersebut mengacu pada Annual Book of ASTM Standards, Vol 11.03, Atmospheric Analysis. Pengujian dilakukan oleh LPKL (Laboratorium Pengendalian Kualitas Lingkungan) Bandung.

Baca lebih lanjut mengenai ..... Incinerator Umum Incinerator Medis Download Proposal Incinerator Maxpell ... Proposal Incinerator Umum (Pdf) Proposal Incinerator Medis (Pdf) Cover Proposal Incinerator Umum (Pdf) Cover Proposal Incinerator Medis (Pdf)

Limbah Botol Infus Bisa Dijual KEPANJEN - Kebingungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang dalam menangani limbah medis terjawab sudah. Dinkes sudah mendapatkan jawaban dari pakar limbah Universitas Merdeka (Unmer) Malang mengenai cara penanganan limbah medis, terutama penanganan botol infus. Berdasarkan tinjauan akademis yang dilakukan pakar perlimbahan Dr. Gunawan Wibisono dari Unmer, botol infus bisa di-recycle (dibuang). Namun, sebelum pembuangan, botol infus itu terlebih dahulu harus dicuci bersih. Dan air bekas mencuci botol infus harus dibuang ke IPAL (instalasi pembuangan air limbah) milik rumah sakit atau puskesmas. Perlakuan berbeda diberikan kepada komponen infus lainnya. Seperti diketahui, selain botol juga ada komponen lainnya seperti selang, klem (pengatur arus infus), dan jarum suntik.

Untuk selang dan jarum suntik harus dimusnahkan dalam incenator. Agar pembakaran limbah medis berbahaya dan beracun bisa sempurna menjadi gas, maka pembakarannya harus dilakukan dalam 1.200 derajat celcius. Sedangkan untuk klem, perlakuannya sama dengan penanganan botol infus. "Surat rekomendasi dari pakar limbah itu sudah kami sosialisasikan kepada semua rumah sakit dan puskesmas di Kabupaten Malang," kata dr. Agus Wahyu Arifin, Kepala Dinkes Kabupaten Malang. Di kabupaten sendiri, jumlah rumah sakit besar ada 8 buah, rumah sakit kecil 30 buah, dan puskesmas 39 buah. Dengan adanya rekomendasi dari pakar akademis itu, maka rumah sakit dan puskesmas yang sebelumnya kebingungan mengelola limbah botol infus bisa segera mengambil sikap. Khusus untuk Rumah Sakit Kanjuruhan, Kepanjen, yang merupakan rumah sakit milik pemkab, rencananya botol infus itu akan dibersihkan lalu dijual. Dalam setiap harinya, botol infus yang habis terpakai di RS Kanjuruhan antara 300 botol hingga 400 botol. Sedangkan di masing-masing puskesmas antara 5 sampai 10 botol. "Lumayan untuk menambah pendapatan pegawai golongan rendah," sambungnya. Nantinya, botol infus yang dijual akan dikumpulkan oleh pengepul. Selanjutnya, para pengepul itu akan membawa limbah botol ke pabrikan. Untuk kemudian didaur ulang menjadi sebuah produk baru. (fir/ Penangan Limbah Medis Tajam harus segera dibenahi 02 Jul 2003 Jakarta, 2 Juli 2003.

Pada tahun 1999 WHO melaporkan bahwa di Perancis pernah terjadi 8 kasus pekerja kesehatan terinfeksi HIV melalui luka, 2 kasus diantaranya menimpa petugas yang menangani limbah medis. Di Indonesia dalam satu laporan diketahui bahwa setiap bulan pemakaian alat suntik untuk pengobatan mencapai 10 juta pelayanan. Padahal selain untuk pengobatan, alat suntik juga digunakan dalam program imunisasi bagi bayi dan anak-anak yang setiap tahunnya mencapai 4,9 juta anak dan setiap anak memerlukan 8 suntikan. Dengan demikian jumlah limbah medis tajam di Indonesia menjadi sangat tinggi. Oleh karena itu, penanganan limbah medis tajam harus segera dibenahi, karena limbah ini sangat berbahaya bukan hanya bagi pengunjung rumah sakit atau pelayanan kesehatan lainnya, namun juga bagi petugas kesehatan serta masyarakat umum. Hal itu penting karena, limbah alat suntik dan limbah medis lainnya dapat menjadi faktor risiko penularan berbagai penyakit seperti HIV/AIDS, Hepatitis B dan C serta penyakit lain yang ditularkan melalui darah.

