Embed
Email

POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA

Document Sample
POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA
Shared by: HC11111621410
Categories
Tags
Stats
views:
236
posted:
11/16/2011
language:
Indonesian
pages:
62
POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA



POLITIK LUAR NEGERI

MASA PEMERINTAHAN SBY-JUSUF KALLA

POLITIK LUAR NEGERI

MASA PEMERINTAHAN SBY-JUSUF KALLA

 Ganti pemerintahan, ganti kebijakan, hal ini sering

ditemukan di Indonesia, dimana antara pemerintahan

yang satu dengan pemerintahan berikutnya seakan-akan

tidak kesinambungan. Pemerintahan Soeharto banyak

melakukan perubahan dari kebijakan-kebijakan yang

telah diambil oleh Soekarno, begitu pula Gus Dur dan

Megawati senantiasa merombak bahkan merubah sama

sekali dari kebijakan sebelumnya, tak terkecuali dalam

hal politik luar negeri.

Dari pernyataan tersebut, timbul

pertanyaan, adakah perubahan

politik luar negeri yang dilakukan

oleh SBY dari pemerintahan

sebelumnya ? Sebab dalam

pemerintahan SBY-JK/SBY-

Budiono, kebijakan yang diambil

tidak lagi mengacu pada GBHN.

Mengingat pentingnya peran politik

luar negeri suatu negara dalam

pergaulan internasional, maka

menjadi penting untuk menyoroti

arah politik luar negeri Indonesia

selama masa pemerintahan SBY-JK.

POLITIK LUAR NEGERI

MASA PEMERINTAHAN SBY-JUSUF KALLA



 Komunitas HI menyadari betul bahwa hubungan antar

negara, politik luar negeri dan diplomasi merupakan tiga

kegiatan yang saling berkaitan dalam usaha setiap warga

untuk menjamin kepentingan-kepentingannya dan untuk

mencapai tujuannya. Pemerintah menentukan urutan

prioritas kepentingan yang hendak dipertahankan dan

tujuan yang hendak dicapai. Adapun cara pendekatan dan

pelaksanaannya dirumuskan dalam suatu kebijaksanaan

luar negeri.

Karena keadaan

internasional tidak statis,

tetapi selalu berkembang,

maka kebijaksanaan luar

negeri selalu memerlukan

penyesuaian dengan

perkembangan tersebut,

bahkan harus dapat

mengantisipasi sejauh

mungkin perkembangan

selanjutnya.

KEY-DRIVERS(KECENDERUNGAN)

POLUGRI RI MASA SBY-JK





 Selama masa pemerintahan SBY-Yusuf Kalla),

menurut pandangan Rizal Sukma, Kompas,

23/12/2004, politik luar negeri Indonesia,

sangat ditentukan oleh adanya enam key-drivers

(kecenderungan), yaitu :

Adanya supremasi dan

hegemoni AS akan terus

bertahan dan kemungkinan

akan lebih kuat dari saat

sekarang. Itu fakta geopolitik

yang harus dihadapi dan

diperhitungkan. Supremasi

dan hegemoni AS itu belum

bisa ditandingi negara lainnya

sampai puluhan tahun

kedepan;

Berlanjutnya kebangkitan

Cina, yang kemungkinan

dalam 40 sampai 50 tahun

mendatang akan menjadi

penantang utama AS. Harus

diperhitungkan bagaimana

Cina menerjemahkan kekuatan

ekonominya jadi kekuatan

militer;

Revitalisasi peran

keamanan Jepang di

kawasan Asia Pasifik

dengan disetujuinya

kerangka pertahanan

baru Jepang;

Tren kearah

pembangunan

Komunitas Asia Timur,

yang akan terus

mendominasi agenda

politik luar negeri dan

kerjasama di kawasan

ini untuk lima tahun

kedepan;

Kecenderungan

unilateralisme dan

bilateralisme. Unilateralisma

AS sulit dibendung,

sementara ASEAN sendiri

pada akhirnya negara-negara

ASEAN akan lebih banyak

bergerak sendiri-sendiri dan

melakukan hubungan-

hubungan bilateral dengan

negara lainnya;

Kenderungan

kembalinya

otoritarianisme

daripada

demokrasi.

