PENDAHULUAN H A ND UR I A W

W
Shared by: HmPKepOD
Categories
Tags
-
Stats
views:
93
posted:
11/16/2011
language:
Swahili
pages:
158
Document Sample
scope of work template
							                                    H A ND
                             UR I            A
                         W




                                             YA
                     T
                   TU




                                               NI
  PEMBELAJARAN BERBASIS
         PAIKEM
(CTL, Pembelajaran Terpadu, Pembelajaran Tematik)




      Materi Pelatihan Penguatan Kemampuan
                 Pengawas Sekolah




      DIREKTORAT TENAGA KEPENDIDIKAN
              DIREKTORAT JENDERAL
PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
        KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL
                              2010
                      SAMBUTAN
                  DIREKTUR JENDERAL
   PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

Di dalam pelaksanaan program penguatan kemampuan kepala sekolah dan
pengawas sekolah yang merupakan agenda dari program 100 hari Mendiknas,
Direktorat Tenaga Kependidikan Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik
dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK) telah menyusun materi untuk
penguatan kemampuan kepala sekolah dan pengawas sekolah.

Di dalam pengembangan materi tersebut telah mengacu kepada standar
pengawas sekolah sebagaimana diatur dalam Permendiknas No. 12 tahun 2007.
Saya memberikan penghargaan yang tinggi kepada Direktorat Tenaga
Kependidikan atas dihasilkannya materi penguatan kemampuan pengawas
sekolah dalam rangka meningkatkan kompetensi pengawas sekolah.

Materi ini diharapkan dapat dijadikan referensi bagi individu pengawas sekolah
dan lembaga yang terkait dalam penguatan kemampuan pengawas sekolah di
Propinsi dan Kab/Kota. Berbagai pihak yang ingin berkontribusi terhadap
program penguatan pengawas sekolah dapat memperkaya dengan berbagai
referensi dan khasanah bacaan lainnya untuk mewujudkan pengawas sekolah
yang profesional dan akuntabel.

Semoga semua usaha kita untuk penguatan kemampuan pengawas sekolah
sesuai dengan standar pengawas sekolah sebagaimana diamanahkan dalam
Permendiknas No. 12 tahun 2007 dapat diwujudkan, sehingga dapat
meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya dan menghasilkan lulusan yang
cerdas, kreatif, inovatif dan berpikir kritis.

                                               Jakarta, Januari 2010
                                               Direktur Jenderal PMPTK




                                               Prof. Dr. Baedhowi, M.Si
                                               NIP 19490828 197903 1 001




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 i
Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah   ii
                             KATA PENGANTAR


Pada tahun 2007, Direktorat Tenaga Kependidikan, Ditjen PMPTK bekerjasama
dengan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah berhasil merumuskan
standar pengawas sekolah/madrasah yang ditetapkan melalui Permendiknas No
12 tahun 2007. Untuk mengoperasionalkan dan mengimplementasikan
Permendiknas tersebut, Direktorat Tenaga Kependidikan telah berupaya
menyusun materi pelatihan sesuai dengan masing-masing komponen
kompetensi pengawas sekolah yang diatur dalam Permendiknas No 12 tahun
2007.
Materi yang telah disusun ini  merupakan bagian dari rencana pelaksanaan
program penguatan pengawas sekolah, program kedua dari delapan program
100 hari Mendiknas. Program penguatan kemampuan pengawas sekolah sangat
penting mengingat peran strategis pengawas sekolah di dalam proses
peningkatan mutu pendidikan.
Pengawas sekolah mempunyai tugas yang sangat penting di dalam mendorong
guru untuk malakukan proses pembelajaran untuk mampu menumbuhkan
kemampuan kreatifitas, daya inovatif, kemampuan pemecahan masalah, berpikir
kritis dan memiliki naluri jiwa kewirausahaan bagi siswa sebagai produk suatu
sistem pendidikan. Materi ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi
peningkatan kompetensi pengawas sekolah sesuai yang diamanahkan
Permendiknas No 12 tahun 2007.
Kami menyadari bahwa buku ini masih jauh dari sempurna, namun kami perlu
menyampaikan penghargaan kepada tim penyusun buku ini yang telah berusaha
dan berhasil mempersiapakan materi yang dapat dijadikan bahan bacaan bagi
usaha peningkatan kompetensi pengawas sekolah. Berbagai pihak yang terkait
dengan penguatan kemampuan pengawas sekolah dapat memperkaya dengan
materi yang lain sepanjang mencapai tujuan yang sama yaitu meningkatkan
kompetensi pengawas sekolah sesuai dengan Permendiknas No 12 tahun 2007.
Semoga buku ini bermanfaat bagi usaha penguatan kemampuan pengawas
sekolah di seluruh Kab/Kota di Indonesia.

                                               Jakarta, Januari 2010
                                               Direktur Tenaga Kependidikan




                                               Surya Dharma, MPA, Ph.D
                                               19530927 197903 1 001



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  iii
Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah   iv
                                                   DAFTAR ISI


SAMBUTAN DIRJEN PMPTK ........................................................................                          i
KATA PENGANTAR ................………………………….…………..………                                                                    iii
DAFTAR ISI .......................................................................................................      v
PENDAHULUAN ...…………………………….…………..………………..                                                                               1
 A. Latar belakang .......................................................................................              1
  B. Dimensi Kompetensi ..............................................................................                  1
 C. Kompetensi yang Hendak Dicapai .......................................................                              2
 D. Indikator Pencapaian Kompetensi .......................................................                             2
  E. Alokasi Waktu ......................................................................................               2
  F. Skenario ..................................................................................................        2
PEMBELAJARAN PAIKEM ……………………….……..………..………………………….
                                            4
  A. Latar Belakang ………………………................……………………....                                                               4
  B.     Konsep Dasar Pembelajaran ………………………………………..…….…………………………..…
                                                        7
  C.     Tujuan PAIKEM …………..……………………………………………                                                                         14
  D.     Karakteristik PAIKEM ……………………………………….......…....                                                              15
  E.     Jenis-jenis PAIKEM ……………………………………………………………………………
                                                  16
  F.     Penerapan PAIKEM……………………………………………………                                                                          17
PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CTL) ……………………..........…                                                                     21
  A. Latar Belakang Filosofis dan Psikologis ......…………………………                                                          21
  B.     Pengertian Pembelajaran Kontekstual ................................................                          24
  C.     Langkah-langkah CTL ………………………………………………...                                                                     26
  D.     Karakteristik Pembelajaran CTL……………….......…………………                                                            26
  E.     Strategi Pembelajaran Kontekstual .....................................................                       29
  F.     Perbedaan Pembelajaran Kontekstual Dengan Pembelajaran
                                                                                                                       31
         Tradisional ...............................................................................................    ………….
  G.     Evaluasi Otentik dalam CTL .................................................................                  …………….
                                                                                                                        33
 H.      Penerapan Pembelajaran Kontekstual di Kelas .................................                                 …………….
                                                                                                                        34



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                                                                 v
PEMBELAJARAN TERPADU ..........................................................……….                              55
 A. Latar Belakang ........................................................................................       ………….
                                                                                                                 55
  B.   Tujuan Pembelajaran Terpadu .............................................................                 58
 C.    Jenis-jenis Pembelajaran ......................................................................           59
 D.    Pembelajaran IPA Terpadu ..................................................................               59
  E.   Pembelajaran IPS Terpadu ...................................................................              …………….
                                                                                                                  90
PEMBELAJARAN TEMATIK .......................................................................                     109
 A.    Latar Belakang ........................................................................................   …………….
                                                                                                                 109
  B.   Kerangka Berpikir ..................................................................................      111
 C.    Pengertian Pembelajaran Tematik .......................................................                   ...………….
                                                                                                                 115
 D.    Landasan Pembelajaran Tematik .........................................................                   118
  E.   Karakteristik Pembelajaran Tematik ...................................................                    …………….
                                                                                                                 119
  F.   Rambu-rambu Pembelajaran Tematik .................................................                        …………….
                                                                                                                 121
 G.    Implikasi Pembelajaran Tematik ..........................................................                 …………….
                                                                                                                 121
 H.    Tahap Persiapan Pembelajaran ............................................................                 …………….
                                                                                                                 123
  I.   Tahap Pelaksanaan Pembelajaran ........................................................                   …………….
                                                                                                                 127
  J. Penilaian Pembelajaran Tematik ..........................................................                    ………….
                                                                                                                 130
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                                                           vi
                             PENDAHULUAN

A. Latar belakang


     Tugas pengawas satuan pendidikan tidak hanya melakukan supervisi
     manajerial kepala sekolah, namun juga membina guru melalui supervisi aka-
     demik. Dalam pembinaan guru tentu harus mengacu pada kompetensi guru,
     terutama kompetensi profesional berkaitan dengan proses pembelajaran. Se-
     jalan dengan perkembangan teknologi serta teori-teori pembelajaran, maka
     guru pun dituntut mampu menguasai dan memilih pendekatan, strategi dan
     metode pembelajaran yang tepat, sehingga menjadikan siswa aktif, kreatif,
     dan belajar dalam suasana senang serta efektif.


     Menghadapi tugas tersebut pengawas tentu harus menguasai strategi/
     metode/ teknik pembelajaran/bimbingan yang up to date. Bila pengetahuan
     pengawas sudah ketinggalan, apa lagi hanya mengandalkan pengalaman
     tan-pa didukung teori-teori, maka pengawas tidak akan mandapatkan
     respek dari para guru yang dibinanya. Paling tidak, untuk jenjang
     pendidikan dasar pe-ngawas harus memahami garis besar strategi
     pembelajaran mata pelajaran utama antara lain: matematika, IPA, IPS,
     bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.
     Materi pelatihan ini dimaksudkan memberikan wawasan dan pengalaman
     langsung    melalui   praktek-praktek     simulasi   bagi   pengawas   dalam
     melaksanakan tugas supervisi akademik di tingkat TK, SD, SMP, SMA,
     SMK, SLB.

B.   Dimensi Kompetensi
     Dimensi kompetensi yang diharapkan dibentuk pada akhir Diklat ini adalah
     dimensi Kompetensi Supervisi Akademik.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   1
C. Kompetensi yang Hendak Dicapai
     Setelah mengikuti pelatihan ini pengawas diharapkan dapat membim-bing
     guru dalam memahami, memilih dan menggunakan strategi/metode/tek-
     nik pembelajaran/bimbingan yang dapat mengembangkan potensi siswa
     agar kritis, kreatif, inovatif, mampu memecahkan masalah melalui mata-
     mata pelajaran yang relevan.


D. Indikator Pencapaian Kompetensi
     Indikator pencapaian hasil diklat ini adalah apabila pengawas dapat:
     1.    Memahami Hakikat Pendekatan Pembelajaran
     2.    Mengidentifikasi Berbagai Jenis Pembelajaran PAIKEM
     3.    Membimbing guru dalam menggunakan Berbagai Metode Pembelajaran
           Berbasis PAIKEM pada setiap mata pelajaran sesuai dengan tingkat
           berpikir peserta didik.


E.   Alokasi Waktu

          No.                        Materi Diklat                    Alokasi
            1. Pembelajaran Berbasis CTL                             4 jam
            2. Pembelajaran Terpadu (IPA Terpadu, IPS Terpadu)       4 jam
            3. Pembelajaran Tematik                                  4 jam


F.   Skenario
     1. Perkenalan
     2. Pejelasan tentang dimensi kompetensi, indikator, alokasi waktu dan
          skenario pendidikan dan pelatihan strategi pembelajaran.
     3. Pre-test
     4. Eksplorasi pemahaman peserta berkenaan dengan strategi pembelajaran,
          melalui pendekatan andragogi.
     5. Penyampaian Materi Diklat:




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    2
       a. Menggunakan pendekatan andragogi, yaitu lebih mengutamakan pe-
          ngungkapan kembali pengalaman peserta pelatihan, menganalisis, me-
          nyimpulkan, dan mengeneralisasi dalam suasana diklat yang aktif, ino-
          vatif, kreatif, efektif, menyenangkan, dan bermakna. Peranan pelatih
          lebih sebagai fasilitator.
       b. Diskusi tentang indikator keberhasilan pelatihan strategi pembelajaran.
       c. Praktik pengembangan strategi pembelajaran.
   6. Post test.
   7. Refleksi bersama antara peserta dengan pelatih mengenai jalannya
       pelatihan.
   8. Penutup




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    3
                           PEMBELAJARAN
                              PAIKEM

A. Latar Belakang
    Para ahli pendidikan berpendapat bahwa proses pembelajaran di sekolah
    sampai saat ini cenderung berpusat kepada guru. Tugas guru adalah
    menyampaikan materi-materi dan siswa diberi tanggung jawab untuk
    menghafal semua pengetahuan. Memang pembelajaran yang berorientasi
    target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat
    dalam jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan
    masalah dalam kehidupan jangka panjang.


    Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang mereka pelajari
    bukan mengetahuinya, oleh karena itu para pendidik telah berjuang dengan
    segala cara dengan mencoba untuk membuat apa yang dipelajari siswa di
    sekolah agar dapat dipergunakan dalam kehidupan mereka sehari-hari.


    Salah satu prinsip paling penting dari psikologi pendidikan adalah guru
    tidak boleh semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa. Siswa
    harus membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri. Guru dapat
    membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi
    menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan
    memberikan ide-ide, dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan
    menggunakan sendiri ide-ide, dan mengajak siswa agar menyadari dan
    menggunakan strategi-strategi mereka sendiri dalam belajar. Guru dapat
    memberikan kepada siswa tangga yang dapat membantu mereka mencapai




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                              4
    tingkat pemahaman yang lebih tinggi, tetapi harus di upayakan sendiri
    siswa yang memanjat tangga itu.


    Tingkat    pemahaman      siswa   menurut   model    Gagne    (1985)   dapat
    dikelompokan menjadi delapan tipe belajar, yaitu: (1) belajar isyarat, (2)
    stimulus-respon, (3) rangkaian gerak, (4) rangkaian verbal, (5) membedakan,
    (6) pembentukan konsep, (7) pembentukan aturan dan (8) pemecahan
    masalah (problem solving).


    Di lihat dari urutan belajar, belajar pemecahan masalah adalah tipe belajar
    paling tinggi karena lebih kompleks, Dalam tipe belajar pemecahan masalah,
    siswa berusaha menyeleksi dan menggunakan aturan-aturan yang telah
    dipelajari terdahulu untuk membuat formulasi pemecahan masalah. Lebih
    jauh Gagne (1985) mengemukakan bahwa kata-kata seperti penemuan
    (discovery) dan kreatifitas (creativity) kadang-kadang diasosiasikan sebagaii
    pemecahan masalah.


    Pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning
    /CTL), Pembelajaran Terpadu , Pembelajaran Inkuiri dengan menggunakan
    metode pembelajaran berbuat seperti: kerja kelompok, eksperimen,
    pengamatan, penelitian sederhana, pemecahan masalah, dan pembelajaran
    praktik dengan dikombinasikan dengan metode ekspositori seperti ceramah,
    tanya jawab dan demonstrasi adalah pendekatan pembelajaran yang
    karakteristiknya memenuhi harapan itu. Pendekatan atau model-model
    pembelajaran tersebut menjadi tumpuan harapan para ahli pendidikan dan
    pengajaran dalam upaya menghidupkan kelas secara optimal. Kelas yang




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   5
    hidup diharapkan dapat mengimbangi perubahan yang terjadi di luar
    sekolah yang demikian cepat.


    Setiap pendekatan memiliki ciri-ciri dasar atau karakteristik sendiri.
    Karakteristik ini berhubungan dengan apa yang menjadi fokus dan
    mendapat tekanan dalam pembelajaran. Ada pendekatan pembelajaran yang
    berfokus pada siswa yang meliputi perkembangan, kemampuan berpikir,
    aktivitas, pengalaman siswa. Pendekatan pembelajaran berfokus pada guru
    yang meliputi fungsi, peran, dan aktivitas guru. Pendekatan pembelajaran
    berfokus pada masalah meliputi masalah personal, sosial, lingkungan, atau
    pendekatan     pembelajaran     yang       berfokus   pada   teknologi,   sistem
    instruksional, sistem informasi, media, sumber belajar, dll.


    Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita
    terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk pada pandangan
    tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Oleh
    karenanya strategi dan metode pembelajaran yang digunakan dalam
    pembelajaran tergantung pada pendekatannya. Hal ini sesuai dengan
    Permendiknas Nomor 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan
    Pendidikan Dasar dan Menengah yang menyatakan bahwa dalam kegiatan
    inti pembelajaran merupakan proses untuk mencapai Kompetensi Dasar
    (KD) yang harus dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
    menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta
    memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, krativitas, dan kemadirian
    sesuai denganbakat, minat, dan perkembangan fisik dan psikologis peserta
    didik. Kegiatan pembelajaran ini dilakukan secara sistematis dan sistemik
    melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                      6
B. Konsep Dasar Pembelajaran


    1. Belajar dan Pembelajaran


       Belajar dan pembelajaran merupakan konsep yang saling berkaitan.
       Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku akibat interaksi
       dengan lingkungan. Proses perubahan tingkah laku merupakan upaya
       yang dilakukan secara sadar berdasarkan pengalaman ketika berinteraksi
       dengan lingkungan. Pola tingkah laku yang terjadi dapat dilihat atau
       diamati dalam bentuk perbuatan reaksi dan sikap secara mental dan fisik.


       Tingkah    laku yang berubah        sebagai   hasil proses pembelajaran
       mengandung pengertian luas, mencakup pengetahuan, pemahaman,
       sikap, dan sebagainya. Perubahan yang terjadi memiliki karakteristik: (1)
       perubahan terjadi secara sadar, (2) perubahan dalam belajar bersifat
       sinambung dan fungsional, (3) tidak bersifat sementara, (4) bersifat positif
       dan aktif, (5) memiliki arah dan tujuan, dan (6) mencakup seluruh aspek
       perubahan tingkah laku, yaitu pengetahuan, sikap, dan perbuatan.


       Keberhasilan belajar peserta didik dipengaruhi oleh faktor internal dan
       eksternal. Faktor internal, yaitu kondisi dalam proses belajar yang berasal
       dari dalam diri sendiri, sehingga terjadi perubahan tingkah laku. Ada
       beberapa hal yang termasuk faktor internal, yaitu: kecerdasan, bakat
       (aptitude), keterampilan (kecakapan), minat, motivasi, kondisi fisik, dan
       mental.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                     7
       Faktor eksternal, adalah kondisi di luar individu peserta didik yang
       mempengaruhi belajarnya. Adapun yang termasuk faktor eksternal
       adalah: lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat (keadaan sosio-
       ekonomis, sosio kultural, dan keadaan masyarakat).


       Pada hakikatnya belajar dilakukan oleh siapa saja, baik anak-anak
       maupun manusia dewasa. Pada kenyataannya ada kewajiban bagi
       manusia dewasa atau orang-orang yang memiliki kompetensi lebih
       dahulu agar menyediakan ruang, waktu, dan kondisi agar terjadi proses
       belajar pada anak-anak. Dalam hal ini proses belajar diharapkan terjadi
       secara optimal pada peserta didik melalui cara-cara yang dirancang dan
       difasilitasi oleh guru di sekolah. Dengan demikian diperlukan kegiatan
       pembelajaran yang disiapkan oleh guru.


       Pembelajaran merupakan seperangkat tindakan yang dirancang untuk
       mendukung proses belajar peserta didik, dengan memperhitungkan
       kejadian-kejadian eksternal yang berperanan terhadap rangkaian kejadian-
       kejadian internal yang berlangsung di dalam peserta didik (Winkel, 1991).
       Pengaturan peristiwa pembelajaran dilakukan secara seksama dengan
       maksud agar terjadi belajar dan membuat berhasil guna (Gagne, 1985).
       Oleh karena itu pembelajaran perlu dirancang, ditetapkan tujuannya
       sebelum dilaksanakan, dan dikendalikan pelaksanaannya (Miarso, 1993)


       Proses pembelajaran yang berhasil guna memerlukan teknik, metode, dan
       pendekatan tertentu sesuai dengan karakteristik tujuan, peserta didik,
       materi, dan sumber daya. Sehingga diperlukan strategi yang tepat dan
       efektif.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  8
       Strategi pembelajaran merupakan suatu seni dan ilmu untuk membawa
       pembelajaran sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan
       dapat dicapai secara efesien dan efektif (T. Raka Joni, 1992). Cara-cara
       yang dipilih dalam menyusun strategi pembelajaran meliputi sifat,
       lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar
       kepada peserta didik (Gerlach and Ely). Strategi belajar mengajar tidak
       hanya terbatas pada prosedur dan kegiatan, melainkan juga termasuk di
       dalamnya materi pengajaran atau paket pengajarannya (Dick and Carey).


       Faktor yang memengaruhi proses pembelajaran terdiri dari faktor
       internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor-faktor yang berkaitan
       dengan pribadi guru sebagai pengelola kelas. Guru harus dapat
       melaksanakan proses pembelajaran, oleh sebab itu guru harus memiliki
       persiapan mental, kesesuaian antara tugas dan tanggung jawab,
       penguasaan bahan, kondisi fisik, dan motivasi kerja.


       Faktor eksternal adalah kondisi yang timbul atau datang dari luar pribadi
       guru, antara lain keluarga dan lingkungan pergaulan di masyarakat.
       Faktor lingkungan, yang dimaksud adalah faktor lingkungan alam,
       lingkungan sosial, dan lingkungan sekolah.


       Berdasarkan pendekatan yang digunakan, secara umum ada dua strategi
       pembelajaran yaitu strategi yang berpusat pada guru (teacher centre
       oriented) dan strategi yang berpusat pada peserta didik (student centre
       oriented).   Pendekatan    pembelajaran   yang    berpusat    pada    guru
       menggunakan strategi ekspositori, sedangkan pendekatan pembelajaran




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    9
       yang berpusat pada peserta didik menggunakan strategi diskoveri inkuiri
       (discovery inquiry).


       Pemilihan strategi ekspositori atau diskoveri inkuiri dilakukan atas
       pertimbangan karakteristik kompetensi yang menjadi tujuan yang terdiri
       dari sikap, pengetahuan dan keterampilan, serta karakteristik peserta
       didik dan sumber daya yang dimiliki. Oleh karena itu tidak ada strategi
       yang tepat untuk semua kondisi dan karakteristik yang dihadapi. Guru
       diharapkan mampu memilah dan memilih dengan tepat strategi yang
       digunakan agar hasil pembelajaran efektif dan maksimal.


       Pemilihan strategi ekspositori dilakukan atas pertimbangan:
       a. karakteristik peserta didik dengan kemandirian belum memadai;
       b. sumber referensi terbatas;
       c. jumlah pesera didik dalam kelas banyak;
       d. alokasi waktu terbatas; dan
       e. jumlah materi (tuntutan kompetensi dalam aspek pengetahuan) atau
           bahan banyak.
       Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi ekspositori adalah
       sebagai berikut.
       a. Preparasi, guru menyiapkan bahan/materi pembelajaran
       b. Apersepsi diperlukan untuk penyegaran
       c. Presentasi (penyajian) materi pembelajaran
       d. Resitasi, pengulangan pada bagian yang menjadi kata kunci
           kompetensi atau materi pembelajaran.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                               10
       Pemilihan strategi diskoveri inkuiri dilakukan atas pertimbangan:
       a. karakteristik peserta didik dengan kemandirian cukup memadai;
       b. sumber referensi, alat, media, dan bahan cukup;
       c. jumlah peserta didik dalam kelas tidak terlalu banyak;
       d. materi pembelajaran tidak terlalu luas; dan
       e. alokasi waktu cukup tersedia.


       Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi diskoveri inkuiri adalah
       sebagai berikut.
       a. Guru atau peserta didik mengajukan dan merumuskan masalah
       b. Merumuskan logika berpikir untuk mengajukan hipotesis atau
           jawaban sementara
       c. Merumuskan langkah kerja untuk memperoleh data
       d. Menganalisis data dan melakukan verifikasi
       e. Melakukan generalisasi


       Strategi ekspositori lebih mudah bagi guru namun kurang melibatkan
       aktivitas peserta didik. Kegiatan pembelajaran berupa instruksional
       langsung (direct instructional) yang dipimpin oleh guru. Metode yang
       digunakan adalah ceramah atau presentasi, diskusi kelas, dan tanya
       jawab. Namun demikian ceramah atau presentasi yang dilakukan secara
       interaktif dan menarik dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik
       dalam pembelajaran.


       Strategi diskoveri inkuiri memerlukan persiapan yang sungguh-sungguh,
       oleh karena itu dibutuhkan kreatifitas dan inovasi guru agar pengaturan
       kelas maupun waktu lebih efektif. Kegiatan pembelajaran berbentuk



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                               11
       Problem Based Learning yang difasilitasi oleh guru. Strategi ini melibatkan
       aktivitas peseserta didik yang tinggi. Metode yang digunakan adalah
       observasi, diskusi kelompok, eksperimen, ekplorasi, simulasi, dan
       sebagainya.


  2.   PAIKEM Sebagai Model Pembelajaran Berbasis Kompetensi
       PAIKEM          adalah       singkatan     dari      Pembelajaran    Aktif,
       Inspiratif/Interaktif/Inovatif, Kritis /Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.
       Dalam PAIKEM digunakan prinsip-prinsip pembelajaran berbasis
       kompetensi. Pembelajaran berbasis kompetensi adalah pembelajaran
       yang dilakukan dengan orientasi pencapaian kompetensi peserta didik.
       Sehingga    muara    akhir    hasil   pembelajaran   adalah   meningkatnya
       kompetensi peserta didik yang dapat diukur dalam pola sikap,
       pengetahuan, dan keterampilannya.
       Prinsip pembelajaran berbasis kompetensi adalah sebagai berikut:
       a. Berpusat pada peserta didik agar mencapai kompetensi yang
           diharapkan. Peserta didik menjadi subjek pembelajaran sehingga
           keterlibatan aktivitasnya dalam pembelajaran tinggi. Tugas guru
           adalah mendesain kegiatan pembelajaran agar tersedia ruang dan
           waktu bagi peserta didik belajar secara aktif dalam mencapai
           kompetensinya.
       b. Pembelajaran terpadu agar kompetensi yang dirumuskan dalam KD
           dan SK tercapai secara utuh. Aspek kompetensi yang terdiri dari
           sikap, pengetahuan, dan keterampilan terintegrasi menjadi satu
           kesatuan.
       c. Pembelajaran dilakukan dengan sudut pandang adanya keunikan
           individual setiap peserta didik. Peserta didik memiliki karakteristik,



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   12
           potensi, dan kecepatan belajar yang beragam. Oleh karena itu dalam
           kelas dengan jumlah tertentu, guru perlu memberikan layanan
           individual agar dapat mengenal dan mengembangkan peserta
           didiknya.
       d. Pembelajaran     dilakukan    secara   bertahap   dan   terus   menerus
           menerapkan prinsip pembelajaran tuntas (mastery learning) sehingga
           mencapai ketuntasan yang ditetapkan. Peserta didik yang belum
           tuntas diberikan layanan remedial, sedangkan yang sudah tuntas
           diberikan layanan pengayaan atau melanjutkan pada kompetensi
           berikutnya.
       e. Pembelajaran dihadapkan pada situasi pemecahan masalah, sehingga
           peserta didik menjadi pembelajar yang kritis, kreatif, dan mampu
           memecahkan masalah yang dihadapi. Oleh karena itu guru perlu
           mendesain pembelajaran yang berkaitan dengan permasalahan
           kehidupan atau konteks kehidupan peserta didik dan lingkungan.
           Berpikir kritis adalah kecakapan nalar secara teratur, kecakapan
           sistematis dalam menilai, memecahkan masalah, menarik keputusan,
           memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah.
           Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan
           kemurnian (originality) dan ketajaman pemahaman (insigt) dalam
           mengembangkan sesuatu (generating). Kemampuan memecahkan
           masalah (problem solving) adalah kemampuan tahap tinggi siswa
           dalam mengatasi hambatan, kesulitan maupun ancaman. Metode
           problem solving (metode pemecahan masalah) bukan hanya sekedar
           metode mengajar tetapi juga merupakan suatu metode berpikir, sebab
           dalam problem solving dapat menggunakan metode-metode lainnya
           dimulai dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  13
       f.   Pembelajaran dilakukan dengan multi strategi dan multimedia
            sehingga memberikan pengalaman belajar beragam bagi peserta
            didik.


