Docstoc

Cinta Nabi

Document Sample
Cinta Nabi Powered By Docstoc
					TANDA-TANDA CINTA KEPADA NABI
Rabu, 21 Maret 07

ّ‫إٌ ح د هلل ًدِ ٔ زع ُّ ٔ ز فسِ ٔ ع ذ ث ِ ي شس ِ أ ُسُ ٔسٛئ ِ أ ً نُ ي ٚ د ِ هلل ف َ يضم نّ ٔي ٚ ه فال ْ د٘ ن‬
ُ َ َ ِ ‫ِ ّ انْ ًَْ َِ ِ َحْ َ ُ ُ ََسْ َ ِْٛ ُ ُ ََسْ َغْ ِ ُ ُ ََ ُْٕ ُ ِبهلل ٍِْ ُ ُْٔز ََْف ِ َب َ َّ َبد َعْ َبِ َب ٍَْ َْٓ ِِ ا ُ َال ُ ِ ّ َ ُ َ ٍَْ ُضْ ِمْ َ َ َب‬
                                                                                                 ّ‫أ ٓ ُ أ َ إ ّ إ ّ هلل ٔأ ٓ ُ أٌ يحًد ع دِ ٔزس ن‬
                                                                                                 ُ ُ ُْٕ َ َ ُ ُ ْ‫َشْ َد ٌَْ ال ِن َ ِال ا ُ ََشْ َد َ ّ ُ َ ّ ًا َج‬

                                                                                               َ ُْٕ ِ ْ‫َبَّ َب اّ َْٚ َ آ َ ُْٕا اّ ُٕا ا َ َ ّ ُ َبِ ِ َ َ َ ُْٕ ٍُ ِ ّ ََْٔ ُى ُس‬
                                                                                               ٌ ً‫ٚ أٚٓ نر ٍ يُ رم هلل حك رم رّ ٔال رً ر ّ إال َأ ز ْ ي ه‬

         ّ‫س ٔ حدح ٔخه َ ي ٓ ش جٓ ٔثث ي ًٓ ِج ً كث س ِٔس ء ٔ رم هلل نر َس ءن ٌ ث‬                                           ‫ٚ أٚٓ ُ ُ رم زثكى نر خهمك ي‬
         ِ ِ َ ُْٕ َ ‫َبَّ َب ان َبس اّ ُْٕا َّ ُ ُ اّ ِ٘ َ َ َ ُىْ ٍِْ َفْ ٍ َا ِ َ ٍ َ َ َك ُِْ َب َْٔ َ َب ََ ّ ُِْ ُ َب ز َبال َ ِْٛ ًا ََ َب ً َاّ ُٕا ا َ اَ ِ٘ ر َب‬
                                                                                                                                 ‫إ ّ َ ك ٌ عه ك زل ج‬               ‫َ أل ْح‬
                                                                                                                                ‫ٔاْ َز َبوَ ٌِ اهلل َب َ َ َْٛ ُىْ َ ِْٛ ًب‬

      ‫ٚ أٚٓ نر ٍ يُ رم هلل ٔل ن ل ال سد د ٚ ه نك ْ أ ً نك ٔٚ ف نك ذَ ثك َي ُطع هلل ٔزس نّ فم ف ش ف ش َظ ً أي ث د‬
  ... ُ ْ‫َبَّ َب اّ ِْٚ َ آ َ ُْٕا اّ ُٕا ا َ َ ُْٕ ُْٕا َْٕ ً َ ِْٚ ًا ُصْ ِحْ َ ُى َعْ َبَ ُىْ ََغْ ِسَْ ُىْ َُُْٕ ُىْ ٔ ٍَْ ٚ ِ ِ ا َ َ َ َُْٕ ُ َ َدْ َب َ َْٕ ًا ع ِْٛ ًب َ ّب َع‬

