Jauhilah Gaya Hidup Orang Kafir by sayasetiaji8

VIEWS: 12 PAGES: 4

ceramah

More Info
									Jauhilah Gaya Hidup Orang Kafir
Senin, 19 Juni 06

   ‫إّن ح د لّله ن مده وَ تع نه وَ ت فر ونع ذ ب ِ م شر ر أ فسن َم سيئ ت أ م لن م ي ده هلل ف َ مضّل له َم ي ّل فال‬
   َ َ ْ‫ِ َ الْ َمْ َ ِ َ ِ َحْ َ ُ ُ َنسْ َ ِيْ ُ ُ َنسْ َغْ ِ ُهْ ََ ُو ُ ِاهلل ِنْ ُ ُوْ ِ َنْ ُ ِ َا و ِنْ َ ِ َا ِ َعْ َاِ َا، َنْ َهْ ِ ِ ا ُ َال ُ ِ َ َ ُ و َنْ ُضْ ِّل‬
                                                                    ‫ه دي له أ ه ُ أ ال إل َ إ َ هلل َ ده ال شر ك له وأ ه ُ أ َ محمد ع ده ورس له‬
                                                                    ُ ُ ْ‫َا ِ َ َ ُ. َشْ َد َّنْ َ َِه ِال ا ُ وحْ َ ُ َ َ ِيْ َ َ ُ ََشْ َد َّن ُ َ َ ًا َبْ ُ ُ َ َ ُو‬
                                                                                                                                  ‫ِ محمد‬            ‫ا ّلهّم صّل عّل محمد وعّل‬
                                                                                              ‫َل َ ُ َ َ ِ َ َى ُ َ َ ٍ َ َ َى آل ُ َ َ ٍ وعّلى آله وصحبه أجمعين‬
                                                                                              ‫أي َ لذ ن ء من ّتق هلل حّق ّتق ّته وال ّتم ّت َ إال َأ ت ْ م ّلم ّن‬
                                                                                             .َ ْ‫ا َُها اَ ِيْ َ َا َ ُوا اَ ُوا ا َ َ َ ُ َاِ ِ َ َ َ ُوْ ُن ِ َ وَن ُّم ُسْ ِ ُو‬
      ‫ي أيه ن س ّتق ربكّم لذ خّلقك م ن س و حدة وخّل َ م ه ز جه وبّث م هم ِج ً َ ر وِس ء و ّتق هلل لذ َس ءل ّن به‬
      ِ ِ َ ْ‫َا َُ َا ال َا ُ اَ ُوْا ََ ُ ُ اَ ِيْ َ َ َ ُّمْ ِنْ َفْ ٍ َا ِ َ ٍ َ َ َّق ِنْ َا َوْ َ َا ََ َ ِنْ ُ َا ر َاال َ ِيْ ًا َن َء ً َاَ ُوا ا َ اَ ِيْ ّت َء َ ُو‬
                                                                                                                                              ‫َ أل ْح َ إّن َ َ ّن عّل ك رق ب‬
                                                                                                                                          .‫واْ َر َام ِ َ اهلل َا َ َ َيْ ُّمْ َ ِيْ ًا‬
             ‫ي أيه لذ ن ء من ّتق هلل وق ل ق ال سد د ي ّل لك ْ أ م لك وي ف لك ذن بك َم ُطع هلل ورس له فق ف ز ف ز َظ م‬
          .‫َا َُ َا اَ ِيْ َ َا َ ُوا اَ ُوا ا َ َ ُوْ ُوْا َوْ ً َ ِيْ ًا. ُصْ ِحْ َ ُّم َعْ َاَ ُّمْ ََغْ ِرْ َ ُّمْ ُ ُوَْ ُّمْ و َنْ ي ِ ِ ا َ َ َ ُوَْ ُ َ َدْ َا َ َوْ ًا ع ِيْ ًا‬
                                                                                                                                                                                     ‫َم‬
                                                                                                                                                                                    ‫أ َا‬
   ‫أما بعد : فإّن أصدق الحديّث َتاب اهلل وخير الهدى هدى النبي  وشر األمور محدثاّتها وَّل محدثة بدعة وَّل بدعة ضاللة‬                                            ّ
                                                                                                                                                                ‫وَّل ضاللةفي النار‬


Kaum muslimin rahimakumullahu …



Pada kesempatan yang penuh barakah ini, kami wasiatkan kepada diri kami sendiri juga kepada segenap
jama’ah kaum muslimin, agar senantiasa bertaqwa kepada Alloh. Marilah kita mengindahkan perintah
Alloh dan Rasul-Nya dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauh dari segala larangan-Nya,
karena semua itu merupakan urgensi dari ketaqwaan. Dengan ketaqwaan, Alloh akan memberikan
keselamatan di dunia dan di akhirat; di dunia memperoleh kebahagiaan walaupun hidup sederhana, di
akhirat memperoleh warisan surga.

