Terminal Kunci Teori Kritis
Oleh : Yenrizal1
Materialisme
Paham materialisme adalah konsep yang digagas oleh Marx dalam
penjelasannya mengenai The Communist Manifesto dan Das Capital. Materialisme
merupakan gagasan utama dari Marx yang sering disebut dengan Materialisme
Historis.
Akar materialisme sebenarnya ada pada era Thales dan Parmenides yang
hidup di abad VI dan V SM, walaupun kemudian ada yang menyebutnya lebih
tepat dimulai dengan Democritus, pemikir abad V, dan gurunya Leucippus.
Mereka memandang dunia ini terdiri dari sejumlah tak berhingga dari atom-atom
bahan yang tak henti-hentinya menghasilkan interaksi kombinasi-kombinasi baru.
Peringatan King Lear untuk Cordelia bahwa "Tidak akan datang dari apa-apa"
berasal dari filsafat materialis, yang maknanya adalah tidak ada yang dapat
dihancurkan. Oleh karena itu gagasan bahwa dunia diciptakan dan agen
supranatural dibantah. Pada abad yang sama Empedocles berusaha memberikan
penjelasan materialistis kehidupan organik, membangun teori yang berpengaruh
tentang empat elemen, bumi, udara, api, dan air. Dia percaya bahwa alam
semesta berevolusi siklis melalui harmoni dan perpecahan dari unsur-unsur (Nina
Syam, 2010).
Materialisme menyatakan bahwa apa pun yang eksis adalah, atau setidaknya
tergantung pada, materi. Dalam bentuknya yang lebih umum materialisme
mengklaim bahwa semua realitas pada dasarnya adalah material; dalam
bentuknya yang lebih spesifik realitas manusia adalah material. Pada tradisi
Marxis, materialisme biasanya dari jenis non-reduktif (Outwaithe, 2008;505).
Materialisme menempati berbagai bentuk, namun intinya menyatakan
bahwa dalam setiap penjelasan tentang dunia materi itu lebih utama
dibandingkan pikiran atau jiwa. Materialisme yang kuat meyakni bahwa relalitas
terdiri dari dari hal-hal yang bersifat material dan kombinasinya yang sangat
bervariasi. Bentuk lemah materialisme mengakui pentingnya, meskipun sekunder,
operasi mental. Mengingat desakan menafsirkan realitas dari segi materi, sejarah
1
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Komunikasi UNPAD, 2011
materialisme telah menunjukkan afiliasi dengan baik ilmu-ilmu alam dan
antagonisme yang terus-menerus terhadap penjelasan kejadian dalam hal yang
berkaitan dengan masalah spiritual atau supernatural.
Dijelaskan juga oleh Outwaithe (2008;505-506) bahwa materialisme
mengesampingkan kemungkinan eksistensi di luar jasad (materi) dan secara
metafisis menentang dualisme. Bentuk materialisme dominan juga dikenal dalam
pandangan filsafat behavioristik seperti pada central state materialism (CSM) yang
melibatkan tiga langkah : (1) analisis pernyataan mental prima facie, seperti “saya
sekarang sedang berpikir”, sebagai “topik netral”, yaitu tidak menunjukkan sifat
dari proses didalamnya, (2) definisi keadaan mental, baik yang bertentangan
dengan pandangan klasik sebagai area batin dan dengan behaviorisme sebagai
tindakan lahiriah; dan (3) indetifikasi spekulatif atas proses batin dengan kerja-
fisik-kimiawi dari otak, atau sistem syaraf pusat.
Pandangan lain dikenal dengan Synchronic Emergent Powers Materialsm
(SPM) yang menyatakan bahwa pikiran dianggap bukan sebagai substansi, entah
material atau immaterial, tetapi sebagai sekumpulan daya. Hal ini memiliki
kemiripan dengan pendapa H Putnam. Oleh Marx kemudian menjadi dasar
baginya untuk menegaskan mengenai practical materialism, yaitu peran
kosntitutif dari agen transformasi manusia dalam reproduksi dan transformasi
bentuk-bentuk sosial.
Dalam materialisme praktis, Marx mendefinisikan materi sebagai sesuatu
yang dibatasi oleh bidang sosial (pada ilmu alam) dan dimana “materialisme”
dipahami sebagai “praktik sosial”. Hal ini yang kemudian dikembangkan sekaligus
juga dikritik oleh penerus Marx berikutnya. Seperti Lukacks yang menolak tanda
utama materialisme dialektik, yaitu kombinasi dari dialektika sifat dan teori
pengetahuan refleksionis, yang menyebutnya inkonsisten. Terutama sekali ini
dipahami dalam sudut pandang Marxisme Barat.
Apapun itu, yang jelas konsep materialisme adalah filsafat Marx dalam
melihat realitas, bahwa segala sesuatu yang ada sekarang ini adalah bersifat
materi. Ada berasal dari materi, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, prinsip
rasionalitas menjadi wilayah terpenting pada pendekatan Marxis.
