Embed
Email

Teori Kritis

Document Sample
Teori Kritis
Shared by: yen_rizal
Stats
views:
265
posted:
11/17/2011
language:
Indonesian
pages:
16
Terminal Kunci Teori Kritis

Oleh : Yenrizal1

 Materialisme

Paham materialisme adalah konsep yang digagas oleh Marx dalam

penjelasannya mengenai The Communist Manifesto dan Das Capital. Materialisme

merupakan gagasan utama dari Marx yang sering disebut dengan Materialisme

Historis.

Akar materialisme sebenarnya ada pada era Thales dan Parmenides yang

hidup di abad VI dan V SM, walaupun kemudian ada yang menyebutnya lebih

tepat dimulai dengan Democritus, pemikir abad V, dan gurunya Leucippus.

Mereka memandang dunia ini terdiri dari sejumlah tak berhingga dari atom-atom

bahan yang tak henti-hentinya menghasilkan interaksi kombinasi-kombinasi baru.

Peringatan King Lear untuk Cordelia bahwa "Tidak akan datang dari apa-apa"

berasal dari filsafat materialis, yang maknanya adalah tidak ada yang dapat

dihancurkan. Oleh karena itu gagasan bahwa dunia diciptakan dan agen

supranatural dibantah. Pada abad yang sama Empedocles berusaha memberikan

penjelasan materialistis kehidupan organik, membangun teori yang berpengaruh

tentang empat elemen, bumi, udara, api, dan air. Dia percaya bahwa alam

semesta berevolusi siklis melalui harmoni dan perpecahan dari unsur-unsur (Nina

Syam, 2010).

Materialisme menyatakan bahwa apa pun yang eksis adalah, atau setidaknya

tergantung pada, materi. Dalam bentuknya yang lebih umum materialisme

mengklaim bahwa semua realitas pada dasarnya adalah material; dalam

bentuknya yang lebih spesifik realitas manusia adalah material. Pada tradisi

Marxis, materialisme biasanya dari jenis non-reduktif (Outwaithe, 2008;505).

Materialisme menempati berbagai bentuk, namun intinya menyatakan

bahwa dalam setiap penjelasan tentang dunia materi itu lebih utama

dibandingkan pikiran atau jiwa. Materialisme yang kuat meyakni bahwa relalitas

terdiri dari dari hal-hal yang bersifat material dan kombinasinya yang sangat

bervariasi. Bentuk lemah materialisme mengakui pentingnya, meskipun sekunder,

operasi mental. Mengingat desakan menafsirkan realitas dari segi materi, sejarah



1

Mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi UNPAD, 2011

materialisme telah menunjukkan afiliasi dengan baik ilmu-ilmu alam dan

antagonisme yang terus-menerus terhadap penjelasan kejadian dalam hal yang

berkaitan dengan masalah spiritual atau supernatural.

Dijelaskan juga oleh Outwaithe (2008;505-506) bahwa materialisme

mengesampingkan kemungkinan eksistensi di luar jasad (materi) dan secara

metafisis menentang dualisme. Bentuk materialisme dominan juga dikenal dalam

pandangan filsafat behavioristik seperti pada central state materialism (CSM) yang

melibatkan tiga langkah : (1) analisis pernyataan mental prima facie, seperti “saya

sekarang sedang berpikir”, sebagai “topik netral”, yaitu tidak menunjukkan sifat

dari proses didalamnya, (2) definisi keadaan mental, baik yang bertentangan

dengan pandangan klasik sebagai area batin dan dengan behaviorisme sebagai

tindakan lahiriah; dan (3) indetifikasi spekulatif atas proses batin dengan kerja-

fisik-kimiawi dari otak, atau sistem syaraf pusat.

Pandangan lain dikenal dengan Synchronic Emergent Powers Materialsm

(SPM) yang menyatakan bahwa pikiran dianggap bukan sebagai substansi, entah

material atau immaterial, tetapi sebagai sekumpulan daya. Hal ini memiliki

kemiripan dengan pendapa H Putnam. Oleh Marx kemudian menjadi dasar

baginya untuk menegaskan mengenai practical materialism, yaitu peran

kosntitutif dari agen transformasi manusia dalam reproduksi dan transformasi

bentuk-bentuk sosial.

Dalam materialisme praktis, Marx mendefinisikan materi sebagai sesuatu

yang dibatasi oleh bidang sosial (pada ilmu alam) dan dimana “materialisme”

dipahami sebagai “praktik sosial”. Hal ini yang kemudian dikembangkan sekaligus

juga dikritik oleh penerus Marx berikutnya. Seperti Lukacks yang menolak tanda

utama materialisme dialektik, yaitu kombinasi dari dialektika sifat dan teori

pengetahuan refleksionis, yang menyebutnya inkonsisten. Terutama sekali ini

dipahami dalam sudut pandang Marxisme Barat.

Apapun itu, yang jelas konsep materialisme adalah filsafat Marx dalam

melihat realitas, bahwa segala sesuatu yang ada sekarang ini adalah bersifat

materi. Ada berasal dari materi, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, prinsip

rasionalitas menjadi wilayah terpenting pada pendekatan Marxis.

