Embed
Email

ABSTRAK

Document Sample
ABSTRAK
Shared by: HC111117035539
Categories
Tags
Stats
views:
150
posted:
11/16/2011
language:
Indonesian
pages:
51
Kumpulan Abstrak Tesis

Semester Genap 2008/2009

Pendidikan Bahasa Inggris (ING)

228 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







Menggunakan Film untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa Kelas 8 MTs Negeri Planjan

Kesugihan Cilacap dalam Menulis Paragraf Narasi



Akhmad Fauzan



Abstrak

Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan pada permasalahan yang dialami oleh peneliti sebagai guru

Bahasa Inggris di MTs Negeri Planjan Kesugihan Cilacap. Berdasarkan hasil stui pendahuluan siswa kelas

VIII MTs Negeri Planjan Kesugihan Cilacap, menunjukkan bahwa kemampuan menulis teks narrative siswa

kelas VIII E masih kurang memuaskan dan siswa mempunyai motivasi yang rendah dalam proses belajar dan

mengajar. untuk mengatasi masalah tersebut peneliti menggunakan film teknik. Teknik ini dipilih karena

dapat merangsang siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan menulis sehingga kemampuan menulis mereka

dapat meningkat. Rumusan masalah dari penelitian ini adalah “Bagaimana film bisa meningkatkan

kemampuan siswa dalam menulis siswa MTs Negeri Planjan Kesugihan Cilacap dalam menulis paragraph

narrative?”.

Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas secara kolaborasi. Dalam penelitian ini,

peneliti dan kolaborator bekerja sama dalam menyusun rencana pelajaran, mengimplementasikan tindakan,

mengamati tindakan, dan melakukan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII E pada MTs

Negeri Planjan Kesugihan Cilacap tahun ajaran 2008-2009. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus

dengan mengikuti prosedur penelitian tindakan yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

Prosedur penerapan media film dalam pembelajaran menulis pada penelitian ini adalah sebagai

berikut: (1) mengawali pelajaran dengan ice breaking,(2) mengelompokan anak-anak dengan cara memberi

daftar kata kunci.(3) menyuruh anak-anak duduk berkelompok, terdiri dari empat sampai lima orang setiap

kelompoknya,(4) menyuruh anak-anak untuk membaca daftar kata dipandu oleh , (5). menampilkan gambar

sesuai dengan tema , (6) menapilkan model teks, (6) menayangkan narrative film pendek secara lambat atau

bahkan berhenti pada bebarapa kejadian dan mengisi narrative chart berkelompok, (8) Siswa menjawab

pertanyaan bersama anggota kelompoknya, (9) Siswa mengembangkan draft berdasarkan jawaban-jawaban

pada pertanyaan, (10) Siswa diminta untuk merevisi dan mengedit draft yang telah mereka buat, (11) Siswa

diberi kesempatan untuk menampilkan karya tulisnya,

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi ini dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam

menulis paragraf narrative. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari nilai tes rerata siswa pada siklus 1,dan

siklus 2.Nilai rerata siswa pada sikulus 1 adalah 61dan pada siklus 2 menjadi 72. Selain itu film juga mampu

meningkatkan keaktifan dan motivasi siswa selama pembelajaran menulis. Hal ini dapat dilihat dari

prosentase keterlibatan siswa pada siklus1 yaitu 63% dan 70% pada siklus 2. Berkaitan dengan response

siswa, 86% menyatakn termotivasi pada siklus 1 dan 87% pada siklus 2.

Berdasarkan temuan di atas, beberapa saran dikemukakan.Bagi guru bahasa inggris, untuk

menerapkan media film dalam mengajar menulis. Kepada pihak sekolah untuk menyediakan media

pembelajaran seperti halnya computer dan LCD proyektor Ketiga, bagi peneliti mendatang, disarankan

melakukan studi semacam ini dengan ketrampilan dan type teks yang berbeda.



Kata kunci: films, kemampuan menulis, paragraph narrative







Penggunaan Blog untuk Memperbaiki Keterampilan Menulis Mahasiswa dalam

Mengembangkan Esai Percontohan (Example Essay) di Program Studi Pendidikan Bahasa

Inggris, Universitas Palangka Raya



Akhmad Fauzan



Abstrak

Ada empat masalah utama dalam pengajaran menulis di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris

Universitas Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Masalah tersebut berhubungan dengan keterbatasan sumber

materi cetak, kegiatan yang terpusat pada guru, pembaca tulisan mahasiswa, dan timbal balik terhadap tulisan

mahasiswa. Keempat masalah ini kemudian mempengaruhi mahasiswa dalam menulis Bahasa Inggris,

khususnya menulis esai akademik. Oleh sebab itu, penelitian ini mencoba memecahkan masalah dalam

pengajaran menulis. Penggunaan blog dimaksudkan untuk membantu mahasiswa memperbaiki keterampilan

menulis mereka dalam mengembangkan esai percontohan. Blog digunakan sebagai strategi dalam penelitian



227

Program Studi S2 ING 229







ini karena blog adalah sumber potensial untuk pembelajaran bahasa, blog cocok untuk mahasiswa, blog

adalah pembelajaran otentik, dan blog praktis digunakan.

Penelitian ini dilaksanakan pada mahasiswa Menulis 3 di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris

Universitas Palangka Raya. Rancangan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini

memiliki 2 siklus. Pada siklus pertama, perbaikan keterampilan menulis mahasiswa tidak menunjukkan

kemajuan berarti. Hanya ada 3 mahasiswa yang memiliki skor 2 atau 3 poin untuk semua sub-kriteria dalam

rubrik penilaian. Jadi, siklus pertama tidak memenuhi kriteria keberhasilan. Kegagalan strategi dalam

memperbaiki kemampuan menulis mahasiswa pada siklus pertama terdapat pada kekurangan waktu,

kesulitan dalam mengungkapkan ide, dan keraguan dalam menggunakan kosa kata yang sesuai dan tata

bahasa Inggris yang tepat. Setelah strategi diperbaiki berdasarkan temuan-temuan selama pelaksanaan siklus

pertama, mahasiswa pun menunjukkan perbaikan dalam mengembangkan esai percontohan. Ada 16

mahasiswa yang memiliki skor 2 atau 3 poin untuk semua sub-kriteria di rubrik penilaian. Angka ini

menunjukkan 80% dari jumlah keseluruhan mahasiswa, dan ini berarti kriteria keberhasilan telah dicapai.

Berdasarkan temuan-temuan pada kedua siklus, peneliti mengambil kesimpulan untuk keefektifan

penerapan strategi blog. Pertama, dosen dan mahasiswa harus mendaftar di blog untuk dapat berpartisipasi

dalam kegiatan blog. Kedua, mahasiswa harus menggunakan mesin pencari untuk menemukan situs jejaring

atau blog yang berkenaan dengan topik tulisan mereka. Ketiga, mahasiswa juga harus memeriksa situs

jejaring tata bahasa dan kamus Bahasa Inggris selama proses menulis untuk meyakinkan struktur kalimat dan

pilihan kata. Keempat, dosen dan mahasiswa harus memberikan komentar, pembenaran, dan saran kepada

blog mahasiswa.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengilhami guru Bahasa Inggris dalam memanfaatkan

teknologi di dalam ruang kelas, mahasiswa yang berlatih keterampilan berbahasa melalui aplikasi internet,

dan peneliti lain untuk melakukan penelitian serupa yang bertujuan meningkatkan keterampilan mahasiswa

tidak hanya dalam menulis, tetapi juga dalam menyimak dan membaca.



Kata kunci: blog, keterampilan menulis, esai percontohan







Keefektifan Jurnal Dialog dalam Meningkatkan Keterampilan Menulis Teks Naratif Siswa

Kelas 12 MAN 3 Malang



Ali Mukti



Abstrak

Jurnal dialog adalah sesuatu yang baru dan keefektifannya pada siswa MAN 3 Malang belum

terbukti. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keefektifan teknik jurnal dialog dalam meningkatkan

keterampilan menulis siswa dalam menulis teks naratif. Masalah penelitian umum yang harus dijawab

adalah, “Apakah para siswa yang diajar dengan menggunakan teknik jurnal dialog menunjukkan hasil yang

lebih baik dalam menulis teks naratif dari pada mereka yang tidak diajarkan dengan menggunakan teknik

jurnal dialog?” Jawaban sementara untuk pertanyaan tersebut kemudian di formulasikan dalam sebuah

hipotesa kerja yang berbunyi “Nilai rerata kelompok yang diajar dengan menggunakan jurnal dialog lebih

tinggi secara signifikan dari pada nilai rerata kelompok yang tidak diajar menggunakan teknik jurnal dialog.“

Desain penelitian ini adalah semi-eksperimen dengan tes awal-tes akhir kelompok control yang

tidak diacak. Sampel penelitian ini diambil dari populasi kelas 12 MAN 3 Malang tahun pelajaran

2008/2009; yaitu kelas 12 IPA 3 sebagai kelompok kontrol, dan kelas 12 IPA 2 sebagai kelompok

eksperimen. Kedua kelas ini masing-masing diisi oleh 36 siswi. Dalam pengumpulan data, dua soal tes

menulis digunakan sebagai instrumen; satu soal digunakan dalam tes awal, dan satu soal lain dalam tes akhir.

Dalam tes tersebut, siswa diminta untuk menulis teks naratif. Kemudian, pekerjaan mereka dinilai dengan

menggunakan rubrik penskoran analitik. Disamping itu, kuesioner digunakan sebagai instrumen sekunder.

Kuesioner ini diberikan hanya pada kelompok eksperimen guna mengevaluasi pelaksanaan jurnal dialog.

Berdasarkan karakteristik deskriptif, hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rerata dari kelima aspek

menulis kelompok eksperimen lebih baik dari pada kelompok kontrol. Dengan demikian, teknik jurnal dialog

yang diterapkan di kelompok eksperimen membantu meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks

naratif. Disamping itu, dengan menggunakan analisa covarian (ANCOVA) dengan tingkat signifikan 0,05,

hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek kosa kata dan tata bahasa menghasilkan perbedaan yang

signifikan. Hal ini karena F hitung untuk kosa kata adalah 4,595 dan 27,548 untuk tata bahasa sementara F

tabelnya adalah 3,988. Untuk tiga aspek yang lain, yaitu isi, organisasi, dan mekanis, menunjukkan

perbedaan yang tidak signifikan. Hal ini ditunjukkan dengan nilai F hitung ketiga aspek ini lebih kecil dari

230 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







pada F tabelnya. Secara berurutan nial F hitung untuk masing-masing adalah 0,071, 0,669, and 3,755. Secara

umum, akan tetapi, hasil yang dihitung dari keseluruhan aspek menunjukkan bahwa nilai F hitung dari

seluruh aspek menulis (8,580) lebih besar dari pada F tabel (3,988). Maka, terdapat cukup bukti untuk

menolak hipotesa nol. Dengan kata lain, hipotesa kerja dapat diterima.

Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa teknik jurnal dialog yang diberikan

kepada kelompok eksperimen terbukti efektif meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis teks naratif.

Oleh karena itu, disarankan bahwa guru bahasa Inggris menerapkan teknik jurnal dialog ini dalam pengajaran

menulis. Disamping itu, guru juga perlu memberikan perhatian lebih terhadap kemampuan menulis siswa

berkaitan dengan tata bahasa dan mekanik selain ketiga aspek yang lain. Hal ini dikarenakan kedua aspek

yang disebut pertama berada pada criteria rendah hingga sedang. Saran juga ditujukan kepada peneliti yang

akan datang bahwa percobaan penelitian dapat dilakukan lebih dari 10 kali pertemuan dan pada siswa kelas

10 atau 11 sebagai subjeknya.Disamping itu, peneilitian dapat dilakukan pada kelas atau program yang

memiliki perkembangan kognitif rendah dan atau masalah afektif. Peneliti, agar lebih netral, tidak perlu

terlibat langsung dalam pengajaran di kelas tetapi dapat menugaskan seorang atau dua orang guru lain untuk

mengajar di kedua kelompok.



Kata kunci: keefektifan, jurnal dialog, keterampilan menulis, teks naratif







Menerapkan Strategy DRTA untuk Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Membaca

Siswa Kelas Sebelas MAN Kandangan Kediri



Ani Mutadayyinah



Abstrak

Membaca sebagai salah satu ketrampilan dasar bahasa yang harus dikuasai dipembelajaran bahasa.

Biasanya diajarkan bersama dengan tiga ketrampilan bahasa lain. Sebagai salah satu ketrampilan bahasa,

membaca mendapat perhatian lebih dari keterampilan bahasa lainnya. Ada prioritas utama. Bagaimanapun,

banyak siswa tidak mempunyai cukup ketrampilan dalam membaca dan prestasi membaca mereka rendah.

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas dan bertujuan meningkatkan kemampuan

pemahaman membaca siswa kelas sebelas pada teks narasi di MAN Kandangan melalui DRTA (Directed

Reading Thinking Activity). Strategi ini dipilih karena membantu mengembangkan kemampuan membaca

kritis and mendorong membaca aktif. Selain itu, strategi ini telah terbukti, melalui banyak penelitian, telah

mampu meningkatkan prestasi pemahaman membaca dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.

Subjek penelitian ini adalah tiga puluh siswa kelas tiga MAN Kandangan pada tahun akademik

2008/2009. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dengan mengacu pada prosedur penelitian tindakan

yaitu, planning, implementing, observing, dan reflecting. Masing-masing siklus dalam penelitian terdiri dari

dua pertemuan untuk penerapan strategi dan satu pertemuan untuk tes. Data penelitian ini dikumpulkan

melalui beberapa instrument berikut; lembar observasi, lembar catatan, kuestioner, dan tes membaca

pemahaman.

Hasil penelitian ini menunjukkan model yang tepat dari DRTA strategi dalam pengajaran membaca

di MAN Kandangan terdiri dari langkah langkah berikut: ditahap membaca awal; (1) mengelompokkan

siswa, (2) menjelaskan tujuan pelajaran, (3) mengiring siswa pada topic dengan memberi beberapa

pertanyaan dan menunjukkan gambar, (4) meminta siswa memprediksi topic bacaan dari gambar dan judul

yang diberikan, (5) mengenalkan kosakata baru. Ditahap membaca diam terpadu; (1) memberikan

pertanyaan, (2) meminta siswa memprediksi bacaan kemudian menulisnya dalam lembaran, (3) meminta

siswa berbagi dengan kelompok. Dalam hal ini, beberapa prediksi siswa ditulis di papan tulis, (4)

menugaskan salah satu siswa untuk membaca keras diikuti oleh semua siswa membaca secara diam, (5)

meminta untuk mencatat informasi, (6) meminta siswa berdiskusi dengan kelompok. Di tahap membaca

akhir; (1) menugaskan untuk memeriksa dan membuktikan prediksi mereka, (2) meminta menemukan bukti

untuk mendukung prediksi, (3) berdiskusi prediksi murid, (4) meminta siswa mengerjakan tugas, (5)

mendiskusikan jawaban siswa.

Lebih lanjut, hasil penelitian ini menjelaskan bahwa strategi DRTA meningkatkan pemahaman

membaca siswa. Peningkatan ini dapat dilihat dari bertambahnya skor pemahaman membaca siswa yang

dapat mencapai nilai target (75 pada rentang 0 sampai 100), yaitu pada tes awal, hanya ada 8 siswa atau 24%

dari 33 siswa yang dapat mencapai nilai target. Pada siklus pertama, ada 17 siswa atau 48% dari 33 siswa

yang dapat mencapai nilai target. Pada siklus kedua, ada 22 siswa atau 67% out of 33 siswa yang dapat

Program Studi S2 ING 231







mencapai nilai target. Selain itu, penemuan ini menjelaskan bahwa strategi DRTA sukses meningkatkan

murid aktif terlibat dikelas.

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa strategi DRTA tidak hanya sukses dalam

meningkatkan pemahaman membaca siswa tetapi juga dapat meningkatkan keterlibatan siswa pada proses

pembelajara. Oleh sebab itu, beberapa saran dibuat. Pertama, guru-guru bahasa Inggris dapat menerapkan

strategi DRTA dalam pembelajaran membaca. Mereka harus mengunakan teks bacaan yang belum dibaca

oleh siswa dan mereka juga harus positif, suportif, and memberi semangat. Kedua, peneliti-peneliti

selanjutnya disarankan mereka melakukan penelitian yang sama mengunakan strategi DRTA pada

ketrampilan bahasa lainnya dan pada jenis teks yang lain seperti expository, report, dan recount.



Kata kunci: strategy directed reading thinking activity, pemahaman membaca







Meningkatkan Kemampuan Menulis Teks Recount Dengan Menggunakan Teknik

Pertanyaan Berakhir Terbuka Bagi Siswa MTsN Godean Kelas Delapan



B.M. Hartono



Abstrak

Studi awal menunjukkan bahwa pengajaran menulis di MTsN Godeanbelum membantu siswa

terampil menulis. Tulisan siswa terdapat kesalahan-kesalahan. Oleh karena itu peneliti benar-benar perlu

mengatasi masalah tersebut dengan menerapkan teknik pertanyaan berakhir terbuka dalam mengajarkan

menulis. Teknik ini merupakan gabungan dari proses menulis yang terdiri dari menggali gagasan,

mengembangkan gagasan, menambah atau mengurangi gagasan, dan membenarkan kekeliruan-kekeliruan

serta jenis teks ,khususnya recount, yang mengaitkan antara tujuan dan bentuk.

Masalah penelitian yang diajukan adalah bagaimana teknik pertanyaan berakhir terbuka dapat

meningkatkan kemampuan menulis siswa dalam teks recount? Berbasis pada masalah penelitian itu,

penelitian menekankan pada penggunaan pertanyaan berakhir terbuka untuk meningkatkan kemampuan

kemampuan menulis teks recount bagi siswa MTsN Godean kelas delapan.

Rancangan penelitian yang diterapkan adala penelitian tindakan kelas. Pada penelitian ini peneliti

dibantu oleh seorang teman sejawat. Penelitian dilakukan pada sebuah kelas yang terdiri 41 siswa yang

diambil sebagai subyek penelitian. Prosedur penelitian meliputi perencanaan, penerapan, pengamatan, dan

penilaian.

Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan beberapa instrumen seperti daftar pengamatan,

catatan-catatan lapangan, angket, dan porto folio atau tulisan-tulisan siswa.

Penarapan open-ended questioning technique diawali dengan menanyakan kegiatan siswa yang telah

mereka lakukan sebagai persiapan menulis. Berdasarkan jawaban siswa, guru mendisain gambaran situasi

(prompt) dengan mempertimbangkan bahwa prompt tersebut menarik, dialami oleh seluruh siswa, dan

disesuaikan dengan tingkat kemampuan bahasa siswa. Kemudian secara berkelompok siswa mengubah

prompt menjadi pembuka cerita pengalamannya yang akan ditulisnya. Kemudian untuk mengembangkan

tulisan tentang pengalamannya guru memberikan pertanyaan terbuka. Untuk memperbaiki tulisannya, guru

meminta siswa menambah keterangan yang diperlukan atau menghilangkan keterangan yang tidak

diperlukan. Sebagai penutup tulisan siswa guru menanyakan kesan yang telah dirasakan dari apa yang telah

ditulisan. Terakhir, siswa diminta membenahi hal-hal yang terkait dengan teknik penulisan.

Penemuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan teknik pertanyaan berakhir terbuka

meningkatkan kemampuan menulis siswa. Peningkatan skor rata-rata tulisan siswa dapat dilihat dari tiap-tiap

siklus. Sebelum teknik ini diterapkan skor rata-rata tulisan siswa 45.585. Setelah teknik ini diterapkan pada

siklus pertama skor rata-rata tulisan siswa 57.870. Dan skor rata-rata tulisan siswa pada siklus kedua 76.121.

Berdasarkan hasil dari penerapan teknik pertanyaan berakhir terbuka untuk pengajaran menulis,

guru-guru bahasa Inggris dianjurkan menerapkan teknik tersebut terutama dalam mengajar menulis teks

recount. Dan bagi peneliti selanjutnya, khususnya bagi mereka yang tertarik untuk menerapkan teknik ini,

dianjurkan untuk menerapkan teknik ini dalam menulis jenis-jenis teks yang lain seperti deskripsi, narasi,

prosedur, dan laporan.



Kata kunci: kemampuan menulis, teknik pertanyaan berakhir terbujka, recount

232 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







Peningkatan Kemampuan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, FKIP

Universitas Tadulako dalam Menulis Paragraf melalui Pendekatan Berbasis Proses



Budi



Abstrak

Berdasarkan pengalaman peneliti dalam mengajar mata kuliah menulis paragraf dan hasil evaluasi

diri program studi pendidikan bahasa Inggris, kemampuan mahasiswa menulis paragraf masih rendah.

Sehubungan dengan data tersebut, beberapa masalah utama dalam paragraf yang berkaitan dengan isi,

organisasi, pemilihan kata, dan struktur kalimat termasuk tata bahasa dan mekanik (ejaan, tanda baca, dan

huruf besar) dihadapi oleh mahasiswa di program studi tersebut. Oleh karena itu, salah satu cara yang cocok

untuk mengatasi masalah itu adalah menerapkan pendekatan berbasis proses. Penelitian ini dilakukan dalam

rangka meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menulis paragraf deskriptif melalui pendekatan berbasis

proses. Pendekatan ini dipilih karena dapat meningkatkan keaktifan mahasiswa dalam proses menulis.

Rumusan masalah penelitian ini adalah “Bagaimana kemampuan mahasiswa dalam menulis paragraf dapat

ditingkatkan melalui pendekatan berbasis proses?”

Desain penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas Kolaboratif. Peneliti dan

collaborator bekerja sama untuk membuat rencana satuan pelajaran, menerapkan, mengamati, dan

merefleksikannya. Subyek penelitian ini melibatkan 29 mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris

semester dua tahun pelajaran 2008/2009, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako,

Palu. Selama melaksanakan penelitian, dua orang tidak hadir karena sakit. Penelitian ini dilaksanakan dalam

dua siklus dengan mengikuti prosedur: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Setiap siklus dalam

penelitian ini terdiri dari 3 pertemuan. Pertemuan pertama difokuskan pada kegiatan pramenulis dan menulis

draf awal, pertemuan kedua digunakan untuk kegiatan merevisi dan mengedit, dan pertemuan ketiga

dilakukan untuk kegiatan menulis draf akhir. Data yang diambil melalui lembar pengamatan, catatan

lapangan, questionnaire, dan hasil pekerjaan mahasiswa.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi pendekatan berbasis proses berhasil

meningkatkan kemampuan mahasiswa menulis paragraf. Peningkatan itu dapat diketahui dari hasil skor rata-

rata 19,04 (63,46) pada siklus pertama bertambah menjadi 25,37 (84,57) pada siklus kedua. Selanjutnya,

peningkatan juga diketahui dari partisipasi aktif mahasiswa dalam proses menulis dari 56,82% pada siklus

pertama bertambah menjadi 84,09% pada siklus kedua.

Hasil tersebut diperoleh dari implementasi pendekatan ini yang dilakukan melalui lima tahap dalam

menulis. Tahap pramenulis dilaksanakan untuk mengeluarkan dan mengorganisasikan gagasan dengan cara

mengklasifikasi ide (gagasan) dan membuat kerangka atau outline dari sebuah paragraf. Tahap menulis draf

awal digunakan untuk mengembangkan gagasan dari kerangka tersebut dengan cara menulis kalimat dalam

draf dan mengorganisasikan kalimat itu menjadi tiga bagian yakni kalimat topik, pendukung, dan simpulan.

Kalimat-kalimat itu disusun secara berhubungan dan beraturan dengan menggunakan tanda pengatur atau

penghubung. Tahap merevisi dilakukan untuk mengidentifikasi dan memberbaiki isi dan organisasi sebuah

paragraf dengan menggunakan strategi merevisi sendiri dan teman pasangan. Tahap mengedit dilaksanakan

untuk mengidentifikasi dan memperbaiki kesalahan pada struktur kalimat, pemilihan kata, tata bahasa, dan

mekanik seperti penulisan ejaan, tanda baca, dan huruf besar, dengan cara mengedit sendiri dan teman

pasangan. Tahap menulis draf akhir dilakukan untuk menulis kembali draf yang telah direvisi dan diedit ke

dalam draf akhir dengan menggunakan tulisan tangan dan pengetikan di komputer.

Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti mengajukan beberapa saran. Saran pertama ditujukan

kepada para dosen untuk mengimplementasikan prosedur dari strategi pada pendekatan ini dalam mengajar

menulis paragraf dengan cara mengetahui dulu permasalahan mahasiswa jika mereka menemukan

permasalahan yang hampir sama dalam penelitian ini. Saran kedua ditujukan kepada pimpinan program studi

pendidikan bahasa Inggris pada fakultas ini agar membuat suatu kebijakan untuk peningkatan kualitas

pendidikan dengan mengadakan deseminasi dari prosedur pendekatan ini kepada para dosen mata kuliah

Writing II (menulis paragraf) and meminta kepada mereka agar menggunakannya untuk mengajar mata

kuliah tersebut. Selain itu, para peneliti disarankan untuk melakukan penelitian dengan menggunakan

prosedur pendekatan ini untuk memecahkan permasalahan yang hampir sama dalam penelitian ini pada

penulisan bentuk paragraf yang lain seperti narasi, eksposisi, persuasi, ataupun bentuk argumentasi.



Kata kunci: pendekatan berbasis proses, paragraf, paragraf deskriptif, koherensi, kesatuan, kemampuan

menulis

Program Studi S2 ING 233







Menerapkan Metode Pengajaran Timbal-Balik untuk Meningkatkan Kemampuan

Pemahaman Membaca Siswa Kelas Sebelas MAN Muara Teweh, Kalimantan Tengah



Budi Suryanto



Abstrak

Membaca merupakan salah satu dari keterampilan berhahasa yang harus diajarkan kepada murid-

murid Sekolah Menengah Atas dalam pelajaran Bahasa Inggris. Melalui proses belajar mengajar membaca,

para siswa diharapkan mampu memahami teks bacaan yang mereka baca. Akan tetapi berdasarkan study

pendahuluan ditemukan bahwa siswa siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Muara Teweh masih mengalami

kesulitan dalam menemukan gambaran umum dari suatu bacaan, menemukan informasi tertentu, menemukan

pokok pikiran serta menemukan informasi yang tersurat dan tersirat. Keadaan ini disebabkan oleh beberapa

faktor seperti; rendahnya motivasi siswa dalam belajar bahasa Inggris, terbatasnya jumlah kosakata bahasa

Inggris yang mereka kuasai, kurangnya kemampuan siswa dalam menguasai keterampilan membaca, serta

teknik mengajar yang kurang variatif. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa,

penerapan sebuah metode atau strategi yang tepat dalam kegiatan belajar mengajar membaca sangatlah

diperlukan. Dalam hal ini Reciprocal Teaching (RT) Method atau Metode Pengajaran Timbal Balik dengan

empat strateginya; predicting (memprediksi), clarifying (mengklarifikasi), questioning (bertanya), dan

summarizing (menyimpulkan) diterapkan untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan kemampuan

memahami bacaan.

Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan keampuan pemahaman membaca siswa dalam bahasa

Inggris melalui penerapan Metode Pengajaran Timbal-Balik. Tujuan penelitian ini adalah untuk

meningkatkan kemampuan pemahaman membaca siswa. Dalam kegiatan Metode Pengajaran Timbal-Balik,

siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari empat orang siswa. Siswa belajar bagaimana

memprediksi isi materi berikutnya; menjelaskan kata-kata, frase, atau kalimat yang dianggap sulit kepada

rekannya; dan menyimpulkan isi dari apa yang mereka telah baca. Penelitian ini menggunakan rancangan

penelitian tindakan kelas yang mana peneliti dan guru bekerja sama dalam menyiapkan prosedur Metode

Pengajaran Timbal-Balik yang sesuai, merancang rencana pembelajaran, menentukan criteria keberhasilan,

melaksanakan kegiatan, mengamati, dan melakukan refleksi. Subyek penelitian ini berjumlah 40 orang siswa

kelas XI IPS 2 MAN Muara Teweh-Kalimantan Tengah pada tahun akademik 2008/2009. Penelitian ini

dilakukan dalam dua siklus yang masing-masing terdiri dari tiga kali pertemuan.

Data dalam penelitian ini diperoleh melalui hasil (1) lembar observasi, untuk memperoleh informasi

tentang kegiatan dan penampilan guru dan siswa selama pelaksanaan Metode Pengajaran Timbal-Balik, (2)

catatan lapangan, digunakan untuk mencatat data yang tidak tercakup pada lembar observasi, (3) kuis,

digunakan untuk mengidentifikasikan apakah siswa sudah memperoleh kemajuan dalam pemahaman

membaca, dan (4) kuesener digunakan untuk memperoleh informasi dari siswa apakah strategi yang

diterapkan dapat memotivasi siswa terlibat selama proses pengajaran dan pembelajaran. Prosedur penerapan

Metode Pengajaran Timbal-Balik dalam pengajaran dan pembelajaran pemahaman membaca dibagi menjadi

tiga tahap. Tahap pertama adalah kegiatan awal. Tahap kedua adalah kegiatan inti yang terdiri dari empat

strategi; memprediksi, menjelaskan, bertanya, dan merangkum. Tahap ketiga adalah kegiatan akhir.

Hasil penelitian menunjukan bahwa Metode Pengajaran Timbal-Balik dalam pengajaran dan

pembelajaran pemahaman membaca adalah efektif dalam meningkatkan kemampuan pemahaman membaca

siswa. Peningkatan tersebut ditunjukan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa melalui siklus kegiatan

yaitu 53,56 untuk tes awal; 58,69 untuk tes Siklus 1; dan 72,00 untuk tes Siklus 2. Selain itu siswa

termotivasi dan aktif dalam kelas belajar yang menggunakan metode tersebut dalam hal belajar bekerja

bersama dan saling membantu satu sama lainnya dalam sebuah kelompok yang berbeda kemampuan yang

ditunjukan dengan hasil kerja mereka.

Berdasarkan temuan tesebut, disarankan kepada para guru untuk menggunakan Metode Pembela-

jaran Timbal-Balik sebagai satu alternative pengajaran pemahaman membaca di kelas dan pengajaran bahasa

Inggris lainnya untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa. Kepada para siswa juga disarankan untuk

menggunakan Metode Pengajaran Timbal-Balik untuk melatih kemampuan pemahaman membaca mereka

yang dapat dilakukan melalui kegiatan intra atau ekstra kurikuler. Selanjutnya bagi para peneliti berikutnya

disarankan untuk melakukan penelitian yang sama yang mencakup tingkat siswa yang lebih tinggi atau

rendah seperti menggunakan siswa kelas X and XII sekolah lanjutan tingkat atas sebagai subyek penelitian

berikutnya.



Kata kunci: metode pengajaran timbal-balik, meningkatkan, pemahaman membaca

234 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







Meningkatkan Kemampuan Berbicara Siswa di Madrasah Aliyah Sunan Drajat Sugio-

Lamongan melalui Teknik Bermain Peran



Chothibul Umam



Abstrak

Berdasarkan penelitian pendahuluan, peneliti menemukan beberapa masalah terkait dengan aktivitas

pembelajaran bahasa Inggris di Madrasah Aliyah Sunan Drajat Sugio-Lamongan. Masalah-masalah tersebut

adalah rendahnya kemampuan berbicara siswa, rendahnya motivasi siswa dalam belajar bahasa Inggris, dan

penggunaan teknik yang monoton dan tidak tepat oleh guru. Oleh karena itu, peneliti sangat termotivasi

untuk mengatasi masalah tersebut dengan cara menerapkan teknik bermain peran dalam pengajaran

ketrampilan berbicara.

