ABSTRAK
BAGI HASIL – PERJANJIAN
1960
UU No. 2 TAHUN 1960
UNDANG-UNDANG TENTANG PERJANJIAN BAGI HASIL
ABSTRAK : - Agar pembagian hasil tanah antara pemilik dan penggarap dapat
Adil dan terjamin maka perlu adanya Undang-Undang yang
mengatur perjanjian pengusahaan tanah dengan bagi hasil.
- Dasar Hukum Undang-Undang ini adalah :
Pasal 27 ayat (2) dan Pasal 33 ayat (1) dan (3) Undang-Undang
Dasar 1945; Pasal 5 ayat (1) jo Pasal 20 ayat (1) Undang-
Undang Dasar 1945.
- Dalam Undang-Undang ini diatur tentang :
1. Pengertian tentang tanah, pemilik, perjanjian bagi hasil, hasil
tanah, dan petani.
2. Bentuk perjanjian harus dibuat sendiri oleh pemilik dan
penggarap, secara tertulis di hadapan Kepala Desa/ Lurah
setempat.
3. Jangka waktu perjanjian adalah sekurang-kurangnya 3
(tiga) tahun untuk sawah dan sekurang-kurangnya 5 (lima)
tahun untuk tanah kering. Namun pada waktu berakhirnya
perjanjian bagi hasil tersebut, terdapat tanaman yang belum
dapat dipanen, maka perjanjian tersebut berlaku terus
sampai waktu tanaman itu selesai dipanen, tetapi
perpanjangan waktu tidak boleh lebih dari satu tahun.
4. Jika penggarap meninggal dunia maka perjanjian bagi hasil
itu dilanjutkan oleh ahli warisnya dengan hak dan kewajiban
yang sama.
5. Pemutusan perjanjian bagi hasil sebelum berakhirnya jangka
waktu perjanjian hanya mungkin dilakukan dengan :
a. atas persetujuan kedua pihak yang bersangkutan dan
setelah dilaporkan pada Kepala Desa/Lurah;
b. Izin Kepala Desa atas tuntutan pemilik, karena
penggarap tidak mengusahakan tanah atau tidak
memenuhi kewajibannya.
6. Ketentuan dalam Undang-Undang ini tidak berlaku terhadap
perjanjian-perjanjian bagi hasil mengenai tanaman keras;
CATATAN : Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal 7 Januari 1960
AGRARIA
1960
UU NO. 5 TAHUN 1960
PERATURAN DASAR POKOK-POKOK AGRARIA
ABSTRAK : - Hukum agraria yang berlaku saat ini sebagian tersusun
berdasarkan tujuan dan sendi-sendi dari pemerintahan
jajahan dan sebagian dipengaruhi olehnya, hingga
bertentangan dengan kepentingan rakyat dan Negara di
dalam menyelesaikan revolusi nasional sekarang ini serta
pembangunan semesta.
Hukum agraria tersebut mempunyai sifat dualisme, dengan
berlakunya hukum adat di samping hukum agraria yang
didasarkan atas hukum barat. Sedangkan hukukm asli
hukum agraria penjajahan itu tidak terjamin kepastian
hukumnya.
Berhubung dengan itu, perlu adanya hukum agraria
nasional yang berdasarkan hukum adat tentang tanah,
yang sederhana dan menjamin kepastian hukum bagi
seluruh rakyat Indonesia, dengan tidak mengabaikan
unsur-unsur yang bersandar pada hukum agama.
- Dasar hukum Undang-undang ini adalah:
a. Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959;
b. Pasal 33 Undang-undang Dasar;
c. Penetapan Presiden No, 1 Tahun 1960 (Lembaran
Negara 1960 No. 10) tentang Penetapan Manifesto
Politik Republik Indonesia tanggal 17 Agustus 1959
sebagai Garis-garis besar haluan negara, dan
Amanat Presiden tanggal 17 Agustus 1960;
d. Pasal 5 jo. 20 Undang-undang Dasar;
Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat
Gotong Royong.
- Dalam Undang-undang ini diatur tentang:
1. Seluruh bumi, air, dan ruang angkasa, termasuk
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dalam
wilayah Republik Indonesia sebagai karunia Tuhan
YME adalah bumi, air dan ruang angkasa bangsa
Indonesia dan merupakan kekayaan nasional.
Hubungan antara bangsa Indonesia dan bumi, air
serta ruang angkasa tersebut adalah hubungan yang
bersifat abadi.
2. Bumi, air, dan ruang angkasa, termasuk kekayaan
alam yang terkandung di dalamnya itu pada tingkatan
tertinggi dikuasai oleh Negara, sebagai organisasi
kekuasaan seluruh rakyat. Hak menguasai dari
Negara tersebut memberikan wewenang untuk:
a. Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan,
penggunaan, persediaan, dan pemeliharaan bumi,
air dan ruang angkasa tersebut;
b. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan
hukum antara orang-orang dengan bumi, air dan
ruang angkasa;
c. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan
hukum antara orang-orang dan perbuatan-
perbuatan hukum yang mngenai bumi, air dan
ruang angkasa.
3. Hukum agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang
angkasa ialah hukum adat, sepanjang tidak
bertentangan dengan kepentingan nasional dan
Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa,
dengan sosialisme Indonesia serta denagn peraturan-
peraturan yang tercantum dalam Undang-undang ini
dan dengan peraturan perundangan lainnya, segala
sesuatu dengan mengindahkan unsur-unsur yang
bersandar pada hukum agama.
4. Semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial, agar
tidak merugikan kepentingan umum maka pemilikan
dan penguasaan tanah yang melalmpaui batas tidak
diperkenankan.
5. Segala usaha bersama dalam lapangan agraria
didasarkan atas kepentingan bersama dalam rangka
kepentingan nasional, dalam bentuk koperasi atau
bentuk-bentuk gotong royong lainnya.
6. Pemerintah dalam rangka sosialisme Indonesia,
membuat suatu rencana umum mengenai
persediaan, peruntukan dan penggunaan bumi, air
dan ruang angkasa serta kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya:
a. Untuk keperluan Negara;
b. Untuk keperluan peribadatan dan keperluan-
keperluan suci lainnya, sesuai dengan dasar
Ketuahan yang Maha Esa;
c. Untuk keperluan pusat-pusat kehidupan
masyarakat, sosial, kebudayaan dan lain-lain
kesejahteraan;
d. Untuk keperluan memperkembangkan produksi
pertanian, peternakan dan perikanan serta sejalan
dengan itu;
e. Untuk keperluan memperkembangkan isdustri,
transmigrasi dan pertambangan.
7. Kewajiban tiap-tiap orang, badan hukum atau instansi
yang mempunyai hubungan hukum dengan tanah itu
adalah memelihara tanah termasuk menambah
kesuburannya serta mencegah kerusakannya,
dengan memperhatikan pihak yang ekonomisnya
lemah.
8. Hak-hak atas tanah terdiri dari:
a. Hak milik, adalah hak turun temurun, terkuat dan
terpenuh yang dapat dipunyai orang atas tanah
yang dapat beralih dan dialihkan kepada pihak lain
dan dapat dijadikan jaminan utang dengan
dibebani hak tanggungan. Hanya WNI yang dapat
memiliki hak milik.
b. Hak guna usaha, adalah hak untuk
mengusahakan tanah yang dikuasai langsung
oleh Negara, dalam jangka waktu tertentu yang
diperuntukkan guna usaha pertanian, perikanan,
atau peternakan.;
c. Hak guna bangunan, adalah hak untuk mendirian
dan mempunyai bangunan-bangunan atas tanah
yang bukan miliknya sendiri, dengan jangka waktu
paling lama 30 tahun.
d. Hak pakai, adalah hak untuk menggunakan
dan/atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai
langsung oleh Negara atau tanah milik orang lain,
yang memberi wewenang dan kewajiban yang
ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh
pejabat yang berwenang memberikannya atau
dalam perjanjian dengan pemilik tanahnya, yang
bukan perjanjian sewa menyewa atau perjanjian
pengolahan tanah, segala sesuatu asal tidak
bertentang dengan jiwa dan ketentuan-ketentaun
dalam Undang-undang ini.;
e. Hak sewa, hak seseorang atau badan hukum
untuk mempergunakan tanah milik orang lain
untuk keperluan bangunan dengan membayar
kepada pemiliknya sejumlah uang sebgai sewa.
f. Hak membuka tanah;
g. Hak memungut hasil hutan;
h. Hak-hak lain yang tidak termasuk dalam hak-hak
tersebut di atas yang akan ditetapkan dengan hak-
hak yang sifatnya sementara.
9. Hak-hak atas air dan ruang angkasa meliputi:
a. Hak guna air;
b. Hak pemeliharaan dan penangkapan ikan;
c. Hak guna ruang angkasa.
10. Hak-hak tas tanah dapat dicabut dengan memberi
ganti kerugian yang layak dan menurut cara yang
diatur dengan Undang-undang untuk kepentingan
umum, termasuk kepentingan bangsa dan Negara
serta kepentingan bersama dari rakyat.
11. Untuk menjamin kepastian hukum oleh Pemerintah
diadakan pendaftaran tanah di seluruh wilayah
Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan
yang diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pendaftaran tersebut meliputi:
a. Pengukuran perpetaan dan pembukuan tanah;
b. Pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan
hak-hak tersebut;
c. Pemberian surat-surat tanda bukti, yang berlaku
sebagai alat pembuktian yang kuat.
12. Terjadinya hak milik menurut hukum adat diatur
dengan Peraturan Pemerintah, selain menurut cara
tersebut, hak milik dapat terjadi karena:
a. Penetapan Pemerintah, menurut cara dan syarat-
syarat yang ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah;
b. Ketentaun Undang-undang.
13. Hak guna usaha terjadi karena penetapan
Pemerintah. Hak guna usaha dapat hapus karena:
a. Jangka waktunya berakhir;
b. Dihentikan sebelum jangka waktunya berakhir
karena suatu syarat tidak dipenuhi;
c. Dilepaskan oleh pemegang haknya sebelum
jangka waktunya berakhir;
d. Dicabut untuk kepentingan umum;
e. Ditelantarkan;
f. Tanahnya musnah;
14. Hak guna bangunan dapat dijadikan jaminan utang
dengan dibebani hak tanggungan. Hak guna
bangunan dapat terjadi karena:
a. Mengenai tanah yang dikuasai langsung oleh
Negara : karena penetapan Pemerintah;
b. Mengenai tanah milik : karena perjanjian yang
berbentuk otentik antara pemilik tanah yang
bersangkutan dengan pihak yang akan
memperoleh hak guna bangunan itu, yang
bermaksud menimbilkan hak tersebut.
15. Hak guna ruang angksa memberi wewenang untuk
mempergunakan tenaga dan unsur-unsur dalam
ruang angkasa guna usaha-usaha memelihara dan
memperkembangkan kesuburan bumi, air, serta
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dan
hal-hal lainnya yang bersangkutan dengan itu.
16. Hak milik tanah badan-badan keagamaan dan sosial
sepanjang dipergunakan untuk usaha dalam bidang
keagamaan dan sosial diakui dan dilindungi. Badan-
badan tersebut dijamin pula akan memperoleh tanah
yang cukup untuk bangunan dan usahanya dalam
bidang keagamaan dan sosial.
17. Hak-hak yang sifatnya sementara ialah hak gadai,
hak usaha bagi hasil, hak menumpang, dan hak sewa
tanah pertanian diatur untuk membatasi sifat-sifatnya
yang bertentangan dengan Undang-undang ini dan
hak-hak tersebut diusahakan hapusnya di dalam
waktu yang singkat.
18. Selama peraturan-peraturan pelaksanaan Undang-
undang ini belum terbentuk, maka peraturan-
peraturan, baik tertulis maupun yang tidak tertulis
mengenai bumi dan air serta kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya dan hak-hak atas tanah,
yang ada mulai berlakunya Undang-undang ini, tetap
berlaku, sepanjang tidak bertentangan dengan jiwa
dari ketentuan-ketentuan dalam Undang-undang ini
serta diberi tafsiran sesuai dengan itu.
19. Hak eigendom kepunyaan Pemerintah Negara Asing,
yang dipergunakan untuk keperluan rumah kediaman
Kpeala Perwakilan dan gedung kedutaan, sejak mulai
berlakunya Undang-undang ini menjadi hak pakai,
yang akan berlangsung selama tanahnya
dipergunakan untuk keperluan tersebut.
20. Hak-hak hypotheek, servituut, vruchtgebruik dan hak-
hak lain yang membebani hak milik dan hak guna
bangunan, sedangkan hak-hak tersebut menjadi
suatu hak menurut Undang-undang ini.
21. Hak erfpacht untuk perusahaan perkebunan besar,
yang ada pada mulai berlakunya Undang-undang ini,
sejak saat tersebut menjadi hak guna usaha yang
akan berlangsung selama sisa waktu hak erfpacht
tersebut, tetapi paling lama 20 tahun.
22. Hak erfpacht untuk pertanain kecil yangad a pada
mulai berlakunya Undang-undang ini, sejak saat
tersebut hapus, dan selanjutnya diselesaikan menurut
ketentuan-ketentuan yang diadakan oleh Menteri
Agraria.
23. Pemegang consessie dan sewa untuk perusahaan
kebun besar dalam jangka waktu satu tahun sejak
mulai berlakunya Undang-undang ini harus
mengajukan permintaan kepada Menteri Agraria agar
haknya diubah menjadi hak guna usaha. Jika
sesudah jangka waktu tersebut lampau permintaan itu
tidak diajukan, maka consessie dan sewa yang
bersangkutan berlangsung terus selama sisa
waktunya, tetapi paling lama lima tahun dan sesudah
itu berakhir dengan sendirinya.
24. Hak opstal dan hak efrpacht untuk perumahan, yang
ada sejak berlakunya Undang-undang ini, sejak saat
tersebut menjadi hak guna bangunan yang
berlangsung selama sisa waktu hak opstal dan hak
erfpacht tersebut, tetapi paling lama 20 tahun.
CATATAN : - Dengan berlakunya Undang-undang ini maka:
1. ”Agrarische Wet” (Staatsblad 1870 No. 55) sebagai
yang termuat dalam Pasal 51 ”Wet op de
Staatsinrichting van Nedherlands Indie” (Staatsblad
1925 No. 447) dan ketentuan-ketentuan dalam ayat-
ayat lainnya dari pasal itu;
2. a. ”Domeinverklaing” tersebut dalam Pasal 1
”Agrarisch Besluit” (Staatsblad 1870 No. 118)
b. ”Algemene Domeinverklaring” tersebut dalam
Staatsblad 1874 No. 119A;
c. ”Domeinverklaring Sumatera ” tersebut dalam
Pasal 1 dari Staatsblad 1877 No. 55;
d. Domeinverklaring untuk karesidenan Manado”
tersebut dalam pasal 1 dari Staatsblad 1877 No.
55;
Undang-undang ini mulai berlaku sejak tanggal 24 September 1960
KESEHATAN HEWAN – PETERNAKAN
1967
UU No. 6 TAHUN 1967, LN TAHUN 1967 NO. 10, TLN NO. 2824
UNDANG-UNDANG TENTANG KETENTUAN-KETENTUAN POKOK
PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN
ABSTRAK : - Tanah air Indonesia mempunyai potensi yang besar di bidang
peternakan, yang harus dimanfaatkan untuk kemakmuran,
kesejahteraan, peningkatan taraf hidup, serta pemenuhan
kebutuhan rakyat akan protein hewani.
Peraturan dan perundangan di bidang kehewanan yang ada
sudah tidak sesuai lagi dengan landasan hukum bagi
penyelenggaraan usaha-usaha yang dimaksud.
Berdasarkan hal tersebut perlu disusun dan ditetapkan dasar-
dasar baru untuk mendidik dan membangun dalam bidang
peternakan dan kesehatan hewan.
- Dasar Hukum Undang-Undang ini adalah :
Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1)
dan Pasal 33; Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat
Sementara Nomor XXIII/MPRS/1966; Ketetapan Majelis
Permusyawaratan Rakyat Sementara
NomorXXXIII/MPRS/1967;
- Dalam Undang-Undang ini diatur tentang :
1. Pengertian Hewan, Hewan Piara, Rumpun, Ternak,
Peternak, Peternakan, Peternakan Murni, Persilangan,
Perusahaan Peternakan, Penyakit Hewan Menular,
Antrophozoonosis, Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ahli
dan Kesejahteraan Hewan.
2. Untuk menjamin persediaan makanan ternak dalam jumlah
yang cukup dan mutu yang baik, maka :
a. Bagi peternakan-peternakan dan perusahaan-
perusahaan peternakan harus tersedia tanah dan air
untuk menyelenggarakan padang rumput atau
penanaman tanam-tanaman yang menghasilkan hijau-
hijauan dan makan ternak;
b. Diadakan kebun-kebun pembenihan bibit untuk
tanaman hijau-hijauan dan makanan ternak;
c. Mengusahakan bahan makanan ternak, termasuk
makanan penguat
3. Bentuk usaha peternakan dibedakan menjadi :
a. Peternakan rakyat : peternakan yang dilakukan oleh
rakyat antaran lain petani disamping usaha pertaniannya;
b. Perusahaan Peternakan : peternakan yang
diselenggarakan dalam bentuk suatu perusahaan secara
komersial.
4. Tata cara perkembangbiakan, untuk mempertahankan dan
meningkatkan mutu suatu rumpun ternak maka :
a. Di daerah-daerah, dimana suatu rumpun ternak telah
mencapai mutu yang tinggi di dalam suatu produksi,
harus dijalankan peternakan murni;
b. Di daerah-daerah lain, jika dipandang perlu diadakan
perkembangbiakan/persilangan untuk mencapai
jurusan produksi tertentu;
c. Bibit ternak jantan, yang kurang baik atau tidak sesuai
dengan jurusan produksi di suatu daerah, harus
dicegah penggunaannya sebagai ternak pemacek
dengan jalan kastrasi atau dipotong;
d. Disediakan bibit unggul dan didirikan balai-balai
pembuahan tiruan di daerah peternakan;
e. Diusahakan, supaya ada imbangan yang wajar antara
jumlah ternak jantan dan ternak betina.
5. Untuk memajukan peternakan dilakukan usaha-usaha
berikut ;
a. Mengusahakan diadakannya penelitian-penelitian dan
percobaan-percobaan ilmiah baik oleh Pemerintah
maupun oleh swasta, yang hasil-hasilnya kemudian
disalurkan dan disebarluaskan kepada peternak-peternak
dan perusahaan-perusahaan peternakan yang
bersangkutan;
b. Mengadakan penyuluhan dan pameran-pameran ternak
dan hasil-hasil industri peternakan untuk memberikan
pengertian dan kesadaran kepada masyarakat pada
umumnya dan para peternak pada khususnya mengenai
soal-soal yang bersangkutan dengan usaha-usaha
peternakan dan pengolahan bahan-bahan yang bberasal
dari ternak, hingga dapat digerakkan swadaya rakayat di
dalam penyelenggaraan usaha-usaha itu, baik oleh
Pemerintah maupun swasta;
c. Pemerintah mengadakan sensus ternak dan
menyelenggarakan statistic tentang usaha-usaha
peternakan dan pengolahan bahan-bahan yang bberasal
dari ternak dan perdagangannya.
d. Dengan Peraturan Pemerintah yang bertujuan untuk
mendorong, membantu, mempercepat, dan menjamin
kelangsungan pembangunan di bidang peternakan
diadakan usaha-usaha, yang dimungkinkan oleh
Undang-undang dalam kebutuhan materiil dan fasilitas-
fasilitas lainnya.
6. Mengenai kesehatan hewan dibagi menjadi :
a) Urusan kesehatan hewan meliputi urusan penolakan,
pencegahan, pemberantasan penyakit hewan, baik
secara massal maupun secara individual;
b) Urusan kesehatan masyarakat veteriner meliputi
urusan kesehatan bahan makanan yang bberasal dari
hewan, dan urusan openyakit-penyakit hewan yang
termasuk antrphozoonosa;
c) Urusan kesejahteraan hewan meliputi urusan
pemeliharaan, perawatan, pengangkutan, pemakaian,
pemotongan dan pembunuhan hewan.
7. Pencegahan penyakit hewan meliputi : karantina,
pengawasan lalu lintas hewan, pengawasan atas impor dan
ekspor hewan; pengebalan hewan, pemeriksaan dan
pengujian penyakit, tindakan hygiene.
8. Pemberantasan penyakit hewan meliputi :
a. Penutupan suatu daerah tertentu untuk keluar dan
masuknya hewan;
b. Pembatasan bergerak dari hewan di daerah itu;
c. Pengasingan hewan sakit atau yang tersangka sakit;
d. Pembinaan hewan hidup atau mati, yang ternyata
dihinggapi penyakit menular.
9. Pengobatan penyakit hewan meliputi :
a. Pengawasan dan pemeriksaan hewan;
b. Penyediaan obat-obatan dan immune-sera oleh
Pemerintah atau swasta, baik dari dalam maupun luar
negeri;
c. Urusan-urusan pemakaian obat-obatan dan immune-
sera.
CATATAN : Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal 8 Juli 1967
HAYATI – KONSERVASI – HAYATI
1990
UU NO. 5 TAHUN 1990
UNDANG-UNDANG TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI
DAN EKOSISTEMNYA
ABSTRAK : - Unsur-unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada
dasarnya saling tergantung antara satu dengan yang lainnya
dan saling mepengaruhi sehingga kerusakan dan kepunahan
salah satu unsur akan berakibat tergganggunya ekosistem;
Untuk menjaga agar pemanfaatan sumber daya alam hayati
dapat berlangsung dengan cara sebaik-baiknya, maka
diperlukan langkah-langkah konservasi sehingga sumber daya
alam hayati dan ekosistemnya sehingga sumber daya alam
hayati dan ekosistemnya selalu terpelihara dan mampu
mewujudkan keseimbangan serta melekat dengan
pembangunan itu sendiri;
Peraturan perundang-undangan yang ada dan masih berlaku
merupakan produk hokum warisan pemerintah kolonial yang
bersifat paralel, sehingga perlu dicabut karena sudah tidak
sesuai dengan perkembangan hukum dan kepentingan
nasional;
Peraturan perundang-undangan produk hukum nasional yang
ada belum menampung dan mengatur secara menyeluruh
mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan
ekosistemnya. Sehubungan dengan hal-hal tersebut, dipandang
perlu menetapkan ketentuan mengenai konservasi sumber daya
alam hayati dan ekosistemnya dalam suatu Undang-undang.
- Dasar hukum Undang-undang ini adalah :
1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 Undang-
undang Dasar 1945;
2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-
ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara tahun 1967
Nomor 8, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823);
3. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-
ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran
Negara Tahun 1982 nomor 12, Tambahan Lembaran
Negara nomor 3215);
4. Undang-undang Nomor 20 tahun 1982 tentang Ketentuan-
ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik
Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 nomor 51,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368);
5. Undang-undang Nomor 9 tahun 1985 tentang Perikanan
(Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3290).
- Dalam Undang-undang ini diatur tentang :
1. Pengertian Sumber Daya Alam Hayati, Konservasi Sumber
Daya Alam Hayati, Ekosistem Sumber Daya Alam Hayati,
Tumbuhan, Satwa, Tumbuhan Liar, Satwa Liar, Habitat,
Kawasan Suaka Alam, Cagar Alam, Suaka Margasatwa,
Cagar Biosfer, Kawasan Pelestarian Alam, Taman Nasional,
Taman Hutan Raya, Taman Wisata.
2. Asas Konservasi SDA Hayati dan ekosistemnya adalah
pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya
alam hayati dan ekosistemnya secara serasi dan seimbang.
3. Tujuan Konsercasi SDA Hayati dan ekosistemnya adalah
untuk mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya
alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga
dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan
masyarakat dan mutu kehidupan manusia.
4. Kegiatan Konservasi SDA Hayati dan ekosistemnya antara
lain:
a. Perlindungan sistem penyangga kehidupan;
b. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan stwa
beserta ekosistemnya;
c. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati
dan ekosistemnnya.
5. Setiap pemegang hak atas tanah dan hak pengusahaan di
perairan dalam wilayah sistem penyangga kehidupan wajib
menjaga kelangsungan fungsi perlindungan wilayah
tersebut.
6. Wilayah sistem penyangga kehidupan yang mengalami
kerusakan secara alami dan/atau oleh karena
pemanfaatannya serta oleh sebab-sebab lainnya diikuti
dengan upaya rwhabilitasi secara berencana dan
berkesinambungan.
7. Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta
ekosistemnya, dilaksanakan melalui kegiatan:
a. Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa
beserta ekosistemnya;
b. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.
8. Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta
ekosistemnya, dilaksanakan dengan menjaga keutuhan
suaka alam agar tetap dalam keadaan asli, pengawetan
tersebut dilakukan dengan ketentuan:
a. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dilaksanakan di
dalam dan luar kawasan suaka alam.
b. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di dalam
kawasan suaka alam dilakukan dengan membiarkan
agar populasi semua jenis tumbuhan dan satwa tetap
seimbang menurut proses alami di habitatnya;
c. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di luar kawasan
suaka alam dilakukan dengan menjaga dan
mengembangbiakkan jenis tumbuhan dan satwa untuk
menghindari bahaya kepunahan.
9. Kawasan suaka alam terdiri dari :
a. Cagar alam;
b. Suaka margasatwa
10. Kawasan suaka alam selain mempunyai fungsi pokok
sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan
dan satwa beserta ekosistemnya, juga berfungsi sebagai
wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan.
11. Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat
mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan
suaka alam. Barangsiapa dengan sengaja melakukan
pelanggaran terhadap ketentuan ini dipidana dengan pidana
penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling
lama banyak Rp. 200.000.00 (Dua ratus juta rupiah)
12. Di dalam cagar alam dan suaka margasatwa dapat
dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan
pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan, wisata
terbatas, dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya.
13. Dalam rangka kerjasama konservasi internasional, kawasan
suaka alam dan kawasan tertentu lainnya dapat ditetapkan
sebagai cagar biosfer. Penetapan suatu kawasan alam dan
kawasan tertentu lainnya sebagai cagar biosfer diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
14. Tumbuhan dan satwa digolongkan dalam jenis:
a. Tumbuhan dan satwa yang dilindungi;
b. Tumbuhan dan satwa yang tidak dilindungi.
15. Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi meliputi :
a. Tumbuhan dan satwa dalam bahaya kepunahan;
b. Tumbuhan dan satwa yang populasinya jarang.
16. Dalam hal konservasi terhadap Tumbuhan, Larangan bagi
setiap orang untuk :
a. Mengambil, menebang, memiliki, merusak,
memusnahkanm memelihara, menagngkut, dan
memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-
bagiannya dalam keadaan hidup atau mati;
b. Mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-
bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu
tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar
Indonesia.
17. Dalam hal konservasi terhadap satwa, setiap orang dilarang
untuk:
a. Menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki,
memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa
yang dilindungi dalam keadaan hidup;
b. Menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan
memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan
mati;
c. Mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di
Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;
d. Memperniagakan, menyimpan atau memiliki kulit, tubuh,
atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau
barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa
tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di
Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia;
e. Mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan,
menyimpan, atau memiliki telur dan/atau sarang satwa
yang dilindungi.
18. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan
ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan:
a. Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian
alam, dengan tetap menjaga kelestarian fungsi kawasan.
b. Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dilakukan
dengan memperhatikan kelangsungan potensi, daya
dukung, dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa
liar.
19. Kawasan pelsetarian alam terdiri dari:
a. Taman nasional;
b. Taman hutan raya;
c. Taman wisata alam.
20. Kawasan pelestarian alam mempunyai fungsi perlindungan
sistem penyangga kehidupan, pengawetan
keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta
pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan
ekosistemnya.
21. Pengelolaan taman nasional, taman hutan raya, dan taman
wisata alam dilaksakana oleh Pemerintah.
22. Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dapat
dilaksanakan dalam bentuk:
23. Peranserta rakyat dalam konservasi sumber daya alam
hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh
Pemerintah melalui berbagai kegaitan yang berdaya guna
dan berhasil guna.
24. Dalam rangka pelaksanaan konservasi sumber daya alam
hayati dan ekosistemnya, Pemerintah dapat menyerahkan
sebagian urusan di bidang tersebut kepada Pmerintah
Daerah sebagiamana dimaksud dalam Undang-undang
Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahaan
di Daerah.
25. Penyidik dalam Undang-undang ini bukan hanya Pejabat
Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia juga Pejabat
Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan departemen
yang lingkup tugas dan tanggung jawab meliputi pembinaan
konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya,
diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana
dimaksud Undang-undang nomor 8 tahun 1981 tentang
Hukum Acara Pidana, untuk melakukan penyidikan tindak
pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan
ekosistemnya.
26. Wewenang penyidik :
a. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau
keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang
konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya;
b. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga
melakukan tindak pidana di bidang konservasi sumber
daya alam hayati dan ekosistemnya;
c. Memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada
dalam kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian
alam;
d. Melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti
tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam
hayati dan ekosistemnya;
e. Meminta keteranagna dan bahan bukti dari orang atau
badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang
konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya;
f. Membuat dan menandatangani berita acara;
g. Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup
bukti tentang adanya tindak pidana di bidang konservasi
sumber daya alam hayati dan ekosistemnya;
27. Kewenangan penyidik tersebut, tidak mengurangi
kewenangan penyidik sebagimana diatur dalam Undang-
undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi
Ekslusif Indonesia dan Undang-undang Nomor 9 Tahun
1985 tentang Perikanan.
Catatan : - Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini, maka:
1) Ordonansi Perburuan
2) Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar
3) Ordonansi Perburuan Jawa dan Madura
4) Ordonansi Perlindungan Alam
5) Dinyatakan tidak berlaku lagi
- Undang-undang ini dapat disebut Undang-undang Konservasi
Hayati.
TANAMAN – BUDIDAYA
1992
UU NO. 12 TAHUN 1992, LN TAHUN 1992 NO. 10, TLN NO. 3478
UNDANG-UNDANG TENTANG SISTEM BUDIDAYA TANAMAN
ABSTRAK : - Pertanian yang maju, efisien dan tangguh mempunyai peranan
Penting dalam pencapaian pembangunan nasional. Dari
pertanian tersebut dapat menghasilkan sumber daya alam
nabati yang jenisnya beraneka ragam dan mempunyai peranan
penting bagi kehidupan manusia.
Sistem budidaya tanaman merupakan bagian dari pertanian
perlu dikembangkan sejalan dengan peningkatan kualitas
sumberdaya manusia,
Peraturan Perundang-undangan yang berlaku saat ini, baik
yang merupakan produk hukum kolonial maupun produk hukum
nasional, sudah tidak sesuai dengan perkembangan hukum
dan kepentingan nasional, sehingga perlu dicabut.
Dengan demikian perlu menetapkan ketentuan tentang sistem
budidaya tanaman dalam Undang-Undang.
- Dasar Hukum Undang-Undang ini adalah :
Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 UUD 1945;
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor
104, TLN No. 2043); UU No. 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-
Ketentuan Pokok Kehutanan (LN No. 8 Tahun 1967, TLN No.
2823);
- Dalam Undang-Undang ini diatur tentang :
1. Pengertian Sistem Budidaya Tanaman, Plasma Nutfah,
Pemuliaan Tanaman, Benih Tanaman, Varietas, Sertifikasi,
Perlindungan Tanaman, Organisme Pengganggu
Tumbuhan, Eradikasi, Pupuk, Pestisida.