 ‫عه ّ ٔسهى ٔش ّ ألي ِ ي دث رٓ َكم ي دثخ ث عخ َكم ث عخ ضالنخ‬                                   ‫فأ ّ أ د َ حد ِ كز ُ هلل َخ س ٓ ٖ ْ ٖ يحًد صه‬
 ً ََ َ ٍ َ ْ‫ٌَِ َصْ َق انْ َ ِْٚث ِ َبة ا ِ ٔ َْٛ َ انْ َدْ ِ َدْ ُ ُ َ ّ ٍ َّٗ اهلل َ َْٛ ِ َ َّ َ َ َس اْ ُ ُْٕز ُحْ ََب ُ َب ٔ ُ ّ ُحْ ََ ٍ ِدْ َ ٌ ٔ ُ ّ ِد‬
                                                                                                                                          ‫ُز‬      ‫َكم ضالنخ ف‬
                                                                                                                                         .ِ ‫ٔ ُ ّ َ ََ ِ ِٙ انّب‬




Ikhwani fid-din yang dimuliakan Allah.

Jamaah Jum‟at rahimakumullah, marilah kita kenang, kita ingat kembali, dua sifat agung yang merupakan
pangkat dan keagungan khusus bagi umat Islam, bagi hadirin jamaah Jum‟at, khusus bagi kita yang
beriman. Dua sifat itu adalah syukur dan shabar.

Dari saat yang mulia ini dan seterusnya sampai akhir hayat, marilah tetap kita sandang dua sifat itu,
“syukur dan shabar”. Dalam kesempatan kali ini, setelah mensyukuri hidayah Iman, Islam dan Taqwa,
marilah kita sedikit membahas “Cinta kepada Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam, serta shabar
dalam menegakkan sunnah beliau.
Saat ini, di tengah-tengah masyarakat sedang marak berbagai aktivitas yang mengatasnamakan cinta
Rasul shallallahu alaihi wa sallam. Banyak di antara mereka yang mengadakan acara ritual keagamaan
sebagai manifestasi rasa cinta kepada Rasulullah Shollallahu „alaihi wa sallam tersebut.

Ikhwani fid-din yang dimuliakan Allah.

Kecintaan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasalam adalah perintah agama. Tetapi untuk
mengekspresikan cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasalam tidak boleh kita lakukan menurut
selera dan hawa nafsu kita sendiri. Sebab jika cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam itu kita ekspresikan
secara serampangan dan tanpa mengindahkan syari'at agama maka bukannya pahala yang kita terima,
tetapi malahan dapat menuai dosa.

Dari Anas radhiallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wasalam, bahwasanya beliau shallallahu alaihi
wasalam bersabda: "Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih
dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia." (Muttafaq Alaih)

Dengan mengacu pada hadits shahih di atas, dapat kita ambil poin-poin berikut ini: Kewajiban cinta
kepada Rasul shallallahu alaihi wasalam, kenapa harus cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam?, apa tanda-
tanda cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam?,

Pertama, Kewajiban Cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam

Hadits shahih di atas adalah dalil tentang wajibnya mencintai Nabi shallallahu alaihi wasalam dengan
kualitas cinta tertinggi. Yakni kecintaan yang benar-benar melekat di hati yang mengalahkan kecintaan
kita terhadap apapun dan siapapun di dunia ini. Bahkan meskipun terhadap orang-orang yang paling
dekat dengan kita, seperti anak-anak dan ibu bapak kita. Bahkan cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam itu
harus pula mengalahkan kecintaan kita terhadap diri kita sendiri.

Dalam Shahih Al-Bukhari diriwayatkan, Umar bin Khathab radhiallahu anhu berkata kepada Nabi
shallallahu alaihi wasalam : "Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah, adalah orang yang paling aku cintai
daripada segala sesuatu selain diriku sendiri." Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, 'Tidak, demi Dzat
yang jiwaku ada di TanganNya, sehingga aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri'. Maka Umar berkata
kepada beliau, 'Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.' Maka Nabi shallallahu alaihi
wasalam bersabda, Sekarang (telah sempurna kecintaanmu (imanmu) padaku) wahai Umar."
    Karena itu, barangsiapa yang kecintaannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasalam belum sampai pada
    tingkat ini maka belumlah sempurna imannya, dan ia belum bisa merasakan manisnya iman hakiki
    sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Anas
    radhiallahu anhu , dari Nabi shallallahu alaihi wasalam , beliau bersabda:

    "Ada tiga perkara yang bila seseorang memilikinya, niscaya akan merasakan manisnya iman, 'Yaitu,
    kecintaannya pada Allah dan RasulNya lebih dari cintanya kepada selain keduanya......"

