; Struktur senyawa karbon a. Keisomeran karena atom karbon
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

Struktur senyawa karbon a. Keisomeran karena atom karbon

VIEWS: 294 PAGES: 6

  • pg 1
									Struktur senyawa karbon
a. Keisomeran karena atom karbon asimetrik, keisomeran optik

Sebelum ada teori valensi, kimiawan/fisiologis Perancis Louis Pasteur (1822-1895) telah
mengenali pengaruh struktur molekul individual pada sifat gabungan molekul. Ia berhasil
memisahkan asam rasemat tartarat (sebenarnya garam natrium amonium) menjadi (+) dan (-)
berdasarkan arah muka hemihedral kristalnya (1848).

Kedua senyawa memiliki sifat fisika (misalnya titik leleh) dan kimia yang sama, tetapi ada
perbedaan dalam sifat optik dalam larutan masing-masing senyawa. Keduanya memutar
bidang polarisasi cahaya, dengan kata lain mempunyai keaktifan optik. Rotasi jenis kedua
senyawa, yang mengkur kekuatan rotasi kedua senyawa, memiliki nilai absolut yang sama,
namun tandanya berlawanan. Karena molekul berada bebas dalam larutan, perbedaan ini
tidak dapat dijelaskan karena perbedaan struktur kristal. Sayangnya waktu itu, walaupun teori
atom sudah ada, teori valensi belum ada. Dengan kondisi seperti ini Pasteur tidak dapat
menjelaskan penemuannya.

Di tahun 1860-an, kimiawan Jerman Johannes Adolf Wislicenus (1835-1902) menemukan
bahwa dua jenis asam laktat yang diketahui waktu itu keduanya adalah asam α-
hidroksipropanoat CH3CH(OH)COOH, bukan asam β- hidroksipropanoat
HOCH2CH2COOH. Ia lebih lanjut menyarankan bahwa konsep baru untuk stereoisomer
harus dibuat untuk menjelaskna fenomena ini. Konse baru ini menyatakan bahwa kedua
senyawa yang memiliki rumus struktur yang sama dalam dua dimensu dapat menjadi
stereoisomer bila susunan atom-atomnya di ruang berbeda.

Di tahun 1874, van’t Hoff dan Le Bel secara independen mengusulkan teori atom karbon
tetrahedral. Menurut teori ini, kedua asam laktat yang dapat digambarkan di Gambar 4.4.
Salah satu asam laktat adalah bayangan cermin asam laktat satunya. Dengan kata lain,
hubungan kedua senyawa seperti hubungan tangan kanan dan tangan kiri, dan oleh karena itu
disebut dengan antipoda atau enantiomer. Berkat teori van’t Hoff dan Le Bel, bidang kimia
baru, stereokimia, berkembang dengan cepat.




                                (+)-asam laktat (-)-lactic acid

                         Gambar 4.4 Stereoisomer asam laktat.
         Kedua isomer atau antipoda, berhubungan layaknya tangan kanan dan kiri

Pada atom karbon pusat di asam laktat, empat atom atau gigus yang berbeda terikat. Atom
karbon semacam ini disebut dengan atom karbon asimetrik. Umumnya, jumlah
stereoisomer akan sebanyak 2n, n adalah jumlah atom karbon asimetrik. Asam tartarat
memiliki dua atom karbon asimetrik. Namun, karena keberadaan simetri molekul, jumlah
stereoisomernya kurang dari 2n, dan lagi salah satu stereoisomer secara optik tidak aktif
(Gambar 4.5). Semua fenomena ini dapat secara konsisten dijelaskan dengan teori atom
karbon tetrahedral.




                    (+)-asam tartarat (-)-asam tartarat meso-asam tartarat

 Gambar 4.5 Stereoisomer asam tartarat(+)-asam tartarat dan (-)-asam tartarat membentuk
                                pasangan enantiomer.

Namun karena adanya simetri, meso-asam tartarat secara optik tidak aktif.

Latihan 4.2 Gliseraldehida Gambarkan perspektif gliseraldehida OHCCHOHCH2OH, gula
paling sederhana, seperti cara yang ditunjukkan pada gambar 4.4.

