BAB II - DOC

Shared by: i552bp
Categories
Tags
-
Stats
views:
123
posted:
11/23/2011
language:
Indonesian
pages:
26
Document Sample
scope of work template
							                                     BAB II

                              LANDASAN TEORI




2.1 Pemerolehan Bahasa

       Menurut Tarigan dan Tarigan dalam Pengajaran Analisis Kesalahan

Berbahasa :

      Pemerolehan bahasa atau language acquisition biasanya diikuti oleh kata
      pertama dan kedua, sehingga kita kenal istilah pemerolehan bahasa
      pertama(PB1) atau first language acquisition dan pemerolehan bahasa
      kedua(PB2) atau second language acquisition.(1995:4)

       Pemerolehan bahasa pertama berkaitan dengan segala aktifitas seseorang

dalam menguasai bahasa ibunya, sedangkan pemerolehan bahasa kedua berlangsung

setelah seseorang menguasai atau mempelajari bahasa pertama. Jalur kegiatannya

dapat melalui pendidikan informal(alamiah) maupun pendidikan formal(ilmiah).

       Tarigan dan Tarigan lalu menambahkan bahwa “pengajaran bahasa secara

alamiah disebut pemerolehan bahasa(language acquisition) dan pengajaran bahasa

secara ilmiah disebut pembelajaran bahasa(language learning)”.(1995:5)

       Belajar secara formal didasarkan pada perencanaan yang matang, disengaja

dan disadari(umumnya bahasa yang dipelajari di sekolah atau bahasa asing).

Sedangkan, belajar informal yaitu tidak berencana, kebetulan, tidak disengaja dan

tidak disadari. Pemerolehan bahasa kedua sebenarnya mengacu kepada semua aspek

bahasa yang sepantasnya dikuasai oleh seorang pelajar. Untuk lebih jelasnya dapat


                                        8
                                                                                            9




kita perhatikan pada gambar 2.1 berikut ini.


                               Gambar 2.1
           Perbedaan Pemerolehan Bahasa dan Pembelajaran Bahasa




                                 Informal               Formal




                     Tidak                                                      Berencana
                   Berencana




                                                                 Pembelajaran
                                 Pemerolehan




                                               BAHASA



                     Tidak                                                      Disengaja
                    Disengaja




                                 Tidak                  Disadari
                                Disadari




                                                    Sumber : Tarigan dan Tarigan (1995:5)



       Lebih lanjut Tarigan dan Tarigan menjelaskan bahwa “pemerolehan bahasa

kedua adalah proses yang disadari atau tidak disadari dalam mempelajari bahasa

kedua setelah seseorang menguasai bahasa ibunya, baik secara alamiah maupun

ilmiah”(1995:6).
                                                                                      10




       Pembelajaran ini dipengaruhi beberapa faktor. Faktor-faktor utama yang

berkaitan erat dengan pemerolehan bahasa asing adalah bahasa pembelajar, faktor

eksternal pembelajar, faktor internal pembelajar, dan pembelajar sebagai individu.

       Faktor di luar ataupun di dalam pembelajar sendiri adalah aspek yang tidak

kalah pentingnya untuk dapat memahami pemerolehan bahasa. Faktor di luar

pembelajar misalnya adalah lingkungan dan interaksi. Dua faktor ini sangat

mempengaruhi perkembangan pemerolehan bahasa. Sedangkan faktor internal dari

pembelajar diantaranya adalah pengaruh dari bahasa pertama atau bahasa lain. Faktor

lain yang tak kalah pentingnya adalah pembelajar sendiri sebagai seorang individu.

Setiap pembelajar tentu mempunyai perbedaan dengan pembelajar lain. Mereka

mempunyai strategi pembelajaran yang berbeda.



2.1.1 Dimensi Pemerolehan Bahasa

       Menurut      Klien     dalam     Sudipa     yang     penulis      lansir      dari

www.ialf.edu/kipbipa/papers/INengahSudipa.doc       ada    enam       dimensi     dalam

pemerolehan Bahasa kedua yakni:


       1. Propensity, faktor pertama yang perlu diperhitungkan demi
          keberhasilan pembelajaran itu adalah, apakah ada semacam desakan
          (desakan dari dalam atau luar) pembelajar, dikenal dengan
          propensity.
       2. Language Faculty, menurut Ferdinand de Saussure setiap orang
          memiliki kapasitas alami untuk memproses bahasa, baik sebagai
          pembicara maupun pendengar, Kapasitas itu sendiri disebut faculte
          du langage
                                                                                  11




        3. Access, proses pemerolehan bahasa tidak pernah akan bisa berjalan
           kalau tidak ada peluang bagi kemampuan yang dimiliki orang
        4. Structure, struktur yang dimaksud di sini adalah ciri-ciri umum
           bahasa dengan berbagai perkecualian apabila dipakai dalam
           berkomunikasi.
        5. Tempo, keempat dimensi di depan sangat berpengaruh terhadap
           cepat atau lambannya proses ini terwujud. Desakan kebutuhan
           komunikatif berakselerasi dengan kemajuan setiap orang atau
           sebaliknya. Cepat atau lambannya proses Pemerolehan Bahasa ada
           juga disebabkan oleh daya ingat seseorang
        6. End-state, idealnya tahap ini seharusnya menandakan penguasaan
           sempurna terhadap bahasa. Perlu diingat bahwa istilah bahasa
           mengandung kenyataan yang terdiri atas berbagai varian, seperti
           dialek, sosiolek, register dan aspek lainnya. Diakui bahwa tidak ada
           seorang anak manusia menguasai semua varian ini dengan efektif,
           bahkan penutur asli sekali pun.