Demikian penegasan Menkes Dr. Achmad Sujudi ketika membuka Lokakarya Penanganan Limbah Medis Tajam pada Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD) di Yogyakarta tanggal 1 Juli 2003. Lokakarya yang berlangsung selama 3 hari diikuti 105 peserta dari Depkes Pusat, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Wakil dari Kantor Meneg Lingkungan Hidup, pemerhati masalah limbah, produsen pengolah limbah lokal dan PATH (Programme for Appropriate Technology in Health). Kendati Departemen Kesehatan telah menyusun Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk mengukur kualitas pelayanan kesehatan dasar yang salah satunya adalah kewajiban rumah sakit dan Puskesmas untuk mengolah limbahnya. Namun Menkes mengakui bahwa penerapannya masih belum baik. Berdasarkan hasil assesment tahun 2002, diketahui bahwa baru 49 % dari 1.176 rumah sakit (526 rumah sakit pemerintah dan 652 rumah sakit milik swasta) di 30 provinsi, baru 648 RS yang memiliki incinerator dan 36% memiliki IPAL (Instalasi Pengolah Air Limbah) dengan kondisi sebagian diantaranya tidak berfungsi. Lebih lanjut ditegaskan, Depkes yang secara teknis memiliki kewenangan dalam penatapan standar-standar pelayanan kesehatan telah mengeluarkan berbagai ketentuan tentang penanganan limbah, terutama melalui Kepmenkes No. 876/2001 tentang Pedoman Teknis Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan serta Permenkes No. 986/1992 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan. Limbah medis sebagaimana limbah lainnya berkaitan dengan masalah lingkungan. Karena itu dalam penanganan limbah medis ini dilakukan bersama dengan Kementerian Lingkungan Hidup yang memiliki otoritas dalam penerbitan produk hukum di bidang lingkungan hidup. Koordinasi juga dilakukan dengan Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BPPT) yang memiliki otoritas dalam pengembangan teknologi tepat guna dalam pembuangan limbah medis. Selain itu, Depkes juga mengajak BKKBN yang dalam pelayanannya juga menghasilkan limbah medis tajam. Menkes menegaskan, di masa lalu penggunaan alat suntik baik untuk pengobatan maupun imunisasi masih mengandalkan semprit atau syrenge yang disterilkan melalui perebusan berulang-ulang sehingga hampir tidak ditemui limbah alat suntik. Tetapi sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, para dokter dan petugas kesehatan harus menggunakan alat suntik disposable (sekali pakai) dan bahkan memakai autodisable syringe (alat suntik sekali pakai yang betul-betul tidak dapat dipakai kembali), mengakibatkan adanya limbah alat suntik yang dikategorikan limbah medis tajam dan berbahaya. Sementara itu Prof. Dr. Umar Fahmi Achmadi dalam keterangannya kepada wartawan menjelaskan bahwa lokakarya yang diselenggarakan ini merupakan bagian dari paket safe injection (suntikan yang aman). Dengan lokakarya ini diharapkan penerapan safe injection dapat berkembang secara sistematik di seluruh Indonesia melalui para peserta yang hadir.

