MODEL PENGEMBANGAN
Document Sample


KONSEP
KAWASAN INDUSTRI TAPIOKA MILIK MASYARAKAT
(KITAPMAS)
I. PENDAHULUAN
Pewilayahan yang komprehensif untuk pengembangan dan pembangunan
sektor strategis sangat diperlukan dalam pencapaian hasil pembangunan yang optimal
di suatu wilayah, seperti wilayah Kabupaten Ponorogo, Propinsi Jawa Timur.
Permasalahan yang dihadapi dewasa ini adalah seringkali penataan ruang yang ada
belum mampu mewadahi dan mengimbangi perkembangan sektor pembangunan
strategis secara berkelanjutan. Oleh karena itu salah tujuan perencanaan kawasan
ekonomi strategis (seperti KAWASAN AGRIBISNIS) di suatu wilayah, adalah
memadukan penggunaan ruang dan segenap sumberdayanya secara fungsional untuk
mendorong sektor strategis agar tercapai pertumbuhan yang berkelanjutan dan
mempunyai linkages positif dengan wilayah sekitarnya. Dalam konteks ini, kriteria
“strategis” bukan hanya dari sudut pandang ekonomi produksi, melainkan juga
dikaitkan dengan pertimbangan kelestarian fungsi ekologis/hidrologis.
Perencanaan Kawasan Industri Masyarakat (KITAPMAS) merupakan salah
satu bentuk perencanaan ruang untuk sektor strategis yang diharapkan dapat
mendorong percepatan peningkatan nilai tambah produksi dari sub-sektor kehutanan,
subsektor pertanian & hortikultura, subsektor , subsektor peternakan dan subsektor
tradisional lainnya yang didukung oleh sarana dan prasarana yang fungsional. Konsep
KITAPMAS ini dapat berdiri diri atau menyatu dengan Kawasan yang lebih luas,
tergantung dari potensi produksi serta faktor jarak geograffs dan faktor jarak
aksesibilitas. Faktor jarak aksesibilitas sangat berperan dalam menentukan orientasi
produktif dari suatu kawasan, terutama kawasan potensial yang jauh dari pusat
pengembangannya.
Pengembangan KITAPMAS dalam suatu wilayah harus didukung oleh
komoditas unggulan dan komoditi penunjangnya, yang diusahakan dalam suatu Sentra
Produksi (SPr) yang didukung oleh sentra pengolahan (SPg) dan sentra
perdagangannya (SPd), mulai dari berskala kecil (mikro) hingga bersekala besar
(makro) dan ekonomis. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di
KITAPMAS dapat berlanjut, serta pemerataan kegiatan ekonomi wilayah. Dalam
jangka pendek upaya ini diharapkan dapat mendorong pemanfaatan sumberdaya
wilayah secara optimal dan lestari.
Pengembangan KITAPMAS Ubikayu di wilayah Siman, Kabupaten Ponorogo,
Jawa Timur, mempunyai peran penting sebagai arahan dan peluang lokasi investasi
(investasi produksi dan investasi konservasi) bagi pemerintah maupun swasta dalam
mencapai efisiensi, efektifitas dan nilai tambah dari produk-produk yang dihasilkan
sentra-sentra produksi dari sektor agrokompleks dalam arti luas.
1
1.2. Tujuan dan Sasaran
1.2.1. Tujuan
1. Mengidentifikasi KITAPMAS Ubikayu berdasarkan potensi subsektor pertanian,
subsektor , subsektor kehutanan, dan subsektor peternakan untuk dikembangkan
menjadi suatu kawasan pengembangan.
2. Menentukan alokasi Sentra Produksi (S.Pr), Sentra Pengolahan (S.Pg), dan sentra
Perdagangan (S.Pd) di dalam KITAPMAS Ubikayu milik masyarakat
3. Rancangan masing-masing Sentra dalam suatu KITAPMAS, keterkaitan antar
sentra dan pola net-workingnya dengan lingkungan eksternalnya
4. Menyusun konsep pengembangan kawasan sentra produksi Ubikayu yang
dilengkapi dengan teknologi produksi dan konservasi yang relevan.
5. Rancangan kelembagaan pengelola KITAPMAS Ubikayu dengan segenap
komponennya dengan berlandaskan kepada kelembagaan sosio-tradisional yang
telah mengakar di masyarakat.
1.2.2. Sasaran Prasyarat Penunjang
Prasyarat penunjang kegiatan pengembangan KITAPMAS Ubikayu adalah:
1. Tersedianya informasi tentang penataan ruang dan kesesuaian lahan untuk
komoditas ubikayu serta skenario pengembangan prioritas kawasan (berjenjang)
maupun jenis komoditas ubikayu dan komoditi penunjangnya yang akan
dikembangkan pada kawasan itu.
2. Tersedianya landasan formal pemanfaatan ruang dan lahan sesuai dengan
pengembangan subsektor pertanian tanaman pangan & hortikultura, sub-sektor
peternakan, subsektor kehutanan dan subsektor
3. Informasi tentang potensi tenaga kerja siap pakai di wilayah, tidak hanya terampil
tetapi memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam berusaha agribisnis.
4. Penyediaan benih /boibit unggul yang memiliki: siklus produksi pendek,
produktivitas tinggi dan ketahanan terhadap kondisi lahan marginal/kritis yang
tidak menentu (iklim dan curah hujan), serta resisten terhadap hama dan penyakit.
5. Sarana produksi dan pengolahan hasil produksi, termasuk pestisida, hipertisida
dan herbisida yang mudah diperoleh di setiap kawasan, dan terjangkau oleh
masyarakat petani setempat dalam rangka mendukung peningkatan usaha
agribisnisnya..
6. Sarana jasa pelayanan lembaga keuangan dan sistem informasinya mengenai
kendala dan persoalan dalam upaya pemberdayaan kegiatan usaha agribisnis.