 Struktur

Konsep mengenai struktur memang sebuah gagasan penting dalam teori

kritis. Bermula dari Marx yang menyatakan bahwa persoalan sosial tercipta

karena adanya perbedaan struktur, terutama antara sub struktur dan super

struktur. Marx cenderung melihat pada struktur ekonomi politik sebagai kritiknya

terhadap struktur yang berlaku saat itu. Struktur dalam pandangan Marx bisa

dimaknai sebagai jumlah total dari koneksi yang stabil untuk keutuhan dan



identitas dirinya sendiri, sebagai pelestarian kualitas dasar tanpa perubahan

eksternal atau internal. Struktur hanya mengungkapkan unsur-unsur yang tetap

stabil, relatif tidak berubah, dalam berbagai transformasi sistem. Struktur

kemudian juga dianggap sebagai bentuk kuasa dari super struktur yang

melakukan hegemoni. Atas pemikiran ini, maka pemahaman teori kritis saat itu

lebih banyak terfokus pada kritik struktur. Hal yang kemudian berbeda dengan

pandangan kelompok Frankfur yang lebih terfokus pada analisis Kultur sebagai

alat dominasi.

Definisi struktur dipahami sebagai organisasi bagian-bagian yang saling

bertautan. Organisasi ini terbentuk dari berbagai unsur yang kemudian

membentuk sebuah jalinan dan kerjasama (Outhwaite, 2008;805). Struktur

kemudian memiliki keterkaitan dengan teori sistem yang dikembangkan Talcott

Parson, sesuatu yang kemudian banyak dikritik sebagai paham yang positivistik

oleh kalangan teori kritis.

Sebuah sumbangan berharga mengenai konsep Struktur ini dilakukan oleh

Antoni Gidden dengan teori Strukturasinya. Hal ini beranjak dari pemikiran

Sausure dan Levi Strauss mengenai struktur pada bahasa dan wacana. Giddens

(Thompson, 2007, 244) mengatakan bahwa konsep struktur bisa dilihat melalui

perbandingan antara bahasa dan ucapan. “Bukan karena masyarakat ibarat

bahasa, tetapi sebaliknya bahasa sebagai satu kegiatan praktis merupakan pusat

kehidupan sosial-yang dalam beberapa hal mendasar-bahasa dapat dianggap

sebagai contoh terjadinya proses sosial”.

Giddens juga menggunakan perbandingan ini untuk menggabungkan

perbedaan yang sama antara interaksi dan struktur yang terdapat dalam analisa

sosial. Interaksi terbentuk melalui aktifitas-aktifitas para agen, sementara struktur

memiliki satu eksistensi nyata, ia terdiri dari aturan-aturan dan sumber-sumber

yang terimplementasi dalam interaksi, yang berarti interaksi struktur tersebut

dalam setiap prosesnya selalu dikembangkan.

Sementara itu, Thompson (2007;249) sendiri mengatakan bahwa struktur

adalah satu istilah yang tidak jelas dan ambigu, yang memiliki persoalan pada

istilah “rule”-bahwa ini tidak terlalu berguna. Hal ini terkadang dimaknai sebagai

seseorang yang sudah mematuhi dan mentaati aturan. Apabila pemaknaan hanya

sampai disini maka struktur cenderung menjadi tidak berguna. Dalam tradisi kritis,

harus ada penjelasan lebih tajam mengenai struktur ini. Thompson kemudian

membedakan struktur ini menjadi dua aspek yaitu, struktur signifikansi dan

struktur legitimasi. Struktur signifikansi dimaknai sebagai aturan semantik, dan

struktur legitimasi dimaknai sebagai aturan moral.

Kendati Gidden melakukan kritik terhadap materialisme historisnya Marx,

dan Thomposon kemudian melakukan kritik pula terhadap Giddens, namun

pembahasannya mengenai struktur, sama-sama melihat bahwa struktur tersebut

diciptakan, dan menjadi salah satu alat untuk melakukan dominasi. Struktur

senantiasa dikembangkan, dan itulah yang dijadikan sebagai bentuk penguasaan

terhadap alat produksi dan modal. Struktur diciptakan dan menjadi alat.

 Struktur Sosial

Struktur sosial adalah bahasan yang paling banyak ditemukan dalam literatur

ilmu sosial. Pengertiannyapun sangat beragam, sehingga harus betul-betul

dipahami pemaknaan struktur sosial dalam konteks teori kritis. Makna struktur

sosial juga sudah jauh sebelumnya dibicarakan para ahli, seperti Ibnu Khaldun

dalam muqaddimah, maupun yang kemudian dibahas pula oleh Herbert Spencer

dan Talcot Parson.

Dalam struktur sosial, bagian-bagian itu adalah hubungan antara orang-orang

dan susunan tatanan bagian itu bisa dikatakan bagian dari masyarakat secara

keseluruhan. Yang tersirat dalam struktur sosial adalah tingkatan kepermanenan

tertentu. Pada masa-masa awal kemunculan istilah ini, Spencer menyamakan

struktur sosial ini sebagai fungsionalisme dengan analogi mirip tubuh manusia.

Konflik sangat tidak mungkin terjadi pada konteks ini, yang kemudian disebutnya

sebagai konsensus, bukan pemaksaan (coercion).

