Docstoc
EXCLUSIVE OFFER FOR DOCSTOC USERS
Try the all-new QuickBooks Online for FREE.  No credit card required.

Pengertian belajar dan pembelajaran

Document Sample
Pengertian belajar dan pembelajaran Powered By Docstoc
					Pengertian belajar dan pembelajaran
a. Belajar
       Menurut Slavin dalam Catharina Tri Anni (2004), belajar merupakan proses
perolehan kemampuan yang berasal dari pengalaman. Menurut Gagne dalam Catharina Tri
Anni (2004), belajar merupakan sebuah sistem yang didalamnya terdapat berbagai unsur
yang saling terkait sehingga menghasilkan perubahan perilaku.
       Sedangkan menurut Bell-Gredler dalam Udin S. Winataputra (2008) pengertian
belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam
competencies, skills, and attitude. Kemampuan (competencies), keterampilan (skills), dan
sikap (attitude) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi
sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar sepanjang hayat.
       Ciri-ciri belajar adalah : (1) Belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan
perilaku pada diri individu. Perubahan tersebut tidak hanya pada aspek pengethauan atau
kognitif saja tetapi juga meliputi aspek sikap dan nilai (afektif) serta keterampilan
(psikomotor); (2) perubahan itu merupakan buah dari pengalaman. Perubahan perilaku yang
terjadi pada individu karena adanya interaksi antara dirinya dengan lingkungan . interaksi ini
dapat berupa interaksi fisik dan psikis; (3) perubahan perilaku akibat belajar akan bersifat
cukup permanen.
b. Pembelajaran
       Menurut Gagne, Briggs, dan wagner dalam Udin S. Winataputra (2008) pengertian
pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya
proses belajar pada siswa.
Menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, pembelajaran adalah proses interaksi
peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkingan belajar.
Ciri utama dari pembelajaran adalah inisiasi, fasilitasi, dan peningkatan proses belajar siswa.
Sedangkan komponen-komponen dalam pembelajaran adalah tujuan, materi, kegiatan, dan
evaluasi pembelajaran.
Teori Belajar Dan Pembelajaran
       Pengertian Belajar Cronbach (1954) berpendapat : Learning is shown by a change in
behaviour as result of ex perience ; belajar dapat dilakukan secara baik dengan jalan
mengalami. Menurut Spears : Learning is to observe, to read, to imited, to try something
themselves, to listen, to follow direction, dimana pengalaman itu dapat diperoleh dengan
mempergunakan panca indra.
          Robert. M. Gagne dalam bukunya : The Conditioning of learning mengemukakan
bahwa : Learning is a change in human disposition or capacity, wich persists over a period
time, and wich is not simply ascribable to process of growth.
Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara
terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja. Gagne
berkeyakinan, bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor dari luar diri dan faktor dalam diri dan
keduanya saling berinteraksi. Dalam teori psikologi konsep belajar Gagne ini dinamakan
perpaduan antara aliran behaviorisme dan aliran instrumentalisme.
          Lester.D. Crow and Alice Crow mendefinisikan : Learning is the acuquisition of habits,
knowledge and attitudes. Belajar adalah upaya untuk memperoleh kebiasaankebiasaan,
pengetahuan dan sikap-sikap. Hudgins Cs. (1982) berpendapatHakekat belajar secara
tradisional belajar dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan dalam tingkah laku, yang
mengakibatkan adanya pengalaman . Jung , (1968) mendefinisikan bahwa belajar adalah
suatu proses dimana tingkah laku dari suatu organisme dimodifikasi oleh pengalaman.
Ngalim Purwanto, (1992 : 84) mengemukakan belajar adalah setiap perubahan yang relatif
menetap dalam tingkah laku, yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.
          Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah segenap
rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara sadar oleh seseorang dan
mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa penambahan pengetahuan atau kemahiran
berdasarkan alat indera dan pengalamannya.Oleh sebab itu apabila setelah belajar peserta
didik tidak ada perubahan tingkah laku yang positif dalam arti tidak memiliki kecakapan baru
serta wawasan pengetahuannya tidak bertambah maka dapat dikatakan bahwa belajarnya
belum sempurna.
          Pada dasarnya prinsip belajar lebih dititikberatkan pada aktivitas peserta didik yang
menjadi dasar proses pembelajaran baik dijenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan
Tingkat Pertama (SLTP), Sekolah lanjutan Tingkat Atas (SLTA) maupun Tingkat Perguruan
Tinggi.
Arifin (1978) mendefinisikan bahwa mengajar adalah " . suatu rangkaian kegiatan
penyampaian bahan pelajaran kepada murid agar dapat menerima, menanggapi, menguasai
dan mengembangkan bahan pelajaran itu ". Tyson dan Caroll (1970) mengemukakan bahwa
mengajar ialah . a way working with students ... A process of interaction . the teacher does
something to student, the students do something in return.
       Dari definisi itu tergambar bahwa mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses
hubungan timbal balik antara siswa dan guru yang sama-sama aktif melakukan kegiatan.
Nasution (1986) berpendapat bahwa mengajar adalah " . suatu aktivitas mengorganisasi
atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya danmenghubungkannya dengan anak, sehingga
terjadi proses belajar". Tardif (1989) mendefinisikan, mengajar adalah . any action
performed by an individual (the teacher) with the intention of facilitating learning in another
individual (the learner), yang berarti mengajar adalah perbuatan yang dilakukan seseorang
(dalam hal ini pendidik) dengan tujuan membantu atau memudahkan orang lain (dalam hal
ini peserta didik) melakukan kegiatan belajar. Biggs (1991), seorang pakar psikologi
membagi konsepmengajar menjadi tiga macam pengertian yaitu
   a. Pengertian Kuantitatif dimana mengajar diartikan sebagai the transmission of
       knowledge, yakni penularan pengetahuan. Dalam hal ini guru hanya perlu menguasai
       pengetahuan bidang studinya dan menyampaikan kepada siswa dengan sebai-
       baiknya. Masalah berhasil atau tidaknya siswa bukan tanggung jawab pengajar.
   b. Pengertian institusional yaitu mengajar berarti . the efficient orchestration of
       teaching skills, yakni penataan segala kemampuan mengajar secara efisien. Dalam
       hal ini guru dituntut untuk selalu siapmengadaptasikan berbagai teknik mengajar
       terhadap siswa yang memiliki berbagai macam tipe belajar serta berbeda bakat ,
       kemampuan dan kebutuhannya.
   c. Pengertian kualitatif dimana mengajar diartikan sebagai the facilitation of learning,
       yaitu upaya membantu memudahkan kegiatan belajar siswa mencari makna dan
       pemahamannya sendiri.