C. Tujuan PAIKEM
    Pembelajaran        berbasis       PAIKEM   membantu     siswa    mengembangkan
    kemampuan berpikir tahap tinggi, berpikir kritis dan berpikir kreatif (critical
    dan creative thinking). Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara
    teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah menarik
    keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah.
    Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan
    kemurnian          (orginality),     ketajaman   pemahaman        (insigt)    dalam
    mengembangkan sesuatu (generating). Kemampuan memecahkan masalah
    merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi.


    Dalam pembelajaran pemecahan masalah, siswa secara individual atau
    kelompok         diberi   tugas     untuk   memecahkan    suatu    masalah.    Jika
    memungkinkan masalah diidentifikasi dan dipilih oleh siswa sendiri, dan
    diidentifikasi hendaknya yang penting dan mendesak untuk diselesaikan
    serta sering dilihat atau diamati oleh siswa sendiri, umpamanya masalah
    kemiskinan, kejahatan, kemacetan lalu lintas, pembusukan makanan, wabah
    penyakit, kegagalan panen, pemalsuan produk, atau soal-soal dalam setiap
    mata pelajaran yang membutuhkan analisis dan pemahaman tingkat tinggi,
    Dsb.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                        14
D. Karakteristik PAIKEM
    Sesuai dengan singkatan PAIKEM, maka pembelajaran yang berfokus pada
    siswa, makna, aktivitas, pengalaman dan kemandirian siswa, serta konteks
    kehidupan dan lingkungan ini memiliki 4 ciri yaitu: mengalami,
    komunikasi, interaksi dan refleksi.
    1. Mengalami (pengalaman belajar) antara lain:
        Melakukan pengamatan
          Melakukan percobaan
        Melakukan penyelidikan
        Melakukan wawancara
          Siswa belajar banyak melalui berbuat
          Pengalaman langsung mengaktifkan banyak indera.
    2. Komunikasi, bentuknya antara lain:
        Mengemukakan pendapat
        Presentasi laporan
        Memajangkan hasil kerja
        Ungkap gagasan
    3. Interaksi, bentuknya antara lain:
        Diskusi
        Tanya jawab
        Lempar lagi pertanyaan
           o   Kesalahan makna berpeluang terkoreksi
           o   Makna yang terbangun semakin mantap
           o   Kualitas hasil belajar meningkat




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                             15
    4. Kegiatan Refleksi yaitu memikirkan kembali apa yang
       diperbuat/dipikirkan.
        mengapa demikian?
        apakah hal itu berlaku untuk …?
        Untuk perbaikan gagasan/makna
        Untuk tidak mengulangi kesalahan
        Peluang lahirkan gagasan baru


    Dari karakteristik PAIKEM tersebut, maka guru perlu memberikan
    dorongan kepada siswa untuk menggunakan otoritas atau haknya dalam
    membangun gagasan. Tanggung jawab belajar, memang berada pada diri
    siswa, tetapi guru bertanggung jawab dalam memberikan situasi yang
    mendorong prakarsa, motivasi, perhatian, persepsi, retensi, dan transfer
    dalam belajar, sebagai bentuk tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang
    hayat.


E. Jenis-Jenis PAIKEM
    Pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik PAIKEM antara
    lain adalah pembelajaran kotekstual (CTL), Pembelajaran Terpadu (Tematik,
    IPA Terpadu, IPS Terpadu), Pembelajaran berbasis TIK (ICT), Pembelajaran
    Pengayaan dengan menggunakan berbagai strategi antara        lain dengan
    Lesson Study.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                               16
F. Penerapan PAIKEM

    Sebagai tahapan strategis pencapaian kompetensi, kegiatan PAIKEM perlu
    didesain dan dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga memperoleh
    hasil maksimal. Berdasarkan panduan penyusunan KTSP (KTSP), kegiatan
    pembelajaran terdiri dari kegiatan tatap muka, kegiatan tugas terstruktur,
    dan kegiatan mandiri tidak terstruktur. Sekolah standar, beban belajarnya
    dinyatakan dalam jam pelajaran ditetapkan bahwa satu jam pelajaran
    tingkat SMA/SMK terdiri dari 45 menit, SMP terdiri dari 40 menit, dan
    untuk SD terdiri dari 35 menit tatap muka untuk Tugas Terstruktur dan
    Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur. Dalam hal ini guru perlu mendesain
    kegiatan pembelajaran tatap muka, tugas terstruktur dan kegiatan mandiri.


    1. Kegiatan Tatap Muka
       Untuk kegiatan tatap muka dilakukan dengan strategi bervariasi baik
       ekspositori maupun diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti
       ceramah    interaktif,   presentasi,    diskusi   kelas,   diskusi   kelompok,
       pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, demonstrasi, eksperimen,
       observasi di sekolah, ekplorasi dan kajian pustaka atau internet, tanya
       jawab, atau simulasi. Tapi jika sudah ada sekolah yang menerapkan
       sistem SKS, maka kegiatan tatap muka lebih disarankan dengan strategi
       ekspositori.   Namun        demikian      tidak    menutup       kemungkinan
       menggunakan strategi diskoveri inkuiri. Metode yang digunakan seperti
       ceramah interaktif, presentasi, diskusi kelas, tanya jawab, atau
       demonstrasi.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                      17
    2. Kegiatan Tugas terstruktur
       Bagi sekolah yang menerapkan sistem paket, kegiatan tugas terstruktur
       tidak dicantumkan dalam jadwal pelajaran namun dirancang oleh guru dalam
       silabus maupun RPP (Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran). Oleh
       karena itu pembelajaran dilakukan dengan strategi diskoveri inkuiri.
       Metode yang digunakan seperti penugasan, observasi lingkungan, atau
       proyek.
       Kegiatan tugas terstruktur merupakan kegiatan pembelajaran yang
       mengembangkan kemandirian belajar peserta didik, peran guru sebagai
       fasilitator, tutor, teman belajar. Strategi yang disarankan adalah diskoveri
       inkuiri dan tidak disarankan dengan strategi ekspositori. Metode yang
       digunakan seperti diskusi kelompok, pembelajaran kolaboratif dan
       kooperatif, demonstrasi, eksperimen, observasi di sekolah, ekplorasi dan
       kajian pustaka atau internet, atau simulasi.


   3. Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur
       Kegiatan mandiri tidak terstruktur adalah kegiatan pembelajaran yang
       dirancang oleh guru. Strategi pembelajaran yang digunakan adalah
       diskoveri   inkuiri   dengan     metode     seperti   penugasan,     observasi
       lingkungan, atau proyek.


       PAIKEM dapat diterapkan pada pembelajaran Pembelajaran kontekstual
       dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu
       strategi yang memenuhi prinsip pembelajaran berbasis kompetensi.
       Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual (contextual teaching and
       learning), yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transferrini
       diharapkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara maksimal.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                        18
       Pemilihan strategi ekspositori dilakukan atas pertimbangan:
       a. karakteristik peserta didik dengan kemandirian belum memadai;
       b. sumber referensi terbatas;
       c. jumlah pesera didik dalam kelas banyak;
       d. alokasi waktu terbatas; dan
       e. jumlah materi (tuntutan kompetensi dalam aspek pengetahuan) atau
          bahan banyak.


       Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi ekspositori adalah
       sebagai berikut.
       a. Preparasi, guru menyiapkan bahan/materi pembelajaran
       b. Apersepsi diperlukan untuk penyegaran
       c. Presentasi (penyajian) materi pembelajaran
       d. Resitasi, pengulangan pada bagian yang menjadi kata kunci
          kompetensi atau materi pembelajaran.


       Pemilihan strategi diskoveri inkuiri dilakukan atas pertimbangan:
       a. karakteristik peserta didik dengan kemandirian cukup memadai;
       b. sumber referensi, alat, media, dan bahan cukup;
       c. jumlah peserta didik dalam kelas tidak terlalu banyak;
       d. materi pembelajaran tidak terlalu luas; dan
       e. alokasi waktu cukup tersedia.

       Langkah-langkah yang dilakukan pada strategi diskoveri inkuiri adalah
       sebagai berikut.
       a. Guru atau peserta didik mengajukan dan merumuskan masalah
       b. Merumuskan logika berpikir untuk mengajukan hipotesis atau
          jawaban sementara


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                               19
       c. Merumuskan langkah kerja untuk memperoleh data
       d. Menganalisis data dan melakukan verifikasi
       e. Melakukan generalisasi


       Strategi ekspositori lebih mudah bagi guru namun kurang melibatkan
       aktivitas peserta didik. Kegiatan pembelajaran berupa instruksional
       langsung (direct instructional) yang dipimpin oleh guru. Metode yang
       digunakan adalah ceramah atau presentasi, diskusi kelas, dan tanya
       jawab. Namun demikian ceramah atau presentasi yang dilakukan secara
       interaktif dan menarik dapat meningkatkan keterlibatan peserta didik
       dalam pembelajaran.


       Strategi diskoveri inkuiri memerlukan persiapan yang sungguh-sungguh,
       oleh karena itu dibutuhkan kreatifitas dan inovasi guru agar pengaturan
       kelas maupun waktu lebih efektif. Kegiatan pembelajaran berbentuk
       Problem Based Learning yang difasilitasi oleh guru. Strategi ini melibatkan
       aktivitas peseserta didik yang tinggi. Metode yang digunakan adalah
       observasi, diskusi kelompok, eksperimen, ekplorasi, simulasi, dan
       sebagainya.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   20
               PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

A. Latar Belakang Filosofis dan Psikologis
    Penerapan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) di
    Amerika Serikat bermula dari pandangam ahli pendidikan klasik John
    Dewey yang pada tahun 1916 mengajukan teori kurikulum dan metodologi
    pengajaran yang berhubungan dengan pengalaman dan minat siswa.
    Filosofi pembelajaran kontekstual berakar dari paham progressivisme John
    Dewey. Intinya, siswa akan belajar dengan baik apabila apa yang mereka
    pelajari berhubungan dengan apa yang telah mereka ketahui, serta proses
    belajar akan produktif jika siswa terlibat dalam proses belajar di sekolah.
    Pokok-pokok pandangan progressivisme antara lain:
    1. Siswa      belajar   dengan   baik   apabila   mereka   secara   aktif   dapat
       mengkonstruksi sendiri pemahaman mereka tentang apa yang diajarkan
       oleh guru.
    2. Siswa harus bebas agar dapat berkembang wajar.
    3. Penumbuhan minat melalui pengalaman langsung untuk merangsang
       belajar.
    4. Guru sebagai pembimbing dan peneliti.
    5. Harus ada kerja sama antara sekolah dan masyarakat.
    6. Sekolah progresif harus merupakan laboratorium untuk melakukan
       eksperimen.


    Selain teori progressivisme John Dewey, teori kognitif melatarbelakangi pula
    filosofi pembelajaran kontekstual. Siswa akan belajar dengan baik apabila
    mereka terlibat secara aktif dalam segala kegiatan di kelas dan
    berkesempatan untuk menemukan sendiri. siswa menunjukkan belajar



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                      21
    dalam bentuk apa yang mereka ketahui dan apa yang dapat mereka
    lakukan. Belajar dipendang sebagai usaha atau kegiatan intelektual untuk
    membangkit ide-ide yang masih laten melalui kegiatan introspeksi.


    Sejauh ini pendidikan kita masih di dominasi oleh pandangan bahawa
    pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih
    berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah
    sebagai pilihan utama strategi belajar. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi
    belajar baru yang lebih memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang
    tidak mengharuskan siswa menghapal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi
    yang mendorong siswa mengkontruksi pengetahuan di benak mereka
    sendiri.


    Berpijak pada dua pandangan itu, filosofi konstruksivisme berkembang.
    Dasarnya pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh dari konteks yang
    terbatas dan sedikit demi sedikit. Siswa yang harus mengkontruksikan
    sendiri pengetahuannya.
    Melalui landasan filosofi konstruksivisme, CTL dipromosikan menjadi
    alternatif strategi belajar yang baru. Melalui strategi, siswa diharapkan
    belajar melalui mengalami bukan menghafal.


    Menurut filosofi konstruktivisme, pengetahuan bersifat non-objektif,
    temporer, dan selalu berubah. Segala sesuatu bersifat temporer, berubah dan
    tidak menentu. Belajar adalah pemaknaan pengetahuan, bukan perolehan
    pengetahuan dan mengajar diartikan sebagain kegiatan atau menggali
    makna, bukan memindahkan pengetahuan kepada orang yang belajar. Otak




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  22
    atau akal manusia berfungsi sebagai alat untuk melakukan interpretasi
    sehingga muncul makna yang unik.


    Dengan paham kontruksivisme, siswa diharapkan dapat membangun
    pemahaman sendiri dari pengalaman/pengetahuan terdahulu. Pemahaman
    yang mendalam dikembangkan melalui pengalaman-pengalam belajar
    bermakna.        Siswa       diharapkan      memapu       mempraktikkan
    pengetahuan/pengalaman yang telah diperoleh dalam konteks kehidupan.
    Siswa diharapkan juga melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan
    pengetahuan tersebut. Dengan demikian, siswa dapat memiliki pemahaman
    yang berbeda terhadap pengetahuan yang dipelajari. Pemahaman ini
    diperoleh siswa karena ia dihadapkan kepada lingkungan belajar yang bebas
    yang merupakan unsur yang sangat esensial.


    Hakikat teori kontruksivisme adalah bahwa siswa harus menjadikan
    informasi itu menjadi miliknya sendiri. teori kontruksivisme memandang
    siswa secara terus menerus memeriksa informasi-informasi baru yang
    berlawanan dengan aturan-aturan lama dn memperbaiki aturan-aturan yang
    tidak sesuai lagi. Teori konstruksivis menuntut siswa berperan aktif dalam
    pembelajaran mereka sendiri. Karena penekanannya pada siswa aktif, maka
    strategi kontruksivis sering disebut pengajaran yang berpusat pada siswa
    (student-centered instruction). Di dalam kelas yang pengajarannya terpusat
    kepada siswa, peranan guru adalah membantu siswa menemukan fakta,
    konsep, atau prinsip bagi diri mereka sendiri, bukan memberikan ceramah
    atau mengendalikan seluruh kegiatan di kelas.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                               23
     Beberapa proposisi yang dapat dikemukakan sebagai implikasi dari teori
     kontruktivistik dalam praktek pembeljaran di sekolah-sekolah kita sekarang
     adalah sebagai berikut:
     1. Belajar adalah proses pemaknaan informasi baru
     2. Kebebasan merupakan unsur esensial dalam lingkungan belajar.
     3. Strategi belajar yang digunakan menentukan proses dan hasil belajar.
     4. Belajar pada hakikatnya memiliki aspeksosial dan budaya.
     5. Kerja kelompok dianggap sangat berharga.
     Dalam pandangan kontruksivistik, kebebasan dipandangan sebagai penentu
     keberhasilan karena kontrol belajar dipegang oleh siswa sendiri. Tujuan
     pembelajaran konstruktivistik menekankan pada penciptaan pemahaman
     yang menuntut aktivitas yang kreatif dan produktif dalam konteks nyata.
     Dengan     demikian,       paham     konstruktivistik      menolak       pandangan
     behavioristik.
B.   Pengertian Pembelajaran Kontekstual
     Pembelajaran       Kontekstual    (Contextual   Teaching    and    Learning/CTL)
     merupakan        suatu   proses   pendidikan    yang    holistik   dan    bertujuan
     memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang
     dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks
     kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural)
     sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel
     da-pat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke
     permasalahan/ konteks lainnya.


     CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi
     dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan
     antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
     kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan
     konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa.


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                         24
    Proses pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan
    siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke
    siswa.


    Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang
    sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran
    berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual
    (contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing, applying,
    cooperating, dan transferrini diharapkan peserta didik mampu mencapai
    kompetensi secara maksimal.


    Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai
    tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi
    informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja ber-
    sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesu-
    atu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.
    Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual.


    Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep
    belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan-nya
    dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan
    antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidu-
    pan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama
    pembelaaran efektif, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya
    (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning community),
    pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment).




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 25
C. Langkah-langkah CTL
    CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan
    kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup
    mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam
    CTL adalah sebagai berikut:
    1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna
       dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan
       dan keterampilan barunya.
    2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik.
    3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
    4. Ciptakan masyarakat belajar.
    5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
    6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
    7. Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) dengan
       berbagai cara.
D. Karakteristik Pembelajaran CTL
    1. Kerjasama.
    2. Saling menunjang.
    3. Menyenangkan, tidak membosankan.
    4. Belajar dengan bergairah.
    5. Pembelajaran terintegrasi.
    6. Menggunakan berbagai sumber.
    7. Siswa aktif.
    8. Sharing dengan teman.
    9. Siswa kritis guru kreatif.
    10. Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta,
       gambar, artikel, humor dan lain-lain.
    11. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa,
       laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                              26
    Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan
    rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap
    demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan
    dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan
    pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran,
    lang-kah-langkah pembelajaran, dan authentic assessment-nya.


    Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana
    pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara
    umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran
    konvensional     dengan      program     pembelajaran       kontekstual.    Program
    pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang
    akan   dicapai    (je-las   dan   operasional),     sedangkan     program      untuk
    pembelajaran      kontekstual       le-bih      menekankan        pada      skenario
    pembelajarannya.
    Beberapa komponen utama dalam pembelajaran Kontekstual menurut
    Johnson (2000: 65), yang dapat di uraikan sebagai berikut:
    1. Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections)
       Keterkaitan    yang      mengarah     pada     makna     adalah   jantung    dari
       pembelajaran      dan    pengajaran       kontekstual.   Ketika   siswa     dapat
       mengkaitkan isi dari mata pelajaran akademik, ilmu pengetahuan alam.
       Atau    sejarah    dengan      pengalamannya       mereka     sendiri,    mereka
       menemukan makna, dan makna memberi mereka alasan untuk belajar.
       Mengkaitkan pembelajaran dengan kehidupan seseorang membuat
       proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan inilah inti dari CTL.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                         27
    2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti (doing significant works)
        Model pembelajaran ini menekankan bahwa semua proses pembelajaran
       yang dilakukan di dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga
       mereka dapat mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sisw
    3. Belajar yang diatur sendiri (self-regulated Learning)
        Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran yang aktif,
        mandiri, melibatkan kegiatan menghubungkan masalah ilmu dengan
        kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang berarti bagi siswa.
        Pembelajaran yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada
        siswa menggunakan gaya belajarnya sendiri.
    4. Bekerjasama (collaborating)
        Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif
        dalam kelompok, membantu siswa bekerja secara efektif dalam
        kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling
        mempengaruhi dan saling berkomunikasi.
    5. Berpikir kritis dan kreatif (critical dan creative thinking)
        Pembelajaran       kontekstual     membantu        siswa      mengembangkan
        kemampuan berpikir tahap tinggi, nerpikir kritis dan berpikir kreatif.
        Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan
        sistematis dalam menilai, memecahkan masalah menarik keputusan,
        memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah.
        Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan
        kemurnian, ketajaman pemahaman dalam mengembangkan sesuatu.
    6. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nuturing the individual)
        Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan
        kemampuan-kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga
        aspek-aspek kepribadian: integritas pribadi, sikap, minat, tanggung



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    28
         jawab, disiplin, motif berprestasi, dsb. Guru dalam pembelajaran
         kontekstual juga berperan sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan
         kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat,
         kebutuhan dan kemampuannya.
     7. Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards)
         Pembelajaran kontekstual diarahkan agar siswa berkembang secara
         optimal, mencapai keunggulan (excellent). Tiap siswa bisa mencapai
         keunggulan, asalkan sia dibantu oleh gurunya dalam menemukan
         potensi dan kekuatannya.
     8. Menggunakan Penilaian yang otentik (using authentic assessment)
         Penilaian autentik menantang para siswa untuk menerapkan informasi
         dan keterampilan akademik baru dalam situasi nyata untuk tujuan
         tertentu. Penilaian autentik merupakan antitesis dari ujian stanar,
         penilaian   autentik   memberi    kesempatan       kepada   siswa   untuk
         menunjukkan kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan
         apa yang sudah mereka pelajari.


E.   Strategi Pembelajaran Kontekstual
     Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa di dalam konteks bermakna
     yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang
     dipelajari (Nurhadi, Yasin dan Senduk, 2004: 56). Strategi yang berasosiasi
     dengan pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut.
     1. Belajar berbasis Masalah (Problem-Based Learning)
         Suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata
         sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis
         dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh
         pegetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. Dalam



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   29
        pengetahuan dan konsep yang esensi dari mata pelajaran. Dalam hal ini
        siswa terlibat dalam penyelidikan untuk pemecahan masalah yang
        mengintegrasikan keterampilan dan konsep dari berbagai isi materi
        pelajaran. Pendekatan ini mencakup pengumpulan informasi yang
        berkaitan dengan pertanyaan, mensintesis, dan mempresentasikan
        penemuannya kepada orang lain.
    2. Pembelajaran Autentik (Authentic Instruction)
        Suatu pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk
        mempelajari konteks bermakna. Ia mengembangkan keterampilan
        berpikir dan memecahkan masalah yang penting di dalam konteks
        kehidupan nyata.
    3. Belajar Berbasis Inquiry (Inquiry-Based Learning)
         Suatu pendekatan pembelajaran yang mengikuti metodologi sains dan
        menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
    4. Belajar berbasis Proyek/Tugas (Project-Based Learning)
        Suatu pendekatan pembelajaran komprehensif di mana lingkungan
        belajar siswa (kelas) didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan
        terhadap masalah autentik termasuk pendalaman materi dari suatu
        topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya.
        Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri
        dalam mengkonstruk pembelajarannya, dan mengkulminasikan dengan
        produk nyata.
    5. Belajar Berbasis Kerja (Work-Based Learning)
        Suatu    pendekatan      pembelajaran    yang      memungkinkan   siswa
        menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran
        berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali
        di tempat kerja. Jadi dalam hal ini, tempat kerja atau sejenisnya dan



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                30
          berbagai   aktifitas dipadukan       dengan    materi   pelajaran   untuk
          kepentingan siswa.
     6. Belajar Berbasis Jasa-Layanan (Service Learning)
          Suatu pendekatan pembelajaran yang mengkombinasikan jasa layanan
          masyarakat dengan suatu struktu berbasis sekolah untuk merefleksikan
          jasa-layanan tersebut, jadi menekankan hubungan antara pengalaman
          jasa-layanan dan pembelajaran akademis. Dengan kata lain, pendekatan
          ini menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru yang
          diperlukan dan berbagi keterampilan untuk memenuhi kebutuhan
          dalam masyarkat melalui proyek/tugas terstruktur dan kegiatan
          lainnya.
     7. Belajar Kooperatif (Cooperatif Learning)
          Pendekatan pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil siswa
          untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam
          mencapai tujuan.


F.   Perbedaan Pembelajaran Kontekstual Dengan Pembelajaran Tradisional
     Terlihat jelas perbedaan proses pembelajaran kontekstual        yang berpijak
     pada pandangan kontrukstivisme dengan pembelajaran tradisional yang
     berpijak padangan behaviorisme-objektivis. Menurut Sanjaya (2006 : 256)
     ada beberapa perbedaan yang dapat diuraikan sebagai berikut:
     1.   Dalam pembelajaran kontekstual, siswa secara aktif terlibat dalam
          proses pembelajaran, sedangkan dalam pembelajaran tradisional siswa
          adalah penerima informasi yang pasif.
     2.   Dalam pembelajaran kontekstual, siswa belajar dari teman melalui kerja
          kelompok, diskusi, saling mengoreksi, sedangkan dalam pembelajaran
          tradisional siswa belajar secara individual.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    31
    3.   Dalam pembelajaran kontekstual, pembelajaran dikaitkan dengan
         kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan, sedangkan
         dalam pemebelajaran tradisional pembelajaran sangat abstrak.
    4.   Dalam pembelajaran kontekstual, perilaku dibangun atas kesadaran
         sendiri sedangkan dalam pembelajaran tradisional perilaku dibangun
         atas kebiasaan.
    5.   Dalam    pembelajaran     kontekstual,   keterampilan    dibangun   atas
         kesadaran diri,, sedangkan dalam pembelajaran tradisional ketrampilan
         dikembangkan atas dasar latihan.
    6.   Dalam pembelajaran kontekstual, hadiah untuk perilaku baik adalah
         kepuasan diri, sedangkan dalam pembelajaran tradisional hadiah untuk
         perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor.
    7.   Dalam pembelajaran kontekstual, seseorang tidak melakukan yang jelek
         karena dia sadar hal itu keliru dan merugikan., sedangkan dalam
         pembelajaran tradisional seseorang tidak melakukan yang jelek karena
         dia takut hukuman.
    8.   Dalam pembelajaran kontekstual, bahasa diajarkan dengan pendekatan
         komunikatif, yakni siswa diajak menggunakan bahasa dalam konteks
         nyata, sedangkan dalam pembelajaran tradisional, bahasa diajarkan
         dengan pendekatan struktural: rumus diterapkan sampai paham,
         kemudian dilatihkan (drill).
    9.   Dalam pembelajaran kontekstual, pemahaman rumus dikembangkan
         atas dasar skemata yang sudah ada dalam diri siswa, sedangkan dalam
         pembelajaran tradisional rumus itu ada di luar diri siswa, yang harus
         dikembangkan, diterima dan dilafalkan, dan dilatihkan.
    10. Dalam pembelajaran kontekstual, siswa menggunakan kemampuan
         berpikir kritis, terlibat penuh dalam pengupayakan terjadinya proses



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  32
        pembelajaran yang efektif, ikut bertanggungjawab atas terjadinya proses
        pembelajaran yang efektif, dan membawa skemata masing-masing ke
        dalam proses pembelajaran sedangkan dalam pembelajaran tradisional
        siswa    secara   pasif   menrima      rumus   atau   kaidah   (membaca,
        mendengarkan, mencatat, menghapal), tampa memberikan kontribusi
        ide dalam proses pembelajaran.
    11. Dalam pembelajaran kontekstual, pengetahuan yang dimiliki oleh
        manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Manusia menciptakan
        atau membangun pengetahuan dengan cara memberi arti dan
        memahami pengalamannya sedangkan dalam pembelajaran tradisional
        pengetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta, konsep,
        atau hukum yang brada di luar diri manusia.


G. Evaluasi Otentik Sebagai Ciri Penilaian Pembelajaran Kontekstual
    Pembelajaran kontekstual menuntur evaluasi yang bersifat komprehensif,
    menyeluruh dan terus menerus, karena dilakukan oleh guru kontekstual
    sepanjang proses pembelajaran. Setiap saat terjadi perubahan dan
    perkembangan pada para siswa. Perubahan dan perkembangan bidang atau
    aspek tertentu mungkin sangat banyak/tinggi, tetapi pada bidang atau
    aspek lainnya sedikit, sedikit sekali atau bahkan hampir tidak ada.
    Perubahan atau perkembangan tersebut mungkin berkenaan dengan aspek
    yang menjadi tujuan atau terumuskan dalam tujuan pembelajaran.
    Evaluasi dilakukan pada waktu para siswa merencanakan sesuatu kegiatan,
    melaksanakan maupun melaporkan hasil kegiatannya. Evaluasi juga
    dilakukan pada waktu siswa berdiskusi, mengerjakan tugas, mengerjakan
    tugas, melakukan latihan, percobaan, pengamatan, penelitian, pemecahan
    masalah, dan penyelesaian soal. Bagaimana siswa melakukan berbagai



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 33
    kegiatan tersebut serta hasil-hasil yang mereka tunjukkan, baik berupa
    rancangan, makalah, laporan, rangkuman, gambar, model, ataupun hasil
    pemecahan dan jawaban soal, merupakan wujud dari perkembangan dan
    kemampuan hasil belajar mereka.