Struktur
Konsep mengenai struktur memang sebuah gagasan penting dalam teori
kritis. Bermula dari Marx yang menyatakan bahwa persoalan sosial tercipta
karena adanya perbedaan struktur, terutama antara sub struktur dan super
struktur. Marx cenderung melihat pada struktur ekonomi politik sebagai kritiknya
terhadap struktur yang berlaku saat itu. Struktur dalam pandangan Marx bisa
dimaknai sebagai jumlah total dari koneksi yang stabil untuk keutuhan dan
identitas dirinya sendiri, sebagai pelestarian kualitas dasar tanpa perubahan
eksternal atau internal. Struktur hanya mengungkapkan unsur-unsur yang tetap
stabil, relatif tidak berubah, dalam berbagai transformasi sistem. Struktur
kemudian juga dianggap sebagai bentuk kuasa dari super struktur yang
melakukan hegemoni. Atas pemikiran ini, maka pemahaman teori kritis saat itu
lebih banyak terfokus pada kritik struktur. Hal yang kemudian berbeda dengan
pandangan kelompok Frankfur yang lebih terfokus pada analisis Kultur sebagai
alat dominasi.
Definisi struktur dipahami sebagai organisasi bagian-bagian yang saling
bertautan. Organisasi ini terbentuk dari berbagai unsur yang kemudian
membentuk sebuah jalinan dan kerjasama (Outhwaite, 2008;805). Struktur
kemudian memiliki keterkaitan dengan teori sistem yang dikembangkan Talcott
Parson, sesuatu yang kemudian banyak dikritik sebagai paham yang positivistik
oleh kalangan teori kritis.
Sebuah sumbangan berharga mengenai konsep Struktur ini dilakukan oleh
Antoni Gidden dengan teori Strukturasinya. Hal ini beranjak dari pemikiran
Sausure dan Levi Strauss mengenai struktur pada bahasa dan wacana. Giddens
(Thompson, 2007, 244) mengatakan bahwa konsep struktur bisa dilihat melalui
perbandingan antara bahasa dan ucapan. “Bukan karena masyarakat ibarat
bahasa, tetapi sebaliknya bahasa sebagai satu kegiatan praktis merupakan pusat
kehidupan sosial-yang dalam beberapa hal mendasar-bahasa dapat dianggap
sebagai contoh terjadinya proses sosial”.
Giddens juga menggunakan perbandingan ini untuk menggabungkan
perbedaan yang sama antara interaksi dan struktur yang terdapat dalam analisa
sosial. Interaksi terbentuk melalui aktifitas-aktifitas para agen, sementara struktur
memiliki satu eksistensi nyata, ia terdiri dari aturan-aturan dan sumber-sumber
yang terimplementasi dalam interaksi, yang berarti interaksi struktur tersebut
dalam setiap prosesnya selalu dikembangkan.
Sementara itu, Thompson (2007;249) sendiri mengatakan bahwa struktur
adalah satu istilah yang tidak jelas dan ambigu, yang memiliki persoalan pada
istilah “rule”-bahwa ini tidak terlalu berguna. Hal ini terkadang dimaknai sebagai
seseorang yang sudah mematuhi dan mentaati aturan. Apabila pemaknaan hanya
sampai disini maka struktur cenderung menjadi tidak berguna. Dalam tradisi kritis,
harus ada penjelasan lebih tajam mengenai struktur ini. Thompson kemudian
membedakan struktur ini menjadi dua aspek yaitu, struktur signifikansi dan
struktur legitimasi. Struktur signifikansi dimaknai sebagai aturan semantik, dan
struktur legitimasi dimaknai sebagai aturan moral.
Kendati Gidden melakukan kritik terhadap materialisme historisnya Marx,
dan Thomposon kemudian melakukan kritik pula terhadap Giddens, namun
pembahasannya mengenai struktur, sama-sama melihat bahwa struktur tersebut
diciptakan, dan menjadi salah satu alat untuk melakukan dominasi. Struktur
senantiasa dikembangkan, dan itulah yang dijadikan sebagai bentuk penguasaan
terhadap alat produksi dan modal. Struktur diciptakan dan menjadi alat.
Struktur Sosial
Struktur sosial adalah bahasan yang paling banyak ditemukan dalam literatur
ilmu sosial. Pengertiannyapun sangat beragam, sehingga harus betul-betul
dipahami pemaknaan struktur sosial dalam konteks teori kritis. Makna struktur
sosial juga sudah jauh sebelumnya dibicarakan para ahli, seperti Ibnu Khaldun
dalam muqaddimah, maupun yang kemudian dibahas pula oleh Herbert Spencer
dan Talcot Parson.
Dalam struktur sosial, bagian-bagian itu adalah hubungan antara orang-orang
dan susunan tatanan bagian itu bisa dikatakan bagian dari masyarakat secara
keseluruhan. Yang tersirat dalam struktur sosial adalah tingkatan kepermanenan
tertentu. Pada masa-masa awal kemunculan istilah ini, Spencer menyamakan
struktur sosial ini sebagai fungsionalisme dengan analogi mirip tubuh manusia.
Konflik sangat tidak mungkin terjadi pada konteks ini, yang kemudian disebutnya
sebagai konsensus, bukan pemaksaan (coercion).