       Dari definisi-definisi mengajar dari para pakar di atas dapat ditarik kesimpulan
bahwa mengajar adalah suatu aktivitas yang tersistem dari sebuah lingkungan yang terdiri
dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan
sehingga terjadi proses belajar dan tujuan pengajaran tercapai.
       Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber
belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan
pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan , penguasaan
kemahiran dan tabiat , serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik.
       Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar
dapat belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia
serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang
mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks
pendidikan , guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran
hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat
mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor)
seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak,
yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi
antara guru dengan peserta didik.


Kurikulum
       Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diberikan oleh suatu lembaga
penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada
peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata
pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam
penyelenggaraan pendidikan tersebut. Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya
disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan.
Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan
yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.
       Kompetensi Dasar merupakan pengembangan potensi-potensi perkembangan pada
anak yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan usianya
berupa pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang dapat dikenali melalui
sejumlah hasil belajar dan indikator yang dapat diukur dan diamati.
Hasil Belajar merupakan cerminan kemampuan anak yang dicapai dari suatu tahapan
pengalaman belajar dalam satu kompetensi dasar. Indikator merupakan hasil belajar yang
lebih spesifik dan terukur dalam satu kompetensi dasar. Apabila serangkaian indikator
dalam satu kompetensi dasar sudah tercapai, berarti target kompetensi dasar tersebut
sudah terpenuhi.
Motivasi Belajar
   Motivasi belajar setiap orang, satu dengan yang lainnya, bisa jadi tidak sama. Biasanya,
hal itu bergantung dari apa yang diinginkan orang yang bersangkutan. Misalnya, seorang
anak mau belajar dan mengejar rangking pertama karena di iming-imingi akan dibelikan
sepeda oleh orangtuanya. Contoh lainnya, seorang mahasiswa mempunyai motivasi belajar
yang tinggi agar lulus dengan predikat /cum laude/. Setelah itu, dia bertujuan untuk
mendapatkan pekerjaan yang hebat dengan tujuan membahagiakan orangtuanya. Apa saja,
sih, faktor-faktor yang membedakan motivasi belajar seseorang dengan yang lainnya?
Beberapa faktor di bawah ini sedikit banyak memberikan penjelasan mengapa terjadi
perbedaaan motivasi belajar pada diri masing-masing orang, di antaranya:
   1. Perbedaan fisiologis (physiological needs), seperti rasa lapar, haus, dan hasrat
       seksual .
   2. Perbedaan rasa aman (safetyneeds), baik secara mental, fisik, dan intelektual.
   3. Perbedaan kasih sayang atau afeksi (love needs) yang diterimanya.
   4. Perbedaan harga diri (selfesteemneeds). Contohnya prestisememiliki mobil atau
       rumah mewah, jabatan, dan lain-lain.
   5. Perbedaan aktualisasi diri(self actualization), tersedianya kesempatan bagi seseorang
       untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah
       menjadi kemampuan nyata.
Stimulus motivasi belajar Terdapat 2 faktor yang membuat seseorang dapat termotivasi
untuk belajar, yaitu:
   1. Pertama, motivasi belajar berasal dari faktor internal. Motivasi ini terbentuk karena
       kesadaran diri atas pemahaman betapa pentingnya belajar untuk mengembangkan
       dirinya dan bekal untuk menjalani kehidupan.
   2. Kedua,motivasi belajar dari faktor eksternal, yaitu dapatberupa rangsangan dari
       orang lain, atau lingkungan sekitarnya yang dapat memengaruhi psikologis orang
       yang bersangkutan. Tips-tips meningkatkan motivasi belajar Motivasi belajar tidak
       akan terbentuk apabila orang tersebut tidak mempunyai keinginan, cita-cita, atau
       menyadari manfaat belajar bagi dirinya.
   Oleh karena itu, dibutuhkan pengkondisian tertentu, agar diri kita atau siapa pun juga
yang menginginkan semangat untuk belajar dapat termotivasi. Yuk, ikuti tips-tips berikut
untuk meningkatkan motivasi belajar kita:
   1. Bergaullah denganorang-orang yang senang belajar.Bergaul denganorang-orang
       yang senang belajar dan berprestasi, akan membuat kita pun gemar belajar. Selain
       itu, coba cari orang atau komunitas yang mempunyai kebiasaan baik dalam belajar.
       Bertanyalah tentang pengalaman di berbagai tempat kepada orang-orang yang
       pernah atau sedang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, orang-
       orang yang mendapat beasiwa belajar di luar negeri, atau orang-orang yang
       mendapat penghargaan atas sebuah presrasi. Kebiasaan dan semangat mereka akan
       menular kepada kita. Seperti halnya analogi orang yang berteman dengan tukang
       pandai besi atau penjual minyak wangi. Jika kita bergaul dengan tukang pandai besi,
       maka kita pun turut terciprat bau bakaran besi, dan jika bergaul dengan penjual
       minyak wangi, kita pun akan terciprat harumnya minyak wangi.
   2. Belajar apapun, Pengertian belajar di sini dipahami secara luas, baik formal maupun
       nonformal. Kita bisa belajar tentang berbagai keterampilan seperti merakit
       komputer, belajar menulis, membuat film, berlajar berwirausaha, dan lain lain-
       lainnya.Belajar dari internet, Kita bisa memanfaatkan internet untuk bergabung
       dengan kumpulan orang-orang yang senang belajar. Salah satu milis dapat menjadi
       ajang kita bertukar pendapat, pikiran, dan memotivasi diri. Sebagai contoh, jika ingin
       termotivasi untuk belajar bahasa Inggris.
   3. Bergaulah dengan orang-orang yang optimis dan selalu berpikiran positif. Di dunia
       ini, ada orang yang selalu terlihat optimis meski masalah merudung. Kita akan
       tertular semangat, gairah, dan rasa optimis jika sering bersosialisasi dengan orang-
       orang atau berada dalam komunitas seperti itu, dan sebaliknya.
   4. Cari motivator. Kadangkala, seseorang butuh orang lain sebagai pemacu atau mentor
       dalam menjalani hidup. Misalnya: teman, pacar, ataupun pasangan hidup. Anda pun
       bisa melakukan hal serupa dengan mencari seseorang/komunitas yang dapat
       membantu mengarahakan atau memotivasi Anda belajar dan meraih prestasi.
