Pembaca surat kabar tentu tidak asing dengan istilah rubrik by FzRRi8

VIEWS: 81 PAGES: 33

									                                    BAB II
                         TINJAUAN PUSTAKA



2.1 Tinjauan Komunikasi

   2.1.1 Definisi Komunikasi

               Manusia tidak dapat lepas dengan komunikasi, karena kaitannya

        sebagai mahluk sosial. Untuk berhubungan dengan yang lainnya, maka

        dilakukanlah komunikasi, guna mengutarakan isi pikiran komunikator

        kepada komunikan, sehingga dapat dimengerti satu sama lain.

               Istilah komunikasi itu sendiri dalam bahasa Inggris yaitu

        communication, berasal dari kata Latin communicatio, dan bersumber

        dari kata communis yang berarti sama, sama disini maksudnya adalah

        sama makna. Hal ini berarti bahwa dalam komunikasi harus ada

        pengertian yang sama pada kedua belah pihak yaitu komunikator dan

        komunikan dalam memaknai pesan.

               Dikutip Deddy Mulyana dari Carl I. Hovland dalam buku ”Ilmu

        Komunikasi Suatu Pengantar”, bahwa:

               ”Komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang

               (komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang-

               lambang    verbal)   untuk    mengubah   perilaku   orang   lain

               (komunikate)” (Mulayana, 2005: 62).

               Masih dalam buku ”Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar”, Everett

               M. Rogers juga memberikan pendapatnya mengenai komunikasi,




                                      28
                                                                     29



         ”Komunikasi adalah proses di mana suatu ide dialihkan dari

         sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk

         mengubah tingkah laku mereka” (Mulayana, 2005: 62).

         Untuk memahami pengertian komunikasi sehingga dapat

dilancarkan secara efektif, para peminat komunikasi sering kali

mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold Lasswell dalam

karyanya, The Structure and Fungtion of Communication in Society.

Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan

komunikasi ialah menjawab pertanyaan sebagai berikut: Who Says What

In Which Channel To Whom With What Effect? (Siapa Mengatakan Apa

Dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Pengaruh Bagaimana?)

         Paradigma Lasswell di atas menunjukkan bahwa komunikasi

meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu,

yakni:

        Komunikator (communicator, source, sender)
        Pesan (message)
        Media (channel, media)
        Komunikan (communicant, communicate, reciever, recipient)
        Efek (effect, impact, influence)

         Jadi, berdasarkan paradigma Lasswell tersebut, komunikasi

adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan

melalui media yang menimbulkan efek tertentu (Effendy, 2005: 10).
                                                                         30



   2.1.2 Tujuan Komunikasi

               Menurut Onong Uchjana Effendy dalam bukunya ”Ilmu

       Komunikasi Teori dan Praktek”, tujuan dari komunikasi adalah:

       1.   Perubahan sikap (attitude change)
       2.   Perubahan pendapat (opinion change)
       3.   Perubahan perilaku (behavior change)
       4.   Perubahan social (social change)
            (Effendy, 2005: 8)



   2.1.3 Fungsi Komunikasi

               Fungsi komunikasi menurut Judy C. Pearson dan Paul E. Nelson

       yang telah dikutip oleh Deddy Mulayana dalam bukunya “Ilmu

       Komunikasi Suatu Pengantar”, dibagi menjadi dua fungsi, yaitu:

               Pertama, untuk kelangsungan hidup diri-sendiri yang meliputi

       keselamatan fisik, meningkatkan kesadaran pribadi, menampilkan diri

       kita sendiri kepada orang lain dan mencapai ambisi pribadi.

               Kedua, untuk kelangsungan hidup masyarakat, tepatnya untuk

       memperbaiki hubungan sosial dan mengembangkan keberadaan suatu

       masyarakat” (Mulayana, 2005: 5).



2.2 Tinjauan Komunikasi Massa

   2.2.1 Definisi Komunikasi Massa

               Terdapat beberapa bentuk komunikasi, salah satunya komunikasi

       massa. komunikasi massa merupakan komunikasi yang dilakukan

       dengan media, media yang digunakan tersebut dapat berupa media cetak

       maupun media elektronik. Komunikasi massa melibatkan banyak orang
                                                                     31



sebagai sasaran proses komunikasi. Banyak pendapat mengenai

komunikasi massa yang diungkapkan oleh para pakar komunikasi.

Deddy Mulyana dalam bukunya “Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar”

menyatakan bahwa:

       “Komunikasi massa (mass communication) adalah komunikasi
       yang menggunakan media massa, baik cetak (surat kabar,
       majalah) atau elektronik (radio, televisi), yang dikelola oleh
       suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan
       kepada sejumlah besar orang tersebar di banyak tempat, anonim,
       dan heterogen. Pesan-pesannya bersifat umum, disampaikan
       secara cepat, serentak dan selintas (khususnya media elektronik).
       Komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok dan komunikasi
       organisasi berlangsung juga dalam proses untuk mempersiapkan
       pesan yang disampaikan media massa ini” (Mulyana, 2005: 75).

       Definisi lain mengenai komunikasi massa diungkapkan Jalaludin

Rakhmat dalam bukunya “Psikologi Komunikasi”, menyebutkan

“Komunikasi massa diartikan sebagai jenis komunikasi yang ditujukan

kepada sejumlah khlayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui

media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima

secara serentak dan sesaat” (Rakhmat, 2004: 189).


       Definisi yang paling sederhana tentang komunikasi massa

dirumuskan Bittner (1980: 10), dalam buku “Psikologi Komunikasi”

yang ditulis Jalaludin Rakhmat, yaitu:

       “Mass Communication is messages communicated through a

       mass medium to a large number of people” (Komunikasi massa

       adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada

       sejumlah besar orang) (Rakhmat, 2004: 188).
                                                                              32



2.2.2 Ciri-ciri Komunikasi Massa

            Komunikasi massa mempunyai beberapa ciri, seperti dikatakan

     oleh Severin dan Tankard, Jr, komunikasi massa adalah keterampilan,

     seni, dan ilmu, dikaitkan dengan pendapat Devito bahwa komunikasi

     massa ditujukan kepada massa melalui media massa jika dibandingkan

     dengan jenis-jenis komunikasi lainnya, maka komunikasi massa

     memiliki ciri-ciri khusus antara lain:

     1. Komunikasi massa berlangsung satu arah, berbeda dengan

        komunikasi antarpersona yang berlangsung dua arah, komunikasi

        massa berlangsung satu arah. Berarti bahwa tidak terdapat arus balik

        dari komunikan kepada komunikator.

     2. Komunikator pada komunikasi massa melembaga, media massa

        sebagai saluran komunikasi massa merupakan lembaga, yakni suatu

        institusi    atau   organisasi.    Oleh   karena   itu,    komunikatornya

        melembaga atau dalam bahasa asing disebut Institusionalized

        Communicator atau Organized communicator.

