Gastroenteritis Akut by AnisaRooses

VIEWS: 2,969 PAGES: 33

									                                            BAB 2
                                   TINJAUAN PUSTAKA


            Dalam bab ini akan diuraikan secara teoritis mengenai konsep penyakit dan
asuhan keperawatan gastroenteritis. Konsep penyakit akan diuraikan defenisi, etiologi
sampai dengan cara penanganan secara medis. Asuhan keperawatan akan diuraikan
masalah-masalah yang muncul pada penyakit Gastroenteritis dengan melakukan asuhan
keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi.


2.1 Konsep penyakit
2.1.1 Definisi Gastroenteritis
            Diare atau Gastroenteritis adalah penyakit yang ditandai dengan bertambahnya
frekuensi defekasi lebih dari biasanya (> 3 kali/hari disertai perubahan konsistensi tinja
(menjadi cair), dengan atau lendir (Suraatmaja, 2010).
            Diare didefinisikan sebagai fase feses cair lebih dari tiga kali dalam sehari dan
disertai kehilangan banyak cairan dan elektrolit melalui feses (Arvin, 2000).
            Diare akut ialah diare yang terjadi secara mendadak pada bayi dan anak yang
sebelumnya sehat. Diare berlangsung kurang dari 14 hari (bahkan kebanyakan kurang dari
tujuh hari) dengan disertai pengeluaran feses lunak atau cair, sering tanpa darah, mungkin
disertai muntah dan panas (Suraatmaja, 2010).
            Diare adalah peradangan pada mukosa lambung dan usus halus yang
menyebabkan meningkatnya frekuensi BAB dan berkurangnya konsistensi feses (Nugroho,
2008).


2.1.2 Klasifikasi Gastroenteritis
         Menurut Depkes RI (1999), diare diklasifikasikan menjadi diare akut dan kronik.
1. Diare akut adalah diare yang serangannya tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 14
   hari. Diare akut diklasifikasikan secara klinis, yaitu :
   a. Diare non inflamasi
         Diare ini disebabkan oleh enterotoksin dan menyebabkan diare cair dengan volume
         yang besar tanpa lendir dan darah. Keluhan abdomen jarang terjadi atau bahkan
         tidak ada sama sekali. Dehidrasi cepat terjadi apabila tidak mendapat cairan
         pengganti. Tidak ditemukan lekosit pada pemeriksaan feces rutin.

                                               4
                                                                                           5


   b. Diare inflamasi
       Diare ini disebabkan oleh invasi bakteri dan pengeluaran sitotoksin di kolon. Gejala
       klinis ditandai mulas sampai nyeri seperti kolik, mual, muntah, demam, tenesmus,
       gejala dan tanda dehidrasi. Secara makroskopis terdapat lendir dan darah pada
       pemeriksaan       feces   rutin,   dan secara mikroskopis    terdapat   sel   leukosit
       polimorfonuklear.
2. Diare kronik adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.
   Mekanisme terjadinya diare yang akut maupun yang kronik dapat dibagi menjadi ;
   a. Diare sekresi
       Diare dengan volume feses banyak biasanya disebabkan oleh gangguan transport
       elektrolit akibat peningkatan produksi dan sekresi air dan elektrolit namun
       kemampuan absorbs mukosa usus ke dalam usus menurun. Penyababnya adalah
       toksin bakteri (seperti toksin kolera), pengaruh garam empedu, asam lemak rantai
       pendek, laksatif non osmotic dan hormon intestinal (gastrin vasoaktive intestinal
       polypeptide (VIP)).
   b. Diare osmotik
       Terjadi bila terdapat partikel yang tidak dapat diabsorpsi sehingga osmolaritas
       lumen meningkat dan air tertarik dari plasma ke lumen usus sehingga terjadilah
       diare. Sebagai contoh malabsorpsi karbohidrat akibat defisiensi lactase atau akibat
       garam magnesium.
   c. Diare eksudatif
       Inflamasi akan mengakibatkan kerusakan mukosa baik usus halus maupun usus
       besar. Inflamasi dan eksudasi dapat terjadi akibat infeksi bakteri atau bersifat non
       infeksi seperti gluten sensitive enteropathy, inflamatory bowel disease (IBD) atau
       akibat radiasi.
   d. Kelompok lain
       Akibat gangguan motilitas yang mengakibatkan waktu transit makanan/minuman di
       usus menjadi lebih cepat. Pada kondisi tirotoksikosis, sindroma usus iritabel atau
       diabetes mellitus dapat muncul diare ini.


2.1.3 Penyebab Gatroenteritis
       Gastroenteritis dapat disebabkan oleh obat-obatan tertentu (penggantian hormon
tiroid, pelunak feses dan laksatif, antibiotik, kemoterapi, dan antasida), selain itu semua
gastroenteritis dapat juga disebabkan oleh:
                                                                                           6


1. Faktor infeksi
   a. Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab
       utama diare pada anak. Meliputi infeksi enteral sebagai berikut:
       1) Infeksi bakteri: vibria, E.Coli, salmonella, shigella, compylobacter, yersiria,
          aeromonas dan sebagainya.
       2) Infeksi virus: Enterovirus, (virus Echo, Coxsackie,Poliomielitis) Adenovirus,
          Rofavirus,    Astrovirus,   Trichuris,   Oxyuris,   strongy     loides,   Protozoa,
          (Entomoeba histolyfica, giardia, lamblia, Trichomonas hominis), jamur
          (candida albicans).
   b. Infeksi parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti otitis media
       akut (OMA), tonsillitis/tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis, pemberian
       makanan perselang, gangguan metabolic dan endokrin (diabetes, addison,
       tirotoksikosis) serta proses infeksi virus/bakteri (disentri, shigellosis, keracunan
       makanan).
2. Faktor malabsorbsi
   a. Mal absrobsi karbohidrat: disakarida, (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa):
       monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada bayi dan anak
       yang tersering intoleransi laktosa)
   b. Mal absorbsi lemak
   c. Mal absorbsi protein.
3. Faktor makanan
   Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
4. Faktor psikologis
   Rasa takut dan cemas (jarang, tetapi dapat terjadi pada anak yang lebih besar)
5. Malnutrisi
6. Gangguan imunologi


2.1.4 Komplikasi Gatroenteritis
       Kebanyakan penderita diare sembuh tanpa mengalami komplikasi, tetapi sebagian
kecil mengalami komplikasi dari dehidrasi, kelainan elektrolit atau pengobatan yang
diberikan (Suraatmaja, 2010).
1. Hipernatremia
2. Hiponatremia
3. Demam
                                                                                     7


4. Kejang
5. Syok Hipovolemik
6. Edema/overhidrasi
7. Intoleransi laktosa
8. Malabsorbsi glukosa
9. Muntah
10. Gagal ginjal


2.1.5 Gejala Klinis Gatroenteritis
       Menurut Suraatmaja (2007), anak dengan gastroenteritis akan menunjukkan :
1. Anak cengeng, gelisah
2. Suhu tubuh meningkat
3. Nafsu makan menurun, tidak ada
4. Timbul diare (tinja cair atau darah/ lendir, warna hijau berubah kehijauan karena
   tercampur empedu)
5. Anus dan sekitarnya lecet, karena seringnya defekasi yang makin lama menjadi asam
   akibat banyaknya asam laktat yang terjadi dan pemecahan laktosa yang tidak dapat
   diabsorbsi usus.
6. Muntah (dapat terjadi sebelum dan sesudah diare)
7. Dehidrasi (banyak kehilangan air dan elektrolit), dengan gejala: BB menurun, Tonus
   otot & Turgor kulit menurun.


