FILSAFAT ILMU sebagai basic sciences

Document Sample
FILSAFAT ILMU sebagai basic sciences Powered By Docstoc
					FILSAFAT ILMU
   sebagai
basic sciences


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA, 28 JULI 2010
URGENS FILSAFAT ILMU

• Dalam percakapan sehari-hari istilah ‘ilmu’ dan ‘ilmiah’ mempunyai
    penghargaan yang tinggi karena dianggap objektif, pasti, benar, tidak
    diragukan, dapat dipertanggung jawabkan.
•   Dalam dunia pendidikan: penelitian atau studi dinyatakan sebagai ilmu
    untuk meyakinkan bahwa metode yang digunakan mempunyai dasar yang
    kuat dan produktif sama seperti fisika.
•   Istilah ilmu politik dan ilmu sosial sudah biasa. Bahkan terdapt juga Ilmu
    Perpustakaan, Ilmu Administrasi, Ilmu Bahasa, Ilmu Kehutanan, Ilmu
    Pemerahan Susu Sapi, dst.
•   Sering kali itu dimaksudkan mengikuti metode empiris fisika: pengumpulan
    ‘fakta’ lewat observasi dan eksperimen dengan menggunakan prosedur
    logika.
•   Bahkan ada yang mengatakan “Apabila anda tidak dapat mengukur, berarti
    pengetahuan anda miskin dan tidak memuaskan”. Berarti bersifat
    kuantitatif.
•   Gejala-gejala seperti ini menuntut adanya klarifikasi.
PENGERTIAN ILMU
• Secara klasik ilmu dimengerti sbg suatu aktivitas rasional
  yang beroperasi berdasarkan satu atau beberapa
  metode tertentu.
• [Meskipun pemahaman seperti itu sebenarnya telah
  menimbulkan banyak reaksi dan penolakan, karena
  kemajuan-kemajuan pokok dalam ilmu – penemuan baru
  Galileo, Newton, Darwin atau Einstein – bukanlah
  merupakan hasil dari metode di atas.]
• Biasanya yang disebut “ilmu” di dalam filsafat ilmu
  terbatas pada ilmu pengetahuan alam atau “natural
  sciences”, yang meliputi Astronomi, Fisika, Kimia,
  Biologi; sedangkan ilmu-ilmu empiris lainnya atau
  ‘socical sciences’ serta matematika tidak menjadi
  bahasan.
FILSAFAT ILMU
• Secara tradisional filsafat ilmu merupakan usaha
    untuk mempertahankan, mengevaluasi,
    memaknai, atau memperbaiki praktek ilmu
    sejamannya.
•   Hal yang paling penting dan sentral di dalam
    filsafat ilmu adalah masalah kodrat dan struktur
    teori-teori ilmiah, termasuk berbagai peran yang
    dimainkan oleh teori-teori hampir di semua
    aspek kegiatan ilmiah.
•   Maka perkembangan pemahaman di dalam ilmu
    juga mengakibatkan perkembangan di dalam
    filsafat ilmu: awal abad ke-20 terjadi revolusi di
    dalam filsafat ilmu seiring dengan revolusi di
    dalam sains.
FRANCIS BACON
1561-1626
• Baginya: knowledge is power
• Ia menginginkan:
   – Mendirikan lembaga kerajaan yang berfungsi memandu pengembangan
     sains dan
   – Mendirikan kolese yang mempelajari ilmu pengetahuan eksperimental.
   – Kedudukan professor dlm sains di Oxford dan cambridge
• Gagal.
• Royal Society baru didirikan 1662 dg Bacon sbg bapak
  pelindungnya. Newton dan Darwin mengakui berhutang budi
  padanya.
• Pengetahuan ilmiah dpt memberi kekuasaan atas alam:
  perkembangan sains dpt mewujudkan kesejahteraan dan
  kemakmuran manusia dlm skala yang tak terbayangkan sebelumnya
  (sekaligus = tujuan ilmu).
• Diperlukan prosedur sistematik: metode induksi (observasi,
  generalisasi, hipotesis dan eksperimen) – teori ttg hukum alam –
  prediksi yang akurat
• Penerapannya melalui deduksi
THOMAS HOBBES
1588-1679

• “Alam semesta, segala yang ada, bersifat
    korporeal, atau badani, yang memiliki dimensi
    besaran panjang, lebar, dan kedalaman”
•   Yang ada hanyalah materi,
•   Setiap benda bergerak, termasuk manusia,
    adalah mesin
•   Proses mental merupakan gerakan materi yang
    ada dalam kepala manusia.
•   Hobbes terpesona oleh gerak, khususnya
    setelah mengunjungi Galileo.