     3. Pesan pada komunikasi massa bersifat umum (public), karena

        ditujukan pada perseorangan atau pada sekelompok orang tertentu.

     4. Media komunikasi massa menimbulkan keserempakan, ciri lain dari

        media       massa    adalah       kemampuannya     untuk     menimbulkan

        keserempakan (simultaneity) pada pihak khalayak dalam menerima

        pesan-pesan yang disebarkan. Hal inilah yang merupakan ciri paling

        hakiki dibanding dengan media komunikasi lainnya.
                                                                       33



    5. Komunikan komunikasi massa bersifat heterogen, komunikasi atau

        khalayak merupakan kumpulan anggota masyarakat yang terlibat

        dalam proses komunikasi massa sebagai sasaran yang dituju

        komunikator bersifat heterogen. Dalam keberadaan secara terpencar-

        pencar, dimana satu sama lainnya tidak saling mengenal dan tidak

        memiliki kontak pribadi, masing-masing berbeda dalam segala hal,

        jenis kelamin, usia, agama, ideologi, pekerjaan, pendidikan,

        pengalaman, kebudayaan, pandangan hidup, keinginan, cita-cita, dan

        sebagainya (Effendy, 2005: 22-25).



2.2.3 Fungsi Komunikasi Massa

           Terdapat beberapa fungsi komunikasi massa, berikut yang telah

    dikutip dari Onong Uchjana Effendy dalam bukunya “Komunikasi Teori

    dan Praktek”, diantaranya:

    1. Pengawasan (surveillance), fungsi pertama komunikasi massa

        menurut Joseph R. Dominick agak luas. Dikatakannya bahwa

        surveillance mengacu kepada yang kita kenal sebagai peranan berita

        dan informasi dari media massa. Fungsi pengawasan dapat dibagi

        menjadi dua jenis, yaitu:

         Pengawasan peringatan (warning or beware surveillance),

         pengawasan jenis ini terjadi jika media menyampaikan informasi

         kepada kita mengenai ancaman taufan, letusan gunung api, kondisi
                                                                   34



     ekonomi yang mengalami depresi, meningkatnya inflasi, atau

     serangan militer.

    Pengawasan Instrumental (instrumental surveillance), jenis kedua

     ini berkaitan dengan penyebaran informasi yang berguna bagi

     kehidupan sehari-hari. Berita tentang film yang dipertunjukkan di

     bioskop setempat, harga barang kebutuhan di pasar, produk-produk

     baru dan lain-lain adalah contoh pengawasan instrumental. Yang

     juga perlu dicatat ialah bahwa tidak semua contoh pengawasan

     instrumental seperti disebutkan di atas terjadi yang kemudian

     dijadikan berita.

2. Interpretasi (interpretation), fungsi ini erat sekali dengan fungsi

   pengawasan. Media massa tidak hanya menyajikan fakta dan data,

   tetapi juga informasi beserta interpretasi mengenai suatu peristiwa

   tertentu.

3. Hubungan (linkage), media massa mampu menghubungkan unsur-

   unsur yang terdapat di dalam masyarakat yang tidak bisa dilakukan

   secara langsung oleh saluran perseorangan. Contohnya, kegiatan

   periklannan yang menghubungkan kebutuhan dengan produk-produk

   penjual. Fungsi hubungan yang dimiliki media itu sedemikian

   berpengaruhnya kepada masyarakat sehingga dijuluki “public

   making” ability of the mass media atau kemampuan membuat

   sesuatu menjadi umum dari media massa.
                                                                      35



4. Sosialisasi, bagi Dominick sosialisasi merupakan transmisi nilai-nilai

   (transmission of values) yang mengacu kepada cara-cara di mana

   seseorang mengadopsi perilaku dan nilai-nilai dari suatu kelompok.

   Media massa menyajikan penggambaran masyarakat, dan dengan

   membaca, mendengarkan, menonton maka seseorang mempelajari

   bagaimana khalayak berperilaku dan nilai-nilai apa yang penting.

5. Hiburan (entertainment), seperti halnya Macbride, bagi Dominick

   hiburan merupakan fungsi media massa. Mengenai hal ini memang

   jelas tampak pada televisi, film, dan rekaman suara. Media massa

   lainnya, seperti surat kabar dan majalah, meskipun fungsi utamanya

   adalah informasi dalam bentuk pemberitaan, rubrik-rubrik hiburan

   selalu ada, apakah itu cerita pendek, cerita panjang, atau cerita

   bergambar.

       Fungsi-fungsi komunikasi dan komunikasi massa yang begitu

banyak itu dapat disederhanakan menjadi empat fungsi saja, yakni:

      Menyampaikan informasi (to inform)

      Mendidik (educate)

      Menghibur (entertain)

      Memepengaruhi (to influence)

       Demikianlah fungsi-fungsi media massa menurut beberapa pakar

kenamaan. Jelas kiranya bahwa pernyataan mengenai fungsi komunikasi

massa di masyarakat akan sejajar dengan pernyataan mengenai

bagaimana fungsi media pada taraf individual (Effendy, 2005:29-31).
                                                                              36



2.3 Tinjauan Media Massa

   2.3.1 Definisi Media Massa

                  Dunia jurnalistik sangat erat kaitannya dengan istilah pers dan

        komunikasi massa. Terkadang, istilah-istilah ini menjadi campur baur

        dan saling tertukar pengertiannya. Jurnalistik merupakan salah satu

        bentuk spesialisasi dari komunikasi massa, yakni komunikasi yang

        dilakukan melalui media massa. Media massa yang kita kenal saat ini

        adalah:

           1. Media cetak, terdiri dari surat kabar, tabloid, majalah.

           2. Media elektronik, radio siaran, televisi siaran.

                  Selain pembagian di atas, banyak pula ahli yang mengungkapkan

        film sebagi bagian dari komunikasi massa, namun ada pula yang

        mengatakan bukan sebagai komunikasi massa.

                  Bahkan di Negara-negara maju, buku, kaset rekaman dimasukkan

        pula sebagai media komunikasi massa (Gamble & Gamble, 1987). Buku

        disebut media massa karena di Negara maju tiras penerbitan buku bisa

        mencapai ratusan hingga jutaan eksemplar setiap kali terbit. Begitupun

        kaset rekaman musik. Disebut media komunikasi massa karena buku dan

        kaset rekaman sama-sam memiliki unsur-unsur komunikasi, bahkan dari

        dua media ini kerap kali memunculkan dampak, baik dampak negatif

        maupun dampak positif (Abdullah, 2004: 9-10).

                  Selain definisi mengenai media massa dari Aceng Abdullah

        dalam bukunya “Press Relations Kiat Berhubungan dengan Media
                                                                     37



Massa” seperti yang telah dikutip diatas. Asep Syamsul M. Romli dalam

bukunya yang berjudul “Jurnalistik Terapan” juga memberikan

pendapatnya mengenai media massa.

