Embed
Email

PIDATO

Document Sample
PIDATO
Shared by: HC11111721233
Categories
Tags
Stats
views:
330
posted:
11/17/2011
language:
Indonesian
pages:
9
PIDATO

PUCUK PIMPINAN FATAYAT NU

DALAM RANGKA HARLAH FATAYAT NU KE-57

24 April 1950 - 24 April 2007





"SELAMATKAN IBU DAN ANAK DARI KEMATIAN

DENGAN POLA HIDUP BERKUALITAS "





Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.,

Bismillahirrahmanirrahim.





Hamdan wa syukran lillah, mari kita panjatkan syukur ke haribaan Allah swt. atas nikmat,

rahmat dan karunia-Nya sehingga kita masih diberi kekuatan lahir-bathin sehingga kita

masih tetap konsisten dalam memperjuangkan terbangunnya kesadaran kritis perempuan

untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender. Shalawatullah wa salamuhu daimina

wa mutalazimina alaihi. Salam kita sampaikan dalam keabadian kepada Nabi Muhammad

saw. sosok teladan, manusia paripurna, dan penuntun umat menuju kemuliaan dan

keberadaban hidup .





Sahabat-sahabat Fatayat NU di seluruh Indonesia,

Tak terasa umur Fatayat NU kini sudah 57 tahun, tepatnya 24 April 2007. Dalam

kesempatan yang baik ini kita patuta berterima kasih kepada para pendiri, pendahulu, dan

para senior Fatayat NU yang telah memberikan kita keteladanan dan pemahaman skill

organisasi hingga hari ini kita dapat saksikan bahwa apa yang mereka lakukan telah

membuahkan barokah bagi warga Fatayat, NU dan Bangsa Indonesia. Maka dari itu kita

seharusnya terus mengenang jasa-jasa mereka, semoga apa yang telah mereka perbuat untuk

Fatayat NU tercatat sebagai amal kebaikan dan ibadah yang diterima oleh Allah swt.





Begitu juga, kepada para pendiri NU dan para Ulama NU, dimana Fatayat merupakan bagian

yang tak terpisahkan dari keluarga besar NU. Semoga perjuangan mereka juga mendapatkan

balasan dari Allah swt. dan semoga kita mampu menjaga (muhafadzah) dan

mengembangkan ('iqamah) apa yang telah mereka wariskan bagi tegaknya Islam

ahlussunnah wal jama'ah di bumi Indonesia maupun di seluruh penjuru dunia. Alaa

hadzihinniyyah alfatihah





Sangatlah tepat bilamana dalam kesempatan bersejarah ini kita kembali mamancangkan

berkomitmen untuk menata dan mengelola organisasi Fatayat NU lebih baik dan profesional.



1

Tentu banyak sekali pengalaman yang kita rajut bersama. Goresan-goresan sejarah pada

masa lampau kita jadikan pelecut semangat kita, dan tak lupa kita sama-sama melakukan

koreksi dan perbaikan dengan tekad hari depan harus lebih baik dan lebih baik lagi.





Sahabat-sahabat Fatayat NU di seluruh Indonesia,

Salah satu masalah sosial yang dihadapi Indonesia saat ini selain berbagai macam fenomena

sosial yang 'buruk' (baik yang diakibatkan oleh faktor alam maupun keteledoran manusia),

yang tak kalah penting adalah persoalan rendahnya gizi masyarakat. Hal ini mudah dilihat,

misalnya dari berbagai masalah gizi, seperti kurang gizi, anemia, gangguan akibat

kekurangan yodium, dan kurang vitamin A. Rendahnya gizi jelas berdampak pada kualitas

sumber daya manusia. Karena gizi sangat memengaruhi kecerdasan, daya tahan tubuh

terhadap penyakit, kematian bayi, kematian ibu, dan produktivitas kerja.