    Ikhwani fid-din yang dimuliakan Allah.
    Kedua, Mengapa kita harus mencintai Rasul shallallahu alaihi wasalam?

    Tidak akan mencapai derajat kecintaan kepada Rasul shallallahu alaihi wasalam secara sempurna kecuali
    orang yang mengagungkan urusan din (agama)nya, yang keinginan utamanya adalah merealisasikan
    tujuan hidup, yakni beribadah kepada Allah Ta'ala. Dan selalu mengutamakan akhirat daripada dunia dan
    perhiasannya.

    Cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam inilah dengan izin Allah menjadi sebab bagi kita mendapatkan
    hidayah (petunjuk) kepada agama yang lurus. Karena cinta Rasul pula, Allah menyelamatkan kita dari
    Neraka, serta dengan mengikuti beliau shallallahu alaihi wasalam, kita akan mendapatkan keselamatan
    dan kemenangan di akhirat.

    Adapun cinta keluarga, isteri dan anak-anak maka ini adalah jenis cinta duniawi. Sebab cinta itu lahir
    karena mereka memperoleh kasih sayang dan manfaat materi. Cinta itu akan sirna dengan sendirinya
    saat datangnya Hari Kiamat. Yakni hari di mana setiap orang berlari dari saudara, ibu, bapak, isteri dan
    anak-anaknya karena sibuk dengan urusannya sendiri. Dan barangsiapa lebih mengagungkan cinta dan
    hawa nafsunya kepada isteri, anak-anak dan harta benda duniawi maka cintanya ini akan bisa
    mengalahkan kecintaannya kepada para ahli agama, utamanya Rasul shallallahu alaihi wasalam .

                            ‫هلل‬




    [KHUTBAH KEDUA]

          ‫َٛئ د أ ً نُ ي ٚ دِ هلل ف َ ي ِم نّ َي ٚ ه فال‬                         ‫ٌِ ح د ِهّ ًدِ ٔ زع ُّ ٔ ز فس ٔ ع ذ ث ِ ي شس ز أ فسُ َي‬
          َ َ ْ‫إ َّ انْ ًَْ َ ن َّ ِ َحْ َ ُ ُ ََسْ َ ِْٛ ُ ُ ََسْ َغْ ِ ُِْ ََ ُٕ ُ ِبهلل ٍِْ ُ ُْٔ ِ ََْ ُ ِ َب ٔ ٍِْ س ِّ َب ِ َعْ َبِ َب ٍَْ َْٓ ِ ِ ا ُ َال ُض َّ َ ُ ٔ ٍَْ ُضْ ِم‬
    ‫نّ َأ ح ثّ ٔ َهى‬             ‫ُِٛ ي ًَد ٔعه‬        ‫هلل عه‬     ‫ْ د٘ نّ أ ٓ ُ أ ال إن َ إ َّ هلل َ دِ ال شس ك نّ ٔأ ٓ ُ أ َّ ي ًَد ع دِ ٔزس نّ َه‬
    َ َّ ‫َب ِ َ َ ُ. َشْ َد ٌَْ َ َِّ ِال ا ُ ٔحْ َ ُ َ َ ِْٚ َ َ ُ ََشْ َد ٌَ ُح َّ ًا َجْ ُ ُ َ َ ُْٕ ُ ُ ص َّٗ ا ُ َ َٗ َج ِّ َب ُح َّ ٍ َ َ َٗ آِ ِ َٔصْ َبِ ِ َس‬
                                                                                                                                                                   ‫َ ه ً كث س‬
                                                                                                                                                                 .‫رسْ ِْٛ ًب َ ِْٛ ًا‬




    Ketiga, tanda-tanda Cinta Rasul shallallahu alaihi wasalam

    Cinta Nabi shallallahu alaihi wasalam tidaklah berupa kecenderungan sentimentil dan romantisme pada
    saat-saat khusus, misalnya dengan peringatan-peringatan tertentu. Cinta itu haruslah benar-benar murni
    dari lubuk hati seorang mukmin dan senantiasa terpatri di hati. Sebab dengan cinta itulah hatinya menjadi
    hidup, melahirkan amal shalih dan menahan dirinya dari kejahatan dan dosa.