Dampak dari enam kecenderungan

tersebut menurut Rizal Sukma,

menyebabkan semakin tidak relevannya

ASEAN sebagai sebuah organisasi regional

bangsa-bangsa Asia Tenggara. Fokus untuk

konsolidasi ASEAN akan hilang, dan ini

juga akan berdampak pada marjinalisasi

peran Indonesia di forum internasional.

Namun Marty Natalegawa, Kompas,

23/12/2004, menilai bahwa Deplu masih

optimistis bahwa Indonesia bisa

memainkan peran yang menonjol di

ASEAN maupun internasional, karena

memiliki empat aset penting yang bisa

diberdayakan dalam menjalankan politik

luar negeri, yaitu:

Demokrasi; artinya demokrasi

yang sedang dibangun di

Indonesia akan mengurangi

resistensi dari negara-negara

Barat yang senantiasa

mensyaratkan demokrasi

sebagai salah satu indikator

mau bekerjasama dengan

mereka;

Umat Islam yang moderat

dan jumlahnya terbesar di

dunia. Tuduhan bahwa Islam

adalah teroris, hanya

berlaku kepada kelompok-

kelompok fundamentalis

dan radikal, sedangkan

dengan kelompok moderat

dunia Barat tidak terlalu

khawatir;

Pers yang bebas dan

kritis, akan

menunjukkan telah

terbangunnya civil

society yang merupakan

prasyarat terbangunnya

demokrasi;

Peran DPR yang semakin besar

sebagai check and balance antara

eksekutif dan legislatif,

meskipun agak

mengkhawatirkan dengan

terpilihnya Jusuf Kalla

(Wapres) sebagai Ketua Umum

Golkar melebihi Agung

Laksono (Ketua DPR) sebagai

Wakil Ketua Umum Partai

Golkar.

Dalam perkembangan global, MPR secara tegas

menggariskan adanya urutan prioritas dari

pemikiran strategis Indonesia, yaitu :

Pelaksanaan polugri yang

bebas aktif diabdikan

kepada kepentingan

nasional, terutama untuk

kepentingan pembangunan

disegala bidang (sekarang

recovery);

Meneruskan usaha-usaha

pemantapan stabilitas dan

kerjasama di wilayah Asia

Tenggara dan Pasifik Barat

Daya, khususnya

lingkungan ASEAN

sebagai corner stones dalam

rangka mempertinggi

tingkat ketahanan nasional

untuk mencapai ketahanan

regional;

Meningkatkan peranan

Indonesia di dunia

Internasional dalam rangka

membina dan meningkatkan

persahabatan dan kerjasama

yang saling bermanfaat antara

bangsa-bangsa;

Memperkokoh

kesetiakawanan,

persatuan dan

kerjasama

ekonomi;

Meningkatkan

kerjasama antar negara

untuk menggalang

perdamaian dan

ketertiban dunia demi

kesejahteraan umat

manusia berdasarkan

kemerdekaan dan

keadilan social.

LANDASAN POLITIK LUAR NEGERI

INDONESIA



 Namun dalam menyesuaikan kebijaksanaan luar

negeri dengan situasi internasional yang

berkembang, landasan dan dasar-dasar dari politik

luar negeri tetap sama dan tidak berubah, karena

dasar-dasar yang pokok dapat dikembalikan pada

Undang-undang Dasar 1945.

Dasar-dasar yang pokok dari Politik

Luar Negeri RI tercantum dalam

Pembukaan Undang-undang Dasar

1945. Alinea pertama menyatakan

bahwa : …kemerdekaan ialah hak segala

bangsa dan oleh sebab itu, maka

penjajahan diatas dunia harus

dihapuskan karena tidak sesuai dengan

perikemanusiaan dan perikeadilan…

Selanjutnya Pembukaan UUD’45

mengatakan dalam ayat ke-4,

bahwa : …Pemerintah/negara

berkewajiban melindungi segenap

bangsa Indonesia dan untuk seluruh

tumpah darah Indonesia dan untuk

memajukan kesejahteraan umum,

mencerdaskan kehidupan bangsa, dan

ikut melaksanakan ketertiban dunia

yang berdasarkan kemerdekaan,

perdamaian abadi dan keadilan

social.

