ASET TIDAK BERWUJUD
Buletin Teknis ATB
Daftar Isi
1 BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................... 3
1.1 LATAR BELAKANG ................................................................................................................ 3
1.2 PERMASALAHAN SEPUTAR ASET TIDAK BERWUJUD................................................... 3
1.3 TUJUAN DAN LINGKUP ......................................................................................................... 4
1.3.1 Tujuan .................................................................................................................. 5
1.3.2 Lingkup ................................................................................................................ 5
2 BAB II ASET TIDAK BERWUJUD.................................................................................................. 6
2.1 PENGERTIAN ASET TIDAK BERWUJUD ............................................................................. 6
2.2 KRITERIA ATB ......................................................................................................................... 7
2.2.1 Dapat Diidentifikasi ............................................................................................ 7
2.2.2 Pengendalian ....................................................................................................... 8
2.2.3 Manfaat Ekonomi Masa Depan ........................................................................... 8
2.3 JENIS-JENIS ASET TIDAK BERWUJUD ................................................................................ 9
2.3.1 Jenis Sumber Daya .............................................................................................. 9
2.3.2 Cara Perolehan ................................................................................................. 10
2.3.3 Masa Manfaat.................................................................................................... 11
3 BAB III PENGAKUAN.................................................................................................................... 12
3.1 PRINSIP UMUM PENGAKUAN ............................................................................................ 12
3.1.1 Pengakuan ATB yang diperoleh secara internal. ............................................. 13
3.1.2 Perlakuan khusus untuk software komputer ...................................................... 15
3.1.3 Perlakuan untuk hak paten ................................................................................ 18
3.1.4 ASET TIDAK BERWUJUD dalam pengerjaan ................................................. 18
4 BAB IV PENGUKURAN ................................................................................................................. 19
4.1 PENGUKURAN PADA SAAT PEROLEHAN........................................................................ 19
4.1.1 Pengukuran ATB yang Diperoleh secara External ........................................... 19
4.1.2 Pengembangan secara internal ......................................................................... 20
4.1.3 Aset budaya/bersejarah tak berwujud (intangible heritage assets) .................. 20
4.2 PENGUKURAN SETELAH PEROLEHAN ............................................................................ 20
5 BAB V AMORTISASI DAN PENURUNAN NILAI ...................................................................... 20
5.1 AMORTISASI .......................................................................................................................... 22
5.1.1 Metode Amortisasi ............................................................................................. 22
5.1.2 Amortisasi untuk aset tidak berwujud dengan masa manfaat terbatas ............. 23
5.1.3 Amortisasi untuk aset tidak berwujud dengan masa manfaat tak terbatas ....... 23
5.2 PENURUNAN NILAI (IMPAIRMENT).................................................................................. 23
6 BAB VI PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN ........................................................................... 26
6.1 AKUNTANSI ASET TIDAK BERWUJUD ............................................................................ 26
6.2 PENYAJIAN ATB .................................................................................................................... 27
Komite Standar Akuntansi Pemerintah i
Buletin Teknis ATB
6.3 PENGUNGKAPAN ATB ......................................................................................................... 27
6.3.1 Pengeluaran Riset dan Pengembangan ............................................................ 28
6.3.2 Informasi Lain ................................................................................................... 28
7 BAB VII ILUSTRASI ...................................................................................................................... 29
7.1 SOFTWARE................................................................................................................................. 29
7.2 PATENT ................................................................................................................................... 29
7.3 PENGEMBANGAN ................................................................................................................. 29
7.4 PENGEMBANGAN SOFTWARE SECARA INTERNAL...................................................................... 30
7.5 PERPANJANGAN LISENSI SOFTWARE ........................................................................................ 31
Buletin Teknis ATB
1 1 BAB I
2 PENDAHULUAN
3 1.1 LATAR BELAKANG
4 Sejalan dengan telah diterbitkan dan diimplementasikannya Standar Akuntansi
5 Pemerintahan (SAP) dalam rangka penyusunan laporan keuangan pemerintah, yang
6 disusun oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP), perkembangan akuntansi
7 pemerintahan di Indonesia telah berlangsung dengan sangat dinamis serta komplikatif
8 dengan adanya berbagai permasalahan dalam pengelolaan keuangan pemerintahan. Oleh
9 karenanya SAP yang telah digunakan oleh Pemerintah Pusat maupun pemerintah daerah
10 sebagai acuan dalam menyusun Laporan Keuangannya, dipandang perlu dilengkapi untuk
11 dapat memenuhi kebutuhan penyusun dan pengguna baik Laporan Keuangan Pemerintah
12 Pusat (LKPP) maupun Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD).
13 Beberapa permasalahan dimaksud yang cukup memerlukan perhatian dan perlakuan
14 tertentu, salah satunya adalah transaksi-transaksi yang terkait dengan Aset Tidak Berwujud
15 (ATB). Dalam PP 71/2010 Lampiran 2, ATB belum diatur secara terperinci. Paragraf 50
16 PSAP 01 tentang Penyajian Laporan Keuangan menyatakan bahwa ATB merupakan bagian
17 dari Aset Nonlancar yang digunakan secara langsung atau tidak langsung untuk kegiatan
18 pemerintah atau yang digunakan masyarakat umum. Kemudian pada paragraf 60
19 disebutkan bahwa ATB adalah merupakan bagian dari Aset Nonlancar lainnya yang di
20 neraca diklasifikasikan dan disajikan sebagai Aset Lainnya. Penjelasan yang lebih terinci
21 mengenai ATB terdapat pada Buletin Teknis 01 mengenai Penyusunan Neraca Awal
22 Pemerintah Pusat. Selain definisi ATB dan penjelasan bahwa ATB merupakan bagian dari
23 Aset Lainnya, Buletin Teknis 01 menguraikan jenis-jenis atau cakupan dari ATB tersebut
24 yang meliputi; Software komputer, lisensi dan franchise, hak cipta (copyright); paten; dan hak
25 lainnya, serta hasil kajian/pengembangan yang memberikan manfaat jangka panjang, serta
26 memberikan ilustrasi dan jurnal untuk mencatat saldo awal ATB.
27 Dengan penjelasan yang sangat minim ini tentu saja berpotensi pada kurang
28 akuratnya pencatatan terhadap transaksi ATB tersebut. Sebagai bagian dari neraca, ATB
29 juga memerlukan standar akuntansi untuk memberi penjelasan yang terkait dengan
30 pengakuan, pengukuran, serta pengungkapan dan penyajian dalam laporan keuangan.
31 Selain itu juga terdapat kemungkinan adanya perlakuan khusus, contohnya yang terkait
32 dengan amortisasi dan penghentian serta penghapusannya.
33 1.2 PERMASALAHAN SEPUTAR ASET TIDAK BERWUJUD
34 Dalam praktiknya terdapat beberapa permasalahan pencatatan ATB di beberapa
35 Kementrian/Lembaga (K/L) maupun Pemda antara lain dalam hal pengidentifikasian dan
36 pencatatan hasil kajian, pengidentifikasian dan pencatatan ATB yang diperoleh dari dana
37 bantuan penelitian instansi lain dan sharing dana penelitian bersama, penilaian dan
38 pencatatan paten, serta pengidentifikasian dan pencatatan software.
Komite Standar Akuntansi Pemerintah 3
Buletin Teknis ATB
1 Permasalahan yang sering timbul terkait dengan Hasil Kajian/Pengembangan adalah
2 menentukan bagaimana kriteria memberikan manfaat dalam jangka panjang dan yang
3 tidak. Tidak jelasnya batasan manfaat dalam jangka panjang yang akan diperoleh dapat
4 berakibat pada ketidakakuratan pencatatan yang berujung pada overstated atau understated
5 atas nilai ATB dalam neraca.
6 Permasalahan lain yang timbul sehubungan dengan ATB adalah kepemilikannya bila
7 didanai lebih dari satu K/L. Sebagai contoh, pada K/L yang mempunyai alokasi dana
8 bantuan penelitian seperti Kementerian Negara Riset dan Teknologi, yang dananya
9 disalurkan kepada instansi-instansi pemerintah lain untuk melakukan penelitian seperti
10 LIPI, BPPT, dan lainnya. Apabila hasil penelitian ini nantinya menjadi suatu ATB, timbul
11 pertanyaan instansi mana yang berhak mencatat ATB tersebut. Di dalam pasal 5 ayat (1)
12 Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2005 tentang Alih Teknologi Kekayaan Intelektual
13 serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan oleh Perguruan Tinggi dan Lembaga
14 Penelitian dan Pengembangan, hanya disebutkan bahwa Kekayaan intelektual serta hasil
15 kegiatan penelitian dan pengembangan oleh perguruan tinggi dan lembaga penelitian dan
16 pengembangan yang dibiayai sepenuhnya oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah
17 merupakan milik Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. Pasal ini tidak menjelaskan
18 mengenai kepemilikan apabila baik pemberi dana maupun penerima dana penelitian adalah
19 sesama instansi pemerintah.
20 K/L juga sering dihadapi dengan masalah kapan saatnya suatu ATB dapat dicatat di
21 neraca. Pada beberapa K/L, terdapat perbedaan dalam penilaian ATB khususnya yang
22 terkait dengan pencatatan paten. Kasus pada LIPI, terdapat pendapat bahwa paten yang
23 dicatat dalam neraca sebagai ATB adalah yang sudah tersertifikasi. Sedangkan yang belum
24 tersertifikasi tidak dimasukkan sebagai ATB pada neraca. Terdapat pendapat lain bahwa
25 semua paten baik yang tersertifikasi maupun belum harus dicatat di neraca sebagai ATB.
26 Selain beberapa permasalahan di atas masih ada permasalahan lain terkait ATB yang
27 terjadi di Pemerintah Pusat maupun pemerintah daerah, contohnya mengenai Software
28 Komputer. Kebanyakan K/L ataupun Satuan Kerja Perangkat Daerah belum mempunyai
29 pedoman untuk mengklasifikasikan software komputer yang masuk kategori Peralatan dan
30 Mesin ataupun yang masuk dan dicatat sebagai ATB. Dengan demikian berdasarkan
31 permasalahan-permasalahan tersebut, maka diperlukan pedoman teknis yang dituangkan
32 dalam Buletin Teknis ini agar terdapat persamaan persepsi dalam hal pengakuan,
33 pencatatan dan pengungkapannya.
34 1.3 TUJUAN DAN LINGKUP
35 Melihat kompleksitas berbagai macam transaksi ATB dan kemungkinan tingkat
36 materialitas yang cukup signifikan yang dapat mempengaruhi keakuratan laporan
37 keuangan, maka Buletin Teknis tentang ATB ini menjadi sangat krusial untuk disusun dan
38 dipedomani. Tidak saja diperlukan untuk memberikan jawaban atas permasalahan yang
39 timbul, namun juga memberikan kepastian hukum dan menjamin kewajaran penyajian
40 setiap transaksi ATB pada LKPP dan LKPD.