Pandangan Spencer ini yang dikritik oleh Karl Marx yang mengatakan bahwa

setiap bentuk masyarakat yang ada (baik itu feodalisme dan kapitalisme)

didasarkan pada koersi yang dilakukan oleh kelas dominan terhadap bawahan.

Konflik, menurut Marx, akan hilang setelah adanya revolusi proletar dan

berdirinya Sosialisme. Hal ini berbeda pula dengan pandangan Dahrendorf (1957)

yang mengatakan bahwa konflik akan senantiasa ada baik pada masyarakat

Sosialis maupun Kapitalis.

Dalam keilmuan Sosiologi, sepertinya telah ada kesepakatan bahwa

perubahan pada struktur sosial akan senantiasa terjadi dari waktu ke waktu. Hal

yang perlu diperdebatkan adalah sifat perubahan itu sendiri. Beberapa teoritisi

sosial menganggap bahwa perubahan sosial itu bersifat skilis, seperti pandangan

Khaldun, namun sebagian lagi menganggap bahwa perubahan struktur sosial

terjadi dalam arah linear, dan metodenya adalah Revolusi. Hal yang terakhir inilah

yang banyak digunakan oleh kalangan marxis ortodoks, dan sebagian juga

kelompok neo marxis.

Pada hal lain, Habermas (Mc Carthy, 2009;206) memandang bahwa

interpretasi individu terhadap struktur sosial sebagai perbaikan yang diperlukan

dalam “objektifisme” sosiologis. Dalam hal ini, struktur sosial dalam perspektif

kritis bukanlah sesuatu yang given, namun kondisi yang diciptakan. Oleh

karenanya, memahami strukur sosial haruslah didasarkan pada sisi

intersubjektifitas. Intersubjektifitas sebagai titik awal dan membangun

subjektifitas dalam kaitannya dengan intersubjektifitas. Sistem-sistem aturan

dasar tidak lagi dikaitkan kepada subjek individual, aturan itu justru akan

menjelaskan kelahiran hubungan-hubungan intersubjektif dimana individu itu

terbentuk.

 Super Struktur Dasar

Penjelasan mengenai ini sangat identik dengan gagasannya Marx. Ia

mengawalinya dengan dikhotomi hubungan antara sub struktur dengan super

struktur sebagai sebuah kondisi yang membentuk pola hubungan yang

dibenturkan. Super struktur merupakan kondisi yang diciptakan untuk melakukan

penindasan dan penguasaan terhadap kelompok yang tidak memiliki kuasa.

Super struktur dasar (base suprastructure) adalah metafora Marxis untuk

mendeskripsikan relasi antara ekonomi (relasi produksi) dengan pemerintah,

politik, dan ideologi. Beberapa pemikiran Marx dan Engels mengenai konsep ini,

tergambar dari tiga karakteristik dasar yaitu (Outhwaite, 2008;60-61) :

- Kompabilitas (Compability).

Sebuah masyarakat akan eksis jika ada kompabilitas (kesesuaian) antara

pemerintahnya, ide-idenya, dan struktur ekonominya. Namun hal ini, dikatakan

Marx sangat tidak mungkin. Marx berkata bahwa jika ekonomi berubah, maka

pemerintah dan ide juga harus berubah. Kompabilitas diinterpretasikan

sebagai perubahan yang tidak terelakkan dalam suprastruktur setelah terjadi

perubahan di tingkat basis.

- Ada hubungan timbal balik antara basis dan suprastruktur. Umpan balik

menjelaskan kemunculan pelaksanaan fungsi suprastruktur terhadap basisnya.

Pernyataan tentang fungsi pemerintah atau ide dapat diterjemahkan ke dalam

kalimat kondisional yang dapat diterima di dalam mode penjelasan ilmiah.

- Semua properti dari suprastruktur tidak tergantung kepada beberapa properti

basis. Ada entitas, properti pemerintah dan ide-ide yang tidak dapat dijelaskan

dengan menggunakan pernyataan tentang basis. Suprastruktur berkembang

dari suprastruktur sebelumnya, dan berasal dari pilihan atau tindakan bebas di

dalam batasan struktural yang dikenakan oleh kondisi kompatibilitas dan

umpan balik. Suprastruktur dianggap sebagai komponen utama dari setiap

masyarakat manusia, ia bukan pelayan dari basis.

Marx menegaskan bahwa ekspresi “basis dan suprastruktur” diaplikasikan

secara luas pada hubungan antara institusi kemasyarakatan. Bentuk negara,

politik, dan ideologi merupakan suprastruktur yang didirikan di atas basis relasi

produksi, dimana relasi produksi ini kompatibel dengan level alat-alat produksi

tertentu. Ketergantungan suprastruktur diperantarai oleh struktur ekonomi, tidak

secara langsung pada teknologi.

Oleh karena itu, pandangan mengenai suprastruktur, kendati kemudian

diperluas oleh berbagai kalangan Marxis dan Neo marxis, tetap memiliki pijakan

dasar pada hubungan antara basis dan suprastruktur. Bentuknya memang

kemudian bervariasi, namun asumsi dasarnya tetap pada dikhotomi pola hubungan

tersebut. Teori kritis banyak membicarakan soal pola hubungan tersebut, karena

disinilah sering terjadi pola relasi yang mendominasi dan melakukan penindasan.

