Mendambakan Para Alim Robbani
Jumat, 18 Juni 04
Oleh: Agus Hasan Bashori, Lc
Jamaah Jum’at yang berbahagia.
Kini kita benar-benar sangat mendambakan hadirnya para Alim Robbani, karena cahaya Islam di tengah
kita semakin pudar, benang-benang iman bertambah kusut, ulama-ulama gadungan semakin banyak
yang gentayangan, serta derasnya arus serangan yang dilancarkan oleh musuh-musuh Islam. Islam tidak
bisa diselamatkan tanpa Alim Robbani, umat tidak bisa dibina tanpa Alim Robbani dan kemungkinan tidak
akan maju tanpa Alim Robbani. Alim Robbani sangat langka di negeri kita ini, namun patut bagi kita
mengenal siapa Alim Robbani itu !!
Dr. Umar Sulaiman Al-Asyqor menyimpulkan bahwa Alim Robbani adalah seseorang yang mentarbiyah
umat manusia dengan manhaj Allah Subhannahu wa Ta'ala, ia membina mereka setahap demi setahap
sampai berhasil membawa mereka kepada pengikutnya yang tinggi yang diinginkan oleh Allah
Subhannahu wa Ta'ala (Ma’alim Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah hal: 30).
Alim dalam istilah syar’i adalah orang yang memiliki ilmu dan mengamalkannya. Sebutan Robbani adalah :
Dinisbatkan kepada lafazh-lafazh “Rabb” dengan tujuan pengkhususan terhadap ilmu Rabb yaitu ilmu
syariat. Karena itu ditambah dengan alif dan nun رب ان يini menurut Imam Sibawaih. Sebagian ahli nahwu
berpendapat bahwa tambahan alif dan nun untuk mubalaghah (memberi arti lebih) artinya sangat alim
dan menguasai ilmu syariat.
Al-Mubarrid berkata : Robbani dinisbatkan kepada lafadz tarbiyah (pendidikan) ربا ر ر = ربا
ditambahi alif dan nun untuk mubalaghah artinya seorang guru yang sangat mendidik dan benar-benar
membimbing.
Imam Mujahid berkata: Rabbaniyyun adalah diatas Ahbaar, sedangkan ahbaar adalah ulama.
Allah Subhannahu wa Ta'ala berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang
menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh para nabi-nabi yang
menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta, disebabkan mereka
diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya”. (Al-Maidah : 44).
Abu Umar Az-Zauhid bertanya kepada Tsa’lab tentang makna Robbani. Maka Tsa’lab menjawab: Saya
dulu juga bertanya kepada Ibnul A’robiy. Maka jawabnya: “Jika seorang itu menguasai ilmu (syar’i) lalu
mengamalkan dan mengajarkannya maka gelar ini diberikan kepadanya, itulah Robbani. Dan jika ia lepas
dari salah satu sifat tersebut maka kamu tidak lagi menyebutnya “Rabbani”
Jadi sungguh langka Alim Robbani di negeri ini pada jaman ini, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala
memerintahkan kita dan ulama kita agar menjadi Rabbani. Dalam firmanNya:
“... Hendaklah kamu menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan
disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (Al-Imran : 79)
رب ان ين ك ن اJadilah ulama syariat yang mengamalkan dan mengajarkannya kepada manusia sesuai
dengan manhaj Allah. Manhaj yang benar ini adalah manhaj ulama salaf dalam belajar mengajar beramal
dan berda’wah.
Seorang Tabi’in besar Abu Abdir Rahman As Sulaimani memutuskan: Sungguh kami balajar Al-Quran dari
para shahabat seperti Utsman bin Affan (W 35 H) dan Abdullah bin Mas’ud Radhiallaahu anhu mereka
bercerita kepada kami bahwa mereka dulu jika belajar sepuluh ayat mereka tidak melewatinya untuk
belajar sepuluh ayat yang baru. Sebelum mereka mempelajari dan mengamalkannya. Maka kami juga
belajar ilmu dan pengamalannya sekaligus. Sesungguhnya Al-Qur’an sesudah kami ini akan diwarisi oleh
suatu kaum yang menirukan Al-Qur’an. Seperti layaknya meminum air tidak akan melewati tenggorokan
(tidak memahaminya)(HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat dengan sanad shahih dan HR. Ibnu Abi Syaibah).
