BAB II
IMAN
DAN KONSEKUENSINYA
PANDUAN NORMATIF
1. QS. Al-Kahfi [18] Ayat 27 – 30 :
48 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 49
(27) Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu Kitab
Tuhanmu (al Quran). tidak ada (seorangpun) yang dapat merobah
kalimat-kalimat-Nya. dan kamu tidak akan dapat menemukan
tempat berlindung selain dari padanya.
(28) Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang
menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap
keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka
(karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu
mengikuti orang yang hatinya telah kami lalaikan dari mengingati
kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu
melewati batas.
(29) Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka
barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia
beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia
kafir". Sesungguhnya kami telah sediakan bagi orang orang zalim
itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka
meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air
seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah
minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.
(30) Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah kami
tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan
amalan(nya) dengan yang baik.
2. QS. Al-’Ashr [103] Ayat 1 – 3:
50 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
(1) Demi masa,
(2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian;
(3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan
nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat
menasihati supaya menetapi kesabaran.
KAJIAN INTERPRETATIF
A. Kajian Umum
Dalam Islam, iman merupakan persoalan pokok dan
mendasar, karena adanya iman atau ketiadaannya (kufur) dalam diri
seseorang akan berpengaruh terhadap situasi kejiwaannya, dan
situasi kejiwaan itu akan berpengaruh terhadap perilaku dan
perbuatannya. Pada dasarnya Islam mengakui bahwa masalah iman
dan kufur merupakan hak asasi tiap individu, apakah dia mau
beriman atau mau kafir. Kemahabesaran dan kemahasempurnaan
Allah pada hakikatnya tidak terpengaruh dengan keimanan atau
kekufuran hamba-Nya. Keimanan seseorang tidak akan menambah
apapun pada kebesaran-Nya, sebagaimana kekufurannya tidak akan
mengurangi apapun dari kebesaran-Nya. Dia mampu menciptakan
makhluk yang beriman semua dan taat secara total seperti malaikat,
sebagaimana Dia kuasa menciptakan makhluk yang kemudian
mengambil dan menjalani takdirnya menjadi kafir selamanya dan
durhaka secara total seperti Iblis.
Adapun manusia telah ditakdirkan-Nya memiliki kebebasan
berkehendak dan kemampuan berikhtiar (memilih) untuk menjadi
mukmin atau kafir. Tiap manusia dibekali dengan dua pembawaan
dan potensi yang kontradiktif, yakni: (1) fitrah dan potensi
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 51
ketakwaan, yang dengannya ia memiliki kecenderungan mengikuti
kebenaran dan memiliki jalan petunjuk, dan (2) hawa nafsu dan
potensi kefasikan, yang dengannya ia memiliki kecenderungan
mengikuti kebatilan dan memilih jalan sesat. Namun kasih sayang
dan limpahan karunia Allah terhadap umat manusia yang telah Dia
takdirkan menjadi khalifah di bumi, kehendak-Nya agar bumi
dipusakai oleh hamba-hamba yang saleh1, dan kemahatahuan-Nya
akan permusuhan abadi dan tipu daya dahsyat dari Iblis dan setan
terhadap mereka, membuat-Nya tidak memberikan kebebasan itu
secara mutlak, melainkan kebebasan yang di dalamnya ada rambu-
rambu petunjuk2 serta pilihan yang di dalamnya ada
pertanggungjawaban, konsekuensi dan balasan.
Memang, jika firman Allah dalam QS. Al-Kahfi [18] ayat 29
di atas dipotong dan dicuplik di tengahnya saja yakni pada
statemen "Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman,
dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir"3 dengan
1 Lihat: QS. Al-Anbiyã' [21]: 105.
2 Yakni rambu-rambu yang menunjukkan adanya 2 jalan, jalan kebajikan
dan jalan kesesatan, sebagaimana firman-Nya (y.a.): "Dan Kami telah menunjukkan
kepadanya dua jalan." (QS. Al-Balad [90]: 10).
َّٓ ش ء فٍ ؤِٓ وِٓ ش ء فٍُىفش
3 Teks ayat: “…ِ ُ ْ َْ َ َ ”…ف َ ِ َب َ َ ُْ ِ ِ ِ َ َ ِ َبMenurut al-Mãturĩdĩ (Ta'wĩl
Ahl as-Sunnah, VII/166), firman Allah tersebut memiliki 3 alternatif makna,
yakni: (1) Sesungguhnya seseorang itu beramal untuk dirinya sendiri bukan
beramal untuk orang lain. (2) (Nabi saw diperintah untuk menyatakan):
"Sesungguhnya aku telah menyampaikan risalah (Islam) kepada kalian. Maka aku
dan siapa pun selainku tidak akan memaksa kalian untuk (menerima Islam).
Barangsiapa di antara kalian berkeinginan hendaklah ia beriman, dan barangsiapa
berkeinginan terserahlah ia kafir. Sesungguhnya seseorang itu beriman
berdasarkan pilihan dan kehendaknya, dan barangsiapa kafir maka ia pun kafir
berdasarkan pilihan dan kehendaknya, ia tidak dipaksa untuk (melakukan) itu."
(3) Sesungguhnya masalah iman dan kufur itu telah diterangkan oleh Allah
akibat-akibatnya, apa akibat orang yang beriman dan apa akibat orang yang kafir,
yakni surga dan kenikmatan di dalamnya (bagi yang beriman) dan neraka dengan
berbagai azabnya (bagi yang kafir).
52 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
mengabaikan rangkaian sebelumnya dan tidak melihat kelanjutan
ayatnya, maka seolah-olah Allah swt memberikan kebebasan
sepenuhnya kepada manusia untuk beriman atau kafir dalam posisi
yang sama. Namun jika diamati secara teliti, dipahami secara
objektif, direnungkan secara jernih, dan dikaji secara komprehensif,
maka akan ditemukan bahwa makna ayat tersebut bukanlah dalam
konteks memberikan kebebasan secara mutlak terhadap umat
manusia untuk beriman atau kafir, melainkan dalam konteks
tahapan dakwah Nabi saw yang penuh tantangan serta banyak
mendapatkan gangguan dan ejekan dari orang-orang kafir lantaran
pada saat itu kebanyakan pengikut Nabi saw berasal dari kalangan
fakir dan miskin. Maksud diturunkannya QS. Al-Kahfi [18] Ayat
27-314 adalah untuk memberikan dukungan moril kepada Nabi saw
dan mengokohkan jiwanya agar tetap melanjutkan misi dakwahnya,
tidak perlu tersinggung dan marah terhadap cemoohan orang-
orang kafir, konsisten mengajarkan ayat-ayat yang diwahyukan, dan
bersikap sabar bersama orang-orang mukmin yang mayoritas fakir
dan miskin itu. Nabi saw juga diperintahkan untuk bersikap tegas
terhadap orang-orang kafir dengan menyatakan bahwa risalah yang
4 Diriwayatkan dari Salmãn Al-Fãrisĩ, ia berkata: Telah datang kepada
Rasulullah saw orang-orang yang tertarik kepada Islam, yakni ’Uyainah bin
Ħishn, Al-Aqra’ bin Ħabis dan rombongannya. Mereka bekata: "Wahai
Rasulullah, sesungguhnya jika engkau duduk di depan majlis ini dan engkau singkirkan
mereka beserta jubah-jubah kunonya, maka kami akan duduk menghadapmu, berbincang
denganmu, dan belajar darimu." Orang-orang yang mereka minta untuk disingkirkan
dari majlis itu adalah Salmãn Al-Fãrisĩ, Abũ Dzarr, dan orang-orang fakir di
kalangan shahabat Nabi. (Lihat: Al-Wãħidĩ, Asbãb an-Nuzũl, h. 155-156). Maka
turunlah ayat-ayat tersebut (ayat 27-29) untuk mengingatkan Nabi saw agar tidak
terpancing, terpengaruh atau meladeni orang-orang sombong itu, serta agar
membiarkan dan tidak memedulikan mereka, apakah mau beriman ataukah mau
kafir. Jadi, hal itu sama sekali bukan dimaksudkan memberikan kebebasan
mutlak untuk beriman atau kafir sebagaimana kesalah pahaman sebagian orang,
melainkan lebih dimaksudkan sebagai pembiaran sekaligus celaan (tawbĩkh,
reprehension) atas perilaku buruk mereka.
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 53
diembannya adalah benar dan kebenaran itu bersumber dari Allah
swt, maka terserah kepada mereka mau beriman atau tetap dalam
kekafiran dengan segala konsekuensinya. Jika mereka tetap kukuh
dalam kekafirannya dan terus berbuat kezaliman, maka kelak
mereka akan dinistakan dengan neraka dan siksaan yang tiada
terperi pedihnya. Tetapi jika mereka mau mengoreksi
kekeliruannya, menyadari kesesatannya, kemudian mau beriman
dan beramal saleh, maka mereka kelak akan dimuliakan dengan
surga dan kebahagiaan yang tiada tara nikmatnya.
Dengan demikian jelaslah bahwa iman adalah satu pilihan
yang dikehendaki Allah swt untuk diambil oleh manusia. Iman
merupakan modal dasar yang kemudian dikembangkan dalam
bentuk amal saleh sebagai konsekuensinya dan diaktualisasikan
dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Iman dan amal saleh
merupakan dua hal yang bersifat integral. Dalam Al-Qur'an,
integrasi antara iman dan amal saleh mendapatkan perhatian besar
dan serius yang terlihat dalam penggunaan keduanya secara
berpasangan dalam banyak ayat.5 Perhatian yang begitu besar
terhadap integrasi iman dan amal saleh tersebut karena keduanya
memiliki peran besar dalam menghindarkan atau mengentaskan
manusia dari kerugian dan kecelakaan dari masa ke masa6 serta
menghantarkan mereka untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat.
Iman berperan dalam memperkokoh kepribadian manusia dan
memperjelas orientasi kehidupannya, sehingga ia tidak mudah
5 Dalam Al-Qur'an, iman dan amal shaleh dituturkan secara berangkai
tidak kurang dari 68 kali. Lihat: ’Abd al-Bãqĩ, Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfãzh al-
Qur'ãn al-Karĩm, h. 483-486.
6 Sebagai jalan keluar (solusi) dari kerugian. Dalam QS. Al-’Ashr di atas
solusi tersebut akan lebih sempurna, jika iman dan amal shaleh itu bisa
melahirkan kepedulian dan kepekaan sosial, serta interaksi sosial yang positif dan
mendidik, yang antara lain direalisasikan melalui saling berpesan dengan
kebenaran dan kesabaran.
54 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
terombang-ambing oleh ombak zaman dan tidak gampang goyah
oleh badai masa. Sedangkan amal saleh berperan dalam
memperkuat eksistensi manusia baik dalam pandangan sesama
maupun dalam penilaian Allah swt, dan mempertegas nilai guna
dirinya baik bagi diri sendiri, orang lain maupun alam sekitar.
B. Pengertian dan Hakikat Iman
Kata ĩmãn diderivasi dari ãmana-yu'minu yang berarti: (1)
memberikan rasa aman dan tenang, (2) memiliki keamanan dan
ketenangan, dan (3) yakin, penuh kepercayaan, membenarkan.
Secara etimologi, ĩmãn berarti percaya sepenuhnya atau keyakinan
bulat. Misalnya, jika seseorang mempercayai sebuah kebenaran
secara bulat, berarti ia mengimani kebenaran itu. Iman berarti
mempercayai bulat-bulat suatu gagasan, doktrin, ideologi,
seseorang, dan sebagainya. Lawan dari iman bisa berupa ragu-ragu
(syakk) atau ingkar (kufr).
Di dalam Al-Qur'an, kata ĩmãn memiliki beberapa pengertian
sesuai konteks penggunaannya, di antaranya adalah:
1. Keyakinan atau kepercayaan dalam hati, seperti makna
iman dalam firman Allah swt:
...
“Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman".
Katakanlah (hai Muhammad): "Kalian belum beriman, akan tapi
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 55
berucaplah kalian: "Kami telah tunduk", karena iman itu belum masuk
ke dalam hati kalian.” (QS. Al-Ħujurãt [49]: 14).7
2. Tauhid (monotheism) sebagai lawan dari syirik (polytheism),
seperti firman-Nya:
...
“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka
beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari
wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu
menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin)
sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik
dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (QS. Al-
Baqarah [2]: 221).
3. Peribadatan, yang di dalamnya terkandung 3 unsur sekaligus,
yakni keyakinan bulat, ucapan yang benar, dan amal saleh.
Misalnya, iman dimaknakan shalat8 dalam firman-Nya:
...
7 Lihat juga QS. An-Naħl [16]: 106; Al-Ħujurãt [49]: 7; Al-Mujãdalah
[58]: 22.
8 Altunjĩ, Al-Mu’jam al-Mufashshal fĩ Tafsĩr Gharĩb al-Qur'ãn al-Karĩm, h. 43;
dan Al-Ashfahãnĩ, Mu’jam Mufradãt Alfãzh al-Qur'ãn, h. 34.
56 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
“...Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya
Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (QS.
Al-Baqarah [2]: 143).
4. Syari'at Islam. Dalam konteks ini, iman dipasangkan dengan
antonimnya yakni kufur (syari'at non-Islam), dan mukmin
(penganut agama Islam) dipasangkan dengan kafir (penganut
agama non-Islam) seperti disebut dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran,
sekali-kali mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah
sedikitpun; dan bagi mereka azab yang pedih.” (QS. Ãli ’Imrãn [3]:
177).
...
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi
wali (pengelola urusan) dengan meninggalkan orang-orang mukmin.”
(QS. Ãli ’Imrãn [3]: 28).
Ayat-ayat di atas menunjukkan adanya kecermatan yang luar
biasa dari Yang Maha Cermat (Al-Khabĩr) dalam menerapkan iman
sesuai konteksnya, menyelami jiwa sesuai keadaannya, mengamati
kepribadian sesuai karakternya, dan melihat perilaku berdasarkan
kondisi jiwanya. Iman dalam sebuah konteks dimaksudkan secara
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 57
minimal sesuai makna hakikinya (keyakinan yang bulat dan benar
dalam hati), dan dalam konteks lain dimaksudkan secara maksimal
sebagai satu kesatuan antara keyakinan yang bulat, ucapan yang
benar, dan perbuatan yang baik. Iman dalam konteks yang relatif
terbatas dan simpel dimaksudkan sebagai sebuah paham
(monoteisme), dan dalam konteks yang sempurna dan kompleks
dimaksudkan sebagai sebuah sistem ajaran (syari'at Islam).
Allah swt memandang keyakinan seseorang sebagai pangkal
dan titik tolak dari ucapan, perilaku dan perbuatannya. Mengapa
Allah swt selalu menyeru pengikut para rasul dengan ungkapan "Yã
ayyuhal-ladzĩna ãmanũ"9 bukan dengan "Yã ayyuhal-ladzĩna aslamũ"10.
Hal itu mengandung maksud-maksud sebagai berikut:
1. Mendidik orang-orang muslim agar segala ucapan, perilaku dan
perbuatannya dilandasi dengan keimanan sehingga bernilai
sebagai amal saleh yang berpahala di sisi Allah swt, sekaligus
memotivasi mereka agar selalu mengevaluasi kualitas
keimanannya dan menyuburkannya dengan amal saleh.
2. Memberikan identitas atau "stempel" kepada para pengikut
Rasulullah saw dengan perkara yang prinsipil dan subtantif yaitu
keimanan, dengan maksud menyapa dan menyeru orang-orang
yang memeluk Islam secara lahir dan batin, guna membedakan
mereka dengan orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Hal
itu karena orang-orang munafik yang telah mengucapkan
syahadat juga termasuk umat Islam meskipun mereka tetap
dalam kemunafikannya.
