Nasional
Jawa Timur
Isu Teror dan NII, Media Harus Tanggung
Jawab
"Lembaga penyiaran harus hati-hati dan waspada, jangan
sampai dimanfaatkan."
Senin, 2 Mei 2011, 11:02 WIB
Ita Lismawati F. Malau
Teror bom (VIVAnews/Adri Irianto)
BERITA TERKAIT
Ulil: Perlu Software Pencegah Radikalisasi
"49% Pelajar DKI Bersedia Lakukan Kekerasan"
Ada Benda Mencurigakan di Menteng, Bom?
Imam Firdaus Tak Pernah Cerita Soal Jihad
Tak Terkait Pepi, Tiga Orang Dilepas
VIVAnews - Isu teror bom dan gerakan Negara Islam Indonesia (NII) jadi pemberitaan
hampir di semua media. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) minta media pun ikut
bertanggung jawab dengan tidak hanya memberitakan kehebohan isu-isu tersebut.
"Tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk ikut membentengi masyarakat dari gerakan-
gerakan yang mengancam Pancasila dan NKRI,” kata komisioner KPI Pusat, Idy Muzayyad
di Jakarta, Senin 2 Mei 2011.
Menurutnya, isu terorisme, NII dan lainnya merupakan bentuk penggerusan nasionalisme
terhadap NKRI sehingga media --khususnya lembaga penyiaran radio dan televisi--
diharapkan ikut menebarkan rasa kebangsaan dan membangun jati diri bangsa.
Untuk itulah, dalam bentuknya yang sederhana KPI telah mengatur dalam pasal 45 Pedoman
Perilaku Penyiaran tentang kewajiban lembaga penyiaran untuk membuka dan menutup
program siaran dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Hal ini dimaksudkan supaya semangat dan nilai kebangsaan menggaung di tengah
masyarakat. Idy menambahkan akan sangat luar biasa apabila setiap lembaga penyiaran
televisi dan radio di seluruh Indonesia menepati aturan ini. ”Pentingnya hal ini akan sangat
terasa bila kita berada di daerah perbatasan, semisal Nunukan, NTT, Batam atau Papua,”
ungkapnya.
Selain menyiarkan lagu kebangsaan, lembaga penyiaran juga juga diminta tidak
menyuburkan terorisme, NII, konflik atau hal lain yang mengancam persatuan dan kesatuan
bangsa. "Lembaga penyiaran harus hati-hati dan waspada, jangan sampai dimanfaatkan
pihak-pihak tertentu." (eh)