Embed
Email

budidaya pertanian singkong1

Document Sample
budidaya pertanian singkong1
Shared by: HC111110223557
Categories
Tags
Stats
views:
130
posted:
11/10/2011
language:
Indonesian
pages:
34
Budidaya Pertanian



( Manihot utilissima Pohl )









1. SEJARAH SINGKAT

Ketela pohon merupakan tanaman pangan berupa perdu dengan nama lain ubi kayu, singkong

atau kasape. Ketela pohon berasal dari benua Amerika, tepatnya dari negara Brazil. Penyebarannya

hampir ke seluruh dunia, antara lain: Afrika, Madagaskar, India, Tiongkok. Ketela pohon

berkembang di negara-negara yang terkenal wilayah pertaniannya dan masuk ke Indonesia pada

tahun 1852.

2. JENIS TANAMAN

Klasifikasi tanaman ketela pohon adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae atau tumbuh-tumbuhan

Divisi : Spermatophyta atau tumbuhan berbiji

Sub divisi : Angiospermae atau berbiji tertutup

Kelas : Dicotyledoneae atau biji berkeping dua

Ordo : Euphorbiales

Famili : Euphorbiaceae

Genus : Manihot

Spesies : Manihot utilissima Pohl.; Manihot esculenta Crantz sin.



Varietas-varietas ketela pohon unggul yang biasa ditanam, antara lain: Valenca, Mangi, Betawi,

Basiorao, Bogor, SPP, Muara, Mentega, Andira 1, Gading, Andira 2, Malang 1, Malang 2, dan

Andira 4

3. MANFAAT TANAMAN

Di Indonesia, ketela pohon menjadi makanan bahan pangan pokok setelah beras dan jagung.

Manfaat daun ketela pohon sebagai bahan sayuran memiliki protein cukup tinggi, atau untuk

keperluan yang lain seperti bahan obat-obatan. Kayunya bisa digunakan sebagai pagar kebun atau

di desa-desa sering digunakan sebagai kayu bakar untuk memasak. Dengan perkembangan

teknologi, ketela pohon dijadikan bahan dasar pada industri makanan dan bahan baku industri

pakan. Selain itu digunakan pula pada industri obat-obatan.

4. SENTRA PENANAMAN

Di dunia ketela pohon merupakan komoditi perdagangan yang potensial. Negaranegara sentra

ketela pohon adalah Thailand dan Suriname. Sedangkan sentra utama ketela pohon di Indonesia di

Jawa Tengah dan Jawa Timur.

5. SYARAT PETUMBUHAN

5.1. Iklim

a) Curah hujan yang sesuai untuk tanaman ketela pohon antara 1.500-2.500 mm/tahun.

b) Suhu udara minimal bagi tumbuhnya ketela kohon sekitar 10 derajat C. Bila suhunya di

bawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat, menjadi kerdil

karena pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.

c) Kelembaban udara optimal untuk tanaman ketela pohon antara 60-65%.

d) Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ketela pohon sekitar 10 jam/hari terutama

untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya.

5.2. Media Tanam

a) Tanah yang paling sesuai untuk ketela pohon adalah tanah yang berstruktur remah,

gembur, tidak terlalu liat dan tidak terlalu poros serta kaya bahan organik. Tanah dengan

struktur remah mempunyai tata udara yang baik, unsur hara lebih mudah tersedia dan

mudah diolah. Untuk pertumbuhan tanaman ketela pohon yang lebih baik, tanah harus

subur dan kaya bahan organik baik unsur makro maupun mikronya.

b) Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman ketela pohon adalah jenis aluvial latosol, podsolik

merah kuning, mediteran, grumosol dan andosol.

c) Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya ketela pohon berkisar antara 4,5-

8,0 dengan pH ideal 5,8. Pada umumnya tanah di Indonesia ber-pH rendah (asam), yaitu

berkisar 4,0-5,5, sehingga seringkali dikatakan cukup netral bagi suburnya tanaman ketela

pohon.

5.3. Ketinggian Tempat

Ketinggian tempat yang baik dan ideal untuk tanaman ketela pohon antara 10–700 m dpl,

sedangkan toleransinya antara 10–1.500 m dpl. Jenis ketela pohon tertentu dapat ditanam pada

ketinggian tempat tertentu untuk dapat tumbuh optimal.

6. PEDOMAN BUDIDAYA

6.1. 1. Pembibitan

2. Persyaratan Bibit

Bibit yang baik untuk bertanam ketela pohon harus memenuhi syarat sebagai berikut:



a) Ketela pohon berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12 bulan).

b) Ketela pohon harus dengan pertumbuhannya yang normal dan sehat serta seragam.

c) Batangnya telah berkayu dan berdiameter + 2,5 cm lurus.

d) Belum tumbuh tunas-tunas baru.



3. Penyiapan Bibit

Penyiapan bibit ketela pohon meliputi hal-hal sebagai berikut:



a) Bibit berupa stek batang.

b) Sebagai stek pilih batang bagian bawah sampai tengah.

c) Setelah stek terpilih kemudian diikat, masing-masing ikatan berjumlah antara

25–30 batang stek.

d) Semua ikatan stek yang dibutuhkan, kemudian diangkut ke lokasi penanaman.



4.



6.2. Pengolahan Media Tanam

1. Persiapan

Kegiatan yang perlu dilakukan sebelum pengolahan lahan adalah:



a) Pengukuran pH tanah dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus, pH meter dan

cairan pH tester.

b) Penganalisaan jenis tanah pada contoh atau sempel tanah yang akan ditanami untuk

mengetahui ketersediaan unsur hara, kandungan bahan organik.

c) Penetapan jadwal/waktu tanam berkaitan erat dengan saat panen. Hal ini perlu

diperhitungkan dengan asumsi waktu tanam bersamaan dengan tanamanlainnya

(tumpang sari), sehingga sekaligus dapat memproduksi beberapa variasi tanaman yang

sejenis.

d) Luas areal penanaman disesuaikan dengan modal dan kebutuhan setiap petani ketela

pohon. Pengaturan volume produksi penting juga diperhitungkan karena berkaitan erat

dengan perkiraan harga pada saat panen dan pasar. Apabila pada saat panen nantinya

harga akan anjlok karena di daerah sentra penanaman terjadi panen raya maka volume

produksi diatur seminimal mungkin.



2.

3. Pembukaan dan Pembersihan Lahan

Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala macam

gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya. Tujuan

pembersihan lahan untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan

menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit yang mungkin ada.