Buletin Teknis ATB
1 1.3.1 TUJUAN
2 Tujuan dari Buletin Teknis ini adalah untuk memberikan pedoman perlakuan
3 akuntansi atas ATB yang tidak secara khusus diatur pada satu standar atau bulletin teknis
4 lainnya. Buletin teknis ini mewajibkan entitas pemerintah untuk mengakui ATB jika, dan
5 hanya jika telah memenuhi kriteria yang ditetapkan. Buletin Teknis ini juga menguraikan
6 bagaimana mengukur nilai tercatat atas ATB dan menguraikan pengungkapan yang
7 diharuskan berkenaan dengan ATB.
8 1.3.2 LINGKUP
9 Buletin teknis ini mengatur perlakuan ATB pemerintah, kecuali:
10 1. Kewenangan untuk memberikan perijinan oleh instansi pemerintah
11 2. Kewenangan untuk menarik pungutan perpajakan oleh intansi pemerintah
12 3. ATB yang dimiliki untuk dijual oleh entitas dalam rangka operasi normal (diakui
13 sebagai persediaan)
14 4. Hak pengusahaan hutan
15 5. Hak pengusahaan jalan tol
16 6. Hak pengelolaan suatu wilayah
17 7. Hak penambangan dan pengeluaran yang dilakukan dalam rangka eksplorasi,
18 pengembangan dan penambangan mineral, minnyak, gas alam, dan sumber daya
19 lainnya yang tidak dapat diperbarui.
Buletin Teknis ATB
1 2 BAB II
2 ASET TIDAK BERWUJUD
3 2.1 PENGERTIAN ASET TIDAK BERWUJUD
4 ATB merupakan salah satu jenis aset yang berpotensi dimiliki oleh
5 kementerian/lembaga/pemerintah daerah. Aset ini juga sering dihubungkan dengan hasil
6 kegiatan entitas dalam menjalankan tugas dan fungsi penelitian dan pengembangan dan
7 sebagian diperoleh dari proses pengadaan dari luar entitas. Walaupun telah banyak ATB
8 yang diidentifikasi dimiliki pemerintah, namun SAP belum mengatur secara memadai
9 tentang akuntansi dan pelaporan ATB ini. Pengertian, kriteria, dan jenis-jenis ATB harus
10 benar-benar dipahami agar aset ini benar-benar dipertanggungjawabkan secara akuntabel
11 dan transparan.
12 Pemerintah banyak mengeluarkan sumber daya untuk melakukan kegiatan-kegiatan
13 dalam rangka memperoleh, mengembangkan, memelihara, dan memperkuat sumber daya
14 tak berwujud, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, rancangan dan implementasi suatu
15 sistem atau proses yang baru, dan kekayaan intelektual. Berbagai entitas berupaya untuk
16 terus melakukan riset dan pengembangan, terlebih bagi entitas yang mempunyai tugas dan
17 fungsi melakukan kegiatan riset dan penelitian, yang sebagian besar anggarannya
18 dialokasikan untuk riset dan pengembangan. Namun apakah semua hasil yang diperoleh
19 dari kegiatan dimaksud merupakan ATB.
20 Secara umum, ATB didefinisikan sebagai aset non-moneter yang dapat diidentifikasi
21 dan tidak mempunyai wujud fisik. Aset non-moneter artinya aset ini bukan merupakan kas
22 atau setara kas atau aset yang akan diterima dalam bentuk kas yang jumlahnya pasti atau
23 dapat ditentukan. Banyak aset, misalnya aset tetap, memiliki bentuk fisik. Namun demikian,
24 bentuk fisik tersebut tidak esensial untuk menentukan keberadaan aset; karena itu, paten
25 dan hak cipta, misalnya, merupakan aset pemerintah apabila pemerintah dapat memperoleh
26 manfaat ekonomi di masa depan dan pemerintah menguasai masing-masing aset tersebut.
27 Sebagai salah satu unsur dari aset, ATB juga harus memenuhi kriteria aset terlebih
28 dahulu untuk dapat dipertanggungjawabkan dalam laporan keuangan. Kerangka
29 Konseptual Akuntansi Pemerintah paragraph 84 menyatakan bahwa “aset diakui pada saat
30 potensi manfaat ekonomi masa depan diperoleh pemerintah dan mempunyai nilai atau
31 biaya yang dapat diukur dengan andal”. Pengertian mengenai potensi manfaat ekonomi
32 masa depan sering kali menimbulkan keraguan dari kementerian/lembaga/pemerintah
33 daerah untuk menetapkan apakah suatu kegiatan mempunyai potensi manfaat ekonomi
34 masa depan atau tidak.
35 Pengertian akan potensi manfaat ekonomi masa depan dalam definisi aset juga
36 diuraikan pada Kerangka Konseptual Akuntansi Pemerintah paragraph 61 yaitu ”potensi
37 aset tersebut untuk memberikan sumbangan, baik langsung maupun tidak langsung, bagi
38 kegiatan operasional pemerintah, berupa aliran pendapatan atau penghematan belanja bagi
39 pemerintah”. Lebih jauh lagi dalam IPSAS # 1, Presentation of Financial Statements
40 menambahkan “service potential” selain manfaat ekonomis dalam definisi aset.
Buletin Teknis ATB
1 Potensi tersebut dapat berbentuk sesuatu yang produktif dan merupakan bagian dari
2 aktivitas operasional pemerintah. Mungkin pula berbentuk sesuatu yang dapat diubah
3 menjadi kas atau setara kas atau berbentuk kemampuan untuk mengurangi pengeluaran
4 kas, seperti penurunan biaya akibat penggunaan proses produksi alternatif.
5 Potensi manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aset dapat mengalir ke
6 dalam pemerintah dengan beberapa cara. Misalnya, aset dapat:
7 1. digunakan baik sendiri maupun bersama aset lain dalam operasional pemerintah;
8 2. dipertukarkan dengan aset lain;
9 3. digunakan untuk menyelesaikan kewajiban pemerintah;
10 Dengan memperhatikan pengertian aset dan ATB diatas, perlu diperhatikan secara
11 cermat bahwa dalam menentukan suatu aset tetap harus memenuhi kriteria untuk dapat
12 diperlakukan sebagai ATB. Apabila hasil penilaian atas kriteria tersebut ternyata bahwa
13 pengeluaran tersebut tidak memenuhi pengertian ATB sebagaimana dipersyaratkan pada
14 bagian 2.2, maka pengeluaran biaya yang terjadi untuk memperoleh atau mengembangkan
15 aset secara internal dimaksud tidak dapat diakui sebagai ATB dan seluruh biaya yang
16 terjadi langsung dibebankan sebagai biaya pada tahun terjadinya pengeluaran.
17 2.2 KRITERIA UMUM ATB
18 Definisi ATB mensyaratkan bahwa ATB harus memenuhi kriteria dapat diidentifikasi,
19 dikendalikan oleh entitas, dan mempunyai potensi manfaat ekonomi masa depan. Masing-
20 masing unsur tersebut diuraikan dibawah ini.
21 2.2.1 DAPAT DIIDENTIFIKASI
22 Yang dimaksud dengan kriteria dapat identifikasi adalah:
23 1. Dapat dipisahkan, artinya aset ini memungkinkan untuk dipisahkan atau dibedakan
24 secara jelas dari aset-aset yang lain pada suatu entitas. Oleh karena aset ini dapat
25 dipisahkan atau dibedakan dengan aset yang lain, maka ATB ini dapat dijual,
26 dipindahtangankan, diberikan lisensi, disewakan, ditukarkan, baik secara individual
27 maupun secara bersama-sama. Namun demikian tidak berarti bahwa ATB baru diakui
28 dan disajikan di neraca jika entitas bermaksud memindahtangankan, menyewakan, atau
29 memberikan lisensi kepada pihak lain. Identifikasi serta pengakuan ini harus dilakukan
30 tanpa memperhatikan apakah entitas tersebut bermaksud melakukannya atau tidak;
31 atau
32 2. Timbul dari kesepakatan yang mengikat, seperti hak kontraktual atau hak hukum
33 lainnya, tanpa memperhatikan apakah hak tersebut dapat dipindahtangankan atau
34 dipisahkan dari entitas atau dari hak dan kewajiban lainnya.
35 Kriteria dapat dipisahkan harus digunakan secara hati-hati, mengingat dalam
36 perolehan aset pada suatu entitas kadang-kadang terjadi perolehan secara gabungan. Dalam
37 hal ATB diperoleh bersama dengan sekelompok aset lainnya, transaksi ini bisa juga meliputi
38 pengalihan hak hukum yang memungkinkan entitas untuk memperoleh manfaat masa
39 depan dari hak tersebut. Dalam hal demikian entitas tetap harus mengidentifikasi adanya
Buletin Teknis ATB
1 ATB tersebut. Beberapa ATB biasanya dapat dipisahkan dengan aset lainnya, seperti paten,
2 hak cipta, merk dagang, dan franchise.
3 Sebagai ilustrasi, suatu entitas membeli hardware, software, dan modul untuk
4 kegiatan tertentu. Sepanjang software tersebut dapat dipisahkan dari hardware terkait dan
5 memberikan manfaat masa depan maka software tersebut diidentifikasi sebagai ATB.
6 Sebaliknya dalam hal software komputer ternyata tidak dapat dipisahkan dari hardware
7 yang tertentu, tanpa adanya software tersebut hardware tidak dapat beroperasi, maka
8 software tersebut tidak dapat dipisahkan dengan hardware tersebut dan tidak dapat
9 diperlakukan sebagai ATB tetapi sebagai bagian tak terpisahkan dari hardware dan diakui
10 sebagai bagian dari peralatan dan mesin.
11 2.2.2 PENGENDALIAN
12 Selain persyaratan dapat diidentifikasi sebagaimana diuraikan di muka, pengendalian
13 merupakan syarat lainnya yang harus dipenuhi. Tanpa adanya kemampuan untuk
14 mengendalikan aset maka sumber daya dimaksud tidak dapat diakui sebagai aset suatu
15 entitas.
16 Suatu entitas disebut ”mengendalikan aset” jika entitas memiliki kemampuan untuk
17 memperoleh manfaat ekonomi masa depan yang timbul dari aset tersebut dan dapat
18 membatasi akses pihak lain dalam memperoleh manfaat ekonomi dari aset tersebut.
19 Kemampuan untuk mengendalikan aset ini pada umumnya didasarkan pada dokumen
20 hukum yang sah dari lembaga yang berwenang, namun demikian dokumen hukum ini
21 bukanlah sebagai suatu prasyarat yang wajib dipenuhi karena mungkin masih terdapat cara
22 lain yang digunakan entitas untuk mengendalikan hak tersebut.
23 Pada suatu instansi, pemerintah bisa memperoleh manfaat ekonomi masa depan
24 karena adanya pengetahuan teknis yang dimilikinya. Pengetahuan teknis ini dapat
25 diperoleh dari riset atau pengembangan atau mungkin dari pendidikan dan pelatihan yang
26 dilakukan. Dalam kondisi demikian timbul pertanyaan, apakah entitas mempunyai
27 kemampuan untuk mengendalikan pengetahuan teknis yang diperoleh dari riset dan
28 pengembangan tersebut. Kemampuan untuk mengendalikan ini harus dibuktikan dengan
29 adanya hak cipta (copyrights), tanpa adanya hak cipta sulit bagi entitas untuk
30 mengendalikan sumber daya tersebut.
