UNSRI_new SRI

Document Sample
UNSRI_new SRI Powered By Docstoc
					     PENERAPAN INTENSIFIKASI PROSES PADA
      OLAHLAHAN MEMBUKA PELUANG BARU
    PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PERTANIAN:
 STUDI KASUS SRI-SYSTEM OF RICE INTENSIFICATION

                                       Mubiar Purwasasmita
               Program Studi Teknik Kimia, Kelompok Keahlian Proses Teknik Kimia
                      Fakultas Teknologi Industri, Institut teknologi Bandung
                              Jalan Ganesha No. 10 Bandung 40132
                                  E-mail : mubiar@che.itb.ac.id



                                                 Abstrak

System of Rice Intensification (SRI) merupakan upaya penerapan intensifikasi proses pada tani padi di
sawah dengan olahlahan sebagai mikro-bioreaktor di dalam tanah yang menjadi pabrik nutrisi bagi
tanaman. Perbaikan struktur tanah melalui pemeliharaan siklus biomassa (penggunaan kompos) dan
perbaikan siklus nutrisi melalui pengelolaan keanekaragaman organisme dalam tanah merupakan dasar
perubahan, ditunjang dengan cara penanaman padi yang lebih seksama untuk menumbuhkan sistem
perakaran yang maksimal. Penggunaan kompos meningkatkan populasi mikroorganisme (Azospirillum,
Azotobacter, Phosphobacteria, dll) dalam rhizosphere secara berlipat ganda dibandingkan dengan cara
konvensional. Pada cara tanam tradisional populasi Azospirillum dalam akar 65 ribu/mg memberikan 20
anakan dan hasilan padi 2 ton/ha, sementara dengan cara SRI yang menggunakan kompos populasi
Azospirillum menjadi 1,5 juta/mg memberikan 80 anakan dan hasilan diatas 10 ton/ha. Penggunaan pupuk
NPK pada cara SRI justru menurunkan populasi Azospirillum dalam akar menjadi kurang dari 0,5 juta/mg
sekalipun masih memberikan 70 anakan dan hasilan maksimum 9 ton/ha.
Cara SRI dilaksanakan di berbagai daerah di Jawa Barat secara swadaya masyarakat. Saat ini telah
mencapai luas garapan 600 ha, dan dapat meningkatkan produksi nyata dari 4-6 ton gabah kering
panen/ha menjadi 9-12 ton/ha. Suatu lahan petani di Garut secara berturut-turut mampu meraih produksi
nyata 9,4 ton/ha, 11 ton/ha, 14 ton/ha, hingga 17,5 ton/ha dalam perioda 2 tahun ujicoba. Kualitas bulir
padi yang dihasilkan juga meningkat (produk beras kepala meningkat 17%, rasa lebih pulen, dan lebih
tahan disimpan).

Kata Kunci : System of Rice Intensification (SRI), Intensifikasi Proses, Bioreaktor Alami, Siklus Biomassa,
Kompos


1.   Pendahuluan

        System of rice intensification (SRI) adalah cara menanam padi lebih seksama yang mula pertama
dikembangkan oleh Henri de Laulanie di Madagaskar pada tahun 1984. Mulai tahun 2000 cara ini
diperkenalkan ke banyak negara termasuk Indonesia, yang dicoba secara spontan oleh Kelompok Studi
Pertanian Berkah Famili di Kabupaten Ciamis dan KSP-KSP lainnya sejak tahun 2002. Lebih dari 5700
petani telah mengikuti pelatihan bertani sawah cara seksama ini dan telah menerapkannya di lebih dari 450
ha sawah.
        Makalah ini dimaksudkan untuk membahas kaji tindak/ujicoba lapangan yang dilakukan kelompok
tani tersebut diatas selama lebih dari 3 tahun dengan hasil panen yang selalu meningkat dari waktu ke
waktu. Dengan bahasan ini diharapkan dapat diperoleh sistematika penelitian lebih lanjut yang lebih tajam
untuk memahami faktor-faktor penentu upaya peningkatan produktivitas pertanian di Indonesia secara
sangat signifikan.
2.   Fundamental

