MODEL INSTRUKSIONAL DDFK PROBLEM SOLVING
Udan Kusmawan
(Universitas Terbuka)
ABSTRAK
_The DDFC Problem Solving Instructional Model is developed to support the objective of
science education, which is to help students improve their ability in both creative thinking
and critical thinking. Many education practitioners believe that this approach to learning can
make students better understand the science problems around them holistically. Educators
must also realize that in order for students to recognize the complexity of problems,
especially students with cognitive abilities still in development, they need support and
necessary tools. It is for this purpose that the DDFC instructional model was developed. The
use of this model will help students recognize problems through the model's phases:
Defining problems, Designing solutions, Formulating results, and Communicating results.
In the end, it is hoped that the understanding of scientific principles are done in a continuous
and integrated way._
________________________________________________________________________
Istilah DDFK dalam model instruksional ini merupakan kependekan dari keempat istilah
‘Fase instruksional’, yaitu fase men-Definisi-kan masalah, men-Desain solusi, mem-
Formulasi-kan hasil, dan meng-Komunikasikan hasil. Secara utuh, model instruksional
tersebut dikembangkan dengan target utama terwujudnya sosok peserta didik yang kreatif
dan kritis. Oleh karenanya, secara teoritis pengembangan model instruksional ini didasarkan
atas prinsip-prinsip problem solving, yang telah lama dipercaya sebagai vehicle untuk
mengembangkan higher order thinking skills. Melalui model ini diharapkan peserta didik
dapat membangun pemahamannya sendiri tentang realita alam dan ilmu pengetahuan
dengan cara meng(re)kontruksi sendiri ‘makna’ melalui pemahaman relevan pribadinya
(Pandangan Kontruktivisme). Para peserta didik difasilitasi untuk menerapkan their existing
knowledge melalui problem solving, pengambilan keputusan, dan mendesain penemuan.
Para siswa dituntut untuk berpikir dan bertindak kreatif dan kritis. Mereka dilibatkan dalam
melakukan eksplorasi situasi baru, dalam mempertimbangkan dan merespon permasalahan
secara kritis, dan dalam menyelesaikan permasalahannya secara realitis.
Melalui proses problem solving ini, Edwards L. Pizzini (1996) yakin bahwa para siswa akan
mampu menjadi pemikir yang handal dan mandiri. Mereka dirangsang untuk mampu
menjadi seorang eksplorer–mencari penemuan terbaru, inventor–mengembangkan
ide/gagasan dan pengujian baru yang inovatif, desainer-mengkreasi rencana dan model
terbaru, pengambil keputusan–berlatih bagaimana menetapkan pilihan yang bijaksana, dan
sebagai komunikator–mengembangkan metoda dan teknik untuk bertukar pendapat dan
berinteraksi. Melalui hasil kajian studi yang dimuat dalam artikel ini diharapkan bahwa
model ini dapat mengayomi model-model instruksional yang sudah ada selama ini.
Gambaran model instruksional DDFK tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Diagram Model DDFK
Bentuk siklis pada gambar tersebut menjelaskan makna bahwa proses ilmiah yang
diharapkan oleh model DDFK ini tidak boleh kaku, seperti pada pola kegiatan step-by-step,
melainkan fleksibel terhadap probabilitas kemunculan variasi permasalahan yang ada.
Metoda step-by-step tidak menguntungkan untuk suatu penyelesaian permasalahan yang
relatif baru. Dengan pendekatan model siklis metoda ilmiah seperti ini, para siswa
dibimbing untuk mengidentifikasi pengetahuan apa yang telah diketahuinya, dan meluaskan
pemahamannya atas pengetahuan tersebut melalui kegiatan problem solving. Selain itu,
bentuk siklis tersebut mensyiratkan adanya tuntutan kajian pemahaman secara reflektif dan
evaluatif yang dikemas dalam pola tindakan kolaboratif dan partisipatif. Konsep ini sangat
erat kaitannya dengan ide utama yang dikembangkan dalam metode ‘Action Research‘.
