Embed
Email

AKSELERASI PELAYANAN KESEHATAN PERAN PENELITIAN KESEHATAN

Document Sample
AKSELERASI PELAYANAN KESEHATAN PERAN PENELITIAN KESEHATAN
Shared by: HC111117173435
Categories
Tags
Stats
views:
51
posted:
11/17/2011
language:
Indonesian
pages:
32
AKSELERASI PELAYANAN

KESEHATAN



PERAN PENELITIAN KESEHATAN





BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

KESEHATAN

Pertemuan Perencanaan Kesehatan

Nasional, JCC, 20 September 2006

Hasil Penelitian dan Pengembangan

2005-2006 Sebagai Masukan Untuk

Akselerasi Pelayanan Kesehatan





Hasil LitBang ~ program prioritas DepKes:

A. Program AsKesKin

B. Percepatan penurunan AKI dan AKB

C. Penanggulangan Penyakit

A. Program AsKesKin

Studi ”PELAKSANAAN JAMINAN KESEHATAN

MASYARAKAT MISKIN (ASKESKIN) DALAM

RANGKA IMPLEMENTASI JAMINAN KES - SJSN”

2005-2006



 Dilakukan oleh 4 Universitas (UI, UGM, UNAIR,

UNHAS) dan PusLitBang Sistem & Kebijakan di

SumBar, Banten, JaBar, JaTeng, JaTim,, Bali,

NTB, NTT, SulSel, SulUt, Maluku, KalTim, KalSel

 Temuan: telah terjadi perbaikan kuantitas dan

kualitas pelayanan AsKesKin secara menyeluruh

dan bermakna

Untuk lebih meningkatkan pelaksanaan program

AsKesKin, telah direkomendasikan hal-hal berikut:



 Optimalisasi kualitas dan strategi kegiatan

sosialisasi, perlu dilakukan secara lebih

sistimatis dan berkesinambungan dengan

penyediaan biaya yang memadai; serta

melibatkan seluruh ’stakeholder’ terkait

 Sosialisasi mengenai tata cara

penyelenggaraan program (prosedur,

penggunaan pelayanan dan penyelesaian

administrasi/keuangan) perlu diintensifkan

kepada Petugas Kesehatan dan

Auditor/Aparat pengawas fungsional

 Sosialisasi program AsKesKin kepada

peserta dan stakeholder masih perlu

ditingkatkan

 Perlu penataan ulang kriteria keluarga

miskin dengan memasukkan kriteria

spesifik daerah

 Kegiatan validasi peserta AsKesKin

perlu dilakukan secara periodik setiap

tahun, untuk mendapatkan data

peserta yang akurat & dinamis.

 Akselerasi penyusunan dan

pemberlakuan Standar Pelayanan Medis

(berikut kompetensinya) yang berlaku

secara nasional

 Peningkatan kontribusi Pemerintah

Daerah Provinsi, Kabupaten/Kota untuk

Jaminan Kesehatan Keluarga Miskin

agar tetap dilakukan

 Diperlukan penataan pola tarip

pelayanan Puskesmas dan RSUD

 Advokasi kepada PEMDA untuk

peningkatan penyediaan fasilitas

pelayanan AsKesKin

 Perlu dikembangkan monitoring dan

evaluasi program AsKesKin secara

berkala melalui:

–Studi-studi khusus tentang kepuasan

pelanggan, kendali mutu, kendali

biaya, dan paket manfaat yang

dijamin

B. Percepatan Penurunan AKI & AKB

1. Studi kematian neonatal di Kab.

Cirebon (2006)

 Proporsi lahir mati: 48% kematian perinatal

 Proporsi kematian neonatal dini (0-7 hari):

80% (<1 hari:39% & 1 hari: 9%)

 Pola penyakit penyebab kematian Neonatal

Dini:

– Gangguan pernapasan (50%): Asfiksia bayi

baru lahir (P21) 38%; Respiratory Distress

Syndrome neonatus (P22) 4%; Sindroma

aspirasi neonatal (P24) 8%

– Hipotermia: 21%

– Infeksi perinatal: 11%

– Kelainan kongenital: 7%

 Pola penyakit penyebab kematian

Neonatal Lanjut (7-30hari):



– Perdarahan intra-kranial & ikterus

neonatal: 27%

– Infeksi perinatal: 19%

– BBLR: 19%

– Prematuritas: 19%

– Gangguan sistem digestif (obstruksi

usus): 12%

Kontribusi faktor ibu terhadap

kematian neonatal dini

 90% kasus (101 dari 112 kasus) mempunyai

faktor ibu

 Jenis:

