Embed
Email

REVITALISASI DESENTRALISASI & OTONOMI DAERAH

Document Sample
REVITALISASI DESENTRALISASI & OTONOMI DAERAH
Shared by: HC111116231859
Categories
Tags
Stats
views:
49
posted:
11/16/2011
language:
Indonesian
pages:
26
REVITALISASI

DESENTRALISASI &

OTONOMI DAERAH

Herwan Parwiyanto, S.Sos., M.Si.

( Sabtu, 25 Juli 2009)

desentralisasi

• Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk

meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk

mencapai tujuan tersebut berbagai strategi dan

kebijakan dilaksanakan. Dalam konteks

kebijakan hubungan antara pemerintah Pusat

dan Daerah, kebijakan pembangunan dapat

dilihat dari sisi pelimpahan kewenangan atau

urusan untuk melaksanakan pembangunan

tersebut. Ada dua pendekatan yang biasa

digunakan, yaitu pendekatan sentralisasi dan

pendekatan desentralisasi.

http://herwanparwiyanto.staff.uns.ac.id

Desentralisasi & pemekaran wilayah

• Ada dua hal penting yang berkaitan

dengan pemekaran wilayah yang

berhubungan dengan peningkatan

kesejahteraan masyarakat, yaitu

pertama, bagaimana pemerintah

melaksanakannya, dan kedua, bagaimana

dampaknya di masyarakat setelah

pemekaran tersebut berjalan selama lima

tahun

desentralisasi & otoda

• Desentralisasi identik dengan otonomi karena kedua istilah

tersebut mempunyai makna yang sama yaitu kewenangan

daerah untuk mengurus urusan-urusan pemerintahan daerah

atau mengurus rumah tanggahnya sendiri,sedankan dalam

penerapannya otonomi lebih cenderung pada politik

sedangkan desentralisasi mengacu pada administrasi



Perkembangan otonomi di Indonesia telah diterbitkan 9

(sembilan) undang undang yang mengatur tentang

pemerintahan daerah yaitu:

• UU.No 1 tahun 1945 dimana kebijakan pemerintahan tentang otonomi daerah pada

masa itu menitik beratkan pada dekosentrasi

• UU. No.22 tahun 1948 dimana kebijakan pemerintah lebih menitik beratkan pada

desentralisasi

• UU.No. 1 tahun 1957 kebijakan otonomi bersifat dualisme, dimana kepala daerah

bertanggung jawab kepada DPRD

• ketetapan Presiden No.6 tahun 1959 Pemerintahan lebih menekankan pada

dekosentrasi

• UU. No18 tahun 1965 masa itu kebijakan Pemeritahan menitik beratkan pada

desentralisasi dengan memberikan otonomi yang seluas-luasnya pada daerah

sedangkan dekosentrasi hanya sebagai pelengkap

• UU,No 5 tahun 1974 itu setelah terjadinya G30.SPKI yang pada dasarnya telah

terjadi fakuman dalam mengatur penyelenggaraan pemerintahan di daerah sampai

denan UU No 5 tahun 1974 yaitu dengan desentralisasi,dekosentrasi dan tugas

pembantuan, selanjutnya dengan kebijakan pemerintahan pada masa orde baru,maka

pada masa berlakunya UU.No 5 tahun 1974 pembangunan pembangunan menjadi isu

sentral dibandingkan politik yang pada penerapannya seolah olah terjadi proses

politisasi peran peran pemerintahan daerah dan mengantikanya dengan peran

pembangunan yang menjadi isi nasional

• UU. No 22 tahun 1999 pada masa itu terjadi lagi perubahan yang menjadikan

pemerintahan daerah sebagai titik sentral dalam penyelenggaraan pemerintahan dan

pembagunan dengan mengedepankan otonomi yang luas, nyata dan

bertanggungjawab.

• UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah daerah & UU No. 33 tahun 2004

tentang perimbangan keuangan Pusat & Daerah, dijabarkan pd Perpres No. 7 tahun

2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional.