2. Ruang lingkup system budidaya tanaman meliputi proses
kegiatan produksi sampai pasca panen.
3. Untuk memperoleh benih bermutu untuk pengembangan
budidaya tanaman dilakukan kegiatan penemuan varietas
unggul dan/atau introduksi dari luar negeri.
4. Pencarian dan pengumpulan plasma nutfah dalam rangka
pemuliaan tanaman dilakukan oleh pemerintah. Sedangkan
pelestarian plasma nutfah dilakukan pemerintah bersama
masyarakat.
5. Perlindungan Tanaman melalui kegiatan :
a. Pencegahan masuknya organisme pengganggu
tumbuhan ke dalam dan tersebarnya dari suatu area ke
area lain di dalam wilayah Negara Republik
Indonesiasesuai dengan Peraturan Perundangan yang
berlaku;
b. Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan;
c. Eradikasi organisme pengganggu tumbuhan.
6. Pemerintah wajib berupaya untuk meringankan beban petani
kecil berlahan sempit yang budidaya tanamannya gagal
panen karena bencana alam.
7. Hasil budidaya tanaman diterapkan standar mutu, dalam hal
ini pemerintah yang menetapkan dan mengawasi jenis hasil
budidaya tanaman yang harus memenuhi standar mutu.
8. Pupuk yang beredar di dalam wilayah Negara Republik
Indonesia wajib memenuhi standar mutu dan terjamin
efektivitasnya serta diberi label.
9. Peredaran pestisida yang akan diedarkan di Indonesia wajib
terdaftar, memenuhi standar mutu, terjamin efektivitasnya,
aman bagi manusia dan lingkungan hidup, serta diberi label.
10. Pemerintah dapat menyerahkan sebagian urusan di bidang
budidaya tanaman kepada Pemerintah Daerah sesuai
dengan peraturan perundangan yang berlaku.
11. Penyidikan dilakukan oleh penyidik pejabat polisi Republik
Indonesia juga pejabat PNS tertentu di lingkungan
Departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di
bidang budidaya tanaman. Penyidik berwenang untuk :
a. Melakukan peneriksaan atas kebenaran laporan atau
keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang
budidaya tanaman;
b. Melakukan pemanggilan terhadap seseorang untuk
didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau sebagai
saksi dalam tindak pidana di bidang budidaya tanaman;
c. Melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti
tindak pidana di bidang budidaya tanaman;
d. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau
badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang
budidaya tanaman;
e. Membuat dan menandatangani berita acara;
f. Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup
bukti tentang adanya tindak pidana di bidang budidaya
tanaman.
12. Dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan denda paling banyak Rp. 250.000.000,- (dua ratus lima
puluh juta rupiah), apabila seseorang :
a. Mencari dan megumpulkan plasma nutfah tidak
berdasarkan izin;
b. Mengedarkan hasil pemuliaan atau introduksi yang
belum dilepas;
c. Mengedarkan benih bina yang tidak sesuai dengan label;
d. Mengeluarkan benih dari atau memasukkan ke dalam
wilayah Negara Republik Indonesia tanpa izin;
e. Menggunakan cara dan/atau sarana perlindungan
tanaman yang mengganggu kesehatan dan mengancam
keselamatan manusia atau menimbulkan kerusakan
lingkungan hidup;
f. Mengedarkan pupuk yang tidak sesuai dengan label;
g. Mengedarkan pestisida yang tidak terdaftar atau tidak
sesuai dengan label;
h. Tidak memusnahkan pestisida yang dilarang
peredarannya, tidak memnuhi standar mutu, rusak atau
tidak terdaftar;
i. Melanggar ketentuan pelaksanaan.
Pidana penjara paling lama 12 (dua belas) bulan atau denda
paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah), apabila
terjadi karena kelalaian orang tersebut.
CATATAN : - Dengan berlakunya Undang-Undang ini maka Undang-undang
No. 2
Tahun 1961 tentang Pengeluaran dan Pemasukan Tanaman
dan Bibit Tanaman (LN Tahun 1961 No. 9, TLN No. 2147), dan
beberapa ketentuan yang mengatur tentang budidaya tanaman
yang tercantum dalam :
a) Ordonansi tentang Krisis Teh;
b) Ordonansi tentang Krisis Kina;
c) Ordonansi tentang Krisi Kopi dan Kakao;
d) Ordonansi tentang Pengeluarana Karet Perkebunan;
e) Ordonansi tentang Pengeluaran Karet Rakyat;
f) Ordonansi tentang Pertanaman Karet;
g) Ordonansi tentang kepentingan-kepentingan Kapok;
h) Ordonansi tentang Pertanaman The;
i) Ordonansi tentang Krosok.
Dinyatakan tidak berlaku lagi.
- Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal 30 April 1992
HEWAN – IKAN – TUMBUHAN – KARANTINA
1992
UU No. 16 TAHUN 1992, LN TAHUN 1992 NO. 56, TLN NO. 482
UNDANG-UNDANG TENTANG KARANTINA HEWAN, IKAN DAN TUMBUHAN
ABSTRAK : - Dengan meningkatnya lalu lintas hewan, ikan dan tumbuhan
Antar Negara dari suatu area ke area lain di dalam wilayah
Republik Indonesia, baik dalam rangka perdagangan.donesia,
baik dalam rangka perdagangan, pertukaran maupun
penyebarannya semakin membuka peluang bagi kemungkina
masuk dan menyebarnya hama dan penyakit hewan, hama dan
penyakit ikan, serta organisme pengganggu tumbuhan yang
berbahaya atau menular yang dapat merusak sumberdaya alam
hayati;
Peraturan perundangan yang menyangkut perkarantinaan
hewan, ikan dan tumbuhan warisan pemerintah kolonial yang
masih berlaku sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan
hukum dan kepentingan nasional perlu dicabut.
Peraturan perundangan nasional yang ada belum menampung
dan mengatur secara menyeluruh mengenai karantina hewan,
ikan dan tumbuhan. Sehubungan dengan hal tersebut perlu
ditetapkan ketentuan tentang karantina hewan, ikan dan
tumbuhan.
- Dasar hukum Undang-Undang ini adalah :
Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3) UUD
1945; UU No. 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan
Pokok Kehutanan; UU No. 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-
Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan; UU No. 9
Tahun 1985 tentang Perikanan; UU No. 5 Thaun 1990 tentang
Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
- Dalam Undang-Undang ini diatur tentang :
1. Pengertian Karantina, Karantian Hewan, Ikan dan
Tumbuhan, Hama dan Penyakit Hewan, Hama dan Penyakit
Ikan, atau Organisme Pengganggu Tumbuhan, Hama dan
Penyakit Hewan Karantina, Hama dan Pneyakit Ikan
Karantina atau Organisme Pengganggu Tumbuhan
Karantina, Media Pembawa Hama dan Penyakit Hewan
Karantina, Hama dan Penyakit Ikan Karantina, atau
Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina, Hewan, Ikan,
Tumbuhan, Tempat Pemasukan dan Tempat Pengeluaran,
Petugas Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan.
2. Setiap media pembawa hama dan penyakit hewan
karantina, hama dan penyakit ikan karantina atau organisme
pengganggu tumbuhan karantina yang dimasukkan ke
dalam wilayah Negara Republik Indonesia, wajib :
a. Dilengkapi sertifikat kesehatan dari Negara asal dan
Negara transit bagi hewan, bahan asal hewan, hasil
bahan asal hewan, ikan, tumbuhan dan bagian-bagian
tumbuhan, kecuali media pembawa yang tergolong
benda lain;
b. Melalui tempat-tempat pemasukan yang telah
ditetapkan;
c. Dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di
tempat-tempat pemasukan untuk keperluan tindakan
karantina.
3. Tindakan karantina berupa :
a. Pemeriksaan : untuk mengetahui kelangkapan dan
kebenaran isi dokumen serta untuk mendeteksi hama
dan penyakit hewan karantina, hama dan penyakit ikan
karantina, atau organisme pengganggu tumbuhan
karantina.
b. Pengasingan : untuk mendeteksi lebih lanjut hama dan
penyakit hewan karantina, hama dan penyakit ikan
karantina, atau organisme pengganggu tumbuhan
karantina tertentu.
c. Pengamatan;
d. Perlakuan;
e. Penahanan;
f. Penolakan;
g. Pemusnahan;
h. Pembebasan;
4. Penolakan terhadap media pembawa hama dan penyakit
hewan karantina, ham dan penyakit ikan karantina, atau
organisme pengganggu tumbuhan karantina yang
dimasukkan ke dalam atau dimasukkan dari suatu area ke
area lain di dalam wilayah Republik Indonesia, apabila :
a. Setelah dilakukan pemeriksaan di atas alat angkut,
tertular hama dan penyakit hewan karantina, atau hama
dan penyakit ikan karantina, atau tidak bebas dari
organisme pengganggu tumbuhan karantina tertantu
yang ditetapkan oleh Pemerintah, atau busuk, atau
rusak, atau merupakan jenis-jenis yang dilarang
pemasukkannya, atau
b. Setelah dilakukan penahanan, keseluruhan persyaratan
yang harus dilengkapi dalam batas waktu yang
ditetapkan tidak dapat dipenuhi, atau
c. Setelah diberi perlakuan di atas alat angkut, tidak dapat
disembuhkan dan/atau disucihamakan dari hama dan
penyakit hewan karantina, hama dan penyakit ikan
karantina, atau tidak dapat dibebaskan dari organisme
pengganggu tumbuhan karantina.
5. Pemusnahan terhadap media pembawa hama dan penyakit
hewan karantina, hama dan penyakit ikan karantina, atau
organisme pengganggu tumbuhan karantina yang
dimasukkan ke dalam atau dari suatu area ke area lain di
dalam wilayah Negara Republik Indonesia, apabila:
a. Setelah media pembawa tersebut diturunkan dari alat
angkut dan dilakukan pemeriksaan, tertular hama dan
penyakit hewan karantina, hama dan penyakit ikan
karantina, atau tidak bebas dari organisme pengganggu
tumbuhan karantina tertentu yang ditetapkan oleh
Pemerintah, atau busuk, atau rusak atau merupakan
jenis-jenis yang dilarang pemasukkannya, atau
b. Setelah penolakan dilakukan, media pembawa yang
bersangkutan tidak segera dibawa keluar dari wilayah
Negara Republik Indonesia atau dari area tujuan oleh
pemiliknya dalam batas waktu yang ditetapkan, atau
c. Setelah dilakukan pengamatan dalam pengasingan,
tertular hama dan penyakit hewan karantina, atau hama
dan penyakit ikan karantina atau tidak bebas dari
organisme pengganggu tumbuhan karantina tertentu
yang ditetapkan oleh Pemerintah, atau
d. Setelah media pembawa tersebut diturunkan dari alat
angkut dan diberi perlakuan, tidak dapat disembuhkan
dan.atau disucihamakan dari hama dan penyakit hewan
karantina, atau hama dan penyakit ikan karantina, atau
tidak dapat dibebaskan dari organisme pengganggu
tumbuhan karantina.
6. Jenis hama yang ditetapkan pemerintah :
a. Janis hama dan penyekit hewan karantina, hama dan
penyakit ikan karantina, dan organisme penggunggu
tumbuha karantina;
b. Jenis media pembawa hama dan penyakit hewan
karantina, hama dan penyakit ikan karantina, dan
organisme pengganggu tumbuhan karantina;
c. Jenis media pembawa hama dan penyakit hewan
karantina, hama dan penyakit ikan karantina, dan
organisme pengganggu timbuhan karantina yang
dilarang untuk dimasukkan dan/atau dibawa atau dikirim
dari suatu area ke area lain di dalam wilayah Negara
Republik Indonesia.
7. Penyidikan dilakukan oleh penyidik pejabat polisi Negara
Republik Indonesia juga pejabat PNS tertentu di lingkungan
Departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya
meliputi pembinaan karantina hewan, ikan dan tumbuhan.
Penyidik berwenang untuk :
a. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau
keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang
karantian hewan, ikan dan tumbuhan;
b. Melakukan pemanggilan terhadap seseorang untuk
didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi
dalam tindak pidana di bidang karantina hewan, ikan dan
tumbuhan;
c. Melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti
tindak pidana di bidang karantina hewan, ikan dan
tumbuhan;
d. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau
badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang
karantina hewan, ikan dan tumbuhan;
e. Membuat dan menandatangani berita acara;
f. Menghentikan penyidikan apabila tidak didapat cukup
bukti tentang adanya tindak pidana di bidang karantina
hewan, ikan dan tumbuhan.
CATATAN : - Dengan berlakunya Undang-Undang ini, dinyatakan tidak
berlaku lagi :
1) Ordonansi tentang Peninjauan Kembali Ketentuan-
Ketentuan tentang Pengawasan Pemerintah dalam Bidang
Kehewanan dan Polisi Kehewanan;
2) Ordonansi tentang Perubahan dan Penambahan Peraturan
tentang Pengawasan Pemerintah dalam Bidang
Kehewanan dan Polisi Kehewanan;
3) Ordonansi tentang Perubahan dan Penambahan Lebih
Lanjut Peraturan mengenai Pengawasan Pemerintah
dalam Bidang Kehewanan dan Polisi Kehewanan di Hindia
Belanda;
4) Ordonansi tentang Perubahan dan Penambahan Lebih
Lanjut Peraturan Mengenai Pengawasan Pemerintah
dalam Bidang Kehewanan dan Polisi Kehewanan di Hindia
Belanda;
5) Ordonansi tentang Peruabhan dan Penambahan Peraturan
mengenai Campur Tangan Pemerintah dalam Bidang
Kehewanan dan Polisi Kehewanan di Hindia Belanda;
6) Ordonansi tentang Larangan Pengeluaran Buah Pisang,
Tumbuhan Pisang, Umbi Pisang dan bagian-bagiannya
dari Sulawesi dan Daerah-daerah kekuasannya, Manado;
7) Ordonansi tentang Peraturan Guna Mencegah Pemasukan
Bubuk Buah Kopi ke Pulau-Pulau Sulawesi dan Daerah-
Daerah kekuasaannya, Mando, Amboina, Bali dan
Lombok, Timor dan Daerah-daerah kekuasannya;
8) Ordonansi tentang Peraturan Guna Mencegah Penyebaran
Hama Belalang yang terdapat di Kepulauan Sangihe dan
Talaud;
9) Ordonansi tentang Peraturan Guna Mencegah Penyebaran
Lebih Lanjut Ulat Umbi Kentang;
10) Ordonansi tentang Ikhtisar dan Perbaikan Peraturan-
peraturan tentang Pemasukan Bahan Tumbuhan Hidup
Guna Mencegah Penularan Penyakit dan Hama
Tumbuhan Budidaya di Hindia Belanda;
11) Ordonansi tentang ketentuan-ketentuan Baru mengenai
Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Anjing Gila
(Rabies);
12) Ordonansi tentang Perubahan Ordonansi dalam
Staatsblad No.427, mengenai Ikhtisar dan Perbaikan
Peraturan-peraturan tentang Pemasukan Bahan-Bahan
Tumbuhan Hidup;
13) Ordonansi tentang Perubahan Ordonansi tentang
Peninjauan Kembali Kehewanan dan Polisi Kehewanan;
14) Ordonansi Pengangkutan Kentang AntarPulau.
CATATAN : - Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal 8 Juni 1992
PENGESAHAN – HAYATI – KEANEKARAGAMAN
1994
UU NO. 5 TAHUN 1994, LN TAHUN 1994 NO. 41, TLN NO. 3556
UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS
CONVENTIONS ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN
BANGSA-BANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI)
ABSTRAK : - Bahwa keanekaragaman hayati sedang mengalami
pengurangan dan kehilangan yang nyata karena kegiatan
tertentu manusia yang dapat menimbulkan terganggunya
keseimbangan sistem kehidupandi bumi, yang pada gilirannya
akan mengganggu berlangsungnya kehidupan manusia;
Diakui adanya peranan masyarakat yang berciri tradisional
seperti tercermin dalam gaya hidupnya, diakui pula adanya
peranan penting wanita, untuk memanfaatakan
keanekaragaman hayati dan adanya keinginan untuk membagi
manfaat yang adil dalam penggunaan pengetahuan tradisional
tersebut melalui inovasi-inovasi, dan praktik-praktik yang
berkaitan dengan konservasi keanekaragaman hayati dan
pemanfaatannya secara berkelanjutan;
Adanya kesanggupan dari negara-negara maju untuk
menyediakan sumber dana tambahan dan dana baru serta
kemudahan akses untuk nenperoleh akses teknologi bagi
kebutuhan negara berkembang dan memperhatikan kondisi
khusus negara terbelakang serta negara berkepulauan kecil
sebagimana diatur dalam United Nations Convention on
Biological Diversity merupakan peluang yang perlu ditanggapi
secara positif oleh Pemerintah Indonesia;
Dalam rangka melestarikan keanekaragaman hayati,
memanfaatkan setiap unsurnya secara berkelanjutan, dan
meningkatkan kerja sama internasional di bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi guna kepentingan generasi
sekarang dan yang akan datang. Konferensi Tingkat Tinggi
Bumi di Rio De Jainero, Brazil pada tanggal 3 sampai 14 Juni
1992 telah menghasilkan komitmen internasional dengan
ditandatanganinya United Nations Convention on Biological
Diversity oleh sejumlah besar negara di dunia, termasuk
Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati;
Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas Pemerintah
Indonesia memandang perlu untuk mengesahkan United
Nations Convention on Biological Diversity.
- Dasar hukum Undang-undang ini adalah : Pasal 5 ayat (1),
Pasal 11, Pasal 20 ayat (1) Undang-undang Dasar 1945
- Dalam Undang-undang ini diatur tentang:
PENGESAHAN – IKLIM – KONVENSI
1994
UU NOMOR 6 TAHUN 1994, LN TAHUN NO. 42, TLN NO. 3557
UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS
FRAMEWORK CONVENTION ON CLIMATE CHANGE (KONVENSI
KERANGKA KERJA PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI
PERUBAHAN IKLIM)
ABSTRAK : - Dalam rangka mencegah upaya meningkatnya konsentrasi gas
rumah kaca di atmosfer, Konfrensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio
de Jainero, Brazil, pada tanggal 3 sampai dengan 14 Juni 1992
telah menghasilkan komitmen internasional dengan
ditandatanganinya United Nations Framework Convention on
Climate Change oleh sejumlah besar negara di dunia,
termasuk Indonesia;
Indonesia mempunyai peranan strategis dalam struktur iklim
geografis dunia karena sebagai negara tropis ekuator yang
mempunyai hutan tropis basah terbesar kedua di dunia dan
negara kepulauan yang memiliki laut terluas di dunia
mempunyai fungsi sebagai penyerap gas rumah kaca yang
besar;
Indonesia perlu ikut aktif mengambil bagian bersama-sama
dengan anggota masyarakat internasional lainnya dalam upaya
mencegah meningkatnya gas rumah kaca di atmosfir, karena itu
Pemerintah telah menandatangani United Nations Frame Work
Convention on Climate Change tersebut di Rio De Jainer,
Brazil, pada tanggal 5 Juni 1992;
- Dasar Hukum Undang-undang ini adalah: Pasal 5 ayat (1),
Pasal 11, Pasal 20 ayat (1) Undang-undang Dasar 1945
- Dalam Undang-undang ini diatur tentang:
PANGAN
1996
UU NO. 7 TAHUN 1996, LN TAHUN 1996 NO. 99, TLN NO. 3656
UNDANG-UNDANG TENTANG PANGAN
ABSTRAK : - Pangan yang aman, bermutu, bergizi dan beragam
Merupakan prasyarat utama yang harus dipenuhi untuk
terselenggaranya suatu sistem pangan untuk memberikan
perlindungan bagi kesehatan dan berperan dalam
meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat;
Pangan sebagai komoditas dagang memerlukan dukungan
system perdagangan yang jujur dan bertanggung jawab
sehingga tersedia pangan yang terjanghkau oleh daya beli
masyarakat dan berperandalam meingkatkan pertumbuhan
ekonomi nasional;
Sehubungan dengan pertimbangan tersebut, serta untuk
mewujudkan sistem pengaturan, pembinaan, dan
pengawasan yang efektif di bidang pangan maka perlu
dibentuk Undang-undang tentang Pangan.
- Dasar Hukum Undang-Undang ini adalah :
Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), Pasal 27 ayat (2) dan
Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945
- Dalam Undang-undang ini diatur tentang :
1. Pengertian Pangan, Pangan Olahan, Sistem Pangan,
Keamanan Pangan, Produksi Pangan, Pengangkutan
Pangan, Peredaran Pangan, Perdagangan Pangan,
Sanitasi Pangan, Kemasan Pangan, Iradiasi Pangan,
Rekayasa Genetika Pangan, Mutu Pangan, Gizi Pangan,
Label Pangan, Iklan Pangan, Ketahanan Pangan, Setiap
Orang.
2. Tujuan pengaturan, pembinaan dan pengawasan pangan
adalah :
a. Tersedianya pangan yang memenuhi persyaratan
keamanan, mutu dan gizi bagi kepentingan kesehatan
manusia;
b. Terciptanya perdagangan pangan yang jujur dan
bertanggung jawab;
c. Terwujudnya tingkat kecukupan pangan dengan harga
yang wajar dan terjangkau sesuai dengan kebutuhan
masyarakat.
3. Untuk keamanan pangan, Pemerintah menetapkan
persyaratan sanitasi dalam kegiatan atau proses produksi,
penyimpanan, pengangkutan dan atau peredaran pangan.
4. Setiap orang yang bertanggung jawab dalam
penyelenggaraan kegiatan atau proses produksi,
penyimpanan, pengangkutan, dan atau peredaran pangan,
wajib :
a. Memenuhi persyaratan sanitasi, keamanan dan atau
keselamatan manusia;
b. Menyelenggarakan program pemantauan sanitasi
secara berkala;
c. Menyelenggarakan pengawasan atas pemenuhan
persyaratan sanitasi.
5. Setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan
dilarang menggunakan bahan apapun sebagai bahan
tambahan pangan yang dinyatakan terlarang atau
melampui ambang batas maksimal yang ditetapkan.
6. Bahan yang akan digunakan sebagai bahan tambahan
pangan, tetapi belum dikatahui dampaknya bagi kesehatan
manusia, wajib terlabih dahulu diperiksa keamanannya,
dan penggunaannya dalam kegiatan atau proses produksi
pangan untuk diedarkan untuk diedarkan dilakukan setelah
memperoleh persetujuan Pemerintah.
7. Iradiasi dalam kegiatan atau proses produksi pangan
dilakukan berdasarkan izin Pemerintah.
8. Bahan yang akan digunakan sebagai kemasan pangan,
tetapi belum diketahui dampaknya bagi kesehatan
manusia, wajib terlebih dahulu diperiksa keamanannya,
dan penggunaannya bagi pangan yang diedarkan
dilakukan setelah memperoleh persetujuan Pemerintah.
9. Setiap orang yang memproduksi pangan untuk
diperdagangkan wajib menyelenggarakan sistem jaminan
mutu, sesuai dengan jenis pangan yang diproduksi.
10. Setiap orang dilarang mengedarkan :
a. Pangan yang mengandung bahan beracun, berbahaya,
atau yang dapat merugikan atau membahayakan
kesehatan atau jiwa manusia;
b. Pangan yang mengandung cemaran yang melampaui
ambang batas maksimal yang ditetapkan;
c. Pangan yang mengandung bahan yang dilarang
digunakan dalam kegiatan atau proses produksi
pangan.
d. Pangan yang menagdung bahan yang kotor, busuk,
tengikterurai atau mengandung bahan nabati yang
berpenyakit atau bberasal dari bangkai sehingga
menjadikan pangan tidak layak dikonsumsi manusia;
e. Pangan yang sudah kadaluwarsa.
11. Untuk mengawasi dan mencegah tercemarnya pangan,
Pemerintah:
a. Menetapkan bahan yang dilarang digunakan dalam
kegiatan atau proses produksi pangan serta ambang
batas maksimal cemaran yang diperbolehkan;
b. Mangatur dan atau menetapkan persyaratan bagi
penggunaan cara, metode, dan atau bahan tertentu
dalam kegiatan atau proses produksi, pengolahan,
penyimpanan, pengangkutan, dan atau peredaran
pangan yang dapat memiliki resiko yang meugikan dan
atau membahayakan kesehatan manusia;
c. Menetapkan bahan yang dilarang digunakan dalam
memproduksi peralatan, pengolahan, penyiapan,
pemasaran, dan atau penyajian pangan.
12. Label pangan, harus berisi sekurang-kurangnya:
a. Nama produk;
b. Daftar bahan yang digunakan;
c. Berat bersih atau isi bersih;
d. Nama dan alamat pihak yang memproduksi atau
memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia;
e. Keterangan tentang halal;
f. Tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa.
13. Larangan bagi setiap orang untuk mangganti, melabel
kembali, atau menukar tanggal, bulan dan tahun
kadaluwarsa pangan yang diedarkan.
14. Terhadap panagn yang dimasukkan ke dalam wilayah
Indonesia, Pemerintah dapat menetapkan persyaratan:
a. Pangan telah diuji dan atau diperiksa serta dinyatakan
lulus dari segi keamanan, mutu dan atau gizi oleh
instansi yang berwenang di Negara asal;
b. Pangan dilengkapi dengan dokumen hasil pengujian
dan atau pemeriksaan;
c. Pangan terlebih dahulu diuji dan atau diperiksa di
Indonesia dari segi keamanan, mutu dan atau gizi
sebelum peredarannya.
15. Pemerintah mengambil tindakan yang diperlukan untuk
mencegah dan atau menanggulangi gejolak harga pangan
tertentu yang dapat merugikan ketahanan pangan dalam
rangka mengandalikan harga pangan tersebut.
16. Pemerintah melakukan pembinaan yang meliputi upaya :
a. Pengembangan sumber daya manusia di bidang
pangan melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan,
terutama usaha kecil;
b. Untuk medorong dan meningkatkan peran serta
masyarakat dalam kegiatan pengembangan sumber
daya manusia, peningkatan kemampuan usaha kecil,
penyuluhan di bidang pangan, serta
penganekaragaman;
c. Untuk mendorong dan mengarahkan peran serta
asosiasi dan organisasi profesi di bidang pangan;
d. Untuk mendorong dan menunjang kegiatan penelitian
dan atau pengembangan teknologi di bidang pangan;
e. Penyebarluasan pengetahuan dan penyuluhan di
bidang pangan;
f. Pembinaan kerja sama internasional di bidang pangan,
sesuai dengan kepentingan nasional.
LINGKUNGAN – PENGELOLAAN – HIDUP
1997
UU NOMOR 23 TAHUN 1997, LN TAHUN 1997 NO. 68, TLN NO. 3699
UNDANG-UNDANG TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP
ABSTRAK : - Bahwa penyelenggaraan lingkungan hidup dalam rangka
pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan
hidup harus didasarkan pada norma hukum dengan
memperhatikan tingkat kesadaran masyarakat dan
perkembangan lingkungan global serta perangkat hukum
internasional yang berkaitan dengan lingkungan hidup;
Bahwa kesadaran dan kehidupan dalam kaitannya dengan
pengelolaan lingkungan hidup telah berkembang
sedemikian rupa sehingga pokok materi sebagaimana
diatur dalam Undang-undang nomor 4 tahun 1982 tentang
Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan
Hidup perlu disempurnakan untuk mencapai tujuan
pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan
hidup;
Sehubungan dengan hal-hal tersebut perlu ditetapkan
Undang-undang tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
- Dasar Hukum Undang-undang ini adalah :
Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3)
Undang-undang Dasar 1945
- Dalam Undang-undang diatur tentang :
1. Pengertian Lingkungan Hidup, Pengelolaan Lingkungan
Hidup, Pembangunan Berkelanjutanyang berwawasan
lingkungan hidup, Ekosistem, Pelestarian Fungsi
Lingkungan Hidup, Daya Dukung Lingkungan,
Pelestarian Daya Dukung Lingkungan Hidup, Daya
Tampung Lingkungan Hidup, Pelestarian Daya
Tampung Lingkungan Hidup, Sumber Daya, Baku Mutu
Lingkungan Hidup, Pencemaran Lingkungan Hidup,
Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup, Perusakan
Lingkungan Hidup, Konservasi Sumber Daya Alam,
Limbah, Bahan Berbahaya dan Beracun, Limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun, Sengketa Lingkungan
Hidup, Dampak Lingkungan Hidup, Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup, Organisasi Lingkungan
Hidup, Audit Lingkungan Hidup, Orang, Menteri.
2. Sasaran pengelolaan lingkungan hidup:
a. Tercapainya keselarasan, keserasian, dan
keseimbangan antara manusia dan lingkungan
hidup;
b. Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan
lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak
melindungi dan membina lingkungan hidup;
c. Terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan
generasi masa depan;
d. Tercapainya kelestarian fungsi lingkungan bidup;
e. Terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara
bijaksana;
f. Terlindunginya Negara Kesatuan Republik
Indonesia terhadap dampak usaha dan/atau
kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan
pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.
3. Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian
fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan
menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan
hidup.
4. Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan
seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolaan
lingkungan hidup. Pelaksanaannya dilakukan dengan
cara:
a. Meningkatkan kemandirian, keberdayaan
masyarakat dan kemitraan;
b. Menumbuhkembangkan kemampuan dan
kepeloporan masyarakat;
c. Menumbuhkembangkan ketanggapsegeraan
mesyarakat untuk melakukan pengawasan sosial;
d. Memberikan saran pendapat;
e. Menyampaikan infomasi dan/atau menyampaikan
laporan.
5. Sumber daya alam dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi
kemakmuran rakyat, serta pengaturannya ditentukan
oleh Pemerintah. Untuk melaksanakan ketentuan
tersebut, Pemerintah:
a. Mengatur dan mengembangkan kebijaksanaan
dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup;
b. Mengatur penyediaan, peruntukkan, penggunaan,
pengelolaan lingkungan hidup, dan pemanfaatan
kembali sumber daya alam, termasuk sumber daya
genetika;
c. Mengatur perbuatan hukum dan hubungan hukum
antara orang dan/atau subjek hukum lainnya serta
perbuatan hukum terhadap sumber daya alam dan
sumberd aya buatan, termasuk sumber daya
genetika;
d. Mengendalikan kegiatan yang mempnyai dampak
sosial;
e. Mengembangkan pendanaan bagi upaya
pelestarian lingkungan hidup sesuai peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
6. Pengelolaan lingkungan hidup, dilaksanakan secara
terpadu oleh instansi pemerintah sesuai dengan bidang
tugas dan tanggung jawab masing-masing masyarakat
serta pelaku pembangunan lain dengan memperhatikan
keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan kebijakan
nasional pengelolaan lingkungan hidup.
7. Kewajiban Pemerintah dalam rangka pengelolaan
lingkungan hidup:
a. Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan
meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab para
pengambil keputusan daalm pengelolaan
lingkungan hidup;
b. Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan
meingkatkan kesadaran akan hak dan tanggung
jawab masyarakat dalam lingkungan hidup;
c. Mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan
meningkatkan kemitraan antara masyarakat, dunia
usaha dan Pemerintah dalam upaya pelestarian
daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup;
d. Mengembangkan dan menerapkan kebijaksanaan
nasional pengelolaan lingkungan hidup yang
menjamin terpeliharanya daya dukung dan daya
tampung lingkungan hidup;
e. Mengembangkan dan menerapkan perangkat
yangbersifat preemtif, preventif, dan proaktif dalam
upaya pencegahan penurunan daya dukung dan
daya tampung lingkungan hidup;
f. Memanfaatkan dan mengembangkan teknologi
yang akrab lingkungan hidup;
g. Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan
di bidang lingkungan hidup.menyediakan informasi
lingkungan hidup dan menyebarluaskannya kepada
masyarakat;
h. Memberikan penghargaan kepada orang lain atau
lembaga yang berjasa di bidang lingkungan hidup.