Sebagaimana Alloh berfirman:

Itulah surga yang akan Kami wariskan pada hamba-hamba Kami yang bertaqwa (QS. Maryam [19]: 3)

Ma’asyiral muslimin rahimaniy warahimakumullahu

Alloh telah memberikan berbagai macam nikmat kepada seluruh makhluk di alam ini terutama kepada
hamba-Nya yang berimana, maka hendaknya kita bersyukur pada Alloh atas semua nikmat tersebut.

Alloh berfirman:

Jikalau kalian mencoba menghitung nikmat-Ku niscaya kalian tidak mampu menghitungnya. (QS. An-Nahl
[16]: 18).

Seandainya lautan di alam dunia ini menjadi tinta, pohon-pohon di permukaan bumi ini dijadikan pena-
Nya untuk mencatat nikmat-nikmat Alloh Ta’ala, maka takkan cukup untuk mencatatnya.

Dan merupakan nikmat yang paling besar yang diberikan kepada hamba-Nya yang beriman adalah nikmat
Iman dan Islam. Dengan keimanan, seorang dapat mencapai ridha Alloh Ta’ala.

Di dalam diri seseorang, keimanan itu dapat berubah-ubah terkadang meningkat, terkadang merosot.
Dengan melakukan amalan shalih dan menjalankan perintah Alloh, keimanan kita bisa meningkat. Dan
dengan pelanggaran syari’at dan berbuat maksiat, keimanan seseorang bisa merosot.

Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim dalam Mustadrak dengan sanad yang hasan,
lihat as-Shahihah 1585:

                                                                            ‫َ أ يجد َ إل م ّن ف قّل بك‬                  ‫إ ّ إل م ّن لي ّلّق َم ي ّلّق ث ْ ُ أحدَ ف أل‬
                                                                         ْ‫ِّن اْ ِيْ َا َ َ َخْ ُ ُ َ َا َخْ ُ ُ َوب َ َ ِ ُّمْ َاسَْ ُوْا اهلل َّنْ ُ َ ّد اْ ِيْ َا َ ِي ُ ُوِْ ُّم‬




Sesungguhnya keimanan dapat menjadi lekang bagaikan baju yang berubah usang. Karena itu mintalah
kepada Alloh agar Dia memperbaharui iman dalam hati kalian.

Selain nikmat iman, yang Alloh berikan kepada hamba-Nya yang beriman adalah Alloh Ta’ala memberikan
nikmat Islam. Dan agama Islam merupakan agama diridhai.

Alloh Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya.
Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Alloh hanyalah Islam. (QS. Ali Imran [3]: 19).

Dan sungguh termasuk orang-orang yang merugi siapa pun yang mencari agama selain Islam.
Sebagaimana Alloh Ta’ala berfirman:

Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) daripadanya
dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Ali Imran [3]: 85).

Kaum muslimin rahimaniy warahimakumullahu ….

Perlu kita sadari bahwa karena kemajuan teknologi yang tidak diimbangi dengan peningkatan keimanan
telah merusak moral kaum muslimin. Al-Qur’an dan Sunnah Nabi yang mestinya menjadi pegangan telah
ditinggalkan oleh sebagian besar saudara kita, sebagai gantinya mereka rame-rame menghadapkan wajah
dan pikirannya kepada orang-orang barat yang pada umumnya mereka adalah orang-orang kafir.

Islam mendapat tantangan dari berbagai pihak, Yahudi dan Nasrani yang dari awal diutusnya Nabi
Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam sudah menyatakan permusuhan kepada Islam, semakin gencar
merusak sendi-sendi Islam, sehingga tidak sedikit umat Islam yang tidak tahu akan aqidahnya sendiri.
Sebagaimana yang digambarkan dalam al-qur’an.

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.
(QS. Al-Baqarah [2]: 120)

Mereka mamasukkan gaya hidup mereka yang rusak dan keropos ke dalam tatanan hidup kaum muslimin
yang indah nan damai ini. Dengan propaganda yang bertubi-tubi mereka tanamkan dogma bahwa ajaran
Islam ini sudah kuno tak layak untuk direalisasikan di zaman modern ini.

Dan realita yang ada, tak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan kaum muslimin telah mencontoh kehidupan
orang-orang kafir.

Atas dasar itulah, saya sebagai khatib berpesan kepada kaum muslimin seluruhnya agar berhati-hati
terhadap pemikiran orang kafir dan jauhilah gaya hidup mereka dengan mengikuti gaya hidupnya berarti
telah bersikap loyal terhadap mereka. Sedangkan berloyalitas kepada orang kafir hukumnya haram.
Sebagaimana firman Alloh melarang dalam al-Qur’an.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi
pemimpinmu, sebagian mereka adalah pemimpin sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu
mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka,
sesungguhnya Alloh tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zhalim. (QS. Al-Maidah [5]: 51).

