Sekolah_Bertaraf_Internasi

W
Shared by: D7z7HQX
Categories
Tags
-
Stats
views:
42
posted:
11/25/2011
language:
Indonesian
pages:
11
Document Sample
scope of work template
							Sekolah Bertaraf Internasional, untuk Apa dan Siapa?
Oleh : Nanok Triyono

25-Mar-2009, 13:49:43 WIB - [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - Persaingan global yang semakin mencuat dekade ini membuat pemerintah
sedikit melakukan langkah yang dapat dikatakan tergesa-gesa. Bidang pendidikan kita yang
condong pada pembelajaran multikultur membuat beberapa langkah pengupayaan kemajuan
pendidikan sedikit kurang mengarah.

Indonesia dengan keberagaman sisi ekonomi, sosial, serta budaya memang perlu membuat
langkah jitu dalam hal pendidikan, tidak serta merta langsung mengarah pada dominasi luar
negeri. Pemandangan pendidikan luar negeri memang sudah sangat maju, yang perlu digaris
bawah adalah kemajuan itu dilakukan dengan bertahap hingga mendapatkan finishing yang
gemilang. Australia, Inggris, Amerika, dan beberapa Negara di Asia memiliki standar pendidikan
maju, beberapa alasan diantaranya adalah Negara tersebut aktif dalam menciptakan globalisasi
seperti pertumbuhan ekonomi, penguasaan Iptek, dan penerapan aspek linguistic yang condong
menerapkan bahasa dunia (bahasa inggris) sebagai media penyampaian pesan.

Munculnya Sekolah Bertaraf International (SBI) di Indonesia dianggap sebagai langkah maju
tumbuhnya perkembangan pendidikan setara luar negeri atau Internasional. Pengembangan SBI
sendiri didasarkan pada UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 50 ayat 3 yang secara
garis besar ketentuan ini berisi bahwa pemerintah didorong untuk mengembangkan satuan
pendidikan bertaraf internasional. Visi SBi sendiri yakni mewujudkan insane Indonesia cerdas,
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Y.M.E, berakhlak mulia, berjati diri Indonesia, dan
kompetitif secara global. Dengan adanya dasar dan visi pengembangan SBI tersebut pemerintah
terus berusaha menyertakan ratusan SMP dan SMA seluruh Kabupaten/Kotamadya di Indonesia
dengan memberikan sokongan dana ratusan milyar rupiah.

Pembentukan SBI sendiri harus mengacu pada standar perumusan SBI yakni SBI = SNP + X.
SNP adalah Standar Nasional Pendidikan dan X adalah penguatan untuk berdirinya SBI seperti
sebagai penguatan, pengayaan, pengembangan, perluasan, pendalaman, adopsi terhadap standar
pendidikan baik dari dalam negeri maupun luar negeri yang diyakini telah memiliki reputasi
mutu yang diakui secara internasional umpamanya Cambridge, IB, TOEFL/TOEIC, ISO,
UNESCO. SNP sendiri memiliki 8 kompetensi yakni lulusan, isi, proses, pendidik dan tenaga
kependidikan, sarpras, dana, pengelolaan dan penilaian.

Dari ketentuan tersebut masyarakat dapat mengamati terutama sisi ekonomi tentang biaya yang
dikeluarkan untuk memberhasilkan SBI di Indonesia. Teknis SBI sendiri masih terlihat gamblang
salah satunya adalah penerapan pembelajaran model bilingual/menggunakan dua bahasa,
Indonesia dan Inggris. Pada system ini pendidik diwajibkan untuk menggunakan bahasa Inggris
dalam melakukan proses PBM, tentunya pendidik untuk SBI harus memiliki kompetensi tinggi
dalam menerapkan bahasa inggris pasif/aktif.