– Gangguan gizi ibu: 17%

– KPD: 16,1%

– Partus macet: 9.8%

– Kelahiran lintang: 8 %

– Gemelli: 7,1 %

– Perdarahan ante-partum: 6,3 %

– Hipertensi Ibu: 5,4 %

Kematian Maternal (12 kasus)

 Pre-eklamsia berat/eklamsia: 50%

 Perdarahan post partum: 42%

 Emboli paru: 8 %





INTERVENSI yang dilakukan

DinKes Kab. Cirebon:

• Pelatihan manajemen asfiksia neonatal untuk bidan desa,

dengan menggunakan alat resusitasi tepat guna

(dikembangkan oleh Prof. Dr. Anna Alisyahbana)

• Mobilisasi masyarakat

• Supervisi bidan desa oleh Puskesmas

Temuan



 Kasus rujukan kedaruratan BuMil risiko

tinggi dan neonatal risiko tinggi masih

melalui UGD-RS; sebaiknya langsung ke

Bagian Kebidanan & Perinatologi

 Masih kurangnya ketrampilan petugas &

kesiapan UGD-RS dalam menangani asfiksia

neonatal

 Hambatan finansial dan transportasi

Dampak setelah 12 bulan

intervensi:



 Kematian neonatal menurun dari: 15/1000

KH menjadi 9/1000 KH

 Kematian perinatal menurun dari 21/1000

KH menjadi 15/1000

 Kematian neonatal karena asfiksia menurun

dari 5,1/1000 KH menjadi 2,7/1000 KH

 Kematian neonatal karena infeksi menurun

dari 2,8/1000 KH menjadi 1/1000 KH

Rekomendasi



 Peningkatan kesiapan RS dalam

menangani kasus rujukan kedaruratan

BuMil & neonatal risiko tinggi

 Mempercepat penggunaan alat

resusitasi bayi tepat guna (telah teruji)

oleh bidan desa

 Mengidentifikasi & menurunkan faktor

risiko dari Ibu hamil

2. Kajian Upaya Kesehatan

Reproduksi untuk Percepatan

Penurunan AKI – AKB (2006)

Beberapa Program Inovatif untuk

mempercepat penurunan AKI dan AKB

yang pernah dilaksanakan



1. Tahun 1994 sd sekarang:Gerakan Sayang Ibu /GSI (Depkes-

Depdagri)

2. Tahun 1994 sd sekarang: Buku KIA (JICA)

3. Tahun 1996 sd sekarang: Kangoro Mother Care /KMC

(PERINASIA)

4. Tahun 1998-2004: Safe Motherhood:Partnership Family

Approach (World Bank)

5. Tahun 2000-2003: Awal Sehat untuk Hidup Sehat /ASUH

(PATH-USAID)

6. Tahun 2002-Juni 2006:Women Health and Family Welfare

(AusAid)

7. Tahun 2004 sd sekarang :Pusat Informasi dan Konseling

Kesehatan Reproduksi Remaja /PIK-KRR (BKKBN)

10 MASALAH PRIORITAS UNTUK

PENINGKATAN KELANGSUNGAN PROGRAM

1. KURANGNYA KERJASAMA LINTAS PROGRAM

2. BELUM ADA KOMITMEN ALOKASI DANA PASCA PROYEK

3. TERLAMBAT PENANGANAN RUJUKAN DI RS

4. BELUM ADA ”PAYUNG HUKUM” UNTUK PELAKSAAN PONED

5. ASI EKSKLUSIF 6 BULAN SULIT DILAKUKAN

6. KURANGNYA KERJASAMA LINTAS SEKTOR DAN LSM

7. FASILITATOR MASYARAKAT BELUM OPTIMAL

8. KELUARGA TERLAMBAT MEMUTUSKAN UNTUK MERUJUK IBU

HAMIL RESIKO TINGGI

9. PERAN SUAMI DALAM MENJAMIN KESEHATAN REPRODUKSI

PEREMPUAN KURANG

10. EVALUASI TERHADAP MANFAAT PROGRAM DAN KEPUASAN

BAGI MASYARAKAT BELUM DILAKUKAN

SARAN

 INTERVENSI YANG TERBUKTI BERMANFAAT PERLU

TERUS DILANJUTKAN DAN DIKEMBANGKAN KE

DAERAH YANG LEBIH LUAS



 INTERVENSI PROGRAM SEBAIKNYA DIFOKUSKAN

PADA PEMBERDAYAAN MASYARAKAT



 PERLU DIKEMBANGKAN PEDOMAN DAN

PENYEGARAN PENGGUNAAN BUKU KIA SECARA

LEBIH BERKUALITAS



 SEYOGYANYA SETIAP PROGRAM PERLU DIIKUTI

DENGAN PENELITIAN TENTANG MANFAAT,

KEPUASAN PROVIDER DAN MASYARARAKAT,

AGAR BERBAGAI KEKURANGN DAPAT SEGERA DI

PEBAIKI

3. Upaya Peningkatan Fungsi PONED dan PONEK Dalam

Rangka Akselerasi penurunan AKB dan AKI (2006)





 LOKASI : Jawa Timur, Jawa Barat, Bali dan Sulawesi Utara.