Pandangan Spencer ini yang dikritik oleh Karl Marx yang mengatakan bahwa
setiap bentuk masyarakat yang ada (baik itu feodalisme dan kapitalisme)
didasarkan pada koersi yang dilakukan oleh kelas dominan terhadap bawahan.
Konflik, menurut Marx, akan hilang setelah adanya revolusi proletar dan
berdirinya Sosialisme. Hal ini berbeda pula dengan pandangan Dahrendorf (1957)
yang mengatakan bahwa konflik akan senantiasa ada baik pada masyarakat
Sosialis maupun Kapitalis.
Dalam keilmuan Sosiologi, sepertinya telah ada kesepakatan bahwa
perubahan pada struktur sosial akan senantiasa terjadi dari waktu ke waktu. Hal
yang perlu diperdebatkan adalah sifat perubahan itu sendiri. Beberapa teoritisi
sosial menganggap bahwa perubahan sosial itu bersifat skilis, seperti pandangan
Khaldun, namun sebagian lagi menganggap bahwa perubahan struktur sosial
terjadi dalam arah linear, dan metodenya adalah Revolusi. Hal yang terakhir inilah
yang banyak digunakan oleh kalangan marxis ortodoks, dan sebagian juga
kelompok neo marxis.
Pada hal lain, Habermas (Mc Carthy, 2009;206) memandang bahwa
interpretasi individu terhadap struktur sosial sebagai perbaikan yang diperlukan
dalam “objektifisme” sosiologis. Dalam hal ini, struktur sosial dalam perspektif
kritis bukanlah sesuatu yang given, namun kondisi yang diciptakan. Oleh
karenanya, memahami strukur sosial haruslah didasarkan pada sisi
intersubjektifitas. Intersubjektifitas sebagai titik awal dan membangun
subjektifitas dalam kaitannya dengan intersubjektifitas. Sistem-sistem aturan
dasar tidak lagi dikaitkan kepada subjek individual, aturan itu justru akan
menjelaskan kelahiran hubungan-hubungan intersubjektif dimana individu itu
terbentuk.
Super Struktur Dasar
Penjelasan mengenai ini sangat identik dengan gagasannya Marx. Ia
mengawalinya dengan dikhotomi hubungan antara sub struktur dengan super
struktur sebagai sebuah kondisi yang membentuk pola hubungan yang
dibenturkan. Super struktur merupakan kondisi yang diciptakan untuk melakukan
penindasan dan penguasaan terhadap kelompok yang tidak memiliki kuasa.
Super struktur dasar (base suprastructure) adalah metafora Marxis untuk
mendeskripsikan relasi antara ekonomi (relasi produksi) dengan pemerintah,
politik, dan ideologi. Beberapa pemikiran Marx dan Engels mengenai konsep ini,
tergambar dari tiga karakteristik dasar yaitu (Outhwaite, 2008;60-61) :
- Kompabilitas (Compability).
Sebuah masyarakat akan eksis jika ada kompabilitas (kesesuaian) antara
pemerintahnya, ide-idenya, dan struktur ekonominya. Namun hal ini, dikatakan
Marx sangat tidak mungkin. Marx berkata bahwa jika ekonomi berubah, maka
pemerintah dan ide juga harus berubah. Kompabilitas diinterpretasikan
sebagai perubahan yang tidak terelakkan dalam suprastruktur setelah terjadi
perubahan di tingkat basis.
- Ada hubungan timbal balik antara basis dan suprastruktur. Umpan balik
menjelaskan kemunculan pelaksanaan fungsi suprastruktur terhadap basisnya.
Pernyataan tentang fungsi pemerintah atau ide dapat diterjemahkan ke dalam
kalimat kondisional yang dapat diterima di dalam mode penjelasan ilmiah.
- Semua properti dari suprastruktur tidak tergantung kepada beberapa properti
basis. Ada entitas, properti pemerintah dan ide-ide yang tidak dapat dijelaskan
dengan menggunakan pernyataan tentang basis. Suprastruktur berkembang
dari suprastruktur sebelumnya, dan berasal dari pilihan atau tindakan bebas di
dalam batasan struktural yang dikenakan oleh kondisi kompatibilitas dan
umpan balik. Suprastruktur dianggap sebagai komponen utama dari setiap
masyarakat manusia, ia bukan pelayan dari basis.
Marx menegaskan bahwa ekspresi “basis dan suprastruktur” diaplikasikan
secara luas pada hubungan antara institusi kemasyarakatan. Bentuk negara,
politik, dan ideologi merupakan suprastruktur yang didirikan di atas basis relasi
produksi, dimana relasi produksi ini kompatibel dengan level alat-alat produksi
tertentu. Ketergantungan suprastruktur diperantarai oleh struktur ekonomi, tidak
secara langsung pada teknologi.
Oleh karena itu, pandangan mengenai suprastruktur, kendati kemudian
diperluas oleh berbagai kalangan Marxis dan Neo marxis, tetap memiliki pijakan
dasar pada hubungan antara basis dan suprastruktur. Bentuknya memang
kemudian bervariasi, namun asumsi dasarnya tetap pada dikhotomi pola hubungan
tersebut. Teori kritis banyak membicarakan soal pola hubungan tersebut, karena
disinilah sering terjadi pola relasi yang mendominasi dan melakukan penindasan.