8. Untuk mewujudkan keterpaduan keserasian
pelaksanaan kebijaksanaan nasional tentang
pengelolaan lingkungan hidup, Pemerintah
berdasarkan peraturan perundang-undangan dapat:
a. Menyerahkan wewenang tertentu pengelolaan
lingkungan hidup kepada perangkat wilayah;
b. Mengikutsertakan peran Pemerintah Daerah untuk
membantu Pemerintah Pusat dalam pelaksanaan
pengelolaan lingkungan hidup di daerah.
9. Dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan
hidup, pemerintah dapat menyerahkan sebagian
urusan kepada Pemerintah Daerah menjadi urusan
rumahtangganya.
10. Untuk menjamin pelestarian fungsi lingkungan hidup,
setiap usaha dan/atau kegiatan dilarang melanggar
baku mutu dan kriteria baku kerusakan lingkungan
hidup.
11. Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang
kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan
penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki
analisis mengenai dampak lingkungan hidup.
Pengendalian dampak lingkungan hidup sebagai alat
pengawasan dilakukan oleh suatu lembaga yang
dibentuk khusus untuk itu oleh Pemerintah.
12. setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan
wajib melakukan pengelolaan bahan berbahaya dan
beracun.yang meliputi: menghasilkan, mengangkut,
mengedarkan, menyimpan, menggunakan dan/atau
membuang.
13. Penerbitan izin untuk melakukan usaha dan/atau
kegiatan wajib memperhatikan:
a. Rencana tata ruang;
b. Pendapat masyarakat;
c. Pertimbangan dan rekomendasi pejabat yang
berwenang yang berkaitan dengan usaha dan/atau
kegiatan tersebut.
14. Pengawasan dilakukan oleh Menteri terhadap penataan
penanggung jawab usaha, dan/atau kegiatan atau
ketentuan yang telah ditetapkan dalam peraturan
perundang-undangan di bidang lingkungan hidup.
15. Dalam rangka peningkatan kinerja usaha dan/atau
kegiatan, Pemerintah mendorong penanggung jawab
usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan audit
lingkungan hidup.
16. Penyelesaian sengketa lingkungan hidup daapt
ditempuh melalui pengadilan aau di luar pengadilan
berdasarkan pilihan secara sukarela para pihak yang
bersengketa. Apabila telah dipilih upaya penyelesaian
sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan, gugatan
melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila
upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah
satu atau para pihak yang bersengketa.
17. Penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar
pengadilan diselenggarakan untuk mencapai
kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi
dan/atau mengenai tindakan tertentu guna menjamin
tidak akan dterjadinya atau terulangnya dampak negatif
terhadap lingkungan hidup.
18. Setiap perbuatan melanggar hukum berupa
pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup
yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau
lingkungan hidup, mewajibkan penanggung jawab
usaha dan/atau kegiatan untuk membayar ganti rugi
dan/atau melakukan tindakan tertentu.
19. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang
usaha dan kegiatannya menimbulkan dampak besar
dan penting terhadap lingkungan hidup, yang
menggunakan bahan berbahaya dan beracun, dan/atau
menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun
bertanggung jawab secara mutlak atas kerugian yang
ditimbulkan, dengan kewajiban membayar ganti rugi
secara langsung dan seketika pada saat terjadinya
pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.
20. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dapat
dibebaskan dari kewajiban membayar ganti rugi jika
yang bersangkutan dapat membuktikan bahwa
pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup
disebabkan salah satu alasan berikut:
a. Adanya bencana alam atau peperangan;
b. Adanya keadaan terpaksa di luar kemampuan
manusia;
c. Adanya tindakan pihak ketiga yang menyebabkan
terjadinya pencemaran dan/atau perusakan
lingkungan hidup.
21. Tenggang daluwarsa untuk mengajukan gugatan ke
pengadilan mengikuti tenggang waktu sebagaimana
diatur dalam ketentuan Hukum Acara Perdata yang
berlaku, dan dihitung sejak korban mengetahui adanya
pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.
22. Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan ke
pangadilan dan/atau melaporkan ke penegak hukum
mengenai berbagai masalah lingkungan hidup yang
merugikan perikehidupan masyarakat.
23. Jika diketahui bahwa masyarakat menderita karena
akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan
hidup sedemikian rupa sehingga mempengaruhi
perikehidupan pokok masyarakat, maka instansi
pemerintah yang bertanggung jawab di bidang
lingkungan hidup dapat bertindak untuk kepentingan
msyarakat.
24. Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab
pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan
kemitraan, organisasi lingkungan hidup berhak
mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian
fungsi lingkungan hidup. Organisasi lingkungan hidup
tersebut, apabila memenuhi persyaratan:
a. Berbentuk badan hukum atau yayasan;
b. Dalam anggaran dasar organisasi lingkungan hidup
yang bersangkutan menyebutkan dengan tegas
bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut
adalah untuk kepentingan pelestarian fungsi
lingkungan hidup;
c. Telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan
anggaran dasarnya.
25. Penyidik dalam Undang-undang ini, selain Penyidik
Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia, juga Pejabat
Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan pemerintah
yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang
pengelolaan lingkungan hidup, diberi wewenang
khusus sebagai penyidik sebagaimana dalam Undang-
Undang Hukum Acara Pidana berlaku. Wewenag
penyidik adalah:
a. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan
atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di
bidang lingkungan hidup;
b. Melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan
hukum yang diduga melakukan tindak pidana di
bidang lingkungan hidup;
c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang
atau badan hukum sehubungan dengan peristiwa
tindak pidana di bidang lingkungan hidup;
d. Melakukan pemeriksaan atas pembukuan, catatan,
dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana
di bidang lingkungan hidup;
e. Melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang
diduga terdapat bahan bukti, pembukuan, catatan,
dan dokumen lain serta melakukan penyitaan
terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang
dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana di
bidang lingkungan hidup;
f. Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan
tugas penyidikan tindak pidana di bidang lingkungan
hidup.
26. Ketentuan pidana berlaku bagi siapapun yang secara
melawan hukum dengan sengaja melakukan perbuatan
yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan
lingkungan hidup, diancam dengan pidana penjara
paling lama 10 (sepuluh) tahun dan dend paling banyak
Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). Jika tindak
pidana tersebut mengakibatkan orang mati atau luka
berat, pelaku tindak pidana diancam dengan pidana
penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda
paling banyak Rp. 750.000.000,00 (tujuh ratus lima
puluh juta rupiah)
27. Apabila karena kealpaannya melakukan perbuatan
yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan
lingkungan hidup diancam dengan pidana penjara
paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp.
100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Jika tindak pidana
tersebut mengakibatkan orang mati atau luka berat,
pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara
paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak
Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah)
28. Jika tindak pidana dilakukan oleh atau atas nama
badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau
organisasi lain, tuntutan pidana dilakukan dan sanksi
pidana serta tindakan tata tertib dijatuhkan baik
terhadap badan hukum, perseroan, perserikatan,
yayasan atau organisasi lain tersebut maupun terhadap
mereka yang memberi perintah untuk melakukan tindak
pidana tersebut atau yang bertindak sebagai pemimpin
dalam perbuatan itu atau terhadap kedua-duanya.
29. Jika tindak pidana dilakukan oleh atau atas nama
badan hukum, perseroan, perserikatan, yayasan, atau
organisasi lain, dan dilakukan oleh orang-orang, baik
berdasar badan hubungan kerja maupun berdasar
hubungan lain, yang bertindak dalam lingkungan badan
hukum, perseroan, perserikatan, yayasan atau
organisasi lain, tuntutan pidana dilakukan dan sanksi
pidana dijatuhkan terhadap mereka yang memberi
perintah atau yang bertindak sebagai pemimpin tanpa
mengingat apakah orang-orang tersebut, baik berdasar
hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain,
melakukan tindak pidana secara sendiri atau bersama-
sama.
30. Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum,
perseroan, perserikatan, yayasan, atau organisasi lain,
panggilan untuk menghadap dan penyerahan surat-
surat panggilan itu ditujukan kepada pengurus di
tempat tinggal mereka, atau di tempat pengurus itu
melakukan pekerjaan yang tetap.
31. Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum,
perseroan, perserikatan, yayasan atau organisasi lain,
yang ada saat penuntutan diwakili oleh bukan
pengurus, hakim dapat memerintahkan supaya
pengurus menghadap sendiri di pengadilan.
32. Selain ketentuan pidana yang terdapat dalam Kitab
Undang-undang Hukum Pidana dan Undang-undang
ini, terhadap pelaku tindak pidana lingkungan hidup
dapat pula dikenakan tindakan tata tertib berupa:
Perampasan
33.
KONSUMEN – PERLINDUNGAN
1999
UU NO. 8 TAHUN 1999, LN TAHUN 1999 NO. 42, TLN NO. 3253
UNDANG-UNDANG TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN
ABSTRAK : - Semakin terbukanya paar nasional sebagai akibat dari
proses globalisasi ekonomi harus tetap menjamin
peningkatan kesejahteraan masyarakat serta kepastian
atas mutu, jumlah dan keamanan barang dan/atau jasa
yang diperolehnya dipasar.
Berdasrkan pertimbangan tersebut, diperlukan perangkat
peraturan perundang-undangan untuk mewujudkan
keseimbangan perlindungan kepentingan konsumen dan
pelaku usaha sehingga tercipta perekonomian yang
sehat. Untuk itu perlu dibentuk Undang-undang tentang
Perlindungan Konsumen.
- Dasar Hukum Undang-undang ini adalah:
Pasal 5 ayat (1), Pasal 27, dan Pasal 33 Undang-undang
Dasar 1945
- Dalam Undang-undang ini diatur tentang:
1. Pengertian Perlindungan Konsumen, Konsumen,
Pelaku Usaha, Barang, Jasa, Promosi, Impor
Barang, Impor Jasa, Lembaga Perlindungan
Konsumen Swadaya Masyarakat, Klausula Baku,
Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen Nasional,
dan Menteri.
2. Tujuan Perlindungan Konsumen:
a. Meningkatkan kesadaran, kemampuan dan
kemandirian konsumen untuk melindungi diri;
b. Mengangkat harkat dan martabat konsumen
dengan cara menghindarkannya dari ekses
negatif pemakaian barang dan/atau jasa;
c. Meningkatkan pemberdayaan konsumen dalam
memilih, menentukan, dan menuntut hak-haknya
sebagai konsumen;
d. Menciptakan sistem perlindungan konsumen
yang mengandung unsur kepastian hukum dan
keterbukaan informasi serta akses untuk
mendapatkan informasi;
e. Menumbuhkan kesadaran pelaku usaha
mengenai pentingnya perlindungan konsumen
sehingga tumbuh sikap yang jujur dan
bertanggung jawab dalam berusaha;
f. Meningkatkan kualitas barang dan/atau jasa
yang menjamin kelangsungan usaha produksi
barang dan/atau jasa, kesehatan, kenyamanan,
keamanan dan keselamatan konsumen.
3. Hak Konsumen:
a. Hak atas kenyamanan, keamanan dan
keselamatan mengkonsumsi barang dan/atau
jasa;
b. Hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta
mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut
sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta
jaminan yang dijanjikan;
c. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur
mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau
jasa;
d. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya
atas barang dan/atau jasa yang digunakan;
e. Hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan,
dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan
konsumen secara patut;
f. Hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan
konsumen;
g. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara
benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
h. Hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi
dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau
jasa yang diterima tidak sesuai dengan
perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
i. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan
perundang-undangan lainnya.
4. Kewajiban Konsumen:
a. Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan
prosedur pemakaian atau pemanfaatan barang
dan/atau jasa, demi keamanan dan
keselamatan;
b. Beritikad baik dalam melakukan transaksi
pembelian barang dan/atau jasa;
c. Membayar sesuai dengan nilai tukar yang
disepakati;
d. Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa
perlindungan konsumen secara patut.
5. Hak Pelaku Usaha:
a. Menerima pembayaran yang sesuai dengan
kesepakatan mengenai kondisi dan nilai tukar
barang dan/atau jasa yang diperdagangkan;
b. Mendapat perlindungan hukum dari tindakan
konsumen yang beritikad tidak baik;
c. Melakukan pembelaan diri sepatutnya di dalam
penyelesaian hukum sengketa konsumen;
d. Merehabilitasi nama baik apabila terbukti secara
hukum bahwa kerugia konsumen tidak
diakibatkan oleh barang dan/atau jasa yang
diperdagangkan;
e. Hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan
perundang-undangan lainnya.
6. Kewajiban Pelaku Usaha:
a. Beritikad baik dalam melakukan kegiatan
usahanya;
b. Memberikan informasi yang benar, jelas, dan
jujur mengenai kondisi dan jaminan barang
dan/atau jasa serta memberi penjelasan
penggunaan, perbaikan dan pemeliharaan;
c. Memperlakukan atau melayani konsumen
secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
d. Menjamin mutu barang dan/atau jasa yang
diproduksi dan/atau diperdagangkan
berdasarkan ketentuan standar mutu barang
dan/atau jasa yang berlaku;
e. Memberi kesempatan kepada konsumen untuk
menguji dan/atau mencoba barang dan/atau jasa
tertentu serta memberi jaminan dan/atau garansi
atas barang yang dibuat dan/atau yang
diperdagangkan;
f. Memberi kompensasi, ganti rugi dan/atau
penggantian atas kerugian akibat penggunaan,
pemakaian dna pemanfaatan barang dan/atau
jasa yang diperdagangkan;
g. Membri kompensasi, ganti rugi dan/atau
penggantian apabila barang dan/atau jasa yang
diterima atau dimanfaatkan tidak sesuai dengan
perjanjian.
7. Ketentuan pencantuman klausula baku:
a. Menyatakan pengalihan tanggung jawab pelaku
usaha;
b. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak
menolak penyerahan kembali barang yang dibeli
konsumen;
c. Menyatakan bahwa pelaku usaha berhak
menolak penyerahan kembali uang yang
dibayarkan atas barang dan/atau jasa yang
dibeli konsumen;
d. Menyatakan pemberian kuasa dari konsumen
kepada pelaku usaha baik secara langsung
maupun tidak langsung untuk melakukan segala
tindakan sepihak yang berkaitan dengan barang
yang dibeli oleh konsumen secara angsuran;
e. Mengatur perihal pembuktian atas hilangnya
kegunaan barang atau pemanfaatan jasa yang
dibeli oleh konsumen;
f. Memberi hak kepada pelaku usaha untuk
mengurangi manfaat jasa atau mengurangi harta
kekayaan konsumen yang menjadi objek jual beli
jasa;
g. Menyatakan tunduknya konsumen kepada
peraturan yang berupa aturan baru, tambahan,
lanjutan dan/atau pengubahan lanjutan yang
dibuat sepihak oleh pelaku usaha dalam masa
konsumen memanfaatkan jas ayang dibelinya;
h. Menyatakan bahwa konsumen memberi kuasa
kepada pelaku usaha untuk pembebanan hak
tanggungan, hak gadai, atau hak jaminan
terhadap barang yang dibeli oleh konsumen
secara angsuran.
8. Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti
rugi atas kerusakan, pencemaran, dan/atau jasa
yang dihasilkan atau diperdagangkan.
9. Pelaku usaha periklanan bertanggung jawab atas
iklan yang diperoduksi dan segala akibat yang
ditimbulkan oleh iklan tersebut.
10. Dalam rangka mengembangkan upaya
perlindungan konsumen dibentuk Badan
Perlindungan Konsumen Nasional yang berfungsi :
a. Memberikan saran dan rekomendasi kepada
peerintah dalam rangka penyusunan
kebijaksanaan di bidang perlindungan
konsumen;
b. Melakukan penelitian dan pengkajian terhadap
peraturan perundang-undangan yang berlaku di
bidang perlindungan konsumen;
c. Melakukan penelitian terhadap barang dan/atau
jasa yang menyangkut keselamatan konsumen;
d. Mendorong berkembangnya lembaga
perlindungan konsumen swadaya masyarakat;
e. Menyebarluaskan informasi melalui media
mengenai perlindungan konsumen dan
memasyarakatkan sikap keberpihakan kepada
konsumen;
f. Menerima pengaduan tentang perlindungan
konsumen dari masyarakat, lembaga
perlindungan konsumen swadaya masyarakat,
atau pelaku usaha.
11. Tugas Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya
masyarakat:
a. Menyebarkan informasi dalam rangka
meningkatkan kesadaran atas hak dan
kewajiban dan kehati-hatian konsumen dalam
mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
b. Memberikan nasihat kepada konsumen yang
memerlukannya;
c. Bekerjasama dengan instansi terkait dalam
upaya mewujudkan perlindungan konsumen;
d. Melakukan pengawasan bersama pemerintah
dan masyarakat terhadap perlindungan
konsumen.
12. Setiap konsumen yang dirugikan dapat menggugat
pelaku usaha melalui lembaga yang bertugas
menyelesaikan sengketa antara konsumen dan
pelaku usaha atau melalui peradilan yang berada di
lingkungan peradilan umum.
13. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan
diselenggarakan untuk mencapai kesepakatan
mengenai kesepakatan mengenai bentuk dan
besarnya ganti rugi dan/atau mengenai tindakan
tertentu untuk menjamin tidak akan terjadi kembali
atau tidak akan terulang kembali kerugian yang
diderita oleh konsumen.
14. Tugas dan wewenang badan penyelesaian
sengketa konsumen:
a. Melaksanakan penanganan dan penyelesaian
sengketa konsumen dengan cara melalui
mediasi atau arbitrase atau konsiliasi;
b. Memberikan konsultasi perlindungan konsumen;
c. Melakukan pengawasan terhadap pencantuman
klausula baku;
d. Melaporkan kepada penyidik umum apabila
terjadi pelanggaran ketentuan dalam Undang-
undang ini;
e. Menerima pengaduan baik tertulis maupun tidak
tertulis, dari konsumen tentang terjadinya
pelanggaran terhadap perlindungan konsumen;
f. Melakukan penelitian dan pemeriksaan sengketa
perlindungan konsumen;
g. Memanggil pelaku usaha yang diduga telah
melakukan pelanggaran terhadap perlindungan
konsumen;
h. Memanggil dan menghadirkan saksi dan/atau
setiap orang yang dianggap mengetahui
pelanggaran terhadap undang-undang ini;
i. Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan
pelaku usaha, saksi, saksi ahli, atau setiap
orang, yang tidak bersedia memenuhi panggilan
badan penyelesaian sengketa konsumen;
j. Mendapatkan, meneliti, dan/atau menilai surat,
dokumen, atau alat biukti lain guna penyelidikan
dan/atau pemeriksaan;
k. Memutuskan dan menetapkan ada atau tidaknya
kerugian di pihak konsumen;
l. Memberitahukan putusan kepada pelaku usaha
yang melakukan pelanggaran terhadap
perlindungan konsumen;
m. Menjatuhkan sanksi administratif kepada pelaku
usaha yang melanggar ketentuan undang-
undang ini.
HUTAN
1999
UU NO. 41 TAHUN 1999
UNDANG-UNDANG TENTANG KEHUTANAN
ABSTRAK : - Hutan sebagai salah satu penentu sistem penyangga
kehidupan dan sumber kemakmuran rakyat, cenderung
menurun kondisinya, oleh karena itu keberadaannya harus
dipertahankan secara optimal, dijaga daya dukungnya
secara lestari, dan diurus dengan ahlak mulia, adil, arif,
bijaksana, terbuka, profesional, serta bertanggung gugat;
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-
ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun
1967 Nomor 8) sudah tidak sesuai lagi dengan prinsip
penguasaan dan pengurusan hutan dan tuntutan
perkembangan keadaan, sehingga perlu diganti. Dengan
pertimbangan-pertimbangan tersebut, perlu ditetapkan
undang-undang tentang Kehutanan yang baru.
- Dasar hukum Undang-undang ini adalah:
a. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), Pasal 27, dan Pasal
33 Undang-undang Dasar 1945;
b. Ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998 tentang
penyelenggaraan Otonomi Daerah; Pengaturan,
Pembagian, dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional
yang Berkeadilan ; serta Perimbangan Keuangan Pusat
dan Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan
Republik Indonesia;
c. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang
Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran
Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 2043);
d. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang
Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistemnya
(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 49, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3419);
e. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang
Penataan Ruang ( Lembaran Negara Tahun 1992
Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor
3501);
f. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara
Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3699);
g. Undang-undang nomor 39 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 60,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839).
- Dalam Undang-undang ini diatur tentang:
1. Pengertian Kehutanan, Hutan, Kawasan Hutan, Hutan
Negara, Hutan Hak, Hutan Adat, Hutan Produksi, Hutan
Lindung, Hutan Konservasi, Kawasan Hutan Suaka
Alam, Kawasan Hutan Pelestarian Alam, Taman Buru,
Hasil Hutan, Pemerintah, Menteri.
2. Asas Penyelenggaraan kehutanan yaitu manfaat dan
lestari, kerakyatan, keadilan, kebersamaan,
keterbukaan, dan keterpaduan.
3. Tujuan penyelenggaraan kehutanan adalah untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat yang berkeadilan
dan berkelanjutan dengan:
a. Menjamin keberadaan hutan dengan luasan yang
cukup dan sebaran yang proporsional;
b. Mengoptimal aneka fungsi hutan yang meliputi
fungsi konservasi, fungsi lindung, dan fungsi
produksi untuk mencapai manfaat lingkungan,
sosial, budaya, dan ekonomi, yang seimbang dan
lestari;
c. Meningkatkan daya dukung daerah aliran sungai;
d. Meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan
kapasitas dan keberdayaan masyarakat secara
partisipatif, berkeadilan, dan berwawasan
lingkungan sehingga mampu menciptakan
ketahanan sosial dan ekonomi serta ketahanan
terhadap akibat perubahan eksternal;
e. Menjamin distribusi manfaat yang berkeadilan dan
berkelanjutan.
4. Semua hutan di dalam wilayah Republik Indonesia
termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
dikuasai oleh Negara untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat. Penguasaan hutan oleh Negara,
memberi wewenang kepada Pemerintah untuk:
a. Mengatur dan mengurus segala sesuatu yang
berkaitan dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil
hutan;
b. Menetapkan status wilayah tertentu sebagai
kawasan hutan atau kawasan hutan sebagai bukan
kawasan hutan;
c. Mengatur dan menetapkan hubungan-hubungan
hukum antara orang dengan hutan, serta mengatur
perbuatan-perbuatan hukum mengenai kehutanan.
5. Penguasaan hutan oleh Negara tetap memperhatikan
hak masyarakat hukum adat, sepanjang kenyataannya
masih ada dan diakui keberadaannya, serta tidak
bertentangan dengan kepentingan nasional.
6. Hutan berdasarkan statusnya terdiri dari hutan negara
dan hutan hak.
7. Fungsi hutan yaitu:
a. Fungsi konservasi yang terdiri dari kawasan hutan
suaka alam, kawasan hutan pelestarian alam, dan
taman buru.
b. Fungsi lindung;
c. Fungsi produksi.
8. Pemerintah dapat menetapkan kawasan hutan tertentu
untuk tujuan khusus, yang diperlukan untuk
kepentingan umum seperti:
a. Penelitian dan pengembangan;
b. Pendidikan dan latihan;
c. Religi dan budaya.
9. Untuk kepentingan pengaturan iklim mikro, estetika,
dan resapan air, di setiap kota ditetapkan kawasan
tertentu sebagai hutan kota.
10. Pengurusan hutan bertujuan memperoleh manfaat
yang sebesar-besarnya serta serbaguna dan lestari
untuk kemakmuran rakyat. Pengurusan hutan ini
meliputi kegiatan penyelenggaraan:
a. Perencanaan kehutanan;
b. Pengelolaan hutan;
c. Penelitian dan pengembangan, pendidikan dan
latihan, serta penyuluhan kehutanan;
d. Pengawasan.
11. Perencanaan kehutanan dimaksudkan untuk
memberikan pedoman dan arah yang menjamin tujuan
penyelenggaraan kehutanan, dilaksanakan secara
transparan, bertanggung gugat, partisipatif, terpadu,
serta memperhatikan kekhasan dan aspirasi daerah.
Perencanaan kehutanan ini meliputi:
a. Inventarisasi hutan;
b. Pengukuhan kawasan hutan;
c. Penatagunaan kawasan hutan;
d. Pembentukan wilayah pengelolaan hutan;
e. Penyusunan rencana kehutanan.
12. Inventarisasi hutan dilaksanakan untuk mengetahui dan
meperoleh data dan informasi tentang sumber daya,
potensi kekayaan alam hutan, serta lingkungannya
secara lengkap. Inventarisasi hutan dilakukan dengan
survey mengenai status dan keadaan fisik hutan, flora
dan fauna, sumber daya manusia, serta kondisi sosial
masyarakat di dalam dan di sekitar hutan.
13. Inventarisasi hutan terdiri dari:
a. Inventarisasi hutan tingkat nasional;
b. Inventarisasi hutan tingkat wilayah;
c. Inventarisasi hutan tingkat daerah aliran sungai;
d. Inventarisasi hutan tingkat unit pengelolaan.
14. Berdasarkan inventarisasi hutan, Pemerintah
menyelenggarakan pengukuhan kawasan hutan yang
dilakukan untuk memberikan kepastian hukum atas
kawasan hutan. Pengukuhan kawasan hutan melalui
proses sebagai berikut:
a. Penunjukkan kawasan hutan;
b. Penataan batas kawasan hutan;
c. Pemetaan kawasan hutan;
d. Penetapan kawasan hutan.
15. Berdasarkan hasil pengukuhan kawasan hutan,
Pemerintah menyelenggarakan penatagunaan
kawasan hutan yang meliputi kegiatan penetapan
fungsi dan penggunaan kawasan hutan.
16. Pembentukan wilayah pengelolaan hutan dilaksanakan
untuk tingkat propinsi, kabupaten/kota dan unit
pengelolaan. Pembentukan wilayah pengelolaan hutan
tingkat unit pengelolaan dilaksanakan dengan
mempertimbangkan karakteristik lahan, tipe hutan,
fungsi hutan, kondisi daerah aliran sungai, sosial
budaya, ekonomi, kelembagaan masyarakat setempat
termasuk masyarakat hukum adat dan batas
administrasi Pemerintahan.
17. Pemerintah menetapkan dan mempertahankan
kecukupan luas kawasan hutan untuk setiap daerah
aliarn sungai dan/atau pulau, guna optimalisasi manfaat
lingkungan, manfaat sosial, dan manfaat ekonomi
masyarakat setempat. Luas kawsan hutan yang harus
dipertahankan minimal 30% (tiga puluh persen) dari
luas daerah aliran sungai dan/atau pulau dengan
sebaran yang proporsional.
18. Berdasarkan hasil inventarisasi, dengan
mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan dan
kondisi sosial masyarakat, Pemerintah menyususn
rencana kehutanan yang disusun menurut jangka
waktu perencanaan, skala goegrafis, dan menurut
fungsi pokok kawasan hutan.
19. Pengelolaan hutan meliputi kegiatan:
a. Tata hutan dan penyusunanrencana pengelolaan
hutan, dilaksanakan dalam rangka pengelolaan
kawasan hutan yang lebih intensif untuk mmperoleh
manfaat yang lebih optimal dan lestari. Tata hutan
meliputi pembagian kawasan hutan dalam blok-blok
berdasarkan ekosistem, tipe, fungsi, dan rencana
pemanfaatan hutan.
b. Pemanfaatan hutan dan penggunaan kawasan
hutan, bertujuan memperoleh manfaat yang optimal
bagi kesejahteraan seluruh masyarakat secara
berkeadilan dengan tetap menjaga kelestariannya.
c. Rehabilitasi dan reklamasi hutan;
d. Perlindungan hutan dan konservasi alam.
20. Pemanfaatan hutan lindung dapat berupa pemanfaatan
kawasan, pemanfaatan jasa lingkungan, dan
pemanfaatan hasil hutan bukan kayu yang
dilaksanakan melalui pemberian izin usaha
pemanfaatan kawasan, izin usaha pemanfaatan jasa
lingkungan, dan izin pemungutan hasil hutan bukan
kayu.
21. Pemanfaatan hutan produksi dapat berupa
pemanfaatan kawasan, pemanfaatan jasa lingkungan,
pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu, serta
pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu.
22. Dalam rangka pemberdayaan ekonomi masyarakat,
setiap badan usaha milik negara, badan usaha milik
daerah, dan badan usaha milik swasta Indonesia yang
memperoleh izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan,
izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan
kayu, diwajibkan bekerjasama dengan koperasi
masyarakat setempat.
23. Pengelolaan kawasan hutan untuk tujuan khusus dapat
diberikan kepada:
a. Masyarakat hukum adat;
b. Lembaga pendidikan;
c. Lembaga penelitian;
d. Lembaga sosial dan keagamaan.
24. Rehabilitasi hutan dan lahan dimaksudkan untuk
memulihkan, mempertahankan, dan meningkatkan
fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung,
produktivitas, dan perananya dalam mendukung sistem
penyangga kehidupan tetap terjaga. Rehabilitasi hutan
dan lahan diselenggarakan melalui kegiatan:
a. Rebiosasi;
b. Penghijauan;
c. Pemeliharaan;
d. Pengayaan tanaman;
e. Penerapan teknik konservasi tanah secara vegetatif
dan sipil teknis, pada lahan kritis dan tidak produktif.
25. Reklamasi hutan meliputi usaha untuk memperbaiki
atau memulihkan kembali lahan dan vegetasi hutan
yang rusak agar dapat berfungsi secara optimal sesuai
dengan peruntukkannya. Kegiatan reklamasi meliputi
inventarisasi lokasi, penetapan lokasi, perencanaan,
dan pelaksanaan reklamasi.
26. Penyelenggaraan perlindungan hutan dan konservasi
alam bertujuan menjaga hutan, kawasan hutan dan
lingkungannya, agar fungsi lindung, fungsi konservasi,
dan fungsi produksi, tercapai secara optimal dan lestari.
Perlindungan hutan dan kawasan hutan merupakana
usaha untuk:
a. Mencegah dan membatasi kerusakan hutan,
kawasan hutan, dan hasil hutan yang disebabkan
oleh perbuatan manusia, ternak, kebakaran, daya-
daya alam, hama, serta penyakit;
b. Mempertahankan dan menjaga hak-hak negara,
mesyarakat, dan perorangan atas hutan, kawasan
hutan, hasil hutan, investasi serta perangkat yang
berhubungan dengan pengelolaan hutan.