Dalam studi ini, siswa difasilitasi untuk melakukan kegiatan percobaan ilmiah terbuka di
luar sekolah melalui fase-fase DDFK tersebut. Kegiatan perencanaan, pengorganisasian,
analisis, pelaksanaan, pemecahan, serta monitoring dan evaluasi yang lebih dikenal sebagai
fungsi-fungsi manajemen sangat mewarnai setiap fase dari model DDFK. Adapun, kegiatan
inti siswa selama fase men-Definisi-kan masalah adalah kegiatan identifikasi (identifying),
pemilihan (selecting), dan memperjelas (refining) permasalahan yang ditemui. Selanjutnya,
siswa diajak untuk men-Desain rencana pemecahan serta mengembangkan metodologi
riset/studi (perencanaan, pelaksanaan, pengumpulan, dan analisis data) untuk merespon
permasalahan yang ditemuinya. Mereka kemudian dibimbing untuk mem-Formulasikan
fakta/data yang diperolehnya itu menjadi sebuah informasi yang dapat disampaikan kepada
orang/pihak lain. Sampai pada akhir kegiatan studi atau belajarnya itu, siswa menetapkan
metoda tertentu yang akan diterapkan pada kegiatan ber-Komunikasi dan berinteraksi
dengan group siswa lain.
Model DDFK Problem Solving ini mempunyai keunggulan dalam berupaya merangsang
para siswa untuk menggunakan perangkat statistik sederhana dalam mengadministrasikan
data/fakta hasil pengamatan studinya. Penggunaan tabel pengamatan, chart, diagram, dan
sebagainya dalam fase-fase tertentu dari kegiatan instruksional DDFK sangat disarankan.
Hal ini dimaksudkan untuk membantu para siswa memahami fakta serta data yang
ditemuinya dalam proses belajar mengajarnya, sehingga informasi yang diperolehnya dapat
juga dikomunikasikan dengan mudah kepada orang lain.
Dalam mengembangkan model instruksional DDFK ini, kajian studi observatif dan
eksploratif dilaksanakan secara simultan dan sinambung. Sejumlah 15 siswa, dan 9 orang
guru Kimia, Fisika, dan Biologi, serta 2 guru inti bidang IPA dari tiga SMUN di Kabupaten
Sumedang, yang dipilih secara purposif, melakukan tiga macam percobaan yang berbeda
sesuai dengan inspirasi siswa dari masing-masing kelompok sekolah.
Studi observasi dilaksanakan melalui dua tahap, yaitu observasi pola-pola pengembangan
model instruksional di kelas-kelas pada saat ketiga bidang studi tersebut masing-masing
diajarkan oleh guru/pengajar masing-masing, dan observasi pada saat ketiga kelompok
siswa dan guru melakukan percobaan. Kemudian, data dan informasi yang diperoleh pada
kedua tahap tersebut dikonfirmasikan melalui kegiatan diskusi RFE (Request for Excellent)
dengan para guru dan ketua MKS (Musyawarah Kepala Sekolah) di SMUN 1 Sumedang.
Tahap akhir diskusi RFE untuk penyempurnaan studi dilakukan di UT melalui kegiatan
seminar akademik bersama pembimbing studi dan para dosen pendidikan MIPA.
POLA ARAH MODEL-MODEL INSTRUKSIONAL
Sebagai bahan kajian perbandingan untuk menginferensi kemungkinan dikembangkannya
model DDFK, maka berikut ini disajikan Tabel 1 yang membahas tentang pola dan arah
model instruksional yang selama penelitian ini dilakukan sedang berkembang di Sekolah
Menengah Umum (SMU) sampel di Kabupaten Sumedang. Informasi berikut ini diperoleh
dengan cara observasi langsung ke setiap kelas Kimia, Fisika, dan Biologi di beberapa
sekolah. Kemudian, hasil observasi tersebut dikomunikasikan dan dikonfirmasikan dengan
para guru yang terlibat dalam pengamatan kelas tersebut.
Sepintas saja berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa pola serta arah model instruksional
yang selama ini berkembang perlu mendapatkan pengayoman, terutama dalam hal
kapabilitas model tersebut dalam mengemas materi dan keterampilan proses secara
sekaligus dan utuh. Hal ini menjadi tantangan utama bagaimana model instruksional yang
kemudian harus dipertimbangkan pengembangannya dalam mengantisipasi sisi-sisi
kelemahan tersebut.
Seperti dijelaskan pada sesi awal, bahwa model DDFK dikembangkan dengan misi utama
terwujudnya sosok terdidik yang mandiri dengan target penguasaan konsep/prinsip sains
secara terpadu dan sinergis dengan penguasaan keterampilan proses sains ilmiah.
