Embed
Email

BAB

Document Sample
BAB
Shared by: HC111116084755
Categories
Tags
Stats
views:
60
posted:
11/16/2011
language:
Indonesian
pages:
44
16









BAB II



ASPEK-ASPEK HUKUM MENGENAI DESAIN



WEBSITE DAN HAK CIPTA







A. Hak Cipta



1. Pengertian, Fungsi dan Pembatasan Hak Cipta



Hak cipta adalah hak eksklusif bagi pencipta untuk mengumumkan atau



memperbanyak ciptaannya dalam bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra



yang antara lain dapat terdiri dari buku, program komputer, ceramah, kuliah,



pidato dan ciptaan lain yang sejenis dengan itu, serta hak terkait dengan hak



cipta. Rekaman suara dan/atau gambar pertunjukan seorang pelaku



(performer), misalnya seorang penyanyi atau penari diatas panggung



merupakan hak terkait yang dilindungi hak cipta1.



Istilah hak cipta merupakan pengganti auteursrechts atau copyrights yang



kandungan artinya lebih tepat dan luas. Istilah auteursrechts sendiri disadur



dari istilah bahasa Belanda yang mempunyai arti hak pengarang. Secara



yuridis, istilah hak cipta telah dipergunakan dalam Undang-undang No. 6



Tahun 1982 tentang Hak Cipta sebagai pengganti istilah hak pengarang yang



dipergunakan dalam Auteurswet 1912.



Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-undang No. 19 Tahun 2002 tentang



Hak Cipta, yang dimaksud dengan hak cipta adalah hak eksklusif bagi







1

Tim Lindsey et. all, Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar, Bandung: Alumni, 2003,

hal 6.

17









pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak



ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi



pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang



berlaku, sedangkan yang dimaksud dengan hak terkait dalam Undang-undang



No. 19 Tahun 2002 Pasal 1 angka 9 adalah hak yang berkaitan dengan hak



cipta, yaitu hak eksklusif bagi pelaku untuk memperbanyak atau menyiarkan



pertunjukannya, atau menyewakan karya rekaman suara atau rekaman



bunyinya dan bagi Lembaga Penyiaran untuk membuat, memperbanyak, atau



menyiarkan karya seninya.



Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-undang No. 19 Tahun 2002 tentang



Hak Cipta terdapat 2 unsur penting yang terkandung dalam rumusan



pengertian hak cipta, yaitu2:



a. Hak ekonomi yaitu hak yang dapat dipindahkan atau dialihkan kepada



pihak lain;



b. Hak moral yaitu hak yang dalam keadaan bagaimanapun dan dengan



jalan apapun tidak dapat ditinggalkan daripadanya, seperti



mengumumkan karyanya, menetapkan judulnya, mencantumkan nama



sebenarnya atau nama samarannya dan mempertahankan keutuhan atau



integritas ceritanya.









2

Rachmadi Usman, Op. Cit, hal 86.

18









Sifat hukum hak cipta berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-undang Hak



Cipta No.19 Tahun 2002, yaitu:



a. Hak cipta itu merupakan hak yang bersifat khusus, istimewa, atau



eksklusif (exclusive rights) yang diberikan kepada pencipta atau



pemegang hak cipta, dengan hak yang bersifat khusus ini berarti tidak



ada orang lain yang boleh menggunakan hak tersebut, terkecuali



dengan ijin pencipta atau pemegang hak cipta tersebut.



b. Hak yang berifat khusus, tunggal, atau monopoli yang merupakan hak



pencipta atau pemegang hak cipta untuk mengumumkan ciptaannya,



memperbanyak ciptaannya dan memberi ijin kepada orang lain untuk



mengumumkan atau memperbanyak hasil ciptaannya tersebut.



c. Dalam melaksanakan hak yang bersifat khusus ini, baik pencipta,



pemegang hak cipta, maupun orang lain yang telah diberi ijin untuk



mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya tadi harus dilakukan



menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang



merupakan pembatasan-pembatasan tertentu.



d. Hak cipta tersebut dianggap sebagai benda bergerak yang bersifat



immateriil yang dapat beralih atau dialihkan kepada orang lain, baik



untuk seluruh maupun sebagian.



Hak cipta mengandung beberapa prinsip dasar (basic principles) yang



secara konseptual digunakan sebagai landasan pengaturan hak cipta disemua

19









negara, baik itu yang menganut Civil Law System maupun Common Law



System. Beberapa prinsip yang dimaksud adalah3:



a. Hal yang dilindungi hak cipta adalah ide yang telah berwujud dan asli.



Prinsip ini adalah prinsip yang paling fundamental dari perlindungan



hak cipta, dengan artian bahwa hak cipta hanya berkenaan dengan



bentuk perwujudan dari suatu ciptaan. Prinsip ini menurunkan



beberapa prinsip lain sebagai prinsip-prinsip yang berada lebih rendah



atau sub-principles, yaitu:



1) Suatu ciptaan harus mempunyai keaslian (orsinil) untuk dapat



menikmati hak-hak yang diberikan oleh undang-undang. Keaslian



sangat erat hubungannya dengan bentuk perwujudan suatu ciptaan.



2) Suatu ciptaan mempunyai hak cipta jika ciptaan yang bersangkutan



diwujudkan dalam bentuk tulisan atau bentuk material yang lain,



ini berarti satu ide atau pemikiran belum merupakan suatu ciptaan.



3) Hak cipta adalah hak eksklusif dari pencipta atau penerima hak



untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya, berarti



tidak ada orang lain yang boleh menggunakan hak tersebut tanpa



seijin pencipta atau pemegang hak cipta.



b. Hak cipta timbul dengan sendirinya (otomatis)



Suatu hak cipta eksis pada saat seorang pencipta mewujudkan idenya



dalam suatu bentuk yang berwujud, dengan adanya wujud dari suatu



ide maka suatu ciptaan lahir. Ciptaan tersebut dapat diumumkan (to



3

Eddy Damian, Hukum Hak Cipta UUHC No. 19 Tahun 2002, Bandung: Alumni, 2004, hal

98.

20









make public/openbaarmaken) maupun tidak diumumkan, suatu ciptaan



yang tidak diumumkan, hak ciptanya tetap ada pada pencipta.



c. Suatu ciptaan tidak perlu selalu diumumkan untuk memperoleh hak



cipta, suatu ciptaan yang diumumkan maupun yang tidak diumumkan



(published/unpublished works) kedua-duanya memperoleh hak cipta.



d. Hak cipta suatu ciptaan merupakan suatu hak yang diakui hukum



(legal right) yang harus dipisahkan dan harus dibedakan dari



penguasaan fisik suatu ciptaan.



e. Hak cipta bukan hak mutlak (absolut)



Hak cipta bukan merupakan suatu monopoli mutlak melainkan hanya



suatu monopoli terbatas (limited monopoly). Hal ini dikarenakan hak



cipta secara konseptual tidak mengenal konsep monopoli penuh,



dikarenakan mungkin saja seorang pencipta menciptakan suatu ciptaan



yang sama dengan ciptaan yang telah tercipta lebih dahulu, dengan



syarat tidak terjadi suatu bentuk peniruan atau plagiat secara murni.



Walaupun hak cipta merupakan hak istimewa yang hanya dimiliki oleh



pencipta atau pemegang hak cipta, penggunaan atau pemanfaatannya



hendaknya berfungsi sosial, hal ini dikarenakan adanya pembatasan-



pembatasan tertentu yang diatur dalam Undang-undang No. 19 Tahun 2002



tentang Hak Cipta, dengan kata lain, hasil karya cipta atau ciptaan bukan saja



hanya dapat dinikmati oleh penciptanya saja, tetapi juga dapat dinikmati,



dimanfaatkan, dan digunakan oleh masyarakat luas, sehingga ciptaan itu



mempunyai nilai guna, disamping nilai moral dan ekonomis.

21









Bentuk-bentuk pembatasan terhadap hak cipta yang dilakukan oleh



Undang-undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta dapat dijumpai dalam



pasal-pasal berikut :



a. Pasal 1 angka 1 Undang-undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta



yang menyatakan bahwa :





“Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak



untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya atau



memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-



pembatasan menurut peraturan perundang-undangan”.





