Embed
Email

Bagian Pertama

Document Sample

Shared by: linzhengnd
Categories
Tags
Stats
views:
3
posted:
11/15/2011
language:
Indonesian
pages:
70
BAB II



IMAN

DAN KONSEKUENSINYA









PANDUAN NORMATIF



1. QS. Al-Kahfi [18] Ayat 27 – 30 :

48 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





   

   

   

   

  

  

 



 

   

  

 

    

  

 

  

  

    

  

   

 

  

  

 

 

   

 

  

 

 

    

   

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 49





(27) Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab

Tuhanmu (al Quran). tidak ada (seorangpun) yang dapat merobah

kalimat-kalimat-Nya. dan kamu tidak akan dapat menemukan

tempat berlindung selain dari padanya.

(28) Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang

menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap

keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka

(karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu

mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati

kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu

melewati batas.

(29) Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka

barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia

beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia

kafir". Sesungguhnya kami telah sediakan bagi orang orang zalim

itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka

meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air

seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah

minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

(30) Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah kami

tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan

amalan(nya) dengan yang baik.



2. QS. Al-’Ashr [103] Ayat 1 – 3:

  

   

  

 

 

 



50 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





(1) Demi masa,

(2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian;

(3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan

nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat

menasihati supaya menetapi kesabaran.









KAJIAN INTERPRETATIF



A. Kajian Umum

Dalam Islam, iman merupakan persoalan pokok dan

mendasar, karena adanya iman atau ketiadaannya (kufur) dalam diri

seseorang akan berpengaruh terhadap situasi kejiwaannya, dan

situasi kejiwaan itu akan berpengaruh terhadap perilaku dan

perbuatannya. Pada dasarnya Islam mengakui bahwa masalah iman

dan kufur merupakan hak asasi tiap individu, apakah dia mau

beriman atau mau kafir. Kemahabesaran dan kemahasempurnaan

Allah pada hakikatnya tidak terpengaruh dengan keimanan atau

kekufuran hamba-Nya. Keimanan seseorang tidak akan menambah

apapun pada kebesaran-Nya, sebagaimana kekufurannya tidak akan

mengurangi apapun dari kebesaran-Nya. Dia mampu menciptakan

makhluk yang beriman semua dan taat secara total seperti malaikat,

sebagaimana Dia kuasa menciptakan makhluk yang kemudian

mengambil dan menjalani takdirnya menjadi kafir selamanya dan

durhaka secara total seperti Iblis.

Adapun manusia telah ditakdirkan-Nya memiliki kebebasan

berkehendak dan kemampuan berikhtiar (memilih) untuk menjadi

mukmin atau kafir. Tiap manusia dibekali dengan dua pembawaan

dan potensi yang kontradiktif, yakni: (1) fitrah dan potensi

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 51





ketakwaan, yang dengannya ia memiliki kecenderungan mengikuti

kebenaran dan memiliki jalan petunjuk, dan (2) hawa nafsu dan

potensi kefasikan, yang dengannya ia memiliki kecenderungan

mengikuti kebatilan dan memilih jalan sesat. Namun kasih sayang

dan limpahan karunia Allah terhadap umat manusia yang telah Dia

takdirkan menjadi khalifah di bumi, kehendak-Nya agar bumi

dipusakai oleh hamba-hamba yang saleh1, dan kemahatahuan-Nya

akan permusuhan abadi dan tipu daya dahsyat dari Iblis dan setan

terhadap mereka, membuat-Nya tidak memberikan kebebasan itu

secara mutlak, melainkan kebebasan yang di dalamnya ada rambu-

rambu petunjuk2 serta pilihan yang di dalamnya ada

pertanggungjawaban, konsekuensi dan balasan.

Memang, jika firman Allah dalam QS. Al-Kahfi [18] ayat 29

di atas dipotong dan dicuplik di tengahnya saja yakni pada

statemen "Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman,

dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir"3 dengan



1 Lihat: QS. Al-Anbiyã' [21]: 105.

2 Yakni rambu-rambu yang menunjukkan adanya 2 jalan, jalan kebajikan

dan jalan kesesatan, sebagaimana firman-Nya (y.a.): "Dan Kami telah menunjukkan

kepadanya dua jalan." (QS. Al-Balad [90]: 10).

‫َّٓ ش ء فٍ ؤِٓ وِٓ ش ء فٍُىفش‬

3 Teks ayat: “…ِ ُ ْ َْ َ َ ‫ ”…ف َ ِ َب َ َ ُْ ِ ِ ِ َ َ ِ َب‬Menurut al-Mãturĩdĩ (Ta'wĩl



Ahl as-Sunnah, VII/166), firman Allah tersebut memiliki 3 alternatif makna,

yakni: (1) Sesungguhnya seseorang itu beramal untuk dirinya sendiri bukan

beramal untuk orang lain. (2) (Nabi saw diperintah untuk menyatakan):

"Sesungguhnya aku telah menyampaikan risalah (Islam) kepada kalian. Maka aku

dan siapa pun selainku tidak akan memaksa kalian untuk (menerima Islam).

Barangsiapa di antara kalian berkeinginan hendaklah ia beriman, dan barangsiapa

berkeinginan terserahlah ia kafir. Sesungguhnya seseorang itu beriman

berdasarkan pilihan dan kehendaknya, dan barangsiapa kafir maka ia pun kafir

berdasarkan pilihan dan kehendaknya, ia tidak dipaksa untuk (melakukan) itu."

(3) Sesungguhnya masalah iman dan kufur itu telah diterangkan oleh Allah

akibat-akibatnya, apa akibat orang yang beriman dan apa akibat orang yang kafir,

yakni surga dan kenikmatan di dalamnya (bagi yang beriman) dan neraka dengan

berbagai azabnya (bagi yang kafir).

52 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





mengabaikan rangkaian sebelumnya dan tidak melihat kelanjutan

ayatnya, maka seolah-olah Allah swt memberikan kebebasan

sepenuhnya kepada manusia untuk beriman atau kafir dalam posisi

yang sama. Namun jika diamati secara teliti, dipahami secara

objektif, direnungkan secara jernih, dan dikaji secara komprehensif,

maka akan ditemukan bahwa makna ayat tersebut bukanlah dalam

konteks memberikan kebebasan secara mutlak terhadap umat

manusia untuk beriman atau kafir, melainkan dalam konteks

tahapan dakwah Nabi saw yang penuh tantangan serta banyak

mendapatkan gangguan dan ejekan dari orang-orang kafir lantaran

pada saat itu kebanyakan pengikut Nabi saw berasal dari kalangan

fakir dan miskin. Maksud diturunkannya QS. Al-Kahfi [18] Ayat

27-314 adalah untuk memberikan dukungan moril kepada Nabi saw

dan mengokohkan jiwanya agar tetap melanjutkan misi dakwahnya,

tidak perlu tersinggung dan marah terhadap cemoohan orang-

orang kafir, konsisten mengajarkan ayat-ayat yang diwahyukan, dan

bersikap sabar bersama orang-orang mukmin yang mayoritas fakir

dan miskin itu. Nabi saw juga diperintahkan untuk bersikap tegas

terhadap orang-orang kafir dengan menyatakan bahwa risalah yang



4 Diriwayatkan dari Salmãn Al-Fãrisĩ, ia berkata: Telah datang kepada



Rasulullah saw orang-orang yang tertarik kepada Islam, yakni ’Uyainah bin

Ħishn, Al-Aqra’ bin Ħabis dan rombongannya. Mereka bekata: "Wahai

Rasulullah, sesungguhnya jika engkau duduk di depan majlis ini dan engkau singkirkan

mereka beserta jubah-jubah kunonya, maka kami akan duduk menghadapmu, berbincang

denganmu, dan belajar darimu." Orang-orang yang mereka minta untuk disingkirkan

dari majlis itu adalah Salmãn Al-Fãrisĩ, Abũ Dzarr, dan orang-orang fakir di

kalangan shahabat Nabi. (Lihat: Al-Wãħidĩ, Asbãb an-Nuzũl, h. 155-156). Maka

turunlah ayat-ayat tersebut (ayat 27-29) untuk mengingatkan Nabi saw agar tidak

terpancing, terpengaruh atau meladeni orang-orang sombong itu, serta agar

membiarkan dan tidak memedulikan mereka, apakah mau beriman ataukah mau

kafir. Jadi, hal itu sama sekali bukan dimaksudkan memberikan kebebasan

mutlak untuk beriman atau kafir sebagaimana kesalah pahaman sebagian orang,

melainkan lebih dimaksudkan sebagai pembiaran sekaligus celaan (tawbĩkh,

reprehension) atas perilaku buruk mereka.

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 53





diembannya adalah benar dan kebenaran itu bersumber dari Allah

swt, maka terserah kepada mereka mau beriman atau tetap dalam

kekafiran dengan segala konsekuensinya. Jika mereka tetap kukuh

dalam kekafirannya dan terus berbuat kezaliman, maka kelak

mereka akan dinistakan dengan neraka dan siksaan yang tiada

terperi pedihnya. Tetapi jika mereka mau mengoreksi

kekeliruannya, menyadari kesesatannya, kemudian mau beriman

dan beramal saleh, maka mereka kelak akan dimuliakan dengan

surga dan kebahagiaan yang tiada tara nikmatnya.

Dengan demikian jelaslah bahwa iman adalah satu pilihan

yang dikehendaki Allah swt untuk diambil oleh manusia. Iman

merupakan modal dasar yang kemudian dikembangkan dalam

bentuk amal saleh sebagai konsekuensinya dan diaktualisasikan

dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Iman dan amal saleh

merupakan dua hal yang bersifat integral. Dalam Al-Qur'an,

integrasi antara iman dan amal saleh mendapatkan perhatian besar

dan serius yang terlihat dalam penggunaan keduanya secara

berpasangan dalam banyak ayat.5 Perhatian yang begitu besar

terhadap integrasi iman dan amal saleh tersebut karena keduanya

memiliki peran besar dalam menghindarkan atau mengentaskan

manusia dari kerugian dan kecelakaan dari masa ke masa6 serta

menghantarkan mereka untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat.

Iman berperan dalam memperkokoh kepribadian manusia dan

memperjelas orientasi kehidupannya, sehingga ia tidak mudah



5 Dalam Al-Qur'an, iman dan amal shaleh dituturkan secara berangkai

tidak kurang dari 68 kali. Lihat: ’Abd al-Bãqĩ, Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfãzh al-

Qur'ãn al-Karĩm, h. 483-486.

6 Sebagai jalan keluar (solusi) dari kerugian. Dalam QS. Al-’Ashr di atas



solusi tersebut akan lebih sempurna, jika iman dan amal shaleh itu bisa

melahirkan kepedulian dan kepekaan sosial, serta interaksi sosial yang positif dan

mendidik, yang antara lain direalisasikan melalui saling berpesan dengan

kebenaran dan kesabaran.

54 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





terombang-ambing oleh ombak zaman dan tidak gampang goyah

oleh badai masa. Sedangkan amal saleh berperan dalam

memperkuat eksistensi manusia baik dalam pandangan sesama

maupun dalam penilaian Allah swt, dan mempertegas nilai guna

dirinya baik bagi diri sendiri, orang lain maupun alam sekitar.



B. Pengertian dan Hakikat Iman

Kata ĩmãn diderivasi dari ãmana-yu'minu yang berarti: (1)

memberikan rasa aman dan tenang, (2) memiliki keamanan dan

ketenangan, dan (3) yakin, penuh kepercayaan, membenarkan.

Secara etimologi, ĩmãn berarti percaya sepenuhnya atau keyakinan

bulat. Misalnya, jika seseorang mempercayai sebuah kebenaran

secara bulat, berarti ia mengimani kebenaran itu. Iman berarti

mempercayai bulat-bulat suatu gagasan, doktrin, ideologi,

seseorang, dan sebagainya. Lawan dari iman bisa berupa ragu-ragu

(syakk) atau ingkar (kufr).

Di dalam Al-Qur'an, kata ĩmãn memiliki beberapa pengertian

sesuai konteks penggunaannya, di antaranya adalah:

1. Keyakinan atau kepercayaan dalam hati, seperti makna

iman dalam firman Allah swt:

  

   

  

 

  

 ...   

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman".

Katakanlah (hai Muhammad): "Kalian belum beriman, akan tapi

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 55





berucaplah kalian: "Kami telah tunduk", karena iman itu belum masuk

ke dalam hati kalian.” (QS. Al-Ħujurãt [49]: 14).7

2. Tauhid (monotheism) sebagai lawan dari syirik (polytheism),

seperti firman-Nya:

 

 

   

   

  

 

  

  

  

  ... 

“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka

beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari

wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu

menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin)

sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik

dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (QS. Al-

Baqarah [2]: 221).

3. Peribadatan, yang di dalamnya terkandung 3 unsur sekaligus,

yakni keyakinan bulat, ucapan yang benar, dan amal saleh.

Misalnya, iman dimaknakan shalat8 dalam firman-Nya:

   ...

   



7 Lihat juga QS. An-Naħl [16]: 106; Al-Ħujurãt [49]: 7; Al-Mujãdalah

[58]: 22.

8 Altunjĩ, Al-Mu’jam al-Mufashshal fĩ Tafsĩr Gharĩb al-Qur'ãn al-Karĩm, h. 43;



dan Al-Ashfahãnĩ, Mu’jam Mufradãt Alfãzh al-Qur'ãn, h. 34.

56 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





  

  

“...Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya

Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (QS.

Al-Baqarah [2]: 143).

4. Syari'at Islam. Dalam konteks ini, iman dipasangkan dengan

antonimnya yakni kufur (syari'at non-Islam), dan mukmin

(penganut agama Islam) dipasangkan dengan kafir (penganut

agama non-Islam) seperti disebut dalam firman-Nya:

  

 

  

  

   

“Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran,

sekali-kali mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah

sedikitpun; dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS. Ãli ’Imrãn [3]:

177).

   



  

  ... 

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi

wali (pengelola urusan) dengan meninggalkan orang-orang mukmin.”

(QS. Ãli ’Imrãn [3]: 28).

Ayat-ayat di atas menunjukkan adanya kecermatan yang luar

biasa dari Yang Maha Cermat (Al-Khabĩr) dalam menerapkan iman

sesuai konteksnya, menyelami jiwa sesuai keadaannya, mengamati

kepribadian sesuai karakternya, dan melihat perilaku berdasarkan

kondisi jiwanya. Iman dalam sebuah konteks dimaksudkan secara

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 57





minimal sesuai makna hakikinya (keyakinan yang bulat dan benar

dalam hati), dan dalam konteks lain dimaksudkan secara maksimal

sebagai satu kesatuan antara keyakinan yang bulat, ucapan yang

benar, dan perbuatan yang baik. Iman dalam konteks yang relatif

terbatas dan simpel dimaksudkan sebagai sebuah paham

(monoteisme), dan dalam konteks yang sempurna dan kompleks

dimaksudkan sebagai sebuah sistem ajaran (syari'at Islam).

Allah swt memandang keyakinan seseorang sebagai pangkal

dan titik tolak dari ucapan, perilaku dan perbuatannya. Mengapa

Allah swt selalu menyeru pengikut para rasul dengan ungkapan "Yã

ayyuhal-ladzĩna ãmanũ"9 bukan dengan "Yã ayyuhal-ladzĩna aslamũ"10.

Hal itu mengandung maksud-maksud sebagai berikut:

1. Mendidik orang-orang muslim agar segala ucapan, perilaku dan

perbuatannya dilandasi dengan keimanan sehingga bernilai

sebagai amal saleh yang berpahala di sisi Allah swt, sekaligus

memotivasi mereka agar selalu mengevaluasi kualitas

keimanannya dan menyuburkannya dengan amal saleh.

2. Memberikan identitas atau "stempel" kepada para pengikut

Rasulullah saw dengan perkara yang prinsipil dan subtantif yaitu

keimanan, dengan maksud menyapa dan menyeru orang-orang

yang memeluk Islam secara lahir dan batin, guna membedakan

mereka dengan orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Hal

itu karena orang-orang munafik yang telah mengucapkan

syahadat juga termasuk umat Islam meskipun mereka tetap

dalam kemunafikannya.

Dengan demikian, iman pada hakikatnya adalah keyakinan

yang bulat dan benar dalam hati, yang kemudian diikrarkan dengan



9 ٌَ َّ

Hai orang-orang yang beriman ( ‫.) ََب أَُهَب اََّزََِٓ إَُِٓىِا‬

10 ُ ‫َّ ٌَز‬

Hai orang-orang yang beragama Islam ( ‫.) ََب أَُهَب اََّ ََِٓ أَعٍَِّىِا‬

58 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





lisan (ucapan yang haq) dan dibuktikan dengan perbuatan (amal

saleh). Iman pada hakikatnya adalah pondasi dasar, yang kemudian

di atasnya didirikan bangunan beserta berbagai perlengkapan dan

asesorisnya.11

C. Rukun Iman dan Pendekatan Keimanan

Iman memiliki materi-materi pokok yang wajib diimani dan

sekaligus menjadi rukun-rukun (pilar-pilar) yang berfungsi untuk

menyangga dan mengkokohkan bangunan keimanan. Di dalam Al-

Qur'an, materi-materi keimanan itu tidak pernah disebut secara

mandiri, melainkan selalu dibarengkan dengan materi-materi

bidang ibadah, akhlak mulia dan amal-amal saleh lainnya. Hal ini

mengisyaratkan pentingnya pengintegrasian antara bidang keiman-

an dengan bidang-bidang lainnya sebagai satu kesatuan ajaran.