Konsep Belajar dan Pembelajaran
Konsep Belajar
       Belajar, pada hakekatnya, adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di
sekitar individu. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan
proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Menurut Sudjana,1989 Belajar juga
merupakan proses melihat, mengamati dan memahami sesuatu. Sedangkan menurut
Witherington, 1952 menyebutkan bahwa “Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian
yang dimanifestasikan sebagai suatu pola-pola respon yang berupa keterampilan, sikap,
kebiasaan, kecakapan atau pemahaman”.
       Beberapa hal yang berkaitan dengan pengertian belajar yaitu belajar suatu proses
yang berkesinambungan yang berlangsung sejak lahir hingga akhir hayat, dalam belajar
terjadi adanya perubahan tingkah laku yang bersifat relatif permanen, hasil belajar
ditunjukan dengan tingkah laku,dalam belajar ada aspek yang berperan yaitu motivasi,
emosional, sikap,dan yang lainnya. Menurut Gagne dan Briggs (1988), perubahan tingkah
laku dalam proses belajar menghasilkan aspek perubahan seperti kemampuan
membedakan, konsep kongkrit, konsep terdefinisi, nilai, nilai/aturan tingkat tinggi, strategi
kognitif, informasi verbal, sikap, dan keterampilan motorik.
       Proses belajar terjadi apabila individu dihadapkan pada situasi di mana ia tidak dapat
menyesuaikan diri dengan cara biasa, atau apabila ia harus mengatasi rintangan-rintangan
yang mengganggu kegiatan-kegiatan yang diinginkan. Proses penyesuain diri mengatasi
rintangan terjadi secara tidak sadar, tanpa pemikiran yang banyak terhadap apa yang
dilakukan. Dalam hal ini pelajar mencoba melakukan kebiasaan atau tingkah laku yang telah
terbentuk hingga ia mencapai respon yang memuaskan.
       Jadi belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang berkesinambungan
antara berbagai unsur dan berlangsung seumur hidup yang didorong oleh berbagai aspek
seperti motivasi, emosional, sikap dan yang lainnya dan pada akhirnya menghasilkan sebuah
tingkah laku yang diharapkan. Unsur utama dalam belajar adalah individu sebagai peserta
belajar, kebutuhan sebagai sumber pendorong, situasi belajar, yang memberikan
kemungkinan terjadinya kegiatan belajar.
Konsep pembelajaran
       Pembelajaran (instruction) merupakan akumulasi dari konsep mengajar (teaching)
dan konsep belajar (learning). Penekanannya terletak pada perpaduan antara keduanya,
yakni kepada penumbuhan aktivitas subjek didik. Konsep tersebut dapat dipandang sebagi
suatu sistem. sehingga dalam sistem belajar ini terdapat komponen-komponen siswa atau
peserta didik, tujuan, materi untuk mencapai tujuan, fasilitas dan prosedur serta alat atau
media yang harus dipersiapkan. Davis, l974 mengungkapkan bahwa learning system
menyangkut pengorganisasian dari perpaduan antara manusia, pengalamanbelajar, fasilitas,
pemeliharaan atau pengontrolan, dan prosedur yang mengatur interaksi perilaku
pembelajaran untuk mencapai tujuan sedangkan dalam system teaching sistem, komponen
perencanaan mengajar, bahan ajar, tujuan, materi dan metode, serta penilaian dan langkah
mengajar akan berhubungan dengan aktivitas belajar untuk mencapai tujuan.
       Kenyataan bahwa dalam proses pembelajaran terjadi pengorganisasian, pengelolaan
dan transformasi informasi oleh dan dari guru kepada siswa. Menurut Meier, 2002
mengemukakan bahwa semua pembelajaran manusia pada hakekatnya mempunyai empat
unsur, yakni persiapan (preparation), penyampaian (presentation), pelatihan (practice),
penampilan hasil (performance).
      a. Persiapan (Preparation)
         Tahap persiapan berkaitan dengan mempersiapkan peserta belajar untuk belajar.
         Tanpa itu, pembelajaran akan lambat dan bahkan dapat berhenti sama sekali.
         Salah satu tujuan penyiapan peserta belajar adalah mengajaknya memasuki
         kembali dunia kanak-kanak mereka, sehingga kemampuan bawaan mereka untuk
         belajar dapat berkembang sendiri. Dunia kanak-kanak ditandai dengan
         keterbukaan, kebebasan, kegembiraan dan rasa ingin tahu yang sangat besar.
             Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan sugesti positif,
             memberikan pernyataan yang memberi manfaat, menenangkan rasa takut,
             menyingkirkan hambatan belajar, banyak bertanya dan mengemukakan
             berbagai masalah, merangsang rasa ingin tahu dan mengajak belajar penuh
             dari awal, membangkitkan rasa ingin tahu, menciptakan lingkungan fisik,
             emosional, sosial yang positif, memberikan tujuan yang jelas dan bermakna.
             Pembelajaran jika dilakukan dengan persiapan matang sesuai dengan
             karakteristik kebutuhan, materi, metode, pendekatan, lingkungan serta
             kemampuan guru, maka hasilnya diasumsikan akan lebih optimal.
       Asumsi negatif tentang belajar cenderung menciptakan pengalaman negatif dan
asumsi positif cenderung menciptakan pengalaman positif. Sugesti tidak boleh berlebihan,
menimbulkan kesan bodoh, dangkal, tetapi harus realistik, jujur dan tidak bertele-tele.
Menurut Merton (1986), dalam kejadian apapun, jika sudah menetapkan hati untuk
mencapai hasil positif, kemungkinan besar hasil positif yang akan dicapai. Ketika asumsi
negatif sudah digantikan dengan yang positif, maka rasa gembira dan lega dapat
mempercepat pembelajaran.
       Menciptakan asumsi positif tentang belajar dapat dilakukan dengan menata tempat
duduk secara dinamis, menghiasi ruang belajar, atau apa yang ada dalam lingkungan belajar
yang dapat menambah warna, keindahan, minat serta rangsangan belajar peserta didik.
Termasuk dengan kehangatan musik, sebagaimana banyak dilakukan dalam inovasi-inovasi
pembelajaran modern saat ini.
       Ada garis lurus antara tujuan dan manfaat, tetapi tujuan cenderung dikaitkan dengan
apa, sedangkan manfaat dikaitkan dengan “mengapa”. Peserta belajar dapat belajar paling
baik jika mereka tahu mengapa mereka belajar dan dapat menghargai bahwa pembelajaran
mereka punya relevansi dan nilai bagi diri mereka secara pribadi. Orang belajar untuk
mendapatkan hasil bagi diri sendiri. Jika mereka tidak melihat ada hasilnya, mengapa harus
belajar.