AUGUST COMTE
1798-1857
• Positivisme bermaksud menjadi tegar dengan ajaran-ajarannya:
    – Di dalam alam terdapat hukum yang dapat diketahui.
    – Di dalam alam penyebab benda-benda tidak dapat diketahui
    – Setiap pernyataan yang pada prinsipnya tidak dapat direduksikan ke
      pernyataan sederhana mengenai fakta, baik khusus maupun umum,
      tidak dapat mempunyai arti nyata maupun masuk akal.
    – Hanya hubungan antara fakta dapat diketahui.
    – Perkembangan intelektual merupakan sebab perbuahan sosial
• Seluruh bidang penyelidikan ilmiah disusun secara logis oleh Comte.
  Setiap ilmu menyumbangkan kepada yang berikutnya di dalam
  susunan itu, tetapi tidak kepada yang mendahuluinya: Matematika,
  Astronomi, Fisika, Kimia, Biologi, Sosiologi.
• Budi manusia berkembang dari tahap teologis (segala sesuatu
  dijelaskan dengan kekuasaan ilahi), melalui metafisis (kekuasaan
  ilahi menjadi essensi atau kekuatan abstrak), ke tahap akhir positif
  (Hanya fenomena dan keterkaitan antarfenomena yang
  diperhitungkan. Semua yang di luar pengalaman tidak relevan)
INDUKTIVISME: ILMU SEBAGAI
PENGETAHUAN BERASAL DARI FAKTA

• Pandangan Umum: Pengetahuan ilmiah adalah
  pengetahuan yang telah dibuktikan kebenarannya.
  Teori-teori ilmiah ditarik dengan cara ketat dari fakt-
  fakta pengelaaman yang diperoleh lewat observasi dan
  eksperimen. Ilmu didasarkan pada apa yang dapat kita
  lihat, dengar, raba, dan sebagainya.
• Pendapat atau selera subjektif dan dugaan-dugaan
  spekulatif perorangan tidak mempunyai tempat di dalam
  ilmu. Ilmu itu objektif
• Pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang dapat
  dieprcaya, karena telah dibuktikan kebenarannya secara
  objektif.
Induktivisme
• Menurut pandangan induktivis, ilmu bertolak
    dari observasi. Pengamat ilmiah harus memiliki
    organ-organ indera yang normal dan sehat, dan
    harus pula secara setia dan jujur merekam apa
    yang ia lihat, dengar, dsb. Dalam hubungan
    dengan situasi yang diamatinya, dan ia pun
    harus menlakukan ini dengan alam fikiran tanpa
    prasangka sedikit pun.
•   Pernyataan-pernyataan yang dihasilkan
    (keterangan-keterangan observasi) menjadi
    dasar untuk menarik hukum-hukum dan teori-
    teori yang membentuk pengetahuan ilmiah.
Induktivisme (2)
• Keterangan observasi:
    – Keterangan tunggal: Besi (timah, tembaga, baja, dst.)
      ini memuai sewaktu dipanasi.
    – Keterangan universal: Semua besi (timah, tembaga,
      baja, dst.) memuai sewaktu dipanasi.
• Membuat generalisasi dari serentetan tebatas
    keterangan-observasi mengenai logam-logam
    yang dipanasi sehingga menghasilkan hukum
    universal: Logam-logam memuai bila dipanasi”.
•   Batang tubuh pengetahuan ilmiah dibangun oleh
    induksi dengan dasar kokoh yang diperoleh
    lewat observasi.
Logika dan Penalaran
• Dari hukum-hukum dan teori-teori
  universal dapat ditarik konsekuensi-
  konsekuansi yang dpt digunakan untuk
  memberi penjelasan dan membuat
  ramalan.
• Penjelasan ditarik dengan deduksi
  – Semua logam memuai bila kena panas
  – Rel ini adalah logam
  – Rel ini akan memuai kalau kena panas.
• Demikian juga dengan ramalan.
Metode Ilmiah
• Pertama, semua fakta diobservasi dan direkam, tanpa
  melakukan pilihan atau dugaan a priori tentang arti
  penting saling kaitannya antara fakta-fakata itu.
• Kedua, fakta-fakta yang telah diobservasi dan direkam
  itu dianalisa, dibandingkan dan diklasifikasi, tanpa
  hipotesa-hipotesa atau dalil-dalil (postulates), selain dari
  apa yang langsung terlibat secara wajar menurut logika
  fikiran.
• Ketiga, dari analisis fakta-fakta ini, generalisasi akan
  ditarik secara induktif mengenai hubungan-
  hubungannya, dengan mengklasifikasikannya atau
  dengan cara kebetulan.
