Docstoc

hikmah dan arti ibadah.new

Document Sample
hikmah dan arti ibadah.new Powered By Docstoc
					oleh : Abu Muhammad al-Maqdisi

Arti Ibadah

Secara bahasa Ibadah berarti merendahkan diri, tunduk dan menghinakan diri. Di dalam kata,
ba’irun mu’abadun atau thariqun mu’abbadun, apabila jalan atau onta tersebut rendah, lembut
dan mudah ditundukkan.

Menurut Istilah syara’, ibadah adalah puncak kecintaan serta puncak kerendahan diri.
Sebagaimana didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah rh, Ibadah adalah nama
yang meliputi segala sesuatu yang dicintai dan diridlai oleh Allah; baik beurpa perkataan,
perbuatan bathin dan perbuatan dhahir.

Berpijak dari definisi di atas, makna ibadah sangat luas, tidak seperti yang disangkakan oleh
kebanyakan manusia. Pada umumnya manusia menganggap ibadah itu terbatas pada aktifitas
sujud, ruku’ dan shalat. Bisa jadi dalam hal-hal di luar hal tersebut mereka beribadah kepada
selain Allah, tetapi mereka tidak menyadari. Akibatnya mereka terjerumus ke dalam
kesyirikan yang tidak akan diampuni oleh Allah, apabila ia mati dalam keadaan demikian.
Firman Allah

                                            [ ‫.]84: س ل‬

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa
yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.

Karena itulah, orang yang meginginkan keselamatan dari siksa neraka, dan menginginkan
masuk ke dalam sorga, ia wajib memahami maknanya, macam-macamnhya, agar mereka
dapat mentauhidkan ibadah, semuanya hanya untukAllah. Maka itulah hak Allah atas
hambaNya. Apabila mereka menunaikannya maka ia berhak mendapatkan balasan dengan
dimasukkan ke dalam sorga, sebagaimana disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan dari
Mu’adz bin Jabal ra,

Ibadah kadang-kadang berarti tanasuk dan ta’alluh, seperti sujud, ruku’ dan shalat. Do’a juga
termasuk ke dalam ibadah. Dan juga termasuk ke dalam apa yang dinamakan do’a adalah
istighatsah kepada makhluk yang tidak memiliki kemampuan apa-apa melainkan Allah
semata. Itu termasuk ke dalam makna ibadah yang tak boleh dipersembahkan kepada selain
Allah.

                   ‫ل‬                   ‫ل‬           [ ‫. ]6: جل‬

Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan
kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan
kesalahan.

Demikian juga dengan menyebelih, nadzar dan yang lainnya, semuanya adalah ibadah yang
harus dipersembahkan kepada Allah semata, tidak boleh diberikan kepada yang lain. Firman
Allah

                                 ‫ل‬                                            [ ‫-261:م ع ل‬
163] .
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus,
(yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk
orang-orang yang musyrik”. Katakanlah: “Sesungguhnya salat, ibadah, hidup dan matiku
hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang
diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada
Allah)”.

              [‫ل‬   ‫.]4: ث‬

Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah

Ayat tersebut menerangkan bahwa menyembelih dan berkorban itu seperti halnya shalat,
harus dipersembahkan kepada Allah semata.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang do’a

.‫ب ة‬        ‫دع‬

Do’a adalah ibadah (at-Tirmidzi)

Dan kadang-kadang perintah ibadah dalam arti ketaatan dan ketundukan secara mutlak,
sebagaimana firman Allah

 ‫بد‬     ‫م‬            ‫عد‬       ‫ب‬    ‫عد‬               [ ‫. ]06:س‬

Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak
menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”,

Ibadah kepada syaithan yang disebutkan di dalam ayat tersebut maksudnya adalah ketaatan
kepada syetan. Demikian juga firman Allah tentang Fir’aun dan para pembesar kerajaannya

  ‫ع د‬                     ‫ب‬             [ ‫مؤمل‬   :47]

Dan mereka berkata: “Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita
(juga), padahal kaum mereka (Bani Israel) adalah orang-orang yang menghambakan diri
kepada kita?”