    Evaluasi terhadap proses pembelajaran dan hasil karya merupakan evaluasi
    otentik, evaluasi kenyataan, karena mengevaluasi apa yang secara nyata
    dilakukan dan dihasilkan oleh para siswa. Hal ini tidak berarti, bahwa
    evaluasi dengan menggunakan tes tidak bisa digunakan, karena evaluasi
    dengan menggunakan tes, mengukur hasil pembelajaran pada akhir periode,
    akhir semester, tengah semester atau akhir unit. Makin pendek periode
    waktu pembelajaran yang dievaluasi, maka makin mendekati evaluasi
    otentik.


    Dalam evaluasi hasil pembelajaran, biasanya hanya digunakan tes,
    berbentuk tes obyektif atau essay, maka dalam evaluasi proses juga
    digunakan evaluasi perbuatan (pengamatan), lisan, hasil karya dan
    portfolio. Portfolio merupakan kumpulan dokumen yang disusun secara
    sistematik dan terarah yang menggambarkan perkembangan atau kemajuan
    siswa dalam bidang tertentu.


H. Penerapan Pembelajaran Kontekstual di Kelas
    Ada tujuh komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan
    pembelajaran     kontekstual    dikelas.   Ketujuh     komponen       itu   adalah
    konstruktivisme     (constructivism),   bertanya     (questioning),   menemukan
    (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling)
    refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment)



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                       34
    1. Konstruktivisme (Constructivism)
       Konstruktivisme merupakan landasan berpikir pendekatan kontekstual,
       yaitu pengetahuan dibangun sedikit demi sedikit demi sedikit, yang
       hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tiba-
       tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah
       yang siap untuk diambil dan diingat. Tetapi siswa harus mengkontruksi
       pengetahuan itu dan memberi makna melalaui pengalaman nyata. Siswa
       perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang
       berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide, yaitu siswa harus
       mengkontruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri.
       Esensi dari teori kontruksivisme adalah ide bahwa siswa haarus
       menemukan dan mentransfomasikan suatu informasi kompleks ke situasi
       lain, dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri.
       Dengan    dasar   ini    pembelajaran   harus   dikemas   menjadi    proses
       mengkontruksi     bukan     mnerima     pengetahuan.    Landasan    berpikir
       konstruktivisme agak berbeda dengan kaum objektif, yang lebih
       menekaankan       pada      hasil   pembelajaran.      Dalam   pandangan
       konstruktivisme, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan
       seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat diutamakan
       dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat
       pengetahuan. Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut
       dengan : (1) menjadikan pengetahuan bermakana dan relevan bagi siswa;
       (2) memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya
       sendiri; dan (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka
       sendiri dalam belajar.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    35
    2. Bertanya (questioning)
       Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari bertanya
       karena   bertanya    merupakan     strategi    utama     pembelajaran   yang
       produkstif, kegiatan bertanya berguna untuk: (1) menggaliinformasi baik
       administrasi maupun akademia; (2) mengecek pemahaman siswa; (3)
       membangkitkan respon pada siswa; (4) mengetahui sejauh mana keingin
       tahuan siswa; (5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa; (6)
       memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki gur; (7)
       untuk membangkitkan lebihbanyak lagi pertanyaan dari siswa; (8) untuk
       menyegarkan kembali pengetahuan siswa. Pada semua aktivitas belajar,
       questioning dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, antara guru dan
       siswa, antara siswa dengan guru, antara siswa dengan orang lain yang
       didatangkan ke kelas dan sebagainya.
    3. Menemukan (inquiry)
       Menemukan      merupakan     bagian     inti   dari   kegiatan   pembelajaran
       menggunakan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan
       yang diperoleh siswa diharapkan bukan hanya hasil mengingat
       seperangkat fakta-fakta tetapi juga hasil dari menemukan sendiri. Siklus
       inquiry adalah (1) observasi, (2) bertanya, (3) mengajukan dugaan, (4)
       pengumpulan data, (5) penyimpulan. Kata kunci dari strategi inquiry
       adalah siswa menemukan sendiri, adapun langkah-langkah kegiatan
       menemukan sendiri adalah: (1) merumuskan masalah dalam mata
       pelajaran apapun; (2) mengamati atau melakukan observasi; (3)
       menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar,laporan, bagan
       tabel, dan karya lainnya; dan (4) mengkomunikasikan atau menyajikan
       hasil karya pada pembaca, teman kelas, guru, atau audience lainnya.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                     36
    4. Masyarakat Belajar (learning community)
        Konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran
       diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar didapat dari
       berbagi anatara kawan, kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum
       tahu. Di ruang kelas ini, di sekitar sini, juga dengan orang-orang yang
       diluar sana semua adalah anggota masyarakat belajar. Dalam kelas yang
       menggunakan       pendekatan    kontekstual,   guru   disarankan   dalam
       melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa
       dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Yang
       pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberiyahu yang belum tahu,
       yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, yang
       mempunyai gagasan segera memberikan usul dan seterusnya. Kelompok
       siswa bisa sanagt bervariasi bentuknya, baik keanggotaan, jumlah,
       bahkan bisa melibatkan siswa di dalam kelas atasnya, atau guru
       mengadakan kolaborasi dengan mendatangkan seorang ahli ke kelas.
    5. Permodelan (modelling)
       Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada
       model yang bisa ditiru. Model itu, memberi peluang yang besar bagi guru
       untuk memberi contoh cara mngerjakan sesuatu, dengan begitu guru
       memberi     model    tentang   bagaimana   belajar.   Dalam   pendekatan
       kontekstual guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang
       dengan melibatkan siswa, seorang siswa dapat ditunjuk untuk
       memberikan contoh temannya, misalnya cara melafalkan suatu kata.
       Siswa contoh tersebur dikatakan sebagai model, siswa lain dapat
       menggunakan model tersebut sebagai standar kompetensi yang harus
       dicapai.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                37
    6. Refleksi (reflection)
       Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau
       berpikir kebelakng tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dalam hal
       belajar di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang dipelajarinya sebagai
       struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi
       dari pengetahuan sebelummnya. Refleksi merupakan respons terhadap
       kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.
    7. Penilaian Sebenarnya (authentic assessment)
       Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa
       memberikan gambaran belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar
       siswa perlu diketahui olehb guru agar bisa memastikan bahwa siswa
       mengalami proses pembelajaran yang benar. Apabila data yang
       dikumpulkan     guru    mengidentifikasikan   bahwa   siswa   mengalami
       kemacetan dalam belajar, maka guru segera bisa mengambil tindakan
       yang tepat agar siswa agar siswa terbebas dari kemacetan belajar. Karena
       gambaran tentang kemajuanbelajar itu diperlukan disepanjang proses
       pembelajaran, maka penilaian tidak dilakukan diakhir periode seperti
       akhir semester. Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan melalui hasil,
       dan dengan berbagai cara. Tes hanyalah salah satunya, itulah hakekat
       penilaian yang sebarnya. Penilai tidak hanya guru, tetapi bisa juga teman
       lain atau orang lain. Karakteristik penilain sebenarnya adalah (1)
       dilaksanakan selama dan sesuadah proses pembelajaran berlangsung; (2)
       bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif; (3) yang diukur
       keterampilan dan performasi, bukan hanya mengingat fakta; (4)
       berkesinambungan; (5) terintegrasi; (6) dapat dipergunakan sebagaifeed
       back. Dengan demikian pembelajaran yang benar memang seharusnya
       ditekankan pada upaya membantu siswa agar mampu mempelajari



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  38
       (learning how to learn) sesuatu, bukan ditekankan pada diperolehnya
       sebanyak mungkin informasi diakhir periode pembelajaran.


    Berikut contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) berbasis CTL pada
    mata pelajaran IPA di SMP.


       CONTOH RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)
                       BERBASIS CTL

  Sekolah                     :   SMP ..........................................
  Mata Pelajaran              :   IPA (Ilmu Pengetahuan Alam)
  Kelas/Semester              :   IX (Sembilan)/ 2 (Dua)
  Alokasi Waktu               :   10 x 40 menit (5 pertemuan)


A. Standar Kompetensi         : 4.        Memahami konsep kemagnetan dan
                                          penerapannya dalam kehidupan sehari-
                                          hari.
B. Kompetensi Dasar           : 4.1. Menyelidiki gejala kemagnetan dan cara
                                     membuat magnet.

C. Tujuan Pembelajaran
Pertemuan 1:
   Setelah pembelajaran ini selesai siswa diharapkan dapat:
   1. mengidentifikasi bahan magnetik dan bahan bukan magnetik.
   2. menunjukkan kutub-kutub magnet.
   3. menentukan daerah gaya di sekitar magnet (medan magnet).
   4. mendeskripsikan sifat kutub-kutub magnet.
   5. memberikan pemaknaan terhadap keberadaan kutub-kutub magnet
       (kutub utara dan kutub selatan).
   6. memberikan pemaknaan terhadap sifat-sifat interaksi antara kutub-kutub
       magnet.

Pertemuan 2:
Setelah pembelajaran ini selesai siswa diharapkan dapat:
   1. mendemonstrasikan pembuatan magnet dengan cara menggosok.
   2. mendemonstrasikan pembuatan magnet dengan cara induksi.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                       39
  3.   mendemonstrasikan pembuatan magnet dengan cara elektromagnetik.
  4.   memberikan pemaknaan terhadap pembuatan magnet dengan cara
       menggosok.
  5.   memberikan pemaknaan terhadap pembuatan magnet dengan cara
       induksi.
  6.   memberikan pemaknaan terhadap pembuatan magnet dengan cara
       elektromagnetik.

Pertemuan 3:
Setelah pembelajaran ini selesai siswa diharapkan dapat:
   1. menyebutkan cara-cara menghilangkan sifat kemagnetan.
   2. mendeskripsikan kemagnetan bumi.
   3. memberikan pemaknaan terhadap cara-cara menghilangkan                sifat
       kemagnetan.
   4. memberikan pemaknaan terhadap keberadaan kemagnetan bumi.

Pertemuan 4:
Setelah pembelajaran ini selesai siswa diharapkan dapat:
   1. menjelaskan secara kualitatif sifat medan magnet di sekitar kawat berarus
       listrik.
   2. memberikan pemaknaan terhadap sifat medan magnet di sekitar kawat
       berarus listrik.

Pertemuan 5:
Penilaian pencapaian KD 4.1 (Ulangan Harian, materi Pertemuan 1 s.d. 4).


D. Materi Pelajaran: Kemagnetan

   KEMAGNETAN
   Lebih dari 2000 tahun yang lalu, orang Yunani yang hidup di suatu daerah di
   Turki yang dikenal sebagai Magnesia menemukan batu aneh. Batu tersebut
   menarik benda-benda yang mengandung besi. Karena batu tersebut
   ditemukan di Magnesia, orang Yunani memberi nama batu tersebut magnet.
   Sifat benda yang teramati sebagai suatu gaya tarik atau gaya tolak antara
   kutub-kutub magnet disebut kemagnetan.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                40
   Secara sederhana kita dapat mengelompokkan bahan-bahan menjadi dua
   kelompok, yaitu: bahan magnetik dan bahan bukan magnetik. Bahan-bahan
   yang dapat ditarik oleh magnet disebut bahan magnetik. Sedangkan bahan-
   bahan yang tidak dapat ditarik oleh magnet disebut bahan bukan magnetik.
   Besi, baja, nikel, dan kobalt termasuk bahan magnetik. Sedangkan kayu, kaca,
   aluminium, dan plastik adalah contoh-contoh bahan bukan magnetik.

   Semua magnet mempunyai sifat-sifat tertentu. Setiap magnet, bagaimanapun
   bentuknya, mempunyai dua ujung di mana pengaruh magnetiknya paling
   kuat. Dua ujung tersebut dikenal sebagai kutub magnet, yang diberi nama
   kutub utara (U) dan kutub selatan (S). Jika kutub-kutub magnet senama (U
   dan U atau S dan S) saling didekatkan, kedua kutub tersebut akan tolak-
   menolak. Namun, jika kutub utara (U) salah satu magnet didekatkan ke
   kutub selatan (S) magnet lain, kutub-kutub tersebut akan tarik-menarik.

   Sifat-sifat magnetik suatu bahan bergantung pada struktur atomnya. Para
   ilmuwan mengetahui bahwa atom itu sendiri memiliki sifat-sifat magnetik.
   Sifat-sifat magnetik tersebut disebabkan gerak elektron atom-atom tersebut.
   Oleh karena itu, tiap atom di dalam suatu bahan magnetik adalah seperti
   sebuah magnet kecil yang disebut magnet atom (magnet elementer).

   PEMAKNAAN

      Semua magnet memiliki dua kutub yang berlawanan, yaitu utara (U) dan
       selatan (S).
       ”Allah, Tuhan yang Maha Esa menciptakan manusia secara berpasang-
       pasangan.” Hanya Allah-lah dzat yang tunggal, Allah itu satu, tidak




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                41
       beranak dan tidak diperanakkan. Bagi ajaran agama Islam, hal ini sesuai
       dengan kandungan dalam Surat Al-Ikhlas.
       Secara kodrati, manusia mempunyai dua jenis kelamin, yaitu: laki-laki (L)
       dan perempuan (P).

      Kutub-kutub magnet yang senama (U-U atau S-S), jika didekatkan akan
       tolak-menolak. Sedangkan kutub-kutub magnet yang tidak senama (U-S),
       jika didekatkan akan tarik-menarik.
       Agama melarang manusia sesama jenis untuk saling jatuh cinta. Manusia
       hanya boleh menikah dengan lawan jenisnya. Perilaku ”menyimpang”
       seperti homoseksual (L-L) atau lesbian (P-P) dilarang oleh agama.

      Sebatang logam (besi) dapat dijadikan magnet dengan cara menggosokkan
       magnet pada logam tersebut. Penggosokan magnet harus dilakukan secara
       terarah, dan semakin lama penggosokan semakin kuat serta bertahan
       lama sifat kemagnetannya.
       ”Rajin pangkal pandai.” Apabila kita ingin pandai, kita harus rajin
       belajar, dan tidak mudah menyerah.

      Sebatang logam (besi) dapat dijadikan magnet dengan cara menginduksi
       logam tersebut dengan magnet pada logam tersebut.
       Lingkungan sangat mempengaruhi perilaku dan perkembangan kognitif
       seseorang. Apabila kita ingin menjadi orang ”baik-baik” maka kita harus
       bergaul dan berteman dengan orang yang berperilaku baik pula. Apabila
       kita ingin menjadi orang yang pandai, maka kita juga harus banyak
       bergaul dan berteman dengan orang yang pandai.

      Sebatang logam (besi) dapat dijadikan magnet dengan cara melilitkan
       kawat pada logam dan mengalirkan arus listrik pada kawat yang dililitkan
       pada logam tersebut.
       Agar kemampuan (pengetahuan) kita semakin bertambah, kita harus
       sering berdiskusi dan mendapat masukan-masukan dari banyak orang
       yang memiliki kemampuan melebihi kemampuan kita.

      Sebuah magnet dapat hilang sifat kemagnetannya diantaranya apabila
       kita bakar dan kita pukul-pukul. Sifat kemagnetan dimiliki oleh suatu
       bahan apabila magnet-magnet elementer bahan itu tersusun secara
       teratur.
       ”Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Dalam suatu komunitas,
       apabila kita rukun tidak terjadi saling permusuhan, maka apapun yang



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 42
       kita cita-citakan akan dengan lebih mudah untuk kita capai. Namun,
       dengan adanya suatu pengaruh ”negatif” dari luar, misalnya munculnya
       para provokator-provokator, maka adanya provokasi tersebut dapat
       memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa.

E. Alat/Bahan/Sumber belajar
   1. Buku Siswa CTL untuk SMP Direktorat PSMP
   2. Buku Sumber (Referensi) lain
   3. LKS Kemagnetan
   4. Alat peraga magnet, bel listrik, dan motor listrik
   5. Serbuk besi
   6. Animasi pemaknaan untuk penanaman sikap
   7. Kabel/kawat listrik (kawat untuk kumparan)
   8. Catu daya (baterai)

F. Model Pembelajaran:
   Pembelajaran Kooperatif (CL) dengan ”Pemaknaan”

G. Kegiatan Pembelajaran

   Pertemuan 1

                                                              Terlaksana
                      Tahap Pembelajaran
                                                              Ya    Tidak
 Kegiatan Awal
  Demonstrasi menarik benda-benda dari logam (besi) dengan
    sebuah ”magnet”. Menanyakan kepada siswa, mengapa benda
    tersebut dapat menempel?
  Menginformasikan bahwa magnet banyak digunakan
    dalam kehidupan sehari-hari di sekitar kita sambil
    memberikan contoh misalnya bel listrik, motor listrik,
    tape recorder, dll.
  Menyampaikan tujuan pembelajaran ( Pertemuan 1).

 Kegiatan Inti
  Memperlihatkan magnet batang, mendemonstrasikan
    bahwa ada beberapa benda yang dapat ditarik oleh
    magnet dan ada yang tidak dapat ditarik oleh magnet.
  Menginformasikan magnet batang mempunyai dua
    kutub yang dinamai kutub utara dan selatan sambil
    mendemonstrasikan menggantu ngkan magnet batang
    dengan benang. Menjelaskan konsep kemagnetan.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                            43
                                                                      Terlaksana
                       Tahap Pembelajaran
                                                                      Ya    Tidak
    Meminta siswa duduk dalam tatanan pembelajaran
     kooperatif       sambil      mengingatkan       keterampilan
     kooperatif yang akan dilatihkan dan bagaimana cara
     mengikuti pelatihan keterampilan kooperatif ters ebut
     dan membagikan LKS 2 “Panduan Belajar Pengaruh
     magnet”.
    Meminta siswa membaca Pengaruh Magnet dan
     membimbing          mengerjakan     LKS      tersebut      dan
     menggarisbawahi kalimat pokok setelah mendiskusikan
     di kelompoknya masing-masing.
    Membagikan LKS 1 serta alat dan bahan yang
     dibutuhkan        dan     membimbing       tiap     kelompok
     mengerjakan LKS tersebut.
    Meminta satu-dua kelompok untuk menulis di papan
     tulis Tabel 1 yang telah diisi dan ditanggapi kelompok
     lain.
    Selanjutnya guru memaknai setiap materi yang telah
     didiskusikan sebagai contoh atau model perilaku dan budi
     pekerti. Adapun materi-materi yang perlu diberikan pemaknaan,
     antara lain berkaitan dengan:
     - magnet dapat menarik benda;
     - magnet memiliki dua kutub, yaitu: U dan S;
     - sifat gaya magnet antar kutub-kutub magnet.
    (Lain-lainnya dapat dikembangkan sesuai kreativitas guru).

 Kegiatan Penutup
  Untuk memantapkan pemahaman siswa tentang ”Pengaruh
   Magnet” guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan sesuaikan
   dengan tujuan pembelajaran pada Pertemuan 1 ini.
  Meminta siswa merangkum materi sesuai dengan tujuan-tujuan
   yang ingin dicapai dan mempresentasikan jawaban benar dari
   LKS 1 dan LKS 2.

     Pertemuan 2

                                                                      Terlaksana
                        Tahap Pembelajaran
                                                                      Ya    Tidak
 Kegiatan Awal
  Mendemonstrasikan dengan menempelkan sebuah paku besar
    ke paku-paku kecil dan meminta siswa memperhatikan paku-
    paku kecil itu apakah dapat menempel pada sebuah paku besar
    tersebut.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   44
                                                                    Terlaksana
                       Tahap Pembelajaran
                                                                    Ya    Tidak
    Demonstrasi dilanjutkan dengan menempelkan paku besar
     tersebut dengan sebuah magnet batang dan kemudian
     menempelkannya pada paku-paku kecil. Siswa diminta
     memperhatikan paku-paku kecil itu apakah dapat menempel
     pada sebuah paku besar tersebut.
    Menginformasikan bahwa hari ini akan dilakukan
     percobaan membuat magnet dengan cara menggosok,
     induksi, dan mengalirkan arus listrik.
    Menyampaikan tujuan pembelajaran (Pertemuan 2).

 Kegiatan Inti
  Menyajikan informasi bahwa dalam besi yang bukan
    magnet susunan atom-atomnya masih acak. Agar besi
    menjadi magnet, susunan atom-atomnya harus dibuat
    searah. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah
    dengan cara mendekatkan sebuah magnet ke besi
    tersebut.
  Meminta siswa duduk dalam tatanan pembelajaran
    kooperatif.
  Membagikan LKS 3 dan membimbing siswa untuk
    mengerjakan LKS tersebut.
  Meminta salah satu kelompok untuk menuliskan hasil
    kegiatannya di papan tulis dan kelompok lain diminta
    menanggapinya.
  Memberi penghargaan pada siswa/kelompok yang
    kinerjanya bagus.
  Selanjutnya guru memaknai setiap materi yang telah
    didiskusikan sebagai contoh atau model perilaku dan budi
    pekerti. Adapun materi-materi yang perlu diberikan pemaknaan,
    antara lain berkaitan dengan:
    - pembuatan magnet dengan cara menggosok;
    - pembuatan magnet dengan cara induksi;
    - pembuatan magnet dengan cara elektromagnetik.
  (Lain-lainnya dapat dikembangkan sesuai kreativitas guru).

 Kegiatan Penutup
  Untuk memantapkan pemahaman siswa tentang ”Cara
   Pembuatan Magnet” guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan
   sesuaikan dengan tujuan pembelajaran pada Pertemuan 2 ini.
  Meminta siswa merangkum materi sesuai dengan tujuan-tujuan
   yang ingin dicapai dan mempresentasikan jawaban benar dari
   LKS 3.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 45
Pertemuan 3

                                                                    Terlaksana
                       Tahap Pembelajaran
                                                                    Ya    Tidak
 Kegiatan Awal
  Sambil menggantung bebas sebuah magnet batang, menanyakan
    kepada siswa: ”ke arah mana magnet batang itu selalu
    menghadap?” Mengapa?
  Menanyakan kepada siswa, apakah suatu magnet, sifat
    kemagnetannya tidak dapat dihilangkan?
  Menyampaikan tujuan pembelajaran ( Pertemuan 3).

 Kegiatan Inti
  Menginformasikan bahwa garis gaya magnet dapat
    digambar untuk memperlihatkan lintasan medan
    magnet, menjelaskan pola -pola garis gaya untuk
    berbagai macam susunan magnet batang.
  Menginformasikan bahwa terdapat perbedaan antara
    kutub magnetik dan kutub geografik bumi, serta
    menjelaskan bagaimana kompas dapat membantu untuk
    menentukan arah.
  Meminta siswa duduk dalam tatanan pembelajaran
    kooperatif       samb il     mengingatkan       keterampilan
    kooperatif yang akan dilatihkan dan bagaimana cara
    mengikuti pelatihan keterampilan kooperatif tersebut
    dan membagikan LKS 5.
  Meminta siswa membaca Buku Siswa, tentang Pengaruh
    Magnet;       Kemagnetan      Bumi,     dan     membimbing
    mengerjaka n LKS 5 tersebut dan menggarisbawahi
    kalimat pokok setelah mendiskusikan di kelompoknya
    masing-masing.
  Membagikan LKS 4 serta alat dan bahan yang
    dibutuhkan        dan     membimbing       tiap     kelompok
    mengerjakan LKS tersebut.
  Meminta satu dua kelompok untuk menggambar p ola
    serbuk besi untuk tiap susunan magnet batang dan
    ditanggapi kelompok lain.
  Selanjutnya guru memaknai setiap materi yang telah
    didiskusikan sebagai contoh atau model perilaku dan budi
    pekerti. Adapun materi-materi yang perlu diberikan pemaknaan,
    antara lain berkaitan dengan:
    - cara menghilangkan sifat kemagnetan;
    - keberadaan kemagnetan bumi.
  (Lain-lainnya dapat dikembangkan sesuai kreativitas guru).



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 46
                                                                    Terlaksana
                       Tahap Pembelajaran
                                                                    Ya    Tidak

 Kegiatan Penutup
  Untuk memantapkan pemahaman siswa tentang cara
   menghilangkan sifat kemagnetan dan keberadaan kemagnetan
   bumi, guru mengajukan pertanyaan-pertanyaan sesuaikan dengan
   tujuan pembelajaran pada Pertemuan 3 ini.
  Meminta siswa merangkum materi sesuai dengan tujuan-tujuan
   yang ingin dicapai dan mempresentasikan jawaban benar dari
   LKS 4 dan LKS 5.

Pertemuan 4

                                                                    Terlaksana
                       Tahap Pembelajaran
                                                                    Ya    Tidak
 Kegiatan Awal
  Mendemonstrasikan terjadinya penyimpangan suatu jarum
    kompas ketika diletakkan dekat suatu magnet. Menanyakan
    pada siswa, mengapa jarum kompas itu dapat mengalami
    penyimpangan arah?
  Mengingatkan kembali tentang cara membuat magnet dengan
    mengalirkan arus listrik.
  Menyampaikan tujuan pembelajaran ( Pertemuan 4).

 Kegiatan Inti
  Menginformasikan bahwa arus listrik yang mengalir
    melalui sebuah penghantar akan menimbulkan medan
    magnet yang arahnya bergantung pada arah arus listrik.
  Menginformasikan bahwa medan magnet solenoida
    dapat diperbesar dengan memperbesar jumlah lilitan
    maupun besar arus yang mengalir melaluinya.
  Meminta siswa duduk dalam tatanan pembelajaran
    kooperatif   sambil    mengingatkan     keterampilan
    kooperatif yang akan dilatihkan dan bagaimana cara
    mengikuti pelatihan keterampilan kooperatif tersebut
    dan membagikan LKS 8.
  Meminta siswa membaca Buku Siswa, subbab Medan
    Magnet di Sekitar Arus Listrik, dan membimbing
    mengerjakan LKS 8 tersebut dan menggarisbawahi
    kalimat pokok setelah mendiskusikan di kelompoknya
    masing-masing.

  Membagikan       LKS    7   serta   alat    dan   bahan   yang



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 47
                                                                     Terlaksana
                        Tahap Pembelajaran
                                                                     Ya    Tidak
     dibutuhkan       dan     membimbing        tiap     kelompok
     mengerjakan LKS tersebut.
    Meminta satu-dua kelompok untuk menulis di papan
     tulis untuk melengkapi Tabel 1 hasil penyelidikan dan
     ditanggapi kelompok lain.
    Selanjutnya guru memaknai setiap materi yang telah
     didiskusikan sebagai contoh atau model perilaku dan budi
     pekerti. Adapun materi-materi yang perlu diberikan pemaknaan,
     yaitu:
     - sifat medan magnet di sekitar kawat berarus listrik.
    (Lain-lainnya dapat dikembangkan sesuai kreativitas guru).

 Kegiatan Penutup
  Untuk memantapkan pemahaman siswa tentang medan magnet
   di sekitar kawat berarus listrik, guru mengajukan pertanyaan-
   pertanyaan sesuaikan dengan tujuan pembelajaran pada
   Pertemuan 4 ini.
  Meminta siswa merangkum materi sesuai dengan tujuan-tujuan
   yang ingin dicapai dan mempresentasikan jawaban benar dari
   LKS 7 dan LKS 8.


H. Penilaian (Instrumen Penilaian Terlampir pada Lembar Penilaian)
    Bentuk tes tertulis: pilihan ganda dan uraian singkat
    Kinerja saat melakukan kegiatan
    Laporan/presentasi
    Tes tertulis dilaksanakan setelah proses pembelajaran (Pertemuan 5)
    dengan menggunakan Lembar Penilaian (LP) 4.1.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  48
   CONTOH 2: RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN BERBASIS CTL

                                  Sekolah          : SMP
                                  Mata Pelajaran     : IPA
                                  Kelas / Semester : VII / 1

Standar Kompetensi

3. Memahami wujud zat dan perubahannya
4. Memahami berbagai sifat dalam perubahan fisika dan kimia.
6. Memahami keanekara-gaman makhluk hidup.