       Oleh karena itu, penting sekali untuk sejak awal menegaskan manfaat belajar
sesuatu agar orang merasa terkait dengan topik pelajaran itu secara positif. Dalam banyak
kasus, persiapan pembelajaran dapat dimulai sebelum dimulainya program belajar.
Kerjasama membantu peserta belajar mengurangi stres dan lebih banyak memanfaatkan
energinya untuk belajar. Interaksi sangat penting dalam membangun komunitas belajar. Hal
ini dapat dimulai dengan program tugas kelompok yang dikaitkan dengan pengenalan,
tujuan, manfaat bagi peserta belajar atau penilaian pengetahuan. Upaya belajar benar-
benar bergantung pada peserta belajar dan bukan merupakan tanggung jawab perancang
atau fasilitatornya.
       b. Penyampaian (Presentation)
           Tahap       penyampaian   dalam   siklus   pembelajaran   dimaksudkan    untuk
           mempertemukan peserta belajar dengan materi belajar yang mengawali proses
           belajar secara positif dan menarik. Tahap penyampaian dapat dilakukan dengan
           kegiatan presentasi di kelas. Belajar adalah menciptakan pengetahuan, bukan
           menelan informasi, maka presentasi dilakukan semata-mata untuk mengawali
           proses belajar dan bukan untuk dijadikan fokus utama.
       Tujuan tahap penyampaian adalah membantu peserta belajar menemukan materi
belajar yang baru dengan cara yang menarik, menyenangkan, relevan, melibatkan penca
indra dan cocok untu semua gaya belajar. Hal ini dapat dilakukan melalui uji coba
kolaboratif dan berbagi pengetahuan, pengamatan fenomena dunia nyata, pelibatan
seluruh otak dan tubuh peserta belajar,presentasi interaktif, melalui aneka macam cara
yang disesuaikan dengan seluruh gaya belajar termasuk melalui proyek belajar berdasarkan-
kemitraan dan berdasarkan tim, pelatihan menemukan, atau dengan memberi pengalaman
belajar didunia nyata yang kontekstual serta melalui pelatihan memecahkan masalah.
      c. Latihan (Practice)
         Tahap latihan ini dalam siklus pembelajaran berpengarruh terhadap 70% atau
         lebih pengalaman belajar keseluruhan. Dalam tahap inilah pembelajaran yang
         sebenarnya     berlangsung.    Peranan     instruktur   atau    pendidik    hanyalah
         memprakarsai proses belajar dan menciptaan suasana yang mendukung
         kelancaran pelatihan. Dengan kata lain tugas instruktur atau pendidik adalah
         menyusun konteks tempat peserta belajar dapat menciptakan isi yang bermakna
         mengenai materi belajar yang sedang dibahas. Tujuan tahap pelatihan adalah
         membantu peserta belajar mengintegrasikan dan menyerap pengetahuan dan
         keterampilan baru dengan berbagai cara. Seperti aktifitas pemrosesan, permainan
         dalam belajar, aktifitas pemecahan masalah dan refleksi dan artikulasi individu,
         dialog berpasangan atau kelompok, pengajaran dan tinjauan kolaboratif termasuk
         aktifitas praktis dalam membangun keterampilan lainnya.
      d. Penampilan Hasil (Performance)
         Proses belajar seringkali mengabaikan tahap adahal ini sangat penting disadari
         bahwa tahap ini merupakan satu kesatuan dengan keseluruhan proses belajar.
         Tujuan tahap penampilan hasil ini adalah untuk memastikan bahwa pembelajaran
         tetap melekat dan berhasil diterapkan, membantu peserta belajar menerapkan
         danmemperluas pengetahuan atau keterampilan baru mereka pada pekerjaan
         sehingga hasil belajar akan melekat dan penampilan hasil akan terus meningkat
         seperti; penerapan di dunia maya dalam tempo segera, penciptaan dan
         pelaksanaan rencana aksi, dan aktifitas penguatan penerapan. Setelah mengalami
         tiga tahap pertama dalam siklus pembelajaran, kita perlu memastikan bahwa
         orang melaksanakan pengetahuan dan keterampilan baru mereka pada pekerjaan
         mereka, nilai-nilai nyata bagi diri mereka sendiri, organisasi dan klien organisasi.
       Persoalannya dalam dunia pendidikan di persekolahan banyak yang menyalahi
proses ini. Padahal jika salah satu dari empat tahap tersebut tidak ada, maka belajarpun
cenderung merosot atau terhenti sama sekali. Pembelajaran akan terganggu jika peserta
belajar tidak terbuka dan tidak siap untuk belajar, tidak menyadari manfaat belajar untuk
diri sendiri, tidak memiliki minat, atau terhambat oleh rintangan belajar. Hal yang sama
terjadi jika gaya belajar pribadi seseorang tidak diperhatikan dalam tahap penyampaian.


Teori Belajar dan Pembelajaran E-Learning
A. Latar Belakang
       Inti proses belajar adalah perubahan pada diri individu dalam aspek pengetahuan,
sikap, keterampilan, dan kebiasaan sebagai produk dan interaksinya dengan lingkungan.
Belajar adalah proses membangun pengetahuan melalui transformasi pengalaman. Dengan
kata lain suatu proses belajar dapat dikatakan berhasil bila dalam diri individu terbentuk
pengetahuan, sikap, keterampilan, atau kebiasaan baru yang secara kualitatif lebih baik dari
sebelumnya. Proses belajar dapat terjadi karena adanya interaksi antara individu dengan
lingkungan belajar secara mandiri atau sengaja dirancang. Orang yang belajar mandiri secara
individual dikenal sebagai otodidak, sedangkan orang yang belajar karena dirancang dikenal
sebagai pembelajaran formal. Proses belajar sebagian besar terjadi karena memang sengaja
dirancang. Proses tersebut pada dasarnya merupakan sistem dan prosedur penataan situasi
dan lingkungan belajar agar memungkinkan terjadinya proses belajar. Sistem dan prosedur
inilah yang dikenal sebagai proses pembelajaran aktif.