Program perbaikan gizi saat ini diarahkan ke beberapa sasaran. Pertama, menurunkan

revalensi gizi kurang pada anak balita menjadi 20 persen. Kedua, menurunkan prevalensi

gangguan akibat kurang yodium (GAKY) pada anak menjadi kurang dari 5 persen. Ketiga,

menurunkan anemia pada ibu hamil menjadi 40 persen. Keempat, tidak ditemukannya

kekurangan vitamin A (KVA) klinis pada anak balita dan ibu hamil. Kelima, meningkatkan

jumlah rumah tangga yang mengonsumsi garam beryodium menjadi 90 persen. Keenam,

tercapainya konsumsi gizi seimbang dengan rata-rata konsumsi energi sebesar 2.200 kkal

per kapita per hari dan protein 50 gram per kapita per hari. Yang menarik, data Survei

Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001-2004. Dengan menggunakan acuan BB/U (berat

badan menurut umur), SKRT 2001 menemukan prevalensi gizi kurang sebesar 22,5 persen

dan gizi buruk 8,5 persen. Adapun data Susenas menunjukkan prevalensi gizi kurang 19,8

persen dan gizi buruk 6,3 persen.





Survei tahun 2003 menunjukkan, prevalensi ini sedikit meningkat menjadi 11,1 persen.

Usaha-usaha menurunkan prevalensi GAKY mungkin dapat dikatakan sudah on the right

track. Rumah tangga yang mengonsumsi garam beryodium secara cukup, hingga tahun 2003

adalah 73.2 persen. Sementara prevalensi anemia gizi besi (AGB) pada ibu hamil turun dari

50,9 persen (1995) menjadi 40,1 persen (2001). Dengan sasaran yang ingin dicapai 40

persen, maka pencapaian target adalah sebesar 99,75 persen. Intervensi yang dilakukan saat

ini masih berkisar pada suplementasi atau pemberian tablet besi. Strategi lain masih belum

dioptimalkan seperti fortifikasi besi pada makanan serta penyuluhan.





Angka kematian bayi terkait erat status gizi anak. anak-anak penderita gizi kurang,

umumnya memiliki kekebalan tubuh yang rendah dan hal ini menjadikan dirinya rawan



2

terhadap infeksi yang dapat menyebabkan kematian. Penyakit infeksi yang senantiasa

mengintai bayi adalah diare dan infeksi saluran pernapasan. Dalam hal Angka kematian bayi,

Indonesia (31/1.000 kelahiran) hanya lebih baik dibandingkan dengan Kamboja (97/1.000)

dan Laos (82/1.000). Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, kita masih tertinggal.

Singapura dan Malaysia memiliki Angka kematian bayi amat rendah, masing-masing 3 dan 7

per 1.000 kelahiran. Ini menunjukkan besarnya perhatian negara itu terhadap masalah gizi

dan kesehatan yang dihadapi anak – anak.





Berdasar Susenas tahun 2005, konsumsi kalori rata-rata penduduk 1.985 kkal dan 54,4 gram

protein. Meski angka ini mendekati sasaran yang ditetapkan pemerintah, namun

ketidakseimbangan di beberapa wilayah masih terjadi karena banyak penduduk

mengonsumsi kurang dari 70 persen dari kecukupan gizi yang dianjurkan. Ini

mengindikasikan, isu ketahanan pangan masih perlu diwaspadai. Pada tahun 1997, WHO

Expert Consultation on Obesity memperingatkan tentang meningkatnya masalah

kegemukan dan obesitas di berbagai belahan dunia. Jika tidak ada tindakan untuk mengatasi

masalah pandemik ini, jutaan manusia di negara maju maupun berkembang akan

menghadapi risiko noncommunicable diseases (NCDs) seperti penyakit jantung koroner,

hipertensi, dan stroke. (KOMPAS Sabtu, 18 Februari 2006).





Sahabat-sahabat Fatayat NU di seluruh Indonesia,

Dana Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak (UNICEF) dalam Laporannya tentang Situasi

Anak Dunia tahun 2007 yang bertema "Women and Children: The Double Devidend of

Gender Equality" menyerukan kesetaraan jender sebagai agenda penting abad ini. Relasi

kuasa yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan tidak memungkinkan terciptanya

dunia yang adil, toleran, dan tanggung jawab yang diemban bersama secara seimbang - suatu

dunia yang layak untuk anak. Ini menegaskan bahwa kesetaraan relasi kuasa antara dua

jenis kelamin yang dikonstruksikan secara sosial (jender) itu tak hanya merupakan hak

moral, tetapi juga landasan sangat penting bagi kemajuan manusia dan keberlanjutan

pembangunan dalam arti luas.