Pengembangan kemampuan/keterampilan siswa dalam hal perencanaan, pelaksanaan, dan
pemecahan masalah serta kapabilitas komunikasi sangat dipengaruhi oleh sejauhmana siswa
mendapatkan semua kesempatan tersebut selama belajarnya. Oleh karena itu, model DDFK
berupaya memfasilitasi siswa untuk mengenal konsep-konsep dasar manajemen selama
proses pengenalan dan pembelajaran konsep dan prinsip sains selama belajarnya.
Tabel 1. Pola dan arah model-model instruksional yang berkembang
di beberapa sekolah di Kabupaten Sumedang.
No Pola dan Arah Kegiatan Belajar Konsekuensi
Mengajar
1. Pola strategi KBM selalu dilakukan Model instruksional cenderung
secara individu dan monoton (rutin) oleh parsial untuk masing-masing
guru. Tidak pernah dilakukan modifikasi bidang studi:
ke arah pembentukan Team Teaching. Kimia untuk Kimia
Fisika untuk Fisika, dll
Arah model instruksional
cenderung pada pendalaman
materi individual bidang studi.
Kreativitas siswa dan guru untuk
mengaitkan pemahaman konsep ke
pelbagai bidang studi sangat
terbatas.
2. Masih ada anggapan bahwa hanya guru- Banyak potensi-potensi yang ada di
lah yang harus mengajar di dalam kelas. masyarakat tidak dapat dimanfaatkan
dalam rangka memperluas wawasan, baik
siswa maupun guru, tentang konsep utama
yang dijelaskan di dalam kelas.
Contoh:
menghadirkan karyawan kesehatan
di kelas untuk menjelaskan konsep
kehamilan dalam Biologi.
Menghadirkan tenaga sukarela
AMDAL di kelas untuk membantu
memperjelas kasus polusi
lingkungan, dll.
3. Keberadaan wadah/kegiatan yang Kegiatan ini kemudian berkembang lebih
bersifat organisasi seperti MGMP, MKS, kepada pembenahan kualitas administrasi
dan sebagianya. Kurang optimal untuk para guru dan kepala sekolah daripada
pengembangan tujuan pendidikan sains. mutu pengajaran itu sendiri.
4. Kegiatan praktikum cenderung Arah pengembangan kognitif
menggunakan pendekatan verifikatif. siswa maupun guru terbatas pada
Pola kajian eksperimentatif di tingkat observasi dan mungkin
laboratorium dipandang hanya akan interpretasi, dan tidak pada tingkat
menyita waktu dan memperlambat analisis dan evaluasi.
penyampaian konsep lainnya yang harus Pengembangan keterampilan
juga disampaikan dalam rentang waktu proses berpikir kritis dan kreatif
tertentu sesuai dengan ketetapan dalam sangat terbatasi.
GBPP. Kajian masalah terbatas pada
konsep (product oriented).
Kemungkinan untuk menggunakan
lingkungan sebagai media untuk
KBM akan sangat terhambat.
Pendekatan mengajar cenderung
bersifat logaritmis, dan tidak
heuristik.
5. Penggunaan media mengajar, seperti Siswa dan guru tidak terbiasa
grafik, tabel, charts, bacaan kasus, menelaah permasalahan melalui
contoh-contoh kasus, dan sebagainya. media-media tersebut, sementara
Masih sangat jarang dilakukan. informasi yang dikemukakan di
media press sering disediakan
dalam bentuk grafik, tabel, dll.
Pengembangan keterampilan
proses berpikir kritis sangat
terbatasi.
Kreativitas siswa dalam menggali
informasi secara mandiri melalui
media-media seperti tersebut
kurang terbentuk dengan baik.
6. Pola pengembangan dan penyampaian Orientasi/arah pengembangan konsep
konsep sains kepada siswa masih cenderung kepada tersimpannya sejumlah
berorientasi kepada retensi konsep- konsep sains di dalam otak siswa dan
konsep tersebut di dalam format/bentuk sedikit sekali mempertimbangkan
evaluasi di akhir program pengajaran, kebermaknaan dari penguasaan konsep
baik yang diselenggarakan secara lokal tersebut oleh siswa.
maupun nasional.
7. Pola pengembangan materi/ konsep Secara tidak sadar sebenarnya banyak
cenderung dilakukan secara step-by-step konsep yang dikembangkan secara tidak
oleh guru dan siswa. terintegratif ataupun hierarkis satu
terhadap yang lainnya, karena kesempatan
siswa atau guru untuk dapat melakukan
self-reflektive dan self-evaluative selama
KBM tidak optimum.