2.2 Kosakata

        Berdasar teori yang penulis kutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Kosakata,

kosakata dapat didefinisikan sebagai “himpunan kata yang diketahui oleh seseorang

atau entitas lain, atau merupakan bagian dari suatu bahasa tertentu”. Sedangkan

Menurut Soedjito dalam Turanita, kosakata dapat didefiniskan sebagai berikut :

        1.   Semua kata yang terdapat dalam satu bahasa
        2.   Kekayaan kata yang dimiliki oleh seseorang
        3.   Kata yang dipakai dalam satu bidang ilmu pengetahuan
        4.   daftar kata yang disusun seperti kamus disertai penjelasan singkat
             dan praktis(2004)

        Kata sendiri Menurut Bloomfield dalam Alwasilah(1993:120) bisa diberi

definisi sebagai „kesatuan linguistik yang tidak memungkinkan penyisipan materi

linguistik apapun. Dengan kata lain, kata adalah kesatuan terkecil dari ujaran yang

bisa berdiri sendiri‟.
                                                                                   12




       Kualitas keterampilan berbahasa seseorang jelas bergantung pada kuantitas

dan kualitas kosakata yang dimilikinya. Paparan sebelumnya menunjukkan bahwa

dengan adanya penguasaan kosakata yang memadai akan dapat meningkatkan

kualitas seseorang dalam menyikapi bahasa. Hal itu selaras dengan pandangan Dale

dalam Tarigan yang memberikan pandangan tentang pentingnya memahami kosa kata

sebagai berikut:

       1. Kuantitas dan kualitas penguasaan kosakata seseorang merupakan
          indeks pribadi yang terbaik bagi perkembangan mentalnya
       2. Perkembangan kosakata merupakan perkembangan konseptual
       3. Semua pendidikan pada prinsipnya merupakan pengembangan
          kosakata
       4. Program yang sistematis bagi pengembangan kosakata akan
          dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, kemampuan, dan status sosial
       5. Faktor geografis mempengaruhi perkembangan kosakata
       6. Penelaahan kosakata yang efektif hendaknya beranjak dari kata-kata
          yang sudah diketahui menuju kata-kata yang belum atau tidak
          diketahui. (1985:3)


       Pada kelas awal pembelajaran bahasa asing, seperti tingkat I angkatan

2007/2008 jurusan sastra Jepang UNIKOM, pembelajaran dimulai dengan

pengenalan kosakata dasar, agar mempermudah mahasiswa mempelajari bahasa yang

sedang dipelajarinya, karena dikenalkan dengan kata-kata sederhana dari lingkungan

sekitar dirinya. Menurut Tarigan “kosakata dasar atau basic vocabulary adalah kata-

kata yang tidak mudah berubah atau sedikit sekali kemungkinannya dipungut dari

bahasa lain”(1985:3). Tarigan kemudian memaparkan bahwa yang termasuk kedalam

kosakata dasar ini, antara lain :

       1.   Istilah kekerabatan : misalnya ayah, ibu, kakak, adik, nenek, kakek,
            bibi, paman, dll
                                                                                    13




       2.   Nama bagian tubuh : misalnya kepala, rambut, hidung, telinga, pipi,
            gigi, kaki, tangan, dll
       3.   Kata ganti (diri, penunjuk) : misalnya saya, kamu, dia, kami, mereka,
            ini, itu, sini, sana, dll
       4.   Kata bilangan pokok : misalnya satu, dua, tiga, empat, lima, enam,
            tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, dua puluh, seratus, dua ratus,
            seribu, dua ribu, sepuluh ribu, dll
       5.   Kata kerja pokok : misalnya makan, minum, tidur, bangun,
            berbicara, melihat, mendengar, berjalan, lari, bekerja dll
       6.   Kata keadaan pokok : misalnya suka, duka, jauh, dekat, cepat,
            lambat, kaya, miskin, tua, muda dll
       7.   Benda-benda universal : misalnya tanah, air, api, langit, bulan,
            bintang, matahari, binatang, tumbuh-tumbuhan, dll(1985:3)


       Menurut teori yang penulis kutip dari www.ialf.edu dengan menguasai

kosakata yang memadai diharapkan dapat mencapai hal berikut :

       1.   Meningkatkan kemampuan para siswa
       2.   Meningkatkan taraf perkembangan konseptual para siswa, dan
       3.   Mempertajam proses berfikir




2.3 Kosakata Bahasa Jepang

2.3.1 Definisi Kosakata Bahasa Jepang

       Kosakata dalam bahasa Jepang disebut Goi. Dalam kamus bahasa Jepang-

Indonesia Kenji Matsuura, yang dinamakan Goi adalah perbendaharaan kata-kata dan

daftar kosakata. Sudjianto dan Dahidi memberikan definisi Goi sebagai “kumpulan

kata yang berhubungan dengan suatu bahasa atau dengan bidang tertentu dalam

bahasa itu”(2007:98).

       Sependapat dengan teori yang telah penulis paparkan sebelumnya, Sudijianto

dan Dahidi mengemukakan bahwa “Goi merupakan salah satu aspek kebahasaan
                                                                                     14




yang harus diperhatikan dan dikuasai guna menunjang kelancaran berkomunikasi

dengan bahasa Jepang baik dalam ragam lisan maupun ragam tulisan”(2007:97).

Kemudian Asano Yuriko dalam Sudjianto dan Dahidi(2007:97) menyebutkan bahwa

:

       tujuan akhir pangajaran bahasa Jepang adalah agar para pembelajar dapat
       mengkomunikasikan ide ataupun gagasannya dengan menggunakan
       bahasa Jepang baik dengan cara lisan maupun tulisan, salah satu faktor
       penunjangnya adalah penguasaan goi yang memadai.