Sebab praktik diskriminasi terhadap perempuan dan anak perempuan terus berlanjut di

semua kawasan di dunia, meskipun Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi

terhadap Perempuan (CEDAW) telah diadopsi Sidang Umum PBB 27 tahun lalu, dan

diratifikasi oleh 184 negara, termasuk Indonesia. Konvensi Hak anak diadopsi 10 tahun

kemudian dan diratifikasi oleh 192 negara. Bentuk diskriminasi tersamar juga tak kurang

bahayanya dan tradisi budaya ternyata bisa mendorong pengasingan sosial dan diskriminasi

dari generasi ke generasi. Stereotiping jender memang diterima luas namun kenyataan masih



3

belum berubah. Diskriminasi terhadap perempuan terjadi dari masa kehidupan paling dini.

Negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia seperti China dan India diduga

melakukan banyak praktik foeticide (pembunuhan janin muda berkelamin perempuan) dan

infanticide (pembunuhan bayi perempuan di bawah satu tahun).





Diskriminasi berlanjut pada masa kanak-kanak. Laporan UNICEF menyebut satu dari lima

anak perempuan di negara berkembang tidak menyelesaikan pendidikan dasarnya. Hanya 43

persen anak perempuan mengenyam pendidikan menengah. Padahal pendidikan menengah

secara efektif menunda usia melahirkan pertama, memperkuat posisi tawar perempuan

dalam rumah tangga, serta memberi kesempatan partisipasi politik dan ekonomi.

Diskriminasi di usia remaja memperbesar peluang eksploitasi dan kekerasan seksual. Juga

menyebabkan minimnya pengetahuan penting tentang kesehatan reproduksi dan seksual,

termasuk HIV/AIDS. UNICEF memperkirakan pada tahun 2005 lebih dari dua juta anak di

bawah usia 14 tahun hidup dengan HIV karena tertular melalui air susu ibu.





Praktik pemotongan alat kelamin masih banyak dilakukan dengan alasan budaya.

Diperkirakan 130 juta perempuan dan anak perempuan di Afrika Utara dan di beberapa

bagian Asia Tenggara mengalaminya. Perkawinan usia dini dan melahirkan usia muda

banyak berdampak pada perceraian dan jebakan jaringan kriminal perdagangan orang.

Diperkirakan 1,8 juta anak perempuan di dunia dilacurkan pada usia di bawah 18 tahun. Di

Indonesia, sekitar 30 persen dari perempuan yang dilacurkan berusia di bawah 18 tahun.

Diperkirakan 40.000-70.000 anakmenjadi korban eksploitasi seksual dan sekitar 100.000

anak diperdagangkan setiap tahun. Diskriminasi menyebabkan tingginya angka kematian

Ibu melahirkan (AKI). Data UNICEF meyebutkan setiap tahun lebih dari 500 juta

perempuan di dunia meninggal akibat komplikasi kehamilan. Pada usia tua, perempuan

menghadapi diskriminasi ganda atas dasar jender dan usia.





Laporan UNICEF 2007 ini seperti menegaskan kembali apa yang menjadi perhatian

Konferensi Dunia IV Perempuan dan Pembangunan di Beijing tahun 1995, mengenai

perempuan sebagai agen perubahan. Kesetaraan jender akan menghasilkan "deviden" di

masa depan. Perempuan yang sehat, berpendidikan, dan berdaya akan memiliki anak - anak

perempuan dan laki-laki yang sehat, berpendidikan, dan percaya diri. Pengaruh perempuan

yang besar dalam rumah tangga, menurut laporan itu, telah memperlihatkan dampak yang

positif pada gizi, perawatan kesehatan, dan pendidikan anak - anak mereka.





Laporan itu tampaknya menggarisbawahi upaya mendorong kesetaraan jender dan

pemberdayaan perempuan. Antara lain melalui pendidikan, pendanaan, legislasi, kuota di



4

parlemen, mengikutsertakan laki-laki dan anak laki-laki dalam upaya mencapai kesetaraan

jender, memberdayakan perempuan, serta meningkatkan riset dan data, terutama mengenai

AKI, kekerasan terhadap perempuan, pendidikan, lapangan kerja, gaji, jam kerja, dan waktu

yang tidak dibayar, serta partisipasi dalam politik. Pandangan itu mengingatkan pada

analisis feminis kulit hitam bell hooks mengenai ehumanisasi sistematis yang melibatkan

persoalan kelas, ras, dan etnisitas. Mereka yang paling ditindas dan didiskriminasi dalam

berbagai sistem dan struktur sosial adalah anak perempuan dari kelompok termiskin, dari

ras, etnis, dan agama minoritas. Diskriminasi pada pendidikan yang lebih tinggi melibatkan

berbagai faktor, bukan hanya jender. Tingginya tingkat pendidikan perempuan juga tidak

begitu saja mendongkrak posisi tawarnya di dalam rumah tangga.