2.1.6 Derajat Dehidrasi Gatroenteritis
       Menurut Suraatmaja (2007), derajat dehidrasi dapat ditentukan berdasarkan :
1. Kehilangan berat badan
   a. Dehidrasi ringan     : bila terjadi penurunan berat badan 2 ½ - 5 %
   b. Dehidrasi sedang : bila terjadi penurunan berat badan 5 - 10 %
   c. Dehidrasi berat      : bila terjadi penurunan berat badan 7 - 10 %.
2. Skor Maurice King

                                            Nilai untuk gejala yang ditemukan
   Bagian tubuh yang diperiksa
                                        0               1                   2
   Keadaan umum                    Sehat        Gelisa,cengeng      Menggigau,koma
   Kekenyalan kulit                Normal       Sedikit kurang      Sangat kurang
                                                                                         8


   Mata                            Normal      Sedikit kurang      Sangat cekung
   Ubun - ubun besar               Normal      Sedikit kurang      Sangat cekung
   Mulut                           Normal      Kering              Kering dan sianosis
   Denyut nadi/menit               Kuat >120 Sedang (120-140) Lebih dari 140


  Catatan :
  Untuk menentukan kekenyalan kulit, kulit perut bila di cubit selama 30-60 detik.
  Kemudian dilepas. Jika kulit kembali normal dalam waktu :
   a. 2 - 5 detik : turgor agak kurang (dehidrasi ringan)
   b. 5- 10 detik : turgor kurang ( dehidrasi sedang )
   c. 10 detik : turgor sangat kurang (dehidrasi berat)
3. Berdasarkan MTBS (Managemen Terpadu Balita Sakit)
   a. Dehidrasi berat
       Terdapat dua atau lebih dari tanda-tanda berikut :
       1) Letargis atau tidak sadar
       2) Mata cekung
       3) Tidak bisa minum atau malas minum
       4) Cubitan kulit perut kembalinya sangat lambat.
   b. Dehidrasi ringan/sedang
       1) Gelisah, rewel/marah
       2) Mata cekung
       3) Haus, minum dengan lahap
       4) Cubitan kulit perut kembalinya lambat
   c. Tanpa dehidrasi
       Tidak cukup tanda-tanda untuk diklasifikasikan sebagai dehidrasi berat atau
       ringan/sedang.

2.1.7 Tanda-tanda Dehidrasi
       Menurut Sodikin (2011), tanda-tanda dehidrasi pada anak antara lain :
               Tingkat dehidrasi
                                      Ringan             Sedang           Berat
   Parameter
   Sensori                             Baik              Gelisah      Apatis/koma
   Sirkulasi                            120          120 - 140            > 140
                                                                                          9


   Respiratori                         Biasa          Agak cepat         Kusmaull
   Rasa haus                             +               ++                  +
   Oliguri                             Biasa           Sedikit                -
   Turgor                          Agak kurang         Kurang          Sangat kurang
   Tonus                               Biasa       Agak menurun           Menurun
   Mata                            Agak cekung         Cekung          Cekung sekali
   UUB                             Agak cekung         Cekung          Cekung sekali
   Mulut                              Normal        Agak cekung     Kering dan sianosis


2.1.8 Patofisiologi
       Gastroenteritis didefenisikan sebagai inflamasi membran mukosam lambung dan
usus halus. Gastroenteritis akut ditandai dengan muntah-muntah dan diare yang berakibat
kehilangan cairan dan elektrolit yang menimbulkan dehidrasi dan gangguan keseimbangan
elektrolit. Penyebab utama gastroenteritis akut adalah virus iretavirus, adenovirus enterik,
noralk virus dan lain-lain. Bakteri atau toksinnya (camoilobachter, salmonela,
sigella,exerechia coli, yersinia) serta parasit. Patogen-patogen ini menimbulkan penyakit
dengan emnginfeksi sel-sel, menghasilkan enterotoksin atau kritotosin yang merusak sel
atau yan melekat pada dinding usus. Pada gastroenteritis akut, usus halus adalh alat
pencernaan yang paling sering terkena (Betz, 2004).
       Gastroenteritis ditularkan melalui rute fekal oral daro orang ke orang. Beberapa
kasus ditularkan melalui air dan makanan yang terkontaminasi. Terpajan fasilitas harian
juga meningkatkan resiko gastroenteritis, selain bepergian ke negara berkembang .
kebanyakan infeksi gastroenteritis dapat sembuh sendiri dan prognosisnya baik dengan
pengobatan. Anak-anak malnutrisi dapat menderita infeksi yang lebih berat dan lebih
membutuhkan waktu yng lebih lama untuk sembuh (Betz, 2004).
       Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya gastroenteritis ialah:
1. Gangguan osmotik
   Akibat terdapatnya makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan
   tekanan osmotik meninggi dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan
   merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul gastroenteritis.
                                                                                      10


2. Gangguan sekresi
   Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi
   peningkatan sekresi, air dan elektrolit kedalam rongga usus dan selanjutnya timbul
   gastroenteritis karena terdapat peningkatan isi rongga usus.
3. Gangguan motilitas usus
   Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap
   makanan sehingga timbul gastroenteritis. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan
   mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya timbul pula gasteoenteritis.
   Berdasarkan cairan yang hilang tingkat dehidrasi terbagi menjadi:
   a. Dehidrasi ringan, jika kekurangan cairan 5% atau 25 ml/kg/bb.
   b. Dehidrasi sedang, jika kekurangan cairan 5-10% atau 75 ml/kg/bb.
   c. Dehidrasi berat, jika kekurangan cairan 10-15% atau 125 ml/kg/bb.
       Gastroenteritis dapat disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri secara langsung
atau oleh efek dari nurotoxin yang diproduksi oleh bakteria. Infeksi ini menimbulkan
peningkatan produksi air dan garam ke dalam lumen usus dan juga peningkatan motilitas,
yang menyebabkan sejumlah besar makanan yang tidak dicerna dan cairan dikeluarkan.
Dengan gastroenteritis yang hebat, sejumlah besar cairan dan elektrolit dapat hilang,
menimbulkan dehidrasi, hyponatremi dan hipokalemia (Long, 1996).
       Selain itu juga gastroenteritis yang akut maupun yang kronik dapat meyebabkan
gangguan gizi akibat kelaparan (masukan kurang, pengeluaran bertambah), hipoglikamik,
dan gangguan sirkulasi darah.
                                                                                                11

                                 Bakteri, virus, parasit


                              Masuk dalam saluran cerna


                               Berkembangbiak di usus


                             Reaksi pertahanan dari E.Coli


                                   Pertahanan tubuh


                                    Inflamasi usus


Makanan, zat                     Peningkatan sekresi air          Hiperperistaltik
Tidak dapat diserap                   dan elektrolit                   usus


Tekanan osmatik dalam               Penurunan absorbsi        Penurunan
Rongga usus                        dalam usus                 fungsi usus dalam
                                                              Mengabsorbsi makanan


Pergeseran air dan elek-                  Diare                      Diare
Trolit dalam rongga


     Usus                          Kurang pemasukan          Pola defekasi tergang-
                                   Makanan                   gu (lebih sering)


Isi rongga usus ber-
lebihan
                                   Perubahan                        Risiko
                                 nutrisi kurang                    gangguan
                                 dari kebutuhan                 integritas kulit
                                      tubuh                          anus
Merangsang usus untuk         Pertanyaan orangtua
Mengeluarkannya                klien tentang penyakit




  Risiko kekurangan                  Kurang
    volume cairan                  pengetahuan                                        Kembung


                                                                                  Gangguan
                                                                                 rasa nyaman
     Gangguan cairan
      dan elektrolit          Syok hipovolemik                      Kematian


(Smeltzer dan Bare, 2001).
                                                                                         12


2.1.9 Penatalaksanaan
       Dasar pengobatan diare menurut Ngastiyah (2005) adalah :
1. Pemberian cairan : jenis cairan, cara memberikan dan jumlah cairan.
2. Dietetik.
3. Obat-obatan.
       Ketiga dasar pengobatan tersebut dijelaskan sebagai berikut :
1. Pemberian cairan pada pasien diare dengan memperhatikan derajat dehidrasinya dan
   keadaan umum.
   Jenis cairan
   a. Cairan peroral :
       Pada pasien dengan dehidrasi ringan dan sedang atau tanpa dehidrasi dan bila anak
       mau minum serta kesadaran baik diberikan peroral berupa cairan yang berisi NaCl
       dan NaHCO3, KCI dan glukosa. Formula lengkap sering disebut juga oralit. Cairan
       sederhana yang dapat dibuat sendiri (formula tidak lengkap)hanya mengandung
       garam dan gula (NaCl dan sukrosa), atau air tajin yang diberi garam dan gula untuk
       pengobatan sementara sebelum di bawah berobat ke rumah sakit pelayanan
       kesehatan untuk mencegah dehidrasi lebih jauh.
   b. Cairan parenteral :
       1) Belum ada dehidrasi
          Peroral sebanyak anak mau minum atau 1 gelas tiap defekasi.
       2) Dehidrasi ringan
          1 jam pertama : 25 – 50 ml/kg BB per oral (intragastrik). Selanjutnya : 125
          ml/kg BB /hari.
       3) Dehidrasi sedang
          1 jam pertama : 50 – 100 ml/kg BB peroral /intragastrik (sonde). Selanjutnya ;
          125 ml/kg BB/hari.
       4) Dehidrasi berat
          a) Untuk anak umur 1 bulan – 2 tahun, berat badan 3 – 10 kg.
               -   1 jam pertama : 40 ml/kg BB / jam = 10 tetes / kg BB /menit (set infus
                   berukuran 1 ml = 15 tetes) atau 13 tetes / kg BB /menit (set infus 1 ml :
                   20 tetes).
               -   7 jam berikutnya : 12 ml /kg BB/jam = 33 tetes / kg BB/ m atau 4 tetes /
                   kg BB/menit.
                                                                                           13