31 2.2.3 MANFAAT EKONOMI MASA DEPAN
32 Karakteristik aset secara umum adalah kemampuannya untuk dapat memberikan
33 manfaat ekonomis dan jasa potensial (potential services). Manfaat ekonomis dapat
34 menghasilkan aliran masuk atas kas, setara kas, barang, atau jasa ke pemerintah, sedangkan
35 jasa yang melekat pada aset dapat saja memberiksan manfaat kepada pemerintah dalam
36 bentuk lainnya, misalnya dalam meningkatkan pelayanan publik sebagai salah satu tujuan
37 utama pemerintah.
38 Manfaat ekonomi masa depan yang dihasilkan oleh ATB juga dapat berupa
39 pendapatan yang diperoleh dari penjualan barang atau jasa, penghematan biaya atau
40 efisiensi, dan hasil lainnya seperti pendapatan dari penyewaan, pemberian lisensi, atau
41 manfaat lainnya yang diperoleh dari pemanfaatan ATB. Manfaat lain ini bisa berupa
42 peningkatan kualitas layanan atau keluaran, proses pelayanan yang lebih cepat, atau
Buletin Teknis ATB
1 penurunan jumlah tenaga yang diperlukan untuk melaksanakan suatu tugas dan fungsi.
2 Sebagai contoh, penerapan sistem on-line untuk perpanjangan Surat Ijin Mengemudi (SIM
3 Keliling) mempercepat pemrosesan yang selanjutnya meningkatkan pelayanan pemerintah
4 kepada masyarakat.
5 2.3 JENIS-JENIS ASET TIDAK BERWUJUD
6 ATB terus berkembang dari waktu ke waktu. Di masa lalu ATB pada umumnya hanya
7 dikenal di dunia komersial, seperti adanya goodwill yang timbul dari penggabungan unit
8 usaha, hak paten, dan hak cipta. Namun selanjutnya ATB ini terus berkembang, termasuk
9 yang dihasilkan oleh instansi pemerintah.
10 ATB yang dimiliki dan/atau dikuasai pemerintah dapat dibedakan berdasarkan jenis
11 sumber daya, cara perolehan, dan masa manfaat.
12 2.3.1 JENIS SUMBER DAYA
13 Berdasarkan jenis sumber daya, ATB pemerintah dapat berupa:
14 1. Software computer, yang dapat disimpan dalam berbagai media penyimpanan seperti
15 compact disk, disket, pita, dan media penyimpanan lainnya;
16 Software computer yang masuk dalam kategori ATB adalah software yang bukan
17 merupakan bagian tak terpisahkan dari hardware komputer tertentu. Jadi software ini
18 dapat digunakan di komputer lain. Oleh karena itu software komputer sepanjang
19 memenuhi definisi dan kriteria pengakuan merupakan ATB.
20 2. Lisensi dan franchise
21 Adalah izin yang diberikan pemilik Hak Paten atau Hak Cipta yang diberikan kepada
22 pihak lain berdasarkan perjanjian pemberian hak untuk menikmati manfaat ekonomi
23 dari suatu Hak Kekayaan Intelektual yang diberi perlindungan dalam jangka waktu dan
24 syarat tertentu.
25 3. Hak Paten, Hak Cipta.
26 Hak-hak ini pada dasarnya diperoleh karena adanya kepemilikan kekayaan intelektual
27 atau atas suatu pengetahuan teknis atau suatu karya yang dapat menghasilkan manfaat
28 bagi entitas. Di samping itu dengan adanya hak ini dapat mengendalikan pemanfaatan
29 aset tersebut dan membatasi pihak lain yang tidak berhak untuk memanfaatkannya.
30 Oleh karena itu Hak Paten dan Hak Cipta sepanjang memenuhi definisi dan kriteria
31 pengakuan merupakan ATB.
32 4. Hasil Kajian/Pengembangan Yang Memberikan Manfaat Jangka Panjang
33 Hasil kajian/pengembangan yang memberikan manfaat jangka panjang adalah suatu
34 kajian atau pengembangan yang memberikan manfaat ekonomis dan/atau sosial
35 dimasa yang akan datang yang dapat diidentifikasi sebagai aset. Apabila hasil kajian
36 tidak dapat diidentifikasi dan tidak memberikan manfaat ekonomis dan/atau sosial
37 maka tidak dapat diakui sebagai ATB.
38 5. ATB dari karya seni yang mempunyai nilai sejarah/budaya
Buletin Teknis ATB
1 Film, misalnya, pada dasarnya merupakan rekaman atas suatu peristiwa yang
2 mempunyai manfaat ataupun nilai bagi pemerintah ataupun masyarakat. Hal ini berarti
3 film tersebut mengandung nilai tertentu yang dapat mempunyai manfaat di masa depan
4 bagi pemerintah. Film/Karya Seni/Budaya biasanya merupakan heritage ATB.
5 6. ATB Dalam Pengerjaan
6 Suatu kegiatan perolehan ATB dalam pemerintahan, khususnya yang diperoleh secara
7 internal, sebelum selesai dikerjakan dan menjadi ATB, belum memenuhi salah satu
8 kriteria pengakuan aset yaitu digunakan untuk operasional pemerintah. Namun dalam
9 hal ini seperti juga aset tetap, aset ini nantinya juga diniatkan untuk digunakan dalam
10 pelaksanaan operasional pemerintahan, sehingga dapat diakui sebagai bagian dari ATB.
11 2.3.2 CARA PEROLEHAN
12 Berdasarkan cara perolehan, ATB dapat berasal dari:
13 1. Pembelian
14 Pembelian ATB bisa dilakukan secara terpisah (individual) maupun secara gabungan.
15 Hal ini akan berpengaruh pada identifikasi ATB serta pengukuran biaya perolehan.
16
17 2. Pengembangan secara internal
18 ATB dapat diperoleh melalui kegiatan pengembangan yang dilakukan secara internal
19 oleh suatu entitas. Perolehan dengan cara demikian akan berpengaruh terhadap
20 pengambilan keputusan tentang identifikasi kegiatan yang masuk lingkup riset serta
21 kegiatan-kegiatan yang masuk lingkup pengembangan yang memenuhi definisi dan
22 kriteria pengakuan ATB akan dikapitalisasi menjadi harga perolehan ATB.
23 3. Pertukaran
24 ATB dapat diperoleh melalui pertukaran dengan aset yang dimiliki oleh suatu entitas
25 lain.
26 4. Kerjasama
27 Pengembangan suatu ATB yang memenuhi definisi dan kriteria pengakuan dapat
28 dilakukan melalui kerja sama oleh dua entitas atau lebih. Hak dan kewajiban masing-
29 masing entitas harus dituangkan dalam suatu perjanjian, termasuk hak kepemilikan atas
30 ATB yang dihasilkan. Entitas yang berhak sesuai ketentuan yang akan mengakui
31 kepemilikan ATB yang dihasilkan, sementara entitas yang lain cukup mengungkapkan
32 hak dan kewajiban yang menjadi tangungjawabnya atas ATB tersebut.
33 5. Donasi/hibah
34 ATB, yang memenuhi definisi dan kriteria pengakuan, dapat berasal dari donasi atau
35 hibah, misalnya ada suatu perusahaan software yang memberikan software aplikasinya
36 kepada suatu instansi pemerintah untuk digunakan tanpa adanya imbalan yang harus
37 diberikan.
38 6. Warisan Budaya/Sejarah (intangible heritage assets)
Buletin Teknis ATB
1 Pemerintah dapat memegang banyak ATB yang berasal dari warisan sejarah, budaya,
2 atau lingkungan masa lalu. Aset ini pada umumnya dipegang oleh instansi pemerintah
3 dengan maksud tidak semata-mata untuk menghasilkan pendapatan, namun ada
4 alasan-alasan lain kenapa aset ini dipegang oleh pemerintah, misalnya karena
5 mempunyai nilai sejarah dan untuk mencegah penyalahgunaan hak atas aset ini oleh
6 pihak yang tidak bertanggung jawab. Suatu entitas harus mengidentifikasi dan
7 mengakui aset warisan ini sebagai ATB jika definisi dan kriteria pengakuan atas ATB
8 telah terpenuhi.
9
10 2.3.3 MASA MANFAAT
11 Berdasarkan masa manfaat, ATB dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
12 1. ATB dengan umur manfaat terbatas (finite life)
13 Umur manfaat ATB dalam kelompok ini dapat dibatasi dari umur atau banyaknya unit
14 produk yang dihasilkan, yang didasarkan pada harapan entitas untuk menggunakan
15 aset tersebut, atau faktor hukum atau faktor ekonomis mana yang lebih pendek.
16 2. ATB dengan umur manfaat yang tak terbatas (indefinite life)
17 Dari berbagai faktor relevan yang ada atas ATB, ATB tertentu diyakini tidak
18 mempunyai batas-batas periode untuk memberikan manfaat kepada entitas. Oleh
19 karena itu, atas ATB yang mempunyai umur manfaat yang tak terbatas, harus dilakukan
20 reviu secara berkala untuk melihat kemampuan aset tersebut dalam memberikan
21 manfaat.
Buletin Teknis ATB
1 3 BAB III
2 PENGAKUAN
3 3.1 PRINSIP UMUM PENGAKUAN
4 Untuk dapat diakui sebagai ATB maka suatu entitas harus dapat membuktikan bahwa
5 aktivitas/kegiatan tersebut telah memenuhi:
6 1. Definisi dari ATB; dan
7 2. Kriteria pengakuan.
8 Persyaratan ini berlaku untuk biaya yang diukur pada saat pengakuan (biaya
9 perolehan transaksi pertukaran atau untuk ATB yang dihasilkan dari internal entitas, atau
10 nilai wajar ATB pada saat diperoleh melalui transaksi yang bukan pertukaran) dan biaya
11 yang dikeluarkan setelah perolehan untuk menambah, mengganti atau memeliharanya.
12 Sifat alamiah ATB, dalam banyak kasus, adalah tidak adanya penambahan nilai
13 terhadap ATB tertentu atau penggantian dari sebagian ATB dimaksud. Oleh karena itu,
14 kebanyakan pengeluaran setelah perolehan dari ATB mungkin dimaksudkan untuk
15 memelihara kemungkinan manfaat ekonomi di masa datang atau jasa potensial yang
16 terkandung dalam ATB dimaksud dan tidak lagi merupakan upaya untuk memenuhi
17 definisi ATB dan kriteria pengakuannya. Dengan kata lain, seringkali sulit untuk
18 mengatribusikan secara langsung pengeluaran setelah perolehan terhadap suatu ATB
19 tertentu sehingga diperlakukan sebagai biaya operasional suatu entitas. Namun demikian,
20 apabila memang terdapat pengeluaran setelah perolehan yang dapat diatribusikan langsung
21 terhadap ATB tertentu, maka pengeluaran tersebut dapat dikapitalisasi ke dalam nilai ATB
22 dimaksud.
23 Sesuatu diakui sebagai ATB jika dan hanya jika:
24 1. Kemungkinan besar diperkirakan manfaat ekonomi di masa datang yang diharapkan
25 atau jasa potensial yang diakibatkan dari ATB tersebut akan mengalir kepada/dinikmati
26 oleh entitas; dan
27 2. Biaya perolehan atau nilai wajarnya dapat diukur dengan andal.