Sedangkan Kepala Perwakilan UNICEF Indonesia Dr. Gianfranco Rotigliano

mengingatkan, sekitar 20.000 perempuan Indonesia meninggal setiap tahun akibat

komplikasi kehamilan. Untuk mencapai Tujuan Pembangunan Milenium, AKI yang 307 per

100.000 kelahiran hidup (tertinggi di ASEAN) harus dikurangi sampai 75 persen. Upaya

penurunan AKI akan menunjukkan komitmen terhadap perbaikan kesetaraan jender di

Indonesia. Ia juga mengingatkan pentingnya meningkatkan alokasi dana di bidang

kesehatan, khususnya kesehatan reproduksi dan pendidikan. Dua hal itu merupakan faktor

penting untuk mencapai kemajuan pembangunan manusia.





Selain itu, praktik aborsi juga menyumbangkan angka kematian yang cukup signifikan.

Menurut Maria Ulfah Anshor di Indonesia angka aborsi mencapai 750.000-1,5 juta kasus,

sementara penelitian lain menyebutkan angkanya mencapai 2,3 juta kasus. Sebagian besar

aborsi itu sudah pasti dilakukan dengan tidak aman melalui dukun atau tenaga yang tidak

terlatih sebab aborsi secara hukum dilarang. Akibatnya, aborsi tidak aman ini menyumbang

angka kematian ibu. Yang diperlukan adalah sikap dari ulama dan akademisi tentang

tingginya angka aborsi tidak aman dan untuk mengurangi angka kematian ibu akibat

tindakan tersebut diperlukan undang-undang. Saat ini kita tidak melihat realitas lapangan,

misalnya berapa banyak orang membunuh bayi yang tidak diinginkan, atau melakukan

aborsi tidak aman yang menyumbang sampai 50 persen pada kematian ibu melahirkan. Saat

ini angka kematian ibu melahirkan di indonesia adalah 307 kematian per 100.000 kelahiran

hidup.





Sahabat-sahabat Fatayat NU di seluruh Indonesia,

Perempuan memang lebih identik dengan keindahan. Kaum pria mengagumi banyak hal

tentang perempuan. Namun di balik keindahan itu, banyak beban dan derita yang dialami

kaum perempuan, bekerja rangkap: mengurus rumah tangga, bekerja di luar rumah untuk



5

menopang ekonomi keluarga, dan aktivitas lain yang bisa menguras tenaga dan pikirannya.

Tidak heran jika tingkat kesehatan perempuan Indonesia disinyalir masih sangat rendah.

Emosi, tekanan fisik dan mental lantaran kondisi ekonomi keluarga yang buruk semakin

membuat kaum perempuan menjadi gampang terserang stress dan depresi. Perempuan pun

lebih mudah sedih dan kehilangan sesuatu yang dicintainya ketimbang pria. Semakin besar

ikatan emosi perempuan terhadap sesuatu, semakin besar kecenderungannya mengalami

depresi.





Kaum perempuan juga disinyalir banyak yang menderita anemia (kekurangan darah). Ada

sinyalemen yang menyatakan bahwa kemungkinan sekitar 60 persen perempuan usia

perempuan produktif di Indonesia mengidap penyakit anemia. Pernyataan itu memang tidak

terlalu mengherankan. Karena di dunia menurut beberapa hasil penelitian, 1 di antara 6

orang mengalami anemia. Selain konsumsi makanan yang tidak cukup, kondisi anemia juga

diperburuk oleh kehamilan berulang dalam waktu singkat. Cadangan gizi yang belum pulih

akhirnya terkuras untuk keperluan janin yang dikandung berikutnya. Itulah sebabnya,

pengaturan jarak kehamilan menjadi penting untuk diperhatikan sehingga ibu siap hamil

kembali tanpa harus menguras cadangan gizi. Kalau diamati pola makan pada kelompok

masyarakat tertentu, anak perempuan lebih sdikit mendapat jatah makannya ketimbang

anak laki-laki. Atau terkadang anak perempuan memang lebih sedikit makannya. Perempuan

boleh dibilang “kurang rakus”. Akibatnya wajar kalu anak perempuan kekurangan nutrisi,

sehingga mereka kekurangan energi dan mengalami anemia.





Demikian juga dalam soal pendidikan. Sebagian besar masyarakat hingga kini masih

“membatasi” anak perempuan dalam mengenyam pendidikan. Sehingga kesadaran dan

pengetahuan anak perempuan terhadap kesehatan menjadi lebih minim ketimbang anak

laki-laki. Itulah yang menyebabkan kalau kemampuan perempuan untuk hidup sehat

menjadi rendah. Namun pada sisi lain, dalam kehidupan keluarga banyak perempuan

dituntut bekerja ekstra. Selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga, perempuan harus pula

melakukan pekerjaan yang sifatnya menopang ekonomi keluarga, sehingga mereka

menghadapi beban ganda (double burden), baik lantaran terpaksa atau karena memang

sudah merupakan “kesenangan” perempuan itu sendiri.





Belum lagi soal pencegahan atau perlindungan kaum perempuan terhadap penyakit

HIV/AIDS. Posisi perempuan lebih rentan, lantaran mereka umumnya tak mampu

mengontrol dan menuntut “hubungan” sehat. Misalnya meminta lelaki (suami) memakai

kondom. Karena itulah sekitar 5 % perempuan yang memeriksakan diri ke klinik disinyalir

terjangkit penyakit menular seperti HIV/AIDS. Dan HIV/AIDS sepertinya lebih akrab



6

dengan perempuan. Perempuan memang menyandang sejumlah keindahan. Tapi di balik

keindahan tersebut, tersimpan “nasib” yang masih kurang menguntungkan bagi perempuan

Indonesia. (Deni Irawan, Community Empowerment for Rural Development,

www.cerd.or.id)





Sahabat-sahabat Fatayat NU di seluruh Indonesia,

Merespon berbagai macam fenomena tersebut, Pucuk Pimpinan Fatayat NU telah

menjalankan beberapa program kerja yang bertautan dengan upaya meningkatkan kualitas

hidup perempuan terutama Ibu dan anak, antara lain:

1. Program Bina Balita. Program bina Balita ini sudah running sejak tahun 1986.



Dimana Fatayat NU telah mengembangkan Program Bina Balita di 16 propinsi

dengan jumlah Supervisor 598 orang, Motivator 6300 orang dan kelompok binaan

6471 unit.





2. Program pengasuhan dan pendidikan anak usia dini (Daycare). Program ini

bertujuan untuk mewujudkan suatu model pendidikan anak usia dini yang dapat

membentuk generasi masa depan yang memiliki karakter kuat dan mandiri dalam

membangun bangsa dan negara Indonesia. Program meliputi beberapa kegiatan antara

lain; Survey dan studi banding, workshop, training, pengawasan dan evaluasi, dan

penyusunan buku pedoman pengelolaan pendidikan dan pengasuhan anak. Program ini

sudah running sejak 2006 hingga kini.





3. Pusat Informasi Kesehatan Reproduksi (PIKER. Pada periode 2000-2005



Fatayat NU telah mendirikan Pusat Informasi Kesehatan Reproduksi (PIKER) dan

Lembaga Konsultasi dan Pemberdayaan Perempuan (LKP2) di 11 Propinsi.

Program ini bertujuan untuk memberikan pemahaman akan pentingnya hak kesehatan

reproduksi perempuan bagi masyarakat khususnya para penceramah agama (Islam),

mahasiswa, pelajar/santri agar mereka mampu memberikan pemahaman mengenai hak

dan kesehatan reproduksi secara tepat dan proporsional serta mampu menyampaikan

wacana alternatif pemahaman agama yang melindungi hak dan kesehatan reproduksi

perempuan kepada jama’ahnya masing-masing. Dan juga untuk memberikan informasi

akan kewajiban negara dalam memberikan jaminan perlindungan hak dan Kesehatan

reproduksi Perempuan. Program ini atas kerjasama dengan Ford Foundation untuk

selama 4 tahun sejak 2005.









7

4. Pendidikan Kesehatan Reproduksi Untuk Remaja. Program ini sama dengan

program kespro Fatayat NU yang lain, tetapi lebih dikhususkan bagi kalangan remaja.

