BAB II - DOC
Shared by: i552bp
-
Stats
- views:
- 123
- posted:
- 11/23/2011
- language:
- Indonesian
- pages:
- 26
Document Sample


BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pemerolehan Bahasa
Menurut Tarigan dan Tarigan dalam Pengajaran Analisis Kesalahan
Berbahasa :
Pemerolehan bahasa atau language acquisition biasanya diikuti oleh kata
pertama dan kedua, sehingga kita kenal istilah pemerolehan bahasa
pertama(PB1) atau first language acquisition dan pemerolehan bahasa
kedua(PB2) atau second language acquisition.(1995:4)
Pemerolehan bahasa pertama berkaitan dengan segala aktifitas seseorang
dalam menguasai bahasa ibunya, sedangkan pemerolehan bahasa kedua berlangsung
setelah seseorang menguasai atau mempelajari bahasa pertama. Jalur kegiatannya
dapat melalui pendidikan informal(alamiah) maupun pendidikan formal(ilmiah).
Tarigan dan Tarigan lalu menambahkan bahwa “pengajaran bahasa secara
alamiah disebut pemerolehan bahasa(language acquisition) dan pengajaran bahasa
secara ilmiah disebut pembelajaran bahasa(language learning)”.(1995:5)
Belajar secara formal didasarkan pada perencanaan yang matang, disengaja
dan disadari(umumnya bahasa yang dipelajari di sekolah atau bahasa asing).
Sedangkan, belajar informal yaitu tidak berencana, kebetulan, tidak disengaja dan
tidak disadari. Pemerolehan bahasa kedua sebenarnya mengacu kepada semua aspek
bahasa yang sepantasnya dikuasai oleh seorang pelajar. Untuk lebih jelasnya dapat
8
9
kita perhatikan pada gambar 2.1 berikut ini.
Gambar 2.1
Perbedaan Pemerolehan Bahasa dan Pembelajaran Bahasa
Informal Formal
Tidak Berencana
Berencana
Pembelajaran
Pemerolehan
BAHASA
Tidak Disengaja
Disengaja
Tidak Disadari
Disadari
Sumber : Tarigan dan Tarigan (1995:5)
Lebih lanjut Tarigan dan Tarigan menjelaskan bahwa “pemerolehan bahasa
kedua adalah proses yang disadari atau tidak disadari dalam mempelajari bahasa
kedua setelah seseorang menguasai bahasa ibunya, baik secara alamiah maupun
ilmiah”(1995:6).
10
Pembelajaran ini dipengaruhi beberapa faktor. Faktor-faktor utama yang
berkaitan erat dengan pemerolehan bahasa asing adalah bahasa pembelajar, faktor
eksternal pembelajar, faktor internal pembelajar, dan pembelajar sebagai individu.
Faktor di luar ataupun di dalam pembelajar sendiri adalah aspek yang tidak
kalah pentingnya untuk dapat memahami pemerolehan bahasa. Faktor di luar
pembelajar misalnya adalah lingkungan dan interaksi. Dua faktor ini sangat
mempengaruhi perkembangan pemerolehan bahasa. Sedangkan faktor internal dari
pembelajar diantaranya adalah pengaruh dari bahasa pertama atau bahasa lain. Faktor
lain yang tak kalah pentingnya adalah pembelajar sendiri sebagai seorang individu.
Setiap pembelajar tentu mempunyai perbedaan dengan pembelajar lain. Mereka
mempunyai strategi pembelajaran yang berbeda.
2.1.1 Dimensi Pemerolehan Bahasa
Menurut Klien dalam Sudipa yang penulis lansir dari
www.ialf.edu/kipbipa/papers/INengahSudipa.doc ada enam dimensi dalam
pemerolehan Bahasa kedua yakni:
1. Propensity, faktor pertama yang perlu diperhitungkan demi
keberhasilan pembelajaran itu adalah, apakah ada semacam desakan
(desakan dari dalam atau luar) pembelajar, dikenal dengan
propensity.
2. Language Faculty, menurut Ferdinand de Saussure setiap orang
memiliki kapasitas alami untuk memproses bahasa, baik sebagai
pembicara maupun pendengar, Kapasitas itu sendiri disebut faculte
du langage
11
3. Access, proses pemerolehan bahasa tidak pernah akan bisa berjalan
kalau tidak ada peluang bagi kemampuan yang dimiliki orang
4. Structure, struktur yang dimaksud di sini adalah ciri-ciri umum
bahasa dengan berbagai perkecualian apabila dipakai dalam
berkomunikasi.
5. Tempo, keempat dimensi di depan sangat berpengaruh terhadap
cepat atau lambannya proses ini terwujud. Desakan kebutuhan
komunikatif berakselerasi dengan kemajuan setiap orang atau
sebaliknya. Cepat atau lambannya proses Pemerolehan Bahasa ada
juga disebabkan oleh daya ingat seseorang
6. End-state, idealnya tahap ini seharusnya menandakan penguasaan
sempurna terhadap bahasa. Perlu diingat bahwa istilah bahasa
mengandung kenyataan yang terdiri atas berbagai varian, seperti
dialek, sosiolek, register dan aspek lainnya. Diakui bahwa tidak ada
seorang anak manusia menguasai semua varian ini dengan efektif,
bahkan penutur asli sekali pun.
