KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan hidayahnya kita masih
diberikan kesehatan jasmani dan rohani sehingga kami dapat menyelesaikan tugas mata
kuliah Ilmu Kalam ini yang berjudul “ Sistem Pelaksanaan Pendidikan Islam (Makkah,
Madinah ) “ Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada baginda Rosul SAW, semoga
kita mendapatkan syafa’atnya di hari kiamat nanti.
Tidak lupa terimakasih kami ucapkan kepada dosen pembimbing yang telah
mengarahkan kami, serta teman – teman yang telah memberi dukungan sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini.
Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan
penulis pada khususnya, penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih jauh
dari sempurna untuk itu penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi
perbaikan kearah kesempurnaan.
DAFTAR ISI
Kata Pengantar……………………………………......................................……….……..…1
Daftar isi ……………………………………..............................…………………………1
BAB I Pendahuluan
1. Latar Belakang masalah………………………………………………………..….2
2. Rumusan Masalah…………………………………………………………………2
3. Tujuan………………………………………………………………………………2
BAB II Pembahasan
A. Masa Pembinaan Pendidikan Islam………………………………............3
1. Pelaksanaan Pendidikan Islam Periode Makkah…………….5
2. Pelaksanaan Pendidikan Islam Periode Mandinah………………..7
B. Pendidikan sosial politik dan kewarganegaraan………………………..10
BAB III Penutup…………………………....................................................................12
DAFTAR PUSTAKA…..………………………………………..........................................13
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Hakikat wujud manusia menurut Ahmad Tafsir (2005: 34) adalah
makhluk yang perkembangannya dipengaruhi oleh pembawaan dan
lingkungan. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa manusia mempunyai
banyak kecenderungan, ini disebabkan oleh banyaknya potensi yang dimiliki.
Dalam hal ini beliau membagi kecenderungan itu dalam dua garis besar yaitu
cenderung menjadi orang baik dan cenderung menjadi orang jahat (2003: 35).
Pemahaman tentang manusia merupakan bagian dari kajian filsafat.
Tak mengherankan jika banyak sekali kajian atau pemikiran yang telah
dicurahkan untuk membahas tentang manusia . walaupun demikian, persoalan
tentang manusia akan menjadi misteri yang tek terselesaikan. Hal ini menurut
Husein Aqil al-Munawwar dalam Jalaluddin (2003: 11) karena keterbatasan
pengetahuan para ilmuan untuk menjangkau segala aspek yang terdapat dalam
diri manusia. Lebih lanjut Jalaluddin (2003: 11) mengatakan bahwa manusia
sebagai makhluk Allah yang istimewa agaknya memang memiliki latar
belakang kehidupan yang penuh rahasia. Dengan demikian, memang yang
menjadi keterbatasan untuk mengetahui segala aspek yang terdapat pada diri
manusia itu adalah selain keterbatan para ilmuan untuk mengkajinya, juga
dilatarbelakangi oleh faktor keistimewaan manusia itu sendiri.
Walaupun demikian, sebagai hamba yang lemah, usaha untuk
mempelajarinya tidaklah berhenti begitu saja. Banyak sumber yang
mendukung untuk mempelajari manusia. Di antara sumber yang paling tinggi
adalah Kitab Suci Al-Qur’an. Yang mana di dalamnya banyak terdapat
petunjuk-petunjuk tentang penciptaan manusia. Konsep-konsep tentang
manusia banyak dibahas, mulai dari proses penciptaan sampai kepada
fungsinya sebagai makhluk ciptaan Allah.
Dalam makalah ini kami berupaya untuk menguraikan secara
sederhana tentang kedudukan serta tugas – tugas Manusia sebagai Mahluk
social dan juga Hukum – hukum Kemasyarakatan. Yang sudah tentu hal ini
merupakan kajian untuk mempejari penciptaan manusia.
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini kami akan membahas beberapa hal penting
diantaranya :
1. Kedudukan Manusia sebagai Makhluk Sosial
2. Tugas Manusia Sebagai Mahluk Sosial
3. Hukum – hukum Kemasyarakatan
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui kedudukan manusia sebagai makhluk social
2. Untuk mengetahui tugas manusia
3. Mengetahui hukum kemasyarakatan
BAB II
PEMBAHASAN
A. Surat Al Ambiya’ Ayat 92
B. Surat Ali Imron Ayat 104
Dalam ayat 104 ini, Allah memerintahkan orang yang beriman untuk
menempuh jalan yang berbeda, yaitu menempuh jalan luas dan lurus serta
mengajak orang lain menempuh jalan kebajikan dan makruf.
Pengetahuan yang dimiliki seseorang atau kemampuan mengamalkan
sesuatu akan berkurang, terlupakan dan bahkan hilang, jika tidak ada yang
mengingatkanya atau dia tidak mengulang – ulangi mengerjakanya. Di sisi
lain, pengetahuan dan pengamalan saling berkaitan erat, pengetahuan
mendorong kepada pengamalan dan meningkatkan kualitas amal. Maka dari
itu manusia dan masyarakat perlu selalu diingatkan dan diberi keteladanan.
Inilah inti dari dakwah Islamiyah. 1
Orang yang di ajak bicara dalam ayat ini ialah kaum mukminin
seluruhnya. Mereka terkena taklif agar memilih suatu golongan yang
melaksanankan kewajiban ini. Realitasnya adalah hendaknya masing – masing
anggota kelompok tersebut mempunyai dorongan dan mau bekerja untuk
1
. M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah. Hlm 172 – 173.
mewujudkan hal ini dan mengawasi perkembanganya dengan kemampuan
optimal. Sehingga apabila mereka melihat kekeliruan dalam hal ini (amar
ma’ruf nahi munkar), segera mereka mengembalikanya ke jalan yang benar.
Syarat Amar Ma’ruf Nahi Mungkar :
1. Pandai dalam bidang Al Qur’an, sunnah dan sirah Nabi dan
Khulafa’ur Rasyidin ra.
2. Pandai membaca situasi orang – orang yang sedang menerima
dakwahnya, baik dalam urusan bakat, watak, dan akhlak mereka.
3. Mengetahui bahasa umat yang dituju oleh dakwahnya.
4. Mengetahui Agama, aliran, sekte – sekte masyarakat agar juru
dakwah bias mengetahui kebatilan – kebatilan yang terkandung
padanya. Sebab bila seseorang tidak jelas kebatilan yang
dipeluknya, maka sulit baginya memenuhi ajakan kebenaran yang
didengungkan oleh orang lain, sekalipun orang tersebut telah
mengajaknya.2
Dari sini dapat ditarik kesimpulan, bahwa yang bias melaksanakan
dakwah hanyalah kalangan khusus umat islam, yaitu yang mengetahui rahasia
– rahasia hokum, hikmah tasyri’ dan fiqihnya. Mereka adalah orang yang
disisyaratkan oleh Al Qur’an dalam firmanNya surat At – Taubah ayat 122 :
“ …..mengapa tidak pergi dari tiap – tiap golongan di antara mereka
beberapa orang untuk memperdalam penegtahuan mereka tentang agama dan
2
. Ahmad Musthofa Al – Maraghi, Tafsir Al _ Maraghi (Semarang: Toha Putra), hlm. 37
untuk member peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali
kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya “
C. Surat Ali Imron ayat 110