Penelitian ini dimaksudkan untuk menggambarkan bagaimana teknik bermain peran meningkatkan

kemampuan berbicara siswa kelas 11 Madrasah Aliyah Sunan Drajat Sugio-Lamongan. Rancangan yang

diterapkan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus

secara kolaboratif dimana peneliti dibantu oleh guru kolaborator didalam melakukan penelitian. Penelitian

dilakukan di dalam satu kelas yang terdiri dari 24 siswa yang secara keseluruhan dijadikan subyek penelitian.

Prosedur pelaksanaan penelitian ini terdiri dari empat tahapan, yaitu perencanaan, penerapan, pengamatan

(pengambilan data), dan refleksi. Untuk memperoleh data penelitian, peneliti menggunakan beberapa

instrumen penelitian, yaitu lembar observasi, catatan lapangan, dan angket.

Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa ketrampilan berbicara siswa meningkat secara

signifikan dari satu siklus ke siklus berikutnya. Ini bisa dilihat dari hasil di tiap siklus. Kemampuan berbicara

siswa meningkat dari 41.7% siswa yang mampu mencapai paling tidak tingkat baik (good) di siklus pertama

menjadi 66.7% siswa di siklus kedua. Rasa percaya diri siswa juga meningkat dari 37.5% siswa di siklus

pertama menjadi 62.5% siswa di siklus kedua.

Prosedur teknik bermain peran yang diterapkan oleh peneliti dalam penelitian ini terdiri dari 7

langkah pokok, yaitu: menentukan materi pembelajaran, mengatur kelompok siswa, memberikan teks situasi

dan dialog yang harus dimainkan, mengajari teks dialog yang telah diberikan, menyuruh siswa praktek

bermain peran dengan teman kelompoknya sesuai dialog yang telah diberikan, menyuruh siswa memodifikasi

situasi dan dialog yang telah dimainkan bersama kelompoknya masing-masing, dan menyuruh siswa

menampilkan dialog yang telah mereka buat atau modifikasi sendiri di depan kelas bersama anggota

kelompoknya masing-masing.

Berdasarkan efektifitas dari penerapan teknik bermain peran dalam pengajaran berbicara, maka bagi

guru bahasa Inggris yang siswanya memiliki masalah kelas, karakter, dan situasi yang sama dengan

Madrasah Aliyah Sunan Drajat Sugio-Lamongan, disarankan bahwa teknik bermain peran ini bisa digunakan

sebagai teknik alternativ untuk mengajarkan kemampuan berbicara bahasa Inggris di tingkat SMA/MA.



Kata kunci: teknik bermain peran, kemampuan berbicara







Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa dalam Menulis Teks Recount melalui Gambar

Berseri di MTs Negeri Lubuk Basung I Sumatera Barat



Era Susanti



Abstrak

Menulis merupakan keterampilan yang paling sulit bagi siswa di MTs Negeri Lubuk Basung 1

Sumatra Barat. Hal ini dapat dilihat dari skor yang tidak memuaskan dan beberapa masalah yang dihadapi

siswa ketika menulis. Menulis menempati skor terendah dibandingkan tiga kemampuan bahasa lainnya.

Selain itu, siswa mengalami kesulitan untuk mendapatkan ide. Mereka tidak dapat menulis dengan lancar

karena mereka tidak tahu apa yang akan ditulis dan mereka mandek ketika sedang menulis. Selain itu,

mereka juga mendapatkan kesulitan bagaimana membuat kalimat. Hasilnya, siswa tidak memiliki motivasi

untuk menulis dan menjadikan menulis sebagai kegiatan yang sulit dan membosankan bagi mereka.

Berkenaan dengan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menguraikan bagaimana gambar berseri

digunakan dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks recount di MTs Negeri Lubuk Basung

1 Sumatera Barat.

Program Studi S2 ING 235







Desain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas kolaborasi dimana peneliti dan guru

kolaborasi bekerja sama dalam melaksanakan penelitian. Prosedur penelitian terdiri dari empat tahapan

utama, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi pelaksanaan, dan refleksi. Instrumen

penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah tes menulis, format observasi, catatan lapangan,

dan wawancara. Subyek penelitian ini adalah 31siswa MTs Negeri Lubuk Basung 1 Sumatera Barat kelas

VIII.4 tahun pelajaran 2008/2009.

Penelitian ini menemukan prosedur yang cocok dalam penggunaan gambar berseri dalam mengajar

menulis teks recount sebagai berikut: (1) membagi siswa dalam kelompok-kelompok, (2) meminta siswa

menyusun gambar acak menjadi gambar berseri (3) meminta siswa mencari kosakata dan informasi-informasi

dari gambar,(4) meminta siswa menentukan outline masing-masing gambar, (5) memberikan model teks

recount kepada siswa, (6) meminta siswa mengidentifikasi kata kerja yang digunakan di dalam teks, (7)

meminta siswa mengidentifikasi kata sambung yang digunakan dalam teks,(8) meminta siswa mendiskusikan

bagian-bagian teks, (9) mendiskusikan isi teks dengan memberikan beberapa pertanyaan, (10) menyuruh

siswa mengidentifikasi penggunaan huruf kapital dan tanda baca dalam teks model, (11) meminta siswa

menyusun kalimat acak menjadi teks recount yang baik berdasarkan gambar berseri,(12) menyuruh siswa

memasang kartu-kartu yang bertuliskan kata hubung untuk menghubungkan gambar-gambar, (13) meminta

siswa menulis teks recount secara individu berdasarkan gambar berseri, (14) meminta siswa membaca

kembali draf dan mengoreksinya, (15) meminta siswa membaca nyaring hasil tulisan siswa di depan kelas,

dan (16) meminta siswa merespon karangan yang dibacakan oleh temanya. Setelah dites, skor rata-rata pada

siklus ini naik menjadi 66.0 dimana 73.3% siswa memperoleh skor 65 keatas.

Di samping peningkatan skor karangan siswa, temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa

aktif dan antusias dalam kegiatan belajar. Menulis menjadi kegiatan yang menyenangkan dan menarik bagi

mereka. Penerapan penggunaan gambar berseri dalam mengajar menulis teks recount juga mendapat

tanggapan positif dari siswa.

Dari temuan penelitian, disarankan kepada guru-guru bahasa Inggris yang menerapkan strategi ini

untuk memberikan instruksi yang jelas kepada siswa, mengatur waktu seefektif mungkin, memberikan

kontrol dan bimbingan dalam kerja kelompok, dan memilih topik dan gambar berseri yang dekat dengan

kehidupan siswa. Bagi peneliti lain, disarankan untuk melakukan penelitian selanjutnya tentang penggunaan

gambar berseri dalam pengajaran bahasa Inggris yang berfokus pada peningkatan penguasaan tata bahasa

siswa.



Kata kunci: kemampuan menulis, gambar berseri, teks recount







Meningkatkan Keterampilan Berbahasa Inggris Siswa Kelas Dua MTs Tarbiyah Takalar

melalui Permainan Bahasa



Herman



Abstrak

Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan dan juga pengalaman peneliti sebagai guru, siswa MTs

Tarbiyah Takalar belum mampu berbahasa Inggris dengan baik, khususnya kelas VIIIC yang menjadi subyek

penelitian ini. Nilai rata-rata yang mereka peroleh dalam pelajaran berbicara bahasa Inggris adalah paling

rendah diantara empat ketrampilan berbahasa. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan siswa

tersebut yakni perasaan takut melakukan kesalahan, motivasi yang rendah, teknik mengajar guru yang

monoton, dan penguasaan kosa kata yang kurang. Dari faktor tersebut, teknik mengajar yang monoton

menjadi fokus penelitian ini. Karena teknik mengajar yang beragam sangat menentukan keberhasilan siswa,

maka guru menyiapkan teknik yang menarik dalam mengajar ketrampilan berbahasa Inggris yaitu teknik

permainan bahasa. Masalah penelitian ini adalah “Bagaimana permainan bahasa bisa meningkatkan

keterampilan berbahasa Inggris siswa kelas VIII MTs Tarbiyah Takalar?”

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang prosedurnya meliputi empat

tahapan: perencanaan, penerapan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus

dengan tiga pertemuan setiap siklus. Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah lembar

observasi, catatan lapangan, alat rekam, lembar penilaian diri siswa, dan lembar kuesioner.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa prosedur permainan bahasa yang efektif dalam pengajaran

berbicara memiliki prosedur yang berbeda. Dalam permainan ”Trainee Reporter”, prosedurnya adalah: (1)

memberi contoh cara melakukan permainan dibantu dua orang siswa, (2) mengelompokkan siswa, (3)

meminta satu kelompok untuk mencontohkan kembali permainan tersebut, (4) membagikan gambar berbeda

236 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







kepada setiap kelompok sebagai acuan pertanyaan-pertanyaan yang akan ditanyakan oleh ”Trainee

Reporter”, (5) meminta setiap kelompok menentukan ”reporter” nya masing-masing, (6) meminta siswa

menukar gambar dengan kelompok lain sebagai acuan wawancara, (7) meminta setiap kelompok memilih

dua orang di dalam gambar tersebut untuk diperankan dan menyiapkan berbagai informasi yang berhubungan

dengan kejadian di gambar tersebut untuk wawancara, (8) meminta ”reporter” setiap kelompok

mewawancarai kelompok yang bertukar gambar dengan kelompoknya, (9) meminta para ”reporter” kembali

ke kelompoknya masing-masing dan mendiskusikan hasil wawancara untuk laporan lisan, (10) meminta para

”reporter” menyampaikan laporan secara bergiliran dan siswa lain memperhatikan isi, tata bahasa dan

pengucapan dari para reporter, (11) menanyakan beberapa pertanyaan kepada siswa lain setiap selesai satu

reporter menyampaikan laporan untuk mengecek perhatian mereka, (12) meminta umpan balik dari siswa

mengenai kesalahan tata bahasa dan pengucapan dari setiap ”reporter” dan masalah yang mereka hadapi

selama proses belajar mengajar, (13) menugaskan kepada masing-masing kelompok merevisi laporan mereka

dan mengumpulkannya dalam bentuk tertulis. Sedangkan prosedur permainan ”Be Someone Else” adalah: (1)

memberikan contoh cara melakukan permainan itu dengan menjadi ”orang lain” dan memberi beberapa

informasi tentang ”diri barunya” (misalnya saya seorang polisi, saya sering menangkap penjahat, dst.), (2)

memotivasi siswa bertanya sebanyak mungkin tentang ”diri baru” nya, (3) meminta siswa menentukan ”diri

baru” mereka masing-masing dan memikirkan informasi-informasi tentang ”diri baru” mereka itu, (4)

mengelompokkan siswa dalam dua kelompok (A dan B), (5) meminta siswa kelompok A mewawancarai

siswa kelompok B secara berpasangan, (6) meminta siswa bertukar peran dan berganti pasangan, (7)

melaporkan hasil wawancara mereka secara bergiliran dan menyuruh siswa yang lain memperhatikan isi,

masalah tata bahasa, dan pengucapan dari setiap laporan, (8) menjawab beberapa pertanyaan setiap satu

laporan selesai melaporkan, (9) meminta umpan balik dari siswa mengenai kesalahan tata bahasa dan

pengucapan dari setiap ”reporter” dan masalah yang mereka hadapi selama proses belajar mengajar, (10)

menugaskan masing-masing siswa merevisi laporan mereka dan mengumpulkannya dalam bentuk tertulis.

Hasil penelitian pada Siklus Dua menunjukkan peningkatan berarti, baik mengenai keterlibatan

siswa maupun unjuk kerja berbicara siswa. Rata-rata 86% siswa terlibat aktif dalam proses belajar mengajar.

Sedangkan nilai rata-rata siswa dalam melakukan dialog sederhana adalah 76 dan dalam menyampaikan

laporan lisan adalah 74. Ini berarti bahwa temuan di Siklus Dua telah mencapai ke tiga kriteria keberhasilan

yang ditetapkan.

Oleh karena itu, disarankan kepada para guru bahasa Inggris agar menerapkan teknik ini dalam

pengajaran berbahasa Inggris di kelas yang siswanya bermotivasi rendah dan kemampuan yang beragam dan

menyampaikan teknik ini pada kegiatan MGMP, workshop, ataupun pelatihan guru. Selain itu, disarankan

pula kepada para calon peneliti untuk melakukan penelitian yang sejenis dengan permasalahan yang mirip

pula tetapi dengan tempat penelitian yang berbeda. Mereka dapat juga melalukan penelitian eksperimen

mengenai keterampilan berbicara untuk menguji atau memperkuat hasil penelitian ini.



Kata kunci: permainan bahasa, keterampilan berbicara







Meningkatkan Pemahaman Membaca Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember

(ITS) Surabaya melalui Strategi Pemahaman Membaca PreQueS



Hermanto



Abstrak

Dalam konteks pengajaran dan pembelajaran Bahasa Inggris, membaca adalah keterampilan wajib

yang diajarkan di sekolah-sekolah mulai tingkat sekolah dasar dampai pendidikan tinggi. Namun demikian,

hasil hasil yang diperoleh oleh para siswa dalam hal membaca tidak sebaik seperti yang diharapkan.

Berdasarkan hasil beberapa penelitian, keadaan ini terjadi karena beberapa faktor, antara lain, siswa

menganggap membaca merupakan kegiatan yang tidak menarik dan mereka kurang menguasai strategi yang

efektif untuk memahami suatu teks.

Pada kasus mahasiswa ITS, kegagalan mendapatkan hasil yang memuaskan dalam membaca,

menurut hasil survey yang diadakan, adalah terbatasnya latar belakang pengetahuan dan kurangnya

penguasaan strategi membaca. Akibatnya, kemampuan memahami bacaan mereka tidak memuaskan.

Berdasarkan hasil analisa kemampuan membaca mahasiswa Kelas XI TPB ITS semester Genap 2007/2008

menunjukkan bahwa rata-rata nilai tes membaca mereka adalah 68.8 dengan bentangan nilai 56 di mana nilai

terendah adalah 40 dan yang tertinggi adalah 96. Untuk memperbaiki keadaan ini, maka strategi PreQueS,

Program Studi S2 ING 237







yaitu sebuah strategi yang merupakan gabungan dari previewing, questioning, dan summarizing diterapkan

untuk meningkatkan kemampuan membaca mahasiswa ITS Surabaya.

Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode penelitian tindakan kelas kolaborasi yang terdiri

dari empat langkah, yaitu perencanaan berupa kegiatan untuk mempersiapkan rencana pembelajaran, kriteria

keberhasilan serta instrument penelitian, pelaksanaan rencana yaitu kegiatan pelaksanaan rencana

pembelajaran, pengamatan yaitu kegiatan pengumpulan data serta analisa data dan refleksi pelaksanaan

kegiatan. Refleksi dilakukan dengan membandingkan hasil penelitian dengan criteria keberhasilan yang

terdiri dari 1). mahasiswa mampu menerapkan strategi PreQueS dalam kegiatan membaca mereka, 2). nilai

rata-rata membaca yang dicapai meningkat dari 68.8 (setara dengan B atau „Baik‟ menurut peraturan

akademik ITS) menjadi 71 (setara dengan AB atau „Sangat Baik‟ menurut peraturan akademik ITS), 3). nilai

terendah yang dicapai oleh mahasiswa adalah 56 (setara dengan C atau „Cukup‟ menurut peraturan akademik

ITS).

Setelah satu putaran selesai, hasil penelitian menunjukkan dua aspek penting. Aspek pertama

berhubungan dengan implementasi strategi PreQueS oleh pengajar. Dari empat pertemuan kelas yang

dilakukan, guru secara bertahap berhasil memperkenalkan strategi PreQueS kepada siswa. Guru berhasil

menerapkan langkah-langkah yang diperlukan dalam mengimplementasikan strategi PreQueS seperti yang

telah direncanakan sehingga pada akhir penelitian para siswa yang pada mulanya tidak mengetahui strategi

PreQueS akhirnya menjadi tahu dan dapat menerapkannya sendiri. Aspek kedua adalah respon mahasiswa

terhadap penerapan strategi PreQueS dan hasil yang dapat dicapai oleh mereka. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa sebagian besar dari mahasiswa (73.5%) mampu mengimplementasikan strategi PreQueS

dengan baik dan sebanyak 76.5% mampu menunjukkan secara eksplisit bagaimana cara

mengimplementasikan strategi PreQueS dalam membaca. Selanjutnya pencapaian kemampuan membaca

mahasiswa juga menunjukkan peningkatan dari rata-rata semula 68.8 menjadi 81.3 pada akhir penelitian.

Nilai terendah yang diperoleh mahasiswa juga berubah dari semula 40 menjadi 66 pada akhir putaran.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil penelitian ini adalah bahwa penerapan strategi PreQueS

mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi guru di mana penelitian ini dilakukan dalam 2 aspek.

Aspek pertama terkait dengan pengembangan strategi membaca. Strategi membaca PreQueS yang

pada dasarnya terdiri dari strategi previewing, questioning dan summarizing mampu membantu mahasiswa

ITS Surabaya meningkatkan kemampuan membaca. Previewing membantu mahasiswa dalam membaca

untuk menangkap ide umum dari isi bahan bacaan, sehingga mereka mampu mengantisipasi apa yang akan

dibahas selanjutnya dari bahan bacaan tersebut. Questioning membantu mahasiswa dalam menentukan apa

yang ingin mereka ketahui lebih lanjut pada saat membaca. Dari apa yang telah mereka putuskan untuk

mereka ketahui dari bahan bacaan itu, mahasiswa akan menjadi lebih penasaran ingin tahu dan menikmati

bahan bacaan itu. Summarizing membantu mahasiswa membangun kembali atau merekonstruksi apa yang

telah mereka pahami dari bahan bacaan yang telah mereka baca. Penerapan strategi membaca PreQueS terdiri

dari empat tahap yaitu brain storming, pemodelan, kerja kelompok, dan kerja individu. Brain storming

berguna untuk memberi mahasiswa konsep strategi PreQueS secara kuat. Pemodelan adalah suatu langkah

yang dilakukan oleh pengajar untuk memberi contoh atau model bagaimana menerapkan strategi PreQueS.

Kerja kelompok berguna untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa pada tahap awal dalam menerapkan

strategi PreQueS. Dalam tahap kerja kelompok ini mahasiswa dipandu oleh guru dalam menerapkan strategi.

Kerja individu bertujuan untuk meltih siswa menerapkan strategi PreQueS secara mandiri.

Aspek kedua adalah peningkatan prestasi kemampuan membaca mahasiswa. Dalam hal ini,

peningkatan prestasi tersebut ditunjukkan oleh hasil penelitian berupa peningkatan nilai rata-rata dan nilai

minimum mahasiswa.

Dengan hasil penelitian yang baik, maka disarankan para mahasiswa menerapkan strategi

pemahaman membaca PreQueS dalam kegiatan membaca mereka. Para guru yang mengajar membaca juga

disarankan untuk mengajar siswa strategi pemahaman membaca PreQueS. Selain itu, para peneliti lain juga

disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan untuk mengembangkan strategi pemahaman membaca

PreQueS ini. Supaya semua yang disarankan ini dapat berjalan maka dukungan dari institusi juga sangat

diharapkan.



Kata kunci: meningkatkan pemahaman membaca, strategi pemahaman membaca PreQueS, Institut Tekno-

logi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya

238 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Kelas Sebelas MAN 2 Madiun

Melalui Diskusi dalam kelompok kecil



Ida Sriwidati



Abstrak

Membaca sebagai satu kegiatan yang penting pada setiap kegiatan bahasa. Dengan membaca orang

dapat memperoleh informasi dari berbagai macam teks tertulis yang berasal dari koran, majalah, iklan,

brosur, dan lain-lainnya. Menurut Djiwandono (2008:62), membaca merupakan kegiatan yang lebih penting

dalam kehidupan dunia moderen dengan perkembangan setiap aspek kehidupan yang serba cepat

Penelitian ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan pemahaman membaca dengan mengguna-

kan diskusi kelompok kecil. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Sasaran penelitian siswa

kelas XI IPA 3 MAN 2 Madiun tahun 2008-2009 yang terdiri empat puluh siswa. Penelitian ini

menggunakan kegiatan yang berkesinambungan untuk pengumpulan data yang terdiri dari penelitian

sebelumnya, perencanaan, penerapan, pengamatan dan refleksi. Ada dua kriteria untuk menunjukan bahwa

penelitian ini berhasil jika nilai rata-rata siswa yang didapatkan dari 5,6 menjadi 6,5 dimana siswa terlibat

aktif dalam kegiatan belajar mengajar dan 80% siswa dapat menjawab tes pemahaman membaca.

Hasil penelitian ini mengungkapkan model yang sesuai pada diskusi kelompok kecil dengan

diterapkan tiga prosedur: (a) sebelum kegiatan membaca berfokus untuk mengaktifkan pengetahuan awal

siswa; (b) kegiatan inti berfoukus untuk membaca teks dengan diam, mendiskusikan isi bacaan dengan

diskusi kelompok kecil mereka, menjawab pertanyaan-pertanyaan pemahaman, mengamati dengan

memberikan pengarahan dan memeriksa hasil tes siswa; (c) kegiatan akhir memfokuskan pemeriksaan

kembali pada pemahaman bacaan siswa pada teks.

Selanjutnya penemuan ini juga menunjukan bahwa siklus diskusi kelompok kecil berhasil dalam

meningkatan kemampuan pemahaman bacaan siswa. Peningkatan ini dapat dilihat dari kenaikan nilai rata-

rata siswa dan keterlibatan dalam kegiatan pemahaman membaca. Nilai rata-rata diperoleh siswa pada dua

siklus yang ditunjukkan dengan daftar pengamatan, catatan lapangan dan hasil tes siswa. Nilai rata-rata 64,70

di siklus I belum mencapai kriteria kesuksesan I. Di siklus II nilai rata-rata siswa mencapai 70,83 yang

berarti kriteria kesuksesan II tercapai. Disamping itu penemuan tersebut juga menunjukan bahwa diskusi

kelompok kecil merupakan teknik yang efektif untuk menumbuhkan keterlibatan siswa dalam kegiatan

membaca pemahaman. Di siklus I, 65% keterlibatan siswa dalam kegiatan membaca meningkat dan

prosentase 80% lebih besar di siklus kedua. Hal ini menunjukkan bahwa criteria kedua tercapai.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa diskusi kelompok kecil tidak hanya

efektif untuk meningkatkan kemampuan pemahaman membaca siswa tetapi juga meningkatkan keterlibatan

siswa dalam kegiatan membaca. Oleh sebab itu, guru Bahasa Inggris disarankan untuk menerapkan diskusi

kelompok kecil khususnya dalam pengajaran membaca pemahaman. Namun, guru harus mendesain model

diskusi kelompok kecil yang sesuai, mendesain rencana pembelajaran, memilih jenis teks, menyusun tugas-

tugas, dan membagi waktu karena membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengajarkan siswa yang

berkemampuan rendah. Disamping itu guru juga perlu memperhatikan prinsip-prinsip diskusi kelompok kecil

sehingga sesuai dengan tugas yang dikerjakan siswa. Tugas-tugas tersebut bisa menjadi pekerjaan rumah

apabila waktu di sekolah terbatas. Semakin banyak dan beragam tugas untuk siswa maka semakin meningkat

pengetahuan siswa dan membuat mereka semakin terlatih.

Kepada peneliti selanjutnya, khususnya yang berminat dalam meneliti didalam kelasnya, dianjurkan

untuk meneliti penerapan diskusi kelompok kecil dalam pengajaran membaca pemahaman yang berhubungan

dengan jenis-jenis teks yang tidak hanya jenis teks penelitian ini , misalnya: procedure, report, recount,

narrative dan hortatory exposition.



Kata kunci: meningkatkan, kemampuan pemahaman membaca, teknik diskusi kelompok kecil

Program Studi S2 ING 239







Meningkatkan Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa Kelas Sebelas MA Darul Lughah

Wal Karomah Kraksaan Probolinggo dengan menggunakan Strategi Berpikir- Berpasangan-

Berbagi



Juhari



Abstrak

Membaca adalah salah satu dari empat komponen bahasa yang harus dikuasai oleh siswa. Tanpa

membaca, siswa tiadak bisa memperluas pengetahuannya, membuka cakrawala dunia, dan mengakses

teknologi informasi dengan mendalam. Agar siswa dapat memahami bacaan dengan baik, banyak alternative

strategy pengajaran reading dapat dikembangkan. Salah satunya adalah penerapan strategi Berpikir-

Berpasangan-Berbagi. Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca

pemahaman dengan menggunakan stategi Berpikir-Berpasangan-Berbagi. Tujuan dari penelitian ini adalah

mengembangkan strategi Berpikir-Berpasangan-Berbagi untuk meningkatkan kemampuan membaca

pemahaman siswa. Dalam kegiatan ini, siswa di bagi dua (berpasangan) dan setiap pasang melakukan tiga

tahap kegiatan kerjasama yang terpadu yaitu pada langkah awal, setiap siswa berpikir sendiri tentang

pertanyaan atau masalah yang diberikan guru. Langkah ke dua, siswa berpasangan dan bertukar pikiran

dengan pasangannya masing-masing. Pada langkah ke tiga, setiap pasangan berbagi jawaban dengan

pasangan lain, kelompok lain, atau dengan seluruh kelompok atau kelas.

Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas yaitu kolaborasi antara peniliti dengan guru

untuk berkerjasama untuk mengembangkan prosedur strategi Berpikir-Berpasangan-Berbagi yang sesuai,

membuat rencana pengajaran, menentukan kreteria kesuksesan belajar, melakukan tindakan, mengamati dan

melakukan refleksi. Subjek penelitian ini adalah 32 siswa kelas sebelas MA Darul Lughah Wal Karomah

Kraksaan Probolinggo tahun ajaran 2008-2009. Penelitian ini dilakukan dalam tiga siklus yang terdiri atas

tiga kali pertemuan. Dua Pertemuan untuk penerapan strategy Berpikir- Berpasangan-Berbagi dan satu

pertemuan untuk test.

Data dalam penelitian ini diperoleh melalui hasil (1) lembar observasi, untuk memperoleh informasi

tentang kegiatan dan penampilan guru dan siswa selama pelaksanaan strategi Berpikir-Berpasangan-Berbagi,

(2) Catatan lapangan digunakan untuk mencatat data yang tidak terdapat pada lembar observasi, (3) Kuis

membaca pemahaman digunakan untuk mengidentifikasikan apakah siswa sudah memperoleh kemajuan

dalam membaca pemahaman dan (4) kuesiner digunakan untuk memperoleh informasi dari siswa apakah

strategi yang diterapkan dapat memotivasi keaktifan siswa dalam proses pembelajaran.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa langhah-langkah dalam melaksanakan stategi Berpikir-

Berpasangan-Berbagi dalam pengajaran membaca pemahaman terdiri atas tiga langkah. Langkah pertama

adalah kegiatan awal, yaitu (1) menunjukkan gambar kepada siswa dan memberikan beberapa pertanyaan

lisan yang berhubungan dengan gambar, (2) menyuruh siswa memprediksi topic yang akan dipelajari, (3)

meminta siswa menyebutkan kata-kata yang mungkin digunakan dalam tek dan menuliskan kata-kata yang

telah diprediksi di papan tulis. Langkah ke dua adalah kegiatan initi, yaitu (1) menyuruh siswa membaca tek

dalam hati, (2) memberikan contoh bagaimana cara membaca tek yang benar dan meminta siswa untuk

mengikuti dan menggaris-bawahi kata-kata yang sulit, (3) menjelaskan arti dari kata-kata sulit, (4)

menjelaskan isi dari tek, (5) memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya, (6), menyuruh siswa

untuk menjawab pertanyaan (ya-tidak) secara lisan, (7) menjelaskan langkah-langkah dan kegiatan yang akan

siswa lakukan dalam kelas membaca, (8) menyuruh siswa untuk menjawab sendiri pertanyaan pemahaman

dan memberikan bantuan apabila diperlukan, (9) menyuruh siswa berpasangan, (10) menyuruh setiap

pasangan untuk mendiskusikan pertanyaan dan memberikan semangat kepada siswa untuk membantu

pasangannya, memonitor dan memberikan bantuan jika diperlukan, (11) menyuruh setiap pasangan untuk

berbagi jawaban secara bergiliran. Langkah ke tiga adalah kegiatan akhir, yaitu (1) memeriksa kembali

jawaban siswa, (2) menulis jawaban yang benar di papan tulis dan (3) membuat kesimpulan dan menutup

pelajaran.

Penelitian ini menunjukkan bahawa pelaksanaan strategi Berpikir-Berpasangan-Berbagi dalam

pembelajaran membaca pemahaman adalah efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman

siswa. Lebih lanjut, siswa terlihat aktif dalam berbagi pendapat, bertanya dan menjawab pertanyaan selama

pembelajaran dengan menggunakan strategi Berpikir-Berpasangan-Berbagi. Siswa juga memberikan respon

yang positip terhadap pembelajaran dengan menggunakan strategi Berpikir-Berpasangan-Berbagi.

Disarankan kepada para guru untuk menggunakan strategi Berpikir-Berpasangan-Berbagi sebagai

salah satu strategi alternatif dalam pengajaran membaca pemahaman di dalam kelas dan pelajaran bahasa

Inggris lainnya. Siswa juga direkomendasikan untuk menggunakan strategi Berpikir-Berpasangan-Berbagi

240 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







sebagai strategi belakajar dalam membaca pemahaman yang dapat mereka lakukan pada kegiatan intra

kurikuler atau ekstra kurikuler.



Kata kunci: meningkatkan, kemampuan membaca pemahaman, strategy berpikir berpasangan berbagi.







Meningkatkan Kemampuan Menulis Argumentasi Mahasiswa Universitas Lambung

Mangkurat Banjarmasin dengan Menggunakan Teknik Diagram Pohon



Jumariati



Abstrak

Menulis esei argumentasi adalah salah satu masalah yang dihadapi oleh mahasiswa Strata 1 Program

Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Lambung Mangkurat. Kemungkinan penyebab dari masalah

tersebut adalah penggunaan strategi pembelajaran yang kurang efektif untuk membimbing mahasiswa dalam

menulis. Untuk mengatasi masalah tersebut, diadakanlah studi ini dengan menerapkan Teknik Diagram

Pohon (TDP) dalam pengajaran menulis esei argumentasi. Teknik ini dipilih untuk mengatasi masalah

mahasiswa karena berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, (Lee, 2004; Riley, 2002) teknik ini membantu

siswa melihat hubungan antar ide-ide dalam tulisannya. Sebagai hasilnya, siswa dapat meningkatkan kualitas

tulisan mereka, tidak hanya dalam hal organisasi tapi juga tata bahasa, kosakata, dan mekanisme penulisan.

Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas Kolaboratif: peneliti bekerjasama

dengan kolaborator dalam hal: merancang rencana pembelajaran, menerapkan dan mengamati tindakan, dan

mengadakan refleksi. Subyek penelitian ini adalah para mahasiswa Strata 1 Program Studi Pendidikan

Bahasa Inggris Universitas Lambung Mangkurat yang sedang mengikuti Mata Kuliah Writing III pada Tahun

Ajaran 2008/2009. Mereka adalah mahasiswa jalur non-reguler (mandiri), kelas B3. Mereka dipilih sebagai

subyek karena berdasarkan silabus Mata Kuliah Writing III, mereka belajar bagaimana mengembangkan

paragraf dan menulis esei. Hal ini sejalan dengan kegunaan teknik yang diterapkan, yakni Teknik Diagram

Pohon.