Dengan demikian, iman pada hakikatnya adalah keyakinan
yang bulat dan benar dalam hati, yang kemudian diikrarkan dengan
9 ٌَ َّ
Hai orang-orang yang beriman ( .) ََب أَُهَب اََّزََِٓ إَُِٓىِا
10 ُ َّ ٌَز
Hai orang-orang yang beragama Islam ( .) ََب أَُهَب اََّ ََِٓ أَعٍَِّىِا
58 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
lisan (ucapan yang haq) dan dibuktikan dengan perbuatan (amal
saleh). Iman pada hakikatnya adalah pondasi dasar, yang kemudian
di atasnya didirikan bangunan beserta berbagai perlengkapan dan
asesorisnya.11
C. Rukun Iman dan Pendekatan Keimanan
Iman memiliki materi-materi pokok yang wajib diimani dan
sekaligus menjadi rukun-rukun (pilar-pilar) yang berfungsi untuk
menyangga dan mengkokohkan bangunan keimanan. Di dalam Al-
Qur'an, materi-materi keimanan itu tidak pernah disebut secara
mandiri, melainkan selalu dibarengkan dengan materi-materi
bidang ibadah, akhlak mulia dan amal-amal saleh lainnya. Hal ini
mengisyaratkan pentingnya pengintegrasian antara bidang keiman-
an dengan bidang-bidang lainnya sebagai satu kesatuan ajaran.
11 Di kalangan para ulama secara garis besar ada 2 pendapat tentang
pengertian iman. Pertama. Iman adalah sebutan yang dipakai untuk mengikrarkan
secara lisan, membenarkan dengan hati, dan mengerjakan dengan anggota
badan. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Menurut al- Al-Asyqãr, iman
adalah ucapan hati dan lisan, serta perbuatan hati, lisan dan anggota badan. (Al-
Asyqãr, Tafsĩr al-’Usyr al-Akhĩr min al-Qur'ãn al-Karĩm, h. 70). Kedua. Iman adalah
mengikrarkan dengan lisan dan membenarkan dengan hati. Menurut Abũ
Hanĩfah, iman itu iqrãr (ikrar) dan tashdĩq (pembenaran). Definisi ini tidak
memasukkan amal perbuatan menjadi bagian dari iman. Alasan pendapat ini
adalah bahwa amal shaleh dalam banyak ayat Al-Qur'an disebut secara tersendiri
setelah penyebutan iman.
Al-Ghazãlĩ berusaha mengompromikan kedua pendapat tersebut dengan
mengatakan: "Tidaklah jauh jika amal dianggap bagian dari iman, karena
sebenarnya amal itu pelengkap dan penyempurna iman. (Hal itu) seperti jika
dikatakan bahwa kepala dan tangan adalah bagian dari manusia. Telah
dimaklumi bahwa tidaklah disebut manusia jika tanpa kepala, tetapi tetap disebut
manusia jika hanya terpotong tangannya." (Al-Ghazãlĩ, Iħyã Ulũm ad-Dĩn, I/119).
Menurut kami, meskipun kedua pendapat tersebut berbeda secara konsep
(teoritis), namun dalam tataran praktis tidak menimbulkan dampak yang
berarti, karena pendapat kedua mengakui amal perbuatan sebagai konsekuensi
dari iman.
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 59
Allah Yang Maha Bijaksana menyampaikan materi-materi
keimanan dan perintah mengimaninya secara bertahap dengan
menggunakan pendekatan-pendekatan sebagai berikut:
1. Pendekatan Normatif (Normative Opproach).
Pendekatan normatif dalam konteks ini berupa informasi
dan berita yang berisi prinsip-prinsip atau norma-norma dasar
ajaran Islam. Pendekatan ini digunakan dalam firman Allah swt:
(2) Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-
orang yang bertaqwa;
(3) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat,
dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada
mereka;
(4) dan mereka yang beriman kepada apa (Al-Quran) yang telah diturunkan
kepadamu dan apa (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelummu, serta
mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. (QS. Al-Baqarah
[2]: 2-4).
60 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
Pada ayat-ayat di atas keimanan dijadikan sebagai indikator
utama ketakwaan (ciri-ciri orang yang bertakwa) dan sebagian
materinya masih bersifat global. Menurut ayat-ayat ini, ketakwaan
memiliki 5 indikator: (1) iman kepada yang ghaib, (2) mendirikan
shalat, (3) menginfakkan sebagian rizki (harta), (4) iman kepada apa
(al-Qur'an) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw dan
apa-apa (kitab-kitab suci) yang diturunkan kepada nabi-nabi
sebelumnya, dan (5) meyakini adanya kehidupan akhirat (hari
akhir).12 Dari kelima indikator tersebut, 3 di antaranya adalah
materi keimanan (rukun iman), yaitu: (1) iman kepada yang ghaib,
(2) iman kepada kitab-kitab-Nya, dan (3) iman kepada hari akhir.
Ini merupakan tahap sosialisasi dan penerangan dalam
rangka memotivasi manusia agar menjadi orang beriman dan
bertakwa. Jika seseorang bisa mencapai dan memenuhi kelima
indikator ketakwaan tersebut, maka ia dinyatakan sebagai orang
yang berpetunjuk dan akan mendapatkan keberuntungan13. Dalam
tahap ini tuntutan dan konsekuensi dari keimanan masih relatif
ringan, terbatas dan mudah diukur lahiriahnya, seperti
melaksanakan shalat dan memberikan infak.
2. Pendekatan Subtantif (Substantive Opproach).
12 Dalam al-Qur'an, Allah memulai proses pembelajaran kepada manusia
dengan menyampaikan standar kompetensi (SK) terlebih dahulu sebagaimana
tercantum dalam QS. Al-Fãtiħah [1]: 5, yakni "membentuk manusia yang hanya
beribadah dan memohon pertolongan kepada Allah semata". Kemudian SK itu
dijabarkan menjadi berbagai kompetensi dasar (KD) dalam surat-surat
berikutnya seperti yang tercantum dalam QS. Al-Baqarah [2]: 2, yakni
"menjadikan al-Qur'an sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa". KD
tersebut lalu dijabarkan menjadi indikator-indikator ketakwaan sebagaimana
tersebut di atas.
13 Lihat QS. Al-Baqarah [2]: 5.
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 61
Pendekatan subtantif dalam konteks ini berisi hal-hal yang
tidak sekedar zhawãhir al-umũr14, akan tetapi berupa aktualitas di
balik formalitas atau hakikat di balik syari'at. Pendekatan ini
digunakan dalam firman Allah swt:
14 (1) Keadaan lahiriah atau sisi material suatu perkara, (2) fenomena
atau gejala-gejala yang tampak.
62 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu
kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada
Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan
memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang
yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan
shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya
apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan,
penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar
(imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-
Baqarah [2]: 177).
Pada ayat di atas keimanan dijadikan sebagai subtansi dari
sebuah kebajikan. Menurut ayat ini, pada hakikatnya kebajikan itu
tidaklah sebatas pada pemenuhan formalitas ibadah atau
pemasangan simbol-simbol agama saja15, seperti persoalan
menghadapkan wajah ke barat atau ke timur sewaktu shalat. Akan
tetapi subtansi kebajikan justru terletak pada keimanan yang
menjadi landasan dan spirit sekaligus orientasi dari ibadah itu.
Dalam ayat ini materi keimanan sudah diperinci menjadi 5, yaitu:
(1) iman kepada Allah, (2) iman kepada hari akhir, (3) iman kepada
para malaikat, (4) iman kepada kitab-kitab suci, dan (5) iman
kepada para nabi.
15 Hal itu bukan berarti bahwa formalitas ibadah atau simbol agama tidak
penting. Formalitas atau simbol-simbol tetaplah penting sebagai identitas dan
syiar sepanjang tidak malah menjadikan umat Islam terpecah belah dan terkotak-
kotak. Jika mereka justru berseteru hanya karena berbeda-beda formalitas atau
simbol yang digunakan, maka hendaklah dikembalikan kepada hal-hal subtantif
atau nilai-nilai universal yang menjadi landasan, spirit dan orientasi bersama.
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 63
Sebagai konsekuensinya, keimanan tersebut harus
dimanifestasikan dalam sikap, perilaku dan tindakan yang baik dan
bernilai guna, baik dalam bentuk: (1) ibadah seperti shalat dan
zakat, (2) amal sosial seperti membantu fakir miskin dan anak
yatim, maupun (3) akhlak mulia seperti menepati janji, tabah dalam
menjalani masa-masa susah dan sabar dalam menghadapi keadaan-
keadaan bahaya. Semua itu merupakan kebajikan yang sebenarnya.
Ini merupakan tahap pengisian dan pembobotan sisi batin
seorang muslim dan pembentukan karakter mukmin sejati serta
penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang berkepribadian baik
dan tangguh. Dalam tahap ini manusia dididik untuk menata
orientasi kehidupannya yang hakiki, memahami hakikat dari
sesuatu yang zhahir, mempunyai ketahanan diri yang kokoh,
memiliki komitmen dan loyalitas yang tinggi, serta punya kepekaan
dan kepedulian sosial.
3. Pendekatan Instruktif (Instructive Opproach)
Suatu tuntutan akan memiliki daya instruktif yang efektif
jika orang yang dituntut telah memiliki pemahaman normatif dan
penghayatan subtantif terhadap sesuatu yang dituntutkan.
Pendekatan subtantif digunakan untuk memperkuat dan mengikat
erat pemahaman dan penghayatan tersebut. Pendekatan ini
digunakan dalam firman Allah swt:
64 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan
rasul-Nya dan kepada Al-Kitab (Al-Qur'an) yang Allah turunkan kepada
rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang
kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-
Nya, dan hari Kemudian, maka Sesungguhnya orang itu telah tersesat dengan
sejauh-jauh kesesatan.” )QS. An-Nisã' [4]: 136).
Ayat di atas menginstruksikan orang-orang beriman untuk
beriman dengan sungguh-sungguh dan memberikan ultimatum
kepada orang-orang yang kufur (tidak beriman) kepada: (1) Allah,
(2) malaikat-malaikat-Nya, (3) kitab-kitab-Nya, (4) rasul-rasul-Nya,
dan (5) hari akhir.
Ini merupakan tahap peneguhan ideologi, pembuktian
komitmen, dan pengujian loyalitas bagi orang-orang yang beriman.
Dalam tahap ini iman sudah dikonfrontasikan langsung dalam satu
lini dengan masalah kufur yang pelakunya diultimatum dan dicap
sebagai orang yang tersesat jauh. Masalah keimanan dalam tahap
ini tidaklah berdiri sendiri, melainkan merupakan rangkaian dari
masalah keadilan (berbuat adil dan menjadi saksi yang adil) yang
diperintahkan dalam ayat sebelumnya (QS. An-Nisã' [4]: 135).
Lebih jauh, dalam tahap ini juga diungkap sikap dan perilaku
plin-plan orang-orang munafik yang suka mempermainkan
keimanan dengan berbolak-balik di antara pernyataan iman dan
perilaku kufur. Perbuatan mereka yang demikian itu tidak akan
diampuni dan mereka tidak akan mendapatkan jalan yang lurus16,
16 Lihat QS. An-Nisã' [4]: 137.
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 65
kecuali jika mereka segera meneguhkan keimanannya, bertaubat
secara benar, berbenah diri, dan mengerjakan amal-amal saleh.
4. Pendekatan Partisipatif (Participative Opproach)
Dalam konteks ini pendekatan partisipatif dimaksudkan
sebagai sebuah pendekatan di mana orang-orang yang dituntut
atau diajar dilibatkan secara langung dalam proses transfer ilmu
dan pengetahuan dari nara sumber pertama. Pendekatan ini
digunakan dalam sebuah hadits17 yang berisi dialog antara Nabi
saw dan seorang laki-laki jelmaan Jibril as dengan melibatkan para
sahabat dalam forum dialog itu. Dalam dialog itu, disampaikan
tentang definisi iman, islam, dan ihsan. ’Umar bin Al-Khaththãb
mengisahkan bahwa pada suatu hari ketika para shahabat sedang
bersama Rasulullah saw, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang
berpakaian serba putih dan berambut sangat hitam. Orang itu
kemudian menempelkan kedua lututnya ke kedua lutut beliau dan
meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha beliau, lalu ia
bertanya:
Jibril as : "Ya Muhammad, beritahukan kepadaku tentang
islam."
Rasul saw : "Islam adalah engkau (1) bersaksi bahwa tiada Tuhan
selain Allah dan sesungguhnya Muhammad itu utusan
17 HR. Muslim (no. 8), dari ’Umar bin al-Khaththãb. Teks hadits:
ََّ ...وَلَبيَ: ََب ُح َّ ُ أَخِِجشٍِِٔ عَِٓ اإلِعِالََِ! فَمَبيَ سَ ُى ُ ََِّٗ صًٍَََّ ََّ ُ عٍََُِِٗ وَعٍََُ: اإلِعِالَ ُ أَْْ تَشِهذَ أَْْ الَ إٌََِٗ إ ََّ اٌٍ ُ وَأ
َْ ََّٗ ِال َ َ ََّ ٌٍٗا ٌٍع ي ا ِ َّذ
ُج ص اٌض َ ََّ ت اٌص ََّٗ ٍَ ٌٍِح َّ ع ي ا
.ًُ َّذّا سَ ُى ُ ََِّٗ صًََّ اٌٍ ُ عٍََُِِٗ وَعٍََُ وَُمَُُِ َّالحَ وَُتؤِتٍَِ َّوَبحَ وَتَ ُى َ سََِضَبَْ وَتَح َّ اٌْجَُِتَ إِْْ اعِتَطَعِتَ إٌَُِِِٗ عَجُِال
وت ع ََّ ِ َ ُٗٗ ِ ٗ َ َذ َ
ٍُِِٗ ُلَبيَ: صذَلْتَ. لَبيَ: فَعَجِجَِٕب ٌَ ُ َغأٌَُ ُ وَُص ِّل ُ. لَبيَ: فأَخِِجشٍِِٔ عَِٓ اإلميَبِْ! لَبيَ: أَْْ ُتؤَِِِٓ ثِبٌٍِٗ وََِالَئِىَِتِٗ وَ ُُجِِٗ وَس
ٖ ج ََّ ََٔ ش َ َش َ ِ
َِْْاٌَُْىَِِ اِخشِ وَُتؤِ َِٓ ثِبٌْمذَسِ خَُِشِِٖ وَش ِِّٖ. لَبيَ: صذَلْتَ. لَبيَ: فَأَخِِجشٍِِٔ عَِٓ اإلِحِغَبِْ! لَبيَ: أَْْ تَعُِذَ اٌٍَٗ وأَّهَ تَ َا ُ، فَئ و
اٌغ َ ئي َ اٌغ َ ٖ َّٗ ش
!ٌَُِ تَىُِٓ َتشَا ُ فَئِٔ ُ َ َانَ. لَبيَ: فأَخِِجشٍِِٔ عَِٓ َّبعخِ! لَبيَ: َِب اٌَّْغُِى ُ عَِٕهَب ِثأَعٍَُِ ِِِٓ َّبئًِِ. لَبيَ: فَأَخِجِشٍِِٔ عَِٓ أََِبسَِتهَب
ُُ ُِ ت ُُ ج ٌ اٌش ط ح ُش خ َث
َلَبيَ: أَْْ تٍَِذَ األََِ ُ سََّتهَب، وَأَْْ تَشَي اٌْ ُفَبحَ اٌْع َاحَ اٌْعَبٌَخَ سِعَبءَ َّبءِ َتَ َبوَُىَْ فٍِ إٌَُُِْبِْ. لَبيَ: ح َّ أِطٍََكَ فٍََجِخْ ُ ٍَِِّب، ح َّ لَبي
ِٔٗ ً ُ َ ِّ ُ ى َُ ٗ اٌغ ً ل ت ََّٗ ع
. ُُ ٌٍََِِٕ: ََب عَّ ُ أََتذِسٌِ َِِٓ َّبئِ ُ؟ ٍُْ ُ: اٌٍ ُ وَسَ ُىٌُ ُ أَعٍِ ُ. لَبيَ: فَئَّ ُ جِِجشَِ ُ أَتَبوُِ ُعٍَُّىُِ دُش
66 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
Allah, (2) mendirikan shalat, (3) memberikan zakat,
(4) berpuasa Ramadhan, dan (5) berhaji ke Baitullah
jika engkau mampu sarananya untuk ke sana."
as
Jibril : "Engkau benar."
Umar ra : Kami heran terhadap orang itu. Ia bertanya
kepada Rasul dan ia membenarkannya.
Jibril as : "Ya Muhammad, beritahukan kepadaku tentang
iman."
Rasul saw : "Iman adalah engkau beriman kepada (1) Allah, (2)
malaikat-malaikat-Nya, (3) kitab-kitab-Nya, (4)
rasul-rasul-Nya, dan (5) hari akhir, dan (6) engkau
beriman kepada qadar, baik dan buruknya qadar."
Jibril as : "Engkau benar."
Jibril as : "Ya Muhammad, beritahu saya tentang ihsan."