Kompetensi Dasar
3.1 Menyelidiki sifat-sifat zat berdasarkan wujudnya dan penerapannya dalam
    kehidupan sehari-hari
4.2 Melakukan pemisahan campuran dengan berbagai cara berdasarkan sifat fisika dan
    sifat kimia
6.2 Mengklasifikasikan makhluk hidup berdasarkan ciri-ciri yang dimiliki

Indikator
 Mengidentifikasi cara-cara pemisahan campuran dengan cara fisika
 Mengidentifikasi cara-cara pemisahan campuran dengan cara kimia
 Menentukan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran
 Menerapkan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran

PERTEMUAN 1
A. Tujuan Pembelajaran
    Peserta didik mampu:
    1. Mengidentifikasi cara-cara pemisahan campuran dengan cara penyaringan
    2. Menentukan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran
    3. Menerapkan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran
    4. Melakukan pengamatan, menuliskan data hasil pengamatan, melakukan
        inferensi, berkomunikasi
B. Materi Pembelajaran
     Pemisahan campuran dengan cara penyaringan

C. Metode Pembelajaran
    1.Model    :Cooperatif Learning
    2.Metode   : Demonstrasi
                Eksperimen
                Diskusi




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                     49
D.Langkah-langkah
  1. Kegiatan Pendahuluan
        Motivasi: Menunjukkan pada siswa air kotor dan air jernih, kemudian
        menanyakan kepada siswa: “Terdiri dari apa sajakah campuran tersebut, apakah
        terdapat organisme di dalamnya? Apakah air tersebut dapat dijernihkan?”
        Pengetahuan Prasyarat: Mengajukan pertanyaan tentang pengertian campuran
       Menyampaikan tujuan pembelajaran


  2. Kegiatan Inti
        - Menegaskan tentang permasalahan yang muncul dalam sesi pemotivasian.
        - Membagi peserta didik kedalam kelompok-kelompok, Tiap kelompok terdiri
            dari 4-5 siswa.
        - Meminta peserta didik untuk membaca LKS dan mendiskusikan dalam
            kelompok sebelum melakukan percobaan.
        - Membinbing siswa melakukan percobaan dan memeriksa kegiatan peserta
            didik apakah sudah dilakukan dengan benar.
        - Jika masih ada peserta didik /kelompok yang belum dapat melakukan
            dengan benar ,guru dapat langsung memberikan bimbingan.
        - Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompoknya
        - Memberi penghargaan pada semua kelompok yang telah melakukan
            percobaan dan mempresentasikan hasilnya sesuai kinerja kelompok.
        - Mengklarifikasi konsep yang telah didapat siswa, dilanjutkan dengan
            diskusi tentang berbagai kemungkinan pemisahan campuran selain
            penyaringan.

   3. Kegiatan Penutup
         - Guru membimbing siswa merangkum pelajaran.
         - Penugasan Terstruktur: Memberikan tugas lanjutan dari kegiatan yang telah
             dilakukan yaitu menggunakan bahan-bahan lain yang dapat digunakan
             untuk menyaring air dan membandingkan hasilnya dengan kelompok lain.
             Tugas dikumpulkan pada pertemuan berikutnya.ahan- apakah yang kamu
             pikir dapat digunakan sebagai penyaring air? Lakukan kegiatan ini dengan
             menggunakbahan-bahan yang
E. Sumber Belajar
        1. Buku siswa
        2. LKS
        3. Alat dan bahan untuk kegiatan siswa dalam pertemuan ini, meliputi:
                 a. botol plastik 2l bekas air mineral
                 b. air kolam
                 c. kerikil
                 d. pasir
                 e. ijuk
                 f. pisau




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                        50
PERTEMUAN 2

A.Tujuan Pembelajaran
  Peserta didik dapat :
       1. Mengidentifikasi cara-cara pemisahan campuran dengan cara destilasi
       2. Menentukan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran
       3. Menerapkan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran
       4. Melakukan pengamatan, menuliskan data hasil pengamatan, melakukan
           inferensi, berkomunikasi

B.Materi Pembelajaran
  Pemisahan campuran dengan cara destilasi dan kristalisasi

C.Model Pembelajaran
      Pendekatan     : Pembelajaran Kooperatif
      Metode         : Pengamatan, Diskusi

D.Langkah-langkah
   1. Kegiatan pendahuluan
        Motivasi: Menanyakan kegiatan tugas lanjutan, selanjutnya menanyakan:
        “Bagaimanakah memperoleh air tawar dari air asin? ” (Arahkan dalam konteks
        penjernihan air untuk memperoleh air tawar)
        Pengetahuan Prasyarat: Mengajukan pertanyaan tentang penguapan dan
        pengembunan
        Menyampaikan tujuan pembelajaran

   2. Kegiatan inti
        - Menegaskan tentang permasalahan yang muncul dalam sesi pemotivasian
            dan berdiskusi tentang penguapan dan pengembunan.
        - Membagi peserta didik kedalam kelompok-kelompok, Tiap kelompok terdiri
            dari 4-5 siswa.
        - Meminta peserta didik untuk membaca LKS dan mendiskusikan dalam
            kelompok sebelum melakukan percobaan.
        - Membinbing siswa melakukan percobaan dan memeriksa kegiatan peserta
            didik apakah sudah dilakukan dengan benar.
        - Jika masih ada peserta didik /kelompok yang belum dapat melakukan
            dengan benar ,guru dapat langsung memberikan bimbingan.
        - Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompoknya
        - Memberi penghargaan pada semua kelompok yang telah melakukan
            percobaan dan mempresentasikan hasilnya sesuai kinerja kelompok.
        - Mengklarifikasi konsep yang telah didapat siswa, dilanjutkan dengan
            diskusi tentang penerapan lain destilasi. Mendiskusikan pemisahan
            campuran selain penyaringan dan destilasi, yakni kristalisasi.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                     51
  3. Kegiatan penutup
  - Guru besama peserta didik membuat kesimpulan rangkuman hasil belajar
  - Guru memberikan kuis untuk mengetahui daya serap materi yang baru saja
       dipelajari

E. Sumber Belajar
      1. Buku siswa
      2. LKS
      3. Alat dan bahan untuk kegiatan siswa dalam pertemuan ini, meliputi:
           a. botol plastik 2l bekas air mineral
           b. air kolam
           c. kerikil
           d. pasir
           e. ijuk
           f. pisau


PERTEMUAN KETIGA
A. Tujuan
   Peserta didik dapat
       1. Mengidentifikasi cara-cara pemisahan campuran dengan cara kimia
           (koagulasi)
       2. Menentukan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran
       3. Menerapkan cara pemisahan campuran berdasarkan karakteristik campuran
B. Materi Pembelajaran
   Pemisahan campuran

C.Model Pembelajaran
      Pendekatan     : Pembelajaran Kooperatif
      Metode         : Diskusi dan Penerapan Strategi Belajar (membuat peta konsep)

D. Langkah-langkah
  1. Kegiatan Pendahuluan
   Motivasi dan apersepsi
        - Menanyakan:”Pernahkah kamu melihat tawas?” Guru menunjukkan tawas.
            Menanyakan kegunaan tawas (diarahkan untuk penjernihan air)
        - Menyampaikan tujuan pembelajaran
   2. Kegiatan inti
        - Guru meminta peserta didik membaca secara individual materi tentang cara
            pemisahan campuran secara kimia dalam di Buku Siswa (Pengelolaan Air
            Minum)
        - Membagi peserta didik kedalam kelompok-kelompok, Tiap kelompok terdiri
            dari 4-5 siswa.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    52
        -   Meminta kelompok untuk membuat poster tentang proses pengolahan air
            sungai atau danau menjadi air minum. Poster dapat berupa diagram alir,
            peta konsep, atau sesuai kreasi anak.
        -   Membinbing siswa melakukan kegiatannya.
        -   Jika masih ada peserta didik /kelompok yang belum dapat melakukan
            dengan benar ,guru dapat langsung memberikan bimbingan.
        -   Peserta didik menempelkan poster hasil kerja kelompoknya dan diamati
            kelompok lain
        -   Memberi penghargaan pada semua kelompok yang telah melakukan
            percobaan dan mempresentasikan hasilnya sesuai kinerja kelompok.
        -   Mengklarifikasi konsep yang telah didapat siswa, dilanjutkan dengan
            diskusi tentang pemisahan campuran secara kimia yang lain.

 3. Kegiatan penutup
       - Guru besama peserta didik membuat kesimpulan rangkuman hasil belajar
       - Kegiatan Mandiri Tidak Terstruktur: Guru menginformasikan untuk
           membaca dan mempelajari Buku Siswa dan sumber belajar yang lain.


E. Sumber belajar
   1.Buku Siswa
   2.Peralatan untuk membuat poster

F. Penilaian
   1.Teknik penilaian dan bentuk instrumen

                Teknik                                  Bentuk Instrumen
    Tes unjuk kerja                               Lembar Observasi (rating scale)

    Tes tulis                                     Isian


  2. Contoh instrumen
       Tes Tulis:
       Misalkan terdapat campuran air asin dan pasir. Tuliskan langkah-langkah
       pemisahannya, sehingga kamu mendapatkan air tawar, garam, dan pasir!
       Kriteria penskoran:
       4: semua langkah teridentifikasi, urutan langkah ditulis dengan benar
       3: ada langkah yang tidak terlalu prinsip tidak teridentifikasi, urutan langkah
       ditulis dengan benar
       2: ada langkah prinsip tidak teridentifikasi, ada langkah yang ditulis tidak urut
       1: ada langkah prinsip tidak teridentifikasi, ada langkah prinsip tidak tertulis
       0: tidak mengerjakan




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                           53
Lembar Observasi yang dikembangkan sebagai berikut.

Lembar Observasi terhadap Kinerja Ilmiah Siswa
 No      Aspek Yang Diamati                                  Skor
                                    0 (tidak ada)     1 (kurang)  2 (sedang)   3 (baik)
 1    Melakukan pengamatan
 2    Menuliskan data
      pengamatan
 3    Melakukan tafsiran
      terhadap data
 4    Mengkomunikasikan
        Kriteria Penilaian
                           skor yang didapat
                 nilai                       100
                               skor total




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                         54
             PEMBELAJARAN TERPADU

A. LATAR BELAKANG
    Pembelajaran terpadu merupakan proses pembelajaran yang bersifat
    menyeluruh atau holistik. Pendekatan ini menempatkan siswa dalam posisi
    sentral, siswa sebagai peserta didik yang aktif, terutama dalam keterampilan
    berpikir.    Beberapa       keterampilan    berpikir     dikembangkan    dalam
    pembelajaran       ini,   seperti:   mengamati,   membedakan,      mengurutkan,
    menduga      dan     mengukur,       mengelompokan,    bertanya,   merumuskan
    hipotesis,          membandingkan,            menganalisis,        memadukan,
    menggenarilasisikan,        menilai,    memperkirakan,     menginterpretasikan,
    merencanakan, melakukan percobaan, berkomunikasi, berpikir konvergen,
    berpikir divergen, berpikir induktif, berpikir deduktif, menyimpulkan,
    mengambil keputusan.


    Kemungkinan Bentuk Penerapan Pembelajaran Terpadu (IPA Terpadu, IPS
    Terpadu. Tematik)          Menurut Joni (1996) didasarkan pada pengaitan
    konseptual intra dan/atau antar bidang studi yang terjadi secara spontan,
    dengan program kegiatan belajar-mengajar yang dilaksanakan secara
    sepenuhnya mengikuti kurikulum yang isinya masih terkotak-kotak
    berdasarkan bidang studi agar terorganisasi secara terstruktur, lebih
    eksplisit dan bertolak dari tema-tema. Model Pengintegrasian Kurikulum
    tersebut menurut Forgaty (1991) digambarkan seperti pada tabel berikut:




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    55
                          PENGINTEGRASIAN KURIKULUM
        MODEL               RENTANGAN                       DESKRIPSI
Mata Pelajaran Terpisah     fragmented          Tiap Mapel disampaikan terpisah.
                            connected           Suatu konsep dipertautkan dengan
                                                konsep lain.
                            nested              Selain target di Mapel ada target
                                                multiketerampilan
Integrasi beberapa Mata     Sequenced           beberapa topik diatur ulang serta
Pelajaran                                       diurutkan agar dapat serupa satu sama
                                                lain.
                            shared              dua mata pelajaran yang sama-sama
                                                diajarkan    dengan     menggunakan
                                                konsep-konsep atau keterampilan-
                                                keterampilan yang tumpang tindih
                                                (overlap).
                            Webbed              Berangkat dari tema yang dibangun
                            (terjala/tematik)   bersama-sama antara guru dengan
                                                siswa, atas dasar beberapa topik pada
                                                beberapa     mata    pelajaran    yang
                                                berhubungan.
                                                pendekatan metakurikuler digunakan
                            threaded            untuk        mencapai         beberapa
                                                keterampilan dan tingkatan logika
                                                para siswa dengan berbagai mata
                                                pelajaran.
                                                guru masing-masing mata pelajaran
                            integrated          bekerja sama melihat dan memberikan
                                                topik-topik yang berkaitan dan
                                                tumpang tindih.

Lintas Peserta didik        immersed            berpusat untuk mengakomodasikan
                                                kebutuhan para siswa, di mana mereka
                                                akan melihat apa yang dipelajarinya
                                                dari minat dan pengalaman mereka
                                                sendiri.
                            networked           jaringan kerja dengan orang-orang
                                                yang     memiliki  keahlian    untuk
                                                membantu bagian dari pekerjaannya
                                                yang lebih bersifat implementatif.
                                                Mereka akan bekerja secara terpadu
                                                sesuai dengan topik pekerjaan yang
                                                mengikat mereka.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                       56
  Model-model      pembelajaran     berpikir   yang   dapat   digunakan     dalam
  pembelajaran     terpadu     adalah:   pemecahan    masalah,   evaluasi   kritis,
  penyelidikan, pengambilan keputusan, berpikir kritis, berpikir kreatif.
  Beberapa kegiatan utama dari model-model pembelajaran berpikir ini
  diuraikan sebagai berikut:
  1. Pemecahan Masalah
          Menghimpun fakta-fakta,
          Merumuskan masalah,
          Mengembangkan ide, pemikiran, alternative pemecahan,
          Menentukan alternatif pemecahan,
          Menyusun rencana tindakan pelaksanaan.
  2. Berpikir Kritis
      Menjelaskan ide dan pemikiran
      Menentukan tingkat ketepatan informasi dasar (hasil pengamatan dan
       komunikasi).
      Menyusun argumentasi dan penyimpulan (berdasarkan data dan konsep)
  3. Berpikir Kreatif
      Pengembangan ide-ide dalam beberapa kategori (kelenturan berpikir)
      Pengembangan ide baru (kemurnian berpikir)
      Penyempurnaan ide (elaborasi pemikiran)
   4. Evaluasi Kritis
          Menentukan kriteria
          Menyusun alternative pemikiran, pemecahan,
          Membuat perkiraan dan menentukan keputusan,
          Memberikan alas an, argumentasi bagi keputusan.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   57
B.   TUJUAN DAN MANFAAT PEMBELAJARAN TERPADU
     • Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran
     • Meningkatkan minat dan motivasi
     • Beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus
     • Motivasi belajar peserta didik dapat diperbaiki dan ditingkatkan.
     • Pembelajaran terpadu membantu menciptakan struktur kognitif yang
       dapat menjembatani antara pengetahuan awal peserta didik dengan
       pengalaman belajar yang terkait, sehingga pemahaman menjadi lebih
       terorganisasi   dan   mendalam,     sehingga   memudahkan      memahami
       hubungan materi dari satu konteks ke konteks lainnya.
     • Akan terjadi peningkatan kerja sama        antar guru sub bidang kajian
       terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik,
       peserta didik/guru dengan nara sumber; sehingga belajar lebih
       menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dan dalam konteks yang
       lebih bermakna.
     • Dengan     menggabungkan        berbagai   bidang   kajian   akan   terjadi
       penghematan waktu, karena ketiga atau lebih disiplin ilmu dapat
       dibelajarkan sekaligus. Tumpang tindih materi juga dapat dikurangi
       bahkan dihilangkan.
     • Peserta didik dapat melihat hubungan yang bermakna antar konsep
       dalam disiplin ilmu tersebut.
     • Meningkatkan taraf kecakapan berpikir peserta didik, karena peserta
       didik dihadapkan pada gagasan atau pemikiran yang lebih luas dan lebih
       dalam ketika menghadapi situasi pembelajaran.
     • Pembelajaran terpadu menyajikan penerapan/aplikasi tentang dunia
       nyata yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, sehingga memudahkan




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   58
       pemahaman konsep dan kepemilikan kompetensi dari mata pelajaran
       yang dipadukan.


C. JENIS-JENIS PEMBELAJARAN TERPADU
    Pembelajaran yang dimungkinkan untuk dipadukan adalah mata pelajaran
    Kimia, Biologi dan Fisika menjadi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Terpadu.
    Sedangkan kajian tentang sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik,
    antropologi, filsafat, psikologi sosial     menjadi mata pelajaran Ilmu
    Pengetahuan Sosial (IPS) Terpadu. Dalam hal ini Guru bekerja sama melihat
    dan memberikan topik-topik yang berkaitan dan tumpang tindih (dengan
    mencermati     indikator   yang    telah   disusun)   dan   memadukannya.
    Kemungkinan pada pemaduan IPA adalah Connected, Webbed (tematik) dan
    Integrated.


D. PEMBELAJARAN IPA TERPADU
    1. PENGERTIAN ILMU PENGETAHUAN ALAM (IPA)
       Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berkaitan dengan cara mencari tahu
       tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan
       kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau
       prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan
       (discovery). Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi
       peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta
       prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam
       kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada
       pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi
       agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan
       IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                              59
       peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam
       tentang alam sekitar.


       Secara umum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SMP/MTs, meliputi mata
       pelajaran fisika, bumi antariksa, biologi, dan kimia yang sebenarnya
       sangat berperan dalam membantu anak untuk memahami fenomena
       alam. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan pengetahuan ilmiah, yaitu
       pengetahuan yang telah mengalami uji kebenaran melalui metode ilmiah,
       dengan ciri: objektif, metodik, sistematis, universal, dan tentatif. Ilmu
       Pengetahuan Alam merupakan ilmu yang pokok bahasannya adalah alam
       dan segala isinya.
       Carin dan Sund (1993) mendefinisikan IPA sebagai “pengetahuan yang
       sistematis dan tersusun secara teratur, berlaku umum (universal), dan
       berupa kumpulan data hasil observasi dan eksperimen”.
       Merujuk pada pengertian IPA itu, maka dapat disimpulkan bahwa
       hakikat IPA meliputi empat unsur utama yaitu:
        sikap: rasa ingin tahu tentang benda, fenomena alam, mahluk hidup,
          serta hubungan sebab akibat yang menimbulkan masalah baru yang
          dapat dipecahkan melalui prosedur yang benar; IPA        bersifat open
          ended;
        proses: prosedur pemecahan masalah melalui metode ilmiah; metode
          ilmiah meliputi penyusunan hipotesis, perancangan eksperimen atau
          percobaan, evaluasi, pengukuran, dan penarikan kesimpulan;
        produk: berupa fakta, prinsip, teori, dan hukum;
        aplikasi: penerapan metode ilmiah dan konsep IPA dalam kehidupan
          sehari-hari.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 60
       Keempat unsur itu merupakan ciri IPA yang utuh yang sebenarnya
       tidak dapat dipisahkan satu sama lain.


       Dalam proses pembelajaran IPA keempat unsur itu diharapkan dapat
       muncul, sehingga peserta didik dapat mengalami proses pembelajaran
       secara utuh, memahami fenomena alam melalui kegiatan pemecahan
       masalah, metode ilmiah, dan meniru cara ilmuwan bekerja dalam
       menemukan fakta baru. Kecenderungan pembelajaran IPA          pada masa
       kini adalah peserta didik hanya mempelajari IPA          sebagai produk,
       menghafalkan konsep, teori dan hukum. Keadaan ini diperparah oleh
       pembelajaran yang beriorientasi pada tes/ujian. Akibatnya IPA sebagai
       proses, sikap, dan aplikasi tidak tersentuh dalam pembelajaran.


       Pengalaman belajar yang diperoleh di kelas tidak utuh dan tidak
       berorientasi tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar.
       Pembelajaran lebih bersifat teacher-centered, guru hanya menyampaikan
       IPA   sebagai produk dan peserta didik menghafal informasi faktual.
       Peserta didik hanya mempelajari IPA            pada domain kognitif yang
       terendah. Peserta didik tidak dibiasakan untuk mengembangkan potensi
       berpikirnya. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak peserta didik
       yang cenderung menjadi malas berpikir secara mandiri. Cara berpikir
       yang dikembangkan dalam kegiatan belajar belum menyentuh domain
       afektif dan psikomotor. Alasan yang sering dikemukakan oleh para guru
       adalah keterbatasan waktu, sarana, lingkungan belajar, dan jumlah
       peserta didik per kelas yang terlalu banyak.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                61
       Abad 21 ditandai oleh pesatnya perkembangan IPA dan teknologi dalam
       berbagai bidang kehidupan di masyarakat, terutama teknologi informasi
       dan komunikasi. Oleh karena itu, diperlukan cara pembelajaran yang
       dapat menyiapkan peserta didik untuk melek IPA dan teknologi, mampu
       berpikir logis, kritis, kreatif, serta dapat berargumentasi secara benar.
       Dalam kenyataan, memang tidak banyak peserta didik yang menyukai
       mata pelajaran IPA, karena dianggap sukar, keterbatasan kemampuan
       peserta didik, atau karena mereka tak berminat menjadi ilmuwan atau
       ahli   teknologi.   Namun    demikian,   mereka   tetap   berharap   agar
       pembelajaran IPA di sekolah dapat disajikan secara menarik, efisien, dan
       efektif.
       Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang akan dicapai peserta
       didik yang dituangkan dalam empat aspek yaitu, makhluk hidup dan
       proses kehidupan, materi dan sifatnya, energi dan perubahannya, serta
       bumi dan alam semesta.


       Indikator    pencapaian     kompetensi   dikembangkan     oleh   sekolah,
       disesuaikan dengan lingkungan setempat, dan media serta lingkungan
       belajar yang ada di sekolah. Semua ini ditujukan agar guru dapat lebih
       aktif, kreatif, dan melakukan inovasi dalam pembelajaran tanpa
       meninggalkan isi kurikulum. Melalui pembelajaran IPA terpadu,
       diharapkan peserta didik dapat membangun pengetahuannya melalui
       cara kerja ilmiah, bekerja sama dalam kelompok, belajar berinteraksi dan
       berkomunikasi, serta bersikap ilmiah.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 62
    2. KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN IPA
       Ilmu Pengetahuan Alam didefinisikan sebagai pengetahuan yang
       diperoleh melalui pengumpulan data dengan eksperimen, pengamatan,
       dan deduksi untuk menghasilkan suatu penjelasan tentang sebuah gejala
       yang dapat dipercaya. Ada tiga kemampuan dalam IPA yaitu: (1)
       kemampuan untuk mengetahui apa yang diamati, (2) kemampuan untuk
       memprediksi apa yang belum diamati, dan kemampuan untuk menguji
       tindak lanjut hasil eksperimen, (3) dikembangkannya sikap ilmiah.
       Kegiatan pembelajaran IPA mencakup pengembangan kemampuan
       dalam mengajukan pertanyaan, mencari jawaban, memahami jawaban,
       menyempurnakan jawaban tentang “apa”, “mengapa”, dan “bagaimana”
       tentang gejala alam maupun karakteristik alam sekitar melalui cara-cara
       sistematis yang akan diterapkan dalam lingkungan dan teknologi.
       Kegiatan tersebut dikenal dengan kegiatan ilmiah yang didasarkan pada
       metode ilmiah. Metode ilmiah dalam mempelajari IPA itu sendiri telah
       diperkenalkan sejak abad ke-16 (Galileo Galilei dan Francis Bacon) yang
       meliputi mengidentifikasi masalah, menyusun hipotesa, memprediksi
       konsekuensi dari hipotesis, melakukan eksperimen untuk menguji
       prediksi, dan merumuskan hukum umum yang sederhana yang
       diorganisasikan dari hipotesis, prediksi, dan eksperimen.


       Dalam belajar IPA peserta didik diarahkan untuk membandingkan hasil
       prediksi peserta didik dengan teori        melalui eksperimen dengan
       menggunakan metode ilmiah. Pendidikan IPA di sekolah diharapkan
       dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri
       dan alam sekitarnya, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam
       menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, yang didasarkan pada



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                               63
       metode ilmiah.      Pembelajaran IPA menekankan pada pengalaman
       langsung untuk mengembangkan kompetensi agar peserta didik mampu
       memahami alam sekitar melalui proses “mencari tahu” dan “berbuat”,
       hal ini akan membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman
       yang lebih mendalam.


       Keterampilan dalam mencari tahu atau berbuat tersebut dinamakan
       dengan keterampilan proses penyelidikan atau “enquiry skills” yang
       meliputi    mengamati,      mengukur,    menggolongkan,      mengajukan
       pertanyaan, menyusun hipotesis, merencanakan eksperimen untuk
       menjawab pertanyaan, mengklasifikasikan, mengolah, dan menganalisis
       data, menerapkan ide pada situasi baru, menggunakan peralatan
       sederhana serta mengkomunikasikan informasi dalam berbagai cara,
       yaitu dengan gambar, lisan, tulisan, dan sebagainya.


     Melalui keterampilan proses dikembangkan sikap dan nilai yang meliputi
     rasa ingin tahu, jujur, sabar, terbuka, tidak percaya tahyul, kritis, tekun,
     ulet, cermat, disiplin, peduli terhadap lingkungan, memperhatikan
     keselamatan kerja, dan bekerja sama dengan orang lain.


     Oleh karena itu pembelajaran IPA di sekolah sebaiknya: (1) memberikan
     pengalaman pada peserta didik sehingga mereka kompeten melakukan
     pengukuran berbagai besaran fisis, (2) menanamkan pada peserta didik
     pentingnya pengamatan empiris dalam menguji suatu pernyataan ilmiah
     (hipotesis). Hipotesis ini dapat berasal dari pengamatan terhadap kejadian
     sehari-hari yang memerlukan pembuktian secara ilmiah, (3) latihan
     berpikir kuantitatif yang mendukung kegiatan belajar matematika, yaitu



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  64
     sebagai penerapan matematika pada masalah-masalah nyata yang
     berkaitan dengan peristiwa alam, (4) memperkenalkan dunia teknologi
     melalui kegiatan kreatif dalam kegiatan perancangan dan pembuatan alat-
     alat sederhana maupun penjelasan berbagai gejala dan keampuhan IPA
     dalam menjawab berbagai masalah.


    3. TUJUAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU
       Tujuan pembelajaran IPA Terpadu adalah sebagai berikut.
       a. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran
          Dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai
          peserta didik masih dalam lingkup disiplin ilmu fisika, kimia, dan
          biologi. Banyak ahli yang menyatakan pembelajaran IPA                    yang
          disajikan secara disiplin keilmuan dianggap terlalu dini bagi anak usia
          7-14 tahun, karena anak pada usia ini masih dalam transisi dari tingkat
          berpikir operasional konkret ke berpikir abstrak. Lagi pula, anak
          melihat dunia sekitarnya masih secara holistik. Atas dasar itu,
          pembelajaran IPA hendaknya disajikan dalam bentuk yang utuh dan
          tidak parsial. Di samping itu pembelajaran yang disajikan terpisah-
          pisah   dalam     fisika,    biologi,   kimia,   dan    bumi-alam      semesta
          memungkinkan adanya tumpang tindih dan pengulangan, sehingga
          membutuhkan       waktu       dan   energi      yang   lebih   banyak,    serta
          membosankan bagi peserta didik. Bila konsep yang tumpang tindih
          dan pengulangan dapat dipadukan, maka pembelajaran akan lebih
          efisien dan efektif.