 Masyarakat Dominan

Masyarakat dominan adalah kata kunci yang memperlihatkan pola

hubungan antara dua kelompok masyarakat. Dalam bahasa Marx diistilahkan

sebagai hubungan antar kelas, yaitu kelas penguasa dan kelas yang dikuasai.

Dalam struktur masyarakat produksi, Marx menyatakan bahwa selalu ada

kelas dominan yang cenderung memegang kendali terhadap kelas lainnya. Kelas ini

adalah pemilik modal. Masyarakat dominan cenderung untuk menguasai alat

produksi dan hubungan produksi. Hubungan produksi dianggap sebagai kontrak

yang digunakan ketika menguasai dan menggunakan alat produksi (Ari Yuana,

2010;255).

Pada era Marx klasik, masyarakat dominan lebih ditekankan pada kelompok

yang menguasai alat produksi ekonomi. Pendekatannya sangat strukturalis dengan

cenderung pada pola hubungan ekonomi politik. Namun di era berikutnya,

terutama kalangan Neo marxis dan Frankfur School, konsep masyarakat dominan

ini dikembangkan lebih jauh pada wilayah ideologi dan budaya. Masyarakat

dominan adalah masyarakat yang memiliki penguasaan terhadap alat-alat dominasi

dan hegemoni. Mengacu pada pandangan Foucoult bahwa selalu terjadi dominasi

dan hegemoni dikarenakan adanya pola hubungan antara ilmu pengetahuan dan

kekuasaan. Ilmu pengetahuan cenderung menjadi alat hegemoni, dan penguasa

ilmu pengetahuan adalah kelompok masyarakat yang dominan atas yang lainnya.

Konsep ini juga dikembangkan oleh Antonio Gramsci yang menegaskan

bahwa kelompok masyarakat dominan menguasai sarana dan prasarana dominasi,

yaitu dominasi dan memproduksi wacana. Melalui kekuatan media massa dan

penguasaan wacana, mereka menjadi masyarakat dominan yang menyebarkan

pengaruh besar kepada publik, tanpa mereka sadari. Disinilah terjadinya proses

penguasaan oleh satu kelompok masyarakat kepada kelompok lainnya.

Gramsci (Outhwaite, 2008) juga menjelaskan bahwa hegemoni merupakan

sebuah proses penguasaan kelas dominan kepada kelas bawah, dan kelas bawah

juga aktif mendukung ide-ide kelas dominan. Di sini penguasaan dilakukan tidak

dengan kekerasan, melainkan melalui bentuk-bentuk persetujuan masyarakat yang

dikuasai. Bentuk-bentuk persetujuan masyarakat atas nilai-nilai masyarakat

dominan dilakukan dengan penguasaan basis-basis pikiran, kemampuan kritis, dan

kemampuan-kemampuan afektif masyarakat melalui konsensus yang menggiring

kesadaran masyarakat tentang masalah-masalah sosial ke dalam pola kerangka

yang ditentukan lewat birokrasi (masyarakat dominan). Di sini terlihat adanya

usaha untuk menaturalkan suatu bentuk dan makna kelompok yang berkuasa.





 Kritik Ekonomi Politik

Kata kunci kritik ekonomi politik adalah gagasan yang khas dikeluarkan oleh

Marx. Ia khususnya menyoroti bagaimana relasi hubungan antara kelas-kelas yang

ada, didominasi oleh faktor ekonomi-politik. Hal ini juga menjadi titik sentral teori

marxis selanjutnya.

Kritik utama dari berbagai pemikiran Marx memang pada sisi ekonomi politik.

Bagi Marx, masalah mendasar kapitalisme bukan hanya soal

eksploitasi pekerja secara ekonomi dengan mengambil nilai lebih

dari mereka. Masalah sebenarnya adalah situasi keterasingan yang

mengesampingkan otonomi mereka sebagai manusia, terutama dalam tindakan

kerja, perampasan hasil-hasil materialnya, dan situasi keterasingan dari manusia

lainnya. Marx meyakini bahwa anatomi

masyarakat borjuis dapat ditemukan pada ekonomi politik.

Dalam bahasa yang lebih kasar Marxis menyatakan bahwa, ekonomi menjadi basis

suprastruktur politik; ekonomi akan menentukan perkembangan politik dan budaya

(Ritzer, 2005;505).

Terdapat tiga hal penting yang jadi catatan oleh Marx (Ritzer, 2005;507)

yaitu, pertama, diperlukannya kritik ekonomi politik yang berpuncak pada

penguasaan modal. Kedua, mengikuti konsep evolusi yang menghasilkan modal,

adalah munculnya kesadaran proletariat melalui kerjasama proses-produksi tenaga

kerja di pabrik yang mengarah pada kesadaran diri, ke rezim produksi. Ketiga, yang

paling mengganggu dari perubahan sosial adalah minimnya kesadaran kaum

proletar daripada kesadaran intelektual dalam memahami kapitalisme secara

teoritis melalui prisma sosialisme ilmiah.