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus mengikuti langkah-langkah dalam penelitian tindakan

kelas: perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Tiap siklus terdiri dari tiga pertemuan. Data

penelitian diperoleh dari hasil tulisan akhir mahasiswa, lembar pengamatan, dan catatan lapangan. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa TDP dapat meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menulis esei

argumentasi. Pada studi awal, dari 27 mahasiswa hanya 4 orang yang mencapai nilai sama dengan atau lebih

dari 70 (kriteria keberhasilan minimal dalam studi ini). Setelah penerapan Teknik Diagram Pohon, 18 orang

dari 33 mahasiswa mencapai nilai minimal. Meskipun demikian, peningkatan jumlah mahasiswa yang

mencapai nilai minimal masih belum memenuhi kriteria keberhasilan studi, yakni 75% dari seluruh jumlah

mahasiswa di kelas. Sehingga, tindakan dilanjutkan ke siklus kedua. Setelah penerapan TDP di siklus kedua,

sejumlah 26 orang dari 31 mahasiswa (83.87%) berhasil mencapai kriteria keberhasilan studi.

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan, akhirnya dapat disarankan bahwa: (1) para mahasiswa

mata kuliah Writing menggunakan Teknik Diagram Pohon untuk merencanakan dan menyusun tulisannya,

(2) para pengajar ketrampilan menulis menerapkan Teknik Diagram Pohon didalam pengajarannya, (3)

Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Lambung Mangkurat memberikan perhatian lebih

terhadap masalah pengajaran ketrampilan menulis di lembaganya dengan mempertimbangkan kekuatan

Teknik Diagram Pohon dan mensosialisasikan teknik tersebut, dan (4) para peneliti lain mengadakan

penelitian serupa dengan menerapkan Teknik Diagram Pohon untuk meningkatkan tidak hanya kemampuan

menulis esei dalam jenis teks lain seperti deskripsi, narasi, atau eksposisi, tetapi juga meningkatkan

kemampuan berbicara dan membaca.



Kata kunci: menulis, argumentasi, teknik diagram pohon

Program Studi S2 ING 241







The Implementation of Cooperative Learning in Developing Students‟ Speaking Ability at

SMA Negeri 1 Malang



Junette Cinthya Tamaela



Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan Cooperative Learning untuk meningkat-

kan kemampuan berbicara siswa. Dalam pembelajaran Bahasa Inggris interaksi antara siswa yang terjadi saat

penerapan Cooperative Learning memberikan kesempatan bagi siswa untuk mendapat pemerolehan Bahasa

Inggris. Mempertimbangkan hal ini maka penelitian ini berusaha untuk memperlihatkan bahwa Cooperative

Learning dapat membantu mengembangkan kemampuan berbicara siswa.

Penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Subjek dari penelitian ini adalah 35 orang siswa Kelas X-4

SMAN 1 Malang. Data diperoleh dari proses belajar dan mengajar melalui hasil observasi, catatan lapangan,

dan wawancara yang dilakukan dilokasi penelitian. Dari data yang diperoleh, pendeskripsian penerapan

Cooperative Learning untuk meningkatkan kemapuan berbicara siswa dapat diperoleh.

Hasil temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pertama, Cooperative Learning

memungkinkan siswa untuk berpartisipasi dalam bekerja sebagai suatu tim dimana mereka saling mengisi

antar satu dengan yang lain dalam kelompok-kelompok kecil, hal ini terlihat saat siswa yang mengetahui

jawaban memberitahukan kepada teman yang lainnya dalam kelompok itu dan menanyakan pendapat mereka

tentang jawaban yang ia berikan. Sehingga adanya saling mendorong dan saling mengembangkan kelemahan

satu dengan yang lain. Kedua, dengan bekerja melalui Cooperative Learning, siswa termotivasi untuk

berbicara. Mereka berkomunikasi satu dengan yang lain dengan memberikan opini, bertanya, menjawab

pertanyaan, meminta klarifikasi, dan meresponi dukungan yang diberikan oleh teman. Mereka

mengembangkan kemampuan berbicara mereka dengan mempraktekkan berbicara sebanyak mungkin

melalui interaksi dengan teman sekelompok. Siswa memperoleh banyak kesempatan untuk berbicara karena

Cooperative Learning menuntut dan memperdalam kemampuan berbicara siswa. Keberhasilan kelompok

bergantung pada interaksi dari masing-masing anggota. Dengan belajar dalam kelompok koperatif ada

kesempatan bagi siswa untuk menerima bantuan secara individu dari teman sekelompoknya. Bantuan dari

teman meningkatkan kemampuan baik bagi siswa yang dibantu maupun bagi yang membantu.

Ada beberapa saran bagi guru Bahasa Inggris yang ingin menerapkan Cooperative Learning untuk

meningkatkan berbicara siswa. Guru harus merencanakan dengan baik sebelum mengajar siswa

menggunakan Cooperative Learning dimana guru harus mempersiapkan materi yang sesuai dengan tingkatan

kelas dan kemampuan siswa dan menerapkan beberapa prinsip dasar (manajemen kooperatif, struktur tugas,

tanggungjawab individu dan kelompok, peranan guru dan siswa, dan proses pengelompokkan). Dalam

menggunakan kelompok kecil, empat siswa dalam satu kelompok merupakan jumlah yang maksimum untuk

mengatur pembelajaran. Studi menunjukan bahwa empat siswa dapat bekerja secara berpasangan, karena

masing-masing siswa mempunyai tiga kesempatan dalam berpasangan untuk bertukar pikiran. Hal ini

memberikan kesempatan untuk mengalami pengalaman pembelajaran yang baik dan memberi ruang untuk

memberi kontribusi secara individu. Formasi kelompok disusun sehingga siswa duduk berdekatan dan saling

berhadapan dalam satu dengan mencampurkan siswa berdasarkan jenis kelamin dan kemampuan agar tercipta

perbedaan pandangan. Guru harus memonitor siswa saat mereka kerja kelompok dan memberikan bantuan

jika diperlukan.



Kata kunci: cooperative learning, speaking ability







Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa Kelas Delapan MTs PKP Manado Melalui

Pemetaan Konsep



Kalsum Maloho



Abstrak

Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan temuan pada studi pendahuluan yang menunjukkan bahwa

kemampuan menulis siswa kelas delapan MTs PKP Manado masih kurang memuaskan. Siswa kesulitan

menulis dalam hal memperoleh ide, membuat tulisan relevan dengan topic, dan memilih kata-kata. Untuk

mengatasi masalah ini, salah satu alternatif strategi digunakan dalam pengajaran menulis paragraf deskripsi.

Masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana pemetaan konsep meningkatkan kemampuan menulis siswa

242 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







kelas delapan MTs PKP Manado?” Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dirancang untuk

mengembangkan stategi pemetaan konsep untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas delapan.

Pemetaan konsep ini dipilih karena dapat membantu siswa berusaha secara kooperatif dalam kegiatan

menulis dan belajar menulis secara bersama dengan cara yang menyenangkan namun kompetitif. Selain itu,

telah terbukti, dalam banyak penelitian, pemetaan konsep dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa

dan meningkatkan keterlibatan siswa dalam kegiatan menulis.

Menulis sebagai salah satu keterampilan bahasa berperan penting dalam konteks pengajaran bahasa

Inggris. Menulis adalah salah satu cara bertukar pikiran dan menunjukkan kemampuan seseorang untuk

mengungkapkan cara pandang berdasarkan topik tertentu (Hyland, 2003). Ini berarti bahwa pengungkapan

ide dari pesan tertentu di tuangkan dalam bentuk tulisan. Menulis berarti menyalurkan pesan dalam bentuk

tulisan.

Subyek penelitian ini adalah dua puluh siswa (Kelas VIII-A) MTs PKP Manado, Sulawesi Utara

pada tahun akademik 2008/2009. Penelitian ini dilakukan melalui dua siklus yang mengacu pada prosedur

penelitian tindakan yaitu, perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.Tiap siklus dalam penelitian

ini terdiri dari satu pertemuan untuk pelaksanaan strategi dan dua pertemuan untuk pemberian tugas melalui

proses menulis. Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa instrumen yaitu portofolio, lembar

pengamatan dan catatan lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemetaan konsep efektif dalam

meningkatkan kemampuan menulis siswa. Peningkatan dapat dilihat dari kenaikan nilai rata-rata dan

keterlibatan siswa dalam kegiatan menulis. Perolehan nilai rata-rata siswa pada dua siklus ditunjukkan

melalui portofolio. Sementara keterlibatan siswa dalam kegiatan menulis ditunjukkan melalui lembar

pengamatan dan catatan lapangan. Berkaitan dengan produk akhir siswa, kriteria keberhasilan pertama dari

penelitian ini adalah nilai rata-rata siswa harus mencapai 65 atau lebih. Sementara, berkaitan dengan

keterlibatan siswa dalam keiatan menulis, kriteria keberhasilan kedua adalah 70% siswa harus terlibat dan

keterlibatan mereka berada pada skala “Baik” dan “Lebih Baik.” Nilai rata-rata 59.68 pada Siklus 1 belum

memenuhi kriteria keberhasilan pertama. Pada Siklus 2, nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 69.85.

Disamping itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa pemetaan konsep juga sangat efektif untuk

meningkatkan keterlibatan siswa dalam kegiatan menulis. Pada Siklus 1, 70% siswa terlibat dalam kegiatan

menulis, dan persentasenya meningkat pada Siklus 2 menjadi 80%. Hal ini berarti memenuhi kriteria

keberhasilan kedua.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa model pemetaan konsep yang sesuai dalam pengajaran

menulis meliputi langkah-langkah berikut: (1) mengarahkan siswa kepada topik dengan memberikan

pertanyaan, (2) menghubungkan topik dengan pengetahuan siswa sebelumnya, (3) memperkenalkan topik

dan menjelaskan tujuan pembelajaran, (4) menunjukkan gambar yang berkaitan dengan topik dengan cara

menempelkannya di papan tulis, (5) meminta siswa untuk mengamati gambar, (6) meminta siswa

memperoleh ide dan menyusun ide-ide mereka melalui pemetaan konsep sebagai contoh dipapan tulis, (7)

membagikan contoh paragraf deskripsi, (8) meminta siswa duduk dalam kelompok yang terdiri dari 4 orang,

(9) membagikan gambar-gambar binatang lucu, kertas berukuran (A4), dan spidol warna, (10)

memberitahukan siswa tentang kegiatan yang akan dilakukan dalam kelompok, (11) meminta siswa menulis

judul berdasarkan gambar yang dimulai dari tengah kertas, (12) meminta siswa menulis draf awal secara

indifidu, (13) meminta siswa untuk saling bertukar draft mereka dalam kelompok, (14) membimbing siswa

merevisi tulisan mereka dari segi isi dan organisasi, (15) meminta siswa untuk mengomentari dan

memberikan saran terhadap tulisan mereka, (16) membimbing siswa mengedit tulisan mereka dari segi tata

bahasa dan pilihan kata, (17) ) meminta siswa untuk saling bertukar draf mereka untuk di baca kembali oleh

teman lain dalam kelompok, (18) meminta siswa untuk menulis draf akhir, dan (19) menyimpulkan pelajaran.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa pemetaan konsep tidak hanya efektif untuk

meningkatkan kemampuan menulis siswa tetapi juga meningkatkan keterlibatan siswa dalam kegiatan

menulis, terutama dalam memperoleh dan menyusun ide-ide. Oleh sebab itu, disarankan kepada guru Bahasa

Inggris untuk menerapkan pemetaan konsep khususnya dalam pengajaran menulis. Namun, guru harus

mendisain model pemetaan konsep yang sesuai, mendisain rencana pembelajaran, memilih jenis teks,

menyusun tugas-tugas, dan membagi waktu karena membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengajarkan

siswa yang berkemampuan rendah. Disamping itu guru juga perlu memperhatikan prinsip-prinsip pemetaan

konsep sehingga sesuai dengan tugas yang dikerjakan siswa. Kepada peneliti selanjutnya, khususnya yang

berminat dalam meneliti pemetaan konsep didalam kelasnya, dianjurkan untuk meneliti penerapan pemetaan

konsep dalam pengajaran menulis yang berhubungan dengan jenis teks yang berbeda, misalnya narasi,

prosedur, dan recount.



Kata kunci: pemetaan konsep, kemampuan menulis

Program Studi S2 ING 243







Menggunakan Teknik Incomplete Picture Series untuk Meningkatkan Kemampuan

Berbicara Siswa Kelas II MTs. Hikmatusysyarif NW Salut, Lombok



Laila Wati



Abstrak

Penelitian ini didasarkan pada perlunya meningkatkan kemampuan berbicara siswa, maka penelitian

ini diadakan untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa melalui teknik Incomplete Picture Series.

Dalam teknik ini, siswa dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok diberi gambar seri yang

berbeda. Teknik ini dipercaya bisa meningkatkan kemampuan berbicara dan keterlibatan siswa dalam proses

belajar mengajar.

Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas. Sebagai penelitian tindakan kelas, penelitian ini

dilaksanakan secara kolaboratif dengan seorang guru bahasa Inggris dalam mengamati penerapan teknik

tersebut. Penelitian ini diadakan dalam dua siklus. Setiap siklus terdiri dari tiga pertemuan. Subjek penelitian

ini adalah siswa kelas 2A MTs. Hikmatusysyarief NW Salut, Lombok Barat. Instrumen penelitian ini adalah

angket, ceklist pengamatan, catatan lapangan, alat perekam suara, dan lembar penilaian diri siswa. Kriteria

keberhasilan penelitian ini diketahui berdasarkan pada tanggapan siswa terhadap penerapan teknik tersebut

dan keterlibatan mereka dalam proses belajar mengajar. Kedua kriteria keberhasilan ini dinyatakan tercapai

apabila 70% dari keseluruhan siswa memberi tanggapan positif terhadap teknik tersebut dan terlibat secara

aktif dalam proses belajar mengajar. Kesuksesan teknik ini juga ditandai dengan nilai berbicara siswa.

Apabila 65% dari keseluruhan siswa memperoleh nilai lebih dari dan/atau sama dengan 65, maka criteria

keberhasilan dalam hal kemampuan berbicara siswa telah tercapai.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik Incomplete Picture Series berhasil meningkatkan

kemampuan berbicara siswa sebagaimana halnya juga meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar

mengajar. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari persentase siswa yang memperoleh nilai yang telah

ditentukan pada kriteria keberhasilan yaitu minimal 65. Pada Siklus 1, hanya ada 48.6% dari keseluruhan

siswa yang memperoleh nilai lebih dari dan/atau sama dengan 65. Sementara di Siklus 2, ada 91.4% dari

keseluruhan siswa memperoleh nilai lebih dari dan/atau sama dengan 65. Disamping itu, hasil penelitian

menunjukkan bahwa teknik Incomplete Picture Series ini juga efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa

dalam kegiatan berbicara, khususnya ketika berkelompok.

Lebih lanjut, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa cara yang tepat dalam menggunakan teknik

Incomplete Picture Series untuk pengajaran berbicara meliputi langkah-langkah sebagai berikut: (1)

melakukan pemanasan dengan bernyanyi kemudian memberi pertanyaan yang berkaitan dengan apa yang

akan dilakukan berikutnya, (2) memberi tahu apa yang akan dilakukan, (3) membagi siswa menjadi beberapa

kelompok; masing-masing kelompok duduk melingkar, (4), memberikan gambar seri yang tidak lengkap

yang berbeda kepada setiap kelompok, (5) menugaskan siswa untuk memberitahukan kepada teman

kelompoknya tentang gambar yang mereka lihat secara bergiliran, (6) meminta siswa untuk mengumpulkan

informasi yang diperoleh dari teman kelompok mereka; siswa dianjurkan untuk menulis informasi tersebut,

(7) meminta siswa untuk meyimpulkan akhir cerita setelah mereka mengumpulkan informasi dari semua

teman kelompok mereka, (8) memberitahukan kepada siswa bahwa akhir ceritanya bebas berdasarkan

imajinasi mereka, (9) menugaskan siswa untuk menyampaikan cerita tersebut di depan kelas satu persatu

secara individu.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, bisa disimpulkan bahwa teknik Incomplete Picture Series

telah terbukti tidak hanya meningkatkan kemampuan berbicara siswa melainkan juga meningkatkan

keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar bahasa, khususnya dalam pembelajaran berbicara. Dengan

demikian, disarankan kepada guru bahasa Inggris untuk menerapkan teknik ini sebagai salah satu pilihan

yang bisa dilakukan dalam pembelajaran keterampilan berbicara. Disarankan juga kepada peneliti yang akan

datang supaya mengadakan penelitian serupa dengan menggunakan teknik Incomplete Picture Series

terhadap subyek dan tempat yang berbeda untuk mengetahui apakah teknik ini efektif dan bisa diterapkan

untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Bisa juga teknik ini diterapkan dalam meningkatkan

keahlian produktif seperti keahlian menulis. Karena kelebihan teknik ini bukan hanya meningkatkan

kemampuan berbicara siswa melainkan juga keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, disarankan

kepada para siswa untuk mengadopsi teknik ini sebagai strategi belajar dalam praktek berbicara dan bahkan

untuk latihan menulis dalam bahasa Inggris. Kegiatan seperti ini bisa dilakukan dalam ekstra kurikuler.



Kata kunci: teknik incomplete picture series, kemampuan berbicara

244 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







Menggunakan Photo untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa Kelas Dua MTsN

Mojorejo Blitar



Lilik Lutfiyah



Abstrak

Menulis adalah salah satu dari empat keahlian berbahasa yang memainkan sebuah peranan yang

sangat penting dalam pengajaran bahasa inggris karena sebenarnya menulis dapat membantu siswa

mempelajari bahasa kedua. Bagaimanapun juga, kemampuan menulis siswa MTsN Mojorejo masih belum

memuaskan. Siswa cenderung merasa kesulitan dalam menemukan dan menghasilkan ide-ide. Di samping

itu, siswa merasa bingung memulai kegiatan menulis dan siswa juga tampak kurang tertarik dengan kegiatan

menulis.

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas delapan MTsN

Mojorejo Blitar dalam menulis teks recount dengan menggunakan foto. Strategi ini dipilih karena dapat

menuntun siswa dalam menemukan dan menghasilkan ide-ide sampai menjadi tulisan yang bermakna. Foto

biasanya menangkap masalalu, dan pasti ini dapat membantu siswa mengingat secara detail orang, tempat,

dan kejadian yang ada dalam foto tersebut. Pendeknya, foto dapat menjadi sumber sebuah tulisan. Disamping

itu, sebuah foto bisa bernilai beribu-ribu kata karena satu gambar dapat menceritakan sesuatu bahkan cerita di

baliknya. Masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana penggunaan foto dapat meningkatkan

kemampuan menulis teks recount siswa kelas dua MTs Negeri Mojorejo Blitar?”. Untuk mencapai tujuan

tersebut, penelitian tindakan kelas dilakukan dalam studi ini dengan menggunakan 4 langkah, yaitu

perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah 29 siswa kelas VIII MTs

Negeri Mojorejo Blitar tahun pelajaran 2008/2009. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Siklus satu

terdiri atas enam pertemuan, sedang siklus dua terdiri dari dua pertemuan. Data penelitian dikumpulkan

melalui beberapa instrumen yaitu lembar observasi, catatan lapangan, kuisioner dan tulisan siswa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa langkah-langkah yang tepat yang digunakan penerapan foto

dalam menulis recount meliputi prosedur berikut: (1) mengarahkan siswa kepada topic yang akan dibahas

dengan memberikan pertanyaan (2) memperkenalkan strategi dan prosedur tentang cara membuat recount,

(3) menyuruh siswa untuk bekerja dalam kelompok, (4) menyuruh siswa untuk meletakkan foto masing-

masing di depan mereka. (5) menyuruh siswa untuk melihat foto dengan seksama selama beberapa saat (6)

menjelaskan kepada siswa tentang apa yang harus mereka lakukan dalam kelompok, (7) menyuruh siswa

untuk mendaftar kata sebanyak mungkin yang berkaitan dengan foto, lalu menghasilkan ide dengan

menjawab pertanyaan, (8) memberikan model sebuah teks recount lalu menjelaskan tentang teks recount

beserta ciri-ciri kebahasaannya (Simple Past Tense, Connectors) kepada siswa sebelum mereka menulis draf

kasar, (9) meminta siswa untuk menulis draf awal secara individu, (10) memberi siswa waktu untuk melihat

kembali dan merevisi draft awal menggunakan panduan revisi (11) meminta siswa untuk menulis kembali

draft berdasarka feedback dari guru, yang selanjutnya dikumpulkan sebagai draft akhir. Selanjutnya, hasil

penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan foto telah meningkatkan kemampuan siswa kelas VIII MTs

Negeri Mojorejo Blitar dalam menulis teks recount. Pada siklus satu, nilai rata-rata siswa adalah 60,7 dan

hanya 14 siswa yang mendapatkan nilai sama dengan atau lebih besar 65. Dan, di siklus kedua, nilai rata-rata

siswa menjadi 70,3 dengan 23 sisws mendapat nilai sama dengan atau lebih besar 65. Di samping itu, siswa

kelihatan active dan bersemangat dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan foto.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa penggunaan foto sangat bermanfaat tidak

hanya dalam meningkatkan kemampuan menulis siswa tetapi juga dalam meningkatkan motivasi siswa dalam

proses pembelajaran. Oleh karena itu, disarankan kepada guru Bahasa Inggris untuk menerapkan strategi ini

dalam pengajaran menulis karena ini sangat membantu siswa dalam memberikan cara yang menarik untuk

menemukan dan menghasilkan ide-ide yang akhirnya menjadi tulisan yang bermakna. Akhirnya, bagi peneliti

selanjutnya, terutama yang mempunyai masalah yang sama dan memang tertarik mengadakan penelitian,

disarankan untuk mengadakan penelitian tindakan dgn bidang sama tapi untuk tingkat pendidikan yang

berbeda contohnya SMA. Disamping itu, disarankan pula untuk mengadakan penelitian dalam bidang

menulis tapi dengan genre yang berbeda khususnya teks deskriptif.

Akhirnya, bagi peneliti selanjutnya, terutama yang mempunyai masalah yang sama dan memang

tertarik mengadakan penelitian, disarankan untuk mengadakan penelitian tindakan dalam bidang menulis tapi

dengan genre yang berbeda khususnya teks deskriptif. Disamping itu, disarankan pula untuk mengadakan

penelitian dgn bidang sama tapi untuk tingkat pendidikan yang berbeda contohnya SMA.



Kata kunci: photo, kemampuan menulis, teks recount

Program Studi S2 ING 245







Meningkatkan Kemampuan Siswa Kelas VIII dalam Menulis Teks Recount melalui Starategi

Menulis Proses di MTsN Grogol Kediri



Luluk Rahmawati



Abstrak

Menurut para siswa kelas 8 di MTsN Grogol Kediri, menulis dianggap sebagai kecakapan berbahasa

yang paling sulit dikuasai. Sayangnya, pembelajaran menulis tidak dilakukan dengan baik oleh para guru

bahasa Inggris di sekolah tersebut dan hal itu menyebabkan rendahnya kemampuan menulis para siswa.

Untuk mengatasi masalah tersebut, strategi menulis proses diajukan karena telah dibuktikan berhasil oleh

beberapa peneliti dalam meningkatkan kemampuan menulis para siswa. Kemudian, penelitian yang

dirancang untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas 8 dalam menulis teks recount melalui strategi

menulis proses di MTsN Grogol Kediri dilaksanakan.

Rancangan penelitian ini adalah penelitian tindakan yang terdiri dari 4 tahap, yaitu perencanaan,

pelaksanaan dan pengamatan, dan refleksi. Tahap-tahap tersebut didahului oleh penelitian awal yang

bertujuan untuk mendapatkan data yang berhubungan dengan masalah-masalah dalam pembelajaran menulis.

Hasil penelitian awal menunjukkan bahwa tidak ada seorang siswapun yang mendapatkan nilai 65 sebagai

nilai minimal. Subyek penelitian ini adalah 37 siswa kelas VIII-C pada tahun ajaran 2008-2009. Untuk

pengumpulan data peneliti menggunakan 4 instrumen yaitu lembar observasi, catatan lapangan, portofolio,

dan kuesioner. Penelitian ini dianggap berhasil apabila memenuhi kriteria kesuksesan berikut: (1) 75% siswa

atau lebih berpartisipasi dalam proses belajar mengajar, (2) sekurang-kurangnya 50% siswa memperoleh nilai

sama dengan atau lebih dari 65, dan (3) sekurang-kurangnya 75% siswa memiliki tanggapan yang bagus

terhadap penggunaan strategi menulis proses.

Prosedur yang tepat dalam penerapan strategi menulis proses untuk mengajar menulis adalah (1)

membagi siswa menjadi beberapa kelompok, (2) membagikan gambar berangkai untuk tahap pemodelan,

lembar kerja siswa, dan media, (3) menugaskan siswa untuk memperoleh ide, (4) meminta siswa untuk

menyusun ide-ide tersebut ke dalam paragraf, (5) menugaskan siswa untuk merevisi draf dalam hal isi dan

penyusunan, (6) meminta siswa untuk mengedit draf dalam hal tata bahasa, kosa kata, ejaan, pemakaian

huruf kapital, dan tanda baca, dan (7) meminta siswa untuk menulis hasil akhir karangan mereka. Pada setiap

langkah, siswa diberi contoh terlebih dahulu.

Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa semua indikator kesuksesan telah dapat dicapai pada

Siklus I. Mengenai indikator yang pertama, hasil temuan menunjukkan bahwa 75% siswa telah berpartisipasi

pada sekurang;kurangnya 9 kegiatan dari 13 kegiatan di lembar observasi. Berkenaan dengan kriteria yang

kedua, hasil analisis data menunjukkan bahwa 72.97% siswa (27 siswa) telah memperoleh nilai sama dengan

atau lebih dari 65. Untuk kriteria yang ketiga, hasil analisis data dari kuesioner menunjukkan bahwa

sekurang-kurangnya 94% siswa (34 siswa) memberikan respon positif terhadap penggunaan strategi menulis

proses.

Mempertimbangkan hasil temuan penelitian yang positif mengenai penggunaan strategi menulis

proses untuk mengajar menulis, disarankan kepada para guru bahasa Inggris untuk memanfaatkan strategi ini

untuk mengajar menulis. Bagi peneliti lainnya, disarankan agar mereka mengadakan penelitian mengenai

pemanfaatan strategi menulis proses di tingkat SD (khususnya RSBI) dan SMA/MA karena belum ada

penelitian mengenai hal itu di tingkat tersebut.



Kata kunci: kemampuan menulis, teks recount, strategi menulis proses







Memanfaatkan Gambar Kartun Berangkai Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Teks

Narasi Siswa Kelas IX Madrasah Tsanawiyah Negeri Nganjuk



Mochammad Abdul Rasyid



Abstrak

Salah satu permasalahan pengajaran menulis Bahasa Inggris di MTsN Nganjuk adalah tidak

efektifnya pengajaran menulis yang diterapkan guru. Guru bahasa Inggris tidak membuat perencanaan yang

baik dalam pengajaran menulis. Mereka tidak terbiasa menerapkan langkah-langkah pembejaran menulis

sebagai proses. Berdasarkan penelitian awal yang dilakukan peneliti di kelas IX-E, ditemukan beberapa fakta

sebagai berikut: (1) Siswa mempunyai masalah dalam mengembangkan ide dan mengorganisasikan teks; (2)

246 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







Kempuan siswa terhadap kemampuan tata bahasa dan kosa kata kurang memadai; (3) Siswa kelas IX-E

menginginkan adanya kegiatan menulis teks narasi karena mereka belum pernah menulis teks tersebut

sebelumnya. Dari fakta di atas, peneliti merasa sangat termotivasi untuk memecahkan permasalahan tersebut

dengan memanfaatkan gambar kartun berangkai melalui pendekatan menulis sebagai proses dan empat tahap

pembelajaran Bahasa Inggris (BKoF, MoT, JCoT, dan ICoT). Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

bagaimana gambar kartun berangkai dapat meningkatkan kemampuan menulis teks narasi siswa kelas IX

MTsN Nganjuk. Mengacu pada rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk

mendeskripsikan strategi dengan memanfaatkan gambar kartun berangkai dalam pengajaran menulis dalam

rangka meningkatkan kemampuan siswa kelas IX dalam menulis teks narasi.

Desain penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tinadakan Kelas (PTK)

yang dilakukan dalam empat tahap, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan atau penerapan strategi,

tahap observasi atau pengamatan, dan refleksi dan dilaksanakan dalam dua siklus. Penelitian ini dilaksanakan

di kelas IX-E yang terdiri dari 33 siswa. Sejumlah alat bantu penelitian seperti lembar observasi, kuesioner,

dan catatan lapangan digunakan untuk mengumpulkan data tentang tingkat keterlibatan siswa dan tingkat

motivasi siswa selama penerapan strategi pembelajaran. Sedangakan hasil tulisan siswa dinilai berdasarkan

format penilaian dengan menyesuaikan format yang dikembangkan oleh Hill, dkk (1998) dengan

mempertimbangkan cara pendeskripsian tokoh pelaku dan tempat kejadian, alur cerita, tema, dan kesimpulan

atau pesan cerita serta mempertimbangkan aspek bahasa seperti tata bahasa, kosa kata, dan susunan kalimat.

Penelitian ini dianggap berhasil jika memenuhi tiga criteria. Pertama, tingkat keterlibatan siswa dalam proses

pembelajaran mencapai 75% dari hasil observasi yang dilakukan oleh pengamat. Kedua, jumlah siswa yang

mendapat nilai 65 atau lebih mencapai 70% (24 siswa) dari jumlah siswa keseluruhan. Ketiga, nilai rata-rata

siswa minimal 65.

Sejumlah temuan selama penelitian ini menunjukkan bahwa gambar kartun berangkai yang

diimplementasikan dalam empat tahap pembelajaran dan pendekatan menulis sebagai proses sangat efektif

dalam pengajaran menulis teks narasi. Pertama, gambar kartun berangkai membantu siswa dalam hal

pengembangan ide dan mengorganisasikan teks. Kedua, pendekatan menulis sebagai proses memandu siswa

terhadap langkah-langkah penciptaan teks, sedangkan empat tahap pembelajaran sangat efektif diterapkan

dalam pengajaran menulis. Strategi tersebut lebih efektif dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk

mengakses sendiri gambar kartun berangaki dan mengembangkankannya dalam bentuk cerita narasi.

Pendekatan individu terhadap siswa juga mendorong mereka untuk lebih berkreasi dan meminimalkan jarak

antara guru dan murid.

Langkah-langkah penerapan gambar kartun berangkai dalam pengajaran menulis teks narasi

mengikuti empat tahap pembelajaran (BKoF, MoT, JCoT, dan ICoT). Kegiatan diawali dengan BKoF, yaitu

bercerita oleh guru dan menulis kembali cerita tersebut. Dalam tahap MoT, sebuah teks narasi dicontohkan

oleh guru untuk dipahami dan dianalisis. Pendekatan menulis sebagai proses muncul pada tahap JCoT.

Diberikan satu set gambar kartun berangkai, siswa membuat garis besar cerita, mengembangkannya dalam

bentuk teks, meminta teman lain untuk membaca untuk kemudian dikoreksi dan diperbaiki. Dalam tahap

ICoT, siswa secara individu mengakses gambar kartun berangkai dari koran atau majalah dan

mengembangkannya dalam bentuk cerita narasi. Para siswa melakukan proses menulis yang dimulai dari

mengembangkan ide cerita, saling mengoreksi dengan teman dan atau guru, memperbaiki teks, dan menulis

kembali teks setelah mendapatkan masukan dari teman dan atau guru. Pada akhir kegiatan, guru

mempublikasikan karya-karya mereka melalui kegiatan membaca, bermain peran, dan memajangkannya di

majalah dinding.