Pembajakan dilakukan dengan hewan ternak, seperti kerbau, sapi, atau pun dengan

mesin traktor.



Pencangkulan dilakukan pada sisi-sisi yang sulit dijangkau, pada tanah tegalan yang

arealnya relatif lebih sempit oleh alat bajak dan alat garu sampai tanah siap untuk

ditanami.



4. Pembentukan Bedengan

Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap penyelesaian. Bedengan atau

pelarikan dilakukan untuk memudahkan penanaman, sesuai dengan ukuran yang

dikehendaki. Pembentukan bedengan/larikan ditujukan untuk memudahkan dalam

pemeliharaan tanaman, seperti pembersihan tanaman liar maupun sehatnya

pertumbuhan tanaman.



5. Pengapuran

Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat masam/tanah

gembut, perlu dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur

kalsit/kaptan (CaCO3). Dosis yang biasa digunakan untuk pengapuran adalah 1-2,5

ton/ha. Pengapuran diberikan pada waktu pembajakan atau pada saat pembentukan

bedengan kasar bersamaan dengan pemberian pupuk kandang.



6.3. Teknik Penanaman

1. Penentuan Pola Tanam

Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada lahan

tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah

penanaman padi. Jarak tanam yang umum digunakan pada pola monokultur ada

beberapa alternatif, yaitu 100 X 100 cm, 100 X 60 cm atau 100 X 40 cm. Bila pola

tanam dengan sistem tumpang sari bisa dengan jarak tanam 150 X 100 cm atau 300 X

150 cm.



2. Cara Penanaman

Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah stek ketela pohon

kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek

tertimbun tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal

saja.



6.4. Pemeliharaan Tanaman

1. Penyulaman

Untuk bibit yang mati/abnormal segera dilakukan penyulaman, yakni dengan cara

mencabut dan diganti dengan bibit yang baru/cadangan. Bibit atau tanaman muda

yang mati harus diganti atau disulam. Pada umumnya petani maupun pengusaha

mengganti tanaman yang mati dengan sisa bibit yang ada. Bibit sulaman yang baik

seharusnya juga merupakan tanaman yang sehat dan tepat waktu untuk ditanam.

Penyulaman dilakukan pada pagi hari atau sore hari, saat cuaca tidak terlalu panas.

Waktu penyulaman adalah minggu pertama dan minggu kedua setelah penanaman.

Saat penyulaman yang melewati minggu ketiga setelah penanaman mengakibatkan

perbedaan pertumbuhan yang menyolok antara tanaman pertama dan tanaman

sulaman.



2. Penyiangan

Penyiangan bertujuan untuk membuang semua jenis rumput/ tanaman

liar/pengganggu (gulma) yang hidup di sekitar tanaman. Dalam satu musim

penanaman minimal dilakukan 2 (dua) kali penyiangan.



3. Pembubunan

Cara pembubunan dilakukan dengan menggemburkan tanah di sekitar tanaman dan

setelah itu dibuat seperti guludan. Waktu pembubunan dapat bersamaan dengan waktu

penyiangan, hal ini dapat menghemat biaya. Apabila tanah sekitar tanaman Ketela

pohon terkikis karena hujan atau terkena air siraman sehingga perlu dilakukan

pembubunan/di tutup dengan tanah agar akar tidak kelihatan.



4. Perempalan/Pemangkasan

Pada tanaman Ketela pohon perlu dilakukan pemangkasan/pembuangan tunas karena

minimal setiap pohon harus mempunyai cabang 2 atau 3 cabang. Hal ini agar batang

pohon tersebut bisa digunakan sebagai bibit lagi di musim tanam mendatang.



5. Pemupukan

Pemupukan dilakukan dengan sistem pemupukan berimbang antara N, P, K dengan

dosis Urea=133–200 kg; TSP=60–100 kg dan KCl=120–200 kg. Pupuk tersebut

diberikan pada saat tanam dengan dosis N:P:K= 1/3 : 1 : 1/3 (pemupukan dasar) dan

pada saat tanaman berumur 2-3 bulan yaitu sisanya dengan dosis N:P:K= 2/3 : 0 : 2/3.



6. Pengairan dan Penyiraman

Kondisi lahan Ketela pohon dari awal tanam sampai umur + 4–5 bulan hendaknya

selalu dalam keadaan lembab, tidak terlalu becek. Pada tanah yang kering perlu

dilakukan penyiraman dan pengairan dari sumber air yang terdekat. Pengairan

dilakukan pada saat musim kering dengan cara menyiram langsung akan tetapi cara

ini dapat merusak tanah. Sistem yang baik digunakan adalah sistem genangan

sehingga air dapat sampai ke daerah perakaran secara resapan. Pengairan dengan

sistem genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan

berdasarkan kebutuhan.



7. Waktu Penyemprotan Pestisida

Jenis dan dosis pestisida disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Penyemprotan

pestisida paling baik dilakukan pada pagi hari setelah embun hilang atau pada sore

hari. Dosis pestisida disesuaikan dengan serangan hama dan penyakit, baca dengan

baik penggunaan dosis pada label merk obat yang digunakan. Apabila hama dan

penyakit menyerang dengan ganas maka dosis pestisida harus lebih akan tetapi

penggunaannya harus hati-hati karena serangga yang menguntungkan dapat ikut mati.





7. HAMA DAN PENYAKIT

7.1. Hama

a. Uret (Xylenthropus)

Ciri: berada dalam akar dari tanaman.

Gejala: tanaman mati pada yg usia muda, karena akar batang dan umbi dirusak.

Pengendalian: bersihkan sisa-sisa bahan organik pada saat tanam dan atau mencampur

sevin pada saat pengolahan lahan.

b. Tungau merah (Tetranychus bimaculatus)

Ciri: menyerang pada permukaan bawah daun dengan menghisap cairan daun tersebut.

Gejala: daun akan menjadi kering.

Pengendalian:menanam varietas toleran dan menyemprotkan air yang banyak.

7.2. Penyakit

a. Bercak daun bakteri

Penyebab: Xanthomonas manihotis atau Cassava Bacterial Blight/CBG .

Gejala: bercak-bercak bersudut pada daun lalu bergerak dan mengakibatkan pada daun

kering dan akhirnya mati.

Pengendalian:menanam varietas yang tahan, memotong atau memusnahkan bagian

tanaman yang sakit, melakukan pergiliran tanaman dan sanitasi kebun

b. Layu bakteri (Pseudomonas solanacearum E.F. Smith)

Ciri: hidup di daun, akar dan batang.