2.2 Kosakata
Berdasar teori yang penulis kutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Kosakata,
kosakata dapat didefinisikan sebagai “himpunan kata yang diketahui oleh seseorang
atau entitas lain, atau merupakan bagian dari suatu bahasa tertentu”. Sedangkan
Menurut Soedjito dalam Turanita, kosakata dapat didefiniskan sebagai berikut :
1. Semua kata yang terdapat dalam satu bahasa
2. Kekayaan kata yang dimiliki oleh seseorang
3. Kata yang dipakai dalam satu bidang ilmu pengetahuan
4. daftar kata yang disusun seperti kamus disertai penjelasan singkat
dan praktis(2004)
Kata sendiri Menurut Bloomfield dalam Alwasilah(1993:120) bisa diberi
definisi sebagai „kesatuan linguistik yang tidak memungkinkan penyisipan materi
linguistik apapun. Dengan kata lain, kata adalah kesatuan terkecil dari ujaran yang
bisa berdiri sendiri‟.
12
Kualitas keterampilan berbahasa seseorang jelas bergantung pada kuantitas
dan kualitas kosakata yang dimilikinya. Paparan sebelumnya menunjukkan bahwa
dengan adanya penguasaan kosakata yang memadai akan dapat meningkatkan
kualitas seseorang dalam menyikapi bahasa. Hal itu selaras dengan pandangan Dale
dalam Tarigan yang memberikan pandangan tentang pentingnya memahami kosa kata
sebagai berikut:
1. Kuantitas dan kualitas penguasaan kosakata seseorang merupakan
indeks pribadi yang terbaik bagi perkembangan mentalnya
2. Perkembangan kosakata merupakan perkembangan konseptual
3. Semua pendidikan pada prinsipnya merupakan pengembangan
kosakata
4. Program yang sistematis bagi pengembangan kosakata akan
dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, kemampuan, dan status sosial
5. Faktor geografis mempengaruhi perkembangan kosakata
6. Penelaahan kosakata yang efektif hendaknya beranjak dari kata-kata
yang sudah diketahui menuju kata-kata yang belum atau tidak
diketahui. (1985:3)
Pada kelas awal pembelajaran bahasa asing, seperti tingkat I angkatan
2007/2008 jurusan sastra Jepang UNIKOM, pembelajaran dimulai dengan
pengenalan kosakata dasar, agar mempermudah mahasiswa mempelajari bahasa yang
sedang dipelajarinya, karena dikenalkan dengan kata-kata sederhana dari lingkungan
sekitar dirinya. Menurut Tarigan “kosakata dasar atau basic vocabulary adalah kata-
kata yang tidak mudah berubah atau sedikit sekali kemungkinannya dipungut dari
bahasa lain”(1985:3). Tarigan kemudian memaparkan bahwa yang termasuk kedalam
kosakata dasar ini, antara lain :
1. Istilah kekerabatan : misalnya ayah, ibu, kakak, adik, nenek, kakek,
bibi, paman, dll
13
2. Nama bagian tubuh : misalnya kepala, rambut, hidung, telinga, pipi,
gigi, kaki, tangan, dll
3. Kata ganti (diri, penunjuk) : misalnya saya, kamu, dia, kami, mereka,
ini, itu, sini, sana, dll
4. Kata bilangan pokok : misalnya satu, dua, tiga, empat, lima, enam,
tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, dua puluh, seratus, dua ratus,
seribu, dua ribu, sepuluh ribu, dll
5. Kata kerja pokok : misalnya makan, minum, tidur, bangun,
berbicara, melihat, mendengar, berjalan, lari, bekerja dll
6. Kata keadaan pokok : misalnya suka, duka, jauh, dekat, cepat,
lambat, kaya, miskin, tua, muda dll
7. Benda-benda universal : misalnya tanah, air, api, langit, bulan,
bintang, matahari, binatang, tumbuh-tumbuhan, dll(1985:3)
Menurut teori yang penulis kutip dari www.ialf.edu dengan menguasai
kosakata yang memadai diharapkan dapat mencapai hal berikut :
1. Meningkatkan kemampuan para siswa
2. Meningkatkan taraf perkembangan konseptual para siswa, dan
3. Mempertajam proses berfikir
2.3 Kosakata Bahasa Jepang
2.3.1 Definisi Kosakata Bahasa Jepang
Kosakata dalam bahasa Jepang disebut Goi. Dalam kamus bahasa Jepang-
Indonesia Kenji Matsuura, yang dinamakan Goi adalah perbendaharaan kata-kata dan
daftar kosakata. Sudjianto dan Dahidi memberikan definisi Goi sebagai “kumpulan
kata yang berhubungan dengan suatu bahasa atau dengan bidang tertentu dalam
bahasa itu”(2007:98).
Sependapat dengan teori yang telah penulis paparkan sebelumnya, Sudijianto
dan Dahidi mengemukakan bahwa “Goi merupakan salah satu aspek kebahasaan
14
yang harus diperhatikan dan dikuasai guna menunjang kelancaran berkomunikasi
dengan bahasa Jepang baik dalam ragam lisan maupun ragam tulisan”(2007:97).
Kemudian Asano Yuriko dalam Sudjianto dan Dahidi(2007:97) menyebutkan bahwa
:
tujuan akhir pangajaran bahasa Jepang adalah agar para pembelajar dapat
mengkomunikasikan ide ataupun gagasannya dengan menggunakan
bahasa Jepang baik dengan cara lisan maupun tulisan, salah satu faktor
penunjangnya adalah penguasaan goi yang memadai.