27. Larangan bagi setiap orang untuk:
a. Mengerjakan dan/atau menggunakan dan/atau
menduduki kawasan hutan secara tidak sah;
b. Merambah kawasan hutan;
c. Melakukan penebangan pohon dalam kawasan
hutan dengan radius atau jarak sampai dengan:
1) 500 (lima ratus) meter dari tepi waduk atau
danau;
2) 200 (dua ratus) meter dari tepi mata air dan kiri
kanan sungai di daerah rawa;
3) 100 (seratus) meter dari kiri kana tepi sungai;
4) 50 (lima puluh) meter dari kiri kanan tepi anak
sungai;
5) 2 (dua) kali kedalaman jurang dari tepi jurang;
6) 130 (seratus tiga puluh) kali selisih pasang
tertinggi dan pasang terendah dari tepi sungai.
d. Membakar hutan;
e. Menebang pohon atau memanen atau memungut
hasil hutan di dalam hutan tanpa memiliki hak atau
izin dari pejabat yang berwenang;
f. Menerima, membeli atau menjual, menerima tukar,
menerima, titipan, menyimpan, atau memiliki hasil
hutan yang diketahui atau patut diduga bberasal
dari kawasan hutan yang diambil atau dipngut
secara tidak sah;
g. Melakukan kegiatan penyelidikan umum atau
eksplorasi atau eksploitasi bahan tambang di dalam
kawasan hutan, tanpa izin Menteri;
h. Mengangkut, menguasai, aatu mamiiki hasil hutan
yang tidak dilengkapi bersama-sama dengan surat
keterangan sahnya hasil hutan;
i. Meneggembalakan ternak di dalam kawasan hutan
yang tidak ditunjuk secara khusus untuk maksud
tersebut oleh pejabat yang berwenang;
j. Membawa alat-alat berat dan/atau alat-alat lainnya
yang lazim atau patut diduga akan digunakan untuk
mengangkut hasil hutan di dalam kawasan hutan,
tanpa izin pejabat yang berwenang;
k. Membawa alat-alat yang lazim digunakan untuk
menebang, memotong, atau membelah pohon di
dalam kawasan hutan tanpa izin pejabat yang
berwenang;
l. Membuang benda-benda yang dapat menyebabkan
kebakaran dan kerusakan serta membahayakan
keberadaan atau kelangsungan fungsi hutan ke
dalam kawasan hutan;
m. Mengeluarkan, membawa, dan mengangkut
tumbuh-tumbuhan dan satwa liar yang tidak
dilindungi undang-undang yang berasal dari
kawasan hutan tanpa izin pejabat yang berwenang.
28. Untuk menjamin terselenggaranya perlindungan hutan,
maka kepada pejabat kehutanan tertentu sesuai
dengan sifat pekerjaannya diberikan wewenang
kepolisian khusus yaitu kewenangan untuk:
a. Mengadakan patroli/perondaan di dalam kawasan
hutan atau wilayah hukumnya;
b. Memeriksa surat-surat atau dokumen yang
berkaitan dengan pengangkutan hasil hutan di
dalam kawasan hutan atau wilayah hukumnya;
c. Menerima laporan tentang telah terjadinya tindak
pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan dan
hasil hutan;
d. Mencari keterangan dan barang bukti terjadinya
tindak pidana yang menyangkut hutan, kawasan
hutan, dan hasil hutan;
e. Dalam hal tertangkap tangan, wajib menangkap
tersangka untuk diserahkana kepada yang berwajib;
f. Membuat laporan dan menandatangani laporan
tentang terjadinya tindak pidana yang menyangkut
hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan.
29. Penelitian dan pengembangan kehutanan bertujuan
untuk meningkatkan kemampuan pengurusan hutan
dalam mewujudkan pengeloalan hutan secara lestari
dan peningkatan nilai tambah hasil hutan. Penelitian
dan pengembangan kehutanan juga dimaksudkan
untuk mengembangkan kemampuan nasional serta
budaya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam
pengurusan hutan.
30. Dunia usaha dalam bidang kehutanan wajib
menyediakan dana investasi untuk penelitian dan
pengembangan, pendidikan dan katihan serta
penyuluhan kehutanan.
31. Pengawasan kehutanan dimaksudkan untuk
mencermati, menelusuri, dan menilai pelaksanaan
pengurusan hutan, sehingga tujuannya dapat tercapai
secara maksimal dan sekaligus merupakan merupakan
umpan balik bagi perbaikan dan/atau penyempurnaan
pengurusan hutan lebih lanjut.
32. Masyarakat hukum adat sepanjang menurut
kenyataannya masih ada dan diakui keberadaannya
berhak:
a. Melakukan pemungutan hasil hutan untuk
pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari
masyarakat adat yang bersangkutan;
b. Melakukan kegiatan pengelolaan hutan berdasarkan
hukum adat yang berlaku dan tidak bertentangan
dengan Undang-undang;
c. Mendapatkan pemberdayaan dalam rangka
meningkatkan kesejahteraannya.
33. Selain berhak menikmati kualitas lingkungan hidup
yang dihasilkan hutan, masyarakat juga berhak:
a. Memanfaatkan hutan dan hasil hutan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku;
b. Mengetahui rencana peruntukan hutan,
pemanfaatan hasil hutan, dan informasi kehutanan;
c. Memberi informasi, saran, serta pertimbangan
dalam pembangunan kehutanan;
d. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan
pembangunan kehutanan baik langsung maupun
tidak langsung.
34. Masyarakat di dalam dan di sekitar hutan berhak
memperoleh kompensasi karena hilangnya akses
dengan hutan sekitarnya sebagai lapangan kerja untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya akibat penetapan
kawasna hutan, sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
35. Setiap orang berhak memperoleh kompensasi karena
hilangnya hak atas tanah miliknya sebagai akibat dari
adanya penetapan kawasan hutan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
36. Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan ke
pangadilan dan/atau melaporkan ke penegak hukum
terhadap kerusakan hutan yang merugikan kehidupan
masyarakat. Hak gugatan tersebut terbatas pada
tuntutan terhadap pengelolaan hutan yang tidak sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
37. Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab
pengelolaan hutan, organisasi bidang kehutanan
berhak mengajukan gugatan perwakilan untuk
kepentingan pelestarian fungsi hutan. Organisasi
tersebut harus memenuhi persyaratan :
a. Berbentuk badan hukum;
b. Organisasi tersebut dalam anggaran dasarnya
dengan tegas menyebutkan tujuan didirikannya
organisasi untuk kepentingan pelestarian fungsi
hutan;
c. Telah melaksnaakan kegiatan sesuai dengan
anggaran dasarnya.
38. Penyelesaian sengketa kehuatanan dapat ditempuh
melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan
pilihan secara sukarela para pihak yang bersengketa.
Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa
kehutaan di luar pengadilan, maka gugatan
melaluipengadilan dapat dilakukan setelah tidak
tercapai kesepakatan antara para pihak yang
bersengketa.
39. Penyelesaian sengketa kehutanan di luar pengadilan
dimaksudkan untuk mencapai kesepakatan mengenai
pengembalian suatu hak, besarnya ganti rugi, dan/atau
mengenai bentuk tindakan tertentu yang harus
dilakukan untuk memulihkan fungsi hutan.dalam
penyelesaian sengketa ini dapat digunakan jasa pihak
ketiga yang ditunjuk bersama oleh para pihak dan/atau
pendampingan organisasi non Pemerintah untuk
membantu penyelesaian sengketa kehutanan.
40. Penyelesaian sengketa kehutanan melalui pengadilan
dimaksudkan untuk memperoleh putusan mengenai
pengembalian suatu hak, besarnya ganti rugi, dan/atau
tindakan tertentu yang harus dilakukan oleh pihak yang
kalah dalam sengketa. Pengadilan dapat pula
menetapkan pembayaran uang paksa atas
keterlambatan pelaksanaan tindakan tertentu tersebut
setiap hari.
41. Penyidik dalam Undang-undang ini tidak hanya Pejabat
Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia,
Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang lingkup
tugas dan tanggung jawanya meliputi pengurusan
hutan, juga dapat diberi wewenang khusus sebagai
penyidik, sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-
undang Hukum Acara Pidana. Pejabat Penyidik
Pegawai Negeri Sipil, berwenang untuk:
a. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan
atau keterangan yang berkenaan dengan tindak
pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan dan
hasil hutan;
b. Melakukan pemeriksaan terhadap orang yang
diduga melakukan tindak pidana yang menyangkut
hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan;
c. Memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada
dalam kawasan hutan atau wilayah hukumnya;
d. Melakukan penggeledahan dan penyitaan barang
bukti tindak pidana yang menyangkut hutan.,
kawasan hutan, dan hasil hutan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku;
e. Meminta keterangan dan barang bukti dari orang
atau badan hukum sehubungan dengan tindak
pidana yang menyangkut hutan, kawasan hutan dan
hasil hutan;
f. Menangkap dan menahan dalam koordinasi dan
pengawasan penyidik Kepolisian Negara Republik
Indonesia sesuai Kitab Undang-undang Hukum
Acara Pidana;
g. Membuat dan menandatangani berita acara;
h. Menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat
cukup bukti tentang adanya tindak pidana yang
menyangkut hutan, kawasan hutan dan hasil hutan.
42. Kekayaan negara berupa hasil hutan dan barang
lainnya baik berupa temuan dan/atau rampasan dari
hasil kajahatan atau pelanggaran, dilelang untuk
Negara. Bagi pihak-pihak yang berjasa dalam upaya
penyelamatan kekayaan Negara, diberikan insentif
yang disisihkan dari hasil lelang yang dimaksud.
43. Setiap perbuatan melanggar hukum yang diatur dalam
Undang-undang ini, dengan tidak mengurangi sanksi
pidana mewajibkan kepada penanggung jawab
perbuatan itu untuk membayar ganti rugi sesuai dengan
tingkat kerusakan atau akibat yang ditimbulkan kepada
Negara, unutk biaya rehabilitasi, pemulihan kondisi
hutan, atau tindakan lain yang diperlukan.
Catatan : - Dengan diberlakukannya Undang-undang ini maka:
a. Boschordonantie Java en Madoera 1927, Staatsblad
Tahun 1931 Nomor 168, terakhir diubah dengan
Staatsblad Tahun 1934 Nomor 63;
b. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang
Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran
Negara Tahun 1967 Nomor 8, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 2823)
Dinyatakan tidak berlaku lagi.
VARIETAS – PERLINDUNGAN
2000
UU NO. 29 TAHUN 2000, LN TAHUN 2000 NO. 241, TLN NO. 4043
UNDANG-UNDANG TENTANG PERLINDUNGAN VARIETAS TANAMAN
ABSTRAK : - Untuk meningkatkan minat dan peran serta perorangan
Maupun badan hukum untuk melakukan kegiatan
pemuliaan tanaman dalam rangka menghasilkan varietas
unggul baru, kepada pemulia tanaman atau pemegang hak
Perlindungan Varietas Tanaman perlu diberikan hak
tertentu serta perlindungan hukum atas hak tersebut
secara memadai;
sesuai dengan konvensi internasional perlindungan
varietas tanaman perlu diatur dengan Undang-undang.
- Dasar Hukum Undang-undang ini adalah :
1) Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945;
2) Undang-undang Nomor 6 Tahun 1989 tentang paten
(Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 39, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3398) sebagaimana telah
diubah dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1997
(Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 30, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3680);
3) Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem
Budidaya Tanaman (Lembaran Negara Tahun 1992
Nomor 45, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478);
4) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang
Pengesahan United Nations Convention on Biological
Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa
tentang Keanekaragaman Hayati (Lembaran Negara
Tahun 1994, Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3556);
5) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang
Pengesahan Agreement Establishing The World Trade
Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi
Perdagangan Dunia( Lembaran Negara Tahun 1994
Nomor 57, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3564);
6) Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara
Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3699);
7) Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 169,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3888)
- Dalam Undang-undang ini diatur tentang:
1. Pengertian Perlindungan Varietas Tanaman, Hak
Perlindungan Varietas Tanaman, Varietas Tanaman,
Pemuliaan Tanaman, Pemulia Tanaman, Konsultan
Perlindungan Varietas Tanaman, Benih Tanaman,
Pemeriksa Perlindungan Varietas Tanaman, Kantor
Perlindungan Varietas Tanaman, Menteri, Departemen,
Hak Prioritas, Lisensi, Lisensi Wajib, Royalti, Daftar
Umum Perlindungan Varietas Tanaman, Berita Resmi
Perlindungan Varietas Tanaman.
2. Varietas yang dapat diberi PVT adalah varietas dari
jenis atau spesies tanaman yang baru, unik, seragam,
stabil, dan diberi nama.
3. Varietas yang diberi PVT harus diberi penamaan yang
selanjutnya menjadi nama varietas yang bersangkutan,
dengan ketentuan:
a. Nama varietas tersebut terus dapat digunakan
meskipun masa perlindungannya telah habis;
b. Pemberian nama tidak boleh menimbulkan
kerancuan terhadap sifat-sifat varietas;
c. Penamaan varietas dilakukan oleh pemohon hak
PVT dan didaftarkan pada kantor PVT;
d. Apabila penamaan tidak sesuai dengan ketentuan,
maka Kantor PVT berhak menolak penamaan
tersebut dan meminta penamaan baru;
e. Apabila nama varietas tersebut telah
dipergunakan untuk varietas lain, maka pemohon
wajib mengganti nama varietas tersebut;
f. Nama varietas yang diajukan dapat juga diajukan
sebagai merek dagang sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.
4. Varietas yang tidak dapat diberi PVT adalah varietas
yang penggunaannya bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, ketertiban umum,
kesusilaan, norma-norma agama, kesehatan, dan
kelestarian lingkungan hidup.
5. Jangka waktu PVT: 20 tahun untuk tanaman
semusim; dan 25 tahun untuk tanaman tahunan.
6. Pemegang hak PVT adalah pemulia atau orang atau
badan hukum, atau pihak lain yang menerima lebih
lanjut hak PVT dari pemegang hak PVT sebelumnya.
7. Hak Pemegang PVT untuk menggunakan dan
memberikan persetujuan kepada orang atau badan
hukum lain untuk menggunakan varietas berupa
benih dan hasil panen yang digunakan untuk
propagasi. Hak untuk menggunakan varietas meliputi
kegiatan :
a. Memproduksi atau memperbanyak benih;
b. Menyiapkan untuk tujuan propagasi;
c. Mengiklankan;
d. Menawarkan;
e. Menjual atau memperdagangkan;
f. Mengekspor;
g. Mengimpor;
h. Mencadangkan untuk keperluan sebagaimana
dalam butir a, b,c,e,f, dan g
8. Hak PVT tidak dianggap sebagai pelanggaran apabila :
a. Penggunaan sebagian hasil panen dari varietas yang
dilindungi, sepanjang tidak untuk tujuan komersial;
b. Penggunaan varietas yang dilindungi untuk kegiatan
penelitian, pemuliaan tanaman, dan perakitan varietas
baru;
c. Penggunaan oleh Pemerintah atas varietas yang
dilindungi dalam rangka kebijakan penggandaan
pangan dan obat-obatan dengan memperhatikan hak-
hak ekonomi dari pemegang hak PVT.
9. Permohonan PVT diajukan kepada kantor PVT secara
tertulis dalam bahasa Indonesia dengan membayar biaya
yang besarnya ditetapkan oleh Menteri.
10. Permohonan hak PVT dianggap diajukan pada tanggal
penerimaan surat permohonan hak PVT oleh kantor PVT
dan telah diselesaikannya pembayaran biaya.
11. Perubahan permohonan Hak Perlindungan Varietas
Tanaman dapat diubah sebelum dan selama masa
pemeriksaan.
12. Hak PVT dapat ditarik kembali dengan mengajukan
permohonan tertulis kepada kantor PVT.
13. Larangan mengajukan permohonan hak PVT selama
masih terikat dinas aktif segingga selama satu tahun
sesudah pensiun atau bewrhenti karena sebab apapun
dari kantor PVT, pegawai kantor PVT atau orang yang
karena penugasannya bekerja untuk dan atas nama kantor
PVT, dilarang mengajukan permohonan PVT, memperoleh
hak PVT, atau dengan cara apapun memperoleh hak atau
memegang hak yang berkaitan dengan PVT, kecuali bila
pemilikan hak PVT itu diperoleh karena warisan.
14. Seluruh pegawai di lingkungan kantor PVT berkewajiban
menjaga kerahasiaan varietas dan seluruh dokumen
permohonan hak PVT sampai dengan tanggal
diumumkannya permohonan hak PVT yang bersangkutan
terhitung sejak tanggal penerimaan surat permohan hak
PVT.
15. Pengumuman permohonan hak PVT dilakukan oleh kantor
PVT bagi yang telah memenuhi ketentuan pasal 11 dan /
atua pasal 14 serta tidak ditarik kembali. Pengumuman
berlangsung selama 6 bulan dan dilakukan dengan:
a. Menggunakan fasilitas pengumuman yang mudah dan
jelas diketahui oleh masyarakat;
b. Menempatkan dalam Berita Resmi PVT
16. Permohonan pemeriksaan substantif atas permohonan hak
PVT harus diajukan ke kantor PVT secara tertulis
selambat-lambatnya satu bulan setelah berkahirnya masa
pengumuman dengan membayar biaya pemeriksaan
tersebut, yang besarnya ditetapkan oleh Menteri.
17. Pemberian dan penolakan hak PVT diputuskan oleh kantor
PVT dalam waktu selambat-lambatnya 24 (dua puluh
empat) bulan terhitung sejak tanggal permohonan
pemeriksaan substantif.
18. Permohonan banding dapat diajukan terhadap penolakan
permohonan hak PVT yang berkaitan dengan alasan dan
dasar pertimbangan mengenai hal-hal yang bersifat
substantif.
19. Hak PVT dapat beralih atau dialihkan karena :
a. Pewarisan;
b. Hibah;
c. Wasiat;
d. Perjanjian dalam bentuk akta notaris;
e. Sebab lain yang dibenarkan oleh Undang-undang
20. Lisensi diberikan pada pemegang hak PVT atau badan
hukum lain berdasarkan surat perjanjian lisensi.
21. Lisensi Wajib dapat dimintakan bagi setiap orang atau
badan hukum, setelah lewat jangka waktu 36 (tiga puluh
enam) bulan terhitung sejak tanggal pemberian hak PVT
kepada Pengadilan Negeri.
22. Lisensi Wajib berakhir karena :
a. Selesainya jangka waktu yang ditepakan dalam
pemberiannya;
b. Dibatalkan atau dalam hal pemegang Lisensi Wajib
menyerahkan kembali lisensi yang diperolehnya
kepada kantor PVT sebelum jangka waktu tersebut
berakhir.
23. Hak PVT berakhir karena :
a. Berakhirnya jangka waktu;
b. Pembatalan;
c. Pencabutan.
24. Pencabutan hak PVT dilakukan oleh kantor PVT karena
alasan :
a. Pemegang hak PVT tidak memenuhi kewajiban
membayar biaya tahunan dalam jangka waktu enam
bulan;
b. Syarat/ciri–ciri varietas yang dilindungi sudah berubah
atau tidak sesuai lagi dengan ketentuan pada pasal 2;
c. Pemegang hak PVT tidak mampu menyediakan dan
menyiapkan contoh benih varietas yang telah
mendapatkan hak PVT;
d. Pemegang hak PVT tidak menyediakan benih varietas
yang telah mendapatkan hak PVT;
e. Pemegang hak PVT mengajukan permohonan
pencabutan hak PVTnya serta alasannya secara
tertulis kepada kantor PVT.
25. Biaya tahunan wajib dibayarkan oleh pemegang PVT untuk
kelangsungan berlakunya hak PVT.
26. Untuk pengelolaan PVT dibentuk kantor PVT yang
bertugas menyelenggarakan administrasi, dokumentasi,
pemeriksaan, dan pelayanan informasi PVT sesuai
dengan peraturan yang berlaku.
27. Penyidikan dilakukan oleh penyidik pejabat Kepolisian
Negara Republik Indonesia, pejabat pegawai negeri sipil
tertentu di departemen yang lingkup tugas dan tanggung
jawabnya meliputi pembinaan PVT.
28. Penyidik berwenang :
a. Melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau
keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang
PVT;
b. Melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan
yang diduga melakukan tindak pidana di bidang PVT;
c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau
badan sehubungan dengan peristiwa tindak pidana di
bidang PVT;
d. Melakukan pemeriksaan atas pembukuan, pencatatan,
dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidanan di
bidang PVT;
e. Melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga
terdapat bahan bukti pembukuan, pencatatan, dan
dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap hasil
pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara
tindak pidana di bidang PVT;
f. Meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas
penyidikan tindak pidana di bidang PVT.
29. Ketentuan pidana :
a. Barang siapa dengan sengaja melakukan salah satu
kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat
(3) tanpa persetujuan pemegang hak PVT, dipidana
dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun dan
denda paling banyak Rp. 2.500.000.000,00 (dua miliar
lima ratus juta rupiah);
b. Barang siapa dengan sengaja tidak memenuhi
kewajiban sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat
(1), dan pasal 23, dipidana dengan pidana penjara
paling lama lima tahun dan denda paling banyak Rp.
1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah);
c. Barang siapa dengan sengaja melanggar ketentuan
pasal 10 ayat (1) untuk tujuan komersial, dipidana
penjara paling lama lima tahun dan denda paling
banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)
d. Barang siapa dengan sengaja tidak memenuhi
kewajiban sebagaimana dimaksud dalam pasal 30 ayat
(3), dipidana penjara paling lama lima tahun dan denda
paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah)
Catatan : Undang-undang ini mulai berlaku tanggal 20 Desember 2000
IPTEK – PENERAPAN – SISTEM
2002
UU NO. 18 TAHUN 2002, LN TAHUN 2002 NO. 241, TLN NO. 4219
UNDANG-UNDANG TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN,
PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN
TEKNOLOGI
ABSTRAK : - Untuk manumbuhkembangkan penguasaan, pemanfaatan dan
pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, diperlukan sistem
nasional penelitian, pengembangan, dan penerapan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang mengandung dan membentuk
keterkaitan yang tidak terpisahkan dan saling meperkuat antara
unsur-unsur kelembagaan, sumber daya, serta jaringan ilmu
pengetahuan dan teknologi dalam satu keseluruhan yang utuh
di lingkungan Negara Republik Indonesia.
Penumbuhkembangan sistem nasional penelitian,
pengembangan, dan penerapan ilmu pengetahuan dan
teknologi adalah tugas dan tanggung jawab Negara.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, perlu dibentuk Undang-
undang tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan,
dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
- Dasar Hukum Undang-undang ini adalah :
Pasal 5 ayat (1) dan Pasal 20 ayat (1), ayat (2), ayat (4),
Undang-undang Dasar 1945 sebagaimana telah diubah,
terakhir dengan Perubahan Ketiga Undang-undang Dasar 1945.
- Dalam Undang-undang ini diatur tentang:
1. Pengertian Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi yang strategis, Penelitian,
Pengembangan, Invensi, Penerapan, Perekayasaan,
Inovasi, Difusi Teknologi, Alih Teknologi, Lembaga
Penelitian dan Pengembangan, Badan Usaha,
Organisasi Profesi, Hak Kekayaan Intelektual,
Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Menteri.
2. Tujuan Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan
Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi adalah
memperkuat daya dukung ilmu pengetahuan dan
teknologi bagi keperluan mempercepat pencapaian
tujuan Negara, serta meningkatkan daya saing dan
kemandirian dalam memperjuangkan kepentingan
Negara dalam pergaulan internasional.
3. Fungsi Nasional Penelitian, Pengembangan, dan
Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi adalah
untuk membentuk pola bangunan yangsaling
memperkuat antara unsur penguasaan, pemanfaatan,
dan pemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam
satu keseluruhan yang utuh.
4. Kelembagaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek)
terdiri dari unsur
a. perguruan tinggi, berfungsi membentuk sumber daya
manusia ilmu pengetahuan dan teknologi;
b. lembaga litbang, berfungsi menumbuhkan
kemampuan pemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi;
c. badan usaha, berfungsi menumbuhkan kemampuan
perekayasaan, inovasi, dan difusi teknologi untuk
menghasilkan barang dan jasa yang memiliki nilai
ekonomis;
d. lembaga penunjang, berfungsi memberikan dukungan
dan membentuk iklim yang kondusif bagi
penyelenggaraan kegiatan penguasaan,
pemanfaatan, dan pemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
5. Sumber Daya Iptek terdiri atas keahlian, kepakaran,
kompetensi manusia dan pengorganisasiannya,
kekayaan intelektual dan informasi, serta sarana dan
prasarana imu dan pengetahuan.
6. Fungsi Jaringan Sistem Nasional Penelitian,
Pengembangan, dan Penerapan Iptek adalah
membentuk jalinan hubungan interaktif yang memadukan
unsur-unsur kelembagaan Iptek untuk menghasilkan
kinerja dan manfaat yang lebih besar dari keseluruhan
yang dapat bdihasilkan oleh masing-masing unsur
kelembagaan secara sendiri-sendiri.
7. Kerjasama internasional dapat diusahakan oleh semua
unsur kelembagaan Iptek untuk meningkatkan alih
teknologi dari negara-negara lain serta meningkatkan
partisipasi dalam kehidupan masyarakat ilmiah
internasional.
8. Fungsi Pemerintah adalah untuk menumbuhkembangkan
motivasi, meberikan simulasi dan fasilitas, serta
menciptakan iklim yang kondusif bagi Perkembangan
Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan
Penerapan Iptek di Indonesia.
9. Menteri mengkoordinasikan perumusan kebijakan
strategis dengan mempertimbangkan segala masukan
dan pandangan yang diberikan oleh unsur kelembagaan
Iptek. Dalam menetapkan prioritas utama dan
mengembangkan berbagai aspek kebijakan penelitian,
pengembangan dan penerapan Iptek dengan
memperhatikan pentingnya upaya:
a. Penguatan penguasaan ilmu-ilmu dasar, ilmu
pengetahuan dan teknologi yang strategis, dan
peningkatan kapasitas penelitian dan pengembangan
yang merupakan tulang punggung perkembangan
penguasaan ilmu-ilmu sosial dan budaya yang
mendukung perkembangan Iptek;
b. Penguatan pertumbuhan industri berbasis teknologi
untuk meningkatkan kemampuan perekayasa, inoasi
dan difusi teknologi serta memperkuat tarikan pasar
bagi hasil kegiatan penelitian dan pengembangan;
c. Penguatan kemampuan audit teknologi impor yang
dikaitkan dengan penguatan Standar Nasional
indonesia untuk melindungi konsumen dan
memfasilitasi pertumbuhan industri dalam negeri.
10. Fungsi Pemerintah Daerah adalah untuk
menumbuhkembangkan motivasi, memberikan stimulasi
dan fasilitas, serta menciptakan iklim yang kondusif bagi
pertumbuhan serta sinergi unsur kelembagaan,
sumberdaya, dan jaringan Iptek di wilayah
pemerintahannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan
dari Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan
Penerapan Iptek.
11. Pembiayaan yang diperlukan untuk pelaksanaan
penguasaan, pemanfaatan, dan pemajuan Iptek
merupakan tanggung jawab bersama antara masyarakat
dan pemerintah.
12. Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib
mengalokasikan anggaran sebesar jumlah tertentu yang
cukup memadai untuk memacu akselerasi penguasaan,
pemanfaatan, dan pemajuan iptek.
13. Badan Usaha wajib mengalokasikan sebagain
pendapatannya untuk meningkatkan kemampuan
perekayasaan, renovasi dan difusi teknologi dalam
meningkatkan kinerja produksi dan daya saing barang
dan jasa yang dihasilkan;
14. Pelanggaran terhadap ketentuan dalam Undang-undang
ini dijatuhi sanksi administrasi mulai dari teguran,
peringatan, pemberhentian sementara kegiatan, sampai
dengan pembatalan atau pencabutan izin dari instansi
pemberi izin.
15. Sanksi pidana diberikan pada:
(1) Setiap orang yang melakukan kegiatan penelitian,
pengembangan dan penerapan Iptek tanpa terlebih
dahulu mendapat izin diancam pidana denda paling
banyak Rp. 50.000.000 (lima puluh juta rupiah)
dan/atau penjara paling lama 6 bulan;
(2) Setiap orang yang melakukan kegiatan penelitian,
pengembangan dan penerapan Iptek yang
mengakibatkan bahaya bagi keselamatan manusia,
kesehatan masyarakat, kelestarian fungsi
lingkungan hidup, kerukunan
bermasyarakat,keselamatan bangsa, dan
merugikan Negara, dijatuhi sanksi pidana penjara
sesuai dengan peraturan yang berlaku.
CATATAN : Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal 29 Juli 2002
AIR – SUMBER DAYA
2004
UU NO. 7 TAHUN 2004, LN TAHUN 2005 NO. 32, TLN NO. 4377
UNDANG-UNDANG TENTANG SUMBER DAYA AIR
ABSTRAK : - Dalam menghadapi ketidakseimbangan antara ketersediaan air
yang cenderung menurun dan kebutuhan air yang semakin
meningkat, sumber daya air wajib dikelola dengan
memperhatikan fungsi sosial, lingkungan hidup dan ekonomi
secara selaras.
Sejalan dengan semangat demokratisasi, desentralisasi, dan
keterbukaan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara, masyarakat perlu diberi peran dalam
pengelolaan air.
Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan
sudah tidak sesuai dengan tuntutan perkembangan keadaan,
dan perubahan dalam kehidupan masyarakat sehingga perlu
diganti dengan Undang-undang yang baru.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, perlu
dibentuk undang-undang tentang sumber daya air.
- Dasar hukum Undang-undang ini adalah: Pasal 5 ayat (1),
Pasal 18, Pasal 18A, Pasal 20 ayat (2), Pasal 22 huruf D ayat
(1), ayat (2), ayat (3), Pasal 33 ayat (3), dan ayat (5) Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
- Dalam Undang-undang ini diatur tentang:
1. Pengertian Sumber Daya Air, Air, Air Permukaan, Air
Tanah, Sumber Air, Daya Air, Pengelolaan Sumber Daya
Air, Pola Pengelolaan Sumber Daya Air, Rencana
Pengelolaan Sumber Daya Air, Wilayah Sungai, Daerah
Aliran Sungai, Cekungan Air Tanah, Hak Guna Air, Hak
Guna Pakai Air, Hak Guna Usaha Air, Pemerintah Daerah,
Pemerintah Pusat, Konservasi Sumber Daya Air,
Pendayagunaan Sumber Daya Air, Pengendalian Daya
Rusak Air, Daya Rusak Air, Perencanaan, Operasi,
Pemeliharaan, Prasarana Sumber Daya Air, Pengelola
Sumber Daya Air.
2. Sumber daya air dikelola berdasarkan asas kelestarian,
keseimbangan, kemanfaatan umu, keterpaduan dan
keserasian, keadilan kemandirian, serta transparansi dan
akuntabilitas.
3. Fungsi sumber daya air antara lain fungsi sosial,
lingkungan hidup, dan ekonomi yang diselenggarakan dan
diwujudkan secara selaras.
4. Hak guna air berupa hak guna pakai air dan hak guna
usaha air. Hak guna air tidak dapat disewakan atau
dipindahtangankan, sebagian atau seluruhnya.
5. Hak guna pakai air diperoleh tanpa izin untuk memenuhi
kebutuhan pokok sehari-hari perseorangan dan bagi
pertanian rakyat yang berada di dalam sistem irigasi. Hak
guna pakai air memerlukan izin, apabila:
a. Cara menggunakannya dilakukan dengan mengubah
kondisi alami sumber air;
b. Ditujukan untuk keperluan kelompok yang memerlukan
air dalam jumlah besar;
c. Digunakan untruk pertanian rakyat di luar sistem irigasi
yang sudah ada.