Mengacu pada hasil-hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan bahwa gambar kartun berangkai

efektif dalam pengajaran menulis teks narasi. Gambar kartun berangkai menginspirasi siswa dalam

berimajinasi, mengembangkan ide-ide mereka, dan mengorganisasikan teks. Pendekatan menulis sebagai

proses mengarahkan siswa untuk melakukan langkah-langkah dalam menulis. Sedangkan empat tahap

pembelajaran memfasilitasi siswa terhadap langkah-langkah pembelajaran menulis secara berkelompok dan

menulis secara mandiri. Guru Bahasa Inggris disarankan untuk memanfaatkan gambar kartun berangkai

dalam pengajaran menulis teks narasi. Para siswa disarankan untuk senantiasa berlatih menulis dalam topik

yang berbeda dengan memanfaatkan keberadaan gambar kartun berangkai yang terdapat di koran, majalah,

dsb. Untuk peneliti yang lain, diharapkan untuk melakukan penelitian berdasarkan temuan dalam penelitian

ini demi mengembangkan strategi yang lebih baik dalam pengajaran menulis.



Kata kunci: gambar kartun berangkai, meningkatkan, kemampuan menulis, teks narasi

Program Studi S2 ING 247







Meningkatkan Kemampuan Siswa Kelas Tiga Madrasah Aliyah Tarbiyatul Wathon Gresik

dalam Menulis Teks Narrative melalui Peer Feedback



Mohammad Faizal Mubarok



Abstrak

Sebagai bagian dari tahapan-tahapan dalam writing process, feedback sangat penting dalam

membantu siswa untuk memperbaiki tulisannya. Mereka pada umumnya menginginkan teksnya dibaca oleh

guru mereka untuk melihat bagaimana respon guru terhadap pekerjaan mereka, dan berharap bahwa mereka

bisa belajar dari respon tersebut untuk memperbaiki drafnya.

Namun demikian, berdasarkan penelitian awal di kelas saya, kelas tiga Madrasah Aliyah Tarbiyatul

Wathon Gresik, dan pengalaman saya menjadi guru bahasa Inggris di sekolah tersebut, saya menemukan

bahwa kebanyakan siswa tidak mampu memperbaiki draft pertama mereka khususnya draf dalam bentuk teks

narrative setelah mendapatkan feedback dari saya, guru mereka. Kemungkinan penyebab dari permasalahan

siswa tersebut terletak pada feedback yang tidak efektif yang diberikan oleh saya.

Sebagai jawaban atas permasalahan tersebut, peer feedback dalam bentuk revising checklists

diajukan sebagai solusinya. Hal yang menonjol dari strategi ini adalah bahwa peer feedback memberi siswa

cara bagaimana memperbaiki draft awal mereka. Karena alasan itulah, penelitian ini bertujuan untuk

memperbaiki kemampuan siswa kelas tiga Madrasah Aliyah Tarbiyatul Wathon Gresik dalam menulis teks

narrative melalui pengimplementasian peer feedback.

Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian tindakan kelas model kolaborasi dengan empat tahapan,

yaitu, perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi, diimplementasikan dalam penelitian ini. Dalam

pelaksanaannya, penelitian ini dilakukan dalam dua siklus saja karena pada siklus kedua kriteria kesuksesan

dalam penelitian ini telah tercapai. Setiap siklus dari penelitian ini terdiri dari tiga pertemuan. Berkenaan

dengan subjek penelitian, subjek penelitian ini adalah siswa kelas tiga Madrasah Aliyah Tarbiyatul Wathon

Gresik tahun ajaran 2008/2009.

Data dari penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan instrumen-instrumen sebagai berikut:

lembar pengamatan checklists, catatan lapangan, angket, wawancara dan hasil pekerjaan siswa. Data yang

diambil dari catatan lapangan dan wawancara dianalisa secara kualitatif dan dideskripsikan secara jelas.

Sementara itu, data yang diambil melalui lembar pengamatan checklists, angket dan hasil pekerjaan tulis

siswa dianalisis serta dipresentasikan secara kuantitatif dan diskipsi.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan peer feedback dalam pengajaran menulis dapat

memperbaiki kemampuan menulis siswa serta sukses mendorong mereka untuk berpartisipasi secara aktif

dan antusias dalam proses belajar mengajar menulis. Kemajuan penulisan narrative siswa terpotret dari hasil

nilai menulis mereka. Hasil tulisan mereka telah mencapai kriteria kesuksesan yang berarti bahwa ada 26

siswa atau 82% siswa mendapatkan nilai yang sama atau lebih dari 60. Berkenaan dengan partisipasi siswa

dalam proses belajar mengajar, keterlibatan, ketertarikan dan keantusiasan siswa dalam seluruh kegiatan

proses belajar mengajar sangat bagus, atau 87% siswa secara aktif berpartisipasi dalam aktivitas proses

belajar mengajar. Hal ini berarti bahwa kriteria ketuntasan yang berkaitan dengan partisipasi siswa dalam

proses belajar mengajar telah tercapai.

Penerapan peer feedback dalam penelitian ini mengikuti prosedur sebagai berikut: (1) menentukan

siswa dalam kelompok yang terdiri dari 4 siswa, (2) meminta siswa secara berkelompok untuk menyusun

paragraf acak ke dalam susunan yang tepat, (3) meminta siswa untuk ambil bagian dalam diskusi antara

siswa dan guru berkenaan dengan susunan yang tepat dari paragraf acak tersebut, (4) menyuruh siswa untuk

menulis topik dalam waktu 1-5 menit, (5) menyuruh siswa untuk menulis rencana awal penulisan, (6)

meminta siswa untuk menulis draf awal mereka, (7) mendiskusikan makna masing-masing item dari revising

checklists, (8) memerintahkan siswa untuk membaca dan memberikan feedback pada contoh draf dengan

menggunakan lembar revising checklists, (9) meminta siswa untuk mendiskusikan contoh draf tersebut dalam

kelompok, (10) menyuruh siswa untuk berdiskusi berkaitan dengan feedback siswa terhadap draf pilihan

dalam bentuk diskusi kelas, (11) menyuruh mereka membaca dan memberi feedback terhadap draf teman

sejawat mereka, (12) meminta mereka untuk saling mendiskusikan draf mereka masing-masing dengan

memberikan komentar dan saran-saran terhadap draf teman mereka dengan cara menjelaskan checklists

mereka, (13) meminta mereka untuk merivisi dan memperbaiki draf mereka berdasarkan feedback teman

mereka, (14) memerintahkan mereka untuk menulis draf mereka sebagai draf akhir.

Mengacu pada kekuatan penerapan peer feedback dalam penelitian ini, disarankan kepada guru-guru

bahasa Inggris yang mempunyai masalah pengajaran yang sama untuk menerapkan strategi ini sebagai solusi

alternatif dalam pengajaran menulis. Namun demikian, dalam pengimplementasiannya, guru dianjurkan

untuk memberi dan mengajarkan model penerapan peer feedback sebelum mengimplementasikannya,

248 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







mengelompokkan mereka berdasarkan kemampuan bahasa Inggrisnya, menunjuk siswa untuk memimpin

diskusi, mengendalikan kegiatan peer feedback, mengaktifkan partisipasi siswa dalam kegiatan peer

feedback, menempatkan posisi mereka sebagai fasilitator dalam proses belajar mengajar serta menentukan

alokasi waktu yang sesuai khususnya ketika dalam kegiatan membaca dan memberi feedback berdasarkan

kemampuan siswa. Sementara itu, bagi peneliti yang akan datang, mereka direkomendasikan untuk

melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas dengan menggunakan strategi ini dalam pengajaran kemampuan

bahasa lainnya atau dalam pengajaran menulis dengan model teks lainnya dan memperluas fokus mereka

pada semua aspek menulis yang meliputi isi, organisasi, tatabahasa, kosa kata dan mekanik.



Kata kunci: kemampuan menulis, teks narrative, peer feedback







Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa Kelas X di MA Mambaus Sholihin Gresik

melalui Pemetaan Ide



M. Zaini Miftah



Abstrak

Penelitian ini dilakukan berdasarkan masalah yang dihadapi oleh peneliti dalam pembelajaran

Bahasa Inggris di kelas. Pengalamannya sebagai guru Bahasa Inggris pada kelas X di Madasah Aliyah (MA)

Mambaus Sholihin Gresik menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis masih rendah. Berdasarkan

studi pendahuluan, ditemukan bahwa nilai rata-rata siswa dari tugas menulis adalah 50.5. Hasil ini cenderung

belum memuaskan karena belum mencapai target belajar yang harus paling tidak 65 untuk standar

kesuksesan di sekolah. Ditemukan juga bahwa ada beberapa masalah yang harus dipecahkan. Masalah

utamanya adalah para siswa tidak mengetahui bagaimana cara menemukan dan mengorganisasi ide untuk

menulis sebuah topic.

Untuk memecahkan masalah tersebut, penilitian ini menitikberatkan pada pemecahan masalah yang

berkaitan dengan bagaimana cara siswa menemukan ide dan mengorganisasikannya dalam menulis sebuah

topik. Penelitian ini menawarkan pemetaan ide yang dikembangkan dalam model yang cocok untuk

meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas X dalam menulis teks diskriptif. Masalah dalam penelitian ini

adalah, “Bagaimana strategi pemetaan ide bisa meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas X di MA

Mambaus Sholihin Gresik?”

Desain penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas kolaboratif. Peneliti bekerja sama dengan guru

Bahasa Inggris dalam kegiatan yang bersiklus yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi

terhadap data yang diperoleh dari proses belajar mengajar yang dilaksanakan sebanyak tiga siklus. Setiap

siklusnya terdiri dari empat pertemuan. Subyek penelitian ini adalah semua siswa kelas X-6 semester kedua

pada tahun pelajaran 2008/2009 yang terdiri dari tiga puluh delapan siswa putra. Instrumen yang digunakan

adalah tugas menulis, observation checklist, field notes, dan questionnaire. Refleksi dilakukan berdasarkan

temuan selama pengamatan dan dibandingkan dengan kriteria sukses yang meliputi: (1) dengan instrumen

tugas menulis, prestasi menulis siswa meningkat (≥75% siswa dalam satu kelas mendapatkan nilai lebih dari

atau sama dengan 65 dalam skala nilai 0-100), dan (2) dengan instrumen observation checklist, siswa terlibat

aktif dalam kegiatan menulis. Hasil dari refleksi digunakan untuk menentukan perencanaan terhadap siklus

berikutnya.

Setelah penelitian dilakukan, langkah-langkah model yang cocok dalam menerapkan pemetaan ide

adalah sebagai berikut: (1) beritahukan kepada siswa tentang tujuan pembelajaran, (2) tunjukkan gambar

yang akan didiskripsikan dan suruh mereka untuk mengamatinya, (3) tulislah obyek (topik atau kata kunci)

pada lingkaran dan datangkan ide-ide siswa, (4) bimbinglah mereka untuk mengembangkan setiap ide

penjelas, (5) bimbinglah mereka untuk membuat kalimat dalam mengembangkan ide penjelas tersebut, (6)

distribusikan contoh teks diskriptif, dan suruhlah mereka membaca dan memahaminya, (7) kelompokkan

mereka menjadi empat kelompok, (8) distribusikan gambar-gambar yang berbeda atau (dengan cara lain)

suruhlah mereka mengamati obyek yang nyata, (9) distribusikan kertas A4, lengkapilah dengan petunjuk

kosa kata dan kamus, lalu latihlah mereka, (10) suruhlah mereka mencari ide dan mengelompokkannya

dengan cara pemetaan ide, (11) bimbinglah mereka untuk melakukan drafting, (12) tugasi mereka untuk

menulis draf awal berdasarkan ide yang dipetakan, (13) suruhlah lebih lebih menekankan isi dan organisasi

daripada mekanik, (14) bimbinglah mereka untuk memperbaiki draf, (15) suruhlah mereka memperbaiki

drafnya sendiri dengan menggunakan pedoman revising dan menggunakan ide yang dipetakan untuk

mengembangkan isi dari draf tersebut, (16) tugasi mereka melakukan proofread terhadap draf temannya, (17)

suruhlah mereka membuat perubahan yang sesungguhnya, (18) bimbinglah mereka untuk melakukan editing,

Program Studi S2 ING 249







(19) suruhlah mereka meng-edit drafnya sendiri dengan menggunakan pedoman editing dan menggunakan

ide yang dipetakan untuk meneliti/memperbaiki isi, organisasi, tata bahasa, dan mekanik terhadap draf

tersebut, (20) tugasi mereka untuk melakukan proofread lagi, (21) tugasi mereka untuk berbagi hasil tulisan

mereka, dan (22) suruhlah mereka mengumpulkan tulisan akhir untuk dinilai.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa siswa menjadi aktif selama pembelajaran menulis dan

kemampuan siswa meningkat setelah penerapan tindakan dilakukan. Peningkatan tersebut ditunjukkan oleh

peningkatan persentase prestasi siswa dalam menulis teks diskriptif. Persentase siswa yang mendapatkan skor

≥65 pada akhir Siklus I 36.11% (13 siswa). Persentase ini meningkat menjadi 52.78% (19 siswa) pada akhir

Siklus II. Pada akhir Siklus III, persentase siswa yang mendapatkan skor ≥65 mencapai 82.86% (29 siswa).

Berdasarkan temuan, ada tiga saran yang diberikan. Pertama, para guru Bahasa Inggris

disarankan agar menerapkan langkah-langkah model pemetaan ide sebagai salah satu strategi alternatif

dalam pembelajaran menulis dan juga mengembangkan cara pembelajaran mereka sendiri agar lebih

tepat dipakai dalam pembelajaran mereka di kelas. Kedua, kepala sekolah sebagai pihak pembuat

kebijakan disarankan agar memberikan waktu pelajaran yang khusus bagi siswa untuk mempraktikkan

menulis Bahasa Inggris yang berkelanjutan. Ketiga, para peneliti yang akan datang disarankan agar

melakukan berbagai penelitian yang berkaitan dengan penerapan pemetaan ide dalam pembelajaran

Bahasa Inggris untuk skill yang lain seperti listening, speaking, and reading, dan untuk level yang lain

misalnya Sekolah Dasar (SD/MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs), dan Universitas dengan

mempertimbangkan keampuhan pemetaan ide sebagai strategi dalam pembelajaran Bahasa Inggris.



Kata kunci: pemetaan ide, kemampuan menulis.







Penggunaan Teknik Kolaborasi Untuk Meningkatkan Kemampuan Siswa MTsN Pulosari-

Tulungagung Menulis Teks Deskriptif



Mahfud Efendi



Abstrak

Dari hasil penelitian pendahuluan diketahui bahwa siswa kelas depalan MTsN Pulosari-

Tulungagung memiliki kemampuan menulis yang kurang memuaskan dan tidak termotivasi dalam proses

belajar dan mengajar. Hal ini disebabkan karena teknik pengajaran yang monoton dimana siswa belajar

secara individu dalam situasi kompetitif. Oleh karena itu maka teknik kolaborasi dirancang untuk

meningkatkan kemampuan siswa kelas delapan MTsN Pulosari-Tulungagung dalam menulis teks deskriptif.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang bersifat kolaboratif dimana

peneliti yang bertindak sebagai seorang guru dan kolaborator yang bertindak sebagai seorang observator

bekerja sama dalam melaksanakan semua tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

Penelitian ini dilakukan dengan prosedur sirkular. Peneliti menggunakan beberapa instrumen penelitian untuk

mengumpulkan data, yaitu lembar observasi, catatan lapangan, rubrik penilaian analitis, dan kuesioner.

Subjek penelitian ini adalah 36 siswa kelas depalan (VIII C) MTsN Pulosari-Tulungagung tahun pelajaran

2008/2009.

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa penerapan teknik kolaborasi yang dilakukan dalam satu

siklus dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas delapan dalam menulis teks deskriptif. Hal ini

ditunjukkan dengan adanya nilai 65 persen siswa mencapai 60 atau lebih tinggi dalam skala penilaian 1-100.

Disamping meningkatkan prestasi siswa, penerapan teknik kolaborasi juga mampu meningkatkan motivasi

siswa yang diindikasikan oleh tingkat keaktifan siswa dan partisipasi siswa terhadap semua kegiatan dalam

proses belajar dan mengajar. Selain itu, siswa juga memberikan respon positif (kategori Baik dan Sangat

Baik) terhadap penerapan teknik kolaborasi. Adapun model penerapan teknik kolaborasi yang sesuai

mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: (1) membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok, seperti

berpasangan, kelompok kecil, atau kelompok besar, (2) menugaskan kepada siswa dalam kelompok untuk

melengkapi contoh model teks yang telah disediakan oleh guru, (3) menugaskan kepada siswa dalam

kelompok untuk mendiskusikan tugas yang telah ditentukan dan meminta masing-masing siswa untuk

membuat catatan hasil diskusi secara individu, (4) menganjurkan siswa untuk bekerjasama dalam kelompok

untuk menyelesaikan tugas tersebut, (5) menganjurkan siswa untuk saling membantu satu dengan yang

lainnya dengan tujuan untuk menutupi kelemahan anggota kelompok yang mungkin kurang mampu dalam

menyelesaikan tugas yang diberikan, dan (6) menugaskan siswa untuk membuat teks deskriptif secara

individu dengan tetap memperhatikan masukan positif dari hasil diskusi kelompok.

250 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka disarankan kepada guru Bahasa Inggris untuk

menerapkan teknik kolaborasi dalam pengajarannya dengan jalan mengadaptasi atau memodifikasinya dan

juga mempertimbangkan kondisi riil kelas mereka. Bagi calon peneliti yang berkeinginan untuk meneliti

teknik kolaborasi, sangat disarankan untuk memetakan kemampuan siswanya terlebih dahulu sebelum

pengelompokan dan menilai setiap pekerjaan siswa selama proses belajar dan mengajar, tidak hanya

mencatat perkembangan siswa dari tingkat keaktifan mengumpulkan tugas saja.



Kata kunci: teknik kolaborasi, kemampuan menulis, teks dekriptif







The Gricean Cooperative Principle: Flouting and Hedging in the Conversations in Joseph

Conrad‟s The Secret Agent



Maria Goretti Sri Ningsih



Abstrak

Prinsip Kerja Sama (PK) diperkenalkan oleh seorang filsuf, H.P. Grice. Prinsip itu menyatakan

bahwa seorang penutur harus bekerja sama dengan memberikan kontribusi yang diperlukan dalam tuturan itu.

Grice mengemukakan empat macam maksim tuturan: (1) Maksim Kuantitas, yaitu memberikan kontribusi

yang cukup informatif sesuai yang diperlukan, dan tidak lebih informatif dari yang diperlukan; (2) Maksim

Kualitas, yaitu dengan tidak mengatakan suatu yang diyakini itu tidak benar atau suatu yang bukti

kebenarannya kurang meyakinkan; (3) Maksim Hubungan yang mengatakan bahwa penutur harus

memberikan informasi yang relevan; dan (4) Maksim Cara yang mengatakan bahwa penutur harus

memberikan informasi yang mudah dimengerti: (a) menghindari pernyataan-pernyataan yang samar, (b)

menghindari ketaksaan, (c) usahakan membuat pernyataan yang ringkas, dan (d) usahakan berbicara dengan

teratur.

Dalam kenyataan hidup sehari-hari penutur sering tidak mematuhi maksim-maksim tersebut.

Dengan kata lain mereka sering melanggar dan atau mengungkung/membatasi maksim-maksim tersebut.

Melanggar (flouting) maksim berarti penutur tidak mematuhi maksim-maksim dalam Prinsip Kerja Sama,

sedangkan mengungkung/membatasi (hedging) berarti penutur tidak ingin terlibat sepenuhnya dalam isi

pokok tuturan. Pelanggaran terhadap Prinsip Kerja Sama sering dilakukan penutur dengan menggunakan

majas.

Penelitian ini mencoba mendeskripsikan bagaimana para pelaku dalam novel The Secret Agent

melanggar dan/atau membatasi maksim-maksim tuturan. Hal ini dijabarkan dalam: (1) deskripsi tentang jenis

maksim tuturan yang dilanggar/dibatasi dalam tuturan, (2) penjelasan tentang distribusi dari pelanggaran

(flouting) dan pembatasan (hedging), (3) deskripsi dari kemungkinan alasan-alasan para penutur untuk

melanggar dan/atau membatasi maksim-maksim tuturan, dan (4) deskripsi tentang pola tatabahasa dari

pelanggaran (flouting) dan pembatasan (hedging) tersebut.

Deskripsi tentang jenis-jenis maksim tuturan yang dilanggar/dibatasi dalam tuturan-tuturan dan

penjelasan tentang distribusi dari pelanggaran (flouting) dan pembatasan (hedging) didasarkan pada teori

Grice tentang maksim-maksim dalam Prinsip Kerja Sama; deskripsi tentang alasan-alasan penutur untuk

melanggar/membatasi maksim-maksim tersebut ditulis berdasarkan teori Grice tentang Prinsip Kerja Sama

(PK) dan teori yang dikemukakan Leech tentang Prinsip Sopan Santun (PS); sementara diskripsi tentang pola

tatbahasa dalam pelanggaran/pembatasan (flouting/hedging) didasarkan pada bagian kalimat yang

mengandung pelanggaran/pembatasan.

Untuk menjawab pertanyaan penelitian dilakukan riset kualitatif. Data diambil dari tuturan-tuturan

para pelaku dalam novel tersebut, yang berisi 6 jenis majas yang disebutkan dalam Grundy (2000): ironi,

metafor, hiperbola, pertanyaan retorik (rhetorical question), tautologi, dan understatement (pernyataan yang

dibuat kurang dari yang sebenarnya).

Hasil penelitian menunjukkan ada lima jenis majas yang digunakan dalam tuturan, dan majas yang

paling banyak digunakan oleh para penutur adalah metaphor (83,72%), disusul dengan overstatement

(4,65%), pertanyaan retorik (4,65%), tautologi (4,65%), dan yang paling sedikit adalah ironi (2,33%). Juga

ditemukan ada tiga macam maksim tuturan yang dilanggar/dibatasi, dan maksim Cara adalah maksim yang

paling banyak dilanggar/dibatasi oleh para penutur (50,73%), yang kedua adalah maksim Kualitas (42,03%),

dan yang terakhir adalah maksim Kuantitas (7,24%). Sedangkan pola tatabahasa yang digunakan dalam

pelanggaran (flouting) dan pembatasan (hedging) pola kalimat lengkap.

Berdasarkan pada hasil penelitian, novel ini dianjurkan untuk digunakan sebagai bahan ajar

literature dan cross-cultural understanding (CCU=pengertian tentang kultur negara/bangsa lain) karena novel

Program Studi S2 ING 251







ini menyajikan penggunaan majas-majas untuk menyampaikan pesan atau pikiran, misalnya, “My heart went

down into my boots (Jantungku turun ke sepatuku)” (hal.29), dan “I suppose the cup of horrors was full

enough for such as me (Aku kira piala yang berisi hal-hal yang mengerikan ini terlalu penuh untuk orang

sepertiku)” (hal.298). Ungkapan-ungkapan semacam itu akan memperkaya pengetahuan dan pengertian para

mahasiswa tentang kultur bangsa Inggris.



Kata kunci: prinsip kerja sama grice, pelanggaran, pembatasan, majas, tuturan, the secret agent







Meningkatkan Membaca Pemahaman Siswa Kelas Sepuluh MAN Mojokerto dengan

Menggunakan Strategi PQ4R



Moh. Rodli



Abstrak

Membaca adalah salah satu keterampilan bahasa yang membantu keberhasil dalam belajar bahasa.

Sehingga, membaca adalah salah satu ketrampilan bahasa inggris yang dianggap penting dalam pertumbuhan

siswa dalam berbagai aspek kehidupan. Berdasarkan pertimbangan pentingnya membaca, membaca diajarkan

lebih banyak dari pada ketrampilan bahasa yang lain, waluapun membaca diajarkan lebih banyak daripada

keterampilan bahasa yang lain, namun kemampuan memahami bacaan siswa masih belum memuaskan.

Berdasarkan hasil dari studi pendahuluan, pengajaran membaca di MAN Mojokerto tidak

memfasilitasi siswa dalam menguasai ketrampilan membaca. Keterampilan siswa dalam membaca adalah

belum memadai. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam

pemahaman membaca dengan menggunakan strategi PQ4R Dalam kegiatan PQ4R strategi, siswa diberi tugas

untuk memahami sebuah teks dengan menggunakan prosedur PQ4R, yaitu preview(preview), question

(bertanya), read (membaca), reflect (merefleks)i, recite (membaca nyaring), dan review (mereview)

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas kolaboratif, yaitu kolaborasi antara

peniliti dengan guru yang berkerjasama untuk mengembangkan prosedur strategi PQ4R yang sesuai,

membuat rencana pengajaran, menentukan kriteria kesuksesan belajar, melakukan tindakan, mengamati dan

melakukan refleksi. Subjek penelitian ini adalah 42 siswa kelas X-10 MAN Mojokerto tahun pelajaran 2008-

2009. Penelitian ini dilakukan dalam dua siklus yang setiap siklusnya terdiri dari dua kali pertemuan.

Data dalam penelitian ini diperoleh melalui (1) lembar observasi, untuk memperoleh informasi

tentang kegiatan dan penampilan guru dan siswa selama pelaksanaan strategi PQ4R, (2) catatan lapangan

digunakan untuk mencatat data yang tidak terdapat pada lembar observasi, dan (3) tes pemahaman membaca,

digunakan untuk mengidentifikasikan apakah siswa sudah memperoleh kemajuan dalam pemahaman

membaca.

Penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan strategi PQ4R dalam pembelajaran pemahaman

membaca adalah dapat meningkatkan kemampuan pemahaman membaca siswa. Itu dapat diidentifikasi

bahwa ada peningkatan nilai pemahaman membaca yang signifikan setelah pelaksanaan dari tindakan di

setiap siklusnya. Di siklus ke-1 jumlah siswa yang memperoleh nilai lebih besar atau sama dengan 65 hanya

25 dari 42 siswa atau 59,52%. Itu adalah belum memenuhi kriteria keberhasilan. Di siklus ke-2, jumlah siswa

yang memperoleh nilai sama dengan atau lebih besar dari 65 adalah34 dari 42 siswa atau 80,45%. Hasil

tersebut adalah telah memenuhi kriteria sukses dari penelitian ini. Lebih lanjut, siswa terlihat aktif dalam

berbagi pendapat, mempreiview atau meninjau bacaan, menjawab pertanyaan, membaca, merefleksikan,

mendiskusikan dan mereview sebuah teks atau bacaan selama proses belajar mengajar dengan menggunakan

strategi PQ4R.

Berdasarkan temuan dari penelitian ini, disarankan kepada para guru untuk menggunakan strategi

PQ4R sebagai salah satu strategi alternatif dalam pengajaran pemahaman membaca di dalam kelas. Siswa

juga direkomendasikan untuk menggunakan strategi PQ4R sebagai strategi belajar dalam pemahaman

membaca yang dapat mereka lakukan pada jenis-jenis teks yang lain. Untuk peneliti yang lain, temuan dari

penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk peneliti yang tertarik dalam melaksanakan riset di

bidang yang sama.



Kata kunci: meningkatkan, pemahaman membaca, strategi PQ4R

252 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







Meningkatkan Kemampuan Siswa Kelas II Madrasah Tsanawiyah Biringkanaya Makassar

Dalam Penuliasan Paragraf Deskriptif Melalui Tehnik Bertanya



Muhammad Saleh



Abstrak

Dari hasil kajian pendahuluan yang dilaksanakan di MTs Negeri Biringkanaya Makassar,

didapatkan bahwa kemampuan menulis siswa kelas II masih jauh dari apa yang diharapkan oleh kurikulum.

Siswa-siswa masih mendapatkan kesulitan dalam menulis sebuah karangan dengan mengungkapkan ide,

pikiran dan perasaanya dalam bentuk teks deskriptif. Di dalam menyusun kalimat menjadi sebuah paragraf,

siswa-siswa masih membuat kesalahan dalam hal isi karangan, organisasi, kosa kata, dan juga komponen

bahasa Inggris lainnya.

Untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi siswa tersebut, peneliti mengusulkan salah satu

tehnik di dalam mengajarkan keterampilan menulis ini yaitu tehnik bertanya. Tehnik bertanya adalah salah

satu komponen dari proses belajar mengajar secara kontekstual (CTL) yang diharapkan dapat meningkatkan

kemampuan siswa dalam menulis paragraf deskriptif. Ini adalah salah satu kegiatan guru yang dapat

mendorong dan membimbing siswa mampu mengungkapkan ide melalui proses belajar mengajar secara

kontekstual (CTL). Untuk menyusun kalimat menjadi sebuah paragraf siswa diberikan beberapa pertanyaan

lalu siswa diminta untuk menjawab pertanyaan tersebut. Jawaban pertanyan itu akan menjadi rujukan untuk

menyusun kalimat menjadi suatu paragraf. Permasalahan dalam penelitian ini diformulasikan sebagai berikut:

Bagaimana cara tehnik bertanya ini dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas II MTs Negeri

Biringkanaya Makassar dalam menulis paragraf deskriptif?

Penelitian ini menggunakan desain penelitian tindakan kelas yang dilakukan secara berkolaborasi di

mana peneliti dan kolaborator bekerjasama merancang desain pembelajaran, mengimplementasikan tindakan,

mengamati tindakan, dan melakukan refleksi. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas II MTs Negeri

Biringkanaya Makassar tahun pelajaran 2008/2009. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dengan

mengikuti prosedur penelitian tindakan yakni perencanaan, implementasi, observasi, dan refleksi.

Prosedur penerapan tehnik bertanya (questioning technique) dalam pembelajaran menulis pada

penelitian ini adalah: (1) memperkenalkan topik kepada siswa dengan menunjukkan sebuah gambar, (2)

membantu siswa memahami topik dengan memberikan beberapa pertanyaan berdasarkan gambar yang

ditunjukkan, (3) memberikan contoh teks deskripsi, (4) meminta siswa untuk menyebutkan dan melafalkan

beberapa kata dan frase yang berhubungan dengan topik dalam teks yang telah diberikan, (5) meminta siswa

untuk menemukan arti kata dan frase dengan menjodohkan kata-kata dan frase tersebut dengan gambar yang

sesuai, (6 ) meminta siswa untuk menemukan arti dari kata dan frase dengan menjodohkan kata dan frase di

kolom A dan kolom B, (7) meminta siswa menjawab pertanyan yang diberikan dengan menggunakan kata-

kata yang yang tersedia dalam kotak, (8) meminta siswa untuk menyempurnakan dialog dengan kata-katanya

sendiri, (9) memberikan pertanyaan ke setiap siswa, (10) meminta siswa menjawab pertanyaan yang

diberikan, (11) meminta siswa untuk menyusun jawaban pertanyaan itu ke dalam sebuah paragraf, (12)

menugaskan siswa untuk menulis draft dari jawaban-jawaban pertanyaan itu, (13) meminta siswa untuk

melakukan revisi yang difokuskan pada ide dan organisasi baik dalam kelompok atau pun dengan

berpasangan, (14) meminta salah seorang dari kelompok tersebut untuk membaca tulisannya di depan kelas,

(15) melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa model tehnik bertanya (questioning technique) dapat

meningkatkan kemampuan siswa di dalam menulis paragraf deskriptif. Peningkatan ini dapat dilihat pada

mean skor tulisan siswa pada pre-test yang dilaksanakan pada penelitian pendahuluan (preliminary study)

dan mean skor siswa pada kedua post-test yang diadakan masing-masing setelah siklus pertama dan siklus

kedua. Pada pre-test, mean skor siswa adalah 52.4, dan mean skor siswa pada post-test di siklus pertama

adalah 63.1, sementara mean skor siswa pada post-test siklus kedua mencapai 71.2. Disamping itu, tehnik

bertanya (questioning technique) dapat juga memicu motivasi siswa dalam mengikuti proses kegiatan

menulis di kelas. Faktanya dapat dilihat pada respon siswa terhadap kuestioner yang dibagikan kepada

mereka. Lebih dari 75% siswa mengatakan bahwa mereka setuju bahwa tehnik bertanya (questioning

technique) sangat menarik.