11 Di kalangan para ulama secara garis besar ada 2 pendapat tentang



pengertian iman. Pertama. Iman adalah sebutan yang dipakai untuk mengikrarkan

secara lisan, membenarkan dengan hati, dan mengerjakan dengan anggota

badan. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Menurut al- Al-Asyqãr, iman

adalah ucapan hati dan lisan, serta perbuatan hati, lisan dan anggota badan. (Al-

Asyqãr, Tafsĩr al-’Usyr al-Akhĩr min al-Qur'ãn al-Karĩm, h. 70). Kedua. Iman adalah

mengikrarkan dengan lisan dan membenarkan dengan hati. Menurut Abũ

Hanĩfah, iman itu iqrãr (ikrar) dan tashdĩq (pembenaran). Definisi ini tidak

memasukkan amal perbuatan menjadi bagian dari iman. Alasan pendapat ini

adalah bahwa amal shaleh dalam banyak ayat Al-Qur'an disebut secara tersendiri

setelah penyebutan iman.

Al-Ghazãlĩ berusaha mengompromikan kedua pendapat tersebut dengan

mengatakan: "Tidaklah jauh jika amal dianggap bagian dari iman, karena

sebenarnya amal itu pelengkap dan penyempurna iman. (Hal itu) seperti jika

dikatakan bahwa kepala dan tangan adalah bagian dari manusia. Telah

dimaklumi bahwa tidaklah disebut manusia jika tanpa kepala, tetapi tetap disebut

manusia jika hanya terpotong tangannya." (Al-Ghazãlĩ, Iħyã Ulũm ad-Dĩn, I/119).

Menurut kami, meskipun kedua pendapat tersebut berbeda secara konsep

(teoritis), namun dalam tataran praktis tidak menimbulkan dampak yang

berarti, karena pendapat kedua mengakui amal perbuatan sebagai konsekuensi

dari iman.

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 59





Allah Yang Maha Bijaksana menyampaikan materi-materi

keimanan dan perintah mengimaninya secara bertahap dengan

menggunakan pendekatan-pendekatan sebagai berikut:







1. Pendekatan Normatif (Normative Opproach).

Pendekatan normatif dalam konteks ini berupa informasi

dan berita yang berisi prinsip-prinsip atau norma-norma dasar

ajaran Islam. Pendekatan ini digunakan dalam firman Allah swt:

     

   

  

 

 

  

 

   

  

 

  



(2) Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-

orang yang bertaqwa;

(3) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat,

dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada

mereka;

(4) dan mereka yang beriman kepada apa (Al-Quran) yang telah diturunkan

kepadamu dan apa (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelummu, serta

mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (QS. Al-Baqarah

[2]: 2-4).

60 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





Pada ayat-ayat di atas keimanan dijadikan sebagai indikator

utama ketakwaan (ciri-ciri orang yang bertakwa) dan sebagian

materinya masih bersifat global. Menurut ayat-ayat ini, ketakwaan

memiliki 5 indikator: (1) iman kepada yang ghaib, (2) mendirikan

shalat, (3) menginfakkan sebagian rizki (harta), (4) iman kepada apa

(al-Qur'an) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dan

apa-apa (kitab-kitab suci) yang diturunkan kepada nabi-nabi

sebelumnya, dan (5) meyakini adanya kehidupan akhirat (hari

akhir).12 Dari kelima indikator tersebut, 3 di antaranya adalah

materi keimanan (rukun iman), yaitu: (1) iman kepada yang ghaib,

(2) iman kepada kitab-kitab-Nya, dan (3) iman kepada hari akhir.

Ini merupakan tahap sosialisasi dan penerangan dalam

rangka memotivasi manusia agar menjadi orang beriman dan

bertakwa. Jika seseorang bisa mencapai dan memenuhi kelima

indikator ketakwaan tersebut, maka ia dinyatakan sebagai orang

yang berpetunjuk dan akan mendapatkan keberuntungan13. Dalam

tahap ini tuntutan dan konsekuensi dari keimanan masih relatif

ringan, terbatas dan mudah diukur lahiriahnya, seperti

melaksanakan shalat dan memberikan infak.



2. Pendekatan Subtantif (Substantive Opproach).







12 Dalam al-Qur'an, Allah memulai proses pembelajaran kepada manusia



dengan menyampaikan standar kompetensi (SK) terlebih dahulu sebagaimana

tercantum dalam QS. Al-Fãtiħah [1]: 5, yakni "membentuk manusia yang hanya

beribadah dan memohon pertolongan kepada Allah semata". Kemudian SK itu

dijabarkan menjadi berbagai kompetensi dasar (KD) dalam surat-surat

berikutnya seperti yang tercantum dalam QS. Al-Baqarah [2]: 2, yakni

"menjadikan al-Qur'an sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa". KD

tersebut lalu dijabarkan menjadi indikator-indikator ketakwaan sebagaimana

tersebut di atas.

13 Lihat QS. Al-Baqarah [2]: 5.

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 61





Pendekatan subtantif dalam konteks ini berisi hal-hal yang

tidak sekedar zhawãhir al-umũr14, akan tetapi berupa aktualitas di

balik formalitas atau hakikat di balik syari'at. Pendekatan ini

digunakan dalam firman Allah swt:

   

  



 

   

 





 

  

 



 



 

 

 

 

 

  

 

 

  

  





14 (1) Keadaan lahiriah atau sisi material suatu perkara, (2) fenomena



atau gejala-gejala yang tampak.

62 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





 

  

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu

kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada

Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan

memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim,

orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang

yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan

shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya

apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan,

penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar

(imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-

Baqarah [2]: 177).

Pada ayat di atas keimanan dijadikan sebagai subtansi dari

sebuah kebajikan. Menurut ayat ini, pada hakikatnya kebajikan itu

tidaklah sebatas pada pemenuhan formalitas ibadah atau

pemasangan simbol-simbol agama saja15, seperti persoalan

menghadapkan wajah ke barat atau ke timur sewaktu shalat. Akan

tetapi subtansi kebajikan justru terletak pada keimanan yang

menjadi landasan dan spirit sekaligus orientasi dari ibadah itu.

Dalam ayat ini materi keimanan sudah diperinci menjadi 5, yaitu:

(1) iman kepada Allah, (2) iman kepada hari akhir, (3) iman kepada

para malaikat, (4) iman kepada kitab-kitab suci, dan (5) iman

kepada para nabi.





15 Hal itu bukan berarti bahwa formalitas ibadah atau simbol agama tidak

penting. Formalitas atau simbol-simbol tetaplah penting sebagai identitas dan

syiar sepanjang tidak malah menjadikan umat Islam terpecah belah dan terkotak-

kotak. Jika mereka justru berseteru hanya karena berbeda-beda formalitas atau

simbol yang digunakan, maka hendaklah dikembalikan kepada hal-hal subtantif

atau nilai-nilai universal yang menjadi landasan, spirit dan orientasi bersama.

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 63





Sebagai konsekuensinya, keimanan tersebut harus

dimanifestasikan dalam sikap, perilaku dan tindakan yang baik dan

bernilai guna, baik dalam bentuk: (1) ibadah seperti shalat dan

zakat, (2) amal sosial seperti membantu fakir miskin dan anak

yatim, maupun (3) akhlak mulia seperti menepati janji, tabah dalam

menjalani masa-masa susah dan sabar dalam menghadapi keadaan-

keadaan bahaya. Semua itu merupakan kebajikan yang sebenarnya.

Ini merupakan tahap pengisian dan pembobotan sisi batin

seorang muslim dan pembentukan karakter mukmin sejati serta

penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang berkepribadian baik

dan tangguh. Dalam tahap ini manusia dididik untuk menata

orientasi kehidupannya yang hakiki, memahami hakikat dari

sesuatu yang zhahir, mempunyai ketahanan diri yang kokoh,

memiliki komitmen dan loyalitas yang tinggi, serta punya kepekaan

dan kepedulian sosial.



3. Pendekatan Instruktif (Instructive Opproach)

Suatu tuntutan akan memiliki daya instruktif yang efektif

jika orang yang dituntut telah memiliki pemahaman normatif dan

penghayatan subtantif terhadap sesuatu yang dituntutkan.

Pendekatan subtantif digunakan untuk memperkuat dan mengikat

erat pemahaman dan penghayatan tersebut. Pendekatan ini

digunakan dalam firman Allah swt:

  

 

 

  

 

 

    

64 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





 

 

 

   

  

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan

rasul-Nya dan kepada Al-Kitab (Al-Qur'an) yang Allah turunkan kepada

rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang

kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-

Nya, dan hari Kemudian, maka Sesungguhnya orang itu telah tersesat dengan

sejauh-jauh kesesatan.” )QS. An-Nisã' [4]: 136).

Ayat di atas menginstruksikan orang-orang beriman untuk

beriman dengan sungguh-sungguh dan memberikan ultimatum

kepada orang-orang yang kufur (tidak beriman) kepada: (1) Allah,

(2) malaikat-malaikat-Nya, (3) kitab-kitab-Nya, (4) rasul-rasul-Nya,

dan (5) hari akhir.

Ini merupakan tahap peneguhan ideologi, pembuktian

komitmen, dan pengujian loyalitas bagi orang-orang yang beriman.

Dalam tahap ini iman sudah dikonfrontasikan langsung dalam satu

lini dengan masalah kufur yang pelakunya diultimatum dan dicap

sebagai orang yang tersesat jauh. Masalah keimanan dalam tahap

ini tidaklah berdiri sendiri, melainkan merupakan rangkaian dari

masalah keadilan (berbuat adil dan menjadi saksi yang adil) yang

diperintahkan dalam ayat sebelumnya (QS. An-Nisã' [4]: 135).

Lebih jauh, dalam tahap ini juga diungkap sikap dan perilaku

plin-plan orang-orang munafik yang suka mempermainkan

keimanan dengan berbolak-balik di antara pernyataan iman dan

perilaku kufur. Perbuatan mereka yang demikian itu tidak akan

diampuni dan mereka tidak akan mendapatkan jalan yang lurus16,

16 Lihat QS. An-Nisã' [4]: 137.

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 65





kecuali jika mereka segera meneguhkan keimanannya, bertaubat

secara benar, berbenah diri, dan mengerjakan amal-amal saleh.



4. Pendekatan Partisipatif (Participative Opproach)

Dalam konteks ini pendekatan partisipatif dimaksudkan

sebagai sebuah pendekatan di mana orang-orang yang dituntut

atau diajar dilibatkan secara langung dalam proses transfer ilmu

dan pengetahuan dari nara sumber pertama. Pendekatan ini

digunakan dalam sebuah hadits17 yang berisi dialog antara Nabi

saw dan seorang laki-laki jelmaan Jibril as dengan melibatkan para

sahabat dalam forum dialog itu. Dalam dialog itu, disampaikan

tentang definisi iman, islam, dan ihsan. ’Umar bin Al-Khaththãb

mengisahkan bahwa pada suatu hari ketika para shahabat sedang

bersama Rasulullah saw, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang

berpakaian serba putih dan berambut sangat hitam. Orang itu

kemudian menempelkan kedua lututnya ke kedua lutut beliau dan

meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha beliau, lalu ia

bertanya:

 Jibril as : "Ya Muhammad, beritahukan kepadaku tentang

islam."

 Rasul saw : "Islam adalah engkau (1) bersaksi bahwa tiada Tuhan

selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan



17 HR. Muslim (no. 8), dari ’Umar bin al-Khaththãb. Teks hadits:

ََّ ‫...وَلَبيَ: ََب ُح َّ ُ أَخِِجشٍِِٔ عَِٓ اإلِعِالََِ! فَمَبيَ سَ ُى ُ ََِّٗ صًٍَََّ ََّ ُ عٍََُِِٗ وَعٍََُ: اإلِعِالَ ُ أَْْ تَشِهذَ أَْْ الَ إٌََِٗ إ ََّ اٌٍ ُ وَأ‬

َْ ََّٗ ‫ِال‬ َ َ ََّ ٌٍٗ‫ا‬ ٌٍ‫ع ي ا‬ ‫ِ َّذ‬

‫ُج‬ ‫ص‬ ‫اٌض‬ َ ‫ََّ ت اٌص‬ ََّٗ ٍَ ٌٍ‫ِح َّ ع ي ا‬

.ً‫ُ َّذّا سَ ُى ُ ََِّٗ صًََّ اٌٍ ُ عٍََُِِٗ وَعٍََُ وَُمَُُِ َّالحَ وَُتؤِتٍَِ َّوَبحَ وَتَ ُى َ سََِضَبَْ وَتَح َّ اٌْجَُِتَ إِْْ اعِتَطَعِتَ إٌَُِِِٗ عَجُِال‬

‫وت ع‬ ََّ ِ َ ُٗ‫ٗ ِ ٗ َ َذ‬ َ

ٍُِِٗ ُ‫لَبيَ: صذَلْتَ. لَبيَ: فَعَجِجَِٕب ٌَ ُ َغأٌَُ ُ وَُص ِّل ُ. لَبيَ: فأَخِِجشٍِِٔ عَِٓ اإلميَبِْ! لَبيَ: أَْْ ُتؤَِِِٓ ثِبٌٍِٗ وََِالَئِىَِتِٗ وَ ُُجِِٗ وَس‬

ٖ ‫ج ََّ ََٔ ش‬ َ ‫َش‬ َ ِ

ِْْ‫َاٌَُْىَِِ اِخشِ وَُتؤِ َِٓ ثِبٌْمذَسِ خَُِشِِٖ وَش ِِّٖ. لَبيَ: صذَلْتَ. لَبيَ: فَأَخِِجشٍِِٔ عَِٓ اإلِحِغَبِْ! لَبيَ: أَْْ تَعُِذَ اٌٍَٗ وأَّهَ تَ َا ُ، فَئ‬ ‫و‬

‫اٌغ‬ َ ‫ئي‬ َ ‫اٌغ‬ َ ‫ٖ َّٗ ش‬

!‫ٌَُِ تَىُِٓ َتشَا ُ فَئِٔ ُ َ َانَ. لَبيَ: فأَخِِجشٍِِٔ عَِٓ َّبعخِ! لَبيَ: َِب اٌَّْغُِى ُ عَِٕهَب ِثأَعٍَُِ ِِِٓ َّبئًِِ. لَبيَ: فَأَخِجِشٍِِٔ عَِٓ أََِبسَِتهَب‬

ُُ ُِ ‫ت‬ ُُ ‫ج‬ ٌ ‫اٌش ط‬ ‫ح ُش‬ ‫خ َث‬

َ‫لَبيَ: أَْْ تٍَِذَ األََِ ُ سََّتهَب، وَأَْْ تَشَي اٌْ ُفَبحَ اٌْع َاحَ اٌْعَبٌَخَ سِعَبءَ َّبءِ َتَ َبوَُىَْ فٍِ إٌَُُِْبِْ. لَبيَ: ح َّ أِطٍََكَ فٍََجِخْ ُ ٍَِِّب، ح َّ لَبي‬

‫ِٔٗ ً ُ َ ِّ ُ ى‬ َُ ٗ ‫اٌغ ً ل ت ََّٗ ع‬

. ُُ ََِٕ‫ٌٍِ: ََب عَّ ُ أََتذِسٌِ َِِٓ َّبئِ ُ؟ ٍُْ ُ: اٌٍ ُ وَسَ ُىٌُ ُ أَعٍِ ُ. لَبيَ: فَئَّ ُ جِِجشَِ ُ أَتَبوُِ ُعٍَُّىُِ د‬‫ُش‬

66 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





Allah, (2) mendirikan shalat, (3) memberikan zakat,

(4) berpuasa Ramadhan, dan (5) berhaji ke Baitullah

jika engkau mampu sarananya untuk ke sana."

as

 Jibril : "Engkau benar."

 Umar ra : Kami heran terhadap orang itu. Ia bertanya

kepada Rasul dan ia membenarkannya.

 Jibril as : "Ya Muhammad, beritahukan kepadaku tentang

iman."

 Rasul saw : "Iman adalah engkau beriman kepada (1) Allah, (2)

malaikat-malaikat-Nya, (3) kitab-kitab-Nya, (4)

rasul-rasul-Nya, dan (5) hari akhir, dan (6) engkau

beriman kepada qadar, baik dan buruknya qadar."

 Jibril as : "Engkau benar."