Konsep ekonomi politik yang menjadi titik fokus karena Marx sendiri sangat

dipengaruhi oleh positivisme ilmu pengetahuan yang saat itu berkembang pesat.

Fokus Marx ini juga dipengaruhi oleh kondisi saat itu, dimana cenderung terjadi

penindasan oleh kaum pemilik modal terhadap buruh, dan terjadi pula pembiaran

oleh Negara. Buruh hanya dijadikan sebagai alat untuk memperkaya kaum

pemodal. Dalam bahasanya Marx menyebutkan istilah borjuis untuk pemilik modal

dan proletar untuk kelompok buruh.

Penekanan Marx yang terlalu terfokus pada sisi ekonomi politik inilah yang

kemudian dikritik juga oleh kalangan Neo marxis dan Frankfur School, bahwa ada

dimensi lain yang harus juga dipertimbangkan, yaitu aspek budaya dan ideologi.

 Konflik Dialektika

Konflik dalam dialektika adalah tema-tema yang banyak diperdebatkan dalam

keilmuan sosial, sejak zaman dulu. Dalam bahasa sederhana, dialektika diartikan

sebagai proses rumit dalam konflik konseptual, interkoneksi dan perubahan,

dimana penciptaan, interpenetrasi, dan pertentangan, yang menimbulkan mode

pemikiran atau bentuk kehidupan yang lebih baik memainkan peranan penting

(Outhwaite, 2008;211).

Menurut Hegel, ada dua pengertian dasar dari dialektika yaitu (1) sebagai

sebuah proses logis. Dasarnya adalah dari prinsip idealisme dimana pemahaman

spekulatif tentang realitas sebagai spirit yang absolut. Hal ini disatukan dalam

gagasan dialektika sebagai reason dan process, sehingga menjadi process of reason.

(2) Sebagai penggerak proses tersebut. Motor dari proses ini adalah dialektika

dalam arti sempit yaitu momen pemikiran aktual yang kedua dan negatif. Hegel

menyebutnya sebagai “memahami hal yang bertentangan dalam kesatuannya atau

memahami hal positif dalam hal yang negatif.

Dialektika dari Hegel ini kemudian dikritik oleh Marx. Khususnya Marx

menolak konsep Idealisme yang digagas Hegel. Begitu juga ia menolak konsep

kebenaran absolut. Untuk itu Marx menggantinya dengan dialektika materialis yang

bersifat ateistis (Ari Yuana, 2010;254). Apabila Hegel mengatakan bahwa sejarah

proses terbentuknya ide atau konsep atau pemahaman manusia kemudian dapat

mendorong perubahan sosial politik. Sebaliknya Marx justru mengatakan bahwa

proses transformasi ekonomilah yang mendorong cara pikir manusia untuk

menimbulkan ide dan konsep baru. Marx berkeyakinan bahwa pikiran manusia

sebagai institusi yang aktif dapat beradaptasi dalam menanggapi kondisi

lingkungan.

Marx memahami bahwa dialektikanya adalah dialektika ilmiah karena

dialektikanya menjelaskan kontradiksi dalam pemikiran dan dalam krisis kehidupan

sosioekonomi dalam term relasi yang pada dasarnya bertentangan dari yang

memunculkan kontradiksi tersebut. Ini bisa dimaknai sebagai dialektika historis

karena berakar pada dan merupakan kondisi dari perubahan dalam relasi dasar dan

situasi yang dideskripsikannya. Bisa juga sebagai dialektika kritis karena

menunjukkan kondisi historis dari validitas dan batas kecukupan katagori, doktrin

dan praktek yang dijelaskannya. Bisa juga sebagai dialektika sistematis karena

berusaha melacak berbagai macam tendensi dan kontradiksi historis dari mode

produksi.

Terpenting dari semua itu adalah kontradiksi antara nilai guna dan nilai

komoditas. Kontradiksi antara kegunaan konkret dan aspek sosial abstrak dari

tenaga kerja. Kontradiksi-kontradiksi inilah yang kemudian bisa dikatakan sebagai

terjadinya konflik dalam dialektika.

Dalam bahasa lain, William Outhwaite (2008;215) mengatakan dari semua

perdebatan dialektika, yang kemudian mengambil posisi penting di abad ke-20,

terdapat lima makna dasar yang menonjol, yaitu :

1. Kontradiksi Dialektika, yang melibatkan oposisi inklusif

2. Argumentasi Dialektika, berorientasi pada pencarian cita-cita yang punya

landasan

3. Nalar Dialektika, yaitu penyebaran konotasi mulai dari pemikiran

imajinatif dan fleksibel secara konseptual.

4. Proses Dialektika, yang melibatkan skema kesatuan orisinal, diremption,

dan pembalikan historis.

5. Inteligibilitas Dialektika, yaitu upaya memahami baik penyajian bentuk

sosial dan kultural yang dilakukan secara teleologis (Hegel) ataupun

secara kausal (Marx).

