Embed
Email

kumpulan makalah mag juli 2008

Document Sample
kumpulan makalah mag juli 2008
Shared by: HC111110223557
Categories
Tags
Stats
views:
77
posted:
11/10/2011
language:
Indonesian
pages:
107
Kelompok I









DOSEN PENGASUH :

DR. Johanes, SE, M.Si

Novita Sari, SE



Kelompok 3:

1) AZHAR MUNANDAR C1B006004

2) DIAS MARLIANDA C1B006024

3) RINI NOPRIYANTI C1B006022

4) THIRTA CEMPAKAPURI C1B006014





JURUSAN Manajemen

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS JAMBI

2008



DAFTAR ISI



Halaman

DAFTAR ISI .................................................................................................... 1



BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 2



1.2 Tujuan Penulisan ................................................................................... 2



1.3 Manfaat Penulisan ................................................................................. 2



BAB II. ISI dan Pembahas





1. Komoditi Kedelai ..................................................................................... 3



2. Prospek Kedelai dari Sisi Produksi ......................................................... 3



3. Prospek Kedelai dari Sisi Konsumsi ........................................................ 5



4. Prospek Kedelai dari Sisi Permintaan ...................................................... 6



5 Permasalahan dalam Komoditi Kedelai .................................................... 7



6. Subsistem Yang Berkaitan Dengan Agribisnis ........................................ 8



7. Subsistem Yang Berperan ........................................................................ 12



8. Misi Pengembangan Komoditi Kedelai ................................................... 12



9. Potensi Ekspor ......................................................................................... 15



10. Atribut Kualitas ....................................................................................... 16



BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN



3.1 Kesimpulan ........................................................................................... 18



3.2 Saran ..................................................................................................... 19



DAFTAR PUSTAKA









BAB 1

PENDAHULUAN



1.1. Latar Belakang



Kedelai atau kacang kedelai adalah salah satu tanaman polong-polongan yang

menjadi bahan dasar banyak makanan Timur Jauh seperti kecap, tahu dan tempe. Kedelai

yang dibudidayakan sebenarnya terdiri dari paling tidak dua spesies: Glycine max

(disebut kedelai putih, yang bijinya bisa berwarna kuning, agak putih, atau hijau) dan

Glycine soja (kedelai hitam, berbiji hitam). G. max merupakan tanaman asli daerah Asia

subtropik seperti Tiongkok dan Jepang selatan, sementara G. soja merupakan tanaman

asli Asia tropis di Asia Tenggara.Kedelai merupakan sumber utama protein nabati dan

minyak nabati dunia. Penghasil kedelai utama dunia adalah Amerika Serikat meskipun







Manajemen Agribisnis “Karet” 2

kedelai praktis baru dibudidayakan masyarakat di luar Asia setelah 1910.Di Indonesia,

kedelai menjadi sumber gizi protein nabati utama, meskipun Indonesia harus mengimpor

sebagian besar kebutuhn kedelai. Ini terjadi karena kebutuhan Indonesia yang tinggi akan

kedelai putih. Kedelai putih bukan asli tanaman tropis sehingga hasilnya selalu lebih

rendah daripada di Jepang dan Tiongkok. Pemuliaan serta domestikasi belum berhasil

sepenuhnya mengubah sifat fotosensitif kedelai putih. Di sisi lain, kedelai hitam yang

tidak fotosensitif kurang mendapat perhatian dalam pemuliaan meskipun dari segi

adaptasi lebih cocok bagi Indonesia



1.2. Tujuan



Tujuan penyusunan makalah ini agar pembaca mengetahui bahwa tanaman Kedelai

merupakan tanaman serba guna,dapat dimanfaatkan serta mengetahui nilai ekonomis

yang dihasilkan dari Kedelai. Selain itu, Kedelai yang berkualitas juga mempunyai

potensi dan prospek usaha yang cukup besar dalam peluang dan konsumsinya agar dapat

bersaing dengan komoditi lainnya sehingga dapat meningkatkan nilai ekspor kedelai

dipasar global.



1.2.2 Manfaat

Adapun Manfaat makalah ini adalah :

1. Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti dan menyelesaikan Mata kuliah

Manajemen Agribisnis (MAG173)

2. Sebagai bahan masukan berupa informasi yang jelas bagi pihak – pihak

berkepentingan.

BAB II

PEMBAHASAN





1. KOMODITI “KEDELAI”

Orang Cina merupakan pengguna kacang kedelai sebagai makanan yang pertama.

pada sekitar tahun 1100 BC kacang kedelai telah ditanam di bagian selatan Cina dan

dalam waktu singkat menjadi makanan pokok diet Cina.Kacang kedelai telah

diperkenalkan di Jepang sekitar tahun 100 AD dan meluas ke seluruh negara-negara Asia

secara pesat. Kacang kedelai dikenal di Eropa sekitar tahun 1500 AD. Pada awal abad ke

18, kacang Kedelai telah ditanam secara komersial di Amerika Serikat

Kedelai merupakan sumber utama protein nabati dan minyak nabati dunia.

Penghasil kedelai utama dunia adalah Amerika Serikat meskipun kedelai praktis baru

dibudidayakan masyarakat di luar Asia setelah 1910.

Di Indonesia, kedelai menjadi sumber gizi protein nabati utama, meskipun

Indonesia harus mengimpor sebagian besar kebutuhn kedelai. Ini terjadi karena

kebutuhan Indonesia yang tinggi akan kedelai putih. Kedelai putih bukan asli tanaman

tropis sehingga hasilnya selalu lebih rendah daripada di Jepang dan Tiongkok. Pemuliaan

serta domestikasi belum berhasil sepenuhnya mengubah sifat fotosensitif kedelai putih.

Di sisi lain, kedelai hitam yang tidak fotosensitif kurang mendapat perhatian dalam

pemuliaan meskipun dari segi adaptasi lebih cocok bagi Indonesia.



2. PENTINGNYA PENGAMATAN MULAI DARI:

 DARI SISI PRODUKSI:







Manajemen Agribisnis “Karet” 3

Produksi Menurun Kedelai, menunjukkan penyusutan lahan dan produksi. Pada

2000 luas lahan 824.484 ha kemudian turun menjadi 678.848 ha pada 2001 dan

menyusut lagi pada 2002 menjadi 544.522 ha tahun 2002. Seiring dengan penyempitan

lahan, juga produksi anjlok. Tercatat produksi kedelai pada 2000 mencapai kisaran 1

juta ton dan tahun 2001 sebanyak 827 ribu ton dan pada 2002 hanya bisa sebesar 573

ribu ton.

Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produksi

kedelai tahun 2002 mengalami penurunan sebesar 18,61 persen. Dari 0,83 juta ton biji

kering pada 2001 menjadi 0,67 juta ton biji kering di tahun 2001. Atau mengalami

penurunan sebesar 0,15 juta ton biji kering. Penurunan ini karena turunnya luas panen

kedelai sekitar 19,79 persen atau 0,13 juta hektare. Di sisi lain kebutuhan pangan

cenderung meningkat 2,5-4% sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Kebutuhan

kedelai pada tahun 2003 masing-masing berjumlah 1,95 juta ton, 3 juta ton, dan

Melihat data produksi akan kebutuhan kedelai pada tahun 2003 terlihat bahwa terjadi

defisit untuk komoditas kedelai 1,3 juta ton Defisit kedelai ini diatasi dengan cara

mengimpor. Harga kedelai saat ini mencapai kisaran Rp3500/kg . Dengan jumlah

penduduk yang besar sekitar 216 juta jiwa pada tahun 2003 dan laju pertumbuhan

1.35% per tahun, maka kebutuhan kedelai akan semakinbesar di masa mendatang. Pada

tahun 2005 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan akan mencapai 220.6 juta jiwa,

dan tahun 2010 sebesar 236 juta.

Apabila kemampuan produksi kedelai nasional tidak dapat mengikuti

peningkatan kebutuhannya, maka Indonesia akan semakin tergantung pada

impor yang berdampak membahayakan ketahanan nasional.

Negara importir utama untuk komoditi kedelai ke Indonesia adalah Amerika

Serikat, dengan rata – rata share impor dari tahun 1999 – 2004 sebesar 54% dari

seluruh impor kedelai Indonesia atau 1,42 juta ton per tahun. India menempati posisi

kedua dengan rata – rata share sebesar 19% (sekitar 491,935,245 kg per tahun)

Market share Negara importir



OTHERS MALAYSIA

3% ARGENTINA

2%

10%

12%

BRAZIL









INDIA

UNITED 19%

STATES

54%









Kedelai, perkembangan produksinya dapat dibagi dalam dua periode besar, yaitu

pertumbuhan yang menurun dan stagnant. Pertumbuhan menurun terjadi selama 1990-

2000. Produksi rata-rata mencapai 1,4 juta ton dan menurun sebesar 3,6 %/Th. Produksi

stagnant terjadi pada 2001-2006, produksi menurun drastis dari periode sebelumnya dan

bergerak lambat pada angka 742 ton. Pertumbuhan produksi pun demikian rendah, hanya

0,4 %/Th. Pertumbuhan produksi tidak sejalan dengan gencarnya program bangkit

kedelai. Persentase produksi terhadap kedelai dunia mengecil .



Tabel . Perkembangan Produksi Kedelai Nasional dan Dunia Tahun 1990 – 2006

Tahun Produksi Kedelai (Ton)



Indonesia Dunia Persentase



1990 1.487.433 108.464.511 1,37



1991 1.555.453 103.320.158 1,51







Manajemen Agribisnis “Karet” 4

1992 1.869.713 114.460.616 1,63



1993 1.708.530 115.176.710 1,48



1994 1.564.847 136.483.471 1,15



1995 1.680.010 126.997.618 1,32



1996 1.517.180 130.223.250 1,17



1997 1.356.891 144.418.185 0,94



1998 1.305.640 160.103.858 0,82



1999 1.382.848 157.796.852 0,88



2000 1.018.000 161.400.626 0,63



2001 826.932 177.923.563 0,46



2002 673.056 181.815.725 0,37



2003 671.600 187.514.812 0,36



2004 723.483 206.289.954 0,35



2005 808.353 214.909.669 0,38



2006 749.038 221.500.938 0,34



Sumber: BPS diolah

Kendala:

Kini rata-rata produktivitas kedelai nasional baru mencapai 1,3 ton/ha dengan

kisaran 0,6-2,0 ton/ha di tingkat petani, sementara di tingkat penelitian mencapai 1,73,0

ton/ha, beragam tergantung pada kondisi Iahan/lingkungan. Senjang produktivitas yang

besar tersebut menunjukkan peluang peningkatan produksi melalui peningkatan

produktivitas di tingkat petani. Penyebab atas rendahnya produktivitas kedelai petani

adalah tingkat penerapan teknologi yang masih rendah, di antaranya penggunaan benih

bermutu varietas unggul yang masih rendah, serta teknik budidaya (populasi tanaman,

ameliorasi lahan, pemupukan, pengelolaan air) dan pengendalian organisme pengganggu

tanaman (hama, penyakit, gulma) yang tidak optimal..Walaupun telah banyak yang

menanam varietas unggul, namun secara umum benihnya belum berkualitas, penggunaan

benih bermutu baru sekitar 10%, dan yang bersertifikat hanya sekitar 3 persen saja.



Solusi Strategi Peningkatan Produksi

Beberapa strategi penting untuk menjamin keberhasilan peningkatan produksi kedelai

nasional ialah:

1. Perbaikan Harga

2. Pemanfaatan Potensi Lahan

3. Intensifikasi Pertanaman

4.Perbaikan Proses Produksi

5. Konsistensi Program dan Kesungguhan Aparat





DARI SISI KOMSUMSI:







Manajemen Agribisnis “Karet” 5

Indonesia merupakan salah satu negara pengkonsumsi kedelai terbesar di dunia.

Olahan pangan asal kedelai dominan di Indonesia adalah tahu dan tempe. Komoditas

kedelai saat ini tidak hanya diposisikan sebagai bahan pangan dan bahan baku industri

pangan, namun juga ditempatkan sebagai bahan makanan sehat dan baku industri non-

pangan. Pengaruh teori permintaan dalam komsumsi komoditi kedelai

Dalam teori permintaan bahwa pada saat harga naik maka permintaan akan turun

dan sebaliknya apabila harga turun maka permintaan akan naik.

Dalam kenyatanya teori tesebut hanya sebagai teori dan hanya pada produk-

produk tertentu yang dapat mengunakan teori tersebut.berbeda dengan komoditi kedelai

walau pun harga kedelai naik konsumen tetap akan membeli uintuk memenuhi kebutuhan

sehari-hari. Itu didukung oleh kegiatan produksi kedelai yang berbanding terbalik oleh

konsumsi kedelai.Kacang kedelai bagi industri pengolahan pangan di Indonesia banyak

digunakan sebagai bahan baku pembuatan tahu, tempe dan kecap dan susu. Jenis industri

yang tergolong skala kecil - menengah ini tetapi dalam jumlah sangat banyak

menyebabkan tingginya tingkat kebutuhan konsumsi kedelai.

Lonjakan importasi kedelai disebabkan peningkatan konsumsi produk industri

rumahan seperti tahu, tempe yang jenis makanan ini semakin banyak atau populer

digunakan sebagai pengganti daging.

Adapun manfaat dari kedelai :

 Sumber protein nabati yang terbaik

 Meningkatkan metabolisme tubuh

 Menguatkan sistem imun tubuh

 Menstabilkan kadar gula dalam tubuh

 Melindungi jantung dan menurunkan resiko sakit jantung

 Menambah daya ingat

 Membentuk tulang yang kuat

 Menurunkan tekanan darah dan kolestrol

 Mencegah menopause pada wanita

 Menurunkan kanker payudarah dan menurunkan resiko kanker prostate

 Menghasilkan tenaga dan meningkatkan kesehatan





3. PROSPEK KEDELAI DARI SISI PERMINTAAN



Kedelai memiliki prospek yang cerah untuk dikembangkan secara komersial.

Kedelai merupakan komoditas bahan baku industri pengolahan susu kedelai, tahu dan

tempe yang sekarang menjadi makanan rakyat yang sangat populer, serta produk industri

hasil olahan lainnya. Pertumbuhan permintaan kedelai selama 15 tahun terakhir cukup

tinggi, namun tidak mampu diimbangi oleh produksi dalam negeri, sehingga harus

dilakukan impor dalam jumlah yang cukup besar.



Prospek pengembangan kedelai di dalam negeri untuk menekan impor cukup

baik, mengingat ketersediaan sumberdaya lahan yang cukup luas, iklim yang cocok,

teknologi yang telah dihasilkan, serta sumberdaya manusia yang cukup terampil dalam

usahatani. uktur, serta pengaturan tata niaga dan insentif usaha.



Untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, dengan sasaran peningkatan produksi

15% per tahun, sasaran produksi 60% dicapai pada tahun 2009. dan swasembada baru

tercapai pada tahun 2015. Untuk mendukung upaya khusus peningkatan produksi kedelai

tersebut diperlukan investasi sebesar Rp. 5,09 trilyun (2005-2009) dan 16,19 trilyun

(2010-2025). Dalam periode yang sama, investasi swasta diperkirakan masing-masing

sebesar Rp. 0,68 trilyun dan Rp. 2,45 trilyun.



Kedelai dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan protein murah bagi masyarakat

dalam upaya meningkatkan kualitas SDM Indonesia. Sejalan dengan pertambahan jumlah

penduduk maka permintaan akan kedelai semakin meningkat. Pada tahun 1998 konsumsi





Manajemen Agribisnis “Karet” 6

per kapita baru 9 kg/tahun, kini naik menjadi 10 kg/th. Dengan konsumsi perkapita rata-

rata 10 kg/tahun maka dengan jumlah penduduk 220 juta dibutuhkan 2 juta ton lebih per

tahun. Untuk itu diperlukan program khusus peningkatan produksi kedelai dalam negeri.

Produksi kedelai pernah mencapai 1,86 juta pada tahun 1992 (tertinggi) kemudian turun

terus hingga kini 2007, hanya 0,6 juta ton.





4.PERMASALAHAN DALAM KOMODITI KEDELAI

a. Subsistem Up Stream Agribussiness (Hulu)/Input pertanian

 Industri penghasil sarana/prasarana produksi pertanian belum mampu

memberikan teknologi yang bisa dengan mudah diadopsi oleh petani dengan

harga yang terjangkau.

 Lemahnya modal petani untuk melakukan betanam kedelai

 Pemberian pupuk pada kedelai yang diradsa belum efisien, seperti pemberian

pupuk N yang tinggi bagi kedelai akan menghambat proses fiksasi N oleh bintir

akar.



b. Subsistem On Farm/ produksi pertanian

 Salah satu penyebab tidak bersaingnya harga pokok produksi produk Agribisnis di

Indonesia adalah rendahnya produktivitas Produktivitas kedelai di Indonesia baru

mencapai 1.23 ton per Ha hingga Tahun 2000, jauh dibawah produktivitas kedelai

China yang telah mencapai 1.70 ton kedelai per Ha, dan jika dibandingkan dengan

produktivitas kedelai Amerika yang mencapai 2.56 ton per Ha, kita semakin jauh

tertinggal. Rendahnya produktivitas tersebut menyebabkan biaya per-satuan

produk menjadi tinggi.

 Gairah petani dalam melaksanakan pembudidayaan kedelai menurun ,hal ini

disebabkan karena bercocok kedelai dianggap tidak menguntungkan.

 Kemitraan dibidang agribisnis kedelai belum berkembang baik,masih sangat

terbatas yang berminat untuk mengembangkan usahanya dibidang agribisnis

kedelai



c. Subsistem/ Pengolahan/Agroindustri/hilir

 Impor kedelai murah meningkat.Kebijakan impor kedelai merupakan suatu hal

yang sangat menentukan gairah petani dalam melakukan budidaya kedelai.

Penyebabnya adalah karena harga kedelai impor lebih murah dari pada harga

kedelai dalam negeri. Hal tersebut antara lain disebabkan karena petani luar

negeri (Amerika, Brazil, Argentina, Cina dan lain-lain) bisa memproduksi kedelai

dengan biaya rendah.fluktuasi harga kedelai local dan impor sebagai berikut :









Manajemen Agribisnis “Karet” 7

 Rendahnya mutu kedelai yang dihasilkan petani local



5. SUBSISTEM YANG BERKAITAN DENGAN AGRIBISNIS

 farming system :

1.Pembibitan

1.Teknik Benih

Untuk mendapatkan hasil panen yang baik, maka benih yang digunakan harus

yang berkualitas baik, artinya benih mempunyai daya tumbuh yang besar dan

seragam, tidak tercemar dengan varietas-varietas lainnya, bersih dari kotoran, dan

tidak terinfeksi dengan hama penyakit.



2.Penyiapan Benih

Pada tanah yang belum pernah ditanami kedelai, sebelum benih ditanam harus

dicampur dengan legin, (suatu inokulum buatan dari bakteri atau kapang yang

ditempatkan di media biakan, tanah, kompos untuk memulai aktifitas biologinya

Rhizobium japonicum). Pada tanah yang sudah sering ditanam dengan kedelai

atau kacang-kacangan lain, berarti sudah mengandung bakteri tersebut. Bakteri ini

akan hidup di dalam bintil akar dan bermanfaat sebagai pengikat unsur N dari

udara.



3. Teknik Penyemaian Benih





4. Pemindahan Bibit

Pemindahan bibit yang ceroboh dapat merusak perakaran tanaman,

Penanaman dengan benih yang mempunyai daya tumbuh agak rendah dapat

diatasi dengan cara menanamkan 3-4 biji tiap lubang, atau dengan memperpendek

jarak tanam. Jarak tanam pada penanaman benih berdasarkan tipe pertumbuhan

tegak dapat diperpendek, sebaliknya untuk tipe pertumbuhan agak condong

(batang bercabang banyak) diusahakan agak panjang, supaya pertumbuhan

tanaman yang satu dengan lainnya tidak terganggu



2. Pengolahan

1.Persiapan

Terdapat 2 cara mempersiapkan penanaman kedelai, yakni: persiapan tanpa

pengolahan tanah (ekstensif) di sawah bekas ditanami padi rendheng dan

persiapan dengan pengolahan tanah (intensif). Persiapan tanam pada tanah tegalan







Manajemen Agribisnis “Karet” 8

atau sawah tadah hujan sebaiknya dilakukan 2 kali pencangkulan.



2.Pembentukan Bedengan

Pembuatan bedengan dapat dilakukan dengan pencangkulan ataupun dengan

bajak lebar 50-60 cm, tinggi 20 cm. Apabila akan dibuat drainase, maka jarak

antara drainase yang satu dengan lainnya sekitar 3-4 m.



3. Pengapuran

Tanah dengan keasaman kurang dari 5,5 harus dilakukan pengapuran untuk

mendapatkan hasil tanam yang baik. Pengapuran dilakukan 1 bulan sebelum

musim tanam, dengan dosis 2-3 ton/ha.



3.Teknik Penanaman

1. Penentuan Pola Tanam

Jarak tanam pada penanaman dengan membuat tugalan berkisar antara 20-

40 cm. Jarak tanam yang biasa dipakai adalah 30 x 20 cm, 25 x 25 cm, atau 20 x

20 cm.



2. Pembuatan Lubang Tanam

Jika areal luas dan pengolahan tanah dilakukan dengan pembajakan,

penanaman benih dilakukan menurut alur bajak sedalam kira-kira 5 cm.

Sedangkan jarak jarak antara alur yang satu dengan yang lain dapat dibuat 50-60

cm, dan untuk alur ganda jarak tanam dibuat 20 cm.



3.Cara Penanaman

Sistem penanaman yang biasa dilakukan adalah:Sistem tanaman tunggal

Sistem tanaman campuran, Sistem tanaman tumpangsari.



4. Waktu Tanam

Karena umur kedelai menurut varietas yang dianjurkan berkisar antara 75-

120 hari, maka sebaiknya kedelai ditanam menjelang akhir musim penghujan,

yakni saat tanah agak kering tetapi masih mengandung cukup air.Waktu tanam

yang tepat pada masing-masing daerah sangat berbeda.



4.Pemeliharaan Tanaman

1. Penjarangan dan Penyulaman

Kedelai mulai tumbuh kira-kira umur 5-6 hari. Dalam kenyataannya tidak

semua biji yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, sehingga akan terlihat tidak

seragam. Untuk menjaga agar produksi tetap baik, benih kedelai yang tidak

tumbuh sebaiknya segera diganti dengan biji-biji yang baru yang telah dicampur

Legin atau Nitrogen. Hal ini perlu dilakukan apabila jumlah benih yang tidak

tumbuh mencapai lebih dari 10 %. Waktu penyulaman yang terbaik adalah sore

hari.



2. Penyiangan

Penyiangan ke-1 pada tanaman kedelai dilakukan pada umur 2-3 minggu.

Penyiangan ke-2 dilakukan pada saat tanaman selesai berbunga, sekitar 6 minggu

setelah tanam. Penyiangan ke-2 ini dilakukan bersamaan dengan pemupukan ke-2

(pemupukan lanjutan). Penyiangan dapat dilakukan dengan cara mengikis gulma

yang tumbuh dengan tangan atau kuret.



3.Pembubunan

Pembubunan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak

merusak perakaran tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang

berbahaya.



4.Pemupukan





Manajemen Agribisnis “Karet” 9

Dosis pupuk yang digunakan sangat tergantung pada jenis lahan dan

kondisi tanah. Pada tanah subur atau tanah bekas ditanami padi dengan dosis

pupuk tinggi, pemupukan tidak diperlukan. Pada tanah yang kurang subur,

pemupukan dapat menaikkan hasil. Dosis pupuk secara tepat adalah sebagai

berikut:



5.Pengairan dan Penyiraman

Kedelai menghendaki kondisi tanah yang lembab tetapi tidak becek.

Kondisi seperti ini dibutuhkan sejak benih ditanam hingga pengisian polong. Saat

menjelang panen, tanah sebaiknya dalam keadaan kering. Kekurangan air pada

masa pertumbuhan akan menyebabkan tanaman kerdil, bahkan dapat

menyebabkan kematian apabila kekeringan telah melalui batas toleransinya.

Kekeringan pada masa pembungaan dan pengisian polong dapat menyebabkan

kegagalan panen.



6.Waktu Penyemprotan Pestisida

Penyemprotan pestisida dilakukan pada waktu yang berbeda-beda tergantung

jenis hama dan pola penyerangannya.



 Processing :

Pengumpulan dan Pengeringan

Setelah pemungutan selesai, seluruh hasil panen hendaknya segera

dijemur. Kedelai dikumpulkan kemudian dijemur di atas tikar, anyaman bambu,

atau di lantai semen selama 3 hari.



Penyortiran dan Penggolongan

Terdapat beberapa cara untuk memisahkan biji dari kulit polongan.

Diantaranya dengan cara memukul-mukul tumpukan brangkasan kedelai secara

langsung dengan kayu atau brangkasan kedelai sebelum dipukul-pukul

dimasukkan ke dalam karung, atau dirontokkan dengan alat pemotong padi.



Penyimpanan dan pengemasan

Sebagai tanaman pangan, kedelai dapat disimpan dalam jangka waktu

cukup lama. Caranya kedelai disimpan di tempat kering dalam karung. Karung-

karung kedelai ini ditumpuk pada tempat yang diberi alas kayu agar tidak

langsung menyentuh tanah atau lantai. Apabila kedelai disimpan dalam waktu

lama, maka setiap 2-3 bulan sekali harus dijemur lagi sampai kadar airnya sekitar

9-11 %.



 Marketing :

Dari segi pemasaran, Indonesia belum mampu menerapkan prinsip bauran

pemasaran dengan baik untuk produk Agribisnis kedelai. Harga produk

Agribisnis kedelai Indonesia relatif lebih mahal dibandingkan dengan produk

competitor dari negara lain. Hal ini terkait dengan produktivitas dan efisiensi

produksi Sektor Agribisnis kedelai. Belum lagi harga yang tinggi tersebut tidak

diimnagani dengan kualitas produk yang memadai sesuai dengan nilai kompenasi

yang dibayarkan oleh konsumen.

Sistem distribusi produk Agribisnis yang cenderung menggunakan rantai

pemasaran yang panjang menyebabkan margin pemasaran relatif tinggi dan

kemungkinan kerusakan produk lebih besar. Promosi terhadap produk unggulan

Agribisnis yang dihasilkan Indonesia kurang dilakukan.

kedelai pada umumnya dikonsumsi dalam bentuk produk olahan. Oleh karena itu,

pemasarannya mulai dari daerah sentra produksi ke industri pengolahan melalui

pedagang, dan bermuara ke konsumen akhir. Selanjutnya dipasarkan ke

pengerajin tahu dan tempe. Dalam pemasaran kedelai, petani umumnya berada

dalam posisi tawar yang lemah, sehingga harga kedelai di tingkat petani lebih

banyak ditentukan oleh pedagang. Biasanya kedelai mereka jual kepada pedagang





Manajemen Agribisnis “Karet” 10

yang dapat memberi harga yang baik. Kebanyakan perdagangan dilakukan di

pasar (50%) dan di desa (25-30%). Kira-kira 4-7% petani menjual ke toko di ibu

kota kabupaten jika kedelainya banyak; bila tidak, mereka menjual kepada

tengkulak di desanya.



Kendala :



Berdasarkan survei ini (1983), ada beberapa kesimpulan tentang kendala pemasaran:

1. Produksi kedelai terpusat dalam kantong-kantong kecil yang letaknya saling berjauhan.

2. Pengendalian mutu sulit diterapkan.

3. Musim dan kombinasi usaha menyulitkan penilaian ekonomi.



Solusi :

Peningkatan system produksi yang baik dan lancar dapat memperbaiki system

pemasaran yang ada saat ini. Semakin meningkatknya produksi kedelai maka akan

mengakibatkan lonjakan harga kedelai yang lebih stabil. Hal inilah yang memberikan

peluang usaha yang lebih baik akan komoditas kedelai.







 Penelitian dan pengembangan (R&D)

Pendekatan genetik untuk perbaikan kualitas protein diarahkan untuk mengeliminir

keberadan Betha-congglycinin, sehingga kandungan sistein dan methionin pada biji

kedelai akan meningkat.Kedelai memiliki kandungan isoflavon lebih tinggi dibanding

tanaman bahan pangan lainnya. Isoflavon merupakan senyawa metabolit sekunder yang

berfungsi sebagai antiestrogen, antioksidan dan antikarsinogenik. Isoflavon dari golongan

genistien dan daidzien dinilai paling berperan untuk kesehatan. Teknologi produksi

kedelai meliputi varietas unggul dan teknik pengelolaan lahan, air, tanaman, dan

organisme pengganggu tanaman (LATO). Inovasi teknologi dengan penggunaan benih

bermutu, pembuatan saluran drainase, pemberian air yang cukup, pengendalian hama dan

penyakit dengan sistem PHT, panen dan pasca panen dengan alsintan mampu

meningkatkan produksi kedelai sesuai dengan potensi genetiknya (Anonimous, 2004a).

Oleh karena itu dukungan penelitian terhadap inovasi teknologi peningkatan produksi

kedelai sangat diperlukan.







 Pendukung



Dukungan bagi Sektor Agribinis Indonesia perlu diberikan agar dapat tumbuh dan

berkembang dengan baik dalam bentuk kelembagaan, lembaga pembiayaan yang berbasis

pada karakteristik Agribinis perlu dioptimalkan dan terus dikembangkan fungsinya,

seperti lembaga penjamin dan bank khusus. Paling tidak, memanfaatkan infrastruktur

perbankan yang ada sebagai wadah untuk membangun sistem pendanaan yang dapat

bermanfaat atau dimanfaatkan. Pengembangan lembaga dan program promosi Agribisnis

perlu terus dilakukan, terutama memanfaatkan yang sudah ada. Untuk lebih menduniakan

Agribinis kedelai Indonesia, pemerintah seyogianya mengalokasikan dana yang cukup

untuk membantu melakukan promosi yang luas.



6.SUBSYSTEM YANG PALING BERPERAN

 penelitian dan pengembangan

Upaya perbaikan kedelai sebagai bahan pangan dapat secara bertahap diarahkan pada

peningkatan kuantitas dan kualitas protein serta peningkatan produktivitas.sehingga

komoditi kedelai dalam negeri dapat bersaing dengan kedelai luar negeri.



7.MISI PENGEMBANGAN KOMODITI KEDELAI :







Manajemen Agribisnis “Karet” 11

Misi pengembangan,yaitu : 1) Membina dan mengembangkan kernarnpuan

sumberdaya manusia (SDM) untuk meningkatkan daya saing, 2) Menumbuhkan

keikutsertaan masyarakat khususnya dunia usaha dalam proses pengembangan komoditi

kedelai. 3) Meningkatkan pendapatan petani kedelai .4) Pengembangan atau adanya

pelatihan untuk petani kedelai yang lemah. 5) Meningkatkan pangsa ekspor 6)

Mengarahkan untuk terciptanya pola petani yang efisiensi.



ANALISIS SWOT

A.STRENGTH (Kekuatan)

 Adanya program bangkit kedelai, pengapuran, supra insus, opsus kedelai dan

program gerakan mandiri kedelai yang diupayakan pemerintah untuk

meningkatkan hasil produksi. Departemen Pertanian melaksanakan Program

Bangkit Kedelai 2004 melalui pengembangan pusat pertumbuhan dengan

dukungan dana dekonsentrasi di 20 provinsi pada lahan seluas 14.500 ha.

 Meningkatnya pertumbuhan penduduk serta meningkatkan penduduk untuk

mengkonsumsi kedelai sebagai kebutuhan sehingga kebutuhan akan kedelai

meningkat. Komoditas kedelai saat ini tidak hanya diposisikan sebagai bahan

pangan dan bahan baku industri pangan, namun juga ditempatkan sebagai bahan

makanan sehat dan baku industri non-pangan. Menurut Departemen Pertanian,

total konsumsi kedelai pada tahun 2007 mencapai 2,235 juta ton, pada tahun 2014

meningkat menjadi 2,646 juta ton, dan pada tahun 2021 meningkat lagi menjadi

sekitar 3 juta ton.

 ada program pengembangan usaha kedelai di 30 provinsi dengan luas tanam

577.139 ha serta pengembangan kemitraan pada 12 provinsi dengan 10 mitra

usaha BUMN dan swasta pada areal seluas 250 ribu ha.



B.WEAKNEES (Kelemahan)

 Sarana produksi belum tersedia (benih,pupuk,pestisida) sesuai dengan prinsip 4

tepat yaitu tepat mutu,harga,kualitas dan lokasi.

 Gairah petani untuk melakukan budidaya kedelai menurun disebabkan tanaman

kedelai tidak menguntunggkan.dan kebijakan impor. Dicontohkan pada tahun

2002 biaya produksi yang harus dikeluarkan petani untuk menanam kedelai Rp

2,32 juta/ha, sedangkan pendapatan yang diperoleh hanya Rp 2,8 juta/ha sehingga

keuntungannya hanya Rp 517.000/ha.

 Belum banyaknya keterkaitan swasta untuk mengembangkan usaha agribisnis

kedelai antara lain.

 Ketrampilan dan pengawalan dalam melaksanakan belum optimal alam penerapan

teknologi panen dan banyaknya organisme penganggu tanaman kedelai.

 Komoditas kedelai, hanya sekitar 5% yang menggunakan teknologi baru benih.

lembaga perbenihan yang terkait dalam sistem perbenihan formal belum berperan

secara optimal.

 program intensifikasi maupun ektensifikasi untuk tanaman kacang-kacangan dan

umbi-umbian sekitar 80% belum menggunakan benih sumber varietas unggul

baru yang berkualitas.

 Pertumbuhan kredit ke sektor pertanian relatif rendah dibandingkan dengan sektor

ekonomi lain.



C.OPPURTUNITIES (Peluang)

 Kemajuan teknologi yang tersedia saat ini ,apabila dimanfaatkan di Indonesia

membuka peluang meningkatkan produktivitas kedelai.

 Pemanfaatan lahan yang tidak terpakai sebagai lahan pengembangan kedelai.

 Adanya peluang dalam perbaikan mutu kedelai,dengan pendekatan genetika yang

dilakukan oleh Negara cina,dengan diperlukan program terintegrasi antar disiplin

ilmu dan kelembagaan.







Manajemen Agribisnis “Karet” 12

 Lima BUMN berkomitmen menggenjot peningkatan produksi komoditas kedelai.

Lima BUMN yang melakukan sinergi tersebut adalah Perum Perhutani, PT Sang

Hyang Sri (Persero), PT Pupuk Kujang, PT Petrokimia Gresik, dan PT Pertani

(Persero). Mereka telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk

meningkatkan produksi kedelai nasional di Jakarta, Kamis, 27 Maret 2008.

 Dengan langkanya kedelai impor mulai akhir-akhir ini akibat lonjakan harga

kedelai dunia jelas saja mengakibatkan lonjakan harga kedelai yang sangat

tinggi.di Indonesia. Dengan kata lain, potensi pasar bagi komoditas kedelai di

dalam negeri cukup besar untuk masa mendatang.

 Adanya kebijakan pemerintah, yaitu Departemen Pertanian melalui Program

Revitasisai Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (RPPK) telah menetapkan lima

komoditas pangan utama mendesak untuk diusahakan swa sembada. Kelima

komoditas tersebut adalah beras, jagung, kedelai, gula dan daging sapi.



D. THREATS ( Ancaman )

 Ketersediaan sumber gen,belum tersedianya metode seleksi yang efisiensi dan

biaya untuk seleksi ( bahan kimia ) mahal.

 Terjadinya kekeringan pada lahan pertanian kedelai.

 Banyak nya impor yang dilakukan pemerintah atau swasta sehingga kedelai local

tidak laku dipasaran. Pada tahun 2001, produksi kedelai mencapai 826.932 ton

dan jumlah permintaan mencapai 1,96 juta ton sehingga volume impor

mencapai1,136 juta ton. Pada tahun 2002 diperkirakan terjadi peningkatan sekitar

12 persen.

 Adanya kebijakan pembangunan pertanian yang keliru dari Pemerintah yang lebih

mengutamakan usaha-usaha agrobisnis perkebunan yang berlahan luas seperti

kelapa sawit, disisi lain pembangunan tanaman pangan terbengkalai.

 infrastruktur irigasi pertanian kedelai tidak dibangun bahkan yang sudah ada pun

tidak dipelihara sehingga kuantitas dan kualitasnya menurun, sehingga menjadi

salah satu penyebab turunnya produksi kedelai.





Segmen Pasar kedelai

Kedelai mempunyai banyak kegunaan di Indonesia: konsumsi manusia, pakan ternak,

dan benih. Segmen pasar kedelai sendiri dapat terlihat dari pemanfaatan atau

penggunaan kedelai, seperti:



Makanan Indonesia dari kedelai

Kedelai telah menjadi sumber penting protein, lemak, dan penyedap bagi masyarakat

Asia selama ribuan tahun. Berbagai macam pangan dari kedelai dapat digolongkan dalam

dua kelompok: yang diragikan dan yang tidak diragikan. Peragian makanan melibatkan

mikrobiologi yang cukup canggih, yang merupakan prestasi mengagumkan pada

permulaan sejarah Cina. Produk utama kedelai ragian di Indonesia adalah tempe, oncom,

tauco, dan kecap. Produk-produk yang bukan ragian meliputi tahu, tauge, susu kedelai,

kedelai goreng (sebagai kudapan), kedelai rebus (juga sebagai kudapan), dan kedelai

yang dimasak sebagai sayur atau bahan sop.









Produk-produk ragian



Oncom juga merupakan hasil peragian yang dibuat dari bungkil kedelai atau kacang

tanah. Di Jawa Barat oncom populer sebagai pengganti daging atau sebagai kudapan.

Awal pembuatannya adalah penambahan pati pada bungkil kedelai. Pati akan

meningkatkan kegiatan jamur Neurospora. Bungkil itu dikukus, didinginkan, dan







Manajemen Agribisnis “Karet” 13

kemudian diinokulasi dengan laru oncom (Neurospora sitophila) dan dibiarkan

selama satu hari.



