Embed
Email

Penafikan dampak lingkungan ke perairan Teluk Nusawere dan Pangandaran_revisi terbaru_

Document Sample

Shared by: Dpklts Indonesia
Categories
Tags
Stats
views:
2
posted:
11/13/2011
language:
pages:
6
Penafikan Bencana Dampak Lingkungan di Perairan Teluk NusaWere dan

Pangandaran



Oleh :

Prof. Sugandar Sumawiganda, Ir., M.Sc., Ph.D.

DPKLTS dan CBDI







Pendahuluan



Tampaknya masyarakat telah dibuat bodoh dengan analisis estorik yang dihasilkan

para pakar yang pikirannya rabun dekat pada issue dampak Lingkungan Perairan

Pangandaran. Coba bayangkan dengan akal sederhana saja, 6 juta ton sediment

apung (suspension sediment) dan sediment kasar (pasir) akan dimuntahkan di teluk

Nusa Were oleh sodetan Citanduy. Teluk ini kapasitasnya kecil, tidak lebih besar

dari 4 km persegi dengan kedalaman rata-rata 2-4 m. Taruhlah 4 m, maka

kapasitasnya hanya 160.000 m kubik, atau sekitar 288.000 ton padahal beban

sedimen total adalah 6 juta ton pertahun. Jadi dalam waktu satu tahun saja teluk ini

akan hilang oleh endapan pasir dan lumpur menjadi lahan basah berlumpur sejauh

mata memandang di seluruh teluk NusaWere. Sedimen apung yang kandungannya

lebih unggul ketimbang sediment pasir dan lebih ringan akan mengendap lambat

dalam lingkungan air jeda seperti misalnya di laguna. Dalam lingkungan air payau

atau asin ia akan mengendap lebih cepat, karena muatan listrik negatif tanah liat

akan menangkap ion-ion metal positif yang kaya dikandung oleh air laut.

Penggabungan padatan liat yang permukannya bermauatan negative oleh ion-ion

positif membuat butiran liat netral, dan mudah menggumpal bila bersentuhan

dengan sesamanya. Penggumpalan akan meningkatkan berat gumpalan padatan

liat yang mengakibatlan pengendapan yang lebih cepat. Itulah yang terjadi di

Laguna Segara Anakan, dan itulah yang dinantikan akan terjadi di teluk NusaWere.

Tentu saja kekeruhan air laut akan mengancam kelestarian habitat di NusaWere,

termasuk habitat terumbu karang. Bencana ecosystem pantai dan perairan di Teluk

NusaWere menjadi suatu keniscayaan.

Tetapi skenario pencemaran pantai tidak berhenti di NusaWere. Manakala

sedimen dimuntahkan arus laut yang diimbuh (induced) oleh ombak di musim timur

di mana angin bertiup kencang dari benua Australia, maka refraksi dan defraksi

ombak oleh kehadiran Tanjung NusaWere akan menggusur air yang keruh oleh

sedimen apung ini ke arah Barat menuju pantai Pangandaran. Memang akan terjadi

suatu pertukaran massa air (water mass exchange) antara massa air yang

dimuntahkan sungai Citanduy dengan massa air samudera Indonesia yang rumit

yang hanya dapat disimulasikan dengan model komputer yang rumit. Model ini

diperlukan bila ilmuwan ingin menguji secara kuantitatif perubahan hidrodinamika

pantai dan teluk NusaWere dan Pangandaran oleh sodetan Citanduy. Meskipun

teknologi ini rumit tetapi bukan hal yang tak dapat dilakukan untuk meyakinkan

public bahwa suatu scenario melalui model yang piawai telah dilajukan secara

kuantitatif dan meyakinkan. Sepantasnya BPPT, LIPI dan KLH mengambil inisiatif ke







1

arah ini. Tetapi bila kebijaksanaan ini diambil, jangan mengambil konsultan-

konsultan asing, kerjakan oleh keahlian dan kepakaran dalam negeri yang

sebetulnya cukup akhli dalam bidang ini!.