          Keterpaduan      mata       pelajaran   dapat    mendorong      guru     untuk
          mengembangkan kreativitas tinggi karena adanya tuntutan untuk




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                          65
          memahami keterkaitan antara satu materi dengan materi yang lain.
          Guru dituntut memiliki kecermatan, kemampuan analitik, dan
          kemampuan kategorik agar dapat memahami keterkaitan atau
          kesamaan materi maupun metodologi.


       b. Meningkatkan minat dan motivasi
          Pembelajaran    terpadu    memberikan    peluang    bagi   guru   untuk
          mengembangkan situasi pembelajaan yang utuh, menyeluruh, dinamis,
          dan bermakna sesuai dengan harapan dan kemampuan guru, serta
          kebutuhan dan kesiapan peserta didik. Dalam hal ini, pembelajaran
          terpadu memberikan peluang bagi pengembangan ilmu pengetahuan
          yang berkaitan dengan tema yang disampaikan.
          Pembelajaran IPA Terpadu dapat mempermudah dan memotivasi
          peserta didik untuk mengenal, menerima, menyerap, dan memahami
          keterkaitan atau hubungan antara konsep pengetahuan dan nilai atau
          tindakan yang termuat dalam tema tersebut.             Dengan model
          pembelajaran yang terpadu dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari,
          peserta didik digiring untuk berpikir luas dan mendalam untuk
          menangkap dan memahami hubungan konseptual yang disajikan
          guru. Selanjutnya peserta didik akan terbiasa berpikir terarah, teratur,
          utuh, menyeluruh, sistemik, dan analitik. Peserta didik akan lebih
          termotivasi dalam belajar bila mereka merasa bahwa pembelajaran itu
          bermakna baginya, dan bila mereka berhasil menerapkan apa yang
          telah dipelajarinya.
       c. Beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus
          Model pembelajaran IPA terpadu dapat menghemat waktu, tenaga, dan
          sarana, serta biaya karena pembelajaran beberapa kompetensi dasar



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   66
          dapat diajarkan sekaligus. Di samping itu, pembelajaran terpadu juga
          menyederhanakan langkah-langkah pembelajaran. Hal ini terjadi karena
          adanya proses pemaduan dan penyatuan sejumlah standar kompetensi,
          kompetensi dasar, dan langkah pembelajaran yang dipandang memiliki
          kesamaan atau keterkaitan.


    4. PEMADUAN KONSEP DALAM PEMBELAJARAN IPA

       Salah satu kunci pembelajaran terpadu yang terdiri atas beberapa mata
       pelajaran adalah menyediakan lingkungan belajar yang menempatkan
       peserta    didik    mendapat      pengalaman    belajar   yang    dapat
       menghubungkaitkan konsep-konsep dari berbagai submata-pelajaran.
       Pengertian terpadu di sini mengandung makna menghubungkan IPA
       dengan berbagai mata pelajaran (Carin 1997;236). Lintas submata
       pelajaran dalam IPA adalah mengkoordinasikan berbagai disiplin ilmu
       seperti biologi, fisika, kimia, geologi, dan astronomi. Sebenarnya IPA
       dapat juga dipadukan dengan mata pelajaran lain di luar bidang kajian
       IPA dan hal ini lebih sesuai untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar.


       Mengingat pembahasan materi IPA pada tingkat lebih tinggi semakin
       luas dan mendalam, maka pada jenjang pendidikan SMP/MTs dan
       SMA/MA, akan lebih baik bila keterpaduan dibatasi pada mata pelajaran
       yang termasuk bidang kajian IPA saja. Hal ini dimaksudkan agar tidak
       terlalu banyak guru yang terlibat, yang akan membuka peluang
       timbulnya kesulitan dalam pembelajaran dan penilaian, mengingat
       semakin tinggi jenjang pendidikan, maka semakin dalam dan luas pula
       pemahaman konsep yang harus diserap oleh peserta didik.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  67
       Pembelajaran terpadu diawali dengan penentuan TEMA, karena
       penentuan tema akan membantu peserta didik dalam beberapa aspek
       yaitu:
       a. peserta didik yang bekerja sama dengan kelompoknya akan lebih
          bertanggung jawab, berdisiplin, dan mandiri;
       b. peserta didik menjadi lebih percaya diri dan termotivas dalam belajar
          bila mereka berhasil menerapkan apa yang telah dipelajarinya;
       c. peserta didik lebih memahami dan lebih mudah mengingat karena
          mereka     „mendengar‟,    „berbicara‟,   „membaca‟,   „menulis‟    dan
          „melakukan‟ kegiatan menyelidiki masalah yang sedang dipelajarinya;
       d. memperkuat kemampuan berbahasa peserta didik;
       e. belajar akan lebih baik bila peserta didik terlibat secara aktif melalui
          tugas proyek, kolaborasi, dan berinteraksi dengan teman, guru, dan
          dunia nyata.
       Oleh karena itu, jika guru hendak melakukan pembelajaran terpadu
       dalam IPA, sebaiknya memilih tema yang menghubungkaitkan antara
       IPA–lingkungan- teknologi-masyarakat.
       Berikut ini diberikan contoh pembelajaran IPA Terpadu dengan tema
       yang bernuansa IPA-lingkungan-teknologi-masyarakat.


       Contoh 1: TEMA SERANGGA/INSEKTA

       Insekta merupakan hewan invertebrata yang banyak ditemukan peserta
       didik dalam kehidupan sehari-hari. Insekta merupakan salah satu kelas
       dari Phylum Arthropoda dengan anggota yang terbanyak dan tingkat
       keanekaragaman yang sangat tinggi. Pada umumnya insekta bersayap,
       namun ada pula yang tak bersayap. Ada yang bermetamorfosis sempurna




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   68
       dan ada pula yang tidak. Habitat insekta juga tersebar sangat luas, di
       darat sebagai hewan yang hidup di tanah, di pohon,di dalam air, dan
       sebagai hewan terbang. Peranannya dalam kehidupan juga sangat luas,
       sebagai komponen penting dalam rantai makanan, sebagai hama
       tanaman, sebagai penyerbuk tanaman, sebagai vektor berbagai penyakit
       pada hewan dan manusia, dan masih banyak lagi peranan insekta.
       Begitu luasnya pembahasan tentang insekta, sehingga bila disampaikan
       dalam pembelajaran akan memerlukan waktu yang cukup banyak, dan
       mungkin juga konsepnya sulit dipahami peserta didik. Topik/pokok
       bahasan tentang Insekta juga tidak ditemukan dalam Standar Kompetensi
       dan Kompetensi Dasar. akan tetapi guru dapat memilih tema insekta
       mengingat banyak masalah kesehatan dan lingkungan yang terkait
       dengan insekta. Misalnya, merebaknya penyakit demam berdarah,
       malaria, penyakit kaki gajah yang vektor penyebarannya adalah insekta.
       Jadi pembahasan topik ini dapat menjadi bahan pengayaan untuk
       meningkatkan pengetahuan peserta didik tentang peranan insekta dalam
       ekosistem, mengasah kepekaan peserta didik terhadap kebersihan
       lingkungan, memahami rantai makanan, dan penyebab timbulnya
       ledakan hama. Topik ini bersifat kontekstual di daerah pertanian dan
       daerah pantai, tetapi untuk daerah perkotaan mungkin agak sulit
       dilaksanakan, namun dapat dicoba. Dengan insekta sebagai tema sentral,
       maka dapat dibuat jaringan tema berikut:




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                              69
                                    Mencari
                                 informasi dari
                                   buku yang             Kunjungan ke tempat
      Proyek:Koleksi
                                     relevan              pemeliharaan lebah
         insekta
                                                          dan mewawancarai
                                                              peternak


     Mempelajari
      klasifikasi                                            Menyelidiki siklus
       insekta                                                hidup berbagai
                                  INSEKTA
                                                                  insekta
                                  seran
     Menyelidiki
  tentang serangga                                          Penyelidikan tentang
     penyerbuk                                              siklus hidup nyamuk



    Mempelajari
   istilah tentang
                                 Menyelidiki pengaruh               Menyelidiki
    bagian tubuh
                                 perubahan lingkungan             habitat serangga
        insekta
                                 thd populasi serangga            dalam ekosistem
                                   vektor penularan
                                       penyakit




                       Gambar 2.1. Jaringan tema insekta


        Kompetensi dasar untuk jaringan tema ”insekta” pada gambar 2.1 di atas
        mungkin tidak termuat dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi
        Dasar seluruhnya, namun dapat menjadi inspirasi untuk memotivasi
        peserta didik yang berminat melakukan penyelidikan tentang insekta.
        Dalam pembelajaran ini sekaligus kita menerapkan metode ilmiah dan
        mengembangkan keterampilan proses IPA dan kemampuan pemecahan
        masalah. Inilah contoh fleksibilitas kurikulum untuk mengembangkan
        potensi peserta didik.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                       70
    5. PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU

       a. PERENCANAAN
          Keberhasilan       pembelajaran   terpadu   akan   lebih   optimal   jika
          perencanaan mempertimbangkan kondisi dan potensi peserta didik
          (minat, bakat, kebutuhan, dan kemampuan). Standar kompetensi dan
          kompetensi dasar yang harus dimiliki peserta didik sudah tercantum
          dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar per submata
          pelajaran IPA.
          Ada berbagai model dalam mengembangkan pembelajaran IPA
          Terpadu yang dapat dilihat pada alur penyusunan perencanaan
          pembelajaran terpadu berikut ini:

        Menetapkan mata                                 Membuat matriks atau
       pelajaran yang akan                                bagan hubungan
            dipadukan                                   kompetensi dasar dan
                                                           tema atau topik
                                                             pemersatu
      Mempelajari Standar
        kompetensi dan
     kompetensi dasar mata
                                                        Merumuskan indikator
         pelajaran yang
                                                        pembelajaran terpadu
          dipadukan



      Memilih/menetapkan                                 Menyusun silabus
        tema atau topik                                pembelajaran terpadu
          pemersatu


                                                          Menyusun desain
                                                        pembelajaran/rencana
                                                            pelaksannan
                                                        pembelajaran terpadu


          Gambar 3.1 Alur Penyusunan Perencanaan Pembelajaran Terpadu


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   71
             Langkah (1):
             Menetapkan mata pelajaran yang akan dipadukan. Pada saat
             menetapkan beberapa mata pelajaran yang akan dipadukan sebaiknya
             sudah disertai dengan alasan atau rasional yang berkaitan dengan
             pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar oleh peserta
             didik dan kebermaknaan belajar. Contoh lihat lampiran.

             Langkah (2):
             Mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar dari mata
             pelajaran yang akan dipadukan. Pada tahap ini dilakukan pengkajian
             atas kompetensi dasar pada semester dan kelas yang sama, antarsemester
             pada kelas yang sama, antarsemester dan kelas yang berbeda dari beberapa
             submata pelajaran IPA yang memungkinkan untuk diajarkan secara
             terpadu. Berikut ini contoh peta kompetensi dasarIPA terpadu untuk
             SMP kelasVII

              CONTOH PETA KOMPETENSI DASAR IPA TERPADU
                            Mata Pelajaran : IPA
                                    Kelas : VII

  KD MP Fisika            KD MP Kimia            KD MP Biologi           Tema        Waktu
                                              5.1     Melaksanakan                 20 x 40‟
                       2.2 Melakukan                                   Kerja
                                              pengamatan       objek
1.1 Mendeskripsik          percobaan                                   Ilmiah
                                              secara terencana dan
    an besaran             sederhana
                                              sistematis      untuk
    pokok dan              dengan bahan-
                                              memperoleh
    besaran                bahan yang
                                              informasi gejala alam
    turunan beserta        diperoleh
                                              biotik dan a-biotik.
    satuannya              dalam
                           kehidupan
                           sehari-hari.
3.1      Menyelidiki                          6.2
                       2.3 Melakukan                                   Penjernih
sifat-sifat      zat                          Mengklasifikasikan                   20 x 40‟
                           pemisahan                                   an Air
berdasarkan                                   makhluk       hidup
                           campuran
wujudnya        dan                           berdasarkan ciri-ciri
                           dengan
penerapannya                                  yang dimiliki
                           berbagai cara
dalam kehidupan
                           berdasarkan
sehari-hari
                           sifat fisika dan
                           sifat kimia




 Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                           72
       Langkah (3):
       Memilih dan menetapkan tema atau topik pemersatu. Dalam memilih
       tema/topik dapat dirumuskan dengan melihat isu-isu yang terkini,
       misalnya penyakit demam berdarah, HIV/AIDS, dan lainnya, kemudian
       baru dilihat koneksitasnya dengan kompetensi dasar dari berbagai
       submata pelajaran IPA. Contoh lihat lampiran.

       Langkah (4):
       Membuat matriks keterhubungan kompetensi dasar dan tema/topik
       pemersatu. Tujuannya adalah untuk menunjukkan kaitan antara
       tema/topik dengan kompetensi dasar yang dapat dipadukan. Contoh lihat
       lampiran.

       Langkah (5):
       Menyusun dan merumuskan indikator pencapaian hasil belajar untuk
       setiap kompetensi dasar dari submata pelajaran yang dipadukan. Contoh
       lihat lampiran.

       Langkah (6):
       Menyusun silabus pembelajaran IPA terpadu, dikembangkan dari
       berbagai indikator submata pelajaran IPA menjadi beberapa pengalaman
       belajar yang konsep keterpaduan atau keterkaitan menyatu antara
       beberapa submata pelajaran IPA. Contoh lihat lampiran.

       Langkah (7):
       Menjabarkan silabus menjadi desain pembelajaran atau rencana
       pelaksanaan pembelajaran untuk setiap pertemuan. Contoh lihat lampiran.


    b. MODEL PELAKSANAAN PEMBELAJARAN IPA TERPADU
       (Desain Pembelajaran/Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)
       Model pembelajaran dalam hal ini adalah menjabarkan silabus menjadi
       desain   pembelajaran/rencana      pelaksanaan   pembelajaran   terpadu,
       dikemas dalam kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan
       penutup/tindak lanjut.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                73
       Kegiatan Awal/Pendahuluan
       Kegiatan pendahuluan merupakan kegiatan awal yang harus ditempuh
       guru dan peserta didik pada setiap kali pelaksanaan pembelajaran
       terpadu. Fungsinya untuk menciptakan suasana awal pembelajaran yang
       efektif, yang memungkinkan peserta didik dapat mengikuti proses
       pembelajaran dengan baik. Efisiensi waktu dalam kegiatan awal ini perlu
       diperhatikan, karena waktu yang tersedia relatif singkat yaitu antara 5-10
       menit. Dengan waktu yang relatif singkat tersebut, diharapkan guru
       dapat menciptakan kondisi awal pembelajaran dengan baik sehingga
       peserta didik siap mengikuti pembelajaran dengan seksama.
       Langkah-langkah dalam kegiatan pendahuluan ini terdiri atas beberapa
       tahap yaitu:

          menarik perhatian peserta didik untuk menumbuhkan kesiapan
           belajar;
          memotivasi peserta didik: membangkitkan semangat dan minat
           peserta didik untuk siap menerima pelajaran;
          memberikan acuan topik yang akan dibahas;
          mengaitkan topik yang akan dipelajari dengan topik yang telah
           dipelajari yang dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan
           tentang topik yang sudah dipelajari sebelumnya dan memberikan
           komentar atas jawaban peserta didik
     Dalam kegiatan pendahuluan ini guru dapat pula melakukan penilaian
     awal peserta didik (tes awal) yang dapat diberikan secara lisan maupun
     tertulis.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  74
       Kegiatan Inti
       Kegiatan inti merupakan kegiatan pelaksanaan pembelajaran terpadu
       yang menekankan pada proses pembentukan pengalaman belajar peserta
       didik (learning experience). Pengalaman belajar dapat terjadi melalui
       kegiatan tatap muka dan kegiatan nontatap muka. Kegiatan tatap muka
       dimaksudkan sebagai kegiatan pembelajaran yang peserta didik dapat
       berinteraksi langsung dengan guru maupun dengan peserta didik
       lainnya. Kegiatan nontatap muka dimaksudkan sebagai kegiatan
       pembelajaran yang dilakukan peserta didik dengan sumber belajar lain di
       luar kelas atau di luar sekolah.
       Kegiatan inti pembelajaran terpadu bersifat situasional, yakni disesuaikan
       dengan situasi dan kondisi setempat. Terdapat beberapa kegiatan yang
       dapat dilakukan dalam kegiatan inti pembelajaran terpadu, di antaranya
       adalah sebagai berikut ini.
        Kegiatan yang paling awal: Guru           memberitahukan tujuan atau
           kompetensi dasar yang harus dicapai oleh peserta didik beserta garis
           besar materi yang akan disampaikan. Cara yang paling praktis adalah
           menuliskannya di papan tulis dengan penjelasan secara lisan
           mengenai pentingnya kompetensi tersebut yang akan dikuasai oleh
           peserta didik.
        Alternatif kegiatan belajar yang akan dialami peserta didik. Guru
           menyampaikan kepada peserta didik kegiatan belajar yang harus
           ditempuh peserta didik dalam mempelajari tema atau topik yang
           telah ditentukan. Kegiatan belajar hendaknya lebih mengutamakan
           aktivitas peserta didik, atau berorientasi pada aktivitas peserta didik.
           Guru hanya sebagai fasilitator yng memberikan kemudahan kepada
           peserta didik untuk belajar. Peserta didik diarahkan untuk



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    75
           menemukan sendiri apa yang dipelajarinya. Prinsip belajar sesuai
           dengan      ‟konstruktivisme‟       hendaknya    dilaksanakan    dalam
           pembelajaran terpadu
           Dalam membahas dan menyajikan materi/bahan ajar terpadu harus
           diarahkan pada suatu proses perubahan tingkah laku peserta didik,
           penyajian harus dilakukan secara terpadu melalui penghubungan
           konsep di mata pelajaran yang satu dengan konsep di mata pelajaran
           lainnya. Guru harus berupaya untuk menyajikan bahan ajar dengan
           strategi mengajar yang bervariasi, yang mendorong peserta didik
           pada upaya penemuan pengetahuan baru, melalui pembelajaran
           yang bersifat klasikal, kelompok, dan perorangan.
       Kegiatan Akhir/Penutup dan tindak lanjut
       Waktu yang tersedia untuk kegiatan penutup atau kegiatan akhir
       pembelajaran terpadu ini cukup singkat. Oleh karena itu guru perlu
       mengatur dan memanfaatkan waktu seefisien mungkin. Secara umum
       kegiatan penutup ini terdiri atas hal-hal sebagai berikut ini.
       a) Mengajak peserta didik untuk           menyimpulkan materi yang telah
          diajarkan.
       b) Melaksanakan tindak lanjut pembelajaran dengan pemberian tugas
          atau latihan yang harus dikerjakan di rumah, menjelaskan kembali
          bahan yang dianggap sulit oleh peserta didik, membaca materi
          pelajaran tertentu, memberikan motivasi atau bimbingan belajar.
       c) Mengemukakan topik yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya.
       d) Memberikan evaluasi lisan atau tertulis.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  76
    c. MODEL PENILAIAN IPA TERPADU
       Model      penilaian   yang   dikembangkan   mencakup    prosedur     yang
       digunakan, jenis dan bentuk penilaian, serta alat evaluasi yang
       digunakan. Model penilaian ini disesuaikan dengan penilaian berbasis
       kelas pada Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Objek penilaian
       mencakup penilaian terhadap proses dan hasil belajar peserta didik.
       Hasil belajar pada hakikatnya merupakan kompetensi-kompetensi yang
       mencakup aspek pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang
       diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kompetensi dapat
       diukur melalui sejumlah hasil belajar yang indikatornya dapat diukur
       dan diamati.     Penilaian proses dan hasil belajar saling berkaitan satu
       dengan yang lainnya karena hasil belajar merupakan akibat dari proses
       belajar.
       Jenis penilaian terpadu terdiri atas tes dan bukan tes. Sistem penilaian
       dengan menggunakan tes merupakan sistem penilaian konvensional.
       Sistem ini kurang dapat menggambarkan kemampuan peserta didik
       secara menyeluruh, sebab hasil belajar digambarkan dalam bentuk angka
       yang gambaran maknanya sangat abstrak. Oleh karena itu untuk
       melengkapi gambaran kemajuan belajar secara menyeluruh maka
       dilengkapi dengan non-tes.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  77
                             PENILAIAN




                          Pengetahuan,
                                                        Tes
     Non                  keterampilan,
     tes                  sikap, dan nilai



                                 Tes lisan         Tes tertulis       Tes perbuatan


    Skala sikap
    Daftar periksa
                            Tes tertulis/ uraian                     Tes tertulis/
    Kuesioner                                                        objektif
    Catatan                a.   Tes tertutup/                       Pilihan ganda
     anekdot                     terbatas/                           Benar salah
    Portofolio                  terstruktur                         Menjodohkan
    Catatan                b.   Bebas terbuka                       Isian singkat
     sekolah                                                         Isian panjang
    Jurnal
                                                                     Isian khusus
    Cuplikan
     kerja


                      Model penilaian pembelajaran terpadu




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                      78
           Berikut ini adalah contoh penilaian              untuk   tema/topik     tentang
           LINGKUNGAN SEKITAR KITA

                        TEMA: LINGKUNGAN SEKITAR KITA
     KD            Indikator                              Sistem penilaian
                                    Prosedur          Jenis dan    Jenis tagihan     Instrumen
                                                       bentuk
Menentukan      Mengidentifikasi   Tes awal        Pilihan ganda   Laporan          Soal pilihan
ekosistem dan   satuan dalam       Dapat           dan isian       hasil            ganda yang
saling          ekosistem dan      dilakukan                       pengamatan       berkaitan
hubungan        menyatakan         dapat pula                                       dengan
antara          bahwa matahari     tidak                                            pemahaman
komponen        merupakan          tergantung                                       awal peserta
ekosistem       sumber energi      kondisi                                          didik
                utama dalam                                                         mengenai
                biosfer                                                             tema
                                   Penugasan       Nontes
                Menggambarkan
                dalam bentuk
                diagram rantai
                makanan dan                                                         Lembar
                jaring-jaring                                                       penilaian
                kehidupan dan                                                       laporan
                menjelaskan
                peranan masing-
                masing tingkat
                trofik

Memprediksi     Memperkirakan      Penugasan       Nontes           Laporan         Lembar
pengaruh        hubungan antara                                     hasil           penilaian
kepadatan       populasi                                            pengamatan      laporan
populasi        penduduk
manusia         dengan
terhadap        kebutuhan air
lingkungan      bersih dan udara
                bersih
                                   Praktikum       1.   Nontes
                Memperkirakan                      2.   Tes         Laporan         Lembar
                hubungan ukuran                         perbuatan   praktikum       penilaian
                penduduk                                                            laporan
                dengan                                                              Lembar
                kebutuhan                                                           penilaian
                pangan                                                              kinerja




    Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                       79
     KD             Indikator                            Sistem penilaian
                                    Prosedur         Jenis dan    Jenis tagihan    Instrumen
                                                      bentuk
                Memperkirakan
                hubungan ukuran
                penduduk
                dengan
                kebutuhan lahan

                Menjelaskan
                pengaruh
                meningkatnya
                populasi
                penduduk
                dengan
                kerusakan
                lingkungan

                Menjelaskan
                pengaruh
                meningkatnya
                populasi
                penduduk
                dengan kesehatan

Mengaplikasik   Menjelaskan        Penugasan       Nontes         Karya tulis     Lembar
an peran        pengaruh                                                          penilaian
manusia         pencemaran air,                                                   karya tulis
dalam           udara, dan tanah
pengelolaan     dalam kaitannya
lingkungan      dengan kegiatan
untuk           manusia
mengatasi
pencemaran      Mengemukakan
dan kerusakan   contoh langkah-
lingkungan      langkah upaya
                pengelolaan
                lingkungan hidup
                untuk
                kesejahteraan
                manusia




    Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                     80
    KD             Indikator                             Sistem penilaian
                                     Prosedur        Jenis dan    Jenis tagihan    Instrumen
                                                      bentuk
Mencari         Mengelompokkan      Praktikum      Nontes                         Lembar
informasi       bahan kimia dari                                                  penilaian
tentang         kemasan yang                       Tes perbuatan                  laporan
kegunaan dan    digunakan                                                         Lembar
efek samping    sebagai pemutih,                                                  penilaian
bahan kimia     pembersih,                                                        kinerja
dalam           pengharum, dan
kehidupan       pembasmi
sehari-hari     serangga

                Menyelidiki
                pengaruh
                penggunaan
                bahan kimia yang
                digunakan
                sebagai pemutih,
                pembersih,
                pengharum, dan
                pembasmi
                serangga

                Menjelaskan efek
                samping
                penggunaan
                bahan kimia
                dalam rumah
                tangga

Menjelaskan     Menunjukkan         Penugasan      Nontes          Laporan        Lembar
hubungan        bentuk energi dan                                  hasil          penilaian
bentuk energi   perubahannya                                       pengamatan     laporan
dan             dalam kehidupan
perubahan-      sehari-hari
nya, prinsip
"usaha dan      Mengaplikasikan
energi" serta   konsep energi
penerapan-nya   dan
dalam           perubahannya
kehidupan       dalam kehidupan
sehari-hari     sehari-hari




    Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                     81
      KD              Indikator                           Sistem penilaian
                                        Prosedur      Jenis dan    Jenis tagihan    Instrumen
                                                       bentuk
Menjelaskan        Menjelaskan        Penugasan     Nontes         Laporan         Lembar
hubungan           proses pelapukan                                                penilaian
antara proses      di lapisan bumi
yang terjadi di    berkaitan dengan
lapisan litosfer   masalah
dan atmosfer       lingkungan
dengan
kesehatan dan      Menjelaskan        Tes akhir     Soal Pilihan                   Kunci
permasalah-an      proses                           ganda                          jawaban dan
lingkungan         pemanasan global                                                cara
                   dan pengaruhnya                                                 penilaian
                   terhadap masalah
                   lingkungan                        Soal uraian
                                                       singkat
                   Menjelaskan
                   pengaruh proses-
                   proses di
                   lingkungan
                   terhadap
                   kesehatan
                   manusia

              Berdasarkan contoh itu, maka guru dapat mempraktikkan beberapa
              teknik penilaian, baik yang termasuk dalam ranah kognitif, afektik,
              maupun psikomotor. Tugas berupa laporan baik secara individu maupun
              kelompok sebaiknya berupa tugas aplikasi, misalnya merupakan hasil
              pengamatan di luar kelas. Dapat pula berupa tugas sintesis dan evaluasi,
              misalnya tugas pemecahan masalah           lingkungan dan usulan cara
              penanggulangannya. Melalui penugasan ini maka kemampuan berpikir
              dan kepekaan peserta didik akan terasah.


              Untuk keperluan pelaporan hasil penilaian guru dapat memberikan bobot
              bagi setiap tugas yang diberikan tergantung pada pertimbangan guru
              sesuai dengan karakteristik tugas, baik tes maupun nontes. Penilaian



     Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                     82
       untuk pelaporan mengacu pada pedoman penilaian dari Pusat
       Kurikulum Balitbang Depdiknas. Oleh karena keterpaduan pembelajaran
       IPA meliputi mata pelajaran fisika, kimia, biologi, maka dalam pelaporan
       hasil penilaian tidak menjadi masalah. Ketiganya akan dipadukan
       menjadi nilai mata pelajaran IPA .