Begitulah, ulama Rabbani mengajarkan Al-Qur’an, mulai dari cara membacanya, menghafalkan,
menafsirkan dan mengamalkan-nya. Coba kita perhatikan di sekeliling kita :
Banyak dari para hafizh sampai terbentuk banyak wadah untuk mereka seperti Jam’iyyatul Qura’wal
huffazh dan Jam’iyyah sema’an, namun apakah mereka telah melaksanakan amanah Al-Qur’an seperti
ulama Rabbani ? mereka kebanyakan membaca Al-Qur’an hanya dalam pesta, festifal, musabaqah dan
upacara-upacara. Istilah Qurra’ dan Huffadz yang ada dalam Islam telah mereka zhalimi dan mereka
kotori. Qurra’ menurut pamahaman syara’ adalah ulama fuqaha’ yang benar-benar memahami Al-Qur’an
dan Sunnah.
Imam Adh Dhahhak Radhiallaahu anhu berkata:
Maksudnya adalah jadilah kalian ulama Robbaniyyun yang memahamkan Al-Kitab kepada manusia, dan
maknanya, hukum-hukumnya, perintah-perintah dan segala larangannya, serta hafalkan lafadz-lafadznya!
Para Khotib, mubaligh dan Da’i juga banyak, namum kebanyakan mereka masih bersifat sebagai da’i
penghibur yaitu da’i pemusik (yang berda’wah menggunakan alat-alat musik) dan da’i pelawak (yang
menjadikan lawakan sebagai bumbu utama dalam setiap waktunya).
Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani berkata:
“Kamu duduk di maqom ini menasehati manusia kemudian kamu tertawa di tengah mereka dan juga
kamu kisahkan cerita lucu maka cara seperti itu tidak akan selamat”.
Benar yang dikatakan oleh syaikh sebagai buktinya lihat masyarakat yang menyukai kiyai-kiyai pelawak,
apakah mereka mengerti dan mengamalkan Islam? Apakah mereka memahami aqidah ahlussunnah yang
benar dan bisa membedakan mana yang sunnah mana yang bid’ah? Apakah mereka memiliki hati yang
bergetar jika disebut ayat-ayat Allah? Jawabannya tentu tidak. Mengapa? Karena mereka berguru kepada
kiyai pelawak yang jika membahas adzab kubur dan adzab neraka pendengarnya akan terpingkal-pingkal
karena asyik, senang dan gembira. Itu baru membahas adzab neraka, belum lagi kalau bicara tentang
pernikahan maka Allah Maha mengetahui tentang penyimpangan mereka .م نه ب ا هلل وال ع ياذ
Dan sebagai akibatnya mereka tidak menyukai ulama ahlussunnah yang mengisi pengajian atau ceramah
dengan serius sebagaimana sikap Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ketika khutbah atau khithabah.
Sungguh telah jungkir balik timbangan yang telah dipasang oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam di
saat sekarang ini . ب ا هلل إ ال ق ة و ال ح ل و ال
Ma’asiral Muslimin rahimakumullah.
Kiyai penghibur lainnya adalah Kiyai dan pemusik yang menjalankan maksiat sebagai media resmi dan
sarana kebanggaan dalam berkhutbah. Da’i atau Kiyai jenis ini mempunyai andil besar dalam
menanamkan kemunafikan dan menyebarkan kefasikan. Mengapa tidak ? Mereka yang telah gandrung di
musiknya para da’i ini baik musik kosidah, gambus, dangdut, pop, gending jawa atau musik jenis apa saja
hatinya akan berpaling dari Al-Qur’an dan akan berpaling dari As-Sunnah dan akan berpaling dari
Ashhabul Hadits. Padahal sebenarnya mereka mencintai Al-Qur’an, As-Sunah dan Ahlus Sunnah, bahkan
ini adalah nifak! tentu Ulama, Kiyai, dan Da’i penghibur bukanlah Alim Robbani yang kita dambakan.