Kompetensi ini memiliki standar khusus antara lain nilai TOEFL > 500, padahal seseorang yang
nilai TOEFL nya > 500 tidak tentu bisa menerapkan bahasa Inggris dalam memberikan
pemahaman bidang pelajaran pada siswa. Penerapan bahasa inggris dalam SBI adalah tahun
pertama guru menggunakan sekitar 75% bahasa Indonesia 25% bahasa Inggris, tahun kedua 50%
bahasa Indonesia 50% bahasa Inggris, dan tahun ke tiga 75% bahasa Inggris 25% bahasa
Indonesia, dari sini dapat dibayangkan pada tahun ketiga siswa yang tingkat bahasa Inggris nya
kurang akan mengalami degradasi prestasi karena sulit mencerna pembicaraan dari guru.

SBI sendiri membutuhkan banyak dana dalam pelaksanaannya, biaya yang dikeluarkan sangat
besar. Tercatat, untuk memberhasilkan program ini ada dana tertentu yang bersumber dari
pemerintah dan masyarakat diantaranya Pemerintah pusat 50%, Propinsi 30%, dan Kota/Kab.
20%. Standarisasi prosentasi sendiri masih belum jelas karena tiap-tiap SBI tentunya memiliki
besaran dana yang tidak sama, misalnya SBI didaerah Malang akan berbeda dengan SBI di
daerah Jakarta. SBI pada sekolah swasta akan berbeda pula besaran dananya, mengingat kucuran
dari pemerintah mengalami seleksi khusus, jadi masyarakat yang tertarik dengan nama SBI dan
itu pada sekolah swasta akan mengeluarkan dana besar, tentunya permasalahan ini akan kembali
lagi pada mampu tidaknya seseorang untuk melanjutkan pendidikan, ironis sekali dengan
pencanangan sekolah gratis yang diprogramkan pemerintah akhir-akhir ini.

Dalam hal standarisasi output, siswa SBI harusnya lebih memiliki education skill tinggi
mengingat proses KBM didalamnya mengunggulkan pada program Sains dan matematik.
Beberapa kemungkinan yang timbul juga sangat beragam, output SBI tidak semuanya
memahami mata pelajaran yang ada. Dapat kita bayangkan gambaran kekecewaan ketika siswa
SBI memiliki output sama dengan siswa regular atau normal. Proses KBM yang menggunakan
bilingual konsep akan cenderung memiliki balance yang kurang jika salah satu substansi lemah,
seperti siswa kurang bisa mencerna proses dalam bahasa inggris atau terbalik guru yang kurang
bisa menerapkan bahasa inggris saat mengajar.

Secara konsep, memang siswa SBI dirintis untuk menyamai kurikulum internasional seperti pada
Cambridge atau International Baccalaureate (IB), dari sisi ini fungsional ketika siswa SBI sedikit
menyamai Cambridge atau IB masih tanda tanya. Output SBI yang sudah ada akan diarahkan
kemana nantinya, terutama ketika mereka akan menginjakkan pendidikan di Universitas. Konsep
SBI secara tujuan dan visi memang sangat bagus, dimana siswa sudah terlatih untuk
berkomunikasi secara global dengan bahasa Inggris. Siswa SBI juga memiliki pengalaman
belajar yang sama dengan IB atau Cambridge. Menjamurnya SBI di Indonesia dapat ditakutkan
akan menjadi lahan bisnis dalam dunia pendidikan dan kembali lagi masyarakat akan jadi
korban.