Rasul saw : "Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau
melihat-Nya. Jika engkau tidak merasa melihat-Nya,
maka sesungguhnya Dia melihatmu."
Jibril as : "Beritahukan kepadaku tentang Kiamat."
Rasul saw : "Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya."
Jibril as : "Beritahukan kepadaku tentang tanda-tanda
Kiamat."
Rasul saw : "Jika budak perempuan melahirkan tuannya dan
engkau melihat ......"
Umar ra : Kemudian orang itu pergi, dan aku diam
tercenung. Lalu Nabi bertanya kepadaku.
Rasul saw : "Tahukah kamu siapa penanya tadi?"
Umar ra : "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu."
Rasul saw : "Sesungguhnya dia adalah Jibril yang mendatangi kalian
untuk mengajarkan agama kepada kalian."
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 67
Ini merupakan tahap pembelajaran yang ajaib dan luar biasa
bagi para sahabat setia Nabi saw, karena mereka diajar langsung
oleh "Guru Besar" dari Kerajaan Langit yang menerapkan model
pembelajaran "team teaching" dengan menggunakan dialogic method
(metode dialog). Hal itu jelas menunjukkan bahwa mereka adalah
murid-murid pilihan yang telah terbukti komitmen dan loyalitasnya
kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah murid-murid yang
sudah mencapai level ’ainul yaqĩn setelah sekian lama dibimbing,
dididik dan diajar oleh Rasulullah saw.
Tahap ini merupakan tahap penyempurnaan rukun iman
menjadi enam di mana para sahabat mendapatkan tambahan
pelajaran baru tentang iman kepada takdir. Dalam tahap ini Nabi
saw telah mendiskripsikan secara lengkap tentang 3 pokok ajaran
agama (Islam), yaitu islam, iman, dan ihsan. Islam, iman dan ihsan
merupakan 3 hal yang bersifat integral dalam pelaksanaannya.
Ibarat sebuah rumah, dalam konteks ini iman (akidah) adalah
pondasinya, islam (syari'at) adalah bangunannya, dan ihsan (akhlak)
adalah perabot dan asesorisnya.
D. Iman dan Tauhid
Di antara keenam rukun iman, iman kepada Allah swt
merupakan induk dari segala bentuk keimanan karena di dalamnya
terkandung subtansi ketuhanan yakni tauhid. Iman kepada Allah
swt mengandung makna meyakini dengan sepenuh hati bahwa
Allah swt adalah: (1) Rabb18, (2) Pemilik al-asmã' al-ħusnã wa al-matsal
al-a’lã, dan (3) Ilãh19 Wãħid. Yang pertama berkenaan dengan
18 Kata rabb diderivasi dari kata rabbã–yurabbĩ– tarbiyah yang bermakna
mengadakan, mencipta, menyusun, membangun, mendirikan, menumbuh-kan
sesuatu tahap demi tahap hingga mencapai batas kesempurnaan. Menurut
beberapa pendapat lainnya, rabb diderivasi dari: (1)
19 Kata ilãh diderivasi dari kata alaha–ya'lahu yang bermakna ’abada–
ya’badu (menyembah, mengabdi), dan ilãh di sini berarti al-ma’bũd (yang
68 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
rububiah Allah, yang kedua berkenaan dengan asma' washifat-Nya
(nama-nama kemuliaan dan sifat-sifat keagungan-Nya), dan yang
ketiga berkenaan dengan uluhiah-Nya.20 Ketiganya merupakan
unsur iman kepada Allah swt.21
disembah, tempat mengabdi). Pendapat-pendapat lain mengatakan bahwa ilãh
diderivasi atau berasal dari: (1) aliha yang bermakna taħayyara (bingung), dan ilãh
berarti "yang membuat bingung" karena manusia menjadi bingung jika
memikirkan dzat-Nya; (2) aliha ilaihi yang bermakna aliha ilaihi (berlindung atau
mengungsi kepadanya), dan ilãh berarti "yang mintai perlindungan, yang dituju
untuk mengungsi"; (3) wilãh (kerinduan) dengan wawunya diganti hamzah, dan
ilãh berarti "yang dirindukan"; atau (4) liyãh yang bermakna iħtijãb (terhijab, tidak
kelihatan), dan ilãh berarti: "yang tidak terlihat pandangan atau yang bathin (tidak
tergambarkan dzat-Nya oleh akal)". (Lihat, Al-Ashfahãnĩ, Mu’jam Mufradãt
Alfãzh al-Qur'ãn, h. 28; Ibnu Manzhûr, Lisãn al-Lisãn, h. I/40-41).
Jadi, ilãh memiliki makna: yang disembah, yang membuat bingung, yang
dituju dan dimintai perlindungan, yang dirindukan, yang tidak terlihat oleh
pandangan, dan tidak terjangkau gambaran akal. Kesemua makna tersebut ada
pada diri Allah dan didasarkan pada dalil-dalil Al-Qur'an maupun Al-Hadits.
(Lihat QS. Al-Anbiyã' [21]: 25; Al-Isrã' [17]: 44; Al-An’ãm [6]: 103; Al-Ħadĩd
[57]: 3; dan HR. Al-Bukhãrĩ, dari Ibnu ’Abbãs: "Pikirkanlah segala sesuatu, dan
janganlah berpikir tentang dzat Allah". Hadits ini oleh Ibnu Ħajar dianggap mauquf
dan sanadnya bagus, tapi Al-Albãnĩ memasukkan hadits semakna (dengan
redaksi agak berbeda) ke dalam kelompok hadits shahih).
20 Secara lebih mendasar dan meluas, Al-Ghazãlĩ mengemukakan bahwa
iman kepada Allah swt memiliki empat pilar, yaitu : (1) mengenal Dzat Allah swt,
(2) mengetahui sifat-sifat Allah swt, (3) mengetahui perbuatan-perbuatan Allah
swt, dan (4) hal-hal yang bersifat sam’ĩ, yakni berita-berita yang bersifat ghaib,
seperti masalah siksa kubur, padang mahsyar, surga dan neraka, dan lain-lain.
(Iħyã Ulũm ad-Dĩn, h. I/104).
21 Ketiganya bukan anasir atau rukun dari tauhid yang dikatakan terbagi
menjadi: (1) tauhid rububiah (tawħĩd ar-rubũbiyyah), (2) tauhid uluhiah (tawħĩd al-
ulũhiyyah), dan (3) tauhid asma' wa shifat (tawħĩd al-asmã' wa ash-shifãt). Tauhid
sama sekali tidak bisa dibagi-bagi seperti itu karena akan menuntut pembenaran
adanya sepertiga tauhid atau tauhid pecahan. Seseorang baru bisa dikatakan
beriman dan bertauhid jika ia beriman kepada Allah swt dalam 3 hal tersebut
secara integral. Jika ia meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah adalah satu-
satunya Pencipta alam semesta, akan tetapi dalam peribadatan ia menyekutukan-
Nya dengan sesembahan lain, maka ia adalah musyrik dan tidak bisa disebut
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 69
1. Unsur-unsur Keimanan kepada Allah
a. Rububiah Allah (Ar-Rubũbiyyah)22
Allah swt adalah: (1) Rabb al-’ãlamîn (Rab alam semesta)23, (2)
Rabb al-’arsy (Rab arasy)24, (3) Rabb as-samãwãt wa al-ardh (Rab langit
dan bumi)25, (4) Rabb al-masyriqain (Rab kedua tempat terbit
matahari)26, Rabb al-maghribain (Rab kedua tempat terbenam
matahari)27, Rabb al-masyriq wa al-maghrib (Rab masyriq dan
maghrib)28, (5) Rabb asy-syi’rã (Rab bintang syi'ra)29, (6) Rabb al-falaq
(Rab waktu subuh)30, (7) Rabb an-nãs (Rab manusia) 31, (8) Rabbuka
al-akram alladzĩ ’allama bi al-qalam (Rabmu Yang Maha Mulia yang
muwaħħid (orang yang bertauhid) dari sisi manapun. Kalau kita membenarkan
penggunaan istilah tauhid untuk masing-masing dari ketiga unsur keimanan
tersebut, maka kita tidak bisa menyalahkan pendapat yang mengatakan bahwa
orang tersebut bertauhid rububiah saja tetapi tidak bertauhid uluhiah, padahal
kita tahu bahwa pendapat seperti itu nyata-nyata batil.
22 Kata rubũbiyyah (dinisbatkan kepada rabb) memiliki makna: al-khalq
(penciptaan), al-milk wa al-mulk (kepemilikan dan kekuasaan), at-tadbĩr wa al-ishlãh
(pengelolaan dan perbaikan), dan al-in’ãm wa ar-rizq (pemberian nikmat dan
rizki), dan at-tarbiyah wa al-ta’lĩm (pendidikan dan pengajaran) dan al-ishlãh
(memperbaiki). Lihat: QS. Al-A’rãf [7]: 54-55; Yũnus [10]: 31; Al-Mu'minũn
[23]: 86-87; Al-’Alaq [96]: 1-5.
23 Lihat: QS. Al-Fãtiħah [1]: 2; Al-Baqarah [2]: 131; Al-An’ãm [6]: 45, 71,
162.
24 Lihat: QS. Al-Anbiyã' [21]: 22; Al-Mu'minũn [23]: 86 & 116.
25 Lihat: QS. Al-Isrã' [17]: 102; Al-Kahfi [18]: 14; QS. Al-Anbiyã' [21]:
56.
26 QS. Ar-Rahmãn [55]: 17.
27 QS. Ar-Rahmãn [55]: 17.
28 QS. Al-Muzzammil [73]: 9, al-Ma’ãrij [70]: 40.
29 QS. An-Najm [53]: 49.
30 QS. Al-Falaq [111]: 1.
31 QS. An-Nãs [112]: 1.
70 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
mengajar dengan pena) 32, (9) Rabbukum Khãliq kulli syai' (Rabmu
Pencipta segala sesuatu)33, (10) Rabb kulli syai' (Rab segala
sesuatu)34.
Allah swt adalah Tuhan yang menciptakan segala sesuatu,
menguasai seluruh ciptaan, mengelola segala urusan, dan memberi
rezeki semua makhluk hidup. Dia adalah pencipta dan penguasa
seluruh alam, pemilik dan pemelihara alam semesta, pengatur dan
pengelola segala urusan, pendidik dan pengajar makhluk, serta
pemberi segala rezeki dan kenikmatan. Rububiah Allah adalah
keyakinan fitri yang paling asasi bagi tiap manusia karena telah
ditanamkan ke dalam jiwanya sebelum ia terlahir ke dunia bahkan
sebelum tubuhnya diciptakan. Tiap jiwa dari keturunan Adam telah
bersaksi bahwa Allah adalah Rabnya. Dengan demikian, tiap anak
terlahir dengan membawa fitrah rububiah sehingga kelak di akhirat
tidak ada alasan bagi jiwanya untuk mengatakan tidak mengenal
Rabnya.
Tujuan asasi dari pengungkapan rububiah Allah adalah
penegasan terhadap eksistensi-Nya bahwa Dia adalah Wãjibul wujũd
(niscaya wujud-Nya). Akal sehat manusia mengatakan bahwa
segala yang wujud ini tidaklah mungkin ada secara kebetulan atau
muncul tiba-tiba dengan tanpa adanya Wujud Awal yang
mendesain dan menciptakannya. Keberadaan Sang Kreator Agung
(Al-Khãliq) ini sebenarnya telah dirasakan dan diakui oleh setiap
manusia. Fitrah manusia menginspirasikan, nalurinya membisikkan,
dan akal sehatnya membenarkan adanya Satu Kekuatan Maha Sakti
Yang Serba Tahu (Al-’Azĩz Al-’Alĩm)35 yang menciptakan langit
32 QS. Al-’Alaq [96]: 3-4.
33 QS. Ghãfir [40]: 62.
34 QS. Al-An’ãm [6]: 164.
35 Lihat QS. Yũnus [10]: 31. Penyebutan Tuhan dengan Al-’Azĩz Al-
’Alĩm mengisyaratkan bahwa boleh jadi penduduk di daerah-daerah non Arab
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 71
dan bumi beserta segala isinya dan apa-apa yang ada di antara
keduanya, berkuasa atas seluruh makhluk, mengatur dan
mengendalikan tata surya dan sistem kerja alam, dan menyediakan
rezeki baik yang diturunkan dari langit maupun yang digali dari
bumi. Manusia secara fitri telah mengetahui bahwa Tuhannya
adalah Allah. Hal itu diungkapkan berulangkali dalam Al-Qur'an,
di antaranya adalah firman Allah swt dalam ayat-ayat berikut ini:
“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang
menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab: "Semuanya
diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui".” (QS. Az-
Zukhruf [43]: 9).
“Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan
bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan
ada yang tidak menyebut Tuhan dengan "Allah", tetapi dengan nama-nama
sesuai bahasa masing-masing, seperti Sang Hyang Widi, Kang Murbeing
Dumadi, Gusti Kang Akarya Jagat, dan lain-lain, yang intinya adalah pengakuan
terhadap keberadaan Tuhan Sang Pencipta.
72 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan
mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala
urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka katakanlah:
"Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?"” (QS. Yũnus [10]:
31).
(87) “Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang
menciptakan mereka"?, niscaya mereka menjawab: "Allah". Maka
bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?
(88) Dan (Allah mengetahui) ucapan Muhammad: "Ya Tuhanku,
sesungguhnya mereka itu adalah kaum yang tidak beriman".
(89) Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari mereka dan katakanlah:
"Salam (Selamat tinggal)". Kelak mereka akan mengetahui (nasib
mereka yang buruk).” (QS. Az-Zukhruf [43]: 87-89).
Ayat di atas mengisyaratkan bahwa meskipun manusia telah
mengenal Allah sebagai Tuhannya, akan tetapi ada yang tidak
bertakwa kepada-Nya, ada yang mengingkari keberadaan-Nya, ada
yang mempersekutukan-Nya, dan ada yang salah dalam
mempersepsikan dan menyifati-Nya. Di antara manusia ada yang
menganggap malaikat-malaikat sebagai "tuhan-tuhan kecil" yang
dijadikan sebagai perantara memohon kepada "Tuhan Besar"
(Allah), karena mereka merasa tidak pantas untuk memohon
langsung kepada "Tuhan Besar". Sebagian menjadikan jin-jin
penguasa suatu tempat (seperti laut, gunung, dan hutan) sebagai
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 73
perantara meminta kekayaan, kekuasaan, atau tujuan-tujuan
duniawi lainnya, dengan keyakinan bahwa jin-jin itulah yang
kemudian akan memintakan kepada Allah atau akan mengabulkan
permintaannya dengan seizin-Nya. Sebagian mempersepsikan
Tuhan menjadi Trimurti, yakni Dewa Pencipta, Dewa Pemelihara,
dan Dewa Perusak. Sebagian lainnya mempersepsikan Tuhan
sebagai Trinitas, yakni Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh
Kudus.
Itulah di antara kesalahan-kesalahan persepsi tentang Allah
yang terjadi pada masa tertentu yang kemudian berkembang
menjadi akidah, kepercayaan atau doktrin agama. Dengan
demikian, jika manusia hanya mengenal Allah melalui rububiah-
Nya saja, maka masih ada kemungkinan terjadinya salah persepsi
dan penyifatan, keliru keyakinan atau sesat perlakuan terhadap
Allah. Oleh karena itu, di samping Allah mendeskripsikan diri-Nya
secara global melalui rububiah-Nya, Dia juga memperkenalkan
diri-Nya secara mendetail melalui asma' washifat-Nya.
b. Asma' Washifat Allah (al-Asmâ' wa ash-Shifât)
Allah memiliki nama-nama kemuliaan yang terbagus (al-asmã'
al-ħusnã)36 dan sifat-sifat keagungan yang tertinggi (al-matsal al-
36 QS. Al-Ħasyr [59]: 24; QS. Al-A’rãf [7]: 180. Menurut mayoritas
ulama', al-asmã' adalah lafal-lafal yang dipatenkan yang menunjukkan berbagai
macam makna, dan al-ħusnã adalah bentuk muannats dari al-aħsan (isim tafdhĩl,).
Maksudnya adalah nama-nama terbagus dan termulia karena bersumber dari
makna-makna terbagus dan termulia (pula). Sebagian berpendapat bahwa al-
asmã' adalah sifat-sifat, seperti ucapan orang: "Nama si Fulan melambung tinggi di
daerahnya", maksudnya nama baik dan sifatnya. (Lihat: Al-Alũsĩ, Rũħ al-
Ma’ãnĩ….)