28 Suatu entitas harus menilai kemungkinan manfaat ekonomi di masa datang yang
29 diharapkan atau jasa potensial dengan menggunakan dukungan asumsi logis yang
30 mewakili estimasi terbaik dari manajemen tentang kondisi ekonomi yang akan hadir selama
31 umur ekonomis dari ATB. Entitas menggunakan pertimbangan untuk menilai derajat
32 kepastian aliran manfaat ekonomi di masa datang sebagai akibat dari penggunaan ATB
33 dengan basis bukti-bukti yang tersedia pada saat pengakuan awal, dengan lebih
34 menekankan pada bukti-bukti eksternal.
35
Buletin Teknis ATB
1 3.1.1 PENGAKUAN ATB YANG DIPEROLEH SECARA INTERNAL.
2 Kadangkala sulit untuk menentukan apakah pengembangan secara internal atas ATB
3 memenuhi prinsip-prinsip pengakuan, terutama dalam:
4 1. mengidentifikasi apakah dan kapan aset yang diidentifikasikan tersebut akan
5 menghasilkan manfaat ekonomi masa depan yang diharapkan; dan
6 2. menentukan biaya perolehan dari aset tersebut secara memadai. Dalam hal tertentu,
7 biaya untuk menghasilkan ATB yang dikembangkan secara internal tidak dapat
8 dipisahkan dengan biaya entitas operasional harian pemerintah.
9 Oleh karenanya, untuk melengkapi prinsip-prinsip umum pengakuan dan
10 pengukuran diatas atas ATB, entitas harus menerapkan persyaratan dan pedoman dibawah
11 ini.
12 Untuk menentukan apakah perolehan internal ATB memenuhi kriteria untuk
13 pengakuan, perolehan ATB dikelompokkan dalam 2 tahap, yaitu:
14 1. Tahap penelitian atau riset
15 2. Tahap pengembangan
16 Jika pemerintah tidak dapat membedakan tahap penelitian/riset dengan tahap
17 pengembangan atas aktivitas/kegiatan internal untuk menghasilkan ATB, pemerintah harus
18 memperlakukan seluruh pengeluaran atas aktivitas/kegiatan tersebut sebagai pengeluaran
19 dalam tahap penelitian/riset.
20 3.1.1.1 TAHAP PENELITIAN/RISET
21 Pengeluaran-pengeluaran untuk kegiatan/aktivitas penelitian/riset (atau tahap
22 penelitian/riset dari kegiatan/aktivitas internal) tidak dapat diakui sebagai ATB.
23 Pengeluaran-pengeluaran tersebut harus diakui sebagai beban pada saat terjadi.
24 Dalam tahap penelitian/riset dari kegiatan/aktivitas internal, pemerintah
25 tidak/belum dapat memperlihatkan bahwa ATB telah ada dan akan menghasilkan manfaat
26 ekonomi masa datang. Oleh karenanya, pengeluaran ini diakui sebagai biaya pada saat
27 terjadi.
28 Contoh-contoh dari kegiatan penelitian/riset adalah:
29 1. Kegiatan/aktivitas yang bertujuan untuk memperoleh pengetahuan baru (new
30 knowledge);
31 2. Pencarian untuk, evaluasi dan seleksi akhir atas, penerapan temuan hasil penelitian atau
32 pengetahuan lainnya;
33 3. Pencarian atas alternatif untuk material, peralatan, produk, proses, sistem ataupun
34 layanan;
35 4. Formula, rancangan, evaluasi dan seleksi akhir atas alternatif yang tersedia untuk
36 peningkatan material, peralatan, produk, proses, sistem dan layanan
Buletin Teknis ATB
1 3.1.1.2 TAHAP PENGEMBANGAN
2 ATB yang timbul dari pengembangan (atau dari tahapan pengembangan satu kegiatan
3 internal) harus diakui jika, dan hanya jika, pemerintah dapat memperlihatkan seluruh
4 kondisi dibawah ini, yaitu adanya:
5 1. Kelayakan teknis atas penyelesaian Aset Tidak Berwujud sehingga dapat tersedia untuk
6 digunakan atau dimanfaatkan;
7 2. Keinginan untuk menyelesaikan dan menggunakan atau memanfaatkan ATB tersebut;
8 3. Kemampuan untuk menggunakan dan memanfaatkan ATB tersebut;
9 4. Manfaat ekonomi dan atau sosial dimasa datang;
10 5. Ketersediaan sumber daya teknis, keuangan, dan lainnya yang cukup untuk
11 menyelesaikan pengembangan dan penggunaan atau pemanfaatkan Aset Tidak
12 Berwujud tersebut;
13 6. Kemampuan untuk mengukur secara memadai pengeluaran-pengeluaran yang
14 diatribusikan ke ATB selama masa pengembangan.
15 Dalam tahap pengembangan atas aktivitas/kegiatan internal, dalam beberapa kasus,
16 kemungkinan dapat diidentifikasikan adanya ATB dan menunjukkan bahwa aset tersebut
17 akan menghasilkan manfaat ekonomis dimasa datang. Hal ini dikarenakan tahap
18 pengembangan atas suatu aktivitas/kegiatan merupakan kelanjutan (further advance) atas
19 tahap penelitian/riset.
20 Namun apakah hasil pengembangan tersebut nantinya akan menjadi ATB atau tidak
21 haruslah terlebih dahulu memenuhi kriteria di atas. Apabila telah memenuhi kriteria di atas
22 dan ditetapkan menjadi ATB, maka hanya pengeluaran yang terjadi setelah seluruh kriteria
23 tersebut tercapai yang dapat dikapitalisasi menjadi nilai perolehan, sedangkan pengeluaran
24 yang terjadi sebelum memenuhi kriteria tersebut dianggap sebagai beban pada saat
25 terjadinya.
26 Satu hal yang paling krusial di dalam menentukan apakah sesuatu dapat ditetapkan
27 sebagai ATB adalah penentuan apakah aset tersebut dapat dianggap mempunyai atau akan
28 menghasilkan manfaat ekonomi atau sosial serta jasa potensial di masa yang akan datang.
29 Untuk menetapkan apakah suatu kajian/pengembangan menghasilkan manfaat ekonomi
30 dan atau sosial dimasa yang akan datang, suatu entitas harus mampu mengidentifikasi
31 mengenai:
32 1. Apa manfaat ekonomi dan atau sosial yang akan diperoleh dari hasil
33 kajian/pengembangan tersebut;
34 2. Siapa penerima manfaat ekonomi dan atau sosial tersebut;
35 3. Apakah aset tersebut akan digunakan oleh entitas atau pihak lain;
36 4. Jangka waktu manfaat tersebut akan diperoleh.
37 Contoh aktivitas-aktivitas pada tahap pengembangan adalah:
38 1. Desain, konstruksi dan percobaan sebelum proses produksi prototipe atau model;
39 2. Desain, konstruksi dan pengoperasian proyek percobaan proses produksi yang belum
40 berjalan pada skala ekonomis yang menguntungkan untuk produksi komersial;
Buletin Teknis ATB
1 3. Desain, konstruksi dan percobaan beberapa alternatif pilihan, untuk bahan, peralatan,
2 produk, proses, sistem atau pelayanan yang sifatnya baru atau sedang dikembangkan.
3 3.1.1.3 PENELITIAN DIBIAYAI INSTANSI LAIN
4 Pada praktek di pemerintahan terdapat dana penelitian yang dimiliki oleh suatu
5 instansi tertentu namun dana ini dapat dipergunakan untuk membiayai penelitian yang
6 dilakukan oleh perguruan tinggi atau lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan.
7 Sesuai dengan konsep belanja dalam pemerintah dan konsep entitas maka entitas yang
8 memiliki anggaran adalah yang berhak mencatat aset apabila dari belanja yang dikeluarkan
9 dari anggaran tersebut menghasilkan aset walaupun penelitiannya dilakukan oleh lembaga
10 lain. Hal ini juga sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 20 Tahun 2005 tentang Alih
11 Teknologi Kekayaan Intelektual serta Hasil Kegiatan Penelitian dan Pengembangan oleh
12 Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan bahwa perguruan tinggi
13 atau lembaga litbang yang memperoleh dana penelitian dari pemerintah tidak dapat
14 mengalihkan pemilikan kekayaan intelektual serta hasil kegiatan penelitian dan
15 pengembangan yang dilakukan. Ini menunjukkan bahwa tidak ada kontrol terhadap aset
16 yang dihasilkan yang merupakan salah satu kriteria untuk mengakui ATB.
17 Namun demikian instansi pemerintah yang memberikan dana tidak dapat serta merta
18 mengakui ATB tersebut, karena sesuai dengan karakteristik pengakuan ATB yang berasal
19 dari Penelitian dan Pengembangan, pengakuan terhadap ATB tersebut adalah harus sesuai
20 dengan kriteria pengakuan yaitu pada saat pengembangan sudah dapat dianggap
21 mempunyai manfaat ekonomi dan/atau jasa potensial dimasa yang akan datang. Biaya
22 perolehan ATB yang dihasilkan secara internal dari pengembangan adalah sejumlah
23 pengeluaran yang dilakukan sejak tanggal ATB pertama kali memenuhi kriteria pengakuan.
24 Sehingga tidak semua biaya penelitian yang telah dikeluarkan diakui sebagai ATB. Dengan
25 demikian harus ada penjelasan yang memadai dalam Catatan atas Laporan Keuangan
26 mengenai hal ini.
27 Dengan demikian pihak perguruan tinggi dan/atau lembaga litbang yang melakukan
28 penelitian tidak mencatat ATB tersebut, namun sesuai dengan pasal 10 PP 20/2005,
29 perguruan tinggi atau lembaga litbang tersebut adalah sebagai pengelola kekayaan
30 intelektual serta hasil kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilakukannya. Dalam
31 pasal 11 PP tersebut juga disebutkan bahwa perguruan tinggi dan lembaga litbang tersebut
32 mengupayakan perlindungan hukum atas pemilikan kekayaan intelektual serta hasil
33 kegiatan penelitian dan pengembangan. Dengan demikian apabila hasil penelitian tersebut
34 dipatenkan, dan biaya patennya dikeluarkan oleh instansi lembaga penelitian, maka ATB
35 berupa paten tersebut dicatat oleh lembaga penelitian sebesar jumlah biaya patennya.
36 3.1.2 PERLAKUAN KHUSUS UNTUK SOFTWARE KOMPUTER
37 Dalam pengakuan software komputer sebagai ATB, ada beberapa hal yang perlu
38 diperhatikan:
39 1. Untuk software yang diperoleh atau dibangun oleh internal instansi pemerintah dapat
40 dibagi menjadi dua, yaitu dikembangkan oleh instansi pemerintah sendiri atau oleh
41 pihak ketiga (kontraktor). Dalam hal dikembangkan oleh instansi pemerintah sendiri
42 dimana biasanya sulit untuk mengidentifikasi nilai perolehan dari software tersebut
43 maka untuk software seperti ini tidak perlu diakui sebagai ATB, selain itu software
Buletin Teknis ATB
1 seperti ini biasanya bersifat terbuka dan tidak ada perlindungan hukum hingga dapat
2 dipergunakan siapa saja, maka salah kriteria dari pengakuan ATB yaitu pengendalian
3 atas suatu aset menjadi tidak terpenuhi. Oleh karena itu untuk software yang dibangun
4 sendiri yang dapat diakui sebagai ATB adalah yang dikontrakkan kepada pihak ketiga.