Sifat khusus atau eksklusif baik bagi pencipta, pemegang hak cipta



atau orang lain, harus dilakukan menurut peraturan perundang-



undangan yang berlaku, yang merupakan pembatasan-pembatasan



tertentu, pembatasan-pembatasan tersebut telah memberikan sarana



guna mewujudkan prinsip fungsi sosial yang harus melekat pada hak



milik sebagaimana lazimnya, yang memberikan kemungkinan kepada



masyarakat luas untuk memanfaatkan atau menikmati suatu ciptaan



yang dilindungi hak ciptanya sebagai salah satu hak milik4.



b. Pasal 14 Undang-Undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta.



menyebutkan pembatasan penggunaan hak cipta dengan tanpa syarat









4

Rachmadi Usman Op. Cit, hal 87.

22









yang dianggap tidak atau bukan sebagai pelanggaran atas hak cipta,



yaitu5:



1) Lambang negara dan lagu kebangsaan;



2) Segala sesuatau yang diumumkan dan/atau diperbanyak oleh



pemerintah;



3) Berita aktual.



c. Pasal 15 Undang-undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta yang



mengatur pembatasan dengan syarat. Pasal ini menyatakan bahwa



tidak dianggap sebagai pelanggaran hak cipta pengutipan atau



pengambilan ciptaan pihak lain asalkan hal itu dilakukan dengan



menyebutkan sumbernya secara lengkap dan untuk keperluan yang



tidak bersifat komersial, termasuk untuk kegiatan sosial, yaitu6:



1) Pengutipan, pengulangan atau sitasi (citation).



2) Pembatasan dalam bidang ilmu, seni dan sastra.



3) Pembatasan dalam bidang arsitek.



4) Pembatasan dalam bidang komputer.



d. Pasal 16 Undang-undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta,



menyatakan bahwa apabila negara, pemerintah melalui Menteri



Kehakiman setelah mendengar pertimbangan Dewan Hak Cipta



memandang perlu untuk kepentingan nasional, terutama bagi



perkembangan dan kepentingan pendidikan, ilmu pengetahuan dan



kegiatan penelitian dan pengembangan, dapat mewajibkan pemegang



5

Ibid, hal 98.

6

Ibid, hal 99.

23









hak cipta untuk dalam waktu yang ditentukan, menerjemahkan atau



memperbanyaknya didalam wilayah Negara Republik Indonesia.



Seandainya hal itu tidak dapat dilakukan, negara dapat mewajibkan



pemegang hak cipta yang bersangkutan untuk memberikan ijin kepada



pihak lain untuk melakukannya. Pihak lain disini dapat berupa



perseorangan atau badan hukum yang berkedudukan di Indonesia. Arti



pembebanan kewajiban kepada pemegang hak cipta untuk meberikan



ijin kepada pihak lain, dengan tidak perlu menunggu hingga selesainya



jangka waktu yang diberikan kepada pemegang hak cipta untuk



melaksanakan sendiri kewajiban tersebut. Jika hal tersebut tidak



dilakukan pula oleh pihak yang menerima ijin dari pemegang hak cipta



dalam waktu yang ditentukan, negara dapat dan berhak melakukannya



sendiri.



e. Pasal 17 Undang-undang No. 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta



menyatakan bahwa :





“Pemerintah melarang Pengumuman setiap Ciptaan yang bertentangan



dengan kebijaksanaan pemerintah di bidang agama, pertahanan dan



keamanan Negara, kesusilaan serta ketertiban umum setelah



mendengar pertimbangan Dewan Hak Cipta”.





Pembatasan oleh Pasal 17 Undang-undang No. 19 Tahun 2002 tentang



Hak Cipta bertujuan agar tidak terjadi gejolak sosial dalam



masyarakat, karena bidang-bidang yang disebutkan dalam Pasal 17

24









adalah bidang-bidang yang dianggap sangat sensitif dan krusial dalam



masyarakat.



f. Pasal 18 Undang-undang No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, yang



mengatur tentang penggunaan hak cipta dalam kaitannya dengnan



pengumuman suatu ciptaan melalui siaran radio, televisi dan/atau



sarana lain.



g. Pasal 19, 20, 21, 22, dan 23 Undang-undang No.19 Tahun 2002



tentang Hak Cipta, yang mengatur mengenai pembatasan pengumuman



atau perbanyakkan atas potret atau foto seseorang.



h. Pasal 24 Undang-undang No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta, yang



mengatur pembatasan penggunaan hak cipta yang berkenaan dengan



hak moral.



Pembatasan-pembatasan menurut Undang-undang No. 19 Tahun 2002



tentang Hak Cipta sudah barang tentu bertujuan agar dalam setiap



menggunakan atau mengfungsikan hak cipta harus sesuai dengan tujuannya.



Pembatasan hak cipta menghendaki agar setiap orang atau badan hukum tidak



menggunakan haknya secara sewenang-wenang, artinya bahwa setiap



penggunaan hak cipta harus memperhatikan terlebih dahulu apakah hal itu



tidak bertentangan atau tidak merugikan kepentingan umum. Namun dengan



adanya pembatasan, berarti pula dalam penggunaannya tetap didasarkan atas



kepentingan umum. Oleh karena itu, Indonesia tidak menganut paham



individualistis dalam arti sebenarnya, dimana hak individu tetap dihormati



sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan umum. Penggunaan hak

25









cipta harus disesuaikan dengan keadaan dan sifat dari hak cipta tersebut



sehingga mendatangkan manfaat bagi kepentingan umum dan kepentingan



negara dan bangsa7.



Pembatasan terhadap hak cipta bukan berarti hak individu terhadap hak



cipta akan terdesak oleh kepentingan umum. Undang-undang No. 19 Tahun



2002 tentang Hak Cipta memperhatikan pula kepentingan-kepentingan



perseorangan. Oleh karena itu kepentingan masyarakat dan kepentingan



perseorangan harus saling mengimbangi, sehingga pada akhirnya akan



tercapai tujuan pokok yang hendak dicapai dalam pemanfaatan atau



penggunaan hak cipta tersebut. Hak cipta yang pada dasarnya merupakan hak



milik, mendapat pembatasan dari peraturan perundang-undangan yang dapat



dilakukan oleh hukum tata usaha negara. Hal ini mencerminkan bahwa adanya



pembatasan terhadap penggunaan hak milik oleh pihak yang berkuasa dalam



hal ini pemerintah8.







2. Sejarah Pengaturan Hak Cipta



a. Sejarah Pengaturan Hak Cipta di Dunia



Konsepsi perlindungan di bidang hak cipta mulai tumbuh dengan jelas



sejak ditemukannya mesin cetak pada abad pertengahan di Eropa.



Kebutuhan di bidang hak cipta timbul karena dengan mesin cetak, karya-









7

Ibid, hal 87.

8

Ibid, hal 89.

26









karya cipta dapat dengan mudah diperbanyak secara mekanikal, hal inilah



yang menumbuhkan istilah copyright9.



Sebelum ditemukannya mesin cetak alasan moral adalah satu-satunya



alasan yang dijadikan sebagai dasar untuk melindungi hak cipta. Hal ini



terjadi karena seorang penjiplak yang menjiplak ciptaan karya tulis



seorang pencipta melakukannya hanya dengan tulisan tangan, yang pada



hakikatnya dianggap juga melakukan pekerjaan fisik yang sama yaitu



menyalin dengan menggunakan tulisan tangan10.



Faktor sosial juga mendukung terjelmanya hak cipta yang melekat atas



karya tulis para pengarang dan penulis. Pada tahun 1690, John Locke



dalam bukunya yang berjudul Two Treaties on Civil Government



mengutarakan bahwa pengarang atau penulis mempunyai hak dasar



(natural right) atas karya ciptaannya. Pandangan ini pada hakikatnya



didahului dengan adanya gerakan renaissance yang menjunjung tinggi



kemampuan manusia sebagai pribadi yang mandiri, yang ingin



membebaskan diri dari kungkungan raja dan gereja11.



Pada tahun 1709 di Inggris diundangkan suatu undang-undang hak



cipta yang pertama di dunia, undang-undang ini diberi nama Statute of



Anne. Undang-undang ini sangat berpengaruh dalam merubah status



seorang pencipta menjadi pemilik eksklusif karya ciptaannya, sehingga









9

Ibid, hal 55.