 Jibril as : "Ya Muhammad, beritahu saya tentang ihsan."

 Rasul saw : "Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau

melihat-Nya. Jika engkau tidak merasa melihat-Nya,

maka sesungguhnya Dia melihatmu."

 Jibril as : "Beritahukan kepadaku tentang Kiamat."

 Rasul saw : "Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya."

 Jibril as : "Beritahukan kepadaku tentang tanda-tanda

Kiamat."

 Rasul saw : "Jika budak perempuan melahirkan tuannya dan

engkau melihat ......"

 Umar ra : Kemudian orang itu pergi, dan aku diam

tercenung. Lalu Nabi bertanya kepadaku.

 Rasul saw : "Tahukah kamu siapa penanya tadi?"

 Umar ra : "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu."

 Rasul saw : "Sesungguhnya dia adalah Jibril yang mendatangi kalian

untuk mengajarkan agama kepada kalian."

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 67





Ini merupakan tahap pembelajaran yang ajaib dan luar biasa

bagi para sahabat setia Nabi saw, karena mereka diajar langsung

oleh "Guru Besar" dari Kerajaan Langit yang menerapkan model

pembelajaran "team teaching" dengan menggunakan dialogic method

(metode dialog). Hal itu jelas menunjukkan bahwa mereka adalah

murid-murid pilihan yang telah terbukti komitmen dan loyalitasnya

kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah murid-murid yang

sudah mencapai level ’ainul yaqĩn setelah sekian lama dibimbing,

dididik dan diajar oleh Rasulullah saw.

Tahap ini merupakan tahap penyempurnaan rukun iman

menjadi enam di mana para sahabat mendapatkan tambahan

pelajaran baru tentang iman kepada takdir. Dalam tahap ini Nabi

saw telah mendiskripsikan secara lengkap tentang 3 pokok ajaran

agama (Islam), yaitu islam, iman, dan ihsan. Islam, iman dan ihsan

merupakan 3 hal yang bersifat integral dalam pelaksanaannya.

Ibarat sebuah rumah, dalam konteks ini iman (akidah) adalah

pondasinya, islam (syari'at) adalah bangunannya, dan ihsan (akhlak)

adalah perabot dan asesorisnya.

D. Iman dan Tauhid

Di antara keenam rukun iman, iman kepada Allah swt

merupakan induk dari segala bentuk keimanan karena di dalamnya

terkandung subtansi ketuhanan yakni tauhid. Iman kepada Allah

swt mengandung makna meyakini dengan sepenuh hati bahwa

Allah swt adalah: (1) Rabb18, (2) Pemilik al-asmã' al-ħusnã wa al-matsal

al-a’lã, dan (3) Ilãh19 Wãħid. Yang pertama berkenaan dengan



18 Kata rabb diderivasi dari kata rabbã–yurabbĩ– tarbiyah yang bermakna

mengadakan, mencipta, menyusun, membangun, mendirikan, menumbuh-kan

sesuatu tahap demi tahap hingga mencapai batas kesempurnaan. Menurut

beberapa pendapat lainnya, rabb diderivasi dari: (1)

19 Kata ilãh diderivasi dari kata alaha–ya'lahu yang bermakna ’abada–



ya’badu (menyembah, mengabdi), dan ilãh di sini berarti al-ma’bũd (yang

68 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





rububiah Allah, yang kedua berkenaan dengan asma' washifat-Nya

(nama-nama kemuliaan dan sifat-sifat keagungan-Nya), dan yang

ketiga berkenaan dengan uluhiah-Nya.20 Ketiganya merupakan

unsur iman kepada Allah swt.21



disembah, tempat mengabdi). Pendapat-pendapat lain mengatakan bahwa ilãh

diderivasi atau berasal dari: (1) aliha yang bermakna taħayyara (bingung), dan ilãh

berarti "yang membuat bingung" karena manusia menjadi bingung jika

memikirkan dzat-Nya; (2) aliha ilaihi yang bermakna aliha ilaihi (berlindung atau

mengungsi kepadanya), dan ilãh berarti "yang mintai perlindungan, yang dituju

untuk mengungsi"; (3) wilãh (kerinduan) dengan wawunya diganti hamzah, dan

ilãh berarti "yang dirindukan"; atau (4) liyãh yang bermakna iħtijãb (terhijab, tidak

kelihatan), dan ilãh berarti: "yang tidak terlihat pandangan atau yang bathin (tidak

tergambarkan dzat-Nya oleh akal)". (Lihat, Al-Ashfahãnĩ, Mu’jam Mufradãt

Alfãzh al-Qur'ãn, h. 28; Ibnu Manzhûr, Lisãn al-Lisãn, h. I/40-41).

Jadi, ilãh memiliki makna: yang disembah, yang membuat bingung, yang

dituju dan dimintai perlindungan, yang dirindukan, yang tidak terlihat oleh

pandangan, dan tidak terjangkau gambaran akal. Kesemua makna tersebut ada

pada diri Allah dan didasarkan pada dalil-dalil Al-Qur'an maupun Al-Hadits.

(Lihat QS. Al-Anbiyã' [21]: 25; Al-Isrã' [17]: 44; Al-An’ãm [6]: 103; Al-Ħadĩd

[57]: 3; dan HR. Al-Bukhãrĩ, dari Ibnu ’Abbãs: "Pikirkanlah segala sesuatu, dan

janganlah berpikir tentang dzat Allah". Hadits ini oleh Ibnu Ħajar dianggap mauquf

dan sanadnya bagus, tapi Al-Albãnĩ memasukkan hadits semakna (dengan

redaksi agak berbeda) ke dalam kelompok hadits shahih).

20 Secara lebih mendasar dan meluas, Al-Ghazãlĩ mengemukakan bahwa



iman kepada Allah swt memiliki empat pilar, yaitu : (1) mengenal Dzat Allah swt,

(2) mengetahui sifat-sifat Allah swt, (3) mengetahui perbuatan-perbuatan Allah

swt, dan (4) hal-hal yang bersifat sam’ĩ, yakni berita-berita yang bersifat ghaib,

seperti masalah siksa kubur, padang mahsyar, surga dan neraka, dan lain-lain.

(Iħyã Ulũm ad-Dĩn, h. I/104).

21 Ketiganya bukan anasir atau rukun dari tauhid yang dikatakan terbagi



menjadi: (1) tauhid rububiah (tawħĩd ar-rubũbiyyah), (2) tauhid uluhiah (tawħĩd al-

ulũhiyyah), dan (3) tauhid asma' wa shifat (tawħĩd al-asmã' wa ash-shifãt). Tauhid

sama sekali tidak bisa dibagi-bagi seperti itu karena akan menuntut pembenaran

adanya sepertiga tauhid atau tauhid pecahan. Seseorang baru bisa dikatakan

beriman dan bertauhid jika ia beriman kepada Allah swt dalam 3 hal tersebut

secara integral. Jika ia meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah adalah satu-

satunya Pencipta alam semesta, akan tetapi dalam peribadatan ia menyekutukan-

Nya dengan sesembahan lain, maka ia adalah musyrik dan tidak bisa disebut

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 69





1. Unsur-unsur Keimanan kepada Allah

a. Rububiah Allah (Ar-Rubũbiyyah)22

Allah swt adalah: (1) Rabb al-’ãlamîn (Rab alam semesta)23, (2)

Rabb al-’arsy (Rab arasy)24, (3) Rabb as-samãwãt wa al-ardh (Rab langit

dan bumi)25, (4) Rabb al-masyriqain (Rab kedua tempat terbit

matahari)26, Rabb al-maghribain (Rab kedua tempat terbenam

matahari)27, Rabb al-masyriq wa al-maghrib (Rab masyriq dan

maghrib)28, (5) Rabb asy-syi’rã (Rab bintang syi'ra)29, (6) Rabb al-falaq

(Rab waktu subuh)30, (7) Rabb an-nãs (Rab manusia) 31, (8) Rabbuka

al-akram alladzĩ ’allama bi al-qalam (Rabmu Yang Maha Mulia yang





muwaħħid (orang yang bertauhid) dari sisi manapun. Kalau kita membenarkan

penggunaan istilah tauhid untuk masing-masing dari ketiga unsur keimanan

tersebut, maka kita tidak bisa menyalahkan pendapat yang mengatakan bahwa

orang tersebut bertauhid rububiah saja tetapi tidak bertauhid uluhiah, padahal

kita tahu bahwa pendapat seperti itu nyata-nyata batil.

22 Kata rubũbiyyah (dinisbatkan kepada rabb) memiliki makna: al-khalq



(penciptaan), al-milk wa al-mulk (kepemilikan dan kekuasaan), at-tadbĩr wa al-ishlãh

(pengelolaan dan perbaikan), dan al-in’ãm wa ar-rizq (pemberian nikmat dan

rizki), dan at-tarbiyah wa al-ta’lĩm (pendidikan dan pengajaran) dan al-ishlãh

(memperbaiki). Lihat: QS. Al-A’rãf [7]: 54-55; Yũnus [10]: 31; Al-Mu'minũn

[23]: 86-87; Al-’Alaq [96]: 1-5.

23 Lihat: QS. Al-Fãtiħah [1]: 2; Al-Baqarah [2]: 131; Al-An’ãm [6]: 45, 71,



162.

24 Lihat: QS. Al-Anbiyã' [21]: 22; Al-Mu'minũn [23]: 86 & 116.



25 Lihat: QS. Al-Isrã' [17]: 102; Al-Kahfi [18]: 14; QS. Al-Anbiyã' [21]:



56.

26 QS. Ar-Rahmãn [55]: 17.



27 QS. Ar-Rahmãn [55]: 17.



28 QS. Al-Muzzammil [73]: 9, al-Ma’ãrij [70]: 40.



29 QS. An-Najm [53]: 49.



30 QS. Al-Falaq [111]: 1.



31 QS. An-Nãs [112]: 1.

70 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





mengajar dengan pena) 32, (9) Rabbukum Khãliq kulli syai' (Rabmu

Pencipta segala sesuatu)33, (10) Rabb kulli syai' (Rab segala

sesuatu)34.

Allah swt adalah Tuhan yang menciptakan segala sesuatu,

menguasai seluruh ciptaan, mengelola segala urusan, dan memberi

rezeki semua makhluk hidup. Dia adalah pencipta dan penguasa

seluruh alam, pemilik dan pemelihara alam semesta, pengatur dan

pengelola segala urusan, pendidik dan pengajar makhluk, serta

pemberi segala rezeki dan kenikmatan. Rububiah Allah adalah

keyakinan fitri yang paling asasi bagi tiap manusia karena telah

ditanamkan ke dalam jiwanya sebelum ia terlahir ke dunia bahkan

sebelum tubuhnya diciptakan. Tiap jiwa dari keturunan Adam telah

bersaksi bahwa Allah adalah Rabnya. Dengan demikian, tiap anak

terlahir dengan membawa fitrah rububiah sehingga kelak di akhirat

tidak ada alasan bagi jiwanya untuk mengatakan tidak mengenal

Rabnya.

Tujuan asasi dari pengungkapan rububiah Allah adalah

penegasan terhadap eksistensi-Nya bahwa Dia adalah Wãjibul wujũd

(niscaya wujud-Nya). Akal sehat manusia mengatakan bahwa

segala yang wujud ini tidaklah mungkin ada secara kebetulan atau

muncul tiba-tiba dengan tanpa adanya Wujud Awal yang

mendesain dan menciptakannya. Keberadaan Sang Kreator Agung

(Al-Khãliq) ini sebenarnya telah dirasakan dan diakui oleh setiap

manusia. Fitrah manusia menginspirasikan, nalurinya membisikkan,

dan akal sehatnya membenarkan adanya Satu Kekuatan Maha Sakti

Yang Serba Tahu (Al-’Azĩz Al-’Alĩm)35 yang menciptakan langit

32 QS. Al-’Alaq [96]: 3-4.

33 QS. Ghãfir [40]: 62.

34 QS. Al-An’ãm [6]: 164.



35 Lihat QS. Yũnus [10]: 31. Penyebutan Tuhan dengan Al-’Azĩz Al-



’Alĩm mengisyaratkan bahwa boleh jadi penduduk di daerah-daerah non Arab

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 71





dan bumi beserta segala isinya dan apa-apa yang ada di antara

keduanya, berkuasa atas seluruh makhluk, mengatur dan

mengendalikan tata surya dan sistem kerja alam, dan menyediakan

rezeki baik yang diturunkan dari langit maupun yang digali dari

bumi. Manusia secara fitri telah mengetahui bahwa Tuhannya

adalah Allah. Hal itu diungkapkan berulangkali dalam Al-Qur'an,

di antaranya adalah firman Allah swt dalam ayat-ayat berikut ini:

   

 

 

 

  

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang

menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab: "Semuanya

diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui".” (QS. Az-

Zukhruf [43]: 9).

   

 

  

  

  

  

  

   

     

“Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan

bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan

ada yang tidak menyebut Tuhan dengan "Allah", tetapi dengan nama-nama

sesuai bahasa masing-masing, seperti Sang Hyang Widi, Kang Murbeing

Dumadi, Gusti Kang Akarya Jagat, dan lain-lain, yang intinya adalah pengakuan

terhadap keberadaan Tuhan Sang Pencipta.

72 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan

mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala

urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah:

"Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?"” (QS. Yũnus [10]:

31).

   

   

  

  

   

  

   

  

(87) “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang

menciptakan mereka"?, niscaya mereka menjawab: "Allah". Maka

bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?

(88) Dan (Allah mengetahui) ucapan Muhammad: "Ya Tuhanku,

sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman".

(89) Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah:

"Salam (Selamat tinggal)". Kelak mereka akan mengetahui (nasib

mereka yang buruk).” (QS. Az-Zukhruf [43]: 87-89).

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa meskipun manusia telah

mengenal Allah sebagai Tuhannya, akan tetapi ada yang tidak

bertakwa kepada-Nya, ada yang mengingkari keberadaan-Nya, ada

yang mempersekutukan-Nya, dan ada yang salah dalam

mempersepsikan dan menyifati-Nya. Di antara manusia ada yang

menganggap malaikat-malaikat sebagai "tuhan-tuhan kecil" yang

dijadikan sebagai perantara memohon kepada "Tuhan Besar"

(Allah), karena mereka merasa tidak pantas untuk memohon

langsung kepada "Tuhan Besar". Sebagian menjadikan jin-jin

penguasa suatu tempat (seperti laut, gunung, dan hutan) sebagai

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 73





perantara meminta kekayaan, kekuasaan, atau tujuan-tujuan

duniawi lainnya, dengan keyakinan bahwa jin-jin itulah yang

kemudian akan memintakan kepada Allah atau akan mengabulkan

permintaannya dengan seizin-Nya. Sebagian mempersepsikan

Tuhan menjadi Trimurti, yakni Dewa Pencipta, Dewa Pemelihara,

dan Dewa Perusak. Sebagian lainnya mempersepsikan Tuhan

sebagai Trinitas, yakni Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh

Kudus.

Itulah di antara kesalahan-kesalahan persepsi tentang Allah

yang terjadi pada masa tertentu yang kemudian berkembang

menjadi akidah, kepercayaan atau doktrin agama. Dengan

demikian, jika manusia hanya mengenal Allah melalui rububiah-

Nya saja, maka masih ada kemungkinan terjadinya salah persepsi

dan penyifatan, keliru keyakinan atau sesat perlakuan terhadap

Allah. Oleh karena itu, di samping Allah mendeskripsikan diri-Nya

secara global melalui rububiah-Nya, Dia juga memperkenalkan

diri-Nya secara mendetail melalui asma' washifat-Nya.

b. Asma' Washifat Allah (al-Asmâ' wa ash-Shifât)

Allah memiliki nama-nama kemuliaan yang terbagus (al-asmã'

al-ħusnã)36 dan sifat-sifat keagungan yang tertinggi (al-matsal al-









36 QS. Al-Ħasyr [59]: 24; QS. Al-A’rãf [7]: 180. Menurut mayoritas

ulama', al-asmã' adalah lafal-lafal yang dipatenkan yang menunjukkan berbagai

macam makna, dan al-ħusnã adalah bentuk muannats dari al-aħsan (isim tafdhĩl,).

Maksudnya adalah nama-nama terbagus dan termulia karena bersumber dari

makna-makna terbagus dan termulia (pula). Sebagian berpendapat bahwa al-

asmã' adalah sifat-sifat, seperti ucapan orang: "Nama si Fulan melambung tinggi di

daerahnya", maksudnya nama baik dan sifatnya. (Lihat: Al-Alũsĩ, Rũħ al-

Ma’ãnĩ….)