Pemodelan ini perlu tetapi belum cukup. Kita dapat menafsirkan perilaku

dispersi dari sediment apung dari photo-photo satelit. Dapat disimak dari photo

satelit, bahwa dispersi sedimen apung melebar sampai 4-5 km, ke-rah selatan dari

mulut laguna dan pada jarak sekitar 10 km dari pantai sudah melemah

konsentrasinya dan melebur dengan massa air lautan Hindia. Penafsiran photo ini

harus sangat hati-hati, pertama tanggal, jam dan menit pengamatan yang harus

dikaitkan dengan debit banjir, arus pasang surut, angin dan ombak saat itu.

Tampaknya potret satelit saat waktu itu bersamaan dengan saat surut, di mana

kecepatan surut cukup kencang (9 m/detik) dan dengan kekencangan aliran

semacam itu mengakibatkan disperse aksial cukup bermakna dibandingkan dengan

dispersi sediment dalam arah melintang. Maka diperlukan urutan rekaman bukan

sesaat tetapi paling tidak 24 jam!. Karena itu pernyataan team Konsultan

ADB/SACDP diragukan kesahihannya. Cara lain adalah menempatkan beberapa

stasion pengukur kecepatan yang berbasis pada teknologi LDA (Laser Doppler

Anemometer), dan alat pengukur penetrasi cahaya di sekitar Tanjung NusaWere.

Dengan pengukuran ini akan dibuktikan bahwa arus yang dibangkitkan ombak dapat

sangat bermakna (significant) seperti dengan mudah dapat diramalkan melalui

model matematika refraksi dan defraksi ombak yang menerpa Tanjung NusaWere.

Kita telah menguraikan analis kualitatif yang cukup professional berbasis

pada ilmu yang terdepan, silahkan simak dan sanggah secara objektif dan terbuka

dalam forum profesional maupun popular.



Skenario Pantai dan Teluk Nusawere dan Pangandaran

NusaWere sekarang sudah merupakan tanjung sehingga menutup sedimen

yang dimuntahkan oleh sungai Citanduy masuk ke Teluk Pangandaran. Inilah

pengaruh proses pembentukan tombolo yang dibangkitkan oleh arus-arus

hidrodinamik ombak yang menerpa “pulau” NusaWere. Setelah “leher” NusaWere

terbentuk, maka sediment dasar (pasir) yang berasal dari sungai Citanduy,

terhalang tetapi pada waktu banjir arus sungai yang bertepatan dengan surut laut,

maka arus ini cukup kuat sehingga sediment pasir dapat sampai di ujung tanjung

NusaWere. Bila telah sampai diujung maka arus yang diimbuh ombak membelokan

pasir ke Teluk NusaWere. Menurut DR. IR. Cahyono dari PAU-Hidrodunamika ITB,

pasir endapan muda berasal dari proses ini yang berlangsung terus, dengan laju 5

m/tahun. Pembuktian “hipotesis” sangat mudah dan murah yaitu dengan teknik

perunutan radioisotope yang bukan hal yang baru bagi BATAN (Badan Tenaga

Atom Nasional-LIPI). Bila pasir sekarang sewaktu-waktu dapat masuk (tidak setiap

waktu) ke teluk Pangandaran, apa yang terjadi dengan sedimen apung saat ini?

Sedimen apung yang ringan meskipun telah membentuk gumpalan oleh kiprah

elektro-kimiawi air laut, ia akan dengan mudah digusur kembali melaui selat Nusa

Kambangan ke Sagara Anakan, sebelum sempat ikut dengan arus ombak (memang

sebagian ada juga tetapi jumlahnya sangat marjinal). Photo-photo satelit

membuktikan ini.