Ada lagi ulama yang serius dalam berda’wah, namun tidak berjalan di atas manhaj Allah, manhaj yang
shahih, mereka serius mengajak kepada bid’ah, mengajak untuk membunuh Sunnah dan
memadamkannya, ada yang mengajak kepada wirid-wirid bid’ah, ada yang mengajak kepada upacara-
upacara bid’ah, ada yang mengajak kepada aqidah-akidah bid’ah. Mereka bukan ulama Rabbaniyyun yang
bisa memuliakan Islam. Tetapi merekalah yang membodohi umat dan mencoreng Islam dengan warna
hitam. .ال م س ت عا وا هلل
Padahal Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam bersabda:
.ا ن يا ور الع ما
“Ulama adalah pewaris para nabi” (HR. Amhad dan At-Tirmidzi dihasankan oleh Al-Hafidz dalam Fathul
Bari).
Mereka adalah ulama Robbaniyyun yang mewarisi tugas Nabi yang telah termasuk dalam surat Ali Imran:
164.
Tugas pertama adalah Tazkiyah, mensucikan akhlaq dan jiwa mereka dari syirik, riya, dusta, khiyanat,
sombong, hasad dan sebagainya) dan Tazkiyah ini tidak bisa sempurna tanpa tarbiyah.
Tugas kedua adalah Ta’lim Al-Qur’an dan As-Sunnah, dan ta’lim ini tidak bisa sempurna tanpa Tashfiyah
yaitu membersihkan Islam dari ajaran yang telah mengotori Islam. Tazkiyah dan Tashfiyah ialah tugas
berat yang diemban oleh para Alim Robbani yang kehadiran mereka yang sangat kita dambakan demi
membimbing umat manusia ke dalam jalan yang lurus Al-Kitab dan As-Sunnah.
هلل ِٚ٠ و ثٙذ وز ثٗ أل ي ل ٌ ٘ز ٚأ ز ف ُ هلل عظ ُ ٌ ٌٚى ِٚغ ئ ِ ُ ٍّ َ ِ ْ ًُ ر ت ف ز فش ٖ ِٔٗ ٘ٛ غف س ٕٔفع
ُ ُٛ َ ٌَْ َ َ ِٟ ا ُ َإَّب ُُْ ِ ُ َٜ ِ َبِ ِ. َ ُْٛ ُ َِْٟٛ َ َا ََعْ َغْ ِش ا َ اٌْ َ ِ١ْ َ ِٟ ََ ُُْ ٌَ َبِش اٌّْغْ ِ ِ١ْٓ ِٓ و ِّ َْٔ ٍ َبعْ َغْ ِ ُْٚ ُ إَّ ُ ُ َ ا
