BAB II

Document Sample
BAB II Powered By Docstoc
					                                                                              9




                                    BAB II

      KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS



2.1     Kajian Pustaka

2.1.1   Biaya

        Dalam kegiatan bisnis, semua aktivitas dapat diukur dengan satuan uang

yang lazim disebut biaya. Aktivitas itu merupakan pengorbanan waktu, tenaga,

pikiran, dan material untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan bisnis adalah laba.

Oleh sebab itu setiap aktivitas harus diperhitungkan secara benefit cost ratio

(perhitungan keuntungan dan pengorbanan)



2.1.1.1 Pengertian Biaya

        Biaya merupakan salah satu masalah yang penting, maka dari itu

perusahaan memerlukan informasi biaya untuk mengukur apakah masukan yang

dikorbankan memliki nilai ekonomi yang labih rendah daripada nilai keluarannya.

        Pengertian biaya menurut Darsono Prawironegoro dan Ari Purwanti

(2008;49) dalam buku “Akuntansi Managemen”, menyatakan bahwa :

        “Biaya ialah kas dan setara kas yang dikorbankan untuk

        memproduksi dan memperoleh barang atau jasa yang diharapkan

        akan memperoleh manfaat atau keuntungan dimasa mendatang”.

        Pengertian biaya menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2007;4) dalam

buku “Akuntansi Biaya: Kajian Teori dan Aplikasi”, menyatakan bahwa :
                                                                            10




       “Biaya atau cost adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur

       dalam satuan uang yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi

       untuk mencapai tujuan tertentu”.

       Sedangkan   menurut    Hansen,     Mowen      (2005;523)   dalam   buku

”Management Accounting” yang diterjemahkan oleh Dewi Fitriasari dan Deny

Arnos Kwary, mendefinisikan biaya sebagai berikut:

       ”Biaya (cost) adalah nilai kas atau ekuivalen kas yang digunakan

       untuk barang dan jasa yang diperkirakan untuk membawa manfaat

       di masa sekarang atau masa depan, pada organisasi”.

       Biaya seringkali digunakan dalam arti yang sama dengan istilah beban,

padahal pengertian biaya berbeda dengan beban. Biaya merupakan pengorbanan

untuk memperoleh harta, sedangkan beban merupakan pengorbanan untuk

memperoleh    pendapatan.    Adapun   pengertian     beban   menurut   Darsono

Prawironegoro dan Ari Purwanti (2008;49) dalam buku “Akuntansi

Managemen”, menyatakan bahwa :

       “Beban atau expenses ialah pengeluaran untuk mendapatkan

       pendapatan pada suatu periode tertentu; beban atau expenses

       dikurangkan pada pendapatan untuk memperoleh laba”.

       Pengertian beban menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2007;4) dalam

buku Akuntansi Biaya: Kajian Teori dan Aplikasi, adalah sebagai berikut :

       “Beban (expense) adalah biaya yang telah memberikan manfaat dan
       sekarang telah habis. Biaya yang belum dinikmati yang dapat
       memberi manfaat di masa yang akan datang dikelompokkan sebagai
       harta”.
                                                                           11




       Pengertian beban menurut Hansen, Mowen (2005;523) dalam buku

”Management Accounting” yang diterjemahkan oleh Dewi Fitriasari dan Deny

Arnos Kwary, mendefinisikan biaya sebagai berikut:

       “Beban (expense) adalah biaya yang telah kadaluwarsa”.

       Berdasarkan pengertian-pengertian di atas istilah biaya (cost) maupun

beban (expense) dapat disimpulkan bahwa biaya (cost) adalah pengorbanan yang

diukur dengan harga yang dibayar untuk mendapatkan, menghasilkan atau

memelihara barang atau jasa.

       Sedangkan beban (expence) merupakan biaya yang dikurangkan dari

pendapatan pada suatu periode akuntansi tertentu atau dapat disebut juga biaya

yang telah kadaluarsa (expired).



2.1.1.2 Penggolongan Biaya

       Organisasi bisnis pada umumnya menggolongkan biaya menurut

kebutuhan informasi. Makin besar organisasi bisnis, biasanya makin rumit dan

makin banyak informasi akuntansi dibutuhkan oleh manajemen. Menurut

Darsono Prawironegoro dan Ari Purwanti (2008;53) dalam buku “Akuntansi

Manajemen” penggolongan biaya dalam suatu organisasi bisnis pada umumnya

didasarkan pada:

       “1.    Penggolongan dasar terdiri dari biaya produksi (production
              cost) dan biaya usaha (commercial cost).
       2.     Masa akuntansi terdiri dari pengluaran modal (capital
              expenditures) dan pengeluaran pendapatan (revenue
              expeditures).
       3.     Volume kegiatan terdiri dari biaya tetap (tidak mengikuti
              volume kegiatan).
                                                                         12