Masyarakat Dominan
Masyarakat dominan adalah kata kunci yang memperlihatkan pola
hubungan antara dua kelompok masyarakat. Dalam bahasa Marx diistilahkan
sebagai hubungan antar kelas, yaitu kelas penguasa dan kelas yang dikuasai.
Dalam struktur masyarakat produksi, Marx menyatakan bahwa selalu ada
kelas dominan yang cenderung memegang kendali terhadap kelas lainnya. Kelas ini
adalah pemilik modal. Masyarakat dominan cenderung untuk menguasai alat
produksi dan hubungan produksi. Hubungan produksi dianggap sebagai kontrak
yang digunakan ketika menguasai dan menggunakan alat produksi (Ari Yuana,
2010;255).
Pada era Marx klasik, masyarakat dominan lebih ditekankan pada kelompok
yang menguasai alat produksi ekonomi. Pendekatannya sangat strukturalis dengan
cenderung pada pola hubungan ekonomi politik. Namun di era berikutnya,
terutama kalangan Neo marxis dan Frankfur School, konsep masyarakat dominan
ini dikembangkan lebih jauh pada wilayah ideologi dan budaya. Masyarakat
dominan adalah masyarakat yang memiliki penguasaan terhadap alat-alat dominasi
dan hegemoni. Mengacu pada pandangan Foucoult bahwa selalu terjadi dominasi
dan hegemoni dikarenakan adanya pola hubungan antara ilmu pengetahuan dan
kekuasaan. Ilmu pengetahuan cenderung menjadi alat hegemoni, dan penguasa
ilmu pengetahuan adalah kelompok masyarakat yang dominan atas yang lainnya.
Konsep ini juga dikembangkan oleh Antonio Gramsci yang menegaskan
bahwa kelompok masyarakat dominan menguasai sarana dan prasarana dominasi,
yaitu dominasi dan memproduksi wacana. Melalui kekuatan media massa dan
penguasaan wacana, mereka menjadi masyarakat dominan yang menyebarkan
pengaruh besar kepada publik, tanpa mereka sadari. Disinilah terjadinya proses
penguasaan oleh satu kelompok masyarakat kepada kelompok lainnya.
Gramsci (Outhwaite, 2008) juga menjelaskan bahwa hegemoni merupakan
sebuah proses penguasaan kelas dominan kepada kelas bawah, dan kelas bawah
juga aktif mendukung ide-ide kelas dominan. Di sini penguasaan dilakukan tidak
dengan kekerasan, melainkan melalui bentuk-bentuk persetujuan masyarakat yang
dikuasai. Bentuk-bentuk persetujuan masyarakat atas nilai-nilai masyarakat
dominan dilakukan dengan penguasaan basis-basis pikiran, kemampuan kritis, dan
kemampuan-kemampuan afektif masyarakat melalui konsensus yang menggiring
kesadaran masyarakat tentang masalah-masalah sosial ke dalam pola kerangka
yang ditentukan lewat birokrasi (masyarakat dominan). Di sini terlihat adanya
usaha untuk menaturalkan suatu bentuk dan makna kelompok yang berkuasa.
Kritik Ekonomi Politik
Kata kunci kritik ekonomi politik adalah gagasan yang khas dikeluarkan oleh
Marx. Ia khususnya menyoroti bagaimana relasi hubungan antara kelas-kelas yang
ada, didominasi oleh faktor ekonomi-politik. Hal ini juga menjadi titik sentral teori
marxis selanjutnya.
Kritik utama dari berbagai pemikiran Marx memang pada sisi ekonomi politik.
Bagi Marx, masalah mendasar kapitalisme bukan hanya soal
eksploitasi pekerja secara ekonomi dengan mengambil nilai lebih
dari mereka. Masalah sebenarnya adalah situasi keterasingan yang
mengesampingkan otonomi mereka sebagai manusia, terutama dalam tindakan
kerja, perampasan hasil-hasil materialnya, dan situasi keterasingan dari manusia
lainnya. Marx meyakini bahwa anatomi
masyarakat borjuis dapat ditemukan pada ekonomi politik.
Dalam bahasa yang lebih kasar Marxis menyatakan bahwa, ekonomi menjadi basis
suprastruktur politik; ekonomi akan menentukan perkembangan politik dan budaya
(Ritzer, 2005;505).
Terdapat tiga hal penting yang jadi catatan oleh Marx (Ritzer, 2005;507)
yaitu, pertama, diperlukannya kritik ekonomi politik yang berpuncak pada
penguasaan modal. Kedua, mengikuti konsep evolusi yang menghasilkan modal,
adalah munculnya kesadaran proletariat melalui kerjasama proses-produksi tenaga
kerja di pabrik yang mengarah pada kesadaran diri, ke rezim produksi. Ketiga, yang
paling mengganggu dari perubahan sosial adalah minimnya kesadaran kaum
proletar daripada kesadaran intelektual dalam memahami kapitalisme secara
teoritis melalui prisma sosialisme ilmiah.
Konsep ekonomi politik yang menjadi titik fokus karena Marx sendiri sangat
dipengaruhi oleh positivisme ilmu pengetahuan yang saat itu berkembang pesat.