74 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
a’lã)37. Rasulullah saw menginformasikan bahwa Allah swt
mempunyai 99 asma' husna, dengan sabdanya:
ََّ ٌٍََِِّٗ تِغعَ ٌ وَتِغ ُىَْ اعِّّب ِِبئَ ٌ إ ََّ وَاحِذّا ٌَب َحفظُهَاب أَحَا ْ إ
ذ ِال َِ خ ِال ِ خ ِع
ٌىِش
َ اْ َت َ َٕ َ٘ ش ِت
ُّ دَخًَ اٌْجَّخَ و ُىَ وَِت ْ َُح
“Allah memiliki 99 nama, seratus kurang satu, yang tidak dihafal seseorang
kecuali ia masuk surga. Dia Gasal (Maha Tunggal) yang sangat menyukai
(perkara) yang gasal.” 38
Bilangan 99 tersebut boleh jadi bukanlah hitungan pasti atau
pembatasan mutlak terhadap jumlah asma' husna Allah.39 Para ahli
37 QS. An-Naħl [16]: 60. Ada beberapa pendapat tentang pengertian
matsal a’lã, antara lain: (1) persaksian tiada Tuhan selain Allah (pemurnian dan
pengesaan); (2) tiada sesuatupun yang sama dan setara dengan-Nya; (3) sifat-
sifat yang luhur, yakni Dia adalah Pencipta (al-Khãliq), Maha Pemberi rizki (Ar-
Razzãq), Maha Kuasa (Al-Qãdir), dan memiliki kewenangan (melakukan apa saja
yang mungkin atau tidak melakukannya); (4) Yang Maha Hebat (Al-’Azĩz), yang
tiada tertandingi kesempurnaan kemampuan-Nya atas segala sesuatu; (5) Yang
Maha Bijaksana (al-Ħakĩm), yang melakukan apa-apa yang Dia lakukan
berdasarkan hikmah yang mendalam; (6) Sifat ajaib yang merupakan gambaran
kemahaketinggian secara mutlak, yaitu keniscayaan dzatiah, kepemilikan
kekayaan mutlak, kedermawanan yang maha luas, dan kesucian dari sifat-sifat
makhluk.
38 HR. Al-Bukhãrĩ, dari Abũ Hurairah ra. (Ibnu Ħajar, Fatħ al-Bãrĩ,
XI/240, Hadits. No. 6410). Hadits senada dengan redaksi yang sedikit berbeda
diriwayatkan oleh Muslim dari Abũ Hurairah (Syarh an-Nawãwĩ ’alã Muslim,
IX/7-8, Hadits No. 2677).
39 Allah Yang Gasal (Maha Tunggal) sangat menyukai perkara-perkara
gasal (witir). Segala sesuatu dimulai dari tunggal. Alam semesta diciptakan oleh
Yang Maha Tunggal (al-Wãħid). Yang diciptakan pertama kali oleh-Nya adalah
sebuah pena (qalam wãħid) yang kemudian ditulis dan didesain dengan pena itu
segala yang akan diciptakan-Nya. Seluruh manusia diciptakan dari manusia
tunggal (nafs wãħidah), dan berbagai umat manusia (yang berbeda-beda) adalah
berasal dari umat tunggal (ummah wãħidah). Allah menyukai bilangan 3 dan 7,
seperti: membasuh atau mengusap 3 kali dalam berwudhu dan penciptaan 7
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 75
yang meriwayatkan hadits tentang asma' husna sejumlah itu pun
ada yang berbeda pendapat dalam menentukan sebagian asma'-
Nya. Pada hakikatnya hanya Allah Yang Maha Tahu berapa jumlah
asma' husna-Nya, namun dengan hadits tersebut (yang di antaranya
disampaikan dengan redaksi hadits Qudsi) Allah dan Rasul-Nya
bermaksud memberikan rambu-rambu yang benar tentang nama-
nama utama Allah swt, dan memotivasi manusia dengan balasan
surga bagi yang mau mencari, mendata, mengumpulkan, dan
menghafalnya, serta memahami maknanya dan mengambil
pelajaran darinya.
Berikut ini daftar al-asmã' al-ħusnã bagi Allah swt secara
lengkap:
No. Al-Asmã' Al-Ħusnã Arti
1. Allãh اهللAllah
langit. Allah suka meletakkan rahasia-rahasia agung-Nya pada bilangan-bilangan
gasal, seperti angka 17, 19, 21, 23, dan 27. Allah juga menyukai proses yang gasal
seperti dzikir sehabis shalat 5 waktu dengan membaca Subħãnallãh (33 kali),
Alhamdulillãh (33 kali), dan Allãhu akbar (33 kali), sebagaimana Dia menyukai
gasal sebagai penutup proses yang genap seperti shalat malam dua-dua raka'at
diakhiri dengan shalat witir. Anti klimaksnya, kelak di akhirat segala sesuatunya
akan dikembalikan kepada Yang Maha Tunggal dan diatur dengan undang-
undang tunggal (al-qãnũn al-wãħid).
Simbol puncak dari semua yang gasal itu adalah angka 99, baik yang
diawali dengan 1 seperti 1 + 99 = Dzat Ilahi + asma' khusna, maupun yang
diakhiri dengan 1 seperti 99 [33+33+33] +1= Dzikir utama [Subħãnallãh +
Alhamdulillãh + Allãhu akbar] + dzikir penyempurna (pengakuan rububiah, asma'
washifat dan uluhiah Allah). Jadi, rumus kehidupan (RK) adalah 1 + 99 = 99
+ 1. Maksudnya, semua berasal dari Yang Maha Tunggal, kemudian terjadilah
proses kehidupan hingga kiamat sebagai puncaknya, kemudian semuanya akan
kembali kepada Yang Maha Tunggal. Namun Allah kadang memulai hal-hal
besar dan peristiwa-peristiwa penting pada bilangan genap tertentu seperti
tanggal 10 (’ãsyũrã') Muharram.
76 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
2. Ar-Raħmãn ِٓ اٌش
ُ َّمحYang Maha Pengasih
3. Ar-Raħĩm ُ اٌش
ُ ُِ َّحYang Maha Penyayang
4. Al-Malik َ
اٌٍِّْهMaha Raja/Yang Maha Berkuasa
5. Al-Quddũs ُّ
اٌْمُذوِطYang Maha Suci
Yang Maha Memelihara/Maha
6. As-Salãm ُ ََّال
َ اٌغSejahtera
7. Al-Mu'min ٓ ُ
ُ ِ ِ اٌّْؤYang Maha Terpercaya
8. Al-Muhaimin ُ َُِّ اٌّْهYang Maha Memelihara
ِٓ ُ
9. Al-’Azĩz ض
ُ َِ اٌْعَضYang Maha Perkasa/Maha Sakti
10. Al-Jabbãr َج س
ُ اٌْجَّبYang Maha Mutlak Kehendak-Nya
11. Al-Mutakabbir ُ ِّاٌْ ُتَى
ّ َجش
12. Al-Khãliq ك
ُ ٌِ اٌْخَبYang Maha Pencipta
13. Al-Bãri' ِا
ُ اٌْجَبس
14. Al-Mushawwir ّ َىس
ُ ِّ اٌْ ُص
15. Al-Ghaffãr ُ َِاٌْمَش
ت
16. Al-Qahhãr َه س
ُ اٌْم َّب
17. Al-Wahhãb َ٘ ة
ُ اٌْى َّب
18. Ar-Razzãq ُ اٌش َّاYang Maha Pemberi Rezeki
َّص ق
19. Al-Fattãh َت ح
ُ اٌفَّب
20. Al-’Alĩm َُ
ُ ٍُِ اٌْعYang Maha Mengetahui
21. Al-Qãbidh ُ ِاٌْمَبث
ض
22. Al-Bãsith ِط
ُ اٌْجَبع
23. Al-Khãfidh ض
ُ ِاٌْخَبف
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 77
24. Ar-Rãfi’ اٌش ع
ُ َِّاف
25. Al-Mu’izz ّ ِض
ُّ اٌْ ُع
26. Al-Mudzill ُّ اٌُّْز
ِي
27. As-Samĩ’ اٌغ ع
ُ َُِّّ
28. Al-Bashĩr ري
ُ ِاٌْجَص
29. Al-Ħakam ُ َاحلَى
ُ
30. Al-’Adl ي
ُ ِاٌعَذ
31. Al-Lathĩf ََّ ف
ُ ُِاٌٍط
32. Al-Khabĩr ُ ِاٌْخَج
ري
33. Al-Ħalĩm َُ
ُ ٍُِاٌْح
34. Al-’Azhĩm ُ َ
ُ ُِاٌْعظ
35. Al-Ghafũr ُ اٌْغَ ُى
فس
36. Asy-Syakũr اٌشى س
ُ َّ ُى
37. Al-’Aliy ٍَِ
ُّ ٍاٌْع
38. Al-Kabĩr ُ ُِِاٌىَج
ش
39. Al-Ħafĩzh ظ
ُ ِاٌْحَبف
40. Al-Muqĩt ّ ت
ُ ُِِاٌْ ُم
41. Al-Ħasĩb ُ ُِِاٌْحَغ
ت
42. Al-Jalĩl ًَ
ُ ٍُِاٌْج
43. Al-Karĩm مي
ُ ِاٌْىَش
44. Ar-Raqĩb ُ ُِِ اٌشلYang Maha Mengawasi
َّ ت
45. Al-Mujĩb ّ ت
ُ ُِ اٌْ ُجYang Maha Memperkenankan
46. Al-Wãsi’ ع
ُ ِ اٌىَاعYang Maha Luas
78 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
47. Al-Ħakim ُ
ُ ُِ اٌْحَىYang Maha Bijaksana
Yang Maha Menyintai/Mengasihi
48. Al-Wadũd ُ اٌْىَ ُوYang Maha Dicintai
دد
49. Al-Majĩd ذ
ُ ِ اٌَّْبجYang Maha Mulia
50. Al-Bã’its ُ اٌْجَبعYang Membangkitkan
ِج
Yang Maha
51. Asy-Syahĩd َّ ذ
ُ ُِ اٌشهMenyaksikan/Disaksikan
52. Al-Ħaqq َك
ُّ اٌْحYang Maha Benar/Pasti
53. Al-Wakĩl ً َ
ُ ُِ اٌْىوYang Maha Mewakili/Pemelihara
54. Al-Qawiy ُّ اٌْمىYang Maha Kuat
ٌِ َ
55. Al-Matĩn ٓ
ُ ُِِ اٌَّْتYang Maha Kokoh
56. Al-Waliy ٌٍِ اٌْىَاYang Maha Melindungi
57. Al-Ħamĩd ُ َُِِّ اٌْحYang Maha Terpuji
ذ
58. Al-Muħshĩ ّ
ٍِ اٌْ ُحِصYang Maha Menghitung
59. Al-Mubdi' ّ ِا
ُ اٌْ ُجِذYang Maha Memulai
60. Al-Mu’ĩd ُ ُِ اٌْ ُعYang Maha Mengembalikan
ّ ذ
61. Al-Muħyĩ ّح
ٍُُِ ُ ٌْ اYang Maha Menghidupkan
62. Al-Mumĩt ّ ت
ُ ُُِّ ٌْ اYang Maha Mematikan
63. Al-Ħayy ٍَ
ُّ اٌْحYang Maha Hidup
Yang Berdiri Sendiri/Yang
64. Al-Qayyũm َ َُ
ُ اٌْمُّىMengelola Urusan Makhluk
65. Al-Wãjid ُ ِ اٌْىَاجYang Maha Menemukan
ذ
66. Al-Mãjid ذ
ُ ُِ اٌَّْجYang Maha Mulia
67. Al-Wãħid ذ
ُ ِ اٌْىَاحYang Maha Tunggal
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 79
68. Ash-Shamad اٌص ذYang Maha Dibutuhkan
ُ ََّّ
69. Al-Qãdir س
ُ ِ اٌْمَبدYang Maha Kuasa
70. Al-Muqtadir ُ ِ اٌْ ُمْتَذYang Maha Kuasa
ّ س
71. Al-Muqaddim َّ َذ
ُ ِّ اٌْ ُمYang Maha Mendahulukan
Al-
72. ُ ِّ اٌّْؤYang Maha Mengakhirkan
ُ َخش
Mu'akhkhir
73. Al-Awwal أل َّي
ُ ا َوYang Maha Pertama
74. Al-Ãkhir ُ ِ اِخYang Maha Terakhir
ش
75. Azh-Zhãhir اٌظ ش
ُ ِ٘ ََّبYang Maha Nyata
76. Al-Bãthin ِٓ
ُ اٌْجَبطYang Maha Tersembunyi
77. Al-Wãlĩ ُّ ٌَ اٌْىYang Maha Memerintah
ٍِ
78. Al-Muta’ãl ّ
ِ اٌْ ُتِعَبيYang Maha Tinggi
79. Al-Barr َبس
ُّ اٌْجYang Maha Dermawan
80. At-Tawwãb ُ اٌت َّاYang Maha Penerima Taubat
َّى ة
81. Al-Muntaqim ُ ّ
ُ ِ اٌْ ُِٕتَمYang Maha Pengancam
82. Al-’Afuww ُى
ُّ اٌْعَفYang Maha Pemaaf
83. Ar-Ra'ũf ُ َّ ُوYang Maha Pelimpah Kasih
اٌشء ف
84. Mãlikul Mulk ُ ه
ِ َِبٌِ ُ اٌٍّْْهYang Maha Pemilik Kerajaan
Dzul Jalãl wal َ ر
ِ ُو اٌْجَاليYang Maha Pemilik Keluhuran dan
85.
Ikrãm ِ
َِ واإلوْشَاKemurahan
86. Al-Muqsith ُ اٌْ ُمْغYang Maha Adil/Pemberi Keadilan
ّ ِط
87. Al-Jãmi’ ع
ُ ِ اٌْجَبYang Maha Penghimpun
88. Al-Ghanĩ ٍِ
ُّ َٕ اٌْغYang Maha Kaya
80 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
89. Al-Mughnĩ ّ
ٍِِٕ اٌْ ُغYang Maha Pemberi Kekayaan
90. Al-Mãni’ ُ ِٔ اٌَّْبYang Maha Pencegah
ع
91. Adh-Dhãrr َّبس
ُّ اٌضYang Maha Pemberi Madharat
92. An-Nãfi’ ُ ِ َّبفYang Maha Pemberi Manfaat
إٌ ع
Yang Maha Bercahaya/Pemberi
93. An-Nũr إٌ س
ُ ُّىCahaya
94. Al-Hãdĩ د
ٌِ اٌْهَبYang Maha Pemberi Petunjuk
95. Al-Badĩ’ ع
ُ َِِ اٌْجَذYang Maha Pencipta Pertama
96. Al-Bãqĩ ٍِ اٌْجَبلYang Maha Kekal
97. Al-Wãrits ث
ُ ِ اٌْىَاسYang Maha Mewarisi
98. Ar-Rasyĩd اٌش ذ
ُ ُِِ َّشYang Maha Tepat Tindakan-Nya
99. Ash-Shabũr اٌص سYang Maha Penyabar
ُ َُِّجى
Allah swt memperkenalkan asma' washifat-Nya kepada umat
manusia, khususnya hamba-hamba yang beriman, dengan maksud-
maksud sebagai berikut:
1) Menunjukkan kemahasempurnaan dan kemahatinggian Allah
dari sisi manapun sehingga hanya Dia-lah yang pantas dan
berhak disembah, sebagaimana diisyaratkan dalam firman-Nya:
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 81
(22) “Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang
ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang.
(23) Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha Suci,
yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan keamanan, yang Maha
Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang
memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang
mereka persekutukan.
(24) Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang
membentuk rupa, yang mempunyai asma'ul Husna. Bertasbih
kepadanya apa yang di langit dan bumi, dan Dia-lah yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Ħasyr [59]: 22-24).
“Orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat mempunyai
sifat-sifat keburukan; dan Allah mempunyai sifat-sifat yang mahatinggi;
82 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-
Naħl [16]: 60). 40
2) Memberikan sarana untuk berkomunikasi dengan Allah dan
memohon kepada-Nya dengan menyebut asma' husna-Nya,
sebagaimana diperintahkan melalui firman-Nya:
Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya
dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang
menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya, mereka
40 Dalam ayat di atas Allah mengontradiksikan antara sifat-sifat rendah
dan hina (matsal as-sû') yang dimiliki orang-orang yang tidak beriman dengan
sifat-sifat tertinggi dan mahamulia (al-matsal al-a’lã) yang dimiliki-Nya. Mereka
sama sekali tidak memiliki sifat-sifat ideal sebagaimana yang dimiliki oleh orang-
orang yang beriman. Sedangkan Allah memiliki sifat-sifat paling ideal, pekerjaan-
pekerjaan maha hebat, dan karya-karya super spektakuler, yang semua itu tidak
dimiliki, mustahil tersamai, dan tak mungkin tertandingi oleh siapapun. Allah
adalah Pencipta dan Penguasa langit dan bumi beserta seluruh isi dan
penghuninya. Dia Maha Hidup (Al-Ħayyu, The Living) dan Pengelola Super
Sibuk (Al-Qayyûm, The Everlasting) yang selalu terjaga dan siaga, dan tak
pernah terserang kantuk dan tidur sedikitpun dalam mengurus dan mengelola
alam semesta. Rahmat-Nya meliputi segala sesuatu dan meratai seluruh
makhluk-Nya, baik yang beriman maupun yang kafir, yang taat maupun yang
maksiat, dan yang tunduk maupun yang makar. Dia-lah pemberi rizki dan
kenikmatan yang tiada habis-habisnya untuk seluruh makhluk-Nya. Dia
mengetahui segala rahasia dan apa saja yang tersembunyi di alam raya (macrocosm)
dan alam mini (microcosm). Ilmu dan pengetahuan-Nya meliputi dan menjangkau
segala masa, baik masa lalu, masa sekarang maupun masa mendatang.
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 83
akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS.
Al-A’rãf [7]: 180).
3) Agar manusia memiliki persepsi, keyakinan, dan perlakuan yang
benar tentang Allah swt, serta bisa meneladani atau mengambil
pelajaran dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya untuk diterapkan
dalam berbagai aspek kehidupannya di dunia.
Meskipun manusia sudah mengenal Allah melalui rububiah
dan asma' washifat-Nya, akan tetapi belum tentu mereka lantas
memurnikan penyembahan kepada-Nya. Mereka mungkin sudah
menyembah Allah dalam peribadatan, namun masih meminta
kepada kekuatan selain-Nya dalam hal-hal duniawi. Oleh karena
itu, setelah manusia memiliki pengetahuan yang memadahi tentang
Allah melalui rububiah dan asma' washifat-Nya, Dia menegaskan
posisi Diri-Nya (dalam kehidupan manusia) melalui uluhiah-Nya.
c. Uluhiah Allah (al-Ulũhiyyah)
Allah adalah satu-satunya Tuhan Sesembahan, tiada
Sesembahan selain Dia, dan tiada sekutu bagi-Nya. Sejak zaman
Nabi Adam as hingga masa Nabi Muhammad saw, hanya Dia-yang
berhak disembah baik bagi orang yang tetap menjadikan-Nya
sebagai Tuhan Yang Esa (monotheism) maupun orang yang
kemudian mempersekutukan-Nya dengan selain-Nya (polytheism)
atau orang yang tidak mengakui keberadaan Tuhan sekalipun
(atheism). Dia-lah satu-satunya Tuhan bagi seluruh bani Adam baik
yang tetap menjaga kehormatannya sebagai keturunan bangsa
manusia maupun yang kemudian menghinakan diri dengan
meyakini sebagai keturunan bangsa kera yang berevolusi
(Darwinism). Dia adalah satu-satunya yang dimintai pertolongan dan
dituju untuk memenuhi segala kebutuhan.
Pada hakikatnya hanya Dia-lah yang berhak atas pujian dan
pengagungan. Sejak zaman azali hanya Dia-lah satu-satunya
84 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
Tuhan, dan di akhirat kelak juga hanya Dia-lah Tuhan yang
memperhitungkan, mengadili, dan memberikan balasan kepada
semua orang, baik golongan mukmin, kafir maupun munafik, ahli
taat maupun ahli maksiat, umat-umat terdahulu maupun umat
Muhammad saw.
2. Integrasi Rububiah, Asma' Washifat, dan Uluhiah Allah
Al-Qur'an sebenarnya tidak mengotak-ngotakkan ketiga
unsur keimanan tersebut secara tegas, akan tetapi menggunakan
yang satu untuk mengukuhkan lainnya atau menuturkan yang satu
sebagai tujuan antara untuk mencapai tujuan akhir yakni tauhid.
Rububiah dan asma' washifat Allah lebih dominan digunakan
sebagai tujuan antara untuk mengenal Allah dengan segala
kesempurnaan-Nya, kemutlakan kekuasaan-Nya, dan keluasan
rahmat-Nya, menumbuhkan perasaan butuh, takut, cinta, tunduk
dan patuh kepada-Nya, serta menanamkan kesadaran untuk
menyembah-Nya. Semua itu diarahkan untuk mencapai tujuan
akhir yakni tauhid atau guna meneguhkan uluhiah Allah dan
menegaskan kesucian-Nya dari segala bentuk pemusyrikan,
sebagaimana firman-Nya:
"Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha suci, yang
Maha Sejahtera, yang mengaruniakan keamanan, yang Maha Memelihara,
yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala keagungan,
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 85
Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Al-Ħasyr
[59]: 23).
Dalam tata lokasi kawasan keimanan kepada Allah, rububiah
merupakan pintu gerbang utama sebagai jalan masuk untuk
mengenal-Nya secara global dan umum, asma' washifat-Nya
merupakan pintu-pintu khusus sebagai jalur-jalur masuk untuk
mengenal dan memahami-Nya secara spesifik dan mendetail,
sedangkan uluhiah merupakan zone inti yang di dalamnya ada
ruang khusus untuk mengesakan-Nya.41 Dalam zone rububiah dan
asma' washifat, belum ditemukan maklumat tegas yang
menyatakan: "Tiada Rab selain Allah" atau "Tiada Pencipta selain
Allah", akan tetapi dalam zone ini manusia diajak berpikir,
merenung dan disentuh kesadarannya dengan berbagai pendekatan
yang kadang dilakukan dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan
retorik seperti: "Apakah aku akan mencari Rab (Tuhan) selain Allah,
padahal Dia adalah Rab (Tuhan bagi) segala sesuatu?" 42 dan "Adakah
41 Dari di sini bisa dipahami bahwa inti persoalannya bukanlah pada
rububiah, asma' wa shifat, dan uluhiah itu sendiri, apalagi sampai menganggap
masing-masing dari ketiganya sebagai fokus tauhid. Inti persolannya bukanlah di
situ, akan tetapi ketiganya secara terintegrasi diarahkan pada satu titik sentral
yakni tawħîdullâh (pengesaan Allah).
42 QS. al-An’âm [6]: 164. Lihat QS. Maryam [19]: 65 (y.a.): Rab (Tuhan
Penguasa) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia
dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang
yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?" Dalam ayat ini Allah menyuruh
manusia menyembah Rab langit dan bumi, tapi dengan menggunakan redaksi
biasa bukan redaksi ħashr (pembatasan); dan kemudian diakhiri dengan sebuah
pertanyaan retorik yang tidak perlu dijawab karena jawabannya pasti: "Tidak ada"
atau tidak perlu langsung dijawab akan tetapi hendaknya dipikirkan terlebih dulu
secara mendalam melalui perenungan tanda-tanda kekuasaan Allah yang tersebar
di langit dan bumi.
Paham yang menglasifikasikan tauhid menjadi 3 bagian mengambil ayat
tersebut sebagai dasar istiqrâ' (pengambilan kaidah secara induktif) untuk
membenarkan pendapatnya, yakni: (1) lafal "Rab langit dan bumi" adalah dasar
86 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari
langit dan bumi?" 43. Baru kemudian dalam zone uluhiah ditegaskan:
"Tiada Ilah (Tuhan) selain Dia."
Sebenarnya dalam zone rububiah dan asma' washifat pun
telah dirasakan adanya semangat dan pesan tauhid, hanya saja
belum setegas dan sejelas pesan dalam zone uluhiah. Rasakan
semangat tauhid sewaktu seorang hamba menegaskan komitmen
rububiah seraya berucap: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku
dan matiku untuk Allah, Rab (Tuhan) semesta alam."44 Perhatikan
teguran halus Allah terhadap orang-orang musyrik yang
menyembah bintang Syi'ra dengan firman-Nya (y.a.): "Dan
sesungguhnya Dialah Rab (Tuhan yang memiliki) bintang Syi'ra."45
Mereka diingatkan bahwa yang disembah itu hanyalah ciptaan
Allah yang tidak memiliki kekuasaan serta tidak bisa memberikan
manfaat dan madharat apapun. Bukan bintang itu yang semestinya
disembah, melainkan Rab yang menciptakan dan mengatur seluruh
bintang karena sesungguhnya Dia-lah yang mengaruniai kekayaan dan
memberikan kecukupan.46
3. Nilai Penting dan Hikmah Beriman kepada Allah
tauhid rububiah, (2) lafal "maka sembahlah Dia" adalah dasar tauhid uluhiah, dan
(3) lafal "Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia?" adalah dasar
tauhid asma' washifat. Kalau direnungkan secara jujur dengan melepaskan
belenggu fanatisme dan baju dogmatisme, maka pikiran yang jernih akan
menemukan bahwa ayat tersebut sama sekali tidak bermaksud mengkotak-
kotakkan tauhid menjadi tiga bagian, akan tetapi seluruh isi dan muatannya
bermuara pada satu titik sentral yaitu tauhid, sebuah esensi utuh yang tidak bisa
dipecah-pecah atau dibagi-bagi.
43 Lihat QS. Fâthir [35]: 3.
44 QS. al-An’âm [6]: 162.
45 QS. an-Najm [53]: 49.
46 QS. An-Najm [53]: 50.
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 87
Iman kepada Allah swt merupakan dasar asasi dalam akidah
Islam dan induk dari segala bentuk keimanan, bahkan kelima rukun
berikutnya pada hakikatnya merupakan bagian dari keimanan
kepada Allah swt. Di dalam Al-Qur'an keimanan kepada Allah
disebut secara khusus (tidak dirangkai dengan rukun iman lainnya)
jika menyangkut urusan-urusan besar dan perkara-perkara prinsip
yang bermuara langsung kepada Allah, seperti kaitan iman kepada-
Nya dengan hal-hal sebagai berikut:
a. permohanan ampun kepada-Nya47,
b. pengampunan dosa dari-Nya48,
c. tawakal dan berserah diri kepada-Nya49,
d. hatinya diberi petunjuk oleh-Nya50,
e. jaminan memperoleh rahmat-Nya51,
f. pembelaan terhadap-Nya52,
g. mempertaruhkan nyawa demi kebenaran dan dakwah kepada
masyarakat53,
h. mendapatkan balasan surga54,
47 Lihat QS. Thãhã [20]: 73. Maksudnya, beriman kepada-Nya agar
diampuni kesalahannya.
48 Lihat QS. At-Taghãbun [64]: 9. Maksudnya, jika beriman kepada-Nya
dan beramal saleh.
49 Lihat QS. Yũnus [10]: 84. Maksudnya, sebagai bukti keimanannya
kepada Allah.
50 Lihat QS. At-Taghãbun [64]: 11. Maksudnya, jika beriman kepada-Nya.
51 Lihat QS. An-Nisã' [4]: 175. Maksudnya, jika beriman kepada-Nya dan
berpegang teguh pada agama-Nya.
52 Lihat QS. Ãli ’Imrãn [3]: 52. Maksudnya, menjadi penolong/pembela
agama Allah sebagai bukti beriman kepada-Nya.
53 Lihat QS. Yãsĩn [36]: 25. Maksudnya, berani menyatakan keimanannya
kepada Allah di hadapan kaumnya yang kafir dan mengajak mereka ke jalan yang
benar, meskipun dengan resiko dibunuh oleh mereka.
88 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
i. menyaksikan langsung tanda-tanda kebesaran dan kehebatan-
Nya sewaktu masih di dunia55,
j. kuatir dan takut terhadap azab-Nya56,
k. menyaksikan azab Allah yang pedih setelah berada di akhirat57.
Iman kepada Allah swt berulangkali dirangkai secara khusus
dengan iman kepada hari akhir58 dalam konteks makna-makna
sebagai berikut:
a. Jika beriman kepada Allah dan hari akhir maka:
1) akan memperoleh pahala dari Tuhan serta tidak tertimpa
kekhawatiran dan kesedihan, di samping dengan syarat
beramal saleh59;
2) tidak akan merahasiakan janin dalam perutnya (bagi
perempuan yang ditalak suaminya)60;
3) merujuk atau melepaskan secara baik-baik istri yang telah
diceraikannya apabila telah habis masa iddahnya61;
54 Lihat QS. Ath-Thallãq [65]: 11. Maksudnya, jika beriman kepada-Nya
dan beramal saleh.
55 QS. Al-A’rãf [7]: 121.
56 QS. Ghãfir [40]: 84. Maksudnya, mereka terpaksa menyatakan iman
kepada-Nya setelah menyaksikan bencana yang telah mengelingi mereka sebagai
akibat dari kesombongan dan keingkarannya.
57 QS. Saba' [34]: 52. Maksudnya, pernyataan iman kepada-Nya tetapi
sudah terlambat.
58 Dirangkai sebanyak 25 kali dengan rangkaian sebagai berikut: (1)
beriman kepada Allah dan hari akhir (17 kali), (2) tidak beriman kepada Allah dan hari
akhir (4 kali), (3) mengharapkan Allah dan hari akhir (2 kali), dan (4) menyembah
Allah dan mengharapkan hari akhir (1 kali).
59 QS. Al-Baqarah [2]: 62.
60 QS. Al-Baqarah [2]: 228.
61 QS. Ath-Thallãq [65]: 2; Al-Baqarah [2]: 232.
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 89
4) menerapkan hukum rajam kepada perempuan dan laki-laki
pezina (jika terpenuhi syarat-syarat dan ketentuannya)62;
5) bersedia mengembalikan kepada hukum Allah dan Rasul-
Nya jika terjadi perselisihan pendapat dalam suatu hal63;
6) menjadikan Rasulullah saw sebagai suri tauladan yang baik64;
7) menjadikan Nabi Ibrahim as dan para pengikutnya sebagai
suri tauladan yang baik65;
8) dimasukkan dalam golongan orang yang didoakan Nabi
Ibrahim as supaya Allah memberikan rizki dan penghasilan66;
9) memakmurkan masjid, mendirikan shalat, menunaikan zakat,
dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah67.
b. Tidaklah beriman kepada Allah dan hari akhir orang yang:
1) memberikan sedekah tapi dengan selalu menyebut-
nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima, atau berinfak
dengan niat memamerkan kekayaan68;
2) mengaku beriman padahal sebenarnya tidak beriman (orang
munafik)69.
Beriman kepada Allah swt memiliki banyak hikmah bagi
seorang hamba, antara lain adalah:
62QS. An-Nũr [24]: 2.
63QS. An-Nisã' [4]: 59.
64 QS. Al-Aħzãb [33]: 21.
65 QS. Al-Mumtaħanah [60]: 2.
66 QS. Al-Baqarah [2]: 126. Namun Allah Yang Maha Luas rahmat-Nya
juga memberikan kesenangan sementara (di dunia) kepada orang kafir untuk
kemudian mendapatkan siksa yang pedih kelak di neraka.
67 QS. At-Taubah [9]: 18.
68 QS. Al-Baqarah [2]: 264. Orang seperti ini amalnya akan sia-sia belaka
dan tidak mendapatkan pahala akhirat.
69 Orang seperti ini sebenarnya ada penyakit dalam hatinya dan kelak
akan ditimpa azab yang pedih karena kedustaannya itu (QS. Al-Baqarah [2]: 10).