Konsep Otonomi Daerah

• Otonomi daerah menurut Bintoro Tjokrohamidjojo (1995)

adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah untuk mengatur

dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

• Menurut Abdul Rahman (1985:11) Otonomi Daerah adalah

hak mengatur dan memeratakan daerah sendiri atas inisiatif

dan kemauan sendiri

• Abdullah (2002) otonomi daerah adalah kewenangan daerah

otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan

masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan

aspirasi masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri

berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan perundang-

undangan.

http://herwanparwiyanto.staff.uns.ac.id

Menurut Ryaas Rasyid (2002) Tujuan utama dari

kebijakan/ desentralisasi dan otonomi Daerah tahun

1999 adalah, di satu pihak, membebaskan pemerintah

pusat dari beban-beban yang tidak perlu dalam

menangani urusan domestik, sehingga ia berkesempatan

mempeiajari, memahami, merespon berbagai

kecendrungan global dan mengambil manfaat dari

menangani urusan domestik, sehingga ia berkesempatan

mempelajari, memahami, merespon berbagai

kecendrungan global dan manfaat daripadanya. Pada saat

yang sama, pemerintah pusat diharapkan lebih mampu

berkonsentrasi pada perumusan makro nasional yang

bersifat strategis.

hakekat otonomi daerah adalah:





1. Hak mengurus rumah tangga sendiri bagi suatu daerah otonom, hak

tersebut bersumber dari wewenang pangkal dan urusan-urusan pemerintah

pusat yang diserahkan kedaerah. Istilah sendiri dalam hak mengatur dan

mengurus rumah tangga merupakan inti keotonomian suatu daerah berupa

penetapan kebijaksanaan sendiri, pelaksanaan sendiri serta pembiayaan dan

pertanggung jawaban daerah sendiri.

2. Dalam kebebasan menjalankan hak mengatur dan mengurus rumah

tangga sendiri, daerah tidak dapat menjalankan hak dan kewenangan

otonominya itu di luar batas-batas wilayah daerahnya.

3. Daerah tidak boleh mencapai hak mengatur dan mengurus rumah tangga

daerah lain sesuai dengan wewenang pangkat dan urusan yang diserahkan

kepadanya.

4. Otonomi daerah tidak membawahi otonomi daerah lain, hak mengatur

dan mengurus rumah tangga sendiri tidak merupakan subordinasi hak

mengatur dan mengurus rumah tangga daerah lain.

I. Permasalahan yang dihadapi :

RPJMN Tahun 2004—2009 bidang revitalisasi proses desentralisasi dan

otonomi daerah, terkait dengan penataan peraturan perundang-undangan

mengenai desentralisasi dan otonomi daerah, permasalahan yang masih

dihadapi hingga akhir semester 1 tahun 2008, di antaranya

• (1) masih terdapat beberapa peraturan pelaksana UU No. 32 tahun 2004

yang belum tersusun, yaitu 6 PP (Peraturan Pemerintah) dan 1 Perpres dari

27 PP, 2 Perpres dan 2 Permendagri (Peraturan Menteri Dalam Negeri)

yang diamanatkan;

• (2) masih terdapat 1 peraturan pelaksana UU No. 33 tahun 2004 yang belum

diterbitkan, yaitu PP tentang Pengelolaan Dana Darurat;

• (3) munculnya permasalahan terkait ketidakharmonisan antara peraturan

perundang-undangan sektoral dan peraturan perundangan mengenai

desentralisasi dan otonomi daerah sehingga menyebabkan kesulitan dalam

pelaksanaan peraturan perundang-undangan oleh pemda; serta

• (4) masih belum optimalnya pelaksanaan desentralisasi di daerah-daerah

yang memiliki karakteristik khusus dan istimewa karena belum tersusun dan

tersosialisasikannya peraturan perundangan yang mengatur pelaksanaan

desentralisasi di daerah-daerah

Permasalahan dalam program peningkatan kapasitas



kelembagaan pemerintah daerah

• (1) penerapan standar pelayanan minimal (SPM) sampai saat ini

belum optimal karena peraturan menteri tentang SPM yang

ditetapkan oleh departemen sektor sebagai acuan daerah dalam

penerapan SPM, masih dalam proses penyusunan;