7. Tersedianya sistem informasi pasar sebagai mitra petani /masyarakat dalam
meningkatkan daya-jual hasil-hasil produksi komoditi, dengan harga yang layak.
8. Sistem transportasi dan pola aliran barang dari sentra produksi ke penyimpanan
sementara, ke tempat distribusi barang hingga sampai ke tempat tujuan tujuan
(pengolahan, pedagang) maupun pasar sebagai konsumen akhir.
1.3. Ruang Lingkup
2
1.3.1. Lingkup Kawasan Agribisnis
Penentuan KITAPMAS di suatu wilayah, diarahkan pada wilayah-wilayah yang
memiliki potensi pengembangan pertanian dalam arti luas, yaitu tanaman pangan, ,
kehutanan dan peternakan serta harus ditunjang dengan ketersediaan sarana dan
prasarana di wilayah itu termasuk pasar. Lingkup kawasan tidak dibatasi dengan batas
administratif, tetapi ditentukan oleh fungsi ekologisnya, termasuk fungsi hidrologisnya.
Dengan demikian, maka lingkup kawaan bisa relatif luas dapat terdiri dari beberapa
wilayah kecamatan, dapat juga relatif kecil terdiri dari satu atau lebih wilayah desa
dalam satu kecamatan.
Besar kecilnya Kawasan ini tidak terlepas dari pada faktor potensi dan fungsi
kawasan, serta posisi geografisnya. Adanya perbedaan jarak yang panjang
memungkinkan perlunya pemisahan kawasan, sedangkan jarak terpendek antar
kawasan potensial cenderung membentuk satu kesatuan Kawasan.
Dalam kaitannya antara batas administratif dengan faktor jarak geografis
terhadap kemungkinan terbentuknya kawasan, ada kemungkinan ditemukannya
pemisahan dari suatu wilayah Kecamatan dan masuk membentuk kawasan baru di
wilayah kecamatan lainnya. Kemungkinan ini dapat saja terjadi di seluruh wilayah
kabupaten, terutama wilayah-wilayah yang berbatasan langsung secara fisik. Hal ini
ditunjukkan pada Gambar 1 berikut.
3
WILAYAH MAKRO
Impact Areas
U1 DEVELOPMENT
AREA KITAPMAS
Ux
U2 MARKET
AREA I
OUTLET
Toko, Kios,
Pasar
Pedagang
Pedagangan luar daerah
(MARKET AREA ll)
Gambar 1. Konsep pengembangan KITAPMAS - Ubikayu
1.3.2. Lingkup Materi
Lingkup substansi pengembangan KITAPMAS Ubikayu adalah sebagai berikut:
I. Kebijakan pengembangan tata ruang dan pewilayahan komoditi unggulan.
Kebijaksanaan ketata-ruangan berkaitan dengan struktur pengembangan wilayah
dan pengembangan sektoral yang dijabarkan dalam pokok-pokok Penetapan
Kawasan.
II. Identifikasi komoditas unggulan wilayah : tanaman hutan, tanaman pangan,
hortikultura, dan peternakan.
III. Kecenderungan perkembangan wilayah KITAPMAS, dapat diidentifikasi potensi
yang meliputi a.l.:
4
a. Potensi yang terkandung, baik yang sudah dimanfaatkan, belum
dimanfaatkan dan diperkirakan ada, termasuk di dalamnya identifikasi
komoditas unggulan kawasan.
b. Prospek dan kemungkinan pengembangan komoditas pertanian di masa
mendatang, baik menyangkut produksi peningkatan nilai tambah maupun
pemasarannya, menuntut perlunya kawasan pengembangan sentra
produksi. Karena peluang di masa mendatang menghadapi era globalisasi
paling tidak dapat meng-antisipasi kemampuan daya saing produksi ,
pemasaran dan pangsa pasar yang dapat diraih.
IV. Penyusunan Skenario Pengembangan KITAPMAS Ubikayu. Skenario
pengembangan kawasan ditempuh melalui skala prioritas pemanfaatan ruang dan
skala priontas kegiatan pengembangan komoditas. Skenario pengembangan berisi
pola pemanfaatan ruang dan struktur ruang, yaitu pengembangan komoditas
unggulan dan komoditi penunjang serta sistem prasarana pendukungnya.
V. Perumusan program pengembangan sektor, komoditas unggulan dan sistem
prasarana. Rumusan program pengembangan berisi program-program
pengembangan sektor, komoditas dan sistem sarana dan prasarana pendukung.
VI. Perumusan program-program pengembangan yang terpilih. Program ini merupakan
interaktif antara kondisi, kemampuan pembiayaan dan kelembagaan dengan
pengembangan kawasan serta kebutuhan sarana dan prasarana pendukungnya,
di mana proses ini dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, sehingga
menghasilkan suatu tatanan program yang terarah. Rumusan program ini berisi
rencana program pengembangan kawasan yang meliputi: besaran penyediaan,
lokasi spesifiknya, aspek pembiayaan, manajemen pelaksanaannya , dan tahapan
pengembangan.
VII. Sistem Informasi pemasaran hasil produksi. Sebagai upaya untuk menarik minat
dunia usaha dan dapat melakukan investasi di kawasan sentra produksi, informasi
mengenai peluang pengembangannya perlu disebar-luaskan. Media informasi
yang digunakan berupa peta dan leaflet yang berisi potensi pengembangan
kawasan, dukungan yang ada dan rencana-rencana investasi.
II. POKOK-POKOK KONSEP KITAPMAS-UBIKAYU
2.1. Konsep kelembagaan:
RANCANGAN KITAPMAS (Kawasan Industri Tapioka Milik Masyarakat )
MANAJEMEN PENDANAAN DAN TEKNOLOGI
PROFIL INVESTASI
5
LITBANG Teknol Koperasi KITAPMAS
dana
POSYANTEK KITAPMAS UBIKAYU
& 100 - 500 ha
SIM-Pasar
SENTRA PRODUKSI
S.Pr
SENTRA PENGOLAHAN SENTRA PERDAGANGAN
S.Pg S.Pd
OUTLET
6
KETERKAITAN ANTAR CLUSTER DALAM KITAPMAS UBIKAYU
CLUSTER
ALSINTAN
PRODUK
S.Pr S.Pg OLAHAN CLUSTER PASAR
Produk Produk regional
Unggulan OLAHAN
- Pupuk
- Pestisida Bahan LIMBAH
- Herbisida penolong INDUSTRI
LIMBAH / CLUSTER
CLUSTER hasil ikutan Pemasaran
Saprotan transportasi
CLUSTER CLUSTER Pasar
Industri Industri PROMOSI Nasional
hasil pengolahan Kemas &
ikutan limbah packaging
SISTEM PERBANKAN DAN ASURANSI
KELEMBAGAAN KOPERASI PENGELOLA KITAPMAS
7
KOPERASI KITAPMAS
AMANAH & PROFESIONAL
UNIT
LKU
POSYANTEK
(KTP)
UNIT PRODUKSI: UNIT PEMASARAN
S.Pr S.Pd.
S.Pg
2.2. Skenario Pengembangan
Skenario master plan KITAPMAS UBIKAYU disusun melalui penyusunan
program-program secara terarah dan benar ke dalam tahapan-tahapan kegiatan yang
harus dilalui (identifikasi, skenario, program pengem-bangan dan program terpilih).
Setiap tahapan program / kegiatan harus dapat mencerminkan alur proses input dan
output yang dapat dikendalikan dari acuan dan atau parameter kinerja sehingga
program yang dikembangkan sebagai program terpilih mengikuti kerangka pemikiran
Master Plan KITAPMAS-Ubikayu.
Skenario rencana tindak dan rencana implementasi yang merupakan
pengembangan lanjutan dari program Master Plan yaitu berupa program terpilih,
selanjutnya disusun secara sistematis untuk memahami muatan-muatan apa saja yang
8
dapat dijabarkan / diimplementasikan (dalam satuan; volume, biaya, waktu, sumber
pembiayaan dan pengelolaannya) dalam setiap program berdasarkan sasaran. Dalam
hal ini, program-program yang dimaksud adalah program-program yang memiliki
kriteria tertentu yang telah ditetapkan.
Setiap program dilengkapi dengan pola-pola pengembangan pelaksanaan yang
mengacu dan memperhatikan seberapa besar dukungan yang ada untuk mengetahui
kemudahan-kemudahan maupun kendala-kendala pengembangan usaha di suatu
kawasan pengembangan.
Kepentingan tersebut di atas dimaksudkan untuk memberikan informasi awal
bagi masyarakat dan investor, misalnya adanya aspek pembiayaan dan mekanisme
insentif dan dis-insentif. Di dalam program-program terpilih dari satuan program, ada
program yang dapat langsung dilaksanakan (action) tanpa melalui tahapan profil
investasi, misalnya program peningkatan sumberdaya manusia melalui sistem
pelatihan. Profil investasi dalam hal ini adalah suatu tahapan program yang masih
perlu diperkenalkan kepada masyarakat melalui kegiatan penyuluhan/promosi yang
dapat diadakan setiap saat.
9
KAWASAN YANG ADA: Kab. Ponorogo
Kawasan yang telah berfungsi sentra produksi
Kawasan yang telah memperoleh berbagai program
pembangunan, yang hasilnya dapat dioptimalkan untuk
pengembangan produksi dalam jangka pendek
Kawasan potensi dan strategis untuk dikembangkan dan telah
memperoleh berbagai program pembangunan dari sektor.
PENETAPAN KAWASAN KITAPMAS-UBIKAYU
MASTER PLAN KITAPMAS
ACTION PLAN KITAPMAS
IMPLEMENTATION PLAN KITAPMAS
Gambar 2. Diagram alir penyusunan rencana induk, rencana aksi dan rencana
implementasi KITAPMAS
Sementara itu, dalam upaya menyiasati pemerataan pembanguanan daerah
dan pemberdayaan masyarakat, wilayah Kabupaten Ponorogo dapat dibagi ke dalam
beberapa koridor pertumbuhan. Pembagian wilayah ini selain didasarkan pada aspek
geografis, juga oleh faktor kesamaan struktur ekonomi, dan taraf perkembangan
wilayah. Seperti diketahui, bahwa berdasarkan karakteristik geo-ekonomi wilayah, ada
beberapa koridor pertumbuhan DI wilayah Kabupaten Ponorogo.
III. METODOLOGI PENGEMBANGAN KITAPMAS UBIKAYU
Pendekatan KITAPMAS memandang kawasan sebagai suatu sistem agribisnis
terpadu, yakni input, proses dan output. Dari sudut pandang ini KITAPMAS harus
mempertimbangkan segala sesuatu yang berkaitan dengan proses produksi bidang
agrokompleks. Dengan demikian kajian yang berkaitan dengan penyediaan input di
10
dalam KITAPMAS, pengolahan sumberdaya dan jenis produk yang dihasilkan perlu
dilakukan, sehingga dapat ditentukan besaran komoditas yang akan dikembangkan.
Mengenali permasalahan yang dihadapi dalam rangka pengembangan komoditas
tersebut.
Kawasan KITAPMAS lebih difokuskan kepada kegiatan agribisnis berkelanjutan
khususnya sistem “tiga strata” dengan komoditas yang telah ditetapkan sebagai sektor
unggulan. Sektor unggulan ini selanjutnya dikembangkan sebagai sektor penggerak
utama.
Dalam kaitannya dengan rencana ruang yang ada, kegiatan ini merupakan
upaya untuk mengisi dan mengoptimalkan pemanfaatan ruang yang mengacu pada
rencana tersebut, sekaligus secara interaktif memberikan umpan balik bagi
penyempurnaan rencana itu sendiri. Sedangkan dari sisi output, dimaksudkan untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat dan daerah, serta sekaligus ikut
melestarikansumberdaya lahan kritis.
Keberadaan KITAPMAS Ubikayu ini menjadi penting sebagai acuan lokasi
investasi bagi pemerintah dan swasta, khususnya dalam upaya untuk mencapai
efisiensi, efektifitas dan nilai tambah. Pendekatan ini diharapkan dapat menjadi salah
satu upaya untuk mengoptimalkan pemberdayaan sumberdaya wilayah yang ada dan
dapat mempermudah perumusan dukungan pembangunan sarana - prasarana
penunjang pengembangan KITAPMAS dalam arti luas.
3.1. Kegiatan Data-base Management System
Survei lapangan dimaksudkan untuk merekam kondisi eksisting dan potensi
pengembangan komoditas UBIKAYU yang ada di lapangan. Sejumlah wilayah yang
ada dapat digunakan sebagai wilayah contoh analisis. Wilayah analisis tersebut
secara rinci ditunjukkan pada Tabel 2.
Tabel 2. Wilayah Penyusunan rencana Induk, Rencana Aksi, dan Rencana
Implementasi KITAPMAS-Ubikayu di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.
Nama Wilayah Kecamatan Desa Luasan Komoditi
Unggulan
3.2. Sistem lnformasi Geografis (SIG)
Hasil kajian data eksisting, baik dari hasil survei instansional maupun survei
lapangan, dianalisis menurut kritena-kriteria berdasarkan tingkat kebutuhan dalam
pembuatan master plan pengembangan KITAPMAS-Ubikayu. Sementara itu, metoda
analisis yang dilakukan dengan Sistem Informasi Geografis adalah untuk menetapkan
secara kewilayahan hasil analisis data struktural (dengan menggunakan cluster
analysis), sehingga secara terintegrasi dapat disajikan deskripsi menyeluruh tentang
rencana pengembangan KITAPMAS-Ubikayu yang diunggulkan di wilayah LESMAS
Kabupaten Ponorogo.
11
Kontribusi Sistem Informasi Geografis pada tahap pembuatan master plan
dalam hal ini berfungsi sebagai alat bantu (tools) analisis terhadap aspek keterkaitan
spasial dengan data non-spasial . Sistem Informasi Geografis juga merupakan alat
bantu untuk menghasilkan output (master plan).
Metoda pendekatan Sistem Informasi Geografis ini diharapkan dapat
mempermudah dan mempercepat analisa terhadap aspek keruangan dan non
keruangan dibandingkan dengan cara manual.
Adapun sasaran yang ingin dicapai dengan menggunakan metode SIG adalah:
a. Kemudahan penyajian Informasi peta-peta
b. Efisiensi analisa spasial.
c. Sinkronisasi data spasial dan non spasial
d. Validasi dan keakuratan data
e. Kemudahan dalam menentukan letak (posisi geografis), jarak dan luasan.
3.3. Kegiatan Pengembangan Kawasan
Penentuan kawasan dilakukan berdasarkan pada pengertian fungsi pelestarian
sumberdaya lahan dalam arti luas, yaitu fungsi konservasi dan fungsi produksi. Semua
wilayah kecamatan memiliki potensi yang sama untuk diseleksi berdasarkan potensi
komoditi kehutanan, pertanian tanaman pangan & hortikultura, peternakan dan ,
berikut sarana dan prasarana penunjang yang terdapat di setiap WILAYAH.
Skenario pengembangan KITAPMAS-Ubikayu terpilih ditempuh melalui skala
pengembangan kawasan sbb:
Pertama, pemilihan KITAPMAS prioritas, ditujukan untuk memudahkan
pengarahan pemanfaatan ruang yang bergulir / bertahap, terarah
sesuai dengan kemampuan pembangunan terbatas.
Ke dua, pengisian ruang KITAPMAS dapat dilakukan secara bertahap,
sehingga diperlukan adanya sekala prioritas.
Dengan skenario tersebut, maka program pengembangan KITAPMAS ubikayu
di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dapat disajikan secara terintegrasi dan
menyeluruh.
IV. OPERASIONAL PELAKSANAAN PEMBANGUNAN KITAPMAS UBIKAYU
4.1. Batasan Istilah
4.1.1. Kawasan Sentra Produksi KITAPMAS
Sentra adalah suatu hamparan komoditas bersekala ekonomi di suatu wilayah
agroekosistem, dimana wilayah terebut dilengkapi dengan sarana-prasarana yang
dibutuhkan, kelembagaan, pengolahan/pemasaran, dan sektor lain yang menunjang
perkembangan dari sentra komoditas tersebut.
4.1.2. Komoditas Andalan
12
Komoditas andalan adalah sejumlah komoditas (tanaman ) yang dapat dibudi-
dayakan /dikembangkan di suatu kawasan berdasarkan analisis kesesuaian
agroekologi (analisis kesesuaian lahan)
4.1.3. Komoditas Unggulan
Komoditas unggulan adalah salah satu komoditas andalan yang paling
menguntungkan untuk diusahakan/dikembangkan di suatu kawasan yang mempunyai
prospek pasar dan peningkatan pendapatan/kesejahteraan petani dan keluarga serta
didukung oleh potensi ketersediaan lahan yang memadai.
4.1.4. Komoditas Penunjuang
Komoditas penunjang ialah komoditas-komoditas lain yang dapat dipadukan
pengusahaannya dengan komoditas pokok (unggulan) yang dikembangkan di suatu
kawasan dalam rangka optimalisasi pemanfaatan sumberdaya (lahan, tenagakerja,
sarana/prasarana) dan peningkatan pendapatan petani melalui peningkatan produksi
maupun keterpaduan pengusahaannya akan meningkatkan efisiensi/saling
memanfaatkan.
4.1.5. Agribisnis
Agribisnis merupakan suatu kegiatan penanganan komoditas secara
komprehensif mulai dari hulu sampai hilir (pengadaan dan penyaluran agro-input,
proses produksi, pengolahan dan pemasaran).
4.1.6. Sekala Ekonomi Agribisnis Komoditas Unggulan
Suatu luasan/besaran usahatani komoditas unggulan yang dapat menghasilkan
volume produksi tertentu untuk memenuhi kebutuhan pasar/agroindustri (sekala
kecil/sedang/besar) di kawasan tertentu.
4.2. Cakupan PEKERJAAN
Beberapa aspek yang harus dicakup dalam Perancangan KITAPMAS adalah
sbb:
4.2.1. Penetapan Lokasi dan Sasaran Jenis Usaha
Pemilihan lokasi didasarkan atas ketersediaan lahan, kesesuaian lahan serta
agroklimatnya, kesiapan prasarana, ketersediaan tenagakerja serta sumberdaya lain
yang membentuk keunggulan lokasi yang bersangkutan.
Pemilihan komoditas utama dan penunjang serta jenis usahanya didasarkan
atas potensi menghasilkan keuntungan, potensi pemasarannya, kesiapan dan
penerimaan masyarakat atas jenis usahatani yang akan dikembangkan, serta kesela-
rasan dengan kebijakan pembangunan daerah.
Untuk menduga keunggulan wilayah serta komoditas yang akan diplih dilakukan
analisis kuantitatif dan kualitatif yang memperhatikan faktor-faktor ekologi, ekonomi
dan sosial.
4.2.2. Penentuan Kegiatan yang Dilakukan
13
Penentuan kegiatan yang perlu dilakukan didasarkan atas analisis kondisi saat
ini dan kondisi yang diinginkan, yang dirinci menurut komponen-komponen penting
sistem agribisnis, yaitu target group, ketersediaan dan kesesuaian lahan, dan
prasarananya, ketersediaan sarana produksi, kemampuan pengelolaan budidaya,
penanganan pasca panen, pemasaran, dukungan prasarana dan kelembagaan.
Dari analisis tersebut dapat diketahui upaya dan kegiatan yang diperlukan untuk
mewujudkan sentra agribisnis KITAPMAS, dalam satuan volume yang jelas.
Keseluruhan kegiatan tersebut selanjutnya diuraikan menurut tahapan per tahun,
disesuaikan dengan kondisi fisik lokasi, kondisi sosial ekonomi serta tingkat
kemampuan masyarakat. Desain lokasi sentra tersebut harus dilengkapi dengan
gambar fisiknya untuk mengetahui volume serta lokasi yang tepat atas pembangunan
dan kegiatan fisik yang diperlukan.
4.2.3. Rincian Kegiatan Sinergis Lintas Sektoral
Tahapan kegiatan tahunan tersebut selanjutnya diuraikan menurut kegiatan
serta institusi yang harus memberikan kontribusi terhadap pembangunan KITAPMAS.
Secara garis besar hal ini dapat disajikan dalam bentuk matriks keterpaduan
pengembangan KITAPMAS . Kegiatannya a.l. meliputi:
(a). Pengembangan Sentra Produksi: Kebun Ubikayu-rakyat
Kebun ubikayu-rakyat dirancang sebagai Kebun Tiga Strata, Strata pertama
adalah pohon pagar (jati-mas) dan naungan (sengon); Strata kedua tanaman ubikayu;
dan strata ke tiga adalah cover-crop berupa jenis-jenis legum pakan ternak.
Pengembangan budidaya, baik komoditas unggulan maupun komplementernya,
diidentifikasi menurut volume fisik yang jelas. Garis besar kegiatannya meliputi
persiapan lahan dan kelompok petani, pelatihan usahatani, penyediaan agroinput, alat
pertanian, dan penyelenggaraan penyuluhan & pendampingan. Pembinaan teknis
budidaya, cara memanen dan cara untuk mempertahankan kualitas produk, perlakuan
pasca panen, dilaksanakan berkerjasama dengan DISBUN Kabupaten Ponorogo.
Pembinaan manajemen perencanaan, pelaksanaan dan koordinasi dilaksanakan oleh
DISBUN Kabupaten Ponorogo bekerjasama dengan instansi terkait, termasuk LPM
Unibraw.
(b). Pembinaan Pasca Panen /Pengolahan Hasil dan Promosi /
Pemasaran
Peningkatan ketrampilan teknis dalam penanganan pasca panen seperti cara
memanen, mengumpulkan dan menyeleksi hasil panen serta peralatan yang diperlukan
untuk mempertahankan kualitas hingga cara pengolahan produk untuk meningkatkan
nilai tambah serta meningkatkan kemampuan pemasaran, khususnya yang menyang-
kut produk unggulan KITAPMAS, dilaksanakan melalui program-program sektoral
Dinas Kabupaten Ponorogo. Untuk melaksanakan pembinaan dengan sarana yang
tersedia di wilayah secara lebih optimal maka kerjasama dengan jajaran instansi
perindustrian dan perdagangan setempat harus dilakukan. Sinergi kegiatan hanya
dapat dicapai dengan koordinasi perencanaan dan pembagian tugas yang jelas.
(c). Pembinaan Pengembangan Usaha
14
Kelompok kegiatan yang menyangkut peningkatan kemampuan mengelola
usaha dan melaksanakan kemitraan dengan pedagang, eksportir maupun industri
pengolahan pangan dilaksanakan melalui pembinaan Kelompok Usaha Bersama ke
arah Koperasi KITAPMAS, pembentukan forum komunikasi, pelaksanaan temu-temu
usaha, pelatihan kewira-usahaan, dan peningkatan kemampuan BPP sebagai pusat
konsultasi dan pelayanan agribisnis. Berbagai kegiatan tersebut dapat dilaksanakan
oleh proyek-proyek sektoral yang dikelola oleh Dinas dan instansi lain, termasuk
Pemkab Ponorogo yang mengelola dana APBD.
(d). Kegiatan Penunjang
(1). Pelayanan Sarana Produksi
Lembaga pelayanan ini diperlukan untuk membantu penyediaan sarana
produksi dan peralatan yang dibutuhkan para petani , pedagang dan
pengolah untuk melaksanakan kegiatan usahanya. Pelaytanan ini harus
ada untuk menjamin keter sediaan sarana usahatani tepat waktu, jumlah,
dan harga yang wajar. Instansi pemerintah setempat harus mampu
menciptakan iklim usaha dan memberikan dukungan agar koperasi atau
epengusaha dapat emenjalankan fungsinya secara wajar. Diperlukannya
rekomendasi berbagai program insentif untuk mendorong tumbuhnya
lembaga pelayanan, khususnya untuk lokasi yang terpencil.
(2). Pelayanan informasi teknologi spesifik lokasi
Diidentifikasi jenis teknologi spesifik yang diperlukan untuk pembangunan
KITAPMAS. Pelayanan ini mencakup pemilihan kultivar dengan kualitas
tinggi yang secara ekonomis dapat diproduksi di lokasi setempat, teknologi
perbanyakan benih/bibit, teknologi budidaya, pascapanen, pengolahan
primer, sekunder hingga pengemasan produk segar maupun olahannya.
Kerjasama peneliti-penyuluh dalam hal alih teknologi kepada petani harus
dilakukan secara sinergis dan intensif.
(3). Pelayanan Perlindungan Tanaman
Kegiatan perlindungan yang harus mengawali pelaksanaan KITAPMAS
terutama adalah pengawasan sebagai tindakan preventif serta metode
penanggulangan hama dan penyakit yang mungkin mengganggu tanaman
serta komoditas penunjangnya. Hal ini sangat penting untuk mencegah
kerugian akibat kegagalan panen atau penurunan kualitas produk.
Pelayanan ini perlu dirinci dengan volume dan jenis kegiatan yang jelas,
dialokasikan pada proyek yang dikelola Dinas-dinas teknis terkait melalui
Balai Perlindungan atau institusi lain.
(4). Pelayanan perbenihan/Pembibitan
Institusi penangkar benih dan bibit di setiap propinsi harus mengalokasikan
kegiatan untuk mendukung pengembangan komoditas unggulan
KITAPMAS . Kegiatan yang diperukan beragam dan perlu dirinci menurut
volume dan jenis. Aspek ini mencakup pengadaan benih induk, benih
utama, bibit siap tanam, pengawasan dan sertifikasi , serta pembinaan
petani penangkar , khususnya untuk tanaman unggulan serta komoditas
penunjangnya.
(5). Pemberdayaan Penyuluhan & Pendampingan
15
BIPP ditingkatkan kemampuannya agar dapat memberikan kontribusi
sesuai dengan fungsinya, sebagai tempat bertanya, berlatih, berbagi
pengalaman antar petani dan tempat pertemuan antara petani, pedagang
dan pengelola usaha . Untuk itu perlu dipersiapkan SDM serta perangkat
keras dan lunak yang memadai untuk menjalankan fungsi pusat informasi
dan pelayanan teknologi (POSYANTEK) .
(6). Pengairan
KITAPMAS memerlukan air untuk budidaya, pasca panen, dan kegiatan
penunjang lainnya. Kebutuhan air bersih akan meningkat kalau telah
terdapat kegiatan pengolahan, terutama dalam bentuk industri berbasis
pangan. Program pengairan yang dikelola oleh instansi Pekerjaan Umum
diminta untuk mengalokasikan kegiatan penyediaan sumber air dan saluran
pengairan untuk KITAPMAS ini. Koordinasi dengan Pemda dan instansi
terkait sangat penting untuk mengarahkan kegiatan fisik yang tepat pada
lokasi yang tepat pula.
(7). Transportasi
Sarana transportasi sangat vital dalam membangun KITAPMAS dengan
demikian program pembangunan sarana transportasi yang dikelola oleh
instansi Pekerjaan Umum dan Perhubungan harus menjamin tersedianya
prasarana jalan serta fasilitas transportasi yang memadai di kawasan
sentra produksi, yang menghubungkannya dengan pusat-pusat pelayanan
dan pemasaran.
(8). Energi
Energi diperlukan antara lain dalam proses budidaya unggas untuk mesin
penetas dan inkubator, serta proses penanganan pasca panen hasil
tanaman dan perikanan, terutama untuk alat pengeringan, pengupasan,
sortasi, pengolahan, perlakuan pemanasan, pendinginan dan sebagainya.
Energi yang dibutuhkan dapat berupa listrik, bahan bakar minyak, gas atau
bahan bakar dari limbah tanaman seperti kulit, kayu dan ranting hasil
pangkasan.
(9). Sarana dan Prasarana Pemasaran
Sarana dan prasarana pemasaran, seperti tempat penampungan, alat-alat
penyimpanan dengan fasilitas pendingin, alat-alat pengepakan, informasi
harga serta fasilitas fisik pasar yang memadai, sangat vital dalam
pengembangan snetra agribisnis. Kebutuhan fasilitas ini sangat beragam
sesuai dengna komoditas unggulannya.
(10). Lembaga Keuangan/Permodalan
Tersedianya lembaga keuangan dan permodalan sangat epenting bagi
para pelaku usaha agribisnis, sehingga harus diusahakan di lokasi sentra
atau loaksi yang snagat mudah dicapai dari kawasan sentra, dengan biaya
transportasi dan biaya administrasi yang minimum. Kerjasama antara
Pemda dengan instansi terkait diperlukan untuk menyediakan sumber
modal yang dapat diakses dengan prosedur yang cepat dan murah.