ُ َّح
.ُ ْ١ِ اٌش
Khutbah Kedua
َ١ئ د أ ّ ٌٕ ِ ٠ ذٖ هلل ف َ ِ ًِ ٌٗ َِ ٠ ٍ فا ِْ ح ذ ٍِٗ ٔ ّذ ٖ َٚ زع ٕٗ َٚ ز فش ٚٔع ر ث ِ ِ شش س أ فغٕ َِ
إ َّ اٌْ َّْ َ ٌ َّ ِ َحْ َ ُ ُ َٔغْ َ ِ١ْ ُ ُ َٔغْ َغْ ِ ُْٖ ََ ُٛ ُ ِبهلل ِْٓ ُ ُْٚ ِ َْٔ ُ ِ َب ٚ ِْٓ ع ِّ َب ِ َعْ َبِ َب، َْٓ َْٙ ِ ِ ا ُ َا ُِ َّ َ ُ ٚ َْٓ ُِْ ًِْ َ َ
ٌٗ َأ ح ثٗ ٚعٍُ هلل عٍ ٔ ِ١ٕ ِ َّذ ٚعٍ ٘ دٞ ٌٗ أ ٙ ُ أ ال إٌ َ إ َّ هلل َ ذٖ ال شش ه ٌٗ ٚأ ٙ ُ أ َّ ِ َّذ ع ذٖ ٚسع ٌٗ ٍَ
َب ِ َ َ ُ. َشْ َذ َْْ َ َِٗ ِال ا ُ ٚحْ َ ُ َ َ ِ٠ْ َ َ ُ ََشْ َذ َْ ُح َّ ًا َجْ ُ ُ َ َ ُْٛ ُ ُ ص َّٝ ا ُ َ َٝ َج ِّ َب ُح َّ ٍ َ َ َٝ آِ ِ َٚصْ َبِ ِ َ َ َّ َ
َِ َز ِ هلل ٠ ع ٌٗ ٠ َ٠ ب اٌز ٓ ء ِٕ ارم هلل َك رم رٗ ٚال رّ ر َّ ِال َأ ز ْ ُّ ٍّ ْ ل ي رع ٌ َ ٍ ّ وث ش ل ي رع ٌ
رغْ ِ١ْ ًب َ ِ١ْ ًا. َب َ َ َبَٝ: َب أَُّٙ َّ ِ٠ْ َ َا َ ُٛا َّ ُٛا ا َ ح َّ ُ َبِ ِ َ َ َ ُْٛ ُٓ إ َّ َٚٔ ُُ ِغْ ِ ُْٛ َ. َب َ َ َبَٝ: {ٚ َٓ ٠ َّك ا َ َجْ ًَ َّ ُ
ِ َج ٚل ي َِ َز ِ هلل ٠ىف ع ٗ َ١ئ رٗ ٚ٠ ْظ ٌ ُ َ ش
َخْش ًب} َ َب َ: {ٚ َٓ ٠ َّك ا َ ُ َ ِّشْ َْٕ ُ ع ِّ َبِ ِ َ ُع ُِْ َٗ أجْ ًا}
ُُ اعْ َ ُْٛا َِْ اهلل أ َش ُُْ ث َّ َ ِ ٚ َّ َ ِ َ َٝ َ ُِْٛ ِ َ َب َ: {ِْ ا َ ٚ َ َِ َ َ ُ ُص ُّْٛ َ َ َٝ َّج ِّ، َب أُّٙب َّ ِ٠ْ َ َا َ ُْٛا ص ُّْٛا َ َ١ْ ِ
ث َّ ٍّ فئ َّ َ َِ َو ِبٌصاح َاٌغاَ عٍ سع ٌٗ فم ي إ َّ هلل َِائىزٗ ٠ ٍَ ْ عٍ إٌ ِٟ ٠ َ٠ َ اٌز ٓ ء ِٕ ٍَ عٍ ٗ
ٚ ٍَّ ر ٍ ّ
َع ِّ ُْٛا َغْ ِ١ْ ًب}.
ي ِ َّذ ٚث س عٍ ِ َّذ ٚعٍ ِ إ ش ٘ ُ إَّه حّ ِج ِ ِ َّ ٍ وّ ٍَ ذ عٍ إ ش ٘ ُ ٚعٍ ٌٍَ ُُ ًَ عٍ ِ َّذ ٚعٍ
ا َّٙ َّ ص ِّ َ َٝ ُح َّ ٍ َ َ َٝ آي ُح َّذ َ َب ص َّ١ْ َ َ َٝ ِثْ َا ِ١ْ َ َ َ َٝ آي ِثْ َا ِ١ْ َ، ِٔ َ َ ِ١ْذ َ ِ١ْذ. ََب ِنْ َ َٝ ُح َّ ٍ َ َ َٝ آ ِ ُح َّ ٍ