2.3.2 Jenis Jenis Goi

       Sudjianto dan Dahidi(2007:98) ) dalam Pengantar Linguistik Bahasa Jepang

menjelaskan bahwa :

       Kosakata dapat diklasifikasikan berdasrkan pada cara-cara, standar atau
       sudut pandang apa kita melihatnya. Misalnya berdasarkan karakteristik
       gramatikalnya terdapat kata-kata yang tergolong doushi(verba), i-
       keiyoushi atau ada yang menyebutnya keiyoushi(ajektiva i), na-keiyoushi
       atau ada yang menyebutnya keiyoudoushi(ajektiva na). meishi(nomina),
       rentaishi(prenomina),        fukushi(adverbia),      kandoushi(interjeksi),
       setsuzokushi(konjungsi), jodoushi(verba bantu), dan joshi(pertikel).
       Kosakata dapat juga diklasifikasikan berdasarkan para penuturnya dilihat
       dari faktor usia, jenis kelamin dan sebagainya… Lalu berdasarkan
       pekerjaan atau bidang keahliannya di dalam bahasa Jepang terdapat
       beberapa senmon yoogo(istilah-istilah teknis atau istilah-istilah bidang
       keahlian) termasuk didalamnya kata-kata yang termasuk bidang
       kedokteran, pertanian, teknik, perekonomian, peternakan dan sebagainya.
       Selain itu ada juga klasifikasi kosakata berdasarkan perbedaan zaman dan
       wilayah penuturnya sehingga ada kata-kata yang tergolong bahasa klasik,
       bahasa modern, dialek Hiroshima, dialek Kansai, dialek Tokyo, dan
       sebagainya. Bahkan ada juga yang mengklasifikasikan kosakata pada
       hyoogen goi, rikai goi, kihon goi, kiso goi, doo’on igigo, ruigigo, keigo
       yang didalamnya mencakup kosakata sonkeigo, kenjoogo, teineigo, dan
       sebagainya.
                                                                                   15




        Dilihat dari asal-usulnya kosakata dalam bahasa Jepang terdiri dari wago,

kango, dan gairaigo. Iwabuchi dalam Sudjianto dan Dahidi(2007:99) menyatakan

bahwa “klasifikasi kata berdasarkan asal-usulnya seperti ini disebut juga goshu”.

Untuk lebih jelasnya lagi mengenai jenis-jenis kosakata tersebut dapat kita lihat pada

penjelasan berikut ini.

1.   Wago

     Wago adalah kata-kata bahasa Jepang asli yang sudah ada sebelum kango dan

     gaikokugo masuk ke Jepang. Menurut Tanimitsu dalam Sudjianto dan

     Dahidi(2007:99) “semua joshi dan         jodooshi dan sebagian besar adjektiva,

     konjungsi dan interjeksi adalah wago”. Menurut Ishida dan Sudjianto dan

     Dahidi(2007:100), dibadingkan dengan jenis goi lainnya, wago memiliki

     karakteristik sebagai berikut :

     a) Banyak kata yang terdiri dari satu atau dua mora

     b) Terlihat adanya peubahan bunyi pada kata yang digabungkan, seperti :

         Ame              →    Amagasa

         Ki               →    Kodachi

         Sake             →    Sakamori

     c) Tidak ada kata yang memiliki silabel dakuon dan ragyoo’on(bunyi silabel ra,

         ri, ru, re, ro) pada awal katanya.

     d) Banyak kata-kata yang secara simbolik mengambil tiruan bunyi terutama

         gitaigo seperti ussura, honnori, daraari dan sebagainya.

     e) Tersebar pada semua kelas kata, terutama kelas kata verba sebagian besar
                                                                                          16




          wago.

     f) Banyak kata-kata yang menyatakan benda konkrit, sedangkan kata-kata

          abstrak sedikit

     g) Banyak kata-kata yang menyatakan hujan, tumbuhan, binatang dan

          sebagainya.

     h) Merupakan kata-kata yang biasa digunakan sehari-hari

     i)   Tidak mempunyai kekuatan untuk menyatakan sesuatu secara tepat. Oleh

          karena itu ada kata-kata yang memiliki car abaca yang sama tetapi

          mempunyai bentuk kanji yang berebda seperti kata みる                 →   見る、診る、

          観る、看る、視る.

2.   Kango

     Sudjianto dan Dahidi(2007:101) mengemukakan bahwa “di dalam ragam tulisan,

     kango ditulis dengan huruf kanji(yang dibaca dengan cara on’yomi) atau dengan

     huruf    hiragana”.      Dari    sejarahnya       Tanimitsu    dalam     Sudjianto   dan

     Dahidi(2007:101) menyebutkan bahwa „pada mulanya kango disampaikan dari

     Cina, lalu bangsa Jepang memakainya sebagai bahasa sendiri, namun tidak jelas

     pada    zaman      apa   hal    itu   terjadi‟.   Dengan      demikian   Sudjianto   dan

     Dahidi(2007:103) menyimpulkan bahwa “kango merupakan kata-kata yang

     menyerap secara mendalam didalam kehidupan orang Jepang dengan melewati

     waktu yang panjang”.