74 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





a’lã)37. Rasulullah saw menginformasikan bahwa Allah swt

mempunyai 99 asma' husna, dengan sabdanya:



ََّ ‫ٌٍََِِّٗ تِغعَ ٌ وَتِغ ُىَْ اعِّّب ِِبئَ ٌ إ ََّ وَاحِذّا ٌَب َحفظُهَاب أَحَا ْ إ‬

‫ذ ِال‬ َِ ‫خ ِال‬ ‫ِ خ ِع‬ 



‫ٌىِش‬

 َ ‫اْ َت‬ ‫َ َٕ َ٘ ش ِت‬

ُّ ‫دَخًَ اٌْجَّخَ و ُىَ وَِت ْ َُح‬

“Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, yang tidak dihafal seseorang

kecuali ia masuk surga. Dia Gasal (Maha Tunggal) yang sangat menyukai

(perkara) yang gasal.” 38

Bilangan 99 tersebut boleh jadi bukanlah hitungan pasti atau

pembatasan mutlak terhadap jumlah asma' husna Allah.39 Para ahli



37 QS. An-Naħl [16]: 60. Ada beberapa pendapat tentang pengertian

matsal a’lã, antara lain: (1) persaksian tiada Tuhan selain Allah (pemurnian dan

pengesaan); (2) tiada sesuatupun yang sama dan setara dengan-Nya; (3) sifat-

sifat yang luhur, yakni Dia adalah Pencipta (al-Khãliq), Maha Pemberi rizki (Ar-

Razzãq), Maha Kuasa (Al-Qãdir), dan memiliki kewenangan (melakukan apa saja

yang mungkin atau tidak melakukannya); (4) Yang Maha Hebat (Al-’Azĩz), yang

tiada tertandingi kesempurnaan kemampuan-Nya atas segala sesuatu; (5) Yang

Maha Bijaksana (al-Ħakĩm), yang melakukan apa-apa yang Dia lakukan

berdasarkan hikmah yang mendalam; (6) Sifat ajaib yang merupakan gambaran

kemahaketinggian secara mutlak, yaitu keniscayaan dzatiah, kepemilikan

kekayaan mutlak, kedermawanan yang maha luas, dan kesucian dari sifat-sifat

makhluk.

38 HR. Al-Bukhãrĩ, dari Abũ Hurairah ra. (Ibnu Ħajar, Fatħ al-Bãrĩ,



XI/240, Hadits. No. 6410). Hadits senada dengan redaksi yang sedikit berbeda

diriwayatkan oleh Muslim dari Abũ Hurairah (Syarh an-Nawãwĩ ’alã Muslim,

IX/7-8, Hadits No. 2677).

39 Allah Yang Gasal (Maha Tunggal) sangat menyukai perkara-perkara



gasal (witir). Segala sesuatu dimulai dari tunggal. Alam semesta diciptakan oleh

Yang Maha Tunggal (al-Wãħid). Yang diciptakan pertama kali oleh-Nya adalah

sebuah pena (qalam wãħid) yang kemudian ditulis dan didesain dengan pena itu

segala yang akan diciptakan-Nya. Seluruh manusia diciptakan dari manusia

tunggal (nafs wãħidah), dan berbagai umat manusia (yang berbeda-beda) adalah

berasal dari umat tunggal (ummah wãħidah). Allah menyukai bilangan 3 dan 7,

seperti: membasuh atau mengusap 3 kali dalam berwudhu dan penciptaan 7

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 75





yang meriwayatkan hadits tentang asma' husna sejumlah itu pun

ada yang berbeda pendapat dalam menentukan sebagian asma'-

Nya. Pada hakikatnya hanya Allah Yang Maha Tahu berapa jumlah

asma' husna-Nya, namun dengan hadits tersebut (yang di antaranya

disampaikan dengan redaksi hadits Qudsi) Allah dan Rasul-Nya

bermaksud memberikan rambu-rambu yang benar tentang nama-

nama utama Allah swt, dan memotivasi manusia dengan balasan

surga bagi yang mau mencari, mendata, mengumpulkan, dan

menghafalnya, serta memahami maknanya dan mengambil

pelajaran darinya.

Berikut ini daftar al-asmã' al-ħusnã bagi Allah swt secara

lengkap:



No. Al-Asmã' Al-Ħusnã Arti

1. Allãh ‫ اهلل‬Allah





langit. Allah suka meletakkan rahasia-rahasia agung-Nya pada bilangan-bilangan

gasal, seperti angka 17, 19, 21, 23, dan 27. Allah juga menyukai proses yang gasal

seperti dzikir sehabis shalat 5 waktu dengan membaca Subħãnallãh (33 kali),

Alhamdulillãh (33 kali), dan Allãhu akbar (33 kali), sebagaimana Dia menyukai

gasal sebagai penutup proses yang genap seperti shalat malam dua-dua raka'at

diakhiri dengan shalat witir. Anti klimaksnya, kelak di akhirat segala sesuatunya

akan dikembalikan kepada Yang Maha Tunggal dan diatur dengan undang-

undang tunggal (al-qãnũn al-wãħid).

Simbol puncak dari semua yang gasal itu adalah angka 99, baik yang

diawali dengan 1 seperti 1 + 99 = Dzat Ilahi + asma' khusna, maupun yang

diakhiri dengan 1 seperti 99 [33+33+33] +1= Dzikir utama [Subħãnallãh +

Alhamdulillãh + Allãhu akbar] + dzikir penyempurna (pengakuan rububiah, asma'

washifat dan uluhiah Allah). Jadi, rumus kehidupan (RK) adalah 1 + 99 = 99

+ 1. Maksudnya, semua berasal dari Yang Maha Tunggal, kemudian terjadilah

proses kehidupan hingga kiamat sebagai puncaknya, kemudian semuanya akan

kembali kepada Yang Maha Tunggal. Namun Allah kadang memulai hal-hal

besar dan peristiwa-peristiwa penting pada bilangan genap tertentu seperti

tanggal 10 (’ãsyũrã') Muharram.

76 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





2. Ar-Raħmãn ِٓ ‫اٌش‬

ُ ‫ َّمح‬Yang Maha Pengasih

3. Ar-Raħĩm ُ ‫اٌش‬

ُ ُِ‫ َّح‬Yang Maha Penyayang

4. Al-Malik َ

‫ اٌٍِّْه‬Maha Raja/Yang Maha Berkuasa

5. Al-Quddũs ُّ

‫ اٌْمُذوِط‬Yang Maha Suci

Yang Maha Memelihara/Maha

6. As-Salãm ُ َ‫َّال‬

َ ‫ اٌغ‬Sejahtera

7. Al-Mu'min ٓ ُ

ُ ِ ِ‫ اٌّْؤ‬Yang Maha Terpercaya

8. Al-Muhaimin ُ َُِّ‫ اٌّْه‬Yang Maha Memelihara

ِٓ ُ

9. Al-’Azĩz ‫ض‬

ُ َِ‫ اٌْعَض‬Yang Maha Perkasa/Maha Sakti

10. Al-Jabbãr ‫َج س‬

ُ ‫ اٌْجَّب‬Yang Maha Mutlak Kehendak-Nya

11. Al-Mutakabbir ُ ِّ‫اٌْ ُتَى‬

‫ّ َجش‬

12. Al-Khãliq ‫ك‬

ُ ٌِ‫ اٌْخَب‬Yang Maha Pencipta

13. Al-Bãri' ‫ِا‬

ُ ‫اٌْجَبس‬

14. Al-Mushawwir ‫ّ َىس‬

ُ ِّ ‫اٌْ ُص‬

15. Al-Ghaffãr ُ َِ‫اٌْمَش‬

‫ت‬

16. Al-Qahhãr ‫َه س‬

ُ ‫اٌْم َّب‬

17. Al-Wahhãb ‫َ٘ ة‬

ُ ‫اٌْى َّب‬

18. Ar-Razzãq ُ ‫ اٌش َّا‬Yang Maha Pemberi Rezeki

‫َّص ق‬

19. Al-Fattãh ‫َت ح‬

ُ ‫اٌفَّب‬

20. Al-’Alĩm َُ

ُ ٍُِ‫ اٌْع‬Yang Maha Mengetahui

21. Al-Qãbidh ُ ِ‫اٌْمَبث‬

‫ض‬

22. Al-Bãsith ‫ِط‬

ُ ‫اٌْجَبع‬

23. Al-Khãfidh ‫ض‬

ُ ِ‫اٌْخَبف‬

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 77





24. Ar-Rãfi’ ‫اٌش ع‬

ُ ِ‫َّاف‬

25. Al-Mu’izz ‫ّ ِض‬

ُّ ‫اٌْ ُع‬

26. Al-Mudzill ُّ ‫اٌُّْز‬

‫ِي‬

27. As-Samĩ’ ‫اٌغ ع‬

ُ َُِّّ

28. Al-Bashĩr ‫ري‬

ُ ِ‫اٌْجَص‬

29. Al-Ħakam ُ َ‫احلَى‬

ُ

30. Al-’Adl ‫ي‬

ُ ِ‫اٌعَذ‬

31. Al-Lathĩf ‫ََّ ف‬

ُ ُِ‫اٌٍط‬

32. Al-Khabĩr ُ ِ‫اٌْخَج‬

‫ري‬

33. Al-Ħalĩm َُ

ُ ٍُِ‫اٌْح‬

34. Al-’Azhĩm ُ َ

ُ ُِ‫اٌْعظ‬

35. Al-Ghafũr ُ ‫اٌْغَ ُى‬

‫فس‬

36. Asy-Syakũr ‫اٌشى س‬

ُ ‫َّ ُى‬

37. Al-’Aliy ٍَِ

ُّ ٍ‫اٌْع‬

38. Al-Kabĩr ُ ُِِ‫اٌىَج‬

‫ش‬

39. Al-Ħafĩzh ‫ظ‬

ُ ِ‫اٌْحَبف‬

40. Al-Muqĩt ‫ّ ت‬

ُ ُِِ‫اٌْ ُم‬

41. Al-Ħasĩb ُ ُِِ‫اٌْحَغ‬

‫ت‬

42. Al-Jalĩl ًَ

ُ ٍُِ‫اٌْج‬

43. Al-Karĩm ‫مي‬

ُ ِ‫اٌْىَش‬

44. Ar-Raqĩb ُ ُِِ‫ اٌشل‬Yang Maha Mengawasi

‫َّ ت‬

45. Al-Mujĩb ‫ّ ت‬

ُ ُِ‫ اٌْ ُج‬Yang Maha Memperkenankan

46. Al-Wãsi’ ‫ع‬

ُ ِ‫ اٌىَاع‬Yang Maha Luas

78 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





47. Al-Ħakim ُ

ُ ُِ‫ اٌْحَى‬Yang Maha Bijaksana

Yang Maha Menyintai/Mengasihi

48. Al-Wadũd ُ ‫ اٌْىَ ُو‬Yang Maha Dicintai

‫دد‬

49. Al-Majĩd ‫ذ‬

ُ ِ‫ اٌَّْبج‬Yang Maha Mulia

50. Al-Bã’its ُ ‫ اٌْجَبع‬Yang Membangkitkan

‫ِج‬

Yang Maha

51. Asy-Syahĩd ‫َّ ذ‬

ُ ُِ‫ اٌشه‬Menyaksikan/Disaksikan

52. Al-Ħaqq ‫َك‬

ُّ ‫ اٌْح‬Yang Maha Benar/Pasti

53. Al-Wakĩl ً َ

ُ ُِ‫ اٌْىو‬Yang Maha Mewakili/Pemelihara

54. Al-Qawiy ُّ ‫ اٌْمى‬Yang Maha Kuat

ٌِ َ

55. Al-Matĩn ٓ

ُ ُِِ‫ اٌَّْت‬Yang Maha Kokoh

56. Al-Waliy ٌٍِ‫ اٌْىَا‬Yang Maha Melindungi

57. Al-Ħamĩd ُ َُِِّ‫ اٌْح‬Yang Maha Terpuji

‫ذ‬

58. Al-Muħshĩ ّ

ٍِ‫ اٌْ ُحِص‬Yang Maha Menghitung

59. Al-Mubdi' ‫ّ ِا‬

ُ ‫ اٌْ ُجِذ‬Yang Maha Memulai

60. Al-Mu’ĩd ُ ُِ‫ اٌْ ُع‬Yang Maha Mengembalikan

‫ّ ذ‬

61. Al-Muħyĩ ‫ّح‬

ٍُُِ ُ ٌْ‫ ا‬Yang Maha Menghidupkan

62. Al-Mumĩt ‫ّ ت‬

ُ ُُِّ ٌْ‫ ا‬Yang Maha Mematikan

63. Al-Ħayy ٍَ

ُّ ‫ اٌْح‬Yang Maha Hidup

Yang Berdiri Sendiri/Yang

64. Al-Qayyũm َ َُ

ُ ‫ اٌْمُّى‬Mengelola Urusan Makhluk

65. Al-Wãjid ُ ِ‫ اٌْىَاج‬Yang Maha Menemukan

‫ذ‬

66. Al-Mãjid ‫ذ‬

ُ ُِ‫ اٌَّْج‬Yang Maha Mulia

67. Al-Wãħid ‫ذ‬

ُ ِ‫ اٌْىَاح‬Yang Maha Tunggal

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 79





68. Ash-Shamad ‫ اٌص ذ‬Yang Maha Dibutuhkan

ُ ََّّ

69. Al-Qãdir ‫س‬

ُ ِ‫ اٌْمَبد‬Yang Maha Kuasa

70. Al-Muqtadir ُ ِ‫ اٌْ ُمْتَذ‬Yang Maha Kuasa

‫ّ س‬

71. Al-Muqaddim َ‫ّ َذ‬

ُ ِّ ‫ اٌْ ُم‬Yang Maha Mendahulukan

Al-

72. ُ ِّ ‫ اٌّْؤ‬Yang Maha Mengakhirkan

‫ُ َخش‬

Mu'akhkhir

73. Al-Awwal ‫أل َّي‬

ُ ‫ ا َو‬Yang Maha Pertama

74. Al-Ãkhir ُ ِ‫ اِخ‬Yang Maha Terakhir

‫ش‬

75. Azh-Zhãhir ‫اٌظ ش‬

ُ ِ٘‫ ََّب‬Yang Maha Nyata

76. Al-Bãthin ِٓ

ُ ‫ اٌْجَبط‬Yang Maha Tersembunyi

77. Al-Wãlĩ ُّ ٌَ‫ اٌْى‬Yang Maha Memerintah

ٍِ

78. Al-Muta’ãl ّ

ِ‫ اٌْ ُتِعَبي‬Yang Maha Tinggi

79. Al-Barr ‫َبس‬

ُّ ‫ اٌْج‬Yang Maha Dermawan

80. At-Tawwãb ُ ‫ اٌت َّا‬Yang Maha Penerima Taubat

‫َّى ة‬

81. Al-Muntaqim ُ ّ

ُ ِ‫ اٌْ ُِٕتَم‬Yang Maha Pengancam

82. Al-’Afuww ‫ُى‬

ُّ ‫ اٌْعَف‬Yang Maha Pemaaf

83. Ar-Ra'ũf ُ ‫ َّ ُو‬Yang Maha Pelimpah Kasih

‫اٌشء ف‬

84. Mãlikul Mulk ُ ‫ه‬

ِ‫ َِبٌِ ُ اٌٍّْْه‬Yang Maha Pemilik Kerajaan

Dzul Jalãl wal َ ‫ر‬

ِ‫ ُو اٌْجَالي‬Yang Maha Pemilik Keluhuran dan

85.

Ikrãm ِ

َِ‫ واإلوْشَا‬Kemurahan

86. Al-Muqsith ُ ‫ اٌْ ُمْغ‬Yang Maha Adil/Pemberi Keadilan

‫ّ ِط‬

87. Al-Jãmi’ ‫ع‬

ُ ِ ‫ اٌْجَب‬Yang Maha Penghimpun

88. Al-Ghanĩ ٍِ

ُّ َٕ‫ اٌْغ‬Yang Maha Kaya

80 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





89. Al-Mughnĩ ّ

ٍِِٕ‫ اٌْ ُغ‬Yang Maha Pemberi Kekayaan

90. Al-Mãni’ ُ ِٔ‫ اٌَّْب‬Yang Maha Pencegah

‫ع‬

91. Adh-Dhãrr ‫َّبس‬

ُّ ‫ اٌض‬Yang Maha Pemberi Madharat

92. An-Nãfi’ ُ ِ‫ َّبف‬Yang Maha Pemberi Manfaat

‫إٌ ع‬

Yang Maha Bercahaya/Pemberi

93. An-Nũr ‫إٌ س‬

ُ ‫ ُّى‬Cahaya

94. Al-Hãdĩ ‫د‬

ٌِ ‫ اٌْهَب‬Yang Maha Pemberi Petunjuk

95. Al-Badĩ’ ‫ع‬

ُ َِِ‫ اٌْجَذ‬Yang Maha Pencipta Pertama

96. Al-Bãqĩ ٍِ‫ اٌْجَبل‬Yang Maha Kekal

97. Al-Wãrits ‫ث‬

ُ ِ‫ اٌْىَاس‬Yang Maha Mewarisi

98. Ar-Rasyĩd ‫اٌش ذ‬

ُ ُِِ‫ َّش‬Yang Maha Tepat Tindakan-Nya

99. Ash-Shabũr ‫ اٌص س‬Yang Maha Penyabar

ُ ِ‫َُّجى‬



Allah swt memperkenalkan asma' washifat-Nya kepada umat

manusia, khususnya hamba-hamba yang beriman, dengan maksud-

maksud sebagai berikut:

1) Menunjukkan kemahasempurnaan dan kemahatinggian Allah

dari sisi manapun sehingga hanya Dia-lah yang pantas dan

berhak disembah, sebagaimana diisyaratkan dalam firman-Nya:

     

    

  

  

    

  

 

 

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 81





 

  

   

  

  

 

  

   

  

 

 

(22) “Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang

ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha

Penyayang.