10

Eddy Damian, Op. Cit, hal 47.

17

Rachmadi Usman, Op Cit, hal 55.

18

Eddy Damian, Op Cit, hal 51.

27









seorang pencipta karya tulis mempunyai hak khusus dan kebebasan dalam



mencetak hasil karyanya.



Statute of Anne besar pengaruhnya terhadap kedudukan seorang



pencipta suatu karya tulis berdasarkan kemampuan intelektualnya, hal ini



juga membuktikan untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia



seorang pencipta diakui secara sah mempunyai hak cipta atas ciptaannya



yang tidak boleh diperbanyak dengan cara apapun oleh orang lain tanpa



seijin pemilik hak cipta yang bersangkutan.



Setelah diundangkannya Statute of Anne disusul kemudian



diundangkannya Engraving Copyright Act 1734 yang melindungi ukiran-



ukiran yang diciptakan seorang pengukir, kemudian disusul dengan



diundangkannya Sculpture Copyright Act 1814, Fine Arts Copyriht Act



1862, Dramatic Copyright Act 1833 yang melindungi berbagai ciptaan



secara terpisah, yang kemudian pada tahun 1911 dikodifikasikan dalam



suatu undang-undang yang diberi nama Copyright Act.



Perkembangan perlindungan hak cipta di Inggris berproses demikian



pesat, hal ini memberikan inspirasi bagi masyarakat internasional dalam



hal perlindungan terhadap hak cipta. Pada tahun 1866 di Swiss didirikan



organisasi internasional Bern Copyright Union, yang menangani atau



mengadministrasi dan melindungi berbagai ciptaan manusia dibidang



sastra (literary) dan seni (artistic) sebagaimana diatur dalam Bern



Convention for the Protection of Literary and Artistic Works19.





19

Ibid, hal 51.

28









Konvensi Bern 1866 pada garis besarnya memuat tiga prinsip dasar,



berupa sekumpulan ketentuan yang mengatur standar minimum



perlindungan hukum (minimum standard of protection), yang diberikan



kepada pencipta dan juga memuat sekumpulan ketentuan yang berlaku



khusus bagi negara-negara berkembang. Keikutsertaan suatu negara



sebagai anggota Konvensi Bern menimbulkan kewajiban negara tersebut



untuk menerapkan dalam perundang-undangan nasionalnya di bidang hak



cipta tiga prinsip dasar yang dianut Konvensi Bern 1866, prinsip tersebut



adalah20:



1) Prinsip National Treatment.



Yaitu prinsip yang beranggapan bahwa ciptaan yang berasal dari



salah satu negara peserta perjanjian harus mendapat perlindungan



hukum yang sama dinegara-negara peserta Konvensi yang lain.



2) Prinsip Automatic Protection.



Yaitu prinsip pemberian perlindungan hukum harus diberikan



secara langsung tanpa harus memenuhi syarat apapun (must not be



conditional upon compliance with any formality).



3) Prinsip Independence of Protection.



Yaitu suatu perlindungan hukum diberikan tanpa harus bergantung



kepada pengaturan perlindungan hukum negara asal pencipta.









20

Ibid, hal 61.

29









Bagi negara-negara berkembang Konvensi Bern menetapkan beberapa



pasal yang memberi kemudahan-kemudahan tertentu, pengaturannya



dikelompokan tersendiri dalam suatu dokumen yang merupakan bagian



yang tidak terpisahkan dari Konvensi Bern yang direvisi di Stockholm,



yang kemudian disusul dengan revisi pada tahun 1971 di Paris yang antara



lain merubah Protokol Konvensi Bern dengan revisi di Stockholm tahun



1967 menjadi Appendix (tanpa perubahan) sebagaimana diatur dalam Pasal



21 Konvensi Bern21.



Menurut Appendix ini, negara-negara berkembang pada waktu



melakukan ratifikasi atau aksesi dapat memperoleh kemudahan-



kemudahan tertentu yang merupakan Faculties Open to Developing



Countries. Kemudahan-kemudahan yang diberikan oleh Appendix kepada



negar-negara berkembang berupa22 :



1) Hak melakukan penerjemahan (right to translation).



2) Hak melakukan reproduksi (right to reproduction).



Menurut ketentuan Konvensi Bern seorang pencipta mempunyai hak



eksklusif untuk membuat terjemahan dan atau memberikan ijin kepada



orang lain untuk membuat terjemahan dari ciptaan asli yang merupakan



ciptaannya. Demikian pula seorang pencipta mempunyai hak eksklusif



untukmemberikan ijin kepada orang lain untuk melakukan reproduksi dari



ciptaannya dengan cara atau bentuk apapun.









21

Ibid, hal 66.

22

Ibid, hal 66.

30









Perjanjian Internasional lain yang substansi utamanya adalah



pengaturan perlindungan terhadap hak cipta, beberapa perjanjian tersebut



adalah23:



1) Perjanjian umum mengenai tarif dan perdagangan (The General



Aggrement on Tariffs and Trade/GATT), yang mencakup



perjanjian internasional mengenai aspek-aspek yang dikaitkan



dengan perdagangan dari HaKI (Trade Related Aspect of



Intellectual Property rights/TRIPs).



2) Konvensi hak cipta universal (The Universal Copyright



Convention/UCC).



3) Konvensi internasional untuk perlindungan para pelaku



(performer), produser rekaman suara dan lembaga penyiaran (The



Rome Convention).



Dengan adanya perjanjian internasional tentang aspek-aspek yang



dikaitkan dengan perdagangan kekayaan intelektual (TRIPs), materi yang



harus dilindungi diperluas dengan ciptaan-ciptaan sebagai berikut24 :



1) Karya-karya yang harus dilindungi menurut Konvensi Bern.



2) Program komputer.



3) Kumpulan data atau informasi.



4) Pertunjukan-pertunjukan (berupa pertunjikan langsung, disiarkan



atau perekaman gambar pertunjukan).



5) Rekaman Suara.

23

Tim Lindsey et all, Hak Kekayaan Intelektual Suatu Pengantar, Bandung: Alumni, 2003,

hal 98.

24

Ibid, hal 99.

31









6) Penyiaran.



Indonesia turut menandatangani Trade Related Aspect of Intellectual



Property rights (TRIPs) pada tahun 1997 dan setuju untuk memenuhi



kewajiban-kewajiban berdasarkan ketentuan TRIPs pada tahun 2000.







b. Sejarah Pengaturan Hak Cipta di Indonesia



Setelah masa revolusi sampai tahun 1982, Indonesia masih memakai



undang-undang pemerintahan kolonial Belanda Auteurswet 1912, sampai



saat undang-undang hak cipta nasional pertama diberlakukan pada tahun



1982. Berdasarkan Undang-undang No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta



perlindungan atas pencipta dianggap kurang memadai dibandingkan



dengan yang diberikan oleh hukum hak cipta di luar negeri. Pada tahun



1987, undang-undang hak cipta Indonesia direvisi dan skala



perlindungannya diperluas, diantara perubahan mendasar yang terjadi



adalah masa berlaku perlindungan karya cipta diperpanjang menjadi



selama hidup pencipta dan 50 tahun setelah meninggalnya pencipta.



Karya-karya seperti rekaman dan video dikategorikan sebagai karya-karya



yang dilindungi, hak negara untuk mengambil alih hak cipta demi



kepentingan nasional dicabut karena pasal-pasal wajib mengenai lisensi



hak cipta dianggap telah memadai untuk menjaga kepentingan nasional25.



Keikutsertaan Indonesia dalam meratifikasi Trade Related Aspect of



Intellectual Property rights (TRIPs) merupakan salah satu bentuk





25

Ibid, hal 93.

32









keseriusan pemerintah dalam melakukan perlindungan terhadap hak cipta.



Hal ini diimplementasikan dengan merevisi Undang-undang No. 12 Tahun



1997 tentang Hak Cipta, dalam undang-undang ini Hak yang berkaitan



dengan hak cipta (neighboring right) secara khusus diakui dan dilindungi



dalam bagian undang-undang baru tersebut.