     Apabila melihat asal-usulnya kango tampaknya tidak berbeda dengan gairaigo
                                                                             17




karena sama-sama berasal dari bahasa asing. Tetapi karena kango memiliki

karakteristik tertentu yang berbeda dengan gairaigo maka kango menjadi jenis

kosakata tersendiri. Ishida Toshiko dalam Sudjianto dan Dahidi(2007:103)

menyebutkan karakteristik kango sebagai berikut :

a) Kango adalah kata-kata yang dibaca dengan onyomi yang terdiri dari satu

     buah huruf kanji atau yang merupakan gabungan dua buah huruf kanji atau

     lebih.

b) Di dalam cara membaca on’yomi juga ada go’on(cara pelafalan pada waktu

     dinasti Wu), kan’on(cara pelafalan pada waktu dinasti Han), dan tan’on(cara

     pelafalan pada waktu dinasti Tang), maka terdapat bemacam-macam cara

     baca.

c) Pada awal kata banyak yang memakai silabel dakuon, namun tidak ada yang

     memakai silabel handakuon.

d) Banyak bunyi yoo’on dan choo’on.

e) Dapat membuat kata-kata panjang dengan menggabungkan berbagai kango.

f)   Banyak kelas kata nomina terutama kata-kata mengenai aktifitas manusia

     dan nomina abstrak.

g) Bersifat bunshoogo „bahasa tulisan/sastra‟.

h) Dipakai secara rinci atau detail berdasarkan objek.

i)   Banyak doo’ongo dan ruigigo.

j)   Bertambah secara drastic setelah zaman Meiji.
                                                                                    18




3.   Gairaigo

     Gairaigo adalah kata-kata yang berasal dari bahasa asing(gaikokugo) lalu dipakai

     sebagai     bahasa    nasional(kokugo).   Kindaichi      dalam   Sudjianto     dan

     Dahidi(2007:104) mengemukakan bahwa „kata-kata yang termasuk gairaigo

     bahasa Jepang pada umumnya adalah kata-kata yang berasal dari negara-negara

     Eropa, tidak termasuk kango yang terlebih dahulu dipakai di dalam bahasa

     Jepang sejak dahulu kala‟. Secara singkat Hiroshi dalam Sudjianto dan

     Dahidi(2007:104) menambahkan bahwa „kata-kata yang diambil dari bahasa

     asing yang sudah dimasukkan ke dalam system bahasa Jepang disebut gairaigo

     atau shakuyoogo‟.

     Berdasarkan definisi diatas Sudjianto dan Dahidi(2007:104) lalu menyimpulkan

     bahwa “gairaigo adalah salah satu jenis kosakata bahasa Jepang yang berasal

     dari bahasa asing yang telah disesuaikan dengan aturan-aturan yang ada dalam

     bahasa     Jepang”.   Dari   karakteristiknya   Ishida   dalam     Sudjianto   dan

     Dahidi(2007:105) memberikan ciri-ciri gairaigo sebagai berikut :

     a) Gairaigo ditulis dengan menggunakan huruf katakana

     b) Terlihat kecenderungan pemakaian gairaigo pada bidang dan lapisan

         masyarakat yang cukup terbatas, frekuensi pemakaiannya juga rendah

     c) Nomina konkrit relatif banyak

     d) Ada juga gairaigo buatan Jepang

     e) Banyak kata yang dimulai dengan bunyi dakuon.

     Hal lain yang dapat dijadikan karakteristik gairaigo di dalam bahasa Jepang
                                                                                19




     adalah hal-hal yang berhubungan dengan pemendekan gairaigo, perubahan kelas

     kata pada gairaigo, penambahan sufiks na pada gairaigo kelas kata adjektiva,

     dan pergeseran makna yang terjadi pada gairaigo.

4.   Konshugo

     Sudjianto dan Dahidi(2007:108) mengemukakan bahwa “selain wago, kango,

     dan gairaigo ada juga konshugo yang sering disebut sebagai salah satu jenis

     kosakata dalam bahasa Jepang”. Konshugo adalah kelompok kosakata yang

     terbentuk sebagai gabungan dari dua buah kata yang memiliki asal-usul yang

     berbeda seperti gabungan kango dengan wago, kango dengan gairaigo, atau

     wago dengan gairaigo. Masaaki dalam Sudjianto dan Dahidi(2007:108)

     menjelaskan bahwa pada dasarnya konshugo terdiri atas tiga macam gabungan

     sebagai berikut :

     a) Kango dengan wago, misalnya :

         1) nimotsu, fumidai, mizu shoobai, hikiagesha, miai kekon

         2) bangumi, honbako, kinenbi, roodoo kumiai

     b) Kango dengan gairaigo, misalnya :

         1) Ikamera, gyaku koosu, tennen gasu, roojin hoomu

         2) Taunshi, mikisaasha, hausu saibai, jetto kiryuu

     c) Wago dengan gairaigo, misalnya :

         1) Uchigeba, tsukiroketto, oogata purojekuto

         2) Beniyaita, sutoyaburi, janbo takarakuji

     Selain itu, ada juga konshugo yang mengandung tiga jenis kosakata seperti pada
                                                                               20




    kata namabiirutoo. Lalu pada kata majemuk yang berasal dari beberapa gairaigo,

    ada juga yang terbentuk dari bahasa-bahasa yang berbeda seperti soro

    hoomaa(bahasa Itali ditambah bahasa Inggris) dan arubaito saron(bahasa Jerman

    ditambah bahasa Prancis). Tetapi menurut Nomura dalam Sudjianto dan

    Dahidi(2007:109) “jenis kata majemuk ini tidak disebut kenshugo”.



2.3.3 Kiso Goi dan Kihon Goi

       Secara konseptual kosakata dalam bahasa Jepang dapat dibedakan menjadi

dua jenis kosakata yaitu kiso goi(kosakata dasar) dan kihon goi(kosakata pokok).

Menurut Iwabuchi dalam Sudjianto dan Dahidi, kiso goi dapat didefinisikan sebagai

„jenis goi yang memilih kata-kata pokok dalam jumlah tertentu secara subjektif dan

sistematis untuk tujuan tertentu dari dalam bahasa tertentu‟(2007:109).

       Kunio dalam Sudjianto dan Dahidi mengemukakan bahwa „kiso goi(basic

vocabulary) ditentukan berdasarkan pertimbangan atau keputusan subjektif peneliti

atau pendidik yang memiliki suatu tujuan‟(2007:109). Ishida dalam Sudjianto dan

Dahidi lalu menambahkan bahwa „kiso goi pada umumnya dipakai pada waktu

menunjukkan goi dalam jumlah tertentu yang dipilih dengan pertimbangan

subjektif‟(2007:109).