2.3.2 Jenis Jenis Goi
Sudjianto dan Dahidi(2007:98) ) dalam Pengantar Linguistik Bahasa Jepang
menjelaskan bahwa :
Kosakata dapat diklasifikasikan berdasrkan pada cara-cara, standar atau
sudut pandang apa kita melihatnya. Misalnya berdasarkan karakteristik
gramatikalnya terdapat kata-kata yang tergolong doushi(verba), i-
keiyoushi atau ada yang menyebutnya keiyoushi(ajektiva i), na-keiyoushi
atau ada yang menyebutnya keiyoudoushi(ajektiva na). meishi(nomina),
rentaishi(prenomina), fukushi(adverbia), kandoushi(interjeksi),
setsuzokushi(konjungsi), jodoushi(verba bantu), dan joshi(pertikel).
Kosakata dapat juga diklasifikasikan berdasarkan para penuturnya dilihat
dari faktor usia, jenis kelamin dan sebagainya… Lalu berdasarkan
pekerjaan atau bidang keahliannya di dalam bahasa Jepang terdapat
beberapa senmon yoogo(istilah-istilah teknis atau istilah-istilah bidang
keahlian) termasuk didalamnya kata-kata yang termasuk bidang
kedokteran, pertanian, teknik, perekonomian, peternakan dan sebagainya.
Selain itu ada juga klasifikasi kosakata berdasarkan perbedaan zaman dan
wilayah penuturnya sehingga ada kata-kata yang tergolong bahasa klasik,
bahasa modern, dialek Hiroshima, dialek Kansai, dialek Tokyo, dan
sebagainya. Bahkan ada juga yang mengklasifikasikan kosakata pada
hyoogen goi, rikai goi, kihon goi, kiso goi, doo’on igigo, ruigigo, keigo
yang didalamnya mencakup kosakata sonkeigo, kenjoogo, teineigo, dan
sebagainya.
15
Dilihat dari asal-usulnya kosakata dalam bahasa Jepang terdiri dari wago,
kango, dan gairaigo. Iwabuchi dalam Sudjianto dan Dahidi(2007:99) menyatakan
bahwa “klasifikasi kata berdasarkan asal-usulnya seperti ini disebut juga goshu”.
Untuk lebih jelasnya lagi mengenai jenis-jenis kosakata tersebut dapat kita lihat pada
penjelasan berikut ini.
1. Wago
Wago adalah kata-kata bahasa Jepang asli yang sudah ada sebelum kango dan
gaikokugo masuk ke Jepang. Menurut Tanimitsu dalam Sudjianto dan
Dahidi(2007:99) “semua joshi dan jodooshi dan sebagian besar adjektiva,
konjungsi dan interjeksi adalah wago”. Menurut Ishida dan Sudjianto dan
Dahidi(2007:100), dibadingkan dengan jenis goi lainnya, wago memiliki
karakteristik sebagai berikut :
a) Banyak kata yang terdiri dari satu atau dua mora
b) Terlihat adanya peubahan bunyi pada kata yang digabungkan, seperti :
Ame → Amagasa
Ki → Kodachi
Sake → Sakamori
c) Tidak ada kata yang memiliki silabel dakuon dan ragyoo’on(bunyi silabel ra,
ri, ru, re, ro) pada awal katanya.
d) Banyak kata-kata yang secara simbolik mengambil tiruan bunyi terutama
gitaigo seperti ussura, honnori, daraari dan sebagainya.
e) Tersebar pada semua kelas kata, terutama kelas kata verba sebagian besar
16
wago.
f) Banyak kata-kata yang menyatakan benda konkrit, sedangkan kata-kata
abstrak sedikit
g) Banyak kata-kata yang menyatakan hujan, tumbuhan, binatang dan
sebagainya.
h) Merupakan kata-kata yang biasa digunakan sehari-hari
i) Tidak mempunyai kekuatan untuk menyatakan sesuatu secara tepat. Oleh
karena itu ada kata-kata yang memiliki car abaca yang sama tetapi
mempunyai bentuk kanji yang berebda seperti kata みる → 見る、診る、
観る、看る、視る.
2. Kango
Sudjianto dan Dahidi(2007:101) mengemukakan bahwa “di dalam ragam tulisan,
kango ditulis dengan huruf kanji(yang dibaca dengan cara on’yomi) atau dengan
huruf hiragana”. Dari sejarahnya Tanimitsu dalam Sudjianto dan
Dahidi(2007:101) menyebutkan bahwa „pada mulanya kango disampaikan dari
Cina, lalu bangsa Jepang memakainya sebagai bahasa sendiri, namun tidak jelas
pada zaman apa hal itu terjadi‟. Dengan demikian Sudjianto dan
Dahidi(2007:103) menyimpulkan bahwa “kango merupakan kata-kata yang
menyerap secara mendalam didalam kehidupan orang Jepang dengan melewati
waktu yang panjang”.