Kecap adalah saus yang dibuat dari cairan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan

hewan dicampur dengan garam, gula, dan bumbu. Kecap kedelai dibuat dari cairan

kedelai yang diragikan, dicampur dengan garam dan gula. Kadang-kadang

ditambahkan pula bahan-bahan lain seperti bumbu-bumbu, sari ikan, dan kaldu.

Kecap dipakai sebagai penyedap masakan dan sangat populer di Indonesia..



Produk-produk bukan ragian



Tahu adalah produk kedelai tradisional yang tidak diragikan, yang telah dikonsumsi

selama ribuan tahun di Asia.Tahu merupakan endapan protein yang diperoleh dari air

sari kedelai gilingan.Biasanya tahu dibuat dari kedelai kuning atau hijau.. Produk

lainya yang buka ragi adalah Tauge yang dibuat dengan merendam kedelai dalam air

dan membiarkan kedelai yang lembab itu dalam ruang gelap pada suhu 22°-23°C.

Kedelai mulai berkecambah dalam 24 jam, dan dapat dipanen setelah 5 hari.Hanya

satu pabrik di Indonesia (Sari Husada, di Yogyakarta) yang membuat susu

kedelai.Produk ini diperkaya dengan susu skim kering (yang kepala susunya diambil),



Industri pakan ternak

Pertumbuhan ekonomi Indonesia telah lebih meningkat permintaan akan hasil-hasil

peternakan seperti telur, daging dan produk susu. Pada gilirannya, ini mendorong

perkembanganindustri pakan ternak. Bungkil kedelai merupakan unsur penting dalam

pakan ternak; dan karena produksi kedelai dalam negeri terbatas jumlahnya. Indonesia

terpaksa mengimpor dalam jumlah besar



Perkembangan Penggunaan Kedelai antara Tahun 1990-2001



Tahun Untuk Bahan Pakan Untuk Konsumsi

(000 ton) (kg/kapita/tahun)



1990 161 10,5

1991 182 11,1

1992 231 12.6

1993 230 11,8

1994 210 11,2

1995 191 11,0

1996 169 11,1

1997 145 9,0

1998 225 6,3

1999 284 11,7

2000 154 10,4

2001 133 8,8

Perkembangan - 0,8 -2,18

(%/thn)



Sumber : Neraca Bahan Makanan berbagai tahun, yang disitir Ariani (2003).





8. BAURAN PEMASARAN (4 P)

 Product

Kedelai merupakan tumbuhan serbaguna. Pemanfaatan utama kedelai adalah dari

biji. Biji kedelai kaya protein dan lemak serta beberapa bahan gizi penting lain,

misalnya vitamin (asam fitat) dan lesitin. Olahan biji dapat dibuat menjadi









Manajemen Agribisnis “Karet” 14

tahu (tofu), bermacam-macam saus penyedap (salah satunya kecap, yang aslinya

dibuat dari kedelai hitam), tempe kedelai (baik bagi orang yang sensitif laktosa),

tepung kedelai, minyak (dari sini dapat dibuat sabun, plastik, kosmetik, resin, tinta,

krayon, pelarut, dan biodiesel.



 Price

Harga kedelai local berfluktuasi.harga kedelai local yang tertinggi sebelum terjadi

kenaikan yaitu mencapai 4000/kg sedangkan harga kedelai dunia rata-rata US$

199/MT Dan pada saat ini harga kedelai di pasar dunia yang mencapai US$ 600 per

ton, diakibatkan oleh orientasi pembangunan yang salah. Isu biofuel yang

digembar-gemborkan selama ini telah menyebabkan harga bahan baku seperti

kedelai dan CPO meningkat karena permintaan industri pengolahan biofuel

terhadap bahan-bahan pangan meningkat.



 Promotion

Pemasaran hasil panen Kedelai dapat melalui Cooperative atau ”Coop”, atau dapat

langsung kepada pedagang besar ,Kampanye,kerjasama berbagai event penjualan

produk olahan kepada anak sekolah dan kelompok sasaran lainnya.



 Place

Di Indonesia, saat ini kedelai banyak dipasarkan seperti di pesisir Utara Jawa

Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Utara (Gorontalo), Lampung, Sumatera

Selatan dan Bali sedangkan untuk ekspor kedelai dengan negara tujuan yaitu

malasyia,singpura,Australia.



9.POTENSI EKSPOR

Potensi ekspor untuk komoditi kedelai ada,jika pemerintah mengambil kebijakan yang

mencakup :

 Kemudahan prosedur untuk mengaskes modal kerja bagi petani dan swsta yang

bergerak dalam bidang agribisnis kedelai.

 Percepatan alih teknologi /diseminasi hasil penelitian dan percepatan penerapan

teknologi di tiap melalui revitalisasi tenaga penyuluhan pertanian kedelai.

 Pembinaan/pelatihan produsen/penangkaran benih dalam aspek teknis

 Mendorong /membina pengembangan usaha kecil dalam subsistem (pengolahan

tahu,tempe,kecap,tauco,susu) untuk menghasilkan produk olahan yang bermutu

tinggi .

 Kebijakan makro untuk mendorong pengembangan kedelai didalam negeri

dengan memberlakukan impor yang cukup tinggi.

 Pengembangan prasarana pertanian secara umum yang mendorong

pengembangan kedelai dalam negeri.

 Kebijakan alokasi sumberdaya (SDM,anggaran) yang memadai dalam kegiatan

penelitian dan pengembangan (R&D) dalam rangka menghasilkan tepat guna.



Perkembangan Neraca Perdagangan Komoditas Kedelai

Tahun 2000 – 2004

NO Uraian Volume (ton) Pertumbuhan

2000 2001 2002 2003 2004 2000-2003 (%)



1 Ekspor 521 1.188 235 169 74 -37,93

2 Impor 1.277.685 1.136.419 1.365.252 1.192.717 651.979 14,03



Ditinjau dari sisi kontinuitas di negara tujuan ekspor, tampak Indonesia mampu

memelihara ekspor secara continue. Vietnam yang tadinya sebagai Negara utama tujuan

Ekspor pada tahun 2000 – 2001, sama sekali bukan lagi tujuan ekspor sejak tahun 2002.

ekspor olahan kedelai mencapai 1,2 ribu ton menurun secara drastic hingga tahun 2004.







Manajemen Agribisnis “Karet” 15

Bedasarkan data-data tersebut jelaslah bahwa sebenarnya Indonesia mempunyai potensi

besar untuk menjadi Eksportir kedelai ataupun bahan makanan dari kedelai. Sekarang

tergantung dari berbagai pihak untuk lebih meningkatkan produktivitas kedelai, karn

unsur utama keterlambatan perkembangan ekspor kedelai adalah minimnya produksi

kedelai di tanah air. Salah satu peningkatan produksi dapat dilakukan dengan

Swasembada Kedelai. Pemerintah yang mulai menggalakkan Swasembada kedelai harus

lebih jeli melihat peluang ini.



10. ATRIBUT KUALITAS KOMODITI KEDELAI

- tuntutan atribut produk misalnya kesesuaian dengan ISO series (ecolabeling,

ecoefficiency), dll sesuai dengan tuntutan pasar

- Pemerintah, untuk mengantisipasi adanya kenyataan tersebut telah mencanangkan

program Bangkit Kedelai, yang dicanangkan mulai tahun 2006 sampai tahun

2010. dalam kegiatan koordinasi pengembangan kedelai IP-300, Implementasi

program bangkit kedelai, akan ditempuh melalui 2 sub program yaitu pertama sub

program peningkatan mutu intensifikasi melalui 3 rancang bangun yaitu

pengembangan pusat pertumbuhan, pengembangan usaha dan pengembangan

kemitraan.

- Standar mutu kedelai di Indonesia tercantum dalam Standar Nasional Indonesia

SNI 01-3922-1995.









Klasifikasi dan Standar Mutu

a) Syarat umum



1. Bebas hama dan penyakit.

2. Bebas bau busuk, asam, atau bau asing lainnya.

3. Bebas dari bahan kimia, seperti: insektisida dan fungisida.

b) Syarat khusus

1. Kadar air maksimum (%): mutu I=13; mutu II=14; mutu III=14 dan mutu

IV=16.

2. Butir belah maksimum (%): mutu I=1; mutu II=2; mutu III=3 dan mutu

IV=5.

3. Butir warna lain maksimum (%): mutu I=1; mutu II=3; mutu III=5 dan

mutu IV=10.

4. Butir rusak maksimum (%): mutu I=1; mutu II= 4; mutu III=3 dan mutu

IV=5.

5. Kotoran maksimum (%): mutu I=0; mutu II=1; mutu III=2 dan mutu IV

=3

6. Butir keriput maksimum (%): mutu I=0; mutu II=1; mutu III=3 dan mutu

IV=5.





11. Pembiayaan



Pembiayaan di sector kedelai sebenarnya telah menjadi program permerintah yang

dikoordinasi oleh Departemen Pertanian dan Departemen keuangan. Program

pembiayaan kedelai ini termasuk kedalam program Kredit Ketahanan Pangan dan

Energi (KKP-E). Kegiatan usaha yang dapat didanai melalui KKP-E bisa dilakukan

secara mandiri atau bekerjasama dengan mitra usaha, antara lain meliputi: i)

Pengembangan padi, jagung, kedelai, ubi jalar, tebu, ubi kayu, kacang tanah, dan

sorgum; ii) Pengembangan tanaman holtikultura antara lain berupa: cabe, bawang

merah, dan kentang; dan iii) Pengadaan pangan berupa: gabah, jagung, dan kedelai.

Selain itu, pendanaan KKP-E yang berasal dari Bank Pelaksana dapat diberikan

kepada Peserta KKP-E melalui kelompok Tani dan/atau Koperasi.





Manajemen Agribisnis “Karet” 16

Fitur Kredit



 Jangka waktu max. 1 tahun.

 Limit kredit max. Rp 15 juta untuk individu dan max. Rp 500 juta untuk koperasi.

 Tujuan penggunaan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja sbb :

o Intensifikasi padi, jagung, kedelai, ubi kayu dan ubi jalar

o Ekstensifikasi budidaya tebu, peternakan dan pengadaan pangan.

 Penarikan dilakukan sekaligus pada saat awal musim tanam.









Manfaat :



 Mendapat bimbingan teknis dan manajemen dari Petugas Penyuluh Pertanian

Lapangan, Dinas Pertanian, Departemen Pertanian.

 Suku bunga yang ringan.

 Pembiayaan dapat diberikan secara kelompok.

 Dijamin dengan asuransi kredit dari PT Askrindo (Persero), khusus untuk tujuan

usaha intensifikasi.



Jangka waktu KKP-E ditetapkan paling lama 5 tahun. dengan subsidi bunga dari

pemerintah sebesar 7-8 persen per tahun;









Manajemen Agribisnis “Karet” 17

BAB III

PENUTUP



3.1. Kesimpulan



Adapun kesimpulan yang didapat dari pembahasan pada BAB II adalah sebagai

berikut :

1. Apabila kemampuan produksi kedelai nasional tidak dapat

mengikuti peningkatan kebutuhannya, maka Indonesia akan

semakin tergantung pada impor yang berdampak membahayakan

ketahanan nasional.



2. Beberapa strategi penting untuk menjamin keberhasilan

peningkatan produksi kedelai nasional ialah:

1. Perbaikan Harga

2. Pemanfaatan Potensi Lahan

3. Intensifikasi Pertanaman

4. Perbaikan Proses Produksi

5. Konsistensi Program dan Kesungguhan Aparat



3. Peningkatan system produksi yang baik dan lancar dapat

memperbaiki system pemasaran yang ada saat ini. Semakin

meningkatknya produksi kedelai maka akan mengakibatkan

lonjakan harga kedelai yang lebih stabil. Hal inilah yang

memberikan peluang usaha yang lebih baik akan komoditas

kedelai.



4. Kemampuan ekspor kedelai nasional menurun drastis sejak tahun

2001 hingga 2004 ini mencapai 1,2 ribu ton. unsur utama

keterlambatan perkembangan ekspor kedelai adalah minimnya

produksi kedelai di tanah air. Salah satu peningkatan produksi

dapat dilakukan dengan Swasembada Kedelai. Pemerintah yang

mulai menggalakkan Swasembada kedelai harus lebih jeli melihat

peluang ini.





3.2. Saran

Saran yang dapat disampaikan dari hasil penulisan ini adalah sebaiknya

pemerintah dan aparat desa lebih memperhatikan masyarakat dan sering memberikan

pelatihan untuk menambah keahlian dan ketrampilan masyarakat sehingga masyarakat

memiliki modal dalam bentuk pengetahuan dan keahlian dalam penanaman kedelai agar

dapat tumbuh dan berkembang lebih.



Pembahasan dalam makalah ini hanyalah sebagian kecil saja. Masalah yang

dibahas di dalamnya harus terus dibahas secara lebih luas lagi agar didapatkan kebenaran

yang hakiki.





DAFTAR PUSTAKA



Anonim, Anjuran Pemupukan Tanaman Kedelai, Liptan, BIP Departemen Pertanian Jawa

Timur, No. 13, tahun 1988.

______, Kedelai, Seri Pembangunan Desa (Jakarta : Bhratara Karya Aksara, 1980).

______, Hama dan Penyakit Tanaman (Jakarta : Bhratara Karya Aksara, 1974).

_______, Kedelai (Jakarta : Pusat Penelitian Hortikultura Pasar Minggu, 1989).





Manajemen Agribisnis “Karet” 18

Lembaga Biologi Nasional, Manfaat Kedelai, 12 April 1989.

Rukmana Rahmat, Kedelai Budidaya dan Pasca Panen (Jakarta : kannisius, 1996).









Manajemen Agribisnis “Karet” 19

2008

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS JAMBI



OLEH KELOMPOK 1:

Hikcher Pasma Franata (C1B 006016)

Khairul Ardani (C1B 006032)

Naarah Natalia Lature (C1B 006031)

Peki Sasmar Putra (C1B 006015)









[MAKALAH AGRIBISNIS UDANG ] KELOMPOK II



DOSEN PEMBIMBING :

DR. Johanes, SE, M.Si

Novita Sari, SE





Manajemen Agribisnis “Karet” 20

DAFTAR ISI



Latar belakang ................................................................................................... 2



Pentingnya Pengamatan Mulai Dari Produksi dan Konsumsi ..................... 2

Produksi ………………………………………………………………. 2

Konsumsi ……………………………………………………………… 2

Prospek Komoditi Udang dari Sisi Permintaan ............................................. 3



Permasalahan Komoditi Udang dari Sisi Agribisnis ..................................... 3



SUB-SYSTEM AGRIBISNIS ........................................................................... 4

Farming system. .................................................................................... 4

Processing .............................................................................................. 4

R & D ..................................................................................................... 5

Government as Support Sub System ……………………………….. 5

Cooperative Enterpreneur ………………………………………….. 6

Subsistem yang berperan penting ....................................................... 6



ANALISIS SWOT ………………………………………………………….. 6

Strenght ……………………………………………………………..... 6

Weakness ……………………………………………………………… 7

Opportunities ………………………………………………………… 7

Threath ……………………………………………………………….. 8

Segmentasi Pasar .................................................................................. 8

Bauran Pemasaran ........................................................................................... 8



Potensi Ekspor Komoditi ................................................................................ 9



Atribut Kualitas Komoditi .............................................................................. 10



Lembaga pembiayaan ………………………………………………………. 10



KESIMPULAN ................................................................................................. 14



DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 15









UDANG







Manajemen Agribisnis “Karet” 21

1. Latar belakang



Sektor perikanan Indonesia dalam era perdagangan bebas mempunyai peluang

yang cukup besar. Salah satu komoditas ekspor Indonesia yang diharapkan dapat

menyumbangkan devisa negara dari sektor non migas adalah udang. Konsumsi udang

dunia terus meningkat, sementara itu sumber daya pantai Indonesia belum dimanfaatkan

secara optimal. Dengan demikian, dilihat dari sisi produksi, prospek industri udang

Indonesia adalah sangat cerah. Ekspor udang Indonesia selama 25 tahun terakhir ini

dengan laju pertumbuhan yang terus meningkat. Dimana, pasar udang terbesar di dunia

saat ini adalah Jepang,Amerika Serikat serta Uni eropa.

Udang merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis

tinggi. Rasanya yang gurih dan bentuk serta warnanya yang khas,menyebabkan udang

menjadi makanan yang digemari oleh segala usia. Keunikan postur tubuhnya yang khas

dan kerenyahannya membuat udang berbeda dari jenis makanan seafood lainnya. Sebagai

salah satu sajian khas yang berselera,udang tentunya layak disajikan di hotel-hotel

mewah,restoran-restoran terkenal,sampai di warung pinggir jalan sekalipun.



2. Pentingnya Pengamatan Mulai Dari Produksi dan Konsumsi



A. Produksi

Indonesia merupakan daerah terluas untuk pengelolaan tambak udang. Areal yang

cocok untuk usaha ini mencapai ±960.000 hektar, tetapi yang tergarap baru sekitar

380.000 hektar. Jika kekurangan tersebut dibenahi secara serius dan total, lalu areal

tambak yang dikelola mencapai sekitar 500.000 hektar, berarti volume produksi setiap

tahun minimal dua ton per hektar atau satu juta ton per tahun. Namun, saat ini produksi

udang hanya mencapai 300.000 ton/tahun

Sementara itu Produksi udang Indonesia sampai saat ini masih tetap

diorientasikan ke pasar internasional, dengan negara-negara tujuan eksport, dimana

dalam beberapa tahun terakhir ini udang indonesia telah menunjukkan laju pertumbuhan

yang sangat fantastis. Selain peningkatan volume produksi, industri udang dunia juga

diwarnai oleh pergeseran sistem produksi dari usaha penangkapan ke usaha budidaya

khususnya di tambak.

Iwan mengatakan, “udang di Indonesia merupakan salah satu komoditas budidaya

perikanan unggulan. Tahun lalu, produksi udang 300.000 ton. Produksi udang untuk

tahun 2009 ditargetkan sebanyak 450.000 ton”. Maka dari itu permintaan akan udang

dunia sangat tinggi, dan ini mendorong Indonesia untuk menjadi salah satu negara

produsen udang. Saat ini, Indonesia tercatat sebagai negara produsen udang kedua

terbesar di Asia setelah Cina.



B. Konsumsi

Dari 380.000 hektar tambak yang dikelola, menghasilkan udang sekitar 300.000

ton per tahun. Sekitar 15 persen dari total produksi itu dikonsumsi dalam negeri.

Selebihnya diekspor. Negara tujuan ekspor antara lain ke Jepang mencapai 60 persen, AS

sekitar 14,5 persen, dan Uni Eropa 10,5 persen.

Konsumsi udang dunia pun mencapai tiga juta ton per tahun. Sekitar 500.000 ton

dikonsumsi di AS. Konsumsi udang terbesar terjadi di Jepang. Di sana setiap orang

mengonsumsi tiga kilogram udang per tahun. Lalu, disusul AS sebanyak 1,8 kg per orang

per tahun dan Uni Eropa sekitar 1,5 kg per orang per tahun, tetapi konsumsi udang untuk

setiap orang di Indonesia umumnya masih jauh di bawah satu kilogram per tahun

Perhitungan konsumsi nasional udang dilakukan dengan metoda produksi

nasional ditambah impor dikurangi ekspor Dengan tingkat konsumsi yang terjadi di

indonesia, menunjukkan bahwa selain sebagai komoditas pasar internasional, udang

memiliki peluang untuk memenuhi permintaan pasar domestik. Apalagi, seiring dengan

perkembangan perekonomian Indonesia yang diperkirakan membaik pada tahun-tahun

yang akan datang, akan meningkatkan daya beli masyarakat dan konsumsi udang pun

akan meningkat.







Manajemen Agribisnis “Karet” 22

3. Prospek Komoditi Udang dari Sisi Permintaan



Udang merupakan komoditas unggulan yang mempunyai nilai ekspor terbesar

(sekitar 21 %) dari nilai perdagangan dunia hasil perikanan. Bagi Indonesia, udang

merupakan komoditi ekspor andalan dengan sumber perolehan devisa meningkat lebih

dari 50 % dari total ekspor hasil perikanan bersumber pada komoditas ini.

Devisa yang diraup dari ekspor perikanan per tahun di Indonesia mencapai sekitar

US$ 2 miliar, maka separuh di antaranya berasal dari ekspor udang. Ini menandakan

bahwa perkembangan potensi udang sebagai usaha agribisnis sangatlah baik untuk

digeluti di Indonesia.

Produksi udang di Indonesia dihasilkan dari penangkapan di laut dan budidaya

tambak, yang sebagian besar diekspor ke Jepang, Hongkong, Amerika Serikat (AS) dan

Eropa.

Bahkan dewasa ini jika agrbisnis udang dikelola secara serius maka udang tidak

hanya sebatas konsumsi makanan tetapi dapat juga dimanfaatakan sebagai produk inovasi

seperti limbah kulit udang yang dapat diolah menjadi khitin dan khitosan sebagai obat

antikolesterol, obat pelangsing tubuh, perban penghenti perdarahan, dan bahan kaus yang

mampu menyerap keringat

• Bahan serat penyeimbang makanan dalam tubuh. Produk khitosan dalam bentuk

pil kapsul bisa dipakai untuk mengurangi kadar kolesterol. Artinya produk

tersebut bisa dipakai sebagai obat pelangsing tubuh tanpa efek samping

• khitosan dipakai untuk bahan pakaian dalam seperti kaus singlet, kaus oblong,

dan kaus kaki bermutu tinggi. Sebab, kaus dari serat bahan khitosan ini mampu

menyerap keringat dan menyerap bau badan secara maksimal

Di samping itu, daya serap serat khitosan tadi amat cocok sebagai materi

tambahan untuk pembuatan kain tekstil. Berdasarkan riset, serat khitosan mampu

mempertahankan warna dari kain tekstil agar tetap cerah



4. Permasalahan Komoditi Udang dari Sisi Agribisnis



Diperkirakan komoditi udang akan tetap menjadi primadona ekspor hasil

perikanan dalam dasawarsa ke depan. Alasannya, komoditas ini termasuk jenis yang

paling banyak diminati para konsumen di berbagai penjuru dunia. Ini artinya, peluang

bagi dunia perudangan nasional. Di sisi lain persaingan pasar global akan semakin ketat,

sedangkan pola pemasaran ekspor Indonesia masih tergolong single market, akibat

tingginya ketergantungan pada pasar tradisional. Maka sudah waktunya dirumuskan pola

pengembangan pemasaran yang lebih agresif dengan melibatkan seluruh komponen

bangsa dalam wadah Indonesian Fisheries Incorporated. Dan untuk mendorong kinerja

ekspor hasil perikanan, Indonesia perlu meningkatkan kemampuan di bidang market

intelligence. Tujuannya, agar dapat mewaspadai pesaing-pesaing baru dan mencari pasar-

pasar baru / alternatif.

Sedangkan masalah utama dalam pengembangan industri udang di Indonesia yaitu:

1. Masalah sosial - terutama keamanan dan gejolak sosial,

2. Finansial - terbatasnya modal usaha khususnya bagi para petambak kecil dan

investasi dari luar negeri,

3. Masalah residu antibiotik,

4. Rencana pemberlakuan anti-dumping oleh Amerika Serikat,

5. Harga udang di pasar internasional yang sulit diramalkan

6. Maraknya kampanye anti udang tambak





5. SUB-SYSTEM AGRIBISNIS



Farming system.

Tahapan farming system pada agribisnis udang meliputi beberapa tahapan, antara

lain:

 Penentuan tambak





Manajemen Agribisnis “Karet” 23

Tambak udang dirancang untuk meningkatkan dan memproduksi udang

laut atau tawar untuk konsumsi manusia. Pertambakan udang komersial

dimulai pada 1970-an, dan produksi tumbuh dengan cepat, terutama untuk

memenuhi pertumbuhan permintaan Produksi global total dari udang tambak

mencapai lebih dari 1,6 juta ton pada 2003, mewakili hampir 9 milyar dolar

AS. Sekitar 75% udang tambak diproduksi di Asia, 25% sisanya diproduksi di

Amerika Latin,

Pertambakan udang telah berubah dari bisnis tradisional, skala-kecil di

Asia Tenggara menjadi sebuah bisnis global. Kemajuan teknologi telah

mendorong pertumbuhan udang dengan kepadatan yang lebih tinggi.

 Pembenihan

Pada umumnya, pembenihan udang mengambil waktu ± 35 hari. Sehingga

dalam setahun dapat dilakukan 5 kali proses pembenihan, pembenihan itu

sendiri dapat dilakukan setelah memperkirakan masa untuk membersihkan

kelengkapan, waktu rehat / istirahat (break cycle) dan kinerja pemulihan

peralatan yang akan dipakai.

 Tekhnik pembudidayaan

Langkah-langkah penerapan budidaya udang yaitu didahului dengan

memenuhi kelayakan dasar (pre-requisite) budidaya. Kelayakan dasar ini

berisi GCP (Good Culture Practices) yang mengatur kebersihan umum,

pembesaran dan penanganan tambak atau kolam pembudidayaan udang..

Kebersihan umum meliputi kebersihan area, pembersihan peralatan sebelum

dan sesudah digunakan dan kebersihan gudang penyimpanan. Sedangkan

pembesaran dan penanganan meliputi catatat dalam menjaga dan

menyediakan : air dan penggunaan air, pakan dan pemberian pakan, penyakit

dan pengontrolan penyakit, obat-obatan dan bahan kimia dengan petunjuk

penggunaan, waktu dan periode pemberian; teknik pasca panen, pembersihan

produk dengan air bersih, temperatur produk, pencegahan kontaminasi selama

panen, sortasi, transpotasi serta kelambatan penanganan seminim mungkin.

Secara garis besarnya, alur proses budidaya terdiri dari pemilihan

lokasi/tempat budidaya, suplai air, pengelolaan lingkungan ikan/udang yang

dipelihara, produksi dan panen.



Processing.

Konsep pengembangan budidaya udang dipengaruhi oleh 4 faktor utama, yaitu :

perairan, lahan, teknologi budidaya, dan sumberdaya manusia yang masing-masing

merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Mengingat budidaya udang

merupakan suatu kegiatan yang „profit oriented”, maka pendekatan yang dilakukan

terhadap ke empat faktor tersebut haruslah dikondisikan pada pendekatan yang mengarah

pada „safety and comfortable financial” bagi para pelaku yang terlibat di dalam kegiatan

budidaya tersebut.

Pemasaran udang merupakan tahapan terakhir untuk dapat memulai budidaya

pada periode selanjutnya. Tidak seperti komoditas lainnya, udang merupakan komoditas

yang „high perishable‟ sehingga penanganan saat sebelum dipasarkan memerlukan

konsep „fast and simple handling‟ agar tidak terjadi penurunan kualitas udang, karena

degradasi mutu udang berpengaruh nyata terhadap harga jualnya.

Setelah melalui proses pemanenan maka udang ditangani oleh bagian cold storage untuk

dilakukan penyortiran udang berdasarkan size dan kualitasnya untuk menentukan standar

harga udang tersebut. Size merupakan ukuran besar kecilnya udang atau secara definisi

yaitu jumlah udang yang terdapat dalam 1 kilogram, sehingga semakin besar size udang

maka ukurannya akan semakin kecil.

Mengacu pada konsep size dan mutu udang maka harga jual udang keseluruhan

diperoleh melalui penghitungan presentase size dan mutu udang dari berat total hasil

panen dikalikan harga berdasarkan size dan mutunya.



R & D.







Manajemen Agribisnis “Karet” 24

Dalam pengembangan udang lokal, diperlukan reorientasi program budidaya

udang nasional yang lebih mengedepankan kepada pengembangan budidaya udang lokal

(indigenous) yang mempunyai nilai ekonomi tinggi khususnya udang windu (Penaeus

monodon) dan udang putih (P. indicus). Hal ini mengingat bahwa akhir-akhir ini,

budidaya udang nasional mulai di dominasi oleh udang “exotic” yang induknya sangat

tergantung dari impor. Dalam jangka pendek, pengembangan budidaya udang “exotic” ini

mungkin sangat menguntungkan, karena produktivitasnya dapat mencapai 50

ton/ha/panen. Tetapi, dalam jangka panjang – langkah ini mempunyai risiko yang sangat

tinggi.

1. Harga udang di pasar dunia saat ini terus merosot karena melimpahnya pasokan

udang dari berbagai negara..

2. Dari segi “market intelligence,” pengembangan budidaya udang “exotic” ini

mempunyai beberapa kerawanan. Apabila terjadi konflik politik antara Indonesia

dengan negara pemasok induk udang maka industri udang nasional dapat

“collapse”.

Dari aspek “comparative advantage” pun, pengembangan udang secara

komparatif tentunya lebih menguntungkan dibanding dengan pengembangan udang-

udang “exotic”. Masalahnya adalah, bagaimana mengubah berbagai tantangan yang

dihadapi dalam pengembangan udang menjadi peluang, termasuk peningkatan

produktivitas, ancaman penyakit, dsb. Sementara itu, dukungan makro seperti jaminan

keamanan, pola birokrasi yang efisien, tidak adanya rent seeking dan red tape practices

akan meningkatkan minat investasi pada industri udang. Pola tindak antara para pihak

yang bersinergi dalam konteks Indonesia incorporated tidak hanya akan mempercepat

perkembangan bisnis udang di tanah air tetapi akan mampu menggerakan roda

perekonomian nasional agar dapat segera keluar dari krisis.



Government as Support Sub System.

Di Indonesia , Pemerintah melalui Departemen Kelautan dan Perikanan juga

menyediakan bantuan modal yang disalurkan melalui dinas di tingkat kabupaten.

Pinjaman ini juga tidak spesifik untuk udang saja.

Upaya lain yang dilakukan oleh pemerintah meliputi, pembebtukan lembaga-

lembaga yang mampu meringankan para petani udang dalam pengelolaan agribisnis

udang mereka, seperti:

 Membentuk lembaga pembiayaan, guna membantu peningkatan komoditi

udang di berbagai daerah di Indonesia, dalam hal ini meliputi pembiayaan

input-input produksi.

 Membentuk Lembaga Pemasaran dan Distribusi dimana lembaga ini menjadi

ujung tombak keberhasilan pengembangan agribisnis, karena fungsinya

sebagai fasilitator yang menghubungkan antara deficit units (konsumen

pengguna yang membutuhkan produk) dan surplus units (produsen vang

menghasilkan produk).

 Lembaga Riset, lembaga ini merupakan salah satu faktor penentu daya saing

karma adanya keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif.



Sedangkan peran langsung dari pemerintah yang efisien meliputi, penerapan

sertifikasi perbenihan dan pembudidayaan udang, penembangan laboratorium lingkungan

dan penyakit, penyediaan saran dan prasarana budidaya, dan membantu pengutan

permodalan bagi pembudi dayaan udang.



Cooperative Enterpreneur.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 220 juta jiwa, Indonesia merupakan potensi

pasar domestik yang sangat besar, apalagi mengingat bahwa tingkat konsumsi ikan rata-

rata per kapita masih sangat rendah dibandingkan dengan negara lain. Disamping itu,

melalui berbagai saluran yang ada, promosi dan lobi pemasaran harus ditingkatkan

mengingat persaingan di pasar global terhadap produk sejenis semakin ketat.

Keikutsertaan pada pameran internasional dan promosi secara aktif ke negara-negara baru

yang potensial untuk meningkatkan akses pasar merupakan langkah konkrit yang perlu





Manajemen Agribisnis “Karet” 25

untuk dilaksanakan. Disamping itu, peningkatan citra mutu produk Indonesia perlu secara

terus menerus digaungkan dan dilaksanakan oleh semua pihak terkait. Hal ini mengingat

bahwa persyaratan mutu dan sanitasi akan banyak dipakai sebagai hambatan non-tarif

oleh negara-negara maju. Karena itu, cooperative enterpreneur antar sektor menjadi salah

satu prasyarat yang perlu ditingkatkan. Kemungkinan mengembangkan pemasaran

melalui sistem future market dan pembentukan National Shrimp Board nampaknya perlu

dikaji untuk kemungkinan penerapannya di lapangan.





6. Subsistem yang berperan penting



Dari subsistem yang telah di jelaskan di atas peranan yang sangat penting pada

agribisnis yang terjadi saat ini di indonesia yaitu “ Government as Support Sub System ”

dimana pada tahapan ini peran aktif dari pemerintah dalam pengembangan agribisnis

udang, khususnya di indonesia sangat di pengaruhi oleh peran langsung dari pemerintah

guna membantu kelangsungan peningkatan mutu serta kualitas udang di indonesia agar

udang di indonesia dapat diakui oleh inernasional. Sehingga ini berdampak langsung

pada perolehan kas negara secara tidak langsungnya karna mampu mendongkrak devisa

negara khususnya disektor non migas yaitu pada agribisnis udang.





7. ANALISIS SWOT.



Strenght

Besarnya potensi perekonomian khususnya di sektor perikanan dan kelautan ini

mempunyai nilai yang cukup strategis bagi peningkatan devisa negara melaui kebijakan-

kebijakan pembangunan yang mengarah pada pemanfaatan sumberdaya yang ada secara

optimal, berwawasan lingkungan, berbasis pada prinsip ekonomi kerakyatan dan

berkelanjutan

Usaha tambak udang memberika dampak positf terutama bagi masyarakat di

sekitar tempat pembudidayaan. Dilihat dari sisi ekonomi usaha ini memberikan

keuntungan yang berlipat apabila dibandingkan dengan bercocok tanam padi dan bagi

pemilik lahan memberikan penghasilan dari usaha persewaan lahan non produktif. Akibat

dari perlunya penyediaan kebutuhan untuk usaha antara lain penyediaan

pakan,peralatan,obat-obatan dan pemasaran,muncul usaha lain yang mendukung usaha

budidaya udang tersebut,misalnya toko atau kios pakan dan saprokan serta pedagang

pengepul khusus untuk udang. Untuk memenuhi akan benih,di desa pertambakan telah

berdiri pula suatu hatchery.



Weakness

Kelemahan dalam peningkatan agribisnis udang secara spesifik di Indonesia

didominasi oleh munculnya isu-isu dan masalah secara musiman yang dapat melemahkan

kegiatan bisnis udang.. Meskipun mengalami peningkatan dalam produksinya, Indonesia

memiliki kendala dalam agribisnis udang diantaranya:



a. Masalah sosial - terutama keamanan dan gejolak sosial,

b. Finansial - terbatasnya modal usaha khususnya bagi para petambak kecil dan

investasi dari luar negeri

c. Belum diketahuinya sumber antibiotik secara pasti dalam pakan, perlakuan di

kolam/tambak atau di tempat pengolahan

d. Survival rate yang belum konsisten karena wabah white spot

e. Rencana pemberlakuan anti-dumping oleh Amerika Serikat

f. Isu antibiotik. Inovasi yang dilakukan dalam produksi meliputi penggunaan

probiotik sebagai pengganti antibiotik, penggunaan "absorptive" mineral,

sterilisasi lapisan kolam, penggunaan bio-filters dan adaptasi dalam "waste water

treatment" serta water blending dan sterilisasi.

g. Harga udang di pasar internasional yang sulit diramalkan





Manajemen Agribisnis “Karet” 26

Sementara itu,Ketua Umum Shrimp Club Indonesia Iwan Sutanto mengakui

meski ekspor udang dari Indonesia telah ditolak beberapa kali oleh Negara Eropa dan

Jepang akibat mengandung antibiotic melebihi ambang batas,namun pemerintah belum

mengambil tindakan. Sampai kini pemerintah belum melakukan pembinaan dan

mentoring kepada petani udang agar tidak menggunakan antibiotic dan beberapa hal

lainnya sesuai standarisasi yang diterapkan Eropa sejak 2004.

Kelemahan produsen produk pertanian khususnya petani adalah kurang sadarnya

terhadap mutu, sehingga nilai produk agribisnis yang kini menjadi andalan kurang

maksimal



Opportunities

Peluang pengembangan udang diperkirakan akan terus membaik seiring dengan

meningkatnya permintaan udang dipasaran internasional, baik disebabkan karena laju

pertumbuhan penduduk, peningkatan pendapatan maupun pergeseran pola

konsumsi,kebutuhan manusia akan makanan sehat (healthy food) serta rasa ketidak

amanan manusia untuk mengkonsumsi daging ternak

Disisi lain peluang pasar udang masih terbuka luas baik di dalam maupun di luar

negeri. Untuk pasar lokal, permintaan datang terutama dari wilayah yang banyak

dikunjungi turis seperti Bali, Jakarta, Batam, dan Surabaya.

Sementara pasar udang di luar negeri telah terbentuk diJepang, Korea, Singapura,

Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Belanda, Australia dengan pasokan utama datang dari

Thailand,Cina, dan India, untuk itu akan sangat memungkinkan bagi Indonesia untuk

terjun kedalam pasar udang yang telah terbentuk di Negara-negara konsumsi udang

tersebut..



Threath

Perdagangan ekspor komoditi perikanan cenderung semakin kompetitif.

Disamping itu, ekspor komoditi perikanan juga dihadapkan pada berbagai hambatan

tarif, food safety, issu lingkungan dan lain-lain. Sedangkan hambatan lainnya berkaitan

dengan persyaratan mutu dan sanitasi dan gencarnya kampanye anti udang tambak oleh

GAA (Global Aquaculture Alliance) dengan anggapan merusak hutan bakau dan

kelestarian lingkungan. Untuk itu produksi perikanan budidaya perlu menerapkan

system jaminan mutu/food safety (HACCP) yang diwajibkan oleh CAC/FAO/WHO

(Codex Alimentarius Commission) dan negara-negara importir. Disamping itu setiap

pembuat tambak udang selalu mengikuti kaidah-kaidah AMDAL.

Selain itu Sedikitnya 300.000 ton udang ekspor asal Indonesia terancam ditolak

Negara tujuan yakni Amerika Serikat dan Uni Eropa,karena tidak memenuhi standar

kualitas internasional. Hal ini lah yang menjadi ancaman tersendiri pada agribisnis udang

yang terjadi di indonesia.



Segmentasi Pasar.