Bertanam padi cara seksama ini menyangkut hal-hal penting sebagai berikut:
   i. Menghilangkan penggenangan air di pesawahan dan melakukan penyiangan yang intensif untuk
        memperbaiki pengoksigenan akar,
   ii. Menanam bibit padi yang sangat muda (umur kurang dari 10 hari) dengan cara tunggal dan jarak
        antar tanaman yang cukup renggang untuk menumbuhkan sistem perakaran secara maksimal, dan
   iii. Menggunakan kompos serta mikroorganisme lokal untuk meningkatkan jumlah dan keberagaman
        organisme tanah membentuk reaktor-bio di dalam tanah.
Dengan perobahan mendasar yang dilakukan di atas ternyata mampu memberikan hasil yang lebih baik,
dalam arti lebih produktif (tanaman lebih tinggi, anakan lebih banyak, malai lebih panjang, dan bulir lebih
berat), lebih sehat (tanaman lebih tahan hama dan penyakit), lebih kuat (tanaman lebih tegar, lebih tahan
kekeringan, dan tekanan abiotik), lebih menguntungkan (biaya produksi lebih rendah), dan memberikan
risiko ekonomi yang lebih rendah.


3.   Metodologi

        Cara seksama menanam padi tidak menggenangi sawah dengan air, cukup dengan tanah yang
macak-macak, karena menganggap padi bukanlah tanaman air. Tanah diolah dengan cara intensif dengan
kedalaman pengolahan lahan mencapai 20 cm, dilakukan penambahan kompos 5-7 ton/hektar atau lebih
dari setengah jumlah biomassa yang dikeluarkan dari lahan pertanian tersebut. Kompos dalam tanah
mempunyai kemampuan untuk mengikat air selain mampu menyediakan ruang untuk udara,
mikroorganisme, dan pertumbuhan akar. Kebutuhan air untuk cara bertani yang seksama ini hanya setengah
hingga sepertiga dari cara konvensional, serta membuka peluang penerapan teknik baru penyiraman
maupun pengaturan air lainnya.
        Padi ditanam tunggal secara satu persatu dengan umur bibit 7-10 hari di pesemaian. Bibit padi yang
masih memiliki keping biji ini ditanam dangkal dengan akar diletakkan mendatar di permukaan tanah,
dimaksudkan terutama untuk mendapatkan peluang anakan yang paling banyak. Cara ini hanya
memerlukan bibit padi unggul 2,5 kg/ha untuk jarak tanam 40x40 cm dibandingkan dengan cara
konvensional yang bisa mencapai 30 kg/ha. Cara ini membuka peluang baru penerapan teknik penyemaian,
penanaman dan penetapan jarak tanaman dengan sasaran mengembangkan sistem perakaran dan jumlah
anakan yang maksimal. Jarak tanam yang renggang mengoptimalkan pertumbuhan anakan dan sangat
memudahkan pekerjaan pemeliharaan tanah.
        Cara seksama menanam padi melakukan penyiangan lebih dari 4x dari hanya 2x pada cara
konvensional. Penyiangan ini dimaksudkan bukan saja untuk menghilangkan gulma tetapi terutama untuk
menjaga pasokan udara ke dalam tanah. Pengurangan 1x penyiangan dapat menurunkan produksi padi
hingga 1,2-1,5 ton/ha.
         Cara SRI dapat menekan gangguan hama secara sangat berarti tanpa harus menggunakan bahan
kimia antihama. Banyak jenis serangga yang hidup bersama dengan tumbuhnya tanaman padi, namun
mereka tidak sempat menjadi hama karena dengan cara seksama kondisi mikro-klimatnya tidak memberi
cukup waktu kepada serangga untuk dapat berkembangbiak secara leluasa. Serangan keongpun dapat
ditekan karena tanah tidak direndam.
        Cara SRI dapat meningkatkan produktivitas secara nyata, yang ditunjukkan pada ujicoba pertama
di berbagai daerah (Garut, Cianjur, Tasik, Ciamis, Bekasi, Sukabumi, Bandung dan Subang) mencapai 9-12
ton/ha dari biasanya 4-6 ton/ha. Ujicoba di Garut menunjukkan peningkatan produksi secara berturutan
mulai dari 9,4 ton/ha, 11 ton/ha, 14 ton/ha, hingga terakhir dapat mencapai 17,5 ton/ha. Cara SRI juga
meningkatkan kualitas bulir padi, dengan penambahan produksi beras kepala, memelihara rasa yang lebih
baik, dan tahan penyimpanan lebih lama.
        Cara SRI juga memerlukan pengolahan lahan yang seksama. Penggunaan kompos dalam jumlah
dan kualitas yang memadai sangat menentukan. Para petani dapat menyiapkan kompos yang diperlukan
secara mandiri dengan mengefektifkan waktu luang dan sumber biomasa setempat seperti tanaman
kirinyuh, batang pisang, guguran daun, dan sampah organik yang sudah terpilah bersih dari sampah non-
organik. Satu hektar sawah biasanya menyisakan sekitar 8 ton jerami dan 3 ton sekam, dalam hal ini
memerlukan tambahan biomassa sekitar 5-7 ton kompos. Proses pengomposan dilakukan secara aerobik
dengan memberikan pengudaraan yang baik pada tumpukan rajangan bahan pembuat kompos. Tumpukan
tersebut secara berkala disirami dengan campuran mikroorganisme lokal yang berasal dari buangan dapur
atau dari kandang ternak setempat. Aplikasi kompos dilakukan sekali pada saat pengolahan awal tanah,
dengan rujukan tidak untuk menggantikan pupuk, melainkan untuk membentuk kembali struktur tanah
sehingga bisa berfungsi sebagai bioreaktor yang akan menggerakkan kembali siklus nutrisi dengan peran
utama mikrorganismenya serta biota tanah lainnya