 Dominasi dan Penindasan

Stephen Littlejohn (2009; 237) berkata bahwa ketika membicarakan teori

kritis harus dipahami bahwa teori kritis bukanlah sebuah teori yang paling tepat,

teori ini memberikan sebuah kerangka teori yang melengkapi dalam memahami

struktur dominasi dalam masyarakat. Hal ini bisa membuka berbagai kemungkinan

untuk kesetaraan dan pemberdayaan manusia, makna, dan nilai-nilai. Pada sisi ini

juga ditegaskan bahwa komunikasi pedagogi kritis memberi perhatian penting pada

fungsi kekuasaan, terutama bertanya bagaimana sistem komunikasi bekerja untuk

mempertahankan (dan mungkin meng-counter) sistem dominasi yang terjadi.

Hal inilah yang kemudian banyak melatari munculnya berbagai varian teori

kritis. Dalam perjalanan sejarahnya, bisa dilihat bahwa Marx ketika memunculkan

teori pertentangan kelas beranjak dari kerisauannya atas dominasi salah satu

kelompok masyarakat, terutama kaum kapitalis terhadap kelompok pekerja. Aspek

dominasi ilmu pengetahuan yang dianut saat itu melahirkan berbagai kritik dari

Marx.

Dominasi akan sangat berkaitan dengan terjadinya penindasan. Hal inilah

yang kemudian melahirkan berbagai gagasan dari Marx. Marx (Lubis, 2006;11)

berpendapat bahwa dominasi harus diberantas. Yang diperlukan untuk

membebaskan manusia dari ketidakadilan dan penindasan adalah munculnya satu

kelas masyarakat yang berjiwa revolusioner (kaum buruh, proletariat), untuk

membebaskan diri dari ketertindasan serta mewujudkan harapan mereka sendiri.

Pada saat Marx memunculkan gagasannya, dominasi yang terjadi saat itu

lebih banyak menyoroti soal ekonomi politik dalam sistem produksi. Dominasi

inilah yang harus dilawan, menurut Marxis klasik. Pada perkembangannya,

dominasi ini dibahas lebih lanjut oleh kelompok Neo marxis dan Frankfur Shool

serta teoritis kritis lainnya. Ada asumsi dari semua pandangan teori kritis, yaitu

dominasi berpotensi untuk menciptakan penindasan. Perbedaan kemudian terletak

pada bentuk dominasi yang berlangsung. Jika Marx dominan bicara soal dominasi

ekonomi politik, maka kalangan Neo marxis dan Frankfur School membahasnya

pada aspek kebudayaan dan hal-hal lainnya.

Penganut Mazhab Frankfur meyakini bahwa kultur adalah realitas masyarakat

kapitalis modern. Dominasi dan penindasan kultural, seperti juga penindasan

rasionalitas, jauh lebih dominan dari sekedar penindasan ekonomi. Karena itu perlu

dikembangkan rasionalitas kritis yang berorientasi pada nilai kemanusiaan,

keadilan, kebahagiaan, dan perdamaian.

Adorno (Lubis, 2006;15) berkata bahwa dibalik reduksi manusia sebagai agen-

agen serta pembawa nilai-nilai pertukaran, sesungguhnya terdapat dominasi

manusia atas manusia lainnya. Problem hubungan antara rasio (akal) dengan

dominasi inilah yang menjadi bahan penting dalam kajian Teori Kritis. Sebagaimana

yang dilancarkan oleh Marcuse, Horkheimer, Adorno melalui karya-karyanya yang

mengkritik dominasi rasionalitas. Oleh karena itu mereka menggagas pentingnya

kembali pencerahan untuk kebebasan sosial. Dalam memahami dominasi (ilmu

pengetahuan) yang menciptakan penindasan, mereka menelusuri berbagai sudut

akar pendekatan positivistik yang waktu itu menjadi acuan.

Oleh karena itulah, Habermas memunculkan berbagai gagasan kritisnya

dengan pendekatan Teori Masyarakat Komunikatif, dengan tujuan mengakhiri

dominasi dan membangun kesadaran masyarakat. Pada tataran metodologi,

disarankan agar menggunakan pendekatan riset aksi sebagai bentuk perlawanan

terhadap dominasi dan ketidaadilan.

 Ideologi

Gagasan mengenai ideologi banyak dimunculkan oleh kalangan Neo marxis

dan Frankfur School sebagai kritik terhadap Marxis klasik yang lebih menekankan

pada aspek determinisme ekonomi. Asumsinya adalah, persoalan dominasi dan

penindasan saat ini tidak bisa lagi dilihat dari aspek ekonomi politik belaka. Lebih

jauh lagi harus dilihat ada persoalan ideologi sebagai wacana kritik baru.

Istilah ideologi sendiri memiliki banyak pandangan dari berbagai pemikirnya.

Di satu sisi ideologi digunakan sebagai sebuah istilah murni, yaitu sistem berpikir,

sistem kepercayaan, dan praktik-praktik simbolik yang berhubungan dengan

tindakan sosial dan politik. Hal ini mengarahkan pemahaman ideologi sebagai

sesuatu yang netral (Thompson, 2007;17).

Dalam bahasan lain, ideologi bukanlah sesuatu yang netral. Ideologi dianggap

berhubungan dengan proses pembenaran hubungan kekuasaan yang tidak simetris,

berhubungan dengan proses pembenaran dominasi. Konsep ini dari sudut pandang

kritis terhadap ideologi.