6. Wewenang dan tanggung jawab Pemerintah dalam
pengelolaan sumber daya air meliputi:
a. Menetapkan kebijakan nasional sumber daya air;
b. Menetapkan pola pengeloaan sumber daya air pada
wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas
negara, dan wilayah sungai strategis nasional;
c. Menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air
pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai
lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional;
d. Menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumberd
aya air pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah
sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis
nasional;
e. Mengatur, menetapkan, dan memberi izin atas
penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan
pengusahaan sumber daya air pada wilayah sungai
lintas provisni, wilayah sungai lintas negara, dan
wilayah sungai strategis nasional;
f. Mengatur, mentepkan dan memberi rekomendasi teknis
atas penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan
pengusahaan air pada cekungan air, tanah lintas
provinsi dan cekungan air tanah lintas negara;
g. Membentuk Dewan Sumber Daya Air Nasional, dewan
sumber daya air wilayah sungai lintas provinsi, dan
dewan sumber daya air wilayah sungai strategis
nasional;
h. Memfasilitasi penyelesaian sengketa antarprovinsi
dalam pengelolaan sumber daya air;
i. Menetapkan norma, standar, kriteria, dan pedoman
pengelolaan sumber daya air;
j. Menajaga efektivitas, efisiensi, kualitas, dan ketertiban
pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada
wilayah sungai linta provinsi, wilayah sungai lintas
negara, dan wialyah sungai strategis nasional.
k. Memberikan bantuan teknis dalam pengelolaan sumber
daya air kepada pemerintah provinsi dan pemerintah
kabupaten/kota.
7. Perlindungan dan pelestarian sumber air ditujukan untuk
melindungi dan melestarikan sumber air beserta
lingkungan keberadaannya terhadap kerusakan atau
gangguan yang disebabkan oleh daya alam, termasuk
kekeringan dan yang disebabkan oleh tindakan manusia.
Perlindungan dan pelestarian sumber air dilakukan melalui:
a. Pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan
daerah tangkapan air;
b. Pengendalian pemanfaatan sumbe rair;
c. Pengisian air pada sumber air;
d. Pengaturan prasarana dan sarana sanitasi;
e. Perlindungan sumber air dalam hubungannya dengan
kegiatan pemabngunan dan pemanfaatan lahan pada
sumber air;
f. Pengendalian pengolahan tanah di daerah hulu;
g. Pengaturan daerah sempadan sumber air;
h. Rehabilitasi hutand an lahan;
i. Pelestarian hutan lindung, kawasan suaka alam, dan
kawasan pelestarian alam
8. Pengawetan air ditujukan untuk memelihara keberadaan
dan ketersediaan air atau kuantitas air, sesuai dengan
fungsi dan manfaatnya. Pengawetan air dilakukan dengan
cara:
a. Menyimpan air yang berlebihan di saat hujan untuk
dapat dimanfaatkan pada waktu diperlukan;
b. Menghemat air dengan pemakaian yang efisien dan
efektif;
c. Mengendalikan penggunaan air tanah.
9. Pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air
ditujukan untuk mempertahankan dan memulihkan kualitas
air yang masuk dan yang ada pada sumber-sumber air.
Pengelolan kualitas air dilakukan dengan cara
memperbaiki kualitas air pada sumber air dan prasarana
sumber daya air.
10. Konservasi sumber daya air dilaksanakan pada sungai,
danau, rawa, cekungan air tanah, sistem irigasi, daerah
tangkapan air, kawasan suaka alam, kawasan pelestarian
alam, kawasan hutan dan kawasan pantai.
11. Penatagunaan sumber daya air ditujukan untuk
menetapkan zona pemanfaatan sumber air dan
peruntukan air pada sumber air. Penetapan zona
pemanfaatan sumber daya air dilakukan dengan:
a. Mengalokasikan zona untuk fungsi lindung dan budi
daya;
b. Menggunakan dasar hasil penelitian dan pengukuran
secara teknis hidrologis;
c. Menggunakan ruang sumber air yang dibatasi oleh
garis sempadan sumber air;
d. Memperhatikan kepentingan berbagai jenis
pemanfaatan;
e. Melibatkan peran masyarakat sekitar dan pihak lain
yang berkepentingan;
f. Memperhatikan fungsi kawasan.
12. Penetapan peruntukan air pada sumber air pada setiap
wilayah sungai dilakukan dengan memperhatikan:
a. Daya dukung sumber air;
b. Jumlah dan penyebaran penduduk serta proyeksi
pertumbuhannya;
c. Perhitungan dan proyeksi kebutuhan sumber daya air;
d. Pemanfaatan air yang sudah ada.
13. Penyediaan sumber daya air dalam setiap wilayah sungai
dilaksanakan sesuai dengan penatagunaan sumber daya
air yang ditetapkan untuk memenuhi kebutuhan pokok,
sanitasi lingkungan, pertanian, ketenagaan, industri,
pertambangan, perhubungan, kehutanan dan
keanekaragaman hayati, oleahraga, rekreasi dan
pariwisata, ekosistem, estetika, serta kebutuhan lain yang
ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
14. Pengembangan sumber daya air, meliputi:
a. Air permukaan pada sungai, danau, rawa, dan sumber
air permukaan lainnya;
b. Air tanah pada cekungan air tanah;
c. Air hujan;
d. Air laut yang berada di darat.
15. Pengendalian daya rusak air dilakukan secara menyeluruh
yang mencakup upaya pencegahan, penanggulangan, dan
pemulihan. Pengendalian daya rusak air diutamakan apda
upaya pencegahan melalui perencanaan pengendalian
daya rusak air yang disusun secara terpadu dan
menyeluruh dalam pola pengelolaan sumber daya air.
16. Pelaksanaan konstruksi prasarana sumber daya air
dilakukan berdasrkan norma, standar, pedoman, dan
manual dengan memanfaatkan teknologi dan sumber daya
lokal serta mengutamakan keselamatan, keamanan kerja,
dan keberlanjutan fungsi ekologis sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
17. Pemerintah dan pemerintah daerah menyelenggarakan
pemberdayaan para pemilik kepentingan dan
kelembagaan sumber daya air secara terencana dan
sistematis untuk meningkatkan kinerja pengelolaan sumber
daya air.
18. Pemerintah memfaslitasi perlindungan hak penemu dan
temuan ilmu pengetahuan dan inovasi teknologi dalam
bidang sumber daya air sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
19. Pembiayaan pengelolaan sumber daya air ditetapkan
berdasarkan kebutuhan nyata pengelolaan sumber daya
air. Jenis pembiayaan pengelolaan sumber daya air
meliputi:
a. Biaya sistem informasi;
b. Biaya perencanaan;
c. Biaya pelaksanaan konstruksi;
d. Biaya operasi, pemeliharaan;
e. Biaya pemantauan, evaluasi, dan pemberdayaan
masyarakat;
20. Dalam pelaksanaan pengelolaan sumber daya air,
masyarakat berhak untuk:
a. Memperoleh informasi yang berkaitan dengan
pengelolaan sumber daya air;
b. Memperoleh penggatian yang layak atas kerugian yang
dialaminya sebagai akibat pelaksanaan penglolaan
sumber daya air;
c. Memperoleh manfaat atas pengelolaan sumber daya
air;
d. Menyatakan keberatan terhadap rencana pengelolaan
sumber daya air yang sudah diumumkan dalam jangka
waktu tertantu sesuai dengan kondisi setempat;
e. Mengajukan laporan dan pengaduan kepada pihak
yang berwenang atas kerugian yang menimpa dirinya
yang berkaitan dengan penyelenggaraan pengelolaan
sumber aya air;
f. Mengajukan gugatan kepada pengadilan terhadap
berbagai masalah sumber daya air yang merugikan
kehidupannya.
21. Penyelesaian sengketa sumber daya air pada tahap
pertama diupayakan berdasarkan prinsip musyawarah
untuk mufakat. Apabila tidak diperoleh kesepakatan, para
pihak dapat menempuh upaya penyelesaian di luar
pengadilan atau melalui pengadilan. Upaya penyelesaian
sengketa di luar pengadilan dilakukan dengan arbitrase
atau alternatif penyelesaian sengketa sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
-
KEBUN
2004
UU NOMOR 18 TAHUN 2004, LN TAHUN 2004 NO. 85, TLN NO. 4411
UNDANG-UNDANG TENTANG PERKEBUNAN
ABSTRAK : - Untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat
secara berkeadilan, maka perkebunan perlu dijamin
keberlanjutannya serta ditingkatkan fungsi dan peranannya.
Perkebunan sebagai salah satu bentuk pengelolaan
sumberdaya alam perlu dilakukan secara terncana, terbuka,
terpadu, profesional, dan bertanggungjawab.
Bahwa peraturan perundang-undangan yang ada belum
sepenuhnya dapat dijadikan landasan untuk
penyelenggaraan perkebunan yang sesuai dengan
perkembangan lingkungan strategis. Berdasarkan
pertimbangan tersebut, maka perkebunan perlu diatur dalam
suatu undang-undang.
- Dasar Hukum Undang-undang ini adalah:
Pasal 20, Psal 21,dan Pasal 33 Undang-undang Dasar
Republik Indonesia Tahun 1945.
- Dalam Undang-undang ini diatur tentang :
1. Pengertian Perkebunan, Tanaman Tertentu, Pelaku
Usaha Perkebunan, Pekebun, Perusahaan Perkebunan,
Skala Tertentu, Industri Pengolahan Hasil Perkebunan,
Hasil Perkebunan, Agribisnis Perkebunan, Pemerintah,
Provinsi, Kabupaten/Kota, Menteri.
2. Asas perkebunan yang didasarkan pada asas manfaat
dan berkelanjutan, keterpaduan, kebersamaan,
keterbukaan, serta berkeadilan.
3. Tujuan diadakannya perkebunan:
a. Meningkatkan pendapatan masyarakat;
b. Meningkatkan penerimaan negara;
c. Meningkatkan penerimaan devisa negara;
d. Menyediakan lapangan kerja;
e. Meningkatkan produktivitas, nilai tambah, dan daya
saing;
f. Memenuhi kebutuhan konsumsi dan bahan baku
industri dalam negeri;
g. Mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya alam
secara berkelanjutan.
4. Fungsi Perkebunan:
a. Ekonomi, yaitu peningkatan kemakmuran dan
kesejahteraan rakyat serta penguatan struktur
ekonomi wilayah an nasional;
b. Ekologi, yaitu peningkatan konversi tanahdan air,
penyerap karbon, penyedia oksigen, dan penyangga
kawasan lindung;
c. Sosial budaya, yaitu sebagai perekat dan pemersatu
bangsa.
5. Ruang Lingkup pengaturan perkebunan:
a. Perencanaan;
b. Pengunaan tanah;
c. Pemberdayaan dan pengelolaan usaha;
d. Pengolahan dan pemasaran hasil;
e. Penelitian dan pengembangan;
f. Pengembangan sumber daya manusia;
g. Pembiayaan;
h. Pembinaan dan pengawasan.
6. Perencanaan perkebunan terdiri dari perencanaan
nasional, perencanaan provinsi dan perencanaan
kabupaten/kota yang dimaksudkan untuk memberikan
arah, pedoman, dan alat pengendali pencapaian tujuan
penyelenggaraan perkebunan. Perencanaan perkebunan
dilakukan oleh Pemerintah, Provinsi, dan kabupaten/kota
dengan memperhatikan kepentingan masyarakat.
7. Dalam rangka penyelenggaraan usaha perkebunan,
kepada pelaku usaha perkebunan sesuai dengan
kepentingannya dapat diberikan hak atas tanah yang
diperlukan untuk usaha perkebunan berupa hak milik,
hak guna usaha, hak guna bangunan, dan/atau hak
pakai sesuai dengan peraturan perundangan.
8. Penggunaan tanah untuk usaha perkebunan, luas
maksimum dan luas minimumnya ditetapkan oleh
Menteri, sedangkan pemberian hak atas tanah
ditetapkan oleh instansi yang berwenang di bidang
pertanahan.
9. Hak guna usaha untuk perkebunan diberikan jangka
waktu paling lama 35 tahun, dengan perpanjangan paling
laa 25 tahun atas permohonan pemegang hak jika pelaku
usaha perkebunan yang bersangkutan menurut penilaian
Menteri, memenuhi kewajibannya dan melaksanakan
pengelolaan kebun sesuai dengan ketentuan teknis yang
ditetapkan.
10. Badan Hukum asing atau perorangan warga negara
asing yang melakukan usaha perkebunan wajib
bekerjasama dengan pelaku usaha perkebunan dengan
membentuk badan hukum Indonesia.
11. Pengalihan kepemilikan badan hukum pelaku usaha
perkebunan yang belum terbuka dan/atau mengalami
kepailitan kpada badan hukum asing, terlebih dahulu
harus mendapat saran dan pertimbangan dari Menteri.
12. Usaha perkebunan terdiri dari :
13. Pemberdayaan usaha perkebunan dilaksanakan oleh
Pemerintah, Provinsi, Kabupaten/Kota bersama pelaku
usaha perkebunan sertalembaga terkait lainnya.
Pemberdayaan tersebut, meliputi:
a. Memfasilitasi sumber pembiayaan/permodalan
b. Menghindari pengenaan biaya yang tidak sesuai
dengan peraturan perundang-undangan;
c. Memfasilitasi pelaksanaan ekspor hasil perkebunan;
d. Mengutamakan hasil perkebunan dalam negeri untuk
memenuhi kebutuhan konsumsi dan bahan baku
industri;
e. Mengatur pemasukan dan pengeluaran hasil
perkebunan;
f. Memfasilitasi aksesibilitas ilmu pengetahuan dan
teknologi serta informasi.
14. Pengamanan dilakukan oleh pelaku usaha perkebunan
yang dikoordinaiskan oleh aparat keamanan dan dapat
melibatkan bantuan masyarakat di sekitarnya.
15. Kemitraan dilakukan Perusahaan perkebunan untuk
saling menguntungkan, saling menghargai, saling
bertanggung jawab, saling memperkuat dan saling
ketergantungan dengan pekebun, karyawan, dan
masyarakat sekitar.
16. Setiap pelaku usaha perkebunan wajib memelihara
kelestarian fungsi lingkungan hidup dan mencegah
kerusakan. Untuk mencegah kerusakan fungsi
lingkungan hidup, sebelum memperoleh izin usaha
perkebunan perusahaan perkebunan wajib:
a. Membuat analisis mengenai dampak lingkungan
hidup atau upayapengelolaan lingkungan hidup dan
upaya pemantauan lingkungan hidup;
b. Memiliki analisis dan manajemen risiko bagi yang
menggunakan hasil rekayasa genetik;
c. Membuat pernyataan kesanggupan untuk
menyediakan sarana, prasarana, dan sistem tanggap
darurat yang memadai untuk menanggulangi
terjadinya kebakaran dalam pembukaan dan/atau
pengolahan lahan.
17.
18.
SUMBER DAYA – GENETIK – TANAMAN
2006
UU NOMOR 4 TAHUN 2006, LN TAHUN 2006 NO. , TLN NO. 4612
UNDANG-UNDANG TENTANG PERJANJIAN MENGENAI SUMBER DAYA
GENETIK TANAMAN UNTUK PANGAN DAN PERTANIAN (PENGESAHAN
INTERNATIONAL TREATY ON PLANT GENETIC RESOURCES FOR FOOD
AND AGRICULTURE)
ABSTRAK : - Untuk mendukung ketahanan pangan dan pertanian yang
berkelanjutan perlu pelestarian dan pemanfaatan sumber daya
genetik tanaman.
Sumber daya genetik tanaman terus menerus mengalami
kemerosotan akibat rendahnya perhatian dan pemanfaatan
sumberdaya genetik tanaman serta berubahnya praktik
pertanian tradisional. Untuk menghadapi perubahan lingkungan
dan dinamika permintaan konsumen, diperlukan cadangan
sumberdaya genetik tanaman guna pemuliaan tanaman.
Bahwa kesadaran secara global akan pentingnya sumberdaya
genetik tanaman bagi ketahanan pangan dan pertanian
berkelanjutan telah mendorong kesepakatan untuk menetapkan
International Treaty on Plant Genetic Resources for Food and
Agriculture (Perjanjian mengenai Sumberdaya Genetik
Tanaman untuk Pangan dan Pertanian) pada tanggal 3
November 2001 dalam Konferensi ke-31 FAO;
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, perlu
mengesahkan Perjanjian mnegenai Sumber daya Genetik
Tanaman dengan Undang-undang.
- Dasar Hukum Undang-undang ini adalah:
Pasal 5 ayat (1), Pasal 11 ayat (1) dan ayat(2), Pasal 20, Pasal
33 ayat (3) dan ayat (4) Undang-undang Dasar Republik
Indonesia tahun 1945;
Undang-undang Nomor 24 tahun 2000 trentang Perjanjian
Internasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2000 Nomor 185, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4012);
- Dalam Undang-undang ini, diatur tentang:
-
TATA – RUANG
2007
UU NO. 26 TAHUN 2007
UNDANG-UNDANG TENTANG PENATAAN RUANG
ABSTRAK : - Bahwa perkembangan situasi dan kondisi nasional dan
internasional menurut penegakan prinsip keterpaduan,
keberlanjutan, demokrasi, kepastian hukum, dan keadilan
dalam rangka penyelenggaraan penataan ruang yang baik
sesuai dengan landasan idiil Pancasila;
Keberadaan ruang yang terbatas dan pemahaman
masyarakat yang berkembang terhadap pentingnya
penataan ruang sehingga diperlukan penyelenggaraan
penataaan ruang yang transparan, efektif, dan partisipatif
agar terwujud ruang yang aman, nyaman, produktif dan
berkelanjutan.
Secara geografis Negara Kesatuan Republik Indonesia
berada pada kawasan rawan bencana sehingga diperlukan
penataan ruang yang berbasis mitigasi bencana sebagai
upaya meningkatkan keselamatan dan kenyamanan
kehidupan dan penghidupan.
Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan
Ruang sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan
pengaturan penataan ruang sehingga perlu diganti dengan
undang-undang penataan ruang yang baru. Berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan tersebut perlu membentuk
Undang-undang tentang Penataan Ruang.
- Dasar hukum Undang-undang ini adalah: Psal 5 ayat (1),
Pasal 20 ayat (1), Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
- Dalam Undang-undang ini diatur tentang:
1. Pengertian Ruang, Tata Ruang, Struktur Ruang, Pola
Ruang, Penataan Ruang, Penyelenggaraan Penataan
Ruang, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah,
Pengaturan Penataan Ruang, Pembinaan Penataan
Ruang, Pelaksanaan Penataan Ruang, Pengawasan
Penataan Ruang, Perencanaan Tata Ruang,
Pemanfaatan Ruang, Pengendalian Pemanfaatan
Ruang, Rencana Tata Ruang, Wilayah, Sistem Wilayah,
Sistem Internal Perkotaan, Kawasan, Kawasan Lindung,
Kawasan Budidaya, Kawasan Perdesaan, Kawasan
Agropolitan, Kawasan Perkotaan, Kawasan Metropolitan,
Kawasan Megapolitan, Kawasan Strategis Nasional,
Kawasan Strategis Provinsi, Kawasan Strategis
Kabupaten/Kota, Ruang Terbuka Hijau, Izin
Pemanfaatan Ruang, Orang, Menteri.
2. Asas penataan ruang adalah:
a. Keterpaduan;
b. Keserasian, keselarasan, dan keseimbangan;
c. Keberlanjutan;
d. Keberdayagunaan dan keberhasilgunaan;
e. Keterbukaan;
f. Kebersamaan dan kemitraan;
g. Perlindungan kepentingan umum;
h. Kepastian hukum dan keadilan;
i. Akuntabilitas.
3. Penataan ruang diklasifikasikan berdasarkan sistem,
fungsi utama kawasan, wilayah administratif, kegiatan
kawasan, dan nilai strategis kawasan.
4. Penataan ruang diselenggarakan dengan
memperhatikan:
a. Kondisi fisik wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang rentan terhadap bencana;
b. Potensi sumber daya alam, sumber daya manusia,
dan sumber daya buatan; kodisi ekonomi, sosial,
budaya, politik, hukum, pertahanan keamanan,
lingkungan hidup, serta ilmu pengetahuan dan
teknologi sebagai satu kesatuan;
c. Geostrategi, geopolitik, geoekonomi.
5. Wewenang Pemerintah dalam penyelenggaraan
penataan ruang meliputi:
a. Pengaturan, pembinaan, dan pengawasan terhadap
pelaksanaan penataan ruang wilayah nasional,
provinsi dan kabupaten/kota, serta terhadap
pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis
nasional, provinsi, dan kabupaten/kota;
b. Pelaksanaan penataan ruang wilayah nasional;
c. Pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis
nasional;
d. Kerjasama penataan ruang antarbegara dan
pemfasilitasi kerjasama penataan ruang antarprovinsi.
6. Wewenang Pemerintah dalam pelaksanaan penataan
ruang nasional meliputi:
a. Perencanaan tata ruang wilayah nasional;
b. Pemanfaatan ruang wilayah nasional;
c. Pengendalian pemanfaatan ruang wilayah nasional;
7. Wewenang Pemerintah dalam pelaksanaan penataan
ruang kawasan strategis nasional meliputi:
a. Penetapan kawasan strategis nasional;
b. Perencanaan tata ruang kawasan strategis nasional;
c. Pemanfaatan ruang kawasan strategis nasional;
d. Pengendalian pemanfaatan ruang kawasan strategis
nasional.
8. Pemerintah melakukan pembinaan penataan ruang
kepada pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah
kabupaten/kota dan masyarakat. Pembinaan penataan
ruang tersebut dilaksanakan melalui:
a. Koordinasi penyelenggaraan penataan ruang;
b. Sosiaalisasi pedoman bidang penataan ruang;
c. Pemberian bimbingan, supervisi, dan konsultasi
pelaksanaan penataan ruang;
d. Pendidikan dan latihan;
e. Penelitian dan pengembangan;
f. Pengembangan sistem informasi dan komunikasi
penataan ruang;
g. Penyebarluasan informasi penataan ruang kepada
masyarakat;
h. Pengembangan kesadaran dan tanggung jawab
masyarakat.
9. Perencanaan tata ruang dilakukan untuk menghasilkan:
a. Rencana umum tata ruang;
b. Rencana rinci tata ruang.
10. Rencana umum tata ruang secara hierarki terdiri atas:
a. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;
b. Rencana tata ruang wilayah provinsi;
c. Rencana tata ruang wilayah kabupaten dan rencana
tata ruang wilayah kota.
11. Rencana tata ruang dapat ditinjau kembali untuk dapat
menghasilkan rekomendasi berupa:
a. Rencana tata ruang yang ada dapat tetap berlaku
sesuai dengan masa berlakunya;
b. Rencana tata ruang yang ada perlu direvisi;
12. Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
harus memperhatikan:
a. Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional;
b. Perkembangan permasalahan regional dan global.
Serta hasil pengkajian implikasi penataan ruang
nasional;
c. Upaya pemerataan pembangunan dan pertumbuhan
serta stabilitas ekonomi;
d. Keselarasan aspirasi pembangunan nasional dan
pembangunan daerah;
e. Daya dukung dan daya tampung lingkungan nasional;
f. Rencana tata ruang kawasan strategis nasional;
g. Rencana tata ruang wilayah provinsi dan rencana tata
ruang wilayah kabupaten/kota.
13. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional memuat:
a. Tujuan, kebijakan, dan strategi penatan ruang wilayah
nasional;
b. Rencana struktur ruang wilayah nasional yang
meliputi sistem perkotaan nasional yang terkait
dengan kawasan perdesaan dalam wilayah
pelayanannya dan sistem jaringan prasarana utama;
c. Rencana pola ruang wilayah nasional yang meliputi
kawasan lindung nasional dan kawasan budidaya
yang memiliki nilai strategis nasional;
d. Penetapan kawasan strategis nasional;
e. Arahan pemanfaatan ruang yang berisi indikasi
program utama jangka menengah lima tahunan;
f. Arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah
nasional yang berisi indikasi arahan peraturan zonasi
sistem nasional, arahan perizinan, arahan insentif
disinsentif, serta arahan sanksi.
14. Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional menjadi
pedoman untuk:
a. Penyusunan rencana pembangunan jangka panjang
nasional;
b. Penyusunan rencana pembangunan jangka
menengah nasional;
c. Pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan
ruang di wilayah nasional;
d. Mewujudkan keterpaduan, keterkaitan, dan
keseimbangan perkembangan antarwilayah provinsi,
dan serta keserasian antarsektor;
e. Penetapan lokasi dan fungsi ruang untuk investasi;
f. Penataan ruang kawasan strategis nasional;
g. Penataan ruang wilayah provinsi dan kabupaten/kota.
15. Pemanfaatan ruang dilakukan melalui pelaksanaan
program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya.
16. Pemanfaatan ruang mengacu pada fungsi ruang yang
ditetapkan dalam rencana tata ruang dilaksankan dengan
mengembangkan penatagunaan tanah, neraca
penatagunaan sumber daya air, neraca penatagunaan
udara, dan neraca penatagunaan sumber daya alam lain.
17. Penatagunaan tanah pada ruang yang direncanakan
untuk pembangunan prasarana dan sarana bagi
kepentingan umum memberikan hak prioritas pertama
bagi Pemerintah dan pemerintah daerah untuk menerima
pengalihan hak atas tanah dari pemegang hak atas
tanah.
18. Dalam pemanfaatan ruang pada ruang yang berfungsi
lindung, diberikan prioritas pertama bagi Pemerintah dan
pemerintah daerah untuk menerima pengalihan hak atas
tanah dari pemegang hak atas tanah jika yang
bersangkutan akan melepaskan haknya.
19. Dalam pemanfaaatan ruang wilayah nasional, provinsi,
dan kabupaten/kota dilakukan:
a. Perumusan kebijakan strategis operasionalisasi
rencana tata ruang wilayah dan rencana tata ruang
kawasan strategis;
b. Perumusan program sektoral dalam rangka
perwujudan struktur ruang dan pola ruang wilayah
dan kawasan strategis;
c. Pelaksanaan pembangunan sesuai dengan program
pemanfaatan ruang wilayah dan kawasan strategis.
20. Pemanfaatan ruang dilaksanakan sesuai dengan:
a. Standar pelayanan minimal bidang penataan ruang;
b. Standar kualitas lingkungan;
c. Daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup.
21. Pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan melalui
penetapan peraturan zonasi, perizinan, pemberian
insentif dan disinsentif, serta pengenaan sanksi.
22. Peraturan zonasi disusun sebagai pedoman
pengendalian pemanfaatan ruang yang disusun
berdasarkan rencana rinci tata ruang untuk setiap zona
pemanfaatan ruang. Peraturan zonasi ditetapkan
dengan:
a. Peraturan pemerintah untuk arahan peraturan zonasi
sistem nasional;
b. Peraturan daerah provinsi untuk arahan praturan
zonasi sistem provinsi;
c. Peraturan daerah kabupaten/kota untuk peraturan
zonasi.
23. Dalam pelaksanaan pemanfaatan ruang agar
pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang
wilayah dapat memberian insentif dan/atau disinsentif
oleh Pemerintah dan pemerintah daerah. Insentif yang
merupakan perangkat atau upaya untuk memberikan
imbalan terhadap pelaksanaan kegiatan yang sejalan
dengan rencana tata ruang berupa:
a. Keringanan pajak, pemberian kompensasi, subsidi
silang, imbalan, sewa ruang, dan urun saham;
b. Pembangunan serta pengadaan infrastruktur;
c. Kemudahan prosedur perizinan;
d. Pemberian penghargaan kepada masyarakat, swasta
dan/atau pemerintah daerah.
24. Disinsentif yang merupakan perangkat untuk mencegah,
membatasi pertumbuhan, atau mengurangi kegiatan
yang tidak sejalan dengan rencana tata ruang berupa:
a. Pengenaan pajak yang tinggi yang disesuaikan
dengan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk
mengatasi dampak yang ditimbulkan akibat
pemanfaatan ruang;
b. Pembatasan penyediaan infrastruktur, pengenaan
kompensasi, dan penalti.
25. Rencana tata ruang kawasan metropolitan merupakan
alat koordinasi pelaksanaan pembangunan lintas wilayah
yang berisi:
a. Tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang
kawasan metropolitan dan/atau megapolitan;
b. Rencana struktur ruang kawasan metropolitan yang
meliputi sistem pusat kegiatan dan sistem jaringan
prasarana kawasan metropolitan dan/atau
megapolitan;
c. Rencana ruang pola kawasan metropolitan dan/atau
megapolitan yang meliputi kawasan lindung dan
kawasan budidaya;
d. Arahan pemanfaatan ruang kawasan metropolitan
dan/atau megapolitan yang berisi indikasi program
utama yang bersifat interdependen antarwilayah
administratif;
e. Ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang
kawasan metropolitan dan/atau megapolitan yang
berisi arahan peraturan zonasi kawasan metropolitan
dan/atau megapolitan. Arahan ketentuan perozonan,
arahan ketentuan insentif dan disinsentif, serta
arahan sanksi;
26. Penatan ruang kawasan perdesaan diarahkan untuk:
a. Pemberdayaan masyarakat perdesaan;
b. Pertahanan kualitas lingkungan setempat dan wilayah
yang didukungnya;
c. Konservasi sumber daya alam;
d. Pelestarian warisan budaya lokal;
e. Pertahanan kawasan lahan abadi pertanian pangan
untuk ketahanan pangan;
f. Penjagaan keseimbngan pembngunan perdesaan-
perkotaan.
27. Untuk menjamin tercapainya tujuan penyelenggaraan
penataan ruang dilakukan pengawasan terhadap kinerja
pengaturan, pembinaan, dan pelaksanaan penataan
ruang. Pengawasan tersebut terdiri atas tindakan
pemantauan, evaluasi, dan pelaporan.
28. Dalam penataan ruang, setiap orang berhak untuk:
a. Mengetahui rencana tata ruang;
b. Menikmati pertambahan nilai ruang sebagai akibat
penataan ruang;
c. Memperoleh penggantian yang layak atas kerugian
yang timbul akibat pelaksanaan kegiatan
pembangunan yang tidak sesuai dengan rencana tata
ruang di wilayahnya;
d. Mengajukan tuntutan pembatalan izin dan
penghentian pembangunan yang tidak sesuai dengan
rencana tata ruang kepada pejabat berwenang;
e. Mengajukan gugatan ganti kerugian kepada
pemerintah dan/atau pemegang izin apabila kegiatan
pembangunan yang tidak sesuai denagn rencana tata
ruang menimbulkan kerugian.
29. Dalam pemanfaatan ruang, setiap orang wajib:
a. Menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan;
b. Memanfaatkan ruang sesuai dengan izin
pemanfaatan ruang dari pejabat yang berwenang;
c. Mematuhi ketentuan yang ditetapkan dalam
persyaratan izin pemanfaatan ruang;
d. Memberikan akses terhadap kawasan yang oleh
ketentuan peraturan perundang-undangan dinyatakan
sebagai milik umum.
30. Penyelesaian sengketa penataan ruang pada tahap
pertama diupayakan berdasarkan prinsip musyawarah
untuk mufakat. Dalam hal penyelesaian sengketa tidak
diperoleh kesepakatan, para pihak dapat menempuh
upaya penyelesaian segketa melalui pengadilan atau di
luar pengadilan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
-
PESTISIDA – PENGAWASAN – PENYIMPANAN
1973
PP NO. 7 TAHUN 1973, LN TAHUN 1973 NOMOR 12
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PEREDARAN, PENYIMPANAN, DAN
PENGGUNAAN PESTISIDA
ABSTRAK : - Untuk melindungi keselamatan manusia, sumber-sumber
kekayaan perairan, fauna, dan flora alami serta untuk
menghindari kontaminasi lingkungan, dipandang perlu
segera mengaluarkan Peraturan Pemerintah tentang
Pengawasan Atas Peredaan, Penyimpanan dan
Penggunaan Pestisida.