ي إ ش ٘ ُ ِٔ َ حّ ِج ٌٍَٙ َّ ف ٌ ُ ٍّ ٓ ٚ ّ ٍّ د ٚ ّ ِْٕ ٓ ٚ ّ ِْٕ د َ ١ ء ِ ٙ وّ ث َ ذ عٍ إ ش ٘ ُ ٚعٍ
َ َب َبسوْ َ َ َٝ ِثْ َا ِ١ْ َ َ َ َٝ آ ِ ِثْ َا ِ١ْ َ، إَّه َ ِ١ْذ َ ِ١ْذ. ا َّ ُُ اغْ ِشْ ٍِّْغْ ِ ِ١ْ َ َاٌْ ُغْ ِ َب ِ، َاٌْ ُؤ ِ ِ١ْ َ َاٌْ ُؤ ِ َب ِ اْألحْ َب ِ ِْٕ ُُْ
خشح ٌٍَٙ َّ أسٔ ح َّ َم ٚ ص ٕ ارج عٗ َأسٔ ج طً َطا ٚ ص ٕ زٕ ثٗ َثٕ رٕ ف اٌذ ١ َغٕخ ٚف َ َ ٛ د ِٔه عّ لش
ٚاْألِْ َا ِ، إَّ َ َ ِ١ْع َ ِ٠ْت. ا َّ ُُ َ َِب اٌْ َك ح ًّب َاسْ ُلْ َب ِّ َب َ ُ، َٚ َِب اٌْ َب ِ َ ثب ِ ً َاسْ ُلْ َب اجْ ِ َبَ ُ. سَّ َب آِ َب ِٟ ُّْٔ َب ح َ َ ً َ ِٟ ا٢ ِ َ ِ
َغٕخ ٚلٕ عز َ إٌ س َثٕ ٘ ٌٕ ِ ْ أ ٚ جٕ ٚر ِّ٠ رٕ ُشح أ ١ٓ ٚ ع ٕ ٌ ُزم َ ِِ ِ ع ح ْ َثه َة ِضح َّ ٠صف ْ ٚعا عٍ
ح َ َ ً َ ِ َب َ َاة َّب ِ. سَّ َب َتْ َ َب ِٓ َصْ َا ِ َب َ ُسَّبِ َب ل َّ َ َعْ ُ ٍ َاجْ ٍَْ َب ٍِّْ َّ ِ١ٓ إ َب ًب. ُجْ َب َ سِّ َ س ِّ اٌْع َّ ِ ع َّب َ ِ ُْٛ َ، َ َ ََ َ َٝ
ّ عٍ ٓ ٚ ح ذ ٍِٗ َة ع ٌّ ٓ
اٌْ ُشْ َ ِ١ْ َ َاٌْ َّْ ُ ٌ َّ ِ س ِّ اٌْ َبَ ِ١ْ َ.
ٌٗ ٚص جٗ ٚ ٍَُ َألُ اٌصاح هلل عٍ ِ َّذ ٚعٍ
َص َّٝ ا ُ َ َٝ ُح َّ ٍ َ َ َٝ آِ ِ َ َحْ ِ ِ َع َّ َ. َٚ ِ ِ َّ َ َ. ٚ ٍَ
: Bacaan Khutbah Pertama
َ١ئ د أ ّ ٌٕ ِ ٠ ذٖ هلل ف َ ِ ًِ ٌٗ َِ ٠ ٍ فا ِْ ح ذ ٍِٗ ٔ ّذٖ َٚ زع ٕٗ َٚ ز فش ٚٔع ر ث ِ ِ شش س أ فغٕ َِ
إ َّ اٌْ َّْ َ ٌ َّ ِ َحْ َ ُ ُ َٔغْ َ ِ١ْ ُ ُ َٔغْ َغْ ِ ُْٖ ََ ُٛ ُ ِبهلل ِْٓ ُ ُْٚ ِ َْٔ ُ ِ َب ٚ ِْٓ ع ِّ َب ِ َعْ َبِ َب، َْٓ َْٙ ِ ِ ا ُ َا ُِ َّ َ ُ ٚ َْٓ ُِْ ًِْ َ َ
ٚ ذٖ ال شش ه ٌٗ َأ ٙ ُ َْ ِ َّذ ع ذٖ ٚسع ٌٗ ٘ دٞ ٌٗ ٚأ ٙ ُ أ َ إٌٗ ِال
َب ِ َ َ ُ، ََشْ َذ َْْ ال َِ َ إ َّ اهلل َحْ َ ُ َ َ ِ٠ْ َ َ ُ َٚشْ َذ أ َّ ُح َّ ًا َجْ ُ ُ َ َ ُْٛ ُ ُ.