        Media massa (mass media) singkatan dari media komunikasi

massa dan merupakan channel of mass yaitu saluran, alat atau sarana

yang dipergunakan dalam proses komunikasi massa, karakteristik media

massa itu meliputi :

1.   Publisitas, disebarluaskan kepada khalayak
2.   Universalitas, kesannya bersifat umum
3.   Perioditas, tetap atau berkala
4.   Kontinuitas, berkesinambungan
5.   Aktualitas, berisi hal-hal baru
     (M. Romli, 2002: 5-6)


        Isi media massa secara garis besar terbagai atas tiga kategori :

berita, opini, feature. Karena pengaruhnya terhadap massa (dapat

membentuk opini publik), media massa disebut “kekuatan keempat”

(The Four Estate) setelah lembaga eksekutif, legistatif, yudikatif.

Bahkan karena idealisme dengan fungsi sosial kontrolnya media massa

disebut-sebut “musuh alami” penguasa (M. Romli, 2002: 5).

        Media yang termasuk kedalam kategori media massa adalah surat

kabar, majalah, radio, TV dan film. Kelima media tersebut dinamakan

“The Big Five Of Mass Media” (lima besar media massa), media massa

sendiri terbagi dua macam, media massa cetak (printed media), dan

media massa elektronik (electronic media). Yang termasuk media massa
                                                                             38



     elektronik adalah radio, TV, film (movie), termasuk CD. Sedangkan

     media massa cetak dari segi formatnya dibagi menjadi enam yaitu :

     1. Koran atau surat kabar (ukuran kertas broadsheet atau ½ plano)
     2. Tabloid (½ broadsheet)
     3. Majalah (½ tabloid atau kertas ukuran polio atau kuarto)
     4. Buku (½ majalah)
     5. Newsletter (polio atau kuarto, jumlah halaman lazimnya 4 – 8
        halaman)
     6. Buletin (½ majalah jumlah halaman lazimnya 4 – 8)
        (M. Romli, 2002: 6)



2.3.2 Definisi Majalah

            Oleh beberapa ahli, majalah didefinisikan sebagai kumpulan

     berita, artikel, cerita, iklan, dan sebagainya, yang dicetak dalam

     lembaran kertas ukuran kuarto atau folio dan dijilid dalam bentuk buku,

     serta diterbitkan secara berkala, seperti seminggu sekali, dua minggu

     sekali atau sebulan sekali. Ada pula yang membatasi pengertian majalah

     sebagai media cetak yang terbit secara berkala, tapi bukan terbit setiap

     hari. Media cetak itu haruslah bersampul, setidak-tidaknya punya wajah,

     dan dirancang secara khusus. Selain itu, media cetak itu dijilid atau

     sekurang-kurangnya memiliki sejumlah halaman tertentu.

            Menurut suatu literatur, majalah pertama terbit di Inggris tahun

     1731 yaitu Gentleman Magazine. Majalah ini berisi berbagai topik

     tentang sastra, politik, biografi, dan kritisisme. Kelak, ia menjadi contoh

     karakter umum majalah yang biasa dijumpai hingga kini, misalnya berisi

     humor, esai politik, sastra, musik, teater, hingga kabar orang-orang
                                                                     39



ternama. Sepuluh tahun sesudahnya, muncul majalah pertama di

Amerika Serikat.

       Namun       sumber   lain   seperti   Encyclopedia    Americana

menyebutkan, majalah dalam bentuk sebagai sisipan dari suratkabar

sudah terbit sejak 1665 di Prancis, yakni Le Journal de savants. Majalah

periodik ini berisi berita penting dari berbagai buku dan penulis,

komentar seni, filsafat, dan iptek. Di Inggris, ada majalah Tatler yang

terbit singkat tahun 1709-1711, demikian juga The Spectator (1711-

1712). Gentleman’s Magazine sendiri lebih pas disebut sebagai majalah

umum pertama yang tampil lebih modern, dan bertahan cukup lama

hingga 1901 (diakses dari www.google.com).

       Majalah sebagai salah satu bentuk media massa memiliki
       segmentesi lebih sempit dan lebih terarah daripada surat kabar,
       maksudnya produk berorientasi pada segmen tertentu. Usia
       majalah juga jauh lebih panjang dari usia surat kabar/buletin.
       Majalah memiliki kedalaman isi yang jauh berbeda dengan surat
       kabar/buletin yang hanya menyajikan berita. Disamping itu
       majalah menemani pembaca dengan menyajikan cerita atas
       berbagai kejadian dengan tekanan pada unsur mendidik dan juga
       menghibur (Kasali, 1992: 108). (diakses dari www.google.com).

       Majalah saat ini tidak hanya terbatas yang dijual bebas/secara

umum di toko-toko atau kios-kios buku, suatu organisasi/perusahaan

juga dapat menerbitkan majalahnya sendiri apabila kebutuhan informasi

tentang lingkup organisasi/perusahaan tersebut dirasa perlu (biasanya

dibagikan secara gratis).

       Format majalah setengah dari ukuran tabloid atau seperempat
       ukuran broadsheet. Menurut Mario R. Gracia (Newspaper
       Design, 1986), selain umumnya berukuran seperempat halaman
       broadsheet, pengertian majalah ini adalah, halaman demi
                                                                        40



       halaman diikat dengan kawat (dihekter) serta menggunakan
       sampul yang jenis kertasnya lebih tebal atau lebih mengkilat
       dibanding kertas halaman dalam (Abdullah, 2004: 12).

       Majalah dapat dibedakan dengan media cetak lainnya, karena

majalah   mempunyai      karekteristik   tersendiri,   berikut   merupakan

karekteristik dari majalah:

   1. Penyajian Lebih Mendalam
      Frekwensi terbit majalah pada umumnya adalah mingguan,
      selebihnya dwi mingguan, bahkan bulanan (1 kali sebulan).
      Majalah berita biasanya terbit mingguan, sehingga para
      reporternya memiliki waktu yang cukup untuk memeahami dan
      mempelajari suatu peristiwa.
   2. Nilai Aktualitas Lebih Lama
      Apabila nilai aktualitas surat kabar hanya berumur satu hari,
      maka nilai aktualitas majalah bisa satu minggu. Sebagai contoh,
      kita akan menganggap usang suratkabar kemarin atau dua hari
      yang lalu bila kita membaca saat ini. akan tetapi kita tidak pernah
      menganggap usang majalah yang terbit dua atau tiga hari yang
      lalu.
   3. Gambar atau Foto yang Lebih Banyak
      Juumlah halaman majalah lebih banyak, sehingga selain
      penyajian berita yang mendalam, majalah dapat menampilkan
      gambar atau foto yang lengkap dengan ukuran besar kadang-
      kadang berwarna, serta kualitas kertas yang digunakanpun lebih
      baik, foto-foto yang ditampilakan majalah mempunyai daya tarik
      tersendiri, apalagi apabila foto tersebut bersifat eksklusif.
   4. Cover (sampul) Sebagai Daya Tarik
      Disamping foto, cover atau sampul majalah yang merupakan
      daya tarik tersendiri. Cover adalah ibarat pakaian dan
      aksesorisnya pada manusia. Cover majalah biasanya
      menggunakan kertas yang bagus dengan gambar dan warna yang
      menarik pula. Menarik tidaknya cover suatu majalah, serta
      konsentrasi atau keajegan suatu majalah tersebut dalam
      menampilkan ciri khasnya.
      (Ardiyanto dan Erdinaya, 2005: 113).
                                                                              41