- Dasar Hukum Peraturan Pemerintah ini adalah:
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945;
2. Ordonansi Bahan-bahan Berbahaya;
3. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1951;
4. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1960;
5. Undang-undang Nomor 2 prp Tahun 1960;
6. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1962;
7. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1967;
8. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970.
- Dalam Peraturan Pemerintah ini diatur tentang:
1. Pengertian Pestisida, Peredaran, Penyimpanan,
Penggunaan, dan Pemohon.
2. Setiap orang atau badan hukum dilarang menggunakan
pestisida yang tidak didaftar dan/atau memperoleh izin
Menteri Pertanian;
3. Izin diberikan apabila pestisida itu dianggap efektif,
aman, dan memnuhi syarat-syarat teknis lain serta
digunakan sesuai dengan petunjuk yang tercantum
pada label.
4. Hal-hal yang secara langsung maupun tidak langsung
menyangkut keselamatan dan kesehatan manusia
diatur oleh menteri Kesehatan dan Menteri Tenaga
Kerja sesuai dengan bidang wewenang masing-
masing.
CATATAN : Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 17 Maret
1973
PENCEGAHAN – PEMBERANTASAN – PENYAKIT HEWAN
1977
PP NO. 15 TAHUN 1977
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENOLAKAN, PENCEGAHAN,
PEMBERANTASAN DAN PENGOBATAN PENYAKIT HEWAN
ABSTRAK : - Bahwa usaha pemeliharaan dan peningkatan perkembangan
hewan perlu dilindungi dari kerugian yang dapat ditimbulkan
oleh berbagai macam penyakit hewan serta adanya penyakit
yang dapat berpindah dari hewan kepada manusia;
Atas dasar hal tersebut, maka usaha penolakan, pencegahan,
pemberantasan dan pengobatan penyakit hewan perlu
dilakukan secara seksama dan diatur dengan sebaik-baiknya.
- Dasar hukum Peraturan Pemerintah ini adalah:
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945;
2. Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1973 tentang GBHN;
3. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-
ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan;
4. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok
Pemerintahan di Daerah;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1973 tentang
Pembuatan, Persediaan, Peredaran dan Pemakaian Vaksin,
Sera dan Bahan-bahan Diagnostika untuk Hewan.
- Dalam Peraturan Pemerintah ini diatur tentang:
1. Pengertian Pemerintah, Menteri, Penolakan Penyakit
Hewan, Pencegahan Penyakit Hewan, Pemberantasan
Penyakit Hewan, Pengobatan Penyakit Hewan, Pelabuhan
Hewan, Karantina Hewan, Pengawasan Penyakit Hewan,
Bahan Asal Hewan/Ternak, Hasil Bahan Asal
Hewan/Ternak.
2. Pemerintah mengambil tindakan-tindakan yang meliputi
penolakan, pencegahan, pemberantasan dan pengobatan
penyakit hewan untuk menjamin wilayah Negara Republik
Indonesia bebas secara lestari dari penyakit hewan.
3. Pengawasan atas pelaksanaan tindakan-tindakan pnolakan,
pencegahan, pemberantasan dan pengoabtan penyakit
hewan dilakukan oleh menteri.
4. Setiap orang harus mencegah timbul dan menjalarnya
penyakit hewan yang dapat dibawa oleh hewan/ternak,
bahan asal hewan, dan hasil bahan asal hewan dalam
perjalanan atau pengangkutan antar pulau wilayah sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.
CATATAN : - Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 16 Maret
1977
VETERINER – KESEHATAN – MASYARAKAT
1983
PP NO. 22 TAHUN 1983 (LN TAHUN 1983 NO. 28, TLN NO. 3253)
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT
VETERINER
ABSTRAK : - Kesehatan masyarakat veteriner mempunyai peranan penting
dalam mencegah penularan zoonosa dan pengamanan
produksi bahan makanan asal hewan dan bahan asal hewan
lainnya, untuk kepentingan masyarakat;
Sebagai pelaksanaan Pasal 19 dan Pasal 21 Undang-undang
Nomor 6 Tahun 1967 dipandang perlu mengatur kesehatan
masyarakat veteriner dengan Peraturan Pemerintah.
- Dasar Hukum Peraturan Pemerintah ini adalah:
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945;
2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Ketentuan-
ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan;
3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok
Pemerintahan di Daerah;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1973 tentang
Pembuatan Vaksin, Persediaan, Peredaran, dan Pemakaian
Vaksin, Sera dan bahan-bahan Diagnostika Biologis untuk
Hewan;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1977 tentang
Penolakan, Pencegahan, Pemberantasan dan Pengobatan
Penyakit Hewan;
6. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1977 tentang Usaha
Peternakan.
- Dalam Peraturan Pemerintah ini diatur tentang:
1. Pengertian Pengujian, Daging, Susu, Usaha Pemotongan
Hewan, Telur, Zoonosa, Pengawetan dan Menteri.
2. Setiap hewan potong yang akan dipotong harus sehat dan
telah diperiksa kesehatannya oleh petugas pemeriksa yang
berwenang.
3. Setiap perusahaan susu harus memnuhi persyaratan
tentang kesehatan sapi perah, perkandangan, kesehatan
lingkungan, kamar susu, tempat penampungan susu, dan
alat-alat serta keadaan air yang dipergunkan dalam
kaitannya dengan produksi susu.
4. Syarat-syarat tenaga kerja yang menangani produksi susu:
a. Berbadan sehat;
b. Berpakaian bersih;
c. Diperiksa kesehatannya secara berkala oleh Dinas
Kesehatan setempat;
d. Tidak berbuat hal-hal yang dapat mencemarkan susu;
e. Syarat-syarat lain yang ditetapkan oleh Menteri.
5. Pemerahan dan penanganan susu harus:
a. Dilakukan secara higienis;
b. Mengikuti cara-cara pemerahan yang baik;
c. Memenuhi syarat-syarat lain yang ditetapkan oleh
Menteri.
6. Setiap usaha peternakan babi harus memnuhi ketentuan
tentang kesehatan masyarakat veteriner dari ternak babi,
syarat-syarat kesehatan lingkungan dan perkandangan yang
ditetapkan oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuknya.
7. Batas maksimum kandungan residu bahan hayati, anti
biotika, dan obat lainnya di dalam bahan makanan asal
hewan ditetapkan oleh Menteri.
8. Menteri menetapkan setiap usaha pengumpulan,
penyimpanan, dan pengawetan bahan asal hewan harus
memenuhi ketentuan-ketentuan kesehatan masyarakat
veteriner.
9. Pengujian dilakukan dalam rangka pengawasan daging,
telur, bahan makanan asal hewan yang diawetkan, dan
bahan asal hewan apabila dipandang perlu dapat dilakukan
pengujian.
10. Menteri menetapkan daerah-daerah tertentu di dalam
wilayah negara Republik Indonesia, sebagai daerah bebas
rabies.
CATATAN : - Peraturan Pemerintah ini ditetapkan pada tanggal 13 Juni 1983
INDUSTRI – PEMBINAAN – PENGATURAN
1986
PP NO. 17 TAHUN 1986, LN TAHUN 1986 NO. 24, TLN NO. 3330
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG KEWENANGAN PENGATURAN,
PEMBINAAN, DAN PENGEMBANGAN INDUSTRI
ABSTRAK : - Bahwa dalam rangka pelaksanaan pembangunan, dipandang
perlu untuk menetapkan kewenangan pengaturan pembinaan,
dan pengembangan industri sebagaimana dimaksud dalam
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian.
- Dasar Hukum Peraturan Pemerintah ini adalah: Pasal 5 ayat (2)
Undang - undang Dasar 1945; Undang-undang Nomor 5 Tahun
1984 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Tahun 1984
Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3274);
- Dalam Undang-undang ini diatur tentang:
1. Kewenangan pengaturan, pembinaan, dan pengembangan
industri berada di tangan Presiden yang pelaksanaannya
diserahkan kepada Menteri Perindustrian.
2. Pelaksanaan kewenangan pembinaan, dan pengembangan
industri tertentu diserahkan kepada menteri lainnya, sebagai
berikut:
a) Industri-industri:
1) Penyulingan minyak bumi;
2) Pencairan gas alam;
3) Pengolahan bahan galian;
4) Pengolahan bijih timah menjadi ingot timah;
5) Pengolahan bauksit menjadi alumina;
6) Pengolahan bijih logam mulia menjadi logam mulia;
7) Pengolahan bijih tembaga menjadi ingot tembaga;
8) Pengolahan bahan galian logam mulia lainnya menjadi
ingot logam;
9) Pengolahan bijih nekel menjadi ingot nekel,
diserahkan kepada Menteri Pertambangan dan Energi;
b) Industri-industri:
1) Gula pasir dan tebu;
2) Ekstraksi kelapa sawit;
3) Penggilingan padi dan penyosohan beras;
4) Pengolahan ikan di laut;
5) Teh hitam dan teh putih;
6) Vaksin, sera, dan bahan-bahan diagnostika biologis
untuk hewan,
Diserahkan kepada Menteri Pertanian;
c) Industri bahan obat dan obat jadi termasuk obat asli
Indonesia diserahkan kepada Menteri Pertanian.
3. Kewenangan pengaturan, pembinaan, dan pengembangan
industri tertentu yang bersifat strategis dan yang penting bagi
pertahanan keamanan negara, diatur tersendiri dengan
Keputusan Presiden.
CATATAN : Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 2 April 1986
HEWAN – OBAT
1992
PP NO. 78 TAHUN 1992
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG OBAT HEWAN
ABSTRAK : - Dengan kemajuan teknologi di bidang obat hewan, dewasa ini
banyak ditemukan jenis obat hewan yang baru yang
pengaturannya belum tertampung dalam Peraturan
Pemerinrtah Nomor 17 Tahun 1973 tentang Pembuatan,
Peredaran, Persediaan, Pemakaian Vaksin, Sera, dan bahan-
bahan Diagnostika untuk Hewan.
Sehubungan dengan hal tersebut, dipandang perlu mengatur
kembali ketentuan mengenai obat hewan dengan Peraturan
Pemerintah.
- Dasar Hukum Peraturan Pemerintah ini adalah:
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945;
2. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-
ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1977 tentang
Penolakan, Pencegahan, Pemberantasan dan Pengobatan
Penyakit Hewan;
4. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1983 tentang
Kesehatan Masyarakat Veteriner;
5. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang
Kewenangan Pengaturan, Pembinaan, dan
Pengembangan Industri.
- Dalam Peraturan Pemerintah diatur tentang:
1. Pengertian Obat Hewan, Pembuatan, Penyediaan, Peredaran,
Badan Usaha, Menteri.
2. Tujuan pemakaian obat hewan:
a. Menetapkan diagnosa, mencegah, menyembuhkan dan
memberantas penyakit hewan;
b. Mengurangi dan menghilangkan gejala penyakit hewan;
c. Membantu menenangkan, mematirasakan, etanasia dan
merangsang hewan;
d. Menghilangkan kelainan atau memperelok tubuh hewan;
e. Memacu perbaikan mutu dan produksi hasil hewan;
f. Memperbaiki reproduksi hewan.
3. Obat hewan digolongkan dalam sediaan biologik, farmasetik,
dan premiks.
4. Sediaan biologik dihasilkan melalui proses biologik pada
hewan atau jaringan hewan untuk menimbulkan kekebalan,
mendiagnosa suatu penyakit atau menyembuhkan penyakit
dengan proses imunologik.
5. Sediaan farmasetik meliputi antara lain vitamin, hormon,
antibiotika, dan kemoterapetika lainnya, obat antihistaminika,
antipiretika, anestetika yang dipakai berdasarkan daya kerja
farmakologi.
6. Sediaan premiks meliputi imbuhan makanan hewan dan
pelengkap makanan hewan yang dicampurkan pada makanan
hewan atau minuman hewan.
7. Obat hewan berdasarkan klasifikasi bahaya yang ditimbulkan:
a. Obat keras yaitu obat hewan yang bila pemakaiannya tidak
sesuai dengan ketentuan dapat menimbulkan bahaya bagi
hewan dan/atau manusia yang mengkonsumsi hasil hewan
tersebut;
b. Obat bebas terbatas, yaitu obat keras untuk hewan yang
diperlakukan sebagai obat bebas untuk jenis hewan
tertentu dengan ketentuan disediakan dalam jumlah,
aturan dosis, betnuk sediaan, dan cara pemakaian tertentu
sertadiberi tanda peringatan khusus;
c. Obat bebas yaitu obat hewan yang dapat dipakai secara
bebas oleh setiap orang pada hewan.
8. Badan usaha atau perorangan pemegang izin usaha
pembuatan dan/atau penyediaan dan/atau peredaran obat
hewan dapat mengadakan perluasan usahanya, yang berupa:
a. Menambah jumlah unit produksi;
b. Menambah jumlah alat produksi;
c. Menambah jenis obat hewan yang diproduksi.
9. Izin usaha berakhir karena:
a. Badan usaha yang bersangkutan dibubarkan;
b. Pemegang izin usaha perorangan meninggal dunia, dan
ahli warisnya tidak menyatakan kehendaknya untuk
melanjutnkan usaha tersebut dalam jangka waktu 90
(sembilan puluh) hari sejak meninggalnya pemegang izin
usaha;
c. Dicabut oleh Menteri dalam hal:
(a) Tidak melakukan kegiatan usaha dalam jangka waktu
1 (satu) tahun setelah izin usaha diberikan;
(b) Tidak lagi melakukan kegiatan usaha selama 1 (satu)
tahun berturut-turut;
(c) Tidak memenuhi ketentuan yang tercantum dalam
izin usaha dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku;
(d) Izin usaha tesebut ternyata telah dipindahtangankan
tanpa persetujuan tertulis dari Menteri.
10. Wewenang pejabat pengawas obat hewan:
a. Melakukan pemeriksaan terhadap dipenuhinya ketentuan
perizinan usaha pembuatan, penyediaan dan peredaran
obat hewan;
b. Melakukan pemeriksaan terhadap cara pembuatan obat
hewan yang baik;
c. Melakukan pemeriksaan terhadap obat hewan, sarana dan
tempat penyimpanannya dalam penyediaan dan peredaran
termasuk alat serta cara pengangkutannya;
d. Melakukan pemeriksaan terhadap pemakaian obat hewan;
e. Mengambil contoh bahan baku dan obat hewan guna
pengujian khasiat dan keamanannya.
11. Apabila dalam pemeriksaan terdapat penyimpangan, Menteri
atau pejabat pengawas obat dapat memerintahkan untuk:
a. Menghentikan sementara kegiatan pembuatan obat
hewan;
b. Melarang peredaran obat hewan;
c. Menarik obat hewan dari peredaran;
d. Menghentikan pemakian obat hewan yang tidak sesuai
dengan ketentuan.
CATATAN : - Terhitung mulai tanggal berlakunya Peraturan Pemerintah ini,
Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1973 tentang
pembuatan, Persediaan, Peredaran dan Pemakaian Vaksin,
Sera dan bahan-bahan Diagnostika Biologis Untuk Hewan
dinyatakan tidak berlaku.
- Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 24
Desember 1992
DAMPAK – LINGKUNGAN HIDUP – ANALISIS
1999
PP NO. 27 TAHUN 1999, LN TAHUN 1999 NO. 59, TLN NO. 3838
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK
LINGKUNGAN HIDUP
ABSTRAK : - Setiap usaha dan/atau kegiatan pada dasarnya
menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup yang
perlu dianalisis sejak awal perencanaannya, sehingga
langkah pengendalian dampak negatif dan
pengembangan dampak positif dapat dipersiapkan
sedini mungkin.
Dengan diundangkannya undang-undang Nomor 23
Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup,
pelru dilakukan penyesuaian terhadap Peraturan
Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Berdasarkan hal
tersebut di atas, dipandang perlu menetapkan
Peraturan Pemerintah tentang Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan Hidup.
- Dasar Hukum Peraturan Pemerintah ini adalah:
a. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945;
b. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup.
- Dalam Peraturan Pemerintah ini diatur tentang:
1. Pengertian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Hidup (AMDAL), Dampak Besar dan Penting,
Kerangka Acuan, Analisis Dampak Lingkungan
Hidup (ANDAL), Rencana Pengelolaan Lingkungan
Hidup (RKL), Rencana Pemantauan Lingkungan
Hidup (RPL), Pemrakarsa, Instansi yang
Berwenang, Instansi yang Bertanggung jawab,
Instansi yang Membidangi usaha dan/atau
Kegaitan, Komisi Penilai, Menteri, Instansi yang
Ditugasi Mengendalikan Dampak Lingkungan, dan
Gubernur.
2. Usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinana dapat
menimbulkan dampak besar dan penting terhadap
lingkungan hidup meliputi:
a. Pengubahan bentuk lahan dan bentang alam;
b. Eksploitasi sumber daya alam baik yang
terbaharui maupun yang tidak terbaharui;
c. Proses dan kegiatan yang secara potensial
dapat menimbulkan pemborosan, pencemaran
dan kerusakan lingkungan hidup, serta
kemerosotan sumber daya alam dalam
pemanfaatannya;
d. Proses dan kegaitan yang hasilnya dapat
mempengaruhi lingkungan alam, lingkungan
buatan, serta lingkungan sosial dan budaya;
e. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat
mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi
sumber daya alam dan/atua perlindungan cagar
budaya;
f. Introduksi jenis tumbuh-tumbuhan, jenis hewan,
dan jasad renik;
g. Pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan
non hayati;
h. Penerapan teknologi yang diperkirakan
mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi
lingkungan hidup;
i. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi,
dan/atau mempengaruhi pertahanan negara.
3. Kriteria mengenai dampak besar dan penting suatu
usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup
antara lain:
a. Jumlah manusia yang akan terkena dampak;
b. Luas wilayah persebaran dampak;
c. Intensitas dan lamanya dampak berlangsung;
d. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang
terkena dampak;
e. Sifat kumulatif dampak;
f. Berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya
(irreversibel) dampak.
4. Analisis mengani dampak lingkungan hidup
merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk
mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau
kegiatan yang diterbitkan oleh pejabat yang
berwenang.
5. Pendidikan, latihan, dan pengembangan di bidang
analisis dampak lingkungan hidup dilakukan dengan
koordinasi instansi yang ditugasi mengendalikan
dampak lingkungan.
6. Pemrakarsa usaha dan/atau kegitan wajib
menyampaikan laporan pelaksanaan rencana
pengelolaan lingkungan hidup dan rencana
pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang
membidangi usaha dan/atau kegiatan yang
bersangkutan, instansi yang ditugasi mengendalikan
dampak lingkungan dan Gubernur.
7. Biaya pelaksanaan kegiatan komisi dan tim teknis
analisis mengenai dampak lingkungan hidup
dibebankan pada:
a. Di tingkat pusat: pada anggaran instansi yang
ditugasi mengendalikan dampak lingkungan;
b. Di tingkat daerah: pada anggaran instansi yang
ditugasi mengendalikan dampak lingkungan
Daerah Tingkat I.
8. Biaya penyusunan dan penilaian kerangka acuan,
analisis dampak lingkungan hidup, rencana
pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana
pemantauan lingkungan hidup dibebankan kepada
pemrakarsa.
CATATAN : - Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini, maka
Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, dinyatakan
tidak berlaku lagi.
- Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal
7 Mei 1999
IKLAN – LABEL – PANGAN
1999
PP NO. 69 TAHUN 1999 (LN TAHUN 1999 NO. 131, TLN NO. 3867)
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG LABEL DAN IKLAN PANGAN
ABSTRAK : - Label dan iklan pangan merupakan sarana dalam kegiatan
perdagangan pangan yang memiliki arti penting, sehingga
perlu diatur dan dikendalikan agar informasi mengenai
pangan yang disampaikan kepada masyarakat adalah
benar dan tidak menyesatkan.
Masyarakat berhak untuk memperoleh informasi yang
benar dan tidak menyesatkan mengenai pangan yang
akan dikonsumsinya, khususnya yang disampaikan melalui
label dan iklan pangan.
Berdasarkan hal-hal tersebut dan sebagai pelaksanaan
Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang pangan,
dipandang perlu mengatur tentang label dan iklan pangan
dengan Peraturan Pemerintah.
- Dasar Hukum Peraturan Pemerintah ini adalah:
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945;
2. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan;
3. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang pangan;
- Dalam Peraturan Pemerintah ini diatur tentang:
1. Pengertian Pangan, Pangan Olahan, Label Pangan,
Iklan Pangan, Pangan Halal, Pangan Halal, Gizi
Pangan, Produksi Pangan, Kemasan Pangan,
Pengangkutan Pangan, Peredaran Pangan,
Perdagangan Pangan, Setiap Orang, Standar Nasional
Indonesia.
2. Setiap orang yang memproduksi atau memasukkan
pangan yang dikemas ke dalam wilayah Indonesia
untuk diperdagangkan wajib mencantumkan label pada,
di dalam, dan atau di kemasan pangan.
3. Pencantuman pernyataan tentang manfaat pangan bagi
kesehatan dalam Label hanya dapat dilakukan oleh
fakta ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
4. Label berisikan keternagan mengenai pangan yang
bersangkutan. Keterangan sekurang-kurangnya berisi
tentang:
a. Nama produk;
b. Daftar bahan yang digunakan;
c. Berat bersih atau isi bersih;
d. Nama dan alamat pihak yang memproduksi atau
memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia;
e. Tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa.
5. Larangan:
a. Menghapus, mencabut, menutup, mengganti label,
melabel kembali pangan yang diedarkan;
b. Menukar tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa
pangan yang diedarkan.
6. Tanggal, bulan dan tahun kadaluwarsa wajib
dicantumkan secara jelas pada label.
7. Kode produksi pangan olahan wajib dicantumkan pada
label, wadah atau kemasan pangan, dan terletak pada
bagian yang mudah untuk dilhat dan dibaca.
8. Label untuk pangan yang mengalami perlakuan
iradiasi, wajib dicntumkan tulisan PANGAN IRADIASI,
tujuan iradiasi, dan apabila tidak boleh diiradiasi ulang,
wajib dincantumkan tulisan TIDAK BOLEH DIIRADIASI
ULANG.
9. Setiap orang yang melanggar ketentuan dalam
Peraturan Pemerintah ini dikenakan tindakan
administratif yang meliputi:
a. Peringatan secara tertulis;
b. Larangan untuk mengedarkan untuk sementara
waktu dan/atau perintah untuk menarik produk
pangan dari peredaran;
c. Pemusnahan pangan jika terbukti membahayakan
kesehatan dan jiwa manusia;
d. Penghentian produksi untuk sementara waktu;
e. Pengenaan denda paling tinggi Rp. 50.000.000,-
(lima puluh juta rupiah) dan/atau;
f. Pencabutan izin produksi atau izin usaha.
10. Ketentuan tentang label dalam Peraturan Pemerintah
ini tidak berlaku bagi:
a. Pangan yang kemasannya terlalu kecil sehingga
tidak mungkin dicantumkan seluruh keterangan
dimaksud dalam Peraturan Pemerintah ini;
b. Pangan yang dijual dan dikemas secara langsung di
hadapan pembeli dalam jumlah kecil-kecil;
c. Pangan yang dijual dalam jumlah besar (curah)
CATATAN : - Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 21 Juli
1999
HEWAN – KARANTINA
2000
PP NO. 82 TAHUN 2000 (LN TAHUN 2000 NO. TLN NO. 4002)
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG KARANTINA HEWAN
ABSTRAK : - Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang
perkarantinaan hewan yang melindungi dan melestarikan
sumberdaya alam hayati hewan, sudah tidak sesuai lagi
dengan kemajuan ilmu pengetahuan teknologi serta
perkembangan hukum nasional dan internasional;
Sehubungan dengan hal tersebut, dan untuk
melaksanakan ketentuan Pasal 22 ayat (2) dan Pasal 27
Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang
Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, perlu
menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Karantina
Hewan.
- Dasar Hukum Peraturan Pemerintah ini adalah:
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945
sebagaimana telah diubah dengan Perubahan Kedua
Undang-undang Dasar 1945;
2. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang
Ketentuan-ketentuan Pokok Peternakan dan
Kesehatan Hewan;
3. Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang
Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan.
- Dalam Peraturan Pemerintah ini diatur tentang:
Pengertian Media Pembawa Hama Penyakit Hewan
Karantina, Hewan, Bahan Asal Hewan, Hasil Bahan Asal Hewan,
Benda Lain, Area, Pemasukan, Transit, Pengeluaran, Tempat
Pemauskan dan Tempat Pengeluaran, Tempat Asal, Dokumen
Karantina Hewan, Dokumen Lain, Hama dan Penyakit Hewan
Karantina, Hama Penyakit Hewan Karantina Golongan I, Hama
Penyakit Hewan Karantina Golongan II, Tindakan Karantian
Hewan, Instalasi Karantina Hewan, Alat Angkut, Kemasan,
Sucihama, Pemilik Media Pembawa, Penanggungjawab Tempat
Pemasukan, Transit atau Pengeluaran, Penanggung jawab Alat
Angkut, Petugas Karantina Hewan, Dokter Hewan Petugas
Karantina, Paramedik Karantina, dan Menteri.
Syarat Media Pembawa yang dimasukkan ke dalam wilayah
Indonesia:
Syarat Media pembawa yang dibawa dan dikirim dari suatu area ke
area lain di dalam wilayah Indonesa:
Syarat Media pembawa yang akan dikeluarkan dari wilayah
Indonesia:
Sertifikat kesehatan dapat berbentuk sertifikat kesehatan hewan
yang diperuntukkan bagi jenis hewan atau sertifikat sanitasi yang
diperuntukkan bagi jenis bahan asal hewan dan hasil bahan asal
hewan.
Sertifikat kesehatan hewan, sekurang-kurangnya memuat
keterangan tentang:
Sertifikat sanitasi sekurang-kurangnya memuat tentang:
Tindakan karantian dilakaukan terhadap media pembawa yang
dimasukkan ke dalam, atau dikirim dari suatu area ke area lain,
transit di dalam, dan/atau dikeluarkan dari wilayah Indonesia.
Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui kelengkapan dan
kebenaran isi dokumen dan sanitasi media pembawa, atau
kelayakan sarana dan prasarana karantina dan alat angkut.
Pemeriksaan kesehatan atas sanitasi media pembawa dilakukan
secara fisik dengan cara:
Pengasingan dilakukan terhadap sebagian atau seluruh media
pemabwa untuk diadakan pengamatan, pemeriksaan, dan
perlakuan dengan tujuan untuk mencegah kemungkinan penularan
hama penyekit hewan karantina.
Pengamatan dilakukan untuk mendeteksi lebih lajut hama penyakit
hewan karantina dengan cara mengamati timbulnya gejala hama
penyakit hewan karantina pada media pembawa selama
diasingkan dengan mempergunakan sistem semua masuk – semua
keluar.
Penolakan dilakukan terhadap media pembawa yang dimasukkan
ke dalam atau dimasukkan dari suatu area ke area lain di dalam
wilayah Indonesia apabila ternyata:
Pemusnahan dilakukan terhadap media pembawa yang
dimasukkan ke dalam wilayah Indonesia dan/atau dari suatu area
ke area lain di dlama Wilayah Indonesia, apabila ternyata:
Pembebasan dilakukan terhada media pembawa yang dimasukkan
ke dalam wilayah Indonesia atau dari suatu area ke area lain di
dalam wilayah Indonesia, dan diberikan sertifikat pelepasan apabila
ternyata:
Pembebasan dilakukan terhadap media pemabawa yang akan
dikeluarkan dari dalam atau dikeluarkan dari suatu area ke area
lain di dalam wilayah Indonesia, dan diberikan sertifikat kesehatan
apabila ternyata:
Jika pemasukan
NASIONAL – STANDAR
2000
PP NO. 102 TAHUN 2000 (LN TAHUN 2000 NO. 199, TLN NO. 4020)
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG STANDARDISASI NASIONAL
ABSTRAK : - Indonesia telah ikut serta dalam persetujuan pembentukan
Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade
Organization) yang di dalamnya mengatur pula masalah
standardisasi berlanjut dengan kewajiban untuk
menyesuaikan peraturan perundangan nasional di bidang
standardisasi;
Berdasarkan pertimbnagan tersebut dipandang perlu untuk
mengganti Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1991
tentang Standar Nasional Indonesia;
- Dasar Hukum Peraturan Pemerintah ini adalah:
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945
sebagaimana telah diubah dengan perubahan Kedua
Undang-undang Dasar 1945;
2. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1961 tentang
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang
Nomo 1 Tahun 1961 tentang Barang menjadi Undang-
undang;
3. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang
Metrology Legal;
4. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang
Perindustrian;
5. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang
Perikanan;
6. Undang-undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang
Ketenagalistrikan;
7. Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang
Karantina Hewan, Ikan, dan tumbuhan;
8. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan;
9. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang
Persetujuan Pembentukan WTO;
10. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan;
11. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang
Ketenaganukliran;
12. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang
Lingkungan Hidup;
13. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen;
14. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah;
15. Undang-undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang
Telekomunikasi;
16. Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1989 tentang
Standar Nasional untuk Satuan Ukuran;
17. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang
Label dan Iklan Pangan;
18. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang
Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi
sebagai Daerah Otonom;
19. Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang
Penyelenggaraan Telekomunikasi.
- Dalam Peraturan Pemerintah ini diatur tentang:
1. Pengertian Standar, Standardisasi, Standar Nasional
Indonesia (SNI), Rancangan Standar Nasional
Indonesia (RSNI), Perumusan Standar Nasional
Indonesia, Penetapan Standar Nasional Indonesia,
Revisi Standar Nasional Indonesia, Pemberlakuan
Standar Nasional Indonesia, Akreditasi, Sertifikasi,
Sertifikat, Tanda SNI, Barang, Jasa, Sistem
Standardisasi Nasional (SSN), Badan Standardisasi
Nasional (BSN), Pelaku Usaha, Intansi Teknis,
Pimpinan Instansi Teknis.
2. Ruang lingkup standardisai nasional mencakup
semua kegiatan yang berkaitan dengan metrologi
teknik, standar, pengujian dan mutu.
3. Tujuan Standardisasi Nasional:
a. Meningkatkan perlindungan kepada konsumen,
pelaku usaha, tenaga kerja, dan masyarakat
lainnya baik untuk keselamatan, keamanan,
kesehatan maupun pelestarian fungsi lingkungan
hidup;
b. Membantu kelancaran perdagangan;
c. Mewujudkan persaingan usaha yang sehat dalam
perdagangan.
4. Pelaksanaan tugas dan fungsi Badan Standardisasi
Nasional di bidang akreditasi dilakukan oleh Komite
Akreditasi Nasional.
5. Kaji ulang dan revisi Standar nasional Indonesia
dilaksanakan oleh Panitia Teknis melalui consensus
dari semua pihak.
6. Sertifikat dan atau pembubuhan tanda SNI dapat
diberikan kepada barang dan jasa, proses, sistem
dan personel yang memenuhi ketentuan atau
spesifikasi teknis Standar Nasional Indonesia.
7. Biaya akreditasi dibebankan kepada lembaga
sertifikasi, lembaga inspeksi, lembaga pelatihan atau
laboratorium yang mengajukan permohonan
akreditasi.