Fokus Marx ini juga dipengaruhi oleh kondisi saat itu, dimana cenderung terjadi
penindasan oleh kaum pemilik modal terhadap buruh, dan terjadi pula pembiaran
oleh Negara. Buruh hanya dijadikan sebagai alat untuk memperkaya kaum
pemodal. Dalam bahasanya Marx menyebutkan istilah borjuis untuk pemilik modal
dan proletar untuk kelompok buruh.
Penekanan Marx yang terlalu terfokus pada sisi ekonomi politik inilah yang
kemudian dikritik juga oleh kalangan Neo marxis dan Frankfur School, bahwa ada
dimensi lain yang harus juga dipertimbangkan, yaitu aspek budaya dan ideologi.
Konflik Dialektika
Konflik dalam dialektika adalah tema-tema yang banyak diperdebatkan dalam
keilmuan sosial, sejak zaman dulu. Dalam bahasa sederhana, dialektika diartikan
sebagai proses rumit dalam konflik konseptual, interkoneksi dan perubahan,
dimana penciptaan, interpenetrasi, dan pertentangan, yang menimbulkan mode
pemikiran atau bentuk kehidupan yang lebih baik memainkan peranan penting
(Outhwaite, 2008;211).
Menurut Hegel, ada dua pengertian dasar dari dialektika yaitu (1) sebagai
sebuah proses logis. Dasarnya adalah dari prinsip idealisme dimana pemahaman
spekulatif tentang realitas sebagai spirit yang absolut. Hal ini disatukan dalam
gagasan dialektika sebagai reason dan process, sehingga menjadi process of reason.
(2) Sebagai penggerak proses tersebut. Motor dari proses ini adalah dialektika
dalam arti sempit yaitu momen pemikiran aktual yang kedua dan negatif. Hegel
menyebutnya sebagai “memahami hal yang bertentangan dalam kesatuannya atau
memahami hal positif dalam hal yang negatif.
Dialektika dari Hegel ini kemudian dikritik oleh Marx. Khususnya Marx
menolak konsep Idealisme yang digagas Hegel. Begitu juga ia menolak konsep
kebenaran absolut. Untuk itu Marx menggantinya dengan dialektika materialis yang
bersifat ateistis (Ari Yuana, 2010;254). Apabila Hegel mengatakan bahwa sejarah
proses terbentuknya ide atau konsep atau pemahaman manusia kemudian dapat
mendorong perubahan sosial politik. Sebaliknya Marx justru mengatakan bahwa
proses transformasi ekonomilah yang mendorong cara pikir manusia untuk
menimbulkan ide dan konsep baru. Marx berkeyakinan bahwa pikiran manusia
sebagai institusi yang aktif dapat beradaptasi dalam menanggapi kondisi
lingkungan.
Marx memahami bahwa dialektikanya adalah dialektika ilmiah karena
dialektikanya menjelaskan kontradiksi dalam pemikiran dan dalam krisis kehidupan
sosioekonomi dalam term relasi yang pada dasarnya bertentangan dari yang
memunculkan kontradiksi tersebut. Ini bisa dimaknai sebagai dialektika historis
karena berakar pada dan merupakan kondisi dari perubahan dalam relasi dasar dan
situasi yang dideskripsikannya. Bisa juga sebagai dialektika kritis karena
menunjukkan kondisi historis dari validitas dan batas kecukupan katagori, doktrin
dan praktek yang dijelaskannya. Bisa juga sebagai dialektika sistematis karena
berusaha melacak berbagai macam tendensi dan kontradiksi historis dari mode
produksi.
Terpenting dari semua itu adalah kontradiksi antara nilai guna dan nilai
komoditas. Kontradiksi antara kegunaan konkret dan aspek sosial abstrak dari
tenaga kerja. Kontradiksi-kontradiksi inilah yang kemudian bisa dikatakan sebagai
terjadinya konflik dalam dialektika.
Dalam bahasa lain, William Outhwaite (2008;215) mengatakan dari semua
perdebatan dialektika, yang kemudian mengambil posisi penting di abad ke-20,
terdapat lima makna dasar yang menonjol, yaitu :
1. Kontradiksi Dialektika, yang melibatkan oposisi inklusif
2. Argumentasi Dialektika, berorientasi pada pencarian cita-cita yang punya
landasan
3. Nalar Dialektika, yaitu penyebaran konotasi mulai dari pemikiran
imajinatif dan fleksibel secara konseptual.
4. Proses Dialektika, yang melibatkan skema kesatuan orisinal, diremption,
dan pembalikan historis.
5. Inteligibilitas Dialektika, yaitu upaya memahami baik penyajian bentuk
sosial dan kultural yang dilakukan secara teleologis (Hegel) ataupun
secara kausal (Marx).