    6. IMPLIKASI PEMBELAJARAN IPA TERPADU

       Sesuatu yang baru atau merupakan inovasi tentu tidak mudah untuk
       dilaksanakan, karena memerlukan penyesuaian diri dan kemauan untuk
       beradaptasi.    Begitu   pula   dengan    pembelajaran   IPA      Terpadu.
       Pembelajaran terpadu biasa dilakukan jenjang pendidikan usia dini,
       namun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan di jenjang
       pendidikan yang lebih tinggi, yaitu jenjang SMP/MTs dan SMA/MA.
       Hasil uji coba menunjukkan bahwa pembelajaran terpadu dapat
       dilaksanakan.
       a. Guru
          Dalam pelaksanaannya, pembelajaran dapat dilakukan oleh tim
          pengajar atau guru tunggal. Hal ini tergantung pada kondisi sekolah.
          Bila di suatu sekolah guru IPA terdiri atas guru fisika, kimia, biologi,
          maka    dalam    penyusunan       silabus,   perencanaan   pembelajaran,
          penggunaan media, dan strategi mengajar sebaiknya dibuat bersama
          hingga penyusunan alat penilaiannya. Namun dalam pembelajarannya
          dapat dilakukan oleh guru tunggal. Bila di sekolah, seorang guru
          mengajar semua mata pelajaran IPA, dan mengalami kesulitan untuk
          memadukan kompetensi dasar, indikator, dan materi, maka sangat
          dianjurkan agar guru tersebut bekerja sama dalam kelompok MGMP



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   83
          agar dapat terjadi diskusi           tentang perencanaan   strategi dan
          pelaksanaan KBM. Indikator yang sudah dipadukan tidak perlu
          diajarkan    dua kali karena tujuan pembelajaran terpadu adalah
          efisiensi dan efektivitas dalam pembelajaran.
               Dalam pelaksanaannya di lapangan, pembelajaran IPA Terpadu
          terbentur pada masalah-masalah berikut ini.
           Jadwal pelajaran yang sudah diatur sedemikian rupa dan tak dapat
             diubah begitu saja.
           Masalah guru mata pelajaran IPA yang terpisah.
           Program semester yang telah memuat urutan materi yang akan
             diajarkan.
           Penguasaan bahan ajar.
           Keterpaduan kompetensi yang terjadi lintas kelas.
          Dalam mengajarkan bahan ajar dilakukan oleh guru mata pelajaran
          yang dominan. Misalnya bahan ajar tersebut dominan biologi maka
          yang mengajar sebaiknya guru biologi, atau bersama-sama. Oleh
          karena itu, pembelajaran IPA         terpadu dapat diajarkan oleh guru
          tunggal atau tim pengajar tergantung pada kesepakatan dan waktu.
          Dalam bab sebelumnya telah diuraikan, bahwa yang terpenting adalah
          kerja sama antarguru IPA yang ada di suatu sekolah dalam membuat
          perencanaan      pembelajaran,        mulai     dari   silabus,      desain
          pembelajaran/rencana pelaksanaan pembelajaran hingga kesepakatan
          dalam bentuk penilaian. Bila hal ini dapat dilaksanakan, maka
          pembelajaran terpadu dapat meningkatkan kerja sama antarguru IPA,
          baik yang ada di sekolah maupun dalam lingkup MGMP. Kerja sama
          ini meliputi saling mempelajari materi dari mata pelajaran yang lain.
          Selain   meningkatkan     kerja   sama,    pembelajaran    terpadu     juga



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                      84
          meningkatkan keharusan bagi guru untuk memperluas wawasan
          pengetahuannya.      Pembelajaran terpadu oleh guru tunggal dapat
          memperkecil masalah pelaksanaannya yang menyangkut jadwal
          pelajaran. Secara teknis, pengaturannya dapat dilakukan sejak awal
          semester atau awal tahun pelajaran. Hal yang perlu dihindarkan
          adalah pembahasan materi yang tidak seimbang karena wawasan
          pengetahuan tentang materi pelajaran yang lain kurang memadai. Hal
          utama yang harus dilakukan guru adalah memahami model
          pembelajaran terpadu secara konseptual maupun praktikal.
       b. Peserta didik
          Bagi peserta didik, pembelajaran terpadu dapat mempertajam
          kemampuan analitis terhadap konsep-konsep yang dipadukan,
          karena dapat mengembangkan kemampuan asosiasi konsep dan
          aplikasi konsep. Pembelajaran terpadu perlu dilakukan dengan
          variasi    metode      yang      tidak   membosankan.      Aktivitas
          pembelajaran harus lebih banyak berpusat pada peserta didik
          agar dapat mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya.
       c. Bahan Ajar
          Bahan ajar yang digunakan tidak hanya buku mata pelajaran
          saja, tetapi dapat dari berbagai mata pelajaran yang direkatkan oleh
          tema. Peserta didik dapat juga mencari berbagai sumber belajar
          lainnya. Bahkan bila memungkinkan mereka dapat menggunakan
          teknologi informasi yang ada. Aktivitas peserta didik dalam
          penugasan dapat menjadi nilai tambah yang menguntungkan.
          Dalam pembelajaran terpadu, suatu bahan ajar dapat dibahas dari
          berberapa mata pelajaran sehingga wawasan peserta didik diharapkan



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                               85
          akan lebih terbuka. Di samping itu karena konsep-konsep itu
          dipadukan dalam suatu pembelajaran, maka akan mengurangi
          kebosanan peserta didik terhadap pengulangan bahan ajar pada
          berbagai mata pelajaran.
       d. Sarana dan Prasarana
          Dalam pembelajaran terpadu diperlukan berbagai alat dan media
          pembelajaran. Karena digunakan untuk pembelajaran konsep yang
          direkatkan oleh tema, maka penggunaan sarana pembelajaran dapat
          lebih efisien jika dibandingkan dengan pemisahan mata pelajaran.
          Memang tidak semua konsep dapat dipadukan. Konsep-konsep yang
          dipilih untuk direkat oleh tema dapat menghemat waktu dan ruang.
          Berikut contoh Pemetaan Kompetensi Dasar untuk menjadi Tema
          dalam pembelajaran IPA Terpadu.
       e. Kekuatan dan Kelemahan Pembelajaran Terpadu
          Walaupun standar kompetensi dan kompetensi dasar IPA
          dikembangkan        dalam     submata    pelajaran,   pada   tingkat
          pelaksanaan guru memiliki keleluasaan dalam membelajarkan
          peserta didiknya untuk mencapai kompetensi tersebut. Salah
          satu contoh yang akan dikembangkan dalam model ini adalah
          guru     dapat    mengidentifikasi      standar   kompetensi    dan
          kompetensi dasar yang dekat dan relevan untuk dikemas dalam
          satu tema dan disajikan dalam kegiatan pembelajaran yang
          terpadu. Yang perlu dicatat ialah pemaduan kegiatan dalam
          bentuk tema sebaiknya dilakukan pada jenjang kelas yang sama
          dan masih dalam lingkup IPA .




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 86
       Kekuatan/manfaat yang dapat dipetik melalui pelaksanaan pembelajaran
       terpadu antara laian sebagai berikut.
        Dengan menggabungkan berbagai mata pelajaran akan terjadi
            penghematan waktu, karena ketiga disiplin ilmu (Fisika, Kimia, dan
            Biologi) dapat dibelajarkan sekaligus. Tumpang tindih materi juga
            dapat dikurangi bahkan dihilangkan.
        Peserta didik dapat melihat hubungan yang bermakna antarkonsep
            Fisika, Kimia, dan Biologi.
        Meningkatkan taraf kecakapan berpikir peserta didik, karena peserta
            didik dihadapkan pada gagasan atau pemikiran yang lebih luas dan
            lebih dalam ketika menghadapi situasi pembelajaran.
        Pembelajaran terpadu menyajikan penerapan/aplikasi tentang dunia
            nyata   yang    dialami   dalam    kehidupan    sehari-hari,      sehingga
            memudahkan pemahaman konsep dan kepemilikan kompetensi IPA.
        Motivasi belajar peserta didik dapat diperbaiki dan ditingkatkan.
        Pembelajaran terpadu membantu menciptakan struktur kognitif yang
            dapat menjembatani antara pengetahuan awal peserta didik dengan
            pengalaman belajar yang terkait, sehingga pemahaman menjadi lebih
            terorganisasi dan mendalam, sehingga memudahkan memahami
            hubungan materi IPA dari satu konteks ke konteks lainnya.
        Akan terjadi peningkatan kerja sama          antarguru submata pelajaran
            terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik,
            peserta didik/guru dengan narasumber; sehingga belajar lebih
            menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dan dalam konteks yang
            lebih bermakna.
       Di     samping      kekuatan/manfaat    yang   dikemukakan      itu,     model
       pembelajaran IPA Terpadu juga memiliki kelemahan. Perlu disadari,



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                       87
       bahwa sebenarnya      tidak ada model pembelajaran yang cocok untuk
       semua konsep, oleh karena itu model pembelajaran harus disesuaikan
       dengan konsep yang akan diajarkan. Begitu pula dengan pembelajaran
       terpadu dalam IPA memiliki beberapa kelemahan, akan tetapi kelemahan
       tersebut sebagai tantangan untuk terus berupaya diatasi oleh pihak-pihak
       yang terlibat di sekolah. Beberapa kelemahan yang perlu diatasi
       diuraikan sebagai berikut ini.
       a. Aspek Guru: Guru harus berwawasan luas, memiliki kreativitas tinggi,
          keterampilan metodologis yang handal, rasa percaya diri yang tinggi,
          dan berani mengemas dan mengembangkan materi. Secara akademik,
          guru dituntut untuk terus menggali informasi ilmu pengetahuan yang
          berkaitan dengan materi yang akan diajarkan dan banyak membaca
          buku agar penguasaan bahan ajar tidak terfokus pada mata pelajaran
          tertentu saja. Tanpa kondisi ini, maka pembelajaran terpadu dalam
          IPA akan sulit terwujud.
       b. Aspek peserta didik: Pembelajaran terpadu menuntut kemampuan
          belajar peserta didik yang relatif “baik”, baik dalam kemampuan
          akademik maupun kreativitasnya. Hal ini terjadi karena model
          pembelajaran    terpadu    menekankan       pada   kemampuan   analitik
          (mengurai),     kemampuan       asosiatif    (menghubung-hubungkan),
          kemampuan eksploratif dan elaboratif (menemukan dan menggali).
          Bila kondisi ini tidak dimiliki, maka penerapan model pembelajaran
          terpadu ini sangat sulit dilaksanakan.
       c. Aspek sarana dan sumber pembelajaran: Pembelajaran terpadu
          memerlukan bahan bacaan atau sumber informasi yang cukup banyak
          dan bervariasi, mungkin juga fasilitas internet. Semua ini akan
          menunjang,     memperkaya,      dan   mempermudah       pengembangan



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  88
          wawasan.     Bila   sarana   ini     tidak    dipenuhi,     maka    penerapan
          pembelajaran terpadu juga akan terhambat.
       d. Aspek    kurikulum:    Kurikulum       harus     luwes,     berorientasi    pada
          pencapaian ketuntasan pemahaman peserta didik (bukan pada
          pencapaian    target    penyampaian          materi).   Guru     perlu     diberi
          kewenangan dalam mengembangkan materi, metode, penilaian
          keberhasilan pembelajaran peserta didik.
       e. Aspek penilaian: Pembelajaran terpadu membutuhkan cara penilaian
          yang menyeluruh (komprehensif), yaitu menetapkan keberhasilan
          belajar peserta didik dari beberapa mata pelajaran terkait yang
          dipadukan. Dalam kaitan ini, guru selain dituntut untuk menyediakan
          teknik dan prosedur pelaksanaan penilaian dan pengukuran yang
          komprehensif, juga dituntut untuk berkoordinasi dengan guru lain,
          bila materi pelajaran berasal dari guru yang berbeda.
       f. Suasana pembelajaran: Pembelajaran terpadu berkecenderungan
          mengutamakan salah satu mata pelajaran dan „tenggelam‟nya mata
          pelajaran lain. Dengan kata lain, pada saat mengajarkan sebuah
          TEMA,      maka       guru      berkecenderungan          menekankan        atau
          mengutamakan        substansi      gabungan      tersebut      sesuai    dengan
          pemahaman, selera, dan latar belakang pendidikan guru itu sendiri.


       Sekalipun pembelajaran terpadu mengandung beberapa kelemahan selain
       keunggulannya, sebagai sebuah bentuk inovasi dalam implementasi
       Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar perlu dikembangkan lebih
       lanjut. Untuk mengurangi kelemahan-kelemahan di atas, perlu dibahas
       bersama antara guru mata pelajaran terkait dengan sikap terbuka.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                            89
       Kesemuanya ini ditujukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi
       dalam pembelajaran IPA.


E. PEMBELAJARAN IPS TERPADU

    1. PENGERTIAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
       Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan integrasi dari berbagai cabang
       ilmu-ilmu sosial seperti: sosiologi, sejarah, geografi, ekonomi, politik,
       hukum, dan budaya. Ilmu Pengetahuan Sosial dirumuskan atas dasar
       realitas dan fenomena sosial yang mewujudkan satu pendekatan
       interdisipliner dari aspek dan cabang-cabang ilmu-ilmu sosial (sosiologi,
       sejarah, geografi, ekonomi, politik, hukum, dan budaya). IPS atau studi
       sosial itu merupakan bagian dari kurikulum sekolah yang diturunkan
       dari isi materi cabang-cabang ilmu-ilmu sosial: sosiologi, sejarah,
       geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, dan psikologi sosial.


       Geografi, sejarah, dan antropologi merupakan disiplin ilmu yang
       memiliki keterpaduan yang tinggi. Pembelajaran geografi memberikan
       kebulatan wawasan yang berkenaan dengan wilayah-wilayah, sedangkan
       sejarah memberikan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari
       berbagai periode. Antropologi meliputi studi-studi komparatif yang
       berkenaan dengan nilai-nilai, kepercayaan, struktur sosial, aktivitas-
       aktivitas ekonomi, organisasi politik, ekspresi-ekspresi dan spiritual,
       teknologi, dan benda-benda budaya dari budaya-budaya terpilih. Ilmu
       politik dan ekonomi tergolong ke dalam ilmu-ilmu tentang kebijakan
       pada aktivitas-aktivitas yang berkenaan dengan pembuatan keputusan.
       Sosiologi dan psikologi sosial merupakan ilmu-ilmu tentang perilaku




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                      90
       seperti konsep peran, kelompok, institusi, proses interaksi dan kontrol
       sosial. Secara intensif konsep-konsep seperti ini digunakan ilmu-ilmu
       sosial dan studi-studi sosial.


            Gambar 1: Keterpaduan Cabang Ilmu Pengetahuan Sosial

    Sejarah
                                                                     Ilmu Politik


   Geografi
                                                                      Ekonomi
                                       Ilmu
                                    Pengetahuan
   Sosiologi                           Sosial                         Psikologi
                                                                       Sosial

                                                                       Filsafat
 Antropologi



    2. KARAKTERISTIK MATA PELAJARAN IPS
       Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Ilmu-Ilmu Sosial di tingkat
       Sekolah Menengah Pertama (SMP), meliputi bahan kajian: sosiologi,
       sejarah, geografi, ekonomi, politik, antropologi, filsafat, psikologi sosial.
       Bahan kajian itu menjadi mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).
       Mata pelajaran IPS bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar
       peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap
       mental positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan
       terampil mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang
       menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa kehidupan masyarakat
       (Nursid Sumaatmaja, 1980;20)




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                      91
       Dalam implementasinya, perlu dilakukan berbagai studi yang mengarah
       pada peningkatan efisiensi dan efektivitas layanan dan pengembangan
       sebagai konsekuensi dari suatu inovasi pendidikan. Salah satu bentuk
       efisiensi dan efektivitas implementasi kurikulum, perlu dikembangkan
       berbagai model pembelajaran kurikulum.
       Karateristik mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial SMP/MTs antara
       lain sebagai berikut.
        Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan gabungan dari unsur-unsur
          geografi, sejarah, ekonomi, hukum dan politik, kewarganegaraan,
          sosiologi, bahkan juga bidang humaniora, pendidikan dan agama
          (Numan Soemantri, 2001).
        Kompetensi Dasar IPS berasal dari struktur keilmuan geografi, sejarah,
          ekonomi, hukum dan politik, sosiologi, yang dikemas sedemikian rupa
          sehingga menjadi pokok bahasan atau topik (tema) tertentu.
        Kompetensi Dasar IPS juga menyangkut berbagai masalah sosial yang
          dirumuskan dengan pendekatan interdisipliner dan multidisipliner.
        Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar dapat menyangkut
          peristiwa dan perubahan kehidupan masyarakat dengan prinsip sebab
          akibat, kewilayahan, adaptasi dan pengelolaan lingkungan, struktur,
          proses dan masalah sosial serta upaya-upaya perjuangan hidup agar
          survive seperti pemenuhan kebutuhan, kekuasaan, keadilan dan
          jaminan keamanan (Daldjoeni, 1981).
        Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar IPS menggunakan

          tiga dimensi dalam mengkaji dan memahami fenomena sosial
          serta kehidupan manusia secara keseluruhan. Ketiga dimensi
          tersebut terlihat pada tabel berikut.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  92
                       Dimensi IPS Dalam Kehidupan Manusia

  Dimensi dalam
                           Ruang                 Waktu                Nilai/Norma
kehidupan manusia
Area dan substansi     Alam sebagai       Alam dan               Kaidah atau aturan
pembelajaran           tempat dan         kehidupan yang         yang menjadi perekat
                       penyedia           selalu berproses,      dan penjamin
                       potensi sumber     masa lalu, saat ini,   keharmonisan
                       daya               dan yang akan          kehidupan manusia dan
                                          datang                 alam
Contoh Kompetensi      Adaptasi spasial   Berpikir               Konsisten dengan
Dasar yang             dan eksploratif    kronologis,            aturan yang disepakati
dikembangkan                              prospektif,            dan kaidah alamiah
                                          antisipatif            masing-masing disiplin
                                                                 ilmu
Alternatif penyajian   Geografi           Sejarah                Ekonomi,
dalam mata                                                       Sosiologi/Antropologi
pelajaran

        Sumber: Sardiman, 2004


    3. TUJUAN PEMBELAJARAN IPS

       Tujuan utama Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk mengembangkan
       potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial yang terjadi di
       masyarakat, memiliki sikap mental positif terhadap perbaikan segala
       ketimpangan yang terjadi, dan terampil mengatasi setiap masalah yang
       terjadi    sehari-hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang
       menimpa masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala program-
       program pelajaran IPS di sekolah diorganisasikan secara baik. Dari
       rumusan tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut (Awan Mutakin,
       1998).
        Memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau
           lingkungannya, melalui pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan
           kebudayaan masyarakat.


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                        93
        Mengetahui dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan
          metode yang diadaptasi dari ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat
          digunakan untuk memecahkan masalah-masalah sosial.
        Mampu menggunakan model-model dan proses berpikir serta
          membuat keputusan untuk menyelesaikan isu dan masalah yang
          berkembang di masyarakat.
        Menaruh perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta
          mampu membuat analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil
          tindakan yang tepat.
        Mampu       mengembangkan       berbagai   potensi   sehingga    mampu
          membangun diri sendiri agar survive yang kemudian bertanggung
          jawab membangun masyarakat.


    4. KONSEP PEMBELAJARAN TERPADU DALAM IPS
       Pendekatan pembelajaran terpadu dalam IPS sering disebut dengan
       pendekatan interdisipliner. Model pembelajaran terpadu pada hakikatnya
       merupakan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan siswa baik
       secara individual maupun kelompok aktif mencari, menggali, dan
       menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik
       (Depdikbud, 1996:3). Salah satu di antaranya adalah memadukan
       Kompetensi     Dasar    melalui   pembelajaran   terpadu   siswa    dapat
       memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan
       untuk menerima, menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang
       hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian, siswa terlatih untuk dapat
       menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 94
       Pada pendekatan pembelajaran terpadu, program pembelajaran disusun
       dari berbagai cabang ilmu dalam rumpun ilmu sosial. Pengembangan
       pembelajaran terpadu, dalam hal ini, dapat mengambil suatu topik dari
       suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas, dan
       diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Topik/tema dapat
       dikembangkan dari isu, peristiwa, dan permasalahan yang berkembang.
       Bisa membentuk permasalahan yang dapat dilihat dan dipecahkan dari
       berbagai disiplin atau sudut pandang, contohnya banjir, pemukiman
       kumuh, potensi pariwisata, IPTEK, mobilitas sosial, modernisasi, revolusi
       yang dibahas dari berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial.


       a. Model Integrasi Berdasarkan Topik
          Dalam pembelajaran IPS keterpaduan dapat dilakukan berdasarkan
          topik yang terkait, misalnya „pariwisata‟. Pariwisata dalam contoh
          yang dikembangkan ditinjau dari berbagai disiplin ilmu yang tercakup
          dalam Ilmu Pengetahuan Sosial. Pengembangan pariwisata dalam hal
          ini ditinjau dari persebaran dan kondisi fisis-geografis yang tercakup
          dalam disiplin Geografi.


          Secara sosiologis, pariwisata itu juga dapat ditinjau dari partisipasi
          masyarakat, pengaruhnya terhadap kondisi sosial budaya setempat,
          dan interaksi antara wisatawan dengan masyarakat lokal. Secara
          historis dapat dikembangkan melalui sejarah daerah pariwisata
          tersebut. Keadaan politik juga dapat dikaji pula pada topik
          pengembangan pariwisata berkaitan dengan pengaruhnya terhadap
          perkembangan pariwisata. Selanjutnya, dampak pariwisata terhadap
          perkembangan ekonomi lokal maupun nasional dapat dikembangkan



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 95
          melalui kompetensi yang berkaitan dengan ekonomi. Skema berikut
          memberikan gambaran keterkaitan suatu topik/tema dengan berbagai
          disiplin ilmu.

                                                                Persebaran,
   Sejarah                                                      kondisi fisik
   perkembangan                   Sejarah            Geografi   daerah objek
   daerah wisata                                                wisata

                                     PENGEMBANGAN
                                       PARIWISATA
  Partisipasi                                                   Dampak
  masyarakat                   Sosiologi              Ekonomi   terhadap
                                                                kesejahteraan
   Pengaruh terhadap                       Politik              masyarakat
   perkembangan
   masyarakat di sekitar
   objek wisata



           Gambar 2: Model Integrasi IPS Berdasarkan Topik/Tema


       b. Model Integrasi Berdasarkan Potensi Utama
          Keterpaduan IPS dapat dikembangkan melalui topik yang didasarkan
          pada potensi utama yang ada di wilayah setempat; sebagai contoh,
          “Potensi Bali Sebagai Daerah Tujuan Wisata”. Dalam pembelajaran
          yang dikembangkan dalam Kebudayaan Bali dikaji dan ditinjau dari
          faktor alam, sosial/antropologis, historis kronologis dan kausalitas,
          serta perilaku masyarakat terhadap aturan. Melalui kajian potensi
          utama yang terdapat di daerahnya, maka siswa selain dapat
          memahami kondisi daerahnya juga sekaligus memahami Kompetensi
          Dasar yang terdapat pada beberapa disiplin yang tergabung dalam
          Ilmu Pengetahuan Sosial.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    96
          Keadaan                                            Sosiologis/
           Alam                                             antropologis
      Potensi objek wisata
                                  BALI SEBAGAI
                                                         Memupuk aspirasi terhadap
                                    DAERAH
                                    TUJUAN                kesenian
                                    WISATA


        Keadaan Politik
                                                            Ekonomi
      Keamanan dan stabilitas daerah
                                                       Azas manfaat terhadap
                                                        kesejahteraan penduduk

             Gambar 3: Model Integrasi IPS Berdasarkan Potensi Utama

         c. Model Integrasi Berdasarkan Permasalahan
            Model      pembelajaran terpadu pada IPS yang lainnya adalah
            berdasarkan permasalahan yang ada, contohnya adalah “Pemukiman
            Kumuh”. Pada pembelajaran terpadu, Pemukiman Kumuh ditinjau
            dari beberapa faktor sosial yang mempengaruhinya. Di antaranya
            adalah faktor ekonomi, sosial, dan budaya. Juga dapat dari faktor
            historis kronologis dan kausalitas, serta perilaku masyarakat terhadap
            aturan/norma.


      Faktor sosial,                                         Faktor Ekonomi
       dan budaya
                                  PEMUKIMAN
                                    KUMUH
          Perilaku
      terhadap aturan                                        Faktor historis


              Gambar 4. Model Integrasi IPS Berdasarkan Permasalahan




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                     97
    5. PELAKSANAAN PEMBELAJARAN TERPADU
       a. Perencanaan
          Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran terpadu bergantung pada
          kesesuaian rencana yang dibuat dengan kondisi dan potensi siswa
          (minat, bakat, kebutuhan, dan kemampuan). Untuk menyusun
          perencanaan pembelajaran terpadu perlu dilakukan langkah-langkah
          berikut ini.
           Pemetaan Kompetensi Dasar
           Penentuan Topik/tema
           Penjabaran (perumusan) Kompetensi Dasar ke dalam indikator
             sesuai topik/tema
           Pengembangan Silabus
           Penyusunan Desain/Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
          Langkah-langkah tersebut secara rinci dijelaslan sebagai berikut ini.
          1) Pemetaan Kompetensi Dasar
             Langkah pertama dalam pengembangan model pembelajaran
             terpadu adalah melakukan pemetaan pada semua Standar
             Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran IPS per kelas
             yang dapat dipadukan. Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk
             memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh.
             Kegiatan yang dapat dilakukan pada pemetaan ini antara lain
             dengan:
              mengidentifikasi Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
                pada mata pelajaran IPS yang dapat dipadukan dalam satu
                tingkat kelas yang sama; dan
              menentukan tema/topik pengikat antar-Standar Kompetensi dan
                Kompetensi Dasar.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                      98
              Beberapa       ketentuan      dalam     pemetaan        Kompetensi       Dasar       dalam
              pengembangan model pembelajaran terpadu Ilmu Pengetahuan Sosial
              adalah sebagai berikut.
                  Mengidentifikasikan beberapa Kompetensi Dasar dalam berbagai
                   Standar Kompetensi yang memiliki potensi untuk dipadukan.
                  Beberapa Kompetensi Dasar yang tidak berpotensi dipadukan, jangan
                   dipaksakan untuk dipadukan dalam pembelajaran. Kompetensi Dasar
                   yang tidak diintegrasikan dibelajarkan/disajikan secara tersendiri.
                  Kompetensi Dasar dipetakan tidak harus berasal dari semua Standar
                   Kompetensi yang ada pada mata pelajaran IPS pada kelas yang sama,
                   melainkan memungkinkan hanya dua atau tiga Kompetensi Dasar
                   saja.
                  Kompetensi Dasar yang sudah dipetakan dalam satu topik/tema
                   masih bisa dipetakan dengan topik/tema lainnya.


              Berikut ini contoh pemetaan Kompetensi Dasar pada mata pelajaran IPS
              yang dapat diintegrasikan/dipadukan.




                  Peta Kompetensi Dasar yang Berpotensi IPS Terpadu
                                     Kelas VII

No.          Geografi              Sosiologi               Ekonomi                 Sejarah            Tema

1.     Semester 2            Semester 1              Semester 2              Semester 2             Kegiatan
       6.1 Mendeskripsikan   2.1 Mendeskripsikan     6.2 Mendeskripsikan     5.1 Mendeskripsikan    Ekonomi
           pola kegiatan         interaksi sebagai       kegiatan pokok          perkembangan       Penduduk
           ekonomi               proses sosial.          ekonomi yang            masyarakat,
           penduduk,                                     meliputi kegiatan       kebudayaan, dan
           penggunaan                                    konsumsi,               pemerintahan
           lahan, dan pola                               produksi, dan           pada masa Islam
           pemukiman                                     distribusi              di Indonesia,
           berdasarkan                                   barang/jasa.            serta
           kondisi fisik                                                         peninggalan-



      Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                                    99
No.          Geografi                Sosiologi               Ekonomi                 Sejarah            Tema

          permukaan bumi.                                                          peninggalannya

2      Semester 2              Semester 2              Semester 1              Semester 2            Kelangkaan
       4.3 Mendeskripsikan     2.1 Mendeskripsikan     3.1 Mendeskripsikan     5.3 Mendeskripsikan   Sumber
           kondisi geografis       interkasi sebagai       manusia sebagai         perkembangan      Daya
           dan penduduk            proses sosial.          makhluk sosial          masyarakat,
                                                           dan ekonomi yang        kebudayaan, dan
       6.1 Mendeskripsikan     2.3 Mengidentifikasi        bermoral dalam          pemerintahan
           pola kegiatan           bentuk-bentuk           kaitannya dengan        pada masa
           ekonomi                 interaksi sosial        usaha memenuhi          Kolonial Eropa
           penduduk,                                       kebutuhan dan
           penggunaan lahan    2.4 Menguraikan             pemanfaatan
           dan pola                proses interaksi        sumber daya yang
           pemukiman               sosial                  tersedia.
           berdasarkan
           kondisi fisik
           permukaan bumi.
3.     Semester 2                                      Semester 2              Semester 1            Pemanfaatan
       4.1 Menggunakan                                 6.2 Mendeskripsikan     5.1 Mendeskripsikan   Peta
           peta, atlas dan                                 kegiatan pokok          perkembangan
           globe untuk                                     ekonomi yang            masyarakat,
           mendapatkan                                     meliputi kegiatan       kebudayaan, dan
           informasi                                       konsumsi,               pemerintahan
           keruangan.                                      produksi dan            pada masa
                                                           distribusi              Hindu-Buddha,
                                                           barang/jasa.            serta
                                                                                   peninggalan-
                                                                                   peningalannya

                                                                               5.2 Mendeskripsikan
                                                                                   perkembangan
                                                                                   masyarakat,
                                                                                   kebudayaan, dan
                                                                                   pemerintahan
                                                                                   pada masa Islam
                                                                                   di Indonesia,
                                                                                   serta
                                                                                   peninggalan-
                                                                                   peningalannya

                                                                               5.3 Mendeskripsikan
                                                                                   perkembangan
                                                                                   masyarakat,
                                                                                   kebudayaan, dan
                                                                                   pemerintahan
                                                                                   pada masa
                                                                                   Kolonial Eropa




                   Peta Kompetensi Dasar yang Berpotensi IPS Terpadu



      Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                                   100
                                                Kelas VIII

No.          Geografi               Sosiologi             Ekonomi                  Sejarah               Tema

1.     Semester 1             Semester 2            Semester 1              Semester 1                Globalisasi
       1.1 Mendeskripsikan    6.1 Mendeskripsikan   4.3 Mengidentifikasi    2.1 Menjelaskan
           kondisi fisik          bentuk-bentuk         bentuk pasar            proses
           wilayah dan            hubungan sosial       dalam kegiatan          perkembangan
           penduduk.                                    ekonomi                 kolonialisme dan
                              6.2 Mendeskripsikan       masyarakat.             imperialisme
                                  pranata sosial                                Barat, serta
                                  dalam kehidupan                               pengaruh yang
                                  masyarakat                                    ditimbulkannya di
                                                                                berbagai daerah di
                              6.3 Mendeskripsikan                               Indonesia.
                                  upaya
                                  pengendalian
                                  penyimpangan
                                  sosial
2.     Semester 1             Semester 1            Semester 2                                        Peran
       1.1 Mendeskripsikan    6.2 Mendeskripsikan   7.2 Mendeskripsikan                               Indonesia
           kondisi fisik          pranata sosial        pelaku-pelaku                                 dalam
           wilayah dan            dalam kehidupan       ekonomi dalam                                 Pergaulan
           penduduk.              masyarakat            sistem                                        Antarbangsa
                                                        perekonomian
                                                        Indonesia.
3.     Semester 1             Semester 2            Semester 2              Semester 1                Otonomi
       1.1 Mendeskripsikan    6.2 Mendeskripsikan   7.1 Mendeskripsikan     2.2 Menguraikan           Daerah
           kondisi fisik          pranata sosial        permasalahan            proses
           wilayah dan            dalam kehidupan       angkatan kerja          terbentuknya
           penduduk.              masyarakat            dan tenaga kerja        kesadaran
                                                        sebagai sumber          nasional, identitas
                                                        daya dalam              Indonesia, dan
                                                        kegiatan ekonomi,       perkembangan
                                                        serta peran             pergerakan
                                                        pemerintah dalam        kebangsaan
                                                        upaya                   Indonesia.
                                                        penanggulangan-
                                                        nya.