Pada tahun 2002 Undang-undang Hak Cipta yang baru diundangkan



dengan ketentuan mencabut dan menggantikan Undang-undang No. 12



Tahun 1997 tentang Hak Cipta. Undang-undang No.19 tahun 2002 tentang



Hak Cipta adalah undang-undang yang memuat perubahan-perubahan



untuk disesuaikan dengan Trade Related Aspects of Intellectual Property



Rights (TRIPs), dan menyempurnakan beberapa hal yang diperlukan untuk



memberikan perlindungan hukum terhadap karya-karya intelektual di



bidang hak cipta, termasuk upaya untuk memajukan perkembangan karya



intelektual yang berasal dari keaneka tagaman seni dan budaya tradisional



Indonesia.



Keikutsertaan Indonesia dalam upaya perlindungan terhadap hak cipta



sebenarnya telah berlangsung sejak tahun 1950. Upaya perlindungan ini



dimulai sejak Indonesia meratifikasi Konvensi Paris, yaitu perjanjian



internasional dibidang hak kekayaan industri. Indonesia kemudian



bergabung dalam Putaran Uruguay (1986-1994) yang merupakan salah



satu rangkaian terakhir perundingan perdagangan multilateral.



Perundingan Putaran Uruguay menetapkan sebuah paket komprehensif



yang mencakup aturan-aturan perdagangan dan pembentukan World Trade

33









Organization (WTO), yang merupakan sebuah lembaga formal untuk



administrasi dan perundingan lebih lanjut dari aturan-aturan yang telah



dihasilkan. Selanjutnya Indonesia juga ikut menjadi negara peserta dalam



organisasi HaKI dunia atau lebih dikenal dengan World Intellectual



Property Organization (WIPO). Ketika WIPO mengadakan perundingan



mengenai perjanjian internasional dalam bidang hak cipta dalam



lingkungan digital, atau dikenal sebagai perjanjian internasional hak cipta



WIPO (WIPO Copyrights Treaty/WTC), Indonesia merupakan negara



pertama yang meratifikasi perjanjian tersebut. Keseriusan pemerintah



Indonesia dalam upaya perlindungan terhadap HaKI dapat dilihat pula



dari terus-menerusnya meninjau perundang-undangan dibidang HaKI agar



sesuai dengan TRIPs.



Komitmen Indonesia terhadap mekanisme regional maupun



internasional yang berkaitan dengan HaKI meliputi26:



1) Keanggotaan aktif di WTO, yang diperkuat oleh ratifikasi konvensi



pembentukan WIPO pada tahun 1979.



2) Kepatuhan terhadap perjanjian-perjanjian internasional yang



bersifat mendasar mengenai hukum HaKI secara substansif yang



dikelola oleh WIPO khususnya konvensi Paris tentang



perlindungan kekayaan industri.









26

Ibid, hal 26.

34









3) Kepatuhan terhadap perjanjian internasional yang diselenggarakan



oleh WIPO yang bersifat teknis dan administratif, yaitu :



a) Traktat Kerjasama Paten (PTC) diratifikasi pada tanggal 5



September 1997.



b) Traktat Hukum Merek (TLT) diratifikasi tanggal 5 September



1997.



c) Traktat Hukum Paten (Indonesia mengambil bagian dalam



konferensi diplomatik yang mengadopsi naskah traktat ini



tanggal 1 Juni 2000, dan perjanjian Den Haag tentang



penyimpanan desain industri secara internasional (Indonesia



telah meratifikasi London Act 1934 tanggal 24 Desember 1950,



tetapi belum meratifikasi perubahannya).



4) Keikutsertaan dalam proses pembuatan kebijakan WIPO, misalnya



panitia kerja mengenai berbagai aspek hukum HaKI internasional,



dan konsultasi mengenai isu-isu yang baru muncul, mesalnya



perdagangan elektronik, pengetahuan tradisional dan perlindungan



database, dan didalam kegiatan-kegiatan kerjasama WIPO secara



teknis baik ditingkat nasional, regional maupun internasional.



5) Keikutsertaan dalam kegiatan kerjasama regional, misalnya



perjanjian kerangka kerja ASEAN mengenai kerjasama dibidang



HaKI, yang diputuskan di Bangkok pada tanggal 15 Desember



1995, dan Kelompok Ahli Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik



tentang HaKI (IPEG), dan deklarasi politik yang dibuat bersama

35









misalnya Agenda Kerja OSAKA APEC tahun 1995 dan pernyataan



bersama APEC mengenai pelaksanaan WTO/Perjanjian TRIPs,



yang dikeluarkan di Darwin pada tanggal 6-7 Juni 200,dan.



6) Kepatuhan terhadap instrumen-instrumen internasional mengenai



permasalahan terkait dengan sistem HaKI misalnya Konvensi



Keanekaragaman Hayati (CBD, diratifikasi oleh Indonesia pada



tanggal 23 Agustus 1994) dan Deklarasi Hak Asasi Manusia



seluruh dunia (Universal declaration of Human Rights) (Pasal 27



angka 7 Deklarasi ini menyatakan bahwa setiap orang mempunyai



hak terhadap perlindungan secara moral dan material atas karya-



karya baik keilmuan, sastra, maupun sastra yang diciptakannya).







3. Dasar Hukum Perlindungan Hak Cipta di Indonesia



Politik hukum merupakan salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya



dinamika masyarakat, karena politik hukum diarahkan kepada iure



constituendo atau hukum yang seharusnya berlaku. Hukum nasional, termasuk



hukum tentang hak cipta, diharapkan dapat menjangkau setiap kegiatan dan



setiap perbuatan hukum dengan kepastiannya yang benar dan handal, dalam



arti dapat menjadi perangkat hukum yang memberi keadilan, kepastian hukum



dan sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. Sedangkan ruang lingkup hukum



yang berlaku sekarang, yang berlaku diwaktu yang lalu, maupun yang



seharusnya berlaku diwaktu yang akan datang, yang mempunyai ruang gerak



dalam batas negara, maupun tidak tertutup kemungkinan politik hukum dari

36









negara tersebut melewati batas-batas negara yang bersangkutan dan



menembus dunia internasional27.



Secara keseluruhan peraturan perundang-undangan untuk perlindungan



hak cipta yang berlaku dalam hukum positif Indonesia samapai saat ini



dianggap sudah memadai meskipun tetap diperlukan beberapa perubahan



dimasa datang sesuai dengan perkembangan masyarakat. Sejak Auterswet



Staatsblad No. 600 Tahun 1912 dicabut dengan Undang-undang No. 6 Tahun



1982 tentang Hak Cipta, telah dilakukan beberapa kali perubahan dengan



Undang-undang No. 7 Tahun 1987 dan Undang-undang No. 12 Tahun 199728.



Secara umum pembentukan peraturan perundang-undangan di bidang hak



cipta di Indonesia didasarkan pada ratifikasi terhadap perjanjian-perjanjian



internasional di bidang hak cipta, antara lain adalah :



a. Konvensi Bern 1886.



b. Konvensi Hak Cipta Universal 1955.



c. Konvensi Roma 1961.



d. Konvensi Jenewa 1967.



e. Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights



(TRIPs) 1994.



Keikutsertaan Indonesia dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO),



serta diratifikasinya lampiran-lampiran persetujuan WTO termasuk TRIPs



menimbulkan implikasi harus adanya penyesuaian terhadap peraturan





27

Rooseno Harjowidigdo, Perjanjian Lisensi Hak Cipta Musik Dalam Pembuatan Rekaman,

Jakarta: Perum Percetak Negara Republik Indonesia, 2005, hal 34.

28

Rachmani Puspitadewi, Seminar Hak Atas Kekayaan Intelektual, Fakultas Hukum

Univerasitas Komputer Indonesia, 5 April 2003, hal 7.

37









perundang-undangan di bidang hak cipta agar sejalan dengan TRIPs, dengan



adanya pemahaman ini maka pemerintah Indonesia mengantisipasinya dengan



mengundangkan delapan perundang-undangan, yaitu29;



a. Undang-undang No. 12 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Undang-



undang No. 6 Tahun 1982 tentang Hak Cipta sebagaimana telah



diubah dengan Undang-undang No. 7 Tahun 1987.



b. Undang-undang No. 13 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Undang-



undang No. 6 Tahun 1989 tentang Paten.



c. Undang-undang No. 14 Tahun 1997 tentang Perubahan atas Undang-



undang No. 19 Tahun 1992 tentang Merek.



d. Keppres No. 15 Tahun 1997 tentang Perubahan Keppres No. 24 Tahun



1979 tentang Pengesahan Paris Convention for The Protection of



Industrial Property and Convention Establishing the World



Intellectual Property Organization.



e. Keppres No. 16 Tahun 1997 tentang Pengesahan Patent Cooperation



Treaty (PCT) and Regulations under The PCT.



f. Keppres No. 17 Tahun 1997 tentang Pengesahan Trademark Law



Treaty.



g. Keppres No. 18 Tahun 1997 tentang Pengesahan Bern Convention for



The Protection of Literary and Artistic Work.



h. Keppres No. 19 Tahun 1997 tentang Pengesahan WIPO Copyright



Treaty.





29

Eddy Damian, Op. Cit, hal 91.

38









Disahkannya Persetujuan Agreement Establishing the World Trade



organization (Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia) oleh pemerintah



Indonesia yang memuat Lampiran IC: Persetujuan Trade Related Aspect of



Intellectual Property rights (TRIPs), melalui Undang-undang No. 7 Tahun



1994 menimbulkan kebutuhan untuk menyempurnakan dan mengubah



beberapa peraturan perundang-undangan dalam bidang hak cipta. Perubahan



terhadap peraturan perundang-undangan dalam bidang hak cipta yang



terdahulu diimplementasikan dengan diberlakukannya Undang-undang No. 19



Tahun 2002 tantang Hak Cipta.



Pemberlakuan Undang-undang No. 19 tahun 2002 tentang hak Cipta



berkenaan dengan beberapa ciri pokok dan unsur-unsur yang dimaksud dalam



persetujuan TRIPs, bentuknya berupa30:



a. Memberlakukan Konvensi Bern 1971 yang belum berlaku bagi



Indonesia.



b. Mencabut ketentuan-ketentuan hak cipta yang tidak sesuai dan



menggantinya dengan yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam



persetujuan TRIPs.



c. Menetapkan penambahan ciptaan-ciptaan yang diatur dalam



persetujuan TRIPs yang dinamakan hak-hak yang berkaitan dengan



hak cipta.









30

Ibid, hal 92.

39









Selain perjanjian-perjanjian internasional dibidang hak cipta yang



dijadikan sebagai dasar hukum pembentukan undang-undang hak cipta,



hukum positif Indonesia juga dijadikan sebagai dasar hukum, yaitu :



a. Pancasila sila ke-5 yang menyebutkan bahwa :





“Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.





Sila ke-5 dapat dikatakan sebagai jiwa dari pembentukan perundang-



undangan hak cipta, karena tujuan pembuatan undang-undang hak



cipta adalah terciptanya suatu keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia,



karena dengan adanya undang-undang hak cipta maka terdapat pula



suatu bentuk kepastian dan perlindungan hukum terhadap karya-karya



baik itu seni maupun ilmu pengetahuan, sehingga tercapainya suatu



rasa keadilan bagi pencipta.



b. Pasal 28 D ayat 1 Undang-undang Dasar 1945, yang menyatakan



bahwa :





“Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan



kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan



hukum”.





Berdasarkan Pasal 28 D ayat 1 Undang-undang Dasar 1945, dapat



dikatakan bahwa pembentukan undang-undang hak cipta merupakan



upaya pemerintah mewujudkan pengakuan, jaminan dan perlindungan



hukum bagi pemegang hak cipta.

40









c. Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945, yang mengatur mengenai



Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial. Pembentukan



undang-undang hak cipta pada dasarnya merupakan pengaturan yang



dilakukan oleh negara dalam bidang ekonomi sehingga tercipta



kesejahteraan sosial.



Perubahan terhadap undang-undang hak cipta dilakukan agar undang-



undang hak cipta dapat mengantisipasi perkembangan yang terjadi dalam



bidang perdagangan dunia, sehingga terciptanya kepastian hukum dibidang



hak cipta.







B. Internet



1. Pengertian dan Fungsi Internet



Perkembangan teknologi informasi telah menyebabkan dunia menjadi



tanpa batas (borderless) dan menyebabkan perubahan sosial yang secara



signifikan berlangsung demikian cepat31, perkembangan yang terjadi disuatu



daerah atau negara dapat dengan mudah diketahui oleh seluruh masyarakat



dunia, masyarakat dunia dapat dengan mudah mendapat informasi dengna



memanfaatkan sarana yang tersedia dalam teknologi informasi, media itu



dapat melalui media elektronik seperti televisi dan radio, serta dengan



memanfaatkan fasilitas internet.



Teknologi internet adalah teknologi informasi yang menggunakan sistem



jaringan (network), dengan prinsip dasar menghubungkan suatu komputer



31

Ahmad M Ramli, Cyber Law Dan HaKI Dalam Sistem Hukum Indonesia, Bandung: Rafika

Aditama, 2004, hal 1.

41









dengan komputer lain, yang terhubung satu sama lain melalui media



komunikasi, seperti kabel telepon, serat optik, satelit ataupun gelombang



frekuensi, jaringan komputer ini dapat berukuran kecil seperti Local Area



Network (LAN) yang biasa dipakai secara intern dikantor-kantor, bank atau



perusahaan atau bisa disebut dengan intranet, dapat juga berukuran super besar



seperti internet. Hal yang membedakan antara jaringan kecil dan jaringan



superbesar adalah terletak pada ada atau tidaknya Transmission Control



Protocol/Internet Protocol (TCP/IP). Internet adalah jaringan komputer antar



negara atau antar benua yang berbasis protokol Transmission Control



Protocol/Internet Protocol (TCP/IP)32.



Internet saat ini telah menghubungkan jaringan komputer lebih dari tiga



ratusan ribu jumlahnya (network of network), yang menjangkau sekitar seratus



negara di dunia. Dalam setiap tiga puluh menit (waktu rata-rata) muncul satu



jaringan tambahan lagi, ratusan halaman informasi (web pages) yang baru



tersajikan setiap menitnya sehingga memperkaya khazanah yang telah ada,



sejumlah lebih dari 50-an juta halaman33.



Penggunaan internet pada saat ini dapat dikatakan terjadi diberbagai



bidang kehidupan hal ini terjadi karena internet memiliki beberapa keunggulan



dibandingkan dengan media-media lain, keunggulan itu adalah34:









32

Agus Raharjo, Cybercrime Pemahaman Dan Upaya Pencegahan Kejahatan Berteknologi,

Bandung: Citra Aditya Bakti, 2002, hal 59.

33

Ibid, hal 13.

34

Ahmad M Ramli, Op Cit, hal 15.

42









a. Efficiency (efisiensi)



Internet dianggap lebih efisien dibanding media lain, misalnya dalam



pemuatan suatu produk, misalnya buku dengan ketebalan sekitar 300



halam, dalam oplah seribu eksemplar dengan mutu cetak baik,



memerlukan anggaran sekitar sepuluh juta rupiah, sementara dengan



menggunakan internet, seribu halam buku dapat ditampilkan dalam



waktu satu tahun penuh hanya dengan biaya operasional sekitar dua



sampai tiga juta rupiah, biaya ini semakin lama akan semakin menurun



(murah) seiring dengan pertumbuhan jumlah pemakai internet.



b. Without Boundary (tanpa batas)



Salah satu kendala bagi media-media cetak biasa (conventional) ialah



kesulitan dalam penyebaran ketempat-tempat lain, yang selain



menuntut biaya tambahan juga membutuhkan waktu yang lama.



Kendala ini tidak terdapat dalam internet karena internet tidak



mengenal batas negara, benua dan juga waktu.



c. 24-Hours Online (terbuka 24 jam)



Salah satu kelemahan media seperti radio dan televisi ialah bahwa



informasi yang ditayangkan hanya berlangsung pada saat siaran, begitu



habis masa siarnya maka itu semua lenyap tak berbekas, padahal



belum pasti semua pemirsa sempat menyaksikannya. Hal ini tidak



terjadi pada internet, sebab internet adalah suatu media informasi yang



berlangsung sepanjang waktu. Salah satu contohnya adalah TEMPO



Interaktif yang mempunyai pusat dokumentasi yang menyimpan

43









artikel-artikel yang pernah dimuat di TEMPO sejak terbitan perdana



hingga terakhir.



d. Interactive



Hampir semua media yang telah dipakai secara meluas merupakan



suatu media yang menyajikan informasi satu arah. Para pemirsa sama



sekali tidak diberi peluang untuk ikut andil didalamnnya, mau tidak



mau mereka harus menerima suguhan yang dimasukkan oleh pembuat



acara secara keseluruhan. Dalam media internet pemirsa diberi andil



yang besar dalam mengatur jalannya penyajian informasi, misalnya



dalam CNN Interactive (internet online) seluruh berita disajikan dalam



bentuk menu yang dapat dipilih sesuka hati.



e. Hyperlink (terjalin dalam sekejap)



Seperti halnya CD-ROM Multimedia, informasi dalam internet



lazimnya tersajikan dalam bentuk hyperlink, ini berarti bahwa para



pengunjung dapat meloncat dari satu informasi ke informasi lainnya



yang mempunyai kaitan lanngsung maupun tidak langsung, hanya



denga satu kali klik tombol mouse.



f. No License Required (tak perlu izin)



Untuk dapat menayangkan informasi dalam internet, tidak memerlukan



surat izin (SIUPP) terlebih dahulu, namun hal ini tidak berarti bahwa



penerbitan pers akan menjadi liar dan tidak dapat ditertibkan lagi.

44









g. No Censorship (tanpa sensor)



Pada saat ini dapat dikatakan bahwa tidak ada satupun badan didunia



yang berwenang resmi untuk menyensor, apalagi membredel informasi



dalam internet. Kebebasan untuk berbicara, berekspresi, dan berkabar



(freedom of speech, expression and the press) telah mengakar kuat



dalam masyarakat internet.







2. Sejarah Internet



Sejarah penemuan teknologi internet bermula dari negara Amerika Serikat,



sejarah internet ini mengalami perkembangan dan membutuhkan waktu cukup



panjang. Deskripsi pertama yang terekam secara tertulis mengenai interaksi



sosial yang mungkin terjadi melalui sebuah jaringan adalah sebuah buku



berjudul Series of Memos yang ditulis oleh J.C.R Licklider dari MIT Agustus



1962 mengulas mengenai konsepnya tentang “Galatic Network”. Beliau



memimpikan sebuah jaringan global terkoneksi dengan menggunakan



komputer, sehingga memungkinkan setiap orang dengan mudah dapat



mengakses data dan program dari sebuah site. Saat ini konsep ini sangat mirip



dengan fungsi internet sekarang35.



Pengembangan internet pada awalnya dimaksudkan untuk kepentingan



militer dan penelitian-penelitian yang dilakukan oleh The Advanced Research



Projects Agency (ARPA) bekerjasama dengan United States Department of



Defence pada tahun 1960-an dilakukan hanya sebatas menemukan cara terbaik





35

Ibid, hal 11.

45









untuk menghubungkan berbagai jaringan komputer yang ada di Amerika



Serikat. Melalui penelitian ini pula, pada tahun 1970 terciptalah jaringan



pertama di Amerika Serikat dengan nama ARPAnet yang menghubungkan



empat universitas di Amerika Serikat yaitu University of California at Los



Angeles, University of California at Santa Barbara, Stanford University, dan



University of Utah in Salt Lake City. Dalam perkembangan berikutnya



timbulah ide untuk mengembangkankan internet untuk tujuan komersil,



komersialisasi internet dimulai pada tahun 1990 dengan pencabutan peraturan



yang mensyaratkan bahwa untuk menjadi anggota internet harus mendapat



sponsor dari salah satu US Government Agency. Pencabuatan peraturan



dilakukan oleh Federal Networking Council yaitu suatu Dewan yang



bertanggungjawab atas pengembangan internet di Amerika Serikat36.



Pada bulan Oktober 1972, Bob Khan mengorganisir sebuah demontrasi



ARPAnet yang cukup besar dan sukses di International Computer



Communication Conference (ICCC), ini adalah tampilan demo publik pertama



dari teknologi baru kepada publik. Begitu juga di tahun 1972, aplikasi



terpanas electronic mail diperkenalkan, pada bulan Maret Ray Tomlison dari



Bolt Beranek and Newman (BBN) membuat software dasar untuk penulisan,



pengiriman dan pembaca pesan e-mail, bulan Juli Roberts memperluas



kemampuan software ini dengan menciptakan program e-mail pertama yang



dapat dipakai untuk mendaftar, menyeleksi, membuat file, forward dan respon









36

Sabartua Tampubolon, Aspek Hukum Nama Domain Di Internet, Jakarta: Tatanusa, 2003,

hal 1.

46









atas pesan e-mail. Sejak inilah internet terus berkembang seiring dengan



penemuan-penemuan aplikasi barunya37.



Perhatian terhadap internet pada tahun-tahun selanjutnya semakin besar,



hal ini terbukti dari berbagai organisasi baru yang didirikan. Pada tahun 1979,



diadakan pertemuan antara University of Wisconsin, Defense Advanced



Research Project Agency (DARPA), National Science Foundation (NSF) dan



ahli-ahli komputer dari banyak universitas untuk mendirikan Computer



Science Research yang diorganisasikan oleh Larry Landweber. USENET juga



didirikan dengan menggunakan UUCP antara Duke dan UNC oleh Tom



Truscott, Jim Ellis dan Steve Bellovin. Semua kelompok asli USENET



dibawah hierarki .net. ARPA juga mendirikan Internet Configuration Control



Board (ICCB). Perkembangan software yang dipakai dalam internet juga terus



berlanjut dengan diperkenalkannya Gopher oleh Paul Linder dan Mark P.



McCahill dari University of Minnesota tahun 1991. Masih ditahun yang sama



World-Wide Web (WWW) juga diperkenalkan oleh CERN dimana Tim



Berners-LEE sebagai pengembangnya. Sementara itu lalu lintas yang terjadi di



NSFNET pada tahun ini mencapai 1 (satu) triliun bytes/tahun dan 10



(sepuluh) bilion packet/bulan38.









37

Budi Agus Riswandi, Hukum Dan Internet Di Indonesia, Yogyakarta: UII Press, 2003, hal

12.

38

Agus Raharjo, Op. Cit, hal 71.

47









3. Fasilitas-Fasilitas Dalam Internet



Internet merupakan media komunikasi dan informasi yang mudah untuk



diakses oleh semua orang, kemudahan yang diberikan oleh internet



diantaranya karena adanya fasilitas-fasilitas yang diberikan, berupa E-mail,



Telnet dan File Transfer Protocol (FTP) sebagai program dalam internet,



Hytelnet, Archie, WAIS, Veronica, Jughead, Finger, Whois, Knowbot, dan



Fred yang dapat dipakai untuk mencari file dan orang. Selain itu da pula



Gopher dan World Wide Web sebagai alat-alat penjelajah dan Newsgroup,



Mailing List dan Internet Relay Chat dan Voice Over Internet Ptotocol (VoIP)



sebagai aplikasi interaktif di internet.



Penemuan Video Camera membuka suatu wahana baru dalam sistem



berkomunikasi melalui internet, komunikasi menjadi lebih interaktif apalagi



bila didukung oleh Voice over Internet Protocol (VoIP). VoIP merupakan jasa



telekomunikasi yang memungkinkan seseorang melakukan percakapan



langsung atau menghubungkan pengguna telepon suara melalui internet



dengan biaya yang sangat murah karena dihitung dengan pulsa lokal. Jika



chatting memungkinkan seseorang melakukan percakapan dengan lawan



bicaranya hanya melalui tulisan dan simbol-simbol yang dituliskan dalam



bentuk teks, maka VoIP dan web camera memungkinkan sesorang untuk



melakukan percakapan dengan melihat gambar atau wajah (atau anggota tubuh



lainnya) lawan bicaranya sekaligus mendengar suaranya.

48









Tidak hanya penyelenggara jasa layanan internet Internet Service Provider



(ISP) yang terpengaruh dengan perkembangan VoIP, tetapi juga penyeleggara



sambungan langsung internasional. Ada beberapa teknologi VoIP yang dapat



dipakai untuk melakukan komunikasi dengan orang lain. Tidak semua



teknologi yang digunakan untuk VoIP itu diperbolehkan, karena ada beberapa



teknik VoIP yang dilarang.



Terdapat 2 (dua) teknik VoIP yang tidak dilarang, yaitu :



a. Personal Computer (PC) to Personal Computer (PC) tanpa



menghubungi nomor telepon tertentu, dan;



b. Personal Computer (PC) to Phone atau dengan menghubungi nomor



tertentu.