• Keempat, riset selanjutnya akan dilakukan secara
  induktif maupun deduktif dengan menggunakan
  penyimpulan dan generalisasi yang telah dilakukan
  sebelumnya.
Gambar
                           Hukum dan Teori




                 Induksi
                                             Deduksi




Fakta didapat                                          Ramalan dan
dari Observasi                                         Penjelasan
Objektif
• Klaim: ilmu yang diperoleh dengan induksi
  bersifat objektif karena ditarik dari fakta
  yang diobservasi.
• Dapat dicek oleh siapa pun: tidak
  tergantung pada selera, pendapat,
  khayalan, harapan pengamat
KEBERATAN TERHADAP
INDUKTIVISME
• Validitas Induksi: Argumen induktif
 tidak merupakan argumen-argumen yang
 valid secara logis.
  – Observasi beberapa gagak
  – Kesimpulan: semua gagak berwarna hitam
  Kesalahan: dari beberapa menjadi semua.
• Tuntutan:
  – ‘sejumlah besar’ observasi: seberapa besar?
  – ‘variasi keadaan yang luas’: seberapa luas?
• Ketergantungan Observasi pada
 Teori
  – Hanson: apa yang dilihat seorang pengamat
    ketika memandang suatu objek, tergantung
    sebagian pada pengalamannya di masa lalu,
    pengetahuan dan harapan-harapannya
• Keterangan observasi membutuhkan Teori
  Pandangan induktivis: membutuhkan penarikan
    keterangan universal dari keterangan tunggal lewat
    induksi:
  – Semua logam memuai kalau dipanasi ditarik dari
    contoh-contoh logam.
  – Tetapi untuk mengambil logam, orang harus tahu apa
    yang dimaksud dengan logam.
• Observasi dan Eksperimen dibimbing oleh Teori:
  – Yang dicatat dari observasi sudah ditentukan, dan
    apa yang mau dicobakan dalam eksperimen juga
    sudah ditentukan.
FALSIFIKASIONISME
• Observasi dibimbing oleh teori dan pra-anggapan.
• Teori merupakan dugaan atau tebakan spekulatif dan
  coba-coba, yang diciptakan secara bebas oleh intelek
  manusia untuk mengatasi problema yang dijumpai teori-
  teori terdahulu, dan untuk memberikan keterangan yang
  tepat mengenai beberapa aspek dunia atau alam
  semesta.
• Teori akan diuji dengan keras oleh observasi dan
  eksperimen. Yang gagal akan dibuang dan diganti
  dengan yang baru: begitu ditemukan burung gagak
  berwarna lain daripada hitam, maka teori “Semua
  burung gagak berwarna hitam” dibuang.
• Ilmu berkembang melalui ‘trial and error’
• Kriteria teori: falsifiabilitas
  – Ilmu: suatu perangkat hipotesis yang
    dikemukakan secara coba-coba dengan
    tujuan melukiskan secara akurat perilaku
    suatu aspek dunia atau alam semesta.
  – Syarat ilmiah: harus falsifiabel: dapat diuji
    dan mengakui kesalahan (Apabila suatu teori
    harus mempunyai isi informatif, ia harus
    menaggung resiko difalsifikasi)
• Tingkat Falsifiabilitas:
  – Suatu hukum atau teori ilmiah yang baik
    adalah falsifiabel justru karena
    mengemukakan klaim-klaim tertentu tentang
    dunia.
  – Teori yang baik: luas jangkauan klaimnya,
    paling tinggi falisfiabilitasnya, dapat bertahan
    terhadap upaya falsifikasi.
  – Maka teori harus dinyatakan dengan jelas dan
    cermat.
• Kemajuan
  – Ilmu bertolak dari problema-problema berhubungan
    dengan keterangan ttg perilaku beberapa aspek dunia
    atau alam semesta.
  – Hipotesa-hipotesa yang falsifiable diajukan
  – Hipotesa-hipotesa diuji dan dikritik. Ada yang
    bertahan ada yang runtuh.
  – Kalau yang bertahan itu akhirnya runtuh oleh ujian
    berikut, diperlukan hipotese lebih lanjut yang sudah
    berkembang lebih jauh.
  – Hipotese baru berarti sudah lebih berkembang dari
    yang terdahulu dan memerlukan ujian yang lebih
    keras, dst.
  – Jadi tidak ada teori yang dapat dibuktikan
    kebenarannya, tetapi hanya dapat dibuktikan
    kesalahannya.