Jawab.




Catat ada banyak cara lain untuk menggambarkannya.

b. Isomer geometri

Van’t Hoff menjelaskan keisomeran asam fumarat dan maleat karena batasan rotasi di ikatan
ganda, suatu penjelasan yang berbeda dengan untuk keisomeran optik. Isomer jenis ini
disebut dengan isomer geometri. Dalam bentuk trans subtituennya (dalam kasus asam
fumarat dan maleat, gugus karboksil) terletak di sisi yang berbeda dari ikatan rangkap,
sementara dalam isomer cis-nya subtituennya terletak di sisi yang sama.

Dari dua isomer yang diisoasi, van’t Hoff menamai isomer yang mudah melepaskan air
menjadi anhidrida maleat isomer cis sebab dalam isomer cis kedua gugus karboksi dekat satu
sama lain. Dengan pemanasan sampai 300 °C, asam fuarat berubah menjadi anhidrida maleat.
Hal ini cukup logis karena prosesnya harus melibatkan isomerisasi cis-trans yang merupakan
proses dengan galangan energi yang cukup tinggi (Gambar 4.6).
Karena beberapa pasangan isomer geometri telah diketahui, teori isomer geometri
memberikan dukunagn yang baik bagi teori struktural van’t Hoff.




                        asam fumarat asam maleat anhidrida maleat

  Gambar 4.6 Isomer geometri asam maleat (bentuk cis) mempunyai dua gugus karboksil
       yang dekat, dan mudah melepas air menjadi anhidrida (anhidrida maleat).

Latihan 4.3 Isomer dikhloroetilena

Gambarkan rumus struktur semua isomer dikhloroetilena C2H2Cl2.

Jawab: Dua atom khlorin dapat terikat pada atom karbon yang sama, atau pada atom karbon
yang

berbeda. Dan pada kasus yang kedua akan ada isomer geometri.




Struktur benzen

Struktur benzen menjadi enigma beberapa tahun. Di tahun 1865, Kekulé mengusulkan
struktur siklik planar dengan tiga ikatan tunggal dan tiga ikatan ganda yang terhubungkan
secara bergantian. Strukturnya disebut dengan struktur Kekulé. Bukti struktur semacam ini
datang dari jumlah isomer benzen tersubstitusi. Dengan struktur Kekulé, akan ada tiga isomer
kresol, yakni, o, m- dan p-kresol (Gambar 4.7).




Struktur Kekulé tidak dapat menyelesaikan semua masalah yang berkaitan dengan struktur
benzene. Bila benzene memiliki struktur seperti yang diusulkan Kekulé, akan ada dua isomer
okresol, yang tidak diamati. Kekulé mempostulatkan bahwa ada kesetimbangan cepat, yang
disebut dengan resonansi antara kedua struktur. Istilah resonansi kemudian digunakan dalam
mekanika kuantum.

d. Struktur etana: analisis konformasional

Teori atom karbon tetrahedral dan struktur benzene memberikan fondasi teori struktur
senyawa organik. Namun, van’t Hoff dan kimiawan lain mengenali bahwa masih ada masalah
yang tersisa dan tidak dapat dijelaskan dengan teori karbon tetrahedral. Masalah itu adalah
keisomeran yang disebabkan oleh adanya rotasi di sekitar ikatan tunggal.

Bila rotasi di sekitar ikatan C-C dalam 1,2-dikhloroetana CH2ClCH2Cl terbatas sebagaimana
dalam kasus asam fumarat dan maleat, maka akan didapati banyak sekali isomer. Walaupun
van’t Hoff awalnya menganggap adanya kemungkinan seperti itu, ia akhirnya menyimpulkan
bahwa rotasinya bebas (rotasi bebas) karena tidak didapati isomer rotasional akibat batasan
rotasi tersebut. Ia menambahkan bahwa struktur yang diamati adalah rata-rata dari semua
struktur yang mungkin.

Di tahun 1930-an dibuktikan dengan teori dan percobaan bahwa rotasi di sekitar ikatan
tunggal tidak sepenuhnya bebas. Dalam kasus etana, tolakan antara atom hidrogen yang
terikat di atom karbon dekatnya akan membentuk halangan bagi rotasi bebas, dan besarnya
tolakan akan bervariasi ketika rotasi tersebut berlangsung. Gambar 4.8(a) adalah proyeksi
Newman etana, dan Gambar 4.8(b) adalah plot energi-sudut torsi.




                           Gambar 4.8 Analisis konformasional.

Dalam gambar (a) (proyeksi Newman), Anda dapat melihat molekul di arah ikatan C-C.
Atom karbon depan dinyatakan dengan titik potong tiga garis pendek (masing-masing
mewakili ikatan CH) sementara lingkaran mewakili arom karbon yang belakang.
Keseluruhan gambar akan berkaitan dengan proyeksi molekul di dinding di belakangnya.
Demi kesederhanaan atom hidrogennya tidak digambarkan (b) Bila sudut orsinya 0°, 120°,
240° dan 360°, bagian belakang molekul “berimpitan” eclipsed dengan bagian depan. Bila
anda menggambarkan proyeksi Newman dengan tepat berimpit, anda sama sekali tidak dapat
melihat bagian belakang. Secara konvensi, bagian belakang diputar sedikit agar dapat dilihat.
Bila sudut rotasi (sudut torsi) 0°, 60°, 120° dan 180°, energi molekul kalau tidak maksimum
akan minimum. Struktur (konformasi) dengan sudut torsi 0° atau 120° disebut dengan bentuk
eklips, dan konformasi dengan sudut torsi 60°atau 180° disebut bentuk staggered. Studi
perubahan >struktur molekular yang diakibatkan oleh rotasi di sekitar ikatan tunggal disebut
dengan analisis konformasional. Analisis ini telah berkembang sejak tahun 1950-an hingga
kini.

Analisis konformasional butana CH3CH2CH2CH3 atas rotasi di sekitar ikatan C-C pusat,
mengungkapkan bahwa ada dua bentuk staggered. Bentuk trans, dengan dua gugus metil
terminal di sisi yang berlawanan, berenergi 0,7 kkal mol–1 lebih rendah (lebih stabil) daripada
isomer gauche yang dua gugus metilnya berdekatan.

Hasil ini dapat diperluas ke senyawa-senyawa semacam pentana dan heksana yang memiliki
lingkungan metilena tambahan, dan akhirnya pada poloetilena yang dibentuk oleh sejumlah
besar metilen yang terikat. Dalam semua analisis ini, struktur trans, yakni struktur zig zag,
adalah yang paling stabil. Namun, ini hanya benar dalam larutan. Untuk wujud padatnya
faktor lain harus ikut diperhatikan.

Latihan 4.4 Analisis konformasional 1,2-dikhloroetana

Lakukan analisis konformasional 1,2-dikhloroetan dengan memutar di sekitar ikatan C-C dan
menggambarkan proyeksi Newman sebagaimana diperlihatkan di Gambar 4.8(a).

Jawab:




Sebagai rangkuman, struktur senyawa karbon terutama ditentukan oleh keadaan hibridisasi
atom karbon yang terlibat. Bila banyak konformasi dimungkinkan oleh adanya rotasi di
sekitar ikatan tunggal, konformasi yang paling stabil akan dipilih.

Bila molekulnya memiliki sisi polar, faktor lain mungkin akan terlibat. Interaksi tarik
menarik antara sisi positif dan negatif akan mengakibatkan struktur dengan halangan sterik
terbesar lebih stabil. Dalam kasus asam salisilat, ikatan hidrogen antara gugus hidroksi dan
karboksi akan membuat struktur yang lebih rapat lebih stabil.
Sebagai kesimpulan, struktur senyawa karbon dapat dijelaskan dengan cukup baik bila
berbagai faktor dipertimbangkan.




Ditulis oleh Yoshito Takeuchi pada 11-08-2008 ( www.chem-is-try.org )

								
To top