(sumber: Kusmawan, U. 1998)
Keterampilan Berpikir dalam DDFK
Tabel 2 menunjukkan hasil kajian studi berupa analisis keterampilan berpikir yang dapat
dikembangkan melalui model instruksional DDFK Problem Solving.
Tabel 2. Keterampilan berpikir dalam model DDFK.
Definisikan
. masalah
Desain Solusi Formulasi Hasil Komunikasi Hasil
Identifikas seleksi Menggunak Tetapkan
i masalah masalah an data, metode
Definisika Rencana fakta. komunikas
n masalah metodologi Modifikasi i
Eksplorasi Tetapkan data, fakta Seleksi
pengeta- prosedur & menjadi informasi
huan alokasi informasi Analisis
Meta- Formulasi waktu, Seleksi feed back
pertanyaa alokasi diagram,
Cognition n material chart, tabel,
Identifikasi dll.
nara sumber
Seleksi alat
pengumpul-
an data &
alat evaluasi
Berpikir Berpikir Berpikir Berpikir
induktif induktif induktif induktif
Berpikir Berpikir Berpikir Berpikir
deduktif deduktif deduktif deduktif
Visualisas Visualisasi Visualisasi Visualisasi
i spatial spatial spatial spatial
membaca membaca membaca membaca
Inferensi Inferensi Inferensi Inferensi
alternatif alternatif alternatif alternatif
Performa pemecaha pemecahan pemecahan pemecahan
nce n Seleksi Seleksi Seleksi
Seleksi informasi informasi informasi
informasi Asembling Generali- Manajeme
data, fakta sasi n waktu
Meminimalk Berpikir Komunika
an perbedaan sistematis si
Seleksi
pengetahuan
tambahan
Seleksi dalam Seleksi dalam proses: Seleksi dalam proses: Seleksi dalam
proses: poses:
Knowledg Encoding Memban-
Encoding Memban- dingkan Mengkom-
e
Memban- dingkan Mengkom- binasikan
dingkan Mengkom- binasikan
Acquisitio
Mengkom binasikan
n
-
binasikan
(Sumber: Kusmawan, U., 1998)
Kerangka Kerja Guru dan Siswa Selama DDFK
Kerangka kerja guru selama DDFK adalah sbb:
1. Memfasilitasi minat siswa seluas mungkin
2. Mengembangkan sistem kurikulum terpadu/interdisipliner
3. Meresapkan keterampilan berpikir tinggi ke dalam kurikulum
4. Menumbuhkan jiwa sosialisasi dan organisasi melalui pembentukan group-group
kecil yang mandiri
5. Menanamkan pemahaman akan keterkaitan antara berbagai disiplin ilmu, teknologi,
dan sosial kemasyarakatan dengan memfokuskan perhatian pada masalah-masalah
nyata dan relevan dengan masalah yang ditemuinya.
6. Melibatkan siswa secara aktif selama belajar-mengajarnya.
7. Memberi kredit kepada pertanyaan siswa
8. Memberi kesempatan siswa untuk memilih dan menetapkan berbagai metodologi
penelitiannya selama belajarnya.
9. Memupuk keterampilan seperti proses, sosial, kepemimpinan, tanggung jawab,
pengambilan keputusan, dan komunikasi.
Sementara itu, DDFK ini juga memfasilitasi para siswa untuk memperoleh kesempatan
dalam:
1. Memperoleh pengalaman melalui keterampilan proses sains seperti identifikasi,
seleksi, dan pemecahan masalah nyata secara bermakna dan relevan dengan
masalah-masalah yang ditemuinya.
2. Mempelajari dan memperdalam konsep-konsep dasar dengan bermakna
3. Memanipulasikan informasi yang diperoleh
4. Mengembangkan keterampilan berpikir tinggi
5. Mengembangkan metodologi dengan menggunakan perangkat penelitian
6. Menumbuhkan minat dan kepercayaan diri melalui Problem Solving
7. Mempelajari bagaimana ilmu pengetahuan itu tumbuh dan diciptakan.
8. Bertanggung jawab atas kritikan evaluatif yang dilontarkan kepada lawan bicaranya
(terbuka atas adanya variasi sudut pandang).