KETERBATASAN
FALSIFIKASIONISME
• Ketergantungan Observasi pada Teori dan falibilitas Falsifikasi:
    – Karena falsifikasi tergantung pada ujian faktual, diperlukan keterangan
      observasi yang terjamin sempurna dapat diperoleh. Ini soal tersendiri.
    – Falsifikasi langsung terhadap teori tidak dapat dicapai, karena
      keterangan observasi yang kokoh pun tidak mustahil untuk dibuktikan
      tidak layak
• Kompleksitas situasi pengujian yang realistis:
    – Teori ilmiah yang realistis akan terdiri dari keterangan universal yang
      kompleks.
    – Untuk bisa diuji, teori membutuhkan tambahan asumsi pendukung, e.g.
      hukum-hukum dan teori-teori yang menguasai penggunaan alat-alat
      yang dipergunakan dalam pengujian.
    – Sebagai tambahan, untuk mendeduksi suatu ramalan yang validitasnya
      harus diuji dengan eksperimen, dibutuhkan tambahan kondisi-kondisi
      awal ssperti uraian ttg kerangka eksperiman yang akan dilaksanakan.
    – Suatu teori tidak dpt difalsifikasi secara konsklusif, karena mungkin saja
      ada bagian dari situasi pengujian yang kompelks (di luar teori yang
      sekarang diuji) yang menyebabkan kekeliruan ramalan.
    – Falsifikasionisme tidak sesuai dengan Sejarah:
TEORI SEBAGAI STRUKTUR:
1. Program Riset Lakatos
• Lakatos memandang teori-teori sebagai struktur-struktur
  terorganisasi.
• Program riset Lakatosian adalah suatu struktur yang
  membeirkan bimbingan untuk riset di masa depan dg
  cara positif maupun negatif.
   – Heuristik negatif adalah program terperinci yang menetapkan
     bawha asumsi-asumsi dasar yang melandasi program itu (sbg
     inti-pokoknya) seharusnya jangan sampai ditolak atau
     dimodifikasi. Diperlukan lingkaran pelindung yang terdiri dari
     hopotesa-hipotesa pendukung, kondisi-kondisi awal, dsb.
   – Heuristik positif meliputi bimbingan garis besar mengenai
     bagaimana program riset itu dpt dikembangkan (asumsi-asumsi
     tambahan utk menerangkan fenomena yang sudah dikenal dan
     meramalkan fenomena baru
• Inti pokok program: hipotesa teoretis yang
  sangat umum yang akan menjadi dasar program
  untuk dikembangkan.(Inti pokok astronomi
  Copernicus adalah asumsi-asumsi bahwa bumi
  dan planet-planet mengorbiti matahari dan bumi
  berputar pada porosnya sendiri sekali sehari. Inti
  pokok fisika Newton meliputi hukum-hukum
  gerak ditambah hukum gravitasinya. Inti pokok
  materialisme historis marx adalah asumsi bahwa
  perubahan sosial harus diterangkan berdasarkan
  perjuangan klas, watak klas-klas, dan perincian
  perjuangannya yang pada instansi terakhir
  ditentukan oleh dasar ekonominya.)
TEORI SEBAGAI STRUKTUR:
PARADIGMA KUHN
• Gambaran Kuhn ttg cara ilmu berkembang: pra-
    ilmu – Ilmu biasa – krisis – revolusi – ilmu biasa
    baru – krisis baru
•   Aktivitas yang terpisah-pisah dan tidak
    terorganisasi yang mengawali pembentukan
    suatu ilmu akhirnya menjadi tersusun dan
    terarah apda saat suatu paradigma tunggal telah
    dianut oleh suatu masyarakat ilmiah.
•   Ilmu biasa (normal science) adalah praktek yang
    dilakukan para ilmuwan dengan menggunakan
    satu paradigma untuk memecahkan masalah-
    masalah yang dihadapi.
• Krisis: di dalam praktek para ilmuwan, cepat atau lambat
  akan menghadapi problema-problema yang tidak dapat
  dipecahkan, yang disebut anomali. Kalau jumlah anomali
  semakin besar dan bobot semakin berat, akan terjadi
  krisis kepercayaan pada paradigma teori yang
  dipegangnya.
• Krisis yang berkepanjangan akan memunculkan
  paradigma-paradigma baru yang mengembangkan
  (proliferasi) teori-teori baru untuk mengatasi anomali-
  anomali tsb.
• Persaingan antar-paradigma akan menyebabkan
  kemenangan salah satunya yang menyebabkan revolusi:
  perpindahan kesetiaan para ilmuwan dari paradigma
  lama ke paradigma baru.
• Revolusi akhirnya menjadi ilmu normal dengan
  paradigma baru, dst.