       Proses pembelajaran yang baik adalah proses pembelajaran yang memungkinkan
para pembelajar aktif melibatkan diri dalam keseluruhan proses baik secara mental maupun
secara fisik. Model proses ini dikenal sebagai pembelajaran aktif atau pembelajaran
interaktif dengan karakteristiknya sebagai berikut: (1) adanya variasi kegiatan klasikal,
kelompok dan perorangan; (2) dosen berperan sebagai fasilitator belajar, nara sumber dan
manajer kelas yang demokratis; (3) keterlibatan mental (pikiran, perasaan) siswa tinggi; (4)
menerapkan pola komunikasi yang banyak; (4) suasana kelas yang fleksibel, demokratis,
menantang dan tetap terkendali oleh tujuan; (6) potensial dapat menghasilkan dampak
intruksional dan dampak pengiring lebih efektif; (7) dapat digunakan di dalam atau di luar
kelas/ruangan.
       Dalam Proses Belajar aktif seharusnya ditunjang juga dengan memperhatikan E-
learning ( Pembelajaran dengan Elektronoik), karena dapat membantu jalannya
pembelajaran aktif , maka dari situlah kami mengangkat topik pembahasan tentang e-
learning dan active learning ( belajar aktif dan didalam penerapannya .
B. Pengertian E-Learning
       Banyak pakar yang menguraikan definisi e-learning dari berbagai sudut pandang.
Definisi yang sering digunakan banyak pihak adalah sebagai berikut:
   a. E-learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan
       tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media internet, intranet
       atau media jaringan komputer lain [Hartley, 2001].
   b. E-learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk
       mendukung belajar mengajar dengan media internet, jaringan komputer, maupun
       komputer standalone .
   c. E-learning adalah semua yang mencakup pemanfaatan komputer dalam menunjang
       peningkatan kualitas pembelajaran, termasuk di dalamnya penggunaan mobile
       technologies seperti PDA dan MP3 players. Juga penggunaan teaching materials
       berbasis web dan hypermedia, multimedia CD-ROM atau web sites, forum diskusi,
       perangkat lunak kolaboratif, e-mail, blogs, wikis, computer aided assessment,
       animasi pendidkan, simulasi, permainan, perangkat lunak manajemen pembelajaran,
       electronic voting systems, dan lain-lain. Juga dapat berupa kombinasi dari
       penggunaan media yang berbeda [Thomas Toth, 2003; Athabasca University,
       Wikipedia].
       Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem atau konsep pendidikan yang
memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar dapat disebut sebagai
suatu e-learning. E-learning dalam arti luas bisa mencakup pembelajaran yang dilakukan di
media elektronik (internet) baik secara formal maupun informal. E-learning secara formal
misalnya adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang telah
diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak terkait (pengelola
e-learning dan pembelajar sendiri). Pembelajaran seperti ini biasanya tingkat interaksinya
tinggi dan diwajibkan oleh perusahaan pada karyawannya atau pembelajaran jarak jauh
yang dikelola oleh universitas dan perusahaan-perusahaan (biasanya perusahaan konsultan)
yang memang bergerak dibidang penyediaan jasa e-learning untuk umum.
       E-learning bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih
sederhana, misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi,
organisasi dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau
keterampilan tertentu pada masyarakat luas (biasanya tanpa memungut biaya).
Kategori E-Learning
       Dari puluhan atau bahkan ratusan definisi yang muncul dapat kita simpulkan bahwa
sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses
belajar mengajar dapat disebut sebagai suatu e-Learning.
       Keuntungan menggunakan e-learning diantaranya :
• menghemat waktu proses belajar mengajar,
• mengurangi biaya perjalanan,
• menghemat biaya pendidikan secara keseluruhan (infrastruktur, peralatan, buku),
• menjangkau wilayah geografis yang lebih luas,
• melatih pelajar lebih mandiri dalam mendapatkan ilmu pengetahuan.
       Untuk menyampaikan pembelajaran, e-learning selalu diidentikkan dengan
penggunaan internet. Namun sebenarnya media penyampaian sangat beragam dari
internet, intranet, cd, dvd, mp3, PDA, dan lain-lain. Penggunaan teknologi internet pada e-
learning umumnya dengan pertimbangan memiliki jangkauan yang luas. Ada juga beberapa
lembaga pendidikan dan perusahaan yang menggunakan jaringan intranet sebagai media e-
learning sehingga biaya yang disiapkan relatif lebih murah.
Pengertian Yang Terkait E-Learning
       Sekilas perlu kita pahami ulang apa e-Learning itu sebenarnya. E-Learning adalah
pembelajaran jarak jauh (distance Learning) yang memanfaatkan teknologi komputer,
jaringan komputer dan/atau Internet. E-Learning memungkinkan pembelajar untuk belajar
melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti
pelajaran/perkuliahan di kelas. E-Learning sering pula dipahami sebagai suatu bentuk
pembelajaran berbasis web yang bisa diakses dari intranet di jaringan lokal atau internet.
Sebenarnya materi e-Learning tidak harus didistribusikan secara on-line baik melalui
jaringan lokal maupun internet, distribusi secara off-line menggunakan media CD/DVD pun
termasuk pola e-Learning. Dalam hal ini aplikasi dan materi belajar dikembangkan sesuai
kebutuhan dan didistribusikan melalui media CD/DVD, selanjutnya pembelajar dapat
memanfatkan CD/DVD tersebut dan belajar di tempat di mana dia berada.
Ada beberapa pengertian berkaitan dengan e-Learning sebagai berikut :
      Pembelajaran jarak jauh.
       E-Learning memungkinkan pembelajar untuk menimba ilmu tanpa harus secara fisik
menghadiri kelas. Pembelajar bisa berada di Semarang, sementara “instruktur” dan
pelajaran yang diikuti berada di tempat lain, di kota lain bahkan di negara lain. Interaksi bisa
dijalankan secara on-line dan real-time ataupun secara off-line atau archieved.
       Pembelajar belajar dari komputer di kantor ataupun di rumah dengan
memanfaatkan koneksi jaringan lokal ataupun jaringan Internet ataupun menggunakan
media CD/DVD yang telah disiapkan. Materi belajar dikelola oleh sebuah pusat penyedia
materi di kampus/universitas, atau perusahaan penyedia content tertentu. Pembelajar bisa
mengatur sendiri waktu belajar, dan tempat dari mana ia mengakses pelajaran.
      Pembelajaran dengan perangkat komputer
       E-Learning disampaikan dengan memanfaatkan perangkat komputer. Pada
umumnya perangkat dilengkapi perangkat multimedia, dengan cd drive dan koneksi Internet
ataupun Intranet lokal. Dengan memiliki komputer yang terkoneksi dengan intranet ataupun
Internet, pembelajar dapat berpartisipasi dalam e-Learning. Jumlah pembelajar yang bisa
ikut berpartisipasi tidak dibatasi dengan kapasitas kelas. Materi pelajaran dapat
diketengahkan dengan kualitas yang lebih standar dibandingkan kelas konvensional yang
tergantung pada kondisi dari pengajar.