Gejala: daun yang mendadak jadi layu seperti tersiram air panas. Akar, batang dan umbi

langsung membusuk.

Pengendalian: melakukan pergiliran tanaman, menanam varietas yang tahan seperti Adira

1, Adira 2 dan Muara, melakukan pencabutan dan pemusnahan tanaman yang sakit berat.

c. Bercak daun coklat (Cercospora heningsii)

Penyebab: jcendawan yang hidup di dalam daun.

Gejala: daun bercak-bercak coklat, mengering, lubang-lubang bulat kecil dan jaringan

daun mati.

Pengendalian: melakukan pelebaran jarak tanam, penanaman varietas yang tahan,

pemangkasan pada daun yang sakit serta melakukan sanitasi kebun.

d. Bercak daun konsentris (Phoma phyllostica)

Penyebab: cendawan yang hidup pada daun.

Gejala: adanya bercak kecil dan titik-titik, terutama pada daun muda.

Pengendalian:memperlebar jarak tanam, mengadakan sanitasi kebun dan memangkas

bagian tanaman yang sakit .









7.3. Gulma

Sistem penyiangan/pembersihan secara menyeluruh dan gulmanya dibakar/dikubur dalam

seperti yang dilakukan umumnya para petani Ketela pohon dapat menekan pertumbuhan

gulma. Namun demikian, gulma tetap tumbuh di parit/got dan lubang penanaman.



Khusus gulma dari golongan teki (Cyperus sp.) dapat di berantas dengan cara manual dengan

penyiangan yang dilakukan 2-3 kali permusim tanam. Penyiangan dilakukan sampai akar

tanaman tercabut. Secara kimiawi dengan penyemprotan herbisida seperti dari golongan 2,4-D

amin dan sulfonil urea. Penyemprotan harus dilakukan dengan hati-hati.



Sedangkan jenis gulma lainnya adalah rerumputan yang banyak ditemukan di lubang

penanaman maupun dalam got/parit. Jenis gulma rerumputan yang sering dijumpai yaitu jenis

rumput belulang (Eleusine indica), tuton (Echinochloa colona), rumput grintingan (Cynodon

dactilon), rumput pahit (Paspalum distichum), dan rumput sunduk gangsir (digitaria ciliaris).

Pembasmian gulma dari golongan rerumputan dilakukan dengan cara manual yaitu

penyiangan dan penyemprotan herbisida berspektrum sempit misalnya Rumpas 120 EW

dengan konsentrasi 1,0-1,5 ml/liter.

8. PANEN

8.1. Ciri dan Umur Panen

Ketela pohon dapat dipanen pada saat pertumbuhan daun bawah mulai berkurang. Warna daun

mulai menguning dan banyak yang rontok. Umur panen tanaman ketela pohon telah mencapai

6–8 bulan untuk varietas Genjah dan 9–12 bulan untuk varietas Dalam.

8.2. Cara Panen

Ketela pohon dipanen dengan cara mencabut batangnya dan umbi yang tertinggal diambil

dengan cangkul atau garpu tanah.



9. PASCA PANEN

9.1. Pengumpulan

Hasil panen dikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah dijangkau oleh

angkutan.

9.2. Penyortiran dan Penggolongan

Pemilihan atau penyortiran umbi ketela pohon sebenarnya dapat dilakukan pada saat

pencabutan berlangsung. Akan tetapi penyortiran umbi ketela pohon dapat dilakukan setelah

semua pohon dicabut dan ditampung dalam suatu tempat. Penyortiran dilakukan untuk

memilih umbi yang berwarna bersih terlihat dari kulit umbi yang segar serta yang cacat

terutama terlihat dari ukuran besarnya umbi serta bercak hitam/garis-garis pada daging umbi.

9.3. Penyimpanan

Cara penyimpanan hasil panen umbi ketela pohon dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a) Buat lubang di dalam tanah untuk tempat penyimpanan umbi segar ketela pohon tersebut.

Ukuran lubang disesuaikan dengan jumlah umbi yang akan disimpan.

b) Alasi dasar lubang dengan jerami atau daun-daun, misalnya dengan daun nangka atau

daun ketela pohon itu sendiri.

c) Masukkan umbi ketela pohon secara tersusun dan teratur secara berlapis kemudian

masing-masing lapisan tutup dengan daun-daunan segar tersebut di atas atau jerami.

d) Terakhir timbun lubang berisi umbi ketela pohon tersebut sampai lubang permukaan

tertutup berbentuk cembung, dan sistem penyimpanan seperti ini cukup awet dan

membuat umbi tetap segar seperti aslinya.

9.4. Pengemasan dan Pengangkutan

Pengemasan umbi ketela pohon bertujuan untuk melindungi umbi dari kerusakan selama

dalam pengangkutan. Untuk pasaran antar kota/ dalam negeri dikemas dan dimasukkan dalam

karung-karung goni atau keranjang terbuat dari bambu agar tetap segar. Khusus untuk

pemasaran antar pulau maupun diekspor, biasanya umbi ketela pohon ini dikemas dalam

bentuk gaplek atau dijadikan tepung tapioka. Kemasan selanjutnya dapat disimpan dalam

karton ataupun plastik-plastik dalam perbagai ukuran, sesuai permintaan produsen.



Setelah dikemas umbi ketela pohon dalam bentuk segar maupun dalam bentuk gaplek ataupun

tapioka diangkut dengan alat trasportasi baik tradisional maupun modern ke pihak konsumen,

baik dalam maupun luar negeri.