8. Pengawasan terhadap pelaku usaha, barang dan
atau jasa yang telah memperoleh sertifikat dan atau
dibubuhi tanda SNI yang diberlakukan secara wajib,
dilakukan oleh Pimpinana instansi teknis sesuai
kewenangannya dan atau Pemerintah Daerah.
9. Pengakuan lembaga sertifikasi, lembaga inspeksi,
lembaga pelatihan atau laboratorium Negara
pengekspor oleh Komite Akreditasi Nasional
didasarkan pada perjanjian saling pengakuan baik
secara bilateral maupun multilateral.
10. Pelaku usaha yang melakukan pelanggaran, dapat
dikenakan sanksi administrative dan atau sanksi
pidana.
11. Sanksi administratif berupa:
a. Pencabutan sertifikat produk;
b. Pencabutan hak penggunaan tanda SNI;
c. Pencabutan izin usaha;
d. Penarikan barang dari peredaran.
CATATAN : - Peraturan Pemerintah ini berlaku pada tanggal 10 November
2000
KERUSAKAN – PENGENDALIAN – LINGKUNGAN HIDUP
2001
PP NO. 4 TAHUN 2001, LN TAHUN 2001 NO. 10, TLN NO. 4076
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGENDALIAN KERUSAKAN DAN
ATAU PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP YANG BERKAITAN DENGAN
KEBAKARAN HUTAN DAN ATAU LAHAN
ABSTRAK :
- Bahwa kebakaran hutan dan atau lahan merupakan salah satu
penyebab kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup,
baik berasal dari lokasi maupun dari luar lokasi usaha dan atau
kegiatan.
Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 14 ayat (2) dan ayat (3)
Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup, perlu menetapkan Peraturan Pemerintah
tentang Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran
Lingkungan Hidup yang berkaitan dengan Kebakaran Hutan
dan atau Lahan.
- Dasar Hukum Peraturan Pemerintah ini adalah:
a. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945 sebagaimana
telah diubah dengan Perubahan Kedua Undang-undang
Dasar 1945;
b. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya;
c. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem
Budidaya Tanaman;
d. Undang-undang Nomor 15 Tahun 1992;
e. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1994 tentang Pengesahan
United Nations Convention on Biological Diversity (Konvensi
Perserikatan Bangsa-bangsa Mengenai Keanekaragaman
Hayati);
f. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1994 tentang Pengesahan
United Nations on Framework Convention on Climate
Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-
bangsa Mengenai Perubahan Iklim);
g. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup;
h. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999
tentangPemerintahan Daerah;
i. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
j. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup;
k. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara;
l. Peraturan pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang
Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi
Sebagai Daerah Otonom;
- Dalam Peraturan Pemerintan ini diatur tentang:
1. Pengertian Hutan, Lahan, Kawasan Hutan, Pengendalian
Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup;
Pencegahan Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan
Hidup; Penanggulangan Kerusakan dan atau Pencemaran
Lingkungan Hidup; Pemulihan Kerusakan dan atau
Pencemaran Lingkungan Hidup; Dampak Lingkungan Hidup
yang berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan;
Kerusakan Lingkungan Hidup yang berkaitan dengan
Kebakaran Hutan dan atau Lahan; Pencemaran Lingkungan
Hidup yang berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan atau
Lahan; Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup yang
berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan; Orang;
Penanggung Jawab Usaha; Instansi yang bertanggung
jawab; Menteri; Gubernur; dan Bupati/Walikota.
2. Ruang lingkup Peraturan pemerintah ini adalah meliputi
upaya pencegahan, penanggulangan dan pemulihan serta
pengawasan terhadap pengendalian kerusakan dan atau
pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan
kebakaran hutan dan atau lain.
3. Setiap orang dilarang melakukan kegiatan pembakaran
hutan dan atau lahan.
4. Sarana dan prasarana yang wajib dimiliki bagi setiap
penanggung jawab usaha untuk mencagah terjadinya
kebakaran hutan dan atau lahan di lokasi usahanya,
meliputi:
a. Sistem deteksi dini untuk mengetahui terjadinya
kebakaran hutan dan atau lahan;
b. Alat pencegahan kebakaran hutan dan atau lahan;
c. Prosedur operasi standar untuk mencegah dan
menanggulangi terjadinya kebakaran hutan dan atau
lahan;
d. Perangkat organisasi yang bertanggung jawab dalam
mencegah dan menanggulangi terjadinya kebakaran
hutan dan atau lahan;
e. Pelatihan penanggulangan kebakaran hutan dana tau
lahan secara berkala.
5. Dalam hal terjadi kebakaran hutan, Menteri yang
bertanggung jawab di bidang kehutanan mengkoordinasikan
pemadaman kebakaran hutan dan atau lahan lintas propinsi
dan atau lintas batas negara.
6. Setiap orang memiliki hak yang sama untuk mendapatkan
informasi dalam rangka ikut melakukan upaya pengendalian
kerusakan dan atau pencemaran lingkungan hidup yang
berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau lahan yang
meliputi:
a. Peta daerah rawan kebakaran hutan dan atau lahan;
b. Peta peringkat bahaya kebakaran hutan dan atau lahan;
c. Dokumen perizinan pengusahaan hutan dan atau lahan;
d. Dokumen AMDAL;
e. Rencana penyiapan/pembukaan hutan dan atau lahan;
f. Hasil penginderaan jauh dari satelit;
g. Laporan berkala dari penanggung jawab usaha
mengenai status penataan terhadap persyaratan
perizinan.
7. Setiap perbuatan yang menimbulkan akibat kerusakan dan
atau pencemaran lingkungan hidup yang berkaitan dengan
kebakaran hutan dan atau lahan yang menimbulkan
kerugian pada orang lain atau lingkungan hidup, wajib untuk
membayar ganti kerugian dan atau melakukan tindakan
tertentu.
8. Dalam rangka kerusakan dana tau pencemaran lingkungan
hidup yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan atau
lahan, instansi yang bertanggung jawab mengambangkan
kemampuan sumber daya manusia di bidang evaluasi
dampak lingkungan hidup dan penyusunan strategi
pemulihan dampak lingkungan hidup yang berkaitan dengan
kebakaran hutan dan atau lahan.
CATATAN : - Peraturan pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 5
Februari 2001
BUDIDAYA – PUPUK – BUDIDAYA
2001
PP NO. 8 TAHUN 2001, LN TAHUN 2001 NO. 14, TLN NO. 4079
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PUPUK BUDIDAYA TANAMAN
ABSTRAK : - Untuk memenuhi standar mutu dan menjamin efektivitas
pupuk, maka pupuk yang diproduksi harus berasal dari
formula hasil rekayasa yang telah diuji mutu dan
efektivitasnya.
Sehubungan dengan hal tersebut dan sebagai
pelaksanaan dari Pasal 37 Undang-undang Nomor 12
Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, perlu
mengatur Pupuk Budidaya Tanaman dengan Peraturan
Pemerintah.
- Dasar Hukum Peraturan Pemerintah ini adalah:
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945;
2. Undang-undang Nomor 2 tahun 1981 tentang Metrologi
Legal;
3. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang
Perindustrian;
4. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem
Budidaya Tanaman;
5. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup;
6. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen;
7. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah;
8. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1994 tentang
Pemilikan Saham Dalam Perusahaan yang Didirikan
dalam rangka Penanaman Modal Asing;
9. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang
Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi
Sebagai Daerah Otonom;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang
Standar Nasional Indonesia.
- Dalam Peraturan Pemerintah ini adalah:
1. Pengertian Pupuk, Pupuk Anorganik, Rekayasa
Formula Pupuk, Formula Pupuk, Produsen Pupuk,
Pengimpor Pupuk, Pengujian, Sertifikat Formula Pupuk,
Surat Keterangan Jaminan Mutu, Pengadaan,
Peredaran, dan Menteri.
2. Pengadaaan pupuk an-organik dilakukan melalui
produksi dalam negeri dan/atau pemasukan dari luar
negeri.
3. Pupuk an-organik yang akan diproduksi oleh
perorangan atau badan hukum di dalam negeri harus
berasal dari formula pupuk hasil rekayasa dan
memenuhi standar mutu.
4. Dalam hal pupuk an-organik yang akan diproduksi di
dalam negeri atau akan diimpor akan tetapi belum
ditetapkan Standar Nasional Indonesia (SNI)-
nya, Menteri menetapkan persyaratan teknis minimal
pupuk an-organik tersebut.
5. Uji Mutu dilakukan oleh Lembaga pengujian yang telah
terkareditasi yang bertanggung jawab terhadap
pelaksanaan dan hasil pengujian terhadap formula
pupuk an-organik.
6. Uji efektivitas dapat dilakukan oleh perorangan, badan
hukum atau Instansi Pemerintah yang mempunyai
persyaratan:
a. Memiliki peralatan yang memadai;
b. Memiliki lahan yang cukup;
c. Memiliki tenaga yang mempunyai pengetahuan di
bidnag budidaya tanman dan pemupukan.
7. Pupuk an-organik yang diedarkan harus memenuhi
standar mutu dan terjamin efektivitasnya serta diberi
label yang sekurang-kurangnya memuat keterangan
tentang:
a. Nama dagang;
b. Kandungan hara;
c. Isi atau berat bersih barang;
d. Masa edar;
e. Aturan pakai/cara penggunaan;
f. Nama dan alamat produsen.
8. Pengawasan mutu pupuk an-organik dilakukan untuk
melindungi kepentingan pengguna, pengedar,
pengimpor dan produsen, memenuhi kepentingan
pupuk an-organik, meningkatkan daya guna dan hasil
guna pupuk an-organik serta menjamin kelestarian
alam dan lingkungan hidup.
9. Pengawasan pupuk an-organik:
a. Pada tingkat rekayasa formula menjadi kewenangan
Menteri;
b. Pada tingkat pengadaan, baik produksi dalam
negeri maupun pemasukan/impor, peredaran, dan
penggunaan menjadi kewenangan Bupati atau
Walikota setempat.
CATATAN : - Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 19
Februari 2001
BAHAYA – BERACUN – BAHAN
2001
PP NO. 74 TAHUN 2001
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA
DAN BERACUN
ABSTRAK : - Untuk mencegah terjadinya dampak yang dapat merusak
lingkungan hidup, kesehatan manusia, dan makhluk hidup
lainnya diperlukan pengeloaan bahan berbahaya dan
beracun secara terpadu sesuai dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi;
Berdasarkan pertimbangan tersebut dan untuk
melaksanakan ketentuan Pasal 17 ayat (3) Undang-
undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup, perlu menetapkan Peraturan
Pemerintah tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya dan
Beracun.
- Dasar Hukum Peraturan Pemerintah ini adalah:
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945;
2. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja;
3. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan;
4. Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang
Pelayaran;
5. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan;
6. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang
Kepabeanan;
7. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup;
8. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah;
9. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1973 tentang
Pengawasan atas Peredaran, Penyimpanan, dan
Penggunaan Pestisida;
10. Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1999 tentang
Pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun;
- Dalam Peraturan Pemerintah ini adalah:
1. Pengertian Bahan Berbahaya dan Beracun (B3),
Pengelolaan B3, Registrasi, Penyimpanan B3,
Pengemasan B3, Simbol B3, Label, Pengangkutan
B3, B3 Terbatas, B3 yang dilarang dipergunakan,
Impor B3, Ekspor B3, Notifikasi untuk Ekspor,
Notifikais untuk Ekspor, Orang, Instansi yang
bertanggung jawab, Instansi yang berwenang, Komisi
B3, Gubernur, Bupati/Walikota, dan Menteri.
2. Tujuan pengelolaan B3: Untuk mencegah dan atau
mengurangi risiko dampak B3 terhadap lingkungan
hidup, kesehatan manusia dan makhluk hidup
lainnya.
3. Pengelolaan B3 yang tidak termasuk dalam lingkup
Peraturan Pemerintah ini:
a. Pengelolaan bahan radioaktif;
b. Bahan peledak;
c. Hasil produksi tamabang serta minyak dan gas
bumi dan hasil olahannya;
d. Makanan dan minuman serta bahan tambahan
makanan lainnya;
e. Perbekalan kesehatan rumah tannga dan
kosmetika;
f. Bahan sediaan farmasi;
g. Narkotika, Psikoterapika; dan prekusornya serta
zat adiktif lainnya;
h. Senjata kimia;
i. Sejata biologi.
4. Klasifikasi B3:
Mudah meledak (explosive);
a. Pengoksidasi (oxidizing);
b. Sangat mudah sekali menyala (extremely
flammable);
c. Sangat mudah menyala (highly flammable);
d. Mudah menyala (flammable);
e. Amat sangat beracun (extremely toxic);
f. Sangat beracun (highly toxic);
g. Beracun (toxic);
h. Berbahaya (harmful);
i. Korosit (corrosive);
j. Bersifat iritasi (irritant);
k. Berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the
environment);
l. Karsinogenik (carcinogenic);
m. Teratogenik (teratogenic);
n. Mutagenik (mutagenic).
5. Setiap B3 wajib diregistrasikan oleh penghasil dan
atau pengimpor.
6. Setiap orang yang melakukan kegiatan ekspor B3
yang terbatas dipergunakan, wajib menyampaikan
notifikasi ke otoritas negara tujuan ekspor, otoritas
negara transit dan instansi yang bertanggungjawab.
7. Setiap orang yang melakukan kegiatan impor B3
yang terbatas dipergunakan dan atau pertama kali
impor, wajib mengikuti prosedur notifikasi.
8. Setiap orang yang memproduksi B3 wajib membuat
Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety
Data Sheet).
9. Setiap B3 yang dihasilkan, diangkut, diedarkan,
disimpan wajib dikemas sesuai dengan klasifikasinya.
10. Dalam hal kemasan B3 mengalami kerusakan:
a. B3 yang masih dapat dikemas ulang,
pengemasannya wajib dilakukan oleh pengedar;
b. B3 yang tidak dapat dikemas ulang dan dapat
menimbulkan pencemaran dan atau kerusakan
lingkungan dan atau keselamatan manusia, maka
pengedar wajib melakukan penanggulangan.
11. Dalam hal terjadi kecelakaan dan atau keadaan
darurat yang diakibatkan B3, maka setiap orang yang
melakukan kegiatan pengelolaan B3 wajib mengambil
langkah-langkah:
a. Mengamankan (mengisolasi) tempat terjadinya
kecelakaan;
b. Menanggulangi kecelakaan sesuai dengan
prosedur tetap penanggulangan kecelakaan;
c. Melaporkan kecelakaan dan/atau keadaan darurat
kepada aparat Pemerintah Kabupaten/Kota
setempat;
d. Memberikan informasi, bantuan, dan melakukan
evaluasi terhadap masyarakat di lokasi kejadian.
12. Kewajiban setiap orang yang melakukan kegiatan
pengelolaan B3:
a. Mengizinkan pengawas untuk memasuki lokasi
kerja dan membantu terlaksananya tugas
pengawasan;
b. Mengizinkan pengawas untuk mengambil contoh
B3;
c. Memberikan keterangan dengan benar baik lisan
maupun tertulis;
d. Mengizinkan pengawas untuk melakukan
pemotretan di lokasi kerja atau mengambil
gambar.
13. Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang
usaha dan kegitannya menimbulkan dampak besar
dan penting terhadap lingkungan hidup, yang
menggunakan bahan berbahaya dan beracun, dan
bertanggung jawab secara mutlak atas kegiatan yang
ditimbulkan, dengan kewajiban membayar ganti
kerugian secara langsung dan seketika pada saat
terjadinya pencemaran dan atau perusakan
lingkungan hidup.
14. Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan dapat
dibebaskan dari kewajiban membayar ganti kerugian,
jika yang bersangkutan dapat membuktikan bahwa
pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup
disebabkan salah satu alasan di bawah ini:
a. Adanya bencana alam atau peperangan;
b. Adanya keadaan terpaksa di luar kemampuan
manusia;
c. Adanya tindakan pihak ketiga yang menyebabkan
terjadinya pencemaran dan atau perusakan
lingkungan hidup.
CATATAN : - Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 26
November 2001
MESIN – ALAT – BUDIDAYA
2001
PP NO. 81 TAHUN 2001, LN TAHUN 2001 NO. 147, TLN NO. 4157
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG ALAT DAN MESIN BUDIDAYA
TANAMAN
ABSTRAK : - Alat dan mesin budidaya tanaman yang diadakan dan
diedarkan harus memenuhi ketentuan mengenai standar
dan efektivitas alat dan mesin budidaya tanaman;
Berdasarkan pertimbangan tersebut dan sebagai
pelaksanaan Pasal 43 Undang-undang Nomor 12 Tahun
1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, perlu mengatur
alat dan mesin budidaya tanaman dengan Peraturan
Pemerintah;
- Dasar Hukum Peraturan Pemerintah ini adalah:
a. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945;
b. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang
Keselamatan Kerja;
c. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang
Metrologi Legal;
d. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang
Perindustrian;
e. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem
Budidaya Tanaman;
f. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen;
g. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah;
h. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang
Kewenangan Pengaturan, Pembinaan dan
Pengembangan Industri;
i. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang
Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi
sebagai Daerah Otonom;
j. Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang
Standardisasi Nasional;
k. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang
Pembinaan dan Pengawasan Pemerintah Daerah.
- Dalam Peraturan Pemerintah ini diatur tentang:
1. Pengertian Alat dan Mesin Budidaya Tanaman,
Pengujian, Prototipe, Sertifikat, Akreditasi, Standar,
Pengadaan, Peredaran, dan Menteri,
2. Alat dan atau mesin yang digunakan untuk proses
produksi, meliputi lata dan atau mesin untuk:
a. Penyiapan dan pengolahan lahan;
b. Perbenihan;
c. Penanaman;
d. Pemeliharaan;
e. Perlindungan;
f. Pemanenan;
3. Alat dan atau mesin yang digunakan untuk pasca
panen:
a. Perontok;
b. Pemipil;
c. Perajang;
d. Pembersih;
e. Penyotir;
f. Pengolahan;
g. Pelayu;
h. Pengering;
i. Penggilingan;
j. Penyimpanan;
k. Pengemasan/pengepakan.
4. Pengadaan alat dan atau mesin dilakukan melalui
produksi dalam negeri dan atau impor.
5. Pengujian dilakukan oleh lembaga penguji yang telah
terakreditasi, yang memenuhi persyaratan:
a. Memiliki instrumen uji yang memadai;
b. Memiliki lahan yang cukup;
c. Memiliki tenaga yang mempunyai pengetahuan di
bidang budidaya tanaman serta alat dan atau
mesin;
d. Memiliki cara dan prosedur uji yang standar.
6. Alat dan atau mesin yang diedarkan harus memiliki
sertifikat, brusur dan label, yang memuat keterangan:
a. Merek dan type;
b. Daya dan putaran mesin;
c. Dimensi;
d. Kapasitas kerja;
e. Nama dan alamat produsen.
7. Penggunaan alat dan atau mesin dilakukan dengan
memperhatikan keselamatan dan kesehatan kerja,
spesifik lokasi dan kelestarian lingkungan.
8. Pengawasan alat dan atau mesin dilakukan untuk
melindungi kepentingan pengguna, pengedar,
produsen dan importir dalam rangka pemenuhan
kebutuhan alat dan atau mesin, menjamin keselamatan
dan kesehatan kerja, serta keselamatan dan kesehatan
kerja, serta kelestarian lingkungan hidup.
9. Kewenangan petugas pengawas alat dan atau mesin:
a. Melakukan pemeriksaan terhadap proses produksi
alat dan atau mesin;
b. Mengambil contoh alat atau mesin guna pengujian;
c. Memeriksa dokumen dan laporan;
d. Melakukan pemeriksaan terhadap pemenuhan
persyaratan perizinan pengadaan dan atau
peredaran alat dan atau mesin.
CATATAN : - Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 7
Desember 2001
PANGAN – KETAHANAN
2002
PP NO. 68 TAHUN 1999 (LN TAHUN 1999 NO. 142, TLN NO. 4254)
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG KETAHANAN PANGAN
ABSTRAK : - Ketahanan pangan merupakan hal yang sangat penting
dalam rangka pembangunan nasional untuk membentuk
manusia Indonesia yang berkualitas, mandiri, dan
sejahtera melalui ketersediaan pangan yang cukup, aman,
bermutu, bergizi dan beragam serta tersebar merata di
seluruh wilayah Indonesia dan terjangkau oleh daya beli
masyarakat.
- Dasar Hukum Peraturan Pemerintah ini adalah:
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945;
2. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang
Kesehatan Hewan;
3. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1974 tentang
Ketentuan-ketentuan Pokok Mengenai Kesejahteraan
Sosial;
4. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang
Perindustrian;
5. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang
Perikanan;
6. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan
Ekosistemnya;
7. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem
Budidaya Tanaman;
8. Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang
Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan;
9. Undang-undang Dasar Nomor 23 Tahun 1992
tentang Kesehatan;
10. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang
Pangan;
11. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup;
12. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah;
13. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan;
14. Undang-undang Nomor 18 Tahun 2002 tentang
Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan
Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi;
15. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang
Kewenangan Pengaturan, Pembinaa, dan
Pengembangan Industri;
16. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang
Kewenangan Pemerintahan dan Kewenangan
Propinsi sebagai Daerah Otonom;
17. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Thaun 2001 tentang
Pembinaan dan Pengawasan Pemerintah Daerah;
18. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2001 tentang
Penyelenggaraan Dekonsentrasi;
19. Undang-undang Nomor 52 Tahun 2001 tentang
Penyelenggaraan Tugas Pembantuan.
- Dalam Peraturan Pemerintah ini diatur tentang:
1. Pengertian Ketahanan Pangan, Pangan, Ketersediaan
Pangan, Cadangan Pangan Nasional, Produksi
Pangan, Perdagangan Pangan, Peredaran Pangan,
Pengangkutan Pangan, Penganekaragaman Pangan,
Masalah Pangan, Keadaan Darurat, Terjangkau,
Pemerintahan Pusat, Pemerintah Daerah, dan Setiap
Orang.
2. Penyediaan Pangan diselenggarakan untuk memenuhi
kebutuhan konsumsi rumah tangga yang terus
berkembang dari waktu ke waktu yang dilakukan
dengan:
a. Mengembangkan sistem produksi pangan yang
bertumpu pada sumber daya, kelembagaan, dan
budaya lokal;
b. Mengembangkan efisiensi sistem usaha pangan;
c. Mengembangkan teknologi produksi pangan;
d. Mengembangkan sarana dan prasarana produksi
pangan;
e. Mempertahankan dan mengembangkan lahan
produktif.
3. Sumber penyediaan pangan berasal dari produksi
pangan dalam negeri, cadangan pangan, dan
pemasukan pangan, yang diutamakan berasal dari
produksi pangan dalam negeri.
4. Pemerataan ketersediaan pangan dilakukan distribusi
pangan ke seluruh wilayah sampai tingkat rumah
tangga, yang dilakukan dengan:
a. Mengembangkan sistem distribusi pangan yang
menjangkau seluruh wilayah secara efisien;
b. Mengelola sistem distribusi pangan yang dapat
mempertahankan keamanan, mutu dan gizi pangan;
c. Menjamin keamanan distribusi pangan.
5. Cadangan pangan nasional terdiri dari cadangan
pangan pemerintah, dan cadangan pangan
masyarakat.
6. Untuk mewujudkan cadangan pangan pemerintah,
dilakukan dengan:
a. Menginventarisasi cadangan pangan;
b. Melakukan prakiraan kekurangan pangan dan/atau
keadaaan darurat;
c. Menyelenggarakan pengadaan, pengelolaan dan
penyaluran cadangan pangan.
7. Penganekaragaman pangan diselenggarakan untuk
meningkatkan ketahanan pangan dengan
memperhatikan sumber daya, kelembagaan dan
budaya lokal, yang dilakukan dengan:
a. Meningkatkan keanekaragaman pangan;
b. Mengembangkan teknologi pengolahan dan produk
pangan;
c. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk
mengkonsumsi aneka ragam pangan dengan
prinsip gizi seimbang.
8. Pencegahan masalah pangan diselenggarakan untuk
menghindari terjadinya masalah pangan, yang
dilakukan dengan:
a. Memantau, menganalisis, dan mengevaluasi
ketersediaan pangan;
b. Memantau, menganalisis dan mengevaluasi faktor
yangn mempengaruhi ketersediaan pangan;
c. Merencanakan dan melaksanakan program
pencegahan masalah pangan.
9. Penanggulangan masalah pangan diselenggarakan
untuk menanggulangi terjadinya kelebihan pangan,
kekurangan pangan, dan/atau ketidakmampuan rumah
tangga dalam memenuhi kebutuhgan pangan, yang
diselenggarakan dengan:
a. Mengeluarkan pangan apabila terjadi kelebihan
pangan;
b. Peningkatan produksi dan/atau pemasukan pangan
apabila terjadi kekurangan pangan;
c. Penyaluran pangan secara khusus apabila terjadi
ketidakmampuan rumah tangga dalam memenuhi
kebutuhan pangan;
d. Melaksanakan bantuan pangan kepada penduduk
miskin.
10. Pengendalian harga pangan tertentu yang bersifat
pokok di tingkat masyarakat diselenggarakan untuk
menghindari terjadinya gejolak harga pangan yang
mengakibatkan keresahan masyarakat, keadaan
darurat karena bencana, dan/atau paceklik yang
berkepanjangan, yang dilakukan dengan:
a. Pengelolaan dan pemeliharaan cadangan pangan
pemerintah;
b. Pengaturan dan pengelolaan pasokan pangan;
c. Penetapan kebijakan pajak dan/atau tarif;
d. Pengaturan kelancaran distribusi.
PENDAFTARAN – PENAMAAN – VARIETAS
2004
PP NO. 13 TAHUN 2004, LN TAHUN 2004 NO. 30, TLN NO. 4375
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENAMAAN, PENDAFTARAN DAN
PENGGUNAAN VARIETAS ASAL UNTUK PEMBUATAN VARIETAS TURUNAN
ESENSIAL
ABSTRAK : - Bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6 ayat (7) dan
Pasal 7 ayat (4) Undang-undang Nomor 29 Tahun 2000
tentang perlindungan Varietas Tanaman, dipandang perlu
menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Penamaan,
Pendaftaran, dan Penggunaan Varietas Asal untuk
Pembuatan Varietas Turunan Esensial.
- Dasar Hukum Peraturan pemerintah ini adalah:
a. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Undang-undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang
Perlindungan Varietas Tanaman (LN Tahun 2000
Nomor 241, TLN Nomor 4043)
- Dalam Peraturan pemerintah ini diatur tentang:
1. Pengertian Perlindungan Varietas Tanaman, Hak
Perlindungan Varietas Tanaman, Varietas Tanaman,
Pemuliaan Tanaman, Varietas Asal, Varietas Turunan
Esensial, Varietas Lokal, Varietas Hasil Pemuliaan,
Penamaan Varietas, Penamaan Varietas yang tidak
diberi PVT, Pendaftaran Varietas, Menteri, dan Hari.
2. Syarat pembuatan Varietas Turunan esensial:
a. Melalui metode seleksi tertentu;
b. Sifat Varietas Asal tetap dapat dipertahankan.
3. Metode seleksi tertentu meliputi:
a. Mutasi alami;
b. Mutasi induksi;
c. Seleksi individual Varietas yang sudah ada;
d. Silang ablik;
e. Variasi somaklonal;
f. Rekayasa genetik.
4. Syarat penamaan Varietas Lokal:
a. Mencerminkan identitas Varietas Lokal yang
bersangkutan;
b. Tidak menimbulkan keerancuan karakteristik, nilai
atau identitas suatu Varietas Lokal;
c. Tidak telah digunakan untuk nama Varietas yang
suah ada;
d. Tidak menggunakan nama orang terkenal;
e. Tidak menggunakan nama alam;
f. Tidak menggunakan lambang negara;
g. Tidak menggunakan merek dagang untuk barang dan
jasa yang dihasilkan dari bahan propagasi seperti
benih atau bibit, atau bahan yang dihasilkan dari
Varietas lain, transportasi atau penyewaan tanaman.
5. Kantor PVT mengumumkan penamaan dan pendaftaran
Varietas Lokal dalam Berita Resmi PVT.
6. Kantor PVT memberikan nama dan mendaftar Varietas
Lokal yang sebaran geografisnya meliputi lintas provinsi
serta mengumumkannya dalam Berita Resmi PVT.
7. Setiap Varietas Hasil Pemuliaan yang akan digunakan
sebagai Varietas Asal untuk pembuatan Varietas
Turunan Esensial harus diberi nama yang merupakan
identitas Varietas yang bersangkutan. Syarat penamaan
Varietas Hasil Pemuliaan:
a. Mencerminkan identitas Varietas Hasil Pemuliaan
yang bersangkutan;
b. Tidak menimbulkan kerancuan karakteristik, nilai,
atau identitas suatu Varietas Hasil Pemuliaan;
c. Tidak telah digunakan untuk nama Varietas yang
sudah ada;
d. Tidak menggunakan nama orang terkenal;
e. Tidak menggunakan nama alam;
f. Tidak menggunakan lambang negara;
g. Tidak menggunakan merek dagang untuk barang dan
jasa yang dihasilkan dari bahan propagasi seperti
benih atau bibit, atau bahan yang dihasilkan dari
Varietas lain, jasa transportasi atau penyewaan
tanaman.
8. Kantor PVT menyelenggarakan Sistem Dokumentasi dan
Jaringan Informasi PVT untuk kepentingan penamaan
dan pendaftaran Varietas yang ada di seluruh Indonesia,
baik Varietas Lokal maupun Varietas Hasil Pemuliaan
yang diberi dan yang tidak diberi PVT.
CATATAN : - Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini, maka
Ketentuan pelaksanaan Peraturan pemerintah Nomor
44 Tahun 1995 tentang Perbenihan Tanaman yang
berkaitan dengan penamaan Varietas dinyatakan tidak
berlaku lagi.
PENGALIHAN – PERLINDUNGAN – VARIETAS TANAMAN
2004
PP NO. 14 TAHUN 2004, LN TAHUN 2004 NO. 31, TLN NO. 4376
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG SYARAT DAN TATA CARA
PENGALIHAN PERLINDUNGAN VARIETAS TANAMAN DAN PENGGUNAAN
VARIETAS YANG DILINDUNGI OLEH PEMERINTAH
ABSTRAK : - Bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10 ayat (2), Pasal
40 ayat (4), Pasal 43 ayat (3) dan pasal 55 Undang-undang
Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas
Tanaman, dipandang perlu untuk menetapkan Peraturan
pemerintah tentang Syarat dan Tata Cara Pengalihan
Perlindungan Varietas Tanaman dan penggunaan Varietas
yang Dilindungi oleh pemerintah.
- Dasar Hukum Peraturan Pemerintah ini adalah:
a. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
b. Undang-undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang
Perlindungan Varietas Tanaman.
- Dalam Peraturan Pemerintah ini diatur tentang:
1. Pengertian Perlindungan Varietas Tanaman, Hak
Perlindungan Varietas Tanaman, Varietas Tanaman,
Lisensi, Lisensi Wajib, Benih tanaman, Menteri, dan Hari.
2. Hak PVT dapat beralih dan dialihkan karena:
a. Pewarisan;
b. Hibah;
c. Warisan;
d. Perjanjian dalam bentuk akta notaris;
e. Sebab lain yang dibenarkan undang-undang.
3. Dalam hal pemegang hak PVT meninggal dunia, ahli waris
dari pemegang hak PVT mengajukan permohonan kepada
Kantor PVT mengenai pencatatan pengalihan hak PVT
kepada ahli waris, dengan mengisi formulir permohonan
pengalihan hak PVT dan melampirkan:
a. Sertifikat hak PVT yang bersangkutan;
b. Surat kematian pemegang hak PVT;
c. Surat tanda bukti sebagai ahli waris;
d. Akta penunjukka kepada salah seorang ahli waris
dalam hal ahli wari lebih dari satu orang;
e. Surat kuasa khusus, dalam hal permohonan diajukan
melalui kuasa;
f. Bukti pembayaran biaya permohonan pencatatan
pengalihan hak PVT.
4. Pemegang hak PVT dapat menghibahkan hak PVTnya
kepada orang atau badan hukum lain.
5. Dalam hal perorangan pemegang hak PVT mewasiatkan
hak PVTnya kepada orang atau badan hukum lain,
penerima wasiat mengajukan permohonan pencatatan
pengalihan hak PVT karena wasiat kepada kantor PVT
dengan mengisi formulir permohonan pengalihan hak PVT
dengan melampirkan:
a. Salinan akta hibah;
b. Sertifikat hak PVT yang bersangkutan;
c. Surat kuasa khusus dalam hal permohonan diajukan
melalui kuasa;
d. Bukti pembayaran biaya permohonan pencatatan
pengalihan hak PVT.
6. Perjanjian lisensi berisi hak yang diberikan oleh pemegang
hak PVT selaku pemberi Lisensi kepada penerima Lisensi
untuk melaksanakan satu atau lebih kegiatan:
a. Memproduksi dan memperbanyak Benih;
b. Menyiapkan untuk tujuan propagasi;
c. Mengiklankan;
d. Menawarkan;
e. Menjual dan memperdagangkan;
f. Mengekspor;
g. Mengimpor;
h. Mencadangkan untuk keperluan sebagaimana
dimaksud dalam butir a,b,c,d,e,f,dan g.
7. Sifat Perjanjian Lisensi:
a. Eksklusif;
b. Tidak eksklusif.
8. Larangan Perjanjian Lisensi:
a. Memuat ketentuan yang secara langsung atau tidak
langsung dapat menimbulkan akibat yang merugikan
Negara;
b. Memuat pembatasan yang dapat menghambat
kemampuan bangsa indonesia daalm menguasai dan
mengembangkan pemuliaan tanaman pada umumnya;
c. Melebihi jangka waktu PVT yang bersangkutan.
9. Hak Pemberi Lisensi:
a. Menerima pembayaran royalti sesuai dengan
perjanjian;
b. Melaksanakan sendiri haknya sepanjang tidak
diperjanjikan lain dalam hal perjanjian Lisensi bersifat
tidak eksklusif;
c. Menuntut pembatalan Lisensi dalam hal penerima
Lisensi tidak melaksanakan perjanjian sebagaimana
mestinya.
10. Kewajiban Pemberi Lisensi:
a. Menjamin Varietas yang dilisensikan bebas dari cacat
hukum atau gugatan dari pihak ketiga;
b. Memberitahukan kepada penerima Lisensi bahwa
Lisensi yang diberikannya bukan Lisensi yang telah
diberikan kepada penerima Lisensi lainnya dalam hal
perjanjian Lisensi bersifat eksklusif;
c. Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap mutu
hasil produksi sebagai pelaksanaan hak PVT oleh
penerima Lisensi.
11. Berakhirnya Perjanjian Lisensi:
a. Habis masa berlakunya sesuai dengan perjanjian;
b. Kesepakatan kedua belah pihak;
c. Hak PVT-nya dibatalkan oleh Kantor PVT;
d. Hak PVT-nya dicabut oleh Kantor PVT.
12. Syarat bagi orang atau badan hukum yang dapat
mengajukan Lisensi Wajib:
a. Mempunyai keahlian atau tenaga ahli di bidang
perbenihan tanaman;
b. Mempunyai akses untuk menggunakan fasilitas yang
memadai dan terakreditasi atau ditunjuk oleh Menteri;
c. Memiliki kemampuan finansial yang memadai untuk
melaksanakan Lisensi Wajib;
d. Telah berusaha mengambil langkah-langkah untuk
mendapatkan lisesnsi dari pemegang hak PVT atas
dasar persyaratan dan kondisi yang wajar, tetapi tidak
berhasil.
CATATAN : - Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada 17 Maret 2004
MUTU – PANGAN – GIZI
2004
PP NO. 28 TAHUN 2004 ( LN TAHUN 2004 NO. 107, TLN NO. 4424)
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG KEAMANAN, MUTU, DAN GIZI
PANGAN
ABSTRAK : - Pangan yang aman, bermutu dan bergizi sangat penting
peranannya bagi pertumbuhan, pemeliharaan dan
peningkatan derajat kesehatan serta peningkatan
kecerdasan masyarakat. Selain itu, masyarakat juga perlu
dilindungi dari pangan yang dapat merugikan dan/atau
membahayakan kesehatan.
Atas dasar hal-hal tersebut serta untuk melaksanakan
ketentuan Undang-undang Nomor 7 Thaun 1996 tentang
Pangan, dipandang perlu menetapkan Peraturan
Pemerintah tentang Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan.
- Dasar Hukum Peraturan Pemerintah ini adalah:
1. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945;
2. Undang-undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang
Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan
Hewan;
3. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah
Penyakit Menular;
4. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang
Perindustrian;
5. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang
Perikanan;
6. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem
Budidaya Tanaman;
7. Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang
Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan;
8. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan;
9. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang
Pengesahan Agreement Establishing The World Trade
Organization;
10. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang
Kepabeanan;
11. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan;
12. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang
Ketenaganukliran;
13. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen;
14. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah;
15. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1983 tentang
Kesehatan Masyarakat Veteriner;
16. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 1986 tentang
Kewenangan Pengaturan, Pembinaan, dan
Pengembangan Industri;
17. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang
Label dan Iklan Pnagan;
18. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang
Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi
sebagai Daerah Otonom;
19. Peraturan Pemerintah Nomor 102 Thaun 2000 tentang
Standardisasi Nasional Indonesia.
- Dalam Peraturan Pemerintah ini diatur tentang:
1. Pengertian Pangan, Pangan Segar, Pangan Olahan,
Pangan Olahan Tertentu, Sistem Pangan, Pangan Siap
Saji, Keamanan Pangan, Persyaratan Keamanan
Pangan, Sanitasi Pangan, Persyaratan Sanitasi,
Produksi Pangan, Peredaran Pangan, Perdagangan
Pangan, Peyimpanan Pangan, Pengangkutan Pangan,
Industri Rumah Tangga, Bahan Tambahan Pangan,
Pangan Produk Rekayasa Genetika, Iradiasi Pangan,
Kemasan Pangan, Mutu Pangan, Standar, Gizi Pangan,
Sertifikasi, Sertifikasi Mutu Pangan, Setiap Orang, dan
Badan.
2. Pedoman Cara Budidaya Yang Baik adalah cara
budidaya yang memperhatikan aspek keamanan pangan,
antara lain dengan:
a. Mencegah penggunaan lahan dimana lingkungannya
mempunyai potensi mengancam keamanan pangan;
b. Mengendalikan pencernaan biologis, hama, dan
penyakit hewan dan tanaman yang mengancam
keamanan pangan;
c. Menekan seminimal mungkin, residu kimia yang
terdapat dalam bahan baku pangan sebagai akibat
dari pengggunaan pupuk, obat pengendali hama dan
penyakit, bahan pemacu pertumbuhan dan obat
hewan yang tidak tepat guna.
2. Pedoman Cara Produksi Pangan Segar yang Baik
adalah cara penanganan yang memperhatikan aspek-
aspek keamanan pangan dengan cara:
a. Mencegah tercemarnya pangan segar oleh cemaran
biologis, kimia dan benda lain yang mengganggu,
merugikan dan membahayakan kesehatan dari udara,
tanah, air, pakan, pupuk, pestisida, obat hewan, atau
bahan lain yang digunakan dalam produksi pangan
segar;
b. Mengendalikan kesehatan hewan dan tanaman agar
tidak mengancam keamanan pangan atau tidak
terpengaruh negatif terhadap pangan segar.
3. Pedoman Cara Distribusi Pangan Yang Baik adalah cara
distribusi yang memperhatikan aspek keamanan pangan
dengan cara:
a. Melakukan cara bongkar muat pangan yang tidak
menyebabkan kerusakan pangan;
b. Mengendalikan kondisi lingkungan, distribusi dan
penyimpanan pangan khususnya yang berkaitan
dengan suhu, kelembagaan, dan tekanan udara;
c. Mengendalikn sistem pencatatan yang menjamin
penelusuran kembali pangan yang didistribusikan.
4. Pedoman Cara Ritel Pangan Yang Baik adalah cara ritel
yang memperhatikan aspek keamanan pangan dengan
cara:
a. Mengatur cara penempatan pangan dalam lemari
gerai dan rak penyimpanan agar tidak terjadi
pencemaran silang;
b. Mengendalikan stok penerimaan dan penjualan;
c. Mengatur rotasi stok pangan sesuai dengan masa
kadaluwarsanya;
d. Mengendalikan kondisi lingkungan penyimpanan
pangan khususnya yang berkaitan dnegan suhu,
kelembapan, dan tekanan udara.
5. Pedoman Cara Produksi Pangan Siap Saji Yang Baik
adalah cara produksi pangan yang memperhatikan aspek
kemanan pangan dengan cara:
a. Mencegah tercemarnya pangan siap saji oelh
cemaran biologi, kimia, dan benda lain yang
mengganggu, merugikan dan membahayakan
kesehatan;
b. Mematikan atau mencegah hidupnya jasad renik
patogen, serta mengurangi jumlah jasad renik
lainnya;
c. Mengendalikan proses, antara lain pemilihan bahan
baku, penggunaan bahan tambahan pangan,
pengolaan, pengemasan, penyimpanan, dan
pengangkutan serta cara penyajian.
6. Setiap orang yang memproduksi pangan untuk diedarkan
dilarang menggunakna bahan apapun sebagai bahan
tambahan pangan yang dinyatakan terlarang.
7. Setiap orang yang memproduksi pangan atau
menggunakan bahan baku, bahan tambahan pangan,
dan/atau bahan bantu lain dalam kegiatan atau proses
produksi pangan yang dihasilkan dari proses rekayasa
genetika wajib terlebih dahulu memeriksakan keamanan
pangan tersebut sebelum diedarkan. Pemeriksaan
tersebut meliputi:
a. Informasi genetika, antara lain deskripsi umum
pangan produk rekayasa genetika dan deskripsi inang
serta penggunaannya sebagai pangan;
b. Deskripsi organisme donor;
c. Deskripsi modifikasi genetika;
d. Karakteristik modifikasi genetika;
e. Informasi keamanan pangan, antara lain kesepdanan
substansial perubahan nilai gizi, alerginitas dan
toksisitas.
8. Larangan untuk mengedarkan:
a. Pangan yang mengandung bahan beracun,
berbahaya atau yang dapat merugikan atau
membahayakan kesehatan atau jiwa manusia;
b. Pangan yang mengandung cemaran yang melampaui
ambang batas maksimal yang ditetapkan;
c. Pangan yang mengandung bahan yang dilarang
digunakan dalam kegiatan atau proses produksi
pangan;
d. Pangan yang mengandung bahan yang kotor, busuk,
tengik, terurai, atau mengandung bahan bahan nabati
atau hewani yang berpenyakit atau berasal dari
bangkai sehingga menjadikan pangan tidak layak
diikonsumsi manusia;
e. Pangan yang sudah kedaluwarsa.
9. Menteri yang bertanggung jawab di bidang pertanian,
perikanan, atau Kepala Badan:
a. Menetapkan bahan yang dilarang digunakan dalam
kegiatan atau proses produksi pangan;
b. Menetpkan ambang batas maksimal cemaran yang
diperbolehkan;
c. Mengatur dan/atau menetpkan persyaratan lagi
penggunaan cara, metode dan/atau bahan tertentu
dalam kegiatan atau proses produksi, pengolahan,
penyimpanan, pengangkutan, dan/atau
membahayakan kesehatan manusia;
d. Menetapkan bahan yang dilarang digunakan dalam
memproduksi peralatan pengolahan, penyiapan,
pemasaran, dan/atau penyajian pangan.
10. Setiap pangan yang dimasukkan ke dalam wilayah
Indonesia untuk diedarkan wajib memenuhi ketentuan
peraturan perundang-undangan di bidang keamanan,
mutu, dan gizi pangan dan ketentuan peraturan
perundang-undangan lain yang berlaku.
11. Dalam rangka pengawasan keamana, mutu dan gizi
pangan, setiap pangan olahan baik yang diproduksi di
dalam negeri atau yang dimasukkan ke dalam wilayah
Indonesia untuk diperdagangkan dalam ekmasan eceran
sebelum diedarkan wajib memiliki surat persetujuan
pendaftaran.
CATATAN : - Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada 5 Oktober 2004
ALIH TEKNOLOGI – LITBANG – KEKAYAAN INTELEKTUAL
2005
PP NO. 20 TAHUN 2005, LN TAHUN 2005 NO. 43, TLN NO. 4497
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG ALIH TEKNOLOGI KEKAYAAN
INTELEKTUAL SERTA HASIL KEGIATAN PENELITIAN DAN
PENGEMBANGAN OLEH PERGURUAN TINGGI DAN LEMBAGA PENELITIAN
DAN PENGEMBANGAN
ABSTRAK : - Bahwa untuk melaksanakn ketentuan Pasal 16 Undang-undang
Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian,
Pengembangan, dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Alih
Teknologi Kekayaan Intelektual serta Hasil Kegiatan Penelitian
dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan lemabaga
Penelitian dan Pengembangan.
- Dasar Hukum Peraturan Pemerintah ini adalah:
a. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar Negara Republik
Indoensia Tahun 1945;
b. Undang-undang Nomo 18 Tahun 2002 tentang Sistem
Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi.
- Dalam Peraturan Pemerintah ini diatur tentang:
1. Pengertian Alih Teknologi, Penelitian, Pengembangan,
Lembaga Penelitian dan Pengembangan, Pemerintah pusat,
Pemerintah Daerah, Kekayaan Intelektual, Lisensi, dan
Menteri.
2. Tujuan alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil
kegiatan penelitian dan pengembangan:
a. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi;
b. Meningkatkan kemampuan masyarakat dalam
memanfaatkan dan menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi guna kepentingan masyarakat dan negara.
3. Perguruan tinggi dan lembaga litbang tidak dapat
mengalihkan pemilikan kekayaan intelektual serta hasil
kegiatan penelitian dan pengembangan milik Pemerintah
dan/atau Pemerintah Daerah kepada pihak lain.
4. Kekayaan intelektual serta hasil kegiatan penelitian dan
pengembangan yang dihasilkan melalui kegiatan penelitian
dan pengembangan oleh perguruan tinggi dan lembaga
litbang yang dibiayai sepenuhnya oleh Pemerintah dan/atau
Pemerintah Daerah merupakan milik Pemerintah dan/atau
Pemerintah Daerah.
5. Ketentuan alih teknologi:
a. Penerima alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil
kegaitan penelitian dan pengembangan diutamakan yang
diutamakan yang bertempat tinggal di wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia.
b. Penerima alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil
kegiatan penelitian dan pengembangan mampu
memanfaatkan dan menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi guna kepentingan masyarakat dan negara;
c. Kekayaan intelektual serta hasil kegiatan penelitian dan
pengembangan yang dialihteknologikan, tidak dinyatakan
sebagai hal yang dirahasiakan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
d. Pelaksanaan alih teknologi kekayaan intelektual serta
hasil kegiatan penelitian dan pengembangan dilakukan
dengan tidak bertentangan dengan ketertiban umum dan
peraturan perundang-undangan.
6. Alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil penelitian dan
pengembangan yang dilakukan secara non komersial
diarahkan untuk:
a. Mendorong penguasaan dan pemanfaatan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang sangat diperlukan oelh
masyarakat, daerah dan negara;
b. Mendorong terciptanya temuan-temuan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang berguna bagi
masyarakat, daerah, dan negara;
c. Mendorong perkembangan badan usaha kecil dan
menengah.
7. Mekanisme alih teknologi kekayaan intelektual serta hasil
kegiatan penelitian dan pengembangan oleh perguruan
tinggi dan lembaga litbang:
a. Lisensi;
b. Kerjasama;
c. Pelayanan jasa ilmu pengetahuan dan teknologi;
d. Publikasi.
8. Kerjasama dilakukan melalui perjanjian kerjasama antara
pihak perguruan tinggi dan lembaga litbang dan pihak
penerima alih teknologi sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
9. Dasar pelaksanaan kerjasama:
a. Hubungan timbal balik dengan berprinsip
mempertukarkan dan/atau mengintegrasikan sumber
daya tertentu untuk mendapatkan keuntungan sinergis;
b. Masing-masing pihak memiliki kompetensi ini sudah teruji
menjadi faktor-faktor sukses kunci.
10. Perguruan tinggi dan lembaga litbang Pemerintah berhak
menggunakan pendapatan yang diperolehnya dari hasil alih
teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan penelitian
dan pengembangan untuk mengembangkan diri.
11. Penggunaan pendapatan:
a. Meningkatkan anggaran penelitian dan pengembangan
yang diperlukan untuk menguasai kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi dan mengembangkan
invenstasi;
b. Memberikan insentif yang diperlukan untuk
meningkatkan motivasi dan kemampuan investasi di
lingkungannya;
c. Memperkuat kemampuan pengelolaan dan alih tekonlogi
kekayaan intelektual serta hasil kegiatan penelitian dan
pengembangan;
d. Melakukan investasi untuk memperkuat sumber daya
ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki;
e. Meningkatkan kualitas dan memperluas jangkauan alih
teknologi kekayaan intelektual serta hasil kegiatan
penelitian dan pengembangan dan pelayanan jasa ilmu
pengetahuan dan teknologi;
f. Memperluas jaringan kerja dengan lembaga-lembaga
lain yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas dan
tanggung jawabnya, baik di dalam maupun di luar
wilayah Negara Republik Indonesia.
12. Kewajiban Perguruan tinggi dan lembaga litbang:
a. Menyusun dan mengirimkan kepada Menteri Keuangan
mengenai penatausahaan, sistem pembukuan, dan
sistem pelaporan yang akan diterapkan dalam
pelaksanaan rencana kerja pendapatan alih teknologi
kekayaan intelektual serta hasil kegiatan penelitian dan
pengembangan lembaga;
b. Menyelenggarakan pembukuan secara tertib, transparan,
dan dapat dipertanggungjawabkan.
13. Pembinaan alih teknologi dan kekayaan intelektual serta
hasil kegiatan litbang dalam bidang sumber daya manusia:
a. Meningkatkan keahlian dan keterampilan teknis dan
menajerial sumber daya manusia dalam melaksanakan
pengelolaan dan alih teknologi kekayaan intelektual serta
hasil litbang;
b. Membentuk dan mengembangkan lembaga pendidikan,
pelatihan, dan/atau konsultasi iptek;
c. Menyediakan tenaga pendidik dan/atau konsultan di
bidang iptek.
CATATAN : - Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada 19 Mei 2005
KEAMANAN – REKAYASA – GENETIK
2005
PP NO. 21 TAHUN 2005, LN TAHUN 2005 NO. 44, TLN NO. 4498
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG KEAMANAN HAYATI PRODUK
REKAYASA GENETIK
ABSTRAK : - Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 8 ayat (2) huruf b
dan ayat (3) Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, perlu menetapkan
Peraturan Pemerintah tentang Kemanana Hayati Produk
Rekayasa Genetik.
- Dasar Hukum Peraturan Pemerintah ini adalah:
a. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar 1945;
b. Undang-undang Nomor 5 Thun 1994 tentang
Pengesahan United Nations Conventions on Biological
Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa
tentang Keanekaragaman Hayati);
c. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup.
- Dalam Peraturan Pemerintah ini diatur tentang:
1. Pengertian Keamanan Hayati Produk Rekayasa
Genetik, Keamanan Lingkungan, Keamanan Pangan
Produk Rekayasa Genetik, Pangan, Keamanan Pakan
Produk Rekayasa Genetik, Pakan, Produk Rekayasa
Genetik (PRG) atau Organisme Hasil Modifikasi,
Bioteknologi Modern, Hewan PRG, Bahan Asal Hewan
PRG, Hasil Olahan Bahan Asal Hewan PRG, Ikan
PRG, Bahan Asal Ikan PRG, Hasil Olahan Bahan Asal
Ikan PRG, Tanaman PRG, Bahan Asal Tanaman PRG,
Hasil Olahan Bahan Asal Tanaman PRG, Jasad Renik,
Bahan Asal Jasad Renik PRG, Hasil Olahan Bahan
Asal Jasad Renik PRG, Pengkajian Resiko PRG,
Pengkajian, Pengujian, Komisi Keamanan Hayati
Produk Rekayasa Genetik, Balai Kliring Keamanan
Hayati Produk Rekayasa Genetik, Tim Teknis
Keamanan Hayati PRG, Pengumuman, Orang,
Pemohon, Pelepasan, Peredaran, Menteri, Kepala
Lembaga Pemerintah Non Departemen, Hari, dan
Menteri.
2. Ruang lingkup:
a. Jenis dan persyaratan PRG;
b. Penelitian dan pengembangan PRG;
c. Pemasukan PRG dari luar negeri;
d. Pengkajian, pelepasan dan peredaran, serta
pemanfaatan PRG;
e. Pengawasan dan pengendalian PRG;
f. Kelembagaan;
g. Pembiayaan;
h. Ketentuan sanksi.
3. Jenis PRG:
a. Hewan PRG, bahan asal hewan PRG dan hasil
olahannya;
b. Ikan PRG, bahan asal ikan PRG, dan hasil
olahannya;
c. Tanaman PRG, bahan asal tanaman PRG, dan
hasil olahannya;
d. Jasad renik PRG, bahan asal renik PRG, dan hasil
olahannya.
4. PRG baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari
luar negeri yang akan dikaji atau diuji untuk dilepas
dan/atau diedarkan di Indonesia harus disertai
informasi dasar sebagai petunjuk bahwa produk
tersebut memenuhi persyaratan keamanan lingkungan,
keamanan pangan dan/atau keamanan pakan.
5. Informasi dasar sebagai petunjuk pemenuhan
persyaratan keamaan lingkungan, yang meliputi:
a. Deskripsi dan tujuan penggunaan;
b. Perubahan genetik dan fenotip yang diharapkan
harus terdeteksi;
c. Identitas jelas mengenai taksonomi, fisiologi, dan
reproduksi RPG;
d. Organisme yang digunakan sebagai sumber gen
harus dinyatakan secara jelas dan lengkap;
e. Metode rekayasa genetika yang digunakan
mengikuti prosedur baku yang secara ilmiah dapat
dipertanggungjawabkan kesahihannya;
f. Karakteristik molekuler PRG harus terinci jelas;
g. Ekspresi gen yang ditransformasikan ke PRG harus
stabil;
h. Cara pemusnahan yang digunakan bila terjadi
penyimpangan.
6. Setiap yang melakukan penelitian dan pengembangan
PRG wajib mencegah dan/atau menanggulangi
dampak negatif kegaitannya pada kesehatan manusia
dan lingkungan.
7. Penelitian dan pengembangan PRG dilaksanakan
berdasarkan peraturan perundang-undangan di bidang
penelitian, pengembangan dan penerapan ilmu
pengetahuan dan teknologi.
8. Apabila dari pemeriksaan membuktikan bahwa RPG
yang dilaporkan tenyata menimbulkan dampak negatif
terhadap lingkungan hidup, kesehatan manuisa
dan/atau kesehatan hewan:
a. Menteri mengusulkan kepada Menteri yang
berwenang atau Kepala LPND yang berwenang
untuk mencabut keputusan pelepasan atau
peredaran PRG;
b. Menteri yang berwenang atau Kepala LPND yang
berwenang mencabut keputusan pelepasan atau
peredaran PRG.
9. Tugas BKKH:
a. Mengelola dan menyajikan informasi kepada publik
mengenai prosedur, penerimaan permohonan,
proses dan ringkasan hasil pengkajian;
b. Menerima masukan dari masyarakat dan
menyampaikan hasil kajian dari masukan tersebut;
c. Menyampaikan informasi mengenai rumusan
rekomendasi yang akan disamapikan kepada
Menteri, Menteri yang berwenang atau Kepala
LPND yang berwenang;
d. Menyampaikan infomasi mengenai Keputusan
Menteri yang berwenang atau Kepala LPND yang
berwenang atas permohonan yang telah dikaji
kepada publik.
10. TTKH bertugas membantu KKH dalam melakukan
kajian teknis keamanan hayati.
11. Semua biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan
Peraturan Pemerintah ini ditetapkan berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku di bidang
keuangan negara.
CATATAN : Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal 19 Mei
2005
PUPUK – PENGAWASAN – SUBSIDI
2005
PERPRES NO. 77 TAHUN 2005
PERATURAN PRESIDEN TENTANG PENETAPAN PUPUK BERSUBSIDI
SEBAGAI BARANG DALAM PENGAWASAN
ABSTRAK : - Guna mengawasi pengadaan dan penyaluran pupuk yang
memperoleh subsidi, perlu menetapkan pupuk bersubsidi
sebagai barang dalam pengawasan.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, perlu menetapkan
Peraturan Presiden tentang Penetapan Pupuk Bersubsidi
sebagai Barang dalam Pengawasan.
- Dasar Hukum Peraturan Presiden ini adalah:
1. Pasal 4 ayat (1) Undang-undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
2. Undang-undang Nomor 8 Prp Tahun 1962 tentang
Perdagangan Barang-barang dalam Pengawasan;
3. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 1962 tentang
Perdagangan Barang-barang dalam Pengawasan.
- Dalam Peraturan Presiden ini diatur tentang:
a. Pengertian Pupuk Bersubsidi, Pengadaan, dan
Penyaluran.
b. Pupuk Bersubsidi yang dimaksud Peraturan Presiden ini
terdiri dari: Urea, SP 36, ZA dan NPK.
c. Pupuk Bersubsidi ditetapkan sebagai barang dalam
pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Undang-
undang Nomor 8 Prp Tahun 1962 tentang Perdagangan
Barang-barang dalam Pengawasan.
CATATAN : - Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal 29 Desember
2005
PEMBAGIAN – URUSAN – PEMERINTAHAN
2007
PP NO. 38 TAHUN 2007, LN TAHUN 2007 NO. 82, TLN NO. 4737
PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PEMBAGIAN URUSAN
PEMERINTAHAN ANTARA PEMERINTAH, PEMERINTAHAN DAERAH
PROVINSI, DAN PEMERINTAHAN DAERAH KABUPATEN/KOTA
ABSTRAK : - Bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 14 ayat (3)
Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah dan Pasal 30 ayat (9) Undang-undang Nomor 25 Tahun
2007 tentang Penanaman Modal, perlu menetapkan Peraturan
Pemerintah tentang Pembagian urusan Pemerintahan antara
Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan
Daerah Kabupaten/Kota.
- Dasar Hukum Peraturan Pemerintah ini adalah: Pasal 5 ayat (2)
Undang-undang Dasar 1945; Undang-undang Nomor 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah; dan Undang-undang
Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.
- Dalam Peraturan Pemerintah ini diatur tentang:
1. Pengertian : Pemerintahan Pusat, Pemerintahan Daerah,
Daerah Otonom, Otonomi Daerah, Urusan Pemerintahan,
dan Kebijakan Nasional.
2. Urusan pemerintahan terdiri atas:
a. Urusan pemerintah yang sepenuhnya menjadi
kewenangan Pemerintah;
b. Urusan pemerintahan yang dibagi bersama antar
tingkatan dan/atau susunan pemerintahan.
3. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan
Pemerintah:
a. Politik luar negeri;
b. Pertahanan keamanan;
c. Yustisi;
d. Moneter dan fiskal nasional;
e. Agama.
4. Urusan pemerintahan terdiri atas 31 bidang urusan
pemerintahan, yang meliputi:
(1) Pendidikan;
(2) Kesehatan;
(3) Pekerjaan umum;
(4) Perumahan;
(5) Penataan ruang;
(6) Perencanaan pembangunan;
(7) Perhubungan;
(8) Lingkungan hidup;
(9) Pertanahan;
(10) Kependudukan dan catatan sipil;
(11) Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak;
(12) Keluarga berencana dan keluarga sejahtera;
(13) Sosial;
(14) Ketenagakerjaan dan ketransmigrasian;
(15) Koperasi dan usaha kecil menengah;
(16) Penanaman modal;
(17) Kebudayaan dan pariwisata;
(18) Kepemudaan dan olahraga;
(19) Kesatuan bangsa dan politik dalam negeri;
(20) Otonomi daerah, pemerintahan umu, administrasi
keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian dan
persandian;
(21) Pemberdayaan masyarakat dan desa;
(22) Statistik;
(23) Kearsipan;
(24) Perpustakaan;
(25) Komunikasi dan informatika;
(26) Pertanian dan ketahanan pangan;
(27) Kehutanan;
(28) Energi dan sumber daya mineral;
(29) Kelautan dan perikanan;
(30) Perdagangan;
(31) Perindustrian.
5. Urusan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah
disertai dengan sumber pendanaan, pengalihan sarana dan
prasarana, serta kepegawaian.
6. Pembagian urusan pemerintahan:
a. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan
pemerintah;
b. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan
pemerintah daerah.
7. Urusan wajib:
a. Pendidikan;
b. Kesehatan;
c. Lingkungan hidup;
d. Pekerjaan umum;
e. Penataan ruang;
f. Perencanaan pembangunan;
g. Perumahan;
h. Kepemudaan dan olahraga;
i. Penanaman modal;
j. Koperasi, usaha kecil dan menengah;
k. Kependudukan dan catatan sipil;
l. Ketenagakerjaan;
m. Ketahanan pangan;
n. Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak;
o. Keluarga berencana dan keluarga sejahtera;
p. Perhubungan;
q. Komunikasi dan informatika;
r. Pertanahan;
s. Kesatuan bangsa dan politik dalam negeri;
t. Otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi
keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian, dan
persandian.
u. Pemberdayaan dan masyarakat desa;
v. Social;
w. Kebudayaan;
x. Statistik;
y. Kearsipan;
z. Perpustakaan.
8. Pemerintah daerah yang melalaikan penyelenggaraan
urusan pemerintahan yang bersifat wajib,
penyelenggarannya dilaksanakan oleh Pemerintah dengan
pembiayaan bersumber dari APBD yang bersangkutan.
9. Untuk pelaksanaan urusan wajib dan urusan pilihan,
Menteri/Kepala Lemabga Non Pemerintah Non Departemen
menetapkan norma, standar, prosedur, dan kriteria.
10. Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan yang
menjadi kewenangan Pemerintah:
a. Dapat diselenggarakan sendiri;
b. Dilimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada
kepala instansi vertikal atau kepada gubernur selaku
wakil pemerintah di daerah dalam rangka dekonsentrasi;
c. Menugaskan sebagian urusan pemerintahaan tersebut
kepada pemerintahan daerah dan/atau pemerintahan
desa berdasarkan asas tugas pembantuan.
11. Khusus untuk Pemerintahan Daerah Provinsi DKI Jakarta,
rincian urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan
kabupaten/kota secara otomatis menjadi kewenangan
provinsi.