Politik luar negeri Indonesia dengan

demikian mempunyai landasan atau

dasar yang kuat karena berakar dalam

falsafah Pancasila. Karena itu

bagaimanapun juga kita tidak bisa

menyimpang daripadanya dan harus

tetap setia pada dasar-dasar atau landasan

pokok politik luar negeri yang oleh

perintis kemerdekaan dituangkan dalam

kata yang sederhana dan jelas, dan bisa

dikatakan sebagai landasan ideal dari

politik luar negeri Indonesia.

Dalam melaksanakan aspek ideal tersebut

bisa saja tidak paralel dengan aspek realitas,

disinilah diperlukan manuver dan kelincahan

berdiplomasi yang luwes, yang dalam

pelaksanaannya tidak dogmatis dan kaku,

tetapi realistis dan pragmatis melalui

pelaksanan Politik Luar Negeri yang bebas aktif.

Bebas : dalam pengertian bahwa Indonesia tidak

memihak pada kekuatan-kekuatan yang pada

dasarnya tidak sesuai dengan kepribadian bangsa

sebagaimana dicerminkan dalam Pancasila. Aktif

: berarti bahwa di dalam menjalankan

kebijaksanaan luar negerinya, Indonesia tidak

bersikap pasif-reaktif atas kejadian-kejadian

internasionalnya, melainkan bersikap aktif.

Dengan polugri yang bebas aktif,

Indonesia mendudukan dirinya sebagai

subyek dalam hubungan luar negerinya

dan tidak sebagai objek, sehingga

Indonesia tidak dapat dikendalikan

oleh haluan politik negara lain yang

berdasarkan pada kepentingan

nasionalnya. Politik luar negeri adalah

komponen dari kebijaksanaan politik

nasional yang tidak dapat dipisahkan

dari kondisi-kondisi real di dalam

negeri.

Namun tetap saja arah politik luar negeri

Indonesia akan tepat sasaran atau tidak,

bergantung kepada kebijakan seperti apa

yang akan diambil dan ditetapkan oleh

Presiden. Kalau Gus Dur sangat

menonjolkan peran hubungan internasional

dalam prioritas pemerintahannya dan

Megawati Soekarnoputri menekankan

hubungan dengan negara-negara ASEAN

sebagai prioritas, dengan menempatkan

ASEAN sebagai batu pijakan kearah

hubungan yang lebih luas, prioritas SBY

akan kemana ?

SIKAP POLUGRI SBY



 Kalau melihat kecenderungan yang ada di Asia

Pasifik seperti yang disinyalir oleh Rizal Sukma,

maka pemerintahan SBY perlu menyiapkan

strategi apa yang akan dijalankan untuk

mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang

akan terjadi, paling tidak di kawasan ASEAN dan

Asia Pasifik.

Strategi yang paling ideal

dalam upaya mengantisipasi

siapa yang akan menjadi

leader di Asia Pasfik, maka

AS adalah sebuah negara

yang tetap menjadi prioritas

hubungan luar negeri

Indonesia dan baru

kemudian menyusul China

dan Jepang.

Mendekati negara-negara

tersebut, tidak hanya semata-

mata dalam kerangka ASEAN,

namun saatnya juga menata

hubungan bilateral yang lebih

kontinyu dengan negara-negara

tersebut, sebab ada

kecenderungan negara-negara

ASEAN lain, sudah mulai

meninggalkan ASEAN dan

berlomba mencari gandengan

dengan melakukan hubungan

bilateral.

Keinginan negara-negara ASEAN untuk

mengimplementasikan Plann of Action dari

ASEAN Economic Community, akan mendapat

tantangan dari negara-negara anggotanya

sendiri, karena hubungan langsung dengan

negara-negara lain di luar kawasan dirasakan

jauh lebih menguntungkan daripada hanya

berkutat dalam wadah ASEAN yang sudah

mulai kesempitan. Plann of Action dari ASEAN

Economic Community memang sudah

ditandangani dalam KTT ASEAN ke-10 di

Vientine, namun negara-negara ASEAN

seperti Singapura dan Malaysia masih

setengah hati untuk menerapkannya.

