Menyoal Pohon Beracun
Oleh: Ganip Gunawan*
Saya baru saja pulang dari sebuah perkampungan Dayak penganut Kaharingan di Kalteng.
Ada sebuah pertanyaan yang cukup menyentak dari seorang sahabat dari tokoh masyarakat
setempat, ketika mengetahui bahwa saya adalah orang Sunda. Pertanyaannya begini;
“Mengapa pohon-pohon di tanah Sunda yang dianggap beracun akan ditebang?”.
“Bukankah orang Sunda paling dikenal memiliki pengetahuan tinggi dan ramah dengan
pohon? “. Dia menanyakan hal itu selepas menonton televisi yang tiba-tiba saja heboh
memberitakan pohon beracun di Kota Bandung.
Saya tergagap dengan pertanyaan itu, kemudian menjawabnya dengan pertanyaan lagi;
“Apakah di kampung sini ada pohon beracun?”. Kelihatannya dia menunggu pertanyaan
saya seperti itu. Lalu menjawabnya; “Semua pohon beracun, hanya sebagian kecil yang
dapat kami makan. Tetapi pohon-pohon beracun tidak kami tebang. Saya salut sama
pengetahuan orang Sunda karena terkenal lebih banyak mengenal dan memakan jenis-jenis
pohon/tanaman sebagai lalapan atau disayur.” Terlihat dia menyunggingkan senyuman,
seperti senyuman kemenangan. Ini adalah sindiran telak dari seorang sahabat baru saya di
Kalteng.
Banyak hal yang berbahaya/beracun
Saya merenungi sindiran sahabat tadi dengan cara mengamati lingkungan sekitar dalam
perjalanan saya pulang. Cobalah tengok, karena hal inipun dapat dengan sangat mudah
dijumpai di lingkungan Anda sendiri. Dan dari situ saya makin menyadari bahwa banyak
hal di lingkungan kita yang berbahaya. Bahkan jauh lebih berbahaya daripada pohon
beracun.
Saya pulang meninggalkan perkampungan Dayak menggunakan perahu, dilanjutkan dengan
kendaraan darat sampai ke Sampit, lalu naik pesawat, naik bis bandara, dan diakhiri dengan
naik kereta listrik untuk sampai tiba di rumah. Seluruh alat transportasi tersebut berbahaya.
Bahaya alat transportasi/lalu lintas tersebut menduduki urutan ketiga sebagai ‘pembunuh’ di
Indonesia. Setiap tahunnya rata-rata merengut 30.000 korban akibat kecelakaan lalu lintas.
Sepanjang perjalanan darat tak putus saya melihat bentangan kabel aliran listrik. Aliran
listrik tersebut sekarang jauh dapat menjangkau tempat-tempat yang dulu dikategorikan
terpencil. Aliran listrik masuk ke rumah-rumah, dimana di dalamnya tinggal anak-anak dan
bayi. Padahal aliran listrik tersebut tidak kalah berbahayanya. Sangat sering kita jumpai
dalam berita sehari-hari dari media tentang kejadian dan jumlah korban akibat listrik, yakni
kebakaran atau korban jiwa akibat sengatannya.
Sampai tiba di rumah saya melihat banyak hal lain lagi yang berbahaya. Mulai dari dapur
seperti gas (LPG) atau minyak tanah, aliran listrik tentu saja, obat anti serangga dan lain-
lain; sampai ke beranda dan pekarangan rumah dimana kita tanam berbagai pohon.
Saya mengingat kembali pelajaran sewaktu saya kuliah di Fakultas Kehutanan IPB. Mata
ajaran itu bernama Dendrologi, yakni ilmu pengenalan jenis-jenis pohon, meliputi tentang:
taxon, morfologi, sifat dan sebarannya. Dari situ saya tahu bahwa sebagian besar
pohon/tanaman tidak bisa dimakan karena berbahaya, bahkan oleh binatang sekalipun.
Anda mungkin tahu ada satu jenis singkong yang sengaja dibudidayakan oleh masyarakat
tetapi singkong itu beracun bahkan babi sekalipun enggan memakannya. Di daerah
Pangandaran jenis singkong itu disebut Sampeu Lambong (Manihot esculenta), memiliki
zat berbahaya karena mengandung sianida.
Dari dahulu kami mengetahui bahwa banyak pohon seperti bintaro, akasia dan juga bunga
mentega adalah berbahaya karena mengandung racun. Dan sesungguhnya jauh lebih
banyak lagi spesies yang berbahaya. Tetapi bahayanya tidaklah sehoror seperti yang
diberitakan baru-baru ini.
Mungkin menurut sudut pandang manusia pohon itu berbahaya. Tetapi dari sudut pohon,
itu adalah sistem alami yang dikembangkan sebagai strategi pertahanannya, dan sama sekali
bukan untuk membahayakan manusia. Pohon dapat mengembangkan pertahanannya
dengan bebagai ragam cara mulai dari evolusi morfologinya (misalnya berduri atau bau)
serta mengembangkan zat-zat beracunnya.
Sekarang coba saja amati seluruh tanaman yang ada di beranda atau di pekarangan rumah
Anda. Coba temukan tanaman/pohon apa yang tidak berbahaya atau tidak mengandung
racun? Dan berapa banyak yang berbahaya? Sebagai panduan untuk melihat tingkat
bahayanya, Anda bisa memeriksa apakah bagian dari tanaman/pohon tersebut dapat
dimakan, apakah getahnya membuat gatal, apakah jika tersenggol dapat menyebabkan luka
atau apakah jika dicium membuat kepala pening. Lalu bagaimana Anda akan bersikap
terhadap seluruh tanaman/pohon yang Anda miliki? Apakah seluruh tanaman yang masuk
dalam kategori bahaya menurut Anda akan ditebas habis?