Maksud ibadah di dalam ayat ini adalah ketaatan dan ketundukan secara mutlak dalam segala
hal. Ini tidak boleh dilakukan kecuali kepada Allah saja. Dan jika dilakukan kepada selain
Allah, maka berlaku salah satu dari dua kemungkinan

1- Ketaatan di dalam bermaksiat kepada Allah (tanpa penghalalan terhadap tindakan maksiat
tersebut). Sebabaimana orang yang tertipu oleh rayuan syetan untuk berzina, lalu ia
mentaatinya. Atau atasannya memerintahkan untuk meminum khamr, lalu ia mentaatinya,
atau pimpinannya memerintahkan untuk mencukur jenggot lalu ia mengikutinya, dengan
tetap ada keyakinan di dalam dirinya bahwa semua tindakan tersebut haram. Ketaatan ini pun
termasuk ke dalam cakupan makna ibadah. Pelakunya bisa dinamakan penyembah syetan,
maksudnya adalah pengikut syetan. Tetapi ia tidak sampai menjadi kufur, kecuali jika ia
menghalalkan kemaksiatan. Meskipun demikian tindakan ini tetap haram, sebagaimana
dipesankan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
.[      ‫ه‬   ] (‫ف‬              ‫عة‬       ،‫ة هلل‬          ‫خ ق‬     ‫ط عة‬

Tidak ada ketaatan kepada makhluk di dalam kemaksiatan kepada Allah, ketaatan itu hanya
ada dalam hal yang ma’ruf (sesuai syari’at Allah) (HR Muslim)

2- Ketaatan dalam hukum dan perundang-undangan, atau (dalam menghalalkan dan
mengharamkan sesuatu). Ini tidak boleh dipalingkan kepada selain Allah. Jika ketaatan
seperti ini dipalingkan kepada selain Allah, maka pelakunya terjerumus ke dalam syirik
akbar. Sebab hukum dan perundang-undangan tidak selayaknya ada kecuali bagi Allah, yang
Maha Esa dan Maha Menguasai. Firman Allah

 ‫د‬                     [ ‫. ]62:فه ل‬

dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan”.

            [     ‫،]04:فس‬

Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah.

Hukum dan perundang-undangan adalah salah satu karakteristik uluhiyyah yang paling
khusus. Karena itu di antara makna ilah (tuhan) adalah “pembuat syari’at (aturan)”. Di antara
asma’ul husna adalah al-Hukmu dan al-Hakim. Karena itulah, orang yang membuat syari’at
(undang-undang) atau mewajibkan perundang-undangan dan hukum selain hukum Allah
berarti ia telah mengaku pada dirinya terdapat salah satu sifat uluhiyyah (ketuhanan). Seperti
itulah yang telah dilakukan oleh Fir’aun

                   ‫. ]83:صصقل [ ع‬

aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.

Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ketaatan dan mengikuti perundang-undangan selain
undang-undang Allah sebagai syirik sangat banyak. Di antaranya firman Allah

                   ‫ط‬                              ‫ط‬       [ ‫. ]121:م ع ل‬

Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus,
(yaitu) agama yang benar; agama Ibrahim yang lurus; dan Ibrahim itu bukanlah termasuk
orang-orang yang musyrik”.

Ketaatan kepada wali-wali (para pendukung syetan) di sini dianggap sebagai syirik dan
dianggap sebagai ibadah kepada selain Allah, sebab ketaatan itu berupa ketaatan dalam
hokum dan perundang-undangan, atau ketaatan dalam menghalalkan dan mengharamkan
sesuatu, yang tidak semestiya dilakukan kecuali kepada Allah semata. Demiianlah seperti
yangd iriwayatkan oleh al-Hakim dan lain-lainnya, dengan sanad yang shahih dari Ibnu
Abbas radliyallahu ‘anhu. Bahwa orang-orang musyrik dahulu mendebat kaum muslimin
dalam masalah sembelihan dan haramnya bangkai. Meraka mengatakan

( ‫ة‬         ‫هلل‬                           )     ‫: ل هلل‬               ‫ط‬         }
Kalian binatang yang kalian bunuh, tetapi kalian haramkan binatang yang dibunuh oleh Allah
(bangkai). Kamudian Allah ta’ala berfirman, “Apabila kalian mentaati mereka niscaya kalian
menjadi orang-orang yang musyrik”

Ketaatan hanya dalam masalah seperti ini saja sudah dikatakan musyrik. Ibnu Katsir
rahimahullah berkata, “Maksudnya, ketika kalian menyimpang dari perintah Allah kepada
kalian, dan dari syari’atNya menuju pendapat selainNya, lalu kalian mendahulukan selain
syari’at Allah, maka itu adalah syirik”