2.4 Tinjauan Mengenai Feature
   2.4.1 Definisi Feature

               Selain berita, feature merupakan salah satu gaya penulisan yang

        biasa diterapkan dalam majalah yang tidak terbit harian. Informasi yang

        disajikan tidak akan terasa basi, walaupun sudah tidak update lagi.

               Asep Syamsul M. Romli dalam bukunya “Jurnalistik Praktis

        Untuk Pemula”, mengemukakan definisi feature sebagai berikut

        “Feature merupakan sebuah “karangan khas” yang menuturkan fakta,

        peristiwa, atau proses disertai penjelasan riwayat terjadinya, duduk

        perkaranya. Sebuah feature umumnya mengedepankan unsur why dan

        how sebuah peristiwa” (M. Romli, 2006: 22).

               Sedangkan dikutip dari Haris Sumadiria dalam bukunya yang

        berjudul ”Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature”,

        mengatakan bahwa:

               ”Feature adalah cerita khas kreatif yang berpijak pada jurnalistik

               sastra tentang suatu situasi, keadaan, atau aspek kehidupan,

               dengan tujuan untuk memberi informasi dan sekaligus menghibur

               khalayak media massa” (Sumandiria, 2005: 152).

               Selain dua definisi mengenai feature di atas, Suhandang dalam

        bukunya ”Pengantar Jurnalistik Seputar Organisasi, Produk, & Kode

        Etik” mengutip dari Ensiklopedia Nasional Indonesia (Nugroho, 1990:

        267), menjelaskan pengertian feature sebagi suatu ulasan, tinjauan atau

        komentar mengenai masalah atau peristiwa yang sedang hangat
                                                                               42



     diberitakan oleh pers atau diperbincangkan oleh khalayak (Suhandang,

     2004: 109).

            Mengenai batasan pengertian (definisi) feature, belum ada

     kesepakatan di antara para ahli jurnalistik. Masing-masing ahli

     memberikan rumusannya sendiri tentang kata feature. Jadi, bagaimana

     pengertian berita, tidak ada rumusan tunggal tentang pengertian feature.

            “Yang jelas, feature adalah sebuah tulisan jurnalistik juga, namun
            tidak selalu harus mengikuti rumus klasik 5W+1H dan ia bisa
            dibedakan dengan news, artikel (opini), kolom, dan analisis
            berita. “Kita punya kisah atas fakta-fakta telanjang,” kata
            William L. Rivers, dan itu kita sebutkan sebagai „berita‟. Di
            samping berita kita jumpai lagi tajuk rencana, kolom, dan
            tinjauan, yang kita sebutkan sebagai „berita‟ atau „opinion
            pieces‟. Sisanya yang terdapat dalam lembaran suratkabar,
            itulah yang disebutkan karangan khas (feature)” (M. Romli,
            2006: 22).”

            Feature mengandung informasi yang “lebih” ketimbang berita

     biasa (news), antara lain hal-hal yang mungkin diabaikan oleh news tadi

     dan relatif tidak akan pernah “basi” (tidak aktual lagi) seperti berita biasa

     (M. Romli, 2006: 21).

            Pengertian feature “mutlak” dilakukan oleh redaksi sebuh media
            massa cetak, terutama mingguan, dwimingguan, dan bulanan.
            Bersaing dengan media elektronik, media cetak tentu tak akan
            mampu “mengalahkannya” dalam hal aktualitas dan kecepatan
            penyampaian informasi kepada khalayak. (M. Romli, 2006: 21).



2.4.2 Ciri-ciri Feature

            Dari sejumlah pengertian feature yang ada, dapat ditemukan

     beberapa ciri khas tulisan feature, antara lain:

        Mengandung segi human interest
                                                                      43



    Tulisan feature memberikan penekanan pada fakta-fakta yang

    dianggap mampu menggugah emosi __menghibur, memunculkan

    empati dan keharuan.

    Dengan kata lain, sebuah feature juga harus mengandung segi human

    interest atau human touch __menyentuh rasa manusiawi. Karenanya,

    feature termasuk kategori soft news (berita lunak atau ringan) yang

    pemahamannya lebih menggunakan emosi. Berbeda dengan hard

    news (berita keras) yang isinya mengacu kepada dan pemahamannya

    lebih banyak menggunakan pemikiran.

   Mengandung unsur sastra

    Satu hal penting dalam sebuah feature adalah ia harus mengandung

    unsur sastra. Feature ditulis dengan cara atau cara menulis fiksi.

    Karenanya tulisan feature mirip dengan sebuah cerpen (cerita

    pendek) atau novel __bacaan ringan dan menyenangkan __namun

    tetap informatif dan faktual. Karenanya pula, seorang penulis feature

    pada dasarnya atau pada prinsipnya adalah seorang yang bercerita.

    Jadi, feature adalah jenis berita yang sifatnya ringan dan menghibur.

    Ia menjadi bagian dari pemenuhan fungsi menghibur (entertainment)

    sebuah surat kabar (M. Romli, 2006 : 23).

       Seorang penulis feature harus memiliki ketajaman dalam melihat,

memandang, dan menghayati suatu peristiwa. Ia harus mampu pula

menonjolkan suatu hal yang meskipun sudah umum, namun belum

terungkap seutuhnya.
                                                                          44



2.4.3 Jenis-jenis Feature

             Jenis-jenis feature menurut Asep Syamsul M. Romli dalam buku

     “Jurnalistik Praktis”, diantaranya:

        Feature Berita yang lebih banyak mengandung unsur berita,

         berhubungan dengan peristiwa yang aktual yang menarik perhatian

         khlayak. Biasanya merupakan pengembangan dari sebuah straight-

         news.

        Feature Artikel yang lebih cenderung segi sastra. Biasanya

         dikembangkan dari sebuah berita yang tidak aktual lagi atau

         berkurang aktualitasnya. Misalnya, tulisan mengenai suatu keadaan

         atau kejadian, seseorang, suatu hal, suatu pemikiran, tentang ilmu

         pengetahuan, dan lain-lain yang dikemukakan sebagai laporan

         (informasi) yang dikemas secara ringan dan menghibur.