    Ikhwani fid-din yang dimuliakan Allah.

    Adapun tanda-tanda cinta sejati kepada Rasul shallallahu alaihi wasalam adalah:

              Menaati beliau shallallahu alaihi wasalam dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi
        larangannya. Pecinta sejati Rasul shallallahu alaihi wasalam manakala mendengar Nabi shallallahu
        alaihi wasalam memerintahkan sesuatu akan segera menunaikannya. Ia tak akan meninggalkannya
        meskipun itu bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsunya. Ia juga tidak akan mendahulukan
        ketaatannya kepada isteri, anak, orang tua atau adat kaumnya. Sebab kecintaannya kepada Nabi
        shallallahu alaihi wasalam lebih dari segala-galanya. Dan memang, pecinta sejati akan patuh kepada
        yang dicintainya.

        Adapun orang yang dengan mudah-nya menyalahi dan meninggalkan perintah-perintah Nabi
        shallallahu alaihi wasalam serta menerjang berbagai kemungkaran maka pada dasarnya dia jauh lebih
        mencintai dirinya sendiri. Sehingga kita saksikan dengan mudahnya ia meninggalkan shalat lima waktu,
        padahal Nabi shallallahu alaihi wasalam sangat mengagungkan perkara shalat, hingga ia diwasiatkan
        pada detik-detik akhir sakaratul mautnya. Dan orang jenis ini, akan dengan ringan pula melakukan
        berbagai larangan agama lainnya. Na'udzubillah min dzalik.

            Menolong dan mengagungkan beliau shallallahu alaihi wasalam. Dan ini telah dilakukan oleh para
        sahabat sesudah beliau wafat. Yakni dengan menyosialisasikan, menyebarkan dan mengagungkan
        sunnah-sunnahnya di tengah-tengah kehidupan umat manusia, betapapun tantangan dan resiko yang
        dihadapinya.

             Tidak menerima sesuatupun perintah dan larangan kecuali melalui beliau shallallahu alaihi
        wasalam, rela dengan apa yang beliau tetapkan, serta tidak merasa sempit dada dengan sesuatu pun
        dari sunnah-nya . Adapun selain beliau, hingga para ulama dan shalihin maka mereka adalah pengikut
        Nabi shallallahu alaihi wasalam.Tidak seorang pun dari mereka boleh diterima perintah atau
        larangannya kecuali berdasarkan apa yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wasalam .

            Mengikuti beliau shallallahu alaihi wasalam dalam segala halnya. Dalam hal shalat, wudhu,
        makan, tidur dsb. Juga berakhlak dengan akhlak beliau shallallahu alaihi wasalam dalam kasih
        sayangnya, rendah hatinya, kedermawanannya, kesabaran dan zuhudnya dsb.

              Memperbanyak mengingat dan shalawat atas beliau shallallahu alaihi wasalam . Mengharapkan
        bisa mimpi melihat beliau, betapapun harga yang harus dibayar. Dalam hal shalawat Nabi shallallahu
        alaihi wasalam bersabda:
        "Barangsiapa bershalawat atasku sekali, niscaya Allah bershalawat atasnya sepuluh kali." (HR. Muslim).

        Adapun bentuk shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wasalam adalah sebagaimana yang beliau ajarkan.
        Salah seorang sahabat bertanya tentang bentuk shalawat tersebut, beliau menjawab: "Ucapkanlah:
        ( Ya Allah, bershalawatlah atas Muhammad dan keluarga Muhammad)." (HR. Al-Bukhari No. 6118,
        Muslim No. 858).

             Mencintai orang-orang yang dicintai Nabi shallallahu alaihi wasalam. Seperti Abu Bakar, Umar,
        Aisyah, Ali radhiallahu anhum dan segenap orang-orang yang disebutkan hadits bahwa beliau
        shallallahu alaihi wasalam mencintai mereka. Kita harus mencintai orang yang dicintai beliau dan
        membenci orang yang dibenci beliau shallallahu alaihi wasalam . Lebih dari itu, hendaknya kita
        mencintai segala sesuatu yang dicintai Nabi, termasuk ucapan, perbuatan dan sesuatu lainnya.