               -     16 jam berikutnya : 125 ml/kg BB oralit peroral atau intragastrik. Bila
                     anak tidak mau minum, teruskan dengan intravena 2 tetes/.kg BB/menit
                     atau 3 tetes/kgBB/menit.
          b) Untuk anak lebih dari 25 tahun dengan BB 10 – 15 kg :
               -     1 jam pertama : 30 ml /kg BB/jam = 8 tetes/kgBB/menit. atau 10
                     tetes/kgBB/menit.
               -     7 jam berikutnya : 10 ml /kg BB /jam = 3 tetes/kgBB/ menit. atau 4
                     tetes/kgBB/menit.
               -     16 jam berikutnya : 125 ml /kg BB oralit peroral atau intragastrik. Bila
                     anak tidak mau minum dapat diteruskan dengan DG aa intravena 2
                     tetes/kgBB/m, atau 3 tetes/ kgBB/m.
          c) Untuk bayi baru lahir (neonatus) dengan BB 2 – 3 kg.
               -     Kebutuhan cairan : 125 ml + 100 ml + 25 ml = 250 ml /kg bb /24 jam.
               -     Jenis cairan 4 : 1 (4 bagian glukosa 5 % + 1 bagian NaHCO3 1 %)
                     dengan kecepatan 4 jam pertama = 25 ml / kg BB /jam atau 6
                     tetes/kgBB/menit., 8 tetes/kgBB/ menit.
               -     20 jam berikutnya 150 ml /kg BB /20 jam = 2 tetes/kgBB/ menit. atau 2
                     ½ tetes/kgBB/menit.
2. Pengobatan dietetik
   Untuk anak dibawah 1 tahun dan anak di atas 1 tahun dengan BB kurang dari 7 kg jenis
   makanan :
   a. Susu (ASI dan atau susu formula yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak
       tak jenuh).
   b. Makanan setengah padat (bubur) atau makanan padat (nasi tim).
   c. Susu khusus yang disesuaikan dengan kelainan yang ditemukan.
   Cara memberikannya :
   a. Hari pertama : setelah dehidrasi segera diberikan makanan peroral. Bila diberi
       ASI/susu formula tapi masih diare diberikan oralit selang-seling.
   b. Hari kedua – keempat : ASI /susu formula rendah laktosa penuh.
   c. Hari kelima : bila tidak ada kelainan pasien dipulangkan. Kembali susu atau
       makanan biasa.
3. Obat-obatan
   a. Obat anti sekresi : dosis 25 mg /tahun dengan dosis minimum 30 mg. Klorpromazin
       dosis 0,5 – 1 mg /kg bb /hari.
                                                                                    14


   b. Obat spasmolitik.
   c. Antibiotik.
4. Supportif
   a. Vitamin A 200.000 iu IM usia < 1 tahun
   b. Vitamin A 100.000 iu IM usia 1-5 tahun
   c. Vitamin A 5000 iu usia > 5 tahun
   d. Vitamin A 2.500 iu po usia < 1 tahun
   e. Vitamin A 5.000 iu po usia > 1 tahun
   f. Vitamin B kompleks
   g. Vitamin C


2.1.10 Pemeriksaan Diagnostik
       Menurut Mansyur (2000), pemeriksaan diagnostik pada klien gastroenteritis adalah
sebagai berikut:
1. Pemeriksaan tinja
   a. Makroskopis dan mikroskopis.
   b. Biarkan kumanuntuk mencari kuman penyebab.
   c. Tes resistensi terhadap berbagai antibiotik (pada diare persisten).
   d. PH dan kadar gula jika diduga ada toleransi gula (sugar Intolerance).
2. Pemeriksaan darah
   a. Darah perifer lengkap.
   b. Analisis gas darah dan elektrolit (terutama Na, K, Ca dan P serum pada diare yang
       disertai kejang).
   c. PH dan cadangan alkali untuk menentukan gangguan keseimbangan asam basa.
   d. Kadar uream dan kreatinin darah untuk mengetahui faal ginjal.
3. Duodenal intubation
   Untuk mengetahui kuman penyebab secara kuantitatif dan kualitatif terutama pada
   diare kronik.
                                                                                       15


2.2 Konsep Tumbuh Kembang Anak Usia Prasekolah (3-6 tahun)
2.2.1 Definisi Tumbuh Kembang Pada Anak
1. Pertumbuhan (Growth)
   Berkembangan dengan perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat
   sel, organ maupun individu yang bisa diukur dengan ukuran berat (kg/gr) atau ukuran
   panjang (meter/centimeter) (Soetjiningsih, 1998).
   Menurut Whaley dan Wong, pertumbuhan sebagai suatu peningkatan jumlah atau
   ukura\ sel tubuh yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan ukuran dan berat
   seluruh bagian tubuh (Supartini, 2004).
2. Perkembangan (Development)
   Menurut Whaley dan Wong, perkembangan manitik beratkan pada perubahan yang
   terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi
   dan kompleks melalui proses maturasi dan pembelajaran ( Supartini, Yupi: 2004).
   Perkembangan adalah pertambahan kemampuan struktur dan fungsi tubuh yang lebih
   komleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan sebagai hasil dari proses
   pematangan (Soetjiningsih, 1998).


2.2.2 Pertumbuhan Dan Perkembangan Anak Prasekolah
1. Pertumbuhan
   Beberapa aspek pertumbuhan fisik terus menjadi stabil dalam tahun prasekolah. Waktu
   rata-rata denyut jantung dan pernapasan menurun hanya sedikit mendekati 90x/menit
   dan pernapasan 22-24x/menit. TD meningkat sedikit ke nilai rata-rata 95/58mmHg.
   Berat badan anak meningkat kira-kira 2,5 kg per tahun, berat rata-rata pada usia 5
   tahun adalah kira-kira 21 kg, hampir 6 kali berat badan lahir. Prasekolah bertumbuh 2-
   3 inci per tahun, panjang menjadi dua kali lipat panjang lahir pada usia 4 tahun,dan
   berada pada tinggi rata-rata 43 inci pada ulang tahun kelima mereka. Perpanjangan
   tungkai kaki menghasilkan penampilan yang lebih kurus. Kepala sudah mencapai 90%
   dari ukuran orang dewasa pada ulang tahun ke enam. Perbedaan kecil terjadi antara
   jenis kelamin, walaupun anak laki-laki sedikit lebih besar dengan lebih banyak otot dan
   kurang jaringan lemak. Kekurangan nutrisi umunya terjadi pada anak-anak berusia
   dibawah 6 tahun adalah kekurangan vitamin A dan C serta zat besi.
2. Perkembangan
   a. Rasa keingintahuan tentang hal-hal yang berada dilingkungan semakin besar dan
      dapat mengembangkan pola sosialisasinya.
                                                                                      16


b. Anak sudah mulai mandiri dalam merawat diri sendiri, seperti mandi, makan,
   minum, menggosok gigi, BAK, dan BAB.
c. Mulai memahami waktu.
d. Penggunaan tangan primer terbentuk.
Tahap perkembangan anak usia prasekolah antara lain :
a. Perkembangan psikoseksual ( Sigmund Freud )
   1) Fase perkembangan psikoseksual untuk anak usia prasekolah masuk pada fase
          falik. Selama fase ini, genitalia menjadi area yang menarik dan area tubuh yang
          sensitif. Anak mulai mengetahui perbedaan jenis kelamin dengan mengetahui
          adanya perbedaan jenis kelamin.
   2) Negatif : Memegang genetalia
   3) Positif : Egosentris: sosial interaksi : mempertahankan keinginan
b. Perkembangan psikososial ( Eric Ericson )
   Fase perkembangan psikososial pada anak usia prasekolah adalah inisiatif vs rasa
   bersalah. Perkembangan ini diperoleh dengan cara mengkaji lingkungan melalui
   kemampuan bereksplorasi terhadap lingkungannya. Anak belajar mengendalikan
   diri     dan   memanipulasi    lingkungan.   Inisiatif   berkembang dengan     teman
   sekelilingnya. Kemampuan anak berbahasa meningkat. Anak mulai menuntut untuk
   melakukan tugas. Hasil akhir yang diperoleh adalah menghasilkan suatu
   prestasinya.
   Perasaan bersalah akan timbul pada anak jika anak tidak mampu berpretasi. Rasa
   bersalah dapat menyebabkan anak kurang bersosialisasi, lebih marah, mengalami
   regresi, yaitu kembali ke perkembangan sebelumnya, misalnya mengompol dan
   menghisap jempol.
c. Perkembangan kognitif (Jean Piaget )
   Fase berkembangan kognitif anak usia prasekolah adalah fase praoperasional.
   Karakteristik utama perkembangan intelektual tahap ini didasari sifat egosentris.
   Pemikiran di dominasi oleh apa yang dilihat, dirasakan dan dengan pengalaman
   lainnya. Fase ini dibagi menjadi 2 yaitu:
   1) Prokonseptual ( 2- 4 tahun )
          a) Anak mengembangkan kemampuan berbahasa untuk berkomunikasi dan
             bermasyarakat.
                                                                                              17