Dominasi dan Penindasan
Stephen Littlejohn (2009; 237) berkata bahwa ketika membicarakan teori
kritis harus dipahami bahwa teori kritis bukanlah sebuah teori yang paling tepat,
teori ini memberikan sebuah kerangka teori yang melengkapi dalam memahami
struktur dominasi dalam masyarakat. Hal ini bisa membuka berbagai kemungkinan
untuk kesetaraan dan pemberdayaan manusia, makna, dan nilai-nilai. Pada sisi ini
juga ditegaskan bahwa komunikasi pedagogi kritis memberi perhatian penting pada
fungsi kekuasaan, terutama bertanya bagaimana sistem komunikasi bekerja untuk
mempertahankan (dan mungkin meng-counter) sistem dominasi yang terjadi.
Hal inilah yang kemudian banyak melatari munculnya berbagai varian teori
kritis. Dalam perjalanan sejarahnya, bisa dilihat bahwa Marx ketika memunculkan
teori pertentangan kelas beranjak dari kerisauannya atas dominasi salah satu
kelompok masyarakat, terutama kaum kapitalis terhadap kelompok pekerja. Aspek
dominasi ilmu pengetahuan yang dianut saat itu melahirkan berbagai kritik dari
Marx.
Dominasi akan sangat berkaitan dengan terjadinya penindasan. Hal inilah
yang kemudian melahirkan berbagai gagasan dari Marx. Marx (Lubis, 2006;11)
berpendapat bahwa dominasi harus diberantas. Yang diperlukan untuk
membebaskan manusia dari ketidakadilan dan penindasan adalah munculnya satu
kelas masyarakat yang berjiwa revolusioner (kaum buruh, proletariat), untuk
membebaskan diri dari ketertindasan serta mewujudkan harapan mereka sendiri.
Pada saat Marx memunculkan gagasannya, dominasi yang terjadi saat itu
lebih banyak menyoroti soal ekonomi politik dalam sistem produksi. Dominasi
inilah yang harus dilawan, menurut Marxis klasik. Pada perkembangannya,
dominasi ini dibahas lebih lanjut oleh kelompok Neo marxis dan Frankfur Shool
serta teoritis kritis lainnya. Ada asumsi dari semua pandangan teori kritis, yaitu
dominasi berpotensi untuk menciptakan penindasan. Perbedaan kemudian terletak
pada bentuk dominasi yang berlangsung. Jika Marx dominan bicara soal dominasi
ekonomi politik, maka kalangan Neo marxis dan Frankfur School membahasnya
pada aspek kebudayaan dan hal-hal lainnya.
Penganut Mazhab Frankfur meyakini bahwa kultur adalah realitas masyarakat
kapitalis modern. Dominasi dan penindasan kultural, seperti juga penindasan
rasionalitas, jauh lebih dominan dari sekedar penindasan ekonomi. Karena itu perlu
dikembangkan rasionalitas kritis yang berorientasi pada nilai kemanusiaan,
keadilan, kebahagiaan, dan perdamaian.
Adorno (Lubis, 2006;15) berkata bahwa dibalik reduksi manusia sebagai agen-
agen serta pembawa nilai-nilai pertukaran, sesungguhnya terdapat dominasi
manusia atas manusia lainnya. Problem hubungan antara rasio (akal) dengan
dominasi inilah yang menjadi bahan penting dalam kajian Teori Kritis. Sebagaimana
yang dilancarkan oleh Marcuse, Horkheimer, Adorno melalui karya-karyanya yang
mengkritik dominasi rasionalitas. Oleh karena itu mereka menggagas pentingnya
kembali pencerahan untuk kebebasan sosial. Dalam memahami dominasi (ilmu
pengetahuan) yang menciptakan penindasan, mereka menelusuri berbagai sudut
akar pendekatan positivistik yang waktu itu menjadi acuan.
Oleh karena itulah, Habermas memunculkan berbagai gagasan kritisnya
dengan pendekatan Teori Masyarakat Komunikatif, dengan tujuan mengakhiri
dominasi dan membangun kesadaran masyarakat. Pada tataran metodologi,
disarankan agar menggunakan pendekatan riset aksi sebagai bentuk perlawanan
terhadap dominasi dan ketidaadilan.
Ideologi
Gagasan mengenai ideologi banyak dimunculkan oleh kalangan Neo marxis
dan Frankfur School sebagai kritik terhadap Marxis klasik yang lebih menekankan
pada aspek determinisme ekonomi. Asumsinya adalah, persoalan dominasi dan
penindasan saat ini tidak bisa lagi dilihat dari aspek ekonomi politik belaka. Lebih
jauh lagi harus dilihat ada persoalan ideologi sebagai wacana kritik baru.
Istilah ideologi sendiri memiliki banyak pandangan dari berbagai pemikirnya.
Di satu sisi ideologi digunakan sebagai sebuah istilah murni, yaitu sistem berpikir,
sistem kepercayaan, dan praktik-praktik simbolik yang berhubungan dengan
tindakan sosial dan politik. Hal ini mengarahkan pemahaman ideologi sebagai
sesuatu yang netral (Thompson, 2007;17).
Dalam bahasan lain, ideologi bukanlah sesuatu yang netral. Ideologi dianggap
berhubungan dengan proses pembenaran hubungan kekuasaan yang tidak simetris,
berhubungan dengan proses pembenaran dominasi. Konsep ini dari sudut pandang
kritis terhadap ideologi.