Proses melayani pasar secara lebih terarah diawali dengan melakukan segmentasi

pasar, menurut Handito, ada beberapa cara dalam menentukan segmentasi pasar dalam

pemasaran udang di Indonesia, faktor-faktor tersebut meliputi:

 Berdasarkan faktor demografi atau kependudukan, seperti usia, jenis kelamin,

tingkat pendidikan, status perkawinan, dan jumlah anggota keluarga.

 Berdasarkan faktor geografi atau tempat tinggal konsumen.

 Berdasarkan faktor psikografi atau reaksi konsumen terhadap perubahan pasar,

seperti perubahan kualitas atau harga.

 Berdasarkan perilaku konsumen.







8. Bauran Pemasaran



Bauran pemasaran udang yang terjadi di indonesia terdiri atas:

1) Produk (product).





Manajemen Agribisnis “Karet” 27

Udang di indonesia memiliki banyak potensi untuk dipasarkan, baik itu di pasar

dalam negeri maupun untuk dipasar kan ke luar negeri. Walupun pada saat ini

sedang marak kasus antibiotic pada udang, tetapi udang Indonesia masih mampu

bersaing di pentas ekspor dunia.

2) Harga (price).

Walaupun volume udang yang dipasok di indonesia terus meningkat, sementara

penambahan konsumsi udang dunia cenderung tetap, sehingga harga udang

cenderung turun. Maka perlunya dilakukan penentuan harga yang tetap menurut

standarisasi internasional agar harga udang di dunia cendrung stabil.

3) Distribusi (place).

Indonesia bersama dengan negara-negara produsen udang di ASEAN yang

tergabung dalam ASEAN Shrimp Alliance (ASA) bersepakat untuk meningkatkan

daya saing dan mempertahankan diri sebagai produsen mayoritas udang dunia.

”Negara ASEAN sepakat untuk bersama-sama memperluas pasar udang sehingga

mendorong nilai ekspor,” Achmad Poernomo.

Hal ini tentunya sangat menguntungkan bagi Negara-negara produsen udang,

khususnya Indonesia, karena Pendistribusian udang ke pasar dunia tidak lagi

melalui saluran yang cukup panjang dan komplek dan menyulitkan.

4) promosi (promotion).

Produksi udang Indonesia sampai saat ini masih tetap diorientasikan ke pasar

internasional, dengan negara-negara tujuan ekspor Jepang, USA, dan uni eropa.

Namun akhir-akhir ini volume ekspor udang Indonesia mengalami penurunan.

Turunnya ekspor udang Indonesia tersebut dapat diakibatkan oleh turunnya

penawaran udang domestik dan juga turunnya ekspor udang Indonesia ke

Negara-negara tujuan ekspor utama. Turunnya volume ekspor udang domestik ini

dimungkinkan akibat pengaruh eksternal seperti turunnya harga udang dunia

ataupun pengaruh internal di Indonesia akibat dari kebijakan makro ekonomi

Indonesia yang kurang mendukung, seperti tingkat bunga yang selalu meningkat.

Maka dari itu perlunya bauran pemasaran khususnya untuk promosi, dimana

tingkat konsumsi udang Indonesia untuk Negara-negara seperti Jepang, USA dan

lain-lain masih memiliki daya tampung yang besar dan Konsumsi udang rata-rata

di negara maju masih sangat rendah sehingga perlu langkah-langkah untuk

menggalakkan promosi, walaupun dalam beberapa tahun ini masih marak kasus

anti dumping serta pemakaian antibiotic yang berlebihan pada udang, namun

Indonesia tidak terkana dampak dampak yang signifikan, maka dari itu perlu

dilakukan promosi besar-besaran untuk udang Indonesia yang tidak memakai

antibiotic serta mempunyai size dan kualitas udang yang dapat diunggulkan

dipasaran dunia bahkan domestic sekalipun.



9. Potensi Ekspor Komoditi



Potensi ekspor yang sangat besar menjadikan peluang yang besar dalam

pengembangan budidaya udang di Indonesia. Namun demikian, tantangan yang dihadapi

dalam pengembangan budidaya udang ini juga tidak kalah besarnya. Hal ini menuntut

upaya berbagai pihak, baik Pemerintah, Pembudidaya, Swasta maupun Stakeholder

lainnya untuk bersama-sama menanggulangi tantangan tersebut, agar potensi ekspor

udang yang sangat besar tersebut tidak hanya menjadi peluang, tetapi secara nyata dapat

dimanfaatkan dan dikelola secara baik untuk meningkatkan konstribusinya dalam

pembangunan nasional.

Ditetapkannya udang salah satu komoditas yang harus ditingkatkan produksinya

cukup beralasan,karena udang merupakan primadona ekspor hasil perikanan Indonesia

yang budi dayanya telah terbukti memiliki backward dan forward lingkage yang cukup

luas bagi aktivitas ekonomi masyarakat. Menurutnya aktivitas usaha budi daya udang di

beberapa sentra produksi beberapa tahun terakhir ini,telah membawa dampak yang cukup

signifikan bagi menurunnya pertumbuhan ekonomi masyarakat di beberap kawasan

budidaya tersebut. Sebagai komoditas ekspor,udang masih memperlihatkan penampilan

yang mengembirakan.





Manajemen Agribisnis “Karet” 28

Tabel 1. Sepuluh Besar Negara Tujuan Ekspor Udang Indonesia sejak Tahun 2000

Volume Ekspor

No. Negara

(Ton)

1 Jepang 54.064

2 Amerika Serikat 16.216

3 Hongkong 7.164

4 Belanda 6.900

5 Singapura 6.572

6 Malaysia 5.236

7 Inggris 4.218

8 Taiwan 2.623

9 RRC 2.223

10 Belgia & Luxemburg 2.011

Sumber : Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya

Departemen Kelautan & Perikanan,



Dalam program ekspor hasil perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan

menetapkan target ekspor udang sebesar USD 6,78 milyar. Untuk mencapai target nilai

ekspor tersebut, produksi udang harus mencapai 6,06 juta ton dimana 1,11 juta ton

(18,3%) dari perikanan budidaya yaitu hasil perikanan yang tidak diperoleh dari

penangkapan. Untuk memenuhi target tersebut, udang mempunyai potensi untuk

dijadikan komoditi ekspor karena perdagangan udang telah meluas di dunia, harganya

cukup tinggi dan permintaannya dari tahun ke tahun diperkirakan semakin meningkat.



Pesaing Pasar Ekspor.

Sebetulnya kalangan petambak udang sangat sadar bahwa Indonesia bukan satu-

satunya negara pembudidaya udang di dunia. Banyak negara yang menggiatkan usaha

tersebut, seperti Thailand, Filipina, China, India, Vietnam, Brasil, Ekuador, dan Meksiko.

Bahkan, negara-negara itu mengembangkan sistem teknologi canggih sehingga volume

produksi pun tinggi. Di Thailand, misalnya, produksi udang tiap tahun rata-rata enam ton

per hektar.

Maka dari itu saat ini telah ada 50 negara penghasil udang di dunia antara lain

Negara produsen terbesar adalah China, Thailand, Vietnam, dan Ekuador. Mereka

pesaing utama Indonesia. Dalam jumlah yang relative kecil,komoditi ini juga diproduksi

di India, Costa Rika, Brazil, dan Malaysia, Banglades, Taiwan.



10. Atribut Kualitas Komoditi.



Sejak tahun 2004 lalu,Uni Eropa mulai menerapkan standarisasi kualitas udang

yang ketat. Diantaranya harus bebas dari antibiotic atau zat chlorampenicol,sehingga

udang yang diketahui mengandung antibiotic akan ditolak Negara tujuan ekspor. Selain

bebas dari antibiotic,masalah dampak kerusakan lingkungan dan kesinambungan

produksi juga harus memenuhi standar yang ditetapkan UE. Sayangnya,menurut Iwan,

meski peraturan UE itu sudah dikeluarkan sejak tahun 2004,namun hingga saat ini aturan

tersebut kurang disosialisasikan ke para pengusaha udang Indonesia, khususnya yang

tetgabung dalam SCI. Untuk menerapkan pembudidayaan udang seperti yang

dipersyaratkan UE tidaklah mudah. Butuh dukungan dan kerja sama dari semua pihak.

Dari semua persyaratan yang diminta, yang paling berat untuk dilakukan adalah

mengenai lingkungan dan HAM pekerja. Termasuk mengenai tempat tinggal pekerja dan

pembuangan limbahnya. Sedangkan untuk kandungan antibiotic dapat diatasi dengan

tidak menggunakan bahan antibiotic dalam pembudidayaan.



11. Lembaga pembiayaan yang mendukung Agribisnis Udang di Indonesia.









Manajemen Agribisnis “Karet” 29

Keberhasilan maupun keterpurukan agribisnis Indonesia bukan merupakan karya

satu atau dua pihak/instansi saja, melainkan keseluruhan komponen penunjang ekonomi

bangsa, termasuk di dalamnya budaya (etos kerja, rasa kebersamaan/nasionalisme, dll).

Kebangkitan agribisnis terutama dalam menghadapi persaingan global baik di pasar

dalam negeri, terlebih lagi di pasar luar negeri, memerlukan kerjasama yang erat bahu-

membahu berbagai pihak yang menyatu dalam “Indonesia incorporated”. Konsep

Indonesia Incorporated merujuk pada keberpihakan berbagai pihak pada pihak-pihak

yang mendapatkan kesulitan atau ancaman serta tantangan persaingan bisnis dari luar

negeri. Artinya permasalahan di sektor agribisnis, misalnya, pemecahannya haruslah

mendapatkan dukungan dari sektor-sektor ekonomi lainnya. Misalnya adanya kuota atau

pelarangan masuk komoditas tertentu di suatu negara mungkin dapat diatasi dengan

mempertimbangkan impor komoditas lain dari negara tersebut.

Salah satu komponen penunjang ekonomi ini dari segi investasi agribisnis yang

mulai brkembang di Indonesia adalah Lembaga Pembiayaan Pembiayaan merupakan urat

nadi usaha. Pembiayaan diperlukan di semua sektor, baik hulu maupun hilir, mulai dari

produsen primer yang menyediakan input-input produksi seperti benih udang yang baik,

antibiotik hingga agroindustri di hilir beserta lembaga-lembaga distribusi.

Permasalahan umum yang dihadapi dalam kaitan dengan lembaga pembiayaan ini

adalah pagu kredit, agunan, suku bunga, proses yang rumit, dan berbagai persyaratan

formal lain yang menyertainya. Tanpa adanya terobosan sektor pembiayaan sulit bagi

pelaku agribisnis terutama petani kecil dan bisnis informal sulit berkembang. Salah satu

bantuan pembiayaan untuk pengembangan agribisnis udang di Indonesia adalah melalui

Pola kemitraan.

Pola kemitraan pada dasarnya merupakan bentuk kerjasama usaha yang saling

menguntungkan antara pemilik modal/perusahaan dengan beberapa individu/kelompok

dalam menjalankan suatu kegiatan tertentu yang bersifat ?profit oriented?. Pola kerja

sama tersebut lebih dikenal dengan istilah Perusahaan Inti Rakyat (PIR), dimana secara

garis kemitraan pemilik/perusahaan modal disebut dengan inti dan individu/kelompok

penerima bantuan modal disebut dengan plasma. Pola kemitraan ini merupakan salah satu

bentuk pengembangan wilayah melalui pembangunan ekonomi lokal yang berbasis pada

ekonomi kerakyatan yang pelaksanaannya lebih ditekankan pada pembangunan yang

berpihak pada rakyat. Bantuan yang diberikan lebih diarahkan pada penyaluran kredit

usaha dan kredit modal kerja yang dari pemerintah kepada individu/kelompok melalui

perusahaan dan cara pengembalianya melalui sistem bagi hasil yang diperoleh dari

keuntungan usaha yang dijalankan berdasarkan ketentuan-ketentuan yang telah disepakati

bersama.

Penerapan pola kemitraan didalam pengembangan tambak udang merupakan

salah satu wujud kebijakan pemerintah sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan

masyarakat dengan memanfaatkan sumberdaya manusia dan alam (pesisir) serta financial

yang ada dan selaras dengan program ekonomi kerakyatan. Komponen yang bertindak

sebagai inti adalah perusahaan atau pengusaha yang kuat dalam permodalan, sedangkan

plasma terdiri dari kelompok petambak yang mempunyai kemampuan teknis budidaya

tetapi lemah/kurang dalam permodalan.

Bantuan yang diberikan oleh pihak inti berupa pemberian kredit yang didapat dari

pemerintah dengan pihak plasma sebagai agunan, sedangkan sistem pengembalian kredit

tersebut dilakukan melalui bagi hasil dari keuntungan yang diperoleh plasma dari

kegiatan budidayanya. Kredit yang diberikan dari pihak inti meliputi kredit modal usaha

yang mencakup kepemilikan lahan tambak dan pemukiman beserta dengan fasilitas

penunjangnya, serta kredit modal kerja yang berupa permodalan yang diperlukan untuk

melaksanakan proses kegiatan budidaya (benur, saprodi, panen serta sarana penunjang

lainnya). Sistem perkreditan yang dilakukan tersebut dijalankan melalui kesepakatan

yang telah disetujui oleh pihak inti dan plasma yang dituangkan dalam surat perjanjian.

Faktor utama yang perlu diperhatikan adalah transparansi dalam melaksanakan

sistem perkreditan, terutama akuntabilitas perkembangan nilai kredit dari pihak plasma

berdasarkan periode budidaya. Pemberian informasi tersebut sangat diperlukan untuk

menjaga keharmonisan dan tidak menimbulkan krisis kepercayaan antara kedua belah







Manajemen Agribisnis “Karet” 30

pihak yang pada akhirnya dapat menimbulkan konflik dalam kegiatan pengembangan

tambak udang.

Selain sistem perkreditan tersebut diatas, konsep kerja sama pola kemitraan juga

membutuhkan suatu kesepakatan kerja antara pihak inti dengan plasma sebagai upaya

membentuk sistem kerja dalam menjalankan kegiatan budidaya di wilayah

pengembangan tambak udang. Secara garis besar dilihat dari struktural dan fungsional

antara inti dan plasma merupakan mitra (partner) kerja, sehingga memerlukan garis

pembatas yang jelas dalam mengatur hubungan kerja agar tidak terjadi ?overlapping?

mengenai hak dan kewajibannya masing-masing. Sistem kerja yang dimaksud biasanya

meliputi, antara lain :



1. Kualifikasi dan persyaratan.

2. Hak dan kewajiban

3. Hirarki struktural dan fungsional

4. Penghargaan dan sanksi

5. Pemutusan hubungan kemitraan

6. dsb



Sistem kerja diatas juga harus melalui kesepakatan bersama antara inti dan plasma

agar dalam kegiatan pengembangan tambak udang dengan pola kemitraan dapat berjalan

selaras/harmonis pada suasana yang kondusif yang sangat dibutuhkan dalam kelancaran

proses kegiatan budidaya.







Contoh kasus pembiayaan agribisnis udang di Indonesia :





 BRI Kucurkan Pembiayaan Kredit Kepada Petambak Udang

Fasilitas pinjaman yang akan diberikan kepada petambak udang secara signifikan

adalah sebagai modal untuk melakukan proses budidaya. Dalam hal ini pihak Bank

bertindak sebagai mitra perusahaan untuk menjembatani dalam proses pendanaan,

dimana BRI bersama-sama dengan Inti mempunyai tujuan yang sama, untuk dapat

mempercepat pertumbuhan kesejahteraan petambak. Disisi lain, keberadaan BRI sebagai

pihak ketiga juga akan mampu memberikan kontrol secara obyektif dalam penggunaan

dana tersebut guna menjamin produktifitas yang transparan bagi petambak udang.



 Bank Niaga Syariah (BNS)

Bank Niaga Syariah (BNS) bekerjasama dengan PT Central Proteinaprima Tbk

kembali menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 30 miliar kepada 210 petani tambak udang

binaan PT Aruna Wijaya Sakti (AWS) di desa Bumi Dipasena Kecamatan Rawa Jitu

Timur, kabupaten Tulang Bawang, Lampung

BNS sebelumnya telah menyalurkan pembiayaan kepada 1.000 petani tambak

udang binaan PT Central Pertiwi Bahari (CPB) di desa Adiwarna, kecamatan Gedung

Meneng Kabupaten Tulang Bawang, Lampung dengan plafon kredit sebesar Rp 160

miliar, yang direalisasikan pada bulan Desember 2007. Pembiayaan ini digunakan untuk

kebutuhan produksi bagi para petani tambak udang.

Pembiayaan tersebut menggunakan pola channeling yakni petani tambak udang

bertindak sebagai debitor, dan akad syariah yang digunakan adalah Akad Murabahah

(jual beli) . Sedangkan dengan perusahaan inti (PT CPB dan PT AWS) yang bertindak

sebagai wakil dari BNS, untuk melakukan pengawasan, pembinaan dan mengkoordinir

seluruh petani tambak udang dalam membudidayakan udang secara teknis maupun non

teknis, menggunakan akad syariah yaitu akad wakalah.

PT Central Proteinprima Tbk memiliki fokus usaha pada bidang pembibitan

udang, produksi pakan udang, tambak udang dan pengelolaan hasil budidaya udang.

Adapun luas areal tanah yang dimiliki PT CPB dan PT AWS adalah sekitar 41.250 ha.

Sementara kedua inti tersebut di atas memiliki hampir 18.000 lebih tambak udang.





Manajemen Agribisnis “Karet” 31

Dengan luas tanah dan jumlah tambak yang besar tersebut, merupakan potensi yang besar

bagi BNS untuk membantu pengembangan bisnis ini dari sisi pembiayaan.









KESIMPULAN



Udang indonesia merupakan penghasil devisa negara yang cukup besar dari sektor

non migas, maka dari itu pengembangan produktivitas udang seharusnya mengalami

peningkatan yang signifikan, apalagi ditinjau dari segi konsumsi dunia, tingkat konsumsi

udang selalu meningkat setiap tahunnya.

Hal ini seharusnya menjadi motivator untuk pemerintah agar mampu mensuport

kegiatan-kegiatan dalam produktivitas udang di indonesia, dimana peran aktif dari

pemerintah sangat dibutuhkan saat ini guna pencapaian mutu, saize, kualitas serta

kuantitas udang agar udang indonesia mampu bersaing dengan udang dari negara-negara

produsen lainnya.

Dilihat dari segi pembiayaan pemerintah dan pihak-pihak swasta telah

memberikan solusi bagi petambak udang yang terkendala dalam finansial untuk





Manajemen Agribisnis “Karet” 32

pengembangan budidaya udang dengan memberi bantuan-bantuan berupa bantuan

keuangan dan pengadaan alat-alat pembudidayaan.









DAFTAR PUSTAKA



ANONIM 2005 ; Revitalisasi Budidaya Udang. Koswara, Prof. Dr. Bachrulhajat,

Jakarta.



Balai Pengembangan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan, 1999. Monitoring Sanitasi

Kekerangan. BPPMHP, Direktorat Jenderal Perikanan, Jakarta.



Direktorat Jenderal Perikanan, 1995. Promosi Peluang Usaha Di Bidang Perikanan.

Direktorat Jenderal Perikanan. Jakarta.



Direktorat Jenderal Perikanan, 2000. Statistik Produksi Perikanan Indonesia tahun 1998.

Direktorat Jenderal Perikanan. Jakarta.



Direktorat Jenderal Perikanan, 2000. Statistik Ekspor Perikanan Indonesia tahun 1998.

Direktorat Jenderal Perikanan. Jakarta.







Manajemen Agribisnis “Karet” 33

Wibowo, Ir.Sigit. Pemeliharaan Udang di Air Tawar,1986;PT. Waca Utama

Pramesti,Jakarta.



Mudjiman L., Budidaya Udang Windu, 1987; Penebar Swadaya, Jakarta.



Webside : http/:www.google.com





Laporan Dirjen. PK2P kepada Menteri Dep. KP, tgl 24 Des 2003



[ LAPORAN SIDANG GLOBAL SHRIMP-2003.doc ]



www.korantempo.com/news/2004/9/9/Ekonomi%20dan%20Bisnis/19.html - 22k -



www.tempointeraktif.com/hg/ekbis/2006/02/10/brk,20060210-73738,id.html - 29k



www.sinarharapan.co.id/berita/0608/23/ipt02.html - 25k



www2.kompas.com/kompas-cetak/0406/07/ekonomi/1062187.htm - 47k –





www.adln.lib.unair.ac.id/go.php?id=jiptunair-gdl-res-1999-irawan2c-324-

cytisine&PHPSESSID=dd2cc1da310... - 24k









Manajemen Agribisnis “Karet” 34

Komoditi Pisang









DOSEN PENGASUH :

DR. Johanes, SE, M.Si

Novita Sari, SE



Kelompok III

1. Ahmad Taufik Ridho (C1B006017)

2. M. Afiq Susanto (C1B006019)

3. Villya Novariza (C1B006027)

4. Vutty Cindrageni (C1B006011)







JURUSAN Manajemen

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS JAMBI

2008

DAFTAR ISI



Halaman

DAFTAR ISI .................................................................................................... 1



BAB I. PENDAHULUAN





Manajemen Agribisnis “Karet” 35

1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 2



1.2 Tujuan Penulisan ................................................................................... 2



1.3 Manfaat Penulisan ................................................................................. 2



BAB II. ISI



2.I Pentingnya Pengamatan Mulai Dari Produksi dan Konsumsi ............... 3



2.2 Prospek Buah Pisang Dari Sisi Permintaan .......................................... 4



2.3 Permasalahan Buah Pisang Dari Segi Agribisnis ................................. 5



2.4 Subsistem Agribisnis Buah Pisang ....................................................... 6



2.5 Subsistem Yang Paling Berperan .......................................................... 11



2.6 Pengembangan Agribisnis .................................................................... 11



2.7 Pengembangan Komoditi Agribisnis Berdasarkan Bauran Pemasaran . 15



2.8 Potensi Ekspor Komoditi Pisang dan Saingannya Dipasar Ekspor ...... 17



2.9 Atribut Kualitas Komoditi Pisang ......................................................... 18



BAB III. KESIMPULAN DAN SARAN



3.1 Kesimpulan ........................................................................................... 19



3.2 Saran ..................................................................................................... 19



DAFTAR PUSTAKA









Manajemen Agribisnis “Karet” 36

BAB 1

PENDAHULUAN



1.1. Latar Belakang

Pisang mempunyai nama latin “Musa Paradisiaca“. Nama musa diambil dari

nama seorang dokter kaisar Romawi Octavianus Augustus yang bernama “Antonius

Musa”. Sesuai dengan kemajuan tekhnologi, budidaya pisang pun mengalami kemajuan

pesat. Budidaya buah pisang saat ini tidak hanya dilakukan sambil lalu, tetapi telah

dilakukan secara intensif, terutama pisang untuk keperluan eksport.

Pada masyarakat Asia Tenggara, diduga buah pisang telah lama dimanfaatkan.

Masyarakat di daerah itu, saat berkebudayaan pengumpul (food gathering), telah

menggunakan tunas dan pelepah buah pisang sebagai bagian dari sayur. Bagian-bagian

lain dari tanaman pisang pun telah dimanfaatkan seperti saat ini. Pada saat kebudayaan

pertanian menetap dimulai, buah pisang termasuk tanaman pertama yang dipelihara.

Maka dari itu, ahli sejarah dan botani mengambil kesimpulan bahwa asal mula

tanaman pisang adalah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.India merupakan negara yang

memiliki tulisan pertama tentang budidaya pisang,disebutkan bahwa pemeliharaan itu

dilakukan di Epics: Pali Boeddhist,500-600 SM,yang menyebutkan bahwa “buah sebesar

taring”itu memeng disukai oleh binatang-binatang bertaring dan bertanduk.Di China,awal

kebudayaan pisang dimulai dan terpusat di Yangtze dan sungai kuning. Tanaman pisang

juga berkembang Amerika Selatan dan Tengah berasal dari Afrika Barat sekitar tahun

1500, yang akhirnya menyebar ke seluruh daratan Amerika.

.Buah pisang juga banyak memberikan manfaat untuk berbagai keperluan hidup

manusia. Selain buahnya, bagian tanaman lainpun bisa dimanfaatkan, mulai dari bonggol

sampai daun. Buah pisang selain dalam bentuk segar, dapat juga diolah menjadi makanan

olahan, seperti: sale pisang, keripik pisang, dan lain-lain.



1.2. Tujuan

Tujuan penyusunan makalah ini agar pembaca mengetahui bahwa tanaman pisang

merupakan tanaman serba guna, mulai dari bagian bawah (bonggol) sampai bagian atas

(bunga pisang) dapat dimanfaatkan serta mengetahui nilai ekonomis yang dihasilkan dari

buah pisang. Selain itu, pisang yang berkualitas juga mempunyai potensi dan prospek

usaha yang cukup besar dalam peluang dan konsumsinya agar dapat bersaing dengan

buah-buahan lainnya sehingga dapat meningkatkan nilai ekspor buah pisang dipasar

global.

Dan tujuan lain dari makalah ini adalah untuk mengajak dan menghimbau

masyarakat untuk memulai mananam pisang agar bisa membantu perekonomian

keluarga, untuk mengajarkan tahapan apa saja yang harus dilakukan masyarakat jika

ingin menanam pisang.



1.2.2 Manfaat

Adapun Manfaat makalah ini adalah :

1. Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti dan menyelesaikan Mata kuliah

Manajemen Agribisnis (MAG173)

2. Sebagai bahan masukan berupa informasi yang jelas bagi pihak – pihak yang

berkepentingan.





BAB II





Manajemen Agribisnis “Karet” 37

ISI



2.1. Pentingnya Pengamatan Mulai Dari Produksi dan Konsumsi

2.1.1. Pentingnya Pengamatan Produksi.

Kegiatan produksi perlu diamati guna untuk mengetahui apakah produk yang

dihasilkan memenuhi standar yang diinginkan oleh perusahaan sebagaimana yang

diminati konsumen. Pengamatan produksi dilakukan pada seluruh aspek kegiatan yang

berkaitan dengan produksi, yang meliputi :



a. Kegiatan proses produksi atau operasi.

Pengamatan kegiatan-kegiatan produksi komoditi pisang mulai dari pengadaan

bibit, teknologi budidaya, teknologi pascapanen dan pengolahan hasil, sampai

pemasaran produk-produknya. Dengan demikian untuk waktu-waktu mendatang

upaya pengembangan agribisnis ini masih tetap merupakan salah satu kunci utama

dalam pengem bangan komoditi pisang .

b. Kualitas produk yang dihasilkan.

Apakah telah sesuai dengan standar mutu dunia yaitu merupakan faktor yang

menentukan dalam tercapainya jaminan mutu untuk setiap produk, bisa dilihat dari

keamanan, keselamatan, dan kesehatan bagi konsumen.Standar buah pisang mengacu

pada SNI-01-4229-1996.Untuk mengetahui dan mencapai syarat mutu pisang harus

melakukan pengujian yang meliputi ; Penentuan keseragaman kultivar,Penetuan

keseragaman ukuran buah,Penentuan tingkat ketuaan,Penentuan tingkat kerusakan

fisik/mekanis,dan Penentuan kadar kotoran.

c. Biaya produksi yang dikeluarkan.

Pengamatan ini mencakup antara lain : harga pisang per sisir, penjualan,laba

operasional,rasio untung/rugi,dan biaya operasional lainnya.

d. Tenaga kerja.

Tenaga kerja yang melakukan kegiatan produksi haruslah diberikan pengetahuan

yang luas tentang wawasan pembudidayaan yang semakin canggih, agar proses

produksi dapat berjalan dengan baik yang akan berimbas pada peningkatan hasil

produksi.Maka dari itu pelaksanaan pelatihan-pelatihan kepada para petani lebih

ditingkatkan lagi. Petani dan teknisi yang berpartisipasi dalam pelatihan memiliki

peluang untuk praktek teknologi baru dengan pengarahan dari konsultan. Teknologi

yang diperagakan sebaiknya mencakup hal yang mudah diterapkan dalam budaya

setempat, dan sebagian besar tidak memerlukan investasi tambahan dan

menggunakan material yang ada. Hasil analisis tentang hubungan antara faktor

produksi lahan, tenaga kerja, dan pupuk organik usahatani pisang berpengaruh positip

terhadap hasil produksi.

e. Perkiraan produksi.

Belum ada standar produksi buah pisang di Indonesia, disentra buah pisang dunia

produksi 28 ton/ha/tahun hanya ekonomis untuk perkebunan skala rumah tangga.

Untuk perkebunan kecil (10-30 ha) dan perkebunan besar (>30 ha), produksi yang

ekonomis harus mencapai sedikitnya 46 ton/ha/tahun.



2.1.2. Pentingnya Pengamatan Konsumsi.

Pengamatan konsumsi dilakukan guna mengetahui apakah buah pisang yang

diolah dan diproses menjadi berbagai macam produk yang dihasilkan seperti makanan

memiliki nilai ekonomis dan kualitas produknya memiliki standar yang dapat diterima

dan disukai oleh konsumen untuk dikonsumsi menjadi makanan yang enak disantap.

Tetapi di Indonesia, hampir semua masyarakat baik dari golongan bawah sampai

atas mengkonsumsi buah pisang, karena pisang selain rasanya enak, kandungan gizinya

tinggi, mudah didapat, dan harganya relatif murah. Dengan berkembangnya buah pisang

di Indonesia, diharapkan akan meningkatkan konsumsi dan eksport buah pisang baik

untuk segar maupun olahan, sehingga produksi buah pisang ditargetkan sekitar

11.226.000 ton pada tahun 2025 nanti.

Meningkatnya jumlah penduduk dan tingkat kesadaran masyarakat untuk

mengkonsumsi buah-buahan diharapkan dapat meningkatkan konsumsi buah pisang





Manajemen Agribisnis “Karet” 38

secara nasional, sehingga kebutuhan buah pisang akan terus meningkat. Dengan

berkembangnya pisang di Indonesia, diharapkan akan meningkatkan konsumsi dan

ekspor buah pisang baik untuk segar maupun olahan.

Apabila kita tinjau tentunya untuk konsumsi buah pisang itu sendiri cukup besar

peluang dan daya belinya. Dari total produksi buah pisang dunia, diantara jenis buah

pisang yang paling banyak dikonsumsi adalah dari jenis cavendish. Hal ini dilihat dalam

konsumsi domestik pasar buah pisang cukup besar didalam negeri. Dimana hasil olahan

pisang tersebut dapat dijual ke konsumen baik dipasar tradisional supermarket dan

pedagang besar yang membutuhkan buah ini untuk peluang bisnis.



2.2. Prospek Buah Pisang Dari Sisi Permintaan

Permintaan akan komoditi buah pisang dunia memang sangat besar, terutama

jenis pisang cavendish yang meliputi 80% dari permintaan total dunia. Hal ini

menunjukkan bahwa pisang memang komoditas perdagangan yang sangat tidak mungkin

diabaikan. Relatif besarnya volume produksi nasional dan luas panen dibandingkan

dengan komoditas buah lainnya, menjadikan buah pisang merupakan tanaman unggulan

di Indonesia.

Pengembangan pisang berskala kebun rakyat dan besar akan membuka peluang

agribisnis hulu, seperti industri perbenihan dan industri peralatan mekanisasi pertanian,

yang tentunya akan membuka kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Selain sebagai

buah yang dimakan segar, pisang juga dapat diolah baik untuk skala rumah tangga seperti

keripik, getuk dan sale, maupun industri berskala besar seperti tepung, puree dan jam,

yang dapat merangsang tumbuhnya agribisnis hilir. Agribisnis hilir akan berkembang

dengan cara memberdayakan industri pengolahan skala keluarga (home industry) dan

menengah maupun skala besar (investor dalam dan luar negeri).

Permintaan pisang untuk industri pengolahan skala rumah tangga (10-50 kg/hari),

skala UKM kripik (100-120 kg/hari), sale (1,5-2 ton/bln), ledre (70-120 kg/hari), puree

(300-500 kg/h) dan tepung (700-1000 kg/minggu). Skala besar, membutuhkan kapasitas

+ 10-12 ton pisang segar/hari.

Konsumsi pisang per orang telah mengalami peningkatan yang mencolok

dibanding apel dan satsuma mandarin (jeruk) atau Citrus reticulate yang telah menurun.

Hasil kajian ekonomi di Jepang menunjukan bahwa permintaan apel melemah disebabkan

permintaan pisang meningkat dari 4,4 kg pada tahun 1993-1994 menjadi 5,6 kg pada

tahun 2003-2004. Peningkatan konsumsi ini diduga karena harga pisang menurun.

Permintaan terhadap pisang telah meningkat secara signifikan pada beberapa

tahun terakhir di daerah perkotaan di negara ini, menjadikan perkebunan pisang intensif

menarik bagi petani setempat. Pembeli/distributor utama aktif mencari cara untuk

meningkatkan pasokan dari berbagai daerah produksi. Pada khususnya, perusahan ini

memiliki kebutuhan untuk menkonsolidasikan pasokan pisang mas dan pisang Barangan,

pisang yang langka dan hanya terdapat di daerah Medan, sebagai bagian dari produk

yang ditawarkan ke pasar setempat dan rantai supermarket di seluruh daerah.

Oleh karena itu, kebutuhan terhadap buah-buahan terutama buah pisang segar

menjadi kebutuhan primer. Selain itu manfaat dan kandungan gizinya dapat memacu

permintaan buah pisang yang terus meningkat. Hal semua diatas dapat memperbesar

peluang agribisnis buah pisang sehingga prospek buah pisang untuk pasar dunia dapat

terus meningkat.



2.3. Permasalahan Buah Pisang Dari Segi Agribisnis

Kendala utama yang kini dihadapi dibeberapa sentra produksi buah pisang dalam

10 tahun terakhir ini adalah serangan layu Fusarium dan bakteri yang mengakibatkan

kerusakan cukup luas dan sulit ditanggulangi. Kemampuan untuk mengendalikan layu

pisang masih terbatas, baik dari segi pengetahuan, keterampilan, maupun kemampuan

finansial. Apabila kita asumsikan bahwa tanaman yang terserang tersebut akan rusak dan

mengakibatkan gagal panen, mutu serta penampilan luar buah pisang yang kurang

menarik, maka secara finansial/perhitungan ekonomi, petani akan menderita kerugian

sebesar ± 18 milyar rupiah (estimasi harga pisang Rp. 10.000,- per tandan). Selain itu,

pisang yang bermutu rendah akan mengakibatkan kelesuan pada eksport buah pisang





Manajemen Agribisnis “Karet” 39

yang seharusnya tidak terjadi, apabila segala syarat pembudidayaan buah pisang

dilakukan secara intensif dengan tekhnologi yang maju. Hal ini tentu saja akan

berpengaruh pada meningkatnya harga jual buah pisang dipasar.

Adapun kendala-kendala lainnya yang pernah terjadi adalah sbb :

a. Tingginya penyakit Sigatoka Hitam yang menyebabkan daun yang rendah pada

saat panen (kurang dari 6 per pohon) dan mengakibatkan kurangnya potensi

produksi sebesar 30% karena berat tandan yang berkurang. Penyakit ini juga

mengakibatkan matangnya pisang terlalu dini sehingga buah beresiko saat

dikirimkan ke pasar yang jaraknya jauh.

b. Kepadatan populasi yang rendah dan manajemen populasi pohon yang kurang

c. Kerusakan buah yang parah karena karat.

d. Tingkat tunas yang rendah – hanya sedikit anak tunas akar dari pohon induk, dan

pemilihan tunas yang kurang baik.

e. Insiden doble dan triple yang tinggi – pemangkasan tidak diterapkan untuk urutan

produksi induk – anak - cucu.

f. Ukuran tandan yang kecil (jumlah sisir sedikit dengan berat rendah) sebagai

akibat rendahnya jumlah pupuk yang digunakan.

g. Perlindungan buah tidak diterapkan (bakal buah tidak dipindahkan, tandan palsu

tidak dipotong, tidak ada pemangkasan sisir, bunga, dan daun dan pembersihan

tandan untuk melindungi buah dari kerusakan akibat gesekan dengan daun dan

agen mekanik lainnya).

h. Tidak ada sistem pengendalian umur/mutu untuk panen. Panen menggunakan

tanda visual seperti padatnya buah.

i. Praktek pertanian yang baik dan standar sanitasi dan fito sanitasi kurang

memadai.

j. Beberapa lahan produksi terletak di bukit yang curam.

k. Kurangnya irigasi dan system drainase.

l. Akses terbatas terhadap input, materi, alat, peralatan yang diperlukan untuk

produksi dan pasca panen. Kurangnya alat lapangan untuk pemangkasan,

pengurangan daun, panen, dsb merupakan hal yang kronis dan hambatan utama.

m. Insiden gesekan dan luka yang tinggi karenya kurangnya penanganan yang

berorientasi pada perlindungan buah setelah panen. Tandan dipindahkan dari

lapangan dengan tangan dan dikirimkan ke pusat pengumpulan dan distribusi

melalui berbagai jenis kendaraan tanpa danya perlindungan.

n. Kendala dalam penyediaan bibit dengan skala komersial seperti ketersediaan bibit

unggul klonal yang seragam dalam jumlah banyak dan dapat tersedia dalam

waktu yang relatif singkat.



2.4. Subsistem Agribisnis Buah Pisang

2.4.1. Farming System ( system perkebunan ).

Selama ini buah pisang hanya ditanam di pekarangan sebagai tanaman campuran

dengan tanaman pangan atau perkebunan,maupun dengan pola tumpang sari,serta dilahan

tegalan.Sentra produksinya tersebar dengan kepemilikan lahan yang kecil.Pertanaman

pisang rakyat tersebut tidak pernah tersentuh tekhnologi,dibiarkan tumbuh dan

berkembang sesuai alam sekitarnya.Oleh karena itu diperlukan pengetahuan tentang

farming system yang baik untuk penanaman buah pisang,sebagaai berikut :



A. Pemilihan bibit/benih .

Kualitas benih berperan besar dalam keberhasilan budidaya pisang. Sifat unggul

benih pisang akan terekpresi pada penampilan buahnya. Keunggulan tersebut

menyangkut rasa manis, produkasi tinggi. Benih yang baik berasal dari perbanyakan

vegetatif : kultur jaringan, biasanya tumbuh seragam tetapi cukup mahal. Memilih

varietas seyogyanya berdasarkan pada varietas yang mempunyai nilai pasar dan

berpeluang dimasa depan yang baik. Varietas pisang yang banyak diminati antara lain

adalah Cavendish,ambon kuning dan pisang mas.