 HASIL PENELITIAN :

 Di Sulawesi utara belum terdapat program PONED

 Sumber-daya manusia menjadi kendala dalam pelaksanaan

PONED dan PONEK: sering terjadi mutasi karena pindah ke

Puskemas lain / Dinas Kesehatan, habis masa kerja (dr.

PTT), bekerja sebagai tenaga administrasi dll.

 Fasilitas ruang perawatan di Puskesmas masih kurang

(kamar perawatan, ruang neonatal, UGD). Obat-obatan

untuk PONED masih sangat terbatas baik dalam jumlah dan

macamnya. Pelaksanaan PONED di Puskesmas masih

bervariasi.

 Kendala dalam pelaksanaan PONED di

Puskesmas meliputi:

a. keterbatasan SDM, Fasilitas, sarana dan

obat-obatan,

b. keterbatasan koordinasi antara Dinas

kesehatan dan Rumah sakit terutama

untuk kabupaten yang mempunyai dr.

spesialis Kandungan

c. Adanya UU Praktek Kedokteran yang

dianggap kontradiksi dengan SK

Puskesmas PONED

d. Terbatasnya ketersediaan darah di RS.

 REKOMENDASI :

a. Diperlukan pelatihan

berkesinambungan

b. Memaksimalkan Program Pelayanan

Emergensi Neonatal

c. Meningkatkan koordinasi antara

Dinas Kesehatan Kab/Kota dan

Rumah Sakit

d. Meningkatkan koordinasi upaya

penyediaan darah dengan PMI

setempat

4. Studi UPAYA PENINGKATAN RUJUKAN PERSALINAN

OLEH TENAGA NON PROFESIONAL DALAM RANGKA

PERCEPATAN PENURUNAN AKI DAN AKB (2006)



Lokasi:

Prop. Jawa Timur

a. Kab. Bangkalan : pusk Tongguh & Arosbaya

b. Kab. Tuban : pusk Jenu & Tambakboyo

Prop. Kalimantan Selatan

a. Kab. Tanah Laut : pusk Sungai Alang & Tb Ulang

b. Kab. Banjar : pusk Bati-bati & Banjar

Prop. Sulawesi Selatan

a. Kab. Barru : pusk Padongko & Pekkae

b. Kab. Gowa : pusk Bontomarranu & Bontonompo

KESIMPULAN STUDI

1. Kemampuan tenaga Non

Profesional/dukun bersalin masih kurang,

khususnya yang berkaitan dengan tanda-

tanda bahaya, risiko kehamilan dan

persalinan serta rujukannya

2. Pembagian tugas bidan-dukun-keluarga

dlm pertolongan persalinan sudah

proporsional; tugas persiapan dilakukan

dukun dan keluarga, pertolongan persalinan

oleh bidan, perawatan tali pusat oleh bidan

dan perawatan ibu dan bayi oleh dukun &

bidan

3. Sebagian besar dukun masih menolong

persalinan, dan dukun setuju pertolongan

dilakukan oleh bidan asalkan dukun diberi

kompensasi, dan akan merujuk ke bidan

bila juga ada kompensasi (jasa dukun)