Sebuah pandangan yang dikemukakan Lefort (Thompson, 2007;48) bahwa
ideologi adalah satu tipe wacana tertentu yang digolongkan ke dalam tatanan
spesifik imajinasi. Ideologi adalah tipe wacana yang membenarkan legitimasi
dengan mengacu pada realisme transendental, realisme Tuhan-Tuhan, figur
spiritual dan mistis. Wacana ideologi terlihat dalam kehidupan sosial, ia berusaha
menyembunyikan “dunia lain”.
Dalam bahasa lain, ideologi adalah pola hubungan bersama representasi yang
berfungsi membangun kembali dimensi masyarakat “tanpa sejarah” pada
masyarakat historis yang paling pokok. Konsep ini memiliki korelasi dengan
pandangan Marx bahwa pola relasi ini akan membenturkan kapitalisme dengan
seluruh model produksi sebelumnya. Tugas penting ideologi adalah
menyembunyikan, dengan ruang sosial sendiri, divisi dan mutasi yang diperlukan
dalam pengembanga kapitalisme.
Memahami ideologi dalam perspektif kritis, maka itu adalah bahasan
terdalam dan core dari teori ini. Keyakinan dalam teori kritis, seperti pendapat
Adorno, Horkheimer, maupun Habermas, sebenarnya menekankan bahwa pada
saat ini yang terjadi adalah dominasi dalam tingkat ideologi. Sistem ekonomi yang
dikembangkan pada dasarnya hanya instrumen-instrumen saja dari sebuah ideologi
besar, yaitu Kapitalisme. Inilah tantangan besar dalam perspektif teori kritis,
sehingga harus dikembangkan gagasan baru yaitu, Ideologi Pembebasan, sebuah
ideologi yang tidak tunduk pada satu doktrin, namun menempatkan kesadaran dan
kebebasan manusia dalam berkreasi dan bertindak. Ideologi pembebasan ini bisa
dilacak dari berbagai filsafat kritis, terutama gagasan Habermas dan makna filsafat
yang dilontarkan Paolo Freire.
Hegemoni
Konsep hegemoni adalah konsep yang sudah lama dikembangkan oleh
teoritisi kritis, baik oleh kelompok Marxis klasik maupun Neo marxis dan Frankfur
School. Perlawanan dari teori kritis sebenarnya adalah perlawanan terhadap
hegemoni. Hanya saja, penggagas hegemoni yang paling banyak menjadi rujukan
adalah Antonio Gramsci, seorang Neo marxis.
Penggunaan istilah Hegemoni, secara tradisional dimaknai sebagai dominasi
suatu negara atau penguasa lain. Pada saat ini, konsep ini mengalami perluasan,
walaupun ide dasarnya tetap pada dominasi negara. Hegemoni kemudian
berkembang lebih jauh dengan menghubungkannya pada konsep ideologi
(Outhwaite, 2008;355).
Hegemoni dapat diartikan sebagai dominasi kekuasaan suatu kelas sosial atas
kelas sosial lainnya, melalui kepemimpinan intelektual dan moral yang dibantu
dengan dominasi atau penindasan. Hegemoni dapat pula didefinisikan sebagai
dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok yang lain, dengan atau tanpa
ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominasi
terhadap kelompok yang didominasi/dikuasai diterima sebagai sesuatu yang wajar
dan tidak mengekang pikiran.
Dalam konsepsi Gramsci (Ritzer,2005;172), masyarakat mempertahankan
stabilitas mereka melalui kombinasi "dominasi", atau kekuatan, dan "Hegemoni",
yang didefinisikan sebagai persetujuan untuk "intelektual dan moral
kepemimpinan." Teori hegemoni, menurut Gramsci, melibatkan dua analisis
konstitutif kekuatan dominasi dan cara kekuatan politik tertentu dicapai melalui
otoritas hegemonik, dan delineasi kekuatan counterhegemonic, kelompok, dan ide-
ide yang bisa bersaing dan menggulingkan hegemoni yang ada.
Pada perkembangan selanjutnya, hegemoni semakin meluas dari sisi
pemaknaan. Gramsci sendiri tidak lagi membatasi diri hanya pada kepemimpinan
suatu kelas, namun lebih luas lagi bicara soal ideologi yang dianut oleh sebuah kelas
di masyarakat. Maka fokus teori kritis kemudian juga ikut berkembang, bahwa
hegemoni berkaitan dengan aspek ekonomi, politik, budaya, dan bahkan agama.
Instumen negara kerap dijadikan sebagai alat dan juga subjek yang melakukan
hegemoni. Namun dalam perkembangannya, terutama bagi kalangan Frankfurt
School, hegemoni terbesar justru hadir melalui kekuatan media massa yang
menanamkan nilai-nilai baru yang disebut budaya konteks tinggi. Setiap hegemoni
selalu membawa pesan tertentu, dan itu hanya bisa dipahami dalam dengan
membongkar proses hegemoni itu sendiri, terutama pada tataran ideologi yang
dibawanya.
Emansipasi/Emansipatoris
Istilah emansipasi berarti adalah pembebasan. Mulanya dipakai untuk
menjelaskan pembebasan restriksi legal bagi Yahudi Eropa, budak Rusia dan
Amerika. Makna pembebasan inilah yang kemudian dipakai oleh teoritisi kritis
dalam memperkuat dan sekaligus titik tekan analisisnya.