             Berdasarkan tipenya, maka feature dapat dibedakan menjadi:

        Feature human interest (langsung sentuh keharuan, kegembiraan,

         kejengkelan, atau kebencian, simpati, dan sebagainya). Misalnya,

         cerita tentang penjaga mayat di rumah sakit, liku-liku kehidupan

         seorang guru di daerah terpencil, atau kisah seorang penjahat yang

         dapat menimbulkan kejengkelan.

        Feature pribadi-pribadi menarik atau feature biografi. Misalnya

         riwayat hidup tokoh yang meninggal, tentang seorang yang

         berprestasi, atau seseorang yang memiliki keunikan sehingga bernilai

         berita tinggi.
                                                                            45



        Feature perjalanan. Misalnya kunjungan ke tempat bersejarah di

         dalam maupun di luar negeri, atau ke tempat yang jarang dikunjungi

         orang. Dalam feature jenis ini, biasanya unsur subjektifitas menonjol,

         karena    biasanya    penulisnya   yang   terlibat   langsung   dalam

         peristiwa/perjalanan itu mempergunakan „aku”, “saya”, atau “kami”

         (sudut pandang __point of view __orang pertama).

        Feature sejarah, yaitu tulisan tentang peristiwa masa lalu, misalnya

         peristiwa proklamasi kemerdekaan, atau peristiwa keagamaan,

         dengan memunculkan “tafsir baru” sehingga tetap terasa aktual

         untuk masa kini.

        Feature petunjuk praktis (Tips), Practical Guidance Feature, atau

         mengajarkan keahlian __how to do it. Misalnya tentang memasak,

         merangkai bunga, membangun rumah, dan sebagainya (M. Romli,

         2006: 24-25).



2.4.4 Stuktur Tulisan Feature

             Struktur tulisan feature umumnya disusun seperti kerucut

     terbalik, yang terdiri dari:

        Judul (head)

        Teras (lead)

        Bridge atau jembatan antara lead dan body
                                                                      46



   Tubuh tulisan (body) Penutup (ending) yang biasanya mengacu pada

    lead, menimbulkan kenangan atau kengerian, menyimpulkan yang

    telah diceritakan, atau mengajukan pertanyaan tanpa jawaban.

       Lead, intro atau teras feature, berisi hal terpenting unuk menarik

perhatian pembaca pada suatu hal yang akan dijadikan sudut pandang

(angel) dimulainya penulisan (M. Romli, 2006: 25-26).

       Luwi Ishwara mengemukakan pendapatnya mengenai stuktur

tulisan pada feature, yang disebut sebagai Struktur organik dalam

bukunya yang berjudul Catatan-catatan Jurnalisme Dasar, bahwa:

        “Tidak seperti pada berita piramida terbalik yang geometri kaku,
       struktur feature adalah organik. Ada permulaan cerita,
       pertengahan serta penutup, dan semua bagian erat saling
       berhubungan. Ini berarti bahwa sebelum menulis feature, penulis
       harus memikirkan cerita itu secara keseluruhan. Dalam feature,
       pembuka, bentuk apapun yang yang akhirnya diambil, berasal
       dari pendekatan penulis pada seluruh cerita. Jadi sebelum
       membentuk paragrap pembuakaan, penulis harus melangkah
       mundur dari bahan (tulisan) dan berusaha menemukan suatu
       tema atau “sudut” yang akan menyatukan artikel dan
       membangkitkan minat membaca” (Ishwara, 2005: 138).

       Kebanyakan cerita feature berkembang dari informasi yang

penting karena perspektif yang lebih luas yang dibawanya pada berita

dan sinar yang dipancarkan pada pribadi-pribadi yang menarik. Pada

saat yang sama, feature biasanya tidak memiliki sensasi seperti pada

berita lugas. Akibatnya, penulis harus menggunkan pembuka yang akan

menarik dengan kuat pembaca ke dalam cerita. Tetapi dalam usahanya

ini, penulis feature, seperti rekan-rekannya penulis fiksi, juga

mempunyai opsi yang lebih luas untuk menyusunnya.
                                                                            47



               “Dikatakan diatas bahwa pengembangan feature lebih merupakan
               proses “organik” di mana topik-topik yang berhubungan
               dipersatukan, menjadikannya sesuatu yang koheren. Pada saat
               yang bersamaan penulis feature harus menjaga kontinuitas yang
               tinggi. Peralihan-peralihan mendadak yang kadang-kadang tidak
               terhindarkan dalam penulisan berita bisa menjadi kelemahan
               dalam feature, di mana produk akhir harus merupakan suatu
               keseluruhan tanpa kelim. Tapi kontinuitas demikian
               mengharuskan penulis menaruh perhatian seksama pada detail:
               pada keterampilan dari transisi yang halus, pada ritme dari
               kutipan langsung dan parafrasa, pada seleksi bahan-bahan
               anekdot, dan pada penggunaan yang efektif dari pengkhayalan
               __semua teknik yang umumnya berhubungan dengan
               keterampilan penulisan fiksi” (Ishwara, 2005: 139).

               Kemudian, tidak ada bagian dari sebuah feature yang begitu jelas

        membedakannya dengan berita piramida terbalik daripada penutupnya.

        Kebanyakan berita tidak mempunyai penutup yang fungsional tidak bisa

        dipendekkan dengan cara memotongnya dari bawah. Dalam feature,

        penutupan ini mempunyai peran ganda: untuk menyatakan kembali

        sudut cerita dengan cara yang akan meninggalkan kesan mendalam pada

        pembaca dan menyajikan cerita yang jelas dan indah (Ishwara, 2005:

        139-140).



2.5 Tinjauan Mengenai Rubrik

   2.5.1 Definisi Rubrik

               Onong Uchjana Effendy mengutarakan definisi mengenai rubrik

        dalam Kamus Komunikasi, bahwa “Rubrik berasal dari bahasa Belanda

        yaitu Rubriek, yang artinya ruangan pada halaman surat kabar, majalah

        atau media cetak lainnya mengenai suatu aspek atau kegiatan dalam
                                                                               48



     kehidupan masyarakat; misalnya rubrik wanita, rubrik olahraga, rubrik

     pendapat pembaca dan sebagainya“ (Effendy, 1989: 316).

            Sementara itu, dikutip dari Kamus Bahasa Indonesia yang

     disusun oleh WJS. Poerwadarminta dijelaskan, “Rubrik adalah kepala

     (ruangan) karangan dalam suratkabar, majalah, dan lain sebagainya”

     (WJ.S Peorwadarminta, 1996: 83).

            Seperti pada media massa lain, majalah Grey juga menyajikan

     rubrik. salah satunya yaitu “Topik Utama”, di mana “Topik Utama” ini

     merupakan berita utama disetiap edisinya.




