Onani itu Haram?
Sebagian remaja mencari jalan solusi untuk mengekang nafsu
atau syahwatnya yang menggejolak dengan melakukan onani.
Kita tahu bahwa onani adalah mengeluarkan mani secara
paksa, baik menggunakan tangan sendiri atau menggunakan
tangan pasangan atau istrinya. Berikut adalah penjelasan
ringkas mengenai hukum onani.
Hukum Onani
Hukum onani dengan tangan itu haram. Alasannya adalah firman Allah Ta’ala,
َ َاَ ِي َ ُمْ ِ ُ ُو ِهِمْ حَبف ُى َ (29) إَِب عَلَى أَس َا ِهِمْ أوْ مَب مََكتْ َيْمَب ُ ُمْ ََِ ُمْ َيْ ُ مَُى ِي َ (30) َ َ ِ اب َغَى َ َا َ ذَّل
فمه ْت ور ء ِك ل َ أ وه فإوه غ ز ل م ه َ ْو ج ّل ِظ ن و ّلذ ه ه ّلفز ج
فأ ّل ِك هم ع د ن
03( َ ) َُوَئ َ ُ ُ اّلْ َب ُو
“Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau
budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.
Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui
batas.” (QS. Al Ma‟arij: 29-31). Orang yang melampaui batas adalah orang yang zholim dan
berlebih-lebihan. Allah tidaklah membenarkan seorang suami bercumbu selain pada istri atau
hamba sahayanya, selain itu diharamkan.
Fatwa dari Komisi Fatwa Saudi Arabia
Soal: Jika syahwat seorang muslim menggejolak di siang hari Ramadhan dan tidak ditemukan
cara lain selain melakukan onani, apakah hal itu membatalkan puasa. Lalu apakah puasanya
harus diqodho‟ dan kafaroh dalam keadaan seperti itu?
Jawab: Onani itu haram baik di bulan Ramadhan atau di luara Ramadhan. Tidak boleh
seseorang melakukan onani karena Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang
yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang
mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari
yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al Ma‟arij:
29-31). Jika ada yang melakukan onani di siang hari Ramadhan sedangkan ia dalam keadaan
berpuasa, maka ia wajib bertaubat pada Allah, lalu ia harus mengqodho‟ puasanya. Namun ia
tidak dikenai kafaroh karena kafaroh hanya dikenakan pada orang yang berjima‟
(bersenggama).
Wa billahit taufiq. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan
sahabatnya.
[Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al „Ilmiyyah wal Ifta‟ no. 2192, 10: 257]
Wallahu waliyyut taufiq.