       Singkatnya kiso goi merupakan kumpulan kata yang memiliki fungsi sebagai

ungkapan bahasa yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari dan ditentukan

berdasarkan bidang ilmunya dengan cara menggabungkan kata-kata yang terbatas

pada jumlah tertentu. Sudjianto dan Dahidi lalu menambahkan, “Karena kosakatanya
                                                                                 21




terbatas maka ada kalanya menjadi cara pengucapan yang tidak alamiah, tetapi

apabila artinya dimengerti maka dianggap bagus”(2007:109).

       Berbeda dengan kiso goi, Ishida dalam Sudjianto dan Dahidi mendefinisikan

kihon goi sebagai „kelompok goi yang dipilih untuk tujuan tertentu, namun

menunjukkan goi yang berdasarkan kepada penelitian goi secara objektif‟(2007:109).

Lebih jelasnya lagi Iwabuchi dalam Sudjianto dan Dahidi menerangkan bahwa „di

antara sekian banyak goi yang secara mendasar dipergunakan pada saat

melaksanakan kehidupan kebahasaan disebut kihon goi‟(2007:110). Menurut

Sudjianto dan Dahidi “kihon goi (fundamental vocabulary) memang dipilih untuk

suatu tujuan, namun pada umumnya berdasarkan pada hasil penelitian data-data

kebahasaan secara konkrit”(2007:109). Lebih lanjut Sudjianto dan Dahidi

menambahkan bahwa :

       Kihon goi dipilih dengan mempertimbangkan(secara subjektif) ruang
       lingkup pemakaiannya dan dengan meneliti(secara objektif) frekuensi
       pemakaiannya berdasarkan tujuan seperti kihon goi yang diperlukan
       untuk kehidupan sehari-hari atau kihon goi yang diperlukan dalam bidang
       pendidikan. Kata-kata penting untuk persiapan masuk perguruan tinggi
       pun adalah sejenis kihon goi(2007:110)



2.4 Menyimak

2.4.1 Definisi Menyimak

       Menyimak adalah proses menangkap pesan atau gagasan yang disajikan

melalui ujaran. Menyimak merupakan salah satu keterampilan berbahasa disamping

membaca, berbicara, dan menulis. Menurut Tarigan dalam Menyimak Sebagai Suatu
                                                                                22




Keterampilan Berbahasa, menyimak dapat didefinisikan sebagai :

       Suatu proses kegiatan mendengarkan lambang-lambang lisan dengan
       penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk
       memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami
       makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara melalui
       ujaran atau bahasa lisan(1986:28)

       Komunikasi tidak akan dapat berlangsung dengan lancar tanpa keterampilan

menyimak yang baik. Munfingatun dalam www.ananda-bekasi.sch.id, menjelaskan

bahwa :

       Kemampuan seseorang dalam menyimak (mendengar/membaca)
       merupakan landasan yang sangat vital dalam kemampuannya mengambil
       sikap atau keputusan yang tepat dalam kehidupan. Oleh karena itu,
       pembelajaran menyimak dalam proses pembelajaran menempati hal
       yang sangat mendasar dalam mencapai keberhasilan pembelajaran.
       Sadar atau tidak disadari bahwa tingkat keberhasilan proses
       pembelajaran sesungguhnya karena kemampuan menyimak seseorang
       terhadap berlangsungnya proses pembelajaran.

       Sebagai suatu keterampilan, menyimak merupakan keterampilan yang harus

dimiliki semua pembelajar agar dapat memahami bahasa yang digunakan orang lain

secara lisan. Tanpa kemampuan menyimak yang baik, dimungkinkan terjadi

kesalahpahaman dalam komunikasi antara sesama pemakai bahasa yang dapat

menyebabkan berbagai hambatan dalam kegiatan sehari-hari. Oleh karena itu

kemampuan menyimak merupakan bagian yang penting dan tidak dapat diabaikan

dalam pengajaran bahasa, terutama bila tujuannya adalah untuk penguasaan

kemampuan berbahasa selengkapnya(membaca, berbicara dan menulis).

       Kemajuan dalam menyimak akan menjadi dasar bagi pengembangan

keterampilan berbahasa lainnya, karena di dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali
                                                                                 23




kegiatan komunikasi yang dilakukan secara lisan, sehingga kemampuan menyimak

sangat penting dimiliki oleh setiap pemakai bahasa.



2.4.2 Faktor Pemengaruh Menyimak

        Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi seseorang di dalam menyimak.

Menurut Tarigan(1986:99) faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang dalam

menyimak tersebut antara lain :

1.   Faktor Fisik

     Fisik seorang penyimak merupakan faktor yang turut menentukan keefektifan

     serta serta kualitas keaktifannya dalam menyimak. Sebagai misal, ada orang yang

     sukar sekali mendengar. Dalam keadaan yang serupa itu, dia mungkin saja

     terganggu serta dibingungkan oleh upaya yang dilakukannya untuk mendengar,

     atau dia mungkin kehilangan ide-ide pokok seluruhnya. Lingkungan fisik juga

     mungkin sekali turut bertanggung jawab atas ketidakefektifan menyimak

     seseorang.

2.   Faktor Psikologis

     Faktor ini antara lain mencakup masalah-masalah seperti :

     a) Prasangka dan kurangnya simpati terhadap para pembicara dengan aneka

         sebab dan alasan

     b) Keegosentrisan dan keasyikan terhadap minat pribadi serta masalah pribadi.

     c) Kepicikan yang menyebabkan pandangan yang kurang luas

     d) Kebosanan dan kejenuhan yang menyebabkan tiadanya perhatian sama sekali
                                                                             24




        pada pokok pembicaraan

     e) Sikap yang tidak layak terhadap sekolah, terhadap guru, terhadap pokok

        pembicaraan, atau terhadap sang pembicara.