Sebuah pandangan yang dikemukakan Lefort (Thompson, 2007;48) bahwa

ideologi adalah satu tipe wacana tertentu yang digolongkan ke dalam tatanan

spesifik imajinasi. Ideologi adalah tipe wacana yang membenarkan legitimasi

dengan mengacu pada realisme transendental, realisme Tuhan-Tuhan, figur

spiritual dan mistis. Wacana ideologi terlihat dalam kehidupan sosial, ia berusaha

menyembunyikan “dunia lain”.

Dalam bahasa lain, ideologi adalah pola hubungan bersama representasi yang

berfungsi membangun kembali dimensi masyarakat “tanpa sejarah” pada

masyarakat historis yang paling pokok. Konsep ini memiliki korelasi dengan

pandangan Marx bahwa pola relasi ini akan membenturkan kapitalisme dengan

seluruh model produksi sebelumnya. Tugas penting ideologi adalah

menyembunyikan, dengan ruang sosial sendiri, divisi dan mutasi yang diperlukan

dalam pengembanga kapitalisme.

Memahami ideologi dalam perspektif kritis, maka itu adalah bahasan

terdalam dan core dari teori ini. Keyakinan dalam teori kritis, seperti pendapat

Adorno, Horkheimer, maupun Habermas, sebenarnya menekankan bahwa pada

saat ini yang terjadi adalah dominasi dalam tingkat ideologi. Sistem ekonomi yang

dikembangkan pada dasarnya hanya instrumen-instrumen saja dari sebuah ideologi

besar, yaitu Kapitalisme. Inilah tantangan besar dalam perspektif teori kritis,

sehingga harus dikembangkan gagasan baru yaitu, Ideologi Pembebasan, sebuah

ideologi yang tidak tunduk pada satu doktrin, namun menempatkan kesadaran dan

kebebasan manusia dalam berkreasi dan bertindak. Ideologi pembebasan ini bisa

dilacak dari berbagai filsafat kritis, terutama gagasan Habermas dan makna filsafat

yang dilontarkan Paolo Freire.

 Hegemoni

Konsep hegemoni adalah konsep yang sudah lama dikembangkan oleh

teoritisi kritis, baik oleh kelompok Marxis klasik maupun Neo marxis dan Frankfur

School. Perlawanan dari teori kritis sebenarnya adalah perlawanan terhadap

hegemoni. Hanya saja, penggagas hegemoni yang paling banyak menjadi rujukan

adalah Antonio Gramsci, seorang Neo marxis.

Penggunaan istilah Hegemoni, secara tradisional dimaknai sebagai dominasi

suatu negara atau penguasa lain. Pada saat ini, konsep ini mengalami perluasan,

walaupun ide dasarnya tetap pada dominasi negara. Hegemoni kemudian

berkembang lebih jauh dengan menghubungkannya pada konsep ideologi

(Outhwaite, 2008;355).

Hegemoni dapat diartikan sebagai dominasi kekuasaan suatu kelas sosial atas

kelas sosial lainnya, melalui kepemimpinan intelektual dan moral yang dibantu

dengan dominasi atau penindasan. Hegemoni dapat pula didefinisikan sebagai

dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok yang lain, dengan atau tanpa

ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominasi

terhadap kelompok yang didominasi/dikuasai diterima sebagai sesuatu yang wajar

dan tidak mengekang pikiran.

Dalam konsepsi Gramsci (Ritzer,2005;172), masyarakat mempertahankan

stabilitas mereka melalui kombinasi "dominasi", atau kekuatan, dan "Hegemoni",

yang didefinisikan sebagai persetujuan untuk "intelektual dan moral

kepemimpinan." Teori hegemoni, menurut Gramsci, melibatkan dua analisis

konstitutif kekuatan dominasi dan cara kekuatan politik tertentu dicapai melalui

otoritas hegemonik, dan delineasi kekuatan counterhegemonic, kelompok, dan ide-

ide yang bisa bersaing dan menggulingkan hegemoni yang ada.

Pada perkembangan selanjutnya, hegemoni semakin meluas dari sisi

pemaknaan. Gramsci sendiri tidak lagi membatasi diri hanya pada kepemimpinan

suatu kelas, namun lebih luas lagi bicara soal ideologi yang dianut oleh sebuah kelas

di masyarakat. Maka fokus teori kritis kemudian juga ikut berkembang, bahwa

hegemoni berkaitan dengan aspek ekonomi, politik, budaya, dan bahkan agama.

Instumen negara kerap dijadikan sebagai alat dan juga subjek yang melakukan

hegemoni. Namun dalam perkembangannya, terutama bagi kalangan Frankfurt

School, hegemoni terbesar justru hadir melalui kekuatan media massa yang

menanamkan nilai-nilai baru yang disebut budaya konteks tinggi. Setiap hegemoni

selalu membawa pesan tertentu, dan itu hanya bisa dipahami dalam dengan

membongkar proses hegemoni itu sendiri, terutama pada tataran ideologi yang

dibawanya.

 Emansipasi/Emansipatoris

Istilah emansipasi berarti adalah pembebasan. Mulanya dipakai untuk

menjelaskan pembebasan restriksi legal bagi Yahudi Eropa, budak Rusia dan

Amerika. Makna pembebasan inilah yang kemudian dipakai oleh teoritisi kritis

dalam memperkuat dan sekaligus titik tekan analisisnya.