Program imunisasi merupakan bagian dari upaya kesehatan dasar yang wajib tersedia bagi masyarakat dengan mutu yang baik. Hal ini seirama dengan prinsip hidup sehat dimana masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan dengan mutu baik dalam lingkungan fisik yang sehat sehingga dapat memotivasi masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Menkes menyambut baik lokakarya ini dan berharap menjadi forum untuk mempertemukan para pakar dari berbagai ilmu serta para praktisi baik dalam maupun luar negeri. Dengan demikian hasilnya akan menjadi acuan Depkes untuk menyusun konsep manajemen penanganan limbah medis yang komprehensif di Indonesia. Berita ini disiarkan oleh Bagian Humas Biro Umum dan Humas. Untuk informasi Dalam patroli air kelima Jumat (30/1) hingga Sabtu (31/1) lalu, petugas menemukan sejumlah industri yang membuang limbah secara langsung ke Kali Surabaya. Instalasi pengolahan limbah yang tersedia bahkan tak dimanfaatkan. Patroli air kelima yang berlangsung Jumat pukul 21.00 hingga Sabtu pukul 04.00 dini hari berhasil melakukan pemberkasan di tiga tempat, yaitu pabrik tahu di Jambangan, Surabaya, Pabrik Kertas Surabaya Mekabox di Driyorejo Gresik, dan rumah pemotongan hewan (RPH) Kedurus, Surabaya. Dari ketiga tempat tersebut, dua industri yaitu pabrik tahu Jambangan dan RPH Kedurus terindikasi membuang limbah secara langsung. Di industri tahu Jambangan, tim patroli air sama sekali tak menemukan instalasi pengolahan limbah (ipal). Limbah hasil pengolahan tahu langsung dialirkan ke Kali Surabaya. Sementara itu, meski memiliki sarana ipal modern, RPH Kedurus yang memotong sekitar 50 ekor hingga 75 ekor sapi per hari juga membuang langsung limbahnya ke Kali Surabaya. Limbah bekas pemotongan hewan mengalir melalui parit sepanjang sekitar 30 meter, limbah tersebut berwarna merah tua dan mengeluarkan bau busuk menyengat. Sumarsono, salah satu staf pemotongan hewan awalnya mengatakan kepada petugas bahwa ipal beroperasi secara otomatis. Namun, saat dicek mesin ipal ternyata tak dihidupkan. Sebelumnya, tim patroli air yang terdiri dari Perum Jasa Tirta I, Badan Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Timur, Polwiltabes Surabaya, Disperindag Provinsi Jawa Timur, dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat melakukan peninjauan di pabrik kertas karton PT Surabaya Mekabox. Di tempat ini, petugas mengambil sampel limbah di lokasi ipal yang sedang beroperasi. Di lihat dari fasilitas ipal ya ng tersedia, ipal milik PT Surabaya Mekabox relatif bekerja dengan baik.

Koordinator Konsorsium Lingkungan Hidup Imam Rochani mengungkapkan, salah satu pabrik keramik yaitu PT Platinum yang sebelumnya pernah mendapat peringatan kembali membuang limbah yang berwarna kuning pekat. Kondisi limbah di saluran pembuangan tampaknya tak berubah. “Jika demikian terus, harus diberikan peringatan keras,” ujarnya. Menurut Imam, baik industri swasta maupun pemerintah harus ditindak tegas jika terbukti membuang limbah. “Masih banyak industri yang tak memanfaatkan ipal. Badan pengawas di kabupaten dan kota harus mengawasi lebih ketat,” tutur Imam. Mentalitas Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Surabaya Togar Silaban mengatakan, kemampuan BLH melakukan pengawasan terhadap industri di sepanjang Kali Surabaya terbatas. Fungsi penegakan hukum seperti patroli air harus dilakukan agar pengawasan lebih efektif. “Namun ini semua tergantung dari mentalitas para pelaku industri,” ucapnya. Menurut Togar, semua langkah baik pengawasan rutin, patroli air, serta kampanye harus ditempuh. Melalui semua langkah tersebut diharapkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga kualitas air Kali Surabaya muncul. Kepala Divisi Jasa Air dan Sumber Air IV Perum Jasa Tirta I Widy o Parwanto mengungkapkan, patroli air akan terus dilakukan. Jika memang terbukti melanggar, maka proses hukum harus dijalankan. Sumber : (Aloysius Budi Kurniawan ) Kompas.Com, Jakarta [SB] Tags : Ir. Togar Arifin Silaban MEng, Kompas.Com, Surabaya


								
To top