      4.      departemen terdiri dari biaya departemen produksi dan
              departemen jasa (pembantu produksi).
      5.      Biaya bersama terdiri dari common cost (biaya overhead
              pabrik) dan joint cost atau biaya gabungan (biaya material).
      6.      Perencanaan dan pengwasan terdiri dari biaya standar dan
              anggaran.
      7.      Proses analisis terdiri dari differential cost, relevant cost,
              opportunity cost.
      8.      Sifat kegiatan terdiri dari biaya utama (biaya bahan langsung
              dan biaya tenaga kerja langsung) dan biaya konversi atau
              biaya pengolahan (biaya tenaga kerja langsung dan biaya
              overhead pabrik)”.

      Menurut Mulyadi (2000;14) dalam buku Akuntansi Biaya, biaya dapat

digolongkan menurut :

      “ 1.    Objek Pengeluaran.
        2.    Fungsi pokok dalam perusahaan.
        3.    Hubungan biaya dengan biaya yang dibiayai.
        4.    Perilaku biaya dalam hubungannya dengan perubahan volume
              kegiatan.
        5.    Jangka waktu manfaatnya”.

      Adapun penjalasan di atas adalah sebagai berikut :

1.    Objek pengeluaran

             Dalam cara penggolongan ini, nama objek pengeluaran merupakan

      dasar penggolongan biaya. Misalnya nama objek pengeluaran adalah

      “biaya bahan bakar”. Contoh penggolongan biaya atas dasar objek

      pengeluaran dalam perusahaan kertas adalah sebagai berikut: biaya

      benang, biaya gaji dan upah, biaya soda, biaya depresiasi mesin, biaya

      asuransi, biaya bunga, biaya zat warna.

2.    Fungsi pokok dalam perusahaan

             Dalam perusahaan manufaktur ada tiga fungsi pokok, yaitu fungsi

      produksi, fungsi pemasaran dan fungsi administrasi dan umum. Oleh
                                                                       13




     karena itu dalam perusahaan manufaktur, biaya dapat dikelompokkan

     menjadi tiga kelompok, yaitu :

     a. Biaya Produksi

        Merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku

        menjadi produk jadi yang siap dijual. Contohnya adalah biaya

        depresiasi mesin dan equipment, biaya bahan baku, biaya bahan

        penolong.

     b. Biaya pemasaran

        Merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk melaksankan kegiatan

        pemasaran produk. Contohnya adalah biaya iklan, biaya promosi,

        biaya angkut dari gudang ke pembeli, gaji karyawan bagian-bagian

        yang melaksanakan kegiatan pemasaran, biaya contoh (sample).

     c. Biaya administrasi dan umum

        Merupakan biaya untuk mengkoordinasi kegiatan-kegiatan produksi

        dan pemasaran produk. Contoh biaya ini adalah gaji karyawan bagian

        keuanagn, akuntansi, personalia dan bagian hubungan masyarakat,

        biaya pemeriksaan akuntan, biaya fotokopi.

3.   Penggolongan biaya hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai

     Sesuatu yang dibiayai dapat berupa produk atau departemen dalam

     hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dikelompokkan

     menjadi dua golongan, yaitu :
                                                                              14




     a)    Biaya langsung (Direct Cost)

           Adalah biaya yang terjadi, yang penyebab satu-satunya adalah

           karena adanya sesuatu yang dibiayai. Jika sesuatu yang dibiayai

           tersebut tidak ada, maka biaya langsung ini tidak akan terjaadi. Biaya

           langsung departemen (Direct Departemental Cost) adalah semua

           biaya yang terjadi di departemen tertentu. Contohnya adalah biaya

           tenaga kerja yang bekerja dalam Departemen pemeliharaan

           merupakan biaya langsung departemen.

     b)    Biaya tidak langsung

           Adalah biaya yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang

           dibiayai. Biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk

           disebut dengan istilah biaya produksi tidak langsung atau biaya

           overhead pabrik (factory overhead cost).

4.   Periode biaya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan

     Dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, biaya dapat

     digolongkan menjadi :

     a. Biaya variable

          Adalah biaya yang jumlah totalnya yang sebanding dengan perubahan

          volume kegiatan. Contoh biaya bahan baku, biaya tenaga kerja

          langsung.

     b. Biaya semivariable

          Adalah biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume

          kegiatan.
                                                                                15




        c. Biaya semifixed

             Adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu dan

             berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi tertentu.

        d. Biaya tetap

             Adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume kegiatan

             tertentu. Contoh : gaji direktur produksi.