2

Bagaimana dengan hipotesis para akhli ADB yang menyatakan bahwa

endapan pasir dan apungan akan masuk di palung samudera Indonesia? Pendapat

ini sangat diragukan kebenaran ilmiahnya. Pertama memang tenaga arus (stream

power) dari banjir Citanduy sangat bermakna. Pada saat surut energi aliran

diperkirakan sekitar paling sedikit 2 juta Joule/detik atau sekitar 2 MW. Tetapi

pertama-tama kepadatan energi menurun oleh bentuk muara yang lebarnya 200 m,

sehingga kerapatan energi menjadi 10 KW/m lebar muara. Energi ini dipancarkan ke

massa air yang sangat-sangat besar. Bila air laut dianggap jeda simulasi aliran akan

memberikan berapa jauh “awan sediment apung” akan sampai ke laut dan berapa

jauh dispersi oleh kiprah difusi akan terjadi. Awan ini disebut “plume” dalam istilah

teknis. Bila banjir bertepatan dengan surut laut maka awan ini akan bergerak lebih

jauh lagi, tetapi proses pencampuran galau (turbulence mixing) difusi dan konveksi

akan mendispersikan apungan sehingga tidak lagi tampak. Tampilan photo satelit

yang tersedia diperkirakan terjadi pada waktu surut memperlihatkan plume sampai

pada jarak 10 km dari pantai, dan melebar sampai 5 km kesamping. Sayang tidak

ada photo satelit yang berikutnya di mana kita dapat merunut proses gerakan awan

(plume) ini dalam kondisi musim timur dan laut pasang. Dalam kondisi ini kita dapat

memastikan bahwa awan akan membelok kearah iobarat ke perairan Pangandaran.

Meskipun tidak begitu jelas, photo satelit menampilkan awan tipis yang berasal dari

muntahan sungai Citanduy sampai ke tombolo Pangandaran. Bila diukur konsentrasi

sediment apung ini boleh jadi kurang dari 50 mg/liter, sehingga tidak mengganggu.

Karena itulah Pangandaran tetap aman dalam keadaan sekarang. Tetapi tidak untuk

SA (Segara Anakan). Pada waktu pasang energi pasang akan membangkitkan

kecepatan aliran pasang di pantai untuk kedalaman 10 m sebesar gh di mana h

kedalam air dari duduk tengah muka air laut, atau sekitar 9,9 m/detik arus surut.

Arus pasang akan lebih kecil karena melawan arus banjir sungai Citanduy, tetapi

tetap lebih besar, sehingga pada waktu banjirpun, aliran berbalik arah kearah hulu

masuk di laguna SA dan S. Citanduy. Ini menyirat arus pasir dan sediment apung

berbalik arah masuk di laguna.

Skenario akan berubah sama sekali bila sungai Citanduy bermuara di

NusaWere. Sejarah pengendapan pelumpuran, pengotoran laut yang biru yang

terjadi di laguna akan terjadi pula di teluk NusaWere dan Pangandaran. Cermati

luas teluk NusaWere/Pangandaran hanya sekitar 60-70% dari luas laguna Sagara

Anakan tahun 60-an. Berapa lamakah pengotoran ini akan sampai di Pangandaran?

Mahasiswa pasca sarjana akan tahu bahwa kecepatan arus yang diimbuh ombak

yang disebut arus ombak-pantai (longshore wave current) adalah suatu gerak

berkala yang berpadanan dengan terpaan ombak. Teknologi pengukuran sudah

sangat maju untuk mengukur arus ini, tetapi dengan cara simulasi model energi

ombak dapat dihitung bahwa kecepatan maksimumnya sekitar 0,70 cm/detik,

sedang kecapatan maksimum arus pasir yang berasal dari sodetan Citanduy

sebesar 90 cm-kubik/detik.cm atau 1 liter/detik.m atau 60 m-kubik/hari.m. Suatu

sabuk yang aktif mengalirkan angkutan pasir ini terletak sedikit kea rah darat dari