                                                    7.2 Mendeskripsikan
                                                        palaku-pelaku
                                                        ekonomi dalam
                                                        sistem
                                                        perekonomian
                                                        Indonesia.

4.     Semester 2             Semester 2            Semester 2              2.1 Menjelaskan           Pelestarian
       1.3 Mendeskripsikan    6.1 Mendeskripsikan   4.1 Mendeskripsikan         proses                Lingkungan
           permasalahan           bentuk-bentuk         hubungan antara         perkembangan
           lingkungan hidup       hubungan sosial       kelangkaan              kolonialisme dan
           dan upaya                                    sumber daya             imperialisme
           penang-            6.2 Mendeskripsikan       dengan                  Barat, serta
           gulangannya            pranata sosial        kebutuhan               pengaruh yang
           dalam                  dalam kehidupan       manusia yang            ditimbulkannya di



      Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                                    101
No.          Geografi                 Sosiologi              Ekonomi               Sejarah              Tema

           pembangunan             masyarakat             tidak terbatas        berbagai daerah di
           berkelanjutan.                                                       Indonesia.
                                6.3 Mendeskripsikan
                                    upaya
                                    pengendalian
                                    penyimpangan
                                    sosial




                    Peta Kompetensi Dasar yang Berpotensi IPS Terpadu
                                        Kelas IX

No.          Geografi                Sosiologi              Ekonomi                Sejarah             Tema
1.     Semester 2               Semester 1             Semester 1            Semester 2              Pengemba-
       5.1 Menginterpretasi-    3.1Mendeskripsi-       7.1Mendeskripsikan    7.2 Menguraikan         ngan
           kan peta tentang        kan perubahan          uang dan               perkembangan        Pariwisata
           bentuk dan pola
                                   sosial-budaya          lembaga                lembaga-
           muka bumi.
                                   pada                   keuangan.              lembaga
                                   masyarakat                                    internasional
                                                                                 dan peran
                                3.2 Menguraikan                                  Indonesia dalam
                                    tipe-tipe                                    kerjasama
                                    perilaku                                     internasional
                                    masyarakat
                                    dalam
                                    menyikapi
                                    perubahan




2      Semester 2               Semester 2             Semester 2            Semester 2              Modernisasi
       5.2 Mendeskripsikan      7.3 Menguraikan        7.4 Mendeskripsikan   7.2Menguraikan
           keterkaitan unsur-       perilaku              kerjasama antar       perkembangan
           unsur geografis                                negara di bidang
                                    masyarakat                                  lembaga-
           dan penduduk di                                ekonomi
           kawasan Asia             dalam                                       lembaga
           Tenggara                 perubahan                                   internasional
                                    sosial-budaya di                            dan peran
                                    era global                                  Indonesia dalam
                                                                                kerjasama
                                                                                internasional

3.     Semester 2               Semester 2             Semester 2            Semester 2              Kerjasama
       5.2 Mendeskripsikan      7.3 Menguraikan        7.4 Mendeskripsikan   7.2 Menguraikan         Inter-
           keterkaitan unsur-       perilaku              kerjasama antar        perkembangan        nasional



      Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                                   102
No.          Geografi              Sosiologi             Ekonomi             Sejarah          Tema
          unsur geografis        masyarakat            negara di bidang    lembaga-
          dan penduduk di        dalam                 ekonomi             lembaga
          kawasan Asia           perubahan                                 internasional
          Tenggara                                  7.5 Mengidentifikasi
                                 sosial-budaya di                          dan peran
                                 era global             dampak             Indonesia dalam
       Semester 1
                                                        kerjasama antar    kerjasama
       1.1 Mengidentifikasi
           ciri-ciri negara                             negara terhadap    internasional
           berkembang dan                               perekonomian
           negara maju.                                 Indonesia



                  2) Penentuan Topik/Tema

                        Setelah pemetaan Kompetensi Dasar selesai, langkah selanjutnya
                        dilakukan penentuan topik/tema. Topik/tema            yang ditentukan
                        harus relevan dengan Kompetensi Dasar yang telah dipetakan.
                        Dengan demikian, dalam satu mata pelajaran IPS pada satu
                        tingkatan kelas terdapat beberapa topik yang akan dibahas.
                        Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan topik/tema
                        pada pembelajaran IPS Terpadu antara lain meliputi hal-hal berikut.
                         Topik, dalam pembelajaran IPS Terpadu, merupakan perekat
                          antar-Kompetensi Dasar yang terdapat dalam satu rumpun mata
                          pelajaran IPS.
                         Topik yang ditentukan selain relevan dengan Kompetensi-
                          kompetensi Dasar yang terdapat dalam satu tingkatan kelas, juga
                          sebaiknya relevan dengan pengalaman pribadi siswa, dalam arti
                          sesuai dengan keadaan lingkungan setempat. Hal ini agar
                          pembelajaran yang dilakukan dapat lebih bermakna bagi siswa;
                          contohnya, untuk kelas VII ada 3 (tiga) topik/tema yaitu:
                          aktivitas ekonomi penduduk, kelangkaan sumber daya alam,
                          dan pemanfaatan peta.



      Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                           103
                       Dalam menentukan topik, isu sentral yang sedang berkembang
                          saat ini, dapat menjadi prioritas yang dipilih dengan tidak
                          mengabaikan keterkaitan antar-Kompetensi Dasar pada satu
                          rumpun yang telah dipetakan. Contohnya, Pemberlakuan
                          Otonomi Daerah, Pertumbuhan Industri, Pemilihan Kepala
                          Daerah Secara Langsung, Pasca Gempa Bumi dan Tsunami,
                          Penyakit Folio, Penyakit Busung Lapar.
                      Berikut ini beberapa contoh Topik yang relatif relevan dengan
                      pemetaan Kompetensi Dasar.


                      Kelas VII SMP
                      i) Topik: Kegiatan Ekonomi Penduduk
No            Geografi                    Sosiologi                 Ekonomi                     Sejarah
1.     Semester 2                  Semester 1                 Semester 2                Semester 2
       6.1 Mendeskripsikan pola    2.1 Mendeskripsikan        6.2 Mendeskripsikan       5.2 Mendeskripsikan
           kegiatan ekonomi            interaksi sebagai          kegiatan pokok            perkembangan
           penduduk,                   proses sosial.             ekonomi yang              masyarakat,
           penggunaan lahan,                                      meliputi kegiatan         kebudayaan, dan
           dan pola pemukiman                                     konsumsi, produksi,       pemerintahan pada
           berdasarkan kondisi                                    dan distribusi            masa Islam di
           fisik permukaan bumi.                                  barang/jasa.              Indonesia, serta
                                                                                            peninggalan-
                                                                                            peninggalannya




                      Kelas VIII SMP
                      ii) Topik : Pelestarian Lingkungan
No            Geografi                    Sosiologi                 Ekonomi                     Sejarah
 1.    Semester 2                  Semester 2                 Semester 2                2.1 Menjelaskan proses
       1.3 Mendeskripsikan         6.1 Mendeskripsikan        4.1 Mendeskripsikan           perkembangan
           permasalahan                bentuk-bentuk              hubungan antara           kolonialisme dan
           lingkungan hidup dan        hubungan sosial            kelangkaan sumber         imperialisme Barat,
           upaya penang-           6.2 Mendeskripsikan            daya dengan               serta pengaruh yang
           gulangannya dalam           pranata sosial dalam       kebutuhan manusia         ditimbulkannya di
           pembangunan                 kehidupan                  yang tidak terbatas       berbagai daerah di
           berkelanjutan.              masyarakat                                           Indonesia.
                                   6.3 Mendeskripsikan
                                       upaya pengendalian
                                       penyimpangan sosial




      Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                                     104
                     Kelas IX SMP.
                     iii) Topik: Pengembangan Pariwisata
No           Geografi                   Sosiologi                 Ekonomi                   Sejarah
1.    Semester 2                 Semester 1                  Semester 1             Semester 2
      5.1 Menginterpretasi-kan   3.1 Mendeskripsi-kan        7.1 Mendeskripsikan    7.2 Menguraikan
          peta tentang bentuk        perubahan sosial-           uang dan lembaga       perkembangan
          dan pola muka bumi.        budaya pada                 keuangan.              lembaga-lembaga
                                     masyarakat                                         internasional dan
                                                                                        peran Indonesia
                                 3.2 Menguraikan tipe-tipe                              dalam kerjasama
                                     perilaku masyarakat                                internasional
                                     dalam menyikapi
                                     perubahan




                 3) Penjabaran Kompetensi Dasar ke dalam Indikator
                     Setelah melakukan langkah Pemetaan Kompetensi Dasar dan
                     Penentuan Topik/Tema sebagai pengikat keterpaduan, maka
                     Kompetensi-kompetensi Dasar tersebut dijabarkan ke dalam
                     indikator pencapaian hasil belajar yang nantinya digunakan untuk
                     penyusunan silabus.
                     Contoh perumusan Kompetensi Dasar ke dalam berbagai indikator
                     pencapaian




                     Kompetensi Dasar Geografi:
                     Mendeskripsikan pola kegiatan ekonomi penduduk, pengunaan
                     lahan, dan pola pemukiman berdasarkan kondisi fisik permukaan
                     bumi.
                     Perumusan indikatornya:
                      Mengidentifikasikan mata pencaharian penduduk (pertanian,
                         nonpertanian).



     Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                                   105
              Mendeskripsikan bentuk penggunaan lahan di pedesaan dan
                perkotaan.
              Mendiskripsikan persebaran permukiman penduduk di berbagai
                bentang lahan dan mengungkapkan alasan penduduk memilih
                bermukim di lokasi tersebut.
             Kompetensi Dasar Sosiologi:
             Mendeskripsikan interaksi sebagai proses sosial.
             Perumusan indikatornya:
              Mengidentifikasi pola-pola keselarasan sosial dalam keluarga
                dan masyarakat.
              Menentukan sikap dalam keragaman sosial untuk mewujudkan
                keselarasan sosial.
             Kompetensi Dasar Ekonomi:
             Mendeksripsikan kegiatan pokok ekonomi yang meliputi kegiatan
             konsumsi, produksi, dan distribusi barang/jasa.
             Perumusan indikatornya:
              Menguraikan kegiatan konsumsi barang dan jasa.
              Menguraikan kegiatan produksi barang dan jasa.
              Menguraikan kegiatan distribusi barang dan jasa.


             Kompetensi Dasar Sejarah:
             Mendeksripsikan perkembangan masyarakat, kebudayaan, dan
             pemerintahan pada masa Islam di Indonesia, serta peninggalan-
             peninggalannya.
             Perumusan indikatornya:




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                           106
              Menyusun kronologis proses masuk berkembangnya Islam di
                Indonesia dengan menggunakan ensiklopedi dan referensi
                relevan lainnya.
              Menjelaskan peranan pedagang dan ulama dalam proses awal
                perkembangan Islam di Indonesia.
          4) Penyusunan Silabus
             Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada langkah-langkah
             sebelumnya dijadikan sebagai dasar dalam penyusunan silabus
             pembelajaran terpadu. Komponen penyusunan silabus terdiri dari
             Standar   Kompetensi     IPS      (Sosiologi,   Sejarah,   Geografi,   dan
             Ekonomi), Kompetensi Dasar, Indikator, Pengalaman belajar,
             alokasi waktu, dan penilaian.


          5) Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan
             Pelaksanaan Proses Pembelajaran serta Penilaian Hasil
             Pembelajaran.

             Penyusunan RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan
             kegiatan peserta didik dalam upaya mencapai KD. Demikian pula
             untuk pelaksanaan proses pembelajaran, maupun penilaian hasil
             pembelajaran untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi
             siswa, menggunakan prinsi-prinsip minimal sesuai dengan standar
             isi, standar proses, standar penilaian, dan dikembangkan dengan
             prinsip-prinsip utama dalam pembelajaran dan penilaian pada
             pembelajaran kontekstual (CTL).


       b. Implikasi Pembelajaran IPS Terpadu
          Implikasi pembelajaran IPS terpadu terhadap guru, peserta didik,
          bahan ajar, sarana dan prasarana dalam pelaksanaannya bergantung



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                        107
          pada sekolah masing-masing sama seperti pada pembelajaran IPA
          terpadu. Diharapkan guru yang profesional sesuai dengan PP 74 dan
          minimal standar proses dapat melaksanakan pembelajaran IPS
          terpadu tanpa mengalami kendala.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                              108
                PEMBELAJARAN TEMATIK

A. LATAR BELAKANG
    Peserta didik yang berada pada sekolah dasar kelas satu, dua, dan tiga
    berada pada rentangan usia dini. Pada usia tersebut seluruh aspek
    perkembangan kecerdasan seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang
    sangat luar biasa. Pada umumnya tingkat perkembangan masih melihat
    segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistik) serta mampu memahami
    hubungan antara konsep secara sederhana. Proses pembelajaran masih
    bergantung kepada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami
    secara langsung.


    Saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di SD kelas I – III kelas awal)
    untuk setiap mata pelajaran masih banyak dilakukan secara terpisah. Dalam
    pelaksanaan kegiatannya dilakukan secara murni mata pelajaran yaitu
    hanya mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang
    berhubungan     dengan    mata    pelajaran   itu.   Sesuai   dengan   tahapan
    perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai suatu
    keutuhan (holistic), pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara
    terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir
    holistik dan membuat kesulitan bagi peserta didik.


    Seperti pada Mata pelajaran Matematika, perlu diberikan kepada semua
    peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik
    dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif,
    serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar
    peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  109
    memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu
    berubah, tidak pasti, dan kompetitif.


    Demikian pula untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan tujuan agar
    peserta didik dapat berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan
    etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis, menghargai dan bangga
    menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa
    negara, memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat
    dan kreatif untuk berbagai tujuan, menggunakan bahasa Indonesia untuk
    meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan
    sosial, menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas
    wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan
    kemampuan berbahasa, menghargai dan membanggakan sastra Indonesia
    sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. Demikian pula
    pada Kompetensi dasar Pendidikan Agama, Bahasa Indonesia, Matematika,
    Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan Kewarganegaraan, Ilmu Pengetahuan
    Sosial, Seni Budaya dan Keterampilan, serta Pendidikan Jasmani,Olahraga
    dan Kesehatan perlu dikaji


    Jika mata pelajaran- mata pelajaran tersebut dipadukan menjadi sebuah
    tema akan diperoleh suatu kemampuan berkomunikasi secara baik sebagai
    indikator dalam kemampuan peserta didik dalam berpikir logis, analitis,
    sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama, yang pada
    akhirnya pembelajaran menjadi menyenangkan.


    Permasalahan menunjukkan bahwa kesiapan sekolah sebagian besar peserta
    didik kelas awal sekolah dasar di Indonesia cukup rendah. Sementara itu,



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                              110
     hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik yang telah masuk Taman
     Kanak-Kanak memiliki kesiapan bersekolah lebih baik dibandingkan dengan
     peserta didik yang tidak mengikuti pendidikan Taman Kanak-Kanak. Selain
     itu, perbedaan pendekatan, model, dan prinsip-prinsip pembelajaran antara
     kelas satu dan dua sekolah dasar dengan pendidikan pra-sekolah dapat juga
     menyebabkan peserta didik yang telah mengikuti pendidikan pra-sekolah
     pun dapat saja mengulang kelas atau bahkan putus sekolah.


     Atas dasar pemikiran di atas dan dalam rangka implementasi Standar Isi,
     standar proses yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, maka
     pembelajaran pada kelas awal sekolah dasar yakni kelas satu, dua, dan tiga
     lebih sesuai jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melalui pendekatan
     pembelajaran tematik. Untuk memberikan gambaran tentang pembelajaran
     tematik yang dapat menjadi acuan dan contoh konkret, disiapkan model
     pelaksanaan pembelajaran tematik untuk SD/MI kelas I hingga kelas III.


B.   KERANGKA BERPIKIR
     1. Karakteristik Perkembangan anak usia kelas awal SD
       Anak yang berada di kelas awal SD adalah anak yang berada pada
       rentangan usia dini. Masa usia dini ini merupakan masa yang pendek
       tetapi merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupan seseorang.
       Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu
       didorong sehingga akan berkembang secara optimal.
       Karakteristik perkembangan anak pada kelas satu, dua dan tiga SD
       biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka
       telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Mereka telah
       dapat melompat dengan kaki secara bergantian, dapat mengendarai



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  111
       sepeda roda dua, dapat menangkap bola dan telah berkembang
       koordinasi tangan dan mata untuk dapat memegang pensil maupun
       memegang gunting. Selain itu, perkembangan sosial anak yang berada
       pada usia kelas awal SD antara lain mereka telah dapat menunjukkan
       keakuannya tentang jenis kelaminnya, telah mulai berkompetisi dengan
       teman sebaya, mempunyai sahabat, telah mampu berbagi, dan mandiri.


       Perkembangan emosi anak usia 6-8 tahun antara lain anak telah dapat
       mengekspresikan reaksi terhadap orang lain, telah dapat mengontrol
       emosi, sudah mampu berpisah dengan orang tua dan telah mulai belajar
       tentang benar dan salah. Untuk perkembangan kecerdasannya anak usia
       kelas awal SD ditunjukkan dengan kemampuannya dalam melakukan
       seriasi, mengelompokkan obyek, berminat terhadap angka dan tulisan,
       meningkatnya perbendaharaan kata, senang berbicara, memahami sebab
       akibat dan berkembangnya pemahaman terhadap ruang dan waktu.


    2. Cara Anak Belajar
       Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri
       dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori
       perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur
       kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam
       pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam
       lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui
       proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada
       dalam pikiran) dan akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep
       dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika
       berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                            112
       pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara
       bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan
       lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak
       sangat   dipengaruhi    oleh       aspek-aspek     dari   dalam   dirinya   dan
       lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena
       memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan
       lingkungannya.


       Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada
       rentang usia tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai
       berikut: (1) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu
       aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur
       secara   serentak,    (2)   Mulai       berpikir    secara   operasional,    (3)
       Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan
       benda-benda, (4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan
       aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan
       sebab akibat, dan (5) Memahami konsep substansi, volume zat cair,
       panjang, lebar, luas, dan berat.


       Memperhatikan        tahapan         perkembangan         berpikir    tersebut,
       kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:
       a. Konkrit
          Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang
          konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak
          atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai
          sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses
          dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                       113
          dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan
          yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan
          kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.
       b. Integratif
          Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang
          dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-
          milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara
          berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi
          bagian.
       c. Hierarkis
          Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara
          bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih
          kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan
          mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan
          serta kedalaman materi .
    3. Belajar dan Pembelajaran Bermakna
       Belajar pada hakekatnya merupakan proses perubahan di dalam
       kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian.
       Perubahan ini bersifat menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai
       suatu hasil dari latihan atau pengalaman.
       Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar anak
       dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik.
       Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak             jika
       dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman
       bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya
       proses    belajar   terjadi   dalam     diri   individu   sesuai   dengan
       perkembangannya dan lingkungannya.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                114
       Belajar bermakna (meaningfull learning)      merupakan suatu proses
       dikaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat
       dalam struktur kognitif seseorang. Kebermaknaan belajar sebagai hasil
       dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-
       aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-
       komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar
       tidak sekadar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi
       merupakan       kegiatan     menghubungkan     konsep-konsep     untuk
       menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari
       akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan
       demikian, agar terjadi belajar bermakna maka guru harus selalu berusaha
       mengetahui dan menggali konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dan
       membantu memadukannya secara harmonis konsep-konsep tersebut
       dengan pengetahuan baru yang akan diajarkan.


       Dengan kata lain, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami
       langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak
       indera daripada hanya mendengarkan orang/guru menjelaskan.


C. PENGERTIAN PEMBELAJARAN TEMATIK
    Sesuai dengan tahapan perkembangan anak, karakteristik cara anak belajar,
    konsep belajar dan pembelajaran bermakna, maka kegiatan pembelajaran
    bagi anak kelas awl SD sebaiknya dilakukan dengan Pembelajaran tematik.
    Pembelajaan tematik adalah pembelajaran tepadu yang menggunakan tema
    untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan
    pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                              115
    gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983).
    Dengan tema diharapkan akan           memberikan banyak keuntungan, di
    antaranya:
   1. Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu,
   2. Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai
       kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama;
   3. pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan;
   4. kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan
       matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa;
   5. Siswa mampu lebih merasakan manfaat dan makna belajar karena materi
       disajikan dalam konteks tema yang jelas;
   6. Siswa lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi
       nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata
       pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain;
   7. guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan
       secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus dan diberikan dalam dua
       atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan
       remedial, pemantapan, atau pengayaan.
    Pembelajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan siswa dalam
    proses belajar secara aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa dapat
    memperoleh pengalaman langsung dan terlatih untuk dapat menemukan
    sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman
    langsung siswa akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari dan
    menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Teori
    pembelajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget
    yang menekankan bahwa pembelajaran haruslah bermakna dan berorientasi
    pada kebutuhan dan perkembangan anak.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                               116
    Pembelajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar
    sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu
    mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi
    kebermaknaan belajar siswa. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan
    unsur-unsur konseptual menjadikan proses pembelajaran lebih efektif.
    Kaitan konseptual antar mata pelajaran yang dipelajari akan membentuk
    skema, sehingga siswa akan memperoleh keutuhan dan kebulatan
    pengetahuan. Selain itu, dengan penerapan pembelajaran tematik di sekolah
    dasar akan sangat membantu siswa, karena sesuai dengan tahap
    perkembangannya siswa yang masih melihat segala sesuatu sebagai satu
    keutuhan (holistik).
    Beberapa ciri khas dari pembelajaran tematik antara lain: 1) Pengalaman dan
    kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan
    kebutuhan anak usia sekolah dasar; 2) Kegiatan-kegiatan yang dipilih dalam
    pelaksanaan pembelajaran tematik bertolak dari minat dan kebutuhan siswa;
    3) Kegiatan belajar akan lebih bermakna dan berkesan bagi siswa sehingga
    hasil belajar dapat bertahan lebih lama; 4) Membantu mengembangkan
    keterampilan berpikir siswa; 5) Menyajikan kegiatan belajar yang bersifat
    pragmatis sesuai dengan permasalahan yang sering ditemui siswa dalam
    lingkungannya; dan 6) Mengembangkan keterampilan sosial siswa, seperti
    kerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.


    Dengan pelaksanaan pembelajaran dengan memanfaatkan tema ini, akan
    diperoleh beberapa manfaat yaitu: 1) Dengan menggabungkan beberapa
    kompetensi dasar dan indikator serta isi mata pelajaran akan terjadi
    penghematan, karena tumpang tindih materi dapat dikurangi bahkan



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                               117
    dihilangkan, 2) Siswa mampu melihat hubungan-hubungan yang bermakna
    sebab isi/materi pembelajaran lebih berperan sebagai sarana atau alat,
    bukan tujuan akhir, 3) Pembelajaran menjadi utuh sehingga siswa akan
    mendapat pengertian mengenai proses dan materi yang tidak terpecah-
    pecah. 4) Dengan adanya pemaduan antar mata pelajaran maka penguasaan
    konsep akan semakin baik dan meningkat,


D. LANDASAN PEMBELAJARAN TEMATIK
    Landasan Pembelajaran tematik mencakup:
    Landasan filosofis dalam pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh
    tiga aliran filsafat yaitu: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, dan (3)
    humanisme. Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu
    ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan,
    suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa.
    Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct
    experiences) sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini,
    pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia
    mengkonstruksi      pengetahuannya         melalui   interaksi   dengan   obyek,
    fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat
    ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada anak, tetapi harus
    diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa. Pengetahuan bukan
    sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus
    menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat
    berperan dalam perkembangan pengetahuannya.                 Aliran humanisme
    melihat siswa dari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, dan motivasi
    yang dimilikinya.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    118
     Landasan psikologis dalam pembelajaran tematik terutama berkaitan
     dengan psikologi perkembangan peserta didik dan psikologi belajar.
     Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi/materi
     pembelajaran tematik yang diberikan kepada siswa agar tingkat keluasan
     dan kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.
     Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi
     pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa dan bagaimana
     pula siswa harus mempelajarinya.


     Landasan yuridis dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai
     kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pembelajaran
     tematik di sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut adalah UU No. 23
     Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa setiap
     anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka
     pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat
     dan bakatnya (pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
     Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan
     pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan
     bakat, minat, dan kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).


E.   KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN TEMATIK
     Sebagai suatu model pembelajaran di sekolah dasar, pembelajaran tematik
     memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
     1. Berpusat pada siswa
     2. Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini
        sesuai   dengan   pendekatan     belajar   modern    yang   lebih   banyak
        menempatkan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  119
       berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan
       kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.
    3. Memberikan pengalaman langsung
    4. Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada
       siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa
       dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk
       memahami hal-hal yang lebih abstrak.
    5. Pemisahan matapelajaran tidak begitu jelas
    6. Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi
       tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan
       tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.
    7. Menyajikan konsep dari berbagai matapelajaran
    8. Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata
       pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, Siswa
       mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini
       diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah
       yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
    9. Bersifat fleksibel
    10.Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat
       mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran
       yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan
       keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.
    11.Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa
    12.Siswa    diberi      kesempatan   untuk      mengoptimalkan   potensi   yang
       dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
    13.Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   120
F.   RAMBU-RAMBU
     1. Tidak semua mata pelajaran harus dipadukan
     2. Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester
     3. Kompetensi dasar yang tidak dapat dipadukan, jangan dipaksakan untuk
        dipadukan. Kompetensi dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan
        secara tersendiri.
     4. Kompetensi dasar yang tidak tercakup pada tema tertentu harus tetap
        diajarkan baik melalui tema lain maupun disajikan secara tersendiri.
     5. Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis,
        dan berhitung serta penanaman nilai-nilai moral.
     6. Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa, minat,
        lingkungan, dan daerah setempat.