Untuk memperoleh benih yang baik dalam jumlah banyak dapat dilakukan secara

mandiri oleh petani atau memesan benih bersertifikat dan bila perlu mengetahui sejarah





Manajemen Agribisnis “Karet” 40

benih yang akan dibeli. Hal ini dapat dipenuhi tentunya melalui penangkar yang

terpercaya.

1. Bibit anakan .

Tanaman pisang selalu diperbanyak secara vegetatif dengan memakai anakan (

sucker ) yang tumbuh dari bonggolnya .Ada 4 jenis anakan pisang ,yaitu :

 Bibit tunas anakan yaitu berupa tunas yang belum berdaun sehingga menyerupai

rebung.

 Bibit anakan yaitu tunas yang daunnya telah keluar tetapi masih menggulung.

 Bibit anakan sedang yaitu dengan tinggi antara 101-150cm.

 Bibit anakan dewasa yaitu berupa tunas yang berdaun mekar lebih dari 2

helai,tingginya antara 151-175cm.

Diantara bibit anakan,bibit anakan dewasa biasanya paling cepat menghasilkan

buah.Bibit anakan tunas jarang jarang dipergunakan sebagai bibit sebab pertumbuhannya

lambat serta peka terhadap kekeringan dan ulat penggerek batang pisang.

2. Bibit bit .

Bibit juga bisa diperoleh dari bonggol tanaman pisang .Belahan bonggol ini

disebut bit.Pembibitan ini mempunyai keuntungan-keuntungan sebagai berikut :

 Dalam waktu singkat bisa didapatkan bibit yang seragam dalam jumlah

banyak,sehingga cocok untuk gerakan penghijauan dan perluasan areal baru .

 Mudah pengiriman dan biayanya lebih murah .

 Dapat memanfaatkan bonggol sisa tebangan.

 Umur panennya lebih pendek dibandingkan cara pembibitan lainnya

 Produksinya lebih tinggi .

3. Melalui technology kultur jaringan

Yaitu merupakan suatu tekhnik perbanyakan klonal dalam kondisi aseptic secara

cepat. Bibit pisang hendaklah dipilih dari rumpun yang baik dan sehat ,dapat diperoleh

dari membeli/disediakan sendiri dengan sanitasi bibiy yang baik.

B. Pengolahan Media Tanam.

Pemilihan lahan harus memperhatikan aspek iklim ,dimana aspek iklim yang

cocok untuk komoditi pisang yaitu iklim basah ( lembab ),dengan curah hujan merata

sepanjang tahun.Hal ini dikarenakan pisang merupakan tanaman dataran rendah didaerah

tropic.Aspek-aspek lain yang harus diperhatikan yaitu prasarana ekonomi dan letak

pasar,keamanan dan social.Kemudian dibuat sengkedan dengan lebar target kemiringan

lahan.Tumpang sari dengan tanaman lain dapat dilakukan dengan baik.

C. Tekhnik Penanaman.

Pembuatan lubang tanam dilaksanakan 1-3 bulan sebelumnya.Dengan ukuran

lubang disesuaikan dengan tanah berat atau tanah gembur biasanya dengan ukuran

60cmx60cmx60cm,dan jarak tanam sekitar 3,3cm.Penanaman yang baik dilakukan pada

awal musim penghujan.Tanaman ysng diberi pupuk kandang/kompos akan sangat

berpengaruh terhadap kualitas rasa buah.



2.4.2. Processing.

Pada dasarnya,pengolahan komoditi pisang tidak hanya mengolah daging

buahnya saja,tetapi segala unsure yang terdapat pada tanaman pisang dapat diolah dan

dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.Seperti :

 Kulit pisang.

Bisa diolah menjadi selai kulit pisang,anggur kulit pisang.Kulit pisang dari jenis

pisang raja dan ambon dapat diolah menjadi bahan baku minuman anggur.Lebih

dari itu kulit pisang juga dapat dimanfaatkan untuk pembuatan nata de

banana,yaitu produk makanan yang terbentuk dari kumpulan biomassa yang

terdiri dari selulosa dan memiliki penampilan seperti agar-agar warna putih

seperti nata de coco.

 Daun Pisang.

Daun yang tua yang sudah robek bisa untuk pakan ternak karena banyak

mengandung unsure yang diperlukan oleh tubuh hewan.

 Jantung Pisang.





Manajemen Agribisnis “Karet” 41

Untuk makanan lauk pauk ( dendeng jantung pisang ).

 Bonggol Pisang (Batang pisang bagian bawah ).

Bisa diolah menjadi keripik bonggol pisang,urap,lalapan,bisa juga dijadikan

pupuk dengan cara batang tersebut diiris-iris lalu dibakar jadi abu.Air bonggol

pisang kapok dan klutuk dapat dijadikan obat disentri,pendarahan usus,obat

kumur,serta untuk menghitamkan rambut.

 Buah.

Industri pengolahan buah pisang skala besar lebih diarahkan pada industri tepung

(1,5-2 ton/mg ),puree (600kg-1,5 ton/hari ) dan jam ( 1-2 ton/hari ). Sebagai

contoh,pengubahan bentuk buah pisang menjadi tepung pisang akan

mempermudah dan memperluas pemanfaatan pisang sebagai bahan

makanan,misalnya untuk kue,roti,bubur,kerupuk,dan lain-lain. Untuk membuat

tepung pisang,diperlukan beberapa langkah diantaranya :





-pengupasan

-pengirisan

-pengeringan

-penepungan,dan

-penyimpanan.

Caranya :

Buah Pisang mentah dikupas kulitnya ,kemudian diiris dengan pisau atau mesin

pengiris.Tebal pengirisan kira-kira 1 cm setelah diiris lalu rendam dalam larutan

bisulfit,langsung dikeringkan dalam alat pengeringan pada suhu kira-kira 80

derajat celcius.Buah pisang yang telah kering dengan kadar air kira-kira

10%,dibuatkan tepung dengan menggunakan alat penepungan.Tepung pisang agar

tahan lama,disimpan dalam tempat yang tertutup rapat seperti tutup plastic.



Bagan pengolahan buah pisang



Buah

pisang



Mentah Matang





Gaplek Tepung Keripik Anggur Sale Jam Dodol Nectar Pure Saos







2.4.3. Marketing.

Dalam skala industri,aspek pemasaran tidak hanya dijuruskan dalam negeri

saja,tetapi sudah mengarah untuk ekspor.Pemasaran buah pisang sebenarnya cukup

mudah,karena buah pisang memiliki keistimewaan tertentu.Oleh karena itu,banyak orang

mencarinya.Selain itu,harga buah pisang juga tergolong murah sehingga buah pisang

dapat dikonsumsi oleh masyarakat berbagai golongan.Kenyataan demikian ini dapat

dilihat dari terus meningkatnya permintaan buah pisang dari tahun ke tahun.

Kegiatan pengumpulan dan pengangkutan dari sentra produksi ketempat

pemasarannya sebagian besar dilakukan oleh pedagang pengumpul yang sudah

mempunyai jaringan pemasarannya. Pedagang pengumpul pada umumnya merangkap

sebagai tengkulak. Buah pisang dikumpulkan dari petani dengan cara sistem ijon, yaitu

dengan membayar buah pisang yang masih muda dengan harga murah dan memanennya

setelah agak tua. Disamping itu, pengumpul juga membeli pisang dari petani yang

menjual langsung kepadanya. Setelah buah pisang yang terkumpul mencapai kapasitas 1

truk (4-5 ton), buah pisang diangkut ke tujuan pemasaran.

Untuk pemasaran lokal,petani lebih suka memetik pada stadia matang

penuh.Buah yang dipetik pada stadia ini dalam 3-4 hari akan menjadi matang penuh.

Pemasaran yang memerlukan waktu, misal keluar daerah, keluar pulau atau untuk

ekspor,maka buah dipanen pada tingkat ketuaan ¾ penuh. Hal ini dimaksudkan agar daya

simpan pisang menjadi lebih lama.Buah menjadi matang setelah 7-19 hari penyimpanan.





Manajemen Agribisnis “Karet” 42

Untuk konsumsi pasar swalayan,dipilih pisang yang tingkat ketuaanya

optimum,penampakannya menarik,tanpa cacat,dan dari varietas tertentu.Jenis0jenis

pisang yang dipasarkan di pasar swalayan adalah jenis pisang ambon dalam bentuk

tangkaian dua-dua yang dikemas dalam kantong plastik berlubang,pisang

barangan,pisang raja bulu,dan jenis-jenis lainnya dipasarkan dalam bentuk sisiran.

Selain pemasaran dalam bentuk buah segar,pemasaran dalam bentuk olahan juga

mempunyai peluang yang baik.Bentuk olahan yang umum diperdagangkan seperti sale

segar,sale goreng,dsb.

Namun dalam memasarkan buah pisang terdapat beberapa kendala yang dihadapi

petani,antara lain sebagai berikut :

1. Pola pemasaran sekarang tidak menghargai produk bermutu dan selalu

menerapakan harga borongan.

2. Penetapan harga cenderung dilakukan oleh pedagang pengumpul.

3. Sistem pemasaran yang ada saat ini belum berpihak kepada petani.

4. Fungsi kelompok tani untuk saat ini belum optimal.

5. Sebagian besar sentra produksi belum memiliki Sub Terminal Agribisnis

(STA).

Maka dari itu untuk Pemerintah harus bisa mengatasinya,adapun diantaranya

sebagai berikut :

1. Menciptakan Kelompok Usaha Bersama Agribisnis ( KUBA ) yang dijiwai

oleh semangat kemitraan dan koperatif.

2. Mendorong berkembangnya Koperasi pedesaan dengan kegiatan produktifnya

agribisnis komoditi pisang dan mampu bermitra usaha dengan pihak luar.



2.4.4. Research and Development.

Pengembangan yang dilakukan selama ini masih tradisional dan belum menerapkan

tekhnologi budidaya yang sesuai dengan standar tekhnik budidaya (SOP). Maka dari itu

diperlukan riset dan pengembangan produk yang dilakukan guna melakukan perbaikan

atau perubahan pada produk yang dihasilkan dalam proses produksi karena adanya

dinamika lingkungan atau perubahan strategi perusahaan dalam menghadapi persaingan

pasar. Dalam pengembangan komoditi buah-buahan pisang ini adalah masih lemahnya

keterkaitan antara sektor pertanian dan sektor industri, terutama di pedesaan. Sehingga

sebagian terbesar komoditi pisang dipasarkan sebagai produk primer. Untuk lebih

memperkuat keter kaitan antar sektor tersebut diperlukan kerjasama inter-sektoral yang

lebih aktif dalam mengembangkan komoditi pisang, penyediaan IPTEK budidaya dan

agroindustri pisang yang mampu menyediakan alternatif produk sekunder dan tersier dari

komoditi pisang di pedesaan, dan kebijakan pemerintah yang lebih terarah.

Selain itu, buah pisang memberikan kontribusinya lebih dari 30% terhadap total

konsumsi buah-buahan. Untuk menghadapi persaingan dunia usaha, diperlukan

melakukan inovasi pengembangan kebun buah rakyat dengan penerapan tekhnologi maju

yaitu strategi pengembangan pisang.

Program pengembangan buah-buahan akan diprioritaskan pada daerah yang

secara agroklimat cocok dan memiliki potensi sumber daya manusia serta didukung

dengan pola pengelolaan tanaman terpadu, artinya sistem usaha agribisnis yang terkait

dari tahap perencanaan, persiapan lahan, pola, dan tekhnologi budidaya, prapanen, panen

dan pascapanen serta pemberdayaan kelembagaan yang kuat terhadap produk yang

dihasilkan agar dapat diterima atau disukai konsumen.

Pengembangan pisang berskala kebun rakyat dan besar akan membuka peluang

agribisnis hulu, seperti industri perbenihan dan industri peralatan mekanisasi pertanian,

yang tentunya akan membuka kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Selain sebagai

buah yang dimakan segar, pisang juga dapat diolah baik untuk skala rumah tangga seperti

keripik, getuk dan sale, maupun industri berskala besar seperti tepung, puree dan jam,

yang dapat merangsang tumbuhnya agribisnis hilir. Agribisnis hilir akan berkembang

dengan cara memberdayakan industri pengolahan skala keluarga (home industry) dan

menengah maupun skala besar (investor dalam dan luar negeri).

Upaya pengembangan pisang jenis unggul yang berkualitas buah baik terbentur

kepada kesulitan penyediaan bibit yang baik pada tingkat petani; sedangkan upaya





Manajemen Agribisnis “Karet” 43

perluasan jangkauan pemasaran buah terbentur kepada kualitas buah yang sangat

beragam, daya tahan buah matang segar yang sangat rendah dan terbatasnya upaya-upaya

pengawetan dan pengolahan buah di tingkat petani.Maka dari itu diperlukan beberapa

strategi,yaitu :

Strategi yang akan ditempuh dalam pengembangan buah pisang adalah

pengembangan varietas unggul, penyiapan benih, pewilayahan komoditas, penerapan

teknologi maju, pengembangan perlindungan komoditi pisang, peningkatan mutu,

pengembangan kawasan sentra produksi, pengembangan kelembagaan petani,

pengembangan sarana dan prasarana kebun, pengembangan agroindustri pedesaan,

menumbuhkembangkan Kegiatan Usaha Bersama (KUB), UPJA teknologi pengolahan

hasil, peningkatan kerjasama dengan peneliti dan perguruan tinggi serta mengadakan

pengkajian yang disesuaikan dengan kebutuhan secara local spesifik, pengembangan

pola kemitraan dan kewirausahaan masyarakat pertanian yang maju dan mandiri,

pengkajian dan perkiraan tentang dinamika produksi, produktivitas dan penuntun pasar

regional, optimalisasi sumberdaya aparatur seiring dengan pengembangan komoditas

yang mampu mendukung peran usaha tani.

Usaha budidaya pisang kedepan akan dilakukan melalui 3 pola pengembangan

yaitu: (a) pola pengembangan kebun besar oleh investor, (b) pola pengembangan kebun

buah rakyat berskala komersial (5-10 Ha per petani) dan (c) pola pengembangan kebun

buah rakyat dengan penerapan tekhnologi maju.

Kebutuhan biaya keseluruhan untuk mendukung pengembangan pisang sampai

dengan 2025 adalah Rp 23,2 triliun, dengan rincian untuk tahun 2006-2009 sebesar

Rp 1,97 triliun dan tahun 2010-2025 sebesar Rp 21,24 triliun. Sumber pembiayaan yang

diharapkan untuk mendukung pengembangan pisang berasal dari pemerintah tahun 2005-

2009 sebesar + 15 – 20 %, sedangkan sisanya merupakan partisipasi masyarakat serta

swasta. Periode 2010 – 2025 kontribusi pembiayaan dari pemerintah sebesar 7,5 –10 %.

Dengan demikian untuk waktu-waktu mendatang upaya pengembangan

agribisnis ini masih tetap merupakan salah satu kunci utama dalam pengembangan

komoditi pisang .



2.4.5. Supporting Lainnya.

Pengembangan buah pisang di Indonesia tidak akan tercapai optimal tanpa adanya

investor, baik dalam negeri maupun luar negeri. Oleh karena itu, gambaran tentang

investasi dan disertai informasi daerah pengembangan ke depan perlu diberikan dan

tentunya haruslah didukung dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang berhubungan

dengan kemudahan dan jaminan keamanan berinvestasi serta perbaikan sarana

pendukung seperti sistem pengairan, transportasi, komunikasi, dan sarana pasar.Selain

itu, buah pisang juga mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi dibandingkan dengan buah-

buahan lainnya.









Berikut ini disajikan nilai gizi buah pisang dalam 100 gram:

Pisang (acuminata)

Nutrisi

Pisang Kering Pisang Basah

Air (%) 75.7 -

Karbohidrat (g) 22.2 91.4

Protein (g) 1.1 4.5

Lemak (g) 0.2 0.8

Abu (g) 0.8 3.3



Vitamin Gros Michel Cavendish









Manajemen Agribisnis “Karet” 44

Vitamin A (SI) 3.8 5.1

As. Ascorbic (mg) 13.3 20.0

Vitmin B (mg) 25.0 -

Thimin (mg) 3.3 2.6

Riboflavin (mg) 3.8 5.3

Niacin (mg) 4.7 4.8





Penelitian seorang epidemiolog dari University of California, Marilyn Kwan,

membuktikan bahwa mengonsumsi pisang secara rutin dapat menurunkan risiko terkena

leukemia. Efek ini terlihat nyata kalau pisang dimakan secara teratur 4 - 6 kali seminggu

sampai bayi berumur dua tahun. Pisang mampu menjadi benteng pertahanan serangan

leukemia sejak dini karena kaya vitamin C. Sebagai antioksidan, vitamin C mampu

menurunkan risiko kerusakan DNA. Dengan demikian otomatis proses munculnya kanker

dapat dihentikan. Menurut Kwan, potasium dalam pisang juga terbukti menstabilkan

DNA.



2.5. Subsistem Yang Paling Berperan

Subsistem yang paling berperan sesuai dengan permasalahan komoditi pisang ini

adalah farming system. Agar hasil tanaman pisang dapat tumbuh dengan baik, hendaklah

kita memilih rumpun bibit buah pisang yang baik dan sehat serta bebas dari penyakit

maupun bakteri. Pembibitan dapat dilakukan melalui kultur jaringan. Dengan adanya

farming system yang baik, hasil yang didapat dari tanaman buah pisang akan meningkat.

Selain itu farming system yang didukung dengan research and development yang baik

dapat meningkatkan produktivitas komoditi buah pisang sehingga eksport pisang dapat

bersaing dipasar global.



2.6. Pengembangan Agribisnis

2.6.1. Analisis SWOT.

1. Kekuatan ( Strengths )

Kekuatan yang terdapat pada komoditi pisang dibandingkan dengan buah-buahan

lainnya adalah buah pisang merupakan komoditas buah tropis yang sangat popular di

dunia. Hal ini dikarenakan rasanya lezat, gizinya tinggi, dan harganya relatif murah.

Pisang merupakan salah satu tanaman yang mempunyai prospek cerah di masa datang

karena di seluruh dunia hampir setiap orang gemar mengkonsumsi buah pisang. Selain itu

juga pisang mengandung kalium dalam dosis besar dan sedikit kromium, yang diperlukan

untuk pembentukan enzim. Baik untuk divertikulitis, ulkus, kolitis, heartburn, dan

kelelahan. Secara tradisional, air umbi batang pisang kepok dimanfaatkan sebagai obat

disentri dan pendarahan usus besar sedangkan air batang pisang digunakan sebagai obat

sakit kencing dan penawar.

Pisang merupakan salah satu bahan pangan penting di daerah tropika basah.

Buah yang masih berwarna hijau mengandung 40% karbohidrat dan 6% protein, vitamin

dan mineral. Satu ton buah pisang masak hijau mengandung sekitar 545 kg daging buah

segaratau 218 kg daging buah kering, setara dengan 364 800 kalori. Hasil pengujian oleh

Direktorat Gizi (1979) menunjukkan bahwa daging buah pisang mengandung protein,

lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, besi dan vitamin A, B, C, dan air. Setiap 100 g

daging buah pisang masak menghasilkan kalori sebesar 68-127 kcal. Ditinjau dari segi

enerji dan gizi, tanaman pisang dapat menggantikan kedudukan ubikayu.

Ditinjau dari nilai gizinya, daging buah (pulp) pisang mengandung air sebesar 70

%, karbohidrat 27 %, serat kasar 0,5 %, protein 1,2 %, lemak 0,3 %, abu 0,9 % dan

vitamin serta mineral sebesar 0,1 %. Pada pisang yang masih hijau tetapi sudah cukup tua

mempunyai kandungan karbohidrat sebesar 21 - 25 persen.

Selain itu tanaman pisang sangat mudah dibudidayakan dan cepat menghasilkan

sehingga lebih disukai petani untuk dibudidayakan, contohnya saja di Indonesia tepatnya

di Kabupaten Cianjur banyak ditanami pohon pisang, daerah ini sendiri mempunyai luas

wilayah 350.148 Ha dengan jumlah penduduk 1.931.840 jiwa dan laju pertumbuhan

penduduk 1,57 % merupakan potensi yang cukup besar. Kondisi alam kabupaten Cianjur





Manajemen Agribisnis “Karet” 45

yang subur mengandung kekayaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang sangat

potensial dan merupakan modal dasar pembangunan. Lahan-lahan pertanian dan

perkebunan sangat memungkinkan untuk ditingkatkan pengelolaan dan pengolahannya

sehingga menjadi sumber kehidupan masyarakat. Lokasi kota Cianjur juga berada pada

jalur utama ekonomi regional Jawa Barat memberikan kemudahan dalam memasarkan

hasil produksi buah pisang tersebut.

2. Kelemahan ( Weaknesses )

Ada kekuatan pasti ada kelemahan. Kelemahan pada komoditi pisang khususnya

di Indonesia adalah kurangnya kepedulian pemerintah terhadap perkebunan maupun

petani pisang karena pemerintah hanya sibuk mengurusi urusan politik saja urusan

perkebunan khususnya pisang terlupakan. Alhasil Kualitas SDM relatif masih rendah dan

banyak pula buah pisang yang terserang hama yang mengakibatkan produksi buah pisang

menurun. Sebenaranya industri pengolahan pisang di Indonesia sudah mampu memasok

pasar domestik dan juga sudah mulai mengekspor. Namun terbatasnya daya serap pasar

domestik dan persaingan pasar yang semakin ketat, sehingga kesinambungan industri

pengolahan masih kurang lancar. Hal ini dikarenakan rendahnya daya saing produk pada

aspek jaminan mutu / penerapan HACCP (Hazard Analytical Critical Control Point) dan

jaminan suplai, manajemen distribusi, time delivery, cost efficiency, product appearance,

tuntutan atribut produk misalnya kesesuaian dengan ISO series (ecolabeling,

ecoefficiency), dll sesuai dengan tuntutan pasar.

Keseluruhan aspek tersebut merupakan hambatan ekspor yang menurut tatacara

aturan perdagangan global WTO dimasukkan dalam kategori SPS (Sanitary dan

Phytosanitary) dan TBT (Technical Barrier to Trade). Misalnya saja Negra Jepang yang

menolak masuknya beberapa buah-buahan Indonesia seperti pisang dan beberapa jenis

buah-buahan lainnya dengan alasan lalat buah. Dalam hal ini Indonesia tidak mengajukan

protes ke Komisi SPS WTO karena kenyataannya memang terjadi di Indonesia dan

Indonesia sejauh ini belum mampu mengatasinya, dan masih banyak lagi kelemahan

lainnya. Kelemahan - kelemahan ini terjadi tidak lain dan tidak bukan karena kurangnya

perhatian pemerintah terhadap perkebunan pisang.



3. Peluang ( Opportunities )

Sebenarnya buah pisang mempunyai peluang yang cukup besar. Hal ini karena

buah pisang mudah didapat sehingga besarnya angka konsumsi buah pisang yang tak

berhenti akan membuat peluang ekspor menjadi lebih besar dimasa mendatang. Dan

banyaknya pengusaha - pengusaha menjadikan pisang sebagai lahan bisnis baru yang

juga akan memperbesar peluang produksi pisang. Keuntungan yang di peroleh dari

produksi pisang juga sangat besar, misalkan saja Usaha tani pisang yang sekarang

dilakukan oleh penduduk umumnya masih tergolong "low input”, sehingga secara

ekonomis memberikan keuntungan petani. Tabel 1 dan 2 menyajikan analisis finansial

usahatani pisang rakyat.



Analisis kelayakan ekonomis usahatani pisang secara monokultur menunjukkan prospek

yang sangat menguntungkan, terutama Kultivar Ambon dan Sobo (Tabel 3).



Sebagaimana dikemukakan di atas bahwa pisang adalah tanaman yang telah lazim

di jawa Timur. Oleh karean itu pisang dapat dipelihara oleh setiap anggota masyarakat,

tidak memerlukan teknologi tinggi dan dengan cara sederhana dapat berkembang biak

dengan baik. Dengan demikian untuk meningkatkan populasi, dan produksi buah pisang,

akan dilaksanakan Sentra Pengembangan Agibisnis Komoditas Unggulan (SPAKU)

Pisang. Selain itu di Kabupaten Cianjur mempunyai peluang - peluang lain antara lain :

1. Otonomi Daerah

Paradigma baru penyelenggaraan pemerintahan dengan lahirnya UU No. 22

Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, merubah pola sentralistik menjadi

desentralistik.

2. Pasar Terbuka

Hasil produksi Kabupaten Cianjur, khususnya dari sektor pertanian mudah untuk

dipasarkan.





Manajemen Agribisnis “Karet” 46

3. Diminati Investor

Potensi sumber daya alam di Kabupaten Cianjur banyak diminati kalangan

masyarakat/dunia usaha untuk me-nanamkan modalnya.

4. Globalisasi

Ditandai dengan makin ketatnya standar persaingan / kompetisi untuk bekerja di

berbagai sektor.

4. Kendala (Threats )

Setiap kegiatan pasti mempunyai kendala, tak terkecuali dalam pengembangan

produksi pisang. Kendala yang di hadapi dalam pengembangan pisang antara lain :

a. Ketidakpastian iklim politik, situasi dan kondisi stabilitas nasional yang belum

sepenuhya pulih, secara langsung maupun tidak langsung berimbas pula pada

goyahnya stabilitas daerah.

b. Ketidakpastian perekonomian nasional, pertumbuhan ekonomi daerah tidak terlepas

dari fenomena pertumbuhan ekonomi nasional.

c. Ketidakmenentuan iklim global. Misalkan Kabupaten Cianjur sebagai daerah agraris

yang pembangunannya bertumpu pada sektor pertanian sangat rentan terhadap

ketidakmenentuan iklim global seperti fluktuasi musim hujan dan musim kemarau

berkepanjangan.

Selain itu strategi pengembangan juga merupakan kendala dengan mencermati

perkembangan neraca perdagangan ekspor impor produk pisang, perlu penanganan yang

serius dari semua pihak terkait baik antar instansi pemerintah, swasta, pelaku / praktisi

agribisnis serta stakeholder lainnya. Penanganan secara bersama-sama dengan

mengintegrasikan strategi yang berorientasi internal dan eksternal yang dilakukan secara

konsisten dan berkesungguhan. Penjabaran rinci dari perjanjan WTO dalam perdagangan

produk pertanian yang harus dipatuhi dalam mengekspor produk pertanian adalah

“Agreement on Agriculture” yang bertujuan meningkatkan akses pasar, pengurangan

subsidi ekspor dan pengurangan bantuan kepada petani agar produksi petani menjadi

lebih efisien. Pemanfaatan perjanjian dan kesepakatan ini belum banyak dilakukan

sehingga peluang untuk meningkatkan daya saing produk pertanian belum dapat dicapai.

Selama ini ketentuan WTO masih sering merupakan hambatan ekspor dari pada peluang

peningkatan ekspor.

Penerapan SPS (Sanitary dan Phytosanitary) pada produk pertanian yang

diperdagangkan harus memenuhi kebijakan standar sanitasi yang telah ditetapkan dimana

ketentuan ini bertujuan untuk melindungi kesehatan dan keselamatan masyarakat,

perlindungan hewan,tanaman dan lingkungan hidup. SPS pada dasarnya tidak boleh

menjadi hambatan yang tidak wajar dalam perdagangan internasional. Selama ini

ketentuan SPS masih merupakan hambatan ekspor bagi produk pertanian Indonesia, perlu

diubah agar penerapan SPS dapat dijadikan dorongan bagi peningkatan daya saing

produk pertanian Indonesia di pasar Global.

Operasional penyebaran dan pengembangan komoditi pisang juga mempunyai

kendala, misalnya peyebaran bibit pisang yang kurang merata, pemasaran hasil produksi,

hama dan penyakit serta cara penanaman yang kurang baik. Hal - hal inilah yang

merupakan kendala - kendala yang di hadapi dalam pengembangan produksi pisang.

Seandainya kendala - kendala ini dapat diatasi mungkin produksi pisang tiap tahunnya

dapat meningkat.



2.6.2. Segmen Pasar.

Segmen pasar yang ditawarkan oleh buah pisang adalah dengan keanekaragaman

jenis buah pisang seperti: pisang cavendish (merupakan buah pisang yang sangat

digemari oleh konsumen baik lokal maupun mancanegara), pisang raja, pisang barangan,

pisang jambe, pisang raja sere, pisang kapok, pisang bali, pisang mas, pisang lampung,

dan sebagainya. Selain itu, standar mutu lain yang harus dipenuhi adalah

pengelompokkan buah pisang, bentuk fisik buah pisang (ketahanan buah pisang terhadap

hama penyakit), maupun kebersihannya untuk menjaga kepercayaan konsumen.

Disamping itu mereka memperketat sortasi buah pisang yang diterima dari

petani/kelompok tani sehingga tidak semua produk yang dihasilkan petani/kelompok tani

dapat diterima oleh segmen pasar.





Manajemen Agribisnis “Karet” 47

2.7. Pengembangan Komoditi Agribisnis Berdasarkan Bauran Pemasaran (4P)

2.7.1. Bagaimana 4P Digunakan.

1. Product

Didalam pasar dunia, diantara sekian banyak jenis buah pisang, buah pisang

cavendishlah yang merupakan produk unggulannya. Hal ini dikarenakan buah pisang

cavendish telah sesuai dengan permintaan segmen pasar, Pisang Cavendish di Indonesia

lebih dikenal dengan Pisang Ambon Putih. Varietas yang dikembangkan di SEAMEO

BIOTROP adalah jenis Pisang Cavendish Grand Naim yang banyak dijual di supermarket

sebagai pisang meja yaitu pisang yang dihidangkan langsung untuk dikonsumsi. Pisang

Cavendish juga banyak dijadikan sebagai konsumsi pabrik puree, tepung pisang sebagai

bahan makanan bayi. Karena buah pisang sangat bergizi dan merupakan sumber vitamin,

mineral dan juga karbohidrat menyebabkan meningkatnya permintaan buah pisang untuk

kebutuhan lokal maupun untuk ekspor,bentuk dan ukuran buah, cara pengemasan dan

rasa yang lebih enak mendorong konsumen untuk lebih banyak membeli baik berupa

buah pisang segar maupun pisang olahan. Beberapa macam hasil olahan buah pisang

seperti:sale pisang, tepung pisang, sari buah pisang, anggur pisang, keripik pisang, jem

pisang, buah pisang dalam sirup, tape pisang, dan lain-lain.

2. Price

Pemasaran buah pisang dilakukan dengan menentukan harga yang sesuai dengan

produk dilihat dari standar mutu buah pisang, agar buah pisang dapat laku dipasaran.

Harga pisang disesuaikan oleh mutu dan varietasnya.







3. Promotion

Salah satu kegiatan promosi dilakukan adalah dengan pemberian nama

merk/label pada buah pisang terutama pada buah pisang olahan. Misalnya pada pisang

Monkey ditemple 2 buah lebel kertas nama perusahaan pada kulit pisang. Sedangkan

label kertas nama pisang cavendish ditempel diatas plastik pembungkus. Sedangkan

pisang Cavendish yang baru di impor plastiknya sudah terdapat tulisan nama

perusahaannya. Selain label tersebut produk yang baru masuk juga diberikan label

keterangan mengenai 5 macam kelebihan pisang tersebut yaitu pertama ditanam di daerah

pegunungan yang ternama, kedua ditanam di daerah dengan ketinggian 500 m, ketiga

berasal dari pulau yang banyak terdapat guano sehingga tidak menggunakan pupuk

kimia, keempat pengairan menggunakan air yang bersih, kelima warna kulit bagus tanpa

treatment bahan kimia.Hal ini sangat mempengaruhi kegiatan promosi,karena dapat

menampilkan kualitas pisang sehingga konsumen akan tertarik.Selain itu, bentuk

pengemasan yang bagus merupakan faktor penarik produk apalagi saat dipromosikan

melalui media.Pengemasan bisa berupa peti kayu,keranjang bambu,dikemas dalam daun

kering maupun dengan plastik. Buah yang dikemas penampilannya lebih menarik

4. Place

Tempat penjualan yang dipilih adalah tempat yang berada dekat dengan pasar,

baik pasar nasional maupun pasar internasional. Biasanya buah pisang dijual dipasar buah

atau disupermarket. Buah pisang dapat dipasarkan secara langsung dari tangan produsen

maupun secara tidak langsung melalui perantara (pasar).



2.7.2. Pertimbangan Yang Diterapkan Pengusaha Agribisnis.

Suatu perusahaan bisa sukses apabila dapat melaksanakan strategi bauran

pemasaran atau yang biasa disebut marketing mix, yang terdiri dari 4P yaitu product,

price, promotion, dan place serta 1S yaitu costumer services. Dalam menghadapi

persaingan global, perusahaan harus mengetahui selera konsumen agar produksi yang

dihasilkan dapat menguntungkan bagi perusahaan. Dalam prinsip pemasaran, perusahaan

meyakini bahwa suatu produk tidak akan pernah sesuai dengan keseluruhan pasar. Oleh

karena itu, maka pemasar yang baik adalah orang yang dapat menentukan dengan tepat









Manajemen Agribisnis “Karet” 48

apa yang harus dijual secara tepat kepada konsumen. Selanjutnya, bagaimana perusahaan

dapat memberikan kepuasan kepada segmen yang sesuai.

Selain dari itu,perusahaan dalam melaksanakan kegiatan produksi haruslah ramah

lingkungan,dalam artian tidak merusak lingkungan sekitar dengan membuang limbah

produksi sembarangan dan sebisa mungkin limbah tersebut bisa didaur ulang,sehingga

terciptalah keselarasan dan keseimbangan dengan lingkungan,dan juga untuk

memproduksi buah pisang sebaiknya menggunakan bahan-bahan alami dan mengurangi

bahan kimia sehingga menghasilkan jenis pisang organik yang sehat dan bergizi.



2.8. Potensi Ekspor Komoditi Pisang dan Saingannya Dipasar Ekspor

Potensi ekspor buah pisang mempunyai peluang yang cukup besar baik dipasar

domestik maupun diluar negeri. Hal ini ditunjang dengan ketersediaan lahan yang cukup

luas, iklim yang mendukung, keragaman varietas yang cukup tinggi, sumber daya

manusia, serta inovasi tekhnologi untuk pengelolaan tanaman pisang. Pisang mempunyai

potensi eksport yang cukup tinggi karena buah pisang bukan saja sebagai buah yang

segar, tetapi buah pisang juga mempunyai nilai ekonomis. Untuk memenuhi kebutuhan

buah dan produk olahan pisang untuk ekspor pada tahun 2010 diperkirakan memerlukan

areal pertanaman sekitar 5.000-6.000 ha atau dibutuhkan sekitar 5-7 perusahaan skala

besar.

Penanaman pisang berskala besar telah dilakukan di beberapa tempat antara lain

di pulau Halmahera (Maluku Utara), Lampung, Mojokerto (Jawa Timur), dan beberapa

tempat lainnya, sehingga Indonesia pernah pengekspor pisang dengan volume mencapai

lebih dari 100.000 ton pada tahun 1996, tetapi pada tahun-tahun berikutnya volume

ekspor tersebut terus menurun dan mencapai titik terendah pada tahun 2004 yaitu hanya

27 ton. Kenyataan ini menunjukkan bahwa sebetulnya Indonesia mempunyai peluang

yang cukup besar untuk meningkatkan ekspor buah pisang pada tahun-tahun mendatang.

Sentra produksi buah pisang di Indonesia seperti: propinsi Jawa Barat, Jawa

Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Barat, Jambi, Kalimantan, Sulawesi,

Maluku,Bali, dan NTB dengan berbagai jenis buah pisang yang dihasilkan. Di pasar

dunia, pisang - pisang olahan lokal juga menawarkan harga yang relatif murah

dibandingkan dengan perusahaan - perusahaan olahan asing. Produsen pisang olahan

lokal ini menawarkan produknya dengan harga yang relatif murah bukan tanpa tujuan,

tujuannya adalah agar dapat menerobos pasar dunia dan memperkenalkan kepada dunia

bahwa produk olahan pisang lokal sangat berkualitas dan bergizi tanpa mengurangi

sumber vitamin, mineral dan juga karbohidrat yang sudah ada di dalam pisang tersebut.

Informasi statistik yang diberikan oleh AMARTA menyebutkan bahwa Indonesia



merupakan produsen buah-buahan tropis yang signifikan. Negara ini menempati urutan



keenam dari semua produsen, dengan rata rata pertumbuhan tahunan sebesar 4.76%.



Pada tahun 2005, total produksi buah Indonesia adalah 14,786,599 MT. Sebagian besar



buah adalah pisang, jeruk siam, mangga, salak, dan nanas. Pisang merupakan kontributor



terbesar dari output total (35.02%). Pada tahun yang sama, Jawa Barat merupakan



penghasil pisang terbesar dengan produksi sebesar 1,420,088 MT. Jawa Timur



merupakan terbesar kedua dengan 856,873 MT. Di antara negara anggota ASEAN,



Indonesia menempati urutan kedua dalam produksi pisang, setelah Filipina. Namun,



dalam hal produktivitas, negara ini menempati urutan keempat. Penting untuk dicatat



bahwa rantai supermarket di Indonesia hanya membeli 20% dari total produksi buah







Manajemen Agribisnis “Karet” 49

lokal, menjadikan segmen pasar ini sebagai sasaran untuk perkembangan dan



pertumbuhan di masa mendatang.



Ekspor buah pisang tidak kalah saingannya dengan ekspor buah-buahan yang lain

karena budidaya pisang sudah merupakan suatu industri yang didukung oleh kultur

tekhnis yang prima dan stasiun pengepakan yang modern dan pengepakan yang

memenuhi standar internasional baik seperti Good Agriculture Practices (GAP),

Integrated Pest Management (IPM), dan Analysis Critical Point (HACCP). Peluang

eksport pisang Indonesia tidak kalah bersaing dengan produk buah pisang dari negara

lain. Hal ini dilihat dari sisi untuk pemasaran internasional, dan kedepannya untuk

mengembangkan produk pisang dipasar domestik dengan mencoba mengembangkan

peluang investasi yang merupakan prospek bisnis dan pengembangan agrobisnis buah

pisang.

Tabel dibawah ini menunjukkan bahwa sebetulnya Indonesia mempunyai peluang

yang cukup besar untuk meningkatkan ekspor buah pisang pada tahun mendatang.



Komoditi Tahun Negara Tujuan Jumlah Ekspor Harga (US$)

Pisang 1987 Jepang, Australi, 62.787 kg 51.315

segar dan 1989 Jerman, Belanda, 82.419 kg 65.402

pisang 1991 Perancis, Kanada, 89.964 kg -

olahan. 1996 Arab Saudi,........ 101.495 ton -

1999 77.473 ton 140.736

2002 512.,27 ton 979.730

2003 10.615 kg 7.899

2004 992.505 kg 722.772

2005 470.700 ton -

Target produksi buah pisang baik dalam maupun luar negeri

2009 6.125.000 ton -

2025 11.266.000 ton -









Perkembangan Ekspor Buah-Buahan Tropis Indonesia Tahun 2002-2004 (Kg, US $)



Tahun

2002 2003 2004

Komoditas Volume Nilai Volume Nilai Volume Nilai



(Kg) (US $) (Kg) (US $) (Kg) (US $)

Manggis 6.512.423 6.956.915 9.304.511 9.306.042 3.045.379 3.291.855

Pepaya 3.287 6.643 187.972 231.350 524.686 1.301.371

Pisang 512.596 979.729 10.615 7.899 992.505 722.772

Nenas 3.734.414 2.784.582 2.284.432 2.315.283 2.431.263 529.122

Duku 16.921 6.313 21.044 12.662 1.643 1.643

Durian 89.479 96.634 14.241 12.943 1.494 6.710

Jambu 32.052 28.859 47.871 49.843 106.274 102.074

Jeruk 156.437 75.320 85.920 22.026 632.996 517.554

Mangga 1.572.634 2.671.995 559.224 460.674 1.879.664 2.013.390

Rambutan 366.435 588.140 604.006 958.850 134.772 117.336

Buah tropis 1.591.329 1.451.391 984.820 523.031 1.341.923 794.924





Manajemen Agribisnis “Karet” 50

lainnya



Sumber : Badan Pusat Statistik, 2002-2004



Frans Hero K. Purba

Subdit Promosi dan Pengembangan Pasar

Direktorat Pemasaran Intenasional

Ditjen PPHP





Departemen Pertanian

Pusat Data dan Informasi Pertanian



EKSPOR PISANG PERNEGARA TUJUAN

Periode : April s/d Mei 2007

April Mei Jumlah

Negara

Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$) Volume (Kg) Nilai (US$)

Japan 148,720.00 40,040.00 0.00 0.00 148,720.00 40,040.00

Hong Kong 19,767.00 5,835.00 39,204.00 11,544.00 58,971.00 17,379.00

Singapore 142.00 1,212.00 0.00 0.00 142.00 1,212.00

Malaysia 13,324.00 1,330.00 10,000.00 840.00 23,324.00 2,170.00

Iran,islamic

501,930.00 173,745.00 483,340.00 167,310.00 985,270.00 341,055.00

Rep. Of

Saudi

3,481.00 6,510.00 18,590.00 5,506.00 22,071.00 12,016.00

Arabia

Kuwait 37,180.00 12,441.00 37,180.00 12,442.00 74,360.00 24,883.00

United

Arab 37,180.00 12,441.00 130,130.00 43,545.00 167,310.00 55,986.00

Emirates

United

50.00 122.00 0.00 0.00 50.00 122.00

States

Total 761,774.00 253,676.00 718,444.00 241









Departemen Pertanian

Pusat Data dan Informasi Pertanian



NERACA PERDAGANGAN KOMODITI PERTANIAN

SUBSEKTOR HORTIKULTURA

Periode : Januari s/d Mei 2007 (US$ 000)

Bulan Pertumbuhan

No. Komoditi

Januari Pebruari Maret April Mei (%)





Manajemen Agribisnis “Karet” 51

1 Pisang (segar) 17.76 2.68 12.81 253.68 241.19 542.10

TOTAL 17.76 2.68 12.81 253.68 241.19 542.10









PRODUKSI

TANAMAN BUAH - BUAHAN DI INDONESIA

PERIODE 2003 - 2007*)



Produksi

NO KOMODITAS ( Ton )

2003 2004 2005 2006 2007*)



1 Alpukat 255,957 221,774 227,577 239,463 212,015

2 Belimbing 67,261 78,117 65,966 70,298 56,429

3 Duku 232,814 146,067 163,389 157,655 182,127

4 Durian 741,831 675,902 566,205 747,848 632,557

5 Jambu Biji 239,108 210,320 178,509 196,180 180,355

6 Jambu Air 115,210 117,576 110,704 128,648 100,652

7 Jeruk siam 1,441,680 1,994,760 2,150,219 2,479,852 2,377,090

8 Jeruk Besar 88,144 76,324 63,801 85,691 72,599

9 Mangga 1,526,474 1,437,665 1,412,884 1,621,997 1,781,967

10 Manggis 79,073 62,117 64,711 72,634 100,042

11 Nangka/Cempedak 694,654 710,795 712,693 683,904 618,920

12 Nenas 677,089 709,918 925,082 1,427,781 2,304,234

13 Pepaya 626,745 732,611 548,657 643,451 625,864

14 Pisang 4,177,155 4,874,439 5,177,608 5,037,472 5,270,131

15 Rambutan 815,438 709,857 675,578 801,077 628,793

16 Salak 928,613 800,975 937,931 861,950 818,310

17 Sawo 83,877 88,031 83,787 107,169 110,418

18 Markisa 71,898 59,435 82,892 119,683 111,485

19 Sirsak 68,426 82,338 75,767 84,373 60,035

20 Sukun 62,432 66,994 73,637 88,339 96,563

21 Melon 70,560 47,664 58,440 55,370 59,653

22 Semangka 455,464 410,195 366,702 392,587 360,513

23 Blewah 31,532 34,582 63,860 67,708 59,556

Total Buah-Buahan 13,551,435 14,348,456 14,786,599 16,171,130 16,820,308









http://www.hortikultura.deptan.go.id/index.php?option=com_content&task=view&i

d=124&Itemid=160









2.9. Atribut Kualitas Komoditi Pisang

Agar kualitas buah pisang yang dihasilkan sesuai dengan standar internasional,

diperlukannya atribut kualitas yang baik dalam mengolah atau memproses yang menjadi

berbagai macam produk. Atribut kualitas yang digunakan antara lain:

a. Bahan baku yang dipakai memiliki kualitas yang baik, karena bahan baku

buah pisang merupakan faktor utama yang harus terjamin baik kuantitas







Manajemen Agribisnis “Karet” 52

maupun kontinuitas. Buah pisang memiliki rasa yang enak, selain itu

mengandung nilai gizi yang cukup banyak.

b. Berbagai macam manfaat buah pisang, salah satunya adalah dapat diolah

untuk menjadi makanan olahan pisang yaitu keripik, sale dan sebagainya.

c. Standar buah pisang mengacu pada SNI-01-4229-1996 yaitu berdasarkan

persyaratan klasifikasi dan standar mutu pisang. Untuk mengetahui dan

mencapai syarat mutu pisang harus melakukan pengujian yang meliputi

Penentuan keseragaman kultivar, Penetuan keseragaman ukuran buah,

Penentuan tingkat ketuaan, Penentuan tingkat kerusakan fisik/mekanis, dan

Penentuan kadar kotoran. Adapun klasifikasi pisang berdasarkan: panjang jari

(cm),berat isi (kg),dan diameter pisang (cm).



2.10. Sistem Pembiayaan Komoditi Pisang



Dalam mendorong pengembangan pisang di Kabupaten Cianjur khsusunya

Kecamatan Cugenang, telah difasilitasi penyusunan dan sosialisasi SOP, fasilitasi

percontohan pembrongsongan pisang, inisiasi pembentukan asosiasi petani Pisang

Kecamatan Cugenang, inisiasi kemitraan, sosialisasi pemanfaatan KKP-E untuk

pembiayaan pisang dan bersama Dinas Pertanian.

Untuk menyederhanakan penguasaan dan penggunaan faktor-faktor produksi

dalam budidaya dan pemasaran hasil pisang abaca serta menjamin keamanan kredit

perbankan, maka pola kemitraan yang dikembangkan dengan mekanisme closed system,

akan dapat saling menguntungkan antara pihak-pihak yang bermitra, yaitu koperasi dan

anggotanya (petani plasma) mitra usaha besar dan perbankan.

Untuk mengembangkan perkebunan pisang abaca dengan pola kemitraan di

perlukan biaya investasi untuk pengadaan bibit, peralatan dan mesin. Disamping itu juga

di perlukan modal kerja untuk pengadaan sarana produksi dan pembiayaan dan tenaga

kerja. Untuk sementara jumlah biaya investasi yang diperlukan sebesar Rp. 6.733.000.-

yang terdiri dari dana sendiri Rp. 1.500.000,- dan kredit bank Rp. 5.273.000,- .

Sedangkan modal kerja yang diperlukan sebesar Rp. 4.995.000,- yang terdiri dari modal

sendiri Rp. 250.000,- dan kredit dari bank Rp. 4.745.000,-

Secara finansial, budidaya pisang abaca layak untuk diusahakan yang ditunjukkan

oleh parameter-parameter finansial antara lain :



o IRR sebesar 25,01% jauh lebih besar dari tingkat suku bunga KLBI

(KKPA sebesar 16% per tahun)

o NPV sebesar Rp. 6.603.493

o Payback period sebesar 31 bulan

o BEP volume sebesar 4.743 kg





BAB III

PENUTUP



3.1. Kesimpulan

Tanaman pisang merupakan tanaman yang sangat sederhana. Walaupun demikian,

tanaman pisang mempunyai banyak manfaat, salah satunya adalah dapat diolah menjadi

macam-macam bentuk makanan olahan seperti keripik pisang, sale pisang, dan lain-lain.

Indonesia merupakan negara tropis, sangat subur untuk sebagian besar tanaman,

termasuk buah pisang. Buah pisang dapat tumbuh dimana-mana, baik sebagai tanaman

sela, batas/pagar disekitar rumah dan dipekarangan-pekarangan termasuk kebun. Oleh

sebab itu, tanaman pisang dalam pembangunan negara dapat merupakan suatu sumber

devisa negara yang sangat baik.

Buah pisang mempunyai peluang eksport menggairahkan yang tidak kalah saing

dengan buah-buah lainnya. Pisang mempunyai keunggulan antara lain:

a. mempunyai prospek pasar yang baik.

b. mempunyai potensi pengembangan yang luas.





Manajemen Agribisnis “Karet” 53

c. memiliki nilai ekonomis/jual yang tinggi dan menguntungkan



3.2. Saran

Saran yang dapat disampaikan dari hasil penulisan ini adalah sebaiknya

pemerintah dan aparat desa lebih memperhatikan masyarakat dan sering memberikan

pelatihan untuk menambah keahlian dan ketrampilan masyarakat sehingga masyarakat

memiliki modal dalam bentuk pengetahuan dan keahlian dalam penanaman pisang agar

dapat tumbuh dan berkembang lebih baik dan perkebunan pisang berpotensi sebagai unit

usaha yang mampu menciptakan kesempatan kerja bagi penduduk yang tingkat

pendidikan pada umumnya relatif rendah sehingga diharapkan pemerintah selalu

memperhatikan produk hasil olahan pisang, hal ini dapat ditempuh dengan

mengalokasikan kemudahan kredit dengan bunga yang ringan untuk industri rumah

tangga, memberikan kemudahan-kemudahan dalam perizinan, selain itu pemerintah juga

harus memperhatikan pemasaran produk-produk hasil olahan pisang tersebut.

Selain itu, agar dapat memproduksi buah pisang dengan baik, gunakanlah

budidaya standar internasional yang telah ditetapkan dengan sistem tekhnologi yang

canggih supaya buah pisang dapat bersaing dengan buah-buah lainnya dipasar global,

sekaligus meningkatkan pendapatan devisa negara melalui ekspor.

Buah pisang yang penampilannya kurang menarik, harganya menjadi sangat

murah. Buah pisang itu dapat ditingkatkan nilai ekonomisnya dengan mengolahnya

menjadi makanan buah pisang olahan.









DAFTAR PUSTAKA



Abidin A.Sukarti, Bertanam buah-buahan di Pekerangan (Bogor : Bagian hortikultura

Departemen Agronomi IPB, 1977).

Anonim, Anjuran Pemupukan Tanaman Jeruk dan Pisang, Liptan, BIP Departemen

Pertanian Jawa Timur, No. 13, tahun 1988.

_______, Banpres Pisang dan Kambing Gunung Kidul, Sinar Tani, 25 Januari 1989.

______,Bertanam Pohon buah-buahan, Seri Pembangunan Desa (Jakarta : Bhratara

Karya Aksara, 1980).

______, Hama dan Penyakit Tanaman (Jakarta : Bhratara Karya Aksara, 1974).

_______, Penyakit Pisang di Indonesia, Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian,

No. 2, Vol. 6, Maret 1989.

_______, Peraturan Menteri Kesehatan RI Tentang Bahan-bahan Tambahan Makanan

(Jakarta : Proyek Peningkatan Keamanan Makanan Departemen Kesehatan RI,

1979).

_______, Pisang (Jakarta : Pusat Penelitian Hortikultura Pasar Minggu, 1989).

Djamal-Har. A., Manfaat Batang Pisang untuk Pupuk Kompos, Sinar Tani, 26 Agustus

1989.

Lembaga Biologi Nasional, Manfaat Buah Pisang, Sinar Tani, 12 April 1989.

Rukmana Rahmat, Citra Pisang Sebagai Komoditi Perdagangan, Sinar Tani, 8 februari

1989.

Satuhu Suyanti BSc dan Ahmad Supriyadi, Pisang, Jakarta : PT. Penebar Swadaya,1998.

Sudarmo Widayati M., Rahasia di Balik Bonggol dan Bunga Pisang, Sinat Tani, 3 Oktober

1987.

Sumartono, Pisang (Jakarta : Bumi Restu, 1981).









Manajemen Agribisnis “Karet” 54

Utami Dewi, Pengaruh Lama Penyimpanan Bahan Baku Terhadap Mutu Keripik Pisang,

Evaluasi Hasil-hasil Penelitian Pasca Panen Holtikultura selama Pelita III (Jakarta

: SBPHP, 1982).









Manajemen Agribisnis “Karet” 55

Dosen Pembimbing : Kelompok IV

DR. JOHANNES,S.E.,M.Si

NOPITA SARI,S.E





Di Susun oleh :

MANAJEMEN A’06



GIVEN RIDO HUTABARAT (C1B006007)

M. TOMI (C1B006034)

RUFTI BIMA SUTESNA (C1B006033)

FITRI HIDAYATI (C1B006003)

DESI WULANDARI (C1B006008)



FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS JAMBI

(UNJA)

2008









SEJARAH TEH





Kata “teh” atau “Tee” atau “Tea” berasal dari bahasa Cina Selatan tē dari bentukan

tschhā [lat. Camellia sinensis, dari familia Theaceae]. Tumbuhan ini berasal dari Provinsi

Assam India dan Provinsi Yunnan di Cina Selatan. Pohonnya berbentuk semak yang

hanya tumbuh di daerah tropis dan subtropis. Daunnya mengandung Alkaloid Koffein

yang membawa pengaruh menyegarkan dan menenangkan. Bukti tertulis tentang teh

pertama kali ditemukan di Cina pada abad ke 3 sebelum masehi. Teh dibawa ke Eropa





Manajemen Agribisnis “Karet” 56

baru pada tahun 1610 oleh perusahaan dagang Asia Timur milik Belanda dan Inggris.

Teh menjadi kultur tersendiri bagi negara-negara di Asia seperti Cina, Jepang, India,

Srilanka, Afrika Timur, Rusia dan Indonesia. Seperti anggur di negara-negara Eropa, teh

menjadi tradisi di negara-negara Asia Timur, Barat, Selatan dan Tenggara. Teh pun

kemudian menjadi minuman nasional di Inggris dan Irlandia.



Tumbuhan teh Assam berbentuk bulat dengan tinggi pohonnya yang bisa mencapai tinggi

15 meter. Tumbuhan ini tidak bisa tumbuh di daerah bertemperatur rendah dan

memerlukan kelembaban udara yang tinggi dan curah hujan yang banyak. Berlainan

dengan teh Cina yang tinggi semaknya hanya mencapai 4 meter dan memerlukan suhu

udara yang cukup dingin, periode musim kering yang cukup panjang serta kelembaban

udara yang rendah. Jenis-jenis teh yang dikenal saat ini merupakan hasil penyilangan dari

kedua jenis teh ini.



Ada yang menyebut nama Kaisar Shennong (Shen Nung) sebagai orang yang pertama

kali merasakan kenikmatan teh di tahun 2.737 SM, atau hampir 5.000 tahun yang lalu.

Kisahnya berawal dari selembar daun teh yang diterbangkan angin, dan mendarat tepat

dalam cangkir berisi air minum yang masih panas milik sang Kaisar. Air minum itu pun

berubah warnanya, dan menarik perhatian Kaisar Shennong. Berhubung ia juga adalah

seorang tabib, atau bisa jadi karena tertarik dengan aromanya, tanpa ragu Kaisar

Shennong meminum air di cangkirnya yang telah berubah menjadi cairan berwarna

kemerahan. Seketika ia jatuh hati pada minuman asing yang memberikan kenikmatan dan

kesegaran tersendiri itu.



PRODUKSI TEH

Untuk memudahkan proses produksi yang dimulai dengan proses pemetikan pucuk

daunnya, pohon teh ini dipotong rendah. Daun-daun teh ini berbentuk sedikit oval, selalu

berwarna hijau dan agak berkulit serta memiliki panjang antara 4 sampai 10 cm.

Bunganya berwarna putih sebesar 3 cm berasal dari pucuk daunnya dan berbentuk

lonjong seperti kapsul dan di dalamnya berisi sampai 3 bijih benih. Tanaman ini

memerlukan iklim sedang dengan temperatur antara 18 sampai 28 derajat celcius dengan

curah hujan yang teratur sekitar 2000 mm. Untuk hasil yang baik, sebaiknya tanaman ini

tumbuh di tanah berketinggian antara 500 sampai 2000 m di atas permukaan laut.

Tanaman ini dikembangbiakkan dengan cara penyetekan batang setinggi sekitar 1 m.









Produksi teh meliputi beberapa tahap :



 Pelayuan

 Penggulungan

 Fermentasi

 Pengeringan

 Sortasi

 Pengepakan

 Pengawasan Mutu

 Pengiriman Teh Jadi



Meskipun prosesnya relatif mudah, diperlukan pengontrolan yang seksama pada setiap

tahap untuk memperoleh hasil dengan aroma dan rasa yang tepat.



KONSUMSI TEH









Manajemen Agribisnis “Karet” 57

Pada dasarnya, teh diproses menjadi empat jenis yaitu teh hijau ,teh putih, teh hitam , dan

teh oolong . Lebih dari tiga perempat teh dunia diolah menjadi teh hitam, salah satu jenis

yang paling digemari di Amerika, Eropa, dan Indonesia .

Dari sisi permintaan, permintaan akan komoditi teh saat ini cenderung meningkat. Ini

dikarenakan telah banyak dilakukannya penelitian tentang manfaat teh bagi kesehatan.

Sehingga ini mendorong negara-negara produsen meningkatkan kapasitas produksinya

tanpa mengabaikan mutu dan kualitas teh yang dihasilkan. Manfaat teh bagi kesehatan

telah banyak membantu dunia kesehatan dalam mengatasi berbagai macam penyakit. Dan

ini tentunya akan meningkatkan komsumsi teh dunia dan pentingnya akan manfaat

dengan meminum teh serta akan menjadi tradisi minum teh, seperti yang ada di Jepang,

di mana minum teh sudah menjadi tradisi turun-menurun hingga saat ini.



PROSPEK TEH INDONESIA SEBAGAI MINUMAN FUNGSIONAL



MINUMAN/MAKANAN FUNGSIONAL



Pada umumnya, orang menilai makanan/minuman dari kandungan nutrisi dan

kemampuannya memuaskan selera. Pada beberapa tahun terakhir ini, penilaian tersebut

berkembang ke arah fungsi makanan/minuman dalam mengatur metabolisme tubuh

secara biologis. Makanan yang dapat memenuhi fungsi tersebut disebut sebagai

makanan/minuman fungsional .



TEH SEBAGAI MINUMAN FUNGSIONAL



Senyawa utama yang dikandung teh adalah katekin , yaitu suatu kerabat tanin

terkondensasi yang juga akrab disebut polifenol karena banyaknya gugus fungsi hidroksil

yang dimilikinya. Selain itu, teh juga mengandung alkaloid kafein yang bersama-sama

dengan polifenol teh akan membentuk rasa yang menyegarkan. Beberapa vitamin yang

dikandung teh di antaranya adalah vitamin P, vitamin C, vitamin B, dan vitamin A yang

walaupun diduga keras menurun aktivitasnya akibat pengolahan masih dapat

dimanfaatkan oleh peminumnya. Beberapa jenis mineral juga terkandung dalam teh,

terutama fluoride yang dapat memperkuat struktur gigi.



POTENSI TEH HIJAU INDONESIA UNTUK KESEHATAN



Potensi teh untuk kesehatan terutama terletak pada kandungan katekinnya. Hasil

penelitian menunjuk-kan bahwa teh hijau Indonesia ber-kadar katekin (10,81-11,60

persen) dan lebih tinggi dari pada teh Jepang dan teh Cina. Teh hitam Sri Lanka berkadar

katekin hampir sama dengan teh hitam Indonesia (7,028,24 persen) karena sama-sama

dibuat dari tanaman teh varietas assamica. Teh wangi Indonesia memiliki kadar katekin

cukup tinggi yaitu 9,28 persen. Hasil penelitian ini memberikan indikasi bahwa

berdasarkan kadar katekinnya teh Indonesia terutama teh hijau dan teh wangi memiliki

potensi menyehatkan yang lebih besar dari pada teh Cina maupun teh Jepang. Di samping

itu hasil penelitian kandungan katekin beberapa teh Indonesia ini juga dapat membuka

peluang pasar baru bagi teh Indonesia, yakni sebagai bahan baku industri katekin.

Prospek penggunaan katekin teh sebagai sarana penjaga ke-sehatan sangat bagus dengan

makin maraknya kebutuhan akan minuman penyegar penjaga stamina “functional food”

maupun “dietary food”.

Semakin tinggi kadar katekin pada teh semakin besar pengaruhnya terhadap kesehatan

manusia. Katekin dapat menurunkan kadar kolesterol darah dan mencegah kanker.



PERMASALAHAN TEH

Pengembangan agribisnis teh masih menghadapi berbagai kendala dan tantangan, yaitu :

 Lambatnya Instansi terkait dalam menerbitkan perizinan khususnya perpanjangan

Hak Guna Usaha (HGU) menyebabkan adanya ketidakpastian hukum dan konflik sosial

yang berdampak pada tingginya resiko investasi pada industri teh.







Manajemen Agribisnis “Karet” 58

Dasar Hukuma Undang – Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan Pasal 19

Ayat 2;b. Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 587/Kpts/OT.160/9/2006 tentang

Pembentukan Komisi Teh Indonesia;c. Keputusan Direktur Jenderal Perkebunan Nomor:

55/Kpts/OT.130/7/06 tentang Pembentukan Kelompok Kerja Persiapan Pembentukan

Dewan Teh Indonesia.

 Belum terbangunnya infrastruktur yang efisien dan kenaikan biaya produksi

komoditi tersebut.

 Saat ini produksi teh dunia mengalami over suplai sekitar 8.000 ton dari total

produksi mencapai 3,4 juta ton, menyebabkan harga teh di pasar global kini menjadi

tertekan (turun).

 Negara konsumen seperti Inggris dan Amerika Serikat memberlakukan standar

produk.

 Kendala lain yang menggelayuti para petani, yaitu masalah modal dan

manajemen.

 Produktivitas kebun teh yang relatif rendah dan cenderung menurun. Produktifitas

kebun teh saat ini sekitar 1.900-2.000 kilogram teh kering per hektar per tahun. Angka itu

masih rendah dibanding negara penghasil teh utama yang mencapai 3.000 kg teh kering

per hektar per tahun.

 Banyak mutu teh yang belum memenuhi standar internasional (ISO 3720).

 Penghapusan Pajak Pertambahan Nilai dipandang mendesak untuk

menggairahkan industri hilir teh di Indonesia.

 Tingkat produksi dunia yang meningkat 4%-5%, sedangkan daya serap pasar

hanya 2,5% (atau kurang), dan hal ini tentu memicu berlebihnya stok dan penurunan

harga.

 Kenaikan UMR, bahan baku, pajak, kenaikan BBM dan tarif listrik, yang memicu

naiknya biaya produksi dan komponen produksi.

 Maraknya permasalah non teknis seperti masalah otonomi daerah, penjarahan dan

menurunnya tingkat keamanan di perkebunan.

 Produktivitas teh dalam negeri yang cenderung menurun akibat iklim yang tidak

menentu dan sulit

diperkirakan.

 Persaingan yang semakin ketat dengan datangnya negara produsen teh baru

seperti Vietnam. Hal ini juga memicu terjadinya kelebihan produksi teh dunia.

Persaingan dari barang subtitusi.

 Berkurangnya kepercayaan pembeli asing terhadap produsen teh Indonesia akibat

rawannya kondisi keamanan, politik dan ekonomi.

 Kurangnya inovasi dan daya juang untuk melakukan ekspansi penjualan yang

agresif ke negara konsumen lain seperti yang dilakukan oleh negara-negara produsen teh

lainnya.

 Menurunnya minat bekerja para pekerja produktif di sektor perkebunan.



SUBSISTEM AGRIBISNIS



1.Farming System (Input) :

Fungsi Input :

Fungsi input dari teh yaitu :



 Daun teh yang masih muda digunakan untuk komoditi utama dalam proses produksi

teh

 Akar dari teh dapat digunakan untuk furniture dalam bentuk meja cousin, kursi,

gantungan topi, dan sebagainya

 Ampas teh dari sisa pemakaian teh dapat dijadikan pupuk alami yang ramah

lingkungan dan mudah larut dalam tanah



Kendala dalam input teh :

Kendala dalam input teh yaitu :







Manajemen Agribisnis “Karet” 59

 Jika diadakan replanting (penanaman kembali) bibit harus diadakan dari Bandung.

 Dalam hal pengangkutan bibit dari Bandung menuju ketempat replanting,bibit teh

harus dibungkus karena bibit membutuhkan oksigen dan menghindari bibit teh dari hama

penyakit

 Bibit harus ditanam diatas permukaan laut dengan ketinggian yang harus

disesuaikan dengan kondisi tanaman

 Bibit tidak dapat ditanam langsung karena bibit teh dalam pengadaannya harus

melalui proses stek yaitu penyambungan

Solusi dalam Input teh :

Solusi dalam input teh yaitu :



 Proses pengadaan bibit harus disesuaikan dengan volume permintaan dan

pengadaannya harus tepat waktu

 Dalam hal pengangkutan bibit harus dibungkus sesuai dengan prosedur untuk

menghindari kekurangan oksigen dan dari hama yang akan menimbulkan penyakit pada

bibit teh

 Penanaman bibit juga harus disesuaikan dengan standar hidup tanaman

 Optimalisasi produktifitas kebun yang telah lama tidak mendapatkan perlakuan

yang seharusnya atau pengelolaannya di bawah standar yang seharusnya



2. Processing (Produksi) :

Fungsi Produksi :

Fungsi produksi dari teh yaitu :



 Untuk memenuhi permintaan pasar dalam hal ini pemenuhan komsumsi

masyarakat

 Untuk menghasilkan profit,dimana tujuan dari suatu melakukan proses produksi

yaitu mendapatkan profit semaksimal mungkin.



Kendala dalam proses produksi :

Kendala dalam proses produksi yaitu :

 BBM, dimana dalam proses produksi bahan bakar yang dipakai yaitu solar.Di

mana solar yang harganya mahal akan mengakibatkan biaya produksi menjadi lebih

tinggi

 Musim, apabila mengalami musim kemarau yang panjang maka akan

mengakibatkan berkurangnya produksi daun teh, dalam hal ini daun muda

 Keterampilan Tenaga Kerja, tenaga kerja yang dibutuhkan yaitu tenaga kerja yang

terampil.Dalam hal pemetikan daun teh haruslah diplih daun yang masih muda.Jika daun

tua yang dipetik maka mutu dan aromanya tidak bagus

 Hama, hama yang dihadapi yaitu hama ulat api yang memakan pucuk daun teh

terutama daun muda

 Topografi, keadaan topografi atau tata letak sangat mempengaruhi kesesuaian

pertumbuhan dimana perkebunan teh sangat membutuhkan curah hujan yang sangat

tinggi

 Tingginya biaya produksi teh dipengaruhi oleh biaya buruh dan penggunaan

bahan bakar solar

 Pada perkebunan teh, satu hektar tanaman teh membutuhkan 1,2 hingga 1,5

tenaga kerja. Bandingkan dengan kebun sawit yang hanya membutuhkan 0,35 tenaga

kerja per hektar

 Komponen biaya buruh mencapai 60 persen dari harga pokok produksi

 Penggunaan bahan bakar solar juga memberatkan produsen teh.Untuk mengolah

satu kg teh, dibutuhkan 0,34 liter solar

 Selain biaya produksi dan harga jual, pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

juga disebutkan para produsen teh sebagai disinsentif bagi pengembangan industri hilir

 Banyak mutu teh yang belum memenuhi standar internasional (ISO 3720)

 Peremajaan tanaman teh yang lambat dan mesin-mesin pengolahan yang kurang

mengarah kebutuhan dan permintaan pasar yang berubah secara dinamis dan cepat





Manajemen Agribisnis “Karet” 60

 Penurunan produksi teh akibat banyak lahan perkebunan teh yang tidak produktif

dan telah beralih fungsi



Solusi dalam proses produksi :

Solusi dalam proses produksi yaitu :



 BBM, saat ini dalam proses produksi telah digunakan bahan bakar alternativ yaitu

cangkang dari buah kelapa sawit dan batubara

 Hama, pencegahan dilakukan secara dini dengan melakukan

pengasapan,membasmi dengan pestisida yang ramah terhadap lingkungan dan tidak

mengakibatkan efek samping terhadap teh

 Keterampilan Tenaga Kerja, untuk mendapatkan hasil yang maksimal,tenaga

kerja diberikan perhatian dan pengarahan tentang pemetikan yang baik dan benar.Jika

dilakukan pemetikan yang salah maka hasil yang didapat tidak akan maksimal bahkan

jauh dari mutu yang diharapkan

 Optimalisasi produktifitas kebun yang telah lama tidak mendapatkan perlakuan

yang seharusnya atau pengelolaannya di bawah standar yang seharusnya

 Produsen teh harus memenuhi standar internasional (ISO 3720) yang merupakan

kewajibannya

 Mesin-mesin pengolahan yang kurang mengarah kebutuhan dan permintaan pasar

yang berubah secara dinamis dan cepat harus digunakan guna meningkatkan

produktivitas produksi



3.Riset and Development (Pengolahan) :

Fungsi Pengolahan :

Fungsi pengolahan teh yaitu :



 Untuk menambah nilai guna suatu produk terutama teh.Dalam hal ini pengolahan

teh dimulai dari bahan baku hingga menghasilkan teh yang berkualitas baik akan

menambah nilai guna suatu produk.

Kendala Pengolahan :

Kendala pengolahan teh yaitu :



 Mesin-mesin, dalam proses pengolahan teh kendala yang dihadapi yaitu mesin-

mesin yang digunakan.Jika, mesin yang digunakan mengalami kerusakan maka akan

berpengaruh terhadap produktivitas pengolahan dan tertanggunya proses produksi teh

 Mutu daun, jika mutu daun yang diolah kurang baik maka proses pengeringannya

akan memakan

waktu yang lama



Solusi Pengolahan :

Solusi pengolahan teh yaitu :

 Jika terjadi kerusakan, maka mesin-mesin tersebut harus diperbaiki guna

menghindari tertanggunya proses produksi

 Memberikan pengarahan kepada tenaga kerja khususnya dibagian pemetikan daun

teh untuk memetik daun yang masih muda.Karena daun yang masih muda, mutunya lebih

baik jika dibandingkan dengan daun yang sudah tua



4.Marketing (Pemasaran) :

Fungsi Pemasaran :

Fungsi pemasaran teh yaitu :



 Untuk memenuhi permintaan pasar akan produk yang dihasilkan, dalam hal ini

yaitu produk dari teh dan turunannya

 Untuk mendapatkan maximum profit atau laba atau pendapatan maksimal



Kendala Pemasaran :





Manajemen Agribisnis “Karet” 61

Kendala pemasaran teh yaitu :



 Komsumsi teh yang masih rendah dikarenakan kurangnya pengetahuan

masyarakat luas mengenai manfaat teh

 Biaya produksi yang lebih besar jika dibandingkan dengan hasil yang diperoleh

 Negara komsumsi teh seperti Inggris dan Amerika Serikat melakukan standar

produk

 Tidak transparannya akibat pembatasan-pembatasan tarif dan non-tarif dalam

melakukan ekspor

 Harga teh yang rendah didunia diakibatkan over produksi sehingga menekan

harga teh dunia

 Pengeloalaan akan permintaan teh yang tidak efisien



Solusi pemasaran teh yaitu :



 Memberikan penyuluhan kepada masyarakat bahwa pentingnya manfaat dari teh

 Menekan biaya produksi dengan cara mencari energi alternativ seperti cangkang

kelapa sawit dan batubara yang lebih murah

 Melakukan perbaikan dari segi tarif ekspor guna membantu produsen teh

meringankan biaya tarif ekspor

 Meningkatkan kerja sama dengan negara pengkomsumsi teh untuk dapat

membantu negara produsen memasuki pasar mereka dan memberikan dispensasi

mengenai pemberlakuan standar produk khususnya negara Inggris dan Amerika Serikat

 Membatasi produksi teh negara produsen guna meminimalisir over produksi yang

mengakibatkan harga teh tertekan

 Melakukan pembenahan akan permintaan teh



5. Supporting (Pendukung) :

Fungsi Pendukung :

Fungsi pendukung teh yaitu :



 Untuk meningkatkan mutu produk teh yang diproduksi

 Untuk meningkatkan efisien proses produksi teh dengan mendapat dukungan dari

mesin-mesin dan material pendukung lainnya

Kendala Pendukung :

Kendala pendukung teh yaitu :



 Mesin-mesin, mesin merupakan pendukung utama dalam proses produksi.Jika

terjadi kerusakan maka akan mengganggu produktivitas produksi

 Belum terbangunnya infrastruktur yang efisien dan kenaikan biaya produksi

komoditi tersebut

 Industri teh dunia kini tengah menghadapi tantangan akses pasar yang potensial,

sehingga membatasi kelancaran perdagangan komoditi tersebut

 Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) juga disebutkan para produsen teh

sebagai disinsentif bagi pengembangan industri hilir



Solusi Pendukung :

Solusi pendukung teh yaitu :

 Mesin-mesin pengolahan yang kurang mengarah kebutuhan dan permintaan pasar

yang berubah secara dinamis dan cepat harus digunakan guna meningkatkan

produktivitas produksi

 Membangun infrastruktur yang memadai atau sesuai dengan standar internasional

sehingga akan membantu mempermudah produksi teh

 Memperlancar perdagangan komoditi teh dengan membuat peraturan yang baru

dimana isi dari peraturan tersebut lebih memihak kepada produsen teh

 PPN sudah akan berarti banyak bagi industri teh, setelah itu Penghapusan

pembenahan lain untuk revitalisasi industri ini bisa dilakukan





Manajemen Agribisnis “Karet” 62

Dari kelima subsistem diatas yang menjadi perhatian dan paling berperan dengan

permasalahan komoditi teh yaitu Supporting atau pendukung. Karena pada umumnya

kendala yang dihadapi oleh produsen teh yaitu kendala infrastruktur yang kurang

memadai berupa teknologi untuk melakukan penelitian yang akan meningkatkan mutu

dan kualitas teh tersebut. Kurang memadainya infrastruktur ini mengakibatkan

pemenuhan kebutuhan dan permintaan akan teh tidak dapat terpenuhi dan peningkatan

kualitas mutu jauh dari harapan. Sedangkan Indonesia sebagai negara produsen teh

mendapat tuntutan dari negara-negara konsumen teh secara serius. Untuk dapat bersaing

secara global maka Indonesia harus meningkatkan mutu dan kualitas yang semula

berstandar medium ke bawah menjadi medium ke atas.



EFISIENSI KOMODITI TEH



Efisiensi komoditi teh dilakukan untuk mengurangi atau meminimalisir proses produksi

teh. Efisiensi komoditi teh dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :



1. Dari sisi bahan bakar yang digunakan. Bahan bakar yang digunakan dalam proses

produksi komoditi teh yaitu solar. Saat ini harga bahan bakar solar sangat tinggi seiring

naiknya harga minyak dunia. Untuk itu digunakan energi alternatif untuk menggantikan

fungsi solar. Bahan bakar yang digunakan untuk saat ini yaitu batu bara dan cangkang

inti sawit, yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar solar.

2. Untuk pengadaan bibit teh pada saat replanting atau penanaman teh kembali

haruslah diadakan sesuai dengan kebutuhan agar bibit yang diadakan tidak mengalami

over order yang akan meningkatkan biaya proses replanting.

3. Dalam penggunaan pupuk untuk membantu proses pertumbuhan tanaman teh saat

ini digunakan pupuk kimia. Pupuk kimia saat ini harganya melambung dan memiliki

dampak yang negatif terhadap lingkungan karena kita tahu bahwa pupuk kimia tidak

seluruhnya larut didalam tanah. Untuk itu, perusahaan harus menggunakan pupuk organik

yang ramah terhadap lingkungan. Selain itu, pupuk organik mampu larut habis didalam

tanah.