      Pembelajaran formal vs. informal
       E-Learning bisa mencakup pembelajaran secara formal maupun informal. E-Learning
secara formal, misalnya adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan
tes yang telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak
terkait (pengelola e-Learning dan pembelajar sendiri). Pembelajaran seperti ini biasanya
tingkat interaksinya tinggi dan diwajibkan oleh perusahaan pada karyawannya, atau
pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh universitas dan perusahaan-perusahaan
(biasanya perusahan konsultan) yang memang bergerak di bidang penyediaan jasa e-
Learning untuk umum. E-Learning bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang
lebih sederhana, misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi,
organisasi dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau
keterampilan tertentu pada masyarakat luas (biasanya tanpa memungut biaya).
      Pembelajaran yang ditunjang oleh para ahli di bidang masing-masing.
       Walaupun sepertinya e-Learning diberikan hanya melalui perangkat komputer, e-
Learning ternyata disiapkan, ditunjang, dikelola oleh tim yang terdiri dari para ahli di bidang
masing-masing, yaitu:
   1. Subject Matter Expert (SME) atau nara sumber dari pelatihan yang disampaikan
   2. Instructional Designer (ID), bertugas untuk secara sistematis mendesain materi dari
       SME menjadi materi e-Learning dengan memasukkan unsur metode pengajaran agar
       materi menjadi lebih interaktif, lebih mudah dan lebih menarik untuk dipelajari
   3. Graphic Designer (GD), mengubah materi text menjadi bentuk grafis dengan gambar,
       warna, dan layout yang enak dipandang, efektif dan menarik untuk dipelajari
   4. Ahli bidang Learning Management System (LMS). Mengelola sistem di website yang
       mengatur lalu lintas interaksi antara instruktur dengan siswa, antarsiswa dengan
       siswa lainnya.
       Di sini, pembelajar bisa melihat modul-modul yang ditawarkan, bisa mengambil
tugas-tugas dan test-test yang harus dikerjakan, serta melihat jadwal diskusi secara maya
dengan instruktur, nara sumber lain, dan pembelajar lain. Melalui LMS ini, siswa juga bisa
melihat nilai tugas dan test serta peringkatnya berdasarkan nilai (tugas ataupun test) yang
diperoleh.
       E-Learning tidak diberikan semata-mata oleh mesin, tetapi seperti juga pembelajaran
secara konvensional di kelas, e-Learning ditunjang oleh para ahli di berbagai bidang terkait.
B. Pengertian Active Learning ( Belajar aktif )
       Seperti banyak istilah yang digunakan untuk menggambarkan belajar atau mengajar,
belajar aktif tidak mudah didefinisikan secara sederhana. Beberapa kutipan definisi ini
menawarkan beberapa gambaran apa yang dipikirkan orang mengenai belajar aktif.
Glasgow 1996 (Doing Science)
       Pembelajar aktif berusaha sungguh sungguh untuk mengambil tanggung jawab yang
lebih besar pada belajarnya sendiri. Mereka mengambil peran yang lebih dinamis dalam
menentukan bagaimana dan apa yang mereka akan ketahui, apa yang seharusnya mereka
bisa lakukan, dan bagaimana mereka akan melakukannya.Peran mereka berkembang lebih
jauh ke pengelolaan pendidikan diri, dan memotivasi diri menjadi kekuatan lebih besar di
belakang belajar.
       Modell and Michael 1993 (Promoting Active Learning in Life Science Classrooms)
Kita mendefinisikan lingkungan belajar aktif adalan suatu lingkungan di mana siswa
didorong secara individual untuk terlibat di dalam proses membangun model mental
mereka sendiri dari informasi yang mereka peroleh.Sebagai tambahan, sebagai bagian dari
prosesbelajar aktif, siswa harus selalu mentes validitas dari model yang sedang dibangun.
         UC Davis TAC Handbook: Belajar aktif adalah suatu pendekatan belajar yang
melibatkan siswa sebagai “gurunya sendiri” . Perlu diingat siswa aktif adalah pendekatan,
bukan metode.
Apa itu Pendekatan Belajar Aktif ?
Belajar Aktif adalah cara pandang yang menganggap belajar sebagai kegiatan membangun
makna/pengertian terhadap pengalaman dan informasi, yang dilakukan oleh si pembelajar,
bukan oleh si pengajar, serta menganggap mengajar sebagai kegiatan menciptakan suasana
yang mengembangkan inisiatif dan tanggung jawab belajar si pembelajar sehingga
berkeinginan terus untuk belajar selama hidupnya dan tidak tergantung pada guru/orang
lain bila mereka mempelajari hal-hal baru.
Pandangan guru seharusnya;Mengangap guru lebih sebagai tukang kebun yang merawat
dan memelihara tanaman dari pada sebagai penuang air yang menuangkan air ke dalam
gelas kosong.Menganggap siswa lebih sebagai tanaman yang memiliki kemampuan untuk
tumbuh sendiri dari pada sebagai gelas kosong yang hanya dapat penuh bila ada yang
mengisi.
Mengapa Perlu Belajar Aktif ?
Paling     sedikit   ada   tiga   alasan     mengapa    belajar   aktif   perlu   diterapkan:
1. Karakteristik Siswa.
      - Rasa ingin tahu yang merupakan modal dasar bagi berkembangnya sikap kritis
      - Imajinasi yang merupakan modal berfikir dan berperilaku kreatif
2. Hakikat belajar
   Belajar adalah proses menemukan dan membangun makna/pengertian oleh si
   pembelajar terhadap informasi dan pengalaman yang disaring melalui persepsi, pikiran,
   dan perasaan si pembelajar. Belajar bukanlah proses menyerap pengetahuan yang sudah
   jadi bentukan guru. Pengetahuan dibangun sendiri oleh si pembelajar.
3. Karakteristik lulusan yang dikehendaki.
Agar mampu bertahan dan berhasil dalam hidup, lulusan yang diinginkan adalah generasi
yang:
- Peka (berarti berpikir tajam, kritis, dan tanggap terhadap pikiran dan perasaan orang lain)
- Mandiri (berarti berani dan mampu bertindak tanpa selalu tergantung pada orang lain),
dan
- Bertanggung jawab berarti siap menerima akibat dari keputusan dan tindakan yang diambil
Bagaimana Suasana Belajar Aktif ?