(23) Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha Suci,

yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan keamanan, yang Maha

Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang

memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang

mereka persekutukan.

(24) Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang

membentuk rupa, yang mempunyai asma'ul Husna. Bertasbih

kepadanya apa yang di langit dan bumi, dan Dia-lah yang Maha

Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Ħasyr [59]: 22-24).

   

 

   

  

 

 

“Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat mempunyai

sifat-sifat keburukan; dan Allah mempunyai sifat-sifat yang mahatinggi;

82 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-

Naħl [16]: 60). 40

2) Memberikan sarana untuk berkomunikasi dengan Allah dan

memohon kepada-Nya dengan menyebut asma' husna-Nya,

sebagaimana diperintahkan melalui firman-Nya:

 

 

   

 

  

  



Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya

dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang

menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya, mereka





40 Dalam ayat di atas Allah mengontradiksikan antara sifat-sifat rendah



dan hina (matsal as-sû') yang dimiliki orang-orang yang tidak beriman dengan

sifat-sifat tertinggi dan mahamulia (al-matsal al-a’lã) yang dimiliki-Nya. Mereka

sama sekali tidak memiliki sifat-sifat ideal sebagaimana yang dimiliki oleh orang-

orang yang beriman. Sedangkan Allah memiliki sifat-sifat paling ideal, pekerjaan-

pekerjaan maha hebat, dan karya-karya super spektakuler, yang semua itu tidak

dimiliki, mustahil tersamai, dan tak mungkin tertandingi oleh siapapun. Allah

adalah Pencipta dan Penguasa langit dan bumi beserta seluruh isi dan

penghuninya. Dia Maha Hidup (Al-Ħayyu, The Living) dan Pengelola Super

Sibuk (Al-Qayyûm, The Everlasting) yang selalu terjaga dan siaga, dan tak

pernah terserang kantuk dan tidur sedikitpun dalam mengurus dan mengelola

alam semesta. Rahmat-Nya meliputi segala sesuatu dan meratai seluruh

makhluk-Nya, baik yang beriman maupun yang kafir, yang taat maupun yang

maksiat, dan yang tunduk maupun yang makar. Dia-lah pemberi rizki dan

kenikmatan yang tiada habis-habisnya untuk seluruh makhluk-Nya. Dia

mengetahui segala rahasia dan apa saja yang tersembunyi di alam raya (macrocosm)

dan alam mini (microcosm). Ilmu dan pengetahuan-Nya meliputi dan menjangkau

segala masa, baik masa lalu, masa sekarang maupun masa mendatang.

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 83





akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS.

Al-A’rãf [7]: 180).

3) Agar manusia memiliki persepsi, keyakinan, dan perlakuan yang

benar tentang Allah swt, serta bisa meneladani atau mengambil

pelajaran dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya untuk diterapkan

dalam berbagai aspek kehidupannya di dunia.

Meskipun manusia sudah mengenal Allah melalui rububiah

dan asma' washifat-Nya, akan tetapi belum tentu mereka lantas

memurnikan penyembahan kepada-Nya. Mereka mungkin sudah

menyembah Allah dalam peribadatan, namun masih meminta

kepada kekuatan selain-Nya dalam hal-hal duniawi. Oleh karena

itu, setelah manusia memiliki pengetahuan yang memadahi tentang

Allah melalui rububiah dan asma' washifat-Nya, Dia menegaskan

posisi Diri-Nya (dalam kehidupan manusia) melalui uluhiah-Nya.



c. Uluhiah Allah (al-Ulũhiyyah)

Allah adalah satu-satunya Tuhan Sesembahan, tiada

Sesembahan selain Dia, dan tiada sekutu bagi-Nya. Sejak zaman

Nabi Adam as hingga masa Nabi Muhammad saw, hanya Dia-yang

berhak disembah baik bagi orang yang tetap menjadikan-Nya

sebagai Tuhan Yang Esa (monotheism) maupun orang yang

kemudian mempersekutukan-Nya dengan selain-Nya (polytheism)

atau orang yang tidak mengakui keberadaan Tuhan sekalipun

(atheism). Dia-lah satu-satunya Tuhan bagi seluruh bani Adam baik

yang tetap menjaga kehormatannya sebagai keturunan bangsa

manusia maupun yang kemudian menghinakan diri dengan

meyakini sebagai keturunan bangsa kera yang berevolusi

(Darwinism). Dia adalah satu-satunya yang dimintai pertolongan dan

dituju untuk memenuhi segala kebutuhan.

Pada hakikatnya hanya Dia-lah yang berhak atas pujian dan

pengagungan. Sejak zaman azali hanya Dia-lah satu-satunya

84 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





Tuhan, dan di akhirat kelak juga hanya Dia-lah Tuhan yang

memperhitungkan, mengadili, dan memberikan balasan kepada

semua orang, baik golongan mukmin, kafir maupun munafik, ahli

taat maupun ahli maksiat, umat-umat terdahulu maupun umat

Muhammad saw.

2. Integrasi Rububiah, Asma' Washifat, dan Uluhiah Allah

Al-Qur'an sebenarnya tidak mengotak-ngotakkan ketiga

unsur keimanan tersebut secara tegas, akan tetapi menggunakan

yang satu untuk mengukuhkan lainnya atau menuturkan yang satu

sebagai tujuan antara untuk mencapai tujuan akhir yakni tauhid.

Rububiah dan asma' washifat Allah lebih dominan digunakan

sebagai tujuan antara untuk mengenal Allah dengan segala

kesempurnaan-Nya, kemutlakan kekuasaan-Nya, dan keluasan

rahmat-Nya, menumbuhkan perasaan butuh, takut, cinta, tunduk

dan patuh kepada-Nya, serta menanamkan kesadaran untuk

menyembah-Nya. Semua itu diarahkan untuk mencapai tujuan

akhir yakni tauhid atau guna meneguhkan uluhiah Allah dan

menegaskan kesucian-Nya dari segala bentuk pemusyrikan,

sebagaimana firman-Nya:

    

  

 

 

 

  

  

"Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha suci, yang

Maha Sejahtera, yang mengaruniakan keamanan, yang Maha Memelihara,

yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala keagungan,

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 85





Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Al-Ħasyr

[59]: 23).

Dalam tata lokasi kawasan keimanan kepada Allah, rububiah

merupakan pintu gerbang utama sebagai jalan masuk untuk

mengenal-Nya secara global dan umum, asma' washifat-Nya

merupakan pintu-pintu khusus sebagai jalur-jalur masuk untuk

mengenal dan memahami-Nya secara spesifik dan mendetail,

sedangkan uluhiah merupakan zone inti yang di dalamnya ada

ruang khusus untuk mengesakan-Nya.41 Dalam zone rububiah dan

asma' washifat, belum ditemukan maklumat tegas yang

menyatakan: "Tiada Rab selain Allah" atau "Tiada Pencipta selain

Allah", akan tetapi dalam zone ini manusia diajak berpikir,

merenung dan disentuh kesadarannya dengan berbagai pendekatan

yang kadang dilakukan dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan

retorik seperti: "Apakah aku akan mencari Rab (Tuhan) selain Allah,

padahal Dia adalah Rab (Tuhan bagi) segala sesuatu?" 42 dan "Adakah



41 Dari di sini bisa dipahami bahwa inti persoalannya bukanlah pada



rububiah, asma' wa shifat, dan uluhiah itu sendiri, apalagi sampai menganggap

masing-masing dari ketiganya sebagai fokus tauhid. Inti persolannya bukanlah di

situ, akan tetapi ketiganya secara terintegrasi diarahkan pada satu titik sentral

yakni tawħîdullâh (pengesaan Allah).

42 QS. al-An’âm [6]: 164. Lihat QS. Maryam [19]: 65 (y.a.): Rab (Tuhan



Penguasa) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia

dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang

yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?" Dalam ayat ini Allah menyuruh

manusia menyembah Rab langit dan bumi, tapi dengan menggunakan redaksi

biasa bukan redaksi ħashr (pembatasan); dan kemudian diakhiri dengan sebuah

pertanyaan retorik yang tidak perlu dijawab karena jawabannya pasti: "Tidak ada"

atau tidak perlu langsung dijawab akan tetapi hendaknya dipikirkan terlebih dulu

secara mendalam melalui perenungan tanda-tanda kekuasaan Allah yang tersebar

di langit dan bumi.

Paham yang menglasifikasikan tauhid menjadi 3 bagian mengambil ayat

tersebut sebagai dasar istiqrâ' (pengambilan kaidah secara induktif) untuk

membenarkan pendapatnya, yakni: (1) lafal "Rab langit dan bumi" adalah dasar

86 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari

langit dan bumi?" 43. Baru kemudian dalam zone uluhiah ditegaskan:

"Tiada Ilah (Tuhan) selain Dia."

Sebenarnya dalam zone rububiah dan asma' washifat pun

telah dirasakan adanya semangat dan pesan tauhid, hanya saja

belum setegas dan sejelas pesan dalam zone uluhiah. Rasakan

semangat tauhid sewaktu seorang hamba menegaskan komitmen

rububiah seraya berucap: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku

dan matiku untuk Allah, Rab (Tuhan) semesta alam."44 Perhatikan

teguran halus Allah terhadap orang-orang musyrik yang

menyembah bintang Syi'ra dengan firman-Nya (y.a.): "Dan

sesungguhnya Dialah Rab (Tuhan yang memiliki) bintang Syi'ra."45

Mereka diingatkan bahwa yang disembah itu hanyalah ciptaan

Allah yang tidak memiliki kekuasaan serta tidak bisa memberikan

manfaat dan madharat apapun. Bukan bintang itu yang semestinya

disembah, melainkan Rab yang menciptakan dan mengatur seluruh

bintang karena sesungguhnya Dia-lah yang mengaruniai kekayaan dan

memberikan kecukupan.46

3. Nilai Penting dan Hikmah Beriman kepada Allah





tauhid rububiah, (2) lafal "maka sembahlah Dia" adalah dasar tauhid uluhiah, dan

(3) lafal "Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia?" adalah dasar

tauhid asma' washifat. Kalau direnungkan secara jujur dengan melepaskan

belenggu fanatisme dan baju dogmatisme, maka pikiran yang jernih akan

menemukan bahwa ayat tersebut sama sekali tidak bermaksud mengkotak-

kotakkan tauhid menjadi tiga bagian, akan tetapi seluruh isi dan muatannya

bermuara pada satu titik sentral yaitu tauhid, sebuah esensi utuh yang tidak bisa

dipecah-pecah atau dibagi-bagi.

43 Lihat QS. Fâthir [35]: 3.



44 QS. al-An’âm [6]: 162.



45 QS. an-Najm [53]: 49.



46 QS. An-Najm [53]: 50.

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 87





Iman kepada Allah swt merupakan dasar asasi dalam akidah

Islam dan induk dari segala bentuk keimanan, bahkan kelima rukun

berikutnya pada hakikatnya merupakan bagian dari keimanan

kepada Allah swt. Di dalam Al-Qur'an keimanan kepada Allah

disebut secara khusus (tidak dirangkai dengan rukun iman lainnya)

jika menyangkut urusan-urusan besar dan perkara-perkara prinsip

yang bermuara langsung kepada Allah, seperti kaitan iman kepada-

Nya dengan hal-hal sebagai berikut:

a. permohanan ampun kepada-Nya47,

b. pengampunan dosa dari-Nya48,

c. tawakal dan berserah diri kepada-Nya49,

d. hatinya diberi petunjuk oleh-Nya50,





e. jaminan memperoleh rahmat-Nya51,

f. pembelaan terhadap-Nya52,

g. mempertaruhkan nyawa demi kebenaran dan dakwah kepada

masyarakat53,

h. mendapatkan balasan surga54,

47 Lihat QS. Thãhã [20]: 73. Maksudnya, beriman kepada-Nya agar



diampuni kesalahannya.

48 Lihat QS. At-Taghãbun [64]: 9. Maksudnya, jika beriman kepada-Nya



dan beramal saleh.

49 Lihat QS. Yũnus [10]: 84. Maksudnya, sebagai bukti keimanannya



kepada Allah.

50 Lihat QS. At-Taghãbun [64]: 11. Maksudnya, jika beriman kepada-Nya.



51 Lihat QS. An-Nisã' [4]: 175. Maksudnya, jika beriman kepada-Nya dan



berpegang teguh pada agama-Nya.

52 Lihat QS. Ãli ’Imrãn [3]: 52. Maksudnya, menjadi penolong/pembela



agama Allah sebagai bukti beriman kepada-Nya.

53 Lihat QS. Yãsĩn [36]: 25. Maksudnya, berani menyatakan keimanannya



kepada Allah di hadapan kaumnya yang kafir dan mengajak mereka ke jalan yang

benar, meskipun dengan resiko dibunuh oleh mereka.

88 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





i. menyaksikan langsung tanda-tanda kebesaran dan kehebatan-

Nya sewaktu masih di dunia55,

j. kuatir dan takut terhadap azab-Nya56,

k. menyaksikan azab Allah yang pedih setelah berada di akhirat57.

Iman kepada Allah swt berulangkali dirangkai secara khusus

dengan iman kepada hari akhir58 dalam konteks makna-makna

sebagai berikut:



a. Jika beriman kepada Allah dan hari akhir maka:

1) akan memperoleh pahala dari Tuhan serta tidak tertimpa

kekhawatiran dan kesedihan, di samping dengan syarat

beramal saleh59;

2) tidak akan merahasiakan janin dalam perutnya (bagi

perempuan yang ditalak suaminya)60;

3) merujuk atau melepaskan secara baik-baik istri yang telah

diceraikannya apabila telah habis masa iddahnya61;





54 Lihat QS. Ath-Thallãq [65]: 11. Maksudnya, jika beriman kepada-Nya

dan beramal saleh.

55 QS. Al-A’rãf [7]: 121.



56 QS. Ghãfir [40]: 84. Maksudnya, mereka terpaksa menyatakan iman



kepada-Nya setelah menyaksikan bencana yang telah mengelingi mereka sebagai

akibat dari kesombongan dan keingkarannya.

57 QS. Saba' [34]: 52. Maksudnya, pernyataan iman kepada-Nya tetapi



sudah terlambat.

58 Dirangkai sebanyak 25 kali dengan rangkaian sebagai berikut: (1)



beriman kepada Allah dan hari akhir (17 kali), (2) tidak beriman kepada Allah dan hari

akhir (4 kali), (3) mengharapkan Allah dan hari akhir (2 kali), dan (4) menyembah

Allah dan mengharapkan hari akhir (1 kali).

59 QS. Al-Baqarah [2]: 62.



60 QS. Al-Baqarah [2]: 228.



61 QS. Ath-Thallãq [65]: 2; Al-Baqarah [2]: 232.

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 89





4) menerapkan hukum rajam kepada perempuan dan laki-laki

pezina (jika terpenuhi syarat-syarat dan ketentuannya)62;

5) bersedia mengembalikan kepada hukum Allah dan Rasul-

Nya jika terjadi perselisihan pendapat dalam suatu hal63;

6) menjadikan Rasulullah saw sebagai suri tauladan yang baik64;

7) menjadikan Nabi Ibrahim as dan para pengikutnya sebagai

suri tauladan yang baik65;

8) dimasukkan dalam golongan orang yang didoakan Nabi

Ibrahim as supaya Allah memberikan rizki dan penghasilan66;

9) memakmurkan masjid, mendirikan shalat, menunaikan zakat,

dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah67.



b. Tidaklah beriman kepada Allah dan hari akhir orang yang:

1) memberikan sedekah tapi dengan selalu menyebut-

nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima, atau berinfak

dengan niat memamerkan kekayaan68;

2) mengaku beriman padahal sebenarnya tidak beriman (orang

munafik)69.

Beriman kepada Allah swt memiliki banyak hikmah bagi

seorang hamba, antara lain adalah:



62QS. An-Nũr [24]: 2.

63QS. An-Nisã' [4]: 59.

64 QS. Al-Aħzãb [33]: 21.



65 QS. Al-Mumtaħanah [60]: 2.



66 QS. Al-Baqarah [2]: 126. Namun Allah Yang Maha Luas rahmat-Nya



juga memberikan kesenangan sementara (di dunia) kepada orang kafir untuk

kemudian mendapatkan siksa yang pedih kelak di neraka.