5 2. Dalam kasus perolehan software secara pembelian, harus dilihat secara kasus per kasus.
6 Untuk pembelian software yang diniatkan untuk dijual atau diserahkan kepada
7 masyarakat oleh pemerintah maka software seperti ini harus dicatat sebagai persediaan.
8 Dilain pihak apabila ada software yang dibeli oleh pemerintah untuk digunakan sendiri
9 namun merupakan bagian integral dari suatu hardware (tanpa software tersebut,
10 hardware tidak dapat dioperasikan), maka software tersebut diakui sebagai bagian
11 harga perolehan hardware dan dikapitalisasi sebagai peralatan dan mesin. Biaya
12 perolehan untuk software program yang dibeli tersendiri dan tidak terkait dengan
13 hardware harus dikapitalisasi sebagai ATB setelah memenuhi kriteria perolehan aset
14 secara umum.
15 3.1.2.1 PEROLEHAN SECARA PENGEMBANGAN INTERNAL
16 Software komputer dianggap dihasilkan secara internal jika diperoleh atau diproduksi
17 oleh pemerintah atau suatu entitas yang dikontrak oleh pemerintah. Software komputer
18 harus dianggap dihasilkan secara internal jika dikembangkan oleh instansi pemerintah atau
19 oleh kontraktor pihak ketiga atas nama pemerintah.
20 Aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam pengembangan software komputer yang
21 dihasilkan secara internal dapat dibagi menjadi beberapa tahap sebagai berikut:
22 1. Tahap awal proyek
23 Pada tahap ini termasuk adalah perumusan konsep dan evaluasi alternative, penentuan
24 teknologi yang dibutuhkan, dan penentuan pilihan akhir terhadap alternative untuk
25 pengembangan software tersebut.
26 2. Tahap pengembangan aplikasi
27 Aktifitas pada tahap ini termasuk desain aplikasi, termasuk di dalamnya konfigurasi
28 software dan software interface, koding, menginstall ke hardware, testing, dan konversi
29 data yang diperlukan untuk mengoperasionalkan software.
30 3. Tahap setelah implementasi/operasionalisasi
31 Aktivitas dalam tahap ini adalah pelatihan, konversi data yang tidak diperlukan untuk
32 operasional software dan pemeliharaan software.
33 Semua pengeluaran yang terkait dengan aktifitas pada tahap awal proyek harus
34 menjadi beban pada saat terjadinya.
35 Semua pengeluaran pada tahap pengembangan aplikasi harus dikapitalisasi apabila
36 memenuhi kondisi-kondisi sebagai berikut:
37 1. Pengeluaran terjadi setelah tahap awal proyek selesai; dan
38 2. Pemerintah berkuasa dan berjanji untuk membiayai, paling tidak untuk periode
39 berjalan.
Buletin Teknis ATB
1 Semua pengeluaran yang terkait dengan aktivitas pada tahap setelah
2 implementasi/operasionalisasi harus dianggap sebagai beban pada saat terjadinya.
3 3.1.2.2 PEROLEHAN SECARA EKSTERNAL
4 Untuk menentukan perlakuan akuntansi membutuhkan identifikasi jenis, syarat dan
5 ketentuan penggunaan terhadap software yang diperoleh secara external tersebut. Hal-hal
6 yang perlu diidentifikasi terlebih dahulu adalah:
7 1. Apakah harga perolehan awal dari software terdiri dari harga pembelian software dan
8 pembayaran untuk lisensi penggunaannya, atau hanya pembayaran lisensi saja;
9 2. Apakah ada batasan waktu/ijin penggunaan software;
10 3. Berapa lama ijin penggunaan.
11 Dengan memperhatikan hal-hal tersebut di atas maka perlakuan akuntansi untuk
12 software yang diperoleh secara pembelian dapat disimpulkan sebagai berikut:
13 1. Perolehan software yang memiliki ijin penggunaan/masa manfaat lebih dari 12 bulan,
14 maka nilai perolehan software dan biaya lisensinya harus dikapitalisasi sebagai ATB.
15 Sedangkan perolehan software yang memiliki ijin penggunaan/masa manfaat kurang
16 dari atau sampai dengan 12 bulan, maka nilai perolehan software tidak perlu
17 dikapitalisasi.
18 2. Software yang diperoleh hanya dengan membayar ijin penggunaan/lisensi dengan
19 masa manfaat lebih dari 12 bulan harus dikapitalisasi sebagai ATB. Software yang
20 diperoleh hanya dengan membayar ijin penggunaan/lisensi kurang dari atau sampai
21 dengan 12 bulan, tidak perlu dikapitalisasi.
22 3. Software yang tidak memiliki pembatasan ijin penggunaan dan masa manfaatnya lebih
23 dari 12 bulan harus dikapitalisasi. Software yang tidak memiliki pembatasan ijin
24 penggunaan dan masa manfaatnya kurang dari atau sampai dengan 12 bulan tidak
25 perlu dikapitalisasi.
26 3.1.2.3 PENGELUARAN BERIKUTNYA SETELAH PEROLEHAN
27 Pada kebanyakan kasus, sifat alamiah ATB adalah tidak adanya penambahan nilai
28 terhadap ATB tertentu atau penggantian dari sebagian ATB dimaksud setelah perolehan
29 awal. Oleh karena itu, kebanyakan pengeluaran setelah perolehan dari ATB mungkin
30 dimaksudkan untuk memelihara kemungkinan manfaat ekonomi di masa datang atau jasa
31 potensial yang terkandung dalam ATB dimaksud dan tidak lagi merupakan upaya untuk
32 memenuhi definisi ATB dan kriteria pengakuannya. Dengan kata lain, seringkali sulit untuk
33 mengatribusikan secara langsung pengeluaran setelah perolehan terhadap suatu ATB
34 tertentu sehingga diperlakukan sebagai biaya operasional suatu entitas. Namun demikian,
35 apabila memang terdapat pengeluaran setelah perolehan yang dapat diatribusikan langsung
36 terhadap ATB tertentu, maka pengeluaran tersebut dapat dikapitalisasi ke dalam nilai ATB
37 dimaksud.
38 Kapitalisasi terhadap pengeluaran setelah perolehan terhadap software komputer
39 harus memenuhi salah satu kriteria ini:
40 1. Meningkatkan fungsi software;
41 2. Meningkatkan efisiensi software.
Buletin Teknis ATB
1 Apabila perubahan yang dilakukan tidak memenuhi salah satu kriteria di atas maka
2 pengeluaran harus dianggap sebagai beban pemeliharaan pada saat terjadinya. Misalnya
3 pengeluaran setelah perolehan terhadap software yang sifatnya hanya mengembalikan ke
4 kondisi semula (misalnya, pengeluaran untuk teknisi software dalam rangka memperbaiki
5 untuk dapat dioperasikan kembali), tidak perlu dikapitalisasi.
6 Pengeluaran yang meningkatkan masa manfaat dari software pada praktik umumnya
7 tidak terjadi, yang ada adalah pengeluaran untuk perpanjangan ijin penggunaan/lisensi
8 dari software atau up grade dari versi yang lama menjadi yang paling mutakhir yang lebih
9 mendekati kepada perolehan software baru.
10 Berikut ini perlakuan akuntansi untuk perpanjangan lisensi:
11 1. Pengeluaran setelah perolehan berupa perpanjangan ijin penggunaan yang kurang dari
12 atau sampai dengan 12 bulan tidak perlu dikapitalisasi.
13 2. Pengeluaran setelah perolehan berupa perpanjangan ijin penggunaan yang lebih dari 12
14 bulan harus dikapitalisasi.
15 3.1.3 PERLAKUAN UNTUK HAK PATEN
16 Hak Paten adalah salah satu jenis ATB yang kemungkinan dapat dimiliki oleh
17 Pemerintah yang perolehannya dapat berasal dari hasil Kajian dan Pengembangan atas
18 penelitian yang dilakukan pemerintah atau pendaftaran atas suatu kekayaan/warisan
19 budaya/sejarah yang dimiliki.
20 Untuk Hak Paten yang diperoleh untuk melindungi terhadap kekayaan/warisan
21 budaya/sejarah, maka atas aset ini secara umum diakui pada saat dokumen hukum yang
22 sah atas Hak Paten tersebut telah diperoleh. Namun untuk mengantisipasi lamanya jangka
23 waktu terbitnya dokumen tersebut, maka entitas dapat mengakui sebagai Hak Paten
24 terlebih dahulu dengan nilai sebesar biaya pendaftarannya, kemudian memberikan
25 penjelasan yang memadai dalam Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
26 Dalam praktek selama ini di Kementerian/Lembaga terdapat pula beberapa perlakuan
27 pencatatan terhadap Hak Paten dari hasil kajian/pengembangan yang memerlukan
28 perlakuan khusus. Untuk Hak Paten yang dalam proses pendaftaran dan dokumen sumber
29 belum terbit, maka entitas dapat mengakui sebagai Hak Paten terlebih dahulu dengan nilai
30 sebesar biaya pendaftaran ditambah nilai Hasil Kajian/Pengembangan yang telah
31 dikapitalisasi sebagai ATB, kemudian memberikan penjelasan yang memadai dalam CaLK.
32 3.1.4 ASET TIDAK BERWUJUD DALAM PENGERJAAN
33 Terdapat kemungkinan pengembangan suatu Aset Tidak Berwujud yang diperoleh
34 secara internal yang jangka waktu penyelesaiannya melebihi satu tahun anggaran atau
35 pelaksanaan pengembangannya melewati tanggal pelaporan. Dalam hal terjadi seperti ini,
36 maka atas pengeluaran yang telah terjadi dalam rangka pengembangan tersebut sampai
37 dengan tanggal pelaporan harus diakui sebagai Aset Tidak Berwujud dalam pengerjaan
38 (Intangible Asset-Work In Progress), dan setelah pekerjaan selesai kemudian akan
39 direklasifikasi menjadi Aset Tidak Berwujud yang bersangkutan.
Buletin Teknis ATB
1 4 BAB IV
2 PENGUKURAN
3 4.1 PENGUKURAN PADA SAAT PEROLEHAN
4 Secara umum, ATB pada awalnya diukur dengan harga perolehan, kecuali ketika ATB
5 diperoleh dengan cara selain pertukaran yang awalnya diukur dengan nilai wajar.
6 4.1.1 PENGUKURAN ATB YANG DIPEROLEH SECARA EXTERNAL
7 4.1.1.1 PEMBELIAN
8 Secara umum, harga yang harus dibayar entitas untuk memperoleh suatu ATB akan
9 mencerminkan harapan mengenai kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang dharapkan
10 dimasa datang atau jasa potensial yang melekat pada aset tersebut akan mengalir masuk
11 kedalam entitas tersebut. Dengan kata lain, entitas pemerintah mengharapkan adanya
12 manfaat ekonomi ataupun jasa potensial yang mengalir masuk. Oleh karenanya, kriteria
13 pengakuan umum harus dapat dipenuhi dalam perolehan ini.