           b) Anak     mulai    mengembangkan       sebab-akibat,    trial   dan     error   dan
                menginterpretasikan benda/kejadian. Anak mulai menggunakan sinbul kata-
                kata, mengingat masa lalu, sekarang dan yang akan datang.
       2) Intuitive thuoght ( 4-6 tahun )
           Anak mampu bermasyarakat namun masih belum mampu berpikir timbal balik.
           Anak biasanya banyak meniru perilaku orang dewasa tetapi sudah bisa memberi
           alasan pada tindakan yang dilakukan.
   d. Perkembangan Moral ( Kahlberg )
       Fase   perkembangan      moral    pada   anak    usia   prasekolah    memasuki        fase
       prekonvensional. Anak belajar baik dan buruk, benar dan salah melalui budaya
       sebagai dasar peletakan nilai moral. Fase ini terdiri dari 3 tahapan yaitu:
       1) Didasari adanya rasa egosentris pada anak, yaitu kebaikan
       2) Orientasi hukuman dan ketaatan
       3) Anak berfokus pad motif yang menyenangkan sebagai suatu kebaikan.


2.2.3 Tugas Perkembangan Anak Usia Prasekolah
1. Personal / sosial
   a. Upaya untuk menciptakan diri sendiri seperti orang tuanya, tetapi mandiri
   b. Menggali lingkungan atas hasil prakarsanya
   c. Membanggakan, mempunyai perasaan yang tidak dapat dirusak
   d. Keluarga merupakan kelompok utama
   e. Kelompok meningkat kepentingannya
   f. Menerima peran sesuai jenis kelaminnya
   g. Agresif
2. Motorik
   a. Meningkatnya kemampuan bergerak dan koordinasi jadi lebih mudah
   b. Mengendarai sepeda dengan dua atau tiga roda
   c. Melempar bola, tetapi sulit uintuk menangkapnya
3. Bahasa dan kognitif
   a. Egosentrik
   b. Ketrampilan bahasa makin baik
   c. Mengajukan banyak pertanyaan; bagaimana, apa, dan mengapa?
   d. Pemecahan masalah sederhana: menggunakan fantasi untuk memahami, mengatasi
       masalah.
                                                                                     18


4. Ketakutan
   a. Pengrusakan diri
   b. Dikebiri
   c. Gelap, ketidaktahuan
   d. Objek bayangan, tak dikenal.


2.2.4 Kebutuhan-Kebutuhan Dasar Anak
       Untuk tumbuh kembang anak yang optimal meliputi :
1. Kebutuhan fisik-biologis (ASUH) :
   Meliputi kebutuhan sandang, pangan, papan, seperti : nutrisi, imunisasi, kebersihan
   tubuh dan lingkungan, pakaian, pelayanan/pemeriksaan kesehatan dan pengobatan,
   olah raga, bermain dan istirahat.
2. Kebutuhan kasih sayang dan emosi (ASIH) :
   Anak memerlukan kasih sayang melaui hubungan yang erat, serasi dan selaras dengan
   ibunya. Memberi kasih sayang akan sangat membantu tumbuh kembang fisik-mental
   dan psikososial anak yang optimal.
3. Kebutuhan stimulasi (ASAH) :
   Untuk memperoleh perkembangan yang optimal, anak perlu “diasah” melalui kegiatan
   stimulasi dini untuk mengembangkan sedini mungkin kemampuan sensorik, motorik,
   emosi-sosial, bicara, kognitif, kemandirian, kreatifitas, kepemimpinan, moral, dan
   spiritual.


2.3 Konsep Hospitalisasi
2.3.1 Pengertian Hospitalisasi
       Hospitalisasi merupakan suatu proses yang karena suatu alasan yang berencana
atau darurat, mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit, menjalani terapi dan
perawatan sampai pemulangannya kembali kerumah. Selama proses tersebut, anak dan
orang tua harus dapat mengalami berbagai kejadian yang menurut beberapa ditunjukkan
dengan pengalaman yang sangat traumatik dan penuh stress (Wong, 2004).
       Penyakit dan hospitalisasi sering kali menjadi krisis pertama yang harus dihadapi
anak. Anak-anak sangat rentang terhadap krisis penyakit dan hispitalisasi kerena stress
akibat perubahan dari keadaan sehat biasa dan rutinitas lingkungan , dan anak memiliki
jumlah mekanisme koping yang terbatas untuk menyelesaikan stressor (kejadian-kejadian
yang menimbulkan stres).
                                                                                       19


       Stres utama dari hospitalisasi adalah perpisahan, kehilangan kendali, secara tubuh
dan nyeri. Reaksi anak terhadap krisis-krisis tersebut dipengaruhi oleh usia perkembangan
mereka, pengalaman mereka sebelumnya dengan penyakit, perpisahan atau hospitalisasi.


2.3.2 Efek Hospitalisasi Terhadap Anak
       Anak-anak dapat bereaksi terhadap stres hospitalisasi sebelum mereka masuk,
selama hospitalisasi, dan setelah pemulangan. Konsep sakit yang dimiliki anak bahkan
lebih penting dibandingkan usia dan kematangan intelektual dalam memperkirakan tingkat
kecemasan sebelum hospitalisasi.
1. Faktor resiko individual
   Sejumlah faktor resiko membuat anak-anak tertentu lebih rentan terhadap stress
   hospitalisasi dibandingkan dengan lainnya. Mungkin kerena perpisahan merupakan
   masalah penting seputar hospitalisasi bagi anak-anak yang lebih mudah, anak yang
   aktif dan bekeinginan kuat cenderung lebih baik ketika dihospitalisasi bila
   dibandingkan anak yang pasif. Akibatnya, perawat harus mewaspadai anak-anak yang
   menerima secara pasif semua perubahan dan permintaan, anak ini dapat memerlukan
   dukungan yang lebih banyak dari pada anak yang lebih aktif.
2. Perubahan pada populasi pediatrik
   Saat ini populasi pediatrik dirumah sakit mengalami perubahan drastis, meskipun
   terdapat kecenderungan memendeknya lama rawat. Sifat dan kondisi anak
   kecenderungan bahkan mereka aakan mengalami prosedur yang lebih invasif dan
   traumatik pada saat mereka di hospitalisasi. Faktor inilah yang membuat mereka lebih
   rentang terhadap dampak emosional dari hospitalisasi dan enyebabkan kebutuhan
   mereka menjnadi berbeda. Perhatikan pada tahun-tahun sekarang telah berfokus pada
   peningkatan jumlah pada anak-anak yang tumbuh dirumah sakit (Britton dan Johnton,
   1993), rencana pemulangan menjadi lama karena kompleknya asuhan medis dan
   keperawatan. Tanpa perhatian yang khusus yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan
   psikososial dan perkembangan anak di lingkungan rumah sakit.


2.3.3 Dampak Hospitalisasi
       Hospitalisasi atau sakit dan dirawat dirumah sakit bagi anak dan keluarga akan
menimbulkan stress dan tidak aman. Jumlah dan efek stress tergantung pada persepsi anak
dan keluarga terhadap kerusakan penyakit dan pengobatan. Penyebab anak stres meliputi
psikososial (berpisah dengan orang tua , keluarga lain, teman dan perubahan peran),
                                                                                         20


fisiologis (kurang tidur, perasaan nyeri, imobilisasi dan tidak mengontrol diri), lingkungan
asing (kebiasaan sehari-hari berubah)
       Reaksi orang tua, kecemasan dan ketakutan akibat dari seriusnya penyakit,
prosedur, pengobatan dan dampak terhadap masa depan anak, frustasi karena kurang
informasi terhadap prosedur dan pengobatan serta tidak familernya peraturan rumah sakit.