Berdasarkan hasil temuan, beberapa saran akan diusulkan sebagai berikut, (1) guru bahasa Inggris

hendaknya mempertimbangkan model tehnik bertanya (questioning technique) yang dikembangkan dalam

peneltian ini sebagai salah strategi alternative yang digunakan dalam pengajaran menulis paragraf deskriptif

siswa MTs atau SMP; (2) guru seharusnya memberikan seragkaian pertanyaan pada siswa untuk

menghasilkan kalimat dengan menyediakan sebuah gambar yang berhubungan dengan topik yang dibahas;

(3) siswa dianjurkan untuk melakukan praktek menulis di luar jam sekolah dengan menggunakan questioning

Program Studi S2 ING 253







technique seperti yang dikembangkan dalam penelitian ini; (4) peneliti yang lain hendaknya melakukan

penetian tindakan kelas dengan topik yang sama di sekolah lanjutan baik MTs maupun SMP.



Kata kunci: tehnik bertanya, kemampuan menulis, paragraf







Menerapkan Strategi Pengajaran Resiprokal untuk Meningkatkan Kemampuan

Pemahaman Membaca Mahasiswa pada Program Studi Bahasa Inggris FKIP Universitas

Tadulako



Muhsin



Abstrak

Bahasa Inggris secara resmi dan wajib diajarkan di sekolah-sekolah di Indonesia. Mata pelajaran

wajib yang diajarkan di SMP dan di SMA, dan mata kuliah Membaca lebih khusus diajarkan di tingkat

universitas. Program Studi Bahasa Inggris FKIP Universitas Tadulako menawarkan mata kuliah Membaca

Pemahaman yang dibagi menjadi Membaca I, Membaca II, Membaca III, Membaca IV, dan Membaca

Ekstensif. Penelitian ini dilaksanakan pada mata kuliah Membaca Pemahaman II Kelas B tahun akademik

2008/2009.

Dari proses pengajaran Membaca Pemahaman berdasarkan data awal sebelum penelitian, masalah-

masalah berpusat pada: (1) rendahnya pencapaian mahasiswa dalam membaca pemahaman. (2) kesulitan

mahasiswa dalam memahami teks. (3) kegiatan membaca dimonopoli oleh sebagian kelompok mahasiswa

yang berkemampuan baik. (4) strategi yang diterapkan oleh dosen lebih terpusat pada dosen itu sendiri.

Penelitian ini dirancang untuk memperoleh informasi bagaimana Strategi Pengajaran Resiprokal

(RT) dapat memperbaiki kemampuan pemahaman membaca mahasiswa. Dalam pemahaman membaca

khususnya diarahkan untuk mengamati pelaksanaan Strategi RT dan sekaligus memperbaiki kemampuan

pemahaman membaca mahasiswa dengan menggunakan model pengajaran Strategi RT. Pada khususnya,

penelitian ini dimaksudkan untuk memperbaiki kemampuan pemahaman membaca mahasiswa pada Program

Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Tadulako Palu melalui Strategi RT.

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas kolaborasi

(PTK) yang terdiri dari perencanaan (merancang prosedur pengajaran untuk menerapkan strategi Pengajaran

Resiprokal, merancang rencana pembelajaran, menyiapkan materi pengajaran dan instrumen, dan

menetapkan kriteria keberhasilan), melaksanakan rencana kegiatan, mengamati kegiatan, dan merefleksi hasil

kegiatan. Penelitian ini telah dilaksanakan dalam dua siklus, setiap siklus terdiri dari tiga pertemuan dan

pertemuan ketiga dilaksanakan untuk memberikan tes membaca pemahaman dengan menggunakan strategi

Pengajaran Resiprokal. Dalam melaksanakan penelitian ini, peneliti bekerjasama dengan salah seorang dosen

Membaca Pemahaman pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Tadulako.

Penerapan strategi RT meliputi enam komponen: (1) memprediksi (berguna untuk memberikan

konsep yang kuat dan mengaktifkan pengetahuan awal mahasiswa), (2) mengklarifikasi (langkah yang

dilaksanakan oleh peneliti yang bertujuan menambah kosakata mahasiswa), (3) bertanya (langkah yang

mengarahkan mahasiswa untuk membuat pertanyaan sesuai dengan bacaan), (4) meringkas (langkah yang

mengarahkan mahasiswa untuk menyatakan ide yang sesuai bacaan dengan menulis dalam bentuk satu

paragraf), (5) bekerja kelompok (berguna untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa). Selama bekerja

kelompok mahasiswa dibimbing oleh dosen untuk menerapkan strategi RT, dan (6) pemberian tes (praktik

mandiri yang menggunakan strategi RT yang mana mahasiswa diharapkan dapat menerapkan strategi secara

individu dan mandiri).

Hasil penelitian menunjukkan pencapaian mahasiswa dalam tes membaca pemahaman setelah

mereka menyelesaikan dua pertemuan penerapan strategi RT adalah 67% dari mahasiswa dalam kelas

memperoleh nilai ≥80. Hal ini berarti bahwa terdapat sekitar dua puluh mahasiswa yang memperoleh nilai

≥80. Respon mahasiswa pada siklus 1 adalah 97% dari jumlah mahasiswa aktif dalam kegiatan pembelajaran

menggunakan strategi RT, kemudian pada siklus 2 respon mahasiswa adalah 100%. Hal ini berarti bahwa

mahasiswa aktif dalam kelas resiprokal membaca pemahaman. Maka dapat disimpulkan bahwa penerapan

strategi RT dalam membaca pemahaman efektif menyelesaikan masalah mahasiswa.

Dengan hasil penelitian yang baik maka disarankan kepada mahasiswa Program Studi Pendidikan

Bahasa Inggris FKIP Universitas Tadulako agar membiasakan berdiskusi dan berbagi ide dengan teman-

temannya ketika mengalami masalah dalam pembelajaran. Disarankan juga kepada dosen mata kuliah

Membaca Pemahaman yang ingin menerapkan strategi RT, agar melaksanakan tiga tahap dalam pengajaran

sambil memberikan perbaikan terhadap pekerjaan mahasiswa. Terakhir, disarankan kepada peneliti

254 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







berikutnya agar melaksanakan penelitian di tingkat mahir membaca pemahaman seperti membaca kritis,

membaca kreatif, dan membaca ekstensif.



Kata kunci: strategi pengajaran resiprokal, meningkatkan, pemahaman membaca







Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Membaca Siswa Kelas II MAN Temanggung

melalui Strategi “GRASP”



Muslih



Abstrak

Membaca merupakan salah satu dari keterampilan berhahasa yang harus diajarkan kepada murid-

murid Sekolah Menengah Atas dalam pelajaran Bahasa Inggris. Melalui proses belajar mengajar membaca,

para siswa diharapkan mampu memahami teks bacaan yang mereka baca. Akan tetapi berdasarkan study

pendahuluan ditemukan bahwa siswa siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Temanggung masih mengalami

kesulitan dalm menemukan gambaran umum dari suatu bacaan, menemukan informasi tertentu, menemukan

pokok pikiran serta menemukan informasi yang tersurat dan tersirat. Keadaan ini disebabkan oleh beberapa

faktor seperti; rendahnya motivasi siswa dalam belajar Bahasa Inggris, terbatasnya jumlah kosakata bahasa

Inggris yang mereka kuasai, kurangnya kemampuan siswa dalam menguasai keterampilan membaca, serta

teknik mengajar yang kurang vareatif. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kemampuan mebaca siswa,

penerapan sebuah metode atau strategi yang tepat dalam kegiatan belajar mengajar membaca sangatlah

diperlukan. Dalam hal ini Guided Reading and Summarizing Procedure atau disingkat GRASP diterapkan

untuk mengatasi masalah yang berkaitan dengan kemampuan memahami bacaan.

Penelitian ini dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan memahami bacaan para siswa kelas XI

MAN Temanggung Jawa Tengah. Masalah utama yang mesti dicari solusinyanya adalah “Bagaimana

Strategi GRASP dapat meningkatkan kemampuan memahami bacaan siswa kelas XI MAN Temanggung?”

Jawaban atas pertanyaan tersebut adalah bahwa dengan menerapkan dan mengadaptasi Strategi GRASP yang

terdiari dari 4 langkah, kemampuan memahami bacaan para siswa kelas XI MAN Temanggung dapat

ditingkatkan. Sementara penelitian ini dikhususkan pada Analytical dan Hortatory Exposition text sebagai

text type atau jenis-jenis text yang harus diajarkan kepada siswa siswi kelas dua Sekolah Menengah Atas.

Penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakn secara berkolaborasi atau

bekerjasama dengan guru bahasa inggris yang mengajar dikelas yang dijadikan sebagai subyek penelitian.

Subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI Bahasa 2 MAN Temanggung semester kedua pada tahun ajaran

2008/2009. Penelitian ini dilakukan melalui beberapa siklus yang terdiri dari kegiatan yang meliputi,

kegiatan pendahuluan (Preliminary study), Perencanaan (Planning), Pelaksanaan (Implemanting) sekaligus

Pengamatan (Observing) dan Refleksi (Reflecting) yakni melakukan analisa hasil penelitian untuk

menentukan apakah criteria keberhasilan sudah tercapai atau belum. Ada 2 macam criteria yang ditetapkan

untuk menentukan bahwa penelitian dianggap berhasil yaitu nilai rata-rata kemampuan membaca siswa

meningkat dari 56.00 pada saat preliminary study menjadi 73.31 pada akhir siklus kedua, dan siswa terlibat

aktif dalam kegiatan belajar mengajar.

Berdasarkan penemuan dari penelitian ini, guru-guru bahasa Inggris disarankan untuk menerapkan

strategi GRASP dalam kegiatan belajar megajar membaca karena strategi GRASP terbukti dapat

meningkatkan kemampuan memahami bacaan para siswa. Para peneliti yang akan datang disarankan untuk

menerapkan Strategi GRASP kepada siswa siswi kelas X ataupun kelas XII dan juga disarankan untuk

menerapkan strategi tersebut untuk beberapa jenis text yang lain seperti review, report, descriptive text dan

lain-lain.



Kata kunci: meningkatkan, pemahaman membaca, strategi “GRASP”

Program Studi S2 ING 255







Penggunaan Metode Pembelajaran Cooperative STAD Untuk Meningkatkan Prestasi

Membaca Pemahaman Siswa MAN 1 Kota Bima



Najamuddin



Abstrak

Menyadari akan pentingnya penguasaan bahasa inggris dalam meningkatkan sumber daya manusia

Indonesia, pemerintah Indonesia telah menetapkan bahawa bahasa Inggris adalah merupakan mata pelajaran

wajib yang diajarkan pada siswa sekolah menengah pertama maupun sekolah menengah atas. Pengajaran

bahasa Inggris diarahkan pada penguasaan empat keterampilan berbahasa yakni mendengarkan, berbicara,

membaca, dan menulis (Depdiknas, 2004). Membaca adalah merupakan salah satu dari keterampilan

berhahasa yang harus diajarkan kepada siswa-siswi Sekolah Menengah Atas. Adapun tujuan dari pada

pengajaran membaca pada siswa-siswi Sekolah Menengah Atas adalah untuk membantu mereka memahami

naskah bacaan dan materi-materi tertulis lainnya dalam bahasa inggris. Berkaitan dengan hal tersebut,

berdasarkan hasil study pendahuluan ditemukan bahwa pengajaran membaca pada MAN 1 Kota Bima tidak

memberdayakan siswa untuk terampil dalam memahami isi bacaan. Siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri

(MAN) 1 Kota Bima masih mengalami kesulitan dalam menemukan gambaran umum dan khusus,

menemukan informasi tertentu, menemukan pokok pikiran serta menemukan informasi yang tersurat dan

tersirat didalam naskah bacaan. Keadaan ini disebabkan oleh beberapa faktor yang antara lain; rendahnya

pengetahuan guru bahasa inggris terhadap metode pembelajaran yang dapat motivasi siswa dalam memahami

materi yang disampaikan, rendahnya motifasi siswa dan kadang-kadang mereka pasif mempelajari bahasa

inggris, materi yang disajikan di dalam buku adalah sulit dipahami siswa, guru bahasa inggris tidak

menyederhanakan dan mengembangkan materi yang disajikan di dalam buku paket yang sesuai kebutuhan

siswa, dan guru bahasa inggris jarang sekali menggunakan media untuk menunjang kegiatan belajar.

Oleh karena itu, penelitian ini dirancang dalam upaya untuk meningkatkan prestasi siswa didalam

membaca pemahaman. Adapun tujuan dari pada penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana metode

cooperative STAD dapat digunakan untuk meningkatkan prestasi membaca pemahaman siswa. Dalam

penerapan metode cooperative STAD, siswa dibagi kedalam beberapa kelompok yang terdiri dari empat

orang untuk satu kelompok yang digabung berdasarkan tingkat kemampuan, prestasi, ketrampilan, dan jenis

kelamin. Fungsi dan tujuan utama pembagian kelompok tersebut adalah untuk memastikan bahwa semua

anggota kelompok belajar, dan yang lebih khusus adalah mempersiapkan anggota kelompok untuk

menghadapi tes. Rancangan yang diterapkan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

yang dilaksanakan dalam dua siklus secara kolaboratif dimana peneliti dibantu oleh guru kolaborator didalam

melakukan penelitian. Penelitian dilakukan di dalam satu kelas yang terdiri dari empat puluh dua siswa yang

secara keseluruhan dijadikan subyek penelitian. Prosedur pelaksanaan penelitian adalah terdiri dari empat

tahapan: tahap pertama adalah perencanaan, kedua adalah penerapan, ketiga adalah melakukan pengamatan,

dan yang terakhrir adalah refleksi. Untuk memperoleh data penelitian, peneliti menggunakan beberapa

instrument penelitian yang antara lain angket, lembar observasi, catatan lapangan, dan mengadakan test pada

siswa.

Hasil temuan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan metode cooperative STAD

dalam pengajaran membaca pemahaman dapat meningkatkan keterampilan membaca siswa. Peningkatan

tersebut ditunjukkan oleh adanya peningkatan nilai rata-rata yang diperoleh siswa pada akhir Siklus 2. Skor

rata-rata peroleh siswa pada tes pendahuluan adalah 58.46. Kemudian pada akhir Siklus 1 nilai rata-rata

siswa masih belum mencapai kriteria ketuntasan belajar. Sementara pada akhir Siklus 2, perolehan nilai rata-

rata melebihi criteria ketuntasan yang telah ditentukan dengan skor rata-rata 72.44.

Dengan melihat kelebihan maupun kelemahan dari pada penggunaan metode cooperative STAD

didalam pengajaran membaca pemahaman, disarankan kepada guru bahasa inggris terutama yang mengajar

bahasa inggris pada MAN 1 Kota Bima agar menerapkan metode tersebut di dalam kelasnya khususnya

dalam pengajaran membaca pemahaman. Disamping itu, sangat disarankan kepada siswa bahwa hasil

penelitian ini akan memberikan langkah-langkah kepada mereka sebagai fariasi metode dalam kegiatan

belajar yang dapat meningkatkan membaca pemahaman mereka. Kemudian kepada peneliti berikutnya, dan

kepada siapa saja yang berminat menggunakan metode cooperative STAD pada Penelitian Tindakan Kelas,

disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan metode cooperative STAD untuk

meningkatkan kemampuan membaca siswa dan mengurangi kesulitannya didalam memahami isi bacaan.

Selanjutnya disarankan pula untuk mempelajari bagaimana cara menggunakan metode cooperative STAD

tersebut pada keterampilan-keterampilan bahasa yang lainnya.



Kata kunci: metode cooperative STAD, membaca pemahaman

256 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







Teknik Bercerita Menggunakan Puppets Untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara

Siswa MTsN Tangerang II Pamulang



Nalti Nasution



Abstrak

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di MTsN Tangerang II Pamulang ditemukan

bahwa kemapuan berbicara siswa tahun 2008-2009 di kelas VIII-7 masih belum memuaskan. Siswa-siwa

terlihat pasif dalam proses belajar-mengajar speaking. Siswa tidak mempunyai ide atau inisiatif untuk

berbicara, atau jika mereka mempunyai ide, mereka tidak tahu bagaimana mengekspresikan ide tersebut.

Semua itu dikarenakan kurangnya kosa-kata, kurang paham tata-bahasa, dan kurang praktek berbicara bahasa

Inggris. Disamping itu, guru menggunakan teknik pengajaran yang monoton, dan jarang membuat media-

media pengajaran. Karena itu, penelitian tindak kelas ini dilakukan untuk mengatasi masalah siswa dalam

berbicara. Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berbicara melalui teknik

bercerita menggunakan puppets dalam hal isi cerita dan penyampaian cerita.

Penelitian ini dilaksanakan dalam satu siklus terdiri atas sembilan pertemuan. Tiga pertemuan untuk

membaca (memahami tiga cerita), tiga pertemuan berikutnya untuk berbicara (memperaktekkan cerita

menggunakan puppets dalam kelompok), dan tiga pertemuan terakhir untuk bercerita menggunakan puppets

di depan kelas secara individu. Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII7 MTsN Tangerang II

Pamulang. Instrumen penelitian dalam pengumpulan data adalah lembar pengamatan, catatan lapangan,

lembar penilaian diri, lembar penilaian antar sesama, penampilan berbicara siswa menggunakan rubrik

penilaian, rekaman, dan angket. Kriteria sukses ditentukan berdasarkan partisipasi siswa dalam proses

belajar-mengajar, pencapaian speaking siswa dalam hal nilai (menceritakan cerita secara perorangan), dan

respon siswa terhadap penerapan teknik bercerita menggunakan puppets. Temuan penelitian menunjukkan

bahwa penerapan teknik tersebut berhasil dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa, karena kriteria

sukses telah tercapai. Kriteria pertama adalah jika 65% siswa berpartisipasi atau terlibat aktif dalam proses

berlaja mengajar, dan analisa data menjelaskan bahwa 83% siswa terlibat aktif. Mengenai kriteria kedua yaitu

jika 65% siswa memperoleh nilai lebih dari atau sama dengan 65, penemuan menunjukkan bahwa 87% siswa

telah mencapai nilai lebih dari 65. Untuk kriteria terakhir, jika 75% siswa memiliki respon yang baik

terhadap penerapan tehnik bercerita menggunakan puppets, temuan penelitian menjelaskan bahwa 89% siswa

memperlihatkan respon baik terhadap teknik tersebut.

Penerapan teknik bercerita menggunakan puppets dalam pengajaran berbicara terdiri aras beberapa

langkah: 1) menujukkan gambar pada slide atau menunjukkan puppets, 2) menanyakan tentang gambar atau

puppets tersebut, 3) membagi siswa menjadi kelompok kelompok, 4) memberikan siswa fotokopi teks

narrative, 5) menugaskan siswa membaca teks dengan pelan, 6) mendiskusikan teks dalam kelompok

berhubungan dengan topik and kata-kata sulitnya, 7) menanyakan cerita atau/dan mendiskusikan kosa-kata

dan tata bahasa (kata kerja atau keterangan waktu yang digunakan dalam teks tersebut), 8) memberikan siswa

fotokopi daftar kata-kata yang berhubungan dengan cerita, 9) mengidentifikasi dan menganalisa semua aspek

dari teks narrative bersama dengan para siswa, 10) mendiskusikan pesan atau nilai moral dari teks tersebut

bersama dengan siswa, 11) memberikan voucher bagi para siswa yang mau menjawab dan menjelaskan

sesuatu mengenai cerita tersebut, 12) meminta siswa membaca teks dengan keras, 13) memberikan model

kepada siswa bagaimana menyebutkan kata dengan benar, 14) memberikan lembar penilaian diri dan lembar

kerja kepada siswa, 15) menyanyikan lagu berhubungan dengan cerita, 16) mencontohkan cara bercerita

kepada siswa dengan menggunakan irama musik, 17) memberikan lembar penilaian antar sesama, dalam hal

ini menilai penampilan guru, 18) meminta siswa memperaktekkan cerita dan bercerita menggunakan puppets

dalam kelompok kecil, 19) memotivasi siswa untuk melafalkan cerita kembali di rumah, 20) meminta siswa

menceritakan cerita tersebut dengan menggunakan puppets secara individu di depan kelas, 21) memberikan

lembar penilaian sesama untuk menilai teman, 22) merekam suara siswa dan menilai penampilan mereka.

Berdasarkan temuan dapat disimpulkan bahwa teknik bercerita menggunakan puppets sangat efektif

untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam process belajar-mengajar, dan meningkatkan pencapaian –

nilai– berbicara siswa. Disamping itu, teknik tersebut meningkatkan motivasi siswa dalam belajar bahasa

Inggris. Guru-guru bahasa Inggris disarankan untuk menerapkan teknik tersebut dalam pengajaran speaking

atau skill lain seperti listening dan writing. Berhubungan dengan cerita dan puppets sebagai media dan materi

pengajaran, para guru disarankan menyediakan media dan materi yang menarik dan bagus, tidak hanya sesuai

dengan kebutuhan siswa tetapi juga dapat memotivasi siswa dalam belajar bahasa. Memberikan motivasi dari

luar sangatlah diperlukan karena hal tersebut dapat membantu motivasi dari dalam diri siswa untuk belajar

bahasa Inggris. Kepala sekolah diharapkan dapat menyediakan fasilitas dan alat-alat untuk membuat media

yang dapat di pakai dalam kegiatan belajar-mengajar untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam belajaar

Program Studi S2 ING 257







bahasa Inggris khususnya kemampuan berbicara. Disamping meyediakan berbagai jenis buku cerita

berbahasa Inggris baik lokal maupun asing di perpustakaan untuk memperkaya jumlah bacaan siswa

sangatlah diperlukan.Terakhir, calon peneliti disarankan melakukan penelitian dengan menerapkan teknik

bercerita menggunakan puppets atau media lain dalam keterampilan berbahasa yang lain pula atau dengan

menggunakan rancangan penelitian yang lain.



Kata kunci: teknik bercerita menggunakan puppets, kemampuan berbicara







Efektifitas Kegiatan Membaca Ekstensif dalam Meningkatkan Pemahaman Membaca dan

Kecepatan Membaca Teks Bahasa Inggris Pada Siswa-Siswa Kelas IX MTs Negeri

Pamekasan 1



Nanang Rohmat Busthomi



Abstrak

Studi ini dilakukan untuk menentukan efektifitas kegiatan membaca ekstensif di dalam meningkat-

kan pemahaman membaca dan kecepatan membaca. Pertanyaan utama yang perlu dijawab adalah: (1)

"Apakah siswa kelas IX MTs Negeri Pamekasan 1 yang diberi kegiatan membaca ekstensif tambahan

mencapai pemahaman membaca lebih tinggi bila dibandingkan dengan siswa yang tidak diberi kegiatan

membaca ekstensif tambahan?" (2) "Apakah siswa kelas IX MTs Negeri Pamekasan 1 yang diberi kegiatan

membaca ekstensif tambahan mencapai kecepatan membaca lebih tinggi bila dibandingkan dengan siswa

yang tidak diberi kegiatan membaca ekstensif tambahan?" Jawaban sementara untuk kedua pertanyaan utama

tersebut dirumuskan dalam bentuk hipotesis-hipotesis yang menyatakan sebagai berikut: (1) siswa yang

diberi kegiatan membaca ekstensif tambahan mencapai pemahaman membaca secara signifikan lebih tinggi

dari pada siswa yang tidak diberi kegiatan membaca ekstensif tambahan, dan (2) siswa yang diberi kegiatan

membaca ekstensif tambahan mencapai kecepatan membaca secara signifikan lebih tinggi dari pada siswa

yang tidak diberi kegiatan membaca ekstensif tambahan.

Penelitian ini menggunakan desain quasi-eksperimental nonrandomized control group pretest-

posttest. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IX MTs Negeri Pamekasan 1 yang berjumlah 72 siswa. 36

siswa ditetapkan di kelompok eksperimental sedangkan sisanya 36 siswa ditetapkan di kelompok kontrol.

Instrumen penelitian ini dengan menggunakan 30 butir soal yang berbentuk pilihan ganda dengan meliputi

materi membaca pemahaman untuk kelas IX semester dua. Kedua kelompok tersebut, eksperimental dan

kontrol diberi sebuah tes awal, kemudian kelompok eksperimental diajar pemahaman membaca dan

kecepatan membaca dengan menggunakan kegiatan membaca ekstensif tambahan, sedangkan kelompok

kontrol diajar pemahaman membaca dan kecepatan membaca dengan tanpa kegiatan membaca ekstensif

tambahan. Setelah itu, kedua kelompok diberi tes akhir dengan menggunakan instrument seperti yang dipakai

dalam tes awal. Selanjutnya, data yang berbentuk skor pencapaian siswa dianalisa dengan menggunakan

ANOVA satu jalur. Semua F-rasio yang dicapai dalam uji hipotesis menunjukkan tingkat signifikan lebih

tinggi pada p<.05 (df 70). Nilai F-rasio pada hipotesis pertama diperoleh angka 16.25 dan hipotesis kedua

diperoleh nilai 27.69. Karena nilai F-rasio hasil perhitungan lebih tinggi secara signifikan dibanding dengan

nilai F Tabel (3.98) maka hasil tersebut merupakan cukup bukti untuk menolak hipotesis nol. Sehubungan

dengan ditolaknya hipotesa nol, (1) prestasi pemahaman membaca siswa yang diberi kegiatan membaca

ekstensif tambahan tidak lebih tinggi secara signifikan dari prestasi siswa yang tidak diberi kegiatan

membaca ekstensif tambahan, (2) prestasi kecepatan membaca siswa tidak lebih tinggi secara signifikan dari

prestasi siswa yang tidak diberi kegiatan membaca ekstensif tambahan, maka sebagai konsekwensinya

hipotesis alternative diterima. Dengan demikian, hal ini bisa diputuskan bahwa siswa yang diberi kegiatan

membaca ekstensif tambahan mencapai prestasi lebih tinggi dalam pemahaman membaca dan kecepatan

membaca dari pada siswa yang tidak diberi kegiatan membaca ekstensif tambahan. Dengan kata lain,

mengajar membaca dengan memberikan kegiatan membaca ekstensif tambahan lebih efektif bila

dibandingkan dengan tanpa memberikan kegiatan membaca ekstensif tambahan.

Berdasarkan penemuan-penemuan dalam eksperimen ini, ada beberapa saran yang tujukan pada

guru-guru bahasa Inggris dan peneliti-peneliti yang akan datang. Guru bahasa Inggris seharusnya

mempertimbangkan manfaat dari kegiatan membaca ekstensif dalam meningkatkan pemahaman membaca

dan kecepatan membaca. Peneliti-peneliti yang akan datang disarankan untuk menggunakan hasil temuan ini

sebagai dasar dalam melakukan riset-riset berikutnya dengan topik yang sama.



Kata kunci: kegiatan membaca ekstensif, pemahaman membaca, kecepatan membaca

258 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa Kelas II MTs Ihyaul Islam Ujungpangkah Gresik

Melalui Permainan tebak-tebakan (Guessing Games)



Nif „atul Aula



Abstrak

Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan pada permasalahan yang dialami oleh peneliti sebagai guru

Bahasa Inggris di MTs Ihyaul Islam Ujungpangkah Gresik. Berdasarkan pengamatan pada siswa kelas II

MTs Ihyaul Islam Ujungpangkah Gresik, menunjukkan bahwa kemampuan menulis teks deskriptif siswa

kelas II masih kurang memuaskan dan siswa mempunyai motivasi yang rendah untuk berpartisipasi dalam

kegiatan tugas menulis. Masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana permainan tebak-tebakan

digunakan sebagai strategi untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas II MTs Ihyaul Islam Ujungpangkah

Gresik dalam menulis teks deskriptif?”

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas kolaborasi yang dirancang untuk meningkatkan

kemampuan siswa dalam belajar menulis melalui strategi permainan tebak-tebakan. Strategi ini dipilih karena

mampu membuat siswa terlibat aktif dalam proses belajar mengajar sehingga mampu membantu

meningkatkan kemampuan menulis siswa. Masalah dalam penelitian ini adalah “ Bagaimana strategi

permainan tebak-tebakan digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa kelas II MTs Ihyaul

Islam Ujungpangkah Gresik dalam menulis teks deskriptif?” Subjek penelitian ini adalah para siswa kelas

VIII MTs Ihyaul Islam Ujungpangkah Gresik tahun pelajaran 2008/2009. Penelitian ini dilakukan dalam dua

siklus dengan mengacu pada prosedur penelitian tindakan yaitu, planning, implementing, observing, dan

reflecting. Tiap siklus meliputi tiga pertemuan. Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa instrumen

yaitu lembar observasi, catatan lapangan, kuisioner, interview dan tugas menulis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model strategi permainan tebak-tebakan yang sesuai untuk

pengajaran menulis teks deskriptif meliputi langkah-langkah berikut: (1) membagi siswa dalam beberapa

kelompok kecil terdiri dari 3-4 siswa, (2) menyiapkan beberapa gambar atau benda kecil dan meminta salah

satu siswa dari tiap kelompok untuk memilih gambar atau benda yang dimasukkan dalam sebuah amplop, (3)

meminta siswa untuk membuat daftar kosakata berdasarkan gambar atau benda yang dipilih, (4) meminta

siswa untuk menyusun kalimat dari daftar kata yang diperoleh untuk membuat kartu deskripsi, (5) meminta

siswa untuk menebak kartu deskripsi –kegiatan ini digunakan sebagai kompetisi untuk meningkatkan

motivasi siswa, (6) menyiapkan dan mendiskusikan model teks, (7) meminta siswa membuat draf secara

individu dengan strategi yang sama dalam membuat kartu deskripsi, (8) meminta siswa merevisi draf yang

difokuskan pada isi dan susunan, (9) meminta siswa mengedit kosakata yang digunakan, (10) meminta siswa

membaca hasil tulisan di depan kelas (10) melakukan refleksi terhadap proses belajar mengajar kemampuan

menulis.

Hasil penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa strategi permainan tebak-tebakan dapat mening-

katkan kemampuan siswa dalam menulis. Peningkatan dapat dilihat dari meningkatnya nilai rata-rata siswa

dalam menulis dan juga jumlah siswa yang nilainya dapat mencapai skor minimal untuk writing. Pada siklus

1 nilai rata-rata siswa meningkat menjadi 5.83 dan prosentase siswa yang nilainya di atas skor yang

ditargetkan adalah 43.4%. Pada siklus 2 nilai rata-rata menjadi 7.07 dan prosentase siswa yang nilainya di

atas skor yang ditargetkan adalah 82.6%. Disamping itu, strategi permainanan tebak-tebakan dapat mening-

katkan partisipasi dan motivasi siswa selama mengerjakan tugas menulis.

Berdasarkan hasil temuan, disarankan bagi para guru untuk menggunakan strategi permainan tebak-

tebakan untuk meningkatkan partisipasi dan motivasi siswa dalam pengajaran menulis. Bagi para peneliti lain

disarankan untuk melakukan penelitian dengan menerapkan strategi tebak-tebakan dalam pengajaran menulis

pada jenis teks yang lain.