Berharmoni dengan tanaman/pohon
Sebelum kita bersikap terhadap tanaman/pohon yang berbahaya. Sebaiknya kita lihat
dahulu hal lain yang jauh lebih berbahaya daripada pohon beracun. Yang perlu kita lihat
adalah logikanya. Kalau Anda setuju bahwa alat-alat transportasi, listrik, gas (LPG) dan
obat anti serangga seperti saya singgung di atas adalah berbahaya (atau mengandung
bahaya). Apakah lantas kemudian kita akan melarang penggunaan kendaraan, listrik, gas,
dan obat anti serangga?
Hal seperti itulah yang saya tangkap dari logika sensasi pohon beracun di Bandung, dimana
beberapa pihak merekomendasikan untuk membongkar habis seluruh tanaman yang
mengandung racun. Dinas Tata Kota setempat dan Walikota dibuat sibuk untuk hal yang
sebenarnya tidak perlu. Kendati pada sisi lain patut diapresiasi atas responnya yang cukup
sigap karena berkenaan dengan keselamatan publik.
Sensasi pohon beracun tersebut sekarang telah menular dari Bandung ke kota-kota lainnya,
termasuk Jakarta. Jika pemerintah tidak hati-hati dan bersikap reaktif untuk menebang
seluruh pohon yang beracun atau membahayakan, tentu hal ini akan membikin repot bagi
semua. Bahkan salah-salahnya akan berakibat bencana karena alam (ekosistem) akan
terganggu.
Coba saja kita hantar/ikuti logikanya. Apa yang telah dilakukan oleh beberapa orang
peneliti dari Bandung tentang kandungan racun dan bahayanya jenis tanaman tertentu,
belumlah seberapa. Karena kalau penelitiannya dilanjutkan akan ada ribuan tanaman/pohon
lain lagi yang mengandung bahaya. Dan itu tersebar tidak hanya di ruang-ruang publik di
perkotaan melainkan tersebar di seluruh pelosok tanah air dimana di situ terdapat penduduk
atau pemukiman, yang memiliki hak sama untuk mendapat perlindungan pemerintah atas
keselamatan dari bahaya tanaman/pohon berbahaya/beracun.
Jika demikian maka akan ada jutaan kubik biomas yang akan hilang, ribuan spesies akan
terancam punah, dan sudah pasti akan berakibat pada keseimbangan ekosistem secara
keseluruhan. Belum lagi dari sisi perekonomian, akan banyak nilai ekonomi yang hilang
dari keberadaan tanaman/pohon beracun. Karena sebagian dari tanaman/pohon itu
sebaliknya justru memberi manfaat lain seperti untuk obat, kosmetik, bahan baku industri
dan lain-lain. Pada sisi lainnya lagi anggaran baru akan tersedot untuk proyek nasional
pembongkaran tanaman/pohon beracun.
Sudah cukup, tak perlu dihantar/diikuti lagi logikanya. Karena logikanya itu tidak masuk
akal. Melawan alam. Seorang sahabat lain di Bogor bergurau, katanya mungkin akan lain
persoalan jika yang perlu dibongkar itu adalah tanaman atau buah pohon impor yang
‘bahayanya’ sangat nyata bagi perekonomian dan ekosistem lokal, dan digantikan dengan
jenis-jenis tanaman lokal yang telah melalui proses pemuliaan tanaman.
Apa yang perlu kita lakukan agar dapat berharmoni dengan tanaman/pohon? Jawabanya
sederhana. Penelitian boleh terus dilakukan, dan itu penting. Hasilnya dipaparkan atau
direkomendasikan secara lebih edukatif (bukannya secara horor), serta direspon oleh
pemerintah secara arif dan bijak.
Jika yang dikhawatirkan bahwa yang menjadi sasaran dari akibat negatif pohon berbahaya
itu adalah anak-anak, maka membuat modul-modul ajaran tentang pohon jauh lebih mudah,
lebih murah dan lebih mendidik bagi anak-anak sekolah. Dengan cara itu apresiasi anak-
anak terhadap pohon dan lingkungan hidupnya akan tumbuh. Mereka kita didik untuk
kreatif dan alternatif jika melihat lingkungan di sekitarnya berbahaya. Bukannya dengan
cara instan dibongkar lingkungannya itu, seperti diperagakan dari wacana atau sensasi
pohon beracun saat ini.
Memasang papan-papan himbauan yang kreatif di ruang terbuka atau taman-taman publik
juga jauh lebih murah, aman dan sederhana ketimbang membongkar seluruh tanaman yang
ada serta menggantinya dengan tanaman baru yang kita juga belum tahu atau tidak ada
jaminan bebas dari bahaya atau mengandung racun.
Sementara itu, penelitian dan dokumentasi atau statistik tentang kecelakaan akibat pohon
bebahaya perlu terus direkam atau dipantau. Sehingga kita juga dapat menentukan tindakan
kreatif/alternatif berikutnya jika dari situ terbukti bahaya pohon beracun itu berada pada
tingkat yang mengkhawatirkan, misalnya karena banyak korban berjatuhan.***
*) Anggota Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS), tinggal
di Bogor.