• (2) belum disusunnya rencana aksi nasional (RAN) di bidang

pelayanan publik, khususnya bidang administrasi kependudukan dan

perizinan investasi;

• (3) pemda dalam mengimplementasikan PP No. 41 Tahun 2007 dan

menetapkan organisasi perangkat daerah, menemukan kendala yang

disebabkan oleh adanya beberapa peraturan daerah (perda) yang

sudah mengatur pelaksanaan restrukturisasi yang sesuai dengan

kebutuhan daerah itu sendiri;

• (4) masih adanya berbagai protes dan ketidakpuasan para

pendukung pasangan calon kepala daerah terhadap proses dan hasil

pemilihan kepala daerah (pilkada)

Permasalahan dalam program peningkatan

profesionalisme aparatur pemda

• (1) kemampuan aparat pemda yang belum memadai, khususnya di

tingkat kecamatan dan kelurahan/desa di dalam bidang

kependudukan, kesempatan kerja, strategi investasi, keamanan dan

ketertiban (tramtib), serta perlindungan masyarakat (linmas);

• (2) belum tersusunnya norma, standar, prosedur, dan pedoman

sistem karier, sistem cuti, sistem asuransi, sistem penghargaan,

serta pengelolaan aparatur Pemerintah daerah;

• (3) belum adanya standar kompetensi dalam pola karier dan mutasi;

serta

• (4) belum baiknya manajemen aparatur pemda, khususnya di dalam

penataan jabatan negeri dan negara serta jabatan fungsional dan

struktural berdasarkan kompetensi dan keahliannya

Permasalahan dalam program peningkatan kerja

sama antar pemerintah daerah

• (1) belum tersosialisasinya dengan baik PP No. 50 Tahun 2007

tentang Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama Antar-Daerah yang

diharapkan menjadi payung regulasi penting dalam mendorong

sinergi dan integrasi perda yang mengatur kebijakan pengembangan

kerja sama antardaerah;

• (2) belum ada model/format ideal dan instrumen kerja sama yang

potensial dikembangkan untuk meningkatkan kualitas pelayanan

publik;

• (3) belum ada insentif yang terukur untuk mendorong daerah dalam

melakukan kerja sama; serta

• (4) secara umum pemda belum optimal memberdayakan potensi

sumber daya yang ada untuk mendatangkan manfaat yang lebih

besar, yang dikelola secara bersama-sama antar pemda.

Sejalan dengan pemberian kewenangan yang

lebih besar kepada pemerintah provinsi dan

pemerintah kabupaten/kota dalam

penyelenggaraan pemerintahan dan

pelayanan kepada masyarakat, daerah

diberi kewenangan untuk :

• memungut pajak daerah dan retribusi

daerah sebagaimana diatur dalam UU No.

18 Tahun 1997 yang telah diubah dengan

UU No. 34 Tahun 2000

Lanjutan …



• Dalam perkembangannya, terdapat

beberapa daerah yang memungut

pajak daerah dan retribusi daerah

tanpa memperhatikan kriteria yang

ditetapkan dalam UU tersebut dan

bertentangan dengan kepentingan

umum sehingga cenderung mendorong

terjadinya ekonomi biaya tinggi dan

mengganggu iklim investasi di daerah

Aspek Administrasi penatausahaan barang miik

daerah :



• Banyak daerah yang belum sepenuhnya melakukan proses

administrasi penatausahaan barang milik daerah yang sesuai

dengan PP No. 38 Tahun 2008 tentang Perubahan atas PP

No. 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik

Negara/Daerah.