Dalam posisi seperti ini alangkah

lebih baik apabila Indonesia sudah

memiliki alternatif lain selain tetap

berada dalam lingkungan ASEAN.

Diantaranya mungkin perlu untuk

dijajaki bagaimana mengikat

negara-negara yang potensial

menjadi penguasa di kawasan Asia

Pasifik seperti AS, China dan

Jepang untuk diikat dalam

hubungan bilateral yang lebih

kontinyu dan lebih dekat

Langkah lain adalah membina

hubungan dengan kawasan-kawasan

lain yang selama ini belum tergarap

secara optimal, umpamanya dengan

negara-negara di Pasifik. Mungkin

perlu dipikirkan kembali gagasan

Gus Dur untuk membangun

kerjasama atau forum yang

dinamakan Forum Pasifik Barat,

apalagi setelah Australia

mengumumkan negaranya sebagai

deputy shariff AS di kawasan Asia.

Secara ekonomi, makna hubungan Indonesia dengan

Australia, Timor Leste, Papua Newgini, Selandia Baru,

Haiti dan Philipina sangat berarti bagi perluasan pasar

produk Indonesia dan juga secara politik akan

menguntungkan, sebab peran negara-negara tersebut

terhadap eskalasi separatisme sangat besar, terutama

Australia dan Papua Newgini di Papua, Timor Leste di

NTT, Philipina di Myangas (La Palmas) dan lain-lain.

Disinilah dibutuhkan kecerdasan

seorang Presiden untuk

membaca setiap peluang,

tantangan dan kecenderungan di

lingkungannya untuk merubah

menjadi keuntungan bagi

national interest Indonesia di

forum internasional yang

cenderung anarkhis, belum lagi

permasalahan TKI yang tak

kunjung selesai.

Indonesia jangan “kurung batok”,

hanya melihat ASEAN sebagai ruang

hidup. ASEAN sudah terlalu sempit

bagi negara sebesar Indonesia, sudah

selayaknya pemerintahan baru

Indonesia menatap masa depan yang

lebih luas dan lebih prospektif. Ketika

Jepang dan China serta Korea sedang

giat-giatnya menggagas pembangunan

Komunitas Asia Timur, hendaknya

ditangkap menjadi sebuah peluang

yang menguntungkan bagi Indonesia

Komunitas Asia Timur bukan sebagai

ancaman bagi Indonesia, sebaliknya ini

adalah sebuah lahan baru yang selayaknya

dimanfaatkan untuk dijadikan peluang

bagi keuntungan Indonesia baik secara

politis maupun secara ekonomi.

Komunitas Asia Timur yang banyak

didominasi negara-negara industri, tentu

membuka peluang bagi Indonesia sebagai

sebuah negara dengan jumlah Sumber

Daya Alam yang melimpah untuk

memasok kebutuhan industri mereka.

Asia Timur saya kira adalah sebuah

kawasan yang tepat untuk dijadikan

orientasi politik luar negeri Indonesia

kedepan. Untuk itulah perlu disiapkan

perangkat apa saja yang perlu dibenahi

guna mewujudkan impian tersebut.

Apalagi niat Indonesia untuk menjadi

anggota tetap Dewan Keamanan PBB akan

menjadi mudah apabila China dan Jepang

(Jepang juga mencalonkan sebagai

representasi dari negara Industri bersama

Jerman) dapat dirangkul selain negara-

negara anggota Gerakan Non-Blok, yang

masih menganggap Indonesia sebagai

sebuah negara yang dituakan.

Tentu saja dalam upaya

mengantisipasi setiap

kemungkinan dan

kecenderungan tersebut,

perlu terlebih dahulu

adanya upaya untuk

merumuskan kira-kira

pola tindak seperti apa

yang akan dilakukan oleh

para pelaksana politik luar

negeri Indonesia.