2.5.2 Jenis-Jenis Rubrik

     Menurut Effendy, jenis-jenis rubrik adalah sebagai berikut:

     1. Rubrik informasi

          Perihal keluarga (pertunangan, perkawinan, kelahiran, kematian)

          Kesejahteraan (koperasi, fasilitas dari organisasi, kredit rumah)

          Pengumuman pimpinan organisasi

          Peraturan

          Surat keputusan

          Pergantian pemimpin

          Kepindahan pegawai

          Pertemuan (rapat kerja, penataran, konferensi, dll)

     2. Rubrik edukasi

          Tajuk rencana
                                                                           49



             Artikel (pengetahuan, keterampilan, keagamaan, dll)

             Kutipan pendapat tokoh (keahlian, kemasyarakatan, keagamaaan)

        3. Rubrik rekreasi

             Cerita pendek

             Anekdot

             Pojok atau sentilan

             Kisah minat insani (human interest)



2.6 Tinjauan Mengenai Semiotik

   2.6.1 Definisi Semiotik

               Semiotika sebagai suatu model dari ilmu pengetahuan sosial

        memahami dunia sebagai sistem hubungan yang memiliki unit dasar

        yang disebut dengan „tanda‟. Dengan demikian semiotika mempelajari

        hakikat tentang keberadaan tanda (Sobur, 2002: 87).

               Definisi semiotik dikemukakan oleh Preminger (2001: 89) dalam

        “Analisis Teks Media”, yang menyatakan :

               “Semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini menganggap
               bahwa fenomena sosial/masyarakat dan kebudayaan itu
               merupakan tanda-tanda. Semiotik itu mempelajari sistem-sistem,
               aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-
               tanda itu mempunyai arti” (Sobur, 2002: 96).


               Secara etimologis, istilah semiotik berasal dari kata Yunani,

        semeion yang berarti tanda. menurut Umberto Eco dalam buku “Analisis

        Teks Media”, yang ditulis Alex Sobur, “Tanda itu sendiri didefinisikan

        sebagai sesuatu yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun
                                                                      50



sebelumnya dapat dianggap mewakili sesuatu yang lain”. Sedangkan

secara terminologis, semiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu yang

mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa, seluruh

kebudayaan sebagai tanda. (Sobur, 2002: 95).


        Istilah semeion tampaknya diturunkan dari kedokteran hipokratik

atau asklepiadik dengan perhatiannya pada simtomatologi dan diagnostik

inferensial. Tanda pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang

menunjukkan pada adanya hal lain. Contohnya, asap menandakan

adanya api.

        Jika diterapkan pada tanda-tanda bahasa, maka huruf, kata,

kalimat, tidak memiliki arti pada dirinya sendiri. Tanda-tanda itu hanya

mengemban arti (significant) dalam kaitannya dengan pembacanya.

Pembaca itulah yang menghubungkan tanda dengan apa yang ditandakan

(signifie)    sesuai   dengan   konvensi   dalam   sistem   bahasa   yang

bersangkutan.

        Bahwa sistem penandaan memilik pengaruh besar, itu disadari

benar. Namun, menurut Paul Cobley dan Litza Jansz, munculnya studi

khusus tentang sistem penandaan benar-benar merupakan fenomena

modern. Tanda, dalam pandangan Pierce, adalah suatu yang hidup dan

dihidupi (cultivated). Ia hadir dalam proses interpretasi (semiosis) yang

mengalir.
                                                                           51



           Pada dasarnya, semiosis dapat dipandang sebagi suatu proses

    tanda yang dapat diperikan dalam istilah semiotika sebagai suatu

    hubungan antara lima istilah:

                                    Gambar 2.1
                             Hubungan Antara Lima Istilah


                                    S (s, i, e, r, c)

           S adalah untuk semiotic relation (hubungan semiotik); s untuk

    sign (tanda); i untuk interpreter (penafsir); e untuk effect atau pengaruh

    (misalnya, suatu diposisi i akan bereaksi dengan cara tertentu terhadap r

    pada kondisi-kondisi tertentu c karena s); r untuk reference (rujukan);

    dan c untuk context (konteks) atau conditions (kondisi), (Sobur, 2003:

    17).

           Begitulah, semiotika berusaha menjelaskan jalinan tanda atau

    ilmu tentang tanda; secara sistematik menjelaskan esensi, ciri-ciri, dan

    bentuk suatu tanda, serta proses signifikasi yang menyertainya.



2.6.2 Macam-macam Semiotik

           Terdapat sembilan macam semiotik yang dikenal sekarang,

    dikutip dari Pateda oleh Alex Sobur dalam buku “Analisis Teks Media”,

    kesembilan macam semiotik tersebut adalah:

    1) Semiotik Analitik, yakni semiotik yang menganalisis sistem tanda.
       Semiotik berobjekan tanda dan menganalisisnya menjadi ide, objek,
       dan makna. Ide dapat dikatakan sebagai lambang, sedangkan makna
       adalah beban yang terdapat dalam lambang yang mengacu pada
       objek tertentu.
                                                                        52



    2) Semiotik Deskriptif, yakni semiotik yang memperhatikan sistem
       tanda yang dapat kita alami sekarang, meskipun terdapat tanda lain
       yang sejak dahulu tetap seperti yang disaksikan sekarang.
    3) Semiotik Fauna (zoosemiotic), yakni semiotik yang khusus
       memperhatikan sistem tanda yang dihasilkan oleh hewan. Hewan
       biasanya menghasilkan tanda untuk berkomunikasi antar sesamanya,
       tetapi sering juga menghasilkan tanda yang ditafsirkan oleh manusia.
    4) Semiotik Kultural, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem
       tanda yang berlaku dalam kebudayaan masyarakat tertentu. Budaya
       yang terdapat dalam masyarakat yang juga termasuk sistem itu,
       menggunakan tanda-tanda tertentu yang membedakannya dengan
       masyarakat yang lain.
    5) Semiotik Naratif, yakni semiotik yang menelaah sistem tanda dalam
       narasi yang berwujud mitos dan berita lisan (folklore).
    6) Semiotik Natural, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda
       yang dihasilkan oleh alam.
    7) Semiotik Normatif, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem
       tanda yang dibuat oleh manusia yang berwujud norma-norma,
       misalnya rambu-rambu lalu-lintas.
    8) Semiotik Sosial, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem tanda
       yang dihasilkan oleh manusia lambang, baik lambang yang berwujud
       kata maupun lambang yang berwujud kata dalam satuan disebut
       kalimat.
    9) Semiotik Struktural, yakni semiotik yang khusus menelaah sistem
       tanda yang dimanifestasikan melalui struktur bahasa.”
       (Sobur, 2002: 100-101)



2.6.3 Tanda dan Makna

    a. Tanda

           Tanda terdapat dimana-mana: kata adalah tanda, demikian pula

    gerak isyarat, lampu lalu lintas, bendera, dan sebagainya. Karena itu

    jelas bahwa segala sesuatu dapat menjadi tanda.