Habermas (2007) menegaskan bahwa kegagalan teori positivistik yang bebas
nilai adalah pada sisi emansipasi ini, yaitu ketidakmampuan membebaskan diri dari
paham-paham yang membelenggu. Oleh karena itu, konsep emansipasi yang
sederhana dari Habermas adalah kepentingan berdasarkan pengetahuan. Ia
menyebut bahwa ilmu kritis, seperti Psikoanalisis dan kritik ideologi dari Marxis
adalah upaya pembebasan tersebut.
Dalam model Habermas (2007), ilmu yang membebaskan akan
menggabungkan studi proses kausal dalam ilmu empiris dengan transformasi
pemahaman yang diperoleh melalui Hermeneutik. Hal ini membutuhkan
pembebasan dan penghilangan rintangan pemahaman kausal seperti rintangan
psikologis dan ideologi sosial dominan.
Ilmu pengetahuan sebagai emansipasi adalah ilmu pengetahuan yang
menekankan pentingnya peran ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat dalam
proses humanisasi. Nilai-nilai itu menurut Young (Lubis, 2006;31) mencakup praksis
komunitas masyarakat, demokrasi mandiri, keadilan sosial dan integritas
lingkungan alam dan manusia. Ilmu pengetahuan tidak hanya bersifat deskriptif,
tapi juga terkait dengan kepentingan manuisa dan harkat martabatnya.
Pada konteks ini dapat dipahami bahwa emansipasi dalam konteks teori kritis adalah
upaya menjadikan ilmu pengetahuan untuk membebaskan manusia. Ilmu pengetahuan
bukan untuk melakukan dominasi, tapi justru menciptakan manusia-manusia yang bebas
dan mandiri, manusia-manusia yang merdeka. Inilah fokus utama emansipasi dalam konteks
teori kritis.
Referensi
Beck, Christina S (ed.), Communication Year Book 32, Routledge, New York and London,
2008
Cresswell, John W, Research Design, Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed,
Eriyanto, Analisis Framing, Penerbit Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2001
Eisenberg, Eric M dkk, Organizational Communication, Balancing and Constraint, Bedford
St Martins, Boston, New York, 2009
Faqih, Mansur, Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi, Insist Press, Yogyakarta,
2002
Fiske, John, Cultural and Communications Studies, Penerbit Jalasutra, Bandung, 2004
__________, Introduction Communications Studies, Rotledge, London, 1990
Gay, L.R., Geoffrey E. Mills & Airasian, ed. Educational Research: Competencies for analysis
and application-9th. New Jersey: Merril-Pearson Education, 2009
Habermas, Juergen, Rasio dan Rasionalisasi Masyarakat, Penerbit Kreasi Wacana,
Yogyakarta, 2007
Hall, S. Coding and encoding in television discourse In S.Hall, D.Hobson, A.Love, P. Willis
(Eds.), Culture, media, and language, London: Hutchinson, 1980
Hardt, Hanno, Critical Communications Studies, Sebuah Pengantar Komprehensif, Penerbit
Jalasutra, Yogyakarta, 1992.
Jones, Phip, Pengantar Teori-Teori Sosial, Dari Teori Fungsionalisme hingga Post
Modernisme, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2010
Kuswarno, Engkus, Etnografi Komunikasi, Penerbit Widya Padjadjaran, Bandung, 2008
Lechte, John, 50 Filsuf Kontemporer, Dari Strukturalisme sampai Post Modernisme,
Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2001
Littlejohn, Stephen, Enciclopedia of Communication Theory, Sage Publication, Thousand
Oaks California, 2008
___________ dan Karen A Foss, Teori Komunikasi, Penerbit Salemba Humanika, Jakarta,
2009
Lubis, Akhyar Yusuf, Dekonstruksi Epistemologi Modern, Pustaka Indonesia Satu, Jakarta,
2006
Macann, Christopher, Four Phenomenological Philoshopers, Rotledge, London and New
York, 1993
Mc Carthy, Thomas, Teori Kritis Juergen Habermas, Penerbit Kreasi Wacana, Yogyakarta,
2006
Miller, Katherine, Communication Theories, Perspektives, Processes, and Context, Mc Graw
Hill, 2002
Nina Syam, Filsafat Sebagai Akar Ilmu Komunikasi, Penerbit Simbiosa, Bandung, 2010
Outhwaite, William, ed., Ensiklopedia Pemikiran Sosial Modern, penerjemah Tri Wibowo,
Penerbit Kencana, Jakarta, 2008.
Piliang, Yasraf Amir, Posrealitas, Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika, Penerbit
Jalasutra, Bandung, 2004
Rahmat, Jalaludin, Retorika Modern, Pendekatan Praktis, Rosda Karya, Bandung, 2011
Ritzer, George, Ensiclopedi of Social Theory, Sage Publication, Thousand Oak, London, 2005
Thompson, John, Analisis Ideologi, Kritik Wacana Ideologi-Ideologi Dunia, Ircisod
Publishing, Yogyakarta, 2007