Suasana belajar aktif adalah suasana belajar mengajar yang membuat siswa melakukan:
1. Pengalaman
        Anak akan belajar banyak melalui berbuat. Pengalaman langsung mengaktifkan lebih
banyak indera daripada hanya melalui mendengarkan. Mengenal benda terapung dan
tenggelam akan lebih mantap bila mencoba sendiri secara langsung daripada hanya
mendengarkan penjelasan guru. Demikian pula untuk hal lainnya.
2. Interaksi
        Belajar akan terjadi dan meningkat kualitasnya bila terjadi suasana interaksi dengan
orang lain. Interaksi dapat berupa diskusi, saling bertanya dan mempertanyakan, saling
menjelaskan, dll. Pada saat orang lain mempertanyakan pendapat kita atau apa yang kita
kerjakan maka kita terpacu untuk berpikir menguraikan lebih jelas lagi sehingga kualitas
pendapat itu lebih baik.
3. Komunikasi
        Pengungkapan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tulisan, merupakan
kebutuhan setiap manusia dalam rangka mengungkapkan dirinyauntuk mencapai kepuasan.
Pengungkapan pikiran, baik dalam rangka mengemukakan gagasan sendiri atau menilai
gagasan orang lain, akan memantapkan pemahaman seseorang tentang apa yang sedang
dipikirkan atau dipelajari.
4. Refleksi
        Bila seseorang mengungkapkan gagasannya kepada orang lain dan mendapat
tanggapan maka orang itu akan merenungkan kembali (refleksi) gagasannya, kemudian
melakukan perbaikan sehingga memiliki gagasan yang lebih mantap. Refleksi dapat terjadi
sebagai akibat dari interaksi dan komunikasi. Umpan balik dari guru atau siswa lain terhadap
kerja seorang siswa, yang berupa pertamyaan menantang (membua siswa berpikir) dapat
merupakan pemicu bagi siswa untuk melakukan refleksi tentang apa yang sedang dipikirkan
atau dipelajar.
Dalam penerapan metode belajar aktif yang benar, siswa dan guru sama-sama aktifnya
        Metode belajar aktif atau sekarang lumrah disebut sebagai metode PAKEM
(pembelajaran kreatif, aktif dan menyenangkan) saat ini mulai dirasakan pentingnya
dikalangan praktisi pendidik. Dikarenakan metode ini agaknya menjadi jawaban bagi
suasana kelas yang kaku, membosankan, menakutkan, menjadi beban dan tidak membuat
betah dan tidak menumbuhkan perasaan senang belajar bagi anak didik. Alih-alih membuat
anak mau menjadi pembelajar sepanjang hayat yang terjadi malah kelas dan sekolah
menjadi momok yang menakutkan bagi siswa.
       Cara belajar siswa aktif adalah merupakan tantangan selanjutnya bagi para pendidik.
Sebab ruh dari KTSP yang diberlakukan sekarang ini adalah pembelajaran aktif. Dalam
pembelajaran aktif baik guru dan siswa sama-sama menjadi mengambil peran yang penting.
Guru sebagai pihak yang;
      merencanakan dan mendesain tahap skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan
       di dalam kelas.
      membuat strategi pembelajaran apa yang ingin dipakai (strategi yang umum dipakai
       adalah belajar dengan bekerja sama)
      membayangkan interaksi apa yang mungkin akan terjadi antara guru dan siswa
       selama pembelajaran berlangsung.
      Mencari keunikan siswa, dalam hal ini berusaha mencari sisi cerdas dan modalitas
       belajar siswa dengan demikian sisi kuat dan sisi lemah siswa menjadi perhatian yang
       setara dan seimbang
      Menilai siswa dengan cara yang tranparan dan adil dan harus merupakan penilaian
       kinerja serta proses dalam bentuk kognitif, afektif, dan skill (biasa disebut
       psikomotorik)
      Melakukan macam-macam penilaian misalnya tes tertulis, performa (penampilan
       saat presentasi, debat dll) dan penugasan atau proyek
      Membuat portfolio pekerjaan siswa.
Siswa menjadi pihak yang;
      menggunakan kemampuan bertanya dan berpikir
      melakukan riset sederhana
      mempelajari ide-ide serta konsep-konsep baru dan menantang.
      memecahkan masalah (problem solving),
      belajar mengatur waktu dengan baik,
      melakukan kegiatan pembelajaran secara sendiri atau berkelompok (belajar
       menerima pendapat orang lain, siswa belajar menjadi team player)
      mengaplikasikan hasil pembelajaran lewat tindakan atau action.
         Melakukan interaksi sosial (melakukan wawancara, survey, terjun ke lapangan,
          mendengarkan guest speaker)
         Banyak kegiatan yang dilakukan dengan berkelompok.
Strategi Pembelajaran Aktif
          Sebagaimana ditegaskan oleh para teoritisi belajar seperti Crow and Crow (1963),
Gagne (1965), dan Hilgard and Bower (1966) dalam Knowles (1990), inti proses belajar
adalah perubahan pada diri individu dalam aspek-aspek pengetahuan, sikap, keterampilan,
dan kebiasaan sebagai produk dan interaksinya dengan lingkungannya. Atau bila kita ambil
Kolb (1986), mengatakan bahwa: “belajar adalah proses membangun pengetahuan melalui
transformasi pengalaman”. Dengan kata lain suatu proses belajar dapat dikatakan berhasil
bila dalam diri individu terbentuk pengetahuan, sikap, keterampilan, atau kebiasaan baru
yang secara kualitatif lebih baik dari sebelumnya. Proses belajar dapat terjadi karena adanya
interaksi antara individu dengan lingkungan belajar secara mandiri atau sengaja dirancang.
Jenis model-model pembelajaran interaktif Prof. Dr. Atwi Suparman, M.Sc. (1997:12)
menjelaskan antara lain:
1)       Model berbagai informasi yang tujuannya menitikberatkan pada proses komunikasi
         dan diskusi melalui interaksi argumentatif yang sarat penalaran. Termasuk ke dalam
         rumpun ini Model Orientasi, Model Sidang Umum, Model Seminar, Model Konferensi
         Kerja, Model Simposium, Model forum, dan Model Panel.