2.3.4 Keuntungan Hospitalisasi
       Meskipun hospitalisasi dapat dan biasa menimbulkan stres bagi anak-anak, tetapi
hospitalisasi juga bermanfaat. Manfaat yang paling nyata adalah pulih dari sakit, tetapi
hospitalisasi juga dapat memberi kesempatan pada anak-anak untuk mengatasi stres dan
merasa kompoten dalam kemampuan koping mereka.


2.3.5 Reaksi Anak Prasekolah Terhadap Proses Hospitalisasi
       Perawatan anak dirumah sakit memaksakan untuk berpisah dari lingkungan yang
dirasakannya aman. Penuh kasih sayang dan menyenangkan, yaitu lingkungan rumah,
permainan dan teman sepermainannya. Reaksi terhadap perpisahan yang ditunjukkan anak
usia pra sekolah ialah dengan menolak makan, sering bertanya, menangis walaupun secara
berlahan, dan tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan, perawatan di rumah sakit juga
membuat anak kehilangan kontrol dirinya (Supartini, 2004).
       Perawatan anak dirumah sakit juga mengharuskan adanya pemabatasan aktifitas
anak sehingga anak merasa kan kehilangan kekuatan diri. Perawatan anak dirumah sakit
sering diekspresikan anak pra sekolah sebagai hukuman sehingga anak merasa malu dan
takut, bersalah. Ketakutan anak terhaadap perlukaan, muncul karena anak menganggap
atau tindakan dan prosedurnya mengancam integritas tubuhnya. Oleh karena itu, hal ini
menimbukan reaksi agresif dengan marah dan berontak, ekspresi verbal dengan
mengucapkan kata-kata marah, tidak mau bekerja sama terhadap perawat dan
ketergantungannya terhadap orang tua (Supartini, 2004).


2.3.6 Respon Orang Tua Terhadap Proses Hospitalisasi
       Respon keluarga yaitu suatu reaksi yang diberikan keluarga terhadap keinginan
untuk menanggapi kebutuhan yang ada pada dirinya. Perawatan anak dirumah sakit tidak
hanya menimbulkan stress pada orang tua. Orang tua juga merasa ada sesuatu yang hilang
dalam kehidupan keluarganya, dan hal ini juga terlihat bahwa perawatan anak selama
dirawat di rumah sakit lebih banyak menimbulkan stress pada orang tua dan hal ini telah
                                                                                        21


banyak dibuktikan oleh penelitian-penelitian sebelumnya. Dan dari hal ini, timbul reaksi
dari strees orang tua terhadap perawatan anak yang dirawat di rumah sakit yang meliputi
(Supartini, 2004).
1. Kecemasan, ini termasuk dalam kelompok emosi primer dan meliputi perasaan was-
   was, bimbang, kuatir, kaget, bingung dan merasa terancam. Untuk menghilangkan
   kecemasan harus memperkuat respon menghindar. Namun dengan begitu hidup orang
   itu akan sangat terbatas setelah beberapa pengalaman yang menyakitkan.
2. Marah, dalam kelompok amarah sebagai emosi primer termasuk gusar, tegang, kesal,
   jengkel, dendam, merasa terpaksa dan sebagainya. Ketidakmampuan mengatasi dan
   mengenal kemarahannya sering merupakan komponen dari penyesuaian diri dan hal ini
   merupakan sumber kecemasan tersendiri. Untuk orang seperti ini, pelatihan ketegasan
   dapat membantu : dianjurkan untuk mngungkapkan perasaan marah secara tegas dan
   jelas bila perasaan diungkapkan dengan baik, jelas, dan tegas. Bila kita berbagi
   perasaan maka hal ini dapat menguatkan relasi, isolasi dan mengangkat harga diri.
   Sebaliknya ada orang yang terlalu banyak dan tidak dapat mengerem luapan amarahnya
   sehingga mereka menggangu orang lain.
3. Sedih, dalam kelompok sedih sebagai termasuk emosi primer termasuk susah, putus
   asa, iba, rasa bersalah tak berdaya terpojok dan sebagainya. Bila kesedihan terlalu lama
   maka timbulah tanda-tanda depresi dengan triasnya: rasa sedih, putus asa sehingga
   timbul pikiran lebih baik mati saja. Depresi bisa terjadi setelah mengalami kehilangan
   dari sesuatu yang sangat disayangi, pengalaman tidak berdaya sering mengakibatkan
   depresi.
4. Stressor dan reaksi keluarga sehubungan denagn hospitalisasi anak, jika anak harus
   menjalani hospitalisasi akan memberikan pengaruh terhadap anggota keluarga dan
   fungsi keluarga (Wong, 2004). Reaksi orang tua dipengaruhi oleh tingkat keseriusan
   penyakit anak, pengalaman sebelumnya terhadap sakit dan hospitalisasi, prosedur
   pengobatan kekuatan ego individu, kemampuan koping, kebudayaan dan kepercayaan.


2.4 Konsep Asuhan Keperawatan Anak Diare
2.4.1 Pengkajian
1. Identitas
   a. Nama, umur, jenis kelamin, alamat, tempat tanggal lahir, jumlah saudara, no
       register, tanggal MRS, diagnosa medis.
                                                                                      22


   b. Identitas orang tua : nama ayah, nama ibu, umur , agama, suku/bangsa, bahasa,
      pekerjaan, pendidikan.
2. Keluhan utama
   Keluhan yang membuat klien dibawa ke rumah sakit. Diare akut lebih sering terjadi
   pada bayi dari pada anak, frekuensi diare untuk neonates > 4 kali/hari sedangkan untuk
   anak > 3 kali/hari dan biasanya diserati kembung dan muntah. Manifestasi klinis
   berupa BAB yang tidak normal/cair lebih banyak dari biasanya.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
   Apakah yang menyebabkan gejala diare dan apa yang telah dilakukan. Gejala yang
   dirasakan akibat diare bisanya berak lebih dari 3 kali dalam sehari dengan atau tanpa
   darah atau lendir, mules, muntah. Kualitas, Bab konsistensi, badan terasa lemah,
   sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Selain itu perut akan teras mules, anus
   terasa basah.
4. Riwayat kehamilan dan kelahiran
   a. Prenatal
      Pengaruh konsumsi jamu-jamuan terutama pada kehamilan semester pertama,
      pemeriksaan kehamilan (ANC) yang tidak teratur, penyakti selama kehamilan yang
      menyertai seperti TORCH, DM, Hipertiroid             yang dapat mempengaruhi
      pertunbuhan dan perkembangan janin di dalam rahim.
   b. Natal
      Umur kehamilan, persalinan dengan bantuan alat yang dapat mempengaruhi fungsi
      dan maturitas organ vital anak. Keadaan anak saat lahir apgar skor < 6 berhubungan
      dengan asfiksia, resusitasi atau hiperbilirubinemia, berat badan dan panjang badan
      untuk mengikuti pertumbuhan dan perkembangan anak pada usia sekelompoknya.
   c. Post Natal
      Pemberian ASI secara dini (IMD) terhadap perkembangan daya tahan tubuh alami
      dan imunisasi buatan yang dapat mengurangi pengaruh infeksi pada tubuh. Adakah
      perdarahan post partum yang dialami ibu, lamanya masa nifas yang dilalui ibu,
      adakah penyakit/gangguan pada masa nifas.
5. Riwayat Penyakit sebelumnya
   Infeksi parenteral seperti ISPA, Infeksi Saluran kemih, OMA (Otitis Media Acut)
   merupakan faktor predisposisi terjadinya diare.
                                                                                    23