           Tanda-tanda (signs) adalah basis dari seluruh komunikasi

           (Littlejohn, 1996: 64). Manusia dengan perantara tanda-tanda,

           dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya. Banyak hal

           yang bisa dikomunikasikan di dunia ini (Sobur, 2003: 15).
                                                                      53



         Semua model makna memiliki bentuk yang secara luas serupa

dan atau mirip. Masing-masing memperhatikan tiga unsur yang mesti

ada dalam setiap studi tentang makna. Ketiga unsur tersebut adalah: a)

tanda, b) acuan tanda, c) pengguna tanda.

         Tanda merupakan sesuatu yang bersifat fisik, bisa dipersepsi

indra kita; tanda mengacu pada sesuatu di luar tanda itu sendiri; dan

bergantung pada pengamatan oleh penggunanya sehingga bisa disebut

tanda.

         Menurut Pierce dalam buku “Semiotika Komunikasi” yang ditulis

Alex Sobur, mengatakan:

         “Sebuah analisis tentang esensi tanda mengarah pada pembuktian
         bahwa setiap tanda ditentukan oleh objeknya. Pertama, dengan
         mengikuti sifat objeknya, ketika kita menyebut tanda sebuah
         ikon. Kedua, menjadi kenyataan dan keberadaannya berkaitan
         dengan objek individual, ketika kita menyebut tanda sebuah
         indeks. Ketiga, kurang lebih, perkiraan yang pasti bahwa hal itu
         diinterpretasikan sebagai objek denotatif sebagai suatu akibat
         kebiasaan ketika kita menyebut tanda sebuah simbol” (Sobur,
         2003: 35).

b. Makna

         Selama 2000 tahun, kata Fisher (1986), konsep makna telah

memukau para filusuf dan sarjana-sarjan sosial. “Makna”, ujar Spradley

(1997), “menyampaikan pengalaman sebagian besar umat manusia di

semua masyarakat”. Tetapi, “apa makna dari makna itu sendiri?”

“Bagaimana kata-kata dan tingkah laku serta objek-objek menjadi

bermakna?” dan “Bagaimana kita menemukan makna dari berbagai hal
                                                                    54



itu?” Pertanyaan ini merupakan problem besar dalam filsafat bahasa dan

semantik general.

       Dalam     penjelasan   Umberto   Eco    (Budiman,    1997:   7),

mengatakan:

       “makna dari sebuah wahana tanda (sign-vechicle) adalah satuan
       kultural yang diperagakan oleh wahana-wahana tanda yang
       lainnya serta, dengan begitu, secara semantik mempertunjukkan
       pula ketidak tergantungannya pada wahana tanda yang
       sebelumnya” (Sobur, 2003: 255).

       Dalam pandangan Aminuddin (2003:7), makna dibagi menjadi

tiga tingkatan, yakni :

       1. Makna menjadi isi abstraksi dalam kegiatan bernalar secara
          logis sehingga membuahkan proposisi kebahasaan.
       2. Makna menjadi isi dari suatu bentuk kebahasaan.
       3. Makna menjadi isi komunikasi yang mampu membuahkan
          informasi tertentu.
          (Sumadiria, 2006: 26).


       Untuk membahas lingkup makna pada kata dan kalimat dalam

rubrik “Topik Utama”. Maka, peneliti akan meneliti makna yang

terkandung tersebut berdasarkan tiga jenis makna, yaitu makna leksikal,

denotatif , dan konotatif.

       Leksikal adalah bentuk ajektif yang diturunkan dari bentuk
       nominal leksikon (vokabuler, kosa kata, perbendaharaan kata).
       Satuan dari leksikon adalah leksem, yaitu satuan bentuk bahasa
       yang bermakna. Kalau leksikon kita samakan dengan kosakata
       atau perbendaharaan kata, maka leksem dapat kita persamakan
       dengan kata. Dengan demikian, makna leksikal dapat diartikan
       sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem, atau
       bersifat kata. Lalu, karena itu dapat pula dikatakan makna
       leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, makna
       yang sesuai dengan hasil observasi alat indera, atau makna yang
       sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Umpamanya kata
       tikus makna leksikalnya adalah sebangsa binatang pengerat yang
                                                                          55



            dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus (diakses dari
            http://lidahtinta.wordpress.com).


            Pembedaan makna Denotatif dan konotatif didasarkan pada ada

     atau tidak adanya “nilai rasa” (istilah dari Slametmulyana, 1964) pada

     sebuah kata. Setiap kata, terutama yang disebut kata penuh, mempunyai

     makna denotatif, tetapi tidak setiap kata itu mempunyai makna konotatif.

            Makna denotatif (sering juga disebut makna denotasional, makna
            konseptual, atau makna kongnitif karena dilihat dan sudut yang
            lain) pada dasarnya sama dengan makna referensial sebab makna
            denotatif ini lazim diberi penjelasan sebagai makna yang sesuai
            dengan hasil observasi menurut penglihatan, penciuman,
            pendengaran perasaan, atau pengalaman lainnya. Jadi, makna
            denotatif ini menyangkut informasi-inforrnasi faktual objektif.
            Lalu karena itu maka denotasi sering disebut sebagai “makna
            sebenamya” Umpamanya kata perempuan dan wanita kedua kata
            ini mempunyai makna denotasi yang sama, yaitu „manusia
            dewasa bukan laki-laki‟. begitu juga kata gadis dan perawan;
            kata istri dan bini. Kata gadis dan perawan memiliki makna
            denotasi yang sama, yaitu „wanita yang belum bersuami atau
            belum pernah bersetubuh‟; sedangkan kata istri dan bini memiliki
            makna denotasi yang sama, yaitu „wanita yang mempunyai
            suami‟ (diakses dari http://lidahtinta.wordpress.com).

            Sebuah kata disebut mempunyai makna konotatif apabila kata itu

            mempunyai “nilai rasa”, baik positif maupun negatif. Jika tidak

            memiliki nilai rasa maka dikatakan tidak memiliki konotasi.

            Tetapi dapat juga disebut berkonotasi netral (diakses dari

            http://lidahtinta.wordpress.com).



2.6.4 Teori Segitiga Makna (The Triangle Meaning Theory )

            Semiotik untuk studi media massa ternyata tidak hanya terbatas

     sebagai kerangka teori, namun sekaligus juga sebagai metode analisis.
                                                                      56



Kita misalnya dapat menjadikan teori segi tiga makna (triangle meaning)

Pierce yang terdiri dari sign (tanda), object (objek), dan interpretant

(interpretan).

        Dikutip dari Pierce dalam buku “Analisis Teks” karya Alex

Sobur, mengungkapkan:

        “Salah satu bentuk tanda adalah kata. Sedangkan objek adalah

        sesuatu yang dirujuk tanda. Sementara interpretan adalah tanda

        yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk

        sebuah tanda” (Sobur, 2002:115).


        Apabila ketiga elemen makna itu berinteraksi dalam benak

seseorang, maka muncullah makna tentang sesuatu yang diwakili oleh

tanda tersebut. Yang dikupas teori segitiga makna adalah persoalan

bagaimana makna muncul dari sebuah tanda ketika tanda itu digunakan

orang pada waktu berkomunikasi.

        Teori    segitiga   makna   atau   triangle   of   meaning   yang

dikemukakan Charles S. Pierce, yang terdiri dari sign (tanda), object

(objek), dan interpretant (interpretan).

a. Tanda, adalah suatu yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh

    panca indera manusia dan merupakan sesuatu yang merujuk

    (mempresentasikan) hal lain diluar tanda itu sendiri. Acuan tanda ini

    disebut objek.

b. Acuan Tanda (Objek), adalah konteks sosial yang menjadi referensi

    dari tanda atau suatu yang dirujuk tanda.
                                                                                   57



      c. Pengguna Tanda (Interpretant), konsep pemikiran dari orang yang

          menggunakan tanda dan menurunkannya ke suatu makna yang ada

          dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda.

                Hubungan segitiga makna Peirce dapat dilihat pada gambar di

      bawah ini (Fiske, 1990:41).

                                      Gambar 2.2

          Hubungan tanda, objek, dan interpretant (Triangle of Meaning)

                                            Sign




               Interpretant                                  Object



Sumber : John Fiske, Introduction to Communication Studies, 1990, hlm 41. (dalam
        Sobur, 2002:115)


              Gambar di atas menunjukkan panah dua arah yang menekankan

      bahwa masing-masing istilah dapat dipahami hanya dalam relasinya

      dengan yang lain. Sebuah sign (tanda) mengacu kepada sesuatu di luar

      dirinya sendiri - object (objek), dan ini dipahami oleh seseorang serta ini

      memiliki efek di benak penggunanya – interpretant (interpretan).

              Berdasarkan     teori    di    atas,   dapat   dilihat   bahwa   dalam

      penyampaian informasi melalui media massa dapat tercapai apabila
                                                                      58



anatara ketiga elemen yang terdiri dari sign (tanda), object (objek), dan

interpretant (interpretan) dapat dihubungkan dengan tepat.

       Berdasarkan objeknya, Pierce membagi tanda atas icon (ikon),

index (indeks), dan symbol (simbol). Ikon adalah tanda yang hubungan

antara penanda dan petandanya bersifat bersamaan bentuk alamiah.

Dengan kata lain ikon adalah hubungan antara tanda dan objek atau

acuan yang bersifat kemiripan, misalnya, potret dan peta. Indeks adalah

tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan

petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat, atau tanda

yang langsung mengacu pada kenyataan.

       Pierce juga mengatakan bahwa tanda itu sendiri merupakan

contoh dari Kepertamaan, objeknya adalah Kekeduaan, dan penafsirnya

sebagai unsur pengantara adalah contoh dari Keketigaan. Keketigaan

yang ada dalam konteks pembentukan tanda juga membangkitkan

semiotika yang tak terbatas, selama suatu penafsir (gagasan) yang

membaca tanda sebagai tanda bagi yang lain (yaitu sebagai wakil dari

suatu maknaau penanda) bias ditangkap oleh penafsir lainnya. Penafsir

ini adalah unsur yang harus ada untuk mengaitkan tanda dengan objenya

(induksi, deduksi, dan penangkapan hipotesis membentuk tiga jenis

penafsir yang penting). Agar bisa ada sebagai suatu tanda, maka tanda

tersebut harus ditafsirkan dan berarti harus memiliki penfsir (Sobur,

2003:41).

       Dalam teorinya Pierce membagi tanda dalam sepuluh jenis :
                                                                    59



1. Qualisign, yakni kualitas sejauh yang dimiliki tanda. Kata keras
   menunjukkan kualitas tanda. Misalnya, suaranya keras yang
   menandakan orang itu marah atau ada sesuatu yang diinginkan.
2. Icinic Sinsign, yakni tanda yang memperlihatkan kemiripan.
   Contoh :foto, diagram, peta, dan tanda baca.
3. Rhematic Indxical Sinsign, yakni tanda berdasarkan pengalaman
   langsung,     yang     secara    langsung      menarik     perhatian
   karenakehadirannya disebabkan oleh sesuatu. Contoh : pantai yang
   sering merenggut nyawa orang yang mandi di situ akan dipasang
   bendera bergambar tengkorak yang bermakna berbahaya, dilarang
   mandi di sini.
4. Dicent Sinsign, yakni tanda yang memberikan informasi tentang
   sesuatu. Misalnya, tanda larangan yang terdapat di pintu masuk
   sebuah kantor.
5. Iconic Legisign, yakni tanda yang menginformasikan norma tau
   hukum. Misalnya, rambu lalu lintas.
6. Rhematic Indexical legisign, yakni tanda yang mengacu kepada
   objek tertentu, misalnya kata ganti penunjuk. Seseorang bertanya,
   ”Mana buku itu?” dan dijawab, ”itu!”
7. Dicent Indexical Legisign, yakni tanda yang bermakna informasi dan
   menunjuk subjek informasi. Tanda berupa lampu merah yang
   berputar-putar di atas mobil ambulans menandakan ada orang sakit
   atau orang yang celaka yang tengah dilarikan ke rumah sakit.
8. Rhematic Symbol atau Symbolic Rheme, yakni tanda yang
   dihubungkan dengan objeknya melalui asosiasi ide umum. Misalnya,
   kita melihat gambar harimau. Lantas kita katakan, harimau. Mengana
   kita mengatakan demikian, karena ada asosiasi antara gambar dengan
   benda atau hewan yang kita lihat yang namanya harimau.
9. Dicent Symbol atau proposition (proposisi) adalah tanda yang
   langsung menghubungkan dengan objek melalui asosiasi dalam otak.
   Kalau seseorang berkata, ”Pergi!” penafsiran kita langsung
                                                                   60



   berasosiasi pada otak, dan sertamerta kita pergi. Padahal proposisi
   yang kita dengar hanya kata. Kata-kata yang kita gunakan yang
   membentuk kalimat, semuanya dalah proposisi yang mengandung
   makna yang berasosiasi di dalam otak. Otak secara otomatis dan
   cepat dapat menafsirkan proposisi itu, dan seseorang segera
   menetapkan pilihan atau sikap.
10. argument, yakni tanda yang merupakan iferens seseorang terhadap
   sesuatu berdasarkan alasan tertentu. Seseorang berkata, ”Gelap.”
   orang itu berkata gelab sebab ia menilai ruang itu cocok dikatakan
   gelap. Dengan demikian argumen merupakan tanda yang berisi
   penilaian atau alasan, mengapa seseorang berkata begitu. Tentu saja
   penilaian tersebut mengandung kebenaran (Sobur, 2003:42-43).

								
To top