10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN

10.1. Analisis Usaha Budidaya

Perkiraan analisis budidaya singkong seluas 1 hektar pola monokultur dalam satu musim

tanam (8 bulan), dengan jarak tanam 100 X 100 cm (populasi + 9.998 tanaman) untuk daerah

Jawa Barat pada tahun 1999 adalah:



1) Biaya produksi

1. Sewa lahan per musim (lahan kering) Rp. 500.000,-

2. Bibit + 11.000 stek @ Rp 30,- Rp. 330.000,-

3. Pupuk

- Urea: 200 kg @ Rp 1.000,- Rp. 200.000,-

- TSP: 100 kg @ Rp 1.800,- Rp. 180.000,-

- KCl: 200 kg @ Rp 1.650,- Rp. 330.000,-

4. Pestisida: 2 kg (liter) @ Rp 50.000,- Rp. 100.000,-

5. Pajak dan peralatan Rp. 300.000,-

6. Tenaga kerja

- Pengolahan lahan 70 HKP @ Rp 10.000,- Rp. 700.000,-

- Penanaman 5 HKP + 10 HKW Rp. 125.000,-

- Pemupukan 10 HKP +25 HKW Rp. 287.500,-

- Penyiangan dan pembubunan 20 HKP + 20 HKW Rp. 350.000,-

7. Panen dan pasca panen Rp. 250.000,-

Jumlah biaya produksi Rp. 3.652.500,-



2) Pendapatan 30.000 kg @ Rp 125,- Rp. 4.500.000,-

3) Keuntungan Rp. 847.500,-

4) Parameter kelayakan usaha =1,232

1. Rasio Out/Input



Catatan : HKP (Hari Kerja Pria); HKW (Hari Kerja Wanita)









10.2. Gambaran Peluang Agribisnis

Di pasar Indonesia, produksi Ketela pohon rata-rata mencapai 8,24 ton/ha (data tahun 1969-

1978). Tahun 1983-1991 rata-rata mencapai 11,43 ton/ha.



Peningkatan produksi umbi ketela pohon kurun waktu 1988-1992 terjadi karena adanya

peningkatan rata-rata hasil per hektar. Walaupun demikian, rata-rata produktivitas usaha tani

ketela pohon ditingkat petani (3 ton/ha) masih lebih rendah dibandingkan dengan potensi

hasilnya (6-10 ton/ha). Luas panen komoditas ketela pohon yang cenderung terus menurun

selama kurun waktu tersebut ternyata tidak berpengaruh terhadap produksi total. Sementara

itu, sekitar 58% dari total luas panen per tahun masih tersebar di Pulau Jawa.



Dari segi ekspor, selama periode 1990-1994 ekspor ketela pohon Indonesia mengalami

peningkatan yang cukup besar. Bila pada tahun 1990, ekspor ketela pohon adalah sebanyak

100 ton, maka pada tahun 1994 jumlah tersebut sudah menjadi 500 ton. Permintaan ketela

pohon dalam bentuk tapioka maupun gaplek pada tahun-tahun yang akan datang diperkirakan

akan terus meningkat. Hal ini merupakan peluang besar bagi Indonesia untuk usaha

agribisnis ketela pohon.



11. STANDAR PRODUKSI

11.1. Ruang Lingkup

Standar produksi ini meliputi: klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji,

syarat penandaan, cara pengemasan dan rekomendasi untuk tapioka.

11.2. Diskripsi

Standar mutu ketela pohon (tepung tapioka) di Indonesia tercantum dalam Standar Nasional

Indonesia SNI 01-345-1994.

11.3. Klasifikasi dan Standar Mutu

Syarat mutu terdiri dari dua bagian :

a) Syarat organoleptik

1. Sehat (sound).

2. Tidak berbau apek atau masam.

3. Murni.

4. Tidak kelihatan ampas dan/atau bahan asing.

b) Syarat Teknis

1. Kadar air maksimum (%): mutu I=15; mutu II=15; mutu III=15.

2. Kadar abu maksimum (%): mutu I=0,60; mutu II=0,60; mutu III=0,60.

3. Serat dan benda asing maksimum (%): mutu I=0,60; mutu II=0,60; mutu III=0,60.

4. Derajat putih minimum (BaSO4=100%) (%): mutu I=94,5; mutu II=92,0; mutu

III=92.

5. Kekentalan (Engler): mutu I=3-4; mutu II=2,5-3; mutu III<2,5.

6. Derajat asam maksimum (Ml IN Na): mutu I=3; mutu II=3; mutu III=3.

7. Cemaran logam: ** OH/100 gram

- Timbal (Pb) (mg/kg): mutu I=1,0; mutu II=1,0; mutu III=1,0.

- Tembaga (Cu) (mg/kg): mutu I=10,0; mutu II=10,0; mutu III=10,0.

- Seng (Zn) (mg/kg): mutu I=40; mutu II=40; mutu III=40.

- Raksa (Hg) (mg/kg): mutu I=0,05; mutu II=0,05; mutu III=0,05.

8. Arsen (AS) ** (mg/kg): mutu I=0,5; mutu II=0,5; mutu III=0,5.

9. Cemara Mikroba:**

- Angka lempeng total maksimum (koloni/gram): mutu I=1,0 x100; mutu I=1,0x100;

mutu III=1,0x100.

- E. Coli maksimum(koloni/gram): mutu I=10; mutu II=10; mutu III=10.

- Kapang maksimum (koloni/gram): mutu I=1,0x104 ; mutu II=1,0x104; mutu

III=1,0x104.



Keterangan:

** Dipersyaratkan bila dipergunakan sebagai bahan makanan.



1. Kadar air ialah jumlah kandungan air yang terdapat dalam ketela pohon dinyatakan dalam

persen dari berat bahan.

2. Kadar abu ialah banyaknya abu yang tersisa apabila tapioka dipijar pada suhu 500 derajat

C yang dinyatakan dalam persen berat bahan.

3. Serat, ialah bagian dari tapioka dalam bentuk cellulosa dan dinyatakan dalam persen berat

bahan.

4. Benda asing ialah semua benda lain (pasir, kayu, kerikil, logam-logam kecil) yang

tercampur pada ketela pohon, dinyatakan dalam persen dari berat bahan.

5. Derajat putih, ialah tingkat atau derajat keputihan dari pada ketela pohon yang

dibandingkan dengan derajat putih BaSO4 = 100 % dinyatakan dalam angka.

6. Kekentalan ialah derajat kekentalanm dari pada larutan ketela pohon dinyatakan dengan

derajat Elger.

7. Derajat asam ialah derajat asam pada ketela pohon yang dinyatakan dalam mililiter per

gram.

Untuk mendapatkan mutu singkong yang sesuai dengan standar maka harus dilakukan

pengujian mutu singkong yang diantaranya adalah :

a) Kadar air: timbang dengan teliti kira-kira 5 gram contoh, tempatkan dalam cawan

porselen/silika/platina panaskan dalam oven dengan suhu 105 ± 1 derajat C selama 5

jam. Dinginkan dalam eksikator sampai tercapai suhu kamar, lalu timbang. Panaskan lagi

30 menit lalu dinginkan dalam eksikator. Ulangi pengerjaan tersebut 3-4 kali sampai

diperoleh berat antara 2 penimbangan berturut-turut lebih kecil dari 0,001 gram.

b) Kadar abu: timbang 5 gram contoh kedalam cawan porselen,/silika/platina yang sudah

ditimbang beratnya. Pijarkan cawan berisi contoh diatas pembakar mecer kira-kira 1 jam,

mula-mula api kecil lalu api dibesarkan sampai terjadi perubahan contoh menjadi arang.