5.      Jangka waktu manfaatnya

        Atas dasar jangka waktu manfaatnya, biaya dapat dibagi menjadi dua,

        yaitu :

        a.    Pengeluaran modal (capital expenditures)

              Adalah biaya yang mempunyai manfaat lebih dari satu periode

              akuntansi (biasanya periode akuntansi adalah satu tahun). Contoh

              pembelian aktiva tetap, untuk promosi besar-besaran, dan lain-lain.

        b.    Pengeluaran pendapatan (Revenue Expenditures)

              Adalah biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam periode

              akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut. Contoh biaya iklan, biaya

              tenaga keja, dan biaya telex.



2.1.2   Mutu

        Dalam perusahaan istilah mutu diartikan sebagai faktor-faktor yang

terdapat dalam suatu barang/hasil yang menyebabkan barang/hasil tersebut sesuai

dengan tujuan untuk apa barang atau hasil itu dimaksudkan atau dibutuhkan.
                                                                           16




2.1.2.1 Pengertian Mutu

       Mutu merupakan keseluruhan ciri serta sifat produk yang berpengaruh

pada kemampuannya memenuhi kebutuhan yang dinyatakan atau yang tersirat.

Definisi ini berpusat pada pelanggan, dimana pelanggan punya kebutuhan dan

pengharapan tertentu. Selain itu mutu dapat diartikan jaminan kesetiaan

pelanggan, pertahanan terbaik melawan saingan dari luar dan satu-satunya jalan

menuju pertumbuhan dan pendapatan yang langgeng.

       Mutu menurut Darsono Prawironegoro dan Ari Purwanti (2008;324)

dalam buku “Akuntansi Manajemen” adalah sebagai berikut:

       “Mutu adalah salah satu dimensi komparatif yang penting bagi

       pesaing-pesaing kelas dunia”

       Pengertian mutu menurut Sofjan Assauri (2004;205), dalam buku

”Manajemen Produksi dan Operasi”, adalah sebagai berikut:

       ”Mutu diartikan sebagai faktor-faktor yang terdapat dalam suatu

       barang/hasil yang menyebabkan barang/hasil tersebut sesuai dengan

       tujuan untuk apa barang/hasil itu dimaksudkan atau dibutuhkan”.

       Menurut Sofjan Assauri (2004;205), dalam buku ”Manajemen Produksi

dan Operasi”, adalah sebagai berikut:

       ”Mutu / Kualitas”.

       Pengertian mutu menurut Goetsch dan Davis, yang dikutip oleh Fandy

Tjiptono dan Anastasia Diana (2003;4) dalam buku yang berjudul ”Total

Quality Management”, adalah sebagai berikut:
                                                                         17




        ”Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan

        dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang

        memenuhi atau melebihi harapan”.

        Pengertian mutu menurut Deming, yang dikutip oleh Fandy Tjiptono dan

Anastasia Diana (2003;24) dalam buku yang berjudul ”Total Quality

Management”, adalah sebagai berikut:

        ”Kualitas merupakan suatu tingkat yang dapat diprediksi dari

        keseragaman dan keteraturan pada biaya yang rendah dan sesuai

        dengan pasar”.

        Berdasarkan penjelasan di atas mengenai mutu tersebut maka dapat

disimpulkan bahwa, mutu atau kualitas merupakan kondisi dinamis yang

berhubungan dengan produk, jasa manusia, proses, dan lingkungan yang telah

memenuhi persyaratan dan harapan pelanggan atau konsumen. Sehingga

perusahaan dapat mengurangi tingkat kesalahan, mengulangi pengerjaan kembali

dan pemborosan, serta meningkatkan hasil dan memperbaiki kinerja penyampaian

produk atau jasa.



2.1.2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Mutu

        Mutu dipengaruhi oleh faktor yang akan menentukan bahwa suatu barang

dapat memenuhi tujuannya. Oleh karena itu, mutu merupakan tingkatan pemuasan

suatu barang. Menurut Sofjan Assauri (2004;206) dalam buku yang berjudul

”Manajemen Produksi dan Operasi”, tingkat mutu ditentukan oleh beberapa

faktor, yaitu :
                                                                              18




     ”1.    Fungsi suatu Barang.

     2.     Wujud Luar.

     3.     Biaya barang tersebut”.

     Adapun penjelasan dari uraian di atas adalah :

1.   Fungsi suatu barang

     Suatu barang yang dihasilkan hendaknya memperhatikan fungsi untuk apa

     barang tersebut dipergunakan atau dimaksudkan, sehingga barang-barang

     yang dihasilkan harus dapat benar-benar memenuhi fungsi tersebut. Mutu

     yang hendak dicapai sesuai dengan fungsi kepuasan penggunaan barang

     tersebut digunakan atau dibutuhkan, tercermin pada spesifikasi dari barang

     tersebut.

2.   Wujud Luar

     Salah satu faktor yang penting dan sering digunakan oleh konsumen dalam

     melihat suatu barang pertama kalinya, untuk menentukan mutu barang

     tersebut, adalah wujud luar barang itu. Kadang-kadang barang yang

     dihasilkan secara teknis atau mekanis telah maju, tetapi bila wujud luarnya

     kurang dapat diterima, maka hal ini dapat menyebabkan barang tersebut

     tidak disenangi oleh konsumen atau pembeli, karena dianggap mutunya

     kurang memenuhi syarat. Faktor wujud luar yang terdapat pada suatu

     barang tidak hanya terlihat dari bentuk, tetapi juga dari warna, dan hal-hal

     lainnya.
                                                                            19




3.      Biaya barang tersebut

        Umumnya biaya dan harga suatu barang akan dapat menentukan mutu

        barang tersebut. Biasanya untuk mendapatkan mutu yang baik dibutuhkan

        biaya yang lebih mahal.



2.1.3   Biaya Mutu

        Peningkatan mutu selalu diikuti dengan biaya, oleh karena itu pengusaha

atau produsen harus melihat biaya yang dikeluarkan dan hasil serta keuntungan

yang dapat diharapkan.



2.1.3.1 Pengertian Biaya Mutu

        Biaya mutu merupakan biaya yang berhubungan dengan penciptaan,

pengidentifikasian, perbaikan, dan pencegahan kerusakan. Adapun pengertian

biaya mutu menurut Darsono Prawironegoro dan Ari Purwanti (2008;321)

dalam buku “Akuntansi Manajemen” menyatakan bahwa :

        “Biaya mutu adalah biaya yang timbul karena produk yang

        dihasilkan mutunya jelek sehingga tidak disukai oleh konsumen”.

        Menurut Eddy Herjanto (2007;397) dalam bukunya yang berjudul

”Manajemen Operasi”, mendefinisikan biaya mutu sebagai berikut:

        ”Biaya yang nyata/tidak nyata dan tidak diperlukan tetapi timbul

        dalam setiap organisasi yang tidak memiki sistem mutu yang baik”.

        Berdasarkan pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa biaya mutu

merupakan biaya yang timbul karena mungkin atau telah terdapat produk yang
                                                                              20




memiliki mutu yang buruk, semua biaya yang dikeluarkan untuk mencapai suatu

mutu tertentu dari produk yang dihasilkan akan mempengaruhi secara langsung

besarnya biaya produksi dari produk yang dihasilkan.



2.1.3.2 Penggolongan Biaya Mutu

       Perusahaan selalu memikirkan untuk memperbaiki mutu dari barang yang

dihasilkannya dengan biaya yang sama atau tetap, atau mencapai mutu yang tetap

sama (dapat dipertahankan) dengan biaya yang lebih murah, padahal untuk

meningkatkan mutu selalu dibutuhkan biaya. Oleh karena itu pengusaha harus

melihat biaya yang dikeluarkan, hasil serta keuntungan yang dapat diharapkan.

Dalam hal ini perlu diperhatikan unsur-unsur atau komponen biaya apa saja yang

terdapat dalam mutu.

       Menurut     Hansen,   Mowen      (1997)   yang   dikutip   oleh   Darsono

Prawironegoro dan Ari Purwanti (2008;324) dalam buku “Akuntansi

Manajemen”, biaya mutu terdiri dari :

       ”1.      Biaya Pencegahan
       2.       Biaya Penilaian
       3.       Biaya Produk Gagal Internal
       4.       Biaya Produk Gagal Eksternal”.

       Adapun pengertian dari kutipan di atas adalah sebagai berikut :

1.     Biaya Pencegahan

       Biaya pencegahan ialah biaya untuk mencegah dihasilkannya mutu yang

       jelek.

2.     Biaya Penilaian

       Biaya penilaian ialah biaya pendeteksi mutu yang jelek.
                                                                                 21




3.     Biaya Produk Gagal Internal

       Biaya produk gagal internal ialah biaya karena produk gagal memenuhi

       persyaratan dan kegagalanya diketahui sebelum produk dijual.

4.     Biaya Produk Gagal Eksternal

       Biaya produk gagal eksternal ialah biaya karena produk gagal memenuhi

       kepuasan pelanggan setelah terjual.

       Menurut Carter Usry (2006;198) dalam buku “Cost Accounting

(Akuntansi Biaya)” yang diterjemahkan oleh Krista. Biaya mutu dapat

dikelompokkan ke dalam tiga klasifikasi besar, yaitu :

       “1.   Biaya pencegahan (prevention cost).