67 QS. At-Taubah [9]: 18.



68 QS. Al-Baqarah [2]: 264. Orang seperti ini amalnya akan sia-sia belaka



dan tidak mendapatkan pahala akhirat.

69 Orang seperti ini sebenarnya ada penyakit dalam hatinya dan kelak



akan ditimpa azab yang pedih karena kedustaannya itu (QS. Al-Baqarah [2]: 10).

90 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





a. Memiliki wawasan kehidupan yang seimbang70, sikap moderat71

dan tindakan yang adil (proporsional)72, sehingga ia terhindar

dari sikap apatis dan putus asa karena punya harapan akan

rahmat dan ampunan-Nya yang amat luas73, serta terjauhkan

dari sikap mengabaikan dan tindakan berlebihan karena takut

akan azab-Nya yang pedih dan perhitungan-Nya yang sangat

cepat74.

b. Hatinya tenang dan jiwanya tenteram75 serta tidak tertimpa

kekhawatiran dan kesedihan76, karena ia yakin bahwa Allah

selalu bersamanya77 serta merasakan kedekatan Allah

dengannya, baik kedekatan kasih sayang-Nya maupun

pertolongan-Nya78.

c. Jiwanya terkendali, perilakunya terarah, ucapannya terseleksi

dan tindakannya terukur, karena adanya keyakinan bahwa Allah

selalu mengawasi dirinya, mengetahui segala isi hatinya, serta

mengamati seluruh perilaku dan perbuatannya.





70 QS. Al-Baqarah [2]: 8. Ia memandang Allah dengan kemahaluasan

rahmat-Nya sekaligus kepedihan azab-Nya, dan kerahiman ampunan-Nya

sekaligus kecepatan hukuman-Nya. Ia memohon kepada-Nya dengan harap-

harap cemas (khaufan wa thama’an). Lihat QS. Fushshilat [41]: 43; Al-A’rãf [7]: 56,

156, 167.

71 Ia mencirikan diri sebagai ummatan wasathan (umat moderat) yang tidak



terjebak pada ekstrim kanan atau ekstrim kiri. Lihat Al-Baqarah [2]: 143.

72 Lihat al-Mâidah [5]: 8.



73 QS. Ysuf [12]:87; ar-Ra’d [13]:6 & 31; Âli ’Imrân [3]:157; an-Najm [53]:



32; al-Isrâ' [17]: 57.

74 QS. al-Fâtiħah [1]: 7; al-Baqarah [2]: 202; QS. al-Ħijr [15]: 50.



75 QS. Ar-Ra’d [13]: 28; Al-Fajr [89]: 27.



76 QS. Al-An’ãm [6]: 48; Al-Aħqãf [46]: 13.



77 QS. At-Taubah [9]: 40; Al-Ħadĩd [57]: 4; Al-Baqarah [2]: 153 & 194.



78 QS. Al-Baqarah [2]: 186, 214; Hũd [11]: 61; Qãf [50]: 16; Al-A’rãf [7]:



56;

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 91





d. Menjadi manusia merdeka secara lahir dan batin serta terbebas

dari segala bentuk pengkultusan dan penghambaan kepada

sesama, karena ia hanya menghambakan diri kepada Allah dan

berpegang teguh kepada agama-Nya.



E. Pasang Surutnya Iman

Jika kita mengambil perumpamaan minyak tanah dalam

sebuah kompor masak, tentu kita sepakat bahwa banyak sedikitnya

atau penuh tidaknya minyak di dalamnya akan mempengaruhi

kualitas dan daya nyala kompor. Selanjutnya, kualitas nyala kompor

itu akan mempengaruhi kualitas hasil masakannya. Semakin bagus

kualitas nyalanya semakin baik pula kualitas hasil masakannya, dan

sebaliknya. Ibarat banyak sedikitnya minyak tanah, pasang surutnya

iman akan mempengaruhi kualitas nyala kehidupan dan semangat

hidup seseorang. Selanjutnya, kualitas semangat hidup seseorang

akan mempengaruhi kualitas amal-amal yang dihasilkannya.

Semakin bagus kualitas semangat hidupnya semakin baik pula

kualitas amal yang dihasilkannya, dan sebaliknya.

Dasar umum tentang pasang surutnya iman adalah hadits :

"Iman itu bertambah dan berkurang".79 Ulama salaf telah bersepakat

bahwa iman bertambah dengan ketataan dan berkurang dengan

kemaksiatan. Iman Ahmad berkata: "Shalat, zakat, haji, dan

berbuat kebajikan adalah sebagian dari iman. Sedangkan berbuat

kemaksiatan itu mengurangi iman." Hadits dan pendapat ulama

salaf tersebut menunjukkan bahwa iman seseorang bisa mengalami



79 Menurut Ibnu Mâjah hadits ini mauquf (terhenti) pada Abû Hurairah,

Ibnu ’Abbâs, dan Abû Dardâ'. Imam Ibnu al-Jauzî meriwayatkan dari al-Imâm

Aħmad bin Ħanbal, bahwa beliau berkata: "Iman itu bertambah dan berkurang,

seperti diterangkan dalam hadits (y.a.) : Orang mukmin yang paling sempurna imannya

adalah orang mukmin yang paling bagus akhlaknya. (Musnad al-Imâm Aħmad:

II/250; Sunan Abî Dâwûd: V/60).

92 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





fluktuasi (pasang-surut). Pasang-surutnya iman akan

mempengaruhi jenis dan kualitas amal yang dikerjakannya.

Sebaliknya, pilihan sikap dan perbuatan yang dilakukan seseorang

bisa merupakan indikator bagi kadar atau kualitas iman seseorang.

Ketika iman seseorang mengalami pasang (bertambah), maka ia

akan ringan dan bersemangat untuk melakukan amal saleh dengan

kualitas keikhlasan yang baik.

1. Tanda Pasangnya Iman

Banyak ayat dan hadits yang menunjukkan pasangnya iman

dan sekaligus menjadi tanda dan ciri khas bagi orang yang beriman

(mukmin), di antaranya adalah:

a. Jika disebut nama Allah gemetarlah hatinya, dan apabila

dibacakan aya-ayat-Nya bertambahlah iman mereka. 80

b. Apabila ada ancaman dan teror dari musuh (orang-orang yang

memusuhi agama Allah) justru keimanannya semakin

bertambah, dan ia mencukupkan diri dengan pertolongan dan

perlindungan Allah saja.81

c. Diberi ketenangan batin oleh Allah swt sehingga imannya

semakin bertambah subur. 82

d. Di antara tanda semakin bertambahnya iman adalah semakin

bagusnya akhlak.83

e. Di antara tanda kesempurnaan iman adalah mencintai atau

membenci karena Allah, dan memberi atau tidak memberi

karena Allah. 84



80 QS. al-Anfâl [8]: 2.

81 QS. Âli ’Imrân [3]: 173.

82 QS. al-Fatħ [48]: 4.



83 Berdasarkan HR. Aħmad & Abû Dâwûd. Lihat, al-Baghawî, Syarħ as-



Sunnah, h. I/44.

84 Ibid.

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 93





2. Tanda Surutnya Iman

Sebaliknya, jika iman seseorang sedang surut (berkurang),

maka ia akan merasa berat atau malas untuk melakukan amal saleh.

Boleh jadi ia kelihatan semangat dalam beramal shaleh, akan tetapi

ada niat tersembunyi atau tujuan yang tidak baik, seperti ingin

pamer, mendapat pujian dan lain-lain. Surutnya iman juga akan

menyebabkan seseorang menjadi ringan atau mudah tergoda untuk

melakukan amal yang tidak baik (keburukan, kemaksiatan dan

kemungkaran). Berikut ini beberapa contoh indikasi surut atau

lemahnya iman, bahkan mungkin ketiadaan iman seseorang:

a. Orang yang berzina, mencuri atau mengonsumsi makanan dan

minuman yang memabukkan.85 Kalau saja menjelang terjadinya

dosa-dosa besar tersebut masih tersisa iman di hatinya, niscaya

ia akan mengurungkan kemaksiatannya itu meskipun mungkin

dengan susah payah dan perasaan kecewa. Orang seperti ini

tidak akan mendapatkan perlindungan Allah pada hari kiamat

karena ia gagal meneguhkan komitmen "Sesungguhnya aku takut

kepada Allah" di saat godaan duniawi datang merayunya.

b. Orang yang telah melaksanakan ibadah-ibadah wajib (shalat,

zakat, puasa), tetapi di akhirat termasuk orang yang bangkrut

(muflis), karena selama di dunia ia pernah memakai si A,

menuduh si B, memakan harta si C dengan cara batil,

mengalirkan darah si D, dan menganiaya si E. Orang semacam

ini akan mengalami kebangkrutan di akhirat karena kebaikan-

kebaikannya akan diberikan kepada para korbannya; dan jika

ada korban yang belum mendapatkan bagian karena

kebaikannya sudah habis dibagi-bagikan, maka keburukan

korban ini akan ditransfer kepada orang itu, lalu ia diseret dan



85 Berdasarkan hadits shaħîħ riwayat al-Bukhârî dan lainnya, dari Ibnu



’Abbâs. Lihat buku ini, h. 68.

94 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





lemparkan ke neraka.86 Orang seperti ini tidak memenuhi

kriteria sebagai orang yang beriman karena orang lain tidak

aman dari gangguannya dalam masalah harta atau kehormatan.

c. Orang yang shalat tapi justru celaka di akhirat, karena ia lalai

dari shalatnya (asal-asalan atau bermalas-malasan dalam

melaksanakannya), suka pamer (dalam beribadah dan beramal),

dan tidak mau membantu orang lain walaupun dalam

kebutuhan-kebutuhan kecil dan sepele.87 Orang seperti ini

kurang atau tidak beriman kepada Allah dan hari akhir dan

termasuk orang yang mendustakan hari pembalasan.

Dengan demikian, amal yang dilakukan seseorang, baik atau

buruk, secara umum dapat dijadikan sebagai tolok ukur dan

indikator bagi kadar keimanannya, meskipun hal itu tidak bersifat

mutlak. Jenis atau tingkatan amal saleh yang dipilih seseorang juga

bisa menjadi tanda bagi kadar keimanannya (kuat, sedang atau

lemah). Misalnya, mengubah kemungkaran bil-yad (dengan tangan

atau tindakan nyata) mengindikasi-kan adanya iman berkadar kuat,

mengubahnya bil-lisan (dengan lisan atau tulisan) mengindikasikan

iman berkadar sedang, dan mengubahnya bil-qalb (dengan doa atau

minimal hatinya tidak setuju) mengindikasikan iman berkadar

lemah.88

F. Penyubur dan Pupuk Iman

Agar iman bertambah kuat, berkembang dan meningkat,

maka iman perlu selalu dipupuk. Di antara hal-hal yang dapat

86 Hadits shaħîħ diriwayatkan oleh Muslim, at-Tirmîdzî dan Aħmad, dari

Abu Hurairah. Lihat, al-Albânî, as-Silsilah ash-Shaħîħah, No. 846, II/527.

87 QS. al-Mâ’ûn [107]: 4-7.



88 Berdasarkan hadits Nabi saw (y.a.): "Barangsiapa di antara kalian melihat



sebuah kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak

mampu, maka dengan lesannya. Jika (masih) tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu

adalah selemah-lemah iman." (HR. Muslim).

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 95





mempersubur dan memupuk keimanan adalah : (1) ilmu, (2) zikir,

dan (3) tafakur.

1. Ilmu dan Pengetahuan

Ibarat air bagi tanaman, ilmu adalah kebutuhan pokok untuk

menyuburkan iman. Tanpa siraman ilmu, iman seseorang akan

cenderung mengering dan semakin gersang. Dalam al-Qur'an, ilmu

diakui sebagai modal utama untuk meraih keimanan, dan antara

keduanya terdapat hubungan erat yang bersifat integralistik.

Semakin mendalam ilmu seorang muslim, maka imannya menjadi

semakin kuat dan mantap. Allah swt berfirman:

 

  

  

  

   

  

  

 

Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya al-

Quran. Itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk

hati mereka kepadanya dan Sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk

bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (QS. al-Ħajj

[22]: 55).

 

 

   

   

  



Sedang orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman

kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami."

96 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan orang-

orang yang berakal. (QS. Âli ’Imrân [3]: 7).

Apakah tiap ilmu bisa meningkatkan dan menyuburkan

keimanan? Jika mengacu kepada pengertian ilmu dalam perspektif

manusia dengan berbagai jenis, cabang dan disiplinnya, maka tentu

saja tidaklah setiap ilmu bisa menyuburkan iman, akan tetapi lebih

dimaksudkan pada ilmu-ilmu berikut ini:

1) Ilmu-ilmu syar’iah, yaitu ilmu-ilmu yang bersumber kepada Al-

Qur'an dan as-Sunnah yang berkenaan dengan berbagai aturan,

teori dan pedoman dalam menjalani kehidupan di dunia dan

akhirat. Di antara tujuan mempelajari ilmu-ilmu ini adalah untuk

memperoleh panduan menjadi seorang muslim yang beriman

secara benar (mukmin sejati).

2) Ilmu-ilmu kauniah, yaitu ilmu-ilmu yang diperoleh melalui

pengamatan, penelitian dan perenungan terhadap ciptaan-

ciptaan Allah swt, baik yang tersebar di alam semesta maupun

yang terdapat dalam diri manusia. Tujuan mempelajari ilmu-

ilmu ini adalah untuk mengungkap dan mengenal kebesaran dan

kekuasaan Allah swt, serta memperkokoh keimanan kepada-

Nya. Al-Qur'an banyak memberikan isyarat tentang ilmu-ilmu

kauniah, namun kebanyakan hanya bersifat general dan tidak

mendetail dengan maksud memberikan kesempatan dan porsi

kepada manusia agar menggunakan akal dan pikirannya untuk

mengkaji dan menelitinya secara lebih mendetail.

3) Ilmu-ilmu hikmah, yaitu ilmu-ilmu yang diperoleh melalui: (1)

pengamatan dan perenungan terhadap berbagai peristiwa,

fenomena, kasus atau kisah kehidupan di dunia ini untuk

mengungkap hakikat di balik semua itu dan mendapatkan

pelajaran berharga darinya; atau (2) membangun hubungan

khusus dengan Allah swt secara intensif dan konsisten melalui

amalan-amalan shalat, puasa, wirid, atau laku-laku spiritual yang

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 97





tidak menyimpang dari prinsip-prinsip ajaran Islam, dengan

maksud untuk memperkokoh keimanan dan mempertebal

ketawakalan kepada-Nya, serta memperoleh perlindungan,

pertolongan dan ridha dari-Nya, bukan untuk mendapatkan

kesaktian, kekayaan, jabatan, popularitas atau hal-hal duniawi

lainnya.

2. Zikir

Zikir adalah aktifitas mengingat Allah dengan segala sifat dan

keagungan-Nya yang layak untuk-Nya, serta membaca firman dan

ayat-ayat-Nya. Berzikir adalah sebagian dari sifat orang-orang yang

beriman, sebagaimana firman Allah swt:

  

  

 

  

  

  

  

 

"Yaitu orang-orang yang mengingat Allah (berdzikir) dalam keadaan

berdiri, duduk dan berbaring; dan mereka berpikir tentang penciptaan langit

dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan

ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa

neraka." (QS. Âli ’Imrân [3]: 191).

Rasulullah saw adalah tauladan terbaik dalam urusan zikir.

Beliau adalah makhluk paling sempurna zikirnya, tidak pernah

terputus dari mengingat Tuhannya, dan tidak merasa bosan

melakukan ketaatan kepada-Nya. Tiap kali ingat Allah, hati beliau

menjadi khusyuk, jiwanya menjadi lembut, tubuhnya bergetar, dan

air matanya bercucuran. Dalam Shahih Muslim, diriwayatkan dari

98 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





Aisyah ra, ia berkata: "Nabi saw senantiasa mengingat Allah dalam segala

keadaannya." Para shahabat Nabi saw juga selalu menghidupkan

majlis-majlis zikir.89

Dengan membiasakan berzikir kepada Allah, hati manusia

menjadi tenang dan jiwanya menjadi stabil. Dengan ketenangan

hati dan stabilitas jiwa yang diiringi alunan ritme rabani, manusia

bisa merasakan sinyal-sinyal petunjuk Ilahi secara lebih jernih,

mampu menangkap isyarat-isyarat kebenaran irfani secara lebih

objektif, dan siap menerima pesan-pesan pelajaran bayani secara

lebih fokus. Semua itu akan menyebabkan naiknya tingkat

kesadaran yang diiringi dengan meningkatnya kadar keimanan

dalam diri manusia. Itulah alur pengaruh zikir terhadap gelombang

pasang keimanan seseorang dan relevansi makna antara dua ayat

berikut ini:

 

 

   

  

 

"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram

dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati

menjadi tenteram" (QS. ar-Ra’d [13]: 28).