Kata kunci: permainan tebak-tebakan, kemampuan menulis

Program Studi S2 ING 259







Efek Multimedia untuk Membantu Proses Mengajar Menulis Paragraf Deskriptif

di SMPN 37 Semarang



Nur Khamim



Abstrak

Penelitian ini merupakan sebuah investigasi terhadap efek penggunaan media, yaitu multimedia dan

non-multimedia, terhadap kemampuan menulis paragraph deskriptif oleh siswa-siswa kelas 7 SMPN 37

Semarang pada tahun ajaran 2008/2009. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental semu. Delapan

puluh siswa terpilih dari jumlah total dua ratus tiga puluh delapan siswa yang berasal dari dua kelas

berpartisipasi dalam penelitian ini sebagai subjek penelitian. Mereka terbagi dalam dua kelompok penelitian,

yaitu kelompok kontrol dan eksperimen, berdasarkan asal kelasnya. Sebelum perlakuan, subyek penelitian

mengerjakan pre-tes untuk mengetahui kemampuan awal mereka dan untuk memastikan bahwa kedua

kelompok tersebut setara. Setelah penelitian, subyek penelitian kembali mengerjakan post-tes dengan sosal

yang sama untuk mengukur efek perlakuan pada masing-masing kelompok. Instrument lain yang digunakan

dalam penelitian ini adalah kuesioner, daftar cek pengamatan dan catatan pengamatan lapangan untuk

mengukur sikap (positif atau negatif) dan motivasi siswa terhadap penggunaan multimedia.

Penelitian ini menggunakan teknik analisis kovarian (ANAKOVA) untuk membandingkan skor

rata-rata kedua kelompok dengan skor pre-tes sebagai kovariannya. Setelah analisis data, disimpulkan bahwa

penggunaan multimedia mempunyai efek yang signifikan terhadap prestasi belajar, yaitu siswa yang diajar

dengan menggunakan multimedia memperoleh skor yang lebih tinggi, baik skor keseluruhan maupun pada

aspek-aspek menulis, yaitu isi, penyusunan komposisi, penggunaan kosakata yang tepat, dan tata bahasa, bila

dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan tidak menggunakan multimedia. Dengan kata lain,

implementasi multimedia dalam kelas menulis lebih efektif bila dibandingkan dengan non-multimedia untuk

meningkatkan prestasi belajar.

Berkenaan sikap belajar siswa dalam kelas menulis, analisis yang didasarkan pada jawaban siswa

sebagai respon terhadap pertanyaan di kuesioner menyimpulkan bahwa para siswa cenderung bersikap positif

terhadapnya. Dalam kuesioner yang mencakup lima faktor keterkaitan multimedia dengan pembelajaran

Bahasa Inggris di kelas, yaitu: kemenarikan media tersebut, efek media terhadap pemahaman materi belajar,

efek media terhadap situasi belajar, faktor yang berpengaruh dalam pembelajaran, dan penerapan media

dalam pembelajaran sesungguhnya, hampir seluruh siswa menyatakan sikap positifnya. Selanjutnya,

pengamatan yang dilakukan oleh kolaborator menyimpulkan bahwa kelompok eksperimen cenderung lebih

termotivasi dalam pembelajaran bila dibandingkan dengan kelompok kontrol yang ditunjukkan dengan

pencapaian skala yang lebih tinggi untuk partisipasi aktif dalam proses pembelajaran.

Terkait implikasi kependidikan dan saran-saran bagi penelitian lanjutan, peneliti menyajikannya

dalam bab terakhir dari laporan penelitian ini. Kontribusi praktikal dari penelitian ini adalah penggunaan

multimedia dalam kelas menulis bisa menjadi pilihan dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Selanjutnya,

penelitian ini juga menyarankan beberapa pengarahan bagi penelitian lanjutan terkait dengan desain

penelitian, cakupan bidang penelitian, dan fenomena kehomogenan pada kelompok eksperimen setelah

pemberian perlakuan yang ditemukan dalam penelitian ini.

Kata kunci: multimedia, non-multimedia, efek, prestasi belajar, sikap







Menggunakan Strategi Dialog Jurnal untuk Memperbaiki Keterampilan Menulis dalam

Bahasa Inggris Siswa Kelas Dua MTsN Tinambung Polewali Mandar, Sulawesi Barat



Nurdin



Abstrak

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilaksanakan di MTsN Tinambung Sulawesi Barat diketahui

bahwa siswa-siswa sekolah tersebut mempunyai masalah dalam belajar menulis dalam bahasa Inggris.

Masalah tersebut adalah kurangnya motivasi dalam belajar, ketidakmampuan dalam membuat kalimat dan

kesukaran untuk memulai menulis.

Penelitian ini dirancang untuk memperbaiki keterampilan menulis dalam bahasa Inggris melalui

penerapan strategi dialog jurnal. Strategi ini dipilih karena beberapa alasan. Pertama, strategi dialog jurnal

memberikan kegiatan menulis yang menarik kepada siswa, dimana siswa dapat dengan bebas menulis apa

saja yang disukai seperti ide, fikiran dan perasaan. Siswa juga dapat berkomunikasi dengan guru melalui

260 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







tulisan karena guru memberikan tanggapan terhadap tulisan-tulisan siswa. Dengan menulis jurnal, siswa

mempunyai banyak kesempatan untuk berlatih menulis. Oleh karena itu, mereka diharapkan dapat menulis

dengan baik karena adanya kegiatan menulis yang berlangsung secara teratur dan terus-menerus. Masalah

penelitian dirumuskan sebagai berikut: “Bagaimana strategi dialog jurnal dapat memperbaiki keterampilan

menulis dalam bahasa Inggris siswa kelas dua MTsN Tinambung Polewali Mandar, Sulawesi Barat?”

Penelitian ini menerapkan desain penelitian tindakan kelas yang di dalamnya, peneliti dan

kolaborator bekerja sama merancang rencana pembelajaran, menerapkan tindakan, mengobservasi dan

melakukan refleksi. Subjek penelitian adalah siswa kelas dua MTsN Tinambung Polewali Mandar, Sulawesi

Barat, tahun akademik 2008-2009. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, dengan mengikuti prosedur

penelitian dalam penelitian tindakan kelas: perencanaan, penerapan, pengamatan dan refleksi. Prosedur

penerapan strategi dialog jurnal dalam penelitian ini adalah: (1)mengarahkan siswa ke topik pelajaran dengan

memberikan beberapa pertanyaan; (2) meminta siswa menceriatakan sesuatu, umpamanya, kegiatan sehari-

hari atau pengalaman mereka; (3) meminta siswa untuk menuliskan apa yang telah mereka ceritakan; (4)

menunjukkan kepada siswa model-model kalimat dan paragraph; (5)meminta siswa untuk membandingkan

antara kalimat dan paragraph mereka dengan model kalimat dan paragraph yang ditunjukkan; (6) meminta

siswa untuk menuliskan ulang kalimat dan paragraph mereka; (7) menunjukkan kepada siswa model-model

dialog jurnal; (8) memberikan penjelasan tentang dialog jurnal; (9)menunjukkan kepada siswa daftar topic

untuk ditulis dalam jurnal; (10) meminta siswa untuk menulis berdasarkan topic yang mereka pilih; dan (11)

meminta siswa untuk menulis jurnal mereka sendiri di rumah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi dialog jurnal dapat memperbaiki keterampilan menulis

siswa dalam bahasa Inggris. Perbaikan keterampilan itu dapat dilihat dari jumlah tulisan siswa yang semakin

baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Juga bias dilihat dari skor akhir dari siswa. Berkenaan dengan

kuantitas, siswa dapat menulis beragam topic dengan jumlah kalimat dan paragraph yang terus bertambah di

setiap entri. Berkenaan dengan kualitas, siswa-siswa menunjukkan kemajuan di empat aspek keterampilan

menulis: isi, organisasi, kosa kata dan tata bahasa. Berkenaan dengan skor akhir, jumlah siswa yang skornya

60 atau lebih, bertambah dari pre-test ke post-test.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, beberapa saran diajukan sebagai berikut: (1) guru bahasa

Inggris disarankan agar menggunakan strategi dialog jurnal dalam mengajarkan bahasa Inggris, khususnya

menulis; (2) dalam menerapkan strategi dialog jurnal, guru seharusnya yakin bahwa siswa telah menguasai

kosa kata dasar dan konsep-konsep dasar kalimat dan paragraf; (3) guru seharusnya menunjukkan contoh-

contoh dialog jurnal kepada siswa. Contoh-contoh kalimat dan paragraf juga perlu ditunjukkan kepada siswa,

dan (4) pada kegiatan-kegiatan awal menulis jurnal, disarankan agar guru memberikan daftar topik yang bisa

ditulis oleh siswa.



Kata kunci: dialog jurnal, kemampuan menulis







Implementasi Strategi “Put Yourself in the Picture” untuk Meningkatkan Kemampuan

Menulis Bahasa Asing Siswa Kelas 2 MTs Muhammadiyah 1 Jombang



Pryla Rochmah Wati



Abstrak

Menulis adalah salah satu keahlian yang mendukung kesuksesan dalam pembelajaran bahasa. Akhir-

akhir ini, pembelajaran menulis sering diabaikan. Permasalahan utama yang dihadapi oleh guru bahasa

Inggris adalah bagaimana memotivasi siswa untuk menulis materi yang menyenangkan. Oleh karena itu,

kemampuan dalam menulis paragraf masih jauh dari yang diharapkan.

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas delapan MTs Muhammadiyah

1 Jombang dalam menulis teks deskriptif dengan menggunakan strategi “Put Yourself in the Picture”.

Strategi ini dipilih karena dapat menuntun siswa dalam menuangkan ide ke dalam sebuah tulisan dengan cara

menempatkan dirinya dalam sebuah gambar. Masalah dalam penelitian ini adalah „Bagaimana strategi “Put

Yourself in the Picture” dapat dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan menulis teks deskriptif siswa

kelas dua MTs Muhammadiyah 1 Jombang?‟

Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian tindakan kelas diimplementasikan dengan 4 langkah,

yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah 15 siswa kelas VIII MTs

Muhammadiyah 1 Jombang tahun pelajaran 2008/2009. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Tiap

siklus terdiri atas tiga pertemuan. Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa instrumen yaitu lembar

Program Studi S2 ING 261







observasi, catatan lapangan, kuisioner dan porto folio. Data yang terkumpul dianalisis untuk memperoleh

hasil penelitian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan dalam penerapan strategi “Put Yourself in the Picture”

yang sesuai dalam pengajaran menulis meliputi langkah-langkah berikut: (1) mengarahkan siswa kepada

topic yang akan dibahas dengan memberikan pertanyaan dan gambar (2) memperkenalkan strategi dan

membagikan gambar dan lembar kerja kepada siswa, (3) meminta siswa untuk bekerja dalam kelompok, (4)

menjelaskan kepada siswa tentang tugas mereka di dalam kelompok, (5) meminta siswa untuk menempatkan

dirinya dalam gambar dan menjawab pertanyaan “Apa yang dapat kamu lihat dalam gambar?” dan “Apa

yang dikerjakan oleh orang-orang yang ada dalam gambar?” (6) meminta siswa untuk membuat kalimat

berdasarkan daftar yang dibuat sebelumnya, (7) memberikan dan menjelaskan suatu model teks deskriptif

beserta ciri-ciri kebahasaannya (Simple Present Tense, Preposition) kepada siswa sebelum mereka menulis

draf kasar, (8) meminta siswa untuk menulis draf kasar (9) meminta siswa bekerja dalam kelompok untuk

mendiskusikan draf dan merevisi draf teman mereka, (10) meminta siswa untuk melakukan konfrensi kecil

dengan gurunya dan (11) meminta siswa untuk mengedit draf kasar sebagi rujukan dalam menulis karangan

akhir mereka.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa strategi “Put Yourself in the Picture” telah terbukti

efektif untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas 2 MTs Muhammadiyah 1 Jombang dalam menulis

deskriptif teks. Peningkatan itu ditandai oleh peningkatan nilai rata-rata menulis siswa dari 46.22 pada tugas

awal, 54.53 pada siklus pertama, menjadi 68.00 pada siklus kedua. Di samping itu, siswa antusias,

bersemangat, dan terlibat aktif dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan strategi “Put Yourself in

the Picture”.

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa strategi “Put Yourself in the Picture” tidak

hanya efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis siswa namun juga dalam meningkatkan partisipasi

siswa dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, disarankan kepada guru Bahasa Inggris untuk menerapkan

strategi “Put Yourself in the Picture” yang bermanfaat dalam memeberikan kemudahan bagi siswa untuk

menentukan ide dalam membuat tulisan. Akhirnya, disarankan agar penelitian-penelitian selanjutnya

difokuskan pada pengajaran menulis teks deskriptif di jenjang yang berbeda misalnya pada Sekolah Dasar

dan teks naratif dan diterapkan pada genre yang berbeda misalnya teks naratif dan recount (jenis teks).



Kata kunci: strategi “Put Yourself in the Picture”, kemampuan menulis, teks diskriptif







Penggunaan Pendekatan Menulis Proses untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis

Paragraf Recount Siswa Kelas Dua MTsN Lamala Sulawesi Tengah



Pudariati



Abstrak

Berdasarkan hasil studi awal yang dilaksanakan pada tanggal 21 sampai dengan 23 Juli 2008.

Diketahui bahwa kemampuan menulis siswa masih rendah. Nilai rata-rata siswa adalah 4.13 sedangkan

kreteria ketuntasan minimum adalah 6.00. Rumusan masalah yang diformulasikan dalam penelitian ini

adalah”How can process writing approach be used to improve the ability in writing recount paragraphs of

the second year students of MTsN Lamala Central Sulawesi?

Penelitian ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan menulis paragraf recount siswa kelas dua

MTsN Lamala Sulawesi Tengah dengan menggunakan pendekatan menulis proses. Rancangan penelitian ini

adalah penelitian tindakan kelas dengan sistim kolaborasi. Peneliti bekerjasama dengan seorang kolaborator

dalam hal merancang rencana pembelajaran, menentukan kriteria kesuksesan belajar, melaksanakan dan

mengobservasi kegiatan mengajar serta merefleksi data yang didapat dari proses pengajaran dan

pembelajaran. Tindakan dalam penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan prosedur sebagai berikut:

(1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) mengamati tindakan, dan (4) menganalisa dan

merefleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas dua MTsN Lamala Central Sulawesi tahun pelajaran

2008-2009. Jumlah siswa dalam kelas adalah 38 orang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini

adalah lembar format pengamatan, catatan lapangan, rubrik penilaian, kuisener dan lembaran wawancara

untuk siswa.

Model pendekatan menulis proses yang tepat dalam pengajaran menulis meliputi prosedur berikut:

(1) memberikan siswa gambar kegiatan berangkai yang berwarna untuk membantu membangun pengetahuan

mereka tentang teks recount, (2) Memberikan siswa model teks recount yang strukturnya sudah ditandai

dengan jelas, (3) meminta siswa untuk bekerja kelompok untuk mempelajari struktur teks recount (4)

262 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







mengajak siswa untuk mengungkapkan ide mereka dalam tekhnik clustering, (5) menuntun siswa dalam

menuangkan, memilih, dan mengatur ide mereka, (6) meminta siswa untuk menuangkan ide dalam bentuk

kalimat dan mengatur kalimat tersebut dalam bentuk draft awal (7) meminta siswa untuk merevisi draft

mereka dengan merujuk pada format petunjuk revisi (8) meminta siswa untuk berdiskusi dengan teman

sekelas dan guru, (9) meminta siswa untuk saling menukar pekerjaan dengan pasangannya, (10) meminta

siswa untuk memeriksa grammar dan mekanik tulisan mereka dengan merujuk pada format petunjuk

mengedit, dan (11) meminta siswa untuk merapikan tulisan mereka.

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus yang masing-masing terdiri dari tiga pertemuan. Pada

siklus yang pertama, penjelasan tentang recount teks dilakukan pada pertemuan pertama, tahapan prewriting

dan drafting pada pertemuan kedua, dan tahapan revising dan editing pada pertemuan ketiga. Pada siklus

yang kedua, tahapan prewriting dan drafting dilakukan pada pertemuan pertama, tahapan revisi pada

pertemuan kedua, dan tahapan editing pada pertemuan ketiga.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan menulis proses berhasil meningkatkan

kemampuan dalam menulis paragraf recount siswa kelas dua MTsN Lamala Sulawesi Tengah. Peningkatan

ini ditandai dengan meningkatnya partisipasi dan skor menulis siswa dalam kegiatan menulis. Hasil lembar

pengamatan dan catatan lapangan menunjukkan bahwa pendekatan menulis proses dapat meningkatkan

partisipasi siswa dimana sebagian besar siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan pengajaran dan

pembelajaran. Sehubungan dengan hasil tulisan siswa, telah ditetapkan dalam kreteria keberhasilan kedua

bahwa 60% dari keseluruhan jumlah siswa harus mencapai skor sama atau lebih tinggi dari 6.00. Skor siswa

dalam siklus pertama belum mencapai kreteria keberhasilan karna hanya ada sepuluh (26.32%) dari tigapuluh

delapan siswa yang memperoleh skor sama atau lebih tinggi dari 6.00. Sementara di siklus kedua, duapuluh

empat (63.16%) memperoleh nilai sama atau lebih tinggi dari 6.00 yang berarti bahwa kreteria keberhasilan

telah tercapai.

Berdasarkan hasil temuan dalam penelitian ini, peneliti menyarankan kepada guru-guru bahasa

Inggris untuk menerapkan pendekatan menulis proses dalam pengajaran menulis. Namun guru-guru harus

mempertimbangkan model yang sesuai bagi siswa yang dapat memfasilitasi mereka dengan pengalaman

belajar yang menyenangkan. Dan kepada para peneliti yang akan melaksanakan penelitian yang serupa

disarankan untuk melakukan perubahan-perubahan dalam hal pemilihan jenis teks, media pengajaran dan

prosedur pelaksanaan empat tahapan dalam pendekatan proses menulis.



Kata kunci: pendekatan menulis proses, kemampuan menulis, paragraf recount







Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa MAN 2 Madiun Melalui Strategi

SQ3R



Purwatiningsih



Abstrak

Memebaca sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, oleh karena itu membaca sangat bpenting

untuk dipelajari. Bagi siswa membaca diperlukan sebagai alat untuk mempelajari berbagai macam ilmu

pengetahuan. Sehingga keberhasilan didalam membaca sangat penting bagi siswa. Sehubungan dengan

pentingnya membaca bagi siswa, di Indonesia ketrampilan membaca diajarkan ditingkat SD sampai

perguruan tinggi. Bagaimanapun, hasil penelitian pendahuluan yang dilakukan di MAN 2 Madiun

menunjukkan bahwa kemampuan membaca pemahaman siswa belum memadahi, terbukti prestasi mereka

masih relatif rendah dan belum memenuhi standar ketuntasan belajar minimal. Oleh karena itu penelitian

tindakan kelas ini dilaksanakan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kesulitan yang diharapi siswa

dalam membaca pemahaman. Dengan alasan tersebut, maka SQ3R diterapkan pada pembelajaran membaca

pemahaman untuk meningkatkan membaca pemahaman siswa.

Penelitian ini dirancang untuk penelitian tindakan kelas secara kolaborasi yang melibatkan peneliti

dan guru kelas yang berkolaborasi merancang rencana pembelajaran, mengimplementasikan rencana

tindakan, melakukan pengamatan, dan melakukan analisis dan refleksi. Dalam melakukan penelitian ini,

peneliti bertindak sebagai praktisi dan guru kelas berperan sebagai pengamat. Subyek dalam penelitian ini

adalah siswa kelas sebelas MAN 2 Madiun Jurusan Bahasa tahun pelajaran 2008/2009 yang berjumlah 30

orang. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus yang berdasarkan prosedur penelitian tindakan kelas yang

meliputi tahap perencanaan, implementasi, observasi, analisis dan refleksi. Setiap siklus dilaksanakan dalam

tiga pertemuan. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penelitian yang berupa ceklist

pengamatan, pedoman wawancara, catatan lapangan, dna tes membaca pemahaman.

Program Studi S2 ING 263







Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa strategi yang tepat untuk membelajarkan siswa dalam

membaca pemahaman melalui strategi SQ3R meliputi beberapa tahap yang masing-masing terdiri dari

beberapa kegiatan penting yang antara lain: 1) mengaktifkan latarbelakang pengetahuan sebelum membaca

tek, 2) menggunakan gambar atau benda nyata sebagai alat pembelajaran, 3) menemukan arti dari kata-kata

sulit, 4) membuat pertanyaan prediksi, 5) membaca paragraph pembuka dan penutup, 6) mencari jawaban

dari pertanyaan yang telah dibuat, 7) menyimpan semua informasi yang diperoleh dalam ingatan jangka

panjang, 8) mengingat kembali informasi yang disimpan, 9) melakukan laporan, 10) membuktikan laporan

yang dibuat dengan membaca teks, 11) menulis hasil pembuktiannya.

Selanjutnya hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa strategi SQ3R telah meningkatkan

kemampuan membaca pemahaman siswa. Peningkatan tersebut dapat dilihat dari nilai membaca siswa yang

telah memenuhi standar ketuntasan belajar minimal. Adapun rata-rata nilai yang diperoleh siswa dari tiga kali

tes adalah 59,1 diperoleh dari pre-tes, 64,5 dari tes 1 dan 78,7 dari nilai tes 2. Dengan kata lain siswa yang

terkategori sukses dalam pre-test sebanyak 33,3% atau 10 orang, 50% atau 15 dalam test 1, dan 86,7% atau

26 orang pada test 2. Di samping itu hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi SQ3R sangat efketif untuk

membangkitkan motivasi siswa untuk berpartisipasi secara aktif dalam proses pembelajaran. Peningkatan

partisipasi siswa dalam pemebelajaran adalah 59% pada siklus1 dan 79% pada siklus 2.

Berdasarkan hasil penelitian di atas, beberapa saran ditujukan untuk guru dan peneliti yang akan

datang. Bagi guru bahasa Inggris yang mempunyai masalah serupa diharapkan mereka dapat mengimplemen-

tasikan strategi SQ3R sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman

siswa. Kepada peneliti yang akan datang, mereka dianjurkan untuk membuat kajian penelitian serupa secara

mendalam di tingkat pendidikan yang berbeda dengan tempat, subyek penelitan, dan jenis teks yang berbeda

untuk mengetahui apakah strategi SQ3R juga efektif untuk meningkatkan prestasi membaca siswa.



Kata kunci: strategi SQ3R, peningkatan, kemampuan membaca







Meningkatkan Keterampilan Menyimak dalam Bahasa Inggris dengan Menggunakan

Teknik Storytelling di Kelas Dua MTsN Model Amuntai



Rahmah Fitriah



Abstrak

Berdasarkan hasil studi pendahuluan, ditemukan bahwa prestasi siswa dalam kegiatan menyimak

masih belum memuaskan. Beberapa kesulitan yang dialami siswa adalah memahami dan menemukan

informasi rinci dalam teks yang mereka dengarkan. Kesulitan tersebut disebabkan beberapa factor. Pertama,

kurangnya kreatifitas guru dalam menggunakan materi yang tersedia. Kedua, kurang beragamnya teknik

dalam mengajar menyimak. Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan keterampilan menyimak siswa

dengan menggunakan teknik storytelling. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana teknik

storytelling bisa meningkatkan keterampilan menyimak siswa.

Rancangan penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, dalam hal ini, peneliti dibantu oleh guru

bahasa Inggris dalam mengobservasi proses belajar mengajar. Penelitian ini diadakan dalam dua siklus.

Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII F MTsN Model Amuntai. Instrumen penelitian ini adalah tes

menyimak, checklist pengamatan, dan kuesioner. Kriteria kesuksesan penelitian ini adalah peningkatan nilai

listening siswa dan minat mereka terhadap penerapan teknik storytelling. Kriteria kesuksesan tercapai jika

75% siswa mendapatkan nilai lebih dari 6. Disamping itu, kriteria kesuksesan juga ditentukan berdasarkan

minat siswa terhadap kegiatan storytelling. Kriteria kesuksesan tercapai jika 75% siswa memiliki respon yang

positif terhadap penerapan teknik storytelling.

Dengan penerapan teknik storytelling, kriteria kesuksesan tercapai pada siklus kedua. Sebanyak

81% total siswa yang memperoleh nilai lebih dari 6 dan sebanyak 80% siswa memiliki respon yang positif

terhadap penerapan teknik storytelling. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa prosedur dari teknik

storytelling yang efektif adalah (1) menunjukkan gambar berukuran 20x25 cm kepada siswa, (2) menanyakan

tentang gambar, (3) memberikan kosakata kunci yang berkaitan dengan cerita, (4) mempraktekkan

pengucapan kosakata, (5) menanyakan kepada siswa tentang pemahaman mereka terhadap cerita. (6)

mengulangi cerita sekali lagi agar siswa benar-benar memahami ceritanya, dan (7) Menanyakan siswa

tentang pendapat dan perasaan mereka terhadap ceritanya.

Dapat disimpulkan bahwa teknik storytelling telah terbukti mampu meningkatkan kemampuan

menyimak siswa dalam hal memahami cerita dan menemukan informasi rinci dalam cerita. Penelitian ini

diakhiri dengan pemberian saran-saran. Guru-guru bahasa Inggris MTs diharapkan menggunakan teknik

264 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







storytelling sebagai teknik alternatif dalam mengajar untuk meningkatkan kemampuan menyimak siswa.

Peneliti yang lain diharapkan untuk mengadakan penelitian tentang teknik storytelling untuk keterampilan

berbahasa yang lain. Pengembang materi disarankan agar mengembangkan materi cerita untuk siswa MTs

dengan mempertimbangkan karakter khusus mereka. Terakhir, disarankan kepada kepala sekolah untuk

menyediakan fasilitas berupa buku-buku cerita berbahasa Inggris dan cerita-cerita lokal di perpustakaan dan

menyelenggarakan acara-acara yang berkaitan dengan penggunaan cerita, seperti lomba bercerita untuk

meningkatkan minat siswa pada cerita berbahasa Inggris dan juga pada bahasa Inggris itu sendiri.



Kata kunci: keterampilan menyimak, teknik storytelling







Sebuah Rancangan Silabus Kelas Speaking untuk Mata Kuliah Intensive English bagi

Mahasiswa Tingkat Pertama di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin



Raida Asfihana



Abstrak

Hasil dari survey pendahuluan yang dilakukan di institusi ini menunjukkan bahwa tidak ada silabus

tertentu yang dapat dipakai untuk mengajarkan bahasa Inggris; para dosen hanya mengikuti panduan yang

disajikan di buku teks, yang ruang lingkupnya adalah bahasa Inggris umum. Selanjutnya dapat dicermati

bahwa panduan tersebut tidaklah memadai untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa dalam hal konten

keIslaman dan efisiensi pedagogisnya. Berangkat dari masalah diatas, muncullah suatu kebutuhan yang tidak

dapat ditawar lagi akan perancangan sebuah silabus untuk mahasiswa di institusi Islam ini. Lebih lanjut,

penelitian ini bertujuan untuk merancang sebuah silabus yang sesuai untuk mengajarkan keterampilan

berbicara kepada mahasiswa di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin, Kalimantan

Selatan.

Prosedur penelitian pengembangan dipakai di dalam penelitian ini. Model pengembangan silabus-

nya merupakan perpaduan dari Pengembangan Program Bahasa oleh Yalden (1987) dan tahap-tahap pene-

litian pengembangan oleh Borg and Gall (1983). Prosedurnya melingkupi sembilan tahap pengembangan,

yaitu: (1) analisa kebutuhan, (2) perencanaan, termasuk didalamnya deskripsi tujuan pengembangan dan

pemilihan tipe silabus, (3) pembuatan silabus purwa-rupa, (4) validasi ahli terhadap silabus purwa-rupa, (5)

pembuatan silabus pedagogis, (6) uji coba, (7) revisi produk akhir, (8) evaluasi (validasi ahli terhadap produk

akhir yang telah direvisi), dan (9) produk akhir.

Produk akhir dari penelitian pengembangan ini berupa sebuah Speaking for Islamic Studies silabus

untuk pengajaran bahasa Inggris, terutama keterampilan berbicara, di kelas Intensive English tahap B di IAIN

Antasari Banjarmasin. Silabus komunikatif berbasis genre ini terutama berisi gambaran singkat mata kuliah,

tujuan pengajaran, pemilihan topik dan sub-topik, dan sistem evaluasi. Silabus yang dirancang untuk mata

kuliah ini mengacu kepada empat jenis teks (genre); antara lain penceritaan, narasi, pelaporan informasi, dan

ekposisi. Karena fungsi bahasa dalam silabus ini berbasis genre, maka keterampilan yang dilatih melingkupi

keterampilan dasar berbicara yang dipadukan dengan fitur-fitur gramatikal dari jenis teks tersebut, seperti

bentuk waktu kini dan lampau, kata benda, kata kerja, kata sifat, kata keterangan, dan kata penghubung.

Lebih lanjut, mata kuliah ini juga menyajikan keterampilan berbicara dalam bertukar peran percakapan,

bekerja berpasangan, penceritaan kembali, penyajian presentasi singkat, dan melakukan diskusi kelompok

kecil dan diskusi panel.

Silabus ini berisi empat topik utama yang kemudian di rinci lagi menjadi sepuluh sub topik yang

berkaitan dengan kepercayaan dan praktik-praktik budaya Islam. Empat model rencana pengajaran, yang

telah diuji-cobakan secara empiris dalam tahap uji coba, juga tersedia didalamnya. Selain itu, akan mudah

bagi para pemakai silabus ini untuk membuat rencana dan materi pengajaran lainnya dikarenakan format dari

rancangan silabus ini, yang telah divalidasi oleh dua orang ahli, mudah untuk ditafsirkan.

Berdasarkan temuan studi ini, disarankan kepada para dosen pengajar bahasa Inggris dan peneliti

lain untuk merancang silabus keterampilan berbahasa Inggris lainnya yang berkaitan dengan studi Islam

dikarenakan silabus yang baru dirancang ini mungkin perlu dievaluasi dan direvisi secara kontinyu sebagai

akibat dari penerapannya dalam aktivitas pengajaran di kelas. Produk dari penelitian ini juga bisa

disosialisasikan melalui diskusi rutin diantara para dosen pengajar mata kuliah bahasa Inggris, seminar lokal

dan internasional, pertemuan-pertemuan profesional dengan para ahli di bidang pengembangan produk dan

melalui tulisan dalam jurnal. Kegiatan ini akan sangat membantu dalam usaha menjaga kualitas dari produk

akhir penelitian ini. Sehingga produk akhir dari penelitian pengembangan ini akan berhasil mengakomodir

Program Studi S2 ING 265







kebutuhan pembelajar dalam menguasai keterampilan berbicara bahasa Inggris dalam konteks studi Islam,

khususnya para mahasiswa di IAIN Antasari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.



Kata kunci: perancangan silabus, keterampilan berbicara, studi Islam.







Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Menulis Teks Recount melalui Teknik Tanya-

Jawab di MTs Siti Mariam Banjarmasin



Raudhatun Nisa



Abstrak

Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan pada permasalahan yang dialami oleh peneliti sebagai guru

Bahasa Inggris di MTs Siti Mariam Banjarmasin. Berdasarkan hasil studi awal pada siswa kelas delapan MTs

Siti Mariam Banjarmasin, diketahui bahwa kemampuan siswa dalam menulis teks recount masih kurang

memuaskan dan siswa mempunyai motivasi yang rendah untuk berpartisipasi dalam tugas menulis. Teknik

Tanya-Jawab dipilih untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Oleh karena itu, penelitian ini dirancang

untuk mengetahui bagaimana Teknik Tanya-Jawab dapat meningkatkan kemampuan siswa-siswi kelas

delapan MTs Siti Mariam Banjarmasin dalam menulis teks recount.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang bersifat kolaboratif dimana

peneliti dan guru bekerja sama dalam melaksanakan penelitian ini. Peneliti berperan sebagai guru sedangkan

guru bahasa Inggris menjadi observer yang mengobservasi pelaksanaan Teknik Tanya-Jawab. Penelitian ini

dilaksanakan dalam dua siklus yang mengacu pada prosedur penelitian tindakan yaitu planning,

implementing, observing, dan reflecting. Tiap siklus dalam penelitian ini terdiri dari tiga pertemuan. Data

penelitian dikumpulkan melalui beberapa instrumen yaitu ceklis observasi, catatan lapangan, kuisioner, dan

tugas-tugas menulis siswa. Subyek penelitian ini adalah 35 siswa kelas delapan MTs Siti Mariam

Banjarmasin pada tahun ajaran 2008/2009.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Teknik Tanya-Jawab dapat meningkatkan kemampuan siswa

dalam menulis teks recount dengan membimbing para siswa dalam membuat kalimat. Dalam membuat

kalimat, para siswa diberi serangkaian pertanyaan berdasarkan media tertentu (seperti daftar kegiatan,

gambar berseri, dan lain-lain). Jawaban lengkap dari pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian diolah dengan

cara tertentu untuk menghasilkan sebuah teks recount yang terorganisasi dengan baik. Lebih lanjut,

peningkatan kemampuan siswa dalam menulis teks recount dapat dilihat dari peningkatan nilai rata-rata

menulis siswa dari 52,1 di putaran pertama, menjadi 70,1 di putaran kedua. Di samping itu, dari hasil ceklis

observasi, catatan lapangan, dan kuisioner, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa Teknik Tanya-

Jawab sangat efektif dalam meningkatkan partisipasi dan motivasi siswa dalam proses belajar dan mengajar.

Terlebih lagi, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model Teknik Tanya-Jawab yang sesuai dalam

pengajaran menulis meliputi prosedur berikut: (1) memberikan model teks recount kepada siswa, (2)

memerintahkan siswa untuk membaca teks recount tersebut dan memperhatikan kosa kata dan tata bahasa

atau ciri-ciri kebahasan dari teks recount, (3) memberikan pertanyaan yang bertujuan untuk menyakinkan

pemahaman siswa tentang isi cerita dan generic structure dari teks recount, (4) mengelompokkan siswa, (5)

mendistribusikan gambar berseri dengan serangkaian pertanyaan (sebagian pertanyaan-pertanyaan itu

berhubungan dengan topik dan gambar berseri tersebut, sebagian pertanyaan yang lain tidak berhubungan

dengan topik dan gambar berseri tersebut) kepada masing-masing kelompok siswa, (6) menugaskan siswa

untuk memilih pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan topik dan gambar berseri tersebut secara

berkelompok, (7) menugaskan siswa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah dipilih secara

berkelompok, (8) menugaskan siswa untuk menyusun jawaban-jawaban mereka menjadi sebuah teks recount

secara individu, (9) menugaskan siswa untuk menggabungkan kalimat-kalimat dalam teks recount mereka

dengan kata sambung yang sesuai secara individu, dan (10) memberi pendapat dan saran kepada siswa untuk

merevisi dan mengedit tulisan mereka.

Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada guru Bahasa Inggris untuk menerapkan Teknik

Tanya-Jawab karena teknik ini bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks

recount. Lebih lanjut, kepada peneliti yang akan datang, khususnya bagi mereka yang memiliki permasalahan

yang sama dan tertarik untuk menerapkan Teknik Tanya-Jawab dalam penelitian mereka, disarankan agar

mereka menerapkan Teknik Tanya-Jawab pada bidang keterampilan yang sama yang difokuskan untuk

peningkatan kreatifitas dan keinginan-tahu siswa dalam menulis (menulis kreatif) atau pada pembelajaran

bidang keterampilan bahasa lainnya seperti menyimak dan berbicara (dengan menyuruh siswa untuk

266 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







menyimak sebuah monolog lisan, misalnya, dan kemudian menyuruh mereka menjawab pertanyaan-

pertanyaan tentang monolog tersebut secara lisan).



Kata kunci: teks recount, menulis, teknik tanya-jawab







Menggunakan Teknik Jigsaw untuk Memperbaiki Kemampuan Menulis Siswa Kelas Dua

MTs Negeri 2 Medan



Raudhatuz Zahrah



Abstrak

Berdasarkan pengalaman peneliti dalam mengajar bahasa Inggris dan studi awal yang dilakukan,

prestasi siswa pada menulis teks narasi belum memuaskan. Nilai rata-rata tulisan teks narasi siswa adalah

49.6, sedangkan kreteria ketuntasan minimum adalah 60.0. Prestasi yang tidak memuaskan ini dikarenakan

(1) siswa mengalami kesulitan untuk memulai menulis, mengorganisasikan dan mengalihbahasakan ide-ide

mereka ke dalam teks yang menarik, (2) strategi pengajaran dan pembelajaran menulis yang tidak efektif, dan

(3) motivasi siswa untuk menulis sangat rendah. Untuk mengatasi masalah ini, peneliti mengusulkan salah

satu strategi yang sesuai dalam mengajarkan menulis narasi, yaitu teknik Jigsaw.

Penelitian ini dirancang untuk meningkatkan ketrampilan menulis teks narasi siswa dengan

menggunakan teknik Jigsaw. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana teknik Jigsaw

dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis teks narasi siswa di MTs Negeri 2 Medan.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang bersifat kolaboratif dimana

peneliti dan guru bekerja sama dalam melaksanakan penelitian ini. Peneliti berperan sebagai pengajar

sedangkan guru bahasa Inggris menjadi kolaborator peneliti untuk mengobservasi pelaksanaan teknik Jigsaw.

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus yang mengacu pada prosedur penelitian tindakan yaitu,

planning, implementing, observing, dan reflecting. Tiap siklus dalam penelitian ini terdiri dari tiga pertemuan

untuk pelaksanaan teknik. Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa instrumen yaitu lembar observasi,

catatan lapangan, kuisener, dan hasil tulisan siswa. Subyek penelitian ini adalah 42 siswa kelas dua MTs

Negeri 2 Medan pada tahun ajaran 2008/2009. Semua siswa menjadi subyek penelitian ini.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa model teknik Jigsaw yang sesuai dalam pengajaran menulis

teks narasi meliputi langkah-langkah berikut: (1) memberikan model teks narasi yang dilengkapi dengan

rangkaian gambar berurutan kepada siswa dengan tujuan untuk membangun pengetahuan siswa tentang cerita

dan input bahasa berupa kosa kata, tata bahasa, dan ciri-ciri kebahasan dari teks narasi, (2) memerintahkan

siswa untuk membaca cerita dan memperhatikan kosa kata, tata bahasa, dan ciri-ciri kebahasaan dari teks

narasi, (3) memberikan pertanyaan yang bertujuan untuk menyakinkan pemahaman siswa tentang cerita dan

ciri kebahasaan teks narasi, (4) mengelompokkan siswa dalam kelompok ahli yang terdiri dari empat siswa,

(5) mendistribusikan sebuah gambar yang khusus dan berbeda dari rangkain gambar yang berurutan yang

dilengkapi dengan beberapa kata kunci kepada setiap kelompok ahli, (6) meminta setiap siswa untuk menulis

hasil diskusi tentang deskripsi sebuah gambar bagian dari sebuah cerita, (7) mengumpulkan gambar, (8)

mengelompokkan kembali siswa ke kelompok jigsaw, (9) meminta siswa untuk mempresentasikan bagian

dari cerita yang dikuasainya dan saling bertukar cerita untuk mendapatkan satu cerita yang lengkap, (10)

berkeliling dari satu kelompok ke kelompok yang lain untuk mengawasi proses pembelajaran, (11) meminta

siswa untuk menulis kembali cerita tersebut secara perseorangan sehingga mereka menyadari bahwa bagian

ini bukan sekedar permainan tetapi juga pembelajaran yang sangat berarti, (12) meminta siswa ntuk

memperbaiki tulisan pertama mereka dengan menggunakan petunjuk pebaikan, (13) memberikan kesempatan

kepada siswa untuk menyunting tulisan mereka dengan mengunakan petunjuk penyuntingan, dan (14)

mempublikasikan hasil tulisan mereka pada sesi terakhir pembelajaran dengan membacanya di depan kelas

atau menempelnya di majalah dinding.

Hasil penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa Jigsaw efektif dalam meningkatkan kemampuan

siswa dalam menulis teks narasi. Peningkatan dapat dilihat dari kenaikan nilai rata-rata menulis teks narasi

siswa dari nilai studi awal 49.6; 60.2 di siklus pertama, dan 70,2 di siklus kedua. Di samping itu, hasil

penelitian juga menunjukkan bahwa teknik Jigsaw sangat efektif dalam meningkatkan motivasi dan

partisipasi siswa. Diketahui bahwa 74.0% siswa termotivasi di siklus pertama dan 83.8% siswa termotivasi di

siklus kedua. Selain itu, diketahui bahwa 83.1% siswa berpartisipasi secara aktif di siklus pertama dan 88.9%

siswa berpatisipasi di siklus kedua.

Program Studi S2 ING 267







Berdasarkan hasil penelitian, disarankan kepada guru Bahasa Inggris untuk menerapkan Jigsaw

karena teknik ini tidak hanya bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan menulis teks narasi namun juga

dalam memotivasi siswa untuk menulis dan bekerja sama dalam mendeskripsikan kejadian yang ada di dalam

gambar. Selain itu, Jigsaw juga berguna dalam mendorong siswa untuk ikut serta secara aktif dalam menulis

teks narasi. Di samping itu, disarankan agar guru Bahasa Inggris menggunakan teknik lain dari cooperative

learning sebagai strategi belajar untuk meningkatkan kemampuan siswa tidak hanya dalam keterampilan

menulis tetapi juga pada ketiga keterampilan bahasa yang lain. Selain dari itu, disarankan agar siswa

menggunakan teknik Jigsaw sebagai strategi belajar untuk melatih dan meningkatkan kemampuan menulis

teks narasi mereka yang dapat dilakukan dalam kegiatan ekstrakurikuler. Untuk calon guru-guru peneliti,

khususnya bagi mereka yang mempunyai masalah yang sama dan tertarik untuk melaksanakan penelitian,

disarankan untuk menerapkan Jigsaw pada bidang keterampilan yang sama di penelitian mereka atau pada

bidang keterampilan bahasa yang lain, seperti keterampilan mendengar. Dalam keterampilan ini, para siswa

mendengarkan bagian yang berbeda dari sebuah bacaan, dan kemudian saling bertukar informasi dengan

yang lain untuk menyelesaikan tugas. Para siswa dapat melaporkan tugas tersebut secara lisan atau tertulis.



Kata kunci: teknik jigsaw, teks narasi, kemempuan menulis







Menggunakan Game Twenty-question untuk Memperbaiki Kemampuan Menulis Siswa

Kelas Tujuh Semester Dua MTS. Hasyim Asy‟ari Piyungan Bantul DIY

Tahun Ajaran 2008/2009



Risnaryanto



Abstrak

Penelitian ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa dalam bahasa Inggris

dengan menggunakan model pengajaran berbasis Game Twenty-question dan bimbingan per langkah karena

dapat membangun ketrampilan siswa menggunakan pertanyaan deskriptif, menerapkan ketrampilan

mengubah kalimat dan pembimbingan proses menulis dengan suasana menyenangkan sehingga siswa lebih

tertarik dengan langkah-langkah menulis. Dengan demikian, hasil tulisannya akan lebih baik. Rumusan

masalah penelitian ini adalah “Bagaimana permainanTwenty-question bisa meningkatkan kemampuan siswa

kelas tujuh semester dua MTs. Hasyim Asy‟ari Piyungan Bantul DIY dalam menulis teks deskriptif?”

Model penelitian ini adalah tindakan kelas dimana peneliti dan kolaborator bekerja sama dalam

menyusun rencana pelajaran, mengimplementasikan tindakan, mengamati tindakan, dan melakukan refleksi.

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas dua pada MTs. Hasyim Asy‟ari Piyungan tahun ajaran 2008/2009.

Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus mengikuti langkah mulai dari perencanaan, pelaksanaan,

observasi hingga refleksi.

Berdasarkan hasil penilaian terhadap tulisan siswa dimana rerata pada pra-penelitian adalah 50,

kemudian 61 pada siklus satu dan 69 pada siklus dua, terdapat peningkatan yang menggembirakan dan

dengan demikian model pengajaran ini bisa meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis.

Model pembelajaran yang diterapkan adalah sebagai berikut: (1) mengenalkan dan menjelaskan tata

cara, aturan dan ketrampilan yang diperlukan untuk melakukan permainan, (2) memainkan game, (3)

menjelaskan cara mengubah kalimat tanya ya/tidak, (4) menjelaskan bermacam tipe kalimat yang dipakai

untuk menggambarkan obyek sehingga siswa bisa menambahkan dengan deskripsinya sendiri, (4)

menyajikan teks sebagai model guna dianalisa dan diikuti formatnya, (6) melengkapi bagian teks yang belum

ada sebelum direvisi dan disunting, (7) memperoleh penilaian dan umpan balik dari kelompok atau siswa

yang lain dalam hal organisasi, tata bahasa dan tanda baca, (8) menulis versi akhir, (9) membacakan atau

mengumpulkan tulisan dalam kegiatan publikasi, dan (10) merefleksikan proses menulis.

Dengan mempertimbangkan hasil temuan, disarankan agar (1) para guru Bahasa Inggris menerapkan

dan memodifikasi model ini terutama bila siswa lemah dalam tata bahasa serta mengarahkan siswa untuk

membentuk kelompok-kelompok kecil, mempraktekkan permainan ini dan mengembangkan topiknya

kedalam tulisan deskripsi; dan (3) calon peneliti memvariasikan permainan ini dengan rangkaian gambar

deskriptif untuk meningkatkan efektifitas.



Kata kunci: game twenty-question, kemampuan menulis

268 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







Pengajaran Menulis Teks Prosedure Menggunakan Strategi Gambar Berseri di MTsN

Malang III



Roudlatul Hasanah



Abstrak

Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks prosedur

dengan menggunakan strategi gambar berseri. Berdasarkan pengamatan pada siswa kelas IX E MTsN

Malang III, menunjukkan bahwa kemampuan menulis teks prosedur siswa kelas IX masih kurang

memuaskan, nilai rata-rata mereka hanya 50.3, dan siswa mempunyai motivasi yang rendah untuk

berpartisipasi dalam kegiatan menulis.

Rancangan penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, dalam hal ini, peneliti dibantu oleh guru

bahasa Inggris dalam mengobservasi proses belajar mengajar. Penelitian ini diadakan dalam dua siklus.

Subyek penelitian ini adalah siswa kelas IX E MTsN Malang III. Instrumen penelitian ini adalah hasil tulisan

siswa, checklist pengamatan,field note dan kuesioner. Kriteria kesuksesan penelitian ini adalah peningkatan

nilai menulis siswa, partisipasi aktif dan respon mereka dalam proses belajar mengajar. Kriteria kesuksesan

tercapai jika 60% siswa mendapatkan nilai 70, dan jika 60% siswa berpartisipasi aktif dalam proses belajar

mengajar.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dengan penerapan strategi gambar berseri, kriteria kesuksesan

tercapai pada siklus kedua. Sebanyak 71.70% total siswa yang memperoleh nilai lebih dari 70 dan sebanyak

82.3% siswa berpartisipasi aktif dalam proses belajar mengajar serta 84.7% siswa merespon positif terhadap

penerapan gambar berseri. Prosedur dari strategi gambar berseri yang efektif adalah (1) menunjukkan gambar

kepada siswa, (2) bertanya mengenai gambar, (3) memberikan kosakata kunci yang berkaitan dengan gambar

,(4) memberikan dan mendiskusikan contoh teks prosedur, (5) mempertunjukkan gambar acak, (6) meminta

siswa untuk mengurutkan gambar, (7) menulis kalimat sesuai dengan gambar, (8) merevisi tulisan ditekankan

pada konten, organisasi dan struktur tulisan, (9) mengedit tulisan ditekankan pada konten, organisasi dan

struktur tulisan. Dapat disimpulkan bahwa strategi gambar berseri telah terbukti mampu meningkatkan

kemampuan menulis teks prosedur.

Penelitian ini diakhiri dengan pemberian saran-saran. Untuk guru-guru bahasa Inggris MTs, mereka

diharapkan menggunakan strategi gambar berseri sebagai strategi alternatif dalam mengajar untuk

meningkatkan kemampuan menulis siswa. Bagi peneliti yang lain, mereka diharapkan untuk mengadakan

penelitian tentang gambar berseri untuk keterampilan berbahasa yang lain.



Kata kunci: pengajaran menulis, teks prosedur, strategi gambar berseri







Meningkatkan Kemampuan Menulis dengan Menggunakan Gambar Seri bagi Siswa Kelas II

MA Darul Lughah wal Karomah Kraksaan



Samsuddin



Abstrak

Kemampuan siswa kelas dua MA Darul Lughah wal Karomah Kraksaan Probolinggo dalam menulis

paragraf masih kurang memuaskan. Siswa tidak mampu mengekspresikan gagasan mereka dalam sebuah

paragraf yang baik. Mereka masih membuat kesalahan dalam menulis berkenaan dengan komposisi, isi,

penggunaan bahasa, dan mekanisme. Untuk mengatasi masalah ini, diajukan peneliti sebagai salah satu

strategi yang tepat dalam mengajarkan menulis paragraph narasi dengan menggunakan gambar seri.

Penelitian ini bertujuan memperbaiki kemampuan siswa dalam menulis paragraph narasi dengan

menggunakan gambar seri bagi siswa kelas dua MA Darul Lughah wal Karomah Kraksaan Probolinggo ,

menggunakan penelitian tindakan kelas secara kolaboratif. Peneliti dan kolaborator bekerja sama dalam hal

perencanaan, pengimplementasian, pengamatan tindakan dan refleksi data yang diperoleh selama proses

kegiatan belajar mengajar dan hasil tulisan siswa. Subjek dari penelitian ini adalah 36 siswa kelas II B MA

Darul Lughah wal Karomah Kraksaan tahun ajaran 2008/2009. Penelitian ini dilakukan dalam 2 siklus, dan

setiap siklus dilaksanakan dalam 4 pertemuan.

Terindikasi bahwa penemuan gambar seri telah memperbaiki kemampuan siswa dalam menulis

paragraph narasi. Setelah peneliti menyelesaikan siklus pertama dan kedua, terlihat bahwa hasil siswa pada

siklus kedua meningkat. Hanya 6 dari 36 siswa (16,5%) saja yang masih mendapat skor di bawah target skor

Program Studi S2 ING 269







60. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut. Pertama, guru memberikan gambar seri kepada kelompok-

kelompok siswa yang beranggotakan empat orang. Kedua, guru menjelaskan Simple Past, kosa kata dari kata

kerja tak beraturan dan kata benda jamak untuk membantu siswa memecahkan masalah-masalah mereka

dalam menulis paragraph narasi. Ketiga, guru menyediakan kosakata dari kata kerja yang tak beraturan dan

kata benda jamak yang disediakan dalam lembaran kertas untuk membantu siswa menulis lebih baik.

Berdasarkan temuan di atas, dibuatlah tiga saran. Pertama, untuk mengembangkan strategi guru

dalam menerapkan gambar seri, disarankan bahwa guru mensosialisasikannya dalam pertemuan guru,

workshop, pelatihan, atau menulis artikel yang menggunakan strategi gambar seri dalam buku-buku siswa,

atau jurnal. Kedua, dianjurkan bahwa siswa menggunakan gambar seri sebagai salah satu strategi belajar

untuk melatih kemampuan mereka dalam menulis paragraph narasi, yang dapat dilakukan dalam kegiatan

ekstra kurikuler mereka. Ketiga, bagi peneliti mendatang, disarankan melakukan studi semacam ini dengan

subjek dan tempat yang berbeda untuk perbaikan mengajar menulis paragraph narasi.



Kata kunci: gambar seri, kemampuan menulis







Penerapan Pembelajaran Berbasis Komputer Untuk Meningkatkan Kemampuan

Mengarang Siswa non Inggris di SMP Negeri 4 Kepanjen, Malang



Siti Umasitah



Abstrak

Keputusan menteri pendidikan nomor 22 tahun 2006 menyatakan bahwa tujuan pengajaran bahasa

Inggris di Sekolah Menengah Pertama atau Madrasah Tsanawiwah adalah: (1) meningkatkan kemampuan

komunikatif berbicara dan menulis siswa, (2) menyadarkan siswa pada kenyataan dan pentingnya bahasa

Inggris untuk meningkatkan ide persaingan di masyarakat global, (3) meningkatkan pemahaman siswa

terhadap hubungan antara bahasa dan budaya. Juga berdasar pada pengalaman guru pada studi penjajakan di

SMP Negeri 4 Kepanjen, ditemukan bahwa pelajaran mengarang pada siswa kelas delapan jauh dari yang

diharapkan. Karena sebagian besar guru berfikir bahwa pelajaran mengarang jauh lebih sulit daripada

keterampilan bahasa yang lain.

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan cara terbaik dalam mengarang deskriptif. Masalah

penelitiannya adalah “Bagaimana kemampuan mengarang siswa kelas delapan dapat ditingkatkan dengan

menggunakan pembelajaran berbasis computer.” Penelitian ini menerapkan penelitian tindakan kelas

kolaboratif yang mana guru dan kolaborator bekerja sama dalam merencanakan, menerapkan, mengamati dan

melihat hasil tindakan.

Model yang tepat dari strategi pembelajaran berbasis computer adalah sebagai berikut: (1) Membuat

dratf. Siswa menulis paragraf dengan menggunakan computer mengambil gambar dari internet atau kamus

encarta yang bisa diakses secara langsung dari microsotf yang telah tersedia di komputer. Gambar-gambar ini

membantu siswa untuk diuraikan dalam karangan sesuai dengan topiknya secara rinci sehingga karangan

mereka akan terlihat lebih hidup. (2) Mengadakan tanya jawab. Siswa mengungkapkan pendapat yang

berhubungan dengan topic dengan guru dan temannya. (3) Pengeditan. Siswa mengaktifkan fasilitas

spellchecker dan mengedit pekerjaannya dengan cara menyisipkan atau menghapus huruf yang kurang tepat

berdasarkan masukan dari guru atau temannya dari hasil tanya jawab. (4) Pameran. Siswa menyimpan atau

mencetak hasil pekerjaanya untuk ditempelkan di majalah dinding. Strategi pembelajaran berbasis computer

menpunyai kelebihan. Pertama, strategi ini dapat meningkatkan kemampuan mengarang siswa kelas delapan

di SMP Negeri 4 Kepanjen. Kedua, siswa lebih aktif dan termotivasi karena ada kegiatan tanya jawab.

Ketiga, siswa merasa senang karena kegiatan pembelajaran dilaksanakan di laboratorium multimedia.

Dalam penerapan strategi ini disarankan, guru bahasa Inggris memahami kebutuhan siswa untuk

menghadapi persaingan yang ketat di masa depan. Guru mampu megoperasikan sarana technology dalam

kegiatan belajar mengajar. Guru bahasa Inggris disarankan menerapkan strategi pembelajaran berbasis

computer untuk memperkaya strategy dalam pengajaran bahasa. Bagi para peneliti berikutnya disarankan

melanjutkan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan pembelajaran berbasis computer untuk

keterampilan bahasa yang lain dan unsur-unsur bahasa.



Kata kunci: pembelajaran berbasis komputer, kemampuan mengarang siswa non Inggris

270 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







Implementasi Metode Pembelajaran Akselerasi Melalui Teknik Master Untuk Meningkatkan

Ketrampilan Menulis Siswa kelas VIII di MTs Negeri Tuban



Suwarno



Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas delapan MTs Negeri Tuban

dalam menulis paragraf dengan menggunakan Metode Pembelajaran Akselerasi melalui Teknik Master.

Teknik ini dipilih berdasarkan kelebihannya dalam memotivasi siswa untuk lebih terlibat aktif dalam proses

pembelajaran sehingga kemampuan mereka dalam menulis paragraf recount meningkat. Oleh karena itu,

rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana Metode Pembelajaran Akselerasi melalui Teknik

Master bisa digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas delapan MTs Negeri Tuban dalam

menulis paragraf ?”

Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian tindakan kelas dengan sistem kolaborasi diimplementasi-

kan dengan 4 langkah, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penelitian ini dilaksanakan

dalam dua siklus yang terdiri dari empat pertemuan.

Subjek penelitian ini adalah 47 siswa kelas VIII A MTs Negeri Tuban tahun pelajaran 2008/2009.

Instrumen yang digunakan dalam mengumpulkan data terdiri atas lembaran format pengamatan, catatan

lapangan, dan kuestioner untuk siswa. Data yang terkumpul dianalisis untuk memperoleh hasil penelitian.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prosedur yang digunakan adalah: menyajikan pembukaan,

memotivasi siswa, menyediakan media pembelajaran yang memadai (gambar, LCD proyektor), memainkan

musik yang tepat untuk latar belakang, menyajikan contoh teks recount, memberikan keterangan tentang cara

menyusun teks recount dan memberi kesempatan siswa untuk menanyakan hal-hal yang kurang dimengerti,

mensugesti siswa supaya relaks, meminta siswa menutup mata dan mensugesti untuk mengimajinasikan

kegiatan-kegiatan rekreasi, memasangkan atau mengelompokkan siswa, meminta siswa bercerita kepada

pasangan atau kelompok tentang apa yang telah diimajinasikan, memberi kesempatan kepada siswa untuk

membuat peta pikiran, memberi kesempatan kepada siswa untuk menyusun teks recount, memberi

kesempatan kepada siswa untuk menampilkan karya dengan membaca di depan kelas, siswa diminta untuk

menempelkan hasil karya mereka di papan pajangan, memberikan umpan balik pada karya siswa,

memberikan kesmpatan kepada siswa untuk melakukan refleksi dengan memberi pertanyaan dan kemontar

tentang apa yang sudah atau belum dimengerti, dan tentang kesan terhadap teknik pembelajaran yang telah

dilaksanakan dengan lisan dan melalui questionair.

Selanjutnya, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran Akselerasi melaui

Teknik Master telah meningkatkan kemampuan siswa kelas VIII A MTsN Tuban dalam menulis paragraf

recount. Peningkatan itu ditandai oleh peningkatan nilai rata-rata menulis siswa dari 59,04 pada tes awal,

66,84 pada siklus pertama, lalu meningkat menjadi 81,4 pada siklus kedua. Yang mana pencapaian ini sudah

memenuhi kriteria sukses yakni rata-rata siswa mencapai 75,00. Di samping itu, siswa sangat antusias,

bersemangat, dan terlibat aktif dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan Metode Pembelajaran

Akselarasi melalui Teknik Master .

Beberapa saran yang dapat diajukan kepada guru Bahasa Inggris berdasarkan temuan penelitian dan

diskusi adalah sebagai berikut. Disarankan kepada guru Bahasa Inggris untuk menerapkan teknik

pembelajaran ini sebagai teknik alternatif atau strategi untuk menciptakan pembelajaran yang berpusat pada

siswa. Kepada guru juga disarankan agar mempelajari paradigma tentang kerja otak. Karena hal itu sangat

penting untuk memaksimalkan kekuatan pikiran agar mudah melahirkan gagasan, membantu proses

imajinasi, juga memperkuat kepercayaan diri. Saran kepada guru berikutnya adalah agar menyebarkan

implementasi dari pembelajaran ini untuk mata pelajaran lain selain bahasa Inggris seperti matematika, Ilmu

pengetahuan alam, sejarah dan lain-lain. Perlu dicobakan teknik ini sesering mungkin. Terakhir, kepada

peneliti mendatang, peneliti berharap agar melakukan penelitian yang lebih bermutu agar bisa membuktikan

efektifitas dari penerapan Metode Pembelajaran Akselerasi melalui Teknik Master untuk meningkatkan

prestasi siswa tidak hanya dalam matapelajaran Bahasa inggrius tetapi juga pada matapelajaran lain.



Kata kunci: pembelajaran akselerasi melalui teknik master, kemampuan menulis, dan paragraph recount

Program Studi S2 ING 271







Meningkatkan Kemampuan Menulis Teks Berbentuk Recount dari Siswa Kelas I MAN

Wlingi Blitar melalui Strategi Menulis dengan Cara Kolaboratif



Syafudin Zuhri



Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa kelas satu MAN Wlingi melalui

collaborative writing strategy. Strategi ini dipilih untuk mengatasi masalah di MAN Wlingi karena strategi

tersebut dapat membimbing siswa untuk mengungkapkan ide, untuk membuat paragraph-paragrap yang

terpadu, untuk mengorganisasi ide, dan untuk membuat kalimat-kalimat yang sesuai dengan tatabahasa.

Berdasarkan penelitian pendahuluan, pengajaran di MAN Wlingi belum memfasilitasi siswa-siswa untuk

menjadi terampil dalam menulis. Mereka mempunyai masalah: (1) bagaimana untuk memulai menulis, (2)

bagaimana mengungkapkan ide (3) bagaimana membuat paragraph yang terpadu, (4) bagaimana

mengorganisasi ide secara logis, (5) bagaimana membuat kalimat-kalimat sesuai dengan tatabahasa, (6)

bagaimana untuk meningkatkan motivasi mereka dalam belajar bahasa Inggris. Oleh karena itu, peneliti

sangat termotivasi untuk mengatasi masalah tersebut dengan menggunakan strategi collaborative writing

dalam pengajaran writing karena strategi tersebut menyuruh siswa untuk mengikuti tahapan-tahapan menulis

yaitu idea generating, drafting, reading, editing, copying, dan evaluating.

Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana strategi collaborative writing dapat digunakan

untuk meningkatkan ketrampilan siswa dalam menulis recount text dari siswa kelas satu MAN Wlingi?

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan menggunakan strategi collaborative writing

untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis teks dalam bentuk recount.

Peneliti menggunakan desain penelitian tindakan kelas bersifat kolaboratif, dengan dibantu oleh

seorang guru (rekan sejawat) dalam melaksanakan penelitian. Penelitian ini dilaksanakan dalam satu kelas

yang terdiri dari 32 siswa, yang seluruh siswanya merupakan subjek dari penelitian ini. Prosedur penelitian ni

mencakup empat langkah utama: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Untuk pengumpulan

data, peneliti menggunakan beberapa instrumen berupa kuesioner, angket, daftar pengamatan, catatan

lapangan dan tulisan siswa.

Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan strategi collaborative writing dalam

pengajaran writing dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa. Peningkatannya ditandai dengan

meningkatnya rata-rata nilai siswa. Ini dapat dilihat dari hasil masing-masing siklus. Sebelum tindakan

dilaksanakan, rata-rata nilai menulis siswa 50,51. Sesudah siklus pertama dilaksanakan, rata-rata nilai

menjadi 54,40. Dan rata-rata nilai di siklus kedua adalah 60,23.

Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa tahap-tahap yang tepat yang digunakan untuk

menerapkan strategi collaborative writing terdiri dari langka-langkah sebagai berikut: Tahap 1 adalah idea

generating. Guru melaksanakn kegiatan-kegiatan sebagai berikut: (1) menyuruh helper bertanya untuk

merangsang ide-ide penulis (writer), (2) menyuruh penulis untuk menulis ide-ide, (3) menyuruh helper untuk

mendiskusikan atau meneliti kata-kata pokok dan membantu untuk mengorganisasi ide-ide itu. Tahap 2

adalah drafting. Di tahap ini, guru menyuruh murid (writer) untuk menulis draf sebagai draf yang pertama

berdasarkan ide-ide yang ditemukan dan dari hasil review dari helper. Tahap 3 adalah reading. Guru

melaksanakan kegiatan-kegiatan sebagai berikut: (1) menyuruh murid (writer) membaca draf dan menyuruh

murid (helper) untuk mengoreksi draf itu, (2) menyuruh penulis menata kembali apa yang telah ditulis di draf

pertama dan memperbaiki ide-ide berdasarkan masukan pendapat dari helper. Tahap 4 adalah editing, di

tahap ini guru menyuruh siswa mengedit draf mereka di bagian content, organazation, vocabulary, grammar,

dan mechanic. Tahap 5 adalah copying. Di tahap ini guru menyuruh murid (writer) menulis draf yang paling

baik. Tahap 6 adalah evaluating. Guru melaksanakan kegiatan sebagai berikut: (1) mengadakan konferensi

untuk mendiskusikan masalah yang dihadapi oleh kelas agar dapat mengurangi kesalahan-kesalahan murid,

(2) mengevaluasi karangan murid-murid dengan menggunakan analytic scroring rubric dan memberi

komentar pada kesalahan itu.