4.   Hasil dan Pembahasan

Penanaman bibit muda (umur <10 hari) dilakukan sebelum munculnya tunas awal, agar tanaman sempat
memulihkan diri dengan bekalnya sendiri sehingga mampu menumbuhkan anakannya lebih banyak. Tunas
awal ini merupakan 64% dari potensi total anakan. Sementara pada cara tanam konvensional peluang ini
hilang karena semaian yang rapat, tergenang air, pencabutannya kasar, dibiarkan terlalu lama sebelum
ditanam, serta ditanam jamak dan dalam. Berdasar Model Katayama dengan asumsi tanaman padi akan
mengalami 12 phyllochrons sebelum masuk fase reproduksi maka dapat dicapai jumlah anakan hingga di
atas 90 buah.




                                 Gambar 1. Tunas awal dan jumlah anakan

Tanaman padi memerlukan pengoksigenan akar yang baik, karena proses produksinya terjadi di sel
mitochondria dimana oksigen memegang peranan penting untuk tiga fase metabolisme, yaitu catabolism
yang memisahkan substrat dan melepaskan energi ikatan, anabolism yang menyeimbangkan kembali
pecahannya (ion H+ dari semua di atas), dan sintesa ATP yang mengakumulasikan energi yang dilepaskan.
Maka pasokan oksigen yang baik akan memperbaiki metabolisme dan memberikan lebih banyak energi
untuk pertumbuhan tanaman, akar akan menjadi lebih kuat baik untuk pertumbuhan maupun pengaktifan
asimilasi nutrisi. Sementara penggenangan dengan air dapat menyebabkan kekurangan oksigen atau kondisi
anaerobik yang dapat mengakibatkan asphyxia tanah (peracunan, dan gangguan siklus nitrogen), asphyxia
tanaman (produksi keasaman tinggi, H+ tak dapat diimbangi oleh oksidasi, energi yang dilepas kecil)
sehingga struktur akar akan berobah membentuk ruang kosong (aerenchyma) yang memungkinkan akar
menangkap udara dari batang dan asimilasi menjadi terhambat (penolakan ion positif dari nutrisi).




                Gambar 2. Penampang akar padi yang tergenang dan tidak tergenang
      Penggunaan kompos dalam cara SRI meningkatkan populasi mikroorganisme (Azospirillum,
Azotobacter, Phosphobacteria, dll) dalam rhizosphere secara berlipat ganda dibandingkan dengan cara
konvensional.

                  Tabel 1. Populasi Mikroba dalam Rice Rhizosphere

                  Mikroorganisme           Cara Konvensional             Cara SRI
                  Bakteri Total               88 x 106                   105 x 106
                  Azospirillum                 8 x 105                    31 x 105
                  Azotobacter                 39 x 103                    66 x 103
                  Phosphobacteria             33 x 103                    59 x 103

                  Sumber : Evaluasi TNAU, Thiyagarayan , 2004

        Lebih lanjut dapat dikemukakan bahwa pada cara konvensional populasi Azospirillum dalam akar
hanya 65 ribu/mg memberikan 20 anakan dan hasilan produksi padi 2 ton/ha, sementara dengan cara SRI
yang menggunakan kompos populasi Azospirillum menjadi 1,5 juta/mg memberikan 80 anakan dan hasilan
diatas 10 ton/ha. Adapun penggunaan pupuk NPK pada cara SRI justru menurunkan populasi Azospirillum
dalam akar menjadi kurang dari 0,5 juta/mg sekalipun masih memberikan 70 anakan dan hasilan
maksimum 9 ton/ha.

             Tabel 2. Populasi Azospirillum Endophytic, jumlah anakan dan hasil panen
                                   pada berbagai cara olahlahan

Clay soil :                     Azospirillum dalam akar (103 /mg) Anakan/tanaman Yield (ton/ha)
Cara Tradisional tanpa tambahan                 65                      17            1,8
Cara SRI tanpa tambahan                     1.100                        45            6,1
Cara SRI ditambah NPK                          450                      68            9,0
Cara SRI dengan Kompos                       1.400                      78           10,5
Loam Soil:
Cara SRI tanpa tambahan                          75                      32            2,1
Cara SRI dengan Kompos                       2.000                       47            6,6

Sumber : Norman Uphoff, CIIFAD, Cornell University, USA
         A. Satyanarayana, ANGRAU, Hyderabad, India

         Cara SRI tidak secara khusus memerlukan pemupukan tertentu. Cara SRI meningkatkan
produktivitasnya pada berbagai tingkat kesuburan tanah, sebagaimana juga SRI meningkatkan produksi
untuk berbagai jenis padi apapun. Teori tentang kesuburan tanah pada umumnya masih tetap berlaku.
Namun keseksamaan cara SRI, khususnya pada skala yang lebih kecil, akan mampu mengidentifikasi
keterkaitan yang paling erat dari siklus nutrisi yang terlibat. Tanah tidak dapat dilihat hanya sekedar media
tanam saja sebagai satu skala, namun pada struktur tertentu ada skala yang lebih kecil yang mampu
berfungsi produktif (sebagai reaktor), yaitu mampu mengubah pasokan air, mineral, udara, dan bahan
organik menjadi nutrisi bagi tanaman secara spesifik, dengan pekerja utamanya adalah mikroorganisme dan
biota tanah lainnya (sebagai bioreaktor). Inilah peluang pergeseran fungsi produksi dari skala besar ke skala
yang lebih kecil yang merupakan prinsip intensifikasi proses. Dalam hal ini cara SRI bukan saja mampu
menunjukkan dirinya sebagai metoda namun juga menunjukkan adanya struktur fisik pada skala yang lebih
kecil yang mampu berproduksi pada tingkat yang lebih efisien dan efektif. Kalau bakteri sudah melekat di
dinding akar dan memproduksi nutrisi yang diperlukan tanaman maka tidak ada prioritas bagi mikroba itu
untuk menaikkan terlebih dahulu konsentrasi nutrisi dalam media tanah. Dengan terbentuknya bioreaktor
skala mikro yang bersesuaian ini memungkinkan terjadinya produksi nutrisi sesuai dengan kebutuhan
tanaman yang berkaitan (production on demand).
        Gambar 3. Paradigma multiskala di dalam tanah untuk fungsi bioreaktor alami

       Peningkatan produksi tentunya memerlukan peningkatan pasokan nutrisi, sehingga perlu
mengambil dari tanah yang merupakan media di sekelilingnya. Tetapi pada keadaan stabil yang tidak perlu
dipupuk tanaman akan stabil berproduksi pada tingkat yang lebih tinggi dari pada sebelumnya karena
tanaman sudah memiliki vitalitas, kekuatan , dan keterkaitan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Paling
tidak ada tiga faktor dimana tanaman dapat mengambil nutrisi dengan lebih baik bahkan dari pasokan yang
lebih kecil sekalipun, yaitu sistem perakaran yang makin berkembang, asimilasi aktif yang dapat berfugsi
sebagai pompa enzimatik, dan absorpsi pasif sebagaimana biasanya dengan gradient elektrokimia.

        Cara SRI juga akan memberikan implikasi sosial ekonomi yang sangat penting bagi rakyat dan
negara, seperti dapat dilihat dari perhitungan berikut. Bila luas lahan sawah di Jawa Barat sesuai dengan
RTRW tahun 2003 adalah 700.000 ha, secara konvensional produktivitasnya hanya 6.300.000 ton/thn,
sementara dengan cara SRI dapat mencapai 12.600.000 ton/thn karena produktivitasnya bisa meningkat
paling tidak dua kalinya. Perkiraan konsumsi beras di Jawa Barat untuk jumlah penduduk 40.000.000
orang adalah setara gabah 12.200.000 ton/thn. Berarti jumlah kebutuhan ini hanya dapat dipenuhi oleh
jumlah produksi 12.600.000 ton/thn dengan cara SRI, sehingga bagi Jawa Barat menanam padi secara
seksama ini bukan lagi merupakan pilihan melainkan suatu keharusan.
        Lebih lanjut bila harga beras saat ini Rp 5000,-/kg dianggap tidak terbeli oleh petani konsumen dan
harga yang dianggap layak adalah Rp 3000,-/kg, maka seharusnya harga beras mendapat koreksi harga
sebesar - 40%. Sekalipun hal ini harus terjadi pendapatan cara SRI masih akan mampu memberikan
peningkatan pendapatan bagi petani produsen lebih dari 20% dari pada cara konvensional, atau sekitar 4
trilyun rupiah/tahun di Jawa Barat.

        Cara SRI sebetulnya dapat diterapkan bukan hanya untuk tanaman padi saja, namun bisa diterapkan
juga untuk tanaman sayuran, buah-buahan, bahkan tanaman perkebunan sekalipun. Sehinga bila hal ini bisa
direalisasikan, tentunya dengan syarat harus mampu mengatasi persoalan spesifiknya, maka peningkatan
produktivitas dan kualitas yang diakibatkannya dapat membawa posisi Indonesia menjadi sangat penting
dan menentukan bagi pasokan pangan dan produk pertanian lainnya di dunia.
5.   Kesimpulan

       Cara SRI mengubah cara menanam padi selama ini yang masih memacu peningkatan input eksternal
seperti penggunaan air, pupuk, insektisida, herbisida dan bahan kimia lainnya, menjadi suatu cara
menanam padi yang lebih seksama. Cara ini mengubah paradigma pengelolaan tanah hanya sebagai media
tanam menjadi pengelolaan tanah sebagai bioreaktor yang merupakan pabrik nutrisi bagi tanaman dengan
para pekerjanya organisme yang beragam di dalam tanah. Ditunjang dengan keseksamaan lainnya cara SRI
mampu membangun suatu sinergi sehingga meningkatkan produktivitas secara berlipat ganda dengan
kualitas yang semakin baik.

       Peningkatan produktivitas yang dicapai dengan cara SRI sangat signifikan sehingga secara ekonomi
petani produsen maupun petani konsumen akan diuntungkan. Dengan produksi yang tinggi harga beras di
pasaran dapat turun sehingga terbeli oleh petani konsumen, sementara petani produsen masih dapat
menikmati kenaikan pendapatannya karena jumlah yang dijualnya di pasar lebih banyak dan beragam.

        Tantangan utama pertanian padi pada saat ini adalah perlunya peningkatan produktivitas lahan
karena luasan lahan yang semakin terbatas, peningkatan produktivitas air karena pasokan air semakin
menipis, akses untuk masyarakat yang miskin karena penting untuk mengurangi kemiskinan dan penciptaan
ketahanan pangan, harus ramah lingkungan untuk meningkatkan kualitas air dan tanah, meningkatkan
ketahanan terhadap hama dan penyakit untuk menjaga kesehatan manusia dan lingkungannya, harus
semakin toleran terhadap tekanan abiotik seperti perubahan iklim, meningkatkan mutu padi untuk
memenuhi tuntutan konsumen, dan menurunkan ongkos produksi agar lebih menguntungkan bagi semua
pihak. Tantangan ini sangat berat, namun ternyata cara SRI dapat memberikan jawabannya, baik sebagai
metoda maupun dengan menampilkan identifikasi struktur atau skala alat produksinya yang baru.

        Sejalan dengan hal tersebut cara SRI masih memerlukan pengembangan lebih lanjut pada arah
penelitian untuk menjawab serangkaian pertanyaan beriku, yaitu : Berapa umur benih terbaik mengingat
adanya phyllochron effect ? Bagaiman menanam langsung biji atau benih untuk menghemat tenaga
manusia? Berapa jumlah anakan dalam satu dapuran? Berapa jarak tanam optimum mengingat perbaikan
mutu tanah? Bagaimana pengaturan air, baik berupa perulangan pembasahan dan penuusan, maupun
penggenangan dangkal? Bagaimana menguatkan penggunaan kompos dan membudayakannya kembali di
masyarakat?

       Uraian diatas menunjukkan bahwa cara SRI bukan lagi sekedar teori atau konsepsi, melainkan
merupakan suatu kenyataan yang didukung antusiasme dan keswadayaan para petani pelopor. Sekarang
saatnya kenyataan tersebut direspons secara cepat dan tepat oleh pemerintahan di tingkat pusat maupun
daerah agar dapat dimanfaatkan menjadi landasan reformasi pertanian di Indonesia.


Ucapan terima kasih

Disampaikan kepada Ir. Kuswara, Ir Alik Sutaryan, dan Ir.Sutarmin yang telah dan masih memelopori
memberikan pemahaman baru cara bertanam padi ini di lapangan. Serta kepada para petani dari berbagai
Kelompok Studi Pertanian yang telah mempraktekannya, dan memberikan semua data pengalaman
lapangannya menjadi bahan bahasan dalam makalah ini.


Daftar Pustaka

     1.   Uphoff, N., (2005),”Features of the System of Rice Intensification (SRI) apart from increased in
          yield”, CIIFAD, May 2005.
     2.   Uphoff, N. (2003),”Higher yields with fewer external inputs: The System of Rice Intensification
          and potential contributions to agricultural sustainability”, International Journal of Agricultural
          Sustainability, vol.1, no.1, pp 38-50 (13).
   3.   Stoop,W.A.,Uphoff, N. and Kassam, A., (2002), ”A review of agricultural research issues raised
        by the System of Rice Intensification (SRI) from Madagascar : Opportunities for improving
        farming systems for resource – poor farmers”, Agricultural Systems, vol.71, pp 249-274.
   4.   Uphoff, N. (1999),”How to help rice plants grow better and produce more” Teach yourself and
        others.
   5.   Settle,W.,(2000), “Living Soil, Training exercise for integrated soils management”.
   6.   Sylvia,D.M., Fuhrmann, J.J., Hatel, P.G. and Zuberer, D.A.,(1999), “Principles and Applications
        of Soil Microbiology”.
   7.   Kuswara, Alik Sutaryan, (2003),”Panduan Pembelajaran Ekologi Tanah dan System of Rice
        Intensification (SRI)”, Wahana Komunikasi Pemandu Lapangan PHT Jawa Barat, Tasikmalaya.


Bandung, 15 Juni 2006.MP

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:98
posted:11/14/2011
language:
pages:7