3.   Faktor Pengalaman

     Latar belakang pengalaman merupakan faktor penting dalam kegiatan menyimak.

     Tidak perlu disangsikan lagi bahwa sikap-sikap kita merupakan hasil

     pertumbuhan, perkembangan pengalaman kita sendiri. Kurangnya atau tiadanya

     minat pun agaknya merupakan akibat dari pengalaman yang kurang atau tidak

     ada sama sekali pengalaman dalam bidang yang akan disimak itu. Sikap

     antagonistic, sikap-sikap yang menentang serta bermusuhan timbul dari

     pengalaman-pengalaman yang tidak menyenangkan.

4.   Faktor Sikap

     Setiap orang akan cenderung menyimak secara seksama pada topik-topik atau

     pokok-pokok pembicaraan yang dapat dia setujui daripada yang kurang atau

     tidak disetujuinya. Pada dasarnya manusia mempunyai dua sikap utama

     mengenai segala hal yaitu sikap menerima dan sikap menolak. Orang akan

     bersikap menerima pada hal-hal yang menarik dan menguntungkan baginya;

     tetapi bersikap menolak pada hal-hal yang tidak menarik atau yang tidak

     menguntungkan baginya. Kedua hal ini memberi dampak pada penyimak,

     masing-masing dampak positif dan dampak negative.

5.   Faktor Motivasi

     Motivasi merupakan salah satu butir penentu keberhasilan seseorang. Kalau
                                                                                25




     motivasi kuat untuk mengerjakan sesuatu maka dapat diharapkan orang itu akan

     berhasil mencapai tujuan, begitu pula halnya dengan menyimak.

     Kebanyakan kegiatan menyimak melibatkan sistem penilaian kita sendiri. Kalau

     kita dapat memperoleh sesuatu yang berharga dari pembicaraan itu, maka kita

     pun akan bersemangat menyimaknya dengan tekun dan seksama. Akan tetapi

     kalau kita tidak yakin bahwa kita akan memperoleh sesuatu yang berharga dan

     berguna dari suatu penyimakan, maka akan sedikit sekali kemungkinan bahwa

     kita akan mau, apalagi bergairah, meyimak pada sesuatu apabila kita sedang

     melamun, mengantuk atau tidur-tiduran.

6.   Faktor Jenis Kelamin

     Perbedaan dalam menyimak turut pula ditentukan oleh perbedaan jenis kelamin.

     Pria dan wanita pada umumnya memiliki perhatian dan cara memusatkan

     perhatian   pada    sesuatu   yang   berbeda.   Silverman   dan   Webb   dalam

     Tarigan(1986:104) mengemukakan bahwa :

     gaya menyimak pria pada umumnya bersifat objektif, aktif, keras hati,
     analitik, rasional, keras kepala atau tidak mau mundur, menetralkan,
     intrusif(bersifat mengganggu), berdikari/mandiri, sanggup mencukupi
     kebutuhan sendiri(swasembada), dan dapat menguasai/mengendalikan
     emosi; sedangkan gaya menyimak wanita cenderung lebih subjektif, pasif,
     ramah/simpatik, difusif(menyebar), sensitif, mudah dipengaruhi/gampang
     terpengaruh, mudah mengalah, reseptif, bergantung(tidak berdikari), dan
     emosional”


7.   Faktor Lingkungan

     Lingkungan yang baik turut mempengaruhi serta menunjang kegiatan-kegiatan

     menyimak. Orang-orang cepat sekali merasakan suatu suasana dimana mereka
                                                                                26




     didorong untuk mengekspresikan ide-ide mereka, juga cepat mengetahui bahwa

     sumbangan-sumbangan mereka akan dihargai. Mereka yang mempunyai

     kesempatan untuk didengarkan akan lebih sigap mendengarkan apabila

     mempunyai kesempatan berbicara.

8.   Faktor Peranan Dalam Masyarakat

     Kemauan menyimak kita dapat juga dipengaruhi oleh peranan kita dalam

     masyarakat. Semua orang dari berbagai profesi pasti akan haus menyimak hal-hal

     yang ada kaitannya dengan mereka, dengan profesi dan keahlian mereka, yang

     dapat memperluas cakrawala pengetahuan mereka. Tanpa memperoleh informasi

     mutakhir mengenai bidang mereka itu, jelas mereka merasa ketinggalan jaman.

     Perkembangan pesat yang terdapat dalam bidang keahlian mereka, menuntut

     mereka untuk mengembangkan suatu teknik menyimak yang baik.

       Untuk lebih jelasnya, faktor-faktor yang mempengaruhi menyimak dapat kita

lihat pada gambar 2.2 berikut.
                                                                                         27




                                      Gambar 2.2
                             Faktor Pemengaruh Menyimak



                                  Peranan
                                   dalam                 Fisik
                                 Masyarakat




                  Lingkungan                                       Psikologis

                                      Delapan Faktor
                                       Pemengaruh
                                        Menyimak
                    Jenis                                         Pengalaman
                   Kelamin




                                Motivasi                 Sikap




                                                                  Sumber: Tarigan(1986:98)



2.4.3 Ciri Bahasa Yang Perlu Disimak Secara Selektif

      Menurut     Tarigan(1986:50)            beberapa   urutan   kebahasaan    yang   harus

diperhatikan dalam menyimak adalah :

1.   Nada Suara

     Meskipun seseorang dapat berbicara bahasa asing dengan bentuk-bentuk tata

     bahasa yang sungguh tepat dan benar, pemilihan kata-kata yang baik, bahkan

     ucapan konsonan-konsonan serta vocal-vokal yang hampir tidak bercela, tetapi
                                                                               28




     intonasinya yang jelek dan salah biasanya membukakan tabir baginya sebagai

     orang asing. Walaupun demikian, menyimak selektif terhadap intonasi

     merupakan langkah pertama yang benar-benar harus dimulai dalam menyimak

     suatu bahasa asing.