Karena itulah, sesungguhnya ketaatan kepada ulama’, pemimpin, atau pemerintah, dalam
masalah mengharamkan apa-apa yang dihalalkan oleh Allah, atau menghalalkan apa-apa
yang diharamkan oleh Allah di dalam fatwa-fatwanya, atau dalam perundang-undangan yang
dibuatnya untuk mengatur manusia, maka itu berate mengangkat mereka sebagai tuhan-tuhan
(rabb) selain dari Allahj. Dan dengan begitu menjadikan seseorang sebagai musyrik. Firman
Allah tentang ahli kitab berikut ini menunjukkan kepada pengertian seperti itu

                  ‫ب‬       ‫ب‬       ‫ل[ خ‬    ‫. ]13:ة‬

Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah,

Mengambil orang alim dan ahli ibadah sebagai tuhan di sini bukan berarti mereka bersujud
dan ruku’ kepada mereka. Maksud ayat ini, mereka mentaati orang alim dan ahli ibadah
dalam hal hukum, perundang-undangan, serta mengharamkan dan menghalalkan sesuatu.
Sebab ketaatan ini termasuk dalam makna ibadah sebagiaman ruku’ dan sujud, tidak boleh
dilakukan kecuali hanya kepada Allah azza wa jalla. Karena itulah Allah mengingkari mereka
di dalam ayat selanjutnya

         ‫ع‬    ‫ب‬               ‫د‬      ‫بد‬             [‫ل‬   ‫. ]13:ة‬

padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang
berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (at-
Taubah:31)

Allah juga berfirman, tentang orang-orang yang melakukan tindakan seperti mereka, yakni
melakukan ketaatan dan mengikuti undang-undang selain dari undang-undang Allah

     ‫ع‬                ‫م‬       ‫ع‬                          ‫ة‬         ‫هلل‬          ‫… د‬
[ ‫.]12:ى شل‬

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk
mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan
(dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang lalim itu
akan memperoleh azab yang amat pedih.

Maka waspadalah terhadap persoalan-persoalan seperti itu dengan sebaik-baiknya, semoga
Allah memberi rahmat kepada kalian dan juga kepadaku. Sebab banyak umat manusia saat ini
hancur karena persoalan seperti itu

Sifat Ibadah yang Benar
Agar Ibadah seperti yang dituntut oleh Allah kepada kita, maka ibadah itu harus memenuhi
tiga hal;

1- kecintaan (hubb)

2- rasa takut (khauf)

3- pengharapan (raja’)

1. Kita beribadah kepada Allah harus dilandasi dengan rasa cinta kepadaNya. Allah telah
memuji hambanya yang mencintaiNya, di dalam firmanNya

   ‫د ب‬

Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah (al-Baqarah;165)

2. Demikian juga, kita harus beribadah kepada Allah dengan disertai rasa takut kepadaNya
dan takut kepada adzabNya. Firman Allah

                         ‫خ‬

karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-
benar orang yang beriman. (Ali Imran:175).

  ‫ط‬              ‫دع‬

Sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap. (32:16)

Takut kepada adzabNya dan mengharap ampunan, pahala dan sorgaNya

3. Demikian juga, ibadah kepada Allah harus disertai dengan perasaan mengharap rahmat dan
ampunan Allah, sebagaimana firman Allah

                 ‫ع‬       ‫ع‬   ‫خ‬

Dan mereka mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab
Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (al-Isra’:57)

Maka kita menyembah Allah, dalam satu waktu yang bersamaan, dengan penuh rasa cinta,
takut akan adzabNya, dan mengharap rahmat dan pahalaNya. Inilah kondisi kaum shalihin
da’bihim… dan inilah dia sifat ibadah yang shahih, yang dikehendaki oleh Allah dari
hambaNya. Karena itu sebagian kaum salaf mengatakan, “Barangsiapa beribadah kepada
Allah dengan kecintaan saja, maka ia zindiq . Orang yang beribadah hanya dengan rasa takut
saja maka ia kaum Haruri , dan orang yang beribadah hanya dengan pengharpan saja aka dia
kaum Murji’ah . Adapun pengikut sunnah, ia menggabungkan semua itu di dalam satu waktu

Syarat Diterimanya Ibadah

Adapun syarat diterimanya ibadah adalah;
1- Iman

2- Ikhlas

3- Itba’

Ibadah seorang hamba tidak akan diterima kecuali dengan dipenuhinya syarat-syarat tersebut
di atas