Ada beberapa hal sebenarnya untuk menjadikan pendidikan di Indonesia maju tetapi secara
sistematis dan konseptual. Sedikit ilustrasi, nama SBI yang sudah tercanangkan ini dapat diganti
dengan program sekolah yang berbasis bilingual. Adanya English club atau pemusatan sekolah
dengan melibatkan bahasa inggris akan lebih baik dari SBI. Ini dilihat dari proses SBI yang
menekankan pada bahasa Inggris, tapi apakah pemahaman akan mata pelajaran juga meningkat.
Hal lain adalah, nama SBI itu sedikit ”menyeramkan” karena masyarakat akan menilai SBI
benar-benar seperti sekolah luar negeri, tapi ketika siswa luar negeri dihadapkan pada siswa SBI
secara nyata akan terlihat perbedaan yang jauh. Dari sisi itu seharusnya siswa SBI memiliki
kemampuan sama dengan siswa luar negeri, karena pemerintah juga berani menggunakan titel
bertaraf internasional. Pemunculan SBI mengundang sedikit kontroversi terutama ketika
dihadapkan pada multikultural di Indonesia.
Titel taraf Internasional memberikan image tersendiri bagi masyarakat. Untuk apa dan siapa SBI
ini juga masih menjadi polemik, karena siswa SBI didominasi oleh masyarakat dengan tingkat
ekonomi menengah ke atas, selain itu siswa SBI hanya untuk siswa diatas rata-rata SNP. Output
SBI juga masih samar terutama ketika siswa ingin melangkahkan pendidikan lanjutan.
Pemerintah memang harus jeli dalam membuat kebijakan pendidikan agar peningkatan
pendidikan di Indonesia melonjak, bukan berarti melonjak adalah mengikuti/menyamai luar
negeri tapi mendongkrak masyarakat bawah yang sebelumnya awam pendidikan menjadi paham
pendidikan. Program SBI sendiri perlu mendapat evaluasi agar fungsional dan untuk siapa SBI
dicanangkan menjadi jelas.
Pendidikan Nasional Tak Dipercaya - Sekolah Bertaraf Internasional Mendapat
Kucuran Dana Besar
http://transparansipendidikan.blogspot.com/2009/04/pendidikan-nasional-tak-
dipercaya.html

7 April 2009 | Jakarta, Kompas - Pemerintah tidak percaya bahwa sistem pendidikan nasional
bisa bersaing secara global dengan negara lain. Hal itu dibuktikan sendiri pemerintah dengan
kebijakannya yang justru mendorong bermunculannya sekolah-sekolah negeri bertaraf
internasional yang didukung biaya besar.

Pemerintah seharusnya justru memperkuat sistem pendidikan nasional yang mampu membuat
siswa senang belajar, percaya diri untuk bersaing, cerdas, dan humanis. Bukan sebaliknya,
menciptakan sistem pendidikan yang berkelas-kelas yang akan menciptakan bom sosial di
kemudian hari.

Demikian persoalan yang mengemuka dalam diskusi publik bertajuk "Membedah Kebijakan
Sekolah Bertaraf Internasional (SBI)" yang dilaksanakan Education Forum di Jakarta, Senin
(6/4).

Tampil sebagai pembicara adalah Direktur SMA Kolese Kanisius Jakarta Rm E Baskoro
Poedjinoegroho, pengamat pendidikan HAR Tilaar, Direktur Institute for Education Reform
Universitas Paramadina Utomo Dananjaya, dan M Fajri Siregar, alumnus Universitas Indonesia.

"Bukan kita menutup diri terhadap apa yang berbau asing atau internasional, tetapi SBI ciptaan
pemerintah saat ini lebih sebagai pelarian karena tidak bisa membuat sistem pendidikan nasional
yang menghasilkan peserta didik yang siap menghadapi tantangan zaman. SBI di sekolah negeri
itu jadi tertutup hanya untuk orang pintar dan berduit," kata Baskoro.

Menurut Baskoro, yang ada di Indonesia saat ini sebenarnya masih kelas bertaraf internasional.
Itu pun dengan pengajar yang fokus untuk menerjemahkan bahan ajar ke dalam bahasa Inggris.
SBI umumnya menggunakan kurikulum internasional Cambridge.

HAR Tilaar mengatakan, yang mendasar justru perlu diciptakan sistem pendidikan nasional yang
baik, yang bersumber dari kekuatan yang dimiliki bangsa ini.