9. Mengintegrasikan konsep-konsep matematis, graphing, drawing komputer, bahasa,
seni melalui pendekatan holistis ke dalam kurikulum
10. Mengekspresikan pengalamannya baik secara tulisan maupun lisan.
11. Menggunakan teknologi untuk mengumpulkan data, telaahan literatur, mengkreasi
data base, dan tukar pikiran dan temuan melalui media elektronik.
Peran Guru Selama DDFK
1. Men-Definisi-kan masalah:
Memfasilitasi kemungkinan pilihan area/bidang studi/kajian
Menciptakan iklim yang mendukung
Menciptakan situasi yang dapat memudahkan munculnya pertanyaan
Menciptakan dan mengarahkan kegiatan brainstrorming
Melakukan Record Keeping
Menumbuhkan dan mempertahankan situasi dan kondisi lingkungan yang
dihasilkan atas dasar interest siswa (Non-Judgmental)
Membantu dalam pengelompokan dan penjelasan permasalahan yang
muncul.
Men-Desain Solusi
Menyediakan petunjuk tentang keamanan dan waktu bekerja, dan sumber
yang dapat digunakan.
Mengajukan pertanyaan untuk membantu memperjelas observasi siswa,
membantu memperjelas arah dan logika berpikir siswa.
Menciptakan situasi yang menantang bagi siswa untuk berpikir
Membantu siswa mengaitkan pengalaman yang sedang dikembangkan
dengan ide/pendapat/gagasan siswa tersebut.
Menyediakan daftar ketentuan penggunaan alat dan teknik yang baru
Membantu mengembangkan metode pengumpulan data, pencatatan,
interpretasi, penayangan, dan penggunaan dari teknologi yang masih
dianggap kompleks oleh siswa
Memfasilitasi siswa dalam hal perolehan informasi dan data.
Mem-Formulasi Hasil
Mendiskusikan kemungkinan penetapan audien dan audiensi
Mendefinisikan dan menetapkan informasi yang dipandang sesuai dengan
audiens
Menyediakan ketentuan dalam analisis data dan teknik penayangannya.
Menyediakan ketentuan dalam menyiapkan presentasi
Meng-Komunikasikan Hasil
Menekankan terciptanya situasi yang mendukung
Memfasilitasi kemungkinan terjadinya interaksi antara presenter dengan
audiens
Membantu mengembangkan metode atau cara-cara dalam mengevaluasi hasil
penemuan studi selama presentasi, baik secara lisan maupun tulisan.
KESIMPULAN
Ide tentang model DDFK ini dapat dipandang sebagai alternatif model instruksional yang
dapat memperkaya model-model instruksional yang selama ini sudah berkembang di
sekolah. Hasil studi mengisyaratkan bahwa model DDFK cukup prospektif dalam
mengayomi kelemahan-kelemahan yang dirasakan selama ini. Hal ini dapat diinferensi dari
informasi tentang pola dan arah model-model instruksional yang sedang berkembang
selama ini, dan berdasarkan penjelasan-penjelasan tentang analisis keterampilan berpikir
siswa yang dapat dikembangkan selama DDFK, kerangka kerja guru dan siswa selama
DDFK, serta peran guru selama DDFK.
DAFTAR RUJUKAN
Carr, W, dan Kemmis, S. 1986. Becoming Critical: Education, Knowledge and Action
Research. Geelong Victoria: Deakin University
Dewey, J. 1960. How We Think. Lexington: D.C. Heath and Company
Kemmis, S. et.al. 1990. The Action Research Planner. Australia: Deakin University
Kusmawan, U. 1998. Pengembangan Model Instruksional DDFK Problem Solving di SMU,
Hasil studi. PSI-UT.
Lewin, K. 1946. Action Research and Minority Problems. Journal of Social Studies, 2, p.34-
46.
Muslich, M. 1994. Dasar-dasar Pemahaman Kurikulum 1994. Malang: Penerbit Y A 3.
Pizzini, E.L. 1996. Implementation Handbook for The SSCS Problem Solving Instructional
Model. Iowa: The University of Iowa.
Veal, W.R. 1992. Action Research: Creating A Context for Science Teaching And Learning.
National Science Teachers Association: Issues in Education, 5, p.81-87.
Worsham, A.M. & Stockton, A.J. 1986. A Model for Teaching Thinking Skills. Indiana:
The Phi delta Kappa Educational Foundation, p.7-8.