Habermas (2007) menegaskan bahwa kegagalan teori positivistik yang bebas

nilai adalah pada sisi emansipasi ini, yaitu ketidakmampuan membebaskan diri dari

paham-paham yang membelenggu. Oleh karena itu, konsep emansipasi yang

sederhana dari Habermas adalah kepentingan berdasarkan pengetahuan. Ia

menyebut bahwa ilmu kritis, seperti Psikoanalisis dan kritik ideologi dari Marxis

adalah upaya pembebasan tersebut.

Dalam model Habermas (2007), ilmu yang membebaskan akan

menggabungkan studi proses kausal dalam ilmu empiris dengan transformasi

pemahaman yang diperoleh melalui Hermeneutik. Hal ini membutuhkan

pembebasan dan penghilangan rintangan pemahaman kausal seperti rintangan

psikologis dan ideologi sosial dominan.

Ilmu pengetahuan sebagai emansipasi adalah ilmu pengetahuan yang

menekankan pentingnya peran ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat dalam

proses humanisasi. Nilai-nilai itu menurut Young (Lubis, 2006;31) mencakup praksis

komunitas masyarakat, demokrasi mandiri, keadilan sosial dan integritas

lingkungan alam dan manusia. Ilmu pengetahuan tidak hanya bersifat deskriptif,

tapi juga terkait dengan kepentingan manuisa dan harkat martabatnya.

Pada konteks ini dapat dipahami bahwa emansipasi dalam konteks teori kritis adalah



upaya menjadikan ilmu pengetahuan untuk membebaskan manusia. Ilmu pengetahuan



bukan untuk melakukan dominasi, tapi justru menciptakan manusia-manusia yang bebas



dan mandiri, manusia-manusia yang merdeka. Inilah fokus utama emansipasi dalam konteks



teori kritis.

Referensi



Beck, Christina S (ed.), Communication Year Book 32, Routledge, New York and London,

2008

Cresswell, John W, Research Design, Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed,

Eriyanto, Analisis Framing, Penerbit Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2001

Eisenberg, Eric M dkk, Organizational Communication, Balancing and Constraint, Bedford

St Martins, Boston, New York, 2009

Faqih, Mansur, Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, Insist Press, Yogyakarta,

2002

Fiske, John, Cultural and Communications Studies, Penerbit Jalasutra, Bandung, 2004

__________, Introduction Communications Studies, Rotledge, London, 1990

Gay, L.R., Geoffrey E. Mills & Airasian, ed. Educational Research: Competencies for analysis

and application-9th. New Jersey: Merril-Pearson Education, 2009

Habermas, Juergen, Rasio dan Rasionalisasi Masyarakat, Penerbit Kreasi Wacana,

Yogyakarta, 2007

Hall, S. Coding and encoding in television discourse In S.Hall, D.Hobson, A.Love, P. Willis

(Eds.), Culture, media, and language, London: Hutchinson, 1980

Hardt, Hanno, Critical Communications Studies, Sebuah Pengantar Komprehensif, Penerbit

Jalasutra, Yogyakarta, 1992.

Jones, Phip, Pengantar Teori-Teori Sosial, Dari Teori Fungsionalisme hingga Post

Modernisme, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2010

Kuswarno, Engkus, Etnografi Komunikasi, Penerbit Widya Padjadjaran, Bandung, 2008

Lechte, John, 50 Filsuf Kontemporer, Dari Strukturalisme sampai Post Modernisme,

Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2001

Littlejohn, Stephen, Enciclopedia of Communication Theory, Sage Publication, Thousand

Oaks California, 2008

___________ dan Karen A Foss, Teori Komunikasi, Penerbit Salemba Humanika, Jakarta,

2009

Lubis, Akhyar Yusuf, Dekonstruksi Epistemologi Modern, Pustaka Indonesia Satu, Jakarta,

2006

Macann, Christopher, Four Phenomenological Philoshopers, Rotledge, London and New

York, 1993

Mc Carthy, Thomas, Teori Kritis Juergen Habermas, Penerbit Kreasi Wacana, Yogyakarta,

2006

Miller, Katherine, Communication Theories, Perspektives, Processes, and Context, Mc Graw

Hill, 2002

Nina Syam, Filsafat Sebagai Akar Ilmu Komunikasi, Penerbit Simbiosa, Bandung, 2010

Outhwaite, William, ed., Ensiklopedia Pemikiran Sosial Modern, penerjemah Tri Wibowo,

Penerbit Kencana, Jakarta, 2008.

Piliang, Yasraf Amir, Posrealitas, Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika, Penerbit

Jalasutra, Bandung, 2004

Rahmat, Jalaludin, Retorika Modern, Pendekatan Praktis, Rosda Karya, Bandung, 2011

Ritzer, George, Ensiclopedi of Social Theory, Sage Publication, Thousand Oak, London, 2005

Thompson, John, Analisis Ideologi, Kritik Wacana Ideologi-Ideologi Dunia, Ircisod

Publishing, Yogyakarta, 2007


Related docs
Other docs by yen_rizal
Teori Kritis
Views: 265  |  Downloads: 18
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!