Embed
Email

MELAWAN GENOVESE SYNDROME

Document Sample
MELAWAN GENOVESE SYNDROME
Description

TENTANG MELAWAN SINDROM GENOVESE

Shared by: JUM'AN BASALIM
Categories
Stats
views:
12
posted:
11/20/2011
language:
Indonesian
pages:
2
JIHAD MELAWAN GENOVESE SYNDROME

Oleh: Jum'an



Suatu malam ketika masih tinggal didesa, saya mendengar suara orang sedang

berusaha membobol rumah saya yang hanya berdinding bambu. Saya memang

tidak siap dan tidak tahu cara menghadapi pencuri kecuali berteriak minta tolong

Sayapun berteriak sekeras-kerasnya berkali-kali dan saya dengar suara orang lari

menabrak tiang jemuran. Anehnya tak seorangpun tetangga saya yang datang

menolong meskipun jaraknya dekat dan pasti mendengar teriakan saya. Itu

puluhan tahun yang lalu tetapi saya tetap ingat. Suatu malam, Kitty Genovese

seorang karyawati di New York berteriak-teriak minta tolong karena dua kali

ditusuk orang dengan pisau tapi tak seorangpun tetangga datang menolong.

Penjahat itu lari tetapi beberapa menit kemudian kembali lagi, memperkosa dan

menusuknya berkali-kali sampai mati. Kasus yang menimpa Kitty Genovese itu

tidak hanya mendapat publikasi yang luas tapi kemudian menjadi bahan

penelitian para psikolog yang seterusnya menyebut fenomena sosial seperti itu

sebagai Sindrom Genovese atau Bystander Effect. Efek penonton atau sindrom

Genovese adalah fenomena, kejadian dimana banyak orang tidak melakukan

apa-apa sementara menyaksikan kejahatan berlangsung. Tidak jarang kita

melihat hal demikian disekitar kita. Orang mengalami “buta yang disengaja”

(motivated blindness) tidak mau melihat sesuatu yang tidak merupakan minat

mereka.



Dalam sebuah penelitian, kepada sejumlah orang diperlihatkan gambar-gambar

yang beberapa diantaranya berbau porno dan gerakan mata mereka diikuti

melalui alat pemantau. Mereka yang merasa resah dengan pornografi tidak

pernah membiarkan matanya menatap gambar itu. Pikirannya dengan cekatan

meraba situasi dan entah bagaimana dengan buru-buru memasang filter untuk

mengalihkan perhatiannya dari hal-hal yang meresahkan. Dari satu sisi, hal ini

mungkin merupakan mekanisme defensif yang bermanfaat akan tetapi bakat

mengalihkan perhatian itu juga merupakan pintu masuk kejahatan bagi

kebanyakan orang. Karena bagaimanapun "buta yang disengaja" adalah tindakan

membodohi diri yang memudahkan kita untuk mengabaikan informasi dan fakta

yang tidak kita sukai. Para ahli yang mendalami etika perilaku melihat banyak

peristiwa tidak etis yang terjadi karena orang secara tidak sadar membodohi diri

mereka sendiri, bukan sejak awal sudah berniat jahat. Mereka mengabaikan

pelanggaran - membelokkan aturan untuk membantu rekan, mengabaikan

informasi yang merusak reputasi- disesuaikan dengan kepentingan sendiri.

Ketika direksi perusahaan sibuk mengejar target penjualan atau tim sukses partai

giat menggolkan calonnya, perlunya etika dalam tindakan yang penting hilang

dari pikiran mereka. Ini menyebabkan mereka terlibat atau memaafkan perilaku

yang sebenarnya mereka kutuk jika mereka menyadarinya. Orang mudah sekali

membodohi diri. Kita memperhatikan fakta-fakta yang kita sukai dan

menyembunyikan yang sebaliknya. Kita blow-up kebaikan kita dan menyangka

bahwa tindakan kita lebih bijak dari yang sebenarnya kita lakukan.



Ketika kita mengalami kebutaan dan tidak melihat bahwa suatu keputusan itu

memiliki komponen etika, kita dapat bersikap tidak etis sambil mempertahankan

citra diri yang positif. Penelitian oleh Max H. Bazerman, profesor bisnis di

Harvard, dan Ann Tenbrunsel, profesor manajemen di Univ. Notre Dame

membuktikan bahwa orang secara konsisten merasa bahwa ia lebih jujur, lebih

etis dari yang sebenarnya. "Ketika tiba saatnya untuk membuat keputusan, otak

kita didominasi oleh pikiran bagaimana kita ingin berperilaku; pikiran bagaimana

kita seharusnya berperilaku menghilang" kata mereka.



Sebenarnya Alqur’an telah mengingatkan bahwa kita memang mempunyai cacat

seperti itu apapun namanya: bystander effect, sidrom Genovese, maupun buta

sengaja. Surat Yusf ayat 53 menyebutkan: "...sesungguhnya nafsu manusia itu

sangat mendorong melakukan kejahatan (certainly prone to evil), kecuali orang-

orang yang telah diberi rahmat oleh Alloh". Oleh karena itu bagian penting dari

perjuangan hidup adalah untuk melawan nafsu. Nabi mengatakan bahwa perang

melawan nafsu adalah jihad, bahkan suatu jihad yang besar. Kecenderungan kita

yang mati-rasa dan lumpuh, tidak mau campur tangan meskipun bersama-sama

menyaksikan kejahatan, dalam istilah kita tak ada yang memenuhi fardu kifayah.

Contoh klasiknya: diantara kita harus ada yang bisa melakukan solat jenazah,

kalau sampai tidak maka semua kita berdosa. Kita diingatkan bahwa ada

kewajiban yang dituntut dari sebagian orang, yang kalau kita mengambil inisiatif

itu, kita termasuk orang yang beruntung. "Dan hendaklah ada dari kamu satu

umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan

mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung". (Ali

Imran, 104). Berjihad melawan Genovese Syndrome? Why not?



Related docs
Other docs by JUM'AN BASALIM
BIAR ALLAH SAJA YANG MEMBALASNYA
Views: 6  |  Downloads: 0
PESAN SUFI: JANGAN TIDUR LAGI
Views: 12  |  Downloads: 0
DOKTER TAKUT MATI
Views: 10  |  Downloads: 0
SUKMA NABATI
Views: 13  |  Downloads: 0
DUNIA MEMBURUK ATAU MEMBAIK?
Views: 9  |  Downloads: 0
ANAK SOLEH YANG TEWAS OVERDOSIS
Views: 7  |  Downloads: 0
KETURUNAN JENGIS KHAN DISEKITAR KITA
Views: 25  |  Downloads: 0
NIAT BAIK MUDAH BERUBAH
Views: 15  |  Downloads: 0
PERBUDAKAN DI MAURITANIA
Views: 13  |  Downloads: 0
BEDA PANGKAL BENCI
Views: 4  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!