Embed
Email

Menyoal Pohon Beracun GANIP G

Document Sample

Shared by: Dpklts Indonesia
Categories
Tags
Stats
views:
7
posted:
11/13/2011
language:
pages:
3
Menyoal Pohon Beracun

Oleh: Ganip Gunawan*





Saya baru saja pulang dari sebuah perkampungan Dayak penganut Kaharingan di Kalteng.

Ada sebuah pertanyaan yang cukup menyentak dari seorang sahabat dari tokoh masyarakat

setempat, ketika mengetahui bahwa saya adalah orang Sunda. Pertanyaannya begini;

“Mengapa pohon-pohon di tanah Sunda yang dianggap beracun akan ditebang?”.

“Bukankah orang Sunda paling dikenal memiliki pengetahuan tinggi dan ramah dengan

pohon? “. Dia menanyakan hal itu selepas menonton televisi yang tiba-tiba saja heboh

memberitakan pohon beracun di Kota Bandung.



Saya tergagap dengan pertanyaan itu, kemudian menjawabnya dengan pertanyaan lagi;

“Apakah di kampung sini ada pohon beracun?”. Kelihatannya dia menunggu pertanyaan

saya seperti itu. Lalu menjawabnya; “Semua pohon beracun, hanya sebagian kecil yang

dapat kami makan. Tetapi pohon-pohon beracun tidak kami tebang. Saya salut sama

pengetahuan orang Sunda karena terkenal lebih banyak mengenal dan memakan jenis-jenis

pohon/tanaman sebagai lalapan atau disayur.” Terlihat dia menyunggingkan senyuman,

seperti senyuman kemenangan. Ini adalah sindiran telak dari seorang sahabat baru saya di

Kalteng.



Banyak hal yang berbahaya/beracun

Saya merenungi sindiran sahabat tadi dengan cara mengamati lingkungan sekitar dalam

perjalanan saya pulang. Cobalah tengok, karena hal inipun dapat dengan sangat mudah

dijumpai di lingkungan Anda sendiri. Dan dari situ saya makin menyadari bahwa banyak

hal di lingkungan kita yang berbahaya. Bahkan jauh lebih berbahaya daripada pohon

beracun.



Saya pulang meninggalkan perkampungan Dayak menggunakan perahu, dilanjutkan dengan

kendaraan darat sampai ke Sampit, lalu naik pesawat, naik bis bandara, dan diakhiri dengan

naik kereta listrik untuk sampai tiba di rumah. Seluruh alat transportasi tersebut berbahaya.

Bahaya alat transportasi/lalu lintas tersebut menduduki urutan ketiga sebagai ‘pembunuh’ di

Indonesia. Setiap tahunnya rata-rata merengut 30.000 korban akibat kecelakaan lalu lintas.



Sepanjang perjalanan darat tak putus saya melihat bentangan kabel aliran listrik. Aliran

listrik tersebut sekarang jauh dapat menjangkau tempat-tempat yang dulu dikategorikan

terpencil. Aliran listrik masuk ke rumah-rumah, dimana di dalamnya tinggal anak-anak dan

bayi. Padahal aliran listrik tersebut tidak kalah berbahayanya. Sangat sering kita jumpai

dalam berita sehari-hari dari media tentang kejadian dan jumlah korban akibat listrik, yakni

kebakaran atau korban jiwa akibat sengatannya.



Sampai tiba di rumah saya melihat banyak hal lain lagi yang berbahaya. Mulai dari dapur

seperti gas (LPG) atau minyak tanah, aliran listrik tentu saja, obat anti serangga dan lain-

lain; sampai ke beranda dan pekarangan rumah dimana kita tanam berbagai pohon.



Saya mengingat kembali pelajaran sewaktu saya kuliah di Fakultas Kehutanan IPB. Mata

ajaran itu bernama Dendrologi, yakni ilmu pengenalan jenis-jenis pohon, meliputi tentang:

taxon, morfologi, sifat dan sebarannya. Dari situ saya tahu bahwa sebagian besar

pohon/tanaman tidak bisa dimakan karena berbahaya, bahkan oleh binatang sekalipun.