4.3. Jenis dan Sumber Data
16
Data dan informasi yang dikumpulkan diarahkan untuk dapat memberikan
gambaran tentang tata ruang wilayah Kabupaten Ponorogo serta peruntukannya untuk
pengembangan KITAPMAS. Dari peta kesesuaian lahan yang dihasilkan oleh
RePPProT dan PPTA dapat diidentifikasikan kesesuaian lahan tersebut untuk
pengembangan komoditas KITAPMAS. Identifikasi komoditas yang dapat diusahakan
pada kawasan tersebut juga penting sebagai bahan pertimbangan untuk penyusunan
rencana pengembangan.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara:
a. Menggunakan data sekunder, baik yang berasal dari data RUTR Kabupaten
Ponorogo yang telah dikumpulkan instansi pemerintah daerah setempat
maupun yang berasal dari studi-studi lain
b. Peta sistem lahan/kesesuaian lahan dari hasil Studi RePPProT
c. Peta Kesesuaian Lahan Komoditas Pertanian yang dihasilkan oleh PPTA
dan Proyek Pengembangan Sumberdaya, Sarana dan Prasarana Pertanian.
d. Peta Status lahan/penggunaan lahan dari BPN
e. Mengumpulkan data langsung di wilayah melalui instansi/lembaga di
kabupaten atau pengamatan langsung di lapangan.
4.4. Metode Analisis Pengkajian Komoditas Ubikayu
4.4.1. Seleksi Komoditas: Tanaman Ubikayu-rakyat
Dalam penelitian ini seleksi komoditas yang nantinya merupakan alternatif
komoditas yang akan dikembangkan di suatu kawasan dengan kondisi sumberdaya
alam dan lingkungan tertentu. Inventarisasi dilakukan terhadap komoditas yang banyak
diusahakan oleh penduduk setempat di wilayah analisis. Seleksi dilakukan terhadap
sejumlah komoditas yang terdapat pada sejumlah dokumen, baik yang berasal dari
hasil-hasil penelitian di lingkungan Perguruan Tinggi, maupun dari penelitian Badan-
badan LITBANG di lingkungan Departemen HUTBUN dan Dept. Pertanian, Industri &
Perdagangan dan BPS.
Kriteria yang digunakan sebagai dasar seleksi tertumpu pada segi tekniknya
untuk dikembangkan lebih lanjut serta potensi pasarnya baik domestik maupun ekspor,
nilai tambah ekonomi bagi petani serta dampaknya terhadap kesempatan kerja. Dari
seleksi ini akan didapatkan beberapa komoditas terpilih baik berupa tanaman pangan,
, hortikultura, ternak dan perikanan.
4.4.2. Analisis Budidaya dan Pengkajian Kelayakan Usaha
Uraian tentang profil komoditas yang akan disajikan diusahakan agar pembaca
memperoleh gambaran tentang persyaratan tumbuh, penyebaran komoditas saat ini,
teknik budidaya yang cukup memadai dan tingkat kelayakan untuk diusahakan. Untuk
beberapa komoditas tertentu juga akan disajikan informasi mengenai industri
pengolahan baik dari aspek teknis, investasi maupun prospek pasarnya.
Tujuan analisis ini terutama digunakan sebagai masukan guna mengadakan
estimasi terhadap dampak pengembangan komoditas yang terutama akan
17
menggunakan tolok ukur penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan
petani. Disamping itu informasi yang diperoleh dari profil komoditas diharapkan dapat
digunakan sebagai indikator awal tentang kelayakan komoditas yang bersangkutan.
Hal ini akan bermanfaat bagi investor , perbankan, para perencana serta pelaksana
kebijakan di lapang. Sesuai dengan makna sebuah "profil" maka informasi yang
disajikan masih memerlukan penelitian dan pengkajian yang lebih rinci atau lebih
dalam lagi dari berbagai segi sebelum dapat digunakan untuk tujuan penerapan di
lapangan.
Uraian tentang teknik budidaya meliputi sejak persiapan, pemeliharaan sampai
dengan pemungutan hasil. Berdasarkan pada teknologi budidaya yang diterapkan di
lapang saat ini, dengan penyesuaian seperti yang dianjurkan oleh lembaga inovasi
teknologi . Selain itu pemilihan teknologi terutama didasarkan pada kemampuan
produsen , baik dari segi managerial maupun parsialnya. Pertimbanagn yang sama
juga berlaku bagi industri pengolahan dengan mempertimbangkan skala yang mema-
dai dan kemungkinan tersedianya bahan baku. Modal usahatani maupun industri
pengolahan diasumsikan berasal dari perbankan, sehingga tingkat bunga harus
disesuaikan.
Lama analisis keuangan atau finansial yang dilakukan akan bervariasi
disesuaikan selama satu siklus umur komoditas dengan sekala usaha tertentu
(misalnya luasan satu hektar). Untuk mengetahui tingkat kelayakan usahanya
digunakan beberapa tolok ukur yaitu pendapatan B/C, NPV atau IRR, khusus untuk
tanaman semusim dapat digunakan pendapatan dan R/C.
4.4.3. Strategi Analisis
Untuk memudahkan analisis dan evaluasinya, maka perancangan KITAPMAS
UBIKAYU ini dibagi menjadi tujuh bidang meliputi :
(1). Kesesuaian LAHAN dan Lingkungan
Suatu tanaman untuk dapat berproduksi secara baik harus hidup dan
tumbuh pada daerah yang memenuhi persyaratan khusus. Di antara
masing-masing komoditas memerlukan persyaratan yang berbeda. Tiga
faktor lingkungan tumbuh yang paling berperan dalam pembudidayaan
tanaman adalah kualitas tanah (Tanah kapur dan Tanah Vulkanik), Curah
hujan (Daerah basah dan Daerah kering) dan Ketinggian tempat (Dataran
rendah, Dataran Menengah dan Dataran Tinggi).
(2). Pewilayahan Daerah Penyebaran
Kajian kawasan pengembangan secara makro dilakukan di seluruh wilayah
. Setelah diketahui syarat lingkungan tumbuh komoditas, maka perlu juga
ditentukan wilayah yang kondisi lingkungannya memungkinkan untuk
dikembangkan. Sehingga sentra produksi yang selama ini hanya terletak
pada wilayah tertentu lokasinya dapat diperluas. Ini membuka peluang
untuk meningkatkan kesempatan menciptakan lapangan kerja. Di samping
itu usaha untuk meningkatkan volume eksport non-migas segera dapat
terealisir.
18
(3). Paket Teknologi Budidaya dan Kondisi Sosio-Teknologi
Produktivitas komoditas dapat tercapai dengan baik apabila diupayakan
dengan cara yang benar. Meskipun pemilihan lokasi sudah sesuai dengan
syarat lingkungan tumbuh, namun apabila sistem budidaya yang diterapkan
tidak tepat, maka produksi tanaman tidak akan sesuai dengan potensi yang
ada. Oleh karena itu untuk optimasi produksi diperlukan penerapan
teknologi budiaya secara terpadu mulai dari persiapan sampai pasca
panen. Usaha-usaha yang dapat ditempuh meliputi, pengolahan tanah,
penggunaan benih/bibit bermutu, sistem tanam, pemeliharaan serta
pemungutan hasil.
(4). Penanganan Pasca panen dan Pengolahan hasil
Hasil bumi yang diperoleh petani, fluktuasi harganya tidak dapat ditentukan
dengan pasti. Ini sangat tergantung kepada daya serap pasar. Pada saat
pasar kekurangan stok, harga komoditas pertanian melojak tinggi, namun
sewaktu terjadi panen raya, harga akan turun drastis. Untuk mengatasi
masalah ini diperlukan teknologi pasca panen yang mampu mengubah
bahan mentah menjadi bahan olah yang tahan lama. Sehingga kontinuitas
dan kuantitas barang di pasar dapat diatur.
(5). Analisis Finansial dan Ekonomi
Pertama kali yang mendorong petani melakukan usaha tani adalah tingkat
pendapat (income) yang diperoleh per luasan areal yang diusahakan per
satuan waktu. Semakin tinggi keuntungan yang diperoleh , maka minat
petani untuk mengusahakan akan semakin tingii pula. Oleh karena itu
penentuan jenis komoditas yang diusahakan akan sangat ditentukan oleh
analisis usaha taninya. Dengan mengetahui analisis ushatani dengan
sendirinya petani akan megusahakannya.
(6). Pemasaran Hasil
Disamping analisis usaha tani, faktor lain yang sangat menentukan minat
petani untuk melakukan usaha tani adalah masalah pemasaran, terutama
yang berkenaan dengan efisiensi pemasaran, peluang pasar, dan
perimbangan supply/demand. Meskipun nilai keuntungan yang diperoleh
petani tinggi, namun apabila pemasaran hasil sulit dilakukan, maka
petanipun akan enggan untuk mengusahakan. Hal ini tentunya dapat
diatasi dengan cara menciptakan pasar baru. Ini dapat ditempuh dengan
cara memperbaiki kualitas atau mengembangkan komoditas yang dapat
digunakan sebagai bahan baku industri. Dengan demikian masalah pema-
saran hasil dapat teratasi.
(7). Analisis kelembagaan
Tujuan dari analisis ini ialah untuk merekayasa kelem bagaan sosial-
ekonomi di tingkat pedesaan yang mampu menunjang penerapan Konsep
KITAPMAS. Hasil yang diharapkan ialah rancangan kelembagaan sosial
dan kelembagaan ekonomi di tingkat pedesaan yang dapat diakses oleh
19
petani dan Kelompok Tani, serta dapat mengakses kelembagaan pada
hierarkhi yang lebih tinggi.
Pada setiap tahap pengusahaan (usahatani) komoditas unggulan,
pemasaran dan pengolahannya diperlukan lembaga sosial-ekonomi
sebagai suatu wadah, pola organisasi dan atribut yang dibutuhkan oleh
para petani untuk dapat melakukan fungsinya. Lembaga sosial dapat
dibedakan dengan organisasi atau seringkali disebut dengan istilah
lembaga non-formal dan lembaga formal. Lembaga sosial timbul karena
kebutuhan masyarakat, berakar pada norma sosial dan peralatan yang
dimiliki oleh masyarakat, sedangkan organisasi pada umumnya dibentuk
dengan tujuan tertentu, dengan kegiatan anggota yang saling mengisi dan
tunduk pada aturan-aturan yang dibuat, agar bagian-bagian yang ada
dapat berfungsi efektif. Dalam konsep struktur pedesaan progresif
sebagaimana dikemukakan Mosher (1976), lokalitas usahatani dikemuka-
kan pula sebagai salah satu model yang dapat diterapkan untuk pencap-
aian tujuan. Beberapa komponen pokok dan penunjang adalah adanya
sarana kelembagaan yang menunjang dan pentingnya pendidikan
pembangunan bagi petani dalam proses transfer teknologi.
Suatu bentuk kelembagaan dengan ikatan-ikatan dan hubungan sosial-
ekonomi berdasarkan kebutuhan masyarakat diperlukan dalam
penanganan Sistem Agrikoman sehingga memberikan manfaat dan
memungkinkan keterlibatan penuh anggota-anggotanya. Menemukan
lembaga- lembaga tradisional yang tumbuh dalam komunitas pedesaan
khususnya dalam pengusahaan komoditi andalan, sejak penanaman,
pertanahan, pengerahan tenaga kerja, perkreditan, panen dan pengolahan
serta pemasaran hasil merupakan langhkah awal dalam upaya rekayasa
dan peningkatan fungsi kelembagaan tersebut. Selanjutnya, keberhasilan
dalam produksi menuntut adanya bentuk-bentuk kelembagaan yang lebih
besar dan berorientasi ekonomis sehingga mampu mengelola sistem
pertanian secara lebih efektif dan mampu meningkatkan kesejahteran
masyarakat.
Get documents about "