Teknik VoIP yang dilarang adalah Telepon via Internet Protocol (IP)



Provider (dengan menghungkan nomor telepon tertentu). Konvigurasi telepon



via Internet Protocol (IP) Provider dilarang karena melakukan sambungan



singkat (by pass) terhadap penyelenggara sambungan langsung internasional



secara ilegal.







C. Desain Website



1. Definisi dan Ruang Lingkup Desain Website



Perubahan konsep dasar penggunaan internet yang semula hanya berfungsi



sebagai alat komunikasi berupa pentransferan data elektronik, menjadi sebuah



dunia industri, hal ini diperkuat dengan dipergunakannya internet sebagai



sarana dalam pemasaran hasil produksi barang dan jasa.

49









Internet yang digunakan sebagai sarana dalam lalu lintas perdagangan



mendorong perusahaan-perusahaan untuk membuat suatu situs (site), dengan



adanya situs ini mempermudah akses bagi konsumen dalam melakukan



transaksi perdagangan dengan perusahaan. Selain digunakan oleh perusahaan



dalam kegiatan perekonomian internet juga dipergunakan secara luas oleh



lembaga-lembaga pemerintahan serta oleh kantor-kantor pelayanan publik,



seperti kantor berita baik itu media cetak maupun media elektronik.



Website adalah kumpulan dari web pages mengenai hal atau organisasi



tertentu. Sedangkan web pages adalah tampilan sebuah halaman di internet



yang memiliki alamat tertentu, dimana alamat itu tidak ada yang sama antara



satu dengan yang lainnya.



Pembuatan suatu situs (website) dalam internet, memerlukan suatu



perencanaan, baik dalam bentuk penamaan maupun pendesainannya. Hal ini



dilakukan agar situs-situs tersebut dapat menarik konsumen, dan memberikan



kemudahan akses bagi konsumen.



Pendesainan website menggunakan beberapa program komputer



(software), program komputer yang digunakan dalam pendesainan website



biasa disebut sebagai script. Script dapat didefinisikan sebagai rangkaian dari



beberapa instuksi program. Pembuatan desain suatu homepage yang merupaka



tampilan awal dari website biasanya para desainer menggunakan software



yang berfungsi sebagai tampilan sementara atau dalam membuat layout



homepage, software ini adalah39:





39

www.isnaini.com, down load pada tangggal 10 Maret 2006 pukul 20.25 WIB.

50









a. Adobe Photoshope (desain berbasis titik atau bitmap).



b. Adobe Image Ready (memotong gambar kedalam format Hyper Text



Markup Language /HTML).



c. Adobe Illustrator (desain berbasis vektor).



d. CorelDraw (desain berbasis vektor).



e. Macromedia Freehand (desain berbasis vektor).



Untuk menghidupkan desain yang telah dirancang, seperti menambah efek



cahaya, tekstur dan manipulasi teks, software yang sering digunakan adalah40:



a. Macromedia Firework, yaitu program untuk membuat efek teks.



b. Painter, yaitu program untuk memberikan efek lukisan.



c. Ulead Photo Impact, yaitu program untuk membuat efek frame dan



merancang icon yang cantik.



d. Plugins Photoshop, yang terdiri dari program Andromeda, Alien Skin,



Eye Candy, Kai’s Power Tool dan Xenofex yang sangat mendukung



untuk memberi efek desain sewaktu mendesain layout homepage di



Photoshop.



Untuk membuat homepage agar kelihatan lebih menarik dan hidup maka



digunakan software pembuatan animasi, beberapa software yang biasa



digunakan adalah41:



a. 3D Studio Max, yaitu program untuk membuat objek dan animasi 3D.



b. Gif Construction Set, yaitu program untuk membuat animasi file gif.









40

Ibid.

41

Ibid.

51









c. Macromedia Flash, yaitu program untuk menampilkan animasi



berbasis vektor yang berukuran kecil.



d. Microsoft Gif Animator, yaitu program untuk membuat animasi file



gif.



e. Swift 3D, yaitu program untuk merancang animasi 3D dengan format



file FLASH.



f. Swish, yaitu program untuk membuat berbagai macam efek text



dengan format file FLASH.



g. Ulead Cool 3D, yaitu program untuk membuat animasi efek 3D.



Setelah melakukan penambahan-penambahan dalam tampilan maka untuk



menyatukan keseluruhan gambar dan tata letak desain, animasi dan mengisi



halaman web dengan teks dan menggunakan sedikit bahasa script, digunakan



software web editor yang antara lain42:



a. Alaire Homesite, yaitu program web editor dalam format Hypertext



Markup Language/HTML editor yang berfungsi untuk mengatur dan



melakukan up load website.



b. Cold Fusion, yaitu program aplikasi website untuk merancang dan



membentuk website menjadi labih dinamis.



c. Microsoft Frontpage, yaitu program web editor dalam format HTML



yang digunakan dalam sistem operasi windows.



d. Macromedia Dreamweaver, yaitu program web editor yang dapat



menyembunyikan detail format HTML suatu website dari pihak yang





42

Ibid.

52









mengakses website dan mempermudah desainer website dalam



memilih web browser yang akan digunakan dalam melakukan up load.



e. Net Object Fusion, yaitu program aplikasi website untuk membuat



website menjadi lebih dinamis.



Langkah terakhir dalam mendesain website adalah programming,



software-software programming yang mempunyai fungsi sebagai akses



database, form isian dan membuat web lebih interaktif, seperti membuat



guestbook, form isian, forum, chatting, portal, lelang dan iklan baris. Beberapa



software programming yang dimaksud adalah43:



a. ASP (Active Server Page), yaitu program server yang dipergunakan



untuk membentuk halaman website menjadi lebih dinamis.



b. Borland Delphy, yaitu program aplikasi website yang mempunyai



fungsi untuk mengakses database.



c. CGI (Common Gateway Interface), yaitu program yang berfungsi



sebagai perantara antara web server dengan aplikasi website.



d. PHP(Personal Home Page), yaitu program yang berfungsi sebagai



penghubung website dengan web server.



e. Perl (Practical Extraction and Report Language), yaitu program yang



berfungsi menterjemahkan format program dalam bentuk kode dan



melakukan pengetikan data secara otomatis serta melakukan



managemen penyimpanan data.









43

www.Sony-Ak.com, download pada tanggal 13 Maret 2006 pukul 23.38 WIB.

53









Desain website pada umumnya merupakan program yang berbentuk teks



editor atau biasa disebut sebagai Hyper Text Markup Language (HTML),



adapun pengertian dari dokumen HTML adalah44 :



a. File teks murni yang dapat dibuat dengan editor teks sembarang,



dokumen ini dikenal sebagai webpage.



b. Dokumen yang disajikan dalam browser websurfer.



c. Dokumen yang bersisi informasi ataupun interface aplikasi didalam



internet.



Penggunaan internet tentu tidak terlepas dari perangkat-perangkat yang



mendukung kinerja suatu web browser. Salah satu perangkat yang lazim



digunakan dalam membuka suatu alamat situs (website) adalah program



Universal Resource Locator (URL). Program ini merupakan program pencari



alamat situs (website) yang menggunakan file standar yang diperluas dengan



jaringannya dan tidak hanya menampilkan nama file tetapi juga nama mesin



dalam jaringan.



Terdapat beberapa teknik yang dapat dipakai dalam mendesain website, 3



(tiga) agar tampil menarik, cantik dan apik, yaitu45 :



a. Teknik disain es (ice design technic)



Es berarti suatu zat beku yang solid dan telah dibentuk sesuai dengan



keinginan pembuatnya. Dalam dunia web, ini berarti desain tampilan



homepage atau website sifatnya adalah fixed sized, artinya adalah



ukuran elemen-elemen webnya telah ditetapkan oleh web desainernya.



44

Betha et all, Pemrograman Web Dengan HTML, Bandung: Informatika, 2002, hal 9.

45

www.Sony-Ak.com, down load pada tanggal 13 Maret 2006 pukul 23.38 WIB.

54









b. Teknik disain air (water design technic)



Ibaratnya suatu zat cair akan berubah bentuk sesuai dengan wadahnya.