       2.    Biaya penilaian atau appraisal (appraisal cost).

       3.    Biaya kegagalan (failure cost)”.

       Adapun penjelasan klasifikasi biaya mutu di atas adalah sebagai berikut

1.     Biaya pencegahan (prevention cost)

       Biaya pencegahan atau preventif adalah biaya yang terjadi untuk

       mencegah terjadinya kegagalan produk. Biaya pencegahan adalah biaya

       yang dikeluarkan untuk mendesain produk dan sistem produksi bermutu

       tinggi, termasuk biaya untuk menerapkan dan memelihara sistem-sistem

       tersebut.

2.     Biaya penilaian atau appraisal (appraisal cost)

       Biaya penilaian adalah biaya yang terjadi untuk mendeteksi kegagalan

       produk. Biaya penilaian terdiri atas biaya inspeksi dan pengujian bahan

       baku, inspeksi produk selama dan setelah proses produksi, serta biaya
                                                                              22




       untuk memperoleh informasi dari pelanggan mengenai kepuasan mereka

       atas produk tersebut.

3.     Biaya kegagalan (failure cost)

       Biaya kegagalan adalah biaya yang terjadi saat produk gagal; kegagalan

       tersebut dapat terjadi secara internal atau eksternal. Biaya kegagalan

       internal adalah biaya yang terjadi selama proses produksi, seperti biaya

       sisa bahan baku, biaya barang cacat, biaya pengerjaan kembali, dan

       terhentinya produksi karena kerusakan mesin atau kehabisan bahan baku.

       Biaya kegagalan eksternal adalah biaya yang terjadi setelah produk dijual,

       meliputi biaya untuk memperbaiki dan mengganti produk yang rusak

       selama masa garansi, biaya untuk menangani keluhan pelanggan, dan

       biaya hilangnya penjualan akibat ketidakpuasan pelanggan.



2.1.3.3 Perilaku Biaya Mutu

       Mutu dapat diukur berdasarkan biayanya. Perusahaan menginginkan agar

biaya mutu turun, namun untuk dapat mencapai mutu yang lebih tinggi, setidak-

tidaknya sampai titik tertentu. Bila standar kerusakan nol dapat dicapai, maka

perusahaan masih harus menanggung biaya pencegahan dan penilaian/deteksi.

       Menurut Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana (2003;42) dalam buku

“Total Quality Management”, perilaku biaya mutu sebagai berikut:
                                                                         23




       “Menurut pakar kualitas, suatu perusahaan dengan program
       pengelolaan kualitas yang dapat berjalan dengan baik, biaya kualitas
       tidak lebih dari 2,5% dari penjualan. Setiap perusahaan dapat
       menyusun anggaran untuk menentukan besarnya standar biaya
       kualitas setiap kelompok atau elemen secara individual sehingga
       biaya kualitas total yang dianggarkan tidak lebih dari 2,5% dari
       penjualan”.

       Agar biaya mutu berkurang adalah dengan strategi pengurangan biaya

mutu yang direkomendasikan oleh American Society for Quality Control. Dalam

buku ”Management Accounting” karangan Hansen, Mowen (2005;16) yang

diterjemahkan oleh Dewi Fitriasari dan Deny Arnos Kwary, adalah sebagai

berikut:

       ”Starategi untuk menekan biaya kualitas adalah cukup sederhana: (1)
       lakukan serangan langsung terhadap biaya kegagalan untuk
       memaksanya ke titik nol; (2) lakukan investasi pada kegiatan
       pencegahan yang “tepat” untuk menghasilkan perbaikan; (3) kurangi
       biaya penilaian sesuai dengan hasil yang dicapai; dan (4) lakukan
       evaluasi secara berkelanjutan dan arahkan kembali upaya
       pencegahan untuk mendapatkan perbaikan lebih lanjut.
       Starategi ini didasarkan pada premis bahwa:
           Dalam setiap kegagalan selalu ada penyebabnya
           Penyebab dapat dicegah
           Pencegahan selalu lebih murah”.

       Biaya pencegahan dan biaya penilaian berbanding terbalik dengan biaya

kegagalan. Dengan diturunkan biaya pencegahan dan biaya penilaian akan

mengakibatkan banyak terjadi produk gagal atau rusak. Pengerjaam ulang

terhadap produk gagal atau rusak tersebut akan mengakibatkan meningkatnya

biaya kegagalan.
                                                                               24




2.1.3.4 Pelaporan Informasi Biaya Mutu

         Sebuah sistem pelaporan biaya mutu memiliki arti penting bagi

perusahaan dan pengendalian biaya mutu. Pentingnya biaya mutu terhadap segi

keuangan perusahaan dapat lebih mudah dinilai dengan menampilkan biaya-biaya

mutu. Manajemen harus menyajikan laporan biaya mutu yang andal, sebagai

informasi untuk membuat keputusan, melakukan pengawasan dan pengendalian

program kerja yang dijalankan. Menurut Darsono Prawironegoro dan Ari

Purwanti (2008;324) dalam buku “Akuntansi Manajemen”, menyatakan

bahwa:

         “Informasi biaya mutu adalah untuk perbaikan mutu perusahaan
         secara terus menerus. Informasi biaya mutu digunakan untuk
         penetapan harga strategis dan untuk mengetahui laba siklus hidup
         produk baru”.