Perumusan pelaksanaan politik

luar negeri dipengaruhi oleh

perkembangan situasi politik

internasional pada khususnya dan

situasi hubungan internasional

pada umumnya. Hal ini sejalan

dengan pemikiran Cecil V. Crabb

Jr, yang mengatakan : “Jika dilihat

dari unsur-unsur fundamentalnya,

politik luar negeri terdiri dari dua

elemen, yatu: tujuan nasional

yang akan dicapai dan alat-alat

untuk mencapainya.

Politik luar negeri Indonesia nantinya adalah

merupakan pandangan rasional dari SBY-Kalla

dibantu oleh Hasan Wirajuda, yang nantinya

akan dijadikan orientasi para pelaksana

hubungan internasional atau para diplomat

Indonesia dalam memperjuangkan national

interestnya. Polugri RI mulai di laksanakan

sejak 2 September 1948, yang di sampaikan

melalui pidato Bung Hatta di depan sidang

KNIP dengan judul : “Mendayung diantara

Dua Karang”, akan menjadi panduan bagi

pemerintahan SBY untuk merumuskan

langkah-langkah konkret pemerintah

Indonesia untuk memperjuangkan

kepentingan nasional bangsa Indonesia.

Indonesia dalam menggagas

ASC dan kebijakan lain yang

diungkapkan oleh Menlu

tidak ditujukan untuk

melindungi kepentingan

nasional, tetapi justru ingin

memisahkan aspek

konsiderasi moral dari

capaian kepentingan nasional.

Kebijakan luar negeri

Indonesia yang bebas aktif

bergerak maju di luar kendala

seperti itu.

Memang tidak dapat dipungkiri,

aneka perkembangan di luar negeri

memerlukan perhatian bersama

mengingat kompleksitas sentuhan

persoalannya kian dekat, apalagi saat

limbah persoalan internasional

mudah meluber menabrak

kepentingan banyak pihak. Kasus

TKI Ilegal dan kasus deportasi WNI

dari Timor Leste menjadi ilustrasi

betapa mudahnya masalah meluber

menghadapkan kita dengan negara

lain.

Ditengah perbenturan persoalan seperti

itu, kebijakan luar negeri dan diplomasi

menjadi elemen penting. Komponen

yang berperan untuk mendekatkan jarak

kepentingan antar faktor internasional

dan domestik kearah solusi yang tepat

berdasarkan dialog, perundingan dan

bahkan menggunakan pendekatan

kekerasan. Mesin diplomasi akan

mengantarkan hubungan suatu negara

dengan negara lain dalam situasi

bersahabat sekalipun kita memiliki

timbunan persoalan dan perbedaan

kepentingan.

Maka mengingat betapa pentingnya

diplomasi, Presiden SBY telah

memberikan arahan kepada para

pelaksana diplomasi Indonesia continuity

and change bagi kebijakan luar negeri yang

bebas dan aktif. Sekaligus

menggarisbawahi betapa pentingnya aspek

kepedulian, keberpihakan, dan

perlindungan bagi warga negara Indonesia

di luar negeri. Satu-dua tahun terakhir,

pelaksanaan kebijakan luar negeri

memasuki tataran orientasi yang lebih

membumi dengan meningkatnya sentuhan

kepentingan publik.

Namun disisi lain, kecenderungan

yang terjadi dikawasan Asia Pasifik

akan menentukan arah politik luar

negeri Indonesia selanjutnya, sebab

mau tidak mau tantangan global

yang mesti dihadapi oleh Indonesia

mengarah pada kecenderungan-

kecenderungan tersebut. Sudah

selayaknya apabila politik luar

negeri bebas aktif menjadi

kendaraan untuk merekatkan

hubungan dengan AS, China,

Jepang dan Korea Selatan sekaligus.

Kebijakkan luar negeri

Indonesia yang bebas aktif

dinilai perlu dikembangkan

dan disesuaikan dengan

kondisi realitas dunia masa

kini. Hal ini perlu dilakukan

agar politik bebas aktif itu bisa

mewakili dan menyuarakan

kepentingan nasional

Indonesia di tingkat dunia

dimasa-masa mendatang.