Dalam web ini berarti desain website akan bersifat fleksibel sekali.



Contoh teknik ini adalah ditandai dengan penggunaan angka



persentase pada sebagian elemen tag website.



c. Teknik disain jelly (jelly design technic)



Teknik ini adalah gabungan dari kedua teknik diatas, air dan es. Jelly



adalah sebuah substansi yang tidak bisa dibilang cair atau dibilang



padat.



Selain teknik dalam mendesain website diperlukan juga beberapa aspek



dan prinsip, hal ini diperlukan agar dalam pendesainan website dapat menjadi



lebih baik, beberapa hal yang harus diperhatikan seorang desainer dalam



mendesain website adalah46:



a. Unik



Dalam membuat karya apapun seorang desainer harus mempunyai



kesadaran untuk tidak meniru atau menggunakan karya orang lain,



begitupun seorang web desainer harus mempunyai budaya malu untuk



menggunakan icon, animasi, button, dan lain-lain, yang telah



digunakan atau dibuat oleh orang lain.



b. Komposisi



Seorang web desainer selalu memperhatikan komposisi warna yang



akan dipergunakan dalam website yang dibuatnya. Dalam membangun





46

www.Sony-Ak.com, down load pada tanggal 13 Maret 2006 pukul 23.38 WIB.

55









website suatu perusahaan, web desainer selalu menyesuaikan warna



yang digunakan dengan Corporate Color perusahaan tersebut, sebagai



contoh: Telkom Corporate Color-nya adalah biru, Coca Cola



warnanya merah, dan lain-lain.



c. Simple



Web desainer banyak yang menggunakan prinsip “Keep it Simple”,



artinya dalam mendesain website sebaiknya dibuat sesederhana



mungkin. hal ini ditujukan agar tampilan website terlihat rapih, bersih



dan juga inovatif.



d. Semiotik



Semiotik adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda-tanda47.



Penggunaan konsep ini bertujuan agar pengguna (user/audience)



diharapkan dapat dengan mudah dan cepat mengerti hanya dengan



melihat tanda atau gambar.



e. Ergonomis



Web desainer selalu memperhatikan aspek ergonomis, artinya aspek



yang mengutamakan kenyamanan user dalam membaca dan kecepatan



user dalam menelusuri website tersebut. Untuk mewujudkan hal ini



biasanya desainer website menggunakan font atau jenis huruf yang



tepat agar mudah dibaca.









47

Alex Sobur, Analisis Teks Media Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis

Semiotik, dan Analisis Framing, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002, hal 96.

56









f. Fokus



Tentukan hirarki prioritas dari pesan yang akan disampaikan, misalnya



judul harus benar, tetapi akhirnya jangan konflik dengan subjudul yang



berukuran hampir sama, hal ini akan membingungkan user/audience



untuk menentukan pesan mana yang harus lebih dahulu dibaca atau



dilihat.



g. Konsisten



Tentukan font atau jenis huruf apa yang akan digunakan sebagai body-



text, judul, subjudul dan sebagainya, sehingga website tersebut akan



terlihat disiplin dan rapi.







2. Prosedur Perizinan Pendaftaran Website



Setelah dilakukan pendesainan website sudah barang tentu hal terakhir



yang dilakukan adalah mendaftarkan website tersebut. Beberapa langkah yang



dilakukan dalam mendaftarkan suatu website, langkah tersebut adalah48:



a. Mencari webhost



Sebuah webhost adalah tempat meletakan web, sekarang ini ada begitu



banyak penyedia jasa layanan webhosting, mulai dari yang



memberikan jasa secara gratis, hingga yang bersifat komersil.



Webhosting yang bersifat gratis lebih cocok untuk sebuah website



pribadi, sehingga tidak perlu membayar untuk memasang website



pribadi, biasanya untuk layanan webhosting yang bersifat gratis,





48

Frans, Membuat Web Dinamis dan Interaktif dengan CGI, Yogyakarta: Andi, 2002, hal 253.

57









pemilik webhosting tersebut akan menampilkan sejumlah iklan,



sehingga website pribadi akan tampil dengan sejumlah iklan milik



penyedia jasa layanan webhosting.



Untuk website perusahaan, sebaiknya memilih webhosting yang



bersifat komersil, dengan menggunakan webhosting yang bersifat



komersil memang harus mengeluarkan biaya untuk proses



pendaftarannya, akan tetapi website yang didaftarkan tidak akan



terganggu oleh sejumlah iklan milik penyedia jasa layanan webhosting.



Langkah yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah mencari tahu



apakah webhost yang dipilih mendukung server-side script website



yang akan didaftarkan, hal ini dilakukan karena ada beberapa webhost



yang tidak mendukung bentuk script dari program website yang



hendak didaftarkan, misalkan website yang akan didaftarkan program



dasarnya adalah Common Gateway Interface (CGI). terdapat beberapa



webhost yang tidak mengijinkan akses ke direktori CGI-bin, beberapa



webhost yang mendukung CGI bisa dicari melalui mesin-mesin



pencari seperti49:



1) http://www.altavista.com.



2) http://www.yahoo.com.



3) http://www.google.com.



4) http://www.Hypermart.com.









49

Ibid, hal 254.

58









Adapun webhost yang tidak mendukung program script CGI,



diantaranya adalah:



1) http://www.Angelfire.com.



2) http://www.FSN.com.



3) http://www.FortuneCity.com.



4) http://www.FreeServers.com.



5) http://www.Goecities.com.



6) http://www.GurlPage.com.



7) http://www.HomePage.com.



8) http://www.InternetClub.com.



9) http://www.Nettaxi.com.



10) http://www.Webjump.com.



11) http://www.Xoom.com.



Setelah memperoleh webhost, biasanya pihak webhost akan



memberikan nama login dan password, sehingga bisa masuk ke



direktori website yang didaftarkan dengan menggunakan File Transper



Protocol (FTP) client seperti LeechFTP, Windows Commander,



ataupun program lain. Sebelum mengisikan nama login dan password,



terlebih dahulu harus mengisikan Universal Resource Locator (URL)



webhost, setelah hal tersebut dilakukan selanjutnya mengisikan nama



login dan password website yang didaftarkan, selanjutnya pihak



pendaftar website dapat masuk ke direktori website yang



didaftarkannya.

59









Beberapa penyedia jasa layanan webhosting hanya memberikan akses



melalui FrontPage Editor, pihak yang mendaftarkan website tidak



diijinkan masuk melalui FTP, hanya diijinkan mengedit website yang



didaftarkan melalui FrontPage Editor, webhost seperti ini sebaiknya



dihindari karena biasanya tidak mendukung server-side script dari



website yang didaftarkan.



b. Meng-Upload File Hyper Text Markup Language (HTML)



File HTML harus di upload ke webhost tersebut dengan menggunakan



FTP client, pihak yang mendaftar website harus meletakkannya di



direktori root HTML. Webhost yang ada pada umumnya memiliki



direktori root HTML yang berbeda, untuk mengetahuinya pihak yang



mendaftarkan website dapat menanyakan hal tersebut kepada



webmaster dari penyedia layanan webhosting tersebut, dengan cara



mengirim e-mail pada webmaster dari penyedia layanan webhosting



yang dimaksud, biasanya alamat e-mail dari webmaster tercantum di



website milik webhost yang dimaksud. Untuk meng-apload file



HTML, pihak yang mendaftarkan website tidak perlu melakukan apa-



apa, tinggal meng-upload saja, setelah selesai pihak yang



mendaftarkan website sudah bisa membuka website yang didaftarkan.



Demikianlah langkah-langkah yang biasa dilakukan dalam mendaftarkan



suatu website, baik itu website pribadi, website suatu perusahaan serta website



milik instansi pemerintah.


Related docs
Other docs by HC111116084755
Programa Letras - CERLALC
Views: 1  |  Downloads: 0
atualiz manual 10
Views: 3  |  Downloads: 0
NCM
Views: 264  |  Downloads: 0
Chapter 8 Solutions
Views: 6  |  Downloads: 0
Clostridium difficile: An overview
Views: 2  |  Downloads: 0
Q U A L I P E D
Views: 5  |  Downloads: 0
LEVE LEITE 2.RTF
Views: 193  |  Downloads: 0
PowerPoint Presentation
Views: 16  |  Downloads: 0
ts810080206
Views: 0  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!