Sikap inferior

Sementara itu, Direktur Institute for Education Reform Universitas Paramadina menilai fokus
pemerintah untuk mengembangkan SBI menunjukkan sikap inferior bangsa ini. Padahal,
pendidikan berfungsi untuk mengembangkan budaya dan martabat bangsa dengan mencerdaskan
kehidupan bangsa.
Fajri Siregar, alumnus Sosiologi UI, mengatakan, yang juga berkembang adalah sekolah nasional
plus, yang selain memakai kurikulum nasional juga mengadopsi kurikulum internasional.
Bahkan, pengajarnya lebih banyak warga negara asing. (ELN)

SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (SBI): PROGRAM GAGAL?

http://ahmadrizali.com/index.php/2008/09/27/sekolah-bertaraf-internasional-sbi-program-gagal/

Seorang praktisi pendidikan dari Inggris yang berjasa dan sukses membangun sebuah Sekolah
Internasional di Jakarta dan di Singapura menyoal tajam niat pemerintah Indonesia mengacu
standar pendidikannya ke standar bangsa barat demi sebuah kata Internasional, tanpa upaya
mengembangkan dan memperbaiki sendiri model pendidikannya.

Persoalan itu muncul ketika dia melihat begitu maraknya kegairahan sekolah negeri
mempromosikan dirinya menjadi Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) dengan segala atributnya
seperti: guru mengajar dalam bahasa Inggris, kelas berpendingin ruangan dan tentu tarif
bersekolah yang selangit dan tak terjangkau warga. Sebuah media elektronik bahkan melaporkan
bahwa murid di sebuah SMAN di Jakarta diminta membayar 24 Juta dalam setahun untuk
mengikuti kelas Internasional tersebut.

Gegap gempita SBI didorong oleh upaya Depdiknas memelopori berjalannya SBI dengan cara
memilih dan menetapkan, serta mendanai berbagai sekolah favorit di seluruh nusantara menjadi
Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan menganjurkan mereka untuk mencontoh
pendidikan di kelompok negara ekonomi maju anggota OECD (Depdiknas, 2007).

Namun timbul pertanyaan, apakah pendidikan bertaraf Internasional harus menjiplak cara negara
lain yang memiliki latar dan akar budaya yang berbeda dengan akar budaya Indonesia, atau demi
sebuah kerangka skenario ekonomi global, maka program pendidikan harus selaras dengan
Kepres 76/77 yang memberi ruang 49% kepada modal asing untuk berdagang di sektor
pendidikan ?

RANCU MENAFSIR MAKNA SBI

Di tingkat konsep dan kebijakan sebetulnya RSBI belum solid, setiap otoritas setingkat
Direktorat Jenderal (Ditjen) di Depdiknas masih menerbitkan panduan SBI sesuai tugas pokok
dan fungsinya masing masing yang belum terpadu dan sinkron. Badan Penelitian dan
Pengembangan?(Balitbang) menerbitkan panduan isi kurikulum, Ditjen Penjaminan Mutu
Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) menerbitkan cara memmbina guru dan sebagai
ujung tombaknya, Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen)
menerbitkan panduan pengelolaan RSBI.

Bahkan di tingkat pelaksana, karena ketidaksolidan tersebut, kepala sekolah bebas menafsir
RSBI sesuai persepsi masing masing. Ada kepala sekolah yang menafsir RSBI sebagai sekolah
dengan ruang kelas ber pendingin ruangan, guru harus mengajar dengan komputer jinjing
dilengkapi LCD proyektor, kursi berjok empuk dan ergonomik bahkan ada yang menafsirkan
RSBI seperti Bus Malam Eksekutif,sebuah sekolah dengan toilet di dalam kelas .
Adapula tafsir yang bagus, RSBI adalah sekolah dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan
(KTSP) yang diajarkan dalam bahasa Inggris, dan beberapa sekolah yang terpilih sebagai RSBI
mengadopsi kurikulum International General Certificate for Secondary Education (IGCSE) dan
menyewa dosen yang mampu berbahasa Inggris menjadi guru.

Kurikulum berbahasa asing yang diajarkan dalam kelas RSBI diragukan berjalan efektif, karena
pembelajaran dengan pengantar bahasa Indonesiapun, seringkali tidak dimengerti murid dengan
baik. Lebih dari itu, interaksi yang dinamis antara murid dan guru dalam budaya sekolah di
Indonesia belum terbentuk dan sebagian RSBI hanya menyelenggarakan kelas bertaraf
internasional dengan pelayanan berlebih, sehingga melanggar kaidah kesetaraan pelayanan
dalam pendidikan.