Berdasarkan keefektifan implementasi strategi collaborative writing pada pengajaran writing,

disarankan pada guru Bahasa Inggris untuk menerapkan strategi collaborative writing, khususnya pada

pengajaran writing. Kepada para peneliti di masa mendatang, khususnya yang berminat pada penerapan

pendekatan strategi collaborative writing dalam penelitian kelas mereka, disarankan untuk menindak lajuti

penelitian yang berkenaan dengan penggunaan collaborative writing strategy. Collaborative writing srategy

dapat digunakan untuk mengajar jenis genre-genre yang berbeda dari berbagai tingkat pendidikan mulai SMP

sampai SMA.



Kata kunci: teks recount, kemampuan menulis, menulis secara kolaboratif

272 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







Developing a Prototype of Listening Materials for Grade XII Students of MAN Jombang



Syamsul Ma‟arif



Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan materi menyimak Bahasa Inggris untuk kelas

dua belas semester satu. Prosedur penelitian dan pengembangan yang diterapkan meliputi survei kebutuhan,

pengembangan materi, validasi ahli dan guru, revisi, uji coba, revisi, dan produk akhir.

Instrumen yang digunakan pada survei kebutuhan adalah angket, pedoman wawancara, dan catatan

lapangan. Hasil dari survey kebutuhan menunjukkan bahwa siswa belum mendapatkan cukup latihan untuk

ketrampilan menyimak. Mayoritas siswa setuju jika bahan ajar listening perlu disediakan. Berdasarkan

penemuan itu, Bahan ajar menyimak dikembangkan. Ada sembilan unit yang dikembangkan dalam draft

usulan. Setelah selesai, draft tersebut dikirim ke para ahli dan guru bahasa Inggris untuk divalidasi dan

dievaluasi.

Ahli dan Guru memvalidasi materi dalam hal bahasa, kesesuaian isi dengan kurikulum, panjangnya

materi menyimak, kecepatan berbicara, kwalitas rekaman, dan kepraktisan penggunaannya. Hasil validasi

ahli dan guru menunjukkan bahwa 8 unit dapat diterima dan diaplikasikan kecuali unit 1. Seorang ahli dan

guru menyatakan bahwa unit tersebut terlalu mudah. Maka unit 1 dalam draft dihapus dan ditambahkan unit

Review sebagaimana saran dari guru bahasa Inggris.

Uji coba produk dilakukan pada tanggal 4 - 28 Maret 2008. Subyek uji coba adalah murid kelas dua

belas Jurusan Bahasa pada MAN Jombang tahun pelajaran 2008/2009. Data yang diperoleh dari guru dan

observasi yang berhubungan dengan kepraktisan dan keefektifan materi selama uji coba dipaparkan secara

kwalitatif dan data dari siswa yang berhubungan dengan bahasa, kesesuaian isi dengan kurikulum,

panjangnya materi menyimak, kecepatan berbicara, kwalitas rekaman dianalisa secara kwantitatif dengan

prosentase.

Hasil uji coba pertama menunjukkan bahwa hanya unit 5 yang perlu direvisi dalam hal bentuk

latihannya. Revisi dilakukan dengan menambahkan soal tertulis pada bagian A dan bagian B yang semula

dalam bentuk membuat ringkasan diubah menjadi menyusun paragraf acak. Kemudian, unit yang telah

direvisi diujicobakan. Hasil uji coba kedua menunjukkan bahwa unit yang direvisi telah sesuai.

Produk akhir berupa materi rekaman pada CD dan Kaset, buku petunjuk guru, dan lembar kerja

siswa. Buku petunjuk guru berisi arahan bagaimana mengajarkan materi tersebut, urutan dalam

mengajarkannya, naskah dan kunci jawaban. Lembar kerja siswa berisi latihan-latihan yang harus dikerjakan

oleh siswa.

Bagi peneliti yang akan melakukan penelitian yang sama disarankan agar mengembangkan materi

menyimak untuk siswa kelas X dan XI. Bagi guru bahasa Inggris yang akan memakai produk penelitian ini

disarankan mengikuti buku petunjuk yang ada dan meragamkan jenis latihan bagian Expansion Activities.



Kata kunci: mengembangkan, prototipe, materi menyimak Bahasa Inggris, MAN Jombang.







Peningkatan Kemampuan Menulis Siswa Kelas 11 MA Hasyim Asy‟ari Kembangbahu

Lamongan melalui Penerapan Strategi Scaffolding



Uzlifatul Masruroh Isnawati



Abstrak

Menyadari rendahnya kemampuan siswa kelas sebelas MA Hasyim Asy‟ari dalam menulis karangan

Bahasa Inggris, maka studi tentang peningkatan kemampuan sisws dalam menulis perlu dilaksanakan.

Penyebab rendahnya kemampuan menulis ini adalah pelaksanaan pengajaran menulis itu sendiri

menggunakan pendekatan yang berpusat pada hasil. Guru kelas hanya menunggu hasil kerja siswa tanpa

membimbing mereka dalam proses menyelesaikan tugas menulis tersebut.

Berdasarkan alasan ini, kemudian strategi scaffolding diterapkan untuk meningkatkan kemampuan

siswa dalam menulis. Sehingga, rumusan masalah dari penelitian ini adalah “Bagaimana meningkatkan

kemampuan siswa kelas 11 MA Hasyim AS‟ari Kembangbahu Lamongan dalam menulis dapat ditingkatkan

dengan menggunakan strategi scaffolding?” Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan strategi scaffolding

dalam proses menulis sehingga kemampuan siswa dalam menulis bisa meningkat. Menurut Vernon (2000),

penggunaan strategi scaffolding dalam menulis dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis karena

Program Studi S2 ING 273







strategi ini memberi kebebasan kepeda guru untuk mengatur kegiatan menulis secara sistematis untuk

memenuhi kebutuhan dari semua siswa.

Penelitian ini adalah penelitian dengan rancangan penelitian tindakan kelas. Pendekatan kolaborasi

tindakan kelas dilaksanakan dimana peneliti secara bersama-sama dengan guru kelas melaksanakan

perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, mengamati tindakan, dan melakukan refleksi tindakan.

Penelitian ini telah berhasil mengimplementasikan strategi scaffolding. Strategi scaffolding

diberikan diberikan dalam seluruh proses menulis yaitu pada tahap pra menulis, tahap pembuatan draft, tahap

perbaikan, tahap pengeditan, dan tahap pemublikasian. Strategi scaffolding yang dilakukan dalam tahap pra

menulis berupa tanya jawab, word webbing, gambar, pemberian daftar kosa kata dan permodelan, Strategi

scaffolding dalam tahap pembuatan draft adalah permodelan dan pembahasan model text. Strategi

scaffolding dalam tahap perbaikan adalah diskusi dengan siswa tentang draft mereka. Strategi scaffolding

dalam tahap pengeditan adalah pengeditan teman sekelas. Strategi scaffolding dalam tahap pemublikasian

adalah membacakan draft akhir di depan kelas dan memajangnya di majalah dinding kelas yang selanjutnya

hasil karangan mereka akan dikomentari oleh teman satu kelas.

Langkah-langkah dari strategi scaffolding dalam proses menulis ini adalah sebagai berikut: a) guru

dan siswa melakukan kegiatan tanya jawab tentang topik, b) guru mengatur semua ide siswa dalam word

webbing, c) guru memberi contoh atau model tentang pembuatan outline, d) siswa menulis outline mereka, d)

guru menunjukkan model draft awal sebagai pengembangan dari outline, f) guru dan siswa mendiskusikan

model dari teks tersebut, g) siswa menulis draft awal, h) guru berdiskusi dengan siswa tentang isi draft

mereka i) siswa merevisi draft mereka, j) siswa menukar revisi draft mereka dengan draft temannya, k) guru

menjelaskan cara mengoreksi atau mengedit draft, l) siswa menulis draft akhir mereka, dan m) siswa

mempublikasikan hasil kerja mereka dengan membacanya di depan kelas di depan teman-teman mereka dan

memajangnya di majalah dinding kelas dan n) siswa memberi komentar/apresiasi atas hasil tulisan teman

mereka. . Terdapat tiga keunggulan dengan menggunakan strategi scaffolding dalam proses menulis.

Pertama, siswa aktif dan termotivasi ketika strategi scaffolding ini diterapkan. Kedua, siswa mampu

menyelesaikan dengan baik tugas-tugas menulis tertentu sebagaimana tujuan pengajaran di tiap tahap dari

proses menulis. Ketiga, hasil dari tugas akhir siswa meningkat dimana 87 % siswa mencapai kriteria skor

minimal adalah tujuh (7).

Akhirnya, beberapa rekomendasi ditawarkan baik untuk guru bahasa Inggris maupun peneliti yang

akan datang. Untuk Guru Bahasa Inggris diharapkan menerapkan strategi scaffolding dalam mengajar

menulis. Dan bagi peneliti yang akan datang agar mengadakan penelitian pada keahlian Bahasa Inggris yang

lain, yaitu pada keahlian membaca, menyimak, dan berbicara dengan menggunakan strategi scaffolding.



Kata kunci: strategi scaffolding, kemampuan menulis







Meningkatkan Kemampuan Menulis Siswa Kelas Dua SMP Negeri 3 Tanggul melalui

Pembelajaran Berbasis Proyek



Wahyu Ekawati



Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa SMP Negeri 3 Tanggul-

Jember kususnya menulis paragraf deskriptif melalui pembelajaran berbasis proyek dikarenakan kemampun

menulis mereka yang kurang dalam empat aspek menulis yaitu pengaturan paragraf atau organisasi,

perbendaharaan kata, tata bahasa, ejaan dan tanda baca.

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas kolaboratif yang melibatkan dua

guru bahasa Ingris dari sekolah dimana penelitian ini dilaksanakan; mereka adalah peneliti sendiri dan

koleganya. Dua siklus diimplementasikan melalui empat langkah yang meliputi kegiatan merencanakan,

mengimplementasikan, mengobservasi dan merefleksi pada setiap siklusnya. Data yang diperoleh melalui

beberapa instrumen seperti: (1) pengecek proyek siswa, (2) catatan lapangan, (3) laporan kemajuan proyek,

(4) portofolio siswa, (5) pedoman pengamatan, dan (6) kuesioner, dianalisa dengan mendeskripsikan semua

kejadian dan peristiwa yang berhubungan dengan pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek dalam pelajaran

menulis paragraf deskriptif yang dilaksanakan dalam empat pertemuan didalam kelas pada jam sekolah dan

diluar kelas setelah pulang sekolah pada setiap siklusnya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui implementasi pembelajaran berbasis proyek dalam dua

siklus, kemampuan menulis siswa kelas 8E SMP Negeri 3 Tanggul-Jember pada tahun pelajaran 2008/2009

khususnya dalam menulis paragraf deskriptif bisa ditingkatkan. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah

274 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







siswa yang mencapai tingkat kemampuan baik menjadi 37 siswa dari 40 siswa atau 92.5 %. Peningkatan ini

dicapai melalui dua tahap dalam setiap siklusnya, yaitu: (1) tahap persiapan yang meliputi persiapan proyek

dan bahasa yang dibutuhkan, dan (2) tahap penyelesaian yang mengunakan kegiatan proses menulis yang

meliputi: (a) pra menulis yang terdiri dari pengamatan ‟hot spot‟ (tempat menarik yang paling disenangi

siswa) sebagai kegiatan luar ruangan dan menuliskan hasil pengamatannya kedalam ‟T-Chart‟ yang sudah

disediakan (format lembar observasi yang berbentuk seperti huruf ‟T‟), dan menulis bebas berdasarkan T-

Chart, (b) membuat rancangan awal berdasarkan hasil menulis bebas, (c) mengevaluasi dengan melakukan

penilaian sendiri dan teman, juga melalui kegiatan konferensi guru dan siswa, dan (d) merevisi untuk

menghasilkan rancangan akhir, dan (e) menulis akhir dengan menyempurnakan tulisan dan memajang hasil

proyek terakhir tersebut di majalah dinding sekolah sebagai kegiatan publikasi.



Kata kunci: pembelajaran berbasis proyek, kemampuan menulis







Menggunakan Buku Saku Kecakapan Keterampilan Fungsional untuk Meningkatkan

Kemampuan Berbicara Bahasa Inggris Siswa di MTsN Munjungan Trenggalek



Wiratno



Abstrak

Pembelajaran bahasa Inggris di MTsN Munjungan belum mencapai tujuan kompetensi komunikatif

karena para siswanya kurang mendapat kesempatan menggunakan bahasa itu. Faktanya kemampuan

berbicara bahasa Inggris para siswa sangat rendah. Mereka sangat cemas dan tidak percaya diri ketika

berbicara bahasa Inggris. Hampir semua siswa bahkan hampir tidak pernah berbahasa Inggris walaupun saat

pelajaran di kelasnya adalah bahasa Inggris.

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana buku saku kecakapan keterampilan

fungsional dapat meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris siswa MTsN Munjungan Trenggalek.

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas kolaboratif karena peneliti dibantu oleh teman sejawatnya

yang juga guru bahasa Inggris. Penelitian ini diaplikasikan pada satu kelas yang terdiri dari tiga puluh lima

anak yang seluruhnya menjadi subjek penelitian.

Model penerapan buku saku kecakapan keterampilan fungsional yang tepat terdiri dari dua sesi

utama. Pertama, pembelajaran di kelas yang mencakup tiga fase: (1) Fase pemanasan, guru mengaktifkan

pikiran/ingatan siswa agar terpusat pada topik yang akan dipelajari; (2) Kegiatan inti mencakup dua tahap:

(a) tahap pemahaman, and (b) percakapan terbimbing; (3) Fase penutup, guru memberikan penguatan

terhadap kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung. Kedua, kegiatan percakapan independen yang

mencakup tahapan-tahapan berikut. (1) Siswa mencari pasangan dan mempersiapkan percakapannya sendiri.

(2) Mereka menemui guru untuk mendemonstrasikan percakapannya. (3) Mereka meminta guru

menandatangani buku sakunya. (4) Mereka meminta orang tua/wali muridnya untuk menandatangani buku

sakunya.

Temuan-temuan penelitian ini mengungkap bahwa penerapan buku saku kecakapan keterampilan

fungsional dapat membantu siswa meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris. Peningkatan

kemampuan siswa dapat dilihat pada peningkatan prosentase respon positif siswa selama dua putaran proses

penelitian.Rata-rata, prosentase respon positif hasil observasi meningkat dari 65.7% di putaran pertama

menjadi 80.7% di putaran kedua; hasil kuesioner close-ended meningkat dari 70.0% menjadi 84.3%; hasil

kuesioner open-ended meningkat dari 71.7% menjadi 84.3%; dan hasil wawancara meningkat dari 73.3%

menjadi 90.0%. Prosentase respon positif hasil observasi tersebut lebih besar dari kriteria keberhasilan 65%,

sedangkan prosentase respon positif hasil kuesioner dan wawancara lebih besar dari kriteria keberhasilan

75%.

Berdasarkan temuan-temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan buku saku kecakapan

keterampilan fungsional dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Oleh karena itu, para guru bahasa

Inggris di sekolah tersebut disarankan menerapakan strategi tersebut dalam pembelajarannya karena ini

sangat praktis dan bermanfaat. Yang terakhir, para peneliti disarankan untuk melakukan penelitian lebih

lanjut terhadap strategi ini dengan konteks dan tingkat kelas yang berbeda.



Kata kunci: buku saku, keterampilan fungsional, kemampuan berbicara

Program Studi S2 ING 275







Keefektivan Pengajaran Tatabahasa dalam Konteks untuk Mengurangi Kesilapan

Tatabahasa Siswa dalam Menulis



Yadhi Nur Amin



Abstrak

Menulis merupakan salah satu keterampilan dasar berbahasa yang harus diajarkan pada siswa

sekolah menengah. Melalui pembelajaran keterampilan menulis, para siswa diharapkan dapat menuangkan

ide, perasaan, pengalaman, dan penguasaan komponen bahasa dalam struktur bahasa Inggris tulis. Namun

demikian, dalam menulis berbahasa Inggris, mereka masih menemui banyak kesulitan. Berdasarkan studi

pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 4 Februari 2008, hasil tulisan siswa MAN Lasem tidak dapat

dipahami dengan baik karena masih terdapat banyak kesilapan tatabahasa. Oleh karena itu, untuk mengurangi

kesilapan tatabahasa dalam tulisan mereka, penggunaan metode pengajaran tatabahasa yang tepat sangat

diperlukan. Maka dari itu, pengajaran tatabahasa dalam konteks yang dipadukan dengan pengajaran menulis

diterapkan untuk mengatasi masalah kesilapan tatabahasa dalam tulisan mereka.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keefektivan pengajaran tatabahasa dalam konteks untuk

mengurangi kesilapan tatabahasa dalam menulis. Masalah penelitian umum yang harus dijawab adalah,

“Apakah siswa yang diajar dengan pengajaran tatabahasa dalam konteks membuat lebih sedikit kesilapan

tatabahasa dalam menulis daripada siswa yang diajar dengan pengajaran tatabahasa secara konvensional?”

Jawaban sementara untuk pertanyaan ini dirumuskan dalam hipotesis kerja yaitu siswa yang diajar dengan

pengajaran tatabahasa dalam konteks membuat lebih sedikit kesilapan tatabahasa dalam menulis daripada

siswa yang diajar dengan pengajaran tatabahasa secara konvensional.

Desain penelitian ini adalah semi-eksperimen dengan rancangan tes awal-tes akhir kelompok

kontrol. Sampel penelitian ini diambil dari populasi kelas X MAN Lasem tahun pelajaran 2008/2009; yaitu

kelas X-7 dengan 40 siswa sebagai kelompok kontrol, dan kelas X-5 dengan 40 siswa sebagai kelompok

eksperimen. Dalam pengumpulan data, dua soal tes menulis digunakan sebagai instrumen; satu soal

digunakan dalam tes awal, dan satu soal lain dalam tes akhir. Dalam tes tersebut, siswa disuruh untuk

menulis sebuah teks recount. Pekerjaan siswa dikoreksi oleh dua penilai yang independen (peneliti sendiri

dan salah satu guru bahasa Inggris MAN Lasem).

Ada tiga langkah dalam analisis data, yaitu: (1) pengujian reliabilitas, (2) pengujian normalitas dan

homogenitas data; dan (3) pengujian hipotesis. Langkah pertama dilakukan untuk mengukur tingkat

reliabilitas penilaian yang dilakukan oleh dua penilai. Langkah kedua dimaksudkan untuk menguji normalitas

dan homogenitas distribusi data, sementara langkah ketiga dilaksanakan untuk menjawab masalah penelitian.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai rerata komponen tatabahasa dari kelompok

eksperimen dalam tes awal dan tes akhir masing-masing adalah 37,80 dan 54,00. Hal ini berarti bahwa nilai

rerata dalam tes akhir lebih tinggi daripada nilai rerata dalam tes awal; dan nilai rerata naik 16,20 poin

setelah pelaksanaan strategi. Sementara itu, nilai rerata dari kelompok kontrol masing-masing adalah 37,00

dan 37,20; yang berarti bahwa nilai rerata hanya naik 0,20 poin. Singkatnya, nilai rerata dari kelompok

eksperimen lebih tinggi daripada nilai rerata kelompok kontrol.

Hasil ini juga didukung oleh pengujian reliabilitas tes dari kelompok eksperimen yang masing-

masing adalah 0,89 dalam tes awal dan 0,73 dalam tes akhir; sementara itu, hasil pengujian reliabilitas dari

kelompok kontrol yaitu 0,99 baik dalam tes awal maupun tes akhir. Hal ini menunjukkan bahwa hasil

tersebut mempunyai tingkat reliabilitas yang tinggi. Selanjutnya, hasil uji normalitas menunjukkan bahwa

nilai assymp.sig. (2-tailed) dari tes menulis kedua kelompok tersebut pada tingkat signifikan 0,05 adalah

0,00. Hal ini menunjukkan bahwa distribusi data adalah normal. Selain itu, hasil uji homogenitas yang

menggunakan F-Lavene dengan tingkat signifikan 0,05 menunjukkan bahwa varian antara kelompok kontrol

dan kelompok eksperimen untuk tes menulis teks recount tidaklah berbeda atau homogen. Berdasarkan hasil

uji normalitas dan homogenitas tersebut, soal tes dianggap reliabel untuk digunakan dalam uji hipotesis.

Selanjutnya, analisis varian (ANOVA) digunakan dalam uji hipotesis untuk mengetahui perbedaan hasil

kemampuan menulis dari kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dengan menggunakan tingkat

signifikan 0,05.

Selanjutnya, untuk mempermudah dalam analisis data, hipotesis kerja lebih dulu diformulasikan

dalam hipotesis nol, yaitu “Siswa yang diajar tatabahasa dalam konteks tidak melakukan lebih sedikit

kesilapan tatabahasa daripada siswa yang diajar tatabahasa secara konvensional. Hasil analisis menunjukkan

bahwa F-hitung yang diperoleh adalah 17,967 dan F-tabel adalah 3,963. Dengan menggunakan cara yang

sama yaitu memperbandingkan F-hitung dan F-tabel seperti yang digunakan dalam uji hipotesis, F-hitung

yang diperoleh lebih tinggi daripada F-tabel. Hal itu berarti bahwa ada cukup bukti untuk menolak hipotesis

nol dan menerima hipotesis kerja. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa siswa yang diajar dengan

276 KUMPULAN ABSTRAK TESIS & DISERTASI 2008/2009







tatabahasa dalam konteks membuat lebih sedikit kesilapan tatabahasa dalam menulis daripada siswa yang

diajar tatabahasa secara konvensional. Dengan kata lain, strategi yang diujikan ini (pengajaran tatabahasa

dalam konteks) terbukti efektif untuk mengurangi kesilapan tatabahasa siswa dalam menulis.

Kata kunci: tatabahasa dalam konteks, mengurangi, kesilapan tatabahasa, menulis





Mengembangkan Materi Pengajaran Mata Kuliah Writing untuk Mahasiswa pada Program

Studi Pendidikan Bahasa Inggris STKIP Santu Paulus Ruteng



Yerni Miss Endang Polly



Abstrak

Salah satu komponen yang menentukan keberhasilan dalam proses pembelajaran di kelas adalah

ketersediaan materi pengajaran yang berfungsi sebagai sumber ilmu yang dapat mempermudah proses

pembelajaran. Ketersediaan materi tersebut sangat penting terutama dalam pembelajaran menulis di mana

banyak siswa menghadapi kesulitan ketika menuangkan idenya dalam tulisan. Pada Program Studi

Pendidikan Bahasa Inggris di STKIP Santu Paulus Ruteng materi pembelajaran Writing III yang sesuai

dengan silabus yang dipakai belum ada. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan

mengembangkan materi pembelajaran untuk mata kuliah Writing III.

Penelitian ini adalah penelitian pengembangan karena tujuannya adalah untuk mengembangkan

suatu produk, dalam penelitian ini adalah materi pembelajaran mata kuliah Writing III. Berdasarkan adaptasi

model pengembangan yang dikemukakan oleh Borg and Gall (1983:775), beberapa langkah pengembangan

dilakukan sebagai berikut. Langkah pertama adalah proses pengumpulan informasi mengenai

ketidaktersediaan materi untuk Writing III, dilanjutkan dengan pengembangan materi, proses validasi oleh

seorang ahli dalam pengembangan produk dan seorang ahli di bidang pembelajaran menulis, proses revisi, uji

coba pada mahasiswa semester IV Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di STKIP Santu Paulus Ruteng,

proses revisi sesudah uji coba, dan produk akhir. Dalam proses validasi ahli dan uji coba, ada pedoman

evaluasi dan catatan lapangan yang dipakai sebagai instrumen untuk merekam masukan dari para ahli, dosen,

dan mahasiswa dalam rangka perbaikan produk tersebut. Materi pembelajaran mata kuliah Writing III yang

dikembangkan terdiri atas 7 unit dan memuat penjelasan tentang konsep dasar, model teks, contoh, dan

latihan menulis dengan menggunakan pendekatan proses. Hasil evaluasi para ahli menunjukkan bahwa selain

terdapat kelebihan dalam materi tersebut, ada juga beberapa kelemahan yang perlu direvisi. Ketika

diujicobakan, para mahasiswa terlihat antusias mengikuti seluruh proses pembelajaran dengan menggunakan

materi tersebut. Ketika diminta pendapat mereka tentang apa yang hendak diperbaiki dalam produk tersebut,

mereka menyarankan untuk menambahkan beberapa contoh lagi di setiap unit, dan karena itu produk direvisi

seperti yang disarankan. Oleh karena itu, sesudah melakukan revisi dari hasil validasi ahli dan uji coba,

produk akhir dapat diselesaikan seperti terlihat pada bagian akhir dari tesis ini.

Berdasarkan hasil penelitian, ada beberapa saran yang dapat dikemukakan sebagai berikut. Pertama,

ketika akan menggunakan materi ini, dosen Writing III disarankan untuk memperhatikan alokasi waktu

karena satu unit dialokasikan untuk 2 kali pertemuan. Pada awal pertemuan pertama, dosen menjelaskan

konsep dan model teks, kemudian diikuti oleh penulisan esei dengan pendekatan proses termasuk kegiatan

mengumpulkan ide dan penulisan draf awal. Pada pertemuan kedua, kegiatan di kelas adalah berupa kegiatan

merevisi dan mengedit sekaligus menulis draf akhir. Untuk memonitor kemajuan siswa dalam menulis, dosen

dapat memperkenalkan penggunaan portofolio untuk merekam seluruh aktivitas menulis dan semua draf yang

dihasilkan oleh siswa. Bagi para mahasiswa yang mengambil mata kuliah Writing III, mereka dapat belajar

sendiri dengan menggunakan materi tersebut ketika dosen berhalangan hadir. Mereka dapat mengikuti

petunjuk di dalam materi mulai dari tujuan, konsep, model teks, latihan, dan latihan menulis dengan

pendekatan proses. Kedua, upaya untuk memperkenalkan materi ini dapat dilakukan pada awal pertemuan

kepada mahasiawa. Para dosen yang mengajar mata kuliah Writing III juga dapat diperkenalkan pada materi

ini untuk dipakai di kelas. Sosialisasi dapat pula dilakukan kepada institusi dalam rangka memperoleh izin

penggunaan materi ini di kelas. Untuk memperbaiki produk tersebut, uji coba yang lebih luas perlu

dilakukan. Selain itu, lebih banyak orang terutama para dosen mata kuliah Writing III perlu dilibatkan untuk

memberikan kontribusi bagi perbaikan materi tersebut. Bagi peneliti lain dalam bidang pengembangan materi

terutama menulis, penelitian ini termasuk produk yang dihasilkan dapat dipakai sebagai rujukan dalam

penelitian mereka.



Kata kunci: pengembangan, materi pengajaran, Writing

Program Studi S2 ING 277







Pengembangan Silabus Bahasa Inggris Komunikatif untuk Siswa Awak Kabin

di Pusat Pelatihan



Yudi Setyaningsih



Abstrak

Studi ini dimaksudkan untuk mengembangkan seperangkat silabus untuk siswa awak kabin yang

sedang menempuh pendidikan di pusat pelatihan awak kabin. Karena kemampuan berkomunikasi dengan

penumpang asing menggunakan Bahasa Inggris sangat penting, silabus yang dikembangkan dibuat

berdasarkan kemampuan komunikatif sebagai dasar dalam pengembangannya. Penelitian hasil kerja

pengembangan (Research and Development) ini didasarkan pada teori Yalden dalam artikelnya yang berjudul

Language Program Development yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa dengan melalui delapan tahapan,

yaitu: 1) Melaksanakan survey kebutuhan, 2) Mendeskripsikan/menentukan tujuan, 3) memilih tipe silabus,

4) menulis proto silabus, 5) menulis silabus pengajaran, 6) uji coba silabus, 7) evaluasi/revisi silabus, dan 8)

produk akhir.

Silabus yang dikembangkan ini terdiri dari topik-topik yang berhubungan dengan dunia

penerbangan, yaitu: 1) Boarding and seating, 2) Before Take-off, 3) Meals and Drinks Service, 4)

socializing/personal service/extra care, 5) Sales On-board, 6) Giving Information and before Landing, 7)

After Landing and Parting, 8) Flight Safety Procedure, 9) Announcement, dan 10) Language Reinforcement.

Topik-topik ini akan disajikan dalam dua belas kali pertemuan dengan waktu Sembilan puluh menit per

pertemuan. Silabus yang sudah dilengkapi dengan tabel penyebaran kegiatan dan satuan pelajaran ini

kemudian diuji-cobakan oleh guru Bahasa Inggris yang mengajar ESP di salah satu pusat pelatihan awak

kabin di Malang. Setelah uji coba dilaksanakan kemudian dievaluasi oleh para pakar silabus, direvisi, untuk

kemudian diolah untuk menjadi hasil akhir.

Silabus yang diusulkan ini akan sangat berguna untuk para pengajar Bahasa Inggris yang

mengajarkan ESP di pusat pelatihan awak kabin karena telah dilengkapi dengan satuan pelajaran yang

menguraikan dengan sangat jelas kegiatan-kegiatan belajar/mengajar serta materi pengajaran yang terutama

bersumber dari internet. Para pengajar Bahasa Inggris dan siswa awak kabin akan sangat terbantu oleh

silabus ini karena pembuatannya didasarkan pada survey kebutuhan yang dilakukan terhadap orang-orang

yang terlibat dalam dunia penerbangan. Silabus ini juga merefleksikan keadaan-keadaan nyata di dunia

penerbangan sehingga para awak kabin akan mampu berkomunikasi dengan baik menggunakan Bahasa

Inggris yang baik dan benar karena hal tersebut merupakan aspek yang sangat penting di dalam dunia

penerbangan.

Saran untuk langkah selanjutnya adalah penggunaan silabus di pusat pelatihan awak kabin yang

menggunakan silabus komunikatif yang didasarkan pada survei kebutuhan terlebih dahulu untuk mengetahui

apa yang ada di dunia nyata. Dengan begitu, maka pengajaran Bahasa Inggris di pusat pelatihan awak kabin

akan semakin mengena pada sasaran yaitu seorang awak kabin tidak saja cakap dalam melayani penumpang

namun juga mampu berbahasa Inggris secara baik dan benar dan dimengerti oleh penumpang asing.



Kata kunci: silabus, ESP, awak kabin


Related docs
Other docs by HC111117035539
Minyak buah jarak
Views: 34  |  Downloads: 0
BABI
Views: 36  |  Downloads: 0
Chapitre 6 Transmission atmosph�rique
Views: 0  |  Downloads: 0
Integrated Development
Views: 5  |  Downloads: 0
LISTA CANDIDATOS INSCRITOS REGION LIMA
Views: 2  |  Downloads: 0
Awus kefin ajar afin
Views: 1  |  Downloads: 0
The Sharper Image �
Views: 0  |  Downloads: 0
Log Book
Views: 1  |  Downloads: 0
sant�
Views: 4  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!