Docstoc

membangun-gerakan-mahasiswa-kerakyaatan

Document Sample
membangun-gerakan-mahasiswa-kerakyaatan Powered By Docstoc
					    MEMBANGUN GERAKAN MAHASISWA
            KERAKYATAN

    Menuju Masyarakat Indonesia yang Demokratis

Introduksi
Gelora perjuangan "Revolusi Mei" 1998 masih terngiang-ngiang di telinga kita.
Gegap-gempitan dan riuh-rendah aksi penumbangan seorang diktator dengan satu
aktor utamanya : mahasiswa, terasa seakan baru kemarin. Peran mahasiswa yang
nyaris melegandaris1 ini seharusnyalah menyisakan secercah kebenaran yang
bersih daripadanya. Kini 'langit sepi', 'ombak' laut tak lagi bergelora dahsyat, 'jerit
camar-camar' tertelan angin yang dibawa pemerintah baru hasil pemilu : Gus Dur.
Kini pula ribuan pertanyaan menunjuk hidung mahasiswa yang telah menjadi
pelopor membakar 'api reformasi' yang kini menghanguskan banyak hal - yang
baik maupun yang buruk. Sebentuk tanggung jawab seakan dituntut disini, atas
'bola' yang telah bergulir. Mau kemanakah 'bola api reformasi' itu ? Diamanakah
kini engkau gerangan Gerakan Mahasiswa (selanjutnya bisa disingkat: GM) yang
kemarin lantang berteriak reformasi ? Gagapkah manghadapi terpaan angin
perubahan jaman yang tidak kenal kompromi ?

Memang Gerakan Mahasiswa kembali menjadi kategori politik yang patut
dipertimbangkan di Indonesia. Setidaknya tercatat dua kali proses politik penting
dalam perjalanan sejarah Indonesia yang diwarnai oleh sektor masyarakat ini
sekaligus menyumbangkan kontribusinya yang penting dalam momen transisi
penguasa. Pertama, tentu saja GM tahun 1966 ( yang telah 'memitos' sekaligus
pancang bahwa GM adalah gerakan Moral / moral force), yang berhasil
menjatuhkan Sukarno dan mengangkat Suharto. Kedua, GM yang bangkit pada
tahun 1990-an yang berkulminasi pada 'Peristiwa Mei' 1998, dengan jatuhnya
kekuasaan Suharto yang dulu turut dinobatkan oleh GM sebelumnya. Tidakkah
sebuah ironi sejarah telah tejadi. Dua peristiwa besar ini semakin membangkitkan
keyakinan bahwa GM merupakan salah satu sumber daya politik yang harus
diperhatikan. Keyakinan ini hampir saja menjadi semacam "mitologi" baru.
Sebuah mitos terjadi karena dalam suatu mometum terjadi peristiwa yang besar.
Dalam konteks politk, peristiwa tersebut adalah terjungkalnya sebuah kekuasaan
politik dan dengan sendirinya memberi memberi dampak "kekuasaan" tehadap
satu kompenen terpenting yang telibat dalam peristiwa tersebut. Tetapi toh kita
mencatat kegagalan GM 1966 yang lumpuh menghadapi politik kediktatoran
Suharto. Fakta ini menggiring kita ke sudut pertanyaan besar bagi masa depan

1
 Bdk. Suryadi A.Rajab,‖Panggung-Panggung Mitologi dalam Hegemoni Negara : Gerakan
Mahasiswa dibawah Orde Baru‖, Prisma, No.10,1991.
     GM 1988, akaknkah ia bernasib sama seperti pendahulunya? Mampukah ia -
     bersama rakyat- memasuki gerbang masyarakat Indonesia yang adil dan
     demokratis?

     Ya, kini saatnyalah untuk memikirkan ulang segala-sesuatunya. Menelaah
     kembali gerakan dan format gerakan, berkaca pada cermin sejarah. Adakah yang
     salah pada langkah kita ? Tidakkah kita terjebak pada lobang yang sama seperti
     pendahulu kita ? lalu penyelesaian apakah --berarti mereposisi kembali peran
     gerakan mahasiswa--yang akan ditawarkan sebagai kesimpulan, dalam rangka
     menggapai masyarakat Indonesia yang, sekali lagi, adil dan demokratis?

     Pokok-pokok ini akan dibahas dalam tulisan ini.




     Belajar dari Sejarah
     Pembuktian sejarah gerakan mahasiswa Indonesia sesuai dengan konteks
     zamannya, haruslah memberikan kesimpulan apakah gerakan tersebut, dalam
     oreientasi dan tindakan politiknya, benar-benar mengarah dan bersandar pada
     problem-problem dan kebutuhan struktural rakyat Indonesia. Orientasi dan
     tindakan politik merupakan cermin dari bagaimana mahasiswa Indonesia
     memahami masyarakatnya, menentukan             pemihakan pada rakyatnya serta
     kecakapan merealisasi nilai-nilai tujuan atau ideologinya.

     Karena pranata mahasiswa merupakan gejala pada masyarakat yang telah
     memiliki kesadaran berorganisasi, dan mahasiswa merupakan golongan yang
     diberikan kesempatan sosial untuk menikmati kesadaran tersebut, maka asumsi
     bahwa gerakan mahasiswa memberikan penghargaan yang tinggi terhadap
     kegunaan organisasi dalam gerakannya adalah absah. Dengan demikian kronologi
     sejarah gerakan mahasiswa harus memperhitungkan batasan bagaimana sejarah
     mahasiswa memberikan nilai lebih terhadap organisasi2 sebagai alat perjuangan
     politik modern. Meskipun demikian, tidak ada maksud untuk tidak menghargai
     gerakan rakyat spontan.

     Nilai lebih organisasi dalam gerakan mahasiswa hanyalah bermakna bahwa di
     dalam organisasi, mahasiswa ditempa dan dipenuhi syarat-syarat sebagai
     berikut:

1.       Pemahaman / pengidentifikasian               terhadap masyarakat dan persoalan-
     persoalannya.
     2
      Keterangan berikut didasarkan pada makalah yang dibuat Nezar Patria , di Yogyakarta ,21
     Agustus 1998, "Memposisikan Kembali Gerakan Mahasiswa : Belajar dari Sejarah" untuk
     keperluan OPSPEK UGM 1998.




                                                                                                2
2.       Keberpihakan pada rakyat.
3.       Kecakapan-kecakapan dalam       pengelolaannya    dalam   mencapai    tujuan
     ideal/ideologinya.


   Ketiga syarat tersebut mencerminkan:
1.    Tujuan dan orientasi gerakan mahasiswa.
2.    Metodologi gerakan mahasiswa.
3.    Pengorganisasian sumber daya manusia, logistik dan keuangan Gerakan
   Mahasiswa, dan
4.    Penentuan program-program politik GM yang bermakna strategis-taktis.

     Kategori organisasional in pulalah menjadi semakin penting karena terbukti pad
     GM masa Orba (juga kini) tidak mampu memaksimalkan arti dan peranan
     organisasi sebagai alat perjuangan modern.

     Dengan kategori ini kita akan melintas sepintas perjalanan GM Indonesia dari
     zaman kolonial Belanda sampai saat ini.


     Kolonialisme dan Gerakan Pemuda
     Tidak dapat dipungkiri bahwa sejarah merupakan akumulasi dan kulminasi dari
     dialektika kondisi obyektif dengan tindakan subyektif masa sebelumnya. Oleh
     karena itu gerakan mahasiswa Indonesia tidak lepas dari pengaruh penyebaran
     ideologi liberal, nasionalisme, sosiaisme, komunisme, perang-perang heroik di
     dalam maupun luar negeri; gerakan petani abad 19, gerakan buruh pada awal
     abad 20 maupun sosial-demokrat, dan Islam, serta kondisi-kondisi ekonomi
     politik lainnya.


     Seperti halnya negara yang pernah terjatuh pada kolonialisme, gerakan mahasiswa
     di Indonesia muncul pada saat-saat akhir kolonialisme kapitalis Belanda. Setelah
     kemenangan golongan liberal atas golongan konservatif, politik ―balas budi‖ atau
     politik etis mulai diterapkan di Indonesia. Salah satu kebijaksanaan politik etis
     adalah edukasi / pendidikan. Kebijaksanaan ini diberlakukan dengan mendirikan
     sekolah-sekolah, mulai dari sekolah tingkat dasar hingga sekolah-sekolah tinggi,
     golongan pribumi diberi kesempatan untuk menempuh pendidikan. Sejak saat itu
     banyak golongan pribumi yang mendapatkan kesempatan sekolah di luar negeri
     seperti Hatta, dan banyak tokoh yang bisa menyelesaikan studinya di Indonesia
     seperti Soekarno, dr. Soetomo, dll.

     Pada awalnya, aktivitas yang ada hanya kelompok-kelompok studi. Para
     mahasiswa mendiskusikan apa yang sedang terjadi di negeri mereka yang masih
     terjajah. Dari kelompok-kelompok diskusi ini kemudian timbul kesadaran –
     terutama mahasiswa yang telah selesai studinya -- untuk mendirikan organisasi.




                                                                                    3
Maka lahirlah organisasi seperti Boedi Oetomo, National Indies Partij, dll.
Organisasi-organisasi ini awalnya bergerak dalam bidang sosial semata,
menyebarkan pendidikan, dan tidak bertujuan politik3. Namun lama kelamaan
gerakan ini berubah menjadi gerakan politik, menyebarkan nasionalisme dan
mulai benci kepada pemerintah Belanda. Berdasarkan laporan Semaoen tentang
gerakan di Indonesia, dituliskan:

Boedi Oetomo dan Politik Etis dari pemerintah menunjukkan pertumbuhan
intelengensia. Kelas intelektual ini menjadi kolompok bagi nasionalisme Jawa,
dan Boedi Oetomo secara bertahap tumbuh menjadi organisasi politik. Kaum
Nasionalis Boedi Oetomo makin tidak suka kepada pemerintah…4

Dari perkembangan ini kemudian mulai bermunculan partai-partai politik yang
keberadaannya dipelopori oleh lulusan-lulusan universitas baik di Indonesia
maupun di luar negeri. Kita kenal Indische Partij ( Partai Hindia), Partai Rakyat
Hindia Belanda, Perserikatan Komunis India, Partai Nasionalis Indonesia, dll.
Semuanya jelas merupakan gerakan politik, menginginkan Indonesia merdeka,
terlepas dari cengkraman kolonialisme Belanda.

Pada masa penjajahan Belanda ini murid-murid STOVIA mencoba memulai
gerakan dengan mendirikan Trikoro Dharmo pada tahun 1915. Gerakannya
bukan dalam kerangka konsep mahasiswa tetapi pemuda, dan juga belum
memiliki konsep nasionalisme yang jelas (kedaerahan). Beberapa Sejarawan
berpendapat, bahwa pada tahap awal gerakan, elemen-elemen pelopor pertama-
tama harus bisa merumuskan problem-problem masyarakat dan kemudian
menyampaikannya dalam bentuk agitasi dan propaganda. Namun realita
sejarah menghidangkan kenyataan lain: kondisi subyektif gerakan belum bisa
bersatu dengan kondisi obyektif di luar gerakan, keduanya belum solid. Dengan
masuknya ide-ide dari barat, seperti liberalisme, sosialisme, dan liberal belum
membentuk intelektual untuk mengartikulasi problem-problem masyarakat serta
rakyat dan kemudian menggerakkan massa.

Organisasi-organisasi yang tumbuh kemudian adalah juga organisasi pemuda
kedaerahan (Jong Sumatera, Jong Celebes, Jong Minahasa, dsb.) dan belum
tercipta konsolidasi. Baru dengan prakarsa Perhimpunan Pelajar-Pelajar
Indonesia (PPPI), beberapa organisasi kedaerahan dilebur menjadi Indonesia
Muda (IM) tahun 1930.

Pada tahun1915-1930 merupakan rentang waktu yang cukup panjang bagi
pemuda dan pelajar untuk merumuskan penjelasan yang lebih jernih tentang
nasionalisme yang melekat pada organisasi Indonesia Muda dan pergulatan yang
meleahkan untuk melepaskan dirinya dari sektarian organisasi/sektoral pemuda
dan mahasiswa guna mempertajam orientasi anti-kolonial. Selain itu juga
3
   "Gerakan Indonesia di Hindia Belanda", Laporan oleh Kawan Semaoen   kepada sidang
komintern.
4
  Ibid




                                                                                   4
    gerakan ini harus melewati masa-masa sulit: kelumpuhan pergerakan nasional
    akibat pemerintahan kolonial yang semakin represif, setelah pemberontakan
    PKI 1926 dan 1927 serta pemogokan-pemogokan buruh.5

    Di dalam kondisi kelumpuhan pergerakan nasional serta represivitas demikian itu
    muncullah alternatif Kelompok Studi (Studie-studie Club) yang mempunyai
    bobot politis dilihat dari orientasi dan tindakan politiknya. Terbentuknya
    Indonesiche Studie Club (IS) dan Algemenne Studie Club (AS) maka politis dari
    kelopok studi pada waktu itu adalah:

    1. Mempelajari kondisi dan persoalan konkrit yang berhubungan dengan rakyat
    kemudian mengadakan ceramah-ceramah          dan    kursus-kursus      tentang
    perburuhan, upah, kesejahteraan,        pendidikan koperasi, arti pergerakan,
    kepartaian dan sebagainya.
 2. Membentuk komite dan pengumpulan bahan mengenai masyarakat Kolonial
    Hindia Belanda, kemudian menyebarkannya dalam bentuk brosur, pamflet
    atau surat kabar dan majalah seperti Soeloeh Ra'jat Indonesia dan Soeloeh
    Indonesia.
3. Mencari alternatif bagi perbaikan terhadap problem-problem konkrit tersebut dan
    kemudian dilakukan tindakan nyata.
    4. Forum ditujukan pada semua masyarakat luas dan terbuka untuk umum
5.. Mendukung pemogokan buruh, seperti pada kasus pemogokan buruh bengkel dan
    elektrik Surabaya, November 1925.

    Dalam merespon perubahan politik yang lebih liberal akibat penggantian
    Gubernur Jenderal De Fock oleh De Graff (pendukung Van Limburg Stirum,
    seorang liberal) AS dan IS berubah menjadi -Partai Bangsa Indonesia- (PBI) dan
    -Perserikatan Nasional Indonesia-(PNI), kelompok studi ditransformasikan
    menjadi partai.6

    Analisa terhadap Studie Club jelas memberikan kesimpulan bahwa kondisi
    obyektif ekonomi politik pada saat itu politik kolonial yang semakin represif,
    yang kemudian berubah menjadi liberal karena perubahan status ekonomi
    Belanda --masuknya secara lebih intensif modal swasta-- dan Hindia Belanda
    dapat direspon dan distimulasi oleh kondisi subyektif Studie Club yang
    bertransformasi menjadi sebuah partai. Jadi, sungguh yang kesimpulan yang
    spekulatif bila dikatakan bahwa mandulnya gerakan mahasiswa pada Orde Baru
    dan     larinya mahasiswa dari kampus dengan kelompok studinya adalah
    diakibatkan NKK/BKK. Sungguh suatu kesimpulan yang spekulatif dan ahistoris
    juga bila tidak ada NKK/BKK maka akan menjadi kuatlah gerakan mahasiswa.

    Masa Penjajahan Fasisme Jepang
    5
      Uraian yang menarik dapat dibaca pada buku karangan Takashi Shiraishi, Jaman Bergerak, PT
    Grafiti Pustaka, Jakarta, 1996.
    6
      Hal ini patut menjadi pelajaran bagi kelompok studi era 80-an yang manganggap kelompok
    diskusilah sebagai penyelesaian masalah ekonomi-politik Indonesia.




                                                                                                  5
     Di bawah pendudukan Jepang yang fasis dan represif praktis tidak ada ruang
     hidup bagi kehidupan politik kaum pergerakan khususnya pemuda.Semua
     organisasi pemuda yang ada dibubarkan dan dimasukkan ke dalam Seinendan-
     Keibodan (Barisan Pelopor) dan PETA (Pembela Tanah Air) untuk dididik
     politik untuk kepentingan politik Asia Timur Raya sebagai bagian dari program
     imperialisme fasistik Jepang .