Apabila melihat asal-usulnya kango tampaknya tidak berbeda dengan gairaigo
17
karena sama-sama berasal dari bahasa asing. Tetapi karena kango memiliki
karakteristik tertentu yang berbeda dengan gairaigo maka kango menjadi jenis
kosakata tersendiri. Ishida Toshiko dalam Sudjianto dan Dahidi(2007:103)
menyebutkan karakteristik kango sebagai berikut :
a) Kango adalah kata-kata yang dibaca dengan onyomi yang terdiri dari satu
buah huruf kanji atau yang merupakan gabungan dua buah huruf kanji atau
lebih.
b) Di dalam cara membaca on’yomi juga ada go’on(cara pelafalan pada waktu
dinasti Wu), kan’on(cara pelafalan pada waktu dinasti Han), dan tan’on(cara
pelafalan pada waktu dinasti Tang), maka terdapat bemacam-macam cara
baca.
c) Pada awal kata banyak yang memakai silabel dakuon, namun tidak ada yang
memakai silabel handakuon.
d) Banyak bunyi yoo’on dan choo’on.
e) Dapat membuat kata-kata panjang dengan menggabungkan berbagai kango.
f) Banyak kelas kata nomina terutama kata-kata mengenai aktifitas manusia
dan nomina abstrak.
g) Bersifat bunshoogo „bahasa tulisan/sastra‟.
h) Dipakai secara rinci atau detail berdasarkan objek.
i) Banyak doo’ongo dan ruigigo.
j) Bertambah secara drastic setelah zaman Meiji.
18
3. Gairaigo
Gairaigo adalah kata-kata yang berasal dari bahasa asing(gaikokugo) lalu dipakai
sebagai bahasa nasional(kokugo). Kindaichi dalam Sudjianto dan
Dahidi(2007:104) mengemukakan bahwa „kata-kata yang termasuk gairaigo
bahasa Jepang pada umumnya adalah kata-kata yang berasal dari negara-negara
Eropa, tidak termasuk kango yang terlebih dahulu dipakai di dalam bahasa
Jepang sejak dahulu kala‟. Secara singkat Hiroshi dalam Sudjianto dan
Dahidi(2007:104) menambahkan bahwa „kata-kata yang diambil dari bahasa
asing yang sudah dimasukkan ke dalam system bahasa Jepang disebut gairaigo
atau shakuyoogo‟.
Berdasarkan definisi diatas Sudjianto dan Dahidi(2007:104) lalu menyimpulkan
bahwa “gairaigo adalah salah satu jenis kosakata bahasa Jepang yang berasal
dari bahasa asing yang telah disesuaikan dengan aturan-aturan yang ada dalam
bahasa Jepang”. Dari karakteristiknya Ishida dalam Sudjianto dan
Dahidi(2007:105) memberikan ciri-ciri gairaigo sebagai berikut :
a) Gairaigo ditulis dengan menggunakan huruf katakana
b) Terlihat kecenderungan pemakaian gairaigo pada bidang dan lapisan
masyarakat yang cukup terbatas, frekuensi pemakaiannya juga rendah
c) Nomina konkrit relatif banyak
d) Ada juga gairaigo buatan Jepang
e) Banyak kata yang dimulai dengan bunyi dakuon.
Hal lain yang dapat dijadikan karakteristik gairaigo di dalam bahasa Jepang
19
adalah hal-hal yang berhubungan dengan pemendekan gairaigo, perubahan kelas
kata pada gairaigo, penambahan sufiks na pada gairaigo kelas kata adjektiva,
dan pergeseran makna yang terjadi pada gairaigo.
4. Konshugo
Sudjianto dan Dahidi(2007:108) mengemukakan bahwa “selain wago, kango,
dan gairaigo ada juga konshugo yang sering disebut sebagai salah satu jenis
kosakata dalam bahasa Jepang”. Konshugo adalah kelompok kosakata yang
terbentuk sebagai gabungan dari dua buah kata yang memiliki asal-usul yang
berbeda seperti gabungan kango dengan wago, kango dengan gairaigo, atau
wago dengan gairaigo. Masaaki dalam Sudjianto dan Dahidi(2007:108)
menjelaskan bahwa pada dasarnya konshugo terdiri atas tiga macam gabungan
sebagai berikut :
a) Kango dengan wago, misalnya :
1) nimotsu, fumidai, mizu shoobai, hikiagesha, miai kekon
2) bangumi, honbako, kinenbi, roodoo kumiai
b) Kango dengan gairaigo, misalnya :
1) Ikamera, gyaku koosu, tennen gasu, roojin hoomu
2) Taunshi, mikisaasha, hausu saibai, jetto kiryuu
c) Wago dengan gairaigo, misalnya :
1) Uchigeba, tsukiroketto, oogata purojekuto
2) Beniyaita, sutoyaburi, janbo takarakuji
Selain itu, ada juga konshugo yang mengandung tiga jenis kosakata seperti pada
20
kata namabiirutoo. Lalu pada kata majemuk yang berasal dari beberapa gairaigo,
ada juga yang terbentuk dari bahasa-bahasa yang berbeda seperti soro
hoomaa(bahasa Itali ditambah bahasa Inggris) dan arubaito saron(bahasa Jerman
ditambah bahasa Prancis). Tetapi menurut Nomura dalam Sudjianto dan
Dahidi(2007:109) “jenis kata majemuk ini tidak disebut kenshugo”.
2.3.3 Kiso Goi dan Kihon Goi
Secara konseptual kosakata dalam bahasa Jepang dapat dibedakan menjadi
dua jenis kosakata yaitu kiso goi(kosakata dasar) dan kihon goi(kosakata pokok).
Menurut Iwabuchi dalam Sudjianto dan Dahidi, kiso goi dapat didefinisikan sebagai
„jenis goi yang memilih kata-kata pokok dalam jumlah tertentu secara subjektif dan
sistematis untuk tujuan tertentu dari dalam bahasa tertentu‟(2007:109).
Kunio dalam Sudjianto dan Dahidi mengemukakan bahwa „kiso goi(basic
vocabulary) ditentukan berdasarkan pertimbangan atau keputusan subjektif peneliti
atau pendidik yang memiliki suatu tujuan‟(2007:109). Ishida dalam Sudjianto dan
Dahidi lalu menambahkan bahwa „kiso goi pada umumnya dipakai pada waktu
menunjukkan goi dalam jumlah tertentu yang dipilih dengan pertimbangan
subjektif‟(2007:109).
Singkatnya kiso goi merupakan kumpulan kata yang memiliki fungsi sebagai
ungkapan bahasa yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari dan ditentukan
berdasarkan bidang ilmunya dengan cara menggabungkan kata-kata yang terbatas
pada jumlah tertentu. Sudjianto dan Dahidi lalu menambahkan, “Karena kosakatanya
21
terbatas maka ada kalanya menjadi cara pengucapan yang tidak alamiah, tetapi
apabila artinya dimengerti maka dianggap bagus”(2007:109).
Berbeda dengan kiso goi, Ishida dalam Sudjianto dan Dahidi mendefinisikan
kihon goi sebagai „kelompok goi yang dipilih untuk tujuan tertentu, namun
menunjukkan goi yang berdasarkan kepada penelitian goi secara objektif‟(2007:109).
Lebih jelasnya lagi Iwabuchi dalam Sudjianto dan Dahidi menerangkan bahwa „di
antara sekian banyak goi yang secara mendasar dipergunakan pada saat
melaksanakan kehidupan kebahasaan disebut kihon goi‟(2007:110). Menurut
Sudjianto dan Dahidi “kihon goi (fundamental vocabulary) memang dipilih untuk
suatu tujuan, namun pada umumnya berdasarkan pada hasil penelitian data-data
kebahasaan secara konkrit”(2007:109). Lebih lanjut Sudjianto dan Dahidi
menambahkan bahwa :
Kihon goi dipilih dengan mempertimbangkan(secara subjektif) ruang
lingkup pemakaiannya dan dengan meneliti(secara objektif) frekuensi
pemakaiannya berdasarkan tujuan seperti kihon goi yang diperlukan
untuk kehidupan sehari-hari atau kihon goi yang diperlukan dalam bidang
pendidikan. Kata-kata penting untuk persiapan masuk perguruan tinggi
pun adalah sejenis kihon goi(2007:110)
2.4 Menyimak
2.4.1 Definisi Menyimak
Menyimak adalah proses menangkap pesan atau gagasan yang disajikan
melalui ujaran. Menyimak merupakan salah satu keterampilan berbahasa disamping
membaca, berbicara, dan menulis. Menurut Tarigan dalam Menyimak Sebagai Suatu
22
Keterampilan Berbahasa, menyimak dapat didefinisikan sebagai :
Suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan
penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk
memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami
makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara melalui
ujaran atau bahasa lisan(1986:28)
Komunikasi tidak akan dapat berlangsung dengan lancar tanpa keterampilan
menyimak yang baik. Munfingatun dalam www.ananda-bekasi.sch.id, menjelaskan
bahwa :
Kemampuan seseorang dalam menyimak (mendengar/membaca)
merupakan landasan yang sangat vital dalam kemampuannya mengambil
sikap atau keputusan yang tepat dalam kehidupan. Oleh karena itu,
pembelajaran menyimak dalam proses pembelajaran menempati hal
yang sangat mendasar dalam mencapai keberhasilan pembelajaran.
Sadar atau tidak disadari bahwa tingkat keberhasilan proses
pembelajaran sesungguhnya karena kemampuan menyimak seseorang
terhadap berlangsungnya proses pembelajaran.
Sebagai suatu keterampilan, menyimak merupakan keterampilan yang harus
dimiliki semua pembelajar agar dapat memahami bahasa yang digunakan orang lain
secara lisan. Tanpa kemampuan menyimak yang baik, dimungkinkan terjadi
kesalahpahaman dalam komunikasi antara sesama pemakai bahasa yang dapat
menyebabkan berbagai hambatan dalam kegiatan sehari-hari. Oleh karena itu
kemampuan menyimak merupakan bagian yang penting dan tidak dapat diabaikan
dalam pengajaran bahasa, terutama bila tujuannya adalah untuk penguasaan
kemampuan berbahasa selengkapnya(membaca, berbicara dan menulis).
Kemajuan dalam menyimak akan menjadi dasar bagi pengembangan
keterampilan berbahasa lainnya, karena di dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali
23
kegiatan komunikasi yang dilakukan secara lisan, sehingga kemampuan menyimak
sangat penting dimiliki oleh setiap pemakai bahasa.
2.4.2 Faktor Pemengaruh Menyimak
Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi seseorang di dalam menyimak.
Menurut Tarigan(1986:99) faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang dalam
menyimak tersebut antara lain :
1. Faktor Fisik
Fisik seorang penyimak merupakan faktor yang turut menentukan keefektifan
serta serta kualitas keaktifannya dalam menyimak. Sebagai misal, ada orang yang
sukar sekali mendengar. Dalam keadaan yang serupa itu, dia mungkin saja
terganggu serta dibingungkan oleh upaya yang dilakukannya untuk mendengar,
atau dia mungkin kehilangan ide-ide pokok seluruhnya. Lingkungan fisik juga
mungkin sekali turut bertanggung jawab atas ketidakefektifan menyimak
seseorang.
2. Faktor Psikologis
Faktor ini antara lain mencakup masalah-masalah seperti :
a) Prasangka dan kurangnya simpati terhadap para pembicara dengan aneka
sebab dan alasan
b) Keegosentrisan dan keasyikan terhadap minat pribadi serta masalah pribadi.
c) Kepicikan yang menyebabkan pandangan yang kurang luas
d) Kebosanan dan kejenuhan yang menyebabkan tiadanya perhatian sama sekali
24
pada pokok pembicaraan
e) Sikap yang tidak layak terhadap sekolah, terhadap guru, terhadap pokok
pembicaraan, atau terhadap sang pembicara.
3. Faktor Pengalaman
Latar belakang pengalaman merupakan faktor penting dalam kegiatan menyimak.
Tidak perlu disangsikan lagi bahwa sikap-sikap kita merupakan hasil
pertumbuhan, perkembangan pengalaman kita sendiri. Kurangnya atau tiadanya
minat pun agaknya merupakan akibat dari pengalaman yang kurang atau tidak
ada sama sekali pengalaman dalam bidang yang akan disimak itu. Sikap
antagonistic, sikap-sikap yang menentang serta bermusuhan timbul dari
pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan.
4. Faktor Sikap
Setiap orang akan cenderung menyimak secara seksama pada topik-topik atau
pokok-pokok pembicaraan yang dapat dia setujui daripada yang kurang atau
tidak disetujuinya. Pada dasarnya manusia mempunyai dua sikap utama
mengenai segala hal yaitu sikap menerima dan sikap menolak. Orang akan
bersikap menerima pada hal-hal yang menarik dan menguntungkan baginya;
tetapi bersikap menolak pada hal-hal yang tidak menarik atau yang tidak
menguntungkan baginya. Kedua hal ini memberi dampak pada penyimak,
masing-masing dampak positif dan dampak negative.
5. Faktor Motivasi
Motivasi merupakan salah satu butir penentu keberhasilan seseorang. Kalau
25
motivasi kuat untuk mengerjakan sesuatu maka dapat diharapkan orang itu akan
berhasil mencapai tujuan, begitu pula halnya dengan menyimak.
Kebanyakan kegiatan menyimak melibatkan sistem penilaian kita sendiri. Kalau
kita dapat memperoleh sesuatu yang berharga dari pembicaraan itu, maka kita
pun akan bersemangat menyimaknya dengan tekun dan seksama. Akan tetapi
kalau kita tidak yakin bahwa kita akan memperoleh sesuatu yang berharga dan
berguna dari suatu penyimakan, maka akan sedikit sekali kemungkinan bahwa
kita akan mau, apalagi bergairah, meyimak pada sesuatu apabila kita sedang
melamun, mengantuk atau tidur-tiduran.
6. Faktor Jenis Kelamin
Perbedaan dalam menyimak turut pula ditentukan oleh perbedaan jenis kelamin.
Pria dan wanita pada umumnya memiliki perhatian dan cara memusatkan
perhatian pada sesuatu yang berbeda. Silverman dan Webb dalam
Tarigan(1986:104) mengemukakan bahwa :
gaya menyimak pria pada umumnya bersifat objektif, aktif, keras hati,
analitik, rasional, keras kepala atau tidak mau mundur, menetralkan,
intrusif(bersifat mengganggu), berdikari/mandiri, sanggup mencukupi
kebutuhan sendiri(swasembada), dan dapat menguasai/mengendalikan
emosi; sedangkan gaya menyimak wanita cenderung lebih subjektif, pasif,
ramah/simpatik, difusif(menyebar), sensitif, mudah dipengaruhi/gampang
terpengaruh, mudah mengalah, reseptif, bergantung(tidak berdikari), dan
emosional”
7. Faktor Lingkungan
Lingkungan yang baik turut mempengaruhi serta menunjang kegiatan-kegiatan
menyimak. Orang-orang cepat sekali merasakan suatu suasana dimana mereka
26
didorong untuk mengekspresikan ide-ide mereka, juga cepat mengetahui bahwa
sumbangan-sumbangan mereka akan dihargai. Mereka yang mempunyai
kesempatan untuk didengarkan akan lebih sigap mendengarkan apabila
mempunyai kesempatan berbicara.
8. Faktor Peranan Dalam Masyarakat
Kemauan menyimak kita dapat juga dipengaruhi oleh peranan kita dalam
masyarakat. Semua orang dari berbagai profesi pasti akan haus menyimak hal-hal
yang ada kaitannya dengan mereka, dengan profesi dan keahlian mereka, yang
dapat memperluas cakrawala pengetahuan mereka. Tanpa memperoleh informasi
mutakhir mengenai bidang mereka itu, jelas mereka merasa ketinggalan jaman.
Perkembangan pesat yang terdapat dalam bidang keahlian mereka, menuntut
mereka untuk mengembangkan suatu teknik menyimak yang baik.
Untuk lebih jelasnya, faktor-faktor yang mempengaruhi menyimak dapat kita
lihat pada gambar 2.2 berikut.