         Adapun contoh laporan biaya mutu, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada

tabel 2.1 berikut ini :
                                                                                            25




                                     Tabel 2.1
                             Contoh Laporan Biaya Mutu
                                        Biaya Mutu                       % terhadap
                                           (Rp)                          penjualan
Biaya pencegahan:
  Pelatihan mutu                              10
  Reliabilitas mutu                           30
                                              40                             4,00
Biaya Penilaian
  Pemeriksaan bahan baku                       5
  Penerimaan produk                           10
  Penerimaan proses                           15
                                              30                             3,00
Biaya Gagal internal:
  Sisa bahan                                  10
  Pengerjaan ulang                            20
                                              30                             3,00
Biaya Gagal eksternal:
 Keluhan pelanggan                            10
 Jaminan                                      10
 Perbaikan                                    20
                                              40                             4,00
Dikutip dari buku Akuntansi Manajemen, Darsono Prawironegoro dan Ari Purwanti, (2008;324)

        Menurut Darsono Prawironegoro dan Ari Purwanti (2008;324) dalam

buku “Akuntansi Manajemen”, menyatakan bahwa :

        “Informasi biaya mutu dapat digunakan untuk

        1.     Mengevaluasi kinerja

        2.     Memperbaiki berbagai keputusan manajerial”.

        Berdasarkan uraian sebelumnya maka dapat disimpulkan bahwa dengan

adanya informasi biaya mutu dapat memberikan manfaat pada manajemen dalam

perusahaan, salah satu manfaat dari informasi biaya mutu adalah peluang laba

(penghematan biaya dapat meningkatkan laba).
                                                                             26




2.1.4   Laba Operasional

        Laba operasi merupakan hasil dari aktivitas-aktivitas utama perusahaan,

atau bidang usaha perusahaan, dimana laba operasi diperoleh dengan cara

mengurangi pendapatan yang diperoleh dari aktivitas utama perusahaan dengan

total biaya yang dikeluarkan guna melaksanakan aktivitas-aktivitas utama

tersebut.



2.1.4.1 Pengertian Laba

        Laba merupakan dasar ukuran kinerja bagi kemampuan manajemen dalam

mengoperasikan harta perusahaan. Adapun pengertian laba menurut Soemarso

(2005;230) dalam buku Akuntansi Suatu Pengantar, adalah :

        “Laba adalah selisih pendapatan atas beban sehubungan dengan

        kegiatan usaha”.

        Adapun pengertian laba menurut Taswan (2005;10) dalam buku yang

berjudul “Akuntansi Perbankan”, mengemukaan tentang pengertian laba yaitu:

        “Laba merupakan selisih lebih antara pendapatan di atas biaya

        dalam suatu periode, dan disebut rugi apabila terjadi sebaliknya”.

        Maka dapat disimpulkan bahwa laba merupakan kenaikan modal yang

berasal dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu

badan usaha, dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang mempengaruhi

badan usaha selama satu periode kecuali timbul dari pendapatan (revenue) atau

investasi oleh pemilik.
                                                                              27




2.1.4.2 Pengertian Laba Operasional

        Laba operasi merupakan hasil dari aktivitas-aktivitas utama perusahaan,

atau bidang usaha perusahaan, dimana laba operasi diperoleh dengan cara

mengurangi pendapatan yang diperoleh dari aktivitas utama perusahaan dengan

total biaya yang dikeluarkan guna melaksanakan aktivitas-aktivitas utama

tersebut. Adapun pengertian dari laba operasional adalah sebagai berikut :

        Laba   operasional   menurut     Hansen,    Mowen      (2005;528)    yang

diterjemahkan oleh Dewi Fitriasari dan Deny Arnos Kwary dalam bukunya

“Management Accounting” adalah:

        “Laba usaha (operating income) adalah pendapatan dikurangi biaya

        dari operasi normal perusahaan. Pajak penghasilan tidak termasuk”.

        Sedangkan pengertian laba operasional menurut Soemarso (2002;227)

dalam buku “Akuntansi Suatu Pengantar” adalah:

        “Selisih antara laba bruto dan beban usaha disebut laba usaha
        (income from operation) atau laba operasi (operating income). Laba
        usaha adalah laba yang diperoleh semata-mata dari kegiatan utama
        perusahaan”.

        Berdasarkan definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa laba operasi

merupakan laba yang di peroleh dari aktivitas utama perusahaan dan ditentukan

dengan cara mengurangi jumlah pendapatan operasi (hasil penjualan) dikurangi

biaya operasi yang diperoleh sebelum dikurangi pajak.