     Yang menjadi topik menarik pada jaman ini adalah ramainya bermunculan,
     sebagi mutasi gerakan di bawah syarat-syarat sangat represif,: Gerakan Bawah
     Tanah/GBT (Underground Movement) dengan rapat-rapat gelap, dan penyebaran
     pamflet. GBT ini dikombinasikan dengan gerakan gerakan legal Sukarno;
     merupakan jalan keluar yang logis bagi perlawanan anti fasis. Suatu jalan keluar
     yang mencekam dan tidak memassa. Disinilah pergerakan terasing dari
     massa.Tingkat kesadaran massa untuk mengambil jalan keluar ini belum
     mencapai tingkat yang diharapkan --tingkat yang revolusioner.


     Masa Kemerdekaan7
     Masa 1945-1950 merupakan momentum yang penting dalam gerakan pemuda
     dan pelajar: selain melucuti senjata Jepang, juga memunculkan organisasi-
     organisa-si seperti: Angkatan Pemuda Indonesia (API), Pemuda Republik
     Indonesia (PRI), Gerakan Pemuda Republik Indonesia (GERPRI), Ikatan
     Pelajar Indonesia (IPI), Pemuda Putri Indoensia (PPI) dan banyak lagi. Pada saat
     belum ada organisasi pemuda dan pelajar, yang berbentuk                 federasi,
     diselenggarakan Kongres Pemuda seluruh Indonesia I (1945) dan II (1946).
     Kedua kongres tersebut sangat penting artinya, karena:

1.       Melahirkan organisasi Gabungan Pemuda sosialis Indonesia
   (PESINDO), yang merupakan peleburan dari API, PRI, GERPRI, dan AMRI.
   Semua kekuatan mampu dikonsolidaasikan disini.
2.       Terbentuknya Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI).
3.       Kongres I sangat diwarnai semangat perjuangan bersenjata8.

      Konggres II menghasilkan keputusan: Berpegang teguh pada Undang-Undang
     Dasar 1945, membentuk dan memperkuat laskar-laskar rakyat guna
     mempertahankan kemerdekaan nasional, mengisi jabatan-jabatan penting di
     pemerintahan dan mematuhi pemimpin yang menyerukan revolusi nasional
     dan revolusi sosial.


     7
       Keterangan berikut juga diperoleh dari makalah pendidikan internal yang dibuat oleh SMID
     (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi), "Sejarah Gerakan Mahasiswa Indonesia",
     Yogyakarta, 1994.
     8
       merekalah--kaum muda--yang berpartisipasi penuh dalam perjuangan bersenjata di Surabaya, 10
     November 1945.




                                                                                                 6
Organisasi-organisasi seperti Perhimpunan Mahasiswa de Jakarta (PMD),
Perhimpunan Mahasiswa Jogja,          Sarekat Mahasiswa Indonesia (SMI),
Perhimpuan mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Himpuanan
Mahasiswa Islam (HMI), Perhimpunan Mahasiswa Kedokteran Hewan (PMKH),
Perhimpunan Mahasiwa Kristen Indonesia (PMKI) dan Persatuan Pelajar
Peguruan Tinggi Malang (PPPM) setuju membentuk Perserikatan Perhimpunan-
Perhimpunan mahasiswa Indonesia dan Badan Koordinasi Mahasiswa Indonesia
(BKMI) khusus di daerah kedudukan Belanda. Dalam perjalanannya,
keberadaan BKMI yang dikatakan kolaborator, menimbulkan pro dan kontra.
Pertentangan dapat diselesaikan setelah elemen pro-Republik mengadakan
infiltrasi ke BKMI. Kongres Pemuda Indonesia pada tanggal 8-14 Juni 1950
berhasil membentuk Front Pemuda Indonesia (FPI) dan hanya mengakui PPMI
sebagai federasi mahasiswa universitas.9

Pada massa ini gerakan pemuda dan mahasiswa mencoba memeperkuat
penola-kan terhadap usaha kolonialisme Belanda untuk kedua kalinya, dan
secara umum belum sampai kepada tahap anti-imperialisme (perusahaan-
perudsahaan milik Belanda tetap bercokol).


Periode 50-an

Periode   Demokrasi      Liberal 1950-1959   ternyata   tidak memberikan
pendidikan politik yang berarti bagi       mahasiwa. Pertemuan Majelis
Permusyawaratan Mahasiswa (MPM) dalam bulan Desember 19955 di Bogor
PPMI memutuskan untuk menarik keanggotaannya dari FPI. Dengan
demikian jelaslah bahwa keanggotaan PPMI dan FPI yang secara sosiologis
dapat memberikan dimensi lingkungan sosial yang lebih luas, dihindari oleh
gerakan mahasiswa. Mahasiswa justru melumpuhkan akstivitas politik
mereka. Kemudian membius diri dengan slogan-slogan "Kebebasan Akademik"
dan "Kembali ke Kampus". Mahasiswa lebih aktif dalam kegitan rekreatif,
perploncoan, dan mencari dana.

Peristiwa penting yang membangkitkan kembali semangat GM terjadi ketika
parpol-parpol bersiap-siap mengahadapi pemilu. Kekuatan politik waktu itu
melihat potensi kader-kader baru yang ada dalam barisan mahasiswa Gerakan
mahasiswa seakan mendapat suntikan 'darah segar' dan kembali mendapat
momentumnnya. Pada saat itu berdirilah organisasi mahasiswa yang
berafiliasi ke partai, seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)
yang berafilsi dibawah PNI, Gerakan           Mahasiswa Sosialis Indonesia
(GMS/GERMASOS) dengan PSI, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan
Masyumi, Concentrasi Gerakan Mahasiawa Indonesia (CGMI) dengan PKI.



9
    Nezar, ibid.




                                                                         7
     Pertentangan lama antara Front "Kiri" dan "Kanan" mendapat momentum dalam
     persiapan menghadapi pemilu, dan implementasinya disektor mahasiswa adalah
     'persaingan' antara CGMI, GMNI, GMKI di satu pihak dengan HMI, PMKRI
     dan GMS di lain pihak. Dalam 'peperangan' itu isu utama dari pihak kiri adalah
     "Kapitalisme, Neo-Kolonialisme, Feodalisme dan Fasisme". Sedangkan isu dari
     pihak kanan adalah "Komunisme, Diktator, Satelit Komunis, Menghalalkan
     Segala Cara‖ dsb. Sementara itu, PPMI makin condong ke kiri.

     Sejak tahun 1956 perpecahan dalam gerakan mahasiswa menjadi lebih terbuka
     didorong oleh situasi politik nasional sebagai berikut 10:

1.        Pembangunan ekonomi yang terbengkalai digilas oleh konflik politik
2.        .Daerah tertentu menekan pusat agar pendapatan pemerintah dan mata
   uang asing dibagikan secara lebih merata. Di parlemen, Masyumi, PSI dan
   oposan lain ditambah dengan pihak militer bekerja sama menentang
   pemerintahan. Puncaknya adalah terjadinya pemberontakan bersenjata PRRI dan
   PERMESTA.
3.         Dibubarkannnya Badan Konstituante disebabkan kontroversi        yang
   ditimbulkan Partai-Partai Islam yang berusaha memasukkan "Piagam Jakarta" ke
   dalam konstitusi baru. Akibatnya di dalam PPMI perpecahan tak dapat
   dielakkan lagi: Pada tanggal 1 Juni 1959 beberapa anggota PPMI berangkat ke
   Bandung dengan tujuan memberi tekanan agar kembali ke UUD '45.

Pada tanggal 28 Februari 1957, aktivis-aktivis mahasiswa yang berbasis di UI
    berprakarsa menggalang senat-senat mahasiswa dari berbagai universitas dan
    berhasil membentuk federasi mahasiswa yang bernama Majelis Mahasiswa
    Indonesia (MMI). Terjadi lagi kemunduran dalam gerakan mahasiswa Indonesia,
    ketika politik partai lebih banyak menyerap partisipasi mereka. Mahasiswa
    kembali lari dari persoalan-persoalan yang da di masyarakat, seperti misalnya:

1. Mahasiswa tidak memandang perjuangan pembebasan Irian Barat (TRIKORA)
    sebagai kelanjutan dari perjuangan melawan kolonialisme, imperialisme dan
    kapitalisme (bumi Irian sangat kaya dengan bahan-bahan tambang, hutan, dan
    mineral)

 2. Mereka tidak turut berpartisiapasi dalam Hari Solidaritas Internasional
    Menentang Kolonialisme pada tanggal 24 April 1957 (yang berpartisipasi adalah
    PPMI, FPI dan Perserikatan Pemuda Indonesia/PORPISI, yang tujuannya
    memnperkuat kerja sama negara Asia-Afrika menuntut klaim Irian Barat sebagai
    wilayah RI).

     Sementara itu peran militer dalam negara terus mengalami perluasan sejak
     akhir 1950-an. Pertama, ketika diberlakukan SOB (negara darurat perang) yang
     semakin meningkat dalam perjuangan pembebasan Irian Barat. Kedua, Ketika

     10
          ibid.




                                                                                  8
  Presiden Soekarno harus mengadakan pertemuan dengan Nasution dan
  Soekarno menunjuk dirinya sebagai Perdana Menteri karena dalam keadaan
  darurat perang.
  Sebenarnya dasar dari proses depolitisasi mahasiswa dan pemuda bermula dari:

1. Penandatanganan Badan Kerja-Sama Pemuda-Militer (BKS-PM), 17 Juni 1957
   yang ditandatangani oleh Soekatno (Sekjen Pemuda Rakyat), SM. Taher
   (Pemuda Demokrat), A. Buchori (GPII), Kyai Haji Wahib Wahab (Ansor),
   dari pihak pemuda dan Letkol. Pamurahardjo dari pihak AD. Strukturalisasi
   pengukuhan kerjasama ini dilakukan dalam bentuk Badan Kerja Sama Pemuda-
   Militer (BKS-PM) yang akhirnya diresmikan tanggal 28 Juli 1957.

2. Terbentuknya BKS-BKS lainnya antara militer dan sektor rakyat lainnya (buruh,
   petani, perempuan). Bukanlah suatu hal yang kebetulan jika gerakan pemuda -
   mahasiswa merupakan gerakan paling militan mendongkel Bung Karno yang
   pada kenyataannya merefleksikan konflik militer (Angkatan Darat) melawan
   kekuatan nasionalisme kiri kerakyatan lainnya (PKI,GMNI,Soekarno).

  Eskponen gerakan sosialis dan HMI diikut sertakan dalam aktivitas-aktivitas di
  luar kampus. Sejak awal 1959 mereka telah mengukuhkan hubungan dengan
  administratur-administratur militer yang berkaitan dengan urusan pemuda dan
  mahasiswa.. Termasuk pula mahasiswa dan pemuda di Bandung yang tidak
  menyadari hal ini menjadi ladang oposisi mahasiswa dalam menentang
  Soekarno Jadi bukan hal yang aneh bila pada tahun 1966 mahasiswa-mahasiswa
  Bandung adalah yang paling militan berdemonstrasi mengulingkan Soekarno.

  Sementara itu Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) dibubarkan dengan
  tuduhan terlibat usaha pembunuhan atas Soekarno. HMI sampai peristiwa
  1965 berhasil selamat dari pembersihan. GMNI, CGMI dan GERMINDO
  kemudian membentuk Biro Aksi Mahasiwa dan menyelengarakan Konggres
  kelima PPMI di Jakarta, Juli 1961. Hasilnya adalah pembentukan presidium
  yang terdiri dari GMNI, PMKRI, GMKI, GMD, CGMI, PMB dan MMB.
  Eksekutif yang baru dianggap oleh lingkungan mahasiswa tertentu memiliki
  orientasi ke kiri. Pada saat yang sama GERMASOS dan HMI dapat masuk ke
  dalam organisasi-organisasi lokal di Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya.
  Dalam tahun 1961, organisasi-organisasi lokal tersebut               membentuk
  Sekretariat Organisasi       Mahasiswa        Lokal (SOMAL). Dalam banyak
  kesempatan SOMAL selalu menegur PPMI agar jangan terlalu terlibat dalam
  isu politik. Orang akan dapat membaca dalam pernyataan-pernyataan SOMAL,
  ada semacam hubungan antara aspirasi SOMAL dengan aspirasi senat-senat
  mahasiswa yang tergabung dengan MMI. Dalam eksekutif MMI, terdapat
  Akademi Hukum Militer , PTIK yang berhasil memegang kepemimpinan MMI. 11



  11
       SMID, op.cit




                                                                               9
Pada masa ini GM mulai berusaha membongkar hubungan sosial yang
kapitalistik, kolonialis, imperialis serta sisa-sisa feodalistik, dihadapkan pada
kesiapan militer. Yang perlu ditanyakan disini adalah siapkah GM tersebut
dengan gerakan massa ? Pertanyaan tersebut berhubungan dengan obyektivitas
perjuangan mahasiswa waktu itu yang secara politik akan berhadapan dengan
suatu kekuatan militer yang pro-kekuatan konservatif - yaitu bahwa kekuatan
militer konservatif hanya dapat dihadapai, dilumpuhkan dengan kesiapan secara
kuantitias maupun kualitas dari gerakan massa. Sejarah akhirnya akan
membuktikan lain.

Kemudian gerakan mahasiswa12 mengalami perubahan sejak diterapkanya
demokrasi terpimpin. Terjadi ―pengideologisasian‖ di dalam kampus, ideologi
demokrasi terpimpin dimasukkan ke dalam kampus. Hal ini membawa akibat,
organisasi mahasiswa yang sesuai dengan idelogi negara saat itu bisa
berkembang, sedangkan organisasi mahasiswa yang berseberangan dengan
ideologi negara terkucilkan. Keadaan ini terlihat jelas dalam kehidupan politik di
dalam kampus, mahasiswa menjadi dua kubu yang saling bertentangan – antara
yang pro dengan ideologi negara dan yang kontra.

Pertentangan ini semakin tajam ketika menghadapi detik-detik peristiwa
September 1965, dimana kekuasan Soekarno mulai goyah. Dan kelompok-
kelompok kontra yang dipelopori militer, Islam reaksioner, Katolik reaksioner --
yang kesemuanya disokong oleh kapitalis internasional AS lewat biro intelejen
CIA—mulai mengorganisir diri untuk merebut kekuasaan Soekarno. Dan
pertarungan ini akhirnya dimenangkan kelompok kontra, Soekarno jatuh dari
―tahtanya‖ dan begitu juga nasib gerakan mahasiswa yang mendukung ideologi
Soekarno13.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa memang berperan dalam
kejatuhan Soekarno dan sekaligus berperan melahirkan rejim Soeharto yang kelak
digulingkan oleh gerakan mahasiswa periode lain. Dan dengan demikian gerakan
mahasiwa juga berperan dalam pembantaian terhadap jutaan rakyat Indonesia
setelah meletusnya peristiwa September 1965. Kemudian, setelah periode ini
konsep gerakan mahasiswa ditetapkan sebagai gerakan moral (moral force),
seperti yang dilontarkan oleh Soe Hok Gie. Konsep moral force 14 kemudian
diperkuat oleh Arief Budiman (keterangan soal ini akan dijelaskan pada bagian
selanjutnya).

Pelajaran yang dapat kita ambil dari gerakan mahasiswa tahun 1966-1968 adalah
pertama, kekuatan angkatan darat telah berhasil memanipulasi (mereka
menyebutnya sebagai partnership) gerakan mahasiswa untuk memberi
pengesahan bagi sebuah penggulingan kekuasaan. Sementara di kota-kota terjadi

12
   Dat-dataa berikut diperoleh dari tulisan Endhiq Pratama, "Merenda Gerak Sejarah : Membangun
Gerakan Mahasiswa Kerakyatan", Yogyakarta, 1999.
13
   Lihat Tim ISAI Bayang-Bayang PKI, ISAI, Jakarta 1995.
14
   Lihat tulisan Edwad Aspinal ,The Indonesia Student Uprising of 1998




                                                                                            10
aksi-aksi menuntut pergantian kepemimpinn nasional, di desa-desa terjadi
pembantaian atas orang-orang kiri, PKI, nasionalis kearakyatan dan para
pendukung Soekarno. Propaganda yang kemudian dilancarkan adalah
tergulingnya Soerkarno itu diakibatkan oleh aksi-aksi yang dilakukan oleh
mahasiswa. Tertutuplah fakta bahwa Soekarno dapat dijatuhkan setelah basis
massa pendukungnya dihancurkan secara fisik dan mental yang dilakukan oleh
Angkatan Darat, serta perebutan kekuasaan secara ―konstitusional―. Kedua, akibat
dari propaganda tersebut menjadikan mahasiswa terbius dalam khayalan bahwa
dia adalah penentu perubahan (agent of change). Mitos agen perubahan ini terus
dipelihara oleh rejim Soeharto untuk mencegah bergabungnya gerakan mahasiswa
dengan gerakan rakyat.

Baiklah, kita lanjutkan proses sejarah gerakan mahasiswa Indonesia. Setelah
menikmati kemenangan bersama naiknya rejim Orde Baru – dimana banyak
tokoh-tokoh Gerakan Mahasiswa 1966 (GM'66)15 duduk didalam birokrasi Orba,
bisa kita sebut nama-nama Sarwono, Siswono, Akbar Tanjung, Marie
Muhammad–, gerakan mahasiwa dapat dikatakan 'mati-suri'. Masa-masa antara
1966-1971 merupakan masa-masa ―bulan madu‖16 gerakan mahasiswa dengan
Orba. Masa ―bulan madu‖ ini mulai retak ketika Arief Budiman, dkk, mulai
memprotes kebijaksanaan Orde Baru, misalnya dalam kasus pembangunan Taman
Mini Indonesia Indah (TMII) tahun 1973. Pembangunan ini menurut kelompok
Arief Budiman tidak sesuai dengan situasi Indonesia. Bagi mereka ini hanya
merupakan proyek ambisius/mercusuar belaka. Akibat ―pembangkangan‖ ini,
Arief Budiman dijebloskan ke dalam bui oleh rejim Orba. Sebelumnya Arief
Budiman terkenal sebagai tokoh yang memproklamasikan ―golongan putih‖.
Kemudian, pada bulan Oktober 1973 para mahasiswa mengadakan aksi ke gedung
DPR/MPR menyampaikan ―Petisi 24 Oktober‖17. Isi petisi ini mengkritisi
kebijaksanaan pembangunan yang dianggap tidak populis, kebijaksaan
pembangunan yang dijalankan pemerintah hanya menguntungkan yang kaya.
Perlawanan gerakan mahasiswa periode ini memang tidak meluas seperti halnya
gerakan penumbangan Soekarno, perlawanan hanya berpusat di Jakarta dan tidak
didukung dengan aksi masa yang massif. Dalam kurun waktu ini gerakan memang
terfokus pada posisi sebagai gerakan moral, hanya terbatas memberikan kritik
yang loyal kepada pemerintahan yang ada18.

Setelah peristiwa diatas, gerakan mahasiswa baru bangkit kembali awal tahun
1974. Ketika itu mahasiswa memprotes masuknya modal Jepang ke Indonesia.
Kunjungan PM Jepang, Tanaka, di boikot dengan melakukan aksi massa besar-
besaran di Jakarta. Hal inilah yang mengakibatkan ibu kota lumpuh total. Saat itu
15
   sangat perlu dicatat GM'66 berada dalam kondisi sosiologis yang tidak pernah mengolah massa,
mengorganisir dan percaya pada potensi perubahan rakyat bawah. Mereka juga "suci" dari
literatur-literatur progrsif. Sehingga tindakan politiknya cenderung elitis dan pragmatis. Dalam hal
ini Soe Hok Gie dan Ahmad Wahib yang menyadari kesalahan orientasi gerakan ini.
16
   Lihat Francois Railon, Politik dan Idiologi Mahasiswa Indonesia; Pembentukan dan
Konsolidasi Orde Baru 1966-1974, LP3S, Jakarta, 1986.
17
   Lihat tulisan Bonar Tigor N tentang Gerakan Mahasiswa dalam Prisma, Juli 1996.
18
   Lihat tulisan Edwad Aspinal ,The Indonesia Student Uprising of 1998.




                                                                                                  11
gerakan mahasiswa melakukan rally dari kampus UI Salemba menuju kampus
Trisakti. Sementara rakyat ―asyik‖ dengan aksinya sendiri, melakukan
pembakaran terhadap mobil-mobil produk Jepang. Peristiwa ini yang kemudian
terkenal dengan Malapetaka 15 Januari ―Malari‖, kemudian muncullah nama-
nama Hariman Siregar, Sjahrir, dll. Dari data sejarah yang ada, gerakan
mahasiswa yang membesar ini tidak lepas dari konflik elit waktu itu, ketika faksi
jendral Soemitro dan Ali Moertopo saling berebut kekuasaan.19

Ada tiga pelajaran20 yang dapat kita ambil dari gerakan mahasiswa periode 1974.
Pertama, gerakan ini kelihatan jelas melakukan kolaborasi dengan militer, paling
tidak pada detik-detik akhir menjelang meletusnya Malari. Soemitro, seorang
jendral yang saat itu menjabat Pangkokamtib, terlihat jelas aktif dalam aksi-aksi
tersebut. Akibat peristiwa ini, gerakan mengalami kehancuran bersamaan dengan
hancurnya militer yang diajak berkolaborasi.

Kedua, gerakan mahasiswa masih elitis dan terisolasi dari massa-rakyat.
Mahasiswa tidak mau bergabung bersama rakyat. Akibat gerakan yang elitis ini
gerakan tidak bisa memimpin massa-rakyat yang terlibat dalam gerakan tersebut,
rakyat akhirnya melakukan kerusuhan. Ini selanjutnya yang dijadikan legitimasi
bagi rejim untuk menghentikan aksi-aksi mahasiswa dengan alasan telah
mengganggu ketertiban umum, menciptakan kekacauan.

Ketiga, secara geografis gerakan tidak meluas. Gerakan yang hanya membesar
disatu titik mengakibatkan gerakan mudah untuk dipatahkan. Kita lihat sendiri,
ketika gerakan di Jakarta ―dilumpuhkan‖, perlawanan terhenti karena daerah-
daerah lain tidak melakukan perlawanan sama sekali.

Keempat, mereka mengusung isu-isu elitis yang tidak dipahami oleh rakyat serta
tidak melibatkan massa luas. Sehingga massa rakyat sebagi satu-satunya kekuatan
sejati perubahan hanya mampu mengerutkan dahi dan berpangku tangan ketika
mahasiswa ribut soal imperialisme Jepang--modal asing, Gerakan anti-korupsi,
menentang TMII,dll.

Setelah 4 tahun peristiwa Malari, baru gerakan mahasiswa ―bangun‖ kembali
dari masa istirahat. Pada tahun 1978 ini aksi-aksi mahasiswa terjadi di kota-kota
besar seperti Jakarta, Bandung, Yogya dan Surabaya. Aksi-aksi ini menolak
pencalonan Soeharto menjadi presiden kembali. Karena aksi-aksi semakin
membesar dan mengancam kekuasan Soeharto, maka militer diperintahkan untuk
menghentikan aksi-aksi mahasiswa.

Kampus Istitut Teknologi Bandung (ITB) di kepung panser, mahasiswa membuat
barikade dengan melakukan tidur di sepanjang jalan Ganesa, aksi ini mampu
bertahan beberapa minggu sebelum berhasil dibubarkan militer. Sementara di
Yogyakarta, militer menembaki aksi mahasiswa di Universitas Gajah Mada,
19
     Francois Railond, op.cit.
20
     Endiq, op.cit, hal 2.




                                                                              12
mahasiswa di kejar-kejar sampai ke dalam kampus, peristiwa ini kemudian
terulang 20 tahun kemudian.

Memang akhirnya perlawanan mahasiswa dapat dilumpuhkan oleh rejim Orba,
namun perlawanan ini setidaknya telah memberikan pelajaran berharga bagi
sejarah perlawanan di Indonesia. Apabila kita simak ada dua hal penting dalam
gerakan mahasiswa periode ini. Pertama, Gerakan periode ini setidaknya lebih
maju dalam tuntutan politik – menolak pencalonan Soeharto – walaupun belum
sampai ke tahap mengkritisi sistem yang ada. Para mahasiswa saat itu melihat
bahwa sosok Soehartolah yang menyebabkan Indonesia kacau balau, maka
solusinya Soeharto harus ditolak menjadi presiden.

….."hingga hanya 4 tahun kemudian, 1978, ada gerakan yang bisa dikatakan lebih
maju programnya ketimbang sebelumnya: gerakan mahasiswa yang tak mengerti
sistim, namun cukup mengerti makna menolak kekuasaan Suharto"21

Gerakan waktu itu belum sadar, bahwa Soeharto telah membangun sistem
birokrasi yang didukung oleh militer, sehingga ketika posisi dia (Soeharto)
terancam, Soeharto dapat mengerahkan orang-orang yang mengelilingnya. Dan
ini benar terjadi. Secara birokrasi,   Soeharto menghancurkan kehidupan
mahasiswa di kampus. Dia juga membuat peraturan yang mengekang kehidupan
mahasiswa di kampus. Soeharto juga mengerahkan militer untuk merepresi
gerakan mahasiswa.

Kedua, gerakan ‘78 memang membesar di kota-kota seperti Bandung,
Yogyakarta, tapi lemah di pusat ekonomi politik, Jakarta. Hal ini memang berbeda
dengan gerakan mahasiswa ‘74 – di mana gerakan membesar di Jakarta tapi lemah
di daerah-daerah – tapi yang terjadi kemudian sama dengan gerakan ‘74, gerakan
tetap mudah dipatahkan.




Setelah ―kemenangan tertunda‖ dari gerakan mahasiswa ‗78, pemerintahan
Soeharto mengambil pelajaran dari peristiwa ini. Rejim Soeharto berusaha
―memenjarakan‖ mahasiswa agar tidak keluar dari kampus. Ketika Mendikbud
dijabat oleh Jendral Doed Joesoef, dikeluarkan kebijaksanaan Normalisasi
Kehidupan Kampus (NKK)22/ Badan Koordinasi Kampus (BKK).23 Organisasi
mahasiswa semacam Dewan Mahasiswa dibubarkan, seluruh kegiatan mahasiswa
dilarang berhubungan dengan kehidupan politik praktis.


21
   Lihat wancara Marlin , ―Indonesia : Organizing The Mass Struggle for Real Democracy‖, dalam
Links, No. 9 ( November 1997- Februari 1998), hal. 5-25.
22
   Lihan artikel Arie Sujito,‖SMPT Lembaga Manajerial Mahasiswa”, Bernas, 26 Desember 1996.
23
   NKK/BKK secara resmi dimulai tanggal 19 April 1978 dan diakhiri oleh surat keputusan
Mendikbud Fuad Hasan No.403/U/1990 tentang SMPT




                                                                                            13
Praktis sejak diberlakukan NKK/BKK, gerakan mahasiswa ―tertidur‖.
Kebijaksanaan NKK/BKK ini kemudian lebih diperketat lagi. Ketika Mendikbud
dijabat oleh seorang perwira tinggi Angkatan Darat, Nugroho Notosusanto,
pemerintah memberlakukan        transpolitisasi yaitu ketika mahasiswa ingin
berpolitik, mahasiswa harus disalurkan melalui organisasi politik resmi macam
Senat, BEM, dll, dan diluar itu dianggap ilegal. Dalam kurun waktu ini juga
diberlakukan Sistem Kredit Semester (SKS), sehingga aktivitas mahasiswa
dipacu hanya untuk cepat selesai studi/kuliah dan meraih IP yang tinggi. 24 Inilah
hal-hal yang membuat mahasiswa semakin mengalami depolitisasi25 dan semakin
terasing dari lingkungannya.

Demoralisasi. Bisa dikatakan demikian. Kembali ke dunia akademik --mengajar,
berbangku kuliah lagi, belajar ke luar negeri, -- membentuk NGOs (perlu
diketahui saja pada tahun 1982 sudah ada ribuan NGO), berbisnis, berkolaborasi
dengan rejim dan sebagainya. Lahirlah bayi-bayi kiri yang dicampakkan ibunya
pada usia muda: NGO menjajakan kemanusiaan borjuis-kecil --mengemis
reformasi ekonomi-politik pada rejim diktator/korup, bahkan ada yang masih
bermimpi membangun pulau impian di tengah modal raksasa-- kaum sekolahan
yang baru pulang belajar dari luar negeri mengajarkan --di tengah kemampuan
bahasa Inggris kaum muda yang menyedihkan-- teori-teori baru sosial-
demokrasi, neo-marxis, new-left….26

Ada dua kecenderungan yang muncul kemudian. Pertama, kembali kepada
gerakan awal 1900: munculnya kembali kelompok-kelopok diskusi.27 Kehadiran
kelompok-kelompok diskusi inipun dilakukan dengan sembunyi-sembunyi,
karena apabila diketahui oleh rejim bisa berakibat fatal. Kita dapat melihat nasib
yang menimpa Bonar Tigor Naipospos, Bambang Isti Nugroho28 dari kelompok
diskusi Palagan yang dipenjara hanya karena memperjualbelikan buku Pramoedya
Ananta Toer. Rejim memang tidak ambil peduli kepada siapapun yang akan
kembali mengusik ketenangannya. Marlin menggambarkan sebagai berikut:

…. (kebanyakan mahasiswa) mencerahkan sel-sel otaknya dalam kelompok-
kelompok studi untuk menemukan makna demokrasi (walau sering tak bisa
menerima sifat blak-blakannya), makna egalitarian (walau tak bisa menerima
radikalisme dalam mewujudkannya). Semua nilai-nilai budaya baru itu diserap
dan dimuntahkan dalam dunia bacaan --betapa militannya mereka (yang bisa
berbahasa Ingris) mencari buku-buku langka yang baru…..29


24
   untuk kemudian cepat mengabdi pada kapitalis, menjadi salah satu sekrup bangunan kapitalisme
25
   Arie Sujito, ―Mahasiswa Kini Tercerabut dari Akar Sosialnya‖, Kedaulatan Rakyat, 19 Februari
1995.
26
   ibid
27
   aksi yang mereka lakukan dapat digolongkan karikatif semata.
28
    Bambang Isti Nugroho, seorang droup-out kelas 3 SMA, yang kemudian bekerja di fakultas
MIPA UGM. Dia diadili karena memperdagangkan buku-buku Pramoedya Ananta Toer dan
menyimpan buku-buku Pram, Marxim Gorky, Frans Magnis Suseno.
29
   Wawancara Marlin, LINK




                                                                                            14
Kedua, mereka yang ―melarikan‖ ke luar negeri setelah represi 1978 membawa
ide-ide kiri baru (New Left). Teori-teori yang sebetulnya sudah usang ini
diterapkan dengan apa adanya, ―seperti halnya anak kecil yang baru melihat hal
yang baru, ditiru begitu saja‖. Ditengah rasa demoralisasi, mereka mengatakan
metode perjuangan harus diubah, perjungan harus melalui ―pemberdayaan‖
rakyat. Maka dalam kurun waktu itu beratus-ratus LSM (Lembaga Swadaya
Masyarakat) didirikan. Tapi dalam kenyataanya, LSM ini hanya dijadikan kedok
untuk memperoleh kekayaan pribadi dengan membuat proposal dengan kata-kata
indah, ―memperjuangkan‖ rakyat miskin. Dalam situasi demikian muncul
pembenaran bahwa kelompok studilah merupakan jalan keluar yang paling
obyektif terhadapa persoalan ekonomi-politik Indonesia dan dengan demikian
mengikis proses radikalisasi politik mahasiswa.30

 Ada baiknya kita bahas secara singkat kemunculan organisasi LSM karena
bagaimanapun berpengaruh kepada gerakan mahasiswa sampai saat ini.
Berbarengan dengan terjadinya represi terhadap gerakan mahasiswa 1978, Barat
yang merupakan pusat dari kapitalisme mulai menyadari bahwa kebijaksanaan
mereka mulai menimbulkan keresahan sosial. Keadaan ini tentunya tidak dapat
dibiarkan karena apabila dibiarkan bisa menjadi picu ledak bagi perlawanan
rakyat. Maka mulailah disiapkan dana untuk membangun organisasi-organisasi
yang seolah-olah anti negara, berasal dari arus bawah,31. Organisasi inilah yang
dipakai untuk masuk ke daerah-daerah ―api‖ dan kemudian digunakan untuk
menjaga ―api‖ tersebut supaya tidak membesar. Organisasi ini juga digunakan
untuk mendemoralisasi perlawanan rakyat. Lembaga-Lembaga Swadaya
Masyarakat ini mempunyai hubungan simbiosis mutualisme dengan kapitalis
internasional. Kapitalis butuh LSM untuk mencegah terjadinya konflik sosial,
sedangkan LSM butuh dana kapitalis untuk memperbesar ―perut‖ mereka. Sampai
saat ini menjadi anggota LSM adalah kecenderungan mantan aktivis mahasiswa
yang sudah selesai kuliah. Ini terjadi karena perspektif ideologi mereka lemah –
setelah selesai studi di universitas berarti sudah tidak pantas lagi terlibat aktif
dalam gerakan mahasiswa – padahal apabila mereka mempunyai kesadaran
ideologis, tentu akan bergabung dengan organisasi revolusioner.

Baiklah kita lanjutkan perjalanan gerakan mahasiswa periode ini. Periode 1985-
an32 GM mampu mengkonsolidasikan aksi dan isunya hingga dapat merebut
opini nasional maupun internasional. Isunya lebih populis walaupun isu sektarian
mahasiswa semisal otonomi kampus, kebebasan akademik, secara sporadis juga
muncul. Namun hal ini lebih sebagai taktis untuk memberikan pendidikan politik
lagi pada massa mahasiswa di kampus sekaligus melatih militansi mereka.
Gerakan mahasiswa kali ini mampu mendobrak kemandulan respon masyarakat
terhadap situasi ekonomi-politik yang tidak mendukung proses demokratisasi
serta keadilan sosial. Wajar bila tahap awal konsolidasi ini aksinya hanya bersifat

30
   Endhiq, op.cit. hal 3.
31
   Lihat James Petras, Kritik Terhadap Kaum Post Marxis, terjemahan dari LINK “ Marxist
Critique of Post-Marxists‖ , No. 9 (November 1997-Februari 1998), hal. 27-48.
32
   SMID, op.cit.




                                                                                    15
insidental dalam arti bergerak bersama bila ada peluang mengankat isu yang
sama. Tahun 1988, di sejumlah kota telah terbentuk organisasi-organisasi baik
yang bersifat intra kampus maupun antar kampus , bahkan telah terbuka jaringan
antar organisasi di beberapa kota.

Demikianlah walau bagaimanapun ketatnya rejim berusaha ―memagari‖ gerak
mahasiswa, lambat laun mahasiswa bisa lepas juga dari kungkungan yang ada.
Perlahan namun pasti, mahasiswa yang mempunyai kesadaran politis, keluar dari
―ruang-ruang‖ diskusi dan kembali mulai turun ke jalan. Seperti yang dijelaskan
diatas, gerakan mahasiswa mengambil strategi ―melingkar‖, melakukan aksi-aksi
advoksi terhadap kasus-kasus rakyat, hal ini mengingat depolitisasi kampus yang
amat kronis. Gerakan mahasiswa mencoba menyadarkan mayoritas mahasiswa
yang terkena trauma dan mengalami depolitisasi dengan menunjukkan realitas-
realitas yang ada di masyarakat, bahwa penindasan, pelanggaran HAM,
kesewenang-wenangan dilakukan oleh penguasa. Memang dalam kurun waktu ini
banyak kasus-kasus seperti penghapusan becak dan angling darmo, pengusuran
tanah,33 masalah perburuhan, pem-PHK-an yang kesemuanya tanpa perlawanan
pihak yang ditindas.

Strategi ―melingkar‖ ini memang berhasil – walupun tidak maksimal, seperti yang
dijelaskan diatas, kampus tidak mampu untuk diliberalisasikan -- mengusik hati
para mahasiswa yang masih ada di dalam kampus untuk kembali terlibat dalam
gerakan-gerakan mengkritisi, menentang kebijaksanaan penguasa. Awal-awal
1990 mulai muncullah organisasi mahasiswa ―ilegal‖ bagi rejim. Ini merupakan
perkembangan dari organisasi-organisasi bentukan gerakan mahasiswa akhir
1986–1990, yang berupa komite-komite aksi. Gerakan mahasiswa mencoba
melakukan konsolidasi ditingkat nasional dan mulai mempermanenkan organ
yang ada. Di Yogyakarta muncul Forum Komunikasi Mahasiswa Yogyakarta
(FKMY), di Surabaya muncul Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya (FKMS),
di Manado lahir Forum Komunikasi Mahasiswa Manado (FKMM), dan organ-
organ lain di Jakarta, Bandung, Solo, Semarang.

Tahun 1990-an. Pada masa ini tersaksikan kemajuan penting GM pada masa Orde
Baru . Metode aksi massa dan pengorganisiran telah meluas. Polarisasi telah
terjadi dalam jaringan GM Secara internal GM yang berbasis di kapus (SMPT,
sesuai dengan watak organisasinya, mewakili kecenderungan moderat) dan
mengalami keterasingan dari dinamika Gerakan Mahasiswa. Arena pergulatan pun
berpindah ke luar kampus dan mulai membangun kontak dangan basis massa
rakyat bawah yang tertindas oleh kediktatoran Orde Baru.

Yang menarik dicatat adalah merebaknya kritisisime yang luas terhadap model
pemerintahan kapitalis rejim Orde Baru. GM mulai mengalami "ideologisasi"
sebagai hasil dari pemahaman atas problem masyarakat serta orientasi dan
tindakan politiknya. Radikalisme GM mulai dipertajam dengan keterlibatan dalam
33
  Hal ini sejalan dengan ekspansi modal yang meluas yang back-up aparatus kekerasan sebagai
penjaga sekaligus fasilitator jalan modal.




                                                                                              16
  aksi-aksi advokasi kasus-kasus rakyat seperti Kedung Ombo, atau potes naikknya
  tarif listrik dan makin beratnya beban ekonomi rakyat. Ideologi populisme mulai
  mewarnai GM pada masa ini, metode tindakan politiknya adalah aksi massa.
  Radikalisme ini mulai melunturkan sekaligus menelan konservatisme kelompok
  studi yang semata berkutat pada dataran teoritis tanapa melakukan tindakan
  politik ke arah perubahan masyarakat. Polarisasi pun menajam di tubuh GM, yang
  kiranya perlu dibahas sedikit disini.

   Tentang Polarisasi Gerakan mahasiswa34
  Kesalahan cara memandang gerakan, yakni memandang gerakan hanya dari satu
  seginya saja, yakni segi yang negatif, bisa mengakibatkan hilangnya arah positif
  gerakan. Dan bila ini dibiarkan, akan mengakibatkan hancurnya semangat
  berjuang. Singkatnya: mengakibatkan hancurnya pergerakan itu sendiri. Adalah
  sungguh salah bila memandang gerakan dari satu seginya saja, apalagi bila bukan
  merupakan hasil dari kesimpulan dialektika sejarah. Harus dicamkan dalam-
  dalam, bahwa kenyataan/realitas apapun memiliki dua sisi, sisi yang negatif dan
  sisi yang positif; di dunia ini, tidak ada satu hal ihwal pun yang bersegi satu, yakni
  hanya segi negatifnya saja. Dan gerak (motion) maju sejarah merupakan hasil
  pergulatan (contradictions) segi yang positif dengan segi yang negatif. Akhirnya,
  dalam pergerakan yang memilki semangat yang tinggi--militansi yang tinggi--
  segi positif sekecil apa pun (apalagi bila besar) harus diusahakan agar
  dikondisikan, dikonsolidasikan dan dimanfaatkan untuk mendorong maju
  pergerakan, merevolusionerkan pergerakan.

   Kesalahan cara memandang ini disebabkan karena lemahnya alat analisa kaum
   pergerakan:
1. Tidak dapat membedakan segi-segi yang positif dengan segi-segi yang negatif di
   dalam sejarah pergerakan;

2. Tidak mau mengakui bahwa tahap-tahap sejarah pergerakan merupakan gerak
   yang dihasilkan oleh pergulatan segi-segi yang positif dengan segi-segi yang
   negatif;
3. Terjerumus pada jebakan suatu gejala sesaat(snapshot), yang hanya dipandang
   segi negatifnya saja, tidak bisa dipandang segi positifnya;

4. Idealis-romantis-penyedih dalam memandang polarisasi, seolah-olah polarisasi
   dianggap sesuatu yang negatif, sesuatu yang tidak boleh terjadi. Padahal, harus
   diakui, bahwa polarisasi merupakan konsekuensi logis dari ideologi, garis politik
   dan keorganisasian pergerakan. Polarisasi jelas menghasilkan unsur positif (unsur
   maju) dan unsur negatif (unsur konservatif dan reaksioner), itu pasti. Jadi,
   menangisi polarisasi, menangisi unsur konservatif dan reaksioner;


  34
   Madjid,‖Sejarah Memberikan Kesimpulan, Pergerakan yang Merevolusionerkan‖ dalam
  majalah Progress, no.3, Jilid 2, 1992, hal. 59.




                                                                                     17
5. Tidak dapat memanfaatkan--terutama mengkonsolidasikan-- unsur positif yang
   dihasilkan oleh sejarah pergerakan (salah satunya, yang dihasilkan oleh polarisasi)
   untuk mendorong maju pergerakan, mati kutu.

     Adapun hal-hal positif, ruang demokrasi yang berhasil dikuakkan oleh pergerakan
     progresif kerakyatan adalah :
1.           Sentimen kerakyatan lebih populer kembali ditengah-tengah massa.
     Bahkan rejim Orde Baru pun kini lebih giat lagi berdemagogi soal kerakyatan.
2.           Tingkat sosialisasi politik, baik langsung maupun tidak langsung, mulai
     meluas ke segala sektor masyarakat. Rakyat kini mulai lebih sadar akan
     bobroknya penguasa dan mendambakan alternatif pengganti. Inilah yang disebut
     sebagai kevakuman idiologi.
3.           Tngkat mobilisasi, pengerahan massa dalam tingkat tertentu sudah tidak
     dapat lagi dikendalikan oleh rejim Orde Baru. Aksi massa, baik yang diorganisir
     maupun yang tidak, mulai banyak dilancarkan oleh berbagai sektor masyarakat.
4.           Tingkat militansi dan radikalisme massa mulai meningkat yang tidak
     dapat dihentikan oleh represi penguasa.
5.           Pembentukan organisasi massa tandingan (alternatif), dalam tingkat
     tertentu, sudah dapat dilaksanakan dan dalam beberapa kasus, sudah tidak bisa
     dikendalikan lagi oleh diktator Soeharto.
6.           Unsur-unsur maju dikalangan gerakan, baik yang sudah menyatakan diri
     maupun yang masih bimbang merupakan mayoritas.

      Singkatnya, polarisasi haruslah dipandang sebagai lompatan kualitatif GM
     berikut konsekuensi logis dari pemilihan idiologi, politik dan organisasinya.35

     Kemudian, sejak munculnya organisasi-organisasi diatas, gerakan mahasiswa
     semakin menguat. Aksi-aksi mahasiswa mulai membesar kembali, energi
     perlawanan mahasiswa timbul kembali. Di Yogyakarta pertengahan tahun 1992,
     12 ribu mahasiswa Universitas Gajah Mada dan universitas lain di Yogya
     didampingi rektor UGM -- Prof. Koesnadi Harjosoemantri -- melakukan rally dari
     kampus UGM menuju DPRD I Yogyakarta, memprotes diberlakukanya Undang-
     undang Lalu Lintas No. 14/1992. Tahun 1993 ribuan mahasiswa – mayoritas
     mahasiswa Islam – menduduki Gedung DPR/MPR, menuntut SDSB dihapuskan.
     Menteri Sosial waktu itu, Inten Soeweno, dengan menitikkan air mata mencabut
     pemberlakuan SDSB di depan anggota DPR sementara diluar gedung, ribuan
     mahasiswa terus menjalankan aksinya.

     Satu tahun kemudian, mahasiswa diberbagai daerah memprotes dibredelnya
     Tempo, Detik, dan Editor. Beberapa aksi direpresi oleh militer, seperti yang
     terjadi di Jakarta. Namun demikian aksi-aksi mahasiswa terus berlanjut. Tahun
     1996, tepatnya bulan April, di Ujung Pandang, mahasiswa yang memprotes
     kebijaksanaan kenaikan tarif transportasi ditembaki oleh militer, sekitar 7
     35
      Dalam pilihan strategi dan isu misalnya , pada awal 1990-an tercatat 2 kubu yaitu FAMI (Font
     Aksi Mahasiswa Indonesia) yang berorientasi siu-isupolitik elit nasional dengan SMID (Solidaritas
     Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi ) yang mengankat isu-isu populis dan kerakyatan .




                                                                                                   18
    mahasiswa tewas dalam insiden tersebut. Aksi ini telah menimbulkan solidaritas
    di kalangan mahasiswa lain di berbagai daerah, seperti Jakarta, Surabaya,
    Lampung, Yogyakarta, Solo, Semarang, bahkan di Yogyakarta sempat terjadi
    bentrokan dengan militer.

    Secara organisasi, gerakan mahasiswa juga mengalami proses kemajuan,
    konsolidasi didalam dan diluar kampus mulai dilakukan dan dibentuk organ
    mahasiswa nasional. Pada bulan Agustus 1994, dideklarasikan organ mahasiswa
    nasional, Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID). Sejak
    berdirinya, organ ini merupakan momentum bagi gerakan mahasiswa Indonesia
    untuk kembali menjadi gerakan politik. Ini dapat kita lihat dari program-program
    SMID seperti menuntut di cabutnya Dwi Fungsi ABRI dan paket 5 UU Politik
    1985, yang merupakan pondasi dari rejim Soeharto36. Dan sejak saat ini aksi
    massa ―dikukuhkan‖ menjadi metode perjuangan gerakan mahasiswa. Dalam
    perkembanganya SMID kemudian berafiliasi dengan Partai Rakyat Demokratik
    (PRD). Periode 1994 dapat dikatakan merupakan masa keterbukaan politik dan
    merupakan kemajuan penting dalam gerakan perlawanan rakyat. Kemajuan-
    kemajuan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

       Sentimen anti kediktoran rejim Orde Baru Soeharto mulai meluas.
       Keberanian rakyat untuk mempertahankan hak-haknya semakin tumbuh.
       Jaringan dan wadah-wadah perlawanan mulai dibentuk diberbagai tempat
  dan sektor masyarakat.
       Watak kerakyatan dalam perlawanan demokratik mulai muncul sebagai
  pendorong utama untuk memaksakan keterbukaan dengan mulai terangkatnya isu
  perburuhan dan tani (pertanahan).
       Unsur-unsur demokratik dan kerakyatan dalam perlawanan telah mampu
  berkembang dan berdiri di garda depan, baik dalam skala sektoral maupun
  wilayah tertentu.37

    Sementara di dalam kampus mulai dibentuk organ mahasiswa sektor kampus.
    Sebelumnya selama kurun waktu 1979-1995 hanya ada lembaga mahasiswa
    formal yang diakui oleh pemerintah, yaitu Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi
    (SMPT). Tahun 1995 mulai dirintis berdirnya kembali Dewan Mahasiswa
    (Dema), yang sejak diberlakukannya NKK/BKK dimatikan keberadaannya. Maka
    muncullah Dema UGM, Dema UI, Dema USD. Namun sebelum konsolidasi ini
    selesai, meletuslah peristiwa 27 Juli 1996. Setelah ―Peristiwa Sabtu Kelabu‖,
    rejim Soeharto memburu-buru aktivis mahasiswa radikal dan aktivis PRD yang
    difitnah sebagai dalang peristiwa tersebut. Dalam kurun waktu 1996-akhir 1997,
    dapat dikatakan gerakan mahasiswa tiarap. Kalaupun ada aksi, hanya sebatas
    dilakukan oleh kelompok-kelompok mahasiswa radikal dengan kembali memakai
    komite aksi yang bersifat ―musiman‖ untuk terus melakukan perlawanan.



    36
         Lihat buku,Demi Demokrasi, Partai Rakyat Demokratik Menolak Takluk, PRD, 1999.
    37
         Ibid




                                                                                          19
Gerakan    Mahasiswa     1998:   Dalam     Pergulatan
                                          38
Menuntaskan       Revolusi     Demokratik       yang
               39
“Terinterupsi”

Atmosfer radikalisme politik mempengaruhi dinamika politik parlementer partai-
partai tradisionil Orde Baru. Kemunculan Megawati Soekarnoputri sebagai
pimpinan PDI yang mewakili "arus bawah" menjadikan pertarungan melawan
kediktatoran Suharto memiliki dua arena. Pertama, parlementer melalui program-
program PDI dan, kedua, ekstra-parlementer melalui aksi-aksi massa sektor rakyat
yang ikut digalang GM kerakyatan. Bahkan menjelang pemilu 1997 ketegangan
antara rakyat dan kediktatoran semakin memuncak. Partai-partai baru
bermunculan (PRD dan PUDI) walau dibawah intimidasi represi rejim Orde Baru,
di tengah gemuruh aksi berbagai sektor rakyat sepanjang tahun 1996-1997.

Puncak ketegangan itu adalah, peristiwa 27 Juli 1996 berupa perebutan paksa
kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta, yang didahului dengan tindakan
politik reaksioner kediktatoran dalam mendongkel paksa Megawati melalui
konggres rekayas PDI di Medan. Aksi massa yang merebak mendukung
Megawati dan simpati dari kalangan luas elemen masyarakat ditambah dukungan
dari kalangan pro-demokrasi telah menjadi ancaman bagi kekuasaan kediktatoran.
Namun terbukti, ofensi balik yang dilancarkan oleh Orde Baru dengan
menangkap, menculik, memenjarakan aktivis pro-demokrasi (dan juga elemen
GM) tak mampu meredam ketidakpuasan politik rakyat terhadap pemerintahan
diktator.

Sejak Juli 1997 krisis ekonomi global40 ikut menyapu Indonesia, nilai rupiah
melemah terhadap dolar AS, harga-harga barang kebutuhan pokok mulai
merangkak naik, banyak perusahaan yang gulung tikar akibatnya banyak buruh
yang ter-PHK. Dampak ini secara langsung juga menimpa mahasiswa, terutama
mahasiswa perantauan, harga makanan melonjak, kertas naik, belum lagi orang
tuanya yang di PHK atau perusahaan mereka yang bangkrut. Krisis ekonomi ini
serta desakan IMF untuk reformasi ekonomi membuat Orde Baru tersudut.
Bahkan hingga SU MPR Maret 1998 tidak ada perbaikan kehidupan yang memicu
kemarahan rakyat.

Dari kondisi seperti ini, aksi-aksi mahasiswa mulai marak kembali, dengan
tuntutan-tuntutan ekonomis, seperti turunkan harga. Akan tetapi kelompok
mahasiswa radikal yang masih minoritas secara kuantitatif tetap melancarkan
tuntutan politik, seperti suksesi kepemimpinan nasional, pencabutan Dwi Fungsi
ABRI. Secara perlahan, bersamaan dengan krisis ekonomi yang semakin
38
   Revolusi demokratik bermakna peliberalan semua alat-alat politik, segala UU, peraturan,
hukum, sistem, tata-cara yang menindas agar terjamin kebebasan demokrasi politik yang
sepenuh-penuhnya.
39
   ―Terinterupsi‖ berarti tertunda , istilah ini banyak dipakai oleh Gerakan Mahasiswa.
40
   Lihat Alexander Irwan, Jejak-Jejaj Krisis Asia, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1999.




                                                                                             20
memuncak, usaha-usaha kelompok radikal untuk menarik dari kesadaran
―ekonomis‖ menjadi kesadaran politik mulai berhasil. Aksi-aksi mahasiswa yang
semakin membesar mulai meneriakkan tuntutan politik, meminta Soeharto turun.
Ini merupakan sejarah maju dalam gerakan mahasiswa di Indonesia. Tuntutan
yang selama ini ―diharamkan‖ tidak ditabukan lagi. Seperti halnya dalam tulisan
Aspinal tentang tuntutan mahasiswa yang semakin politis:

Tipe demostrasi mahasiswa merupakan reduksi dari naiknya harga barang,
menuntut dihapuskannya korupsi, kolusi dan nepostisme, dan menuntut reformasi.
Dari awal kebanyakan protes secara ekplisit menuntut Soeharto turun dari
jabatan sebagai presiden ( sebuah ekpresi dari sentimen ini dapat dilihat
pembakaran gambar Soeharto pada sebuah aksi di Universitas Gadjah Mada
pada tanggal 11 Maret).41

Dalam kurun waktu awal Februari sampai Mei 1998, secara kuantitatif dan
kualitatif gerakan mahasiswa naik secara dratis, dengan tuntutan yang sudah
politis. Di kampus UI, Depok, dari tanggal 19-26 Maret terjadi aksi besar yang
hampir menyamai aksi di tahun 1966 42. Pada hari terakhir Sidang Umum MPR
1998, di Yogyakarta, sebuah patung raksasa berwajah Soeharto dibakar oleh para
demonstran, sekitar 50 ribu mahasiswa memenuhi Balairung UGM dalam aksi
tersebut. Pada hari yang sama juga terjadi aksi-aksi di Solo, Surabaya, Malang,
Manado, Ujung Pandang, Denpasar, Padang, Purwokerto, Kudus 43.

Dalam perkembangannya aksi-aksi mahasiswa semakin radikal. Di berbagai
wilayah terjadi bentrokan antara demostran dengan militer. Di Universitas Sebelas
Maret Surakarta dan di kampus Universitas Lampung, pada tanggal 17 Maret
1998 terjadi bentrokan antara mahasiswa-- yang ingin melanjutkan rally keluar
kampus-- dengan militer. Sementara di Yogyakarta, tanggal 2 - 3 April bentrokan
terjadi di Boulevard UGM dan bentrokan berulang pada tanggal 13 April ketika
demonstran dikejar-kejar dan ditembaki oleh militer sampai ke dalam kampus.
Hampir 8 jam kampus UGM dikusai oleh militer. Di Medan juga terjadi
bentrokan serupa, dalam aksi tanggal 24 April demosntran melempari militer
dengan molotov, akibatnya kampus Universitas Sumatera Utara (USU) diliburkan
beberapa hari. Pada bulan Mei aksi-aksi mahsiswa semakin bertambah banyak,
kampus-kampus yang selama ini apolitis ikut terlibat dalam aksi-aksi. Peristiwa
paling tragis terjadi tanggal 12 Mei ketika terjadi aksi di Universitas Trisakti,
Jakarta, 6 mahasiswa gugur diterjang peluru militer. Peristiwa ini kemudian
menyulut perlawanan dari sektor rakyat lain, tanggal 13-14 Mei Jakarta lumpuh
total dengan adanya kerusuhan masal. Sementara pada peringatan Hari Pendidikan
Nasional, tanggal 2 Mei, terjadi bentrokan di Jakarta, Medan, Yogyakarta,
Jember, Malang dan beberapa kota lain44. Antara tanggal 1 Maret sampai 2 Mei
tercatat 14 bentrokan antara mahasiswa dan militer yang terjadi di Jawa,

41
   , Edward Aspinal, The Indonesia Student Uprising of 1998.
42
   ibid
43
   Ibid
44
   Ibid




                                                                              21
Sumatera, Bali dan Lombok 45. Ketika hari-hari terakhir Soeharto akan ―lengser‖,
gedung DPR/MPR dikuasai mahasiswa, ratusan ribu mahasiswa menggelar
mimbar bebas di gedung tersebut. Sementara di Yogyakarta, sehari sebelum
Soeharto turun, sekitar satu juta rakyat – yang dipelopori mahasiswa Yogyakarta -
- memenuhi alun-alun Utara, menuntut Soeharto mundur. Tercatat selama kurun
Februari sampai Mei terjadi 135 kali aksi mahasiswa dengan 36 kali diantaranya
terjadi bentrokan dengan militer. Aksi-aksi tersebut menyebar di Jawa meliputi 94
kali, di Sumatera terjadi 20 kali, 12 kali aksi terjadi di Sulawesi, di Bali dan NTB
terjadi 4 kali aksi, sementara di Irian Jaya dan Kalimantan terhitung 2 kali aksi46.

Masa-masa ini merupakan masa-masa yang revolusioner bagi gerakan mahasiswa.
Aksi-aksi mahasiswa dibeberapa tempat bahkan sudah menguasai RRI seperti
yang terjadi di Surabaya, Semarang, Padang. Sementara di Medan, mahasiswa
menguasai bandar udara.       Dapat dikatakan aktivitas penerbangan, terutama
penerbangan internasional, lumpuh total. Dalam kurun waktu ini juga
bermunculan beratus-ratus komite mahasiswa, besar maupun kecil. Namun
sayangnya gerakan yang sudah membesar ini hanya mampu menghasilkan
pengalihan jabatan presiden dari Soeharto ke Habibie. Kelemahan-kelemahan apa
yang menyebabkan gerakan mahasiswa gagal melakukan perubahan total, nanti
akan kita bahas lebih lanjut.

Kita lanjutkan proses sejarah gerakan mahasiswa ‘98.          Setelah berhasil
―melengserkan‖ Soeharto, secara kualitatif dan kuantitatif gerakan mahasiswa
menurun, hampir 6 bulan gerakan seperti tenggelam tertelan tanah. Gerakan
kembali bangkit mendekati Sidang Istimewa MPR, pertengahan Nopember. Pada
tanggal 13-14 Nopember 1998 aksi besar-besaran terjadi di Jakarta. Sekitar satu
juta mahasiswa dan rakyat berkumpul didepan kampus Universitas Atmajaya,
Jakarta. Mereka akan melakukan rally ke gedung DPR/MPR. Kemudian
meletuslah insiden Semanggi, ketika mahasiswa yang akan meninggalkan
Universitas Atma Jaya ditembaki oleh militer, korban kembali berjatuhan.
Gerakan kali ini disokong penuh oleh rakyat – disamping rakyat terlibat aktif
dalam aksi-aksi, ikut membuat barikade, mengejar pamswakarsa, juga
memberikan bantuan logistik --, kerusuhan seperti Mei tidak terjadi karena
mahasiswa berhasil memimpin. Gerakan tidak hanya terjadi di Jakarta, dibeberapa
daerah seperti Yogyakarta, markas militer seperti Korem sempat dikuasai
mahasiswa selama beberapa jam, sementara di tempat lain mahasiswa berhasil
memaksa RRI menyiarkan tuntutan-tuntutan mereka. Represi memang hanya
terjadi di Jakarta, sedangkan gerakan di daerah tidak mengalami represi, secara
kualitatif dan kuantitatif gerakan di daerah juga tidak membesar seperti pada
bulan Mei ‘98. Kembali tuntutan mahasiswa seperti cabut Dwi Fungsi ABRI,
Tolak SI dan pemerintahan transisi belum berhasil digolkan.



45
  Ibid
46
  Daru Supriyono, ― Mampukah Gerkan Mahasiswa Menuntaskan Revolusi Demokratik yang
‗Terinterupsi‘ ?‖, Yogyakarta, 1999.




                                                                                     22
Sejak Nopember 1998 sampai Juli 1999 praktis gerakan mahasiswa mati, bahkan
momentum pemilu dilewatkan dengan ―manis‖. Memasuki akhir Juli, tepatnya
ketika peringatan 27 Juli, gerakan mahasiswa mulai bangkit kembali. Kota-kota
seperti Jakarta, Surabaya, Solo, Yogyakarta, Bandung, Tasik, Purwokerto juga
melakukan aksi, dan di beberapa daerah bisa membangun front yang luas. Aksi
besar kembali muncul ketika peringatan 17 Agustus. Aksi-aksi kembali terjadi di
berbagai kota.

Aksi ini semakin membesar ketika militer kembali ingin menancapkan
kekuasaannya dengan mengajukan RUU PKB. RUU yang jelas antidemokratis
ini disambut dengan aksi-aksi penolakan yang hebat. Aksi-aksi ini dilakukan
bukan hanya oleh mahasiswa dan LSM-LSM, tapi juga rakyat. Terbukti aksi
tanggal 23 September berhasil menggerakkan kaum miskin kota untuk melawan
militerisme dengan melakukan aksi penyerangan terhadap tentara yang sedang
menghadang aksi mahasiswa. Mereka melempari tentara dengan molotov dan
membuat barikade-barikade. Mahasiswa, disisi lain, hanya dapat bertahan di
kampus Atma Jaya dan tidak dapat memimpin massa. Sementara aksi penolakan
terhadap RUU PKB tidak hanya berlangsung di Jakarta, takpi juga di daerah-
daerah. Bahkan di Palembang dan Lampung, aksi ini meminta korban nyawa 3
mahasiswa. Aksi anti militerisme ini diikuti aksi-aksi yang lebih hebat seiring
diadakannya Sidang Umum MPR pada bulan Oktober ini. Aksi-aksi mahasiswa
dan rakyat membawa isu penolakan pertanggungjawaban Habibie dan pencabutan
Dwi Fungsi TNI. Kembali terjadi bentrokan dengan militer pada hari Jumat, 15
Oktober.


Pelajaran dari Gerakan Mahasiswa 1998
Ada beberapa pelajaran yang dapat diambil dari gerakan mahasiswa 1998
sehingga gagal menuntaskan revolusi demokratik.

Pertama, lemah dalam ideologi47. Dari basis historis, gerakan mahasiswa ‘98
muncul karena adanya krisis ekonomi. Mahasiswa bergerak karena harga
kebutuhan pokok naik, kost-kostsan menjadi mahal, orang tua mereka terkena
PHK. Keadaan ini secara langsung berdampak bagi mahasiswa. Maka tidak heran
kalau sebagian besar mahasiswa ―baik-baik‖, mahasiswa generasi ―dingdong‖ ini
ikut turun kejalan. Kesadaran ―ekonomis‖ ini kemudian berhasil dibawa ke
kesadaran politik. Injeksi kesadaran ini dilakukan oleh beberapa kelompok
radikal – kelompok ini sejak tragedi 27 Juli 1996 tetap melakukan perlawanan dan
mengangkat isyu-isyu politik – tapi injeksi ini pun tidak tuntas, karena tidak
didukung oleh kesadaran ideologis. Ketika ―trend‖ gerakan menurun maka
aktivitas gerakan menurun pula. Hal ini terjadi seiring dengan menurunnya
kuantitas mahasiswa yang terlibat dalam demonstrasi-demonstrasi .


47
     Idiologi yang demikian lemah dianggap pula sebagai ideologi ―karbitan‖.




                                                                               23
Ini berbeda dengan gerakan ‗90-an, dimana gerakan berawal dari kelompok-
kelompok diskusi. Dari diskusi-diskusi yang mereka lakukan, mahasiswa menjadi
sadar tentang apa yang harus dilakukan, bahwa sistem korup inilah yang
menyebabkan negara berada dalam puncak krisis. Karena didukung kesadaran
ideologis maka kontinuitas gerakan lebih bisa terjaga. Disamping itu perdebatan-
perdebatan teoritikpun terjadi secara dinamis, sehingga selalu timbul perspektif-
perspektif dan inisiatif-inisiatif baru.

Lemahnya pemahaman idioploi ini karena juga menanggung beban sejarah akan
frame gerakan moral. Arief Budiman merumuskan peran ini seperti seorang resi
yang bertapa di gunung (kampus), ketika ada kekacauan di suatu kampung
(masyarakat) maka ia turun gunung menyelesaikan persoalan lalu pergi ke gunung
lagi.48Atau berperan seperti koboi yang masuk ke sebuah kota untuk menghalau
penjahat. Setelah penjahatnya dapat dikalahkan maka ia mengembara lagi.
Pandangan ini membawa konsekuensi serius di tubuh gerakan mahasiswa. Karena
mengaanggap dirinya gerakan moral, mahsiswa hanya sebatas memberi saran,
nasehat dan peringatan --yang tentu saja akan dibiarkan oleh rejim--49 tanpa
terlibat langsung apalgi melibatkan rakyat yang ia bela. Tidak heran kalau ada
sementara pihak yang mengatakan bahwa mahasiswa hanya bisa menumbangkan
tanp sanggup membangun suatu tatanan pengganti. Hal ini juga memberi jalan --
semacam papan loncatan-- luas bagi oportunis politik untuk bermain setelah
mahasiswa menjatuhkan Suharto. Adanya oporunis politik merupakan juga
kesalahan gerakan mahasiswa yang memungkinkan hal itu terjadi, sekaligus
sebagai akibat logis dari format gerakan moral. Format ("ideologi") ini pula
mempasifkan rakyat. Sebagaimana layaknya seorang koboi, rakyat hanya menjadi
penonton penyelesaian masalah mereka. Di kemudian hari jika ada masalah lagi
yang timbul mereka tidak akan dapat menyelesaikan selain menunggu dewa
penolongnya datang. Inilah yang gerakan moral lakukan pada rakyat. Terlihat
ketika Rejim Suharto dengan efektif menggunakan isu ini dengan mengatakan
bahwa "GM adalah gerakan murni " sedangkan bergabung dengan rakyat -yang
adalah "perusuh" -membuat gerakan jadi ternodai. Betapa memilukan ketika
rakyat, yang katanya dibela mahasiswa, mencerca mahasiswa karena mereka
enggan bergabung dengan massa yang telah tumpah di jalan-jalan. Massa yang
tidak terpimpin ini sangat mudah ditebak hasilnya : kerusuhan. Gerkan moral turut
bertanggung jawab atas aksi anarkisme massa, karena menolak memimpinnya.
Hal ini tidak lain disebabkan oleh idologi gerakan moral yang mengisolasi
mahasiswa dari massa rakyat.



48
   Lihat Arief Budiman, " Mahasiswa sebagai Kaum Intelegensia Muda" dalam Prisma, No.11,
November 1976.
49
   Hal ini yang oleh Suryadi A.Rajab dilukiskan sebagai panggung (berupa mitos peran
mahasiswa) tempat bermain mahasiswa sebatas yang diberikan oleh rejim. Lihat "panggung-
Panggung Mitologi dalam Hegemoni Negara : Gerakan Mahasiswa di bawah Orde Baru" dalam
Prisma, No. 10, 1991.




                                                                                           24
Kedua, akibat kelemahan ideologi-teori juga berakibat kelemahan strategi taktik.
Gerakan menjadi kaku dalam menghadapi gerak sejarah, tidak luwes dalam
menghadapi perubahan situasi nasional. Akibatnya banyak momentum-
momentum yang seharusnya dimanfaatkan dilewatkan begitu saja. Momentum
pemilu yang seharusnya merupakan kesempatan ―berbicara kepada rakyat‖,
kesempatan untuk menyadarkan rakyat yang terilusi, terlewat begitu saja.. Akibat
kekakuan dalam menerapkan stratag dan ―ketidakcerdasan‖ dalam memanfaatkan
setiap celah yang ada, lama kelaman gerakan menjadi mati, aksi-aksi tidak ada
lagi dengan begitu konsolidasi menjadi lemah. Kelemahan yang cukup besar
dalam hal straegi ini adalah tidak menyatu dengan kekuatan rakyat.




                                                                             25
Perlawanan dibangun hanya sebatas mahasiswa saja tanpa melibatkan rakyat. Hal
ini jelas merugikan bagi rakyat yang tidak mendapat pendidikan politik apapun
namun menguntungkan bagi militer untuk memprovokasi membuat kerusuhan
sekaligus mendapat legitimasi untuk memukul gerakan. Kemudian , karena rakyat
tidak dilibatkan , untuk selanjutnya sulit bagi rakyat untuk menggontrol pemimpin
yang naik dan menggantikan kediktatoran.



Ketiga, sektarianisme gerakan. Dapat kita lihat sendiri gerakan masih terpecah-
pecah sampai saat ini. Walupun gerakan bisa membesar, hal ini lebih disebabkan
oleh momentum dan isu yang sama. Ini akan jelas apabila kita melihat data aksi
mahasiswa 28 Oktober 1998 berikut ini.



                        Tabel 1: Data Aksi Mahasiswa


     Daerah         Jumlah        Tuntutan
     Jakarta        14.000 orang     Tolak SI
                                     Cabut Dwi Fungsi ABRI
                                     Ganti      Habibie      dengan
                                  presidium pemerintahan transisi
                                     Adili Soeharto
     Bandung        3.500 orang      Tolak SI
                                     Cabut Dwi Fungsi ABRI
                                     Ganti      Habibie      dengan
                                  presidium pemerintahan transisi
                                     Adili Soeharto
     Yogyakarta     1.300 orang      Tolak SI
                                     Cabut Dwi Fungsi ABRI
                                     Ganti      Habibie      dengan
                                  presidium pemerintahan transisi
                                     Adili Soeharto
     Semarang       2.000 orang      Cabut Dwi Fungsi ABRI
                                     Percepat Pemilu
                                     Adili Soeharto c.s
                                     Cabut Tap. Soeharto/Habibie
                                  sebagai presiden dan wapres
     Surabaya       1.100 orang      Tolak SI
                                     Cabut Dwi Fungsi ABRI
                                     Pertagungjawaban Soeharto
     Bandar Lampung 300 orang        Tolak SI
                                     Cabut Dwi Fungsi ABRI
                                     Adili Soeharto c.s




                                                                               26
     Palembang           700 orang          SI untuk ganti Habibie dengan
                                         presidium pemerintahan transisi
                                            Percepat Pemilu
                                            Cabut Dwi Fungsi ABRI
                                            Adili Soeharto c.s
     Manado           500 orang             Cabut Dwi Fungsi ABRI
                                            Adili Soeharto c.s
    Sumber: Tempo, 9 Nopember 1998



Dari data diatas jelas adanya tuntutan yang sama – tolak SI, cabut Dwi Fungsi
ABRI, adili Soeharto – dan adanya satu momentum – hari Sumpah Pemuda, 28
Okotober –yang menyebabkan gerakan membesar dan meluas. Bukan pula karena
adanya front diantara organisasi gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa tetaplah
terpecah-pecah. Memang telah dilakukan usaha untuk membangun front, misalnya
Rembuk Mahasiswa Nasional Indonesia (RMNI) di Bali dan Surabaya, tapi ini
tidak lebih sebagai ajang romantisme dan saling mengklaim bahwa kelompok
merekalah yang paling berjasa. Mungkin kelahiran Liga Mahasiswa Indonesia
untuk Demokrasi (LMND) dapat menghilangkan watak sektarianisme dan bisa
membangun front yang sesungguhnya.

Sektarianisme juga menyebabkan gerakan menjadi elitis, tidak mau bergabung
dengan sektor rakyat lainya. Akibatnya, pertama, rakyat yang berperan aktif
dalam demonstrasi-demonstrasi tidak terpimpin, tidak heran kalau massa-rakyat
melakukan pengrusakan toko-toko etnis minoritas, jalan tol dan fasilitas umum
lainya. Kedua, kekuatan mahasiswa dan massa rakyat yang seharusnya bersatu
menjadi terpecah belah. Banyak diantara organisasi mahasiswa yang masih
termakan propaganda militer, apabila aksi mahasiswa bergabung dengan sektor
rakyat lainnya akan menimbulkan kerusuhan. Kesalahan-kesalahan seperti ini
tetap terulang dan terjadi juga pada gerakan-gerakan mahasiswa sebelumnya.

Keempat, kelemahan dalam hal organisasi :tidak adanya organ nasional. Apa yang
ada saat ini, semisal FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia) atau LMND
(Liga Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi), hanyalah sebatas jaringan antar
organ-organ mahasiswa di kota-kota atau sebatas front. Dapat dikatakan setelah
SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi) ―dihancurkan‖ setelah
peristiwa 27 Juli 1999, belum ada organ nasional yang terbentuk.

Akibat tidak adanya organ nasional ini, berdampak pada tidak adanya kesatuan
aksi diantara gerakan mahasiswa yang ada. Masing-masing gerakan berjalan
sendiri-sendiri – baik tuntutan maupun strategi taktik. Tidak adanya kesatuan
aksi, jelas sekali mengakibatkan gerakan menjadi terfragmentasi, tidak jelas apa
yang sebenarnya akan dituju. Akibat selanjutnya, disamping gerakan menjadi
lemah juga membingungkan massa rakyat sendiri. Kita ambil contoh sikap
gerakan mahasiswa yang terpecah pecah dalam menghadapi momentum pemilu




                                                                               27
1999. Bentuk organisasi yang adapun hanya sebatas komite aksi. Padahal yang
dibutuhkan sebuah organisasi yang memiliki program, strategi-taktik yang jelas,
hingga isu dan tuntutan. Akibatnya kesatuan gerak tidak dapat dijaga. Hal lain,
gagalnya mahasiswa mengambil kepemimpinan politik -lalu diambil
oportunis/reformis gadungan- untuk menuntaskan reformasi total.

Dalam menghadapi pemilu pun, gerakan mahasiswa terbagi menjadi dua
kelompok yang kesemuanya mempunyai argumen masing-masing. Kelompok
pertama menerima pemilu. Pemilu, menurut mereka, merupakan jalan terbaik
untuk memperbaiki situasi yang telah ada. Kelompok mahasiswa ini kemudian
bergabung dengan pemantau pemilu yang menjamur menjelang Pemilu bulan Juni
1999, seperti Unfrel, Forum Rektor, KIPP. Kelompok kedua, tidak setuju dengan
proses pemilu. Pemilu dianggap tidak akan menyelesaikan masalah dan pasti tidak
berjalan dengan jurdil karena masih dilaksanakan oleh sisa-sisa rejim Orba. Maka
pemilu harus ditolak. Kelompok ini kemudian terbelah menjadi dua, membiarkan
momentum pemilu berjalan begitu saja, karena apabila terlibat dalam momentum
pemilu dianggap ikut melegitimasi pelaksanaannya. Sementara kelompok lain
yang tidak percaya pemilu, melakukan aksi-aksi massa untuk menolak pemilu
yang diselenggarakan rejim Habibie. Rakyat sendiri menghendaki mahasiswa
paling tidak menfokuskan tuntutannya. Berdasarkan ―jajak pendapat‖ yang
dilakukan majalah Tempo, 65% menghendaki hal itu dan 60% menghendaki
mahasiswa berkoalisi dengan kelompok lain50.

Kelima, lemah dalam basis massa. Seperti yang sudah dibahas diatas, sebagian
besar mahasiswa yang bergabung dalam Gerakan Mahasiswa ‘98 adalah akibat
―trend‖ yang ada. Tidak heran kalau massa yang ada bukanlah massa yang
terorganisir melainkan massa yang termobilisasi. Hal ini berakibat melemahnya
basis massa sejalan dengan dengan melemahnya trend gerakan. Sementara itu
organ-organ mahasiswa yang ada tidak mengantisipasi hal ini, tidak cepat
melakukan konsolidasi terhadap massa yang masih cair, dan tidak segara
mengadakan pendidikan-pendidikan ideologi teori. Aktivitas aktivis mahasiswa
hanya berkutat di sekitar aksi dan pergi ke kota satu ke kota lain dengan alasan
konsolidasi. Sementara kampus yang ―melahirkan‖ mereka dan disanalah
sebetulnya basis mereka, ditinggal begitu saja. Akibatnya, gerakan menjadi tidak
populis diantara mahasiswa sendiri. Tidak heran kalau sampai saat ini banyak
sekali organisasi mahasiswa yang hanya papan nama belaka.

Keenam, ini sebetulnya bukan kesalahan gerakan mahasiswa semata, tapi
kesalahan kekuatan radikal secara umum, yaitu tidak adanya partai pelopor yang
sanggup memimpin. Situasi periode Februari sampai Mei adalah situasi yang
―revolusioner‖, keadaan ini bisa berubah setiap detik – orang sebelumnya apolitis
saat itu berbicara politik, ratusan komite-komite perlawanan terbangun. Tapi
karena tidak ada satu kekuatan yang mampu memimpin, situasi ini dapat
dikatakan tidak menghasilkan apa-apa. Pada saat-saat seperti ini dibutuhkan satu

50
     Lihat Tempo Edisi 22-28 Desember 1998




                                                                                  28
peranan dari partai pelopor untuk memimpin pengambilalihan kekuasaan. Ini
sekali lagi hanya bisa dilakukan oleh partai pelopor, tidak oleh komite-komite
aksi. Hal ini berarti mahasiswa harus, minimal, beraliansi dengan partai pelopor.
Jika tidak GM hanya akan menjadi batu loncatan bagi oportunis-oportunis politik
semata.51

Kita dapat melihat kelemahan ini dalam peristiwa Mei ‘68 di Prancis. Situasi Mei
‘98 di Indonesia mirip dengan situasi di Prancis pada bulan yang sama tahun
1968. Ketika itu di Prancis ratusan mahasiswa turun ke jalan-jalan dan gerakan ini
kemudian mampu memobilisasi kelas pekerja untuk melakukan pemogokan,
bahkan sekitar 15 pabrik sudah berhasil direbut. Puncak dari ―revolusi‖ ini:
kampus-kampus bisa dikuasai mahasiswa, sekitar 10 juta buruh melancarkan aksi
pemogokan nasional 52. Presiden De Gaulle sudah melarikan diri ke Jerman Barat.
Kesempatan ini ternyata disia-siakan oleh kekuatan radikal. Bedanya kalau di
Indonesia belum ada partai pelopor – kalaupun ada belum bisa bergerak bebas --
akan tetapi di Prancis partai pelopor itu sudah ada, tapi mereka malah
―bersembunyi‖ ketika situasi sedang revolusioner.

Disamping kelemahan-kelemahan diatas, ada juga kelebihan-kelebihan gerakan
mahasiswa ‘98 dibanding gerakan mahasiswa sebelumnya.

Pertama, sikap tegas terhadap militerisme. Sikap gerakan mahasiswa '98 terhadap
militer tidak ada kompromi, sejak awal mahasiswa menuntut pencabutan Dwi
Fungsi ABRI. Sikap tegas ini membawa gerakan mengambil sikap tegas dan tidak
melakukan kolaborasi dengan militer. Ini tentunya berbeda dengan gerakan
mahasiswa sebelumnya. Gerakan mahasiswa ‘66 jelas melakukan kerjasama
dengan militer, begitu juga gerakan mahasiswa ‘74. Gerakan mahasiswa ‘78
walaupun tidak melakukan kolaborasi dengan militer tapi mengambil sikap tidak
tegas terhadap militerisme. Rupanya gerakan mahasiswa ‘98 telah belajar dari
kesalahan para pendahulu mereka. Ini tidak lepas dari pengaruh gerakan anti
militerisme yang sudah dilontarkan kelompok-kelompok radikal sejak ‗90-an.

Kedua, gerakan mahasiswa ‘98 – pada tahap awalnya -- bisa menyebar hampir ke
seluruh kota-kota di Indonesia. Dapat dikatakan, gerakan ‘98 merupakan gerakan
terbesar setelah gerakan mahasiswa ‘66. Adanya perlawanan yang meluas ini bisa
membuat penguasa kalang kabut, daya resistensi pun menjadi semakin kuat dan
akhirnya tuntutan mereka untuk memaksa Soeharto lengser juga bisa berhasil. Ini
merupakan pengalaman berharga untuk gerakan mahasiswa ke depan. Dua
momentum gerakan mahasiswa membuktikan bahwa hanya dengan gerakan yang
meluas, gerakan mahasiswa dapat berhasil memperjuangkan tuntutan-tuntutan –
dua momentum itu adalah gerakan mahasiswa ‘66 yang berhasil memaksa
Soekarno turun dan gerakan mahasiswa ‘98 yang mampu memaksa Soeharto
―lengser‖. Dan ini merupakan bukti bahwa tidak cukup gerakan membesar di Ibu
51
   Lihat tulisan Ki Joyo Sardo, "Mahasiswa Non-Partisan Justru Diperalat", dalam Pembebasan
No.13, Oktober 1999.
52
   Lihat tulisan Lain Gunn, ―Mei 68: Revolusi Prancis‖,terjemahan,tanpa tahun.




                                                                                              29
Kota saja – pengalaman gerakan ‘74 – atau gerakan membesar di daerah –
pengalaman gerakan ‘78 -- saja, gerakan harus membesar baik di Jakarta – sebagai
pusat ekonomi politik – maupun di kota-kota lain sebagai daerah penyangga
perlawanan. Adanya gerakan yang membesar disemua kota juga akan menaikkan
moral perlawanan mahasiswa sendiri dan bisa memobilisasi rakyat dalam jumlah
yang lebih besar. Kuantitias aksi pun membesar, seperti dapat dilihat di tabel 2
berikut ini :
                                        Tabel 2
Tahun    1989   1990    1991    1992    1993    1994   1995    1996   1997    1998
Jumlah    41    29      33      38      65      103    56       154   154     2.292
aksi
Sumber : Kronologis Demonstrasi Mahasiswa 1989-1998, LIPI, Jakarta, 1999.

Membangun Organisasi Revolusioner
: Memadukan Teori dan Pratek
Selama ini sering terjadi perdebatan tentang apa yang harus diprioritaskan dalam
membangun organisasi mahasiswa yang kuat. Pendapat pertama mengatakan
bahwa teori harus didahulukan sebelum kita melakukan aktivitas, karena tanpa
teori tidak mungkin dapat dilakukan praktek yang benar. Sementara pendapat lain
mengatakan, kita harus mendahulukan praktek, baru kita pelajari teori.
Sebenarnya apabila kita cermat dan cerdas, tidak ada pertentangan antara
keduanya. Teori dan praktek dapat berjalan beriringan. Teori tanpa di praktekkan
akan menjadi lembaran-lembaran kertas belaka, begitu juga praktek tanpa
didukung oleh teori. Seperti halnya orang buta yang berjalan tanpa tongkat
penunjuk, gerakan tidak akan mempunyai tujuan yang jelas !

…..adalah kenyataan bahwa keduanya tidak dapat dipisahkan. Aksi tanpa teori
tidak akan efisien atau tidak akan berhasil melakukan perubahan yang mendasar,
atau seperti saya katakan sebelumnya kita tidak dapat membebaskan manusia
tanpa sadar. Dipihak lain teori tanpa aksi tidak akan mendapat watak ilmiah
yang sejati karena tidak ada jalan lain untuk menguji teori kecuali melalui aksi.53

A. Membagun Basis Ideologi Kerakyatan
 Jadi, pembangunan ideologi-teori dan praktek tidak dapat dipisahkan, keduanya
seperti dua sisi mata uang logam yang menjadi satu kesatuan. Ideologi bagi suatu
gerakan (tentunya gerakan revolusioner) adalah ―kitab suci‖ yang merupakan
pegangan, petunjuk bagi setiap orang yang melibatkan diri dalam gerakan.
Dengan adanya pegangan ideologi, seseorang menjadi sadar tentang apa yang
dikerjakan dan apa yang akan dituju. Untuk sampai pada pemahaman ideologi
yang benar, seseorang harus melewati tahapan-tahapan, mempelajari teori-teori

53
  Ernest Mandels,‖ Gerakan Mahasiswa Revolusioner: Teori dan Praktek‖, terjemahan, tanpa
tahun.




                                                                                      30
yang dianggap bisa menjadi pegangan bagi apa yang akan dikerjakan kemudian
hari. Ada baiknya kita renungkan kutipan tulisan dibawah ini.

Perang dingin telah usai. Uni Soviet, yang mempraktekkan sosialisme di dunia
lewat Revolusi 1917, mulai mengarah ke kapitalisme54. Ini menunjukkan prediksi
Marx bahwa kapitalisme akan hancur karena kontradiksi di dalamnya adalah
salah. Pada kenyataannya, mereka gagal dalam membangun utopia di bumi ini.
Bahkan lebih buruk, hasilnya cuma birokrasi, otokrasi dengan, inefisiensi
ekonomi, dan keterasingan manusia. Sangatlah jauh dari gagasannya. Marxisme
adalah salah satu ideologi yang mendukung gerakan mahasiswa. Karenanya,
matinya Marxisme, memiliki pengaruh yang besar pada gerakan mahasiswa.55

Dengan demikian adalah penting bagi gerakan mahasiswa saat ini untuk
melakukan diskusi-diskusi tentang teori-teori progresif, membuka kembali buku-
buku klasik (tentunya yang revolusioner). Selama ini sebagaian besar aktivis
mahasiswa memang disibukkan oleh aksi-aksi, sehingga tidak sempat secara
intensif mempelajari teori-teori revolusioner. Tidak heran kalau masih mudah
terombang-ambing. Apalagi watak mahasiswa yang masih dominan watak borjuis
kecilnya – yang terkenal cengeng, penakut, bimbang. Dengan melakukan
pendalaman ideologi-teori, diharapkan akan semakin mempertebal ―iman‖, akan
semakin yakin bahwa yang dilakukan adalah benar, sehingga akan membawa pada
―kemenangan‖. Pendalaman ideologi juga mampu mengikis watak-watak borjuis
kecil – yang cengeng, penakut, bimbang – sehingga berubah menjadi watak
militan dan radikal.

Di samping tujuan diatas – kita sadar terhadap yang kita lakukan –, pendalaman
ideologi-teori sebetulnya berperan untuk lebih memperkokoh dan menyolidkan
ikatan dalam organisasi. Karena sebenarnya hanya pemahaman ideologi yang
samalah yang dapat menyatukan kita. Kita berasal dari suku yang berbeda, agama
yang berbeda, basis sosial yang berbeda, tapi bisa bergabung dalam organisasi
yang sama, jadi jelas ideologilah yang menyatukan kita.

Dalam organisasi tentunya kita perlu menyusun strategi taktik, menganalisa
situasi yang berkembang dan menyusun bentuk organisasi yang paling efektif
untuk ―menyerang‖. Tanpa adanya ―pisau analisa‖, tentu kita tidak akan dapat
melakukannya. Ideologi-teori inilah pisau analisa tersebut. Kita tidak perlu heran
kalau diantara organisasi mahasiswa terdapat perbedaan dalam menganalisa
situasi nasional, menentukan strategi-taktik, bentuk organisasi dan tujuan


54
   Ini terjadi pada masa pemerintahan Stalin. Stalin mengeluarkan kebijaksanaan-kebijaksanaan
yang ―mematikan‖ sosialisme sendiri. Sosialis yang sebetulnya harus dipimpin oleh kelas pekerja
diubah oleh Stalin menjadi negara birokrasi, dimana negara dipegang oleh ―minoritas‖ yang
mengatasnamakan buruh dan kemudian malah menindas buruh. Stalin juga mematikan ―demokrasi
rakyat‖ dan mengarahkan perjuangan internasionalisme menjadi perjuangan ―nasionalisme
sempit‖. Bagimanapun Sosialisme tidak dapat dibangun tanpa ―demokrasi‖ dan ―solidaritas‖.
55
   Min Sang Jan, Gerakan Mahasiswa di Korea Selatan, terjemahan,1999.




                                                                                            31
organisasi. Ini terjadi karena ―kitab sucinya‖ berbeda serta ―pisau analisanya‖
berbeda.

Lalu bagaimana untuk membangun kesadaran ideologi-teori ini? Jelas, pertama,
melalui pendidikan-pendidikan teori progresif. Ini memang sudah biasa dilakukan
oleh beberapa organ mahasiswa. Sekarang ―kebudayaan‖ ini harus diperluas,
lebih diintensifkan dan lebih diprofesionalkan. Kurikulum-kurikulum pendidikan
ideologi-teori yang sudah tidak sesuai haruslah diperbarui, disesuaikan dengan
kondisi obyektif yang tentunya terus berkembang, begitu juga dengan metode
pendidikannya.

Kedua, melakukan diskusi teori-teori klasik maupun teori terkini. Ini penting agar
tidak terjadi kedogmatisan dan pengetahuan aktivis mahasiswa terus bertambah.
Apa yang sering menjadi kendala adalah bahasa, kebanyakan literatur-literatur
tersebut berbahasa asing. Dari sini maka perlu diadakan program penerjemahan
literatur-literatur berbahasa asing, karena semakin banyak yang bisa membaca
maka semakin banyak orang yang ―tersadarkan‖.

Ketiga, tentunya pemahaman ideologi ini tidak bisa kita monopoli. Agar bisa
menyebar luas maka diperlukan media, media tersebut adalah terbitan. Bentuk
terbitan disini bisa bermacam-macam, bisa majalah, jurnal, pamlet, dll. Dengan
adanya terbitan, jangkauan ―pendidikan‖ kita akan menjadi luas. Hal ini
mengingat kemampuan yang kita miliki sangat terbatas, sedangkan yang perlu
kita sadarkan jumlahnya masih mayoritas.

Lenin menekankan tentang keberhasilan dari tulisan tersebut ( tulisan dalam Iskra-
pen) diantara para mahasiswa yang berfikiran progresif. Dia menekankan bahwa
tulisan itu memainkan peranan penting dalam membangun cara pandang
revolusioner dan mengajak kaum muda untuk terlibat dalam aktivitas politik…...56

Terbitan-terbitan ini juga sangat penting untuk perang ideologi, apalagi saat ini
berbagai ideologi ingin menyebarkan pahamnya di Indonesia. Sampai kapanpun
perang ideologi ini akan terus terjadi, ideologi yang kalah dalam pertarungan ini
tentu akan tergusur.

B. Membangun Organisasi Revolusioner: Membangun
Organ Mahasiswa Nasional, Membuka Aliansi Dengan
Kelas Pekerja
Setiap perjuangan pasti membutuhkan alat untuk mencapai tujuan tersebut. Begitu
juga dalam perjuangan gerakan mahasiswa, alat tersebut tidak lain adalah
organisasi. Mengapa organisasi? Perjuangan membutuhkan perlawanan yang
56
  ―Membangun Kontak Mahasiswa Dengan Kelas Pekerja‖, diterjemahkan dari teks aslinya yang
berjudul ― Establising Contacs With the Working Class‖ dalam Lenin Student in Revolution,
Moscow ;1982




                                                                                      32
terorganisir, bukan perlawanan yang spontan, segala sesuatunya harus
direncanakan secara matang, disinilah organisasi berperan.

Seperti yang telah dijelaskan, salah satu kelemahan gerakan mahasiswa ‘98 dan
gerakan mahasiswa sebelumnya adalah           lemahnya basis organisasi. Praktis
setelah ―crack down‖ 27 Juli 1996, aktivitas politik di dalam kampus terhenti,
banyak aktivis mahasiswa yang harus meninggalkan kampus, disamping karena
dikejar-kejar oleh militer, juga kondisi kampus tidak kondusif lagi. Sebagian
mahasiswa mengalami demoralisasi, mejadi apolitis lagi. Maka gerilya diluar
kampus dimulai, walaupun aksi-aksi yang dicoba dibangkitkan kembali tetap
berawal dari kampus. Kondisi seperti ini terus berlanjut sampai gerakan
mahasiswa membesar, Mei 1998. Sebelum peristiwa 27 Juli, organ-organ ―legal‖
mahasiswa -- seperti pers mahasiswa, senat mahasiswa – ―dikuasai‖ oleh aktivis
mahasiswa. Disamping sebagai alat perjuangan, juga untuk mencetak kader. Tidak
heran dalam kurun waktu ini banyak aktivis-aktivis mahasiswa populer tidak
lepas dari organ-organ mahasiswa tersebut. Ketika itu kombinasi antara isu luar
kampus dan dalam kampus berjalan dengan seimbang. Hal ini berdampak
gerakan menjadi populis di kalangan mahasiswa sendiri. Perpaduan antara strategi
―menguasai‖ organ kampus, kombinasi antara isu luar kampus dan dalam
kampus, menjadikan gerakan mahasiswa paling tidak mempunyai basis massa
yang real. Konsolidasi didalam kampus – walaupun hal ini belum selesai,
terpenggal peristiwa 27 Juli – dapat berjalan. Sedangkan basis massa gerakan
mahasiswa ‘98 dapat dikatakan 90%57 hanyalah massa yang termobilisasi, tidak
ada yang mempunyai basis massa yang jelas dan sampai saat inipun praktis
kampus tetap ditinggalkan.

Dari kondisi seperti ini, mau tidak mau gerakan harus ―pulang kandang‖, kembali
ke dalam kampus. Organ-organ mahasiswa ―legal‖ yang terlepas haruslah diambil
alih , bagaimanapun ini akan sangat efektif paling tidak untuk rekruitmen calon
kader-kader revolusioner, propaganda ide-ide progresif dan mempengaruhi opini
umum mahasiswa. Adalah menarik, pengalaman gerakan mahasiswa Korsel
ketika mulai membangun basis massa di kampus:

Mereka yang terlibat dalam gerakan mahasiswa membangun organisasi di
universitas-universitas. Mereka menguasai komite-komite mahasiswa dan
departemen-departemen penting lainnya seperti produksi tivi universitas, agen
koran universitas. Mereka memiliki kekuatan sebesar wewenang universitas.
Banyak dari event-event penting diprogram oleh mereka dan program-program
tersebut kebanyakan mengajarkan keyakinan atau Marxisme, nasionalisme dan
anti imperialisme…58

Dalam tingkatan organisasi, gerakan mahasiswa ‘98 masih terpecah-pecah dalam
komite-komite lokal, secara nasional belum ada organ mahasiswa nasional. Inilah
yang mempersulit gerakan mahasiswa itu sendiri yaitu tidak adanya kesatuan
57
     Endhiq, op cit.
58
     Gerakan Mahasiswa di Korea Selatan, Min Sang Jan.




                                                                             33
dalam gerakan Sehingga kebutuhan akan pentingnya organ nasional harus
menjadi prioritas gerakan mahasiswa saat ini dan ke depan. Dengan adanya organ
nasional – dengan bentuk yang lebih ketat –tentu akan mempermudah gerak dari
gerakan mahasiswa itu sendiri. Program, strategi taktik dan aksi dapat dirumuskan
dalam organ ini. Adanya organ nasional juga akan memudahkan membangun
koalisi dengan sektor-sektor rakyat lainya, dengan demikian gerakan akan
semakin kuat. Salah satu kelemahan tidak adanya organ nasional berdampak pada
tidak adanya terbitan gerakan mahasiswa tingkat nasional, padahal ini sangat vital.
Terbitan bisa mempunyai peran yang sangat penting bagi suatu gerakan.
Pertama, terbitan merupakan arahan ideologi bagi gerakan itu sendiri. Dengan
wilayah geografis yang luas seperti Indonesia ini, hanya terbitan yang akan
mampu menerobos ―pojok-pojok‖ negeri ini, hanya terbitan yang bisa
memberikan ―arahan massa‖ tentang ideologi. Kedua, terbitan juga berfungsi
sebagai alat pendidikan bagi aktivis mahasiswa sendiri. Mengingat luas daerah
dan minimnya tenaga-tenaga ―pendidik‖, maka fungsinya dapat digantikan oleh
terbitan, karena didalam terbitan sendiri ada arahan ideologi, politik maupun
organisasi. Ketiga, ini fungsi yang tidak kalah penting, terbitan sebagai alat
pengorganisasian, terbitan sebagai alat mengkonsolidasikan baik massa
mahasiswa maupun massa rakyat. Perkembangan organisasi sendiri akan jelas
terlihat dengan naiknya oplah dari terbitan itu. Berapa terbitan yang mampu
terdistribusi, itulah jumlah massa yang mampu kita konsolidasikan dan mampu
kita berikan arahan.

Sementara ditingkat lokal kampus perlu dibentuk organ sektor kampus. Organ-
organ ini berfungsi untuk mengangkat isu-isu kampus yang tentunya akan terus
berkembang bersamaan dengan ―mewabahnya‖ neo-liberalisme. Persoalan-
persoalan ―swastanisasi‖ kampus, otonomi kampus, merupakan persoalan-
persoalan yang akan segera muncul. Oleh sebab itu persoalan-persoalan ini harus
cepat diantisipasi dengan mempersiapkan ―wadah perlawanannya‖. Organ sektor
kampus ini juga untuk menjembatani antara tuntutan ―ekonomis‖ mahasiswa dan
tuntutan ―politis‖ dari gerakan mahasiswa yang sudah maju, dan juga agar
gerakan menjadi populis didalam lingkungan mahasiswa sendiri.

Mengapa disini kita memilih organisasi revolusioner, bukan bentuk organisasi-
organisasi yang lain?

Perjuangan yang terorganisir menuntut pemahaman ideologis, artinya harus
dilakukan secara sadar, untuk apa perjuangan dilakukan.

Penaklukan ideologis ini berarti bahwa pembebasan manusia harus diarahkan
pada usaha yang sadar untuk merombak tatanan masyarakat, untuk mengatasi
sebuah keadaan dimana manusia didominasi oleh kekuatan pasar yang buta dan
mulai menggurat nasib dengan tangannya sendiri.59


59
     Gerakan Mahasiswa Revolusioner: Teori dan Pratek, Ernest Mandels




                                                                                34
Dari pemahaman ini dan pemahaman sebelumnya, bahwa apa yang terjadi pada
mahasiswa, alienasi (keterasingan) terhadap lingkungannya – universitas – adalah
akibat sistem pendidikan kapitalis. Dengan demikian, perubahan yang ada harus
revolusioner maka organisasi (alatnyapun) juga harus revolusioner.

Organisasi revolusioner adalah organisasi yang serius – artinya dengan disiplin
dan mekanisme organisasi yang ketat -- dan permanen, bukan organisasi yang
longgar dan temporer. Mengapa butuh organisasi yang serius dan permanen?
Pertama, ini berhubungan dengan keadaan mahasiswa sendiri. Kehidupan
kemahasiswaan tidak berlangsung lama, paling empat sampai enam tahun.

Status kemahasiswaan hanya berlaku untuk jangka waktu yang singkat 60, tidak
seperti buruh. Ia menetap di universitas selama empat, lima, enam tahun dan
tidak ada yang memperkirakan apa yang terjadi setelah ia meninggalkan
universitas.

Secara sosiologis, keterbatasan kesempatan komunitas mahasiswa untuk menjadi
kekuatan politik profesional yang sepenuhnya berkecimpung di dalam bidang
politik, berpangkal pada statusnya yang bersifat sementara. Seorang mahasiswa
hanya belajar dalam jangka waktu antara 5 sampai 10 tahun.61

Setelah meninggalkan universitas, mereka tentunya akan memasuki lingkungan
baru, dengan ―suhu‖ dan ―iklim‖ yang berbeda dengan yang ada di universitas.
Bisa jadi ketika menjadi mahasiswa ia radikal atau militan, tapi setelah keluar dari
universitas ia bisa berubah karena situasi dan kondisinya yang memang lain.
Disinilah fungsi organisasi revolusioner yaitu untuk ―mengikat‖ dan menjaga
aktivis mahasiswa agar tetap konsisten. Mungkin menarik gambaran berikut ini:

Penting untuk menjadi pelajaran sejarah SDS Jerman, yang dalam hal ini
merupakan gerakan mahasiswa yang paling tua di Eropa. Setelah dikeluarkan
dari kalangan sosial Demokrat Jerman sembilan tahun yang lalu satu generasi
mahasiswa SDS meninggalkan universitas. Setelah beberapa tahun, dengan tidak
adanya organisasi revolusioner, kebanyakan orang-orang militan ini, terlepas
dari keinginan mereka untuk tetap teguh dan menjadi aktivis sosialis, tidak aktif
dalam politik dari sudut pandang revolusioner.62

Jadi, sekali lagi fungsi organisasi revolusioner yang pertama adalah untuk
menjaga kelanjutan aktivitas revolusioner, dimana mahasiswa dan bukan
mahasiswa dapat bekerja sama. Lalu apa fungsi kedua?

Tentunya target mahasiswa untuk mengubah sistem tidak dapat dilakukan
sendirian, paling tidak dia harus bekerjasama dengan kelas yang paling tertindas
dalam sistem kapitalis ini, yaitu kaum buruh.
60
   apalagi ada pembatasan studi di semua universitas.
61
    ibid.
62
   ibid




                                                                                 35
     Mengapa gerakan mahasiswa perlu menggandeng kekuatan buruh:63

a.     Secara ekonomis buruh dalam posisi yang strategis. Setiap pukulan dari buruh
   akan menjadi pukulan langsung pada sistem kapitalisme secara ekonomi maupun
   secara politik.
b.     Secara kuantitatif mewakili mayoritas rakyat disetiap negara. Harus diakui
   jumlah mahasiswa minoritas, apalagi yang ikut dalam gerakan politik.
c.     Buruh mempunyai tradisi perlawanan yang militan. Mogok buruh, aksi bakar
   diri merupakan contoh-contoh bentuk kemilitanan kaum buruh. Disamping itu
   buruh sudah menggunakan metode perjuangan yang radikal, yaitu aksi massa.
   Ernest Mandels menyatakan:

     Sebagai Marxis, saya tetap yakin bahwa tanpa aksi kelas buruh tidak mungkin
     masyarakat borjuis ini ditumbangkan dan itu berarti tidak mungkin juga
     dibangun masyarakat sosialis.64

     Tidak akan cukup organisasi mahasiswa mewadahi untuk bisa bergabung dengan
     organisasi kelas pekerja, karena paling tidak ada ―jurang pemisah‖ antara
     keduanya. Maka diperlukan ―jembatan‖ untuk bisa menyatukan dengan
     perjuangan kelas pekerja.

     Bagaimana mahasiswa dapat mendekati buruh, bukan sebagai guru, karena
     buruh tentunya menolak hubungan seperti itu, tapi dengan cara masuk ke dalam
     lapangan kepentingan yang sama.65

     Dengan adanya organisasi revolusioner diharapkan terjadi integrasi timbal balik
     antara antara perjuangan mahasiswa dan perjuangan buruh. Integrasi ini akan
     terjadi kesatuan aksi antara keduanya. Apakah hal ini mungkin?

     Dari serangkaian fakta-fakta sejarah, bisa kita temukan kesatuan aksi antara
     gerakan mahasiswa dengan gerakan kelas buruh.

     Kita harus kritis melihat apakah integrasi semacam ini memeng mungkin secara
     obyektif. Melihat pengalaman di Prancis, Italia dan sejumlah negara Eropa barat
     lainnya, maka dengan mudah bisa kita bilang ya. Dan garis inipun dapat
     dipertahankan di Amerika Serikat.66

     Fakta ini dapat kita lihat dari aksi-aksi mahasiswa di Korea Selatan. Tahun 1984
     sekitar 4000 buruh perempuan pabrik tekstil YH menduduki kantor partai oposisi,
     Partai Keadilan Demokratik. Seorang buruh perempuan tewas disiksa oleh militer.

     63
        Lihat Wilson,"Buruh dan Mahasiswa Bersatulah", makalah pendidikan PPBI (Pusat Perjuangan
     Buruh Indonesia), Jakarta, 1995.
     64
        Gerakan Mahasiswa Revolusioner: Teori dan Pratek, Ernest Mandels
     65
        Ibid
     66
        Ibid




                                                                                               36
Para mahasiswa di Korea bergabung dengan kaum buruh melakukan rally menuju
gedung parlemen.

Kejadian serupa juga terjadi di Indonesia. Tanggal 15-23 Juli, Solidaritas
Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) melakukan aksi gabungan
bersama 15.000 buruh GRI di Bogor. Pada tanggal 8 Juli di Surabaya, sekitar 20
ribu buruh yang merupakan gabungan dari 10 pabrik melakukan aksi bersama-
sama SMID dan PPBI.

Disini dapat kita lihat, bahwa dengan adanya organisasi revolusioner yang
permanen dan luas, akan bisa menghasilkan integrasi antara perjungan mahasiswa
dan sektor tertindas lainnya. Inilah fungsi kedua dari organisasi revolusioner.
Dengan adanya integrasi ini, tentunya daya ―pukul‖ gerakan perlawanan akan
menjadi bertambah besar, sehingga akan mudah untuk merobohkan sang musuh.
Adanya integrasi ini juga untuk mengikis watak-watak sektarian dari gerakan
yang ada, karena gerakan yang sektarian tidak akan membawa keberhasilan.

Kapitalisme Negara Orde Baru dan Gerakan Mahasiswa
Kapitalisme yang berkembang di Indonesia merupakan kapitalisme yang
datang/dibawa/dicangkokkan67 oleh kolonialisme. Hal ini selanjutnya
mempengaruhi karakter dari kelas-kelas yang muncul (lebih khusus lagi kelas
borjuasinya). Kekhususan ini menyebabkan banyak bermunculan sebutan-sebutan
yang bermacam-macam sebagai hasil dari perilaku sosial-ekonomi, serta karakter
politik mereka. Kelas borjuasi yang muncul banyak dianalisa, karena asumsi yang
sifatnya mendasar bahwa kelas borjuasilah yang akan menjadi kekuatan utama
pendorong demokrasi. Kelas inilah yang nantinya akan menjadi pemimpin dan
pembela kepentingan dari seluruh golongan masyarakat dalam proses menuju
terbentuknya masyarakat demokratis. Bagi penulis, ini hanya merupakan sebuah
ilusi belaka. Dalam kenyataannya, asumsi bahwa kelas borjuasi akan menjadi
kekuatan utama pendorong demokrasi merupakan asumsi yang sama sekali tidak
membumi dalam sejarah kapitalisme di Indonesia. Lalu pertanyaan yang timbul:
bila bukan borjuasi, maka kelas sosial manakah yang akan menjadi kekuatan
pendorong demokrasi? Sehubungan dengan ini, penting sekali melihat sekilas
teori tentang negara.

Dalam teori negara "klasik" dikatakan bahwa negara merupakan refleksi dari
masyarakat, yang muncul sebagai produk dari takterdamaikannya kontradiksi
kelas. Banyak yang mengeritik teori ini, yang semuanya menurut Cokro hanya
"didasarkan atas logika sistem politik yang ada." Bahkan ia mengatakan bahwa
negara Indonesia merupakan negara yang paling dikuasai oleh kelas kapitalis,
kelas yang berkuasa. Cokro,"Kediktatoran Kelas dan Asal Usul Pemerintahan
Orde Baru, Progress (Australia, 1992).68 Ia mencontohkan bila para "penguasa"

67
     lihat manifesto PRD, Menuju Demokrasi Multi-Partai Kerakyatan, Jakarta, 1996.
68
     Ditulis ulang dalam Pembebasan No11&12, Juni&Juli, Jakarta, 1999




                                                                                     37
mati, perusahaan-perusahaan (modal) yang ia miliki akan jatuh ke keluarganya
bukan ke negara.. Ia meletakkan teori perjuangan kelas merupakan konteks
terbaik dalam menganalisa negara Indonesia. Tetapi, minimal yang harus kita
terima dari teori-teori negara adalah bahwa negara tidaklah netral, ia adalah
penjaga dari sistem yang menguntungkan sebagian kecil dari masyarakat,
sementara sebagian besar lainnya yang tidak berpunya hidup di bawah penindasan
sistem kapitalisme ini. Kembali kepada teori negara klasik, negara merupakan alat
dari kelas dominan/penguasa, yang dikendalikan secara langsung dan tidak
langsung, untuk menindas69. Alat (negara) mengesahkan penindasan dengan
bantuan lembaga pemaksa yang paling utama yaitu: tentara, pengadilan dan
penjara, sehingga apa yang disebut dengan negara kapitalis merupakan negara
yang berfungsi sebagai alat untuk melipatgandakan modal.

Seperti telah dikatakan di atas bahwa kelas borjuasi atau kapitalis atau bahkan
kelas menengah secara keseluruhan tidakakan menjadi kekuatan utama pendorong
demokrasi di Indonesia, karena kebanyakan kelas borjuasi justru sering muncul
(menyatu) dari dalam negara (ingat: negara indonesia adalah negara yangpaling
dikuasai oleh kelas kapitalis!). Kelas kapitalis dan juga kelas menengah (borjuis
kecil) bahkan menguatkan atau mendukung stabilitas ekonomi untuk proses
pertumbuhan ekonomi kapitalistis melalui sistem politik yang anti-demokrasi.
Jadi siapakah yang paling berkepentingan dan yang paling mampu menciptakan
demokrasi di Indonesia? Tidak lain Gerakan Buruh beraliansi dengan Gerkan
Mahasiswa (atau sektor rakyat lain dan pro-demokrasi).



Gerakan Mahasiswa dan Gerakan Buruh
: Gerakan Demokrasi
Gerakan Mahasiswa harus menyadari bahwa tidaklah dapat mengharapkan kelas
borjuasi atau kelas menengah.Yang dimaksudkan dengan kelas menengah di sini
adalah para manajer, kaum profesional, teknokrat dan juga dari kaum
sekolahan/akademisi. Kelas menengah bagaimanapun tidak akan menghasilkan
kekuatan yang efektif di orde baru ini. Apalagi depolitisasi serta ketiadaan basis
material mereka untuk merespon deregulasi dan liberalisasi ekonomi orde baru
menyebabkan mereka cenderung untuk mundukung kekuasaan atau paling
"mentok" yang muncul pada kelas menengah hanyalah rasa nasionalisme dan
rasa humanisme ketimbang demokrasi. Mereka mungkin saja akan memainkan
peranan efektif bila terjadi "perpecahan" diantara elit penguasa, tetapi hal ini
adalah utopis belaka, karena biasanya perpecahan di tingkat elit akan benar-benar
menjadi kenyataan bila ada gerakan dari bawah akan memainkan peranan utama
dalam proses demokratisasi di Indonesia, sedangkan posisi kelas mahasiswa
"tidak jelas" serta kenyataan historis gerakan mahasiswa dalam masa orde baru
menunjukkan kenyataan yang tidak dapat dibantah bahwa gerakan mahasiswa
69
 Karl Marx, Manifesto of The Communist Party, Marx-Engels Selected Work,Progress Publisher,
Moscow,1977




                                                                                         38
       tidak akan mempunyai kekuatan apa-apa bila tidak bersatu dengan kekuatan
       mayoritas lain yang ada di masyarakat. Namun, persoalannya ialah dengan
       siapakah kita –gerakan mahasiswa-harus bersatu dan bersama-sama berjuang
       menciptakan demokrasi di Indonesia?
       .
       Pada saat sekarang tuntutan terhadap liberalisasi dan demokratisasi kebanyakan
       dipimpin dari kaum intelektual maupun kaum profesional tertentu Mereka ini
       terdiri banyak diwakili dari dunia profesi (LBH), kaum intelejensia, PSI (yang
       merupakan wakil-wakil dari kaum sosial-demokrat Indonesia) Petisi 50 dan
       Muslim (ICMI dan NU dengan Abdurrahman Wahidnya)., tetapi mereka tidak
       mempunyai kemampuan untuk mendesakkan tuntutan mereka terpenuhi. Dan
       mereka ini sebenarnya sangat lemah dan secara tak terelakkan mereka
       menjalankan politik aliansi dengan salah satu atau sejumlah faksi tertentu yang
       saling bertikai di kalangan elit di pemerintahan. Politik kolaborasi dengan
       penindas ini tidak akan pernah menguntungkan kaum tertindas.

       Maka hanya aliansi Gerakan Buruh-Tani-Mahasiswa (serta Kaum Miskin Kota
       dan kelompok progresif lainnya) yang akan menghantarkan rakyat Indonesia ke
       pintu gerbang demokrasi. Demokrasi politik tanpa campur tangan militer (dengan
       dicabutnya Dwi Fungsi TNI) dan demokrasi ekonomi dengan terjadinya keadilan
       dan pemerataan. Kepada pundak kaum progresiflah (mahasiswa dan partai
       pelopor) beban sejarah ini harus ditanggung dan dituntaskan.*****

                                                         Yogyakarta, 11 Desember 1999

                                  Daftar Pustaka
Aspinal, Edward, The Indonesian Student Uprising of 1998, 1999

Budiman,Arief, ―Mahasiswa Sebagai Intelegensia Muda‖, Prisma,No.11 November 1976.

Gunn, Lain, ―Mei ‘68: Revolusi Perancis‖, terjemahan, tanpa tahun.

Irwan, Alexander, Jejak-Jejak Krisis di Asia, Kanisius, Yogyakarta, 1999.


       ISAI, Bayang-Bayang PKI, ISAI, Jakarta, 1995.


       Jan, San Ming, Gerakan Mahasiswa di Korea Selatan, terjemahan, 1999.

 Lenin, ―Membangun Kontak Mahasiswa dengan Kelas Pekerja‖ diterjemahkan dari
      ―Establishing Contacts with The Working Class‖ dalam Lenin’s Student in
      Revolution, Moscow, 1982.




                                                                                    39
Madjid, ―Sejarah Memberikan Kesimpulan, Pergerakan yang Merevolusionerkan‖,
     Progres, No.3, Jilid 2, 1992.

Mandels, Ernest, ―Gerakan Mahasiswa Revolusioner : Teori dan Praktek‖, terjemahan,
    tanpa tahun.

Marlin, ―Indonesia: Organizing the Mass Struggle for Real Democracy‖ wawancara
     dalam Links, No.9 (November 1997-Februaru 1998), hal 5-25.

Marx, Karl, ―Manifesto of Communist Party‖, dalam Marx-Engel Selected Work ,
     Progress Publisher, Moscow, 1977.

Patria, Nezar, ― Memposisikan Kembali Gerakan Mahasiswa : Belajar dari Sejarah‖,
      Yogyakarta, 1998.

Petras, James, ―Kritik Kepada Kaum Post-Marxist‖ terjemahan dari ― Marxist Critique
      of Post Marxist‖ Links , No.9 (November 1997-Februari1998), hal 27-48 .

Pratama,Endhiq, ―Merenda Gerak Sejarah : Membangun Gerakan Mahasiswa
     Kerakyatan‖, Yogyakarta, 1999.

PRD, Demi Demokrasi Partai Rakyat Demokratik Menolak Takluk, Jakarta, 1999.

Railond, Francois, Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia : Pembentukan dan
     Konsolidasi Orde Baru, LP3ES, Jakarta, 1986.

Rajab,Suryadi A, ―Panggung-Panggung Mitologi dalam Hegemoni Negara : Gerakan
     Mahasiswa dibawah Orde Baru‖, dalam Prisma, No.10, 1991.

Sardo, Ki Joyo, ― Mahasiswa Non-Partisan Justru Diperalat‖, dalam Pembebasan, No.
     13, October, 1999.

Semaoen, ―Gerakan Indonesia di Hindia Belanda‖, Laporan pada sidang Komintern
    1920-an.


Shiraishi, Takashi, Jaman Bergerak, PT Garfiti Pustaka, Jakarta, 1996.


Sujito, Arie, ―SMPT : Lembaga Manjerial Mahasiswa‖, dalam Bernas, 26 Desember
      1996.

Supriyono, Daru, ―Mampukah Mahasiswa Menuntaskan Revolusi Demokratik yang
     Terinterupsi‖, Yogyakarta, 1999.

Lain-Lain



                                                                                 40
Tempo, edisi 22-28 Desember 1998.

Pembebasan, No.11, Juni 1999

__________, No.12, Juli 1999




                                    41

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:229
posted:11/23/2011
language:Indonesian
pages:41