G. IMPLIKASI PEMBELAJARAN TEMATIK

     Implikasi implementasi pembelajaran tematik di sekolah dasar mencakup
     implikasi terhadap guru, terhadap siswa, terhadap sarana-prasarana,
     sumber belajar media, pengaturan ruangan, dan pemilihan metode
     pembelajaran.
     Implikasi bagi guru
     Pembelajaran    tematik     memerlukan     guru   yang      kreatif   baik   dalam
     menyiapkan kegiatan/pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih
     kompetensi     dari     berbagai   mata   pelajaran   dan    mengaturnya      agar
     pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan dan utuh.
     Implikasi bagi siswa
      Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam
        pelaksanaannya dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual,
        pasangan, kelompok kecil ataupun klasikal.



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                       121
     Siswa harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervariasi secara
       aktif misalnya melakukan diskusi kelompok, mengadakan penelitian
       sederhana, dan pemecahan masalah
    Implikasi terhadap sarana, prasarana, sumber belajar dan media

     Pembelajaran tematik pada hakekatnya menekankan pada siswa baik
       secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan
       menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara holistik dan otentik. Oleh
       karena itu, dalam pelaksanaannya memerlukan berbagai sarana dan
       prasarana belajar.
     Pembelajaran ini perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang
       sifatnya   didisain   secara   khusus   untuk   keperluan   pelaksanaan
       pembelajaran (by design), maupun sumber belajar yang tersedia di
       lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by utilization).
     Pembelajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media
       pembelajaran yang bervariasi sehingga akan membantu siswa dalam
       memahami konsep-konsep yang abstrak.
     Penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar masih dapat
       menggunakan buku ajar yang sudah ada saat ini untuk masing-masing
       mata pelajaran dan dimungkinkan pula untuk menggunakan buku
       suplemen khusus yang memuat bahan ajar yang terintegrasi
    Implikasi terhadap Pengaturan ruangan
    Dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran tematik perlu melakukan
    pengaturan ruang agar suasana belajar menyenangkan. Pengaturan ruang
    tersebut meliputi:
     Ruang perlu ditata disesuaikan dengan tema yang sedang dilaksanakan.
     Susunan bangku peserta didik dapat berubah-ubah disesuaikan dengan
       keperluan pembelajaran yang sedang berlangsung


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                               122
     Peserta didik tidak selalu duduk di kursi tetapi dapat duduk di
       tikar/karpet
     Kegiatan hendaknya bervariasi dan dapat dilaksanakan baik di dalam
       kelas maupun di luar kelas
     Dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk memajang hasil karya peserta
       didik dan dimanfaatkan sebagai sumber belajar
     Alat, sarana dan sumber            belajar hendaknya dikelola sehingga
       memudahkan peserta didik untuk menggunakan dan menyimpannya
       kembali.
    Implikasi terhadap Pemilihan metode
    Sesuai   dengan     karakteristik   pembelajaran   tematik,   maka   dalam
    pembelajaran yang dilakukan perlu disiapkan berbagai variasi kegiatan
    dengan menggunakan multi metode. Misalnya percobaan, bermain peran,
    tanya jawab, demonstrasi, bercakap-cakap.


H. TAHAP PERSIAPAN PELAKSANAAN

    Dalam pelaksanaan pembelajaran tematik, perlu dilakukan beberapa hal
    yang meliputi tahap perencanaan yang mencakup kegiatan pemetaan
    kompetensi dasar, pengembangan jaringan tema, pengembangan silabus
    dan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran.
    1. Pemetaan Kompetensi Dasar
       Kegiatan pemetaan ini dilakukan untuk memperoleh gambaran secara
       menyeluruh dan utuh semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan
       indikator dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan dalam tema yang
       dipilih. Kegiatan yang dilakukan adalah:




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                              123
       a. Penjabaran Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ke dalam
          indikator
          Melakukan kegiatan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi
          dasar dari setiap mata pelajaran ke dalam indikator. Dalam
          mengembangkan indikator perlu memperhatikan hal-hal         sebagai
          berikut:
           Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik
           Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelajaran
           Dirumuskan dalam kata kerja oprasional yang terukur dan/atau
             dapat diamati.
          1) Menentukan tema
           Dalam menentukan tema dapat dilakukan dengan dua cara yakni:
             Cara pertama, mempelajari standar kompetensi dan kompetensi
             dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran,
             dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai.
             Cara kedua, menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat
             keterpaduan, untuk menentukan tema tersebut, guru dapat
             bekerjasama dengan peserta didik sehingga sesuai dengan minat
             dan kebutuhan anak.
          2) Prinsip Penentuan tema
             Dalam menetapkan tema perlu memperhatikan beberapa prinsip
             yaitu:
              Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa:
              Dari yang termudah menuju yang sulit
              Dari yang sederhana menuju yang kompleks
              Dari yang konkret menuju ke yang abstrak.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                             124
              Tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses
                berpikir pada diri siswa
              Ruang       lingkup     tema    disesuaikan   dengan    usia    dan
                perkembangan         siswa,   termasuk   minat,   kebutuhan,   dan
                kemampuannya
       b. Identifikasi dan analisis Standar Kompetensi, Kompetensi dasar dan
          Indikator
          Lakukan identifikasi dan analisis untuk setiap Standar Kompetensi,
          Kompetensi Dasar dan indikator yang cocok untuk setiap tema
          sehingga semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator
          terbagi habis.
    2. Menetapkan Jaringan Tema
       Buatlah jaringan tema yaitu menghubungkan kompetensi dasar dan
       indikator dengan tema pemersatu. Dengan jaringan tema tersebut akan
       terlihat kaitan antara tema, kompetensi dasar dan indikator dari setiap
       mata pelajaran. Jaringan tema ini dapat dikembangkan sesuai dengan
       alokasi waktu setiap tema.
    3. Penyusunan Silabus
       Hasil seluruh proses yang telah dilakukan pada tahap-tahap sebelumnya
       dijadikan dasar dalam penyusunan silabus. Komponen silabus terdiri dari
       standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator, pengalaman belajar,
       alat/sumber, dan penilaian.
    4. Penyusunan Rencana Pembelajaran
       Untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran guru perlu menyusun
       rencana pelaksanaan pembelajaran. Rencana pembelajaran ini merupakan
       realisasi dari pengalaman belajar siswa yang telah ditetapkan dalam
       silabus pembelajaran. Komponen rencana pembelajaran tematik meliputi:



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   125
       1)   Identitas mata pelajaran (nama mata pelajaran yang akan dipadukan,
            kelas, semester, dan waktu/banyaknya jam pertemuan yang
            dialokasikan).
       2)   Standar kompetensi
       3)   Kompetensi dasar
       4)   Indikator pencapaian kompetensi
       5)   Tujuan pembelajaran
       6)   Materi ajar beserta uraiannya yang perlu dipelajari siswa dalam
            rangka mencapai kompetensi dasar dan indikator.
       7)   Alokasi waktu
       8)   Metode      pembelajaran      dan   strategi    pembelajaran   (kegiatan
            pembelajaran secara konkret yang harus dilakukan siswa dalam
            berinteraksi dengan materi pembelajaran dan sumber belajar untuk
            menguasai kompetensi dasar dan indikator, kegiatan ini tertuang
            dalam kegiatan pembelajaran mulai dari pendahuluan, inti dan
            penutup).
       9)   Penilaian dan tindak lanjut (prosedur dan instrumen yang akan
            digunakan untuk menilai pencapaian belajar peserta didik serta
            tindak lanjut hasil penilaian).
       10) Sumber       belajar,   alat   dan   media      yang   digunakan   untuk
            memperlancar pencapaian kompetensi dasar, serta sumber bahan
            yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran tematik sesuai dengan
            kompetensi dasar yang harus dikuasai.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    126
I.   TAHAP PELAKSANAAN

     1. Tahapan kegiatan
       Pelaksanaan pembelajaran tematik setiap hari dilakukan dengan
       menggunakan         tiga     tahapan       kegiatan       yaitu     kegiatan
       pembukaan/awal/pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
       Alokasi waktu untuk setiap tahapan adalah kegiatan pembukaan kurang
       lebih satu jam pelajaran (1 x 35 menit), kegiatan inti 3 jam pelajaran (3 x 35
       menit) dan kegiatan penutup satu jam pelajaran (1 x 35 menit)
       a. Kegiatan Pendahuluan/awal/pembukaan
          Kegiatan ini dilakukan terutama untuk menciptakan suasana awal
          pembelajaran untuk mendorong siswa menfokuskan dirinya agar
          mampu mengikuti proses pembelajaran dengan baik.
          Sifat dari kegiatan pembukaan adalah kegiatan untuk pemanasan.
          Pada tahap ini dapat dilakukan penggalian terhadap pengalaman anak
          tentang tema yang akan disajikan. Beberapa contoh kegiatan yang
          dapat dilakukan adalah bercerita, kegiatan fisik/jasmani, dan
          menyanyi
       b. Kegiatan Inti
          Dalam kegiatan inti difokuskan           pada kegiatan-kegiatan yang
          bertujuan untuk pengembangan kemampuan baca, tulis dan hitung.
          Penyajian bahan pembelajaran dilakukan dengan menggunakan
          berbagai strategi/metode yang bervariasi dan dapat dilakukan secara
          klasikal, kelompok kecil, ataupun perorangan.
       c. Kegiatan Penutup/Akhir dan Tindak Lanjut
          Sifat dari kegiatan penutup adalah untuk menenangkan. Beberapa
          contoh kegiatan akhir/penutup yang dapat dilakukan adalah
          menyimpulkan/mengungkapkan            hasil   pembelajaran     yang   telah



Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    127
          dilakukan, mendongeng, membacakan cerita dari buku, pantomim,
          pesan-pesan moral, musik/apresiasi musik.


    Contoh jadwal pelaksanaan pembelajaran perhari dapat dijabarkan menjadi:

    Contoh 1:

             Kegiatan                              Jenis kegiatan
        Kegiatan                  Anak berkumpul bernyanyi sambil           menari
        pembukaan                 mengikluti irama musik

        Kegiatan inti              Kegiatan untuk pengembangan membaca
                                   Kegiatan untuk pengembangan menulis
                                   Kegitan untuk pengembangan berhitung
                                  
        Kegiatan penutup          Mendongeng atau membaca cerita dari buku cerita


   Contoh 2:

        Kegiatan                  Jenis kegiatan
        Kegiatan                  Waktu       berkumpul   (anak   m,enceritakan
        pembukaan                 pengalkaman, menyanyi, melakukan kegiatan fisik
                                  sesuai dengan tema)

        Kegiatan inti                Pengembnagan kemmapuan menulis (kegiatan
                                      kelompok besar)
                                     Pengembnagan      kemampuan         berhitung
                                      kegiatan kelompok kecil atau berpasangan)
                                     Melakukan pengamatan sesuai dengan tema,
                                      misalnya mengamati jenis kendaraan yang
                                      lewat pada tema transporasi, menggambar
                                      hewan hasil pengamatan

    Kegiatan penutup                 Mendongeng
                                     Pesan-pesan moral
                                     Musik/menyanyi




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                   128
       2. Pengaturan Jadwal pelajaran
         Untuk memudahkan administrasi sekolah terutama dalam penjadwalan.
         Guru bersama dengan guru mata pelajaran         pendidikan agama, guru
         pendidikan Jasmani dan guru muatan lokal perlu bersama-sama
         menyusun Jadwal pelajaran.
       Contoh jadwal yang dapat dikembangkan seperti pada tabel berikut:


                      JADWAL PELAJARAN SD KELAS I, II


Waktu      Senin        Selasa          Rabu           Kamis   Jumat       Sabtu
7.00-      Matematika B. Ind.           Matematika B. Ind.     Penjaskes   IPA
7.35
7.35-      Matematika B.Ind.            Matematika B.Ind.      Penjaskes   IPA
8.10
8.10-      Matematika B.Ind.            Matematika KTK         P.Agama     MULOK
8.45
8.45-                                      Istirahat
9.00
9.00-      B.ind        Matematika IPS                 KTK     P.          Mulok
9.35                                                           Agama
9.35-      B.Ind        Matematika IPS                 KTK
10.10




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                     129
J.   PENILAIAN PEMBELAJARAN TEMATIK

     1. Prinsip

       a. Penilaian di kelas I dan II mengikuti aturan penilaian mata-mata
          pelajaran lain di sekolah dasar. Mengingat bahwa siswa kelas I SD
          belum semuanya lancar membaca dan menulis, maka cara penilaian di
          kelas I tidak ditekankan pada penilaian secara tertulis.
       b. Kemampuan         membaca, menulis dan         berhitung   merupakan
          kemampuan yang harus dikuasai oleh peserta didik kelas I dan II.
          Oleh karena itu, penguasaan terhadap ke tiga kemampuan tersebut
          adalah prasyarat untuk kenaikan kelas.
       c. Penilaian dilakukan dengan mengacu pada indikator dari masing-
          masing Kompetensi Dasar dan Hasil Belajar dari mata-mata pelajaran.
       d. Penilaian dilakukan secara terus menerus dan selama proses belajar
          mengajar berlangsung, misalnya sewaktu siswa bercerita pada
          kegiatan awal, membaca pada kegiatan inti dan menyanyi pada
          kegiatan akhir.
       e. Hasil karya/kerja siswa dapat digunakan sebagai bahan masukan
          guru dalam mengambil keputusan siswa misalnya: Penggunaan tanda
          baca, ejaan kata, maupun angka.


     2. Alat Penilaian

       Alat penilaian dapat berupa Tes dan Non Tes. Tes mencakup: tertulis,
       lisan, atau perbuatan, catatan harian perkembangan siswa, dan porto
       folio. Dalam kegiatan pembelajaran di kelas awal penilaian yang lebih
       banyak digunakan adalah melalui pemberian tugas dan portofolio. Guru
       menilai anak melalui pengamatan yang lalu dicatat pada sebuiah buku


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                              130
       bantu. Sedangkan Tes tertulis digunakan untuk menilai kemampuan
       menulis siswa, khususnya untuk mengetahui tentang penggunaan tanda
       baca, Jean, kata atau angka.
       Berikut adalah contoh penilaian yang dapat dilakukan guru:

     A. Kewarganegaraan dan                     Tes Lisan
        Pengetahuan Sosial
                                          Menyebutkan peristiwa/kegiatan yang
                                           dialami
                                          Mengemukakan peristiwa/kegiatan yang
                                           berkesan
                                          Mengekspresikan perasaan waktu
                                           memberi kesan.

     B. Bahasa Indonesia              : Perbuatan
                                          Kelancaran membaca
                                          Melafalkan kata
                                          Melagukan/intonasi
                                          Cara bertanya jawab
                                         Tugas
                                          Melengkapi kalimat

     C. Ilmu Pengetahuan Alam         : Perbuatan
                                          Mendemonstrasikan cara menggosok gigi

                                      : Lisan
                                          Menyebutkan cara memelihara gigi
                                          Menjelaskan manfaat menggosok gigi




    3. Aspek Penilaian
       Pada pembelajaran tematik penilaian dilakukan untuk mengkaji
       ketercapaian Kompetensi Dasar dan Indikator pada tiap-tiap mata
       pelajaran yang terdapat pada tema tersebut. Dengan demikian penilaian
       dalam hal ini tidak lagi terpadu melalui tema, melainkan sudah terpisah-
       pisah sesuai dengan Kompetensi Dasar, Hasil Belajar dan Indikator mata
       pelajaran.


Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    131
       Nilai akhir pada laporan (raport) dikembalikan pada kompetensi mata
       pelajaran yang terdapat pada kelas satu dan dua Sekolah Dasar, yaitu:
       Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Pendidikan
       Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial, Seni Budaya dan
       Keterampilan, dan Pendidikan Jasmani, Olahraga dan kesehatan.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                            132
                              DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. Direktorat Pembinaan SMP. 2008. Bahan Sosialisasi KTSP.
     Jakarta.
Depdiknas. Direktorat Pembinaan SMA. 2009. Pengembangan
     Pembelajaran Yang Efektif. Bahan Bimbingan Teknis KTSP. Jakarta.
Depdiknas. Direktorat Tenaga Kependidikan. 2009. Bahan TOT untuk
     Calon Master Trainer Pengawas Sekolah. Jakarta.
Hamalik, Oemar. 1990. Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar.
     Bandung: Tarsito
Ibrahim R, Syaodih S Nana. 2003. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka
     Cipta.
Joyce Bruce. Et al. 2000. Models of Teaching. 6th Ed. Allyn & Bacon: London
Lestari, Tita. 1997. Dampak Penerapan Metode Pemecahan Masalah
     Terhadap Tingkat Kemampuan Berpikir SMA Pada Pembelajaran
     Matematika. Tesis-S-2 Program Studi Pengembangan Kurikulum.
     Pasca Sarjana IKIP Bandung.
Nasution. S. 2005. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar dan Menga-jar.
     Jakarta: Bumi Aksara.
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Media Prenada
Sudjana, Nana. 1989. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Menga-jar.
     Bandung: Sinar Baru.
Sudjana, Nana. 1989. Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar
     Baru.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                             133
Syaodih, Nana. 2004. Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi. andung.
     Kesuma Karya.
Uno, B. Hamzah. 2006. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Yamin, Martinis. 2006. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta:
     Gaung Persada Press.




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                            134
                                               LAMPIRAN PETA STANDAR KOMPETENSI DAN
                                               KOMPETENSI DASAR IPA TERPADU

       A.      PETA STANDAR KOMPETENSI DAN KOMPETENSI DASAR YANG BERPOTENSI
                                    IPA TERPADU




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                   135
Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah   136
Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah   137
Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah   138
Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah   139
Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah   140
      Lampiran3: CONTOH SILABUS


                          KOMPETENSI
  Mata Pelajaran                                     INDIKATOR          KEGIATAN BELAJAR      SARANA/SUMBER     PENILAIAN
                             DASAR
BAHASA INDONESIA       MENDENGARKAN             Menirukan                 Menirukan bunyi   Kaset dan tape   Pengamatan
                       Membedakan bunyi          bunyi/suara tertentu       suara burung
                       bahasa                    seperti: suara burung,    Bermain peran
                                                 ombak,      kendaraan,     menjadi
                                                 dan lain-lain.             berbagai
                                                                            kendaraan
                                                                           Menirukan suara
                                                                            ombak




                       BERBICARA                Menyebutkan nama          tanya jawab
                       Memperkenalkan diri       orangtua       dan         tentang nama
                       sendiri dengan            saudara kandung            orang tuanya
                       kalimat sederhana                                    dan saudara
                       dan bahasa yang                                      kandungnya
                       santun                                               (berpasangan)




      Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                 141
                                          Menanyakan    data    tanya jawab
                                           diri    dan  nama      tentang nama
                                           orangtua     serta     orang tuanya
                                           saudara     teman      dan saudara
                                           sekelas                kandungnya
                                                                  (berpasangan)
                                                                 melakukan
                                                                  permainan
                                                                  menanyakan
                                                                  data diri
                                                                  temannya


                                          Menyebutkan data      melakukan
                                           diri (nama, kelas,     permainan
                                           sekolah,       dan     menanyakan
                                           tempat     tinggal)    data diri
                                           dengan     kalimat    bercerita
                                           sederhana              tentang data
                                                                  dirinya
                 MENULIS                  Menjiplak berbagai    Menjiplak kartu      Kartu kata
                 Menjiplak berbagai        bentuk     gambat,     kata                 Kartu bentuk
                 bentuk gambar,            lingkaran,    dan     Menjiplah             gambar
                 lingkaran dan             bentuk huruf           bentuk-bentuk        Kartu bentuk
                 bentuk huruf                                     gambar                geometri
                                                                 Menjiplak
                                                                  bentuk-bentuk
                                                                  geometri




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                              142
MATEMATIKA            Membilang banyak         Membilang atau          Membilang             Bola
                      benda                     menghitung secara        benda-benda di
                                                urut                     kelas
                                                                        Membilang
                                                                         sambil
                                                                         Memantulkan
                                                                         bola

                                               Menyebutkan             Mengamati lalu
                                                banyak benda             menyebutkan
                                                                         nama benda
                                                                         yang dilihatnya
                                               Membandingkan           Praktek langsung      Batu-batuan
                                                dua kumpulan             mengambil dua
                                                benda melalui            kumpulan benda
                                                istilah lebih            lalu dihitung
                                                banyak, lebih
                                                sedikit, atau sama
                                                banyak

                                               Menceritakan            Bercerita
                      Menentukan waktu          pengalamannya            tentnag
                      (pagi, siang,             saat pagi, siang         pengalamannya
                      malam, hari dan           atau malam hari
                      jam (bulat)




     Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                143
IPS                    Menguindentifikasi        Menyebutkan nama          Menyebutkan
                       identitas                  lengkap dan nama           nama
                       diri,keluarga, dan         panggilan                  lengkapnya
                       kerabat
                                                   Menyebutkan             Menyebutkan
                                                    alamat     tempat        alamat
                                                    tinggal                  rumahnya
IPA                    Makhluk Hidup                Menyebutkan            Menggambarkan
                       dan Proses                    nama bagian-            tubuhnya lalu
                       kehidupannya                 bagian tubuh
                                                    Menyebutkan             menyebutkan
                       Mengenal bagian-             kegunaan bagian-         nama bagian-
                       bagian tubuh dan             bagian tubuh             bagian tubuhnya
                       kegunaannya                                           dan
                                                                             kegunaannya
                       Mengindetifikasi            Mengelompokkan          Praktek            Batu, daun, biji
                       benda yang ada di            benda dengan             pengelompokkan     salak
                       lingkungan sekitar           berbagai cara yang
                       berdasarkan                  diketahui anak.
                       cirinya melalui
                                                   Menunjukkan             Praktek langsung
                       pengamatannya
                                                    sebanyak-                mengamati
                                                    banyaknya benda          lingkungan dan
                                                    yang mempunyai           menyebutkan
                                                    warna, bentuk dan        sebanyak-
                                                    ciri tertentu            banyaknya
                                                                            benda yang
                                                                             mempunyai
                                                                             warna, bentuk
                                                                             dan ciri
                                                                             tertentu


      Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  144
PENDIDIKAN             Mempraktikkan            Menerapkan konsep         Praktek langsung
JASMANI, OLAHRAGA      gerak dasar jalan,        arah dalam                 Menerapkan
DAN KESEHATAN          lari dan loncat           berjalan, berlari          konsep arah
                       dalam permainan           dan melompat.              dalam berjalan,
                       sederhana, serta                                     berlari dan
                       nilai sportivitas,                                  melompat.
                       kejujuran,
                       kerjasama,               Berjalan dengan           Praktek langsung
                       toleransi dan             berbagai pola              berjalan dengan
                       percaya diri              langkah dan                pola
                                                 kecepatan

SENI BUDAYA DAN        SENI RUPA                Menyebutkan unsur         Mengamati
KETERAMPILAN           Mengidentifikasi          rupa di lingkungan         lingkungan lalu
                       unsur rupa pada           sekolah                    menyebutkan
                       benda di alam                                        benda-benda
                       sekitar                                              yang dilihatnya

                                                Mengelompokkan            Mengamati
                                                 berbagai jenis:            lingkungan lalu
                                                 bintik gari, bidang,       mengelompokka
                                                 warna dan bentuk           n benda
                                                 pada benda dua             berdasarkan
                                                 dan tiga dimensi di        garis, bintik dsb
                                                 alam sekitar




      Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                  145
                      SENI MUSIK                   Bertepuk tangan         Bermain tepuk
                      Mengidentifikasi              dengan pola              tangan dengan
                      unsur/elemen                                           berbagai pola
                      musik dari                                             yang
                      berbagai sumber                                        dicontohkan
                      bunyi yang
                      dihasilkan tubuh
                      manusia

                      SENI TARI                    Bergerak bebas          Mendengarkan
                      Mengidentifikasi              sesuai irama musik       musik dan
                      fungsi tubuh dalam                                     bergerak bebas
                      melaksanaan gerak                                      mengikuti irama
                      di tempat


PENDIDIKAN                                      Menyebutkan jenis          Menyebutkan
KEWARGANEGARAAN                                  kelamin anggota             jenis kelamin
                                                 keluarga.                   teman
                                                                             sebangkunya
                                                Meyebutkan agama-          Menyebutkan
                                                 agama yang ada di           agama yang
                                                 Indonesia                   dikenalnya




     Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                                    146
Lampiran 4: Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

              RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

KELAS                 : I
TEMA                  : LINGKUNGAN
MINGGU/HARI           : I/Senin
ALOKASI WAKTU         : 5 x 35 menit

INDIKATOR:
Bahasa Indonesia:
 Menanyakan data diri dan nama orangtua serta saudara teman sekelas
 Menjiplak berbagai bentuk gambar, lingkaran, dan bentuk huruf
Matematika:
 Membilang atau menghitung secara urut
 Menyebutkan banyak benda
 Menceritakan pengalamannya saat pagi, siang atau malam hari
IPA
 Menunjukkan sebanyak-banyaknya benda yang mempunyai warna,
    bentuk dan ciri tertentu
IPS
 Menyebutkan nama lengkap dan nama panggilan
SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN
 Bertepuk tangan dengan pola
PENDIDIKAN JASMANI, OLAHRAGA DAN KESEHATAN
 Menerapkan konsep arah dalam berjalan, berlari dan melompat.

SARANA DAN SUMBER BELAJAR:
 Kartu-kartu kata
 Lembar kerja (jam)
 Bola

STRATEGI KEGIATAN

A. Pembukaan (1 X 35 menit)
    Berdoa bersama
    Menyanyi lagu kasih ibu sambil bertepuk dengan variasi 1-2-1-2




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                          147
      Guru meminta beberapa anak untuk menyebutkan identitas dirinya
       seperti nama dan alamatnya, dan menceritakan suatu pengalaman
       yang menyenangkan dirinya
      Guru meminta anak untuk berkeliling di kelas sambil melompat satu
       kaki dengan membilang (menghitung secara urut) lompatannya
      Guru meminta beberapa anak mengemukakan tentang kegiatan
       yang dapat dilakukan pada waktu pagi hari, siang hari dan malam
       hari



B.       Inti (3 x 35 menit)
        Di kelas anak secara individual diminta untuk mengamati berbagai
         benda yang ada dalam kelasnya. memilih benda yang ada di kelas,
         menghitungnya dan menuliskan lambang bilangan dari jumlah
         benda yang dihitungnya (kegiatan ini dilakukan beberapa kali)
        Kegiatan berikutnya (atau bagi yang sudah menyelesaikan kegiatan
         pertama) dapat membaca kalimat sederhana dari kartu-kartu kata
         yang sudah disiapkan guru
        Guru meminta anak untuk melihat jam dinding dikelasnya, lalu anak
         diminta untuk menggambarkan jam didinding tersebut dilengkapi
         dengan penunjukkan jarum jam pada saat anak melihat dan
         menggambarkannya.


C.     Penutup (1 x 35 menit)
      Guru bercerita tentang perlunya air bagi makhluk hidup, yang
       dilanjutkan dengan tanya jawab
      Pesan-pesan moral bagi anak misalnya tentang perlunya hemat air,
       perlunya mandi/menjaga kebersihan
      Berdoa pulang




Model Pembelajaran PAIKEM – Pengawas Sekolah                          148

						
Related docs
Other docs by HmPKepOD
SUPORT CURS CONTABILITATE FINANCIARA
Views: 121  |  Downloads: 0
catalogue_of_resources_05_
Views: 15  |  Downloads: 0
Superiori Salerno
Views: 8  |  Downloads: 0
p2c14s14 7
Views: 2  |  Downloads: 0
Daftar Korprov & Alamat
Views: 1046  |  Downloads: 1
ANEXO 00
Views: 49  |  Downloads: 0
SOS PRESENT
Views: 0  |  Downloads: 0
LICEO SCIENTIFICO STATALE - DOC 7
Views: 30  |  Downloads: 0