RENDAH DIRI DAN POTENSI GAGAL

Meskipun RSBI yang sedang naik daun ini diamanatkan oleh Undang Undang No.20 Tahun
2003 Tentang Sistim Pendidikan Nasional kepada setiap Kabupaten/Kota untuk wajib
mengembangkan sedikitnya satu SBI, di setiap jenjang. Namun, di tingkat kebijakan, SBI adalah
sebuah konsep yang mencerminkan rasa rendah diri dan ketidakmampuan bersaing dengan
bangsa lain.

Penggunaan standar negara OECD menunjukkan indikasi kebenaran dugaan bahwa impor
pendidikan semakin memantapkan kecurigaan terjadinya liberalisasi pendidikan dan pendidikan
sudah menjadi sebuah komoditi yang diperdagangkan.

Seharusnya, pemerintah mendorong sekolah yang berpotensi untuk mengembangkan diri
menjadi SBI dengan acuan mutu pembelajarannya sendiri, dimulai dari pelaksanaan Standar
Nasional Pendidikan (SNP) dengan sebaik mungkin, yaitu pembelajaran yang lebih
mengutamakan proses daripada hasil akhir yang disampaikan oleh Guru yang trampil dalam
mengajar.

Pembelajaran seperti itu akan mendidik murid tidak hanya mampu menerima instruksi dan
dengan cepat melaksanakannya, tetapi juga mampu berfikir kritis dan kreatif serta bersikap
mandiri sehingga pada akhirnya mampu mengisi kehidupan pribadinya, memberi arti kepada
kehidupan dan memuliakan kehidupan (Buchori,2004).

Jika yang diharap dari RSBI adalah murid yang mengerti isi mata pelajaran, sekaligus trampil
menggunakan Bahasa Inggris, maka RSBI harus mencari Guru yang selain mampu menguasai
materi, juga terampil berbahasa Inggris, inilah bagian yang tersulit. Apatah mengajar dalam
Inggris, Guru Bahasa Inggris saja masih banyak yang mengajar dengan bahasa pengantar Bahasa
Indonesia.

RSBI adalah program yang “sudah pasti gagal” ujar seorang mantan Guru Senior di sebuah
Sekolah Internasional. Jika pendapat Guru tersebut terbukti benar, maka RSBI hanya akan
menambah rekor program pemerintah yang gagal dan tentu memboroskan anggaran pendidikan
yang sebesar 224 Triliun di Tahun 2009 nanti.
Ahmad Rizali;Ketua Dewan Pembina, theCBE-Jakarta, Ketua KlubGuru Jadebotabek, Alumni
UI dan Strathclyde Business School-UK

Konsep dan Karakteristik Esensial SBI
http://forum-rsbi.net/index.php?page=6

1. Konsep Sekolah Bertaraf Internasional
Seperti dijelaskan dalam ”Pedoman Penjaminan Mutu Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional
pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah tahun 2007”, bahwa Sekolah/Madrasah Bertaraf
Internasional merupakan ”Sekolah/Madrasah yang sudah memenuhi seluruh Standar Nasional
Pendidikan (SNP) dan diperkaya dengan mengacu pada standar pendidikan salah satu negara
anggota Organization for Economic Co-operation and Development dan / atau negara maju
lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan, sehingga memiliki daya
saing di forum internasional”.

Dengan konsep ini, SBI adalah sekolah yang sudah memenuhi dan melaksanakan standar
nasional pendidikan yang meliputi: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan,
standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan,
standar pembiayaan, dan standar penilaian. Selanjutnya aspek-aspek SNP tersebut diperkaya,
diperkuat, dikembangkan, diperdalam, diperluas melalui adaptasi atau adopsi standar pendidikan
dari salah satu anggota OECD dan / atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan
tertentu dalam bidang pendidikan serta diyakini telah memiliki reputasi mutu yang diakui secara
internasional, serta lulusannya memiliki kemampuan daya saing internasional. Dengan demikian
diharapkan SBI harus mampu memberikan jaminan bahwa baik dalam penyelenggaraan maupun
hasil-hasil pendidikannya lebih tinggi standarnya daripada SNP. Penjaminan ini dapat
ditunjukkan kepada masyarakat nasional maupun internasional melalui berbagai strategi yang
dapat dipertanggungjawabkan.