    Ikhwani fid-din yang dimuliakan Allah.

    Mencintai Rasulullah shollallahu „alaihi wa sallam adalah dengan menaati beliau, shabar dalam
    menghidupkan sunnah-sunnahnya, mengikuti beliau dalam segala hal, mencintai beliau dan orang-orang
    yang dicintainya dan bershalawat kepadanya. Mencintai beliau bukanlah dengan melakukan aktifitas,
    perayaan-perayaan khusus yang sama sekali tidak pernah beliau ajarkan, sebab hal itu sama saja dengan
    menyelisihi perintah dan ketetapannya yang pada akhirnya dapat menyebabkan dosa dan maksiat
    kepadanya.

    Semoga Allah Subhanahu wa Ta‟ala menganugerahkan kepada kita keimanan dan rasa cinta yang tinggi
    kepada Rasulullah shollallahu „alaihi wa sallam, sehingga segala apa yang telah beliau tetapkan dapat kita
    terima dan laksanakan tanpa ada keberatan sedikitpun.



                                                    ٌ ِْٛ َ ‫انهٓ َّ ص ِّ َ َٗ ُح َّ ٍ َ َ َٗ آل ُح َّد َ َب ص َّْٛ َ َ َٗ ِثْ َا ِْٛ َ َ َ َٗ آل ِثْ َا ِْٛ َ إَّك َ ِْٛد‬
                                                    ‫ِ إ س ْ ى َِ َ حً ٌ يِ د‬                   ‫ِ ي ًَ ٍ كً َه ذ عه إ س ْ ى ٔعه‬                          ‫ُى َم عه ي ًَد ٔعه‬
                                          ‫ا هٓى ف ن ً هً ٍ َ ً هً د ٔ ً يُ ٍ ٔ ً يُ ِ األ ٛ ِ ي ٓ ٔ أل ٕ ِ إَك سً ع يِ ت دعٕ د‬
                                          ِ ‫َنّ ُ ّ اغْ ِسْ ِهْ ُسْ ِ ِْٛ َ ٔاْن ُسْ ِ َب ِ َانْ ُؤْ ِ ِْٛ َ َانْ ُؤْ ِ ًبد َ َحْ َبء ُِْ ُىْ َا َيْ َاد ِّ َ َ ِْٛ ٌ ُ ِْٛ ُ ان ّ َ َا‬
      ‫زث َ الرؤخ َ إ س ُ أ ْ َ ط َ زثُ ٔال ر ً عه ُ إ س كً حً زّ ع ٗ نر َ ي ل هُ زثُ ٔال رحً ُ ي َ ط لخ نُ ثّ ٔ ف عُ ٔ ف‬
    ْ‫َّ َب ًَ َ ِرَْب ٌِْ َ ِْٛ َب َٔ أخْ َأَْب َّ َب َ َ َحْ ِمْ َ َْٛ َب ِصْ ًا َ َب َ َهْ َ ُ َه َ اّ ٍِْٚ ٍِْ َجْ ِ َب َّ َب َ َ ُ َ ّهْ َب َبال َب َ َ َ َب ِ ِ َاعْ ُ َّب َاغْ ِس‬ ُ
                                                                                                                       ٍ ‫نُ ٔ ْح ُ أ َ ي نُ ف ص َ ع ٗ م و ك فس‬
                                                                                                                      .َ ِْٚ ِ ‫َ َب َاز ًَْ َب ََْذ ََْٕ َب َبَْ ُسَْب َه َ انْ َْٕ ِ انْ َب‬
                                                                         ٍ ً‫َة ع ن‬           ‫َخسح َسُخ ٔلُ عر َ ُ ز ٔ ح د‬                            ‫د ٛ حسُخ ٔ ف‬                ‫زث ُ ر ُ ف‬
                                                                      .َ ِْٛ َ‫َّ َب آِ َب ِٙ ان َّْ َب َ َ َ ً َ ِٙ اْأل ِ َ ِ ح َ َ ً َ ِ َب َ َاة انّب ِ. َانْ ًَْ ُ هلل ز ّ انْ َب‬

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: kutbah
Stats:
views:12
posted:11/26/2011
language:Arabic
pages:3
Description: ceramah