  

  



 

  







89 Ats-Tsabîtî, Nafaħât min Minbar Rasûlillâh saw, h. 112-113.

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 99





Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang

mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka

(yang telah ada). (QS. al-Fatħ [48]: 4).



3. Tafakur

Yang dimaksud tafakur adalah berusaha untuk senantiasa

melihat karya Allah dengan merenungi makhluk-makhluk-Nya dan

memperhatikan ayat-ayat serta mukjizat-Nya. Jika seorang muslim

mampu menghimpun ilmu, amal saleh, zikir, dan tafakur dalam

dirinya, maka hal itu akan menghantarkannya mencapai îmânan

kâmilan (iman yang sempurna) dan akan dimasukkan dalam

golongan al-mu'minûn ħaqqan (mukmin sejati), sebagaimana

ditegaskan dalam firman Allah swt:

 

   

  

  



"Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan

memperoleh derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki

yang mulia." (QS. al-Anfâl [8]: 4).



G. Iman dan Amal

Jika ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi dikaji secara

komprehensif dengan mengedepankan semangat kejujuran dan

objektifitas, maka akan ditemukan bahwa pada hakikatnya iman

adalah sesuatu yang bertolak dari keyakinan dalam hati, sampai

manapun ia akan berlanjut atau di manapun ia akan berhenti.

Hanya saja, sesuatu yang tersembunyi dalam hati itu belum akan

diakui eksistensinya, belum bisa dihitung kuantitasnya, dan belum

bisa diuji kualitasnya jika belum diekspresikan dalam bentuk

100 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





ucapan, diaktulisasikan dalam bentuk perilaku, atau direalisasikan

dalam bentuk tindakan. Allah Maha Tahu apa saja yang

tersembunyi dan yang terbetik dalam hati dan jiwa manusia, akan

tetapi kemahaadilan-Nya menjadikan-Nya belum akan

menghukumi dan meminta pertanggung jawaban jika isi hati itu

sebelum dikatakan atau diperbuat.

Pada hakikatnya segala isi batin manusia, baik yang

direalisasikan ataupun yang disembunyikan, tidak satupun yang

luput dari perhitungan Allah, dan menjadi hak-Nyalah apakah Dia

mau mengampuni keburukan yang tersembunyi atau memberikan

hukumannya.90 Akan tetapi kemahaluasan rahmat-Nya membuat-

Nya hanya akan menuntut dan meminta pertanggung jawaban

seseorang sesuai batas-batas kemampuannya atau dalam hal-hal

yang ada dalam penguasaan dirinya91. Di samping itu, kerahiman

ampunan Allah membuat-Nya mengampuni apa-apa (keburukan)

yang dibisikkan oleh jiwa seseorang selama belum diucapkan atau

diperbuatnya92, dan setelah direalisasikan dalam perbuatan barulah

dibalas dengan yang setimpal dengan keburukannya.93 Sebaliknya,

sebagai apresiasi terhadap sisi positif manusia, niat baik seseorang

telah dicatat-Nya sebagai satu kebajikan, kemudian akan

90 Penafsiran QS. al-Baqarah [2]: 284. Sebagian ulama berpendapat

bahwa ayat ini dinasakh oleh ayat berikutnya (ayat 286) dengan mengambil

dasar dari hadits-hadits yang diriwayatkan oleh: (1) al-Bukhârî dari Ibnu ’Umar,

(2) Aħmad dari Ibnu ’Abbâs, (3) dan Aħmad & Muslim dari Abû Hurairah.

Namun menurut al-Alûsî ada problem dalam penasakhan tersebut, karena

nasakh itu hanya khusus untuk kalâm insyâ' (kalimat ….) dan tidak berlaku pada

kalâm khabar (kalimat berita), padahal ayat tersebut termasuk kalâm khabar.

Lihat, al-Alûsî. Rûħ al-Ma’ânî, h. I/....; dan al-Baghâwî, Syarħ as-Sunnah, h. 81.

91 Penafsiran QS. al-Baqarah [2]: 286.



92 Makna hadits shahih riwayat: (1) al-Bukhârî dari Abû Hurairah, (2)



Muslim dari Qatâdah, dan (3) Aħmad dari Abû Hurairah. Lihat, al-Baghâwî,

Syarħ as-Sunnah, h. 82.

93 QS. al-An’âm [6]: 160.

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 101





digandakan menjadi 10 kali lipat setelah ditindaklanjuti dengan

amal saleh94, bahkan untuk amal-amal saleh tertentu pahalanya

akan digandakan hingga 7 x 100 kali lipat95.

Dengan demikian, keberadaan iman pada diri seseorang

menuntut dilakukannya amal saleh dan ditinggalkannya amal taleh

serta pengaktualisasian nilai-nilai keimanannya dalam kehidupan

sehari-hari. Dalam lingkup yang lebih luas, kondisi keimanan

seseorang itu akan mempengaruhi amal yang diperbuatnya, baik

jenis, kuantitas maupun kualitas amalnya. Sebuah amal itu akan

dinilai saleh (baik) atau taleh (buruk) ditentukan oleh 3 hal utama,

yaitu: (1) materi amalnya (baik atau buruk, benar atau salah) yang

diukur dengan norma atau hukum yang berlaku, (2) niat dan

motivasinya (baik atau buruk) yang pengaruhi oleh kondisi

keimanannya, dan (3) cara atau proses mengerjakannya (sesuai

aturan atau tidak).

2. Amal Saleh Sebagai Konsekuensi Iman

Jika seseorang membangun sebuah rumah, tentu ia memulai

dari bagian pondasinya. Namun jika ia berhenti pada pondasi saja,

tentulah belum bisa disebut rumah. Pondasi rumah pada dasarnya

juga bukan sesuatu yang terpisah dari bangunan di atasnya.

Maksudnya, di satu sisi keberadaan pondasi menuntut keberadaan

bangunan, dan di sisi lain keberadaan bangunan secara umum

menjadi tanda adanya pondasi. Demikian halnya iman, keberadaan

iman menuntut adanya amal saleh, dan keberadaan amal saleh

secara umum menjadi tanda adanya iman.

a. Amal Saleh Ukhrawi dan Amal Saleh Duniawi





94 QS. al-An’âm [6]: 160.

95 Seperti sebutir benih yang menumbuhkan 7 bulir dan pada tiap bulir

ada 100 biji (QS. al-Baqarah [2]: 261).

102 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





Amal96 dalam perspektif al-Qur'an memiliki tujuan ganda,

amal untuk dunia (’amal lid-dunyâ) dan amal untuk akhirat (’amal lil-

âkhirah). Amal saleh97 tidaklah terbatas pada ibadah-ibadah seperti

shalat, puasa, zikir, dan perenungan terhadap alam semesta saja,

akan tetapi mencakup segala kebajikan dalam urusan dunia (amal

dunia) dan akhirat (amal akhirat), serta semua yang baik dan patut

untuk seseorang, baik bagi diri sendiri, keluarga maupun

masyarakatnya. Oleh karena itu, al-Qur'an menyanjung amal saleh

dan menyatakan hanya amal salehlah yang diterima di sisi Allah

swt, sebagaimana firman-Nya:

   

   

  

 

  

 

  





96 Amal (’amal) secara etimologi berarti setiap perbuatan yang dilakukan



dengan suatu maksud atau tujuan tertentu. Amal lebih khusus dari perbuatan

(fi’l) karena suatu perbuatan terkadang dilakukan tanpa maksud tertentu. Secara

terminologi, amal adalah segala perbuatan (baik atau buruk) yang mengandung

konsekuensi pertanggungjawaban dan balasan. Sebagai contoh, jika seseorang

menggerakkan tangannya dengan maksud menolong atau memukul seseorang,

maka perbuatannya itu termasuk amal dan akan mendapatkan balasan; akan

tetapi jika ia menggerakkan tangannya hanya karena rutinitas atau berupa gerak

reflek, maka itu adalah murni perbuatan dan tidak akan diperhitungkan atau

dibalas. Jika seseorang mengucapkan sesuatu dengan maksud memberi petunjuk

kebaikan atau mengata-ngatai orang lain, maka itulah amal; akan tetapi jika

perkataannya itu hanya berupa ucapan spontanitas biasa (tidak mengandung nilai

baik atau buruk), maka itu hanya perbuatan dan bukan amal.

97 Kata "saleh" asalnya adalah shâliħ (yang baik, patut, layak). Dalam al-



Qur'an, hal-hal yang baik (kebaikan-kebaikan) disebut ash-shâliħât atau al-ħasanât,

dan terkadang disebut al-ma’rûf.

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 103





   

  

"Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah

kemuliaan itu semuanya. kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang

baik98 dan amal yang saleh dinaikkan-Nya; dan orang-orang yang

merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras; dan rencana jahat

mereka akan hancur." (QS. Fâthir [35]: 10).99

Mengacu kepada definisi amal saleh di atas, secara global ada

2 jenis amal saleh, yaitu amal saleh ukhrawi dan amal saleh

duniawi100:

1) Amal saleh ukhrawi, yaitu amal saleh yang berupa ibadah-ibadah

mahdhah (murni) yang ada dasar dan aturannya secara tafshîlî

(terperinci) dalam Islam, seperti: shalat, zakat, puasa, haji,

tadarus al-Qur'an, dan sebagainya.

2) Amal saleh duniawi, yaitu amal saleh yang berupa aktifitas-

aktifitas duniawi yang bermanfaat untuk diri dan orang lain,

baik dalam lapangan sosial, budaya, ekonomi, pendidikan,

politik, seni, maupun lapangan kehidupan duniawi lainnya. Jenis

amal ini tidak ada ketentuannya secara terperinci dalam Islam,

akan tetapi biasanya Islam hanya menyampaikan pesan-pesan

secara global yang berkenaan dengan prinsip, nilai, dan etika.



b. Integrasi Iman dan Amal Saleh



98 Ada beberapa pendapat tentang makna al-kalim ath-thayyib (perkataan



yang baik), di antaranya: (1) kalimat tauhid yaitu Laa ilaa ha illallaah; (2) zikir

kepada Allah, atau (3) semua perkataan yang baik yang diucapkan karena Allah.

99 Az-Zuħailî, al-Qur'ân al-Karîm: Bunyatuhu at-Tasyrî’iyyah wa Khashâishuhu



al-Ħadhâriyyah, h. 121.

100 Dalam ajaran Islam, ada hubungan erat antara amal shaleh ukhrawi



dan amal shaleh duniawi. Islam menghendaki agar keduanya bisa berjalan secara

seimbang sehingga orang-orang yang beriman bisa meraih dua kebaikan

sekaligus, yakni kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.

104 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





Islam merupakan agama yang ajaran-ajarannya bersifat

integral, dalam artian antara satu ajaran dengan ajaran lainnya

saling berkait, saling melengkapi, dan saling berkonsekuensi. Di

antara ajaran Islam yang menuntut adanya integralitas adalah

masalah iman dan amal saleh. Dalam al-Qur'an, integrasi antara

iman dan amal saleh mendapatkan perhatian besar dan serius yang

terlihat dalam penggunaan keduanya secara berpasangan dalam

banyak ayat.101

Perhatian yang begitu besar terhadap integrasi iman dan amal

saleh tersebut karena keduanya memiliki peran besar dalam

menghindarkan atau mengentaskan manusia dari kerugian dan

kecelakaan dari masa ke masa102 serta menghantarkan mereka

untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat. Iman berperan dalam

memperkokoh kepribadian manusia dan memperjelas orientasi

kehidupannya, sehingga ia tidak mudah terombang-ambing oleh

ombak zaman dan tidak gampang goyah oleh badai masa.

Sedangkan amal saleh berperan dalam memperkuat eksistensi

manusia baik dalam pandangan sesama maupun dalam penilaian

Allah swt, dan mempertegas nilai guna dirinya baik bagi diri

sendiri, orang lain maupun alam sekitar.

Secara rinci integrasi iman dan amal saleh memiliki fungsi

dan kegunaan antara lain untuk:







101 Dalam al-Qur'an, iman dan amal shaleh dituturkan secara berangkai

tidak kurang dari 68 kali. Lihat, ’Abd al-Bâqî, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfâzh al-

Qur'ân al-Karîm, h. 483-486.

102 Sebagai jalan keluar (solusi) dari kerugian. Dalam QS. al-’Ashr [103]



di atas solusi tersebut akan lebih sempurna, jika iman dan amal shaleh itu bisa

melahirkan kepedulian dan kepekaan sosial, serta interaksi sosial yang positif dan

mendidik, yang antara lain direalisasikan melalui saling berpesan dengan

kebenaran dan kesabaran.

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 105





1) mempertahankan derajat kemuliaan manusia (aħsani taqwîm),

sehingga mereka tidak berbalik menjadi makhluk terendah dan

paling hina (asfala sâfilîn)103;

2) membedakan penganut agama yang lurus (Islam) dengan

penganut agama-agama yang menyimpang (orang-orang

kafir)104;

3) membedakan orang-orang yang ber-Tuhankan Allah dengan

orang-orang bertuhankan hawa nafsu (kaum atheis)105;

4) memperteguh pendirian dan menghindarkan dari

inkonsistensi106;

5) membentuk pribadi yang kredibel dalam berserikat dan meng-

hindarkan dari penyalahgunaan amanat dan wewenang.107

Orang yang beriman dan beramal saleh akan mendapatkan

balasan kebaikan dari Allah swt baik selama di dunia dan lebih-

lebih di akhirat kelak. Balasan tersebut antara lain adalah sebagai

berikut:

1) dimasukkan ke dalam golongan orang-orang saleh108;

2) memperoleh harapan menjadi orang yang beruntung109;



103 QS. at-Tîn [95]: 4-6. Lihat, kajian tentang Manusia dan Totalitas

Dirinya.

104 QS. al-Bayyinah [98]: 6-7.

105 QS. al-Insyiqâq [84]: 21-24. Orang-orang yang bertuhankan hawa

nafsu, yakni para pengikut madzhab dahrî (atheism), menyangka bahwa kehidupan

itu hanyalah di dunia saja dan yang mematikan manusia hanyalah waktu.

Menurut mereka, hidup dan mati itu hanya kebetulan saja, sehingga tidak ada

yang perlu dipersiapkan untuk pasca kematian. Sedangkan orang-orang yang

ber-Tuhankan Allah, meyakini bahwa hidup dan mati itu adalah ketentuan-Nya

dan manusia harus membekali diri dengan iman dan amal saleh untuk menjalani

kehidupan pasca kematian.

106 QS. asy-Syu’arâ' [26]: 225-227.



107 QS. Shâd [38]: 22-24.



108 QS. al-’Ankabût [29]: 9).

106 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





3) diberi petunjuk oleh Allah swt110;

4) dijadikan sebagai khalifah111;

5) dipercaya untuk mengelola bumi112;

6) mendapatkan ampunan Allah dan pahala yang besar113;

7) diberi tambahan dari karunia Allah114;

8) memperoleh kasih sayang Allah115;

9) manfaatnya kembali kepada diri sendiri116;

10) dikeluarkan dari kegelapan menuju cahaya117;

11) keburukan-keburukannya diganti oleh Allah dengan kebaikan-

kebaikan bagi yang bertaubat118, dan

12) diberi balasan surga119.



3. Amal Taleh Sebagai Tanda Cacatnya Iman

Jika seseorang berbuat maksiat, lalu ada orang lain

membelanya dengan mengatakan: "Dia itu hanya bermaksiat secara

lahir saja, sedang batinnya tetap beriman dan taat kepada Allah", maka

perkataan seperti itu hanyalah berdasarkan perasaan dan sangkaan,

tidak berdasarkan pengetahuan dan ilmu. Kemaksiatan – yang



109 QS. al-Qashash [28]: 67.

110 QS. Yûnus [10]: 9.

111 QS. an-Nûr [24]: 55.



112 QS. al-Anbiyâ' [21]: 105.



113 QS. al-Mâidah [5]: 9; Hûd [11]: 11.



114 QS. an-Nûr [24]: 38 .



115 QS. Maryam [19]: 96.



116 QS. Fushshilat [41]: 46; al-Jâtsiyah [45]: 15.



117 QS. ath-Thallâq [65]: 11.



118 QS. al-Furqân [25]: 70.



119 QS. al-Baqarah [2]: 25, 82; Hûd [11]: 23; QS. Ibrâhîm [14]: 23; al-



Kahfi [18]: 107; al-Ħajj [22]: 14, 23; Ghâfir [40]: 40.