Program ini terakhir kali di selenggarakan di daerah Jawa Barat fokus di daerah

Indramayu sebagai Pilot Project. Program ini memiliki tujuan untuk memberikan

pemahaman akan pentingnya hak kesehatan reproduksi bagi masyarakat khususnya para

pemuda/remaja, mahasiswa, pelajar/santri agar mereka mampu memahami hak dan

kesehatan reproduksi secara tepat dan proporsional serta mempuanyai pemahaman

agama alternatif untuk melindungi hak dan kesehatan reproduksi yang dimilikinya. Dan

juga untuk memberikan informasi akan kewajiban negara dalam memberikan jaminan

perlindungan hak dan Kesehatan reproduksi Perempuan. Program ini atas kerjasama

dengan UNFPA.





5. Pendidikan Kesehatan Reproduksi Untuk Calon Pengantin. Program ini

bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia melalui upaya peningkatan

kesehatan reproduksi dan pemenuhan hak-hak kesehatan reproduksi. Dari program ini

diharapkan tersusunnya draf materi buku panduan pendidikan kesehatan reproduksi

bagi calon pengantin dan terumuskannya rencana program pendidikan kesehatan

reproduksi bagi calon pengantin. Adapun materi yang dikembangkan dalam program ini

berkisar kesehatan reproduksi yang meliputi: hak-hak kespro, organ kespro, menstruasi,

gizi, seksualitas, suntik TT, KB, kehamilan : 3T, 4T, Kehamilan yang Tidak Dinginkan,

Aborsi, persalinan, menyusui dan IMS & HIV/AIDS. Program ini kerjasama dengan

UNFPA.





6. Penerbitan, Launching Buku Fikih Aborsi, Workshop dan TOT Kesehatan

Reproduksi di 8 Wilayah. Program ini bertujuan untuk mensosialisasikan

pengetahuan dan informasi kepada masyarakat mengenai Hak kesehatan Reproduksi

Perempuan yang benar, agar perempuan mampu memutuskan masalah-masalah

kesehatan reproduksi yang dihadapinya dan dapat melangsungkan kehidupannya secara

mandiri, meningkatkan Pengetahuan dan Kesadaran tentang Jaminan dan Perlindungan

Hak dan Kesehatan Reproduksi perempuan, dan meningkatkan Pengetahuan akan

pemahaman agama yang melindungi Hak dan Kesehatan Reproduksi Perempuan.

Program ini kerjasama dengan Ford Foundation dalam jangka 4 tahun sejak 2006.





7. Program anti-trafiking di 3 kabupaten se Jawa Timur. Program ini berujuan

untuk Menumbuhkan rasa soliditas motivator di lingkungan masyarakat untuk mencegah

sedini mungkin jika menemukan indicator trafficking di lingkungannya masing-masing,

juga sebagai media koordinasi dan tukar pengalaman tentang sosialisasi pencegahan



8

trafiking yang dilakukan para motivator di daerahnya masing-masing, untuk mengetahui

hambatan dan kendala (evaluasi) yang dihadapi motivator ketika melakukan sosialisasi

pencegahan trafiking, untuk membuat rumusan bersama model pencegahan dan

sosialisasi yang terbaik berdasarkan pengalaman motivator di lapangan. Program ini

diharapkan dapat menghasilkan terbentuknya motivator waspada trafficking di Jawa

timur yang mempunyai soliditas tinggi untuk melakukan pencegahan dan penghapusan

trafiking di lingkungannya masing-masing, terumuskannya metode pencegahan dan

sosialisasi berdasarkan pengalaman motivator yang digunakan untuk pelaksanaan

sosialisasi selanjutnya, dan rencana aksi bersama dalam pencegahan dan perlindungan

korban trafiking. Program ini terlaksana selama 6 bulan tahun 2006.



Sekian sambutan atas nama ketua umum Pucuk Pimpinan Fatayat NU dan sekali lagi kami

ucapkan Selamat Ulang Tahun Ke- 57 Fatayatku... Merdeka!









9


Related docs
Other docs by HC11111721233
Constitution and Bylaws
Views: 1  |  Downloads: 0
Aspek Hukum - MONEVIN
Views: 2  |  Downloads: 0
Sheet1 - The City of Tulsa Online
Views: 0  |  Downloads: 0
Jack-Arild Andersen
Views: 0  |  Downloads: 0
Presentaci�n de PowerPoint
Views: 3  |  Downloads: 0
????1
Views: 94  |  Downloads: 0
tatakelakuan
Views: 1  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!