Dan termasuk pokok-pokok aqidah Islam adalah wajib bagi setiap muslim untuk berloyalitas kepada
sesamanya dan memusuhi orang-orang kafir. Maka hendaknya ia mencintai ahli tauhid dengan penuh
keikhlasan dan memberikan wala’ (kasih sayang) kepada mereka. Hendaknya membenci ahli syirik dan
menegakkan pilar permusuhan terhadap mereka. Dan inilah ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihi salam dan
ummatnya. Kita diperintah untuk mencontoh mereka. Sebagaimana Alloh berfirman dalam Al-Qur’an.

Sesungguhnya telah ada suri tauladan bagimu pada Ibrahim dan orang yang bersama degan dia; ketika
mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang
kamu sembah selain Alloh. Kami ingkari (kekafiranmu) dan telah nyata antara kami dan kamu
permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Alloh saja. “Kecuali
perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan
aku tiada dapat menolak sesuatu pun dari kamu (siksaan) Alloh.” Ibrahim berkata: “Ya Rabb kami, hanya
kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan kepada Engkaulah
kami kembali.” (QS. Al-Mumtahanah [60]: 4).

Bahkan Alloh Ta’ala melarang orang-orang mu’min berloyalitas terhadap orang kafir walaupun mereka itu
orang yang paling dekat. Sebagaimana Alloh telah berfirman:

Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu
pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara
kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka-mereka itulah orang-orang yang
zhalim. (QS. At-Taubah [9]: 23).

Alloh dengan tegas melarang kita bersikap loyal terhadap orang kafir. Diantara bentuk loyalitas adalah
meniru gaya hidup mereka seperti mencukur jenggot, memanjangkan kumis, ikut serta dalam perayaan
mereka semisal perayaan natal, valentine, dan hari raya lain yang bukan hari raya Iedul fithri dan Idul
Adha, semua itu merupakan tasyabbuh terhadap mereka.

Padahal Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;



                                                                                                                                 ‫م َشبه بق م فه َ م ه‬
                                                                                                                              ْ‫َنْ ّت َّ َ ِ َوْ ٍ َ ُو ِنْ ُّم‬




Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut. (HR. Tirmdizi dan Abu
Dawud, dikatakan oleh Syaikh al-Albani dalam Irwaul Ghalil: Hasan Shahih 1269)

Berkata Syaikh al-Fauzan: “Maka Alloh Ta’ala telah melarang berloyalitas terhadap Yaghudi dan Nasrani
dan hal tersebut mencakup cinta kepada mereka dalam hati, menolong mereka, membela mereka,
berbuat baik dan senang kepada mereka, semua itu termasuk wala’ atau loyalitas terhadap mereka.”

Maka, kita melihat hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dan perkataan para ulama menunjukkan
haramnya berloyalitas kepada orang yang-orang yang kafir dalam bentuk apapun lantara mereka telah
mengingkari kebenaran dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Alloh berfirman dalam
surat al-Mumtahanah ayat pertama yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka
(berita-berita Nabi Muhammad) karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar
kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir rasul da mengusir kamu karena kamu
beriman kepada Alloh, Rabbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari
ridha-Ku (jangan kamu berbuat demikian), kamu beritakan secara rahasia (berita-berita Muhammad)
kepada mereka karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa
yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah
tersesat dari jalan yang lurus.


Dengan demikian, berloyalitas terhadap orang kafir –mencakup gaya hidup mereka dan menyerupai ciri
khas mereka- hukumnya haram. Maka sepatutnya bagi kaum muslimin untuk merealisasikan pokok-pokok
Islam, di antaranya ialah memberikan wala’ (loyalitas) kepada sesama muslim dan bara’ (membenci dan
memusuhi) orang-orang kafir.



                              ‫أق ل ق ل ه أ ت ف ُ هلل ل ولك وِس ئر م ْمن ن و م من ت ف ت فر ُ إنه هو غف ُ رح ّم‬
                              ُ ْ‫َ ُوْ ُ َوِْي َذا َسْ َغْ ِر ا َ ِي ََ ُّمْ َل َاِ ِ الْ ُؤ ِ ِيْ َ َالْ ُؤْ ِ َا ِ َاسْ َغْ ِ ُوْه ِّ ُ ُ َ الْ َ ُوْر ال ّ ِي‬




Khutbah Kedua

Kaum muslimin rahimakumullahu …
Setelah kita mengetahui uraian pada khutbah pertama, mungkin muncul pertanyaan di benak kita:
Kapankah seorang dikatakan berloyalitas kepada orang kafir?

Alangkah baiknya jika kita mengupas, kapan seorang dikatakan berloyalitas terhadap orang kafir. Seorang
muslim dikatakan loyal kepada orang kafir jika
1) Menyerupai mereka dalam hal berpakaian dan berbiacara
Sebagaimana Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
‫من‬   ‫م نهم ف هو ب قوم‬
Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka dia termasuk dari kaum tersebut.

2) Tinggal di negara kafir dan tidak pindah ke negara kaum muslimin untuk menghindar dari
agama mereka.
Hijrah dari negara orang kafir merupakan kewajiban, kecuali jika tinggalnya di sana untuk berdakwah
atau urusan yang dibenarkan syariat.

3) Safar ke negara mereka dengan tujuan berekreasi

Safar ke negara orang kafir adalah haram kecuali dalam keadaan darurat seperti berobat dan belajar ilmu
yang tidak mungkin terpenuhi kecuali harus safar ke negeri mereka. Maka hal ini diperbolehkan sesuai
kadar kebutuhannya. Kalau sekiranya ia telah selesai, maka wajib untuk kembali ke negeri kaum muslimin.

4) Membantu mereka untuk mengalahkan kaum muslimin, jika memuji serta membela kaum
kafir.

Dan ini merupakan salah satu pembatal Islam dan sebab-sebab kemurtadan. Kita berlindung kepada Alloh
dari hal tersebut.

5. Menjadikan mereka teman dekat dan penasehat.

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang
di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) madharat bagimu. Mereka
menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang
disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-
ayat (Kami), jika kamu memahaminya. (QS. Ali Imran [3]: 118).

6. Menggunakan kalender mereka, khususnya tanggal yang berkaitan tentang hari raya mereka.
7. Ikut serta dalam merayakan hari raya mereka dan membantu dalam pelaksanaannya serta
mengucapkan selamat kepada mereka.
8. Memuji mereka karena keberhasilan dalam bidang teknologi dan merasa kagum dengan
akhlaq dan kemahiran mereka tanpa melihat aqidah mereka yang batil dan agama mereka yang
rusak.

Sebagaimana Alloh berfirman:

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah kami berikan golongan-golongan dari
mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Rabbmu
adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Thaha [2]: 131).

9) Memberikan nama dengan nama-nama mereka.
10) Memohonkan ampun atas mereka dan mengucapkan “Rahimakumullahu” kepada mereka.

Tiadakah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Alloh) bagi
orang-orang musyrik, sesudah jelas bagi mereka bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni
neraka jahannam. (QS. At-Taubah [9]: 113).

Akhirnya kita memohon kepada Allah Ta’ala agar dihindarkan dari sikap loyalitas kepada orang-orang kafir.
Semoga Alloh memudahkan kita dalam memahami al-Qur’an. Sehingga al-Qur’an menjadi pembela pada
hari kiamat kelak, tidak menggugat kita pada kesempatan yang sangat mengerikan itu.



                             ‫ِ إ ر ه ّم إَك حم ٌ مج د‬                     ‫ِ محم ٍ َم صّل ت عّل إ ر ه ّم وعّل‬                     ‫ّلهّم صّل عّل محمد وعّل‬
                             ٌ ْ‫ال َ ُ َ َ ِ َ َى ُ َ َ ٍ َ َ َى آل ُ َ َد َ َا َ َيْ َ َ َى ِبْ َا ِيْ َ َ َ َى آل ِبْ َا ِيْ َ، ِن َ َ ِيْد َ ِي‬
                           ‫ربن ف لن وإل و نن لذ ن سبق ن ب إل م ّن وال ّت ع ف قّل بن غال لّلذ ن ء من ربن إنك رء ف رح ّم‬
                           ٌ ْ‫ََ َا اغْ ِرْ َ َا َ ِخْ َاِ َا اَ ِيْ َ َ َ ُوَْا ِاْ ِيْ َا ِ َ َ َجْ َّلْ ِيْ ُ ُوِْ َا ِ ً ِ َ ِيْ َ َا َ ُوْا ََ َا َِ َ َ ُوْ ٌ َ ِي‬
                                                                                    ‫خرة َسنة وقن عذ َ ن ر‬                       ‫د ي حسنة وف‬                ‫ربن ّتن ف‬
                                                                                    ِ ‫ََ َا آِ َا ِي ال ُنْ َا َ َ َ ً َ ِي اآل ِ َ ِ ح َ َ ً َ ِ َا َ َاب ال َا‬
                                                                                                                                ّ
                                                                                                                  .‫وآخر دهونا أّن الحمد هلل رب العالمين‬



Sumber : Majalah Al-Furqon, Edisi: 9 Tahun VI// Rabi’uts Tsani 1427 // Mei 2006

								
To top