٠ َ٠ َ اٌز ٓ ء ِٕ ارم هلل َك رم رٗ ٚال رّ ُٓ ِال َأ ز ُّ ٍّ ْ ٠ َ٠ٙ إٌ ُ ارم َثى ُ اٌز ْ خٍمى ْ ِ ٔ ظ ٚ حذح َخٍك ِ ٙ
َب أُّٙب َّ ِ٠ْ َ َا َ ُٛا َّ ُٛا ا َ ح َّ ُ َبِ ِ َ َ َ ُْٛر َّ إ َّ َٚٔ ُُْ ِغْ ِ ُْٛ َ. َب أُّ َب َّبط َّ ُْٛا سَّ ُُ َّ ِٞ َ َ َ ُُ ِّْٓ َفْ ٍ َا ِ َ ٍ ٚ َ َ َ ِْٕ َب
َ اٌز َغ ءٌ ْ ثٗ َ أل ْح َ ِْ هلل و ْ عٍ ى سل ج ٠ َ٠ٙ اٌز ٓ ء ِٕ ارم هلل ٚل ٌ ل ال ص ْجٙ َٚث ِ ّٙ ِج ً وث ش ِٚغ ء َارم
َٚ َ َب َث َّ ِْٕ ُ َب س َبال َ ِ١ْ ًا َٔ َآ ً ٚ َّ ُٛا اهلل َّ ِْٞ ر َآ َ ُْٛ َ ِ ِ ٚاْ َس َبَ إ َّ ا َ َب َ َ َ١ْ ُُْ َ ِ١ْ ًب. َب أُّ َب َّ ِ٠ْ َ َا َ ُٛا َّ ُٛا ا َ َ ُُْْٛٛا َْٛ ً
عذ ذ ٠ ٍ ٌى ْ أ ّ ٌى ٚ٠ ف ٌى رٔ ثى َِ ُطع هلل ٚسع ٌٗ فم ف ص ف ص َظ ّ
َ ِ٠ْ ًا. ُصْ ِحْ َ ُُ َعْ َبَ ُُْ ََغْ ِشْ َ ُُْ ُ َُْٛ ُُْ ٚ َْٓ ٠ ِ ِ ا َ َ َ َُْٛ ُ َ َذْ َب َ َْٛ ًا ع ِ١ْ ًب.
أ َّب َعْ ُ؛ َِْ َصْ َق اٌْ َ ِ٠ ِ ِ َب ُ ا َ، ٚ َ١ْش اٌ َذْ ِ َذْ ُ ُح َّ ٍ ص َّٝ اهلل َ َ١ْ ِ َع َّ َ ٚ َّ َ ا ُ ُٛس ُحْ ََب ُ َب ٚو َّ ُحْ ََ ٍ ِذْ َخ ٚو َّ ِذْ َ ٍ
عٍ ٗ ٚ ٍَُ َشش ألِ ِ ِ ذث رٙ َ ًُ ِ ذثخ ث ع َ ًُ ث عخ َِ ث ذ فئ َّ أ ذ َ حذ ث وز ة هلل َخ َ ٙ ٞ ٘ ٞ ِ َّذ ٍَ
ضاٌ َ ًُ ضاٌخ ف إٌ س
َ ََخ ٚو َّ َ ََ ٍ ِٟ َّب ِ.
ٌٗ ٚص جٗ َِ رجعٙ ثِ ِغ ْ ٌِ ٠ َ اٌذ ٓ ٌٍَ ُُ ًَ عٍ ِ َّذ ٚعٍ
ا َّٙ َّ ص ِّ َ َٝ ُح َّ ٍ َ َ َٝ آِ ِ َ َحْ ِ ِ ٚ َْٓ َ ِ َ ُُْ ِئح َب ِ إَّٝ َْٛ ِ ِّ٠ْ ِ.