14 ATB yang diperoleh melalui pembelian dinilai berdasarkan biaya perolehan. Bila ATB
15 diperoleh secara gabungan, harus dihitung nilai per masing-masing aset, yaitu dengan
16 mengalokasikan harga gabungan tersebut berdasarkan perbandingan nilai wajar masing-
17 masing aset yang bersangkutan.
18 Biaya untuk memperoleh ATB dengan pembelian biasanya dapat diukur secara
19 memadai, khususnya bila berkenaan dengan kas atau aset moneter lainnya.
20 Biaya untuk memperoleh ATB dengan pembelian terdiri dari:
21 1. Harga beli, termasuk biaya import dan pajak-pajak, setelah dikurangi dengan potongan
22 harga dan rabat;
23 2. Setiap biaya yang dapat diatribusikan secara langsung dalam membawa aset tersebut ke
24 kondisi yang membuat aset tersebut dapat bekerja untuk penggunaan yang
25 dimaksudkan.
26 Contoh dari biaya yang dapat diatribusikan secara langsung adalah:
27 1. Biaya staff yang timbul secara langsung agar aset tersebut dapat digunakan;
28 2. Biaya professional yang timbul secara langsung agar aset tersebut dapat digunakan;
29 3. Biaya pengujian untuk menjamin aset tersebut dapat berfungsi secara baik.
30 Contoh dari biaya yang bukan merupakan unsur ATB adalah:
31 1. Biaya untuk memperkenalkan produk atau jasa baru (termasuk biaya advertising dan
32 promosi);
33 2. Biaya untuk melaksanakan operasi pada lokasi baru atau sehubungan dengan pemakai
34 (user) baru atas suatu jasa (misalnya biaya pelatihan pegawai);
35 3. Biaya administrasi dan overhead umum lainnya.
Buletin Teknis ATB
1 Biaya-biaya perolehan ATB dalam nilai tercatat (carrying amount) atas ATB diakui
2 sampai aset tersebut dalam kondisi yang mempunyai kemampuan untuk beroperasi seperti
3 yang diinginkan oleh manajemen. Oleh karenanya, biaya-biaya yang dikeluarkan untuk
4 menggunakan dan memanfaatkan ATB bukan merupakan bagian dari nilai tercatat ATB.
5 4.1.1.2 PERTUKARAN
6 Perolehan ATB dari pertukaran aset yang dimiliki entitas dinilai sebesar nilai wajar
7 dari aset yang diserahkan. Apabila terdapat aset lainnya dalam pertukaran, misalnya kas,
8 maka hal ini mengindikasikan bahwa pos yang dipertukarkan tidak mempunyai nilai yang
9 sama sehingga pengukuran dinilai sebesar aset yang dipertukarkan ditambah dengan kas
10 yang diserahkan.
11 4.1.1.3 KERJASAMA
12 Hasil berupa ATB dari kerjasama antar dua entitas atau lebih disajikan berdasarkan
13 biaya perolehannya dan dicatat pada entitas yang menerima ATB tersebut sesuai dengan
14 perjanjian dan atau peraturan yang berlaku.
15 4.1.1.4 DONASI/HIBAH
16 ATB yang diperoleh dari donasi/hibah harus dicatat sebesar nilai wajar pada saat
17 perolehan. Penyerahan ATB tersebut akan sangat andal bila didukung dengan bukti
18 perpindahan kepemilikannya secara hukum, seperti adanya akta hibah.
19 4.1.2 PENGEMBANGAN SECARA INTERNAL
20 ATB yang diperoleh dari pengembangan secara internal, misalnya hasil dari kegiatan
21 pengembangan yang memenuhi syarat pengakuan, nilai perolehannya diakui sebesar biaya
22 perolehan yang meliputi biaya yang dikeluarkan sejak ditetapkannya ATB tersebut memiliki
23 masa manfaat di masa yang akan datang.
24 Pengeluaran atas unsur tidak berwujud yang awalnya telah diakui oleh entitas sebagai
25 beban tidak boleh diakui sebagai bagian dari harga perolehan ATB di kemudian hari.
26 Terhadap ATB yang dihasilkan dari pengembangan software komputer yang
27 memerlukan tiga tahap sebagaimana dimaksud dalam Bab III Aspek Pengakuan mengenai
28 Perlakuan khusus untuk software komputer, maka tahap yang dapat dilakukan kapitalisasi
29 adalah tahap pengembangan aplikasi, bila telah memenuhi kriteria dimaksud. Kapitalisasi
30 dinilai sebesar pengeluarannya.
31 4.1.3 ASET BUDAYA/BERSEJARAH TAK BERWUJUD (INTANGIBLE HERITAGE ASSETS)
32 ATB yang berasal dari aset bersejarah (heritage assets) tidak diharuskan untuk disajikan
33 di neraca namun aset tersebut harus diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
34 Namun apabila ATB bersejarah tersebut didaftarkan untuk memperoleh hak paten maka
35 hak patennya dicatat di neraca sebesar nilai pendaftarannya.
36 4.2 PENGUKURAN SETELAH PEROLEHAN
37 Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, sifat alamiah ATB, dalam banyak kasus,
38 adalah tidak adanya penambahan nilai terhadap ATB tertentu atau penggantian dari
Buletin Teknis ATB
1 sebagian ATB dimaksud. Oleh karena itu, kebanyakan pengeluaran setelah perolehan dari
2 ATB mungkin dimaksudkan untuk memelihara kemungkinan manfaat ekonomi di masa
3 datang atau jasa potensial yang terkandung dalam ATB dimaksud dan tidak lagi
4 merupakan upaya untuk memenuhi definisi ATB dan kriteria pengakuannya. Dengan kata
5 lain, seringkali sulit untuk mengatribusikan secara langsung pengeluaran setelah perolehan
6 terhadap suatu ATB tertentu sehingga diperlakukan sebagai biaya operasional suatu entitas.
7 Namun demikian, apabila memang terdapat pengeluaran setelah perolehan yang dapat
8 diatribusikan langsung terhadap ATB tertentu, maka pengeluaran tersebut dapat
9 dikapitalisasi ke dalam nilai ATB dimaksud. Biaya yang telah Dibebankan Tidak Dapat
10 Diakui sebagai Aset
Buletin Teknis ATB
1 5 BAB V
2 AMORTISASI, PENURUNAN NILAI, PENGHENTIAN DAN
3 PELEPASAN ATB
4 5.1 AMORTISASI
5 Amortisasi adalah penyusutan terhadap ATB yang dialokasikan secara sistematis dan
6 rasional selama masa manfaatnya. Masa manfaat ATB dapat dipengaruhi oleh berbagai
7 faktor yang semuanya harus diperhitungkan dalam penetapan periode amortisasi. Masa
8 manfaat tersebut dapat dibatasi oleh ketentuan hukum, peraturan, atau kontrak.
9 Untuk menerapkan amortisasi, sebuah entitas harus menilai apakah masa manfaat
10 suatu aset tidak berwujud adalah terbatas atau tak terbatas dan, jika terbatas, jangka waktu
11 atau jumlah produksi atau jumlah unit serupa yang dihasilkan, selama masa manfaat. Suatu
12 aset tidak berwujud diakui entitas memiliki masa manfaat tak terbatas jika, berdasarkan
13 analisis dari seluruh faktor relevan, tidak ada batas yang terlihat pada saat ini atas periode
14 yang mana aset diharapkan menghasilkan arus kas neto bagi entitas.
15 Amortisasi suatu aset tidak berwujud dengan masa manfaat terbatas tidak berakhir
16 jika aset tersebut tidak lagi digunakan, kecuali aset tersebut sudah sepenuhnya disusutkan
17 atau digolongkan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual.
18 Dalam hal manfaat ekonomis yang terkandung dalam suatu ATB terserap dalam
19 menghasilkan aset lain, maka beban amortisasi merupakan bagian dari harga pokok aset
20 lain tersebut dan dimasukkan ke dalam jumlah tercatatnya.
21 5.1.1 METODE AMORTISASI
22 Amortisasi dapat dilakukan dengan berbagai metode seperti metode garis lurus,
23 metode saldo menurun dan metode unit produksi. Metode yang digunakan dipilih
24 berdasarkan pola konsumsi manfaat ekonomi masa depan yang diharapkan dan diterapkan
25 secara konsisten dari periode ke periode lainnya, kecuali terdapat perubahan dalam
26 perkiraan pola konsumsi tersebut.
27 Metode amortisasi yang digunakan harus menggambarkan pola konsumsi entitas atas
28 manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan. Jika pola tersebut tidak dapat ditentukan
29 secara andal, digunakan metode garis lurus. Amortisasi yang dibebankan setiap periode
30 disajikan dengan menyesuaikan akun ATB dan akun diinvestasikan pada Aset Lainnya.
31 Periode amortisasi dan metode amortisasi ditinjau setidaknya setiap akhir tahun buku.
32 Jika perkiraan masa manfaat aset berbeda secara signifikan dengan estimasi–estimasi
33 sebelumnya, periode amortisasi harus disesuaikan. Jika terjadi perubahan yang signifikan
34 dalam perkiraan pola konsumsi manfaat ekonomis dari ATB, metode amortisasi harus
35 disesuaikan untuk mencerminkan pola yang berubah tersebut. Seiring berjalannya waktu,
36 pola manfaat ekonomis masa depan yang diharapkan mengalir ke entitas dari suatu aset
37 tidak berwujud dapat berubah. Misalnya, dapat timbul indikasi bahwa metode amortisasi
38 saldo menurun ternyata lebih tepat jika dibandingkan dengan metode garis lurus. Contoh
Buletin Teknis ATB
1 lainnya adalah apabila penggunaan hak yang diperoleh melalui suatu lisensi ditangguhkan
2 menunggu tindakan/putusan pada komponen lainnya dari suatu rencana kegiatan, manfaat
3 ekonomis yang timbul dari aset tersebut mungkin tidak diterima hingga periode berikutnya.
4 5.1.2 AMORTISASI UNTUK ASET TIDAK BERWUJUD DENGAN MASA MANFAAT TERBATAS
5 Amortisasi hanya dapat diterapkan atas ATB yang memiliki masa manfaat terbatas
6 dan pada umumnya ditetapkan dalam jumlah yang sama pada periode, atau dengan suatu
7 basis alokasi garis lurus.
8 Aset tidak berwujud dengan masa manfaat yang terbatas (seperti paten, hak cipta,
9 waralaba dengan masa manfaat terbatas, dll) harus diamortisasi selama masa manfaat atau
10 masa secara hukum mana yang lebih pendek.