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 107





merupakan bagian dari amal taleh120– yang dilakukan seseorang itu

menunjukkan atau mengindikasikan kelemahan, kekurangan, atau

ketiadaan iman dalam dirinya.

a. Amal Taleh Vs. Iman

Rasulullah saw memberikan beberapa contoh amal taleh

yang mengindikasikan ketiadaan atau kelemahan iman, di antaranya

adalah sabdanya:

‫ق ُ ُ ٓ َ َ ة‬ ‫ُ ُ ٓ َ َ ق اٌغ ق‬ ‫ض‬ َ

َ‫ال َضٍِِٔ اٌ َّأٍِ حِنيَ َضٍِِٔ وَ٘ىَ ِؤِِ ْ وال َغِشِ ُ َّبسِ ُ حِنيَ َغِشِ ُ وَ٘ىَ ِؤِِ ْ و ال َشِشَ ُ اٌْخَِّش‬

ْ ِِ‫حِنيَ َشِشَُثهَب وَ٘ىَ ِؤ‬

ٓ ُ ُ

Pezina tidaklah berzina (jika) ketika berzina ia beriman, pencuri tidaklah

mencuri (jika) ketika mencuri ia beriman, dan (seseorang) tidaklah meminum

khamr (jika) ketika meminumnya ia beriman.121

َ ‫عَ ٖ ع‬ ‫ز‬ ُ

ِِٗ‫ٌَُِظَ املؤَِِٓ اٌََّ ٌِ َشِجَ ُ و جَبسُ ُ جَبئِ ْ إىلَ جِٕج‬

Tidaklah (disebut) mukmin orang yang kenyang sedang tetangganya

kelaparan di dekatnya.122

Hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa amal-amal taleh,

khususnya dosa-dosa besar, tidaklah bisa beriringan atau

berdampingan dengan iman. Amal taleh selalu dalam posisi



120 Kata "taleh" asalnya adalah thâliħ (yang buruk, jelek, jahat). Dalam al-

Qur'an, hal-hal yang buruk (keburukan-keburukan) disebut as-sayyi'ât atau as-sû',

dan terkadang disebut al-faħsyâ' (perbuatan keji, kotor, atau mesum) atau al-

munkar (kemungkaran).

121 Hadits shaħîħ diriwayatkan dari Abu Hurairah oleh al-Bukhârî (No.



5150), Muslim (No. 86), dan lain-lain. Lihat, al-Albânî, as-Silsilah ash-Shaħîħah,

VI/1269.

122 Hadits shaħîħ diriwayatkan dari Ibnu ’Abbâs oleh: (1) al-Bukhârî dalam



al-Adab al-Mufrad, (2) ath-Thabrânî dalam al-Kabîr, (3) al-Ħâkim, (4) Ibnu Abî

Syaibah dalam Kitâb al-Îmân, (5) al-Khathîb dalam Târîkh Baghdâd, (6) Ibnu

’Asâkir, dan (7) adh-Dhiyâ' dalam al-Mukhtârah . Lihat, al-Albânî (No. 149), as-

Silsilah ash-Shaħîħah, I/229.

108 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





berlawanan atau bertolak belakang dengan iman, menuju arah

masing-masing yang semakin berjauhan. Semakin banyak dan kuat

amal taleh yang dilakukan seseorang, maka semakin sedikit dan

lemah imannya. Jika kemaksiatannya kian naik mendekati angka

puncak, maka keimanannya kian turun mendekati angka nol.

Dengan demikian, keberadaan yang satu meniadakan lainnya,

kemenangan yang satu mengalahkan lainnya, atau dominasi yang

satu memperlemah lainnya.

Allah swt memberikan peringatan, sindiran keras dan

ancaman kepada orang-orang yang beramal taleh:

1) Sekecil apapun keburukan yang dikerjakan seseorang, di akhirat

kelak ia akan melihat akibat amalnya itu dan diberikan

balasannya. Allah swt berfirman:

   

  

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun,

niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. az-Zalzalah [99]:

8).123

2) Orang-orang yang berbuat kejahatan dikonfrontasikan dengan

orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Allah swt

berfirman:

  



 

 

 

 

  

   

123 Lihat QS. an-Nisâ' [4]: 123.

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 109





Apakah orang-orang yang membuat kejahatan-kejahatan (amal-amal

taleh) itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti

orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, yaitu sama

antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang

mereka sangka itu. (QS. Al-Jâtsiyah [45]: 21).

3) Orang-orang yang berlumuran dosa adalah ahli neraka. Allah

swt berfirman:

   

 

 

   

  

(Bukan demikian). Yang benar, barangsiapa berbuat dosa dan ia telah

diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di

dalamnya. (QS. al-Baqarah [2]: 81).

b. Amal Taleh: Antisipasi, Solusi dan Penyikapannya

Amal taleh memang dicela dan akan berbalas hukuman.

Akan tetapi Allah swt tidak membiarkan manusia melakukan amal

taleh dengan tanpa memberikan antisipasi, solusi atau

penyikapannya. Hal itu antara lain sebagai berikut:

1) Sebagai langkah antisipatif agar orang-orang mukmin terhindar

dari amal-amal taleh dan tidak terjerumus di dalamnya,

hendaknya mereka: (1) tidak mengikuti hawa nafsu sendiri124

dan hawa nafsu orang-orang yang sesat lagi menyesatkan125, (3)

tidak mengikuti langkah-langkah setan126, (4) mengikuti jalan





124 Lihat QS. an-Nisâ' [4]: 135.

125 Lihat QS. al-Mâidah [5]: 77.

126 Lihat QS. an-Nûr [24]: 21.

110 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





Allah dan tidak mengikuti jalan-jalan lain127, serta (5) bekerja

sama dan tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan,

bukan dalam kedosaan dan permusuhan.

2) Orang-orang yang melakukan amal-amal taleh hendaknya segera

bertaubat, dan diberi deadline hingga sebelum datangnya ajal. Jika

ia bertaubat saat ajal tiba, maka taubatnya tidak akan diterima

oleh Allah.128

3) Orang yang mengerjakan amal-amal taleh kemudian bertaubat,

beriman, dan memperbaiki diri, ia akan mendapatkan ampunan

Allah swt.129

4) Iman, takwa, dan amal saleh menjadi lantaran dihapuskannya

amal taleh yang dilakukan sebelumnya.130

5) Amal taleh yang dilakukan seseorang tidaklah dibalas kecuali

dengan yang sepadan dengannya.131

6) Menolak perbuatan buruk yang dilakukan orang lain dengan

yang lebih baik.132 Meskipun satu keburukan yang dilakukan

orang lain boleh dibalas dengan satu keburukan yang sepadan,

akan tetapi jika mau memaafkan dan membalasnya dengan

perbuatan baik, maka ia akan mendapatkan jaminan pahala di

sisi Allah.133

KESIMPULAN SUBTANTIF



127Lihat QS. al-An’âm [6]: 153.

128Lihat QS. an-Nisâ' [4]: 17-18.

129 Lihat QS. al-Mâidah [5]: 65; al-Anfâl [8]: 29; ath-Thallâq [65]: 5; al-



’Ankabût [29]: 7; at-Taghâbun [64]: 9 al-A’râf [7]: 153 .

130 Lihat QS. Hûd [11]: 114.



131 Lihat QS. Ghâfir [40]: 40. Maksudnya, keburukannya tidak dibalas



dengan keburukan yang berlipat ganda.

132 Lihat QS. al-Jâtsiyah [45]: 96.



133 Lihat QS. asy-Syûrâ [42]: 40.

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 111





1. Kata îmân dalam al-Qur'an memiliki beberapa pengertian sesuai

konteks penggunaannya, di antaranya adalah:

a. Keyakinan atau kepercayaan dalam hati.

b. Tauhid (monotheism), sebagai lawan dari syirik (polytheism)

c. Peribadatan, yang di dalamnya terkandung keyakinan bulat,

ucapan yang benar, dan amal saleh.

d. Syari'at Islam, sebagai lawan dari kufur (syari'at non-Islam)

2. Iman pada hakikatnya adalah keyakinan yang bulat dan benar

dalam hati, yang kemudian diikrarkan dengan lisan (ucapan yang

haq) dan dibuktikan dengan perbuatan (amal saleh). Juga

merupakan pondasi dasar, yang kemudian di atasnya didirikan

bangunan beserta berbagai perlengkapan dan asesorisnya.

3. Dalam al-Qur'an dan as-Sunnah, materi-materi pokok keimanan

(yang kemudian disebut enam rukun iman) selalu dikaitkan

dengan materi-materi ibadah, amal saleh dan akhlak, sebagai

konsekuensi dari keimanan. Pembelajaran rukun-rukun iman

disampaikan dalam beberapa tahap sebagai berikut:

a. Tahap sosialisasi dan penerangan dalam rangka memotivasi

manusia agar menjadi orang yang bertakwa. Dalam tahap ini

keimanan dijadikan sebagai indikator bagi ketakwaan (di

antara ciri orang yang bertakwa), yakni: (1) iman kepada yang

ghaib, (2) iman kepada kitab-kitab-Nya, dan (3) iman kepada

hari akhir, dengan konsekuensi yang masih relatif ringan,

terbatas dan mudah diukur, seperti melaksanakan shalat dan

memberikan infak.

b. Tahap pengisian dan pembobotan sisi batin seorang muslim

dan pembentukan karakter mukmin sejati. Dalam tahap ini

keimanan dijadikan sebagai esensi dari kebajikan, dan materi

keimanan sudah diperinci menjadi 5, yaitu: (1) iman kepada

Allah, (2) iman kepada hari akhir, (3) iman kepada para

malaikat, (4) iman kepada kitab-kitab suci, dan (5) iman

112 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





kepada para nabi. Sebagai konsekuensinya, keimanan

tersebut harus diaktualisasikan dalam sikap, perilaku dan

tindakan yang baik dan bernilai guna.

c. Tahap peneguhan ideologi, pembuktian komitmen, dan

pengujian loyalitas bagi orang-orang yang beriman. Dalam

tahap ini orang-orang beriman diperintahkan untuk beriman

dengan sungguh-sungguh dan memberikan ultimatum

kepada orang-orang yang kufur (tidak beriman) kepada: (1)

Allah, (2) malaikat-malaikat-Nya, (3) kitab-kitab-Nya, (4)

rasul-rasul-Nya, dan (5) hari akhir.

d. Tahap penyempurnaan rukun iman menjadi enam, yakni

ditambah: (6) iman kepada takdir. Dalam tahap ini telah

dideskripsikan secara lengkap tentang 3 pokok ajaran agama

(Islam), yaitu islam (pokok-pokok ibadah), iman (pokok-

pokok akidah), dan ihsan (esensi akhlak).

4. Iman kepada Allah swt memiliki 3 unsur yang bersifat integral,

yaitu: (1) rububiah-Nya, (2) uluhiah-Nya, dan (3) asma' wa

shifat-Nya. Keimanan kepada Allah dalam tiga unsur tersebut

merupakan esensi tauhid (pengesaan Allah).

5. Agar iman bertambah kuat, berkembang dan meningkat, maka

iman perlu selalu dipupuk. Di antara hal-hal yang dapat

mempersubur dan memupuk keimanan adalah:

a. Ilmu dan pengetahuan.

b. Zikir.

c. Tafakur.

6. Keberadaan iman pada diri seseorang menuntut dilakukannya

amal saleh dan ditinggalkannya amal taleh serta pengaktualisa-

sian nilai-nilai keimanannya dalam kehidupan sehari-hari.

a. Iman dan amal saleh merupakan dua hal yang saling

berkonsekuensi. Keberadaan iman menuntut amal saleh

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 113





sebagai buktinya, dan keberadaan amal saleh menuntut iman

sebagai landasannya.

b. Sebaliknya, iman dan amal taleh selalu dalam posisi

berlawanan atau bertolak belakang, menuju arah masing-

masing yang semakin berjauhan. Keberaan amal taleh

merupakan tanda atau indikator bagi lemah, surut atau

tiadanya iman seseorang.









NILAI-NILAI IMPLEMENTATIF

1. Setiap muslim hendaknya senantiasa berusaha meningkatkan

derajatnya menjadi mukmin hingga mencapai derajat mu'minan

114 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





ħaqqan (mukmin sejati). Seorang mukmin hendaknya

membuktikan keimanannya dengan mengerjakan amal-amal

saleh dan menjauhi amal-amal taleh.

2. Setiap mukmin hendaknya menyempatkan diri untuk senantiasa

mengevaluasi keimanannya untuk mengetahui apakah terjadi

pasang ataukah surut pada keimanannya. Evaluasi keimanan

bisa dilakukan antara lain dengan cara mengidentifikasi

indikator-indikator yang terjadi berdasarkan tanda-tanda dan

cabang-cabang iman yang sudah ditentukan;

3. Jika seorang mukmin menemukan indikasi surutnya iman pada

dirinya, hendaknya ia segera berusaha mengatasinya. Jika ia

tidak mampu mengatasinya sendiri, maka sebaiknya ia

berkonsultasi atau minta nasehat kepada ahlinya di antara para

ulama (ahli-ahli agama Islam) yang terpercaya.

4. Agar iman seseorang selalu dalam keadaan pasang, hendaknya ia

melakukan hal-hal sebagai berikut:

c. memupuk keimanan dengan meningkatkan ilmu dan

pengetahuan yang dimiliki, baik melalui kegiatan membaca,

mendengarkan, atau mengobservasi;

d. melakukan perenungan atau penelitian terhadap tanda-tanda

kebesaran Allah swt, baik yang tersebar di alam raya (alam

semesta) maupun yang ada dalam alam mini (diri sendiri);

e. mengambil pelajaran dan dan hikmah dari berbagai

fenomena, peristiwa, atau kasus yang terjadi dalam

kehidupan sehari-hari di dunia ini.







TES FORMATIF

1. Jelaskan pengertian iman, baik secara etimologi maupun

terminologi!

II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 115





2. Kata iman di dalam Al-Qur'an setidaknya digunakan dalam 4

konteks makna. Sebutkan dan jelaskan penerapan masing-

masing sesuai dengan konteksnya!

3. Dalam ajaran Islam, dikenal adanya enam rukun iman.

Bagaimanakah pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam

al-Qur'an dan al-Hadits dalam proses penyempurnaan rukun

iman?

4. Iman kepada Allah swt memiliki 3 unsur utama, yakni: (1)

Rububiah, (2) Uluhiah dan (3) Asma' Washifat.

a. Jelaskan hubungan antara ketiga unsur tersebut dalam

kaitannya dengan masalah tauhid!

b. Sementara golongan dalam Islam membagi tauhid menjadi 3,

yakni: (1) tauhid uluhiah, (2) tauhid rububiah, dan (3) tauhid

asma' washifat. Apakah pembagian tauhid tersebut dapat

dibenarkan? Jelaskan dan kemukakan argument Saudara baik

secara akli maupun nakli!

5. Di antara pupuk iman adalah: (1) ilmu dan pengetahuan, (2)

zikir, dan (3) tafakur. Bagaimanakah peranan dan kontribusi

ketiganya dalam mempersubur iman seseorang?

6. Allah swt berfirman dalam QS. Al-’Ashr [103]:

  

   

  

 

 

 



a. Dalam ayat di atas ada empat hal yang menjadikan manusia

dikecualikan dari menderita kerugian. Kemukakan dan

jelaskan hubungan di antara keempat hal tersebut!

116 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya





b. Dalam al-Qur'an banyak sekali terdapat rangkaian iman dan

amal saleh. Sebagian ulama mendefinisikan iman dengan

mencakup amal saleh sekaligus, sedang sebagian lainnya

menganggap amal saleh bukan bagian dari iman melainkan

konsekuensi dari iman. Bagaimanakah komentar Saudara

terhadap perbedaan pendapat tersebut? Dan bagaimanakah

pendapat Saudara tentang hubungan iman dan amal saleh?

7. Iman bisa pasang dan bisa surut. Bagaimanakah cara

mengetahui pasang dan surutnya iman? Dan bagaimanakah

langkah-langkah untuk menjaga pasangnya iman, dan mengatasi

problem surutnya iman?

8. Dalam realita sehari-hari banyak orang yang mengaku sebagai

orang yang beriman atau setidaknya menolak dikatakan tidak

beriman, namun mereka terus-menerus dalam kemaksiatan,

keingkaran atau amal talehnya. Menurut Saudara, mengapa bisa

terjadi seperti itu? Dan bagaimanakah solusinya?

9. Tilik diri:

a. Apakah Saudara termasuk orang yang beriman? Kemukakan

alasan Saudara!

b. Selama ini apa sajakah problem, gangguan, dan kendala yang

Saudara alami dalam menjaga dan meningkatkan keimanan?

Di antara hal-hal tersebut, manakah yang Saudara rasakan

paling sulit untuk diatasi?

c. Bagaimanakah kiat-kiat yang Saudara lakukan untuk

mempersubur keimanan Saudara?



Related docs
Other docs by linzhengnd
i-Health
Views: 0  |  Downloads: 0
State employees recall events of September 11
Views: 7  |  Downloads: 0
0804050421330_2110
Views: 4  |  Downloads: 0
Listino2009 - Meetup
Views: 0  |  Downloads: 0
TwoSurveyCalculator
Views: 0  |  Downloads: 0
Guidelines.xlsx
Views: 0  |  Downloads: 0
APPALACHIA AND THE OZARKS
Views: 2  |  Downloads: 0
Proliferation Studies
Views: 0  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!