Namun, ini tidak berarti

kemudian membongkar

total atau mengganti

keseluruhan konsep

politik bebas aktif yang

dianut pemerintah

Indonesia sejak tahun

1948 pada masa

pemerintahan Soekarno-

Hatta

“Kita harus mengembangkan

kebijakan politik luar negeri kita.

Namun, harus tetap dalam koridor

politik bebas aktif. Saya harap ada

forum-forum yang mendidkusikan

lebih lanjut apa-apa saja didalam

konsep politik bebas aktif yang bisa

dikembangkan dimasa depan, untuk

melanjutkan agenda nasional dan

mempertahankan kepentingan

nasional kita”.

Meski Indonesia mengalami

beberapa kali pergantian

pemerintahan dan perubahan

system politik, konsep politik

bebas aktif tidak pernah

berubah dan tetap menjadi

prinsip utama dalam

kebijakan luar negeri

Indonesia. Namun timbul

pertanyaan, apa arti politik

bebas aktif itu dimasa kini ?

Hal itu kata SBY perlu

dipertanyakan karena kondisi

dunia saat ini sangat jauh

berbeda dibandingkan dengan

kondisi dunia para pendahulu.

Masalah yang dulu belum ada,

saat ini menjadi isu penting

seperti terorisme

internasional dan globalisasi.

Indonesia kata SBY saat

ini tengah “Mengarungi

Samudera yang

Bergejolak”. Oleh

karenanya kita

memerlukan kebijakan

politik luar negeri yang

bisa membantu kita

melewati gejolak itu.

Yang penting, Indonesia

harus memiliki

kemampuan

diplomatic, intelektual,

dan emosional untuk

menangani isu

kebijakan luar negeri

yang kompleks.

Oleh karena itu penting bagi

Indonesia untuk memiliki

kemampuan menjalin

hubungan baik dengan

komunitas internasional.

Menurut SBY, itulah

sebenarnya inti dari politik

bebas aktif, yakni bagaimana

cara menjalin hubungan baik

dengan semua pihak melalui

proses diplomasi.

Jalinan itulah yang juga akan

menentukan pengaruh dan

kemampuan Indonesia dalam

membentuk tatanan dunia

internasional. Jalinan

tersebut, bukan hanya antar

pemerintah, tetapi juga antara

pemerintah dan pelaku usaha,

pemerintah dan lembaga-

lembaga non-pemerintah,

atau pemerintah dan tokoh-

tokoh individual lainnya.

Dunia saat ini sangat

kompleks. Mustahil bagi

Indonesia untuk terlibat

dalam semua isu

internasional. Indonesia

harus bisa

mengembangkan cara

baru menciptakan jalinan

hubungan dengan berbagai

hal dan berbagai pihak.

Salah satu contoh nyata peran

Indonesia sebagai

“penghubung” antar Negara

adalah ASEAN. Peran

Indonesia penting karena bisa

menyatukan berbagai

perbedaan dan kepentingan

didalam sebuah forum

dimana berbagai Negara bisa

duduk bersama dan

bekerjasama.

Kebijakan luar negeri

berperan penting

dalam pemerintahan

suatu Negara.

Indonesia kata SBY

mampu dan ingin

membangun dunia

yang lebih baik.

(Dikutip dari tulisan Ade

Priangani, “Tantangan

Politik Luar Negeri Masa

Pemerintahan SBY-Jusuf

Kalla”, Jurnal Paradigma

Polistaat, Vol. 5 No. 3,

Desember 2004-

Februari 2005 dan Berita

“Politik Bebas Aktif RI

Perlu Pengembangan”,

20 Mei 2005, hal 1-11).


Related docs
Other docs by HC11111621410
APPLICATION FOR A NORTH CAROLINA LICENSE
Views: 0  |  Downloads: 0
Master List
Views: 0  |  Downloads: 0
General Audience 3 08
Views: 0  |  Downloads: 0
CIP-Nontrad-Cluster by CIP
Views: 1  |  Downloads: 0
S T D N H P S E
Views: 0  |  Downloads: 0
Cover
Views: 0  |  Downloads: 0
rc_verification
Views: 0  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!