REALISME, INSTRUMENTALISME, DAN
REALISME NON-REPRESENTATIF
• Realisme: teori-teori bertujuan untuk menguraikan
  bagaimana dunia ini sebenarnya. Di satu pihak, kita
  mempunyai teori-teori ilmiah hasil ciptaan manusia yang
  tak hentinya dapat berubah dan berkembang. Di lain
  pihak, kita mempunyai dunia di mana teori-teori itu
  hendak ditrapkan yang perilakunya (minimal dalam
  dunia fisika) tidak berubah.
• Teori kinetik tentang gas-gas menerangkan bagaimana
  sebenarnya keadaan gas-gas itu. Gas-gas terbuat dari
  molekul-molekul dalam gerak yang tidak teatur,
  bertubrukan satu sama lain dan dengan dinding-dinding
  wadahnya.
• Pandangan-pandangan kaum realis dihubungkan dengan
  kebenaran. Suatu teori dikatakan benar kalau
  mencerminkan dunia objektif ini sebagaimana adanya.
• Instrumentalisme: komponen teoretis ilmu
    tidak menggambarkan kenyataan. Teori-teori
    dipahami sebagai instrumen-instrumen yang
    direncanakan untuk menghubungkan
    serangkaian keadaan hal-ikhwal yang dapat
    diobservasi dengan yang lainnya.
•   Bagi kaum instrumentalis, molekul-molekul
    bergerak yang dikemukakan leh teori kinetik gas
    merupakan fiksi-fiksi untuk kemudahan yang
    memungkinkan para ilmuwan menghubungkan
    dan membuat ramalan-ramalan tentang
    manifestasi sifat-sifat gas yang dapat
    diobservasi
• Realisme non-representatif: teori-teori
  fisika yang berlaku sekarang dapat
  ditrapkan pada dunia itu sampai pada
  suatu derajat tertentu, dan umumnya
  pada suatu derajat yang melampaui para
  pendahulunya dalam banyak hal.
• Tujuan fisika adlaah untuk menetapkan
  batas-batas kemampuan pentrapan teori-
  teori yang belaku sekarang dan
  mengembangkan teori-teori yang dapat
  ditrapkan pada dunia sampai pada suatu
  derajat pendektatan yang lebih tinggi di
  bawah variasi keadaan yang lebih luas.
• Realis dalam dua pengertian:
  – Realis karena melibatkan asumsi bahwa dunia fisika
    adalah sebagaimana adanya, tidak tergantung pada
    pengertian subjek.
  – Realis karena melibatkan asumsi bahwa sejauh batas
    teori-teori itu dapat ditrapkan pada dunia ini, teori-
    teori itu akan selalu dapat ditrapkan di dalam dan di
    luar situasi-situasi eksperimen.
• Non-representatif selama tidak menyatu dengan
  teori yang harus sesuai dengan kebenaran (tidak
  berasumsi bahwa teori-teori kita menguraikan
  wujud-wujud di dalam dunia, dlm cara
  sebagaimana ide akal-sehat kita memahami
  bahasa kita untuk menggambarkan kucing atau
  meja).
CATATAN AKHIR
• Filsafat ilmu dapat membantu para mahasiswa untuk
  mengenal apa yang perlu diperhatikan di dalam
  merefleksikan bidang masing-masing.
• Mereka bisa mempunyai wawasan yang luas mengenai
  ilmu mereka sendiri dan ilmu-ilmu lain, sehingga tidak
  fanatik pada bidangnya sendiri, tetapi dapat menghargai
  bidangnya sendiri dan bidang-bidang lain secara
  proporsional.
• Refleksi ini diharapkan kritis, sehingga mampu
  mempertanyakan, mengevaluasi teori dan praktek yang
  mereka terima dalam bidang mereka sendiri.
• Hanya saja materi filsafat ilmu hanya tepat (secara
  ketat) bagi mahasiswa fisika, kimia, biologi, kalau
  pembahasannya sampai mendalam. Itu pun, kalau
  contoh bahasannya dari fisika, mahasiswa kimia dan
  biologi belum tentu tahu. Dan sebaliknya.
• Pembahasan mengenai Copernicus,
  Newton, Einstein mengandaikan
  pengampu cukup memahami mereka
  dengan teori masing-masing. Mungkin
  mahasiswa fisika jauh lebih mengerti. Ini
  dapat menimbulkan masalah tersendiri.
• [Sekadar bertanya: mengapa mengambil
  filsafat ilmu bukannya epistemologi yang
  dapat mencakup semua bidang
  pengetahuan secara sejajar?]

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:163
posted:11/24/2011
language:Indonesian
pages:32