Docstoc

waduk JATIGEDE sumiran

Document Sample
waduk JATIGEDE sumiran Powered By Docstoc
					                                  RESUME
          STUDI STRUKTUR GEOLOGI KUALITATIF,
             RENCANA BENDUNGAN JATIGEDE
                     JAWA-BARAT
1. Lokasi rencana pembangunan Bendungan Jatigede, terletak antara kota Kadipaten
   dengan Cimalaka (Sumedang). Tepatnya pada koordinat geografi 108o5’45”BT &
   6o51’30”LS (lihat gambar A).

2. Berdasarkan analisis dari peta geografi, topografi, peta geologi, peta anomali
   gaya-berat dan Landsat TM, secara kasar dapat dibuat peta Struktur Geologi
   daerah Jawa-Barat (lihat gambar B dan C).
3. Lokasi rencana Bendungan Jatigede tersebut, dikontrol oleh beberapa sesar
   mendatar permukaan (cover fault) yang berarah NE-SW (timurlaut-baratdaya),
   NNE-SSW (utara-timurlaut – selatan-baratdaya), NW-SE (baratlaut-tenggara) dan
   sesar mendatar dalam (basement/ deep-seated strike-slip fault) dengan arah NW-
   SE (baratlaut-tenggara), lihat gambar B dan C. Maximum principal stress /
   tegasan utama terbesar (σ1) yang mengontrolnya untuk saat ini (Resen) kurang
   lebih N-S (utara – selatan).
4. Berdasarkan Peta Zonasi Sumber Gempa-bumi (gambar D), Jawa-Barat, rencana
   pembangunan Waduk Jatigede, terletak pada Zona gempabumi Purwakarta-
   Subang-Majalengka-Kuningan-Bumiayu (gambar D). Di dekat rencana
   pembangunan Waduk Jatigede, dekat Majalengka pernah terjadi gempa besar dan
   merusak pada tahun 1912 dan tahun 1990, yang terjadi akibat pergesaran pada
   zona sesar dalam (deep-seated dextral strike-slip fault) yang berarah (NNW-
   NW) – (SSE-SE) (gambar D) atau tepatnya berarah N323oE – N143oE (Gambar D
   dan E). Artinya apabila sesar ini bergeser lagi, maka akan terjadi gempa lagi,
   dan bendungan akan tergeser oleh sesar ini dan juga terguncang oleh gempa.
   Akibat lanjut bendungan mungkin akan jebol.
5. Secara skematis-detail, lokasi rencana bendungan Jatigede dikontrol oleh sistem 7
   sesar makroskopis, (gambar E1), yaitu :
     A1 : Sesar mendatar Ciwaringin-Karangampel (N55oE-N225oE), transpressional
          sinistral strike-slip fault.
     A2 : Sesar mendatar Kadipaten-Arjawinangun (N55oE-N225oE), transpressional
          sinistral strike-slip fault.
     B : Sesar mendatar Majalengka-G.Guntur (N60oE-N240oE), transpressional sinistral
          strike-slip fault.
     C : Sesar mendatar Conggeang-Panawangan (N312oE-N132oE), transpressional
          dextral strike-slip fault.
     C1 : Sesar mendatar Kadipaten 1 (N312oE-N132oE), transpressional dextral strike-
          slip fault.
     C2 : Sesar mendatar Kadipaten 2 (N312oE-N132oE), transpressional dextral strike-
          slip fault.
     D : Sesar mendatar dalam (deep-seated fault) Pamanukan-Banjar (N323oE-N143oE),
          deep-seated dextral strike-slip fault.


                                                                                   1
6. Apabila struktur sesar C1 dan C2 , bersifat sebagai struktur tutupan (positive
   dilational jog), dengan struktur koridor pembatas A1, A2 maka daerah yang
   dibatasi oleh sesar A1, A2, C1 dan C2 (dimana terdapat rencana bendungan
   Jatigede) akan merupakan push-up swells / pop-up (sembulan) lihat gambar E2.
   Artinya apabila sesar-sesar A1, A2, C1 dan C2 tersebut aktif bergesar lagi
   (reaktifasi), dasar bendungan Jatigede akan naik / pembubungan / mengalami
   pendangkalan yang terus menerus. Dan juga tanggul bendungan akan retak-
   retak yang akan mengakibatkan mengalami kebocoran.
7. Apabila struktur sesar C1 dan C2 , bersifat sebagai struktur bukaan (negative
   dilational jog), dengan struktur koridor pembatas A1, A2 maka daerah yang
   dibatasi oleh sesar A1, A2, C1 dan C2 (dimana terdapat rencana bendungan
   Jatigede) akan merupakan pull-apart basin (amblesan) lihat gambar E3. Artinya
   apabila sesar-sesar A1, A2, C1 dan C2 tersebut aktif bergesar lagi (reaktifasi), dasar
   bendungan Jatigede akan turun / amblesan / mengalami pendalaman yang
   terus menerus. Dan juga tanggul bendungan akan retak-retak yang akan
   mengakibatkan mengalami kebocoran.
8. Pembentukan push-up swells / pop-up (sembulan) kemungkinannya lebih besar
   terjadi dari pada pembentukan pull-apart basin (amblesan).

9. Disarankan rencana pembangunan waduk Jatigede dibatalkan, mengingat adanya
   gangguan neotektonik (pergeseran sesar , gempa-bumi, pembentukan push-up
   swells/ sembulan) yang akan terjadi, sehingga mungkin akan mengakibatkan
   pecahnya tanggul akibat gempa dan pergeseran sesar-sesar dan pedangkalan
   dasar waduk yang terus menerus akibat proses pembubungan akibat push-
   up swells (sembulan).
10. Juga perlu diperhitungkan banyaknya/ volume dan kecepatan sedimentasi
    (pengendapan) aluvial dan eluvial. Apabila volume dan kecepatan sedimentasi
    besar akan terjadi penumpukan sedimen aluvial dan eluvial yang besar dan cepat,
    sehingga terjadi pendangkalan waduk secara cepat.




                                                                                       2

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:141
posted:11/14/2011
language:
pages:2