90 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
a. Memiliki wawasan kehidupan yang seimbang70, sikap moderat71
dan tindakan yang adil (proporsional)72, sehingga ia terhindar
dari sikap apatis dan putus asa karena punya harapan akan
rahmat dan ampunan-Nya yang amat luas73, serta terjauhkan
dari sikap mengabaikan dan tindakan berlebihan karena takut
akan azab-Nya yang pedih dan perhitungan-Nya yang sangat
cepat74.
b. Hatinya tenang dan jiwanya tenteram75 serta tidak tertimpa
kekhawatiran dan kesedihan76, karena ia yakin bahwa Allah
selalu bersamanya77 serta merasakan kedekatan Allah
dengannya, baik kedekatan kasih sayang-Nya maupun
pertolongan-Nya78.
c. Jiwanya terkendali, perilakunya terarah, ucapannya terseleksi
dan tindakannya terukur, karena adanya keyakinan bahwa Allah
selalu mengawasi dirinya, mengetahui segala isi hatinya, serta
mengamati seluruh perilaku dan perbuatannya.
70 QS. Al-Baqarah [2]: 8. Ia memandang Allah dengan kemahaluasan
rahmat-Nya sekaligus kepedihan azab-Nya, dan kerahiman ampunan-Nya
sekaligus kecepatan hukuman-Nya. Ia memohon kepada-Nya dengan harap-
harap cemas (khaufan wa thama’an). Lihat QS. Fushshilat [41]: 43; Al-A’rãf [7]: 56,
156, 167.
71 Ia mencirikan diri sebagai ummatan wasathan (umat moderat) yang tidak
terjebak pada ekstrim kanan atau ekstrim kiri. Lihat Al-Baqarah [2]: 143.
72 Lihat al-Mâidah [5]: 8.
73 QS. Ysuf [12]:87; ar-Ra’d [13]:6 & 31; Âli ’Imrân [3]:157; an-Najm [53]:
32; al-Isrâ' [17]: 57.
74 QS. al-Fâtiħah [1]: 7; al-Baqarah [2]: 202; QS. al-Ħijr [15]: 50.
75 QS. Ar-Ra’d [13]: 28; Al-Fajr [89]: 27.
76 QS. Al-An’ãm [6]: 48; Al-Aħqãf [46]: 13.
77 QS. At-Taubah [9]: 40; Al-Ħadĩd [57]: 4; Al-Baqarah [2]: 153 & 194.
78 QS. Al-Baqarah [2]: 186, 214; Hũd [11]: 61; Qãf [50]: 16; Al-A’rãf [7]:
56;
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 91
d. Menjadi manusia merdeka secara lahir dan batin serta terbebas
dari segala bentuk pengkultusan dan penghambaan kepada
sesama, karena ia hanya menghambakan diri kepada Allah dan
berpegang teguh kepada agama-Nya.
E. Pasang Surutnya Iman
Jika kita mengambil perumpamaan minyak tanah dalam
sebuah kompor masak, tentu kita sepakat bahwa banyak sedikitnya
atau penuh tidaknya minyak di dalamnya akan mempengaruhi
kualitas dan daya nyala kompor. Selanjutnya, kualitas nyala kompor
itu akan mempengaruhi kualitas hasil masakannya. Semakin bagus
kualitas nyalanya semakin baik pula kualitas hasil masakannya, dan
sebaliknya. Ibarat banyak sedikitnya minyak tanah, pasang surutnya
iman akan mempengaruhi kualitas nyala kehidupan dan semangat
hidup seseorang. Selanjutnya, kualitas semangat hidup seseorang
akan mempengaruhi kualitas amal-amal yang dihasilkannya.
Semakin bagus kualitas semangat hidupnya semakin baik pula
kualitas amal yang dihasilkannya, dan sebaliknya.
Dasar umum tentang pasang surutnya iman adalah hadits :
"Iman itu bertambah dan berkurang".79 Ulama salaf telah bersepakat
bahwa iman bertambah dengan ketataan dan berkurang dengan
kemaksiatan. Iman Ahmad berkata: "Shalat, zakat, haji, dan
berbuat kebajikan adalah sebagian dari iman. Sedangkan berbuat
kemaksiatan itu mengurangi iman." Hadits dan pendapat ulama
salaf tersebut menunjukkan bahwa iman seseorang bisa mengalami
79 Menurut Ibnu Mâjah hadits ini mauquf (terhenti) pada Abû Hurairah,
Ibnu ’Abbâs, dan Abû Dardâ'. Imam Ibnu al-Jauzî meriwayatkan dari al-Imâm
Aħmad bin Ħanbal, bahwa beliau berkata: "Iman itu bertambah dan berkurang,
seperti diterangkan dalam hadits (y.a.) : Orang mukmin yang paling sempurna imannya
adalah orang mukmin yang paling bagus akhlaknya. (Musnad al-Imâm Aħmad:
II/250; Sunan Abî Dâwûd: V/60).
92 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
fluktuasi (pasang-surut). Pasang-surutnya iman akan
mempengaruhi jenis dan kualitas amal yang dikerjakannya.
Sebaliknya, pilihan sikap dan perbuatan yang dilakukan seseorang
bisa merupakan indikator bagi kadar atau kualitas iman seseorang.
Ketika iman seseorang mengalami pasang (bertambah), maka ia
akan ringan dan bersemangat untuk melakukan amal saleh dengan
kualitas keikhlasan yang baik.
1. Tanda Pasangnya Iman
Banyak ayat dan hadits yang menunjukkan pasangnya iman
dan sekaligus menjadi tanda dan ciri khas bagi orang yang beriman
(mukmin), di antaranya adalah:
a. Jika disebut nama Allah gemetarlah hatinya, dan apabila
dibacakan aya-ayat-Nya bertambahlah iman mereka. 80
b. Apabila ada ancaman dan teror dari musuh (orang-orang yang
memusuhi agama Allah) justru keimanannya semakin
bertambah, dan ia mencukupkan diri dengan pertolongan dan
perlindungan Allah saja.81
c. Diberi ketenangan batin oleh Allah swt sehingga imannya
semakin bertambah subur. 82
d. Di antara tanda semakin bertambahnya iman adalah semakin
bagusnya akhlak.83
e. Di antara tanda kesempurnaan iman adalah mencintai atau
membenci karena Allah, dan memberi atau tidak memberi
karena Allah. 84
80 QS. al-Anfâl [8]: 2.
81 QS. Âli ’Imrân [3]: 173.
82 QS. al-Fatħ [48]: 4.
83 Berdasarkan HR. Aħmad & Abû Dâwûd. Lihat, al-Baghawî, Syarħ as-
Sunnah, h. I/44.
84 Ibid.
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 93
2. Tanda Surutnya Iman
Sebaliknya, jika iman seseorang sedang surut (berkurang),
maka ia akan merasa berat atau malas untuk melakukan amal saleh.
Boleh jadi ia kelihatan semangat dalam beramal shaleh, akan tetapi
ada niat tersembunyi atau tujuan yang tidak baik, seperti ingin
pamer, mendapat pujian dan lain-lain. Surutnya iman juga akan
menyebabkan seseorang menjadi ringan atau mudah tergoda untuk
melakukan amal yang tidak baik (keburukan, kemaksiatan dan
kemungkaran). Berikut ini beberapa contoh indikasi surut atau
lemahnya iman, bahkan mungkin ketiadaan iman seseorang:
a. Orang yang berzina, mencuri atau mengonsumsi makanan dan
minuman yang memabukkan.85 Kalau saja menjelang terjadinya
dosa-dosa besar tersebut masih tersisa iman di hatinya, niscaya
ia akan mengurungkan kemaksiatannya itu meskipun mungkin
dengan susah payah dan perasaan kecewa. Orang seperti ini
tidak akan mendapatkan perlindungan Allah pada hari kiamat
karena ia gagal meneguhkan komitmen "Sesungguhnya aku takut
kepada Allah" di saat godaan duniawi datang merayunya.
b. Orang yang telah melaksanakan ibadah-ibadah wajib (shalat,
zakat, puasa), tetapi di akhirat termasuk orang yang bangkrut
(muflis), karena selama di dunia ia pernah memakai si A,
menuduh si B, memakan harta si C dengan cara batil,
mengalirkan darah si D, dan menganiaya si E. Orang semacam
ini akan mengalami kebangkrutan di akhirat karena kebaikan-
kebaikannya akan diberikan kepada para korbannya; dan jika
ada korban yang belum mendapatkan bagian karena
kebaikannya sudah habis dibagi-bagikan, maka keburukan
korban ini akan ditransfer kepada orang itu, lalu ia diseret dan
85 Berdasarkan hadits shaħîħ riwayat al-Bukhârî dan lainnya, dari Ibnu
’Abbâs. Lihat buku ini, h. 68.
94 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
lemparkan ke neraka.86 Orang seperti ini tidak memenuhi
kriteria sebagai orang yang beriman karena orang lain tidak
aman dari gangguannya dalam masalah harta atau kehormatan.
c. Orang yang shalat tapi justru celaka di akhirat, karena ia lalai
dari shalatnya (asal-asalan atau bermalas-malasan dalam
melaksanakannya), suka pamer (dalam beribadah dan beramal),
dan tidak mau membantu orang lain walaupun dalam
kebutuhan-kebutuhan kecil dan sepele.87 Orang seperti ini
kurang atau tidak beriman kepada Allah dan hari akhir dan
termasuk orang yang mendustakan hari pembalasan.
Dengan demikian, amal yang dilakukan seseorang, baik atau
buruk, secara umum dapat dijadikan sebagai tolok ukur dan
indikator bagi kadar keimanannya, meskipun hal itu tidak bersifat
mutlak. Jenis atau tingkatan amal saleh yang dipilih seseorang juga
bisa menjadi tanda bagi kadar keimanannya (kuat, sedang atau
lemah). Misalnya, mengubah kemungkaran bil-yad (dengan tangan
atau tindakan nyata) mengindikasi-kan adanya iman berkadar kuat,
mengubahnya bil-lisan (dengan lisan atau tulisan) mengindikasikan
iman berkadar sedang, dan mengubahnya bil-qalb (dengan doa atau
minimal hatinya tidak setuju) mengindikasikan iman berkadar
lemah.88
F. Penyubur dan Pupuk Iman
Agar iman bertambah kuat, berkembang dan meningkat,
maka iman perlu selalu dipupuk. Di antara hal-hal yang dapat
86 Hadits shaħîħ diriwayatkan oleh Muslim, at-Tirmîdzî dan Aħmad, dari
Abu Hurairah. Lihat, al-Albânî, as-Silsilah ash-Shaħîħah, No. 846, II/527.
87 QS. al-Mâ’ûn [107]: 4-7.
88 Berdasarkan hadits Nabi saw (y.a.): "Barangsiapa di antara kalian melihat
sebuah kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak
mampu, maka dengan lesannya. Jika (masih) tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu
adalah selemah-lemah iman." (HR. Muslim).
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 95
mempersubur dan memupuk keimanan adalah : (1) ilmu, (2) zikir,
dan (3) tafakur.
1. Ilmu dan Pengetahuan
Ibarat air bagi tanaman, ilmu adalah kebutuhan pokok untuk
menyuburkan iman. Tanpa siraman ilmu, iman seseorang akan
cenderung mengering dan semakin gersang. Dalam al-Qur'an, ilmu
diakui sebagai modal utama untuk meraih keimanan, dan antara
keduanya terdapat hubungan erat yang bersifat integralistik.
Semakin mendalam ilmu seorang muslim, maka imannya menjadi
semakin kuat dan mantap. Allah swt berfirman:
Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya al-
Quran. Itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk
hati mereka kepadanya dan Sesungguhnya Allah adalah pemberi petunjuk
bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (QS. al-Ħajj
[22]: 55).
Sedang orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman
kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami."
96 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan orang-
orang yang berakal. (QS. Âli ’Imrân [3]: 7).
Apakah tiap ilmu bisa meningkatkan dan menyuburkan
keimanan? Jika mengacu kepada pengertian ilmu dalam perspektif
manusia dengan berbagai jenis, cabang dan disiplinnya, maka tentu
saja tidaklah setiap ilmu bisa menyuburkan iman, akan tetapi lebih
dimaksudkan pada ilmu-ilmu berikut ini:
1) Ilmu-ilmu syar’iah, yaitu ilmu-ilmu yang bersumber kepada Al-
Qur'an dan as-Sunnah yang berkenaan dengan berbagai aturan,
teori dan pedoman dalam menjalani kehidupan di dunia dan
akhirat. Di antara tujuan mempelajari ilmu-ilmu ini adalah untuk
memperoleh panduan menjadi seorang muslim yang beriman
secara benar (mukmin sejati).
2) Ilmu-ilmu kauniah, yaitu ilmu-ilmu yang diperoleh melalui
pengamatan, penelitian dan perenungan terhadap ciptaan-
ciptaan Allah swt, baik yang tersebar di alam semesta maupun
yang terdapat dalam diri manusia. Tujuan mempelajari ilmu-
ilmu ini adalah untuk mengungkap dan mengenal kebesaran dan
kekuasaan Allah swt, serta memperkokoh keimanan kepada-
Nya. Al-Qur'an banyak memberikan isyarat tentang ilmu-ilmu
kauniah, namun kebanyakan hanya bersifat general dan tidak
mendetail dengan maksud memberikan kesempatan dan porsi
kepada manusia agar menggunakan akal dan pikirannya untuk
mengkaji dan menelitinya secara lebih mendetail.
3) Ilmu-ilmu hikmah, yaitu ilmu-ilmu yang diperoleh melalui: (1)
pengamatan dan perenungan terhadap berbagai peristiwa,
fenomena, kasus atau kisah kehidupan di dunia ini untuk
mengungkap hakikat di balik semua itu dan mendapatkan
pelajaran berharga darinya; atau (2) membangun hubungan
khusus dengan Allah swt secara intensif dan konsisten melalui
amalan-amalan shalat, puasa, wirid, atau laku-laku spiritual yang
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 97
tidak menyimpang dari prinsip-prinsip ajaran Islam, dengan
maksud untuk memperkokoh keimanan dan mempertebal
ketawakalan kepada-Nya, serta memperoleh perlindungan,
pertolongan dan ridha dari-Nya, bukan untuk mendapatkan
kesaktian, kekayaan, jabatan, popularitas atau hal-hal duniawi
lainnya.
2. Zikir
Zikir adalah aktifitas mengingat Allah dengan segala sifat dan
keagungan-Nya yang layak untuk-Nya, serta membaca firman dan
ayat-ayat-Nya. Berzikir adalah sebagian dari sifat orang-orang yang
beriman, sebagaimana firman Allah swt:
"Yaitu orang-orang yang mengingat Allah (berdzikir) dalam keadaan
berdiri, duduk dan berbaring; dan mereka berpikir tentang penciptaan langit
dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan
ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa
neraka." (QS. Âli ’Imrân [3]: 191).
Rasulullah saw adalah tauladan terbaik dalam urusan zikir.
Beliau adalah makhluk paling sempurna zikirnya, tidak pernah
terputus dari mengingat Tuhannya, dan tidak merasa bosan
melakukan ketaatan kepada-Nya. Tiap kali ingat Allah, hati beliau
menjadi khusyuk, jiwanya menjadi lembut, tubuhnya bergetar, dan
air matanya bercucuran. Dalam Shahih Muslim, diriwayatkan dari
98 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
Aisyah ra, ia berkata: "Nabi saw senantiasa mengingat Allah dalam segala
keadaannya." Para shahabat Nabi saw juga selalu menghidupkan
majlis-majlis zikir.89
Dengan membiasakan berzikir kepada Allah, hati manusia
menjadi tenang dan jiwanya menjadi stabil. Dengan ketenangan
hati dan stabilitas jiwa yang diiringi alunan ritme rabani, manusia
bisa merasakan sinyal-sinyal petunjuk Ilahi secara lebih jernih,
mampu menangkap isyarat-isyarat kebenaran irfani secara lebih
objektif, dan siap menerima pesan-pesan pelajaran bayani secara
lebih fokus. Semua itu akan menyebabkan naiknya tingkat
kesadaran yang diiringi dengan meningkatnya kadar keimanan
dalam diri manusia. Itulah alur pengaruh zikir terhadap gelombang
pasang keimanan seseorang dan relevansi makna antara dua ayat
berikut ini:
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram
dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati
menjadi tenteram" (QS. ar-Ra’d [13]: 28).
89 Ats-Tsabîtî, Nafaħât min Minbar Rasûlillâh saw, h. 112-113.
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 99
Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang
mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka
(yang telah ada). (QS. al-Fatħ [48]: 4).