• Masih rendahnya jumlah dan kualitas SDM yang mempunyai

kompetensi di bidang pengelolaan keuangan termasuk

akuntansi dan juga keterbatasan dalam penguasaan teknologi

informasi menjadi kendala dalam proses peningkatan

kapasitas keuangan Pemerintah daerah. Hal tersebut

terbukti dengan adanya beberapa yang daerah masih

melakukan pengelolaan keuangan daerah secara manual dan

belum memanfaatkan sistem informasi yang

terkomputerisasi

Terkait dana perimbangan, beberapa isu aktual yang



muncul :







• (1) pemekaran daerah berimplikasi terhadap

peningkatan komponen dana perimbangan,

khususnya dana alokasi umum (DAU) dan dana

alokasi khusus (DAK) dan akan membebani APBN

pada setiap tahunnya;

• (2) penerimaan pegawai sebagai akibat dari proses

pemekaran daerah dan mutasi pegawai, menuntut

adanya rekonsiliasi dan verifikasi guna

mendapatkan data pegawai negeri sipil daerah

(PNSD) yang akurat sebagai dasar perhitungan

alokasi dasar DAU.

II. Langkah–Langkah Kebijakan dan Hasil-Hasil yang



Dicapai



• (1) mengharmoniskan berbagai peraturan

perundang-undangan sektoral dengan peraturan

perundang-undangan mengenai desentralisasi dan

otonomi daerah melalui fasilitasi penyesuaian

norma, standar, prosedur dan kriteria (NSPK) dari

tiap-tiap sektor; serta

• (2) memantapkan kebijakan dan regulasi otonomi

daerah dan otonomi khusus seperti Provinsi

Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), Provinsi Papua

dan provinsi Pupua Barat serta daerah

berkarakter khusus, seperti Provinsi DKI Jakarta

dan Provinsi DI Yogyakarta.

Gaya Kepemimpinan daerah

• Peran Kepemimpinan dalam Pelaksanaan

Otonomi Daerah dalam Undang-undang

Nomor 32 Tahun 2004 telah diamanahkan

bahwa tugas dan kewenangan sebagian

urusan pemerintahan diserahkan kepada

daerah melalui desentralisasi kewenangan

dan dengan memperkuat otonomi daerah

• Di era Otonomi daerah menuntut adanya

keterbukaan, akuntabilitas, ketanggapan,

dan kreatifitas dari segenap aparatur

Negara, sehingga peran kepemimpinan

sangat dibutuhkan

Lanjutan …

Menurut J. Kaloh, (2002,194) mengemukakan bahwa dalam pengembangan

kemampuan kepemimpinan khususnya Sumber daya aparatur dalam era

otonomi daerah diperlukan pengembangan sifat-sifat sebagai berikut :

• Kemampuan untuk mengembangkan jaringan-jaringan kerja sama

(network), Networking diperlukan oleh karena manusia tidak lagi hidup

terpisah-pisah tetapi berhubungan satu sama lain. Manusia hidup tanpa

sekat, sehingga yang dapat survive adalah manusia yang ahli dalam

networking. Dunia perdagangan bebas akan semakin lancar apabila ada

network.

• Kemampuan kerjasama (teamwork). Setiap orang dalam masyarakat

mempunyai kesempatan untuk mengembangkan keunggulan spesifikasinya.

Kepemimpinan yang telah mengembangkan spesifikasinya akan dapat

membangun suatu teamwork yang pada gilirannya dapat menghasilkan kerja

yang unggul terutama dalam pemberian pelayanan kepada masyarakat.

• Keinginan melakukan kerja yang berkualitas tinggi. Seorang pemimpin

adalah mereka yang terus menerus meningkatkan pengetahuan dan

keterampilan dalam melaksanakan sesuatu sehingga kualitas yang dicapai

had ini akan ditingkatkan hari esok dan seterusnya. Otonomi daerah

menghendaki adanya peran kepemimpinan yang maksimal dalam memacuh dan

mengembangkan daerahnya demi tercapainya kesejahteraan masyarakat.