Ibadah tanpa iman tidak akan diterima, berdasarkan firman Allah

                            ‫ع‬

Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan
beriman (an-Nahl:97)

Ayat ini menyebutkan iman sebagai qayyid (ikatan) bagi ibadah.
Demikian juga, tanpa keikhlasan ibadah seseorang tidak akan diterima berdasarkan firman
Allah di dalam hadis qudsi
           ‫ى‬                  ‫ع ع‬             ‫ع‬
Aku adalah dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan perbuatan
di dalamnya bersamaku ada selainku, maka Aku tinggalkan ia dan sekutunya. (HR Muslim)
Hadis in menjelaskan bahwa Allah tidak menerima amal, kecuali apabila dilaksanakan
dengan keikhlasan kepada Allah semata
Dan Allah tidak akan menerima amal ibadah seseorang kecuali apabila ibadah itu benar,
sesuai dengan apa-apa yang telah disyari’atkanNya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
berabda
.[      ‫] ه‬                                ‫دث‬
Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam urusan kami (Agama islam) yang (sebenarnya)
bukan darinya maka ia tertolak (HR Muslim)
Saya memohon kepada Allah, agar memberikan taufiq kepada ku dan Anda semua, terhadap
ibadah yang shahih, dan semoga Allah berkenan menerima amal ibadah kita dan memberikan
anugerak khusnul khatimah.

Abu Muhammad al-Maqdisi
Penjara Qafqafa, Yordania
Rabi’uts-Tsani, 1415 H
HIKMAH IBADAH

                      ‫بد‬
Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah
Ku[Adz Dzariyat 51: 57]
A. Arti Ibadah

Ibadah berarti merendahkan diri, penyerahan diri, ketaatan dan berbakti sepenuhnya. Jadi
ibadah kepada Allah SWT berarti, menerima kesan dari sifat-sifat Ilahi dan meresapkan serta
mencerminkan sifat-sifat itu dalam dirinya sebagai bentuk pernyataan iman kepada tauhid
Ilahi yang diwujudkan dalam perbuatan dengan keitaatan dan pengkhidmatan.

B. Mengapa diperintahkan Ibadah
1. Kehendak Tuhan, Allah SWT menciptakan manusia dengan kewenangan Nya supaya
manusia dapat mengenal Penciptanya. Tetapi karena Dzat Allah SWT merupakan wujud yang
ghaib, tersembunyi dari yang tersembunyi dan tidak kelihatan oleh mata manusia, maka
manusia dapat mengenal Nya dari sifat-sifat Nya. Setelah manusia mengenal melalui sifat-
sifat nya, timbulah dorongan untuk beribadah kepada Nya.
2. Tujuan hidup manusia, Manusia diciptakan bukanlah untuk kesia-siaan, tetapi memiliki
tujuan hidup yang harus diraih. Tetapi karena manusia memiliki sifat yang bermacam-
macam, pengetahuan yang dangkal dan kemampuan terbatas, mereka menentukan berbagai
tujuan hidup yang bersifat duniawi dan sia-sia. Padahal hanya Allah SWT yang berwenang
menentukan tujuan hidup manusia, yaitu beribadah menyembah Allah SWT dan hal ini harus
dijadikan sebagai jalan hidup.
3. Jasmani dan Rohani, ibadah yang sempurna yaitu meniru sifat-sifat Allah dan
merendahkan diri serendah-rendahnya baik secara lahir maupun batin. Cara-cara ibadah
secara lahir ditetapkan semata-mata untuk merubah perasaan kalbu dan memusatkan perasaan
manusia, sebagaimana wadah yang didalamnya akan dituangkan susu makrifat atau kulit
yang didalamnya isi ibadah, juga sebagai ungkapan rasa syukur, karena karunia Tuhan
melingkupi badan dan ruh, memberi pengaruh dan menjadi teladan bagi orang yang melihat
4. Mensegerakannya, ‫ع ل ب‬                  ‫د‬    ‫د‬    ‫د‬
‫د ل‬                 .              .          ‫عة‬    ‫عة‬       Segeralah kamu berbuat baik
sebelum datang tujuh perkara, tiada yang kamu tunggu kecuali kemelaratan yang melalaikan
dirimu, atau kekayaan yang mengakibatkan kamu besar kepala, atau sakit yang
membinasakan, atau lanjut usia yang menjadikan pikun, atau mati yang menghabisi riwayat,
atau dajjal, atau hari kiamat, justru hari Kiamat itu lebih berat dan sangat sulit [HR
Turmudzi].
5. Memenuhi aspek,          ‫ ع‬Hanya kepada Engkau kami menyembah,                    ‫ ع س‬dan
hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan, ‫ه‬            ‫ م ق سمل ط صل‬tunjukilah kami
jalan yang lurus