27
Gambar 2.2
Faktor Pemengaruh Menyimak
Peranan
dalam Fisik
Masyarakat
Lingkungan Psikologis
Delapan Faktor
Pemengaruh
Menyimak
Jenis Pengalaman
Kelamin
Motivasi Sikap
Sumber: Tarigan(1986:98)
2.4.3 Ciri Bahasa Yang Perlu Disimak Secara Selektif
Menurut Tarigan(1986:50) beberapa urutan kebahasaan yang harus
diperhatikan dalam menyimak adalah :
1. Nada Suara
Meskipun seseorang dapat berbicara bahasa asing dengan bentuk-bentuk tata
bahasa yang sungguh tepat dan benar, pemilihan kata-kata yang baik, bahkan
ucapan konsonan-konsonan serta vocal-vokal yang hampir tidak bercela, tetapi
28
intonasinya yang jelek dan salah biasanya membukakan tabir baginya sebagai
orang asing. Walaupun demikian, menyimak selektif terhadap intonasi
merupakan langkah pertama yang benar-benar harus dimulai dalam menyimak
suatu bahasa asing.
Ketika pertama kali mendengarkan bahasa asing maka biasanya diperoleh kesan
bahwa benar-benar tiada limit variasi-variasi puncak atau nada suara pada
aneka ragam kata, frase, dan kalimat. Tetapi secara berangsur-angsur semakin
banyak seseorang menyimak suatu bahasa, maka semakin tinggi pula
kesadarannya bahwa sebenarnya ada sejumlah batas yang amat tegas tempat
orang berbuat dengan suaranya. Bila dengan menyimak secara secukupnya
seseorang menjadi tahu, dan secara sadar atau tidak sadar akan perbedaan yang
bermakna dan dapat menirunya serta mengucapkannya kembali, maka itu
semua yang dibutuhkan oleh pemakai praktis suatu bahasa.
2. Bunyi-bunyi asing
Begitu seseorang menyimak secara selektif pada aneka variasi nada suatu
bahasa, maka bunyi-bunyi asing tersebut baik konsonan atau vokal tentu akan
sangat menarik perhatiannya. Oleh karena itu, maka segi-segi berikutnya yang
harus disimak secara selektif adalah bunyi-bunyi asing dalam bahasa tersebut.
Kalau suatu bunyi agak sering dipakai maka adalah baik serta bijaksana
memusatkan perhatian hanya pada bunyi yang satu itu. Dalam waktu yang amat
singkat akan terlihat bahwa bunyi tersebut tidak selalu sama.
Apabila seseorang pertama kali mendengar suatu bunyi maka kerap kali ada
29
beberapa keraguan misalnya mengenai bagaimana cara mengucapkannya, tetapi
setelah menyimak secara seksama pada bunyi tersebut beberapa kali, maka
seolah-olah alat bicara yang beraneka ragam itu hampir bergerak otomatis
dalam arah dan waktu yang tepat untuk menampilkan bunyi tadi.
3. Bunyi-bunyi yang bersamaan
Setelah menyimak selektif pada bunyi-bunyi yang asing, maka kita hendaknya
mulai mengarahkan perhatian kita pada perangkat-perangkat bunyi yang
bersamaan. Dapat dikatakan bahwa kesamaan-kesamaan dan perbedaan-
perbedaan dalam bahasa bersifat sistematis. Bahasa-bahasa tidak lebih dari
sistem-sistem lambang yang amat rumit dan kompleks. Bila kita terus
menyimak aneka perangkat bunyi yang bersamaan baik konsonan maupun
vokal, maka kita segera melihat bahwa disamping bahasa bahasa tersebut
mempunyai bunyi-bunyi yang yang beraneka ragam.
4. Kata-kata dan frase-frase
Salah satu dari frase-frase yang paling penting dalam menyimak kata-kata
secara selektif ataupun menyimak kalimat-kalimat secara selektif adalah
mencoba memahami dari konteks apa makna yang dikandungnya. Kita pun
dalam hal ini dapat menirunya dengan baik. Nilai prosedur ini sangat baik.
Menyimak secara selektif terhadap kata-kata biasanya mulai dengan
memperhatikan setiap kombinasi bunyi yang muncul berulang-ulang, yang
seolah-olah “lebih menonjol” dalam arus ujaran. Pada mulanya seseorang
menyimak secara selektif pada urutan-urutan yang sering kali muncul, yang
30
maknanya belum begitu dipahami. Sekali makna itu diketahui serta dipahami
maka kita perlu menyimak kombinasi-kombinasi yang serupa itu dari rekaman
lain, atau dalam percakapan sehari-hari. Kalau kata-kata itu telah menjadi biasa,
kita harus menambahkan kata-kata yang lain yang baru saja dipelajari,
mendorong jauh-jauh batas pengawasan reseptif terhadap bahasa itu.
5. Bentuk-bentuk ketatabahasaan
Dalam kebanyakan bahasa, apa yang kita sebut “kata” itu tidak selalu muncul
dan kelihatan dalam bentuk yang sama. Kadang-kadang suatu tambahan
dilekatkan pada kata itu. Apa pun perubahan yang terjadi, kita perlu
mengarahkan perhatian pada hal itu dengan jalan menyimak secara selektif
pada perangkat-perangkat modifikasi tersebut. Apabila kita mempelajari lebih
banyak lagi struktur kebahasaan suatu bahasa, maka hendaknya kita menyimak
secara selektif pada setiap tipe ciri kebahasaan, seperti jenis kelamin, waktu,
modus, bentuk, susunan kata, frase, klausa. Setiap ciri ketatabahasaan, terutama
sekali yang mungkin menimbulkan kesukaran pada pelajar haruslah disimak
secara selektif. Salah satu keuntungan utama menyimak secara selektif pada
struktur ketatabahasaan adalah bahwa struktur yang diserap oleh proses ini
cenderung membuat kebiasaan dalam otak kita. Bahkan setelah kita berhenti
menyimak pun, terutama sekali bagi bentuk atau susunan kata seperti itu, otak
ita terus melanjutkan proses pengklasifikasian secara otomatis segala sesuatu
yang telah kita dengar itu.
31
2.4.4 Tujuan Menyimak
Logan dan Shrope dalam Tarigan menjelaskan bahwa tujuan orang untuk
menyimak sesuatu itu beraneka ragam, antara lain :
1. Ada orang yang menyimak dengan tujuan utama agar dia dapat
memperoleh pengetahuan dari bahan ujaran sang pembicara; dengan
perkataan lain dia menyimak untuk belajar.
2. Ada orang yang menyimak dengan penekanan pada penikmatan
terhadap sesuatu dari materi yang diujarkan atau yang
diperdengarkan atau dipagelarkan(teritama sekali dalam bidang
seni); pendeknya dia menyimak untuk menikmati keindahan audial.
3. Ada orang yang menyimak dengan maksud agar dia dapat menilai
apa-apa yang yang dia simak(baik-buruk, indah-jelek, tepat-ngawur,
logis-tak logis, dan lain-lain); singkatnya dia menyimak untuk
mengevaluasi.
4. Ada orang yang menyimak agar dia dapat menikmati serta
menghargai apa-apa yang disimaknya itu(misalnya: pembacaan
cerita, pembacaan puisi, musik dan lagu, dialog, diskusi panel,
perdebatan); pendek kata, orang itu menyimak untuk mengapresiasi
materi simakan.
5. Ada orang yang menyimak dengan maksud agar dia dapat
mengkomunikasikan ide-ide, gagasan-gagasan, maupun perasaan-
perasaannya kepada orang lain dengan lancar dan tepat. Banyak
contoh dan ide yang dapat diperoleh dari sang pembicara dan semua
ini merupakan bahan penting dan menunjangnya dalam
mengkomunikasikan ide-idenya sendiri.
6. Ada pula orang yang menyimak dengan maksud dan tujuan agar dia
dapat membedakan bunyi-bunyi dengan tepat; mana bunyi yang
membedakan arti(distingtif) mana bunyi yang tidak membedakan
arti; biasanya ini terlihat nyata pada seseorang yang sedang belajar
bahasa asing yang asyik mendengarkan ujaran pembicara asli(native
speaker).
7. Ada lagi orang yang menyimak dengan maksud agar dia dapat
memecahkan masalah secara kreatif dan analisis, sebab dari dari
sang pembicara dia mungkin memperoleh banyak masukan berharga.
8. Selanjutnya ada lagi orang yang tekun menyimak sang pembicara
untuk meyakinkan dirinya terhadap suatu masalah atau pendapat
yang selama ini dia ragukan; dengan kata lain dia menyimak secara
persuasif.(1986:56)
32
Dari uraian diatas dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa pada dasarnya
kegiatan menyimak dapat kita pandang dari berbagai segi, misalnya sebagai sarana,
sebagai suatu keterampilan berkomunikasi, sebagai seni, sebagai proses, sebagai
suatu respon, dan sebagai pengalaman kreatif.
2.5 Korelasi antara Penguasaan Kosakata dengan Kemampuan Menyimak
Di dalam mempelajari suatu bahasa setiap pembelajar tentunya menghendaki
agar dapat berbahasa dengan baik dalam bahasa yang sedang dipelajarinya. Bagi
pelajaran bahasa asing dalam hal ini bahasa Jepang, penguasaan kosakata merupakan
syarat utama yang harus dikuasai pembelajar dalam meningkatkan keterampilan
berbahasanya.
Mata kuliah Goi merupakan mata kuliah yang dianggap efektif untuk
meningkatkan pemahaman dan menambah perbendaharaan kosakata bahasa Jepang
dan diajarkan berkesinambungan dari semester I hingga semester II. Karena kosakata-
kosakata yang dipelajari dalam mata kuliah ini akan selalu berhubungan dengan mata
kuliah bahasa Jepang lainnya termasuk mata kuliah Chookai, maka para pembelajar
harus disiplin dan teliti di dalam menangkap, mengingat, menganalisis dan
memahami kosakatanya.
Walaupun hal ini cukup sulit untuk dijadikan ukuran, karena kemampuan
berbahasa Jepang dalam hal ini kemampuan menyimak(Chookai) dipengaruhi oleh
beberapa faktor. Dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa secara konseptual
33
terdapat suatu pola hubungan tertentu antara penguasaan kosakata dengan
kemampuan menyimak mahasiswa. Berdasarkan pendapat tersebut diatas penguasaan
kosakata dapat dijadikan prediktor bagi kemampuan menyimak mahasiswa. Karena
itu penguasaan kosakata merupakan ukuran untuk mengetahui seberapa besar tingkat
kemampuan menyimak mahasiswa.
Persoalannya bahwa penguasaan kosakata merupakan sesuatu yang relatif,
kompleks dan senantiasa berkembang sehingga upaya-upaya untuk mengembangkan
dan mengendalikannya secara berhasil perlu terus menerus dilakukan. Disamping itu
masalah menyimak adalah masalah yang mempunyai sifat subjektif. Kemampuan
menyimak akan berbeda antara yang satu individu dengan yang lainnya.
Get documents about "