2)       Model Belajar melalui pengalaman yang tujuannya menitikberatkan pada proses
         perlibatan dalam situasi yang memberi implikasi perubahan perilaku yang sarat nilai
         dan sikap sosial. Termasuk ke dalam rumpun ini Model Simulasi, Model Bermain
         Peran, Model Sajian Situasi, Model Kelompok Aplikasi, Model Sajian Konflik, Model
         Sindikat, dan Model Kelompok “T”.
3)       Model pemecahan masalah yang tujuannya menitikberatkan pada proses pengkajian
         dan pemecahan masalah melalui interaksi dialogis dalam situasi yang sarat penalaran
         induktif. Termasuk ke dalam rumpun ini Model Curah Pendapat, Model Riuh Bicara,
         Model Diskusi Bebas, Model Kelompok Okupasi, Model Kelompok Silang, Model
         Tutorial, Model Studi Kasus, dan Model Lokakarya.
         Model kelompok orientasi Situmorang (1997:3) mengatakan bahwa: ”suatu model
pembelajaran melalui pengenalan program dan lingkungan belajar. Dalam pembelajaran
tersebut dibentuk kelompok siswa. Yang dimaksud program meliputi tujuan dan strategi
pencapaiannya, sedangkan linmgkungan belajar meliputi sarana belajar, narasumber, sarana
pendukung, dan termasuk di dalamnya tata tertib yang harus dipatuhi”. Ada tiga
keterampilan dasar mengajar yang dibutuhkan pengajar yaitu keterampilan menjelaskan,
keterampilan bertanya dan keterampilan mengolah kelompok kecil.
      Model Sidang Umum Winataputra (1997:13) menjelaskan bahwa: “istilah teknis
pembelajaran    yang    digunakan    untuk   menunjukkan      suatu   bentuk    prosedural
pengorganisasian interaksi belajar-mengajar yang melibatkan pengajar (guru, pelatih, tutor,
dosen, instruktur, widyaiswara) dan peserta didik (petatar, mahasiswa, siswa)”. Model ini
merupakan bentuk simulatif atau tiruan sidang umum atau dapat pula disebut Sidang
Umum berskala pedagogis kelas. Model ini bertujuan agar peserta didik dapat menyajikan
informasi, memimpin pertemuan, membahas masalah, dan merumuskan kesimpulan atau
mengambil keputusan dalam pertemuan formal. Beberapa keterampilan dasar mengajar
yang perlu dikuasi yaitu keterampilan menjelaskan, keterampilan bertanya, keterampilan
mengadakan variasi, keterampilan mengelola kelas dan ketarampilan memberikan
penguatan.
      Model Seminar Irawan (1997:25) menjelaskan bahwa: “suatu kegiatan belajar
mengajar yang melibatkan sekelompok orang yang mempunyai pengalaman dan
pengetahuan yang mendalam, atau dianggap mempunyai pengalaman dan pengetahuan
mendalam tentang suatu hal, dan membahas hal tersebut bersama-sama dengan tujuan
agar setiap peserta dapat saling belajar dan berbagi pengalaman dengan rekannya”.
      Model Konferensi Kerja Tubbs (dalam Wardiani, 1997:37) mengartikan: “sebagai
rangkaian pertemuan yang membahas topik yang menjadi kepedulian berbagai orang atau
kelompok peserta konferensi. Misalnya, wakil-wakil dari berbagai perguruan tinggi
mengadakan konferensi untuk membahas kurikulum, pengabdian pada masyarakat, dan
lain-lain”.
      Model Simposium      Winataputra (1997:49) mengatakan: “merupakan bentuk
pertemuan ilmiah yang resmi”. Dalam pertemuan ini para pembicara menyampaikan
pandangan mengenai suatu topik dari berbagai visi. Dengan cara ini suatu topik
permasalahan dibahas secara meluas sehingga masalah itu terurai secara interdisipliner.
Misalnya masalah pendidikan dibahas dari visi sosial, ekonomi, psikologi, agama, dan
teknologi. Model simposium merupakan kerangka pembelajaran yang memerankan peserta
didik sebagai pakar dalam berbagai bidang untuk berlatih memecahkan suatu topik
problematik. Peserta didik dikondisikan untuk mencoba berbagai ide mengenai sesuatu dari
visi masing-masing.
     Model Forum dipakai sebagai istilah teknis pembelajaran untuk menunjukkan suatu
bentuk prosedural pengorganisasian interaksi belajar mengajar klasikal yang melibatkan
pengajar dan peserta didik dalam konteks pembahasan masalah. Model ini dapat bersifat
bentuk nyata (real) bila masalah yang dibahas memang benar-benar merupakan masalah
yang dihadapi peserta didik.
     Diskusi Panel merupakan kerangka konseptual yang digunakan oleh pengajar dalam
mengorganisasikan interaksi belajar mengajar dalam konteks pembahasan masalah
kontroversial di lingkungannya. Model ini dapat dilakukan dalam bentuk real atau dalam
bentuk simulatif, tergantung dari hakekat masalah yang dibahas. Dengan menggunakan
model ini, peserta didik akan dapat menyampaikan informasi atau pendapat mengenai
permasalahan yang kontroversial. Proses ini akan mengkondisikan peserta didik untuk
berpikir secara kritis dan bersikap toleran terhadap pendapat orang lain yang berbeda.
     Model Simulasi diartikan sebagai kegiatan pembelajaran yang memberi kesempatan
kepada siswa untuk meniru satu kegiatan atau pekerjaan yang dituntut dalam kehidupan
sehari-hari, atau yang berkaitan dengan tugas yang akan menjadi tanggung jawabnya jika
kelak siswa sudah bekerja. Misalnya, simulasi mengajar, simulasi menolong orang sakit,
simulasi mengatasi perampokan, atau simulasi pengaturan ruang. Dengan demikian,
simulasi sebagai salah satu model pembelajaran merupakan peniruan pekerjaan yang
menuntut kemampuan tertentu dari siswa sesuai dengan kurikulum yang ditetapkan.
Simulasi bertujuan untuk memberi kesempatan berlatih menguasai keterampilan tertentu
melalui situasi buatan sehingga siswa terbebas dari resiko pekerjaan berbahaya.
       TUGAS BELAJAR DAN PEMBELAJARAN




             RANGKUMAN BAB I – BAB VI




                       OLEH:

              NAMA     : DONY AKTANI

              NIM      : 57249
              DOSEN    : Dra. ZULIARNI




KURIKULUM TEKNOLOGI PENDIDIKAN KONSENTRASI TIK
           FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
          UNIVERSITAS NEGERI PADANG
                      2011

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:2200
posted:11/11/2011
language:Indonesian
pages:22