4. Mengelola tanaman sesuai kultur teknis dan dapat berproduksi secara

berkelanjutan.

5. Menghasilkan produk jadi yang berkualitas dan mempunyai daya saing tinggi.

6. Menekan harga pokok kebun.

7. Menerapkan prinsip back to basic dalam pengelolaan tanaman sesuai dengan

pedoman kultur teknis dan berorientasi tidak hanya jangka pendek tapi juga jangka

panjang, antara lain dalam bidang:

 Manajemen pemupukan

 Manajemen pangkasan

 Manajemen pengolahan tanah

 Manajemen proteksi tanaman

 Manajemen pohon pelindung, dan

 Manajemen pemetikan



8. Dalam bidang pengolahan diterapkan prinsip fleksibilitas pengolahan yang

berorientasi pasar dengan produk yang sesuai dengan standar baku mutu serta selalu

berupaya menerapkan inovasi-inovasi baru dalam bidang proses pengolahan baik hasil

pengkajian intern maupun benchmarking dari pihak lain.

9. Sumberdaya manusia sebagai aset perusahaan yang paling berharga dipacu untuk

selalu meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya sehingga dapat mengikuti

perkembangan dalam situasi global saat ini. Untuk itu perusahaan memberikan

kesempatan kepada karyawan untuk mengikuti program-program pendidikan dan

pelatihan baik yang diadakan di lingkungan kebun (in-house training), di lingkungan

perusahaan maupun yang diadakan oleh pihak ketiga, dalam bidang-bidang : manajemen,

tanaman, teknik, teknologi pengolahan, administrasi, akuntansi, komputer, kewiraan,

kesehatan,dan sebagainya.





Manajemen Agribisnis “Karet” 63

10. Untuk menjaga kelangsungan usaha dalam jangka panjang serta mempertahankan

kemampuan perusahaan sebagai penyedia lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar

perkebunan, perusahaan diharuskan mempunyai program investasi dalam bidang

tanaman, antara lain:

 Pembuatan pesemaian teh tahun 2007 sebanyak 50.000 pohon

 Pemnuatan pesemaian teh tahun 2008 sebanyak 100.000 pohon

 Penanaman / kompacting tanaman teh





ANALISIS WOT



Sejarah singkat analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, dan

Threats) :



Analisis SWOT(Strengths, Weaknesses, Opportunities, and Threats) adalah alat

perencanaan strategi yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan, kelemahan, lawan

dan ancaman meliputi dalam proyek atau dalam spekulasi bisnis. Ini melibatkan obyek

yang spesifik pada spekulasi bisnis atau proyek dan mengidentifikasi faktor didalam dan

faktor di luar yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan dalam mencapai obyek

tersebut. Teknik tersebut dibuat oleh Albert Humphrey, yang memimpin proyek riset

pada universitas Stanford pada tahun 1960 dan 1970 menggunakan data dari Fortune 500

companies.



1. Kekuatan atau keunggulan (Sthrengths) komoditi teh :

Kekuatan atau keunggulan komoditi teh yaitu sebagai berikut :

 Mulai meningkatnya ekspor dari tahun ke tahun walaupun sempat mengalami

penurunan.

 Teh memiliki manfaat terhadap kesehatan yang diantaranya mengurangi

kolesterol, mengontrol tekanan darah tinggi, untuk kesehatan kulit, mencegah kanker,

mengobati penyakit parkinson, dan sebagainya.

 Akar dari teh dapat digunakan untuk furniture yang menghiasi rumah, seperti

meja cousin, gantungan topi, dan sebagainya.



2. Kelemahan (Weaknesses) :

Kelemahan dari komoditi teh yaitu :

 Keterbatasan pengadaan input faktor termasuk tenaga kerja khususnya tenaga

pemetik, kurangnya pemerajaan tanaman teh yang tua, adanya perbedaan selera

konsumen internasional akan jenis teh yang di konsumsi.

 Komoditi teh saat ini yang dihasilkan oleh negara kita Indonesia belum mampu

bersaing dengan negara produsen teh lainnya seperti China, Srilanka, India, Jepang, dan

Vietnam.

 Teh yang dihasilkan oleh negara kita Indonesia dari segi mutu belum cukup

memuaskan, yang berdampak terhadap permintaan terhadap komoditi teh tersebut.



3. Peluang (Opportunities) :

Peluang dari komoditi teh yaitu :

 Adanya tradisi turun menurun untuk mengkonsumsi teh, sehingga minat untuk teh

cukup tinggi untuk pasar domestik.

 Kondisi iklim Indonesia yang mendukung pertumbuhan teh, sehingga membuka

peluang Indonesia cukup besar untuk menjadi produsen teh yang akan disegani di

perdagangan dunia internasional.

 Komoditi teh mampu memiliki peluang di pasar internasional dan bersaing dengan

negara produsen teh asalkan pajak ekspor teh dihapuskan.



4. Ancaman (Threats) :

Ancaman dari komoditi teh yaitu :







Manajemen Agribisnis “Karet” 64

 Banyak saingan dari Negara-negara pengekspor teh lainnya karena mutu teh

mereka jauh lebih baik. Permintaan pasar yang berubah secara dinamis dan cepat.

 Ancaman komoditi teh kita berasal dari negara-negara produsen teh yang

harganya mampu diatas harga standar yang digunakan dan mutu yang lebih baik dari

negara-negara produsen tersebut.

 Ancaman dapat berasal dari dalam negeri kita sendiri yaitu dapat berupa

pengenaan tarif ekspor yang tinggi dimana akan meningkatkan cost atau biaya produksi.



Segmen pasar yang dituju pasar domestik atau lokal untuk memenuhi kebutuhan di dalam

negeri. Segmen pasar selanjutnya yang dituju yaitu pasar internasional, di mana untuk

memenuhi kebutuhan negara-negara konsumen terutama negara-negara barat. Pada saat

ini, teh Indonesia telah mampu memasuki pasar di negara India dan Russia dengan harga

mencapai 1,5 dollar AS per kg. Ini menjadi tanda bahwa teh Indonesia telah memiliki

harga yang pantas dan tentunya ini akan menjadi “cambuk” untuk meningkatkan mutu

teh Indonesia serta akan memperoleh harga yang lebih tinggi lagi, tentunya.

Untuk positioning, Indonesia sebagai negara produsen teh masih berada di posisi ke lima.

Ini dikarenakan mutu dan kualitas teh kita masih berada dibawah negara-negara pesaing

produsen teh seperti, Kenya, Srilanka, Cina dan India.





BAURAN PEMASARAN

 Produk , pengetahuan konsumen tentang keberadaan produk

teh terbatas pada merek-merek tertentu, umumnya konsumen hanya dapat

mengingat 3 - 5 jenis, tetapi hanya 1 - 2 merek diantaranya yang biasa dikonsumsi

sehari- hari. Keterbatasan pengetahuan tersebut berkaitan dengan keterbatasan

informasi pasar yang dilakukan oleh produsen.

 Pricing, Rata-rata harga teh Indonesia saat ini sekitar 1,4 dolar

AS per kg. Namun masih rendah dibanding rata-rata harga teh Kenya yang mencapai 2

dolar AS per kg atau di Srilanka sekitar 1,85 dolar AS. Ini dikarenakan kebijakan tarif

yang diterapkan negara pesaing produsen teh sangat tinggi terhadap komoditi the

Indonesia jika memasuki pangsa pasar negara pesaing tersebut sebaliknya Indonesia

menerapkan kebijakan tari yang rendah terhadap komoditi teh negara pesaing yang akan

memasuki pasar Indonesia sehingga ini sangat merugikan negara kita sendiri. Maka,

kebijakan ini perlu ditata ulang, sehingga kita mampu bersaing dengan negara-negara

produsen lainnya selain perbaikan performance produk teh kita terutama mutu dan kualitas

ke arah yang lebih baik lagi (baik mutu air seduhan maupun kemasannya).

 Promotion, Ada lebih dari 100 merk teh yang beredar di Jateng dan DIY, sedang

secara keseluruhan merk teh yang terdaftar secara nasional ada sekitar 500-an merk. Iklan

atau promosi teh tidak signifikan dalam mengontrol angka penjualan apabila tidak

didukung oleh distribusi yang luas. Iklan atau promosi teh hanya dilakukan oleh

perusahaan dengan skala distribusi tingkat nasional. Saat ini sangat sedikit produsen teh

yang mengiklankan produknya di televisi secara nasional. Itupun pada kenyataannya

sangat jarang konsumen yang mengkonsumsi teh yang diiklankan tersebut.

 Place , Ketersediaan produk teh di pasar, erat kaitannya dengan strategi

saluran distribusi yang digunakan oleh produsen. Di Indonesia dikenal dua jenis

saluran distribusi khususnya komoditi teh. Pertama, untuk kebutuhan ekspor, teh

curah yang dikemas dalam bal untuk konsumen antara/industri, menggunakan saluran

distribusi langsung (lelang) yang dilakukan oleh Kantor Pemasaran Bersama (KPB)

yang berkedudukan di Jakarta, sedangkan untuk kebutuhan lokal, lelang dilaksanakan

di Kantor Pemasaran Bersama (KPB) yang berkedudukan di Kota Bandung.



POTENSI EKSPOR TEH



Langkah peningkatan produktivitas kebun diperlukan untuk mempertahankan posisi

Indonesia sebagai negara pengekspor teh curah urutan ke lima di dunia setelah Kenya,

Srilanka, Cina dan India. Beberapa negara tujuan ekspor teh Indonesia antara lain Rusia

(15,4%), Inggris (14,4%), Malaysia (9%), Pakistan (8,6%), Jerman (7%), Amerika





Manajemen Agribisnis “Karet” 65

Serikat (7%), Polandia (5,4%), dan Belanda (5,3%). Kedelapan negara tersebut telah

menyerap pangsa pasar 72,1 % dari total ekspor teh Indonesia. Indonesia memiliki

potensi ekspor yang cukup besar mengingat teh tumbuh di daerah tropis dan sub tropis.



No. Sektor 2002 2003 2004 2005 2006 Trend 2007 Perubahan Pangsa

02 – 06 Jan - Sep 07/06 07



1. Teh 98,0 91,8 64,8 47,9 51,1 -17,76 49,8 28,12 1,89









Tabel diatas merupakan ekspor teh Indonesia yang terjadi antara tahun 2002 – 2006 dan

2007 (antara bulan januari – september).



Sumber : BPS



SAINGAN DI PASAR EKSPOR



Saingan Indonesia yaitu Kenya, Srilanka, India, dan Cina. Pada tahun 2005 volume

ekspor sempat merosot tajam. Hal yang paling disayangkan adalah penurunan volume

ekspor ke Rusia. Padahal "negeri beruang" ini justru merupakan negara tujuan ekspor teh

tertinggi bagi perkebunan besar negara. Hal itu disebabkan naiknya ekspor teh hitam

CTC dari Kenya ke pasar Rusia sebesar 105%. Sedangkan, konsumen besar lainnya,

Pakistan, lebih memilih teh asal Kenya dan India ketimbang Indonesia karena biaya

transport dan pengurusan biaya masuk yang lebih murah.

Jika dibandingkan dengan negara-negara pesaing, bea masuk yang dikenakan terhadap

komoditi teh yang akan memasuki pangsa pasar Indonesia cukup rendah. Sebaliknya, bea

masuk yang dikenakan negara-negara pesaing terhadap komoditi teh yang akan

memasuki pangsa pasar mereka dikenakan tarif yang sangat tinggi, sehingga ini semakin

menurunkan daya saing teh Indonesia terhadap teh negara-negara pesaingnya. Berikut ini

ditampilkan tabel mengenai tarif bea masuk komoditi teh :



Tabel : Bea Masuk Teh

Komponen Negara lain Bea masuk Indonesia ke :

ke Indonesia









Vietnam India China Srilangka

Bea Masuk 5,0% 50,0% 30,0% 32,0% 30,0%

PPn 10,0% 20,0% 26,0% 17,0% 15,0%

PPh 2,5% 0,0% 0,0% 3,0% 3,0%

Total 17,5% 70,0% 56,0% 52,0% 48,0%

Sumber :Aspatindo



Dari tabel di atas terlihat telah terjadinya “UNFAIR TRADE” dengan adanya pengenaan

tarif impor yang sangat berbeda jauh dan tidak adil. Akibatnya, teh asal Indonesia tidak

mampu bersaing di luar negeri sementara pasar dalam negeri rentan sekali diserbu produk

teh asing karena tarif bea masuk yang terlalu rendah.









Manajemen Agribisnis “Karet” 66

ATRIBUT KUALITAS TEH



1. ATRIBUT MUTU INDERAWI



Kompleksnya komposisi kimia dan sifat fisik teh, yang menyulitkan cara pengujiannya

menyebabkan atribut mutu inderawi teh menjadi hal yang amat penting dalam penetuan

posisi mutu teh. Mutu inderawi teh meliputi penampilan (fisik) teh kering, warna dan cita

rasa air seduhan serta penampilan ampas seduhan. Penampilan fisik teh kering ditentukan

oleh warna, ukuran dan bentuk partikel serta keseragamannya. Keberadaan partikel pucuk

muda (tip), tangkai, serat dan benda lain bukan teh juga merupakan parameter

penampilan fisik teh kering. Warna seduhan teh digambarkan sebagai jenis warna,

intensitas warna, kilat atau ”hidup” –nya warna. Selanjutnya cita rasa air seduhan

dinyatakan sebagai jenis, kekuatan, kesegaran, ketajaman, rasa asing dan cemaran.

Penampilan ampas seduhan menggambarkan kualitas pengolahan diantaranya warna

(kilat dan kecerahan warna), yang mencerminkan tingkat oksidasi ensimatik polifenol,

ukuran dan keseragaman ukuran menunjukkan hasil kerja sortasi.

Atribut mutu inderawi tersebut dinyatakan dengan istilah baku dalam bahasa Inggris

sehingga merupakan cara komunikasi mutu yang universal dalam industri dan

perdagangan teh. Beberapa atribut mutu inderawi telah dapat dijabarkan dalam besaran

fisik, kimia maupun biologi. Sebagai contoh misalnya, kekuatan rasa dinyatakan sebagai

kadar theaflavin, kenampakan tergulung dinyatakan dalam density, rasa asam ditentukan

melalui uji cemaran mikroba dan lain-lain.



2. ATRIBUT MUTU FISIK



Pada saat belum ditemukan cara pengujian mutu fisik maka atribut mutu fisik teh diukur

secara inderawi. Atribut tersebut misalnya kekeringan, kerapuhan, warna (teh kering, air

seduhan), bentuk, density, ukuran partikel dan lain-lain. Pada saat ini beberapa atribut

mutu fisik telah dapat ditentukan dengan prosedur dan instrumen analisis sifat fisik

tertentu sehingga cara mengkomunikasikannya lebih kuantitatif. Warna teh kering dapat

diukur memakai Chromameter, dan warna seduhan teh dinyatakan dalam besaran total

warna yang merupakan persen absorbansi sinar tampak pada panjang gelombang tertentu

atau secara kimia dinyatakan sebagai rasio theaflavin, thearubigin. Kekeringan atau

kerapuhan dinyatakan sebagai kandungan air. Ukuran partikel dapat dinyatakan sebagai

diameter hancuran berdasar Fineness Modulus dan Density terukur sebagai density curah

yang dinyatakan dalam volume per satuan berat.



3. ATRIBUT MUTU KIMIA



Atribut mutu kimia merupakan atribut tersembunyi. Karena kompleksnya susunan kimia

teh atribut kimia ini sangat banyak ragamnya. Kandungan kimia dalam daun teh,

perubahannya selama pengolahan dan pasca pengolahan sangat menentukan kualitas

kimia teh.

Atribut mutu kimia dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Penentu rasa : polifenol dan hasil oksidasinya

Penentu kesegaran : alkaloid (Cafein, Theobromine, Theophylin)

Penentu aroma : linalool, geraniol, ester-ester, minyak essensial dan lain-

lain

Penentu warna : theaflavin, thearubigin, khlorofil

Penentu daya manfaat : polifenol dan hasil oksidasinya, mineral,vitamin

Cemaran : logam berbahaya, residu pestisida, radio aktif



Kemajuan yang pesat dalam analisis kimia flavor (cita rasa) menyebabkan telah

teridentifikasinya lebih dari 300 macam senyawa penentu flavor teh, salah satu atribut

mutu kimia yang penting pada teh.



4. ATRIBUT MUTU BIOLOGI





Manajemen Agribisnis “Karet” 67

Sebagai bahan pangan asal tanaman maka teh juga memiliki beberapa atribut mutu

biologi. Misalnya adalah ketuaan daun, cemaran dengan jaringan daun tanaman selain teh

dan cemaran mikroba. Atribut mutu biologi yang saat ini sering dipermasalahkan adalah

Sanitary dan Phyto Sanitary yang dinyatakan sebagai angka lempeng total yang

merupakan cermin jumlah koloni mikroba pencemar (jamur) dalam satuan berat cuplikan

teh. Cemaran dengan jaringan tanaman dapat dideteksi secara mikroskopik melalui

pengecatan untuk melihat bulu, idioblast, stomata dan kalsium oksalat yang sangat khas

pada jaringan daun teh. Atribut mutu biologi ketuaan daun dapat didekati dengan analisis

kimia serat kasar, dimana makin tua daun makin besar kadar serat kasarnya. Analisis

petik dan analisis pucuk juga merupakan salah satu metoda evaluasi mutu biologi pada

teh.



5. BIAYA MODAL



Biaya modal atau sumber pendanaan perkebunan teh berasal dari pemerintah melalui

Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), lembaga perbankan, lembaga non –

perbankan, perorangan atau investor yang mempunyai hubungan dalam hal ini

pemenuhan kebutuhan modal, serta berasal dari perusahaan yang bersangkutan.

Sebagai contoh, suatu perusahaan yang bergerak di sektor perkebunan teh, membutuhkan

sekurang-kurangnya modal Rp. 12 juta per hektar untuk melakukan peremajaan dengan

jumlah tanaman yang harus ditanam mencapai 13 ribu pohon per hektar.

Untuk saat ini, sangant sulit mendapatkan bantuan modal dari lembaga bank maupun

lembaga non bank, khususnya, yang kurang tertarik untuk mendanai perkebunan teh

tersebut. Ini dikarenakan harga komoditi teh yang masih berkisar diantara US$ 1,2 – 1,4

per kg.

Ini menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan perkebunan teh untuk meningkatkan

daya saing dalam hal ini mutu, untuk meningkatkan harga yang masih bisa digenjot naik.





KESIMPULAN



Teh merupakan tanaman yang memiliki khasiat untuk kesehatan. Ini didasarkan atas

penelitian dan berdasarkan peninggalan sejarah, di mana teh telah dikenal sekitar 5000

tahun silam. Maka tanaman teh tersebut perlu dikembangkan lebih lanjut. Khususnya

Indonesia, yang merupakan salah satu produsen teh, perlu meningkatkan produksi dengan

tidak mengesampingkan mutu teh itu sendiri. Di mana Indonesia sangat potensial untuk

menjadi produsen teh di dunia. Maka dari itu, perlu dukungan dari setiap lapisan

masyarakat, khususnya pemerintah agar memperhatikan potensi teh Indonesia.



Sebagai penghasil produk teh berbahan baku pucuk teh varietas assamica, Indonesia

berpeluang menghasilkan bahan minuman fungsional teh kaya katekin. Rekayasa proses

produksi teh kaya katekin telah dan akan terus dilakukan untuk dapat merebut peluang

pasar minuman fungsional. Keberhasilan rekayasa produksi minuman fungsional teh kaya

katekin diharapkan dapat memacu perkembangan industri teh Indonesia pada umumnya

dan industri teh rakyat pada khususnya.



SARAN



Untuk mampu bersaing dengan produsen teh lainnya, kami dari kelompok komoditi teh

menyarankan agar pemerintah memperhatikan permasalahan yang sedang dihadapi oleh

perusahaan yang bergerak di perkebunan teh. Selain itu, pemerintah juga perlu

memberikan bantuan modal guna melakukan peremajaan tanaman teh, di mana tanaman

teh Indonesia pada saat ini sedang memasuki masa re-planting. Di sisi lain, lembaga bank

dan non-bank perlu juga memberikan bantuan modal. Saat ini, lembaga bank dan non-

bank kurang tertarik dengan pemberian modal pada perkebunan teh. Hilangkanlah







Manajemen Agribisnis “Karet” 68

paradigma “kurang tertari” untuk mendukung kemajuan perkebunan teh Indonesia dan

membantu perekonomian masyarakat, khususnya rakyat kecil.



DAFTAR PUSTAKA



Anonim (2002). Pelatihan Pengolahan Teh Hitam. Asosiasi Penelitian Perkebunan

Indonesia. Pusat Penelitian Teh dan Kina, Indonesia.

http://disperindag-jabar.go.id//?pilih=lihat&id=1319

http://www.bandungpress.com

Sumber:http://www.atmstravelnews.com/

http://www.library@lib.unair.ac.id

Website: www.youngstatistician.com Milist: stis44@yahoogroups.com

http://antara.co.id//terms

http://www.depperin.go.id/IND/Publikasi/Atase

http://titosuharto.wordpress.com/2008/03/22/teh-hitam-kurangi-risiko-jantung/feed

http://www.landize.com/khasiat-teh.html

http://anekailmu.blogspot.com/2007/04/27-manfaat-teh-hijau-bagi-kesehatan.html

http://abgnet.blogspot.com/2008/04/unfair-trade-pada-komoditas-teh.html









Manajemen Agribisnis “Karet” 69

MAKALAH

ANALISIS AGRIBISNIS KOMODITI KARET

DI INDONESIA



KELAS A









Kelompok V



Oleh :

1. Mia Mayesvi (C1B006001)

2. Astrinova (C1B006009)

3. Ely Hary Yansen (C1B006028)

4. Nana Paskanita (C1B006030)









FAKULTAS EKONOMI



UNIVERSITAS JAMBI

2008









Manajemen Agribisnis “Karet” 70

DAFTAR ISI



1. Latar Belakang ......................................................................................................... 3

1.1. Lokasi Perkebunan Karet .......................................................................... 3

2. Pentingnya pengamatan Mulai dari Produksi dan Konsumsi ................................... 3

3. Prospek Karet dari Sisi Permintaan .......................................................................... 4

4. Permasalahan Komoditi Karet dilihat dari Sisi Agribisnis ....................................... 5

A. Subsistem Upstream Agribussiness (Hulu)/input pertanian ........................ 5

B. Subsistem On Farm/Produksi Pertanian .......................................................6

C. Subsistem/pengolahan/Agroindustri/hilir .................................................... 6

5. Subsistem Agribisnis ............................................................................................. 7

6. Subsistem agribisnis yang paling berperan ............................................................. 8

7. Analisis SWOT ....................................................................................................... 9

8. Bauran Pemasaran (4P) Komoditi Karet ................................................................ 9

9. Potensi Ekspor Karet .............................................................................................. 10

10. Atribut Kualitas Karet ............................................................................................ 11

11. Kesimpulan .............................................................................................................12

12. Daftar Pustaka ........................................................................................................13

13. Lampiran

1. Jalur Pemasaran Karet secara Umum ............................................................ 14

2. Jalur Pemasaran ekspor Karet Indonesia ....................................................... 15

3. TABEL ......................................................................................................... 16









Manajemen Agribisnis “Karet” 71

1. Latar Belakang

Dalam kehidupan manusia modern saat ini banyak peralatan-peralatan yang

menggunakan bahan yang sifatnya elastis tidak mudah pecah bila terjadi jatuh dari suatu

tempat. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan tersebut secara langsung kebutuhan

karet juga meningkat dengan sendirinya sesuai kebutuhan manusia.

Karet adalah polimer hidrokarbon yang terbentuk dari emulsi kesusuan (dikenal

sebagai latex) yang diperoleh dari getah beberapa jenis tumbuhan pohon karet tetapi

dapat juga diproduksi secara sintetis. Sumber utama barang dagang dari latex yang

digunakan untuk menciptakan karet adalah pohon karet Havea Brasiliensis. Ini dilakukan

dengan cara melukai kulit pohon sehingga pohon akan memberikan respons yang

memberikan banyak latex lagi.

Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi di dalam

upaya peningkatan devisa Indonesia. Ekspor karet di Indonesia selama 20 tahun terakhir

terus menunjukan adanya peningkatan dari 1.0 juta ton pada tahun 1985 menjadi 1.3 juta

ton pada tahun 1995 dan 2.0 juta ton pada tahun 2005. Pendapatan devisa dari komoditi

ini pada semester pertama tahun 2006 mencapai US $ 4,2 milyar (kompas, 2006).

Dengan memperhatikan adanya peningkatan permintaan dunia terhadap komoditi

karet ini dimasa yang akan datang, maka upaya untuk meningkatkan pendapatan petani

melalui perluasan tanaman karet dan peremajaan kebun bisa merupakan langkah yang

efektif untuk dilaksanakan. Guna mendukung hal ini, perlu diadakan bantuan yang bisa

memberikan modal bagi petani atau pekebun swasta untuk membiayai pembangunan

karet dan pemeliharaan tanaman secara intensif.

Agribisnis karet alam di masa datang akan mempunyai prospek yang makin cerah

karena adanya kesadaran akan kelestarian lingkungan dan sumberdaya alam,

kecenderungan penggunaan green tyres, meningkatnya industri polimer pengguna karet

serta makin langka sumber-sumber minyak bumi dan makin mahalnya harga minyak

bumi sebagai bahan pembuatan karet sintetis. Pada tahun 2002, jumlah konsumsi karet

dunia lebih tinggi dari produksi.

Indonesia akan mempunyai peluang untuk menjadi produsen terbesar dunia karena

negara pesaing utama seperti Thailand dan Malaysia makin kekurangan lahan dan makin

sulit mendapatkan tenaga kerja yang murah sehingga keunggulan komparatif dan

kompetitif Indonesia akan makin baik. Kayu karet juga akan mempunyai prospek yang

baik sebagai sumber kayu menggantikan sumber kayu asal hutan. Arah pengembangan

karet ke depan lebih diwarnai oleh kandungan IPTEK dan kapital yang makin tinggi agar

lebih kompetitif.



1.1. Lokasi perkebunan karet di Indonesia



Sejumlah lokasi di Indonesia memiliki keadaan lahan yang cocok untuk

pertanaman karet, sebagian besar berada di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Luas area

perkebunan karet tahun 2005 tercatat mencapai lebih dari 3.2 juta ha yang tersebar di

seluruh wilayah Indonesia. Diantaranya 85% merupakan perkebunan karet rakyat, dan

hanya 7% perkebunan besar negara serta 8% perkebunan besar milik swasta. Produksi

karet nasional pada tahun 2005 mencapai 2.2 juta ton. Jumlah ini masih akan bisa

ditingkatkan lagi dengan melakukan peremajaan dan memberdayakan lahan-lahan

pertanian milik petani serta lahan kosong/tidak produktif yang sesuai untuk perkebunan

karet.

2. Pentingnya Pengamatan Mulai dari produksi dan Konsumsi



Karena karet merupakan salah satu komoditi perkebunan penting, baik sebagai

sumber pendapatan kesempatan kerja dan devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi

sentra–sentra baru diwilayah sekitar perkebunan karet, maupun pelestarian lingkungan

dan sumberdaya hayati. Pengamatan produksi dilakukan pada seluruh aspek kegiatan

yang berkaitan dengan produksi, yang meliputi :

a. Kegiatan proses produksi



Manajemen Agribisnis “Karet” 72

b. Kualitas produk yang dihasilkan, apakah telah sesuai dengan standarisasi (SIR) yaitu

merupakan faktor yang menentukan dalam tercapainya jaminan mutu untuk setiap

produk, dapat dilihat dari keaamanan, keselamatan, dan kesehatan bagi konsumen.

c. Biaya produksi yang dikeluarkan harus disesuaikan dengan harga karet dunia agar

petani tidak mengalami kerugian dan didukung dengan kualitas karet itu sendiri.

d. Pentingnya IPTEK bagi para petani, agar proses produksi dapat berjalan dengan baik

yang akan berimbas pada peningkatan hasil produksi.

e. Skala Produksi, produksi karet alam dunia meningkat dari 2 juta ton lebih pada

tahun 1960 mencapai 6,15 juta ton pada tahun 1996 dengan laju pertumbuhan 3,2%

per tahun. Namur selama 6 tahun terakhir (1996-2002) produksi karet alam dunia

tidak memperlihatkan pertumbuhan yang mencolok yaitu hanya sekitar 2,15% per

tahun.



Pentingnya pengamatan konsumsi :

Pengamatan konsumsi dilakukan guna mengetahui apakah karet yang diolah dan

diproses memiliki nilai ekonomis dan kualitas produknya memiliki standar yang dapat

diterima oleh konsumen.

Bila ditinjau untuk skala konsumsi karet itu sendiri sangat besar peluang dan daya

belinya. Dalam 6 tahun terkahir (1996-2002) konsumsi agregat karet alam dunia tumbuh

sekitar 3,0% per tahun. Pada tahun 2002 konsumsi karet alam dunia tercatat sekitar 7,39

juta ton, yang berarti lebih besar daripada tingkat produksi pada tahun yang sama. Lebih

tingginya konsumsi dibanding produksi pada tahun 2002 mencerminkan pertumbuhan

konsumsi yang lebih cepat sebagai dampak dari perubahan factor produksi dan

persaingan. Dengan makin majunya karet di Indonesia diharapkan dapat meningkatkan

konsumsi dan ekspor karet, sehingga produksi karet pada tahun 2035 diperkirakan naik

sebesar 31,3 juta ton untuk industri ban dan non ban, dan 15 juta ton untuk karet alam.



3. Prospek karet dari sisi permintaan

Harga karet alam dipengaruhi permintaan (konsumen) dan penawaran (produksi)

serta stok dan cadangan. Menurut Internasional Rubber Study Group (IRSG) tentang

permintaan diperkirakan akan terjadi kekurangan pasokan karet alam pada periode dua

dekade kedepan, terutama pabrik–pabrik ban seperti Bridgeston, Goodyar dan Michclin,

sehingga pada tahun 2004, IRSG membentuk Task Force Rubber Economi Project (REP)

untuk melakukan studi tentang permintaan dan penawaran karet sampai dengan tahun

2035. Hasil studi REP menyatakan bahwa permintaan karet alam dan sintetik dunia pada

tahun 2035 ada sebesar 31,3 juta ton untuk industri ban dan non ban, dan 15 juta ton

diantaranya ada karet alam.

Permintaan merupakan banyaknya barang yang diminta, dalam hal ini disebut

konsumsi. Faktor yang mempengaruhi perubahan tingkat permintaan karet adalah

konsumen dan harga. Konsumen akan membeli jika harga karet dianggap murah atau bisa

dijangkau. Sebaliknya konsumen tidak akan membeli kalau harga diluar jangkauannya.

Oleh karena itu, permintaan tergantung pada daya beli konsumen.

Konsumsi karet alam disaingi oleh barang pengganti karet. Barang pengganti ini

pengaruhnya sangat dominan terhadap perkembangan usaha perkembangan karet alam.

Semakin banyak barang pengganti karet, karet sintetis, akan semakin besar pengaruhnya

apalagi diikuti oleh harga yang lebih rendah.

Daya beli konsumen selalu dipengaruhi oleh naik turunnya kurs valuta asing,

terlebih bagi negara berkembang seperti Indonesia sebab nilai kurs mempengaruhi

pendapatan nilai devisa negara.

Besarnya konsumsi karet sintetis disebabkan akan naiknya permintaan akan

mobil. Dinegara industri mobil permintaan karet sintetis sangat besar (70%), sedangkan

negara-negara berkembang hanya (30%). Semua kegiatan memacu industri karet alam

dalam merebut pasar tidak lepas dari harga. Harga karet alam sendiri tidak lepas dari

harga barang lain yang diikutsertakan dalam proses produksi. Jika harga output tinggi,

berarti biaya akan tinggi dan harga barang akan tinggi pula.









73

Tingkat konsumsi karet alam Indonesia belum sampai pada tingkat kejenuhan,

paling tidak sampai pada beberapa dasawarsa mendatang. Pada saat tingkat kejenuhan itu

tercapai, industri karet alam sangat diharapkan tetap menggunakan karet alam untuk

sebagian besar industri. Dengan demikian angka konsumsi karet menjadi berimbang.

Sekarang yang harus dipertahankan adalah harga karet alamnya.

Konsumsi karet alam dunia dalam dua dekade terakhir meningkat secara drastis,

walaupun terjadi resesi ekonomi dunia pada awal tahun 1980an dan krisis ekonomi asia

pada tahun 1997-1998. Penawaran karet alam dunia pun meningkat lebih dari 3 % per

tahun dalam dua dekade terakhir dimana mencapai 8.81 juta ton per tahun.

Untuk perkembangan harga karet sintetik sebagai produk hasil industri harganya

relatif stabil dibanding dengan karet alam. Selain itu, karet sintetik harganya cenderung

naik sejalan dengan harga bahan baku, kenaikan biaya produksi dan tingkat inflasi dari

negara produsen. Hal ini berbeda dengan harga karet alam yang berfluktuasi yang

dipengaruhi oleh kondisi alam (cuaca/iklim), nilai tukar dan perkembangan ekonomi

negara konsumen.

Seiring dengan terbentuknya kerja sama tripartite antara tiga negara produsen

karet alam dunia (Thailand, Indonesia, dan Malaysia), harga karet alam di pasaran dunia

memperlihatkan kecenderungan yang membaik. Pada akhir tahun 2001 harga karet alam

berkisar antara US $ 46 sen per kg – US $ 52 sen per kg. Setelah masing-masing negara

anggota melaksanakan AETS (Agreed Export Tonnage Scheme) dan SMS (Supply

Management Scheme). Harga merangkak naik. Pada bulan Januari 2002 mencapai US $

53,88 sen per kg dan pada bulan Agustus 2003 mencapai US $ 83, 06 sen per kg.

Berdasarkan proyeksi jangka panjang (2010-2020) harga karet alam diperkirakan

akan dapat mencapai sekitar US $ 2,5 per kg. Hal ini diharapkan akan merupakan daya

tarik bagi pelaku bisnis di bidang agribisnis karet di Indonesia.



4. Permasalahan Komoditi Karet Dilihat Dari Sisi Agribisnis



A. Subsistem Upstream Agribussiness (Hulu)/input pertanian

a. Rendahnya Produktivitas

Rendahnya produktivitas terutama karet rakyat yang merupakan mayoritas (91%)

areal karet nasional dan ragam produk olahan yang masih terbatas yang di dominasi karet

remah atau crumb rubber. Rendahnya produktivitas kebun karet rakyat disebabkan juga

oleh banyaknya areal tua rusak dan tidak produktif, penggunaan bibit bukan klon unggul

serta kondisi kebun yang menyerupai hutan .

Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan karet nasional adalah rendahnya

produktivitas karet rakyat (+ 600 kg/ha/th), antara lain karena sebagian besar tanaman

masih menggunakan bahan tanam asal biji (seedling) tanpa pemeliharaan yang baik, dan

tingginya proporsi areal tanaman karet yang telah tua, rusak atau tidak produktif (+ 13%

dari total areal). Pada saat ini sekitar 400 ribu ha areal karet berada dalam kondisi tua dan

rusak dan sekitar 2-3% dari areal tanaman menghasilkan (TM) yang ada setiap tahun

akan memerlukan peremajaan. Dengan kondisi demikian, sebagian besar kebun karet

rakyat menyerupai hutan karet.



b. Sumber Dana

Adanya keterbatasan modal yang dihadapi oleh petani dalam membeli bibit

unggul maupun sarana produksi lain seperti herbisida dan pupuk, selain itu bahan tanam

karet unggul hanya tersedia di Balai penelitian melalui sistem Waralaba si sentra-sentra

pembibitan yang juga madih sasngat terbatas jumlahnya.

c. Kurangnya dukungan dan penyuluhan pemerintah

Dalam hal ini pemerintah kurang memberikan penyuluhan mengenai pengelolaan

karet dengan benar sehingga bagi petani biasa yang memiliki areal perkebunan yang

hanya beberapa hektar kurang menghasilkan karet yang berkualitas jika dibandingkan

perkebunan besar milik pemerintah dan swasta dan pemerintah juga telah menghentikan

pengutan CESS (dana untuk pengembangan, promosi, dan peremajaan) ekspor komoditi

karet sejak tahun 1970.





74

d. Kurangnya IPTEK.

Kurangnya IPTEK para petani karet yang ada di pedesaan, membuat produktivitas

dan kualitas karet yang di hasilkan rendah dan kurang bersaing di pasaran dunia.

e. Adanya hukum dan perundang-undangan penebangan

Pemerintah mengeluarkan peraturan dimana dalam membuka lahan baru, petani

diwajibkan memiliki surat izin penebangan. Diman proses mendapatkan surat izin

tersebut sangat rumit apalagi pada petani rakyat.

f. Kurangnya pemanfaatan kayu karet

Masalah lain yang dihadapi dalam komoditas karet adalah pemanfaatan kayu

karet baru sebatas kayu olahan, papan artikel, dan papan serat. Hal ini terjadi karena

lokasi pengolah kayu jauh dari sumber bahan baku sehingga biaya transportasi menjadi

tinggi. Oleh karena itu, harga kayu karet di tingkat petani masih rendah dan tidak menarik

bagi petani.

B. Subsistem On Farm/Produksi Pertanian

Arah kebijakan pada sisten on-farm adalah terwujudnya suatu kondisi dimana

ketersediaan sarana produksi, spesialisasi subsistem on-farm terletak pada produktivitas

hasil lateks dan kayu.

Masalah utama yang dihadapi oleh petani dalam sistem ini ketersediaan bahan

baku yang tidak kontinue.



C. Subsistem/pengolahan/Agroindustri/hilir

a. Rendahnya daya saing produk-produk industri lateks Indonesia bila dibandingkan

dengan produsen lain terutama Malaysia.

b. Adanya penurunan areal hutan, eksploitasi kayu hutan yang berlebihan, tidak adanya

program reboisasi yang berkesinambungan sehingga membuat permintaan akan karet

tidak dapat terpenuhi karena bahan baku yang kurang.



7. Subsistem Agribisnis

a. Farming

Untuk menanam dan menghasilkan karet yang unggul dan berkualitas serta

mempunyai produktivitas yang tinggi tidaklah mudah, semuanya harus diperhatikan

secara seksama dimulai dari ;

 Asal Bibit

Bibit yang bagus untuk karet unggul adalah bibit yang berasal dari penyerbukan

sendiri maupun silang yang dibantu serangga jenis (Nitudulidae, Phloeridae,

Eurculionidae) setelah sebulan terjadinya pembuahan sekitar 30-607 akan gugur

secara berangsur-angsur dan sisanya berkembang hingga masak, ini adalah bibit yang

bagus.

 Seleksi Bibit

Setelah mendapatkan bibit, tidak langsung dapat disemai tetapi terlebih dahulu

diseleksi untuk memisahkan antara bibit yang bagus dengan bibit yang kualitasnya

jelek, hal ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pemantulan dan perendaman,

apabila bijinya dipantulkan biji tersebut melenting maka biji tersebut berkualitas

bagus dan memiliki daya kecambah + 807. Sedangkan untuk perendaman apabila biji

tersebut direndam dan tidak mengapung/tenggelam maka biji tersebut bagus dan

mempunyai daya kecambah + 80-92%.

 Penyemaian

Penyemaian ini tidak bisa dilakukan sembarangan, sebelum penyemaian harus

disediakan media seperti pasir sungai yang bersih dan halus barulah disemai bibit

yang telah disediakan dengan cara menekan biji kedalam media pasir.Penyiapan

lahan

Dewasa ini budidaya karet dikenal beberapa istilah teknis yang berhubungan

dengan penyiapan lahan. Yaitu :









75

- New Planting (bukaan baru), penanaman karet yang dilaksanakanpada lahan yang

sebelumnya tidak ada penanaman karet.

- Replanting (pembukaan ulang), yaitu penanaman karet pada lahan yang

sebelumnya telah ditanami tanaman karet.

- Konversi, yaitu penanaman karet pada lahan yang sebelumnya ditanami jenis

tanaman keras/perkebunan lain.

 Jarak Tanam

Agar pertumbuhan dari karet yang ditanam bagus maka harus ditentu oleh jarak.

Jarak yang biasanya dipakai umum sempit yakni 3m x 3m atau 4m x 4m yaitu dengan

hubungan segitiga sama sisi sehingga jumlah tanaman tiap hektar cukup banyak.

Tetapi dewasa ini jarak yang digunakan 7m x 3m atau 7,14m x 3,33 m atau 8m x

2,5m.



b. Procesing

Setelah umur karet yang ditanam sudah mencapai 5-6 tahun maka karet tersebut

sudah bisa untuk disadap, penyadpan adalah mata rantai pertama dalam proses produksi.

Karet penyadapan dilaksanakan dikebun produksi dengan menyayat atau mengiris

(dewasa ini juga dengan cara menusuk) batang dengan cara tertentu dengan maksud

untuk memperoleh lateks atau getah.

Untuk memperoleh karet yang bermutu tinggi, pengumpulan lateks hasil

penyadapan dikebun harus bersih, proses pengolahan ini dimulai dari mengumpulkan

lateks dikebun penerimaan lateks. Pengangkutan lateks, pengumpulan gumpalan karet

mutu rendah menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas lateks serta bahan-

bahan kimia dan air sebagain bahan pengolahan.



c. Marketing

Setelah semua rangkaian dari proses telah dilaksanakan, kemudian sampai pada

proses/tahap pemasaran. Yang dipasarkan adalah lateks pekat hasil penguapan, yang

disebut Revertex Standar, memiliki kadar zat padat sekitar 73% dan kadar karet kering

68%. Untuk melakukan pemasaran harus memenuhi standar yaitu standar ISO dan dapat

juga menggunakan mutu standar menurut ASTN atau BS, meskipun demikian dalam

transaksi acapkali spesifikasi mutu lateks pekat ditentukan atas persetujuan antara penjual

dan pembeli.









76

d. Penelitian dan Pengembangan (R & D)

Dengan kondisi harga karet sekarang ini yang cukup tinggi, maka momen

tersebut perlu dimanfaatkan dengan melakukan peremajaan karet rakyat dengan

menggunakan klon klon unggul, mengembangkan industri hilir untuk meningkatkan

nilai tambah, dan meningkatkan pendapatan petani.

Strategi di tingkat on farm yang diperlukan adalah :

(a) penggunaan klon unggul penghasil lateks dan kayu yang mempunyai prosuktivitas

lateks potensial lebih dari 3000 kg/ha/th, dan menghasilkan produktivitas kayu

karet lebih dari 300 m3/ha/siklus

(b) percepatan peremajaan karet tua seluas 4000 ha sampai dengan tahun 2009 dan 1.2

juta ha sampai dengan 2025;

(c) Diversifikasi usaha tani karet dengan tanaman pangan sebagai tanaman sela dan

ternak untuk meningkatkan pendapatan petani;

(d) peningkatan efisiensi usaha tani.



Strategi di tingkat off farm adalah :

(a) peningkatan kualitas bahan olah karet (bokar) berdasarkan SNI yang diisyaratkan

oleh industri pengolahan.

(b) peningkatan efisiensi pemasaran untuk meninkatkan margin harga petani;

(c) penyediaan kredit Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) untuk peremajaan,

pengolahan dan pemasaran bersama;

(d) pengembangan infrastruktur;

(e) peningkatan nilai tambah melalui pengembangan industri hilir yang ramah

lingkungan;

(f) peningkatan pendapatan petani melalui perbaikan sistem pemasaran.

e. Pendukung

Dalam melakukan pengeksporan karet biasanya dilakukan dengan menggunakan

peti kemas untuk lebih memacu, mempromosikan komoditi karet. Berkembangnya

teknologi otomatisasi dan komputerisasi juga sangat menuntut pasokan bahan baku yang

bermutu konsisten, termasuk juga mutu karet alam.



8. Subsistem agribisnis yang paling berperan

Subsistem yang paling berperan adalah farming, hal ini dikaitkan dengan

permasalahan dari komoditi tersebut yaitu:

 Rendahnya produktivitas

Pertanian indonesia umumnya bersifat tradisional, dengan tingkat teknologi dan

skill inikah menyebabkan pertanian indonesia tidak berkembang dengan

pesat,sehingga produktivitas pertanian rendah.Dengan produktivitas yang rendah

ini tidak dapat menutupi akan kebutuhan

 Belum ada sumber dana yang tersedia

Dana atau modal adalah faktor yang sangat penting dalam menjalankan suatu

usaha.Apabila dana tidak ada atau belum tersedia perusahaan tidak dapat

berjalan. Solusinya adalah dengan melakukan sistem perkreditan pada badan atau

lembaga yang dapat meminjamkan modal

 Kurangnya IPTEK

Rendahnya tingkat pendidikan di kalangan masyarakat pedesaan tidak dapat

menciptakan petani yang handal. Dengan tingkat IPTEK yang rendah ini sistem

pertanian Indonesia dapat tertingal dengan negara lain.







77

7. Analisis SWOT

. KEKUATAN (strength) dari komoditas karet :

 Karet merupakan salah satu komoditi ekspor yang mempunyai harga jual tinggi

juga salah satu penghasil devisa bagi Negara.

 Karet yang dihasilkan oleh perkebunan yang ada di Indonesia sudah lulus standar

ISO dan standar ASTN dan BS,

 Karet membutuhkan kondisi alam yang subur dan ini sangat sesuai dengan

kondisi alam di Indonesia

 Pembukaan lahan karet dapat dilakukan dengan replanting (bukaan Ulangan) dan

konversi.

 Karet dapat digunakan sebagai bahan industri mobil, ban, dll.

KELEMAHAN (weaknees) dari komoditas karet :

 Karet yang dihasilkan oleh petani desa pada umumnya berkualitas rendah.

 Nilai ekspor karet alam Indonesia dalam bentuk bahan baku mempunyai mutu

yang lebih rendah daripada Negara lain.

 Apabila datang musim penghujan maka kualitas karet sedikit menurun.

 Adanya penjarahan terhadap karet yang siap panen oleh oknum tertemtu.

 Kurangnya penguasaan teknologi baik dalam pembibitan, produksi dan

pengolahan pasca panen.

 Adanya pengurangan terhadap pupuk yang bersubsidi sehingga membuat petani

sedikit kesulitan dalam mencari pupuk yang murah.

 Kurangnya perhatian pemerintah terhadap perkebunan karet sehingga yang

mengelola karet hanya petani biasa, tidak seperti Thailand yang dikelola skala

kebunbesar oleh pemerintah.

PELUANG (opportunity) dari komoditas karet :

 Adanya lokakarya budidaya karet yang dilaksanakan oleh lembaga perkebunan

Indonesia.

 Adanya dukungan pemerintah dengan cara memberikan bibit unggul dengan

harga yang lebih murah.

 Diperkirakan Indonesia akan menempati urutan pertama produsen karet alam

dunia

ANCAMAN (Threat) dari komoditas karet :

 Nilai ekspor karet alam Indonesia dalam bentuk bahan baku lebih rendah

dibandingkan dengan Negara lain.

 Kurs dollar yang turun naik.

 Belum pulihnya kepercayaan Internasional terhadap Indonesia





8.Bauran Pemasaran (4P) Komoditi Karet

 Produk(Product)

Indonesia merupakan penghasil karet terbesar didunia.hal ini dikarenakan

indonesia menghasilkan jumlah karet yang cukup banyak dibandingkan negara

pesaing yaitu Thailand dan malaysia. Hasil karet tersebut dijual untuk pasar

domestik dan khususnya untuk diekspor ke luar negeri.Untuk pasar ekspor

indonesia bekerja sama dengan mitra usaha yang bergerak dibidang

pengeksporan untuk mengekspor karet ke pasar luar negeri. Hasil panen dari

karet tersebut berupa lateks segar yang dijual ke tengkulak atau pabrik





78

pengolahan.selanjutnya lateks tersebut diencerkan dengan air sampai kadarnya

20% setelah lateks diencerkan jadilah crepe, setelah kering crepe di pak atau

dibuat bandela-bandela dengn berat 50 kg bandela untuk selanjutnya dipasarkan

ke konsumen dalam dan luar negeri. Budidaya karet dapat mendukung program

pemerintah dibidang sektor pertanian dan perkebunan dan juga menambah

devisa negara.karet merupakan penyumbang terbesar devisa bagi negara.

 Penetapan Harga (pricing)

Dalam memproduksi karet ini para petani atau pengusaha berusaha untuk

meminimalkan biaya-biaya dengan cara melakukan perawatan tanaman secara

intensif untuk mengurangi resiko gagal panen. Sehingga produksi karet ini tidak

memakan banyak biaya. Pada akhirnya karet tersebut dapat dijual dengan harga

yang relatif terjangkau bagi konsumen. Selain itu penetapan harga karet juga

berfluktuasi atau berpengaruh terhadap harga dolar saat ini.bila mana dolar

mengalami kenaikan maka harga karet juga akan naik begitu juga sebaliknya

yang terjadi.

 Promosi (promotion)

Untuk memperkenalkan karet hal ini dirasa tidak perlu akan tetapi kegiatan

promosi disini dilakukan untuk memberitahu kepada konsumen tentang kualitas

dari produk karet tersebut. Kegiatan promosi dan publikasi karet dilakukan

melalui media cetak elektronik yaitu internet. Promosi dilakukan secara teratur

bertujuan untuk memberitahu kepada konsumen tentang kualitas yang

dihasilkan.perusahaan karet menggunakan promosi dalam bentuk :

o Internet, perusahaan akan membuat web-site tentang produk karetnya dan

hal-hal lain mengenai perusahaan penghasil. Media internet dipilih

karena saat ini internet merupakan sarana periklanan yang sangat efektif

mengingat target pasar dari karet adalah kalangan menengah atas serta

perusahaan negara asing.

 Lokasi (place)

Luas areal perkebunan karet di indonesia telah mencapai 3.262.291 hektar.areal

perkebunan karet di indonesia menyebar cukup merata karena terdapat 22

propinsi dari 30 propinsi. Propinsi yang memiliki areal perkebunan karet yang

terluas pada tahun 2004 adalah sumatera selatan yakni mencapai 671.920

hektar.dari total areal perkebunan karet di indonesia tersebut 84,5% diantaranya

merupakan kebun milik rakyat,8,4%milik swasta dan hanya 7,1% yang milik

negara.



9. Potensi Ekspor Karet

Adanya potensi ekspor komoditi karet di Indonesia, menurut J.P.Holomoan

(1991) destinasi ekspor komoditi karet alam indonesia adalah Amerika serikat sebesar

40 %,Singapura 32,8%,negara eropa barat sebesar 7,5%, Uni soviet 5%, Jepang 3,3%

dan beberapa negara lain sebesar 11,4%.

Dari data di atas terlihat jelas, bahwa Amerika serikat dan Singapura merupakan

pembeli terbesar hasil karet Indonesia. Peningkatan jumlah permintaan dari ke dua

negara ini tentu akan menyenangkan pihak produsen karet di Indonesia .Namun,bila ke

dua negar ini menurunkan permintaannya, maka produsen karet Indonesia sedikit

banyak akan tertanggu kestabilannya.

Beberapa tahun terakhir ini permintaan dari Amerika serikat cenderung menurun.

Hal ini bisa cukup di mengerti mengingat situasi dalam negri Amerika Serikat sekarang

ini. Kurang stabilnya perekonomian di negara itu mengakibatkan industri dalam







79

negerinya mengalami hambatan perkembangan. Belum lagi saingan industri mobil dari

Jepang yang memiliki industri mobil negara paman sam tersebut.

Produsen atau eksportir karet alam umumnya adalah negara-negara yang sedang

berkembang seperti Malaysia, Indonesia, Birma ,Thailand, dll.Maka persaingan terjadi

antara sesama negara yang sedang berkembang tersebut.

Untuk memperkuat daya saing karet alam Indonesia di pasaran internasional,

perlu diambil langkah-langkah sebagai tindak lanjut yang konkret. Langkah-langkah ini

diantaranya adalah meningkatkan efektifitas dan efisiensi pengusahaan karet yang

meliputi berbagai bidang:

1. Bidang kultur teknis dan teknologi

Peningkatan produktivitas dan efisiensi dalam bidang ini meliputi

peningkatan produktivitas tanaman dan peningkatan mutu. Produktivitas

tanaman karet di Indonesia masih relatif rendah. Untuk memperbaiki

teknologi dan manajemen pengusahaan tanaman karet, fungsi dan partisipasi

balai penelitian karet hendaknya semakin di tingkatkan. Dalam hal ini perlu

digalakan peneliitan terutama dala hal budidaya karet. Cara lain untuk

memperkuat daya saing karet alam Indonesia dipasaran internasional adalah

dengan peningkatan mutu. Mutu karet harus ditingkatkan, baik mutu

produksi, mutu kemasan, maupun mutu pelayanannya.

2. Bidang pembiayaan dan keuangan

Peningkatan efektivitas dan efisiensi dibidang pembiayaan dan keuangan

merupakan upaya penggunaan dana seefektif dan seefisien mungkin agar

harga pokmok kaet yang dihasilkan cukup rendah. Dengan demikian,

poroduk karet itu mampu bersaing pada setiap tingkat harga jual yang terjadi

di pasaran internasional.

3. Bidang pemasaran sebagai ujung tombak.

Tujuan akhir setiap produk adalah penjualan. Oleh karena itu, suatu hal yang

harus dilaksanakan untuk menunjang keberhasilan yang sudah dibuat untuk

mencapai efektifitas dan efisiensi biaya dan mutu adalah pemasaran. Dengan

adanya pemasaran yang baik, maka semua aktivitas yang menyebabakan

tersedotnya dana dan daya perusahaan akan dikembalikan. Bahkan, akan

menaikan modal usaha dengan perolehan peruntungan yang tidak jauh

berbeda dengan yang direncanakan.

10. Atribut Kualitas Karet



Agar kualitas karet yang dihasilkan sesuai dengan standar internasional maka

diperlukan perlengkapan atau sarana yang berkualitas baik dalam memproses karet

menjadi berbagai macam produk. Perlengkapan yang digunakan antara lain adalah :

- Bahan baku yang dipakai memiliki kualitas yang baik

- Mesin dan peralatan yang canggih

- Keahlian karyawan atau tenaga kerja yang terampil

- Sistem perencanaan.

Kualitas karet alam :

- Memiliki daya elastis atau daya lenting yang sempurna

- Memiliki plastisitas yang baik sehingga pengolahannya mudah

- Mempunyai daya aus yang tinggi

- Tidak mudah panas

- Memiliki daya tahan yang tinggi terhadap keretakkan

Kualitas karet sintetis :

- Tahan terhadap berbagi zat kimia





80

- Harganya yang cenderung bisa dipertahankan supaya tetap stabil.

-



KESIMPULAN



Karet merupakan salah satu komoditi perkebunan penting, baik sebagai sumber

pendapatan, kesempatan kerja dan devisa, pendorong pertumbuhan ekonomi sentra-

sentra baru di wilayah sekitar perkebunan karet maupun pelestarian lingkungan dan

sumberdaya hayati. Namun sebagai negara dengan luas areal terbesar dan produksi

kedua terbesar dunia, Indonesia masih menghadapi beberapa kendala, yaitu rendahnya

produktivitas, terutama karet rakyat yang merupakan mayoritas (91%) areal karet

nasional dan ragam produk olahan yang masih terbatas, yang didominasi oleh karet

remah (crumb rubber). Rendahnya produktivitas kebun karet rakyat disebabkan oleh

banyaknya areal tua, rusak dan tidak produktif, penggunaan bibit bukan klon unggul

serta kondisi kebun yang menyerupai hutan. Oleh karena itu perlu upaya percepatan

peremajaan karet rakyat dan pengembangan industri hilir.

Melihat perkembangan baik dari segi konsumsi maupun produksi karet dunia,

dalam tahun-tahun mendatang dipastikan masih akan terus meningkat. Indonesia

merupakan penghasil karet sekaligus sebagai salah satu basis manufaktur karet dunia.

Tersedianya lahan yang luas memberikan peluang untuk menghasilkan karet alami yang

lebih besar lagi dengan menambah areal perkebunan karet. Tetapi lebih utama dari itu,

produksi karet alam bisa ditingkatkan dengan meningkatkan teknologi pengolhan karet

untuk meningkatkan efisiensi, dengan demikian output (latex) yang dihasilkan dari input

(getah) bisa lebih banyak dan menghasilkan material sisa yang semakin sedikit.

Kondisi agribisnis karet saat ini menunjukkan bahwa karet dikelola oleh rakyat,

perkebunan negara dan perkebunan swasta. Pertumbuhan karet rakyat masih positif

walaupun lambat yaitu 1,58%/tahun, sedangkan areal perkebunan negara dan swasta

sama-sama menurun 0,15%/th. Oleh karena itu, tumpuan pengembangan karet akan

lebih banyak pada perkebunan rakyat. Namun luas areal kebun rakyat yang tua, rusak

dan tidak produktif mencapai sekitar 400 ribu hektar yang memerlukan peremajaan.

Persoalannya adalah bahwa belum ada sumber dana yang tersedia untuk peremajaan. Di

tingkat hilir, jumlah pabrik pengolahan karet sudah cukup, namun selama lima tahun

mendatang diperkirakan akan diperlukan investasi baru dalam industri pengolahan, baik

untuk menghasilkan crumb rubber maupun produk-produk karet lainnya karena

produksi bahan baku karet akan meningkat dan ini dapat dilihat pada tahun 2005

perdagangan karet di Indonesia mengalami surplus sebesar US $ 2,9 juta dimana nilai

ekspor lebih besar dibanding nilai impor. Potensi surplus ini masih bisa naik lagi

mengingat kebutuhan karet dunia yang terus meningkat, ditambah lagi apabila didukung

pengurangan volume impor karet dengan tercukupinya kebutuhan karet dalam negeri.









81

DAFTAR PUSTAKA



1. www.google.com

2. Makalah Chairil Anwar (pusat penelitian karet), “Perkembangan Pasar dan Prospek

Agribisnis Karet di Indonesia” ; 2006.

3. Makalah Cut Fatimah Zuhra, “Karet” ; 2006.

4. Tim Penulis PS, “KARET : Budi Daya Dan Pengolahan , Strategi Pemasaran”,

PT Penebar Swadaya, anggota Ikapi, Jakarta ; 2006.

5. Setiawan Heru Didit dkk, “Petunjuk Lengkap Budidaya Karet” agromedia Pustaka,

Solo ; 2005.









82

Jalur pemasaran karet rakyat secara umum









Petani Karet Rakyat









Hasil Karet Rakyat









Pedagang Tempat Lelang

Perantara/Tengkulak







KUD









Rumah-rumah asap

Atau pabrik yang mengolah

bokar









83

JALUR PEMASARAN EKSPOR KARET INDONESIA







Bahan olah karet rakyat Lateks

(BOKAR) kebun





Perkebunan besar

Pabrik pengolahan





PTP

Swasta

Kantor pemasaran

bersama





Medan Jakarta Surabaya







Lelang



Industri yang

menggunakan bahan

baku karet di dalam

negeri



Pembelian

langsung oleh

pihak luar

negeri/

perwakilannya









eksportir



dealer





Perusahaan

pengangkutan









importir





Konsumen luar negeri





84

85

TABEL VOLUME DAN NILAI EKSPOR IMPOR KARET ALAM INDONESIA TAHUN 1969 – 1990



Ekspor Impor

Tahun

Volume Nilai Volume Nilai

( ton) ( 000 US$ ) ( ton ) ( 000 US$ )

1 2 3 4 5

1969 657314 171750 0 0

1970 581190 185164 0 0

1971 580232 166476 0 0

1972 755960 161601 0 0

1973 866638 391372 0 0

1974 7947541 476076 0 0

1975 788292 358240 0 0

1976 789892 535693 0 0

1977 781967 575555 0 0

1978 865960 718045 1031 197

1979 865321 940603 1209 245

1980 976131 1165321 1980 458

1981 812800 835849 2324 1155

1982 797608 602148 1847 570

1983 938032 843465 365 124

1984 1009558 948391 24 37

1985 987771 708498 44 49

1986 958692 711612 151 106

1987 1092525 958047 0 0

1988 1132132 1243422 0 0

1989 1151409 1007198 823 1089

1990 1077331 846876 792 708









Sumber : Direktorat Jenderal Perkebunan,1991. ( Tim Penulis PS, “Budidaya dan Pengolahan, Strategi

Pemasaran”, 2006 )









86

87

88

MANAJEMEN AGRIBISNIS









RUMPUT LAUT









Disusun oleh :



Manajemen “A” 2005







Nama kelompok :



1.Ayuliyetrisnalisa C1B005004



2.Umi Fajariyah C1B005003



3.Dewi Afrianti C1B005036



4.Dion Kurniadi C1B005032





89

5.Bayu trisna Putra C1B005016









FAKULTAS EKONOMI







UNIVERSITAS JAMBI









RUMPUT LAUT



Pendahuluan



Indonesia merupakan negera kepulauan yang terdiri dari lebih 13.600

pulau dengan garis pantai sepanjang 81.000 km. Kondisi perairan Indonesia yang luas

dan subur mencerminkan potensi hasil laut yang cukup tinggi. Salah satu komoditi

sumberdaya laut yang ekonomis adalah rumput laut. Dari ratusan jenis rumput laut yang

tersebar di perairan pantai Indonesia, terdapat 4 jenis bernilai ekonomis yaitu marga

Gracilaria, Gelidium dan Gelidiella sebagai penghasil agar, dan marga Hypnea serta

Eucheuma sebagai penghasil carrageenan.



Istilah “rumput laut” adalah terjemahan dari “seaweed” yang merupakan nama

dalam dunia perdagangan internasional untuk jenis-jenis alga (e) yang dipanen dari laut.

Sebenamya penamaan rumput laut tidak tepat karena algae secara botanis tidak termasuk

dalam golongan rumput-rumputan (Graminae). Nama agar-agar juga diberikan kepada

jenis-jenis algae ini berdasarkan kandungan kimianya..Rumput laut merupakan bagian

dari tanaman perairan (alge) yang diklasifikasikan ke dalam 2 kelas yaitu makro alge dan





90

mikro alge. Rumput laut termasuk pada kelas makro alge, yaitu penghasil bahan-bahan

hidrokoloid, selain mengandung bahan hidrokoloid sebagai komponen primernya,

rumput lautpun mengandung komponen sekunder yang kegunaannya cukup menarik

yaitu sebagai obat-obatan dan keperluan lain yang cukup penting seperti kosmetik dan

industri lainnya.



Pentingnya pengamatan mulai dari produksi dan konsumsi



-produksi



Dari total produksi rumput laut di Indonesia sebagian besar dihasilkan di perairan

Maluku dan Nusa Tenggara Timur. Walaupun perairan pantai Indonesia mempunyai

potensi sebagai penghasil rumput laut, tetapi masih kalah jauh dengan produksi rumput

laut dari Filipina. Hal ini disebabkan karena produksi rumput laut Indonesia selama ini

masih tergantung dari hasil panen dari alam, sedangkan di Filipina sudah dibudayakan

secara intensif. Usaha budidaya rumput laut di Indonesia baru dilakukan di beberapa

daerah seperti Bali, Sulawesi Tenggara dan itupun masih terbatas pada jenis Eucheuma.



Potensi produksi rumput laut kering rata-rata 16 ton per hektar per tahun. Jika luas

areal itu dimanfaatkan secara optimal, total produksi mencapai 17.774.400 ton per tahun.

Harga di pasar dunia saat ini sekitar Rp 4,5 juta per ton. Ini berarti, nilai pendapatan yang

diperoleh Rp 79,984 triliun.

Total produksi rumput laut basah rata-rata 223.000 ton atau setara dengan 30.000

ton kering. Setiap 8 ton rumput laut basah bisa menghasilkan 1 ton rumput laut kering.

Hingga kini baru 20.572 perusahaan skala menengah yang berinvestasi di budidaya

rumput laut dengan total investasi Rp 5,143 triliun.

-Konsumsi

Olahan sederhana dari rumput laut yang telah berkembang di Indonesia berasal

dari jenis Eucheuma.jenis ini dikonsumsi masyarakat dalam bentuk makanan,seperti

dodol, permen jelly, puding dan manisan nata rumput laut. Dari jenis Gracilaria adalah

agar-agar kertas, agar-agar batangan, agar-agar powder, sedangkan dari jenis Sargassum

antara lain adalah minuman Alginat. Biasanya produk olahan tersebut diproses secara

skala rumah tangga, penampilan produknya kurang menarik dan daya simpan kurang

lama. Hanya sebagian kecil yang telah diproses seraca modern dan dikemas dengan

menarik dan telah dijajakan di pasar swalayan.

Manfaat

Manfaat penggunaan rumput laut di bidang kesehatan telah lama diterapkan oleh

masyarakat tradisional, diantaranya adalah: rebusan rumput laut atau serbuk yang dibuat

pil digunakan untuk mengatasi sakit gondok karena rumput laut mengandung iodium.

Larutan berwarna coklat dari rumput laut juga berguna bagi penyakit rheumatik dan

menurunkan berat badan. Serbuk rumput laut juga lazim dikonsumsi untuk meningkatkan

daya tahan tubuh dan mengatasi segala jenis penyakit. Penggunaan phycocolloid dari

alginat dapat menyembuhkan penyakit kanker terbukti kemanjurannya menghasilkan

pemulihan 68 % dari 162 pasein kanker. Senyawa ini juga dapat mengatasi penyakit

bronchitis kronis atau emphysema (penyakit paru-paru), scrofula, gangguan empedu,

atau kandung kemih, ginjal, syphilis, tukak lambung, atau saluran cerna, reduksi

kolesterol darah dan anti hipertensi (Chapman & Chapman, 1980) .

Produk rumput laut digunakan juga dalam industri pangan seperti pembuatan jelly,

minuman dan makanan ringan, sosis, selai anggur dan pakan binatang piaraan.

Sedangkan pada pada industri non pangan seperti industri suspensi, cairan pembersih,

pelapis keramik, industri kertas, pencetakan tekstil dan karpet serta farmasi dan

kosmetika .

prospek Rumput laut dari sisi permintaan



Prospek usaha rumput laut di masa mendatang cukup baik dan memberikan

harapan. Sebagai contoh, permintaan dunia terhadap Eucheuma dari tahun ke tahun







91

cenderung meningkat. Bahkan menurut Doty permintaan dunia untuk jenis Eucheuma

di- taksir dapat mencapai 10 kali produksi alami. Tiga perusahaan industri carrageenan

terbesar didunia (USA, Denmark dan Prancis) setiap tahunnya membutuhkan rumput laut

sebanyak 20.000 ton sedangkan yang tersedia di pasaran dunia hanya 18.000

ton/tahun.Kemudian Porse menunjukkan bahwa dewasa ini permintaan dunia untuk

Eucheuma adalah 50.000 ton per tahun, sedangkan suplai hanya mencapai 44.000 ton

per tahun, untuk memenuhi permintaan dunia masih diperlukan 6.000 ton per tahun. Dari

sejumlah suplai Eucheuma, Indonesia hanya mensuplai 9 % - nya.



Permintaan (demand) akan rumput laut belakangan ini makin meningkat.

Berdasarkan hasil kajian Divisi Research and Development Departemen Studi Makro dan

Mikro Bank Ekspor Indonesia (BEI), perdagangan internasional rumput laut selama 2004

meningkat rata-rata 6% (dari sisi permintaan). Sedangkan, dari sisi persediaan (supply)

hanya 5%. Artinya, dengan permintaan komoditas rumput laut yang lebih besar

ketimbang produksinya, harga rumput laut diperkirakan meningkat pada masa

mendatang.



Permasalahan komoditi dari sisi agribisnis



a. Usaha budidaya tidak didukung dengan pemasaran yang terpadu.para petani

selalu berhadapan dengan tengklak yang cenderung menekan harga.

b. Kurang penyediaan bibit rumput laut yang berkualitas padahal bibit hanya boleh

dipakai paling banyak 4x musim tanamsecara berturut-turut,setelah itu harus

diganti,untuk menjaga stabilitas mutu produksi.

c. Tidak ada tenaga penyuluh yang khusus yang menangani rumput laut

d. Belum ada tata ruang yang membagi lokasi untuk usaha pembudidayaan



e. Sulit mencari lokasi budidaya laut dipantai utara dan selatan Jawa Tengah yang

memenuhi syarat, baik ditinjau dari segi kondisi oceanografis maupun segi

kondisi daratan.



f. Pasar lokal masih lemah dan daya beli masyarakat masih rendah dan pasar luar

negeri masih terbatas.Karena itu perlu promosi di pasar lokal, domestik dan luar

negeri.



g. Analisa ekonomi budidaya laut belum ada di Sumatera Utara, karena belum ada

uji-coba yang telah memberi data mantap, karena itu masih perlu meneruskan dan

mengembangkan uji-coba kultur laut ini.



h. Vegetasi daerah pantai dan estuaria dibanyak tempat telah rusak, terganggu atau

habis, karena itu telah banyak daerah pengembangbiakan alami hewan laut

dibawah kondisi minimal. Karena itu sumber benih alami untuk budidaya laut

masa depan diharapkan dari pembenih-pembenihan (Hatcheries).



subsistem agribisnis yang terkait dengan komoditi tersebut tersebut mulai dari farming

system,processing,marketing,R&D dan supporing lain yang berkaian.



-Farming system



Pada prinsipnya ada tiga metoda budidaya menurut posisi tanaman yaitu:



 Metoda didasar (bottom method)

 Metoda lepas dasar (off-bottom method)

 Metoda terapung (floating method)









92

Masing-masing metoda ini mempunyai keuntungan-keuntungan dan kerugian-

kerugian. Metoda penanaman dipilih berdasarkan keadaan perairan, tujuan budidaya dan

jenis rumput laut yang dibudidayakan.



Metoda di dasar (bottom method)



Pada penanaman dengan metoda ini bibit tanaman diikatkan pada batu-batu

karang dan disusun berbaris di dasar perairan. Keuntungan dengan cara ini adalah

murahnya biaya budidaya dan tidak diperlukan banyak pekerjaan pemeliharaan. Kerugian

yaitu mudah diserang bulu babi (sea-urchin). Mungkin di suatu area sulit diperoleh batu-

batu karang lepas dengan ukuran cukup. Metoda ini baik digunakan untuk jenis Gelidium

yang tumbuhnya diperairan terbuka dan menerima pukulan ombak besar terus menerus.

Metoda lain sulit dilakukan untuk jenis Gelidium ini karena bangunan budidaya tidak

dapat bertahan. Bila metoda ini digunakan untuk jenis Gelidium maka tujuannya bukan

untuk suatu usaha karena pertumbuhannya yang lambat. Cara ini berguna untuk

memperluas daerah penyebaran dan mempertahankan kelestarian stok.



Metoda lepas dasar (off-bottom method)



Jenis-jenis Eucheuma dan Gracilaria dapat ditanam dengan metoda ini. Mula-

mula bibit tertanam diikat tali plastic (rafia) masing-masing dengan berat kirakira 20 cm

dan direntangkan kira-kira 20–30 cm diatas dasar perairan dengan menggunakan kayu-

kayu pancang. Bebarapa diikatkan langsung pada kayu-kayu yang berjarak 5 m. Masing-

masing monoline jaraknya kira-kira ½ meter. Kedua pada kayu-kayu pancang

direntangkan 2 m nilon multifilamen (Æ 6 – 7 mm). Dalam barisan, jarak nilon

multifilamen kira-kira 2-½ m. Nilon monofilamen direntangkan dengan mengikatkannya

pada nilon multifilamen dengan jarak 20 cm. Modifikasi ketiga, dibuat jaring dari nilon

monofilamen dengan lebar mata 20 cm. Bibit tanaman diikatkan pada simpul-simpulnya.

Jaring ini direntangkan dengan kayu-kayu pancang.



Metoda ini mempunyai keuntungan yaitu terhindar dari bulu-babi. Penanaman

dapat dilakukan di area dengan dasar perairan terdiri dari pasir sehingga mudah

menancapkan pancang, sulit di lakukan diperairan dengan dasar perairang karang.

Kerugian dengan metoda ini ialah, sering diserang ikan-ikan herbivour pada waktu

pasang dalam.



Metoda ini memberikan nilai pertumbuhan yang baik bila di areanya terdapat arus

yang baik. Karena bila pergerakan air di area penanaman didominasi oleh ombak, maka

tanamen tidak atau sedikit manerima pergarakan air selama perioda pasong dalam,

sehingga pertumbuhannya kurang baik.



Metoda terapung (floating method)



Dibuat rakit-rakit dari bambu dan kayu dengan ukuran 2 sampai 4 meter. Ada dua

modifikasi dangan metoda ini yaitu monoline den net seperti halnya dengan metoda lepas

daser. Ditempat-tempat yang pergerakan airnya terutama terdiri dari ombak, sebaiknya

digunakan metoda ini. Demikian juga bila dasar periran terdiri dari karang yang keras

dimana sulit menancapkan pancang, dapat dwgunakan metoda ini. Untuk

mempertahankan agar rakit-rakit tidak hanyut, digunakan jangkar. Untuk efisiensi area,

beberapa rakit dijadikan satu. Makin banyak jumlah rakit, makin tinggi efisiensi area.

Pengaruh penyatuan sejumlah rakit terhadap pertumbuhan adalah negatip di mana makin

banyak jumlah rakit yang disatukan makin banyak pula jumlah rakit yang berada di

tengah dengan pertumbuhan tanaman jelek. Jumlah yang sebaiknya ialah 10 rakit (2 × 5)

rakit dijadikan satu.



-processing







93

Dalam kegiatan-kegiatan rumput laut, instalasi bangunan budidaya dan

pananaman memerlukan banyak tenaga kerja. Selanjutnya kegiatan pemeliharaan mudah

sekali dilakukan, asal dikerjakan secara teratur setiap hari. Pekerjaan pemeliharaan terdiri

dari membersiihkan tanaman dari tumbuhan penempel atau benda-benda lainnya,

menggantikan tanaman yang rusak atau hilang dengan yang baru dan memperbaiki

bagian-bagian bangunan budidaya yang rusak seperti monoline yang putus, bambu atau

kayu yang patah, tiang-tiang pancang yang tercabut dan lain-lain. Apabila kegiatan ini

dilakukan setiap hari maka kerusakan kerusakan berat dapat dihindari sehigga kerugian

yang lebih besarpun tidak akan terjadi.



Pertumbuhan tanaman pada umumnya tidak seragam. Sesudah sebulan masa

penanaman biasanya akan terlihat tanaman yang sudah mencapai ukuran besar, sementara

ada tanaman yang masih tetap kecil. Karena itu beberapa tanaman sudah dapat dipanen.

Di P. Samaringa, Sulawesi Tengah pada bulan-bulan tertentu tanaman diserang lumut.

Pembersihan tanaman dari lumut ini harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak sampai

merusak thallus. Bila tanaman telah merata mencapai ukuran kira-kira 600 grams sudah

waktunya untuk dipanen. Panen dilakukan dengan memotong dan meninggalkan sebagian

tanaman untuk dapat tumbuh besar lagi. Kadang-kadang dilakukan juga pengangkatan

seluruh tanaman kalau pengikatnya sudah tidak kuat lagi.



Penanaman rumput laut dilakukan dengan memanfaatkan sifat pertumbuhan

vegetatif. Pertumbuhan tanaman diukur dengan pertambahan beratnya tiap hari dan dapat

dihitung dengan rumus :









Untuk dapat memberikan kebijahsanaan-kebijaksanaan yang diperlukan

masyarakat nelayan/petani rumput laut sehubungan dengan keadaan tanaman sebagai

akibat dari lingkungan perairan maka diperlukan monitoring lingkungan perairan yang

meliputi sifat-sifat hidrologis dan biologis, serta monitoring pertumbuhan tanaman.

Monitoring pertumbuhan dilakukan dengan penimbangan tanaman contoh yang diberi

label setiap minggu sekali.