     Ketika pertama kali mendengarkan bahasa asing maka biasanya diperoleh kesan

     bahwa benar-benar tiada limit variasi-variasi puncak atau nada suara pada

     aneka ragam kata, frase, dan kalimat. Tetapi secara berangsur-angsur semakin

     banyak seseorang menyimak suatu bahasa, maka semakin tinggi pula

     kesadarannya bahwa sebenarnya ada sejumlah batas yang amat tegas tempat

     orang berbuat dengan suaranya. Bila dengan menyimak secara secukupnya

     seseorang menjadi tahu, dan secara sadar atau tidak sadar akan perbedaan yang

     bermakna dan dapat menirunya serta mengucapkannya kembali, maka itu

     semua yang dibutuhkan oleh pemakai praktis suatu bahasa.

2.   Bunyi-bunyi asing

     Begitu seseorang menyimak secara selektif pada aneka variasi nada suatu

     bahasa, maka bunyi-bunyi asing tersebut baik konsonan atau vokal tentu akan

     sangat menarik perhatiannya. Oleh karena itu, maka segi-segi berikutnya yang

     harus disimak secara selektif adalah bunyi-bunyi asing dalam bahasa tersebut.

     Kalau suatu bunyi agak sering dipakai maka adalah baik serta bijaksana

     memusatkan perhatian hanya pada bunyi yang satu itu. Dalam waktu yang amat

     singkat akan terlihat bahwa bunyi tersebut tidak selalu sama.

     Apabila seseorang pertama kali mendengar suatu bunyi maka kerap kali ada
                                                                            29




     beberapa keraguan misalnya mengenai bagaimana cara mengucapkannya, tetapi

     setelah menyimak secara seksama pada bunyi tersebut beberapa kali, maka

     seolah-olah alat bicara yang beraneka ragam itu hampir bergerak otomatis

     dalam arah dan waktu yang tepat untuk menampilkan bunyi tadi.

3.   Bunyi-bunyi yang bersamaan

     Setelah menyimak selektif pada bunyi-bunyi yang asing, maka kita hendaknya

     mulai mengarahkan perhatian kita pada perangkat-perangkat bunyi yang

     bersamaan. Dapat dikatakan bahwa kesamaan-kesamaan dan perbedaan-

     perbedaan dalam bahasa bersifat sistematis. Bahasa-bahasa tidak lebih dari

     sistem-sistem lambang yang amat rumit dan kompleks. Bila kita terus

     menyimak aneka perangkat bunyi yang bersamaan baik konsonan maupun

     vokal, maka kita segera melihat bahwa disamping bahasa bahasa tersebut

     mempunyai bunyi-bunyi yang yang beraneka ragam.

4.   Kata-kata dan frase-frase

     Salah satu dari frase-frase yang paling penting dalam menyimak kata-kata

     secara selektif ataupun menyimak kalimat-kalimat secara selektif adalah

     mencoba memahami dari konteks apa makna yang dikandungnya. Kita pun

     dalam hal ini dapat menirunya dengan baik. Nilai prosedur ini sangat baik.

     Menyimak secara selektif terhadap kata-kata biasanya mulai dengan

     memperhatikan setiap kombinasi bunyi yang muncul berulang-ulang, yang

     seolah-olah “lebih menonjol” dalam arus ujaran. Pada mulanya seseorang

     menyimak secara selektif pada urutan-urutan yang sering kali muncul, yang
                                                                                   30




     maknanya belum begitu dipahami. Sekali makna itu diketahui serta dipahami

     maka kita perlu menyimak kombinasi-kombinasi yang serupa itu dari rekaman

     lain, atau dalam percakapan sehari-hari. Kalau kata-kata itu telah menjadi biasa,

     kita harus menambahkan kata-kata yang lain yang baru saja dipelajari,

     mendorong jauh-jauh batas pengawasan reseptif terhadap bahasa itu.

5.   Bentuk-bentuk ketatabahasaan

     Dalam kebanyakan bahasa, apa yang kita sebut “kata” itu tidak selalu muncul

     dan kelihatan dalam bentuk yang sama. Kadang-kadang suatu tambahan

     dilekatkan pada kata itu. Apa pun perubahan yang terjadi, kita perlu

     mengarahkan perhatian pada hal itu dengan jalan menyimak secara selektif

     pada perangkat-perangkat modifikasi tersebut. Apabila kita mempelajari lebih

     banyak lagi struktur kebahasaan suatu bahasa, maka hendaknya kita menyimak

     secara selektif pada setiap tipe ciri kebahasaan, seperti jenis kelamin, waktu,

     modus, bentuk, susunan kata, frase, klausa. Setiap ciri ketatabahasaan, terutama

     sekali yang mungkin menimbulkan kesukaran pada pelajar haruslah disimak

     secara selektif. Salah satu keuntungan utama menyimak secara selektif pada

     struktur ketatabahasaan adalah bahwa struktur yang diserap oleh proses ini

     cenderung membuat kebiasaan dalam otak kita. Bahkan setelah kita berhenti

     menyimak pun, terutama sekali bagi bentuk atau susunan kata seperti itu, otak

     ita terus melanjutkan proses pengklasifikasian secara otomatis segala sesuatu

     yang telah kita dengar itu.
                                                                                 31




2.4.4 Tujuan Menyimak

       Logan dan Shrope dalam Tarigan menjelaskan bahwa tujuan orang untuk

menyimak sesuatu itu beraneka ragam, antara lain :


       1. Ada orang yang menyimak dengan tujuan utama agar dia dapat
           memperoleh pengetahuan dari bahan ujaran sang pembicara; dengan
           perkataan lain dia menyimak untuk belajar.
       2. Ada orang yang menyimak dengan penekanan pada penikmatan
          terhadap sesuatu dari materi yang diujarkan atau yang
          diperdengarkan atau dipagelarkan(teritama sekali dalam bidang
          seni); pendeknya dia menyimak untuk menikmati keindahan audial.
       3. Ada orang yang menyimak dengan maksud agar dia dapat menilai
          apa-apa yang yang dia simak(baik-buruk, indah-jelek, tepat-ngawur,
          logis-tak logis, dan lain-lain); singkatnya dia menyimak untuk
          mengevaluasi.
       4. Ada orang yang menyimak agar dia dapat menikmati serta
          menghargai apa-apa yang disimaknya itu(misalnya: pembacaan
          cerita, pembacaan puisi, musik dan lagu, dialog, diskusi panel,
          perdebatan); pendek kata, orang itu menyimak untuk mengapresiasi
          materi simakan.
       5. Ada orang yang menyimak dengan maksud agar dia dapat
          mengkomunikasikan ide-ide, gagasan-gagasan, maupun perasaan-
          perasaannya kepada orang lain dengan lancar dan tepat. Banyak
          contoh dan ide yang dapat diperoleh dari sang pembicara dan semua
          ini merupakan bahan penting dan menunjangnya dalam
          mengkomunikasikan ide-idenya sendiri.
       6. Ada pula orang yang menyimak dengan maksud dan tujuan agar dia
          dapat membedakan bunyi-bunyi dengan tepat; mana bunyi yang
          membedakan arti(distingtif) mana bunyi yang tidak membedakan
          arti; biasanya ini terlihat nyata pada seseorang yang sedang belajar
          bahasa asing yang asyik mendengarkan ujaran pembicara asli(native
          speaker).
       7. Ada lagi orang yang menyimak dengan maksud agar dia dapat
          memecahkan masalah secara kreatif dan analisis, sebab dari dari
          sang pembicara dia mungkin memperoleh banyak masukan berharga.
       8. Selanjutnya ada lagi orang yang tekun menyimak sang pembicara
          untuk meyakinkan dirinya terhadap suatu masalah atau pendapat
          yang selama ini dia ragukan; dengan kata lain dia menyimak secara
          persuasif.(1986:56)
                                                                                32




       Dari uraian diatas dapatlah kita tarik kesimpulan bahwa pada dasarnya

kegiatan menyimak dapat kita pandang dari berbagai segi, misalnya sebagai sarana,

sebagai suatu keterampilan berkomunikasi, sebagai seni, sebagai proses, sebagai

suatu respon, dan sebagai pengalaman kreatif.



2.5 Korelasi antara Penguasaan Kosakata dengan Kemampuan Menyimak

       Di dalam mempelajari suatu bahasa setiap pembelajar tentunya menghendaki

agar dapat berbahasa dengan baik dalam bahasa yang sedang dipelajarinya. Bagi

pelajaran bahasa asing dalam hal ini bahasa Jepang, penguasaan kosakata merupakan

syarat utama yang harus dikuasai pembelajar dalam meningkatkan keterampilan

berbahasanya.

       Mata kuliah Goi merupakan mata kuliah yang dianggap efektif untuk

meningkatkan pemahaman dan menambah perbendaharaan kosakata bahasa Jepang

dan diajarkan berkesinambungan dari semester I hingga semester II. Karena kosakata-

kosakata yang dipelajari dalam mata kuliah ini akan selalu berhubungan dengan mata

kuliah bahasa Jepang lainnya termasuk mata kuliah Chookai, maka para pembelajar

harus disiplin dan teliti di dalam menangkap, mengingat, menganalisis dan

memahami kosakatanya.

       Walaupun hal ini cukup sulit untuk dijadikan ukuran, karena kemampuan

berbahasa Jepang dalam hal ini kemampuan menyimak(Chookai) dipengaruhi oleh

beberapa faktor. Dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa secara konseptual
                                                                              33




terdapat suatu pola hubungan tertentu antara penguasaan kosakata dengan

kemampuan menyimak mahasiswa. Berdasarkan pendapat tersebut diatas penguasaan

kosakata dapat dijadikan prediktor bagi kemampuan menyimak mahasiswa. Karena

itu penguasaan kosakata merupakan ukuran untuk mengetahui seberapa besar tingkat

kemampuan menyimak mahasiswa.

       Persoalannya bahwa penguasaan kosakata merupakan sesuatu yang relatif,

kompleks dan senantiasa berkembang sehingga upaya-upaya untuk mengembangkan

dan mengendalikannya secara berhasil perlu terus menerus dilakukan. Disamping itu

masalah menyimak adalah masalah yang mempunyai sifat subjektif. Kemampuan

menyimak akan berbeda antara yang satu individu dengan yang lainnya.

						
Related docs
Other docs by i552bp
10 maggio 2001 � 10 maggio 2002
Views: 22  |  Downloads: 0
Making the Presentation
Views: 0  |  Downloads: 0
WEEK-short
Views: 2  |  Downloads: 0
Bio 101 Intro. to cellular energy & metabolism
Views: 15  |  Downloads: 0
COM2008 formazione
Views: 16  |  Downloads: 0
ASCE HEC-RAS Seminar January 25, 2006
Views: 15  |  Downloads: 0
NR 1 - Disposi��es Gerais (101
Views: 50  |  Downloads: 0
Hurricane Plan 101
Views: 0  |  Downloads: 0