C. Hikmah Ibadah
1. Tidak Syirik, ‫ه بد‬                 ‫د هلل ى‬        ..dan melainkan bersujudlah kepada Allah,
yang telah menciptakan mereka, jika benar-benar hanya kepada Nya kamu menyembah
(beribadah) [Ha Mim As Sajdah 41:38]. Seorang hamba yang sudah berketapan hati untuk
senantiasa beribadah menyembah kepada Nya, maka ia harus meninggalkan segala bentuk
syirik. Ia telah mengetahui segala sifat-sifat yang dimiliki Nya adalah lebih besar dari segala
yang ada, sehingga tidak ada wujud lain yang dapat mengungguli Nya dan dapat dijadikan
tempat bernaung.
2. Memiliki ketakwaan,                ‫ب‬             ‫ى‬          ‫س عبد‬         Hai manusia,
sembahlah Tuhan mu yang telah menjadikan kamu dan juga orang-orang sebelummu supaya
kamu bertakwa [Al Baqarah 2:22]. Ada dua hal yang melandasi manusia menjadi bertakwa,
yaitu karena cinta atau karena takut. Ketakwaan yang dilandasi cinta timbul karena ibadah
yang dilakukan manusia setelah merasakan kemurahan dan keindahan Allah SWT. Setelah
manusia melihat kemurahan dan keindahan Nya munculah dorongan untuk beribadah kepada
Nya. Sedangkan ketakwaan yang dilandasi rasa takut timbul karena manusia menjalankan
ibadah dianggap sebagai suatu kewajiban bukan sebagai kebutuhan. Ketika manusia
menjalankan ibadah sebagai suatu kewajiban adakalanya muncul ketidak ikhlasan, terpaksa
dan ketakutan akan balasan dari pelanggaran karena tidak menjalankan kewajiban.
3. Terhindar dari kemaksiatan, ... ‫شحفل ع ىه ة لصل‬                ‫مل‬    .. Sesungguhnya shalat
mencegah orang dari kekejian dan kejahatan yang nyata [Al Ankabut 29:46]. Ibadah
memiliki daya pensucian yang kuat sehingga dapat menjadi tameng dari pengaruh
kemaksiatan, tetapi keadaan ini hanya bisa dikuasai jika ibadah yang dilakukan berkualitas.
Ibadah ibarat sebuah baju yang harus selalu dipakai dimanapun manusia berada.
4. Berjiwa sosial, ibadah menjadikan seorang hamba menjadi lebih peka dengan keadaan
lingkungan disekitarnya, karena dia mendapat pengalaman langsung dari ibadah yang
dikerjakannya. Sebagaimana ketika melakukan ibadah puasa, ia merasakan rasanya lapar
yang biasa dirasakan orang-orang yang kekurangan. Sehingga mendorong hamba tersebut
lebih memperhatikan orang-orang dalam kondisi ini.
5. Tidak kikir,                     ‫ب‬                         ‫ب ى‬        ‫لع‬          dan
karena cinta kepada Nya memberikan harta benda kepada ahli kerabat, dan anak-anak yatim,
dan orang-orang miskin, dan kaum musafir, dan mereka yang meminta sedekah dan untuk
memerdekakan sahaya. [Al Baqarah 2:178]. Harta yang dimiliki manusia pada dasarnya
bukan miliknya tetapi milik Allah SWT yang seharusnya diperuntukan untuk kemaslahatan
umat. Tetapi karena kecintaan manusia yang begita besar terhadap keduniawian menjadikan
dia lupa dan kikir akan hartanya. Berbeda dengan hamba yang mencintai Allah SWT,
senantiasa dawam menafkahkan hartanya di jalan Allah SWT, ia menyadari bahwa miliknya
adalah bukan haknya tetapi ia hanya memanfaatkan untuk keperluanya semata-mata sebagai
bekal di akhirat yang diwujudkan dalam bentuk pengorbanan harta untuk keperluan umat.
6. Merasakan keberadaan Allah S T, ‫م‬                  ‫ى‬    ‫د‬          ‫ ب‬Yang Dia melihatmu
sewaktu kamu berdiri (shalat) dan bolak balik dalam sujud Ketika seorang hamba beribadah,
Allah SWT benar-benar berada berada dihadapannya, maka harus dapat merasakan/melihat
kehadiran Nya atau setidaknya dia tahu bahwa Allah SWT sedang memperhatikannya.
7. Meraih martabat liqa Illah, ..... ‫ د هلل ق د‬Tangan Allah ada diatas tangan mereka [Al
Fath 48:11]. Dengan ibadah seorang hamba meleburkan diri dalam sifat-sifat Allah SWT,
menghanguskan seluruh hawa nafsunya dan lahir kembali dalam kehidupan baru yang
dipenuhi ilham Ilahi. Dalam martabat ini manusia memiliki pertautan dengan Tuhan yaitu
ketika manusia seolah-olah dapat melihat Tuhan dengan mata kepalanya sendiri. Sehingga
segala inderanya memiliki kemampuan batin yang sangat kuat memancarkan daya tarik
kehidupan suci. Dalam martabat ini Allah SWT menjadi mata manusia yang dengan itu ia
melihat, menjadi lidahnya yang dengan itu ia bertutur kata, menjadi tangannya yang dengan
itu ia memegang, menjadi telinganya yang dengan itu ia mendengar, menjadi kakinya yang
dengan itu ia melangkah.
8. Terkabul Doa-doanya, ‫د‬                         ‫ب‬          ‫ع‬      ‫ع ة دع‬       Aku
mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia mendoa kepada Ku. Maka hendaklah
mereka menyambut seruan Ku dan beriman kepada Ku supaya mereka mengikuti jalan yang
benar [Al Baqarah 2:187]. Hamba yang didengar dan dikabulkan doa-doanya hanyalah
mereka yang dekat dengan Nya melalui ibadah untuk selalu menyeru kepada Nya.
  . Banyak saudara, ‫ب ع ط‬           ‫ة‬               ..... Ibadah selayaknya dikerjakan secara
berjamaah, karena setiap individu pasti memerlukan individu yang lain dan ibadah yang
dikerjakan secara berjamaah memiliki derajat yang lebih tinggi dari berbagai seginya
terutama terciptanya jalinan tali silaturahim. Dampak dari ibadah tidak hanya untuk individu
tetapi untuk kemajuan semua manusia, jangan pernah putus asa untuk mengajak orang lain
untuk beribadah, karena ia sedang memperluas lingkungan ibadah dan memperpanjang
masanya.
10. Memiliki kejujuran,              ‫ع‬          ‫هلل‬           ‫ة‬               ... Dan apabila kamu
telah selesai mengerjakan shalat, maka ingat lah kepada Allah sambil berdiri, sambil duduk
dan sambil berbaring atas rusuk kamu. [An Nisa 4:104]. Ibadah berarti berdzikir (ingat)
kepada Allah SWT, hamba yang menjalankan ibadah berarti ia selalu ingat Allah SWT dan
merasa bahwa Allah SWT selalu mengawasinya sehingga tidak ada kesempatan untuk
berbohong. ‫ة‬        ‫ب دى‬          ‫ب‬      ‫دق دى‬          ... Kejujuran mengantarkan orang kepada
kebaikan dan kebaikan mengantarkan orang ke surga [HR Bukhari & Muslim]
11. Berhati ikhlas,        ‫د‬           ‫بد هلل خ‬                 .... Dan mereka tidak diperintahkan
melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan tulus ikhlas dalam ketaatan kepada Nya
dengan lurus. [Al Bayyinah 8:6]. Allah S T menilai amal ibadah hambanya dari apa yang
diniatkan, lakukanlah dengan ikhlas dan berkwalitas. Jangan berlebihan karena Allah S T
tidak menyukainya.                ,     ‫ ل‬Binasalah orang yang keterlaluan dalam beribadah,
beliau ulang hingga tiga kali. [HR Muslim]
12. Memiliki kedisiplinan, Ibadah harus dilakukan dengan ‫ مئ‬dawam (rutin dan teratur),
.tagnames nad agajret             ,(anrupmes) uysuhk
13. Sehat jasmani dan rohani, hamba yang beribadah menjadikan gerakan shalat sebagai
senamnya, puasa menjadi sarana diet yang sehat, membaca Al Qur an sebagai sarana terapi
kesehatan mata dan jiwa. Insya Allah hamba yang tekun dalam ibadah dikaruniakan
kesehatan.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:101
posted:11/26/2011
language:Malay
pages:9