Contoh penanaman Eucheuma









94

Dari gambar diatas menunjukkan bahwa tanaman yang ada di lapisan atas tumbuh lebih

baik dari tanaman yang ada dibawahnya ( Tabel 1 ). Hal yang sama dijumpai pada

tanaman rakit apung bersusun rupanya perbedaan intensitas sinar yang diterima dilapisan

bawah sama dengan tanaman kontrol (kedudukan yang sama tetapi tidak bersusun).

Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa pada areal budidaya yang memungkinkan

kedalamannya dapat dilakukan penanaman dengan cara berlapis, sehingga pada luas areal

tertentu jumlah tanaman dan panenan akan dapat ditingkatkan. Efisiensi lahan dengan

cara penanaman berlapis dapat dilaksanakan.







Tabel 1. Laju pertumbuhan berat rata-rata percobaan penanaman

Eucheuma spinosum dan E. striatum

Laju pertumbuhan berat

Lokasi rata-rata (% /hari)

Waktu percobaan Jenis

Propinsi Bali

0 1 2 3

23-8-84 s/d 20-9-84

1. Nusa Dua E. spinosum 2,38 2,20 2,39

(28 hari)

19-8-84 s/d 15-10-84 Nusa

2. E. spinosum 3,68 3,00 3,00 -

(57 hari) Lembongan

10-12-84 s/d 14-1-85 E. spinosum 3,28 2,39 4,12 -

3. Nusa Dua

(35 hari) E. striatum 2.21 2.39 2,70 -

13-12-84 s/d 25-2-85

4. Serangan E. spriatum 5,00 - - -

(43 hari)

17-12-84 s/d 13-1-85 Nusa Lem

5. E. spinosum 4,51 4,60 5,04 -

(27 hari) bongan

17-12-84 s/d 28-1-85 Nusa E. spinosum

6. 3,40 3,10 -

(42 hari) Lembongan E.striatum



Keterangan: 0 = metoda lepas dasar, 30 cm dari dasar sebagai kontrol

1 = metoda lepas dasar, 30 cm dari dasar (susun ke 1)

2 = metoda lepas dasar, 50 cm dari dasar (susun ke 2)

3 = metoda lepas dasar, 90 cm dari dasar (susun ke 3)







Penanganan lepas panen



Rumput laut di ekspor dalam bentuk raw-material. Sesudah dipanen baik dari

alam maupun dari budidaya, rumput laut dikeringkan dengan penjemuran sinar matahari

yang dilakukan masyarakat nelayan satu atau dua hari penjemuran sesudah panen dari

laut kemudian dijemur lagi sampai kering. Dengan care denikian dihasilkan rumput laut

yang bersih dangan warna kekuningan. Akan tetapi cara demikian dimana dilakukan

pencucian sesudah penjemuran setengah kering menyebabkan berkurangnya kadan

karaginan.



Penjemuran langsung diatas pasir tanpa alas menyebabkan tercam-purnya butir-

butir pasir pada rumput laut. Halini dapat mengurangi mutu perdagangan rumput laut.

Sebagai alas yang murah untuk penjemuran ini dapat digunakan daun kelapa. Dalam

standar perdagangan rumput laut antara lain diyatakan bahwa benda-benda asing yang

terdiri dari pasir, batu karang dan lain-lain tidak lebih dari 5 persen. Kandungan air

(moisture content) tidak lebih dari 30 persen. Pengepakan biasanya cukup dengan

menggunakan karung yang dapat diisi sampai beratnya 90 kg. Dalam penyimpanan di

gudang harus dijaga agar tidak sampai kena air hujan. Demikian pula dalam

pengangkutannya.





95

- marketing



Rantai pemasaran rumput laut mulai dari pemetik sampai eksportir di beberapa

daerah pada umumnya sama. Nelayan atau petani rumput laut menjual rumput laut hasil

panen dari alam atau budidaya kepada pedagang lokal (pedagang di kecamatan).

Kemudian oleh pedagang lokal dijual kepada pedagang antar pulau yang kadang-kadang

merupakan perwakilan eksportir yang ditempatkan di sentra-sentra produksi rumput laut.

Pedagang antar pulau tersebut membawa rumput laut kering kepada eksportir di kota-

kota pelabuhan seperti eksportir-eksportir di Ujung Pandang, Ambon, Surabaya,

Denpasar, Jakarta dan di kota pelabuhan lainnya



Permitaan pasaran dunia terhadap rumput laut saat ini sedang dalam keadaan

krisis sehingga terjadi kegoncangan-kegoncangan harga yang meresahkan masyarakat

nelayan. Tampak juga spekulasi-spekulasi dari para pedagang yang ternyata tidak

menguntungkan. Hal ini perlu mendapat perhatian pemerintah di tingkat pusat.



-riset and development







Subsistem yang berperan penting



Dari subsistem yang berperan penting dalam komoditi rumput laut adalah riset

and development.karena pengembangan rumput laut masih terdapat kendala.Selama

Indonesia masih tergantung pada hasil panen dari alam sehingga Indonesia belum dapat

bersaing dipasar internasional.



Analisis SWOT



Strengths



Penggunaan rumput laut di bidang kesehatan telah lama diterapkan oleh

masyarakat tradisional, diantaranya adalah: rebusan rumput laut atau serbuk yang dibuat

pil digunakan untuk mengatasi sakit gondok karena rumput laut mengandung iodium.

Larutan berwarna coklat dari rumput laut juga berguna bagi penyakit rheumatik dan

menurunkan berat badan. Serbuk rumput laut juga lazim dikonsumsi untuk meningkatkan

daya tahan tubuh dan mengatasi segala jenis penyakit. Penggunaan phycocolloid dari

alginat dapat menyembuhkan penyakit kanker terbukti kemanjurannya menghasilkan

pemulihan 68 % dari 162 pasein kanker. Senyawa ini juga dapat mengatasi penyakit

bronchitis kronis atau emphysema (penyakit paru-paru), scrofula, gangguan empedu, atau

kandung kemih, ginjal, syphilis, tukak lambung, atau saluran cerna, reduksi kolesterol

darah dan anti hipertensi (Chapman & Chapman, 1980) .



Weaknesses



Salah satu jenis rumput laut yang telah dibudidayakan secara intensif “eucheuma

cottonii” yang menghasilkan dodol, diolah dengan menggunakan bahan dasar rumput

laut.produk ini sangat spesifik dan telah memiliki pangsa pasar yang cukup luas, tapi

karena keterbatasan teknologi dan budidaya dodol yang belum memasyarakat sehingga

mutu dari dodol tesebut kurang baik,antara lain dari segi plastisitas,kepadatan, daya awet

dan pengemasan.



Opportunities



Potensi rumput laut di Indonesia untuk dimanfaatkan diberbagai bidang : industri,

kesehatan, farmasi, kosmetik, pangan, tekstil dll, baik dari komponen primernya ataupun

komponen sekundernya, khususnya yang menggunakan komponen hidrokoloid.





96

Sehingga bagaimana usaha untuk meningkatkan budidaya dan produksinya, sehingga

setiap tempat yang berpotensi dapat dimanfaatkan secara optimal. Indonesia harus yakin

bahwa mampu memproduksi berbagai produk primer dan sekunder dari rumput laut yang

cukup berlimpah di perairan kita sendiri, bahkan dengan mutu yang baik (Internasional)

yang mampu menyaingi produk impor.



threats



Pengembangan komoditi rumput laut di Indonesia masih akan mengahdapi

tantangan yang tidak kecil. Misalnya lemahnya manajemen dan keputusan ekonomi

dalam system produksi rumput laut, terutama tentang kualitas yang akan berpengaruh

terhadap ekspor.

Dimasa yang akan dating isu lingkungan pasti akan menjadi salah satu factor

krusial yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan komoditi rumput laut di

Indonesia.



Dimasa yang akan datang persaingan rumput laut dunia semakin ketat sehingga

apabila tidak diantisifasi dengan baik maka Indonesia akan kalah bersaing dengan

Filipina yang pemerintahannya sangat serius dalam membantuproduksi rumput laut.



Segmen pasar



Segmen pasar yang dituju Indonesia yaitu pasar domestic dan internasional



Positioning



Perdagangan rumput laut di Indonesia menempati posisi ke-5 dengan volume

produksi sebanyak 223.080 ton atau 8,66% setelah

philipina(34,34%),china(26,05%),jepang(16,94%),korea(8,69%).



Analisa bauran pemasaran (4P)



-produk



Produk rumput laut digunakan juga dalam industri pangan seperti pembuatan

jelly, minuman dan makanan ringan, sosis, selai anggur dan pakan binatang piaraan.

Sedangkan pada industri non pangan seperti industri suspensi,digunakan untuk : cairan

pembersih, pelapis keramik, industri kertas, pencetakan tekstil dan karpet serta farmasi

dan kosmetika



-pricing



Harga rumput laut masih ditentukan oleh eksportir karena rumput laut yang dibeli

eksportir belum memenuhi standar ekspor. Demikian juga harga rumput laut masih

dipengaruhi dan ditentukan para importir, karena sampai saat ini ada tiga importir besar

di dunia yang menguasai pasaran yaitu Marine Colloids INc. dari USA Pierrefitte Auby

dari Perancis dan The Copenhagen Pectin Factory dan Denmark. Ekspor rumput laut

pada umumnya lewat agen-agen mereka di Singapura, sehingga memperpanjang lagi

rantai pemasaran yang telah ada di Indonesia. Harga ekspor rumput laut dari Indonesia

berkisar US $ 425 - US $ 500/ton FOB atau sekitar Rp. 5000 - Rp. 10000, - per kg.



-place



Rumput laut di Indonesia sebagian besar dihasilkan di perairan Maluku dan Nusa

Tenggara Timur



-promotion





97

Nelayan atau petani rumput laut menjual rumput laut hasil panen dari alam atau

budidaya kepada pedagang lokal (pedagang di kecamatan). Kemudian oleh pedagang

lokal dijual kepada pedagang antar pulau yang kadang-kadang merupakan perwakilan

eksportir yang ditempatkan di sentra-sentra produksi rumput laut. Pedagang antar pulau

tersebut membawa rumput laut kering kepada eksportir di kota-kota pelabuhan seperti

eksportir-eksportir di Ujung Pandang, Ambon, Surabaya, Denpasar, Jakarta dan di kota

pelabuhan lainnya. Pemasaran rumput laut ke luar negeri melalui Surabaya yang

selanjutnya dikirim ke Jepang, Denmark dan Perancis. Disamping itu ada pula yang

langsung pemasarannya dari Bali ke Jepang.



potensi eksport



Ekspor rumput laut.



Prospek usaha rumput laut di masa mendatang cukup baik dan memberikan

harapan. Sebagai contoh, permintaan dunia terhadap Eucheuma dari tahun ke tahun

cenderung meningkat. Bahkan permintaan dunia untuk jenis Eucheuma di- taksir dapat

mencapai 10 kali produksi alami. Tiga perusahaan industri carrageenan terbesar didunia

(USA, Denmark dan Prancis) setiap tahunnya membutuhkan rumput laut sebanyak

20.000 ton sedangkan yang tersedia di pasaran dunia hanya 18.000 ton/tahun.



Ekspor rumput laut dari Indonesia pada tahun 1999 – 2004rata-rata 1950 ton per

tahun dengan nilai US $ 258.000. Volume ekspor tersebut dari tahun ke tahun selalu

berubah-ubah. Pada tahun 1997 dan 1998 ekspor rumput laut dari Indonesia mencapai

3.700 ton, setelah itu menurun dan pada tahun 2000 hanya 596 ton ; akan tetapi pada

tahun berikutnya meningkat lagi dan pada tahun 2003 mencapai 3.000 ton.



Ekspor rumput laut 1999–2004



TAHUN VOLUME NILAI (US $)

1999 1.836.076 170.132

2000 596.629 143.016

2001 690.291 61.302

2002 2.110.703 166.201

2003 3.402.139 346.619

2004 3.061.122 658.842

Impor agar-agar dan alginat 2000 – 2004



Agar-agar Alginat Total

Tahun

Volume (kg) Nilai (US$) Volume (kg) Nilai (US$) Nilai (US$)

2000 159.349 - - -

2001 43.372 300.710 4.639.508 5.114.598 5.415.308

2002 261.947 542.193 2.938.303 4.764.968 5.307.161

2003 350.111 526.957 3.717.901 4.848.997 5.375.954

2004 162.885 273.973 3.653.365 5.473.142 5.747.115



Saingan dipasar ekspor



Salah satu saingan rumput laut dipasar eksort adalah filipina.produksi rumput laut

di filipina sudah dibudidayakan secara intensif sedangkan di Indonesia masih tergantung

dari hasil panen dari alam.







98

kualitas dari rumput laut



kualitas rumput laut dan rantai pemasaran mempengaruhi harga yang diterima

pemetik rumput laut. Harga rumput laut di sentra produksi dapat ditingkatkan dengan

meningkatkan kualitas dan atau memperpendek rantai pemasaran. Kualitas dapat

ditingkatakan dengan melakukan usaha budidaya atau kultivasi dan penanganan lepas

panen yang baik. Rantai pemasaran dapat diperpendek dengan mengikutsertakan atau

melibatkan KUD yang berperan sebagai pengumpul sekaligus penyalur ke eksportir. Dan

untuk mendorong usaha budidaya perlu adanya penyuluhan cara-cara budidaya rumput

laut dan penanganan lepas panennya oleh tenaga penyuluh yang terampil, dan juga

pemberian pinjaman modal oleh pemerintah kepada para petani rumput laut dengan

bunga modal yang rendah.



Syarat mutu komoditi rumput laut



Karakteristik

Eucheuma Gelidium Gracilaria Hypnea

- Kadar air makas (%) 32 15 25 20

- Benda asing maks (%) 5 5 5 5

- Bau spesifik spesifik spesifik spesifik

rumput laut rumput laut rumput laut rumput laut



Keterangan : Benda asing: rumput laut lainnya, garam, pasir, karang dan kayu (ranting)



Sumber : Soegiarto. A dan Sulistijo (1985).



Kandungan gizi pada rumput laut : Karbohidrat : 39 - 51 %

 Protein : 17,2 - 27,13 %



 Lemak : 0,08



 Abu : 1,5 %



 Mineral : K, Ca, P, Na, Fe, I



 Vitamin : A, B1, B2, B6, B12, C

(caroten









Daftar pustaka : www.google.com









99

Komoditi Kopi









DOSEN PENGASUH :

DR. Johanes, SE, M.Si

Novita Sari, SE



Kelompok 6:

1. Ricky Harrahap (C1B006035)

2. Monica tri O (C1B006021)

3. Emy Hayati (C1B006005)

4. Meryantina (C1B006010)





JURUSAN Manajemen

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS JAMBI

2008

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Sejarah Perkembangan Kopi



Sejarah kopi dapat ditelusuri jejaknya dari sekitar abad ke-9, di dataran tinggi

Ethiopia. Dari sana lalu menyebar ke Mesir dan Yaman, dan kemudian pada abad

limabelas menjangkau lebih luas ke Persia, Mesir, Turki dan Afrika utara.









100

Pada awalnya kopi kurang begitu diterima oleh sebagian orang. Pada tahun 1511,

karena efek rangsangan yang ditimbulkan, dilarang penggunaannya oleh para imam

konservatif dan othodoks di majelis keagamaan di Makkah. Akan tetapi karena

popularitas minuman ini, maka larangan tersebut pada tahun 1524 dihilangkan atas

perintah Sultan Selim I dari Kesultanan Utsmaniyah Turki. Di Kairo, Mesir, larangan

yang serupa juga disahkan pada tahun 1532, di mana kedai kopi dan gudang kopi ditutup.



Dari dunia Muslim, kopi menyebar ke Eropa, di mana minuman ini menjadi

populer selama abad ke-17. Orang Belanda adalah yang pertama kali mengimpor kopi

dalam skala besar ke Eropa, dan pada suatu waktu menyelundupkan bijinya pada tahun

1690, karena tanaman atau biji mentahnya tidak diijinkan keluar kawasan Arab. Ini

kemudian berlanjut pada penanaman kopi di Jawa oleh orang Belanda.



Ketika kopi mencapai kawasan koloni Amerika, pada awalnya tidak sesukses di

Eropa, karena dianggap kurang bisa menggantikan alkohol. Akan tetapi, selama Perang

Revolusi, permintaan terhadap kopi meningkat cukup tinggi, sampai para penyalur harus

membuka persediaan cadangan dan menaikkan harganya secara dramatis; sebagian hal ini

karena didasari oleh menurunnya pesediaan teh oleh para pedagang Inggris. Minat orang

Amerika terhadap kopi bertumbuh pada awal abad ke-19, menyusul terjadinya perang

pada tahun 1812, di mana akses impor teh terputus sementara, dan juga karena

meningkatnya teknologi pembuatan minuman, maka posisi kopi sebagai komoditas

sehari-hari di Amerika menguat.



1.2 Pentingnya Pengamatan mulai dari Produksi-Konsumsi.



Berikut beberapa point dan manfaat dari secangkir minuman yang bernama kopi,

yang berhasil kami rangkum dari berbagai sumber :



 Kafein yang terkandung didalam kopi adalah zat kimia yang berasal dari tanaman

yang dapat menstimulasi otak dan sistem saraf. Kafein tergolong jenis alkaloid

yang juga dikenal sebagai trimetilsantin. Selain pada kopi, kafein juga banyak

ditemukan dalam minuman teh, cola, coklat, minuman berenergi (energy drink),

cokelat, maupun obat-obatan.

 Kafein membantu Anda untuk bisa berpikir lebih cepat. Cobalah mengkonsumsi

kopi atau teh 15 menit atau 30 menit sebelum Anda melakukan wawancara

pekerjaan atau memberikan presentasi pada atasan. Hasilnya mungkin akan cukup

lumayan, karena kafein yang terdapat pada kopi atau teh terbukti mampu

memberikan ‟sinyal‟ pada otak untuk lebih cepat merespon dan dengan tangkas

mengolah memori pada otak.

 Kafein mencegah gigi berlubang. Cobalah untuk meminum secangkir kopi hangat

atau teh hangat sesaat setelah Anda mengkonsumsi cookies, cake coklat yang

lezat, permen rasa buah atau sepotong roti manis. Joe Vinson, Ph.D., dari

University of Scranton menjelaskan bahwa kafein yang terdapat dalam minuman

ini ternyata sangat tangguh memberantas bakteri penyebab gigi berlubang.

 Kafein mengurangi derita sakit kepala. Penelitian menemukan kafein yang

terdapat dalam kopi atau teh (dalam jumlah tertentu) sanggup menolong

mengobati sakit kepala. Menurut Seimur Diamond, M.D., dari Chicago‟s

Diamond Headache Clinic. Penderita migrain dalam kategori ringan dapat

disembuhkan dengan secangkir kopi pekat atau secangkir black tea. Jadi, sebelum

mengkonsumsi obat cobalah dulu sembuhkan sakit kepala Anda dengan minuman

berkafein.

 Kafein bisa melegakan napas penderita asma dengan cara melebarkan saluran

bronkial yang menghubungkan kerongkongan dengan paru.

 Kafein dapat membuat badan tidak cepat lelah, bisa melakukan aktifitas fisik

lebih lama, di perkirakan karena kafein membuat “bahan bakar” yang dipakai otot

lebih lama.







101

 Kafein bisa meningkatkan rasa riang, membuat kita merasa lebih segar dan

energik.

 Perempuan yang minum dua cangkir kopi atau lebih per hari dapat mengurangi

risiko terkena pengeroposan tulang (osteoporosis).

 Kopi dapat meningkatkan penampilan mental dan memori karena kopi dapat

merangsang banyak daerah dalam otak yang dapat mengatur tetap terjaga,

rangsangan, mood dan konsentrasi. Penelitian di Universitas Arizona ditemukan

bahwa orang dewasa yang minum kopi sebelum test memori menunjukkan

perkembangan yang signifikan dibanding mereka yang minum kopi tanpa kafein.

 Kafein dapat menangkal radikal bebas dan menghancurkan molekul yang dapat

merusak sel DNA.

 Kafein juga melindungi jantung dan kanker.

 Untuk mengurangi risiko pengidapan diabetes mulailah meminum kopi.

Seseorang yang minum kopi lebih dari enam cangkir sehari berisiko rendah

terserang diabetes dibanding dengan orang yang tidak minum kopi sama sekali.

Demikian simpulan sebuah riset skala besar yang dilakukan pada 80 ribu orang

selama 18 tahun di AS.

 Parkinson jarang ditemukan pada orang yang minum kopi secara teratur. Sebuah

riset menyimpulkan penyakit ini justru ditemukan pada pria yang tidak minum

kopi tiga kali lebih banyak daripada pria penikmat kopi.

 Minum kopi membuat sperma “berenang” lebih cepat dan mampu

meningkatkan kesuburan pria. Hal ini diumumkan para ilmuwan Brasil dalam

pertemuan “American Society for Reproductive Medicine” di San Antonio,

dimana pembicaraan utama berkisar pada efek obat-obatan terhadap

kesuburankaum adam.







BAB II



PEMBAHASAN



2.1 Permasalahan Komoditi dari Sisi Agribisnis



Dengan luas tanaman sekitar 1,2 juta ha dengan kemungkinan perluasan tanaman

kopi rakyat yang masih bisa terjadi di tahun mendatang. Produk kopi dapat mencapai

sekitar 450.000-500.000 ton serahun sampai akhir dasawarsa 1990-2000 ini. Ekspor kopi

sekitar 400.000-425.000 ton serahun bisa diperhitungkan.



Masalah yang di perkirakan akan di hadapi oleh perkopian Indonesia untuk tahun

mendatang di antaranya :

 Produksi kopi biji rakyat yang belum terlepas dari praktik yang kurang

pemeliharaan kebun, kebiasaan manipulasi mutu kopi biji yang merusak mutu

kopi Indonesia.

 Belum meningkatnya kemampuan untuk lebih besar menyediakan kopi arabika

untuk ekspor maupun kepentingan untuk pabrik-pabrik kopi di dalam negri

 Tidak jelasnya kebijaksanaan nasional di bidang perkopian, di bidang

pengembangan industri, mengenai pengolahan hasil dan penerapan standar mutu

di tingkat desa penghasil kopi biji

 Ketrampilan profesional dan disiplin usaha yang masih belum dimiliki oleh

pelaku-pelaku di sepanjang mata rantai tataniaga kopi, terutama menampung hasil

kopi kebun rakyat.



Solusi Permasalahan Kopi









102

 Melakukan peremajaan klonal tanaman kopi di banyak daerah terutama tanaman

kopi rakyat untuk menghasilakan biji-biji kopi yang seragam ukuran dan tidak

lagi terdiri lagi biji-biji yang berukuran kecil serta biji kopi yang mengandung

aroma khas kopi yang bermutu baik. Cara budidaya dengan multi stem prunning

perlu disaran kan pada masyarakat petani kopi guna meningkatkan hasil per ha.

 Di utamakan petik merah selektif untuk memperoleh tambahan hasil yang terdiri

dari biji-biji kopi yang bermutu baik serta dapat memperbaiki mutu seduh atau

cita rasa minuman kopi nya.

 Penjemuran biji kopi di laksanakan dengan cermat agar biji-biji kopi kering

merata, mencapai kering sampai kandungan air tidak lebih dari 12% dalam waktu

kurang 15 hari. Penjemuran di tanah akan menybabkan rasa bau tanah yang akan

merusak mutu. Perlu di lakukan sortasi untuk membuang kotoran biji-biji cacat

dan biji pecah perlu di masyarakatkan untuk produksi biji kopi yang bermutu

baik.









2.2 Prospek Komoditi



 Demand

Dari jenis kopi yang diproduksi, kopi Arabika merupakan bagian terbesar ( sekitar 70%)

dari total produksi dan 30% sisanya adalah kopi Robusta. Trend produksi kopi dunia

cenderung mengalami kenaikan. Produksi tertinggi terjadi pada tahun 1991/92, yaitu

lebih kurang 6 juta ton. Rata-rata produksi kopi dunia adalah 5,6 juta ton per tahun.



Negara produsen kopi terbesar adalah Brasil dengan produksi rata-rata 1,6 juta ton

per tahun, Colombia dengan produksi rata-rata 800 ribu ton per tahun dan Indonesia pada

urutan ketiga produsen kopi dunia, dengan produksi rata-rata 500 ribu ton per tahun.



 Supplay

Suplai kopi dunia akan mengalami defisit 5,9 juta karung – satu karung ekuivalen

60 kg. Itulah hasil survei yang dilakukan Reuters terhadap analis kopi dunia yang

dilaporkan baru-baru ini. Defisit itu dipicu oleh tingginya konsumsi kopi dunia

sebesar 111,9 juta karung sedangkan produksi dunia rata-rata 106 juta karung

pada 2003.



Di lain pihak, International Coffee Organization (ICO) bahkan memperkirakan

suplai kopi dunia akan mengalami defisit pada 2004 sebesar 11 juta karung.

Seorang analis dari CoffeeNetwork memprediksikan total produksi kopi dunia

pada 2004 akan mengalami penurunan menjadi 105,6 juta karung, masing-masing

40,5 juta karung robusta dan 65 juta karung arabika.



 Potensi Ekspor



Sejak tahun 1984 ekspor kopi Indonesia menduduki nomor tiga tertinggi setelah

Brasilia dan Kolombia. Bahkan, untuk ekspor kopi robusta, Indonesia menduduki

peringkat pertama dunia. Tahun 1997, posisi Indonesia bergeser menjadi

peringkat empat, tergeser Vietnam. “Pergeseran ini terjadi karena persaingan ketat

antar produsen kopi dan kelengahan Indonesia dalam mengamati posisinya di

pasar kopi internasional”.



Ekspor kopi yang dilakukan oleh negara-negara anggota pengekspor ICO selama

periode 1991/92 – 1996/97 hanya sedikit mengalami kenaikan, yaitu rata-rata

0,23% per tahun. Kenaikan inipun hanya terjadi pada masa 2 tahun terakhir

setelah pulihnya panen diberbagai negara produsen yang sebelumnya mengalami





103

kegagalan panen akibat kekeringan pada tahun 1994/95. Rata-rata ekspor selama

periode tersebut adalah lebih kurang 4,5 juta ton. Ekspor tertinggi tercatat pada

tahun 1996/97 sebesar 4,9 juta ton sedangkan terendah terjadi pada tahun 1994/95

yaitu sebesar 4 juta ton.





Peningkatan ekspor kopi olahan relatif lebih tinggi dari pada bentuk kopi lainnya.

Pada tahun 1991/92 total volume ekspor kopi olahan baru mencapai 1,62 juta ton,

dengan cepat meningkat menjadi 2,64 juta ton pada tahun1996/97, atau hampir

dua kali lipat dalan kurun waktu 5 tahun. Pasar kopi olahan ini lebih banyak

dikuasai Brasil dan Colombia masing-masing dengan pangsa pasar 58% dan 12%,

sedangkan Indonesia baru 1,3%. Dalam hal ekspor kopi olahan, pangsa pasar

Ecuador, India dan Ivory Coast masing-masing 8,6 %, 7,2 % dan 6,7 % jauh lebih

besar dari pada pangsa Indonesia.









2.3 Subsistem Agribisnis



 Farming System

1) Penanaman

Penanamam bibit di lubang-lubang tanaman yang telah di siapkan perlu di lakukan

dengan hati-hati agar perakaran bibit tanaman tidak rusakm untuk mencegah agar tidak

terjadi genangan air di lubang tanaman, permukaan tanah tenpat penanaman kopi harus di

bikin cenbung. Di anjurkan untuk memberikan tanaman serasah di sekitar tanaman dan

untuk tanah yang keadaan nya miring di perlukan penanaman tunbuhan penutup tanah

untuk mencegah erosi.





2) Pemeliharaan

Guna memperoleh hasil yang baik perlu di lakukan pemeliharaan tanaman secara

intensif. Perakaran tanaman kopin relatif dangkal dan memerlukan struktur tanah yang

terjaga baik dengan bahan-bahan organik, tata air maupun tata udara tanahnya.

 Pemupukan

Pemupukan tanaman perlu dilakukan agar persediaan hara dalan tanah tetap

terjamin, untuk kepentingan pertumbuhan vegetatif tanaman kopi maupun untuk

prmbentukan buah.

Untuk pemupukan secara tepat dan menghindarkan pemborosan penggunaan

pupuk di perlukan analisa tanah dan analisa daun dengan percobaan di lapangan.

Pemupukan yang intensif akan berpengaruh pada ukuran biji kopi yang lebih besar

Dan mendasari hasil kebun yang baik. Dosis pupuk harus di sesuaikan dengan keadaan

kebun, kesuburan tanah maupun umr tanaman. Di anjurkan pula menggunakan pupuk

majemuk dan di lakukan secara cermat sesuai dengan kebutuhan tanaman. Diawal musim

hujan misalnya tanaman lebih memerlukan unsur N untuk pertunbuhan vegetatif dan

unsur P untuk pembentukan akar. Pada akhir musim hujan tanaman memerlukan banyak

unsur K untuk memasakkan buah kopi. Pemupukan dianjurkan setelah pohon kopi di

pangkas dan di lakukkan pada lingkar piringan pohon kopi agar pupuk dapat di serap

secara maksimal oleh akar serabut tanaman kopi.



Pemangkasan

Pemangkasan tanaman di perlukan agar tanaman tidak tumbuh terlalu tinggi dan

supaya merangsang prtumbuhan cabang-cabang yang di perlukan untuk pembentukan

buah. Pemangkasan juga di tujukan untuk memperoleh cahaya matahari ke batang dan

cabang tanaman guna merangsang pembentukan bunga serta memperlancar peredaran

udara yang akan membantu penyerbukan bunga-bunga tanaman kopi. Pemangkasan

tanaman untuk membuang cabang buah yang kurang produktif dan cabang yang terserang





104

penyakit agar tidak terus menjadi sumber gangguan kebun. Pemangkasan ini dilakukkan

setelah 2-3 kali berbuah. Pada tanaman berbatang ganda pemangkasan pohon ditujukan

untuk pembentukan tanggul penyanggah yang kuat untuk menumbuhkan beberapa

batang. Ini dapat dilakukan dengan bebarapa cara yaitu :

 Memelihara beberapa wiwilan pada pangkal batang pohon.

 Mencondongkan batang pohon atau menanam batang pokok dengan arah miring

 Merundukkan batang pokok atau dengan jalan menanggul batang







 Panen

Buah kopi arabika umumnya akan matang setelah 8 bulan dari saat pembuahaan

dan kopi robusta matang stelah 10 bulan dari saat pembuahaan.Buah kopi yang matang

dipohon berwarna merah pada kulit buahnya dan matang tidak dalam waktu yang

serentak, walaupun berasal dari dongkolan buah ataupun dari cabang yang sama.

Buah kopi yang dipetik matang akan menghasilkan biji kopi yang lezat dan

beraroma khas minuman kopi.Biji-biji kopi dari buah yang terptik mudah dan belum

matang akan menghasilkan biji-biji kopi yang kriput selagi dikeringkan dan menjadi biji-

biji hitam. Biji-biji keriput dan biji-biji hitam trgolong biji-biji cacat dan sangat merusak

cita rasa kopi seduhannya. Maka sangat diperlukan cara pmetikan secara racutan karena

buah-buah yang blum matang dan masih berwarna hijau akan turut terpetik.





 Processing



Biji kopi yang sudah siap diperdagangkan adalah berupa biji kopi kering yang sudah

terlepas dari daging buah, kulit tanduk dan kulit arinya, butiran biji kopi yang emikian ini

disebut kopi beras (coffca beans) atau market koffie. Kopi beras berasal dari buah kopi

basah yang telah mengalami beberapa tingkat proses pengolahan. Secara garis besar dan

berdasarkan cara kerjanya, maka terdapat dua cara pengolahan buah kopi basah men.iadi

kopi beras, yaitu yang disebut pengolahan buah kopi cara basah dan cara kering.

Pengolahan buah kopi sccara basah biasa disebut W.I..B. (West lndische Bereiding),

sedangkan pengolahan cara kering biasa disebut O.I.B (Ost Indische Bereiding).

Perbedaan pokok dari kedua cara tersebut diatas adalah pada cara kering pengupasan

daging buah, kulit tanduk dan kulit ari dilakukan setelah kering (kopi gelondong),

sedangkan cara basah pengupasan daging buah dilakukan sewaktu masih basah.



 Marketing



Biasanya kopi diperdagangkan dalam bentuk kopi beras dengan kadar air 13 %

sebagian kopi ini akan dipasarkan dalam negeri dan sebagian besar lainnya

diekspor.Rantai pemasaan kopi dari petani atau perkebunan bisa melalui bermacam-

macam jalur. Petani dapat nenasarkan kopi secara bebas dalam bentuk kopi beras atau

bentuk basah ke asosiasi petani kopi atau langsung ke pedagang

pengumpul,selanjutnya pedagang pengumpul akan memasarkan kopi beras ke

pedagang besar atau langsung ke eksportir dan perusahaan kopi bubuk,syaratnya kopi

harus bermutu baik dan sudah disortasi sehingga memenuhi syarat mutu yang di

tentukan.Tujuan dari kopi Indonesia sendiri adalah negara AS,Jerman,dan Jepang.

2.4 Sub system yang paling berperan dari permasalahan komoditi.

Dari subsystem agribisnis yang paling berperan yaitu marketing atau

pemasarannya.Indonesia belum bisa memanfaatkan jenis produk dan negara

pengimpor yang sedang tumbuh permintaannya.Selain itu, Indonesia juga kalah

bersaing dengan negara pengekspor kopi lainnya.

BAB III

PENGEMBANGAN KOMODITI







105

3.1 Konsep Perencanaan Pasar Strategi

 Analisis SWOT

Strengths



Lima faktor yang menjadi KEKUATAN bagi pengembangan agribisnis Kopi adalah:

a. Ketersediaan lahan yang didukung oleh keunggulan komparatif kondisi agroekologi

b. Sifat unggul buah Kopi untuk pasar regional dan nasional

c. Ketersediaan SDM dan masyarakat untuk mendukung hutan-rakyat Kopi yang

unggul

d. Sarana /prasarana dan kelembagaan penunjang yang komitmennya tinggi terhadap

perhutanan Kopi dan industri pengolahannya

e. Potensi pasar yang sangat besar.



Weaknesses



Beberapa KELEMAHAN yang menonjol adalah:

a. Kesenjangan hasil-hasil penelitian dengan aplikasi secara komersial

b. Posisi “lembaga pemasaran” sangat dominan

c. Belum terbentuknya keterkaitan-kemitraan yang adil antar pelaku (cluster) kebun-

rakyat Kopi & sistem distribusi Kopi

d. Produk yang dipasarkan masih terbatas pada buah segar.

e. Tingginya komponen biaya transportasi dalam struktur biaya produksi



Opportunities



Beberapa PELUANG yang dapat diidentifikasi adalah:

a. Pasar domestik (lokal, regional dan nasional) sangat terbuka

b. Diversifikasi produk-produk olahan Kopi sangat potensial

c. Kebutuhan pengembangan keterkaitan antara cluster produksi dan cluster distribusi

dalam kelembagaan KIMBUN Kopi terpadu

d. Kebutuhan Pemberdayaan sistem kelembagaan produksi







Threats



Ancaman yang dianggap serius adalah:

a. Hambatan-hambatan sistem distribusi /perdagangan buah Kopi

b. Persaingan dengan produk impor buah Kopi

c. Persaingan dengan komoditi lain dalam penggunaan lahan

d. Hambatan-hambatan sistem industri pengolahan Kopi



 Segmen Pasar

Segmen pasar yang dituju dari kopi Indonesia antara lain Jepang, Malaysia,

Kanada, Perancis, dan Inggris masih terbuka. Negara Jepang, Malaysia dan Rusia

merupakan pasar yang potensial untuk meningkatkan volume ekspor kopi terlarut

dari Indonesia.

 Positionong

Postioning yag terjadi saat ini,Indonesia menempati penegexport kopi nomor 4

setelah Brazil, Kolumbia dan Vietnam. Indonesia memenuhi kebutuhan kopi baik

untuk dalam negeri maupun internasional.

3.2 Bauran Pemasaran

 Produk

Produk utama yang dihasilkan kopi yaitu kopi bubuk, dari kopi bubuk ini dapat

dibuat macam-macam kopi olahan, seperti kopi instan yang telah banyak dibuat

oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia.

 Price





106

Harga kopi diIndonesia sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga kopi internasional

dan nilai tukar rupiah terhadap AS.Saat Indonesia dilanda krisis ekonmi dimana

melalui tukar rupiah melemah terhadap dolar AS., menyebabkan harga kopi

domestik melambung tinggi walaupun harga kopi Internasional merosot tajam.

 Place

Tempat yang menjadi tujuan ekspor kopi Indonesia adalah AS, Jerman dan

Jepang.Daerah penghasil kopi terbear di Indonesia adalah Lampung, Sumatra

Utara dan Bengkulu.

 Promotion

Saat ini kopi produksi Indonesia menguasai 20% pasar Eropa, tetapi masyarakat

di Eropa selama ini belum banyak yang mengetahui kopi yang dikonsumsi adalah

produksi Indonesia karena kurangnya promosi. Mestinya pemerintah dan swasta

lebih giat melakukan promosi, sehingga penetrasi pasar lebih mudah, seperti yang

dilakukan pemerintah dan kalangan swasta produsen kopi dunia lainnya.



3.3 Atribut Kualitas

Atribut kualitas kopi adalah cita rasa dan aromanya. Para konsumen dapat menilai

apakah produk dari kopi itu bagus atau tidak, dapat dirasakan dari aromanya, kopi

yang kualitasnya baik, aromanya wangi, dan mempunyai cita rasa yang khas.









107


Related docs
Other docs by HC111110223557
Working 20Bibliography
Views: 1  |  Downloads: 0
customerreviews
Views: 1  |  Downloads: 0
Zaprosheni
Views: 106  |  Downloads: 0
TransitioningIAtoISO9001 2008RevDraft2
Views: 0  |  Downloads: 0
WebQuotes
Views: 0  |  Downloads: 0
1_Peter_Lesson_06_Final
Views: 0  |  Downloads: 0
10 malware
Views: 1  |  Downloads: 0
012000
Views: 10  |  Downloads: 0
ch12
Views: 1  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!