11 Nilai sisa dari ATB dengan masa manfaat yang terbatas harus diasumsikan bernilai
12 nihil, kecuali:
13 1. Terdapat komitmen dari pihak ketiga yang akan mengambil alih ATB pada akhir masa
14 manfaat; atau
15 2. Terdapat pasar aktif atas aset tersebut dan:
16 1) Nilai sisa dapat ditentukan dari referensi pasar tersebut
17 2) Besar kemungkinannya bahwa pasar tersebut masih ada pada akhir masa manfaat
18 Jumlah amortisasi ATB dengan masa manfaat yang terbatas dihitung setelah dikurangi
19 nilai sisa. Nilai sisa selain nihil mengindikasikan bahwa entitas mengharapkan untuk
20 melepas ATB tersebut sebelum akhir masa ekonominya.
21 5.1.3 AMORTISASI UNTUK ASET TIDAK BERWUJUD DENGAN MASA MANFAAT TAK
22 TERBATAS
23 Aset tidak berwujud dengan masa manfaat tidak terbatas (seperti goodwill, merek
24 dagang, waralaba dengan kehidupan yang tak terbatas, abadi waralaba, dll) tidak boleh
25 diamortisasi.
26 Masa manfaat suatu aset tidak berwujud yang tidak diamortisasi harus ditelaah setiap
27 periode untuk menentukan apakah kejadian atau keadaan dapat terus mendukung masa
28 manfaat aset tetap tak terbatas. Jika tidak, perubahan masa manfaat yang muncul dari tak
29 terbatas menjadi terbatas harus dibukukan atau sesuai dengan perubahan dalam perkiraan
30 akuntansi.
31 5.2 PENURUNAN NILAI (IMPAIRMENT)
32 Suatu aset turun nilainya jika nilai tercatatnya melebihi nilai yang dapat diperoleh
33 kembali. Penurunan nilai aset tersebut diakui sebagai kerugian dalam laporan keuangan.
34 Kadang hal-hal yang terjadi setelah pembelian aset dan sebelum berakhirnya estimasi masa
35 manfaat menjadi penyebab yang menurunkan nilai aset dan memerlukan penghapusan
36 segera. Dengan demikian untuk menurunkan nilai aset tidak harus dengan membuat
37 alokasi biaya perolehan yang normal sepanjang periode tertentu.
Buletin Teknis ATB
1 Suatu entitas disyaratkan untuk menguji aset tidak berwujud dengan masa manfaat
2 tak terbatas untuk penurunan nilai dengan membandingkan jumlah terpulihkan dengan
3 jumlah tercatatnya, yang dapat dilakukan setiap tahun; atau kapanpun terdapat indikasi
4 bahwa aset tidak berwujud mengalami penurunan nilai. Walaupun keputusan mengenai
5 apakah akan mengakui penurunan nilai dari aktiva operasi bukanlah suatu hal yang
6 mudah.
7 Suatu aset ditinjau kembali untuk kemungkinan adanya penurunan nilai ketika ada
8 perubahan yang material dalam cara aset tersebut digunakan atau dalam lingkungan usaha.
9 Bila nilai pasar aset telah turun, maka suatu pengujian penurunan nilai harus dilakukan.
10 Pengungkapan harus memuat suatu penjelasan atas asset yang mengalami penurunan
11 nilai, penjelasan tentang asumsi pengukuran dan segmen usaha yang terkena dampaknya.
12 Kerugian karena penurunan nilai harus dimasukkan sebagai bagian dari pendapatan
13 operasional, dan catatan yang mengungkapkan jumlah harus dibuat jika kerugian
14 penurunan nilai tidak ditunjukan sebagai bagian perkiraan laporan pendapatan.
15 Mengkaji ulang masa manfaat aset tidak berwujud dari tak terbatas menjadi terbatas
16 merupakan salah satu indikasi kemungkinan aset mengalami penurunan nilai. Sebagai
17 hasilnya, entitas menguji aset atas penurunan nilai dengan membandingkan jumlah
18 terpulihkan
19 5.3 PENGHENTIAN DAN PELEPASAN ATB
20 ATB diperoleh dengan maksud untuk digunakan dalam mendukung kegiatan
21 operasional pemerintah. Namun demikian, pada saatnya suatu ATB harus dihentikan dari
22 penggunaannya. Beberapa keadaan dan alasan penghentian ATB antara lain adalah
23 penjualan, pertukaran, hibah, atau berakhirnya masa manfaat ATB sehingga perlu diganti
24 dengan yang baru. Secara umum, penghentian ATB dilakukan pada saat dilepaskan atau
25 ATB tersebut tidak lagi memiliki manfaat ekonomi masa depan yang diharapkan dari
26 penggunaan atau pelepasannya.
27 Pelepasan ATB dilingkungan pemerintah lazim disebut sebagai pemindahtanganan.
28 Sesuai dengan PMK Nomor 96/PMK.08/2007 tentang pengelolaan BMN, pemerintah dapat
29 melakukan pemindahtanganan BMN yang di dalamnya termasuk ATB dengan cara:
30 1. dijual;
31 2. dipertukarkan;
32 3. dihibahkan; atau
33 4. dijadikan penyertaan modal negara/daerah.
34 Apabila suatu ATB tidak dapat digunakan karena ketinggalan jaman, tidak sesuai
35 dengan kebutuhan organisasi yang makin berkembang, rusak berat, atau masa
36 kegunaannya telah berakhir, maka ATB tersebut hakekatnya tidak lagi memiliki manfaat
37 ekonomi masa depan, sehingga penggunaannya harus dihentikan. Selanjutnya, terhadap
38 aset tersebut secara akuntansi dapat dilepaskan, namun harus melalui proses yang dalam
39 terminologi PMK Nomor 96/PMK.08/2007 tentang pengelolaan BMN disebut
40 penghapusan.
Buletin Teknis ATB
1 Apabila suatu ATB dihentikan dari penggunaannya, baik karena dipindahtangankan
2 maupun karena berakhirnya masa manfaat/tidak lagi memiliki manfaat ekonomi, maka
3 pencatatan akun ATB yang bersangkutan harus ditutup.
4 Dalam hal penghentian ATB merupakan akibat dari pemindahtanganan dengan cara
5 dijual atau dipertukarkan sehingga pada saat terjadinya transaksi belum seluruh nilai buku
6 ATB yang bersangkutan habis disusutkan, maka selisih antara harga jual atau harga
7 pertukarannya dengan nilai buku ATB terkait diperlakukan sebagai penambah atau
8 pengurang ekuitas dana. Penerimaan kas akibat penjualan dibukukan sebagai pendapatan
9 dan dilaporkan pada Laporan Realisasi Anggaran.
Buletin Teknis ATB
1 6 BAB VI
2 PENYAJIAN DAN PENGUNGKAPAN
3 6.1 AKUNTANSI ASET TIDAK BERWUJUD
4 Ilustrasi pencatatan Aset Tidak Berwujud adalah sebagai berikut:
5 Pemerintah Daerah X telah membeli Hak Paten atas Temuan yang berhubungan
6 dengan penggunaan dan pemanfaatan mesin pengelola sampah menjadi pupuk dari
7 Perusahaan Y. Perusahaan dimaksud menjual hak paten tersebut dengan nilai Rp. 1 milyar
8 kepada Pemda X.
9 Jurnal akuntansi nya adalah:
Kode
No Uraian Debet Kredit
Akun
XXX Aset Lainnya- Aset Tidak Berwujud 1 milyar
XXX Diinvestasikan dalam Aset Lainnya 1 milyar
10
11 Instansi B telah berhasil membuat disain struktur jembatan dan disain tersebut telah
12 digunakan oleh Instansi lain bahkan perusahaan swasta untuk membuat jembatan di
13 Indonesia. Instansi telah mengembangkan disain tersebut dengan biaya keseluruhan Rp. 700
14 juta.
15 Jurnal akuntansinya adalah:
Kode
No Uraian Debet Kredit
Akun
XXX Aset Lainnya- Aset Tidak Berwujud 700 juta
XXX Diinvestasikan dalam Aset Lainnya 700 juta
16
17 Instansi X telah mendapat hibah dari perusahaan software berupa software yang
18 dapat digunakan oleh Instansi itu sendiri atau dapat digunakan oleh pihak lain namun
19 Instansi tersebut mendapatkan imbalan secara ekonomi. Nilai software tersebut telah
20 diestimasi dan didapat nilai untuk software yang dihibahkan itu sejumlah Rp 1,5 milyar.
21 Jurnal akuntansinya:
Kode
No Uraian Debet Kredit
Akun
XXX Aset Lainnya- Aset Tidak Berwujud 1,5 milyar
XXX Diinvestasikan dalam Aset Lainnya 1,5 milyar
22
Buletin Teknis ATB
1 6.2 PENYAJIAN ATB
2 Sebagaimana Lampiran III B Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang SAP
3 dan Buletin Teknis 01 tentang Penyusunan Neraca Awal Pemerintah Pusat, ATB disajikan
4 dalam neraca sebagai bagian dari “Aset Lainnya”.
5 NERACA
6 Per 31 Desember 20X1
ASET KEWAJIBAN
Aset Lancar Kewajiban Jangka Pendek
……………. Kewajiban Jangka Panjang
Aset Tetap
…………….. EKUITAS DANA
Aset Lainnya XXX …………………..
Aset Tidak Berwujud XXX Dinvestasikan dalam Aset XXX
Lainnya
7
8 6.3 PENGUNGKAPAN ATB
9 Laporan keuangan harus mengungkapkan hal-hal sebagai berikut untuk setiap
10 golongan aset tidak berwujud, dengan membedakan antara aset tidak berwujud yang
11 dihasilkan secara internal dan aset tidak berwujud lainnya:
12 1. Masa manfaat atau tingkat amortisasi yang digunakan. Apakah masa manfatnya
13 terbatas atau tidak terbatas;
14 2. Metode amortisasi yang digunakan, jika aset tidak berwujud tersebut terbatas masa
15 manfaatnya;
16 3. Nilai tercatat bruto dan akumulasi amortisasi (yang digabungkan dengan akumulasi
17 rugi penurunan nilai) pada awal dan akhir periode;
18 4. Unsur pada laporan keuangan yang di dalamnya terdapat amortisasi aset tidak
19 berwujud; dan
20 5. Rekonsiliasi nilai tercatat pada awal dan akhir periode yang menunjukkan:
21 1) Penambahan aset tidak berwujud yang terjadi, dengan mengungkapkan secara
22 terpisah penambahan yang berasal dari pengembangan di dalam entitas;
23 2) Penghentian dan pelepasan aset tidak berwujud;
24 3) Amortisasi yang diakui selama periode berjalan;
25 4) Perubahan lainnya dalam nilai tercatat selama periode berjalan.
26 Disamping informasi-informasi di atas, entitas juga perlu melaporkan perubahan-
27 perubahan terhadap:
28 1. Periode amortisasi;
29 2. Metode amortisasi; atau
30 3. Nilai sisa.
Buletin Teknis ATB
1 Laporan Keuangan juga harus mengungkapkan :
2 1. Alasan penentuan atau faktor-faktor penting penentuan masa manfaat suatu aset tidak
3 berwujud;
4 2. Penjelasan, nilai tercatat, dan periode amortisasi yang tersisa dari setiap aset tidak
5 berwujud yang material bagi laporan keuangan secara keseluruhan;
6 3. Keberadaan ATB yang dimiliki bersama.