2.1.5   Hubungan Biaya Mutu Dengan Perolehan Laba

        Untuk bisa bertahan dalam dunia bisnis yang ketat dengan persaingan,

setiap perusahaan harus meningkatkan daya cara meningkatkan efisiensi, kualitas
                                                                              28




dan produktivitas. Pada umumnya setiap perusahaan memiliki tujuan tertentu

yang salah satunya adalah untuk memperoleh serta meningkatkan laba.

       Menurut Carter Usry (2006;204), dalam buku Cost Accounting yang

diterjemahkan oleh Krista menyatakan:

       “Kebanyakan dari kerugian produksi diakibatkan oleh kurangnya
       mutu dan sebaiknya dihilangkan jika memungkinkan. Salah satu cara
       untuk menarik perhatian pada kebutuhan untuk mengurangi jenis
       kegagalan mutu semacam ini adalah dengan menentukan biayanya
       dan kemudian melaporkannya kepada menajer puncak. Biaya yang
       besar menandakan kesempatan untuk memperbaiki mutu secara
       subtansial, yang harus diartikan oleh manajemen sebagai kesempatan
       untuk meningkatkan laba”.

       Pada saat sekarang ini konsumen mempunyai banyak tuntutan terhadap

produk yang mereka pilih, salah satunya adalah menuntut kualitas yang baik bagi

produk pilihannya, terlebih apabila banyak produk sejenis yang ditawarkan oleh

beragam produsen dan dengan tingkat harga yang sama pula, maka konsumen

akan sangat memperhatikan segi mutu dari produk tersebut. Untuk mendapatkan

produk yang diinginkan dengan mutu yang benar-benar bagus, konsumen akan

rela mengorbankan sebagian pendapatannya untuk memperoleh produk yang

dimaksud. Bahkan konsumen akan secara berkesinambungan membeli produk

tersebut. Hal ini akan menguntungkan perusahaan menjadi stabil, kelangsungan

hidup perusahaan untuk jangka panjang serta terjadinya efisiensi atas biaya-biaya

yang biasannya dikeluarkan atas komplain pelanggan.

       Dalam masalah mutu ini biasanya produsen selalu berusaha bertindak

efisien. Produsen selalu memikirkan untuk memperbaiki mutu dari barang yang

dihasilkannya dengan biaya yang sama atau tetap, atau mencapai mutu yang tetap
                                                                              29




sama (dapat dipertahankan) dengan biaya yang lebih murah dan untuk

meningkatkan mutu dibutuhkan biaya. Biaya ini disebut juga dengan biaya mutu.

       Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas maka dapat disimpulkan

bahwa dengan adanya perbaikan mutu dapat meningkatkan perolehan laba

perusahaan yang salah satunya, yaitu dengan melalui pengurangan biaya.



2.2   Kerangka Pemikiran

       Salah satu fungsi objektif perusahaan adalah going concern, yaitu bahwa

kegiatan suatu perusahaan diharapkan akan berjalan terus menerus, dalam hal ini

berkaitan dengan aktivitas produksi. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) kota

Bandung memiliki kegiatan usaha yaitu pengelolaan air minum dan pengelolaan

sarana air kotor dimana aktivitas tersebut memerlukan sistem pengendalian biaya

khususnya pada biaya mutu.

       Menurut Carter Usry (2006;198) dalam buku ”Cost Accounting” yang

dialihkan bahasakan oleh Krista, mendefinisikan biaya mutu sebagai berikut:

       ”Biaya yang tidak hanya terdiri atas biaya untuk mencapai mutu,

       tetapi juga biaya yang terjadi karena kurangnya mutu”.

       Berdasarkan definisi di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa biaya

mutu merupakan biaya yang terjadi dikarenakan kemungkinan ada mutu yang

buruk. Maka definisi ini mengimplikasikan bahwa biaya mutu berhubungan

dengan dua subkategori dari kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan mutu :

Kegiatan pengendalian (control activities) dan kegiatan karena kegagalan (failure

activities). Control activities merupakan kegiatan yang dilakukan oleh suatu
                                                                               30




perusahaan untuk mencegah serta mendeteksi mutu yang buruk (becouse poor

quality may exist). Kegiatan pengendalian terdiri dari kegiatan pencegahan dan

penilaian, sehingga biaya yang timbul pada kegiatan ini disebut control costs,

yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menjalankan kegiatan pengendalian.

Sedangkan failure activities adalah aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan atau

oleh pelanggannya sebagai respon atas produk dengan mutu buruk (poor quality

does exist). Jika respon terhadap mutu yang buruk dilakukan sebelum sampai pada

pelanggan, maka kegiatan ini diklasifikasikan sebagai kegiatan kegagalan internal.

Sebaliknya jika respons muncul setelah produk sampai ke pelanggan, maka

kegiatan diklasifikasikan sebagai kegiatan kegagalan eksternal. Biaya yang timbul

pada kegiatan ini disebut sebagai failure cost.

       Berdasarkan uraian di atas menurut Hansen, Mowen (2005;8) dalam buku

”Management Accounting” yang dialihkan bahasakan oleh Dewi Fitriasari dan

Deny Arnos Kwary, mengelompokan biaya mutu sebagai berikut:

        “1. Biaya pencegahan terjadi untuk mencegah kualitas yang buruk
            pada produk/jasa yang dihasilkan.
         2. Biaya penilaian terjadi untuk menentukan apakah produk dan
            jasa telah sesuai dengan persyaratan/kebutuhan pelanggan.
         2 Biaya kegagalan internal terjadi karena produk dan jasa yang
            dihasilkan tidak sesuai dengan spesifikasi/ kebutuhan pelanggan.
         3 Biaya kegagalan eksternal terjadi karena produk dan jasa yang
            dihasilkan gagal memenuhi persyaratan/tidak memuaskan
            kebutuhan pelanggan setelah produk disampaikan kepada
            pelanggan”.

       Biaya mutu sangat dipengaruhi oleh interaksi antara tiga jenis biaya mutu,

yaitu biaya pencegahan, biaya penilaian, biaya kegagalan (biaya kegagalan

internal, dan biaya kegagalan eksternal) sebagai perangkat bagi manajemen untuk

mempermudah melakukan analisis terhadap elemen-elemen biaya mutu baik itu
                                                                            31




dari segi sifat maupun hubungan antar masing-masing elemen dalam biaya

tersebut. Biaya pencegahan dan biaya penilaian meningkat seiring dengan

peningkatan mutu, sedangkan biaya kegagalan menurun seiring dengan

peningkatan mutu.

       Peningkatan mutu ini diharapkan dapat meningkatkan laba. Menurut

Darsono Prawironegoro dan Ari Purwanti (2008;121) dalam buku “Akuntansi

Manajemen”, mendefinisikan laba sebagai berikut:

       “Laba adalah prestasi seluruh karyawan dalam suatu perusahaan

       yang dinyatakan dalam bentuk angka keuangan yaitu selisih positif

       antara pendapatan dikurangi beban (expenses)”.

       Dalam meningkatkan laba perusahaan, biaya mutu harus dikendalikan

yaitu mengurangi biaya-biaya yang kurang efektif dalam kegiatan pengolahan air,

karena biaya yang tidak terkendali akan menurunkan efisiensi perusahaan yang

pada akhirnya dapat menurunkan laba. Dengan peningkatan mutu ini diharapkan

dapat memberikan penghematan yang besar dengan pendapatan yang lebih tinggi,

sehingga dapat dan diperoleh laba yang maksimal.

       Berdasarkan uraian di atas maka penerapan biaya mutu berpengaruh

terhadap perolehan laba. Adanya pengaruh antara biaya mutu dengan peningkatan

laba diperkuat oleh pernyataan Hansen Mowen (2005;4) dalam buku

Management Accounting yang diterjemahkan oleh Dewi Fitriasari dan Deny

Arnos kwary, menyatakan bahwa :
                                                                       32




       “Perbaikan mutu dapat meningkatkan profitabilitas dalam dua cara :

       (1). Melalui kenaikan permintaan pelanggan, dan (2). Melalui

       pengurangan biaya”.

       Untuk lebih jelasnya kerangka pemikiran ini dapat digambarkan dalam

sebuah bagan kerangka pemikiran sebagai berikut:
                                                                                  33




                         Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)
                                         Kota Bandung


                                       Kegiatan usaha




             Pengelolaan air minum                 Pengelolaan sarana air kotor




                                      Pengendalian biaya


                                         Biaya Mutu




                 Control Activities                      Failure Activities
              Biaya Pencegahan                        Biaya Kegagalan Intern
              Biaya Penilaian                         Biaya Kegagalan Ekstrn




                                       Efisiensi Biaya


                                      Peningkatan Laba

                                    Gambar 2.1
                                Kerangka Pemikiran

       Dari uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa biaya mutu adalah

sebagai salah satu komponen beban operasional pada akhirnya akan turut

menentukan tingkat laba operasional.
                                                                            34




2.3   Hipotesis

      Hipotesis penelitian dapat diartikan sebagai jawaban yang bersifat

sementara terhadap masalah penelitian, sampai terbukti melalui data yang

terkumpul dan harus diuji secara empiris. Maka bedasarkan kerangka pemikiran di

atas maka hopotesis sementara adalah biaya mutu berpengaruh terhadap perolehan

laba operasional.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:63
posted:11/25/2011
language:Malay
pages:26