Sesuai dengan konsepsi SBI di atas, maka dalam upaya mempermudah sekolah dalam
memahami dan menjabarkan secara operasional dalam penyelenggraan pendidikan yang mampu
menjamin mutunya bertaraf internasional, maka dapat dirumuskan bahwa SBI pada dasarnya
merupakan pelaksanaan dan pemenuhan delapan unsur SNP sebagai indikator kinerja kunci
minimal dan ditambah (dalam pengertian ditambah atau
diperkaya/dikembangkan/diperluas/diperdalam) dengan x yang isinya merupakan penambahan
atau pengayaan/pemdalaman/penguatan/perluasan dari delapan unsur pendidikan tersebut serta
sistem lain sebagai indikator kinerja kunci tambahan yang berstandar internasional dari salah
satu anggota OECD dan/atau negara maju lainnya.

Hal ini sesuai juga dengan yang dijelaskan dalam kebijakan Depdiknas tersebut bahwa dalam
kerangka pencapaian standar mutu internasional, maka tiap sekolah yang telah menjadi rintisan
SBI atau SBI mandiri harus memenuhi indikator kinerja kunci minimal (delapan unsur SNP) dan
indikator kinerja kunci tambahan (terdiri berbagai unsur x). Delapan unsur SNP tersebut adalah
terdiri dari: standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga
kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan
standar penilaian.
Untuk dapat memenuhi karakteristik dari konsep SBI tersebut, yaitu sekolah telah melaksanakan
dan memenuhi delapan unsur SNP sebagai pencapaian indikator kinerja kunci minimal ditambah
dengan (x) sebagai indikator kinerja kunci tambahan, maka sekolah dapat melakukan minimal
dengan dua cara, yaitu: (1) adaptasi, yaitu penyesuaian unsur-unsur tertentu yang sudah ada
dalam SNP dengan mengacu (setara/sama) dengan standar pendidikan salah satu anggota OECD
dan / atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan,
diyakini telah memiliki reputasi mutu yang diakui secara internasional, serta lulusannya memiliki
kemampuan daya saing internasional; dan (2) adopsi, yaitu penambahan atau
pengayaan/pemdalaman/penguatan/perluasan dari unsur-unsur tertentu yang belum ada diantara
delapan unsur SNP dengan tetap mengacu pada standar pendidikan salah satu anggota OECD
dan / atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan,
diyakini telah memiliki reputasi mutu yang diakui secara internasional, serta lulusannya memiliki
kemampuan daya saing internasional.

Oleh karena itu bagi sekolah yang akan melakukan adaptasi ataupun adopsi, perlu mencari mitra
internasional, misalnya sekolah-sekolah dari negara-negara anggota OECD yaitu: Australia,
Austria, Belgium, Canada, Czech Republic, Denmark, Finland, France, Germany, Greece,
Hungary, Iceland, Ireland, Italy, Japan, Korea, Luxembourg, Mexico, Netherlands, New
Zealand, Norway, Poland, Portugal, Slovak Republic, Spain, Sweden, Switzerland, Turkey,
United Kingdom, United States dan negara maju lainnya seperti Chile, Estonia, Israel, Russia,
Slovenia, Singapore dan Hongkong yang mutunya telah diakui secara internasional. Atapun
dapat juga bermitra dengan pusat-pusat pelatihan, industri, lembaga-lembaga tes/sertifikasi
internasional seperti misalnya Cambridge, IB, TOEFL/TOEIC, ISO, pusat-pusat studi dan
organisasi-organisasi multilateral seperti UNESCO, UNICEF, SEAMEO, dan sebagainya.

Esensi lainnya dari konsepsi tentang SBI adalah adanya daya saing pada forum internasional
terhadap komponen-komponen pendidikan seperti output/outcomes pendidikan, proses
penyelenggaraan dan pembelajaran, serta input SBI harus memiliki daya saing yang kuat/tinggi.
Masing-masing komponen tersebut harus memiliki keunggulan yang diakui secara internasional,
yaitu berkualitas internasional dan telah teruji dalam berbagai aspek sesuai dengan
karakteristiknya masing-masing. Bukti bahwa telah diakui dan teruji secara internasional dengan
sertifikasi minimal dengan berpredikat baik dari salah satu negara anggota OECD, negara maju
lainnya atau lembaga internasional yang relevan. Beberapa ciri esensial dari SBI ditinjau dari
komponen pendidikan yang berdaya saing tinggi yaitu:

   1. Output/outcomes SBI dikatakan memiliki daya saing internasional antara lain bercirikan:
      (1) lulusan SBI dapat melanjutkan pendidikan pada satuan pendidikan yang bertaraf
      internasional, baik di dalam maupun di luar negeri, (2) lulusan SBI dapat bekerja pada
      lembaga-lembaga internasional dan/atau negara-negara lain, dan (3) meraih medali
      tingkat internasional pada berbagai kompetisi sains, matematika, teknologi, seni, dan olah
      raga. Proses penyelenggaraan dan pembelajaran dikatakan memiliki daya saing
      internasional antara lain cirinya telah menerapkan berbagai model pembelajaran yang
      berstandar internasional, baik yang bersifat pembelajaran teori, eksperimen maupun
      praktek;
   2. Proses pembelajaran, penilaian, dan penyelenggaraan harus bercirikan internasional,
      yaitu: (1) pro-perubahan yaitu proses pembelajaran yang mampu menumbuhkan dan
      mengembangkan daya kreasi, inovasi, nalar dan eksperimentasi untuk menemukan
      kemungkinan-kemungkinan baru, a joy of discovery; (2) menerapkan model
      pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan; student centered; reflective
      learning; active learning; enjoyble dan joyful learning; cooperative learning; quantum
      learning; learning revolution; dan contextual learning, yang kesemuanya itu telah
      memiliki standar internasional; (3) menerapkan proses pembelajaran berbasis TIK pada
      semua mata pelajaran; (4) proses pembelajaran menggunakan bahasa Inggris khususnya
      mata pelajaran sains, matematika, dan teknologi; (5) proses penilaian dengan
      menggunakan model-model penilaian sekolah unggul dari negara anggota OECD
      dan/atau negara maju lainnya yang mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang
      pendidikan; dan (6) dalam penyelenggaraannnya harus bercirikan utama kepada standar
      manajemen internasional yaitu mengimplementasikan dan meraih ISO 9001 versi 2000
      atau sesudahnya dan ISO 14000, dan menjalin hubungan sister school dengan sekolah
      bertaraf internasional di luar negeri.
   3. Input SBI yang esensial bercirikan internasional antara lain: (a) telah terakreditasi dari
      badan akreditasi sekolah di salah satu negara anggota OECD dan atau negara maju
      lainnya yang memiliki keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan; (b) standar
      kelulusan lebih tinggi daripada standar kelulusan nasional, sistem administrasi akademik
      berbasis TIK, dan muatan mata pelajaran sama dengan muatan mata pelajaran (yang
      sama) dari sekolah unggul diantara negara anggota OECD atau negara maju lainnya yang
      memiliki keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan; (c) jumlah guru minimal 20%
      berpendidikan S2/S3 dari perguruan tinggi yang program studinya terakreditasi A dan
      mampu berbahasa inggris aktif, kepala sekolah minimal berpendidikan S2 dari perguruan
      tinggi yang program studinya terakreditasi A dan mampu berbahasa inggris aktif, serta
      semua guru mampu menerapkan pembelajaran berbasis TIK; (d) tiap ruang kelas
      dilengkapi sarana dan prasarana pembelajaran berbasis TIK, perpustakaan dilengkapi
      sarana digital/berbasis TIK, dan memiliki ruang dan fasilitas multi media; dan (e)
      menerapkan berbagai model pembiayaan yang efisien untuk mencapai berbagai target
      indikator kinerja kunci tambahan.



2. Karakteristik Esensial SBI pada Jenjang Pendidikan SMP
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa sekolah yang telah bertaraf internasional harus
memiliki keunggulan yang ditunjukkan oleh pengakuan internasional terhadap masukan, proses
dan hasil-hasil pendidikan dalam berbagai aspek. Pengakuan tersebut dibuktikan dengan
sertifikasi berpredikat baik dari salah satu anggota OECD dan / atau negara maju lainnya yang
mempunyai keunggulan tertentu dalam bidang pendidikan, diyakini telah memiliki reputasi mutu
yang diakui secara internasional, serta lulusannya memiliki kemampuan daya saing internasional.
Dalam lulusan SBI diharapkan, selain menguasai kompetensi dengan SNP di Indonesia, juga
menguasai kemampuan-kemampuan kunci global agar setara dengan rekannya dari lulusan
negara-negara maju tersebut.

Untuk itu pengakraban peserta didik terhadap nilai-nilai progresif yang diunggulkan dalam era
global perlu digunakan sebagai acuan dalam penyelenggaraan SBI. Nilai-nilai progresif tersebut
akan dapat mempersempit kesenjangan antara Indonesia dengan negara-negara maju, khususnya
dalam bidang ekonomi dan teknologi. Perkembangan ekonomi dan teknologi sangat tergantung
pada penguasaan disiplin ilmu keras (hard science) dan disiplin ilmu lunak (soft science).
Disiplin ilmu keras meliputi matematika, fisika, kimia, biologi, astronomi, dan terapannya yaitu
teknologi yang meliputi teknologi komunikasi, transportasi, manufaktur, konstruksi, bio, energi,
dan bahan. Disiplin ilmu lunak (soft science) meliputi, misalnya, sosiologi, ekonomi, bahasa
asing (Inggris, utamanya), dan etika global.

Apabila mengacu pada visi pendidikan nasional, maka karakteristik visi SBI adalah
”terwujudnya insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif secara internasional”. Visi tersebut
memiliki implikasi bahwa penyiapan manusia bertaraf internasional memerlukan upaya-upaya
yang dilakukan secara intensif, terarah, terencana, dan sistematik agar dapat mewujudkan bangsa
yang maju, sejahtera, damai, dihormati, dan diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain. Maka dari
itu misi SBI adalah mewujudkan manusia Indonesia cerdas dan kompetitif secara internasional,
yang mampu bersaing dan berkolaborasi secara global. Misi ini direalisasikan melalui kebijakan,
rencana, program, dan kegiatan SBI yang disusun secara cermat, tepat, futuristik, dan berbasis
demand-driven. Penyelenggaraan SBI bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang berkelas
nasional dan internasional sekaligus. Lulusan yang berkelas nasional secara jelas telah
dirumuskan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan
dijabarkan dalam PP 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan dalam
Permendiknas nomor 23/2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL), serta dalam
”Pedoman Penjaminan Mutu Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional pada Jenjang Pendidikan
Dasar dan Menengah”.

                  (Ditulis oleh : Kir Haryana Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Pertama)

						
Other docs by D7z7HQX
A�O - 1925 - DOC - DOC
Views: 779  |  Downloads: 0
04 PGE SpecificConditions
Views: 11  |  Downloads: 0
Ph? l?c s? 01
Views: 114  |  Downloads: 0
????????? ????? 12 ??. ??? ?
Views: 4  |  Downloads: 0
Diapositive 1
Views: 2  |  Downloads: 0
nbs
Views: 4  |  Downloads: 0
GAULOIS DU COLLEGE ANTOINE GIROUARD
Views: 12  |  Downloads: 0
??????
Views: 46  |  Downloads: 0