garis ombak pecah. Jarak antara Tanjung Pangandaran dengan Tanjung NusaWere

sekitar 20 km, maka pasir Citanduy akan sampai ke Pangandaran dalam waktu

sekitar 66 hari. Demikian pula sediment apung dalam waktu sekitar 66 hari akan

sampai di Pangandaran. Tentu saja karena pengaruh disperse, mula-mula





3

kekeruhan ini tidak terlalu mengganggu, tetapi dalam waktu satu tahun kekeruhan

akan terasa. Konsentari kekeruhan akan bernilai sekitar 0.03 kg/m-kubik padatan

atau sekitar 30 gram/1000 liter atau 0.03 mg/liter dalam tahun pertama. Tetapi

kekeruhan akan terus meningkat sampai mencapai sekitar lebih dari 500 mg/liter,

setara dengan kekeruhan pantai utara pulau Jawa!. Dan hal ini suatu keniscayaan.

Ada teori yang mengatakan bahwa karena pertukaran massa air antara perairan

pantai dan lautan, maka Lumpur yang mengapung akan tersedot ke lautan

Indonesia. Pendapat ini tidak didukung oleh teori hidrodinamika pantai, dan tidak

perlu berteori, lihat saja pantai Utara P. Jawa di mana pantai berlumpur bukan

berkurang tetapi terus bertambah jauh ke arah laut Jawa.



Jalan keluar: Alternatif Pemecahan

Jalan keluar yang anggun dan visioner menjangkau jauh masa depan

ketahanan bangsa adalah penemuan kembali praktek pertanian di daerah

pegunungan dan perbukitan (reinventing the upland agriculture). Analisis

membuktikan bahwa sediment apung yang membangkitakan pendangkalan di

Laguna Sagara Anakan dan bukan sediment dasar-pasir. Karena itu sumber dari

sedimen apung harus dicegah di hulu di daerah tangkapan sungai Citanduy (6 juta

ton/tahun total) dan sungai-sungai yang berumuara di Laguna Sagara Anakan di

Provinsi Jawa Tengah (1 juta ton/tahun total). Sekarang ini dari segi penggarapan

lahan, budidaya pertanian di daerah hulu sangat tidak efisien sehingga

menimbulkan kerusakan bunga tanah (yang mengandung mineral dan njasad renik),

membangkitkan erosi tanah dan memproduksi sedimen apung (washload) yang

dibawa aliran limpasan ke sungai. Salah satu praktek budidaya yang menimbulkan

aliran limpasan yang besar adalah budidaya kentang. Petani menanam kentang di

lereng-lereng dengan alur air hujan yang dibangun searah dengan lereng.

Tujuannya agar air hujan cepat keluar dari gundukan tanah di mana kentang

ditanam agar tidak terjadi pembusukan oleh kelengasan tanah yang berlebihan.

Petani kentang sangat takut kelebihan kelengasan air dan rasanya sulit untuk

membujuk agar digunakan alur yang agak melintang arah lereng, sehingga tidak

terjadi limpasan yang besar dan “wash load” yang tinggi. Karena itu perlu teknologi

pencegatan aliran limpasan dan erosi dengan membangun saluran pencegat

horizontal di mana seluruh limpasan diserap kedalam tanah dan mengisi kembali air

tanah, dan menangkap sediment apung. Tentu saja alur ini harus dipelihara.



Ada lima tindakan yang paling mendasar untuk menciptakan “zero washload”:

1. Melindungi perlepasan butir tanah oleh hantaman butir air hujan.

Perlindungan ini mudah sekali dengan memanfaatkan sampah yang

dirajang atau tidak dan dipasang diatas lahan pertanian yang siap

tanam. Atau menggunakan plastic seperti banyak dilakukan petani

tomat dan cabai. Di Eropa dan Amerika praktek ini dilakukan juga

untuk mencegah pengeringan lahan dan menjaga kelembaban

(mulching).

2. Membuat tanah pertanian gembur dengan cara cukup mengandung

bahan organic sehingga struktur berongga-rongga (poreus). Tanah









4

seperti ini dapat menyerap air hujan tanpa membangkitkan aliran

limpasan permukaan (aliran Horton).

3. Permukaan tanah dimodifikasi dengan pekerjaan pemindahan tanah

minimum, sehingga membentuk undak-undak menuruti contour

permukaan lahan dengan alur tempat menyimpan air hujan pada tepi

gawir. Dengan cara ini tidak setitikpun air limpasan terbentuk. Semua

air hujan masuk ke tanah dan memperkaya aur tanah yang akhirnya

keluar sebagai mata air atau merembes dari keliling alur sungai di

pegunungan.

4. Menanam pada tepi-tepi lahan pertanian di pegunungan yang

menahan butiran tanah yang terbawa air hujan. Ini sebagai

pertahanan lini kedua dari tindakan 4, dan akan sangat efektif pada

awal “zero-washload-program” dari daerah pertanian.

5. Di daerah dataran banjir dengan budidaya sawah, pada waktu

pengolahan lahan di mana lahan diaduk-aduk sehingga air menjadi

bsangat keruh, maka air tidak boleh keluar dari sawah dan masuk di

jaringan pembuang.



Semua butir-butir di atas sangat penting dan dipastikan seperti pisau bermata

dua, yaitu pertama mengurangi volume banjir—bahkan banjir dapat dihilangkan--

kedua menambah cadangan dan kemantapan air tanah di satuan wilayah sungai,

dan ketiga air sungai jernih tidak lagi membawa padatan tanah liat (wash load).

Alternatif ini menyelesaikan masalah di bagian hilir daerah tangkapan secara secara

komprihensif dan all out, dan sekaligus menolong kemiskinan masyarakat pertanian

di pegunungan, tanpa mengutak-atik fitrah sungai Citanduy.

Sekarang dihembuskan mitos bahwa kegagalan pemerintah (yang notabene

didukung biaya dari Bank Dunia) dari tahun 70-an sampai tahun 90-an untuk

program ini disebabkan karena masyarakat yang tidak kooperatif. Tidak ada bukti

tentang ini, dan tidak ada akuntabilitas publik kemana larinya uang-uang pinjaman

yang diperuntukan untuk melaksanakan program ini, khususnya di kawasan hulu

sungai Citanduy. Perhitungan oleh team ahli ADB/SACDP menyatakan bahwa

perbaikan pertanian di hulu sungai lebih mahal tidak saja bias, tetapi juga mereka

tidak mengerti keadaan di lapangan yang merupakan kunci semua proyek publik.

Dapat diramalkan bahwa bila tindakan pengamanan hulu dilakukan sehingga

terjadi “zero washload”, maka kondisi ecosystem hidro-bio-fisik laguna Sagara

Anakan akan pulih seperti tahun 50-an. Dan laguna payau yang asli seperti tahun

50-an – bukan laguna dengan ecosystem laut seperti yang akan terjadi bila bekalan

air tawar dari S. Citanduy dihilangkan – akan terjadi dan mantap. Dan angkutan

sungai melaui Majingklak ke Sidanegara tetap terpelihara. Ramalan konsultan

ADB/SACDP tentang kembalinya ecosystem laguna seperti tahun 50-an tampaknya

bertentangan dengan akal sehat.

Alternatif kedua adalah yang dalam rekayasa disebut “colmatage”, yaitu

mengendapkan sedimen apung (wash load) di rawa-rawa lahan basah secara alami.

Dengan cara ini kita menuhurkan rawa Lakbok yang luas menjadi daerah

permukiman baru dan daerah pertanian. Praktek ini telah digunakan oleh

pemerintah colonial Belanda di Tulung Agung Kediri, sebelum terpwongan banjir







5

yang mengalirkan banjir sungai Brantas ke samudra Indonesia. Alternatif kedua

sebenarnya merupakan penyelesaian yang anggun, sayangnya dengan

membangun tanggul Citanduy rawa Lakbok sekarang tidak lagi dapat mensaranai

program “colmatage”.

Dengan demikian yang tersisa adalah menggunakan eco-rekayasa untuk

memanfaatkan setiap cekungan menjadi resapan tanah, dan modifikasi setiap lahan

kritis yang menjadi sumber erosi, sehingga tercapai zero washload.





Akuntabilitas Publik

Siapakah yang paling bertanggung jawab, bila penafikan yang begitu jelas tentang

dampak bencana lingkungan Pangandaran yang telah begitu saja diabaikan dan

disentuh dengan cara yang tidak professional oleh para konsultan ahkli

ADB/SACDP terjadi menurut skenario DPKTLS dan CBDI? Yang paling

bertanggung jawab adalah pemerintah yang memberikan restu, termasuk

perangkat-perangkat yang seharusnya secara proaktif menguji proyek-proyek publik

yang berdampak jangka panjang seperti BAPPENAS, KLH, pusat-pusat penelitian

seperti LIPI dan BPPT. Apakah instansi-instansi ini telah secara teliti membaca

seluruh laporan konsultan ADB sebanyak 7 jilid secara kritis? Kemudian juga ikut

bertanggung jawab adalah DPR, DPRD Jawa Barat dan terutama eksekutif dan

DPRD Kabupaten Ciamis. Kemudian juga Team Kaji Ulang yang tidak teliti melihat

dampak lingkungan kepada Kabupaten Ciamis dan Pangandaran. Akhirnya ikut

bertanggung jawab secara moral adalah para cendekiawan yang dalam bidang

kelautan dan lingkungan yang tidak ingin terlibat.





Epilogue

Bila anda terbang di atas pantai Utara Jawa Barat, maka awan lumpur membentang

sejajar pantai seperti sabuk kecoklatan sekitar 2 sampai 5 km kearah laut. Secara

umum pantai utara maju kearah utara oleh sediment yang dimuntahkan sungai-

sungai. Tidak sepotong pantaipun bebas dari endapan Lumpur ini. Tetapi bila anda

terbang di pantai selatan sabuk awan Lumpur ini tipis bahkan seringkali tidak

kelihatan. Pertanyaannya mengapa demikian? Pertama sungai-sungai yang

mengalir ke selatan kecuali sungai Citanduy dan sungai Serayu adalah sungai-

sungai kecil sehingga angkutan sedimennya juga kecil. Tetapi pengaruh yang paling

penting adalah pengaruh dispersif oleh ombak yang kuat. Berbeda dengan sungai

Citanduy, daerah hulu Kali Serayu tidak separah daerah hulu sungai Citanduy,

sehingga angkutan sediment apungannya juga nisbi kecil dibandingkan dengan

sungai Citanduy. Tetapi yang paling menentukan adalah waduk Mrica di hulu K.

Serayu, sehingga sediment diendapkan di waduk tersebut. Sedang di bawah waduk

Mrica tanahnya lebih landai sehingga juga erosinya lebih sedikit. Bila Kali Serayu

memuntahkan erosi sediment sebanyak S. Citanduy (6 juta ton/tahun) maka

scenario Pangandaran akan terjadi di teluk Penyu. Tetapi 4xlebih lambat, sebab

luas teluk penyu= 2 x luas teluk Pangandaran Parigi.



Bandung, 22 Januari 2003







6


Related docs
Other docs by Dpklts Indones...
Kaji ULang P'Citanduy _ITB_
Views: 8  |  Downloads: 0
ke BKSDA ttg gn sawal 2003
Views: 5  |  Downloads: 0
Notulensi Ulasan Akhir Tahun 2002
Views: 29  |  Downloads: 0
SGP ke Wagub ttg Jatigede
Views: 0  |  Downloads: 0
The Trouble Shooter
Views: 22  |  Downloads: 2
sobirin manajemen bencana PR
Views: 8  |  Downloads: 0
sobirin Kawasan Lindung Jawa Barat 45_
Views: 7  |  Downloads: 0
sobirin mitos hutan dan air
Views: 32  |  Downloads: 0
Press Release Sugih Mukti 2003
Views: 0  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!