Unsur penting lain yang perlu diperhatikan

kepemimpinan dalam pelaksanaan Otonomi Daerah

adalah dibentuknya kreativitas yang tinggi dalam

organisasi, seperti :

• 1. Pentingnya mendorong kreatifitas pegawai,

agar mampu menciptakan sesuatu yang baru yang

dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

• 2. Melakukan perubahan cara kerja tradisional

menuju manajemen modem, pemerintahan yang

bersih, akuntabilitas clan pemberdayan

masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan.

program peningkatan profesionalisme aparat

Pemerintah daerah

• (1) meningkatkan kompetensi dan kapasitas

aparatur pemda pada bidang penanganan bencana

dan pengurangan resiko bencana, penganalisisan

kependudukan, perencanaan kesempatan kerja,

penyusunan strategi investasi, penanganan

kententraman, ketertiban dan perlindungan

masyarakat (tramtib dan linmas), serta

penyelenggaraan pemerintahan daerah; serta

• (2) meningkatkan etika kepemimpinan daerah bagi

kepala daerah dan dewan perwakilan rakyat

daerah (DPRD)

program peningkatan kapasitas keuangan Pemerintah daerah



• (1) meningkatkan kapasitas keuangan pemerintah daerah dengan mengarahkan penggunaan dana

perimbangan untuk menggali sumber-sumber potensi daerah di dalam meningkatkan perekonomian dan

menciptakan kondisi kondusif bagi dunia usaha, termasuk melaksanakan sistem informasi pengelolaan

keuangan daerah (SIPKD) dan sisten informasi keuangan daerah (SIKD);

• (2) Disahkannya PP No. 58 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, serta peraturan

turunannya, yaitu Permendagri No. 13 Tahun 2006 dan Permendagri No. 59 Tahun 2007 tentang

Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. PP No. 58 Tahun 2008 tersebut merupakan revisi PP No. 105

Tahun 2000 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah yang merupakan penjabaran dari 3 paket Undang-

Undang Keuangan Negara, yaitu Undang-undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara,

Undang-Undang No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, UU No. 15 Tahun 2004 tentang

Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara;

• (3) Disahkannya PP No. 21 Tahun 2007 tentang perubahan ketiga atas PP No. 24 Tahun 2004 tentang

Kedudukan Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD;

• 4) menyelesaikan Revisi Kepmendagri No. 29 tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan,

Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tata Cara Penyusunan Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan

Perhitungan APBD;

• (5) menyelesaikan revisi beberapa Kepmendagri/Permendagri lainnya di bidang pengelolaan keuangan

• daerah;

• (6) meyusun RUU BUMD sebagai revisi

• (7) menyusun Revisi UU No. 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 18 Tahun

1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah;

• (8) membangun dan mengembangkan sistem informasi BAKD dan sistem informasi pengelolaan

keuangan daerah (SIPKD) di 171 daerah terpilih;

• (9) menyusun panduan/pedoman pengembangan corporate plan BUMD yang partisipatif dengan

menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan perusahaan yang sehat; serta

• (10) melakukan fasilitasi, pembinaan, bimbingan teknis, asistensi, penyusunan kebijakan bagi

pemerintah daerah di bidang: administrasi anggaran daerah, administrasi pendapatan dan investasi

daerah, fasilitasi dana perimbangan serta fasilitasi pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan

daerah

Surat Edaran No. 541/1264/SJ

tanggal 15

Mei 2008, sebagai pedoman pemda guna menjaga stabilitas

penyelenggaraan pemerintahan, serta stabilitas politik lokal yang



berisi antara lain



• (1) mendukung program pemerintah dalam pemberian bantuan sosial dan

jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas) dan Raskin, pemberdayaan

masyarakat melalui PNPM Mandiri, dan bantuan Kredit Untuk Rakyat (KUR);