7 6.3.1 PENGELUARAN RISET DAN PENGEMBANGAN
8 Laporan Keuangan harus mengungkapkan jumlah keseluruhan pengeluaran riset dan
9 pengembangan yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan. Pengeluaran riset dan
10 pengembangan terdiri atas semua pengeluaran yang dapat dikaitkan secara langsung
11 dengan kegiatan riset dan pengembangan atau yang dapat dialokasikan, secara rasional dan
12 konsisten pada kegiatan-kegiatan tersebut.
13 6.3.2 INFORMASI LAIN
14 Entitas juga perlu mengungkapkan gambaran mengenai setiap aset tidak berwujud
15 yang sudah sepenuhnya diamortisasi yang masih digunakan.
Buletin Teknis ATB
1 7 BAB VII
2 ILUSTRASI
3 7.1 SOFTWARE
4 Software merupakan salah satu yang berpotensi untuk menjadi ATB. Namun harus
5 dipisahkan antara software yang dapat dikategorikan menjadi ATB dan yang tidak.
6 Dalam suatu pembelian peralatan komputer misalnya, terdapat software yang disebut
7 dengan sistem operasi yang berfungsi menjalankan peralatan komputer tersebut. Apabila
8 peralatan komputer tersebut tidak dilengkapi dengan sistem operasi ini maka peralatan
9 komputer tidak dapat menjalankan fungsinya. Untuk software yang seperti ini bukan
10 merupakan bagian yang terpisah dari peralatan komputer, sehingga tidak dapat
11 dikategorikan ATB.
12 Apabila kemudian peralatan komputer tersebut dilengkapi dengan software lain
13 misalnya untuk aplikasi pengetikan dan lain sebagainya, maka ini merupakan software
14 yang terpisah dari peralatan komputer yang berarti harus diakui sebagai ATB.
15 7.2 PATENT
16 Departemen Pekerjaan Umum membangun jembatan yang merupakan hasil desain
17 dari LIPI. Dengan digunakannya desain ini untuk membangun jembatan tersebut, maka
18 desain ini dapat dianggap telah memberikan manfaat ekonomi dan mempunyai manfaat
19 masa yang akan datang bagi LIPI, namun oleh LIPI desain ini belum dipatenkan. Sehingga
20 untuk pencatatannya pada Laporan Keuangan karena sudah memenuhi kriteria, harus
21 dimasukkan sebagai ATB namun bukan sebagai Paten tetapi sebagai Hasil Kajian Yang
22 Memberikan Manfaat Masa Yang Akan Datang. Apabila nantinya pihak LIPI mendaftarkan
23 Patennya, maka seluruh hasil kajian yang telah dikapitalisasi termasuk biaya pendaftaran
24 harus dikapitalisasi menjadi Hak Paten dalam neraca. Atas hal ini pihak LIPI harus
25 memberikan penjelasan yang memadai mengenai pencatatan Hak Paten walaupun sertifikat
26 patennya belum terbit.
27 7.3 PENGEMBANGAN
28 Suatu lembaga penelitian pemerintah mengadakan riset untuk mengembangkan
29 peralatan dan perlengkapan kedokteran yang dapat meningkatkan efektifitas dan efisiensi
30 prosedur pembedahan. Cakupan riset ini adalah meneliti perlengkapan yang digunakan
31 untuk menutup luka setelah pembedahan, seperti benang jahit untuk luka bedah. Setelah
32 melakukan penelitian selama beberapa waktu, para peneliti tersebut menemukan kombinasi
33 microfiber yang apabila digunakan sebagai benang jahit luka bedah terbukti melalui test
34 awal mempunyai daya tahan yang lebih baik dibandingkan benang jahit luka bedah yang
35 ada sekarang. Para peneliti percaya bahwa benang jahit luka bedah yang baru ini sangat
36 efektif digunakan untuk pembedahan yang membutuhkan luka bedah yang besar.
Buletin Teknis ATB
1 Hasil penelitian tersebut kemudian dipresentasikan di depan pimpinan lembaga
2 penelitian tersebut. Pimpinan lembaga penelitian, berdasarkan penilaian atas presentasi
3 tersebut kemudian memutuskan bahwa hasil kajian dan pengembangan dari proyek ini
4 akan meningkatkan kualitas layanan kepada pasien pembedahan dan secara resmi
5 menetapkan peneliti dan anggaran untuk pengembangan lebih lanjut.
6 Lembaga penelitian pemerintah tersebut harus sudah mulai mengakui pengeluaran
7 yang terkait dengan pengembangan benang jahit luka bedah yang baru untuk dikapitalisasi
8 dalam neraca sejak ada keputusan resmi tersebut dari pimpinan lembaga. Pada titik ini,
9 kriteria khusus untuk pengakuan Hasil Kajian Yang Memberikan Manfaat dalam Jangka
10 Panjang sebagai ATB yang dihasilkan secara internal telah terpenuhi. Tujuan dari proyek
11 telah teridentifikasi yaitu pembuatan bahan untuk benang jahit luka bedah baru. Lembaga
12 penelitian telah menentukan bahwa hasil pengembangan riset/kajian akan memberikan
13 peningkatan jasa pelayanan kepada pasien bedah di rumah sakit. Test awal dan riset lainnya
14 yang telah dilakukan memberikan gambaran kelayakan teknis untuk pembuatan bahan
15 benang jahit luka bedah yang baru. Selain itu, komitmen pimpinan lembaga penelitian
16 dengan penetapan peneliti dan anggaran untuk membiayai proyek tersebut menunjukkan
17 niat, kemampuan dan kemauan untuk melanjutkan dan menyelesaikan proyek tersebut.
18 Semua pengeluaran yang telah dikeluarkan sebelum keputusan resmi pimpinan lembaga
19 penelitian dianggap sebagai biaya pada saat terjadinya.
20 7.4 PENGEMBANGAN SOFTWARE SECARA INTERNAL
21 Berikut ini adalah contoh pengakuan perolehan software yang melalui pengembangan
22 internal. Pada bulan Juli 2012, Direktorat Jenderal Pajak mengidentifikasi adanya kebutuhan
23 aplikasi komputer baru untuk assessment pajak. Dari bulan Juli sampai Oktober 2012 tim ini
24 telah melakukan beberapa pekerjaan yaitu:
25 Menentukan spesifikasi aplikasi komputer baru melalui wawancara kepada operator
26 aplikasi dan pengguna dari informasi yang dihasilkan oleh aplikasi.
27 Menentukan spesifikasi sistem untuk aplikasi baru, termasuk menilai kesesuaian antara
28 aplikasi yang telah ada dengan aplikasi yang terhubung misalnya sistem pelaporan
29 keuangan.
30 Menilai sumber daya teknologi informasi internal yang dipunyai untuk menentukan
31 apakah aplikasi dapat dikembangkan secara internal atau membeli aplikasi komersial.
32 Menerbitkan proposal permintaan untuk paket aplikasi komersial dan jasa instalasi dan
33 melaksanakan wawancara dengan pihak penyedia barang.
34 Berdasarkan rekomendasi dari tim, maka diadakan pengadaan barang dan jasa untuk
35 pekerjaan pengembangan aplikasi tersebut dengan nilai kontrak sebesar Rp 15 Milyar
36 kepada Perusahaan A untuk membeli lisensi aplikasi yang dimiliki perusahaan tersebut
37 yang akan dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan Ditjen Pajak. Ditjen Pajak juga
38 menganggarkan untuk tahun 2013 sebesar Rp 16 Milyar untuk belanja aplikasi ini.
39 Instalasi aplikasi dilaksanakan mulai Januari sampai Juli 2013. Pengujian aplikasi dan
40 hasil modifikasi selesai bulan Oktober 2013, dimana pada titik ini dapat dikatakan bahwa
41 aplikasi secara substansi telah selesai dan dapat dioperasionalkan. Pemasukan informasi
Buletin Teknis ATB
1 data penilaian pajak 2014 kedalam aplikasi serta pelatihan kepada pengguna dan operator
2 aplikasi dilakukan antara bulan Oktober sampai dengan Desember 2013, sehingga aplikasi
3 dapat digunakan untuk tahun anggaran 2014.
4 Ditjen Pajak menentukan bahwa pembiayaan keseluruhan proyek aplikasi komputer
5 ini adalah sebesar Rp 17,15 Milyar, yang terdiri dari:
6 Pengeluaran terkait pekerjaan tim dari bulan Juli sampai dengan November 2012
7 sebesar Rp 1,5 Milyar.
8 Pengeluaran untuk pembelian aplikasi dan jasa instalasi Rp 14,6 Milyar.
9 Pengeluaran honor dan biaya terkait lainnya untuk pegawai yang terlibat dalam
10 instalasi dan pengujian aplikasi Rp 0,5 Milyar.
11 Pengeluaran untuk pelatihan pengguna dan operator aplikasi Rp 0,3 Milyar.
12 Pengeluaran honor and biaya terkait lainnya untuk pegawai yang terlibat dalam
13 pemasukkan data penilaian pajak 2014 Rp 0,25 Milyar.
14 Dari data-data di atas, aktifitas yang dilakukan oleh tim harus dianggap sebagai
15 tahapan awal proyek, dan pengeluaran-pengeluaran yang terkait harus diperlakukan
16 sebagai biaya pada saat terjadinya. Sehingga, untuk tahun anggaran yang berakhir tanggal
17 31 Desember 2012, Ditjen Pajak akan mencatat pengeluaran yang terkait dengan kegiatan
18 tim sebesar Rp 1,5 Milyar sebagai biaya.
19 Perolehan lisensi untuk penggunaan aplikasi komersial, modifikasi, dan instalasi serta
20 ujicoba yang dilaksanakan tahun 2013 harus dianggap sebagai aktifitas tahapan
21 pengembangan aplikasi. Pengeluaran yang terkait sebesar Rp 15,1 Milyar harus
22 dikapitalisasi pada neraca tahun 2013 karena tahapan awal proyek sudah selesai pada
23 November 2012, dan Ditjen Pajak telah menganggarkan belanja untuk pengembangan
24 aplikasi tahun 2013 yang menunjukkan bukti komitmen mereka untuk menyelesaikan
25 proyek tersebut.
26 Aktifitas pelatihan yang dilakukan tahun 2013 harus dianggap sebagai tahapan
27 aktifitas setelah implementasi/operasional dan dianggap sebagai biaya saat terjadinya.
28 Begitupun juga dengan pengeluaran yang terkait aktifitas pemasukkan data ke dalam
29 aplikasi harus diperlakukan sebagai biaya saat terjadinya. Dengan demikian total dana
30 sebesar Rp 0,55 Milyar dari kedua aktifitas dimaksud harus dicatat sebagai biaya.
31 7.5 PERPANJANGAN LISENSI SOFTWARE
32 Suatu satker pemerintah berencana untuk memperpanjang lisensi pemakaian aplikasi
33 antivirus yang akan segera habis masa pakainya. Perpanjangan lisensi pemakaian antivirus
34 ini adalah untuk masa dua tahun. Oleh karena perolehan perpanjangan lisensi ini lebih dari
35 12 bulan maka pengeluaran untuk memperolehnya harus dikapitalisasi.