Anda mungkin tahu ada satu jenis singkong yang sengaja dibudidayakan oleh masyarakat

tetapi singkong itu beracun bahkan babi sekalipun enggan memakannya. Di daerah

Pangandaran jenis singkong itu disebut Sampeu Lambong (Manihot esculenta), memiliki

zat berbahaya karena mengandung sianida.



Dari dahulu kami mengetahui bahwa banyak pohon seperti bintaro, akasia dan juga bunga

mentega adalah berbahaya karena mengandung racun. Dan sesungguhnya jauh lebih

banyak lagi spesies yang berbahaya. Tetapi bahayanya tidaklah sehoror seperti yang

diberitakan baru-baru ini.



Mungkin menurut sudut pandang manusia pohon itu berbahaya. Tetapi dari sudut pohon,

itu adalah sistem alami yang dikembangkan sebagai strategi pertahanannya, dan sama sekali

bukan untuk membahayakan manusia. Pohon dapat mengembangkan pertahanannya

dengan bebagai ragam cara mulai dari evolusi morfologinya (misalnya berduri atau bau)

serta mengembangkan zat-zat beracunnya.



Sekarang coba saja amati seluruh tanaman yang ada di beranda atau di pekarangan rumah

Anda. Coba temukan tanaman/pohon apa yang tidak berbahaya atau tidak mengandung

racun? Dan berapa banyak yang berbahaya? Sebagai panduan untuk melihat tingkat

bahayanya, Anda bisa memeriksa apakah bagian dari tanaman/pohon tersebut dapat

dimakan, apakah getahnya membuat gatal, apakah jika tersenggol dapat menyebabkan luka

atau apakah jika dicium membuat kepala pening. Lalu bagaimana Anda akan bersikap

terhadap seluruh tanaman/pohon yang Anda miliki? Apakah seluruh tanaman yang masuk

dalam kategori bahaya menurut Anda akan ditebas habis?



Berharmoni dengan tanaman/pohon

Sebelum kita bersikap terhadap tanaman/pohon yang berbahaya. Sebaiknya kita lihat

dahulu hal lain yang jauh lebih berbahaya daripada pohon beracun. Yang perlu kita lihat

adalah logikanya. Kalau Anda setuju bahwa alat-alat transportasi, listrik, gas (LPG) dan

obat anti serangga seperti saya singgung di atas adalah berbahaya (atau mengandung

bahaya). Apakah lantas kemudian kita akan melarang penggunaan kendaraan, listrik, gas,

dan obat anti serangga?



Hal seperti itulah yang saya tangkap dari logika sensasi pohon beracun di Bandung, dimana

beberapa pihak merekomendasikan untuk membongkar habis seluruh tanaman yang

mengandung racun. Dinas Tata Kota setempat dan Walikota dibuat sibuk untuk hal yang

sebenarnya tidak perlu. Kendati pada sisi lain patut diapresiasi atas responnya yang cukup

sigap karena berkenaan dengan keselamatan publik.



Sensasi pohon beracun tersebut sekarang telah menular dari Bandung ke kota-kota lainnya,

termasuk Jakarta. Jika pemerintah tidak hati-hati dan bersikap reaktif untuk menebang

seluruh pohon yang beracun atau membahayakan, tentu hal ini akan membikin repot bagi

semua. Bahkan salah-salahnya akan berakibat bencana karena alam (ekosistem) akan

terganggu.

Coba saja kita hantar/ikuti logikanya. Apa yang telah dilakukan oleh beberapa orang

peneliti dari Bandung tentang kandungan racun dan bahayanya jenis tanaman tertentu,

belumlah seberapa. Karena kalau penelitiannya dilanjutkan akan ada ribuan tanaman/pohon

lain lagi yang mengandung bahaya. Dan itu tersebar tidak hanya di ruang-ruang publik di

perkotaan melainkan tersebar di seluruh pelosok tanah air dimana di situ terdapat penduduk

atau pemukiman, yang memiliki hak sama untuk mendapat perlindungan pemerintah atas

keselamatan dari bahaya tanaman/pohon berbahaya/beracun.