3. Tafakur
Yang dimaksud tafakur adalah berusaha untuk senantiasa
melihat karya Allah dengan merenungi makhluk-makhluk-Nya dan
memperhatikan ayat-ayat serta mukjizat-Nya. Jika seorang muslim
mampu menghimpun ilmu, amal saleh, zikir, dan tafakur dalam
dirinya, maka hal itu akan menghantarkannya mencapai îmânan
kâmilan (iman yang sempurna) dan akan dimasukkan dalam
golongan al-mu'minûn ħaqqan (mukmin sejati), sebagaimana
ditegaskan dalam firman Allah swt:
"Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan
memperoleh derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki
yang mulia." (QS. al-Anfâl [8]: 4).
G. Iman dan Amal
Jika ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits Nabi dikaji secara
komprehensif dengan mengedepankan semangat kejujuran dan
objektifitas, maka akan ditemukan bahwa pada hakikatnya iman
adalah sesuatu yang bertolak dari keyakinan dalam hati, sampai
manapun ia akan berlanjut atau di manapun ia akan berhenti.
Hanya saja, sesuatu yang tersembunyi dalam hati itu belum akan
diakui eksistensinya, belum bisa dihitung kuantitasnya, dan belum
bisa diuji kualitasnya jika belum diekspresikan dalam bentuk
100 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
ucapan, diaktulisasikan dalam bentuk perilaku, atau direalisasikan
dalam bentuk tindakan. Allah Maha Tahu apa saja yang
tersembunyi dan yang terbetik dalam hati dan jiwa manusia, akan
tetapi kemahaadilan-Nya menjadikan-Nya belum akan
menghukumi dan meminta pertanggung jawaban jika isi hati itu
sebelum dikatakan atau diperbuat.
Pada hakikatnya segala isi batin manusia, baik yang
direalisasikan ataupun yang disembunyikan, tidak satupun yang
luput dari perhitungan Allah, dan menjadi hak-Nyalah apakah Dia
mau mengampuni keburukan yang tersembunyi atau memberikan
hukumannya.90 Akan tetapi kemahaluasan rahmat-Nya membuat-
Nya hanya akan menuntut dan meminta pertanggung jawaban
seseorang sesuai batas-batas kemampuannya atau dalam hal-hal
yang ada dalam penguasaan dirinya91. Di samping itu, kerahiman
ampunan Allah membuat-Nya mengampuni apa-apa (keburukan)
yang dibisikkan oleh jiwa seseorang selama belum diucapkan atau
diperbuatnya92, dan setelah direalisasikan dalam perbuatan barulah
dibalas dengan yang setimpal dengan keburukannya.93 Sebaliknya,
sebagai apresiasi terhadap sisi positif manusia, niat baik seseorang
telah dicatat-Nya sebagai satu kebajikan, kemudian akan
90 Penafsiran QS. al-Baqarah [2]: 284. Sebagian ulama berpendapat
bahwa ayat ini dinasakh oleh ayat berikutnya (ayat 286) dengan mengambil
dasar dari hadits-hadits yang diriwayatkan oleh: (1) al-Bukhârî dari Ibnu ’Umar,
(2) Aħmad dari Ibnu ’Abbâs, (3) dan Aħmad & Muslim dari Abû Hurairah.
Namun menurut al-Alûsî ada problem dalam penasakhan tersebut, karena
nasakh itu hanya khusus untuk kalâm insyâ' (kalimat ….) dan tidak berlaku pada
kalâm khabar (kalimat berita), padahal ayat tersebut termasuk kalâm khabar.
Lihat, al-Alûsî. Rûħ al-Ma’ânî, h. I/....; dan al-Baghâwî, Syarħ as-Sunnah, h. 81.
91 Penafsiran QS. al-Baqarah [2]: 286.
92 Makna hadits shahih riwayat: (1) al-Bukhârî dari Abû Hurairah, (2)
Muslim dari Qatâdah, dan (3) Aħmad dari Abû Hurairah. Lihat, al-Baghâwî,
Syarħ as-Sunnah, h. 82.
93 QS. al-An’âm [6]: 160.
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 101
digandakan menjadi 10 kali lipat setelah ditindaklanjuti dengan
amal saleh94, bahkan untuk amal-amal saleh tertentu pahalanya
akan digandakan hingga 7 x 100 kali lipat95.
Dengan demikian, keberadaan iman pada diri seseorang
menuntut dilakukannya amal saleh dan ditinggalkannya amal taleh
serta pengaktualisasian nilai-nilai keimanannya dalam kehidupan
sehari-hari. Dalam lingkup yang lebih luas, kondisi keimanan
seseorang itu akan mempengaruhi amal yang diperbuatnya, baik
jenis, kuantitas maupun kualitas amalnya. Sebuah amal itu akan
dinilai saleh (baik) atau taleh (buruk) ditentukan oleh 3 hal utama,
yaitu: (1) materi amalnya (baik atau buruk, benar atau salah) yang
diukur dengan norma atau hukum yang berlaku, (2) niat dan
motivasinya (baik atau buruk) yang pengaruhi oleh kondisi
keimanannya, dan (3) cara atau proses mengerjakannya (sesuai
aturan atau tidak).
2. Amal Saleh Sebagai Konsekuensi Iman
Jika seseorang membangun sebuah rumah, tentu ia memulai
dari bagian pondasinya. Namun jika ia berhenti pada pondasi saja,
tentulah belum bisa disebut rumah. Pondasi rumah pada dasarnya
juga bukan sesuatu yang terpisah dari bangunan di atasnya.
Maksudnya, di satu sisi keberadaan pondasi menuntut keberadaan
bangunan, dan di sisi lain keberadaan bangunan secara umum
menjadi tanda adanya pondasi. Demikian halnya iman, keberadaan
iman menuntut adanya amal saleh, dan keberadaan amal saleh
secara umum menjadi tanda adanya iman.
a. Amal Saleh Ukhrawi dan Amal Saleh Duniawi
94 QS. al-An’âm [6]: 160.
95 Seperti sebutir benih yang menumbuhkan 7 bulir dan pada tiap bulir
ada 100 biji (QS. al-Baqarah [2]: 261).
102 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
Amal96 dalam perspektif al-Qur'an memiliki tujuan ganda,
amal untuk dunia (’amal lid-dunyâ) dan amal untuk akhirat (’amal lil-
âkhirah). Amal saleh97 tidaklah terbatas pada ibadah-ibadah seperti
shalat, puasa, zikir, dan perenungan terhadap alam semesta saja,
akan tetapi mencakup segala kebajikan dalam urusan dunia (amal
dunia) dan akhirat (amal akhirat), serta semua yang baik dan patut
untuk seseorang, baik bagi diri sendiri, keluarga maupun
masyarakatnya. Oleh karena itu, al-Qur'an menyanjung amal saleh
dan menyatakan hanya amal salehlah yang diterima di sisi Allah
swt, sebagaimana firman-Nya:
96 Amal (’amal) secara etimologi berarti setiap perbuatan yang dilakukan
dengan suatu maksud atau tujuan tertentu. Amal lebih khusus dari perbuatan
(fi’l) karena suatu perbuatan terkadang dilakukan tanpa maksud tertentu. Secara
terminologi, amal adalah segala perbuatan (baik atau buruk) yang mengandung
konsekuensi pertanggungjawaban dan balasan. Sebagai contoh, jika seseorang
menggerakkan tangannya dengan maksud menolong atau memukul seseorang,
maka perbuatannya itu termasuk amal dan akan mendapatkan balasan; akan
tetapi jika ia menggerakkan tangannya hanya karena rutinitas atau berupa gerak
reflek, maka itu adalah murni perbuatan dan tidak akan diperhitungkan atau
dibalas. Jika seseorang mengucapkan sesuatu dengan maksud memberi petunjuk
kebaikan atau mengata-ngatai orang lain, maka itulah amal; akan tetapi jika
perkataannya itu hanya berupa ucapan spontanitas biasa (tidak mengandung nilai
baik atau buruk), maka itu hanya perbuatan dan bukan amal.
97 Kata "saleh" asalnya adalah shâliħ (yang baik, patut, layak). Dalam al-
Qur'an, hal-hal yang baik (kebaikan-kebaikan) disebut ash-shâliħât atau al-ħasanât,
dan terkadang disebut al-ma’rûf.
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 103
"Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah
kemuliaan itu semuanya. kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang
baik98 dan amal yang saleh dinaikkan-Nya; dan orang-orang yang
merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras; dan rencana jahat
mereka akan hancur." (QS. Fâthir [35]: 10).99
Mengacu kepada definisi amal saleh di atas, secara global ada
2 jenis amal saleh, yaitu amal saleh ukhrawi dan amal saleh
duniawi100:
1) Amal saleh ukhrawi, yaitu amal saleh yang berupa ibadah-ibadah
mahdhah (murni) yang ada dasar dan aturannya secara tafshîlî
(terperinci) dalam Islam, seperti: shalat, zakat, puasa, haji,
tadarus al-Qur'an, dan sebagainya.
2) Amal saleh duniawi, yaitu amal saleh yang berupa aktifitas-
aktifitas duniawi yang bermanfaat untuk diri dan orang lain,
baik dalam lapangan sosial, budaya, ekonomi, pendidikan,
politik, seni, maupun lapangan kehidupan duniawi lainnya. Jenis
amal ini tidak ada ketentuannya secara terperinci dalam Islam,
akan tetapi biasanya Islam hanya menyampaikan pesan-pesan
secara global yang berkenaan dengan prinsip, nilai, dan etika.
b. Integrasi Iman dan Amal Saleh
98 Ada beberapa pendapat tentang makna al-kalim ath-thayyib (perkataan
yang baik), di antaranya: (1) kalimat tauhid yaitu Laa ilaa ha illallaah; (2) zikir
kepada Allah, atau (3) semua perkataan yang baik yang diucapkan karena Allah.
99 Az-Zuħailî, al-Qur'ân al-Karîm: Bunyatuhu at-Tasyrî’iyyah wa Khashâishuhu
al-Ħadhâriyyah, h. 121.
100 Dalam ajaran Islam, ada hubungan erat antara amal shaleh ukhrawi
dan amal shaleh duniawi. Islam menghendaki agar keduanya bisa berjalan secara
seimbang sehingga orang-orang yang beriman bisa meraih dua kebaikan
sekaligus, yakni kebaikan dunia dan kebaikan akhirat.
104 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
Islam merupakan agama yang ajaran-ajarannya bersifat
integral, dalam artian antara satu ajaran dengan ajaran lainnya
saling berkait, saling melengkapi, dan saling berkonsekuensi. Di
antara ajaran Islam yang menuntut adanya integralitas adalah
masalah iman dan amal saleh. Dalam al-Qur'an, integrasi antara
iman dan amal saleh mendapatkan perhatian besar dan serius yang
terlihat dalam penggunaan keduanya secara berpasangan dalam
banyak ayat.101
Perhatian yang begitu besar terhadap integrasi iman dan amal
saleh tersebut karena keduanya memiliki peran besar dalam
menghindarkan atau mengentaskan manusia dari kerugian dan
kecelakaan dari masa ke masa102 serta menghantarkan mereka
untuk meraih kebaikan dunia dan akhirat. Iman berperan dalam
memperkokoh kepribadian manusia dan memperjelas orientasi
kehidupannya, sehingga ia tidak mudah terombang-ambing oleh
ombak zaman dan tidak gampang goyah oleh badai masa.
Sedangkan amal saleh berperan dalam memperkuat eksistensi
manusia baik dalam pandangan sesama maupun dalam penilaian
Allah swt, dan mempertegas nilai guna dirinya baik bagi diri
sendiri, orang lain maupun alam sekitar.
Secara rinci integrasi iman dan amal saleh memiliki fungsi
dan kegunaan antara lain untuk:
101 Dalam al-Qur'an, iman dan amal shaleh dituturkan secara berangkai
tidak kurang dari 68 kali. Lihat, ’Abd al-Bâqî, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfâzh al-
Qur'ân al-Karîm, h. 483-486.
102 Sebagai jalan keluar (solusi) dari kerugian. Dalam QS. al-’Ashr [103]
di atas solusi tersebut akan lebih sempurna, jika iman dan amal shaleh itu bisa
melahirkan kepedulian dan kepekaan sosial, serta interaksi sosial yang positif dan
mendidik, yang antara lain direalisasikan melalui saling berpesan dengan
kebenaran dan kesabaran.
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 105
1) mempertahankan derajat kemuliaan manusia (aħsani taqwîm),
sehingga mereka tidak berbalik menjadi makhluk terendah dan
paling hina (asfala sâfilîn)103;
2) membedakan penganut agama yang lurus (Islam) dengan
penganut agama-agama yang menyimpang (orang-orang
kafir)104;
3) membedakan orang-orang yang ber-Tuhankan Allah dengan
orang-orang bertuhankan hawa nafsu (kaum atheis)105;
4) memperteguh pendirian dan menghindarkan dari
inkonsistensi106;
5) membentuk pribadi yang kredibel dalam berserikat dan meng-
hindarkan dari penyalahgunaan amanat dan wewenang.107
Orang yang beriman dan beramal saleh akan mendapatkan
balasan kebaikan dari Allah swt baik selama di dunia dan lebih-
lebih di akhirat kelak. Balasan tersebut antara lain adalah sebagai
berikut:
1) dimasukkan ke dalam golongan orang-orang saleh108;
2) memperoleh harapan menjadi orang yang beruntung109;
103 QS. at-Tîn [95]: 4-6. Lihat, kajian tentang Manusia dan Totalitas
Dirinya.
104 QS. al-Bayyinah [98]: 6-7.
105 QS. al-Insyiqâq [84]: 21-24. Orang-orang yang bertuhankan hawa
nafsu, yakni para pengikut madzhab dahrî (atheism), menyangka bahwa kehidupan
itu hanyalah di dunia saja dan yang mematikan manusia hanyalah waktu.
Menurut mereka, hidup dan mati itu hanya kebetulan saja, sehingga tidak ada
yang perlu dipersiapkan untuk pasca kematian. Sedangkan orang-orang yang
ber-Tuhankan Allah, meyakini bahwa hidup dan mati itu adalah ketentuan-Nya
dan manusia harus membekali diri dengan iman dan amal saleh untuk menjalani
kehidupan pasca kematian.
106 QS. asy-Syu’arâ' [26]: 225-227.
107 QS. Shâd [38]: 22-24.
108 QS. al-’Ankabût [29]: 9).
106 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
3) diberi petunjuk oleh Allah swt110;
4) dijadikan sebagai khalifah111;
5) dipercaya untuk mengelola bumi112;
6) mendapatkan ampunan Allah dan pahala yang besar113;
7) diberi tambahan dari karunia Allah114;
8) memperoleh kasih sayang Allah115;
9) manfaatnya kembali kepada diri sendiri116;
10) dikeluarkan dari kegelapan menuju cahaya117;
11) keburukan-keburukannya diganti oleh Allah dengan kebaikan-
kebaikan bagi yang bertaubat118, dan
12) diberi balasan surga119.
3. Amal Taleh Sebagai Tanda Cacatnya Iman
Jika seseorang berbuat maksiat, lalu ada orang lain
membelanya dengan mengatakan: "Dia itu hanya bermaksiat secara
lahir saja, sedang batinnya tetap beriman dan taat kepada Allah", maka
perkataan seperti itu hanyalah berdasarkan perasaan dan sangkaan,
tidak berdasarkan pengetahuan dan ilmu. Kemaksiatan – yang
109 QS. al-Qashash [28]: 67.
110 QS. Yûnus [10]: 9.
111 QS. an-Nûr [24]: 55.
112 QS. al-Anbiyâ' [21]: 105.
113 QS. al-Mâidah [5]: 9; Hûd [11]: 11.
114 QS. an-Nûr [24]: 38 .
115 QS. Maryam [19]: 96.
116 QS. Fushshilat [41]: 46; al-Jâtsiyah [45]: 15.
117 QS. ath-Thallâq [65]: 11.
118 QS. al-Furqân [25]: 70.
119 QS. al-Baqarah [2]: 25, 82; Hûd [11]: 23; QS. Ibrâhîm [14]: 23; al-
Kahfi [18]: 107; al-Ħajj [22]: 14, 23; Ghâfir [40]: 40.