atau dilibatkan dalam kegiatan non medis

seperti persiapan & perawatan pasca

persalinan

4. Sebanyak 58,1% desa menyiapkan

transportasi untuk rujukan persalinan,

dengan ambulans puskesmas, dan

ambulans desa yang berbentuk tandu

5. Sebanyak 15,8% desa telah

menyelenggarakan Bank Darah Desa, dan 6,6%

desa mempunyai kelompok donor yang

terkoordinir

6. Sebanyak 64,5% mempunyai catatan lokasi

ibu hamil berisiko, yang dilakukan oleh bidan di

desa , dan keberadaan ibu hamil dengan risiko

diinformasikan ke warga desa

7. Komunikasi kader- bidan di desa dilakukan

melalui kegiatan posyandu, dukun - bidan

melalui kemitraan, dan bidan - keluarga melalui

penyuluhan kesehatan / promkes

REKOMENDASI

 Bidan sering mengajak dukun melakukan

pertolongan persalinan, dan diberi imbalan

maka akan terjadi sinergi sikap dari dukun

untuk selalu merujuk bila ada persalinan

 Memberikan pelatihan kepada dukun, kader

dan keluarga dalam hal tanda-tanda persalinan

dan merujuk persalinan ke bidan atau

puskesmas

 Mobilisasi dana masyarakat dialihkan

peruntukannya, dari untuk biaya persalinan

dialihkan ke biaya rujukan termasuk transport

dan darah bila diperlukan

 Sosialisasi Buku Pedoman Pengenalan Tanda

Bahaya pada Kehamilan, Persalinan dan Nifas

ketenagaan Non Profesional

C. Penanggulangan Penyakit

1. Studi Resistensi Kuman Terhadap OAT Pada

Penderita TBC Paru di Puskesmas Rujukan

Mikroskopis (2005)



 Lokasi: DKI Jakarta dan Bandung

 Dari 286 responden yang diteliti sebesar 60% BTA

positif pada bulan kedua, dan 48,2% masih positif

pada bulan ketiga. Kultur sputum pada bulan pertama

menunjukkan sebesar 51,6 % tumbuh, 26,6% pada

bulan kedua dan 13,8 % pada bulan ketiga.

Persentase dari resisten tunggal terhadap INH

31,5%; rifampicyn 42%; PZA 37,6; streptomisin

15,7%; dan kanamicyn 94,7%. Satu-satunya obat

tunggal yang masih sensitif adalah ethambutol

(100%). Seluruh responden telah mengalami resistensi

ganda. Responden yang mengalami resisten thd tiga

OAT atau lebih sebesar 68,4%.

 Mengingat tingginya kasus MDR TB, perlu

dilakukan pengawasan yang lebih intensif

serta meminimalisasikan kasus ”drop-out”

sehingga kasus resistensi kuman tidak

bertambah dan menyulitkan program

pemberantasan penyakit ini.

 Perlu dilakukan uji resistensi didaerah lain

untuk memberi data MDR TB di

Indonesia.

2. Studi Aspek Epidemiologi Pengobatan Penderita

Tuberkulosis Paru (2005)



 Lokasi: provinsi DKI Jakarta

 Angka kesembuhan TB 2003 DKI Jakarta masih di bawah

target nasional (<85%)

 Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat sekitar 4.021

kasus TB paru (BTA positif) pada tahun 2002. Para

penderita ini sebenarnya pernah menerima pengobatan

dari Puskesmas, rumah sakit, dan pusat pengobatan lain

di Jakarta, akan tetapi baru sekitar 71% yang berhasil

disembuhkan.

 Penelitian ini telah mendeteksi faktor-faktor yang

mempunyai hubungan bermakna dengan

kesembuhan/ketidaksembuhan orang yang berobat TB

paru di Poli Paru Rumah Sakit Persahabatan Jakarta pada

bulan Februari sampai dengan Desember tahun 2005.

 Faktor-faktor yang mempunyai hubungan

bermakna dengan kesembuhan/ketidak

sembuhan orang yang sedang berobat TB

paru tersebut adalah merokok (OR=7,78%),

penghasilan (OR=7,56%), pengetahuan

tentang TB paru (OR=5,51%), sikap terhadap

proses pengobatan TB paru (OR=6,27%),

perilaku (OR=6,83%), jarak ke fasilitas

kesehatan (OR=6,86%), program OAT gratis

dari Pemerintah (OR=4,159%), PMO

(OR=4,52%), dan keadaan gizi (OR=9,59%)

 Rekomendasi:

– diperlukan peningkatan promosi kesehatan dan

peningkatan akses pelayanan

BILA MEMBUTUHKAN INFORMASI

LEBIH LANJUT DAPAT

MENGHUBUNGI:

 PusLitBang Sistem & Kebijakan Kesehatan –

Badan Penelitian dan Pengembangan

Kesehatan DepKes:



– www.p3skk.litbang.depkes.go.id



– e-mail-1: infocenter_sisjakkes@yahoo.com

– e-mail-2: suwandimakmur@yahoo.com


Related docs
Other docs by HC111117173435
Conversion Table
Views: 4  |  Downloads: 0
SCIENCE
Views: 282  |  Downloads: 0
VOL. XXXVII, NO. 2 NOVEMBER 1996
Views: 1  |  Downloads: 0
indikator kesejahteraan - Kemahasiswaan UM
Views: 42  |  Downloads: 0
BANTAM
Views: 15  |  Downloads: 0
keturi coin collection
Views: 12  |  Downloads: 1
PERSPECTIVA DE DESARROLLO DE PROYECTOS
Views: 29  |  Downloads: 0
Specchio C.C
Views: 0  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!