Jika demikian maka akan ada jutaan kubik biomas yang akan hilang, ribuan spesies akan

terancam punah, dan sudah pasti akan berakibat pada keseimbangan ekosistem secara

keseluruhan. Belum lagi dari sisi perekonomian, akan banyak nilai ekonomi yang hilang

dari keberadaan tanaman/pohon beracun. Karena sebagian dari tanaman/pohon itu

sebaliknya justru memberi manfaat lain seperti untuk obat, kosmetik, bahan baku industri

dan lain-lain. Pada sisi lainnya lagi anggaran baru akan tersedot untuk proyek nasional

pembongkaran tanaman/pohon beracun.



Sudah cukup, tak perlu dihantar/diikuti lagi logikanya. Karena logikanya itu tidak masuk

akal. Melawan alam. Seorang sahabat lain di Bogor bergurau, katanya mungkin akan lain

persoalan jika yang perlu dibongkar itu adalah tanaman atau buah pohon impor yang

‘bahayanya’ sangat nyata bagi perekonomian dan ekosistem lokal, dan digantikan dengan

jenis-jenis tanaman lokal yang telah melalui proses pemuliaan tanaman.



Apa yang perlu kita lakukan agar dapat berharmoni dengan tanaman/pohon? Jawabanya

sederhana. Penelitian boleh terus dilakukan, dan itu penting. Hasilnya dipaparkan atau

direkomendasikan secara lebih edukatif (bukannya secara horor), serta direspon oleh

pemerintah secara arif dan bijak.



Jika yang dikhawatirkan bahwa yang menjadi sasaran dari akibat negatif pohon berbahaya

itu adalah anak-anak, maka membuat modul-modul ajaran tentang pohon jauh lebih mudah,

lebih murah dan lebih mendidik bagi anak-anak sekolah. Dengan cara itu apresiasi anak-

anak terhadap pohon dan lingkungan hidupnya akan tumbuh. Mereka kita didik untuk

kreatif dan alternatif jika melihat lingkungan di sekitarnya berbahaya. Bukannya dengan

cara instan dibongkar lingkungannya itu, seperti diperagakan dari wacana atau sensasi

pohon beracun saat ini.



Memasang papan-papan himbauan yang kreatif di ruang terbuka atau taman-taman publik

juga jauh lebih murah, aman dan sederhana ketimbang membongkar seluruh tanaman yang

ada serta menggantinya dengan tanaman baru yang kita juga belum tahu atau tidak ada

jaminan bebas dari bahaya atau mengandung racun.



Sementara itu, penelitian dan dokumentasi atau statistik tentang kecelakaan akibat pohon

bebahaya perlu terus direkam atau dipantau. Sehingga kita juga dapat menentukan tindakan

kreatif/alternatif berikutnya jika dari situ terbukti bahaya pohon beracun itu berada pada

tingkat yang mengkhawatirkan, misalnya karena banyak korban berjatuhan.***



*) Anggota Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), tinggal

di Bogor.


Related docs
Other docs by Dpklts Indones...
Kaji ULang P'Citanduy _ITB_
Views: 8  |  Downloads: 0
ke BKSDA ttg gn sawal 2003
Views: 5  |  Downloads: 0
Notulensi Ulasan Akhir Tahun 2002
Views: 29  |  Downloads: 0
SGP ke Wagub ttg Jatigede
Views: 0  |  Downloads: 0
The Trouble Shooter
Views: 22  |  Downloads: 2
sobirin manajemen bencana PR
Views: 8  |  Downloads: 0
sobirin Kawasan Lindung Jawa Barat 45_
Views: 7  |  Downloads: 0
sobirin mitos hutan dan air
Views: 32  |  Downloads: 0
Press Release Sugih Mukti 2003
Views: 0  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!