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 107
merupakan bagian dari amal taleh120– yang dilakukan seseorang itu
menunjukkan atau mengindikasikan kelemahan, kekurangan, atau
ketiadaan iman dalam dirinya.
a. Amal Taleh Vs. Iman
Rasulullah saw memberikan beberapa contoh amal taleh
yang mengindikasikan ketiadaan atau kelemahan iman, di antaranya
adalah sabdanya:
ق ُ ُ ٓ َ َ ة ُ ُ ٓ َ َ ق اٌغ ق ض َ
َال َضٍِِٔ اٌ َّأٍِ حِنيَ َضٍِِٔ وَ٘ىَ ِؤِِ ْ وال َغِشِ ُ َّبسِ ُ حِنيَ َغِشِ ُ وَ٘ىَ ِؤِِ ْ و ال َشِشَ ُ اٌْخَِّش
ْ ِِحِنيَ َشِشَُثهَب وَ٘ىَ ِؤ
ٓ ُ ُ
Pezina tidaklah berzina (jika) ketika berzina ia beriman, pencuri tidaklah
mencuri (jika) ketika mencuri ia beriman, dan (seseorang) tidaklah meminum
khamr (jika) ketika meminumnya ia beriman.121
َ عَ ٖ ع ز ُ
ٌَُِِِٗظَ املؤَِِٓ اٌََّ ٌِ َشِجَ ُ و جَبسُ ُ جَبئِ ْ إىلَ جِٕج
Tidaklah (disebut) mukmin orang yang kenyang sedang tetangganya
kelaparan di dekatnya.122
Hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa amal-amal taleh,
khususnya dosa-dosa besar, tidaklah bisa beriringan atau
berdampingan dengan iman. Amal taleh selalu dalam posisi
120 Kata "taleh" asalnya adalah thâliħ (yang buruk, jelek, jahat). Dalam al-
Qur'an, hal-hal yang buruk (keburukan-keburukan) disebut as-sayyi'ât atau as-sû',
dan terkadang disebut al-faħsyâ' (perbuatan keji, kotor, atau mesum) atau al-
munkar (kemungkaran).
121 Hadits shaħîħ diriwayatkan dari Abu Hurairah oleh al-Bukhârî (No.
5150), Muslim (No. 86), dan lain-lain. Lihat, al-Albânî, as-Silsilah ash-Shaħîħah,
VI/1269.
122 Hadits shaħîħ diriwayatkan dari Ibnu ’Abbâs oleh: (1) al-Bukhârî dalam
al-Adab al-Mufrad, (2) ath-Thabrânî dalam al-Kabîr, (3) al-Ħâkim, (4) Ibnu Abî
Syaibah dalam Kitâb al-Îmân, (5) al-Khathîb dalam Târîkh Baghdâd, (6) Ibnu
’Asâkir, dan (7) adh-Dhiyâ' dalam al-Mukhtârah . Lihat, al-Albânî (No. 149), as-
Silsilah ash-Shaħîħah, I/229.
108 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
berlawanan atau bertolak belakang dengan iman, menuju arah
masing-masing yang semakin berjauhan. Semakin banyak dan kuat
amal taleh yang dilakukan seseorang, maka semakin sedikit dan
lemah imannya. Jika kemaksiatannya kian naik mendekati angka
puncak, maka keimanannya kian turun mendekati angka nol.
Dengan demikian, keberadaan yang satu meniadakan lainnya,
kemenangan yang satu mengalahkan lainnya, atau dominasi yang
satu memperlemah lainnya.
Allah swt memberikan peringatan, sindiran keras dan
ancaman kepada orang-orang yang beramal taleh:
1) Sekecil apapun keburukan yang dikerjakan seseorang, di akhirat
kelak ia akan melihat akibat amalnya itu dan diberikan
balasannya. Allah swt berfirman:
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun,
niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS. az-Zalzalah [99]:
8).123
2) Orang-orang yang berbuat kejahatan dikonfrontasikan dengan
orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Allah swt
berfirman:
123 Lihat QS. an-Nisâ' [4]: 123.
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 109
Apakah orang-orang yang membuat kejahatan-kejahatan (amal-amal
taleh) itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, yaitu sama
antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang
mereka sangka itu. (QS. Al-Jâtsiyah [45]: 21).
3) Orang-orang yang berlumuran dosa adalah ahli neraka. Allah
swt berfirman:
(Bukan demikian). Yang benar, barangsiapa berbuat dosa dan ia telah
diliputi oleh dosanya, mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di
dalamnya. (QS. al-Baqarah [2]: 81).
b. Amal Taleh: Antisipasi, Solusi dan Penyikapannya
Amal taleh memang dicela dan akan berbalas hukuman.
Akan tetapi Allah swt tidak membiarkan manusia melakukan amal
taleh dengan tanpa memberikan antisipasi, solusi atau
penyikapannya. Hal itu antara lain sebagai berikut:
1) Sebagai langkah antisipatif agar orang-orang mukmin terhindar
dari amal-amal taleh dan tidak terjerumus di dalamnya,
hendaknya mereka: (1) tidak mengikuti hawa nafsu sendiri124
dan hawa nafsu orang-orang yang sesat lagi menyesatkan125, (3)
tidak mengikuti langkah-langkah setan126, (4) mengikuti jalan
124 Lihat QS. an-Nisâ' [4]: 135.
125 Lihat QS. al-Mâidah [5]: 77.
126 Lihat QS. an-Nûr [24]: 21.
110 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
Allah dan tidak mengikuti jalan-jalan lain127, serta (5) bekerja
sama dan tolong-menolong dalam kebajikan dan ketakwaan,
bukan dalam kedosaan dan permusuhan.
2) Orang-orang yang melakukan amal-amal taleh hendaknya segera
bertaubat, dan diberi deadline hingga sebelum datangnya ajal. Jika
ia bertaubat saat ajal tiba, maka taubatnya tidak akan diterima
oleh Allah.128
3) Orang yang mengerjakan amal-amal taleh kemudian bertaubat,
beriman, dan memperbaiki diri, ia akan mendapatkan ampunan
Allah swt.129
4) Iman, takwa, dan amal saleh menjadi lantaran dihapuskannya
amal taleh yang dilakukan sebelumnya.130
5) Amal taleh yang dilakukan seseorang tidaklah dibalas kecuali
dengan yang sepadan dengannya.131
6) Menolak perbuatan buruk yang dilakukan orang lain dengan
yang lebih baik.132 Meskipun satu keburukan yang dilakukan
orang lain boleh dibalas dengan satu keburukan yang sepadan,
akan tetapi jika mau memaafkan dan membalasnya dengan
perbuatan baik, maka ia akan mendapatkan jaminan pahala di
sisi Allah.133
KESIMPULAN SUBTANTIF
127Lihat QS. al-An’âm [6]: 153.
128Lihat QS. an-Nisâ' [4]: 17-18.
129 Lihat QS. al-Mâidah [5]: 65; al-Anfâl [8]: 29; ath-Thallâq [65]: 5; al-
’Ankabût [29]: 7; at-Taghâbun [64]: 9 al-A’râf [7]: 153 .
130 Lihat QS. Hûd [11]: 114.
131 Lihat QS. Ghâfir [40]: 40. Maksudnya, keburukannya tidak dibalas
dengan keburukan yang berlipat ganda.
132 Lihat QS. al-Jâtsiyah [45]: 96.
133 Lihat QS. asy-Syûrâ [42]: 40.
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 111
1. Kata îmân dalam al-Qur'an memiliki beberapa pengertian sesuai
konteks penggunaannya, di antaranya adalah:
a. Keyakinan atau kepercayaan dalam hati.
b. Tauhid (monotheism), sebagai lawan dari syirik (polytheism)
c. Peribadatan, yang di dalamnya terkandung keyakinan bulat,
ucapan yang benar, dan amal saleh.
d. Syari'at Islam, sebagai lawan dari kufur (syari'at non-Islam)
2. Iman pada hakikatnya adalah keyakinan yang bulat dan benar
dalam hati, yang kemudian diikrarkan dengan lisan (ucapan yang
haq) dan dibuktikan dengan perbuatan (amal saleh). Juga
merupakan pondasi dasar, yang kemudian di atasnya didirikan
bangunan beserta berbagai perlengkapan dan asesorisnya.
3. Dalam al-Qur'an dan as-Sunnah, materi-materi pokok keimanan
(yang kemudian disebut enam rukun iman) selalu dikaitkan
dengan materi-materi ibadah, amal saleh dan akhlak, sebagai
konsekuensi dari keimanan. Pembelajaran rukun-rukun iman
disampaikan dalam beberapa tahap sebagai berikut:
a. Tahap sosialisasi dan penerangan dalam rangka memotivasi
manusia agar menjadi orang yang bertakwa. Dalam tahap ini
keimanan dijadikan sebagai indikator bagi ketakwaan (di
antara ciri orang yang bertakwa), yakni: (1) iman kepada yang
ghaib, (2) iman kepada kitab-kitab-Nya, dan (3) iman kepada
hari akhir, dengan konsekuensi yang masih relatif ringan,
terbatas dan mudah diukur, seperti melaksanakan shalat dan
memberikan infak.
b. Tahap pengisian dan pembobotan sisi batin seorang muslim
dan pembentukan karakter mukmin sejati. Dalam tahap ini
keimanan dijadikan sebagai esensi dari kebajikan, dan materi
keimanan sudah diperinci menjadi 5, yaitu: (1) iman kepada
Allah, (2) iman kepada hari akhir, (3) iman kepada para
malaikat, (4) iman kepada kitab-kitab suci, dan (5) iman
112 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
kepada para nabi. Sebagai konsekuensinya, keimanan
tersebut harus diaktualisasikan dalam sikap, perilaku dan
tindakan yang baik dan bernilai guna.
c. Tahap peneguhan ideologi, pembuktian komitmen, dan
pengujian loyalitas bagi orang-orang yang beriman. Dalam
tahap ini orang-orang beriman diperintahkan untuk beriman
dengan sungguh-sungguh dan memberikan ultimatum
kepada orang-orang yang kufur (tidak beriman) kepada: (1)
Allah, (2) malaikat-malaikat-Nya, (3) kitab-kitab-Nya, (4)
rasul-rasul-Nya, dan (5) hari akhir.
d. Tahap penyempurnaan rukun iman menjadi enam, yakni
ditambah: (6) iman kepada takdir. Dalam tahap ini telah
dideskripsikan secara lengkap tentang 3 pokok ajaran agama
(Islam), yaitu islam (pokok-pokok ibadah), iman (pokok-
pokok akidah), dan ihsan (esensi akhlak).
4. Iman kepada Allah swt memiliki 3 unsur yang bersifat integral,
yaitu: (1) rububiah-Nya, (2) uluhiah-Nya, dan (3) asma' wa
shifat-Nya. Keimanan kepada Allah dalam tiga unsur tersebut
merupakan esensi tauhid (pengesaan Allah).
5. Agar iman bertambah kuat, berkembang dan meningkat, maka
iman perlu selalu dipupuk. Di antara hal-hal yang dapat
mempersubur dan memupuk keimanan adalah:
a. Ilmu dan pengetahuan.
b. Zikir.
c. Tafakur.
6. Keberadaan iman pada diri seseorang menuntut dilakukannya
amal saleh dan ditinggalkannya amal taleh serta pengaktualisa-
sian nilai-nilai keimanannya dalam kehidupan sehari-hari.
a. Iman dan amal saleh merupakan dua hal yang saling
berkonsekuensi. Keberadaan iman menuntut amal saleh
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 113
sebagai buktinya, dan keberadaan amal saleh menuntut iman
sebagai landasannya.
b. Sebaliknya, iman dan amal taleh selalu dalam posisi
berlawanan atau bertolak belakang, menuju arah masing-
masing yang semakin berjauhan. Keberaan amal taleh
merupakan tanda atau indikator bagi lemah, surut atau
tiadanya iman seseorang.
NILAI-NILAI IMPLEMENTATIF
1. Setiap muslim hendaknya senantiasa berusaha meningkatkan
derajatnya menjadi mukmin hingga mencapai derajat mu'minan
114 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
ħaqqan (mukmin sejati). Seorang mukmin hendaknya
membuktikan keimanannya dengan mengerjakan amal-amal
saleh dan menjauhi amal-amal taleh.
2. Setiap mukmin hendaknya menyempatkan diri untuk senantiasa
mengevaluasi keimanannya untuk mengetahui apakah terjadi
pasang ataukah surut pada keimanannya. Evaluasi keimanan
bisa dilakukan antara lain dengan cara mengidentifikasi
indikator-indikator yang terjadi berdasarkan tanda-tanda dan
cabang-cabang iman yang sudah ditentukan;
3. Jika seorang mukmin menemukan indikasi surutnya iman pada
dirinya, hendaknya ia segera berusaha mengatasinya. Jika ia
tidak mampu mengatasinya sendiri, maka sebaiknya ia
berkonsultasi atau minta nasehat kepada ahlinya di antara para
ulama (ahli-ahli agama Islam) yang terpercaya.
4. Agar iman seseorang selalu dalam keadaan pasang, hendaknya ia
melakukan hal-hal sebagai berikut:
c. memupuk keimanan dengan meningkatkan ilmu dan
pengetahuan yang dimiliki, baik melalui kegiatan membaca,
mendengarkan, atau mengobservasi;
d. melakukan perenungan atau penelitian terhadap tanda-tanda
kebesaran Allah swt, baik yang tersebar di alam raya (alam
semesta) maupun yang ada dalam alam mini (diri sendiri);
e. mengambil pelajaran dan dan hikmah dari berbagai
fenomena, peristiwa, atau kasus yang terjadi dalam
kehidupan sehari-hari di dunia ini.
TES FORMATIF
1. Jelaskan pengertian iman, baik secara etimologi maupun
terminologi!
II. Iman & Konsekuensinya Tafsir 115
2. Kata iman di dalam Al-Qur'an setidaknya digunakan dalam 4
konteks makna. Sebutkan dan jelaskan penerapan masing-
masing sesuai dengan konteksnya!
3. Dalam ajaran Islam, dikenal adanya enam rukun iman.
Bagaimanakah pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam
al-Qur'an dan al-Hadits dalam proses penyempurnaan rukun
iman?
4. Iman kepada Allah swt memiliki 3 unsur utama, yakni: (1)
Rububiah, (2) Uluhiah dan (3) Asma' Washifat.
a. Jelaskan hubungan antara ketiga unsur tersebut dalam
kaitannya dengan masalah tauhid!
b. Sementara golongan dalam Islam membagi tauhid menjadi 3,
yakni: (1) tauhid uluhiah, (2) tauhid rububiah, dan (3) tauhid
asma' washifat. Apakah pembagian tauhid tersebut dapat
dibenarkan? Jelaskan dan kemukakan argument Saudara baik
secara akli maupun nakli!
5. Di antara pupuk iman adalah: (1) ilmu dan pengetahuan, (2)
zikir, dan (3) tafakur. Bagaimanakah peranan dan kontribusi
ketiganya dalam mempersubur iman seseorang?
6. Allah swt berfirman dalam QS. Al-’Ashr [103]:
a. Dalam ayat di atas ada empat hal yang menjadikan manusia
dikecualikan dari menderita kerugian. Kemukakan dan
jelaskan hubungan di antara keempat hal tersebut!
116 Tafsir II. Iman & Konsekuensinya
b. Dalam al-Qur'an banyak sekali terdapat rangkaian iman dan
amal saleh. Sebagian ulama mendefinisikan iman dengan
mencakup amal saleh sekaligus, sedang sebagian lainnya
menganggap amal saleh bukan bagian dari iman melainkan
konsekuensi dari iman. Bagaimanakah komentar Saudara
terhadap perbedaan pendapat tersebut? Dan bagaimanakah
pendapat Saudara tentang hubungan iman dan amal saleh?
7. Iman bisa pasang dan bisa surut. Bagaimanakah cara
mengetahui pasang dan surutnya iman? Dan bagaimanakah
langkah-langkah untuk menjaga pasangnya iman, dan mengatasi
problem surutnya iman?
8. Dalam realita sehari-hari banyak orang yang mengaku sebagai
orang yang beriman atau setidaknya menolak dikatakan tidak
beriman, namun mereka terus-menerus dalam kemaksiatan,
keingkaran atau amal talehnya. Menurut Saudara, mengapa bisa
terjadi seperti itu? Dan bagaimanakah solusinya?
9. Tilik diri:
a. Apakah Saudara termasuk orang yang beriman? Kemukakan
alasan Saudara!
b. Selama ini apa sajakah problem, gangguan, dan kendala yang
Saudara alami dalam menjaga dan meningkatkan keimanan?
Di antara hal-hal tersebut, manakah yang Saudara rasakan
paling sulit untuk diatasi?
c. Bagaimanakah kiat-kiat yang Saudara lakukan untuk
mempersubur keimanan Saudara?