• (2) melakukan efisiensi belanja daerah melalui penataan kembali program

dan kegiatan yang tidak memberikan manfaat langsung kepada masyarakat,

dengan mengutamakan program/kegiatan pemberdayaan masyarakat,

penciptaan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan;

• (3) secara khusus perlu pembatasan perjalanan dinas, kunjungan kerja, studi

banding, penyelenggaraan rapat-rapat yang dilaksanakan di luar kantor, dan

mengurangi berbagai kegiatan workshop, seminar, maupun lokakarya; serta

• (4) melakukan penghematan penggunaan energi listrik dengan cara

melakukan penghematan listrik di kantorkantor pemda dan bangunan yang

dikelola

III. Tindak Lanjut yang Diperlukan



Berdasarkan permasalahan dan beberapa pencapaian dalam upaya

mempercepat revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi

daerah, beberapa tindak lanjut yang diperlukan, antara lain, sebagai

berikut. Terkait dengan upaya penataan peraturan perundang-

undangan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah, tindak

lanjut yang diperlukan, antara lain, adalah :

• (1) sosialisasi dan implementasi perundang-undangan, terutama

terkait dengan kebijakan desentralisasi di daerah berkarakter

khusus dan daerah istimewa;

• (2) harmonisasi peraturan perundang-undangan lintas sektor

dengan cara penyesuaian NSPK tiap-tiap sektor, serta sinkronisasi

perda dengan peraturan di atasnya; serta

• 3) penyempurnaan regulasi bidang otonomi daerah dan penyelesaian

instrumen peraturan perundangan pendukungnya.

http://herwanparwiyanto.staff.uns.ac.id

Terkait dengan program peningkatan

profesionalisme aparat Pemerintah daerah,

beberapa tindak lanjut yang diperlukan sbb



• (1) meningkatkan kompetensi dan kapasitas

aparatur pemda pada bidang penanganan bencana

dan pengurangan resiko bencana, penganalisisan

kependudukan, perencanaan kesempatan kerja,

penyusunan strategi investasi, penanganan

kententraman, penertiban dan perlindungan

masyarakat (tramtib dan linmas), dan

penyelenggaraan pemerintahan daerah; serta

• (2) meningkatkan etika kepemimpinan kepala

daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah

(DPRD).

Dalam upaya optimalisasi pengelolaan keuangan daerah,

sumber-sumber penerimaan daerah, penataan regulasi



bidang keuangan, serta penyediaan sistem informasi

pengelolaan keuangan daerah, dilakukan :

• (1) melaksanakan fasilitasi rencana anggaran daerah dan

evaluasi kinerja anggaran daerah, fasilitasi penyusunan

APBD, fasilitasi evaluasi APBD dan rancangan perubahan

APBD;

• (2) melaksanakan fasilitasi di bidang pajak daerah, retribusi,

investasi dan aset daerah, lembaga keuangan dan BUMD,

pinjaman dan obligasi daerah;

• (3) melaksanakan review komprehensif terhadap pelaksanaan

program dan kegiatan yang pendanaannya bersumber dari

dana perimbangan


Related docs
Other docs by HC111116231859
apparatusSpecs70
Views: 0  |  Downloads: 0
Ejemplo
Views: 0  |  Downloads: 0
AP PSYCHOLOGY
Views: 7  |  Downloads: 0
North Central State College
Views: 4  |  Downloads: 0
Public Oversight in Austria
Views: 0  |  Downloads: 0
ALGEBRA
Views: 4  |  Downloads: 0
rn lpn endorsement
Views: 4  |  Downloads: 0
REPUBLIC OF SOUTH AFRICA
Views: 6  |  Downloads: 0
ETIKA PROFESI DI BIDANG IT
Views: 118  |  Downloads: 0
Etika dalam Bisnis
Views: 56  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!