6. Riwayat Kesehatan Keluarga
   a. Penyakit
      Apakah ada anggota keluarga yang menderita diare atau tetangga yang
      berhubungan dengan distribusi penularan.
   b. Lingkungan rumah dan komunitas
      Jumlah keluarga yang tinggal dalam satu rumah, lingkungan yang kotor dan kumuh
      serta personal hygiene yang kurang mudah terkena kuma penyebab diare.
   c. Perilaku yang mempengaruhi kesehatan
      BAB yang tidak pada tempat (sembarang)/ di sungai, kebiasaan mencuci tangan
      dan cara bermain anak yang kurang higienis dapat mempermudah masuknya kuman
      lewat Fecal-oral.
   d. Persepsi keluarga
      Kondisi lemah dan mencret yang berlebihan perlu suatu keputusan untuk penangan
      awal atau lanjutan ini bergantung pada tingkat pengetahuan dan penglaman yang
      dimiliki oleh anggota keluarga (orang tua).
7. Riwayat Sosial
   Siapa yang mengasuh klien di rumah, hubungan klien dengan anggota keluarga,
   pembawaan klien secara umum.
8. Kebutuhan Dasar
   a. Pola Nutrisi
      Pada anak < 1tahun / > 1tahun dengan berat badan < 7 kg dapat diberikan ASI/
      susu formula dengan rendah laktosa, umur > 1 tahun dengan BB > 7 kg dapat
      diberikan makanan padat atau makanan cair.
   b. Pola eliminasi
      BAB (frekuensi, banyak, warna dan bau) atau tanpa lendir, darah dapat mendukung
      secara makroskopis terhadap kuman penyebab dan cara penangana lebih lanjut.
      BAK perlu dikaji untuk output terhadap kehilangan cairan lewat urine.
   c. Pola istirahat
      Pada bayi, anak dengan diare kebutuhan istirahat dapat terganggu karena frekuensi
      diare yang berlebihan, sehingga menjadi rewel.
   d. Pola aktivitas
      Klien nampak lemah, gelisah sehingga perlu bantuan sekunder untuk memenuhi
      kebutuhan sehari-hari.
                                                                                          24


   e. Pola reproduksi seksual
      Jenis kelamin klien
   f. Pola kognitif perseptual
      Yang sudah dapat dilakukan dalam mengungkapkan sesuatu.
   g. Pola nilai keyakinan
      Nilai-nilai keagamaan klien.
   h. Pola koping toleransi strees
      Cara mengatasi dan menyelesaikan suatu konflik yang dialami klien.
   i. Pola konsep diri
      Bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri, kemampuan dan perasaan klien.
   j. Pola peran dan hubungan
      Menggambarkan pola keterikatan peran dengan hubungan terhadap peran utama
      dan tanggung jawab.
   k. Pola fungsi kesehatan (persepsi terhadap kesehatan)
      Menggambarkan pola pemahaman klien tentang kesehatan dan kesejahteraan dan
      bagaimana kesehatan mereka diatur.


2.4.2 Pemeriksaan Fisik
1. Sistem Penginderaan
   a. Subyektif
      1) Dehidrasi ringan/sedang : klien merasa haus, mulut kering.
      2) Dehidrasi berat : tidak bisa minum, mulut sangat kering.
   b. Inspeksi :
      1) Kepala
          a) Dehidrasi ringan/sedang : kulit kepala kering, UUB cekung (pada bayi dan
              neonatus)
          b) Dehidrasi berat : kulit kepala sangat kering, UUB sangat cekung (pada bayi
              dan neonatus)
      2) Mata
          a) Dehidrasi ringan/sedang : air mata sedikit, mata cekung, reflek pupil ada.
          b) Dehidrasi berat : air mata tidak ada, mata kering, sangat cekung, cowong,
              reflek pupil tidak ada pada keadaan dehidrasi lebih lanjut (syok
              hipovolemik)
                                                                                     25


      3) Hidung
          a) Dehidrasi ringan/sedang : nafas agak cepat
          b) Dehidrasi berat : pada klien dengan dehidrasi berat dapat menimbulkan
                asidosis metabolik sehingga kompensasinya adalah alkalosis respiratorik
                untuk mengeluarkan CO2 dan mengambil O2,nampak adanya pernafasan
                cuping hidung. Nafas cepat dan dalam.
      4) Telinga
          Adakah infeksi telinga (OMA, OMP) berpengaruh pada kemungkinan infeksi
          parenteal yang pada akhirnya menyebabkan terjadinya diare
   c. Palpasi :
      1) Kepala
          Ubun-ubun besar cekung, kulit kepala kering, sedangkan untuk anak-anak
          ubun-ubun besar sudah menutup maximal umur 2 tahun.
      2) Mata
          a) Dehidrasi ringan/sedang : tekanan bola mata normal.
          b) Dehidrasi berat : tekanan bola mata dapat menurun, sangat mengantuk.
      3) Telinga
          Jika ada penyakit penyerta terdapat nyeri tekan.
2. Sistem Neurologi
   a. Subyektif
      1) Dehidrasi ringan/sedang : gelisah, cengeng, tampak sakit.
      2) Dehidrasi berat : kesadaran menurun, lemas luar biasa dan terus mengantuk
   b. Inspeksi
      1) Dehidrasi ringan/sedang : lemas tapi masih compos mentis.
      2) Dehidrasi berat : kesadaran menurun apatis, samnolen, delirium, stupor dan
          koma.
   c. Palpasi
      1) Dehidrasi ringan/sedang : berusaha bergerak meskipun lemah.
      2) Dehidrasi berat : kejang otot
   d. Perkusi
      1) Dehidrasi ringan/sedang : reflek fisiologis
      2) Dehidrasi berat : refleks patologis
                                                                                       26


3. Sistem Integumen
   a. Subyektif
      1) Dehidrasi ringan/sedang : kulit agak kering
      2) Dehidrasi berat : kulit sangat kering
   b. Inspeksi
      1) Dehidrasi ringan/sedang : keringat sedikit, kulit keriput
      2) Dehidrasi berat : kulit sangat kering, keringat tidak ada.
   c. Palpasi
      1) Dehidrasi ringan/sedang : turgor kulit mulai turun CRT 1-2 detik
      2) Dehidrasi berat : turgor kulit sanagt turun CRT > dari 2 detik.
4. Sistem Kardiovaskuler
   a. Subyektif
      1) Dehidrasi ringan/sedang : suhu badan terkadang meningkat
      2) Dehidrasi berat : badan terasa panas tetapi bagian tangan dan kaki terasa dingin
   b. Inspeksi
      1) Dehidrasi ringan/sedang : hipotensi postural
      2) Dehidrasi berat : pucat, tekanan vena jugularis menurun, pulasasi ictus cordis
          tidak ada.
   c. Palpasi
      1) Dehidrasi ringan/sedang : nadi cepat dan lemah
      2) Dehidrasi berat : suhu akral dingin karena perfusi jaringan menurun, heart rate
          meningkat karena casodilatasi pembuluh darah, tahanan perifer menurun
          sehingga cardiac output meningkat. Nadi cepat, sangat lemah,kadangtidak
          teraba
   d. Perkusi
      Normal redup, ukuran dan bentuk jantung secara kasar pada kasus diare akut masih
      dalam batas normal (batas kiri umumnya tidak lebih dari 4-7 dan 10 cm ke arah kiri
      dari garis midsternal pada ruang interkostalis ke 4,5 dan 8.
   e. Auskultasi
      1) Dehidrasi ringan/sedang : bunyi jantung S1, S2 tunggal, tekanan darah dapat
          ormal atau rendah.
      2) Dehidrasi berat : pada dehidrasi berat dapat terjadi gangguan sirkulasi,
          auskulatasi bunyi jantung S1, S2, murmur atau bunyi tambahan lainnya.
          Tekanan darah bisa tidak terukur.
                                                                                          27


5. Sistem pernafasan
   a. Subyektif
      1) Dehidrasi ringan/sedang : nafas agak cepat.
      2) Dehidrasi berat : nafas cepat dan dalam.
   b. Inspeksi
      1) Dehidrasi ringan/sedang : bentuk simetris, ekspansi seirama, tidak ada retraksi.
      2) Dehidrasi berat : bentuk simetris, ekspansi lambat, terlihat retraksi interkostal
          atau subcostal. Jika ada penumpukan secret terdengar stridor.
   c. Palpasi
      Kaji adanya massa, nyeri tekan , kesimetrisan ekspansi, tacti vremitus tidak ada.
   d. Auskultasi
      Dengan menggunakan stetoskop kaji suara nafas vesikuler, intensitas, nada dan
      durasi. Adakah ronchi, wheezing untuk mendeteksi adanya penyakit penyerta
      seperti broncho pnemonia atau infeksi lainnya.
6. Sistem Pencernaan
   a. Subyektif
      1) Dehidrasi ringan/sedang : kelaparan, kehausan.
      2) Dehidrasi berat : tidak mau makan dan minum
   b. Inspeksi
      1) Dehidrasi ringan/sedang : BAB cair 4-8 kali perhari
      2) Dehidrasi berat : BAB cair > dari 10 kali perhari
   c. Auskultasi
      1) Dehidrasi ringan/sedang : bising usus meningkat
      2) Dehidrasi berat : Bising usus (dengan menggunakan diafragma stetoskop),
          peristaltik usus meningkat (gurgling) > 5-20 kali dengan durasi 1 detik.
   d. Perkusi
      1) Dehidrasi ringan/sedang : kembung
      2) Dehidrasi berat : kembung
   e. Palpasi
      Adakah nyeri tekan, superfisial pemuluh darah, massa tidak ada. Hepar dan lien
      tidak teraba.
7. Sistem Genetalia
   a. Subyektif
      1) Dehidrasi ringan/sedang : kencing sedikit.
                                                                                      28


      2) Dehidrasi berat : anuria/oliguri berat, tidak kencing selama 6 jam.
   b. Inspeksi
      1) Dehidrasi ringan/sedang : warna urine pekat, kemerahan pada anus.
      2) Dehidrasi berat : warna urine sangat pekat, anus lecet.
   c. Palpasi
      Adakah pembesaran scrotum,infeksi testis atau femosis.
8. Sistem Muskuloskletal
   a. Subyektif
      1) Dehidrasi ringan/sedang : tampak sakit, lemah
      2) Dehidrasi berat : sangat lemah, kadang kejang otot
   b. Inspeksi
      1) Dehidrasi ringan/sedang : aktivitas menurun
      2) Dehidrasi berat : tidak sadarkan diri
   c. Palpasi
      1) Dehidrasi ringan/sedang : penurunan berat badan 40 - 100 gr/kgBB
      2) Dehidrasi berat : hipotoni, penurunan berat badan > 100 gr/kgBB


2.4.3 Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium
   a. Feces lengkap
      1) Makroskopis dan mikroskopis (bakteri (+) mis. E. Coli)
      2) PH dan kadar gula
      3) Biakan dan uji resistensi
   b. Pemeriksaan Asam Basa
      Analisa Blood Gas Darah dapat menimbulkan Asidosis metabolik dengan
      kompensasi alkalosis respiratorik.
   c. Pemeriksaan kadar ureum kreatinin
      1) Untuk mengetahui faali ginjal
      2) Serum elektrolit (Na, K, Ca dan Fosfor)
   d. Pada diare dapat terjadi hiponatremia, hipokalsemia yang memungkinkan terjadi
      penurunan kesadaran dan kejang.
2. Pemeriksaan intubasi duedenum
   Terutama untuk diare kronik dapat dideteksi jasad renik atau parasit secara kualitatif
   dan kuantitatif.
                                                                                     29


3. Pemeriksaan Radiologi
     Pemeriksaan radiologi diperlukan kalau ada penyulit atau penyakit penyerta seperti
     bronchopnemonia dll seperti foto thorax AP/PA Lateral.


2.4.4 Pemeriksaan Pertumbuhan dan Perkembangan
1.   Motorik Halus
     a. Duduk Tanpa Pegangan
     b. Bila sesudah ditarik kedua tangannya kepala bayi bisa tegak, coba lepaskan kedua
        tangannya secara perlahan agar dia bisa duduk sendiri.
2.   Motorik Kasar
     Yang biasanya dilakukan melalui gerakan menendang, menjejak, meraih dan
     melempar.
3.   Bahasa
     a. Bayi semakin sering mengulangi suara yang sama berulang-ulang, contohnya suku
        kata yang sering didengar (mulai usia 8 bulan).
     b. Bayi mulai menggumam dengan irama tertentu.
     c. Mulai mengenali nama mereka (panggilan mereka).
     d. Bayi sudah mulai dapat mengucapkan satu kata tertentu, meskipun masih belum
        terlalu jelas.
     e. Bayi mulai meniru suara tertentu (bukan meniru pembicaraan), seperti mengecap-
        ecap bibir atau mencoba membunyikan lidah (tongue clicking).
4.   Kognitif
     a. Dapat menemukan benda atau mainannya setelah sebelumnya melihatnya kemudian
        disembunyikan.
     b. Dapat menggunakan benda sebagai suatu peralatan sesudah ditunjukkan bagaimana
        caranya.
     c. Dapat memainkan mainannya dengan cara yang baru, menariknya, memutarnya,
        menyodoknya, dan merobeknya.
5.   Adaptasi sosial
     Mengenal ibunya dan orang-orang dekat lainnya dan menunjukkan rasa takut terhadap
     orang dewasa yang dikenal dengan menangis atau memalingkan muka, berusaha
     menirukan suara pembicaraan dan juga menirukan perbuatan dan isyarat yang
     sederhana.
                                                                                        30


2.4.5 Rencana Asuhan Keperawatan
1. Defisit volume cairan dan elektrolit kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
   dengan output cairan yang berlebihan.
   Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 1 x 24 jam devisit cairan dan
   elektrolit teratasi.
   Kriteria :
   a. Tanda-tanda vital dalam batas normal
   b. Tanda-tanda dehidrasi tidak ada, turgor kulit elastis, membran mukosa basah,
       haluaran urine terkontrol, mata tidak cowong dan ubun-ubun besar tidak cekung.
   c. Balance cairan seimbang
   d. Konsistensi BAB liat/lembek dan frekuensi 1 kali dalam sehari
   Intervensi :
   a. Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan (dehidrasi)
       R/ Penurunan volume cairan bersirkulasi menyebabkan kekeringan jaringan dan
       pemekatan urine. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan segera untuk
       memperbaiki defisit.
   b. Pantau intake dan out put
       R/ Haluaran dapat melebihi masukan, yang sebelumnya tidak mencukupi untuk
       mengkompensasi kehilangan cairan. Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi
       glomerulus membuat haluaran tak adeguat untuk membersihkan sesa metabolisme.
   c. Timbang BB setiap hari (jika memungkinkan)
       R/ Penimbangan BB harian yang tepat dapat mendeteksi kehilangan cairan.
   d. Penatalaksanaan rehidrasi :
       1) Anjurkan keluarga bersama klien untuk meinum yang banyak (LGG, oralit atau
           pedyalit 10 cc/kg BB/mencret)
           R/ Kandungan Na, K dan glukosa dalam LGG, oralit dan pedyalit mengandung
           elektrolit sebagai ganti cairan yang hilang secara peroral, juga menyebarkan
           gelombang udara dan mengurangi distensi.
       2) Pemberian cairan parenteral (IV line) sesuai dengan umur.
           R/ Klien yang tidak sadar atau tingkat dehidrasi ringan dan sedang yang kurang
           intakenya atau dehidrasi berat perlu pemeberian cairan cepat melalui IV line
           sebai pengganti cairan yang telah hilang.
   e. Kolaborasi :
       1) Pemeriksaan serum elektrolit (Na, K dan Ca serta BUN)
                                                                                      31


          R/ Serum elektrolit sebagai koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit. BUN
          untuk mengetahui faal ginjal (kompensasi).
      2) Obat-obatan (antisekresi, antispasmolitik dan antibiotik)
          R/ Antisekresi berfungsi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit untuk
          keseimbangannya. Antispasmolitik berfungsi untuk proses absrobsi normal.
          Antibiotik     sebagai   antibakteri   berspektrum   luas   untuk   menghambat
          endoktoksin.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan tidak
  adekuatnya intake dan diare.
  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 1 x 24 jam, kebutuhan nutrisi
  terpenuhi.
  Kriteria :
  a. Nafsu makan baik
  b. BB ideal sesuai dengan umur dan kondisi tubuh
   Intervensi :
  a. Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan yang berserat tinggi,
      berlemak dan air panas atau dingin)
      R/ Makanan ini dapat merangsang atau mengiritasi saluran usus.
  b. Timbang BB setiap hari (jika memungkinkan)
      R/ Perubahan berat badan yang menurun menggambarkan peningkatan kebutuhan
      kalori, protein dan vitamin.
  c. Ciptakan lingkungan yang menyenagkan selama waktu makan dan bantu sesuai
      dengan kebutuhan.
      R/ Nafsu makan dapat dirangsang pada situasi rileks dan menyenangkan.
  d. Diskusikan dan jelaskan tentang pentingnya makanan yang sesuai dengan
      kesehatan dan peningkatan daya tahan tubuh.
      R/ Makanan sebagai bahan yang dibutuhkan tubuh untuk proses metabolisme dan
      katabolisme serta peningkatan daya tahan tubuh terutama dalam keadaan sakit.
      Penjelasan yang diterima dapat membuka jalan pikiran untuk mencoba dan
      melaksanakan apa yang diketahuinya.
  e. Kolaborasi :
      a. Dietetik
          1) Anak , 1 tahun/> 1 tahun dengan BB < 7 kg diberi susu (ASI atau susu
               formula rendah/bebas laktosa), makan setengah padat/makanan padat.
                                                                                      32


                R/ Pada diare dengan usus yang terinfeksi enzim laktose inaktif sehingga
                intoleransi laktose.
           2) Umur > 1 tahun dengan BB > 7 kg diberi makan susu/cair dan padat
                R/ Makanan cukup gizi dan disesuaikan dengan kondisi kesehatan.
       b. Rehidrasi parenteral (IV line)
           R/ Klien yang tidak sadar atau tingkat dehidrasi ringan dan sedang yang kurang
           intakenya atau dehidrasi berat perlu pemeberian cairan cepat melalui IV line
           sebai pengganti cairan yang telah hilang.
       c. Supporatif (pemberian vitamin A)
           R/ Vitamin merupakan bagian dari kandungan zat gizi yang diperlukan tubuh
           terutama pada bayi untuk proses pertumbuhan.
3. Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi
   Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam peningkatan suhu
   tubuh klien teratasi.
   Kriteria :
   a. Suhu tubuh dalam batas normal (36-370C )
   b. Nadi 100-120 x/menit
   c. Akral tidak panas
   Intervensi
   a. Observasi suhu tubuh.
       R/ Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh (adanya infeksi)
   b. Beri kompres dengan air biasa pada daerah aksila, lipatan paha dan temporal bila
       terjadi panas.
       R/ Kompres biasa merupakan tekhnik penurunan suhu tubuh dengan meningkatkan
       konduktivitas.
   c. Lakukan penyuluhan kesehatan pada keluarga untuk memakaikan pakaian yang
       dapat menyerap keringat seperti kartun.
       R/ Pengeluaran suhu tubuh dengan cara evaporasi berkisar 22% pakaian yang
       mudah menyerap keringat sangat efektif meningkatkan efek dan evaporasi.
   d. Anjurkan keluarga untuk melepaskan pakaian atau selimut yang berlebihan untuk
       meningkatan pengeluaran panas.
       R/ Penambahan pakaian/selimut pada seseorang menghambat kemampuan
       alamitubuh untuk menurunkan suhu tubuh.
   e. Anjurkan keluarga pentingnya meningkatkan cairan selama terjadi demam
                                                                                         33


       R/ Peningkatan cairan diperlukan untuk mempertahankan fungsi metabolic karena
       terjadi demam.
   f. Kolaborasi pemberian antipiretik
       R/ Bertujuan memblok respon panas


4. Risiko       gangguan      integritas   kulit   (area   perianal)   berhubungan   dengan
   peningkatan frekuensi diare.
   Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 1 x 24 jam, injuri kulit tidak
   terjadi.
   Kriteria :
   a. Integritas kulit utuh
   b. Iritasi tidak terjadi
   c. Kulit tidak hiperemia
   d. Kebersihan peranal terjaga dan tetap bersih
   e. Keluarga dapat mendemonstrasikan dan melakasnakan perawatan perianal dengan
       baik dan benar
   Intervensi :
   a. Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga kebersihan di tempat tidur.
       R/ Kebersihan mencegah aktivitas kuman. Informasi yang adeguat melalui metode
       diskusi dapat memberikan gambaran tentang pentingnya kebersihan dan keadaran
       partisipasi dalam peningkatan kesehatan.
   b. Libatkan dan demonstrasikan cara perawatan perianal bila basah akibat diare atau
       kencing dengan mengeringkannya dan mengganti pakaian bawah serta alasnya.
       R/ Kooperatif dan partisipati sangat penting untuk peningkatan dan pencegahan
       untuk mencegah terjadinya disintegrasi kulit yang tidak diharapkan.
   c. Menganjurkan keluarga untuk mengganti pakaian bawah yang basah.
       R/ Kelembaban dan keasaman feces merupakan faktor pencetus timbulnya iritasi.
       Untuk itu pengertian akan mendorong keluarga untuk mengatasi masalah tersebut.
   d. Lindungi area perianal dari iritasi dengan pemeberian lotion.
       R/ Sering BAB dengan peningkatan keasaman dapat dikurangi dengan menjaga
       kebersihan dan pemberian lotion dari iritasi.
   e. Atur posisi klien selang 2-3 jam.
       R/ Posisi yang bergantian berpengaruh pada proses vaskularisasi lancar dan
       mengurangi penekanan yang lama, sehingga mencegah ischemia dan iritasi.
                                                                                  34




5. Cemas berhubungan dengan lingkungan tidak dikenal dan prosedur yang
   menakutkan.
   Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 1 x 24 jam, klien mampu
                beradaptasi
   Kriteria hasil :
   a. Mau menerima tindakan perawatan
   b. Klien tampak tenang dan tidak rewel
   Intervensi :
   a. Libatkan keluarga dalam melakukan tindakan perawatan
       R/ Pendekatan awal pada anak melalui ibu atau keluarga
   b. Hindari persepsi yang salah pada perawat dan RS
       R/ tersenyum ketika memasuki ruangan mengurangi rasa takut anak terhadap
       perawat dan lingkungan RS
   c. Berikan pujian jika klien mau diberikan tindakan perawatan dan pengobatan
       R/ menambah rasa percaya diri anak akan keberanian dan kemampuannya
   d. Lakukan kontak sesering mungkin dan lakukan komunikasi baik verbal maupun
       non verbal (sentuhan, belaian dll)
       R/ Kasih sayang serta pengenalan diri perawat akan menunbuhkan rasa aman pada
       klien.
   e. Berikan mainan sebagai rangsang sensori anak
       R/ meski dalam perawatan anak tetap dapat melewati proses tumbuh kembangnya
       dengan baik melalui permainannya.


6. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan distensi abdomen
   Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 1 x 24 jam, klien nyeri dapat
   teratasi
   Kriteria hasil :
   a. Nyeri dapat berkurang/hilang
   b. Ekspresi wajah tenang
    Intervensi :
    a. Atur posisi yang nyaman bagi klien, misalnya dengan lutut fleksi.
       R/ Menurunkan tegangan permukaan abdomen dan mengurangi nyeri
    b. Lakukan aktivitas pengalihan untuk memberikan rasa nyaman seperti masase
                                                                                     35


       punggung dan kompres hangat abdomen
      R/ Meningkatkan relaksasi, mengalihkan fokus perhatian kliendan meningkatkan
      kemampuan koping
   c. Bersihkan area anorektal dengan sabun ringan dan airsetelah defekasi dan berikan
       perawatan kulit
      R/ Melindungi kulit dari keasaman feses, mencegah iritasi
   d. Kolaborasi pemberian obat analgetika dan atau antikolinergik sesuai indikasi
      R/ Analgetik sebagai agen anti nyeri dan antikolinergik untuk menurunkan spasme
      traktus GI dapat diberikan sesuai indikasi klinis
   e. Kaji keluhan nyeri dengan Visual Analog Scale (skala 1-5), perubahan karakteristik
       nyeri, petunjuk verbal dan non verbal
      R/ Mengevaluasi perkembangan nyeri untuk menetapkan intervensi selanjutnya.


7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang
  penyakit, prognosis dan pengobatan.
  Tujuan : Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 1 x 24 jam, klien pengetahuan
  keluarga meningkat.
  Kriteria hasil :
  a. Keluarga klien mengerti dengan proses penyakit klien
  b. Ekspresi wajah tenang
  c. Keluarga tidak banyak bertanya lagi tentang proses penyakit klien.
  Intervensi :
  a. Kaji kesiapan keluarga klien mengikuti pembelajaran, termasuk pengetahuan
      tentang penyakit dan perawatan anaknya.
      R/ Efektivitas pembelajaran dipengaruhi oleh kesiapan fisik dan mental serta latar
      belakang pengetahuan sebelumnya.
  b. Jelaskan tentang proses penyakit anaknya, penyebab dan akibatnya terhadap g3
      pemenuhan kebutuhan sehari-hari aktivitas sehari-hari.
      R/ Pemahaman tentang masalah ini penting untuk meningkatkan partisipasi
      keluarga klien dan keluarga dalam proses perawatan klien
  c. Jelaskan tentang tujuan pemberian obat, dosis, frekuensi dan cara pemberian serta
      efek samping yang mungkin timbul
      R/ Meningkatkan pemahaman dan partisipasi keluarga klien dalam pengobatan.
  d. Jelaskan dan tunjukkan cara perawatan perineal setelah defekasi
                                                                       36


R/ Meningkatkan kemandirian dan kontrol keluarga klien terhadap kebutuhan
perawatan diri anaknya.

								
To top