Sempurnakan pemijaran arang didalam tanur pada suhu 580-620 derajat C sampai

menjadi abu. Pindahkan cawan dalam tanur kedalam oven pada pada suhu sekitar 100

derajat C, selama 1 jam. Dinginkan cawan berisi abu dalam eksikator sampai tercapai

suhu kamar antara 15-30 derajat C, lalu timbang. Ulangi pengerjaan pemijaran dan

pendinginan, sehingga diperoleh perbedaan berat antara dua pertimbangan berturut-turut

lebih kecil daripada 0,001 gram.

c) Kadar serat dan benda asing: timbang kira-kira 2,5 gram contoh yang telah

dikeringkalalu dituangkan kedalam labu dengan ditambah asam sulfat encer 1,25% yang

telah dididih sebanyak 200 ml, pasangkan segera labu dengan pendingin balik yang

dialiri air. Panaskan abu hingga mendidih selama 30 menit, pada saat mendidih sesekali

labu digoyangkan agar semua contoh terasam dan tidak terjadi gosong pada dinding

dalam labu. Tanggalkan labu, lalu saring dengan kain halus 18 serat/cm yang dipasang

pada corong penyaring. Cuci residu dengan air mendidih sampai filtrat bersifat netral dan

200 ml larutan natrium hidroksida lalu pindahkan residu di atas kain kedalam labu.

Didihkan kembali labu selama 30 menit, lalu tanggalkan labu dan segera saring dengan

kain saring kemudian cuci residu dengan air mendidih sampai filtrat bersifat netral.

Pindahkan residu kedalam cawan Gooch yang telah dilapisi serat asbes dibantu pompa

air, cuci residu dengan air panas dan dibilas dengan 15 ml etil alkohol 95 %. Keringkan

cawan dan isinya pada suhu 104-106 derajat C dalam oven, kemudian dinginkan hingga

tercapai suhu kamar, lalu ditimbang. Ulangi pengeringan dan penurunan suhu dalam

eksikator 2-3 kali masing-masing 30 menit hingga mencapai bobot tetap. Pijarkan cawan

gooch dan isinya pada suhu 580–620 derajat C sampai menjadi abu lalu tempatkan

dalam oven (suhu ± 100 derajat C) selama 30 menit, dinginkan dalam eksikator sampai

suhu kamar, lalu timbang. Ulangi pengeringan dan penurunan suhu dalam eksikator 2-3

kali, masing masing 30 menit hingga diperoleh bobot tetap (W2).

d) Derajat Putih: tuangkan BaSO4 murni kedalam cuvet dan tentukan reflaktan pada skala

100, lalu tuangkan contoh kedalam cuvet lainnya.

e) Derajat kekentalan Engler: timbang 10 gram bahan, tuangkan edalam gelas piala (500

ml) lalu tambahkan 100 ml etanol 70 % yang sudah dinetralkan dengan indikator phenol

ptalein, lalu kocok selama 1 jam pada alat penggosok mekanik natrium hidroksida 0,1 N.

Saring dengan cepat melalui kertas saring kering, pipet 50 ml saring, tuangkan kedalam

erlenmeyer 500 ml dan titar saringan dengan larutan natrium hidroksida 0,1 N dengan

indikator phenol ptalein.

f) Cemaran logam: masukan contoh kedalam erlenmeyer 250 ml, 10 ml H2SO4, 0,5 gram

KMn04 dan direfluks hingga mendidih serta warna violet hilang. Tamabah 0,2 gram

KMn04 dan pemanas diteruskan hingga KMn04 1,5 gram. Didihkan kembali selama 5

menit, dinginkan dan tambahkan Hydroxylamine Hydrochoride samapi warna hilang,

setelah itu tambahkan 1 ml Hydroxylamine hydrochoride dan 2 ml asam asetan,

pindahkan larutan kedalam labu pemisah tambahkan 10 ml larutan Dhitizone, kocok

selama 2 menit. Pindahkan lapisan chloroform ke dalam corong pemisah yang

mengandung 25 ml NH40H kemudian kocok, cuci dengan 10 ml H2S04 IN dan buat

larutan baku (larutkan 0,9155 grm Pb Ac2 3H20 dalam air, tambahkan 5 ml HNO3

encerkan 500 ml dengan air), dari larutan ini diambil 1 ml diencerkan menjadi 100 ml.



Sedangkan cara uji tembaga dan seng, raksa, arsen, angka lempeng total, bakteri coliform

dan eschericia coli sesuai dengan SNI 01–3451–1994, tapioka.



11.4. Pengambilan Contoh

Contoh diambil secara acak sebanyak akar pangkat dua dari jumlah karung dengan

maksimum maksimum 30 karung. Pengambilan contoh dilakukan beberapa kali, sampai

mencapai berat 500 gram. Contoh kemudian disegel dan diberi label. Petugas pengambil

contoh harus orang yang telah berpengalaman atau dilatih lebih dahulu.

11.5 Pengemasan

Tapioka dikemas dengan karung goni baru jenis ATWILL/Blacu yang baik, bersih, cukup

memenuhi syarat eksport, mulutnya dijahit dengan kuat. Isi paling banyak untuk karung

blacu 50 kg bersih, atau karung goni maksimum 100 kg/bersih. Dibagian luar kemasan ditulis

dengan bahan yang tidak mudah luntur, jelas terbaca, antara lain:

a) Produksi Indonesia.

b) Nama barang atau jenis barang.

c) Nama perusahaan atau ekspiotir.

d) Berat bersih.

e) Berat kotor.

f) Negara/tempat tujuan.

12. DAFTAR PUSTAKA

1. Badan Agribisnis Departemen Pertanian. 1999. Investasi Agribisnis Komoditas Unggulan

Tanaman Pangan dan Hortikultura. Kanisius. Yogyakarta.

2. Danarti dan Sri Najiyati. 1998. Palawija, Budidaya dan Analisis Usaha Tani. Penerbit Swadaya,

Jakarta.

3. Rahmat Rukmana, H. Ir. 1997. Ubi Kayu, Budidaya dan Pasca Panen. Penerbit Kanisius

(Anggota IKAPI), Yogyakarta.



Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS







PROYEK PENGEMBANGAN

BUDI DAYA SINGKONG VARIETAS DARUL HIDAYAH

SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN TARAP KEHIDUPAN

EKONOMI PETANI,SEKALIGUS MENGINTIP PELUANG

PENGEMBANGAN BAHAN BAKU BIOFUEL





A.PENDAHULUAN

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum Wr.Wb.





Pengembangan prakarsa kemandirian harus didorong dengan cara mengembangkan berbagai

potensi masyarakat, memanfaatkan berbagai sumber daya yang dimiliki dan mengoptimalkan hasil

– hasil dari prakarsa dan pemanfaatan tersebut, sehingga berbagai upaya dimaksud harus berujung

dan bertumpu kepada kesejahteraan rakyat, dan kemakmuran daerah yang bersangkutan,

berdasarkan sendi – sendi keadilan dan pemerataaan.

Salah satu upaya untuk mencapai tujuan tersebut adalah pengembangan sector AGROBISNIS, yang

memang sudah merupakan ciri utama dan mayoritas kehidupan masyarakat di negara kita, dimana

sebagian besar penduduknya bertempat tinggal dipedesaan, dengan hidup mengandalkan dari

sector pertanian. Berdasarkan Program Menteri Pertanian dengan keputusan Menteri

Pertanian Nomor : 867/kpts/TP.240/11/98 tertanggal 4 Nopember 1998 di Jakarta

perihal PELEPASAN UBI KAYU LOKAL DARUL HIDAYAH SEBAGAI VARIETAS UNGGUL

DENGAN NAMA DARUL HIDAYAH

Hanya saja berbagai upaya yang telah dilakukan baik itu oleh pemerintah maupun berbagai

kelompok lain dalam memberdayakan sektor Pertanian selalu terbentur pada persoalan pokok, yaitu

harga jual yang selalu rendah pada saat terjadi panen, produktifitas satuan lahan yang kecil, dan

persoalan pemasaran.

Untuk mewujudkan harapan dan tujuan tersebut, kami BIGCASSAVA.COM atau

SINGKONGRAKSASA.COM telah memulai rintisan sejak lima tahun yang lalu, dengan mencoba

mengembangkan budi daya singkong Darul Hidayah ( Singkong Raksasa ), yang merupakan bibit

unggul dari singkong – singkong yang ada saat ini, dan telah terbiasa dibudidayakan oleh petani

secara konvensional.

Pengembangan singkong Darul Hidayah adalah merupakan jawaban dari persoalan dan rendahnya

produktivitas persatuan lahan, dimana untuk jenis singkong konvensional biasanyan hanya

dihasilkan sebesar 40 – 50 ton/ha lahan tanaman bahkan terkadang hanya mencapai 20 – 25 ton

/ha lahan tanam. Sedangkan singkong Darul Hidayah setelah melalui uji tanam atau Pilot Project I

diketahui dapat menghasilkan singkong sebagai hasil tanaman sebesar 100 – 150 ton/ha lahan

tanam. Bahkan sejak bulan April 2006 sampai dengan September tidak turun hujan ( kemarau )

singkong Darul Hidayah tetap berkembang panjang umbinya mencapai satu meter per batang ubi

kayu , Bahkan tidak sedikit jenis singkong Konvensional yang mati daun dan batang sehingga gagal

panen.

Selain itu BIGCASSAVA.COM memilih komoditas singkong sebagai garapan utamanya didasarkan

pada hasil survey dan analisa market, bahwa kebutuhan berbagai jenis industri yang memanfaatkan

singkong sebagai singkong sebagai bahan bakunya sangat besar, seperti industri makanan, industri

farmasi, industri kimia, industri bahan bangungan, industri kertas, Industri BIOFUEL. Akibatnya

beragamnya jenis industri yang memanfaatkan singkong sebagai bahan baku utamanya, tidak heran

kalau dari singkong dapat dihasilkan 14 macam produk turunan. Kebutuhan bahan baku singkong tersebut bukan

hanya untuk konsumsi dalam negeri, juga untuk kebutuhan import, dan ironisnya kebutuhan kebutuhan industri

dalam negeri masih mengimport bahan baku industrinya, padahal bahan tersebut berasal dari bahan dasar

singkong

Hal lain yang sangat penting dari budi daya singkong ini cenderung dapat ditanam pada jenis tanah

apapun di satu sisi sedangkan pada sisi lain dapat mengoptimalkan lahan – lahan yang belum

maksimal produksi, sehingga apabila kegiatan – kegiatan tersebut tumbuh kembangkan oleh

pemerintah daerah dan masyarakatnya, akan diperoleh beberapa keuntungan yaitu :

1. Dapat mencegah urbanisasi ke kota – kota besar

2. Terbukanya lapangan kerja baru

3. Termanfaatkannya lahan – lahan yang belum optimal produksi

4. Meningktanya kesejahteraan masayarkat petani

5. Meningkatkan IPM daerah Kabupaten Sukabumi

Kegiatan pengembangan Budi daya Singkong dengan cara optimalisasi lahan – lahan yang belum

dan dalam rangka membangun agro bisnis dan agro industri yang terintegrasi, sangat sejalan

dengan PERDA Propinsi Jawa Barat No. 1 tahun 2001 Tentang rencana Strategi Propinsi Jawa barat

tahun 2001 – 2005, dimana didalamnya memuat aspek pemanfaatan lahan tidur secara optimal

guna meningkatkan prouktivitas pertanian.





B. PELUANG PASAR, KESEMPATAN KERJA & LUAS AREAL TANAMAN SINGKONG

Sebagaimana diuaraikan di atas peluang pengembangan usaha budi daya singkong sangat terbuka,

hal ini tidak lain karena kebutuhan produk dan beragamnya produk olahan dari bahan dasar

singkong seperti Gaplek, Chips, Pellet, tepung, dengan pangsa pasar untuk dalam negeri seperti

industri makanan & minuman ( kerupuk, Sirup), industri textile, industri bahan bangunan ( Gips &

Keramik ), Industri kertas, industri pakan ternak, sedagkan untuk pangsa pasar luar negeri dengan

tujuan eksport adalah Negara Masyarakat Ekonomi Eropa, Jepang, Korea, China, Amerika Serikat,

Jerman, dengan pemanfaatan untuk bahan baku farmasi, bahan baku industri lem, bahan baku

industri kertas, dan bahan baku industri pakan ternak.

Potensi Singkong





UNIDO (UN Industrial Development Organization) atau Badan PBB di bidang Pembangunan Industri

sudah sejak awal tahun 1980-an menerbitkan beberapa laporan tentang potensi singkong atau ubi

kayu atau sampeu atau manioc, terutama di negara berkembang seperti di Indonesia yang memiliki

lahan luas dan memungkinkan, karena permintaan pasar produk singkong tersebut dalam bentuk

gaplek, tepung gaplek, dan terutama tepung tapioka, sangat tinggi.





Dari data UNIDO sejak tahun 1982, Indonesia tercatat sebagai negara penghasil manioc terbesar ke-3

(13.300.000 ton) setelah Brasil (24.554.000 ton), kemudian Thailand (13.500.000 ton), serta disusul oleh negara-

negara seperti Nigeria (11.000.000 ton), India (6.500.000 ton), dan sebagainya, dari total produk dunia sebesar

122.134.000 ton per tahun. Walau dari hasil kebun per hektar (ha), Indonesia masih rendah, yaitu 9,4 ton,

kalau dibandingkan dengan India (17,57 ton), Angola (14,23 ton), Thailand (13,30 ton), Cina (13,06 ton), Brasil

(10,95 ton). Tetapi, lahan yang tersedia untuk budidaya singkong cukup luas, terutama dalam bentuk lahan di

dataran rendah serta lahan di dataran tinggi berdekatan dengan kawasan hutan.





Pada umumnya, di Indonesia masih jarang budidaya singkong berbentuk perkebunan dengan luas di

atas lima hektar, karena umumnya masih merupakan kebun sela atau tumpang sari setelah

penanaman padi huma, kebun hortikultura, ataupun hanya merupakan kebun sambilan, yang lebih

banyak ditujukan untuk panenan daun/pucuknya yang dapat dijual untuk lalap, urab, ataupun

makanan lainnya. Sedang dari ubinya, merasa sudah cukup hanya menjadi makanan panganan,

baik dalam bentuk keripik, goreng singkong, rebus singkong, urab singkong, ketimus, opak, sampai

ke bubuy singkong. Kadang-kadang dapat pula ditingkatkan menjadi makanan yang lebih

"bergengsi" kalau menjadi "misro" (atau amis di jero/di dalam) atau "comro" (oncom di jero), dan

sebagainya.





Ekspor singkong Indonesia dalam bentuk gaplek (keratan ubi singkong yang dikeringkan), tepung

gaplek, ataupun tepung tapioka cukup meyakinkan dan dapat bersaing, seperti gaplek Indonesia

yang sangat terkenal di mancanegara, terutama di Masyarakat Eropa (ME) sehingga harganya

mampu bersaing dengan produk sejenis dari beberapa negara di Afrika, juga dari India dan

Thailand, yaitu rata-rata dengan harga 65-75 dollar AS/ton, kemudian meningkat sampai 130 dollar

AS/ ton, padahal produk yang sama dari India, Thailand, dan apalagi dari negara-negara di Afrika,

hanya mencapai 60 dollar AS/ ton dan tidak lebih dari 80 dollar AS/ton.





Akan tetapi, berbeda dengan produk tapioka, yang semula Indonesia dikenal sebagai penghasil

tepung tapioka terbaik kualitasnya, bahkan mendekati kualitas pharmaceutical grade atau produk

bahan baku untuk keperluan farmasi, tetapi tiba-tiba pada tahun 1980-an jatuh menjadi kualitas

terendah, kalah oleh produk sejenis dari negara-negara Afrika, apalagi dari India dan Thailand.





Masalahnya adalah, bahwa di dalam tepung tapioka hasil Indonesia terdapat residu (sisa) pestisida yang

membahayakan, bahkan di atas ambang batas.





Memang budidaya singkong, pada umumnya di Indonesia, tidak menggunakan pestisida, terutama

insektisida (pembasmi hama). Tetapi, mohon untuk diketahui, bahwa pada umumnya pabrik tapioka, yaitu

pengolah ubi kayu menjadi tepung, umumnya berada di lingkungan kawasan pertanian padi, serta untuk keperluan

pabrik, sejak mencuci ubi sebelum dihancurkan (diparut), menghasilkan "larutan" tapioka dari parutan sampai ke

pengendapan dan memisahkan larutan menjadi "bubur" tapioka, dari selokan yang keluar dari kotakan sawah. Jadi

kalau dihitung secara teoretis (on paper) penggunaan pestisida, apakah itu organofosfor ataupun lainnya, rata-rata

dua kilogram (kg) per ha sawah, maka sisa yang terdapat di dalam air sawah, sekitar 150-200 ppm (part per

million atau 1 mg per liter). Dengan begitu, wajar saja kalau sisa/residu tersebut akan terdapat antara 20-35 ppm

pada tepung tapioka, sedangkan persyaratan WHO harus kurang dari 0,05 ppm.





Saat produk tapioka Indonesia jatuh dan terpuruk, maka kalau mau dijadikan komoditas ekspor,

khususnya ke Eropa, harus dijual dulu melalui Singapura, karena di negara tersebut tapioka kita

yang sudah tercemar residu pestisida akan "dicuci" terlebih dahulu hingga memenuhi syarat,

kemudian baru diekspor ke beberapa negara di Eropa dengan nama "Made in Singapore", padahal,

kelakar banyak pakar pertanian, di Singapura tersebut jangankan ada kebun singkong, mencari

untuk obat saja sudah susah, dan baru ada di Malaysia.





Tahun 1980-an, ekspor produk singkong Indonesia, terutama dalam bentuk gaplek dan tepung tapioka,

umumnya ke negara-negara ME. Sedangkan yang membutuhkan produk singkong Indonesia, banyak negara di

luar ME. Akibatnya keluar semacam SK Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri tahun 1990, yang

menyatakan bahwa eksportir Indonesia yang mau mengekspor ke luar ME akan dapat rangsangan 1:2, yaitu

dalam bentuk mereka akan dapat jatah ekspor ke ME sebesar dua kali jumlah ekspornya ke non-ME.





Makin menurunnya jumlah ekspor gaplek, karena penurunan produk singkong Indonesia, misalnya dari

17,1 juta ton tahun 1989, menjadi 16,3 juta ton tahun 1990. Ini disebabkan pula karena konsumsi di dalam negeri

untuk banyak kegunaan dalam bentuk singkong mencapai 12,65 juta ton, sehingga sisa singkong yang akan

digaplekkan hanya sekitar tiga juta ton saja. Dengan catatan konversi (perubahan) dari ubi singkong segar menjadi

gaplek sekitar 30 persen saja. Karena itu, tidak heran kalau ekspor juga ikut anjlok, yaitu dari sekitar 790.000 ton

ke ME dan 657.104 ke luar ME hanya menjadi 122.845 ton (tahun 1989-1990). Ternyata penurunan tersebut

terkait dengan banyak petani singkong yang sudah tidak mau lagi menanam singkong; disebabkan antara lain

karena "tanah bekas" singkong menjadi lebih kurus karena selama penanaman tidak pernah dilakukan pemberian

pupuk, misalnya pupuk organik dalam bentuk pupuk hijau (tanaman polong-polongan), serta faktor lainnya lagi,

antara lain, banyak pabrik tapioka daerah yang kemudian gulung tikar, sehingga produk para petani kemudian

banyak yang rusak, misalnya perubahan warna menjadi kehitam-hitaman ataupun membusuk. Juga singkong

untuk bahan baku tapioka berbeda dengan singkong konsumsi, yaitu kandungan senyawa cyanida lebih

tinggi dan terasa pahit.





Petani, bukan saja disebabkan karena keterbatasan lahan untuk budidaya singkong yang

menyebabkan mereka tidak tertarik, tetapi juga karena pemasaran yang bertahap, sehingga dari

petani bernilai antara Rp 36 - Rp 50/kg segar, dan para pengumpul menerima sekitar Rp 75-Rp

100/kg segar. Dulu ketika di hampir tiap daerah/desa banyak bermunculan pabrik pengolah

singkong menjadi tapioka, hasil jerih payah mereka banyak membantu pendapatan.





Bahwa bertani singkong menguntungkan, banyak dialami petani di beberapa daerah di Jawa Barat,

mulai dari Kabupaten Purwakarta, Subang, Sumedang, Tasik, Ciamis, Garut, sampai sukabumi dan

Cianjur.





Mereka menanam singkong bukan sekadar sambilan, tetapi sudah dikhususkan pada lahan yang

sudah ada, dengan luas antara 1-4 ha, umumnya terletak di lereng pegunungan, berbatasan

dengan lahan Kehutanan/Perhutani. Lahan untuk tanaman singkong tidak harus khusus, dan tidak

memerlukan penggarapan seperti halnya untuk tanaman hortikultura lainnya, misal sayuran. Juga

selama penanaman, tidak perlu pemupukan dan pemberantasan hama atau penyakit.





Ternyata hasil tiap panen (antara 5-6 bulan setelah penanaman) dari luas 1 ha akan dapat diraih

keuntungan sekitar Rp 2.500.000, yaitu dari hasil penjualan umbinya (4-6 ton) serta pucuk

daunnya. Yang perlu diketahui, bahwa selama budidaya tidak banyak pekerjaan yang harus

dilakukan, misal menyiangi gulma (hama). Tentu saja kalau hal ini dilakukan, hasilnya akan dapat lebih baik

lagi. Padahal bibit singkong yang mereka tanam masih jenis tradisi, yang hanya memberikan hasil ubi sekitar 4-8

ton/ha.





Sekarang, seperti yang dilakukan oleh para pengusaha singkong di daerah Lampung, Sulawesi

Selatan, serta daerah lainnya, di samping lahan yang digunakan dapat lebih dari 500 ha/kebun,

bahkan ada yang mencapai ribuan ha, juga bibit singkong umumnya merupakan bibit unggul seperti

Manggi (berasal dari Brasil) dengan hasil rata-rata 16 ton/ha, Valenca (berasal dari Brasil) dengan

hasil rata-rata 20 ton/ha, Basiorao (berasal dari Brasil) dengan hasil rata-rata 30 ton/ ha, Muara

(berasal dari Bogor) dengan hasil rata-rata 30 ton/ ha, Bogor (asal dari Bogor) dengan hasil rata-

rata 40 ton/ha. Bahkan, sekarang ada pula jenis unggul dan genjah (cepat dipanen), seperti

Malang-1, dengan produksi antara 45-59 ton/ha atau rata-rata 37 ton, Malang-2, dengan produksi

rata-rata antara 34 - 35 ton/ha.





Semakin banyak petani berdasi yang saat ini mulai melirik budidaya singkong dengan luas tanam di

atas 50 ha, terutama di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan, karena permintaan produk, terutama

dalam bentuk gaplek, tepung gaplek dan tepung tapioka, terus meningkat dengan tajam. Serta

produk olahan singkong Indonesia, terutama dalam bentuk gaplek dan tepung gaplek, dapat bersaing dengan

produk sejenis dari negara-negara di Afrika, juga dari Thailand dan India. H UNUS SURIAWIRIA, Bioteknologi dan

Agroindustri, ITB





C. MENANAM BENSIN DIKEBUN SINGKONG

[ ilmu & Teknologi, Gatra No:13 Beredar senin, 7 Februari 2006]

MENTERI Riset Dan Teknologi Kusmayanto Kadiman ternyata bisa juga jadi supir, Mantan Rektor

Institut Teknologi Bandung itu tanpa canggung duduk dibelakang setir Land Rover Discovery.

Penumpangnya Direktur Jenderal Industri Kimia dan Direktur Jenderal Migas. Mobil kelas atas ini

meluncur dari Gedung BPPT di jalan M. H. Thamrin menuju Monumen Nasional, lalu kejalan Jenderal

Sudirman dan Memutar lagi di Jembatan semanggi balik lagi ke BPPT.

Tak lama Kusmayanto jadi supir kamis terakhir dibulan Januari itu hanya memamerkan kinerja

mobil berbahan bakar Singkong Tapi demo Kusmayanto belum berakhir”Saya akan Promosikan

ke Istana Negara,”katanya . Namun sebelum beranjak ke Istana rupanya gayung sudah bersambut

oleh Gubernur Sutiyoso. Ia akan menjajaki penggunaan “ Bensin Singkong “ itu untuk taksi di

Jakarta.

Bensin Singkong? Tepatnya bensin dioplos alcohol yang dibuat dari ubi kayu. Di dunia dikenal

dengan sebutan gasohol atau gasoline-alkohol. Penelitian gasohol giat dilakukan untuk

mengurangi ketergantungan pada bensin yang diyakini bakal habis ditambang. Salah satunya

alternatifnya mencampurkan etanol kedalam bensin. Etanol mengandung 35 % oksigen, sehingga

meningkatkan efisiensi pembakaran. Juga menaikkan Oktan, seperti zat aditif ( methyl tertiary

buthyl ether – MTBE) dan tetra ