MODUL TEKNIK KONSTRUKSI BATU DAN BETON by jsilalahi

VIEWS: 7,247 PAGES: 71

									            Modul
PENGAJARAN TEKNIK KONSTRUKSI
      BATU DAN BETON




               Oleh:
            Fahmi Rizal
          Juniman Silalahi




     JURUSAN TEKNIK SIPIL
       FAKULTAS TEKNIK
  UNIVERSITAS NEGERI PADANG
             2010
                           KATA PENGANTAR

      Modul dengan judul      Pengajaran Teknik Konstruksi Batu dan Beton
merupakan bahan ajar yang digunakan sebagai panduan bagi mahasiswa
program Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang dilaksanakan di Jurusan Teknik
Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang. Modul ini terdiri dari Kegiatan
Belajar yang semuanya terkait secara langsung dalam pembinaan kompetensi
calon guru profesional. Kegiatan belajar disusun sedemikian rupa sehingga
pembinaan kompetensi profesional calon pendidik terbina secara runtut. Antara
satu kegiatan belajar dengan kegiatan belajar lainnya saling terkait dan bukan
merupakan bagian yang terpisah-pisah.
      Sesuai dengan program studi Pendidikan Teknik Bangunan, khususnya
pada pengajaran teknik konstruksi Batu dan Beton, maka modul ini dimulai
konstruksi batu dan dilengkapi dengan konstruksi beton. Kemudian disertai
dengan konstruksi atau pekerjaan pendukung lainnya. Dalam hal ini adalah
pembuatan batako dan paving blok.
      Dengan memahami modul ini pembinaan kompetensi mahasiswa calon
pendidik dapat berlangsung secara lebih efektif.
                               I.   PENDAHULUAN

                                    DESKRIPSI

         Modul ini terdiri dari beberapa kegiatan belajar yang mencakup teknik
konstruksi batu dan beton. Kegiatan belajar dimulai dengan perencanaan dan
menggambar pondasi batu kali lengkap dengan denah pondasi dan gambar
detailnya. Kemudian kegiatan belajar berikutnya memuat materi tentang
pemasangan pondasi batu kali, pemasangan batu bata, plesteran dan acian,
pemasangan kozen, pengetahuan tentang batako dan paving blok, serta
konstruksi beton dan beton bertulang.
         Pondasi dari suatu bangunan khususnya pada bangunan gedung adalah
suatu konstruksi dari bagian bawah bangunan yang berhubungan langsung
dengan tanah atas bagian bangunan yang terletak di bawah permukaan tanah
berfungsi meneruskan beban atau gaya di atasnya dan termasuk berat pondasi ke
tanah di bawahnya.
         Di atas pondasi di pasang dinding batu bata, baik dinding lurus, sudut
pertemuan, persilangan dinding, dan pilaster. Ikatan atau hubungan batu bata
yang banyak dilaksanakan di lapangan yaitu ikatan ½ batu bata untuk tembok
lurus, ikatan ½ batu bata pada sudut dan persilangan tembok, dan ikatan pilaster
tiang. Berikutnya menghitung bahan dasar untuk pekerjaan plesteran dan
pekerjaan plesteran bidang rata pada dinding tembok tegak. Menghitung volume
plesteran hias dan bahan-bahan plesteran hias yang digunakan. Mengetahui
tentang kegunaan dan cara-cara bagaimana menentukan ketebalan plesteran
hias. Mempraktekkan cara memplester dengan plesteran hias sistem tempel
tumpang-tindih maupun sistem tempel keruk.
         Selanjutnya memasang kusen pada dinding, termasuk mempersiapkan dan
menggunakan alat-alat dan bahan-bahan praktek dengan benar. Memasang
kusen dengan benar (tegak dan pada posisi as) pada ketinggian yang telah
ditentukan. Kemudian pengetahuan tentang pembuatan produk (batako dan
paving     blok),   termasuk    menentukan   bahan   yang   cocok,   menentukan
perbandingan bahan adukan, menghitung biaya produk, serta menguji dan
menentukan kualitas produk yang baik.
      Selanjutnya disajikan teori dasar bahan campuran beton, jenis dan
klasifikasi beton, merencanakan selimut beton, jenis peralatan pengaduk dan
pengecoran beton, dan pemadatan serta finishing beton. Semua kegiatan disusun
secara runtut sesuai dengan urutan pekerjaan yang berlangsung di lapangan.
                           PETA MODUL:


TEKNIK KONSTRUKSI BATU DAN BETON

BIDANG KEAHLIAN: TEKNIK SIPIL DAN BANGUNAN

ORIENTASI: MANDIRI

TKBB 01: Perencanaan dan menggambar pondasi batu kali
TKBB 02: Pekerjaan pondasi staal dan piler batu kali
TKBB 03: Pasangan batu bata
TKBB 04: Plesteran dan mengaci permukaan plesteran
TKBB 05: Pemasangan kusen pada dinding
TKBB 06: Pembuatan batako dan paving blok
TKBB 07: Teori dasar bahan campuran beton
TKBB 08: Jenis dan klasifikasi beton
TKBB 09: Merencanakan selimut beton
TKBB 10: Jenis peralatan pengaduk dan pengecoran beton
TKBB 11: Pemadatan serta finishing beton
                             PRASYARAT

      Untuk mempelajari dan menguasai modul ini terlebih dahulu mahasiswa
harus mempunyai pengetahuan dasar tentang bangunan gedung, khususnya yang
terkait dengan Teknik Konstruksi Batu dan Beton dan Menggambar Teknik. Selain
itu mahasiswa harus menguasai pengetahuan tentang alat kerja batu dan beton
dan pemakaiannya. Kemampuan awal ini sangat bermanfaat dalam menunjang
penguasaan materi modul ini secara cepat dan tepat sehingga sesuai sasaran
yang diharapkan.
                                               DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . i
DESKRIPSI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ii
PETA MODUL . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . iii
PRASYARAT . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . viii
DAFTAR ISI . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ix
PERISTILAHAN (GLOSSARY) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .                  1
PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
TUJUAN AKHIR MODUL . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .                 3
KEGIATAN BELAJAR . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
    1. Kegiatan Belajar 1 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
    2. Kegiatan Belajar 2 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
    3. Kegiatan Belajar 3 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
    4. Kegiatan Belajar 4 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
    5. Kegiatan Belajar 5 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
    6. Kegiatan Belajar 6 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
    7. Kegiatan Belajar 7 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
    8. Kegiatan Belajar 8 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
    9. Kegiatan Belajar 9 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
    10. Kegiatan Belajar 10 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
DAFTAR PUSTAKA . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .10
                                GLOSSARIUM

1.   Pondasi adalah merupakan bagian konstruksi yang penting dari bangunan
     dangunanya untuk menjaga kedudukan agar bagunan tetap mantap (stabil).
2.   Balok sloof adalah balok beton bertulang yang dipasang pada keliling
     bangunan dan juga pondasi di tengah bangunan di bawah lantai.
3.   Lapisan batu kosong adalah pasangan batu tanpa spesi pada bagian dasar
     pondasi dipasang setelah lapisan pasir dan pemadatannya dilakukan dengan
     timbris.
4.   Titik 0,00 adalah titik untuk menunjukkan muka atas lantai bangunan.
5.   Kedalaman pondasi adalah kedalaman pondasi diukur dari muka atas lantai
     (+0,00) sampai pada bagian terbawah pondasi/sampai tanah keras.
     Biasanya diberi tanda minus. Misalnya minus (-) 1,20 m.
6.   Batu bata adalah jenis bahan bangunan yang dibuat dari lempung atau tanah
     liat dengan atau tanpa tambahan bahan lain yang diaduk hingga pulen,
     dicetak, dikeringkan kemudian dibakar.
7.   Tebal Dinding adalah ketebalan dinding pasangan batu bata yang selalu
     dinyatakan dengan satuan bata (satu bata = panjang satu bata) misalnya
     tebal dinding satu bata berarti ketebalan dinding tersebut= satu kali panjang
     batu bata. Jika tebal dinding setengah bata berarti ketebalan dinding tersebut
     = setengah kali panjang batu bata.
8.   Spesi adalah campuran dari beberapa jenis bahan bangunan yang diaduk
     menjadi satu adonan dengan diberi air secukupnya sehingga menjadi satu
     kesatuan yang pulen. Spesi berfungsi sebagai perekat batu bata satu
     dengan lainnya.
9.   Strek adalah istilah lain yang biasa dipergunakan sebagai penganti dari
     panjang batu bata, misalnya pasangan strek atau lapisan strek berarti
     pasangan tersebut atau lapisan tersebut terdiri dari batu utuh.
10. Knop adalah istilah lain yang biasa dipergunakan sebagai pengganti dari
     lebar batu bata, misalnya pasangan kop atau lapisan kop berarti pasangan
     tersebut atau lapisan tersebut terdiri dari lebar batu bata.
11. Bareh adalah istilah yang umum dipakai di lapangan pekerjaan yaitu apabila
     terdapat atau terjadi siar tegak pada dua lapis berurutan sama atau segaris.
12. Plesteran hias adalah pekerjaan plesteran yang mengutamakan pada
     plesteran seni.
13. Sistem tempel tumpang tindih adalah sistem pekerjaan memplester hias
     dengan teknik memplester lapis demi lapis.
14. Sistem tempel keruk adalah sistem pekerjaan memplester hias dengan
     teknik setelah plesteran rata pada bagian-bagian tertentu dikeruk sesuai
     dengan desain yang diinginkan.
15. Skur : Biasanya terbuat dari kayu berfungsi untuk membuat kedudukan kuat
     dan stabil.
16. Unting-unting: Alat yang terdiri dari bandul dan benang untuk membuat tegak
     pasangan.
17. Angker : Terbuat dari baja yang berfungsi sebagai penghubung dan penguat
     antara kusen dan tembok.
18. Kusen : Bagian dari konstruksi kayu yang dipergunakan untuk meletakkan
     atau memasang daun pintu sehingga daun pintu bisa ditutup maupun dibuka.
19. Bouwplank : Pasangan dari kayu untuk menentukan ketinggian dari rencana
     lantai dan biasanya dianggap kedudukannya.
               PETUNJUK PENGGUNAAN MODUL

       Langkah-langkah belajar yang ditempuh agar proses pembelajaran dalam
bidang teknik konstruksi batu dan beton dapat berlangsung secara optimal perlu
dicermati langkah-langkah belajar seperti mencermati dengan seksama dasar-
dasar konstruksi bangunan secara umum, gambar bangunan termasuk gambar
detail dan potongan, dan cara menetapkan ukuran komponen-komponen
bangunan.
       Mahasiswa perlu memahami perlengkapan untuk menghasilkan gambar
yang baik, jelas, rapi dan mudah dimengerti. Begitu juga pemahaman tentang
perlengkapan dan bahan untuk melakukan pekerjaan batu dan beton termasuk
pembuatan batako dan paving blok.
       Untuk menguasai materi yang terdapat pada modul, mahasiswa
disarankan membaca bahan-bahan yang berkaitan dengan materi pada setiap
kegiatan belajar. Bacalah petunjuk atau informasi awal tentang modul termasuk
petunjuk penggunaan modul. Kemudian bacalah uraian materi pada setiap
kegiatan belajar. Kerjakan latihan yang diberikan dengan seksama sampai tunas.
Setelah itu, jawablah pertanyaan atau tugas yang tercantum dalam bagian
evaluasi. Setelah yakin dengan kebenaran jawaban yang dibuat, maka cek atau
bandingkan jawaban Saudara dengan kunci jawaban yang ada pada bagian akhir
setiap kegiatan belajar. Jangan membuka kunci jawaban sebelum Saudara tuntas
menjawab semua pertanyaan pada bagian evaluasi.
                    TUJUAN AKHIR MODUL

Tujuan dari modul ini diharapkan mahasiswa dapat mengikuti dan mempelajari
seluruh kegiatan belajar, dapat mencapai spesifikasi kinerja sebagai berikut :


1.   Mahasiswa dapat merencanakan dan menggambar denah serta detail
     potongan pondasi yang baik dan benar.
2.   Mahasiswa dapat menjelaskan perbedaan pondasi staal dan piler batu
     kali, fungsi dan cara pembuatannya.
3.   Mahasiswa dapat menjelaskan jenis-jenis ikatan pasangan batu bata serta
     fungsi masing-masingnya.
4.   Mahasiswa mampu menjelaskan fungsi dan cara melaksanakan pekerjaan
     plesteran dan mengaci permukaan plesteran termasuk plesteran hias.
5.   Mahasiswa mampu menjelaskan cara pemasangan kusen pada dinding
     secara baik dan benar.
6.   Mahasiswa    mampu       menjelaskan   bahan   serta   menghitung    biaya
     pembuatan batako dan paving blok serta cara pembuatan dari awal
     sampai perawatannya.
                           II.    PEMBELAJARAN

I.   RENCANA BELAJAR MAHASISWA

     KEGIATAN BELAJAR 1:

     MERENCANAKAN DAN MENGGAMBAR PONDASI


A. URAIAN MATERI

     Pada setiap gambar rencana sebuah pondasi umumnya akan digambarkan:

     1. Denah bangunan
     2. Pandangan depan dan pandangan samping
     3. Penampang memanjang dan melintang
       Dari gambar denah bangunan dan gambar potongan melintang maupun
     memanjang akan diketahui macam pondasi yang direncanakan akan tetapi
     biasanya belum begitu jelas sehingga diperlukan suatu gambar penjelas
     pondasi yang terdiri atas:
     a. Gambar denah pondasi
     b. Gambar penampang pondasi
       Gambar-gambar ini dapat dibuat dengan mudah kalau gambar rencana
     yang bersangkutan telah disetujui oleh ahli konstruksi sebab ada kalanya
     ukuran bentuk dan macam pondasinya dirubah oleh ahli konstruksi, karena
     keadaan tanah yang kurang sesuai dengan rencana pondasi atau karena
     sebab lain.
       Pondasi untuk bangunan dapat dibuat dari bermacam-macam konstruksi
     tergantung dari berat beban di atasnya, macam tanah dan sebagainya.
     Konstruksi pondasi selain berhubungan erat dengan beban yang diterima dan
     sifat-sifat tanah juga tergantung pula dari macam bahan yang akan digunakan.
     1 . Pondasi pasangan batu kali
     2 . Pondasi menerima beban langsung dari tembok teras, emperan, tembok
         sebelah luar, tembok sebelah dalam dan lain-lain.
     3 . Pondasi pasangan batu kali di atas jalur beton bertulang
     4 . Pondasi beton bertulang
     5 . Pondasi beton tumbuk
6 . Pondasi tidak langsung atau pondasi atas tiang
7 . Pondasi pasangan batu merah
8 . Pondasi menerima beban langsun dari tembok teras, emperan, tembok
    sebelah
    luar, tembok sebelah dalam atau lain-lain.
9 . Pondasi pasangan batu merah di atas jalur beton bertulang yang jenisnya
    pondasi pasangan batu kali di atas jalur beton.
  Untuk selanjutnya pada penggambaran pondasi diperlukan gambar
penjelas pondasi yang terdiri dari :
1. Gambar denah pondasi, pada bagian ini yang perlu digambar adalah :
    a. Tebal dinding (lebar sloof beton)
    b. Lebar pondasi bagian atas
    c. Lebar pondasi bagian bawah
    d. Lebar pasangan batu kali kosongan
    e. Kolom beton
Keterangan yang perlu dicantumkan antara lain:
    a. Ukuran jarak antara dinding dalam meter
    b. Ukuran kolom dalam cm
    c. Ukuran lebar atas/bawah pondasi dalam cm
    d. Ukuran balok sloof dalam cm
    e. Tempat-tempat potongan untuk penampang yang akan dibuatkan
         gambar penjelas diberi tanda dengan nomor atau juga dengan tanda
         huruf.
    f.   Skala yang dipakai umumnya 1 : 100.
2. Gambar penampang pondasi pada bagian ini yang perlu dicantumkan
    adalah :
    a. Ukuran dalamnya pondasi
    b. Ukuran lebar dari bagian pondasi (dengan ukuran bagian atas,
         tengah, bawah dalam cm).
    c. Keterangan-keterangan lapisan pasir urug, tanah urug, muka tanah,
         lantai tegel, pasangan batu, berikut tanda-tanda pengasirannya.
    d. Nomor penjelas.
    e. Skala yang dipakai umumnya 1 : 20.
B.   LEMBAR KERJA
       Mahasiswa setelah mengikuti dan mempelajari kegiatan belajar ini
     diharapkan dapat mencapai spesifikasi kinerja sebagai berikut :
     1. Mahasiswa dapat menggambar pondasi batu kali dengan lengkap.
     2. Mahasiswa dapat menggambar denah pondasi dengan kelengkapan
        gambar:
        a. Tebal dinding
        b. Lebar pondasi bagian atas
        c. Lebar pondasi bagian bawah
        d. Lebar pasangan batu kosong
        e. Kolom beton (bila ada)
     3. Mahasiswa dapat menggambar potongan lintang gambar pondasi yang
        lengkap dengan ukurannya.




                        Gambar 1. Denah Pondasi Batukali
Gambar 2. Penjelas Potongan I

                                  Gambar 3. Penjelas Potongan II




Gambar 4. Penjelas Potongan III
                                  Gambar 5. Penjelas Potongan IV
• Bahan dan Alat
        Bahan yang digunakan pada kegiatan belajar meliputi :
   1. Kertas gambar manila/padalarang A1.
   2. Isolasi untuk menempel kertas pada meja gambar.
        Alat yang digunakan dan disiapkan pada kegiatan belajar ini meliputi :
   1.    Meja gambar atau meja yang dapat berfungsi sebagai meja gambar.
   2. Mesin gambar atau satu set penggaris segi tiga.
   3. Pensil atau pensil mekanis ukuran 0,3 mm dan 0,5 mm.
   4. Karet penghapus yang tidak mudah kotor.
   5. Garisan jangka
   6. Rapido.
   7. Cutter.
   8. Gambar denah pondasi dan gambar detailnya.


• Keselamatan Kerja
   1. Pusatkan konsentrasi pada pekerjaan
   2. Gunakan alat sesuai dengan fungsinya
   3. Laporkan pada pengajar jika ada masalah


• Langkah Pengerjaan
   1. Siapkan dan bersihkan meja gambar dari debu dan kotoran lain.
   2. Siapkan kertas gambar kosong dan tempelkan pada meja gambar.
   3. Siapkan alat tulis.
   4.    Menyalin gambar denah pondasi dan detailnya.
                             III.      EVALUASI

• Petunjuk Penilaian Hasil Kerja
      No    Aspek                   Indikator
      1      Hasil Kerja            a. Penampilan gambar/kerapian
                                    b. Kebenaran teknis
                                    c. Ketelitian/ketepatan
                                    d. Kebersihan
      Jumlah Skor Maksimal          100
      Syarat Skor Minimal Lulus 70
      Jumlah Skor Yang Dicapai
      Kesimpulan                    LULUS /TIDAK LULUS
                         DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan,
    Kurikulum Edisi 1999, Jakarta.

Hendardji Djoko Soeyoto, Bangunan Umum A, Jakarta, Penerbit Buku H. Stan.

Sherma SK Kaul 1976 A Text Book of Building Construction, New Delhi. S. Chard
    SC (PUT) LTD.

Sukarta, BSc, Sutarman, Drs. 1978 Menggambar Teknik Bangunan 2,
    Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Pendidikan Menengah
    Kejuruan.

Soegihardjo R, PR Sudibyo, 1977, Ilmu Bangunan Gedung 1, Dikmenjur
    Depdikbud, Jakarta.
KEGIATAN BELAJAR 2:
PEKERJAAN PONDASI STAAL DAN PILER BATU KALI

TUJUAN:
1. Tujuan akhir
      Mahasiswa      diharapkan   dapat   memahami,   dan   menguasai       cara
  pemasangan pondasi batu kali model stall dan pijler sesuai dengan prosedur
  yang disyaratkan dengan baik dan benar.
2. Tujuan antara
  a. Mahasiswa dapat memasang pondasi stall dari batu batu kali sesuai dengan
     gambar kerja.
  b. Mahasiswa dapat memasang pondasi pijler dari batu kali sesuai dengan
     gambar kerja.
     Pondasi yang merupakan bagian dari konstruksi bangunan harus memenuhi
beberapa persyaratan, antara lain: Cukup kuat untuk mencegah/menghindarkan
timbulnya patah geser yang disebabkan muatan tegak ke bawah. Dapat
menyesuaikan terhadap kemungkinan terjadinya gerakan-gerakan tanah antara
lain, tanah mengembang, tanah menyusut, tanah yang tidak stabil, kegiatan
pertambangan dan gaya mendatar dari gempa bumi. Menahan gangguan dari
unsur-unsur kimiawi di dalam tanah baik organik maupun anorganik. Dapat
menahan tekanan air yang mungkin terjadi.
     Suatu konstruksi pondasi yang tidak cukup kuat dan kurang memenuhi
persyaratan tersebut diatas, dapat menimbulkan kerusakan pada bangunannya.
Akibat yang ditimbulkan oleh kerusakan ini, memerlukan perbaikan dari
bangunannya bahkan kemungkinan terjadi seluruh bangunan menjadi rusak dan
harus dibongkar. Tanah tempat konstruksi pondasi diletakkan harus cukup kuat.
yang di dasarkan atas kekuatan tanah atau daya dukung tanah. Letak tanah kuat
untuk konstruksi pondasi pada masing-masing tempat, tidak sama. Pada tanah
yang baik dapat dipasang konstruksi pondasi dangkal kedalaman tanah yang kuat
antara 70-100 cm dibawah permukaan tanah. Akan tetapi pada tanah lunak harus
dipasang konstruksi pondasi dalam, dengan kedalaman 20 m atau lebih dari
permukaan tanah keadaan ini tergantung pada jenis susunan tanah setempat.
PONDASI STAAL BATU KALI
A. URAIAN MATERI
      Pondasi staal dipergunakan di atas tanah kuat/baik yang letaknya tidak
dalam. Pada umumnya dari permukaan tanah sedalam 50 cm, terdapat tanah
yang disebut tahan humus, yaitu lapisan tanah yang mengandung campuran
bekas cabang-cabang kayu kecil-kecil, sampah, dan sebagainya. Di atas tanah
semacam ini tidak dapat diletakkan pondasi karena ada kemungkinan pondasi
akan turun akibat menjadi padatnya tanah humus yang diakibatkan muatan diatas
tanah tersebut. Penurunan pondasi yang merata tidak menimbulkan kesulitan,
karena apabila konstruksi bangunan gedung diatas pondasi dapat turun secara
merata pula. Tetapi apabila penurunan pondasi tidak dapat merata, maka
kerusakan-kerusakan akibat penurunan ini tidak dapat dihindarkan. Kerusakan-
kerusakan tersebut misalnya berupa:
a. pecah/retaknya tembok-tembok.
b. pintu/jendela tidak dapat dibuka.
c. atap berubah bentuk.
d. dan lain-lain kerusakan.
      Oleh karena itu lapisan tanah humus harus digali dan dibuang ke tempat
lain. Perletakan dasar pondasi staal ditetapkan lebih dalam dari lapisan tanah
humus (30 a 50 cm atau, lebih dalam) agar diperoleh kepastian tanah yang cukup
kuat dan memenuhi syarat. Sehingga kedalaman rata-rata dari pondasi staal
berkisar antara 80 a 100 cm dari permukaan tanah.
      Dasar perhitungan pondasi staal adalah perlebaran/perluasan dasar
pondasi terhadap tebal tembok dengan maksud agar supaya ada pembagian yang
lebih merata dari gaya -gaya yang ditimbulkan muatan diatasnya pada tanah di
tempat pondasi diletakkan pada tiap satuan luas dalam kg/cm2. Oleh karena itu
pondasi staal merupakan pondasi ringan, artinya hanya mendukung muatan
konstruksi bangunan gedung yang kurang berat, maka perlebaran/perluasan
dasar pondasi dapat ditetapkan 2 ½ a 3 x tebal tembok.
           Gambar . Pondasi Batu Kali dengan Sloof Tembok ½ Bata




            Gambar . Pondasi Batu Kali dengan Sloof Tembok 1Bata


      Walaupun demikian dalam menentukan ukuran luas dasar pondasi harus
diperhitungkan muatan dari bangunan diatasnya. Pondasi staal dapat dibuat dari
pasangan    batu   merah,    pasangan    batu   kali/alam   dan   beton    tidak
bertulang/bertulang atau gabungan.
      Dalam penggambaran, untuk pasangan batu merah ½ bata diambil ukuran
15 cm, sedang untuk pasangan 1 batu diambil ukuran 30 cm. Lantai ditetapkan
sebagai titik nol dan dipakai sebagai dasar ukuran dari keseluruhan bangunan. Di
atas dan di bawah lantai setebal masing-masing 20 cm dari pasangan tembok
dibuat pasangan kedap air yang disebut trasraam dengan campuran 1 pc : 2 pc.
Maksud pasang trasraam adalah agar air dari bawah tanah dapat naik ke atas
pasangan tembok. Persyaratan ini dalam praktek supaya diperhatikan. Di bawah
lantai diberi lapisan pasir urug setebal 20 cm yang dipadatkan dengan maksud
agar diperoleh permukaan yang rata dan cukup kuat.
      Pondasi tidak diletakkan langsung diatas tanah dalam lubang pondasi,
tetapi di atas tanah tersebut diberi lapisan pasir urug setebal 5 a 10 cm, dengan
maksud agar diperoleh permukaan yang merata. Ukuran lubang dasar galian
pondasi dibuat lebih lebar 20 cm kirikanan lebar dasar pondasi agar orang dapat
bekerja pada waktu mengerjakan pasangan pondasi. Galian lubang pondasi
dibuat miring (5 : 1) agar dinding tanah galian tidak mudah runtuh. Kemiringan
galian tanah ini makin besar untuk tanah-tanah yang gembur/lembek.
      Trasraam dibawah lantai dapat pula diganti dengan beton bertulang yang
disebut balok sloof yang dibuat dari beton bertulang dengan campuran 1 pc : 2
pc : 3 kr. Maksud penggunaan balok sloof selain sebagai pengganti trasraam
dibawah lantai juga untuk meratakan daya dukung dari pondasi terhadap muatan
bangunan    diatasnya   serta   penurunan   pondasi   mempengaruhi     konstruksi
bangunan diatasnya karena didukung oleh balok sloof. Pasangan batu merah atau
batu kali dapat pula seluruhnya diganti dengan beton tumbuk dengan campuran 1
ps : 3 ps : 5 kr. Prinsip konstruksinya sama dengan pasangan batu merah/batu
kali. Konstruksi pondasi dengan beton tumbuk ini terutama digunakan untuk tanah
basah/berair.
      Selain dengan pasangan batu merah, batu kali dan beton tumbuk, pondasi
staal dapat pula dibuat dari beton bertulang. Pondasi staal beton bertulang
digunakan apabila diperlukan dasar pondasi yang lebar/luas akibat muatan
bangunan yang besar/berat diatas tanah yang kurang baik. Prinsip dari konstruksi
beton bertulang adalah terdiri dari campuran/gabungan beton dan besi baja
sedemikian rupa sehingga kedua macam bahan ini merupakan satu kesatuan
yang dapat menahan muatan/gaya dari suatu konstruksi bangunan.
      Beton bertugas menahan gaya tekan, sedang besi baja bertugas menahan
gaya tarik. Untuk beton, umumnya digunakan campuran 1Pc:2Ps:3Kr, sedang
besi baja menggunakan berbagai macam ukuran/diameter yang ukuran dan
jumlahnya tergantung dari hasil perhitungan konstruksi. Pemasangan besi baja
atau yang lazim disebut penulangan dibagi menjadi 2 jenis tulangan yaitu tulangan
pokok dan tulangan pembagi. Tulangan pembagi pada umumnya diambil 20% dari
tulangan pokok. Bentuk sederhana dari pondasi staal beton bertulang adalah
bentuk strook, yang juga disebut: strip fundation atau strip footing. Konstruksi
bentuk strook akan membengkok/ melengkung akibat muatan dari tembok dan
juga reaksi tekanan dari tanah tempat strook diletakkan. Mula-mula reaksi tekanan
tanah adalah merata, tetapi berhubung beban/muatan terberat ada ditengah-
tengah maka reaksi tanah akan berubah. Mengingat bentuk bidang momen seperti
tergambar, maka untuk bentuk strook perlu disesuaikan dengan pembagian
muatan.
      Untuk letak tanah kuat yang agak dalam, misalnya 1,50 m       2.00 m dapat
pula pondasi staal diletakkan diatas timbunan pasir. Cara ini dilaksanakan apabila
diinginkan menghemat biaya dari pasangan pondasi staal. Timbunan pasir harus
dipadatkan selapis demi selapis (setebal tiap 20 cm) dengan menggunakan alat
penumbuk dan disiram air.


B. Lembar Kerja
Rancangan pembuatan propil dari gambar pondasi, khusus pondasi staal
termasuk pondasi dangkal memanjang dapat dilihat dari bentuk denah bangunan,
dengan berbagai jenis pertemuan yaitu pertemuan siku, pertemuan tegak dan
pertemuan silang.
1. Peralatan yang digunakan adalah:
   Cetok, Water pass, Pukul besi (berat 1 kg), Benang, Ember, Kotak spesi,
   Cangkul, Sekop, Bodem (berat 4 kg), Paku 1,5 .
2. Bahan yang digunakan adalah:
    Batu kali, Kapur, Semen merah/PC, Pasir, Air, Papan 2/20, dan balok 4/6.

3. Petunjuk Kesehatan dan Keselamatan Kerja:
          Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, gunakan pakain kerja secara
  benar dan lengkap. Pecahlah batu yang terlalu besar menggunakan bodem
  atau pukul besi, sehingga mudah untuk diangkat. Lakukan pemecahan batu di
  tempat yang tidak membahayakan akibat pecahan batu yang terlempar.

4. Langkah Kerja:
          Siapkan alat dan bahan yang diperlukan. Bersihkan galian yang telah
  dibuat dan kontrol kedalaman dan lebar galian serta kelurusannya. Hamparkan
  pasir sebagai lapisan dasar pondasi dan dipadatkan sehingga mempunyai
  permukaan yang rata dengan tebal minimum +20 cm. Apabila pasirnya kering
  pada saat pemadatan lakukan penyiraman dengan air secukupnya (jangan
  terlalu jenuh). Setelah padat siramlah dengan air hingga jenuh. Pasanglah profil
  pondasi secara kuat pada ujung-ujung pondasi.
         Pasanglah satu lapisan batu kosongan dengan ketinggian + 15 cm         20
  cm (tanpa spesi) sepanjang pondasi sebagai lapisan dasar, kemudian taburkan
  pasir serta disiram air sampai celah-celah antara batu dapat terisi penuh.
  Rentangkan benang sisi luar rencana pondasi antara profil dengan profil
  setinggi + 30 cm. Hamparkan spesi pondasi dan pasanglah batu pondasi
  dengan rapi dengan posisi batu mendatar. Ulangi langkah di atas sampai
  dengan ketinggian sesuai dengan rencana. Isilah celah-celah antara batu
  pondasi bagian samping sampai penuh.

Lembar Latihan
1. Keselamatan kerja dalam praktek ini sangat penting untuk diperhatikan,
    sebutkan hal-hal yang berkaitan dengan kelesalamatan kerja.
2. Agar pelaksanaan kerja pasangan pondasi lancar sebutkan bahan serta alat
    yang dipergunakan.
3. Hasil kerja pasangan pondasi ini perlu dikontrol tentang beberapa hal,
    sebutkan dan jelaskan.


PONDASI PIJLER BATU KALI
A. URAIAN MATERI
      Dalam pelaksanaan pembuatan pondasi staal, terlebih dahulu harus
dilakukan penggalian tanah sepanjang tembok sesuai gambar denah bangunan
berupa parit-parit. Apabila letak kedalaman tanah baik/kuat antara 0,80    2,00 m,
penggalian parit-parit tidak mengalami kesukaran. Tetapi kalau letak kedalaman
tanah baik sampai 2,50       3,00 m, maka penggalian parit tidak menguntungkan
lagi. Oleh karena itu digunakan pondasi dengan konstruksi lain, yaitu yang disebut
pondasi pijler. Bahan dari pondasi pijler dapat menggunakan:
a. pasangan batu merah
b. pasangan batu kali
c. beton batu kali, yaitu pasangan batu kali dengan perekat/spesi dari beton.
      Bentuk dari pondasi pijler berupa pyramida terpancung. Pondasi pijler
dibuat pada sudut-sudut bangunan, pertemuan temboktembok. Jarak antara pijler
yang satu dengan yang lain diambil rata-rata (2,50       3,50m). Diatas pondasi pijler
diletakkan balok sloof, seperti halnya pada perkembangan konstruksi pondasi
staal. Ukuran dari pondasi pijler tidak sama besar, artinya untuk tembok bagian
luar yang mempunyai beban/muatan besar ukuran pondasi pijler juga lebih besar
dibandingkan dengan ukuran pondasi pijler yang memikul tembok bagian dalam.
Juga ukuran pijler yang ini tergantung dari jarak antara pijler yang satu dengan
yang lain. Tetapi untuk memudahkan dalam pelaksanaan, ukuran pijler-pijler pada
tembok-tembok luar diambil sama besar dan sebagai dasar ditetapkan ukuran
hasil perhitungan yang terbesar.




                Gambar . Tampak Atas dan Proyeksi Pondasi Piler


       Balok sloof dipindahkan ke atas sebagai pengganti dari trasraam bagian
bawah (di bawah lantai), sedang pasangan pondasi pijler dinaikkan. Balok sloof
dipindahkan ke atas seperti perkembangan pertama, tetapi pasangan pondasi
pijler tidak dinaikkan. Untuk menahan tekanan tanah/pasir di bawah lantai,
konstruksi balok sloof yang tidak diatas pijler dapat dibuat lebih tipis. Pondasi pijler
dapat pula dihubungkan dengan lengkung-lengkung dari pasangan batu merah,
jadi tidak dihubungkan dengan balok sloof. Konstruksi jenis ini sebenarnya
merupakan konstruksi pondasi pijler yang mula-mula dikenal sebelum orang
mengetahui konstruksi dengan menggunakan beton bertulang. Bentuk lengkung
penghubung ini ada dua macam, yaitu lengkung segment (tembereng) dan
lengkung setengah lingkaran. Untuk lengkung penghubung tembereng, pada
sudut-sudut bangunan harus diberi perkuatan untuk menahan gaya-gaya keluar
Sedang pada lengkung penghubung setengah lingkaran tidak diperlukan
perkuatan, karena arah gaya ada yang hanya berupa tegak/vertikal (V).




               Gbr . Pondasi Piler dengan Lengkung Tembereng




               Gbr . Pondasi Piler dengan Lengkung ½ Lingkaran


B. Lembar Kerja
      Rancangan pembuatan propil dari gambar pondasi, khusus pondasi pijler
untuk tanah yang baik terletak pada kedalam yang cukup besar dapat dilihat dari
bentuk denah bangunan dengan bentuk penampang bujr sangkar (tipe A) atau
empat persegi panjang (tipe B).

1. Alat yang digunakan adalah:
      Cetok, Water pass, Pukul besi (berat 1 kg), Benang, Ember, Kotak spesi,
  Cangkul, Sekop, Bodem (berat 4 kg), Paku 1,5 .
2. Bahan yang digunakan:
      Batu kali, Kapur, Semen merah/PC, Pasir, Air, Papan 2/20, dan balok 4/6
3. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
      Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, gunakan pakain kerja secara benar
 dan lengkap. Pecahlah batu yang terlalu besar menggunakan bodem atau pukul
 besi, sehingga mudah untuk diangkat. Lakukan pemecahan batu di tempat yang
 tidak membahayakan akibat pecahan batu yang terlempar.

4. Langkah Kerja
      Siapkan alat dan bahan yang diperlukan. Bersihkan galian yang telah
dibuat dan kontrol kedalaman dan lebar galian serta kelurusannya. Hamparkan
pasir sebagai lapisan dasar pondasi dan dipadatkan sehingga mempunyai
permukaan yang rata dengan tebal minimum +20 cm. Apabila pasirnya kering
pada saat pemadatan lakukan penyiraman dengan air secukupnya (jangan terlalu
jenuh). Setelah padat siramlah dengan air hingga jenuh Pasanglah profil pondasi
secara kuat pada lokasi yang telahditentukan.
      Pasanglah satu lapisan batu kosongan dengan ketinggian + 15 cm 20 cm
(tanpa spesi) sepanjang pondasi sebagai lapisan dasar, kemudian taburkan pasir
serta disiram air sampai celah-celah antara batu dapat terisi penuh. Rentangkan
benang sisi sudut luar rencana pondasi antara profil dengan bentuk 4 persegi
panjang atau bujur sangkar penampang profil dari dasar sampai dengan
ketinggian pondasi. Hamparkan spesi pondasi dan pasanglah batu pondasi
dengan rapi dengan posisi batu mendatar.
      Ulangi langkah di atas sampai dengan ketinggian sesuai dengan rencana,
dengan ketinggian maksimum 1 m perhari. Isilah celah-celah antara batu pondasi
bagian samping sampai penuh.
EVALUASI
Materi evaluasi sebelum mengerjakan pasangan pondasi.
1. Keselamatan kerja dalam praktek ini sangat penting untuk diperhatikan dan
   dilaksanakan, sebutkan hal-hal yang perlu dilakukan dalam melaksanakan
   kelesalamatan kerja.
2. Agar pelaksanaan kerja pasangan pondasi lancar sebutkan bahan serta alat
   yang dipergunakan.
3. Hasil kerja pasangan pondasi ini perlu dikontrol tentang beberapa hal,
   sebutkan dan jelaskan.
Materi evaluasi sesudah mengerjakan pasangan pondasi.
1. Cek kenyamanan kerja ruang kerja yang mencukupi.
2. Cek posisi letak batu yang dipasang.
3. Cek kepadatan spesi.
4. Cek kelurusan pasangan.
5. Cek permukaan pasangan pondasi.


KUNCI JAWABAN
1. Kesehatan dan Keselamatan Kerja yang sangat perlu diperhatikan. Bekerjalah
   dengan sungguh-sungguh, gunakan pakain kerja secara benar dan lengkap.
   Pecahlah batu yang terlalu besar menggunakan bodem atau pukul besi,
   sehingga mudah untuk diangkat Lakukan pemecahan batu di tempat yang
   tidak membahayakan akibat pecahan batu yang terlempar.
2. Alat dan bahan yang dibutuhkan, antara lain :
   Cetok, digunakan untuk mengambil spesi. Waterpass, digunakan untuk
   mengatur kedataran dan ketegakan propil. Pukul besi berat 1 kg, untuk
   membentuk batu yang posisi bentuknya tidak pas dengan posisi bentuk batu
   yang lainnya. Benang, yaitu alat bantu untuk memperoleh kelurusan
   pasangan. Ember, untuk tempat air atau dapat juga digunakan untuk takaran
   bahan spesi (kapur, semen merah/PC dan pasir).
   Kotak spesi, untuk tempat spesi persiapan pasangan pondasi. Cakul dan
   sekop, untuk mengaduk dan mengambil spesi ketempat lain (ember). Bodem
   (berat 4 kg), untuk memecah batu yang terlalu besar ukurannya. Papan
   ukuran 20/2, balok 4/6 serta paku (1,5 ) untuk membuat bowplank. Batu kali,
   bahan utama sebagai isian pondasi. Spesi terdiri dari campuran 1kapur : 2
   semen merah : 3 pasir atau 1 pc : 2 kapur : 3 pasir yang tambah air
   secukupnya.
3. Hasil kerja pasangan pondasi perlu dikontrol tentang beberapa hal, adalah:
   Kenyamanan kerja ruang kerja yang mencukupi. Letak posisi batu yang
   dipasang. Kepadatan spesi. Kelurusan pasangan Permukaan pasangan
   pondasi.
                            DAFTAR PUSTAKA

Bowles J.E, 1984, Phisical and Geothecnical Properties of Soil, Mc Graw-Hill,
       Tokyo, Japan.

Bowles J.E, 1988, Foundation Analysis and Design, Mc Graw-Hill, Tokyo, Japan.

Bowles, JE, 1977 Foundation Analysis and Design, Second edition, McGraw-Hill
       Kogakusha, Ltd.

Braja M. Das, 1991 (Alih bahasa Mochtar dan Endah) Mekanika Tanah (Prinsip-
       prinsip Rekayasa Geoteknis), Erlangga.

Das B.M, 1995, Principles of Foundation Engineering, Tokyo, Japan

Dunn IS, Anderson LR, 1980, Fundamentals of Geotechnical Analisys, John Wiley
       & Sons Inc, Canada.

Grigorian A.A, 1997, Pile Foundations for Buildings and Structures in Collapsible
        Soils, Brookfield, U.S.A
KEGIATAN BELAJAR 3:
PASANGAN BATU BATA

TUJUAN:
      Mahasiswa diharapkan mampu membedakan berbagai macam ikatan
pasangan batu bata sesuai dengan fungsinya, baik untuk pasangan dinding lurus,
sudut, persilangan, maupun pilaster untuk ketebalan setengah atau satu bata.


A. URAIAN MATERI
      Batu merah adalah batu buatan yang terdiri dari tanah liat/lempung dengan
atau tanpa tambahan bahan lain yang dalam keadaan pulen dicetak, dikeringkan
dan dibakar. Ukuran batu merah untuk daerah satu dengan daerah lainnya tidak
seragam. Sebagai pedoman dalam pembuatan batu merah adalah sebagai
berikut: a) panjang bata = dua kali lebar bata + tebal siar. B) lebar bata = dua kali
tebal bata + siar. C) tebal siar antara 0,8 cm s/d 1,5 cm.
      Dari berbagai ragam ukuran yang ada di pasaran, dikenal juga ukuran
standar yang ditetapkan oleh LPMB (Lembaga Penyelidikan Masalah Bangunan)
Bandung yaitu : a) pertama panjang = 240 mm, lebar = 115 mm, tebal = 52 mm. b)
kedua panjang = 230 mm, lebar 110 mm, tebal = 50 mm (lihat Gambar 1).




                            Gambar 1 Ukuran Batu Bata


      Dalam pelaksanaan pembuatan tembok tidak mungkin menggunakan bata
utuh seluruhnya, pasti ada bata yang tidak utuh. Hal ini dikarenakan adanya
syarat-syarat ikatan bata yang harus dipenuhi yaitu siar tegak pada dua lapis yang
berurutan tidak boleh bareh. Bentuk bata utuh dan bata potongan seperti terlihat
pada gambar di bawah ini. Tebal dinding batu bata atau pasangan bata biasanya
dinyatakan dengan satuan batu, tidak dengan satuan centimeter atau meter,
misalnya : dinding ½ batu, berarti tebal dinding ½ kali panjang bata.
  Gambar 3 Ikatan Tembok Lurus Tebal ½ Batu




Gambar 5 Ikatan Tembok ½ Batu pada Sudut Siku




Gambar 7 Ikatan Tembok ½ Batu pada Persilangan
EVALUASI
       Jelaskan macam-macam ikatan pasangan dinding batu bata, dan lengkapi
dengan gambar manualnya untuk komponen-komponen berikut :
a. Lapis-lapis ikatan ½ batu pada tembok lurus dan proyeksi miringnya.
b. Lapis-lapis ikatan tembok ½ batu pada sudut siku.
c. Lapis-lapis ikatan tembok ½ batu pada pertemuan tembok.
d. Lapis-lapis ikatan tembok ½ bata pada persilangan tembok.


Bahan dan Alat untuk kegiatan menggambar pasangan batu bata:
Bahan yang akan digunakan meliputi :
a. Kertas gambar manila/padalarang ukuran A1.
b. Isolasi untuk menempel kertas pada meja gambar.
Alat yang harus disiapkan dan akan digunakan meliputi :
a. Meja gambar atau meja yang dapat berfungsi sebagai meja gambar.
b. Mesin gambar atau satu set penggaris segi tiga.
c. Pensil atau pensil mekanis 0,3 mm dan 0,5 mm.
d. Karet penghapus yang tidak mudah kotor.
e. Garisan, jangka
f.   Rapido
g. Cutter.
                        DAFTAR PUSTAKA


Departemen Pendidikan Nasional, Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan,
       Kurikulum Edisi 1999, Jakarta.

Hendardji, Djoko Soeyoto, Bangunan Umum A Jakarta : Penebit Buku H Stam.

PIJI A. 1993. Ringkasan Ilmu Bangunan Bagian A Terjemahan Hendarsin H
        Jakarta, Erlangga.

Sharma SK Kaul 1976 A text Book of Building Contruction, New Delhi : S
      Charnd & Co (Put) LTD.

Subarkah Imam 1980 Konstruksi Bangunan Gedung Bandung : Idhea Dharma.

Soegihardjo R, PR Soedibyo, 1977. Ilmu Bangunan Gedung I Dikmenjur
       Depdikbud Jakarta.

Soetarman Soekarto 1977. Menggambar Teknik Bangunan I Dikmenjur
       Depdikbud Jakarta.
KEGIATAN BELAJAR 4:
PLESTERAN DAN MENGACI PERMUKAAN PLESTERAN

TUJUAN:
         Mahasiswa diharapkan mampu menghitung volume plesteran dan
bahan-bahan plesteran yang digunakan, mengetahui cara menentukan ketebalan
plesteran, membuat lajur plesteran sebagai pedoman ketebalan plesteran, cara
memplester dinding tembok rata dan tepi tegak, dan mengetahui kegunaan
plesteran pada dinding tembok.
         Menghitung volume plesteran hias dan bahan-bahan plesteran hias yang
digunakan. Mengetahui tentang cara-cara bagaimana menentukan ketebalan
plesteran hias. Mempraktekkan cara memplester dengan plesteran hias sistem
tempel tumpang-tindih maupun sistem tempel keruk. Mengetahui kegunaan
plesteran hias.



A. URAIAN MATERI
         Pekerjaan memplester tembok merupakan pekerjaan menutup pasangan
bata dengan plester adukan/spesi. Plesteran ini dapat sebagai penutup bagian
luar atau dalam atau kedua-duanya. Fungsi plesteran adalah : (1) melindungi
pasangan tembok dari pengaruh cuaca, khususnya hujan dan terik panas
matahari, pengaruh-pengaruh mekanik, (2) memperhalus atau meratakan
permukaan     pasangan   tembok    sehingga    memudahkan     pengecatan,   (3)
memperindah penampilan.
         Bahan adukan plesteran pada umumnya terdiri dari bahan dasar berupa
: semen atau kapur berfungsi sebagai bahan pengikat, dan pasir, semen merah,
tras berfungsi sebagai bahan pengisi. Adukan yang terdiri dari campuran bahan-
bahan seperti tersebut di atas sebelum dibuat dan digunakan perlu dilakukan
perhitungan atas penggunaan bahanbahannya.
         Perhitungan penggunaan bahan dasar dihitung berdasarkan jumlah
volume plesteran yang yang ada. Misalnya perhitungan plesteran pada tembok
bagian dalam sebuah kamar dengan luas 3,00 x 3,00 m2, tinggi tembok 3 m dan
terdapat 1 pintu dengan luas 2,10 m2 Gambar detail seperti di bawah.
               Gambar 1. Bidang Luasan Tembok yang akan di Plester.

Dasar perhitungannya adalah sebagai berikut :
Luas bidang yang diplester    = luas bruto   luas pintu.
                              = 4.(3,00 x 3,00) m2 - 2,10 m2
                              = 33,90 m2
Tebal plesteran               = 1 cm (0,01 m).
Volume plesteran              = 33,90 m2 x (0,01 m) = 0,34 m3.


             Jika digunakan plesteran dengan campuran perbandingan volume 1 kp
: 2 sm : 3 ps, maka bahan dasar yang dibutuhkan adalah:
kp (kapur)                    = 1/6 x 0,34 m3 = 0,06 m3.
sm (semen merah)              =: 2/6 x 0,34 m3 = 0,11 m3.
ps (pasir)                    = 3/6 x 0,34 m3 = 0,17 m3 +
Jumlah                                        = 0,34 m3.


Memplester Bidang Rata

Memplester bidang rata pada umumnya dibedakan menjadi dua yaitu : (1)
memplester bidang rata vertikal dan (2) memplester bidang rata horizontal (datar).
Kesulitan-kesulitan yang terjadi dalam pekerjaan plesteran pada umumnya
terletak pada plesteran bidang vertikal. Plesteran bidang vertikal juga masih dibagi
menjadi dua yaitu (1) plesteran bidang rata dan (2) plesteran tepi tegak.
       Sebelum pekerjaan plesteran dimulai permukaan tembok (bidang) yang
akan diplester harus bersih. Di awal pekerjaan plesteran pasangan tembok harus
dibasahi dahulu, terutama pada pasangan tembok yang bata-batanya mempunyai
pengisapan tinggi. Pembasahan sebaiknya dilakukan dengan memakai kuas/sikat.
Hal ini dimaksudkan agar debu/kotoran yang menempel dapat terlepas, sehingga
lapisan plesteran dapat melekat dengan baik pada tembok.
      Retak-retak pada plesteran harus dihindarkan semaksimal mungkin, untuk
maksud ini campuran yang dipakai harus dipilih sebaik mungkin. Retak-retak pada
plesteran antara lain disebabkan oleh campuran adukan tidak merata, adukan
terlalu plastis, terlalu banyak bahan yang halus, perbedaan ketebalan lapisan
yang besar, perbedaan penyerapan bata, pengeringan terlalu cepat, plesteran
terlalu kuat dari pasangan tembok. Lapisan plesteran biasanya terdiri dari tiga
lapisan yaitu lapisan pertama kamprot, lapisan kedua bahan plesteran dan lapisan
ketiga acian.
      Setelah tembok dibasahi kemudian diberi lapisan pertama (kamprotan)
dengan ketebalan lebih kurang 2-3 mm. Untuk memudahkan pekerjaan, maka
dibuat lapisan kepala dalam arah tegak dengan jarak lebih kurang 1,5-1,8 m.
Komposisi lapisan kepala sama dengan campuran badan plesteran dan ketebalan
lebih kurang 10 mm. Untuk mendapatkan permukaan yang halus terakhir dibuat
lapisan acian dengan ketebalan lebih kurang 1 mm.


Pengaruh Plesteran Pendahuluan terhadap Lekatan Plester
      Dalam pekerjaan plesteran umumnya diperlukan lapisan plesteran
pendahuluan. Maksud utamanya untuk mengurangi pengisapan air oleh batanya.
Lapisan pendahuluan ini ada 3 macam : (1) Air semen dengan volume 5-20 %
terhadap airnya, (2) adukan encer, dengan campuran semen pasir 1 : 2-4, (3)
sama seperti 2 dengan tambahan kapur dan pasir (komposisi campuran
diperkirakan 1 semen : 2 kapur : 4-6 pasir). Pada nomor 1 cara pemakaiannya
dengan dikuaskan, sedangkan nomor 2 dan 3 cara pemakaiannya dapat langsung
dikuaskan maupun dikamprotkan.
      Dalam mengkamprot harus hati-hati, supaya seluruh bagian permukaan
pasangan    jangan   ada   yang   terlewatkan.   Sebelum   pengerjaan    lapisan
pendahuluan plesteran ini permukaan pasangan harus dibasahi/disiram air
terlebih dahulu. Umumnya kamprotan menambah ikatan antara plesteran dengan
bidang yang diplester, ini terutama bila dipakai kamprotan dengan adukan encer
nomor 2 di atas. Dengan demikian dapat diharapkan bahwa lapisan plesteran
pendahuluan akan mengurangi retaknya plesteran.
Pemeliharaan Plesteran
      Plesteran yang baru selesai harus dipelihara dan dilindungi dari pengaruh
terik matahari dan hujan. Hal ini dimaksudkan agar pengeringan dan pengerasan
tidak terlalu cepat yang dapat mengakibatkan retak. Untuk melindungi plesteran
dapat menyiram atau menutup plesteran dengan plastik.


Latihan
Jika diketahui denah rumah tinggal berukuran 6 x 9 meter dengan 3 kamar
berukuran 3 x 3 meter, seperti gambar berikut. Tentukan kebutuhan bahan dasar
untuk plesteran. Tinggi plesteran dari lantai sampai ke plafon = 3,00 m.




                            Gambar 2. Denah Rumah



Pekerjaan Memplester Bidang Rata
      Sebelum pekerjaan plesteran dilaksanakan, adukan plesteran harus
dipersiapkan terlebih dahulu. Syarat-syarat adukan plesteran: (1) Adukan untuk
plesteran harus bersih dari kotoran-kotoran, sisa tumbuh-tumbuhan, (2) Kapur
yang digunakan untuk bahan campuran harus benar-benar berupa bubuk halus.
Tidak boleh terdapat butir-butir kapur yang dalam plesteran dapat mengakibatkan
rusaknya plesteran, (3) Lajur tembok paling bawah lebih kurang 20 cm diplester
dengan adukan 1 sp : 2 ps, agar kedap air dan diberi pasangan ubin plint tegak,
(4) Sebelum plester tembok dimulai, tembok harus disiram dengan air bersih
hingga basah dan jenuh.
Peralatan dan Bahan yang dipakai:
1. Alat
          Alat-alat yang dipakai terdiri dari: Cetok, Alat lepa, Bilah perata, Benang,
Martil, Alat sipat datar, Unting-unting, Ember, Cangkul, Sekop, Kotak adukan,
Kotak angkut, dan Kotak aduk.
2. Bahan
          Bahan yang diperlukan adalah: adukan dengan perbandingan campuran 1
kapur + 1 semen protland + 2 pasir atau ½ kapur + 1 semen portland + 2 pasir
dengan ayakan sedang; atau 1 semen portland + 2 sampai 3 pasir untuk bahan
perapihan 1 kp + 1 sm + air dengan ayakan halus, atau 1 sp + ½ kp + air.


3. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
          Agar pekerjaan dapat terlaksana dengan aman, maka beberapa hal yang
perlu diperhatikan antara lain adalah mengenai: Penggunaan pakaian dan
perlengkapan kerja dengan lengkap dan betul (sarung tangan, topi, sepatu dan
lain-lain). Bersihkan tempat pekerjaan dari kotoran atau benda-benda yang
mengganggu pekerjaan. Tempatkan bahan-bahan pada tempat yang tidak
mengganggu dalam melaksanakan pekerjaan. Tempatkan alat-alat pada tempat
yang aman tidak mudah jatuh dan mudah dijangkau. Hindarkan pemakaian alat
yang tidak sesuai dengan kegunaannya. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh,
hati-hati serta jangan bersendau gurau. Perhatikan petunjuk dari pembimbing.
Perhatikan dan pelajari dengan seksama gambar tugas dan urut-urutan kerja, bila
terdapat materi yang kurang jelas segera tanyakan pada pembimbing. Bekerjalah
bersama-sama        dengan     teman   seregu,    dengan    saling   membantu     dan
perhatikanlah teman-teman agar tidak terjadi kecelakaan. Laporkan segera
kepada pembimbing, bila terjadi sesuatu yang merugikan (kecelakaan) sewaktu
bekerja.


4. Prosedur Kerja
          Prosedur pelaksanaan pekerjaan mencakup tahapan mulai dari awal
sampai selesai. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan. Pasang benang-benang
di bagian tepi dari bidang muka tembok. Usahakan benang-benang tersebut
menghasilkan bidang yang tegak dan rata untuk tebal plesteran lebih kurang 1 cm.
Buatlah di tempat-tempat tertentu di bawah benang-benang bulatan-bulatan
plesteran dengan sisi-sisi 5-10 cm. Jarak bulatan atau persegi lebih kurang sama
dengan panjang bilah perata. Buatlah kepala-kepala plesteran (tanggul-tanggul)
yang menghubungkan bulatan-bulatan atau persegi tersebut. Plester bidang-
bidang di antara kepala-kepala tersebut hingga penuh ratakan dengan bilah
perata hingga plesteran tersebut rata. Gosoklah dengan alat lepa hingga rata dan
halus. Kerjakan terus-menerus sehingga satu bidang penuh selesai diplester


C. Latihan 2
      Dengan diberikan alat dan bahan yang dibutuhkan, lakukanlah pekerjaan
dengan urutan berikut. Pertama, memasang benang pada bidang tampak.
Kemudian membuat bulatan plesteran (5-10) cm. Buat kepala plesteran yang
menghubungkan bulatan-bulatan. Memplester bidang plesteran, dan akhirnya
menggosok atau meratakan bidang yang diplester dengan alat perata.


Memplester Dinding Tembok Tepi Tegak
      Pekerjaan plesteran tepi tegak dapat dikerjakan, setelah plesteran tembok
dihaluskan atau sebelum plesteran tembok dihaluskan. Apabila pekerjaan
plesteran tepi tegak setelah plesteran tembok dihaluskan, maka penghalusan
plesteran tepi tegak dapat dilaksanakan. Tetapi apabila plesteran tepi tegak
dikerjakan sebelum plesteran tembok dihaluskan, maka sebelum penghalusan
semua plesteran harus sudah diselesaikan sehingga pekerjaan penghalusan
tembok dapat dilaksanakan sekaligus. Adukan untuk plesteran tepi tegak harus
lebih baik dari pada adukan untuk plesteran tembok. Misalnya (1) Adukan untuk
plesteran tembok : 1 kp : 1 sm : 1 ps, adukan plesteran tepi tegak : 1 kp : 1 sm : 2
ps + ½ sp diayak halus. (2) Adukan untuk plesteran tembok : 1 sp : 2 ps a 3 ps,
adukan untuk plesteran tepi tegak : 1 sp : 2 ps diayak lebih halus.
      Alat dan bahan yang dibutuhkan hampir sama dengan pekerjaan plesteran
dinding bidang rata seperti dikemukakan di atas. Begitu juga keselamatan kerja
tidak berbeda dengan apa yang sudah disampaikan di atas. Sementara prosedur
pelaksanaan pekerjaan disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan memplester
dinding tembok tepi tegak, sebagai berikut.
        Pertama, tentu saja mempersiapkan semua peralatan dan bahan yang
diperlukan yang diletakkan di tempat yang dekat dengan pekerjaan. Kemudian
langkah berikutnya adalah memasang bilah perata pada sisi samping bidang
tembok yang diplester. Usahakan bilah perata tersebut rata dengan plesteran
tembok yang dimulai dari atas. Plester hingga terbentuk garis tepi (lingir) yang
lurus dan tegak. Geser bilah peratanya ke bawah dan plester lagi hingga terdapat
garis tepi yang lurus dan tegak. Geser bilah perata vertikal lebih kurang 1 cm ke
sebelahnya. Kerjakan plesteran dan geser bilah peratanya ke bawah dan kerjakan
sampai diperoleh permukaan yang rata dan lurus.
C. Latihan 3
        Dengan disediakan alat dan bahan yang dibutuhkan, lakukanlah pekerjaan
plesteran pada Pilaster dan pada dinding tepi tegak tembok serta ujung tepi tegak
tembok.


Mengaci (Melapisi dan Menghaluskan Permukaan Plesteran):
Persiapan Bahan Acian
      Pekerjaan mengaci pada plesteran tembok merupakan pekerjaan menutup
pori-pori yang terdapat pada plesteran dengan pasta adukan. Pekerjaan acian ini
dapat sebagai penutup pori-pori plesteraan bagian luar/dalam atau kedua -
duanya. Fungsi acian adalah : (1) menghaluskan permukaan plesteran agar
kelihatan lebih rapi, (2) menutup lubang poripori plesteran sehingga permukaan
plesteran mudah diplamir dan dicat, (3) memperindah penampilan.
        Pasta adukan acian pada umumnya terdiri dari bahan dasar berupa :
semen, kapur, pasir, semen merah dan puzolan. Pasta adukan acian yang terdiri
dari campuran bahan-bahan seperti tersebut di atas sebelum dibuat dan
digunakan perlu dilakukan penyaringan terlebih dahulu dengan saringan no. 30
(ASTM) atau 0,59 mm. Sebagai pedoman campuran untuk pasta adukan acian
dapat digunakan sebagai berikut:


Tabel: Tipe dan Komposisi Bahan Acian
 Tipe       Semen        Kapur          Pasir       Puzolan     Keterangan
   1                        1                          1        Dinding dalam
   2                        2                          2        Dinding dalam
   3                        1            1             1        Dinding dalam
   4                       1                                     Dinding dalam
   5         1             2                            4        Dinding luar
   6        0,5            2                            4        Dinding luar
   7         1                         1                         Dinding luar
   8         1                         2                         Dinding luar
Catatan:
Puzolan dapat diganti dengan semen merah


      Mengaci plesteran bidang rata pada umumnya dibedakan menjadi dua
yaitu : (1) mengaci plesteran bidang rata vertikal dan (2) mengaci plesteran bidang
rata horizontal (datar). Kesulitan-kesulitan yang terjadi dalam pekerjaan mengaci
plesteran terletak pada konsistensi hasil kehalusan bidang yang diaci. Hal ini
disebabkan butiran-bitiran plesteran kebanyakan tidak homogin bahkan kadang -
kadang terlalu besar. Sebelum pekerjaan mengaci permukaan plesteran dimulai,
permukaan plesteran yang akan diaci harus bersih dari segala kotoran. Di awal
pekerjaan acian plesteran pasangan tembok harus dibasahi dahulu, terutama
pada plesteran pasangan tembok yang bata-batanya mempunyai pengisapan
tinggi. Pembasahan sebaiknya dilakukan dengan memakai kuas/sikat. Hal ini
dimaksudkan agar debu/kotoran yang menempel dapat terlepas, sehingga pasta
adukan untuk acian dapat melekat dengan baik pada plesteran.
      Retak-retak pada permukaan plesteran yang diaci harus dihindarkan
semaksimal mungkin, untuk maksud ini campuran untuk pasta yang dipakai harus
dipilih sebaik mungkin. Retak-retak pada permukaan acian pada plesteran antara
lain disebabkan oleh campuran pasta adukan tidak merata, adukan pasta terlalu
plastis, terlalu banyak bahan yang halus, perbedaan ketebalan lapisan acian yang
besar, perbedaan penyerapan air oleh plesteran, pengeringan terlalu cepat.
      Setelah permukaan plesteran dibasahi kemudian diberi lapisan dengan
pasta adukan dengan ketebalan lebih kurang 2-3 mm. Kemudian digosok-gosok
dengan arah memutar memakai roskam disertai dengan tekanan yang kuat. Untuk
memudahkan pekerjaan, maka lapisan pasta adukan diulaskan pada permukaan
plesteran sedikit demi sedikit dengan tujuan agar tidak cepat kering sewaktu
dikerjakan (digosok). Untuk mendapatkan permukaan yang halus terakhir pada
lapisan acian disapu dengan kuas yang dibasahi air.
      Acian yang baru selesai harus dipelihara dan dilindungi dari pengaruh terik
matahari dan hujan. Hal ini dimaksudkan agar pengeringan dan pengerasan tidak
terlalu cepat yang dapat mengakibatkan retak. Untuk melindungi acian dapat
dilakukan dengan menutup acian memakai plastik, atau kertas semen.
        Prosedur pelaksanaan pekerjaan secara umum mengacu pada prosedur
pekerjaan plesteran dinding, baik yang menyangkut dengan peralatan dan bahan
dengan kekhususan seperti tertera pada tabel di atas. Sementara langkah
pengerjaan acian, antara lain adalah mencakup persiapan bahan sesuai dengan
takaran yang ditentukan. Kemudian masing-masing bahan yang digunakan untuk
menbuat adukan pasta disaring dengan saringan 0,59 mm secukupnya. Takar
masing-masing bahan sesuai dengan campuran yang direncanakan. 1 pc : 2 kp :
4 sm sebagai bahan isian pori-pori dan 1 kp : 1 ps sebagai bahan untuk menutup
lubang yang kasar-kasar. Tempatkan bahan yang sudah ditakar secara berlapis-
lapis   pada   kotak    pencampur     yang   telah   disediakan.   Campur     dengan
menggunakan cetok sehingga menghasilkan campuran adukan pasta kering yang
mempunyai warna homogin. Simpan campuran yang telah jadi dan siap
digunakan.

Mengaci Permukaan Plesteran

        Pekerjaan      menghaluskan     plesteran    (acian)   berupa       pekerjaan
penyempurnaan plesteran tembok, yang sudah diplester tetapi belum halus,
warnanya belum rata, permukaannya masih kasar dan berpori dengan butir-butir
pasir masih kelihatan dengan jelas. Untuk memperoleh tembok yang rapat padat
serta halus , plesteran tembok harus dihaluskan. Untuk menghaluskan plesteran
tembok dilaksnakan pekerjaan mengaci.
        Pertama, siapkan bahan acian untuk mengisi pori-pori permukaan plesteran
dinding yang belum rata atau masih kasar. Komposisi adukan yang dapat dipakai
misalnya adukan 1 kapur : 1 pasir sebagai bahan untuk menutup lubang yang
kasar tadi. Siramlah plester kasar ini dengan air bersih hingga basah. Siramkan
adukan encer tersebut pada tembok dengan menggunakan gayung atau sikat,
dimulai dari bagian atas plesteran tembok, dan gosok dengan alat lepa hingga
berbuih. Siram lagi dan gosok lagi hingga buih tersebut rata dan menutup pori-pori
plesteran serta butir pasir.
        Kerjakan terus-menerus hingga muka tembok halus seluruhnya. Ulangi lagi
beberapa kali, bila tembok masih kurang halus, sehingga muka tembok benar-
benar halus dan rata. Haluskan plesteran tepi tegak dengan campuran adukan 1
sp : ½ kp, agar lebih kuat dari pada plesteran sisa muka tembok, karena tepi tegak
tembok sering kena sentuhan/benturan hingga mudah rusak. Hindarkan
penggunaan sisa adukan (endapan adukan) untuk melapisi plesteran tembok,
sebab akan membuat tembok retak. Usahakan penggosokan tembok secara
sempurna, sebab bila kurang akan terjadi retak-retak pada tembok. Setelah
tembok kelihatan halus sikat dengan adukan encer agar tembok lebih rata dan
halus lagi sebelum dilanjutkan dengan pekerjaan pengapuran atau pengecatan.
Untuk lebih jelasnya lihat gambar cara mengaci.




                          Gambar. Cara Kerja Mengaci



Plesteran Hias:
Menghitung Bahan Plesteran Hias

      Pekerjaan memplester hias pada tembok merupakan pekerjaan seni
sebagai tambahan nilai keindahan pada bidang yang diplester, sehingga
penampilannya akan kelihatan lebih artistik. Plesteran hias ini dapat diaplikasikan
pada bagian luar/dalam atau kedua-duanya dari permukaan atau plesteran bagian
tepi dari tembok. Fungsi plesteran adalah : (1) Menambah nilai keindahan dari
bidang (bagian) yang diplester, (2) Melindungi bidang tepi dari plesteran dari
benturan benda keras sehingga tidah mudah rusak. Bahan adukan plesteran pada
umumnya terdiri dari bahan dasar berupa : semen atau kapur berfungsi sebagai
bahan pengikat, dan pasir, semen merah, tras berfungsi sebagai bahan pengisi.
Adukan yang terdiri dari campuran bahan-bahan seperti tersebut di atas sebelum
dibuat      dan   digunakan   perlu    dilakukan    perhitungan   atas   penggunaan
bahanbahannya. Perhitungan penggunaan bahan dasar dihitung berdasarkan
jumlah volume plesteran yang yang ada.
         Misalnya perhitungan plesteran hias pada tepi keliling dari kusen sebuah
pintu kamar dengan ukuran lebar 90 cm dan tinggi 210 cm. Sementara lebar dan
tebal plester hias adalah 3 cm dan 1,5 cm. Dasar perhitungannya adalah sebagai
berikut :
Volume plesteran hias = Luas pot. plesteran hias x panjang plesteran hias.
                         = 2 (3x1,5)    (1x0,5)    (1x0,5) x (210+210+90)
                         = 3570 cm3.
Jika digunakan plesteran hias dengan campuran perbandingan volume 1 Pc : 4
Ps, maka bahan dasar yang dibutuhkan adalah :
Pc (portland cemen)      : 1/5 x 3570 cm3 = 714 cm3.
Sm (semen merah)         : 4/5 x 3570 cm3 = 2856 cm3.
                         Jumlah            = 3570 cm3.


         Memplester untuk plesteran hias dapat digunakan untuk memplester
bidang rata vertikal dan memplester bidang rata horizontal (datar). Kesulitan-
kesulitan yang terjadi dalam pekerjaan plesteran hias pada umumnya terletak
pada plesteran bidang vertikal. Plesteran hias pada bidang vertikal biasanya
digunakan pada plesteran hias untuk listplank, tepi tembok, tepi keliling kusen
pintu/jendela, atau pada lubanglubang yang terdapat pada tembok yang berfungsi
sebagai ornamen-ornamen untuk keindahan dari permukaan tembok yang
bersangkutan, seperti pada lubang ventilasi udara.
         Sebelum pekerjaan plesteran hias dimulai, permukaan plesteran yang akan
diplester hias harus bersih dari segala kotoran. Di awal pekerjaan plesteran hias,
plesteran pada tembok harus dibasahi dahulu, terutama pada plesteran yang
mempunyai pengisapan tinggi. Pembasahan sebaiknya dilakukan dengan
memakai kuas/sikat. Hal ini dimaksudkan agar debu/kotoran yang menempel
dapat terlepas, sehingga lapisan plesteran hias dapat melekat dengan baik pada
plesteran tembok. Retak-retak pada plesteran hias harus dihindarkan semaksimal
mungkin, untuk maksud ini campuran yang dipakai harus dipilih sebaik mungkin.
Retak-retak pada plesteran antara lain disebabkan oleh campuran adukan tidak
merata, adukan terlalu plastis, terlalu banyak bahan yang halus, perbedaan
ketebalan lapisan yang besar, perbedaan penyerapan plesteran dasar (tembok),
pengeringan terlalu cepat, plesteran hias terlalu kuat dari plesteran tembok.
      Setelah tembok dibasahi kemudian diberi lapisan pertama (kamprotan)
dengan ketebalan lebih kurang 2-3 mm. Untuk memudahkan pekerjaan, maka
dibuat lapisan plesteran hias lapis demi lapis. Untuk mendapatkan permukaan
yang halus terakhir dibuat lapisan acian dengan ketebalan lebih kurang 1 mm.
      Sebelum pekerjaan plesteran hias dilaksanakan, adukan plesteran hias
harus dipersiapkan terlebih dahulu. Syarat-syarat adukan plesteran : (1) Adukan
untuk plesteran hias harus bersih dari kotoran-kotoran, sisa tumbuh-tumbuhan, (2)
Bahan pengikat yang digunakan untuk bahan campuran harus benar-benar
berupa bubuk halus. Tidak boleh terdapat butir-butir bahan pengikat yang dalam
plesteran hias dapat mengakibatkan rusaknya plesteran hias, (3) Sebelum
plesteran hias dimulai, plesteran dasar harus disiram dengan air bersih hingga
basah dan jenuh.
      Plesteran hias ini biasanya digunakan pada pekerjaan-pekerjaan finishing
yang banyak melibatkan unsur seni. Misalnya pada pekerjaan perapian pada
listplank, memberi bingkai pada kusen pintu/jendela, atau lubang ventilasi pada
suatu ruangan dan lain sebagainya. Macam-macam bentuk serta potongan
melintang pada pekerjaan plesteran antara lain sebagai berikut :

Latihan:

      Hitung volume plesteran hias, jika adukan digunakan perbandingan 1 Pc : 4
Ps, untuk sebuah lisplank beton dengan ukuran panjang 9 m, tinggi 0,5 m.
Plesteran hias dibuat pada bidang luar, keliling dengan bentuk dan ukuran sesuai
dengan disain yang dibuat.


EVALUASI
Tes Tertulis
1. Sebutkan tiga fungsi utama plesteran!
2. Jelaskan mengapa plesteran yang baru saja selesai dikerjakan perlu
   perawatan?
3. Sebutkan empat ketentuan adukan untuk plesteran?
4. Sebutkan fungsi utama acian!
5. Jelaskan mengapa bahan-bahan untuk membuat adukan acian perlu disaring?
6. Jelaskan mengapa pada permukaan acian terjadi retak-retak?
7. Sebutkan dua fungsi utama plesteran hias!
8. Jelaskan mengapa plesteran hias pengerjaan lapisan hiasnya bertahap?
Bobot Penilaian Proses dan Hasil Kerja
1. Cara menggunakan alat                                     : 20 %.
2. Sistematika kerja                                         : 20 %.
3. Perhatian terhadap keselamatan kerja                      : 10 %.
4. Sikap kerja                                               : 10 %.
5. Waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan : 15 %.
6. Hasil pekerjaan meliputi 25 %, terdiri dari:
    a. Ketegakan plesteran                                   : 5 %.
    b. Kelurusan plesteran                                   : 5 %.
    c. Homoginitas warna plesteran                           : 5 %.
    d. Kepadatan plesteran                                   : 5 %.
    e. Kebersihan                                            : 5 %.
Total                                                      : 100 %




LEMBAR KUNCI JAWABAN
Tes Tertulis
1. Fungsi plesteran adalah:
  a. Melindungi pasangan tembok dari pengaruh cuaca, khususnya hujan dan
        terik panas matahari, pengaruh-pengaruh mekanik.
  b. Memperhalus/meratakan        permukaan       pasangan     tembok   sehingga
        memudahkan pengecatan.
  c. Memperindah penampilan.
2. Plesteran yang baru selesai harus dipelihara dan dilindungi dari pengaruh terik
  matahari dan hujan. Hal ini dimaksudkan agar pengeringan dan pengerasan
  tidak terlalu cepat yang dapat mengakibatkan retak. Untuk melindungi plesteran
  dapat menyiram atau menutup plesteran dengan plastik.
3. Syarat-syarat adukan plesteran:
  a. Adukan untuk plesteran harus bersih dari kotoran-kotoran, sisa tumbuh-
        tumbuhan.
  b. Kapur yang digunakan untuk bahan campuran harus benar-benar berupa
        bubuk halus. Tidak boleh terdapat butir-butir kapur yang dalam plesteran
        dapat mengakibatkan rusaknya plesteran.
  c. Lajur tembok paling bawah lebih kurang 20 cm diplester dengan adukan 1 sp
     : 2 ps, agar kedap air dan diberi pasangan ubin plint tegak.
  d. Sebelum plester tembok dimulai, tembok harus disiram dengan air bersih
     hingga basah dan jenuh.
4. Fungsi acian adalah : (1) menghaluskan permukaan plesteran agar kelihatan
  lebih rapi, (2) menutup lubang pori-pori plesteran sehingga plesteran mudah
  diplamir dan dicat, (3) memperindah penampilan.
5. Sebab : jika bahan yang digunakan tidak disaring dalam pengerjaan acian pada
  plesteran akan mengalami kesulitan karena butir-butir adukan pasta acian tidak
  lembut (kasar). Di samping itu apabila bahan pengikat tidak disaring misalnya
  kapur, dikawatirkan setelah pekerjaan acian jadi, kapur akan mengembang
  sehingga permukaan acian pecah-pecah.
6. Retak-retak pada permukaan acian pada plesteran disebabkan antara lain oleh
  campuran pasta adukan tidak merata, adukan pasta terlalu plastis, terlalu
  banyak bahan yang halus, perbedaan ketebalan lapisan acian yang besar,
  perbedaan penyerapan air oleh plesteran, pengeringan terlalu cepat.
7. Fungsi plesteran adalah : (1) menambah keindahan pada bagian bangunan
  terkait sehingga lebih artistik, (2) sebagai perkuatan sehingga sisi-sisi plesteran
  tidak mudah rusak apabila terkena benturan benda yang lain.
8. Karena dengan cara pengerjaan yang bertahap akan menghasilkan suatu
  pekerjaan plesteran hias yang baik, rapi dan metode serta langkah kerja relatif
  mudah.
                        DAFTAR PUSTAKA


Department Of Labour and Immigration. (1975). Basic Trade Manual, 13-1
       Bricklaying Fundamentals . Canberra: Australian Government Pub-
       lishing Service.

Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. (1988). Kumpulan Job Sheet
       Penataran Dosen FPTK IKIP Jakarta-Surabaya-Ujung Pandang di
       FPTK IKIP Yogyakarta . Yogyakarta: FPTK IKIP Yogyakarta.

Soegeng Djojowirono. (1988). Konstruksi Bangunan Gedung . Yogyakarta:
      Biro Penerbit Keluarga Mahasiswa Teknik Sipil Fakultas Teknik
      Universitas Negeri Yogyakara.
KEGIATAN BELAJAR 5:
PEMASANGAN KUSEN PADA DINDING

TUJUAN:
      Setelah mengikuti seluruh kegiatan belajar diharapkan peserta diklat dapat
mempersiapkan alat-alat dan bahan-bahan praktek dengan benar. Memperguna-
kan alat-alat untuk membuat pasangan kusen dengan benar. Menjaga
keselamatan kerja dengan benar. Memasang kusen dengan benar. Memasang
kusen pada ketinggian yang telah ditentukan. Memasang kusen dengan tegak.
Memasang kusen pada as. Memasang kusen pada tempat yang telah ditentukan.
Menyelesaikan pasangan kusen pada tembok sesuai dengan waktu yang tersedia.

URAIAN MATERI:
      Pada umumnya kusen terbuat dari bahan kayu, walaupun sekarang banyak
dijumpai pula dari aluminium, baja maupun dari plastik. Kayu yang baik untuk
kusen umumnya dari kayu jati, karena mempunyai umur dan kekuatan yang baik.
Sifat kayu jati untuk melengkung maupun terpuntir sangat kecil dibandingkan jenis
kayu yang lain. Disamping itu jika kusen tadi dipelitur, sehingga permukaannya
transparan akan terlihat indah. Untuk kayu Kalimantan yang baik adalah kayu
Kamper karena seratnya halus, sedangkan kayu Bengkirai cukup kuat dan murah
tetapi pengerjaannya sulit karena keras, sehingga setelah jadi kusen harganya
tidak berbeda dengan kusen dari kayu Kamper.
      Kusen bisa kita bedakan antara lain : Kusen pintu, Kusen jendela, serta
Kusen gabungan pintu dan jendela. Pada prinsipnya pemasangan kusen pintu
diusahakan mempunyai ketinggian yang seragam terhadap kusen pintu yang
lainnya. Demikian juga tinggi jendela diusahakan mempunyai ketinggian yang
sama dengan kusen pintu, kecuali untuk hal-hal yang sifatnya khusus misalnya
kusen jendela untuk kamar mandi. Perlu diperhatikan pula kearah mana nantinya
pintu akan dibuka. Variasi bentuk kusen pintu sebenarnya tidak banyak dan lebih
banyak variasi pada bentuk daun pintunya.
      Dalam pekerjaan pemasangan kusen pada dinding dibutuhkan alat dan
bahan yang sesuai dengan karakteristik pekerjaan. Peralatan yang biasa dipakai
antara lain adalah: water pass, unting-unting, meteran, sendok spesi, cangkul, bak
spesi, ember, sekop, benang, pensil, palu, catut, skur, dan patok atau pasak.
Kemudian bahan yang dibutuhkan adalah: Batu bata, Spesi, Kusen pintu, Paku,
Kawat bendrat, dan Angker.
      Selain alat dan bahan, yang perlu diperhatikan dalam pemasangan kusen
pada dinding adalah keselamatan kerja, yakni: Memakai pakaian kerja dengan
lengkap dan benar. Bersihkan tempat kerja dari kotoran yang mengganggu.
Tempatkan alat-alat dan bahan-bahan di tempat yang mudah dijangkau dan
aman. Jagalah agar tempat kerja selalu bersih. Bekerjalah dengan teliti, hati-hati
dan penuh konsentrasi.
      Selanjutnya dalam pemasangan kusen ini, prosedur kerja diawali dengan
menyiapkan alat dan bahan secukupnya di tempat yang aman dan mudah
dijangkau untuk memasang rolag. Rentangkan benang berjarak separuh dari tebal
pasangan rolag terhadap as pada bouwplank untuk menentukan kedudukan
pasangan rolag. Pasang rolag setinggi 3 cm di bawah tinggi bouwplank. Posisi
benang sedikit lebih rendah dari rencana lantai Rolag pasangan batu kali.
Rentangkan benang berjarak separuh dari tebal kusen terhadap as bouwplank
untuk menentukan kedudukan kusen. Pasang angker pada kusen secukupnya.
Dirikan kusen dan tentukan tinggi kedudukan kusen pintu yaitu 2 meter dari tinggi
bouwplank. Setel kedudukan kusen pintu sehingga berdiri tegak dengan
menggunakan unting-unting. Pasang skur sehingga kedudukannya stabil dan
kokoh. Pasang patok untuk diikat bersama dengan skur sehingga kedudukan
menjadi kokoh. Cek kembali kedudukan kusen pintu, apakah sudah sesuai pada
tempatnya, ketinggian dan ketegakan dari kusen. Bersihkan tempat sekelilingnya.

Latihan

1. Sebelum memasang kusen mengapa harus dipasang rolag dulu ?
2. Mengapa untuk memasang kusen dipergunakan unting-unting, bukan dengan
   water pass ?
3. Mengapa tinggi pasangan rolag dibuat agak lebih rendah dari rencana lantai ?
4. Mengapa tinggi kusen jendela ditetapkan 2 meter ?
5. Mengapa kusen jendela harus dipasang angker ?
EVALUASI

1. Adakah pengaruh pemasangan kusen yang kurang tegak ?
2. Mengapa pemasangan kusen dilaksanakan sebelum memasang dinding ?

KUNCI JAWABAN LATIHAN

1. Rolag berfungsi untuk meratakan beban di atasnya, sehingga tidak terjadi
   retak pada dinding, sedangkan rolag sendiri bisa diganti dengan cara lain yaitu
   memasang sloof beton.
2. Penggunaan unting-unting akan lebih tepat dan teliti dari pada menggunakan
   Water Pass.
3. Pasangan rolag dibuat lebih rendah dari pasangan lantai agar dalam
   pemasangan ubin nantinya tidak harus membongkar pasangan rolag. Hal ini
   penting diperhatikan karena pada kenyataan di lapangan pasangan rolag
   biasanya diganti dengan pasangan dari beton (slof beton).
4. Pada umumnya (standar) tinggi pintu adalah 2 meter, agar tinggi kusen pintu
   dan kusen jendela seragam, ditetapkan 2 meter .
5. Agar kusen tertanam baik pada tembok maka kusen diberi angker, sehingga
   kedudukannya menjadi kokoh dan kusen tidak berubah bentuk (terpuntir,
   melengkung dan sebagainya).


KUNCI JAWABAN EVALUASI

1. Pemasangan kusen yang kurang tegak akan menyebabkan berbagai
   persoalan antara lain :
   a. Daun pintu dalam keadaan tertutup tidak bisa tertutup rapat.
   b. Untuk membuka daun pintu kemungkinan akan sulit karena daun pintu
       akan terkena lantai.
   c. Engsel tidak akan dapat bergerak bebas.
2. Pemasangan dinding dulu baru kusen dipasang kemudian sebenarnya tidak
   menjadi masalah asal ukuran-ukuran yang diperlukan harus diukur secara
   teliti, sehingga tidak ada bagian yang harus dibongkar atau sebaliknya malah
   ada bagian yang terlalu longgar?
                         DAFTAR PUSTAKA


Diraatmadja E. 1997. Membangun Ilmu Bangunan . Jakarta. Erlangga.

Purbo R L. Konstruksi Bangunan Gedung . Bandung. Wira Karya.

Sugihardjo H.R. BAE. 1998. Gambar-Gambar Dasar Dalam Ilmu Bangunan .
       Yogyakarta.
KEGIATAN BELAJAR 6:
PEMBUATAN BATAKO DAN PAVING BLOK

TUJUAN:
1.   Mengetahui ruang lingkup pekerjaan pembuatan produk beton;
2.   Mampu menentukan bahan yang sesuai untuk pembuatan ubin, paving blok
     dan batako;
3.   Mampu menentukan, menjelaskan, dan menjaga peralatan kerja yang
     dibutuhkan;
4.   Mampu mengayak dan membersihkan bahan sebelum digunakan;
5.   Mengetahui dan mampu menjelaskan perbandingan adukan semen dan
     pasir dan mampu mengaduknya;
6.   Mampu melaksanakan dan mengatur pekerjaan yang berhubungan dengan
     pembuatan ubin, paving blok dan batako dengan cara yang benar;
7.   Mampu menghitung jumlah bahan yang diperlukan menurut biaya produk;
8.   Mengetahui bagaimana menguji mutu dan mampu menentukan kualitas
     beton yang baik.


URAIAN MATERI:
      Di bagian lain di dunia ini, akhir-akhir ini beton sangat umum dan telah
dibuktikan oleh waktu sebagai bahan dinding yang tahan gempa. Beton dapat
diproduksi dengan tangan dan mesin. Penggunaan khusus beton ditentukan oleh
ukuran dan mutunya. Salah satu jenis beton adalah BATAKO. Batako mempunyai
sifat-sifat panas dan ketebalan total yang lebih baik dari pada beton padat. Batako
memiliki keuntungan tertentu dari pada batu bata, beratnya hanya 1/3 dari bata
untuk jumlah yang sama. Batako dapat disusun 4 kali lebih cepat dan cukup kuat
untuk semua penggunaan yang biasanya menggunakan batu bata. Dinding yang
dibuat dari batako mempunyai keunggulan dalam hal meredam panas dan suara.
Semakin banyak produksi beton semakin ramah lingkungan dari pada produksi
bata tanah liat karena tidak harus dibakar.
      Ditinjau dari sisi lain, sekarang ini fungsi rumah tidak lagi hanya sekedar
melindungi dari hujan dan panas, melainkan juga sebagai tempat yang bersih,
sehat dan indah. Salah satu cara membuat ruang yang bersih dan indah di dalam
rumah, di halaman, di tempat parkir adalah dengan menggunakan paving blok dan
ubin. Paving blok dan ubin dapat digunakan di sekitar lingkungan rumah dan
kantor. Fungsi utama bahan ini adalah untuk menutup lantai dengan bersih dan
dalam jangka waktu yang lama. Paving blok dan ubin dapat dipasang tanpa
menggunakan semen. Hal ini membuatnya sebagai alternatif yang murah dan
mudah untuk penyerapan air dan tempat yang bebas lumpur. Dari segi keindahan,
bangunan yang sederhana akan lebih indah dengan lantai dan tempat parkir yang
bagus. Di pasaran dapat ditemukan berbagai bentuk, motif dan pola sesuai
dengan selera konsumen.
       Batako terdiri dari berbagai bentuk dan ukuran. Istilah batako berhubungan
dengan bentuk persegi panjang yang digunakan untuk dinding beton. Batako
digolongkan ke dalam dua kelompok utama: Batako Padat Batako berlubang
Batako berlubang memiliki sifat penghantar panas yang lebih baik dari batako
padat dengan menggunakan bahan dan ketebalan yang sama. Batako berlubang
memiliki beberapa keunggulan dari batu bata, beratnya hanya 1/3 dari batu bata
dengan jumlah yang sama dan dapat disusun empat kali lebih cepat lebih kuat
untuk semua penggunaan yang biasanya menggunakan batu bata. Di samping itu
keunggulan lain batako berlubang adalah kedap panas dan suara. Paving blok
memiliki berbagai bentuk, pola, dan warna.




                       Gambar . Batako dan Paving Blok




Bahan:
      Pembuatan produk beton biasanya menggunakan bahan-bahan seperti
Semen, Pasir, Kerikil, dan Air. Jika menggunakan cetakan, dibutuhkan juga
minyak/oli. Berikut ini terlebih dahulu akan diuraikan tentang masalah bahan
tersebut.

1. Semen

      Semen adalah adukan 60      67% kapur, 25% silika, dan 3     8% alumina,
yang kemudian diaduk bersama-sama dengan air ke dalam bentuk slurry, yang
dipanaskan, dikeringkan, dikeraskan dan dibentuk menjadi tepung yang halus.
Sedikit gipsum ditambahkan sebelum digiling untuk mengatur tingkat kehalusan.

a. Pengaturan dan pengerasan

      Istilah pengaturan dan pengerasan mempunyai beberapa pengertian.
Pengaturan adalah proses dimana perubahan beton cair menjadi bentuk padat,
tetapi dalam keadaan masih lembek. Hardening adalah proses beton dalam
keadaan lembek menjadi padat.

b. Pemberian air (hidrasi) pada semen

      Saat air ditambahkan pada semen atau proses pengairan semen dan
selama reaksi kimia yang terjadi pada saat pengaturan semen terjadinya kenaikan
suhu dan menghasilkan panas.

c. Berbagai jenis semen
      Ada 5 jenis semen. Semen digolongkan berdasarkan sifat-sifatnya dan
komposisi kimia. Nama-nama ke-5 macam semen adalah: Semen Portland biasa,
Semen pembekuan cepat, Semen pengaturan cepat, Semen Blast             Furnace
Slag, dan Semen alumina tinggi.

d. Jenis dan mutu semen

      Untuk produk semen seperti batako dan paving blok/ubin disarankan untuk
menggunakan semen portland biasa. Merknya di Aceh adalah Semen Andalas
dan Semen Padang. Secara umum untuk penggunaan batako, orang memilih
untuk menggunakan Semen Padang karena mutu merk ini dianggap jauh lebih
baik dan tentunya akan meningkatkan kekuatan batako. Untuk paving blok Semen
Andalas Kelas 1 juga digunakan (terdapat 3 kelas, 1 kelas yang terbaik, dan 2
kelas lainnya bermutu rendah). Untuk mencapai produk beton yang bagus dalam
hal kekuatan dan daya tahan perlu diketahui syarat penyimpanan semen. Semen
dapat disimpan dalam kantong dengan aman untuk beberapa bulan jika disimpan
ditempat yang kering. Kantong kertas lebih baik sebagai tempat penyimpanan dari
pada kantong dari rami dalam hal menjaga kualitas akibat kelembaban. Selama
musim hujan, penyimpanan semen berperan penting karena kelembaban yang
tinggi mempercepat rusaknya semen.




      Gambar . Cara Penyimpanan Semen yang Benar dan yang Salah

      Kantong semen sebaiknya disimpan ditempat rata yang agak tinggi (seperti
palet kayu) sekitar 15    20 cm dari lantai dan sekitar 30-50 cm dari dinding.
Tumpukan semen tidak boleh lebih dari 10 tumpuk. Kantong semen sebaiknya
ditempatkan berdekatan untuk mengurangi sirkulasi udara. Kantong semen
sebaiknya jangan dibuka sebelum digunakan.
      Semen portland biasa yang disimpan lebih dari enam bulan sebaiknya tidak
digunakan untuk pekerjaan pondasi. Pengurangan kekuatan rata-rata pada
adukan 1 : 2 : 4 sebagai akibat dari penyimpanan adalah sebagai berikut:
   1) Kekuatan semen baru: 100%
   2) Semen setelah 3 bulan, kekuatan berkurang 20%
   3) Semen setelah 6 bulan, kekuatan berkurang 30%
   4) Semen setelah 12 bulan, kekuatan berkurang 40%
   5) Semen setelah 24 bulan, kekuatan berkurang 50%

e. Pengujian mutu semen
        Tanda-tanda semen yang rusak dilihat dari adanya gumpalan besar semen.
Gumpalan semen sebaiknya tidak digunakan, walaupun jika diayak. Barunya
semen dapat diuji sebagai berikut:
   1) Uji gumpalan. Periksa semen dari gumpalan kecil dan besar. Pisahkan.
   2) Uji gesek. Ketika semen digesek antara jari dan kuku seperti terasa butiran
        halus seperti tepung.
   3) Uji pengaturan. Jika tidak yakin dengan mutu semen dapat dilakukan
        dengan uji pengaturan sederhana. Membuat pasta yang kental dari semen
        murni dan air dan membentuk lapisan dengan diameter kira-kira 75 mm
        dengan ketebalan 12 hingga 15 mm. Lapisan harus mulai diatur kira-kira 30
        sampai 60 menit. Dalam 18 hingga 24 jam lapisan harus sudah keras
        sehingga permukaannya tidak tergores dengan kuku jempol.

f. Resiko dan bahaya bekerja dengan semen - ukuran keamanan

        Semen      selalu   digunakan    dalam      konstruksi.   Setiap   orang   yang
menggunakan semen (atau apapun yang berhubungan dengan semen, seperti
mortar, plaster dan beton) atau yang bertanggung jawab untuk mengelola harus
sadar tentang hal itu, jika tidak ditangani dengan benar, akan membahayakan
kesehatan orang. Jika tidak ditangani dengan benar, semen dapat menyebabkan
berbagai penyakit melalui: sentuhan kulit, penghisap debu dan penanganan tanpa
alat.
        Pertama,    sentuhan    kulit.   Sentuhan     dengan      semen    basah   dapat
menyebabkan kulit terbakar dan peradangan kulit. Kedua, dermatitis. Kulit yang
terkena dermatitis terasa gatal, luka, dan kelihatan memerah, bersisik, dan pecah-
pecah. Dermatitis yang diakibatkan oleh semen terjadi dari 2 cara, iritasi dan
alergi. Dermatitis iritasi disebabkan oleh sifat-sifat fisik semen. Dengan
pengobatan iritasi dapat dihilangkan, tetapi bila terkena terus-menerus kondisi
akan semakin bertambah parah. Dermatitis alergi disebabkan oleh sensitif
terhadap hexavalen chromium (chromatic) yang ada pada semen. Riset
menunjukkan 5-10% pekerja konstruksi mungkin sensitif terhadap semen, plaster,
dan batu bata. Semakin lama terkena maka akan semakin besar resiko yang
muncul. Jika seseorang sensitive dengan hexavalent chromium, eksposur lebih
lanjut akan berakibat pada dermatitis. Beberapa penjual laki-laki dan perempuan
yang memiliki cukup ketrampilan bahkan terpaksa harus mengganti penjualan
karena sebab ini.
      Jika semen yang tertinggal di kulit tidak langsung dicuci resiko terkena
kedua dermatitis akan semakin besar. Untuk keamanan dan kesehatan,
minimalisasi terkena dengan semen baik secara langsung maupun tidak dari
lingkungan kerja. Cara langsung untuk mengatur dermatitis semen adalah dengan
mencuci kulit dengan air panas dan sabun dan mengeringkannya. Sarung tangan
dapat melindungi kulit dari semen.
      Ketiga, terbakar semen. Semen basah dapat menyebabkan kulit terbakar,
penyebabnya karena sifat basa dari semen. Diperlukan waktu sebulan untuk
menyembuhkannya. Dalam kasus yang berat dapat menyebabkan diamputasi.
Percikan semen dimata dapat juga menyebabkan terbakar.
      Keempat, terhirup debu. Debu dalam intensitas tinggi dihasilkan ketika
menangani semen, misalnya saat mengosongkan atau membuang kantong
semen. Terkena debu harus dihilangkan jika mungkin dengan memakai masker
yang menutupi mulut dan hidung.

g. Penanganan Secara Manual

      Bekerja dengan melibatkan semen juga beresiko seperti keseleo dan
mengalami ketegangan pada punggung, tangan dan bahu pada saat mengangkat
dan memindahkan semen, pada saat mengaduk semen dan lain-lain. Kerusakan
pada punggung dapat disebabkan dalam jangka waktu yang lama jika pekerja
selalu mengangkat beban yang berat. Hindari penanganan beban berat secara
manual. Semen sebaiknya disupply dalam kantong 25 kg, jika tersedia. Jika
penanganan secara manual harus diperhatikan cara mengangkut yang benar.

2. Pasir dan Kerikil

      Pasir dan kerikil bahan baku dasar yang paling penting dan memerlukan
perhatian khusus. Bahan sisa ayakan berukuran 4,75 mm disebut kerikil kasar,
dan dibawah ukuran itu disebut sebagai kerikil halus atau pasir. Hasil ayakan yang
berukuran 75 mikron biasanya disebut sebagai tanah liat, endapan halus atau
debu halus dalam kerikil. Pasir yang mengandung 90% partikel berukuran lebih
besar dari 0,006 mm dan kurang dari 0,2 mm adalah pasir halus. Pasir yang
mengandung 90% partikel berukuran lebih besar dari 0,6 mm dan kurang dari 2
mm disebut sebagai pasir kasar. Terdapat 3 sumber utama asal kerikil kasar,
yaitu: Endapan alam, Batu yang dihancurkan (splite), kerikil batu bata. Kemudian
terdapat 4 jenis utama pasir, yaitu: Pasir galian, Pasir laut, Pasir sungai, dan Pasir
yang dihancurkan.




a. Mutu pasir dan kerikil

       Mutu beton secara langsung berhubungan dengan karakteristik dan kondisi
pasir. Pasir dan kerikil harus bersih dari tanah liat tanaman dan bahan organik
lainnya. Tanah liat atau kotoran yang melapisi kerikil dapat menghalangi
lengketnya semen dengan kerikil, memperlambat proses pengaturan pembekuan
dan menurunkan kekuatan beton. Dengan demikin tanah liat dan kotoran tidak
boleh melebihi 10% jika tidak pasir harus dicuci.

b. Penyimpanan pasir

       Pasir sebaiknya disimpan ditempat yang teduh. Pasir sebaiknya terlindungi,
seperti dari kotoran binatang, limbah pertanian, anak-anak, pohon dan lain-lain
jika memungkinkan.

c. Pengujian mutu pasir.

       Ada tiga cara menguji mutu pasir. Pertama, uji visual/uji penglihatan.
Periksa pasir dari kotoran seperti bahan organik (lumpur, dedaunan, akar-akaran
dan lain-lain). Kedua, uji kandungan pasir dan kotoran. Uji kandungan pasir dan
kotoran dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu tes tangan dan tes botol.
       Cara pengujian dengan tes tangan adalah sebagai berikut. Contoh pasir
digosokkan diantara dua telapak tangan pasir yang bersih hanya akan
meninggalkan sedikit bekas. Jika tangan tetap kotor itu menunjukkan adanya
terlalu banyak tanah. Kalau dengan tes botol, caranya sebagai berikut. Ambil
sebuah botol dan isi dengan pasir hingga setengah penuh. Isi dengan air bersih
hingga ¾ penuh. Kocok dan biarkan hingga satu jam. Pasir yang bersih akan akan
langsung mengendap, kotoran dan tanah liat secara perlahan-lahan akan turun di
atas pasir. Ketebalan tanah liat dan kotoran tidak boleh melebihi 1/10 atau 10%
dari pasir di bawahnya. Pengujian ini juga disebut Decantation test, pengujian ini
tidak dapat diterapkan pada pasir dari batu yang dipecahkan.
      Ketiga adalah dengan cara tes kain atau pakaian. Hamparkan pasir pada
permukaan yang bersih. Gosok dengan kain putih diatas pasir.Jika kain sangat
kotor, pasir sebaiknya tidak digunakan untuk membuat beton.
      Pasir atau kerikil yang tidak bagus hendaknya tidak dipakai untuk
pembuatan batako dan paving blok. Misalnya Pasir yang kotor sebaiknya tidak
digunakan untuk pembuatan batako atau paving blok sebab dapat mengurang
daya rekat beton. Pasir laut juga tidak cocok digunakan untuk adukan semen-
pasir, karena mengandung garam, yang menarik dan menyerap kelembaban.
Sebagai tambahan garam yang terkandung dalam mortar akan menghasilkan
serbuk yang keputih-putihan dan berkilauan, yang akan menghilangkan warna
pekerjaan batu bata atau pondasi.

3. Air

      Tidak hanya mutu tapi sama jumlah air sama pentingnya untuk
menghasilkan produk beton yang baik. Hampir semua air alami yang dapat
diminum tidak mempunyai rasa dan bau dapat digunakan sebagai air adukan
untuk membuat produk beton. Air yang cocok untuk membuat beton belum tentu
cocok untuk diminum. Air laut sebaiknya tidak digunakan sebagai air adukan
beton. Air hujan yang dikumpulkan dari atap dapat digunakan untuk adukan beton.
Berbagai jenis minyak biasanya ada dalam adukan air. Air yang teraduk dengan
segala jenis minyak tidak dapat digunakan untuk adukan beton.
      Air sebaiknya disimpan di tempat yang tidak terkontaminasi jika
memungkinkan. Air yang disimpan dalam drum yang bersih dan tangki yang
tertutup adalah lebih baik. Umur air atau lamanya penyimpanan tidak berpengaruh
pada produk beton.

Peralatan dan Perkakas

      Sebelum memulai bekerja peralatan dan perkakas tangan harus secara
hati-hati dipilih. Peralatan biasanya digunakan hanya untuk tujuan yang diinginkan
Peralatan secara teratur dirawat, dibersihkan dan ditempatkan di tempat yang
kering dan tahan lebih lama dan juga lebih nyaman untuk digunakan.
Peralatan/perkakas untuk pembuatan produk beton adalah: cetakan batako,
cetakan paving block, ayakan pasir (besar dan kecil), kotak adukan, sendok
semen, sekop, cangkul, ember penyiram, plat kayu (triplek hanya untuk paving
blok), dan plastik (untuk melindungi produk dari kelembaban).

CARA PEMBUATAN

1.   Persiapan
      Siapkan perkakas, peralatan, dan bahan. Ayak pasir, Langkah pertama
dengan ayakan pasir 1 cm2 untuk memisahkan batu-batu ang besar. Langkah
kedua dengan ayakan yang lebih kecil (mis. 4,5 mm2) untuk mendapatkan pasir
halus. Pasir harus bersih dari kotoran, sampah dan lumpur.
2. Mengaduk Adonan
      Mengaduk adonan biasanya dilakukan dengan tangan untuk jumlah yang
kecil atau dengan mesin untuk jumlah yang besar. Mengaduk dengan tangan
dilakukan jika adukan tidak terlalu banyak atau ketika mesin pengaduk tidak
tersedia. Pencampuan dapat dilakukan ditempat yang kedap air untuk mencegah
air semen merembes keluar.
      Langkah-langkah     mengaduk     dengan    tangan      yang   benar   adalah
sebagaiberikut. Pertama, taburkan sejumlah pasir yang telah diukur setebal 10 cm
di kotak adukan, lalu tuang semen di atas pasir dan aduk keduanya secara
bersama-sama sampai warna keduanya tercampur. Bentuk adukan menjadi
gundukan, dan buat lubang seperti cekungan di tengah. Siram dengan sedikit air
secara perlahan dan aduk sampai terbentuk pasta yang merata. Jika
menggunakan kerikil, sekarang tambahkan dalam takaran yang sesuai kerikil dan
aduk hingga setiap kerikil terlapisi secara merata. Periksa adukan: ambil
segenggam penuh adukan dan bentuk seperti bola kecil. Jika bola tersebut tidak
retak, dan tangan sedikit basah, adukan siap untuk dicetak. Meratakan campuran
kering dengan sekop, jika sudah tercampur dengan sempurna, akan kelihatan
berwarna abu-abu. Tambahkan air sekali saja warna abu-abu akan kelihatan.
               Gbr . Mengaduk Adonan Dengan Tangan (Manual)

      Mengaduk dengan mesin akan menguntungkan karena dapat dilakukan
dengan cepat dan lebih efektif. Adukan mesin dibutuhkan untuk sejumlah besar
pekerjaan beton dan bagus untuk kemampuan kerja dengan menempatkan beton
sebentar dan tanpa buangan. Beton yang mempunyai kerikil kasar diaduk pada
pengaduk beton.
      Langkah-langkah mengaduk dengan mesin adalah sebagai berikut.
Pertama, Ukur masing-masing jumlah bahan. Kemudian masukkan kerikil dan
sejumlah air, lalu semen, dan pasir. Aduk dan tambahkan air secukupnya.
Kosongkan pengaduk jika selesai. Bersihkan mesin pengaduk setelah selesai
digunakan.

3. Perbandingan Adukan

      Berdasarkan kebutuhan pelanggan dan mutu produk yang berbeda,
perbandingan adukan untuk beton dapat bervariasi. Secara umum, semakin
banyak semen yang digunakan semakin tinggi mutu yang diperoleh (tetapi juga
lebih mahal biaya produk yang akan dijual kepada konsumen).

a) Paving Blok

      Untuk membuat paving blok berkualitas tinggi, yang akan digunakan terus-
menerus khususnya di tempat dengan beban berat (mis. Tempat parkir),
perbandingan adukan sebaiknya sebagai berikut: 1 bagian semen bermutu baik +
2 bagian pasir sungai yang bersih + 3 bagian kerikil kasar + air secukupnya. Untuk
membuat paving blok bermutu rendah, dapat digunakan lebih sedikit semen dan
lebih banyak pasir sungai yang bersih pada adukan beton (misalnya 1 bagian
semen + 2 bagian pasir sungai yang bersih + 4 bagian kerikil kasar dan air
secukupnya; 1 bagian semen + 4 bagian pasir sungai yang bersih). Paving blok
bermutu rendah ini dapat digunakan di dalam rumah, di halaman depan dan
belakang rumah, di mana tidak ada beban berat yang menekan lantai.

b) Batako Berlubang

      Untuk membuat Batako berkualitas tinggi, yang akan digunakan untuk
dinding rumah, adukan sebaiknya sebagai berikut: 1 bagian semen bermutu baik +
2 bagian pasir sungai yang bersih + 3 bagian kerikil kualitas baik + air secukupnya
Perlu diingat bahwa untuk membangun rumah haruslah selalu menggunakan
batako bermutu terbaik untuk keamanan keluarga di dalam rumah. Jika menjual
batako bermutu rendah untuk bangunan rumah, resikonya sangat tinggi dimana
dinding baru yang dibangun akan runtuh dan mengubur penghuni rumah di
bawahnya. Jika anda menjual batako bermutu rendah tanpa menerangkan bahaya
dan resiko kepada pelanggan, anda harus bertanggung jawab terhadap musibah
mereka jika rumahnya runtuh.

4. Mencetak Batako dan Paving Blok

      Beton setelah diaduk harus ditempatkan pada posisi yang ditentukan dan
dipadatkan sebelum memulai pengaturan semen. Sebelum pencetakan beton
dimulai, harus dipastikan cetakan dipancang dengan kokoh pada posisinya,
diminyaki, dibersihkan, dan dikeringkan dari air yang ada. Jika beton dicetak
ditanah (mis. Untuk beton batako), tanah haruslah rata, bersih dan mudah
menguap, tetapi tanpa adanya air ketika beton dicetak. Plastik dapat digunakan
untuk memastikan tanah bersih. Masukkan adukan ke sudut dan sepanjang
pinggir cetakan dengan menggunakan sekop atau sendok semen.
      Ada beberapa tahapan kerja yang dilalui untuk mencetak paving blok,
Pertama, Isi adukan beton ke dalam peralatan ukur (mis. Ember dengan garis
untuk pengukuran). Kemudian Buka penutup cetakan. Atur cetakan pada posisi
pengisian. Tuang jumlah yang tepat adukan beton ke dalam cetakan (setiap kali
menggunakan jumlah adukan semen yang sama akan diperoleh paving blok yang
sama, baik ketebalan, kekuatan, maupun kualitasnya). Tutup cetakan, dan Atur
pegangan pada posisi pemadatan. Jangan lupa menggunakan pengait. Angkat
pegangan ke posisi awal (kanan atas), kemudian buka pengunci kait.
      Langkah berikutnya adalah membuka penutup cetakan, lalu tekan
pegangan ke bawah hingga paving blok secara penuh keluar dari cetakan. Buka
penutup cetakan, dan Lepaskan pegangan perlahan dan biarkan di lantai. Secara
perlahan, angkat paving blok bersama-sama dengan plat logam keluar dari
cetakan, tempatkan tripleks di atas paving blok yang telah dicetak, secara
perlahan putar 180 derajat (atas bawah). Secara perlahan tempatkan produk di
tempat penyimpanan yang teduh (tanpa sinar matahari langsung), dan biarkan
selama 1 hari (setelah 1 hari perlu dilakukan perawatan selama lebih kurang
seminggu). Bersihkan cetakan (termasuk plat logam) dari sisa cetakan dan debu.
Kadang-kadang cetakan perlu diberi minyak. Tempatkan plat logam ke dalam
tempat asalnya di dalam cetakan. Atur kembali cetakan pada posisi pengisian dan
ulangi langkah 3-12 untuk membuat paving blok berikutnya. Ketika selesai
bekerja, tutup cetakan dengan plastik kering atau sejenisnya, dan simpan
peralatan dan bahan di tempat yang aman dan kering.
      Untuk mencetak batako langkah-langkah berikut dapat dipedomani.
Pertama, Masukkan adukan beton ke dalam peralatan ukur (mis. Ember dengan
garis untuk pengukuran). Tempatkan bagian bawah cetakan ke tempat yang benar
(di bawah atap atau tempat yang teduh). Beri minyak bagian bawah cetakan.
Tuang jumlah yang tepat adukan beton ke dalam cetakan (setiap kali
menggunakan jumlah adukan semen yang sama akan diperoleh batako yang
sama, baik ketebalan, kekuatan, maupun kualitasnya). Letakkan alat tekan
cetakan di atas bagian bawah cetakan. Tekan alat tekan lurus ke bawah hingga
bagian kakinya menyentuh lantai pada ke dua sisi. Injak dengan kaki ke atas
kaki alat tekan cetakan, tekan cetakan, ambil pegangan bagian bawah cetakan,
dan secara perlahan angkat bagian atas cetakan. Perlahan-lahan letakkan bagian
bawah cetakan ke tanah. Keluarkan peralatan tekan dari bagian bawah cetakan,
dan pisahkan ke samping. Perlahan-lahan angkat bagian bawah cetakan ke atas,
dan tempatkan di samping batako yang baru jadi. Biarkan batako yang baru jadi
selama 1 hari (jangan dipindahkan, tetapi pastikan tidak terkena sinar matahari
langsung). Setelah 1 hari, batako dapat disusun bertumpuk, dan perlu dilakukan
curing selama seminggu (langkah-langkah yang benar lihat penjelasan di bawah).
Bersihkan cetakan dari sisa adukan dan debu. Beri minyak cetakan. Ulangi
langkah 2   14 untuk membuat batako berikutnya.

5. Pembersihan

      Pada setiap akhir kerja anda harus membersihkan semua peralatan dan
perkakas dengan mencuci dan menggosoknya dengan sikat kawat       kotoran dari
adukan yang mengeras dapat digosok dengan batu bata. Jika anda telah
menggunakan adukan beton, jalankan adukan selama lebih kurang 15 menit
dengan mengisi sedikit kerikil dan air, dan bersihkan kotoran keras yang
bertumpuk dengan pengikis dan sikat kawat. Bersihkan juga bagian luar adukan.
Pastikan tidak ada yang masuk ke dalam saluran pembuangan. Setelah selesai
membersihkan peralatan dan perkakas, simpan cetakan batako dan juga
peralatan dan bahan di tempat yang aman dan kering.

6. Perawatan atau Pemeliharaan (Curing)

      Curing adalah perlakuan atau perawatan terhadap beton selama masa
pembekuan. Pengukuran curing diperlukan untuk menjaga kondisi kelembaban
dan suhu yang diinginkan pada beton, karena suhu dan kelembaban di dalam
secara langsung berpengaruh terhadap sifat-sifat beton. Pengukuran curing
mencegah air hilang dari adukan dan membuat lebih banyak hidrasi semen. Untuk
memaksimalkan mutu beton perlu diterapkan pengukuran curing sesegera
mungkin setelah beton dicetak. Curing merupakan hal yang kritis untuk membuat
permukaan paving blok yang tahan.
      Curing harus dibuat pada setiap bahan bangunan, bagian konstruksi atau
produk yang menggunakan semen sebagai bahan baku. Hal ini karena semen
memerlukan air untuk memulai proses hidrasi dan untuk menjaga suhu di dalam
yang dihasilkan oleh proses ini demi mengoptimalkan pembekuan dan kekuatan
semen. Pengaturan suhu di dalam dengan air disebut curing. Proses hidrasi yang
tidak terkontrol akan menyebabkan suhu semen kelebihan panas dan kehilangan
bahan-bahan dasar untuk pengerasan dan kekuatan akhir produk semen seperti
beton, mortar, dan lain-lain. Curing yang baik berarti penguapan dapat dicegah
atau dikurangi.
      Secara umum ada 3 jenis utama curing yang digunakan pada sektor
konstruksi, yaitu: Curing air, Curing uap air, Curing uap panas. Curing air adalah
yang paling banyak digunakan. Ini merupakan sistem dimana sangat cocok untuk
konstruksi rumah dan tidak memerlukan infrastruktur atau keahlian khusus.
Bagaimanapun curing air memerlukan banyak air yang mungkin tidak selalu
mudah dan bahkan mungkin mahal. Untuk mengekonomiskan penggunaan air
perlu dilakukan pengukuran untuk mencegah penguapan air pada produk semen.
Misalnya beton harus dilindungi dari sinar matahari langsung dan angin untuk
mencegah penguapan air yang cepat. Cara seperti menutup beton dengan pasir,
serbuk gergaji, rumput dan dedaunan tidaklah mahal, tetapi masih cukup efektif.
Selanjutnya plastik, goni bisa juga digunakan sebagai bahan untuk mencegah
penguapan air dengan cepat. Sangat penting seluruh produk semen (batako,
paving blok, batu pondasi, bata pondasi, pekerjaan plaster, pekerjaan lantai, dll)
dijaga tetap basah dan jangan pernah kering, jika tidak kekuatan akhir produk
semen tidak dapat dipenuhi. Jika proses hidrasi secara dini berakhir akibat
kelebihan panas (tanpa curing), air yang disiram pada produk semen yang telah
kering tidak akan mengaktifkan kembali proses hidrasi, kehilangan kekuatan akan
permanen. Pada curing air, produk semen harus dijaga tetap basah (mis. dengan
menutup produk dengan plastik) untuk lebih kurang 7 hari.
      Curing uap air dilakukan dimana air sulit diperoleh dan semen berdasarkan
unsur-unsur bahan setengah jadi seperti slop toilet, ubin, tangga, jalusi dan lain-
lain diproduksi masal. Curing uap air menurunkan waktu curing dibandingkan
dengan curing air biasa lebih kurang sekitar 50      60%. Prinsip kerja curing air
adalah dengan menjaga produk semen pada lingkungan lembab dan panas yang
membolehkan semen mencapai kekuatan lebih cepat dari pada curing air biasa.
Untuk menghasilkan lingkungan lembab dan panas ini perlu dibuat suatu ruang
pemanasan sederhana dengan dinding dan lantai penahan air yang ditutup
dengan plastik untuk membuat matahari memanaskan ruang pemanasan dan
mencegah air menguap. Tinggi permukaan air dari lantai sekitar 5 sampai 7 cm
dijaga setiap waktu agar prinsip kerja sistem penguapan dapat bekerja.
       Curing uap panas biasanya hanya digunakan pada pabrik yang sudah
canggih yang memproduksi produk semen secara massal. Sistem curing uap
panas mahal dan membutuhkan banyak energi untuk membangkitkan panas yang
dibutuhkan untuk uap panas. Bagaimanapun, produk curing uap panas dapat
digunakan setelah kira-kira 24         36 jam setelah produksi, yang mempunyai
keunggulan dibandingkan curing sistem lainnya.
        Pada dasarnya semua aturan dan regulasi untuk pembuatan beton secara
benar    diikuti,   kekuatan   beton   dapat   diperoleh   seiring   dengan   waktu.
Bagaimanapun, kenaikan kekuatan akan berkurang dengan bertambahnya waktu.
Beberapa hal yang perlu dilakukan antara lain adalah menghitung kebutuhan
bahan. Selalu menghitung dengan tepat berapa banyak beton yang telah selesai
dibuat untuk pekerjaan yang harus dilakukan dan berapa banyak semen, pasir,
kerikil kasar, dan air yang dibutuhkan. Perkiraan yang baik pun bisa saja salah.
Saat memperkirakan jumlah bahan yang dibutuhkan bisa saja terjadi anda
memesan terlalu banyak, yang menyebabkan pengeluaran yang tidak perlu. Ini
bisa juga terjadi anda memesan terlalu sedikit dan mengatur kembali segera
kebutuhan material menjadi sulit atau bahkan mustahil, yang menyebabkan
pengeluaran yang tidak perlu atau kehilangan mutu.
        Selanjutnya selalulah menggunakan pasir dan kerikil yang bersih untuk
beton. Karena pasir dan kerikil yang terkontaminasi (mis. akar, dedaunan, plastik,
serbuk gergaji, kotoran binatang dan manusia, dll tidak akan mengikat dengan
semen, sehingga beton tidak kuat. Pasir dan kerikil dengan persentase tanah liat
dan endapan juga akan melemahkan beton, karena tanah liat dan endapan
mengandung terlalu banyak rongga-rongga kecil yang harus ditutup dengan
semen agar mengikat dengan baik, dengan demikian beton menjadi tidak kuat.
        Sebaiknya selalu menggunakan semen baru dan tidak bergumpal untuk
beton. Karena semen yang telah lama kehilangan sifat-sifat kekuatannya.
Misalnya semen yang telah disimpan sekitar 6 bulan akan berkurang kekuatan
sekitar 30% dibandingkan dengan semen baru. Untuk pekerjaan beton yang baik,
kekuatan sangat penting karena berpengaruh terhadap mutu bangunan secara
keseluruhan. Upayakan selalu aduk bahan-bahan kering (pasir dan semen)
bersama-sama sebelum ditambahkan air. Partikel pasir yang basah cenderung
untuk lengket bersama-sama dan mencegah semen menutupinya. Hal ini
menghasilkan adukan yang tidak rata yang menurunkan mutu beton, karena
setiap partikel pasir dan kerikil idealnya ditutup secara penuh dengan semen.
Selanjutnya, penambahan air bersama-sama dengan pasir, kerikil, dan semen
sekaligus membuat pengadukan beton menjadi sangat sulit untuk pekerja.
      Perlu selalu melindungi tempat adukan beton dari angin, hujan, dan sinar
matahari. Karena angin dan sinar matahari menguapkan air dari beton dan
mempercepat proses pembekuan sebelum digunakan. Ini membuat beton tidak
berguna untuk apapun. Hujan akan menambah air dan menyebabkan beton
menjadi sangat basah, yang menghasilkan kekuatan akhir yang lemah. Anjing dan
kucing menyebabkan kontaminasi bahan baku beton, sehingga perlindungan
dengan benar diperlukan.
      Gunakan adukan beton maksimum 1 jam setelah adukan basah dan jangan
mengaduk kembali dengan menambah adukan dengan air. Untuk beton yang
lebih dari 1 jam, proses hidrasi semen telah dimulai dan pengadukan kembali
akan menghilangkan daya lengket antara semen dan pasir/kerikil. Ikatan ini tidak
dapat mencapai kekuatannya kembali dengan menambahkan air ke dalam beton.
      Di samping itu, perlu selalu menggunakan kotak pengukur takaran.
Menggunakan kantong semen kosong untuk maksud apapun tidak selalu
memastikan jumlah bahan baku yang ditambahkan. Ketidaktepatan dapat
menyebabkan adukan yang kaya dari pada yang direncanakan, atau mengurangi
mutu beton atau menambah biaya.
      Seterusnya beberapa hal yang perlu dihindarkan antara lain adalah jangan
membuat adukan beton di suhu di luar mencapai 40 derajat Celcius. Suhu sinar
matahari langsung pada 40 derajat Celcius adalah mendekati 50 derajat Celcius.
Dengan demikian, penguapan air dari beton yang baru diaduk akan secara cepat
dan serius akan menyusut, retak dan mencegah pembekuan yang terkontrol dari
beton. Hal ini akhirnya menyebabkan beton tidak kuat dan menurunkan mutu
kerja. Bagaimanapun jika tidak dapat dihindari untuk menghentikan pekerjaan
beton, langkah-langkah pencegahan berikut dapat dilakukan adalah mendinginkan
kerikil dengan menyiramkan air. Buat tempat yang teduh di lokasi kerja. Segera
letakkan plastik di atas produk beton yang baru dicetak.
EVALUASI

1. Jelaskan fungsi batako dan paving blok dalam konstruksi bangunan?
2. Jelaskan prosedur pembuatan batako dan paving blok?
3. Jelaskan jenis-jenis perawatan (curing) batako dan paving blok, mana yang
   paling sering digunakan, dan apa alasannya?



KUNCI JAWABAN EVALUASI

   1. Dalam konstruksi bangunan batako berfungsi sebagai bahan dinding yang
      dapat meredam panas dan suara. Batako mempunyai sifat-sifat panas dan
      ketebalan total yang lebih baik dari pada beton padat. Batako memiliki
      keuntungan tertentu dari pada batu bata, beratnya hanya 1/3 dari bata
      untuk jumlah yang sama. Batako dapat disusun 4 kali lebih cepat dan
      cukup kuat untuk semua penggunaan yang biasanya menggunakan batu
      bata. Kemudian fungsi paving blok adalah untuk menunjang citra bangunan
      sebagai tempat yang bersih, sehat dan indah. Paving blok dipasang di
      halaman atau di tempat parkir. Paving blok dan ubin dapat digunakan di
      sekitar lingkungan rumah dan kantor. Fungsi utama bahan ini adalah untuk
      menutup lantai dengan bersih dan dalam jangka waktu yang lama. Di
      pasaran dapat ditemukan berbagai bentuk, motif dan pola paving blok
      sesuai dengan selera konsumen.
   2. Prosedur pembuatan batako dan paving blok dimulai dari persiapan,
      mengaduk adonan, mencetak, membersihkan, dan merawat hasil cetakan
      batako dan paving blok.
   3. Terdapat tiga jenis utama curing yang digunakan pada sektor konstruksi,
      yaitu: Curing air, Curing uap air, Curing uap panas. Dari ketiga jenis ini
      yang paling banyak digunakan adalah curing air. Ini merupakan sistem
      dimana sangat cocok untuk konstruksi rumah dan tidak memerlukan
      infrastruktur atau keahlian khusus. Akan tetapi curing jenis ini memerlukan
      banyak air, tidak selalu dapat dilakukan dengan mudah, dan bahkan
      biayanya mungkin menjadi mahal. Untuk itu, agar tidak boros maka
      penggunaan air perlu ditakar dan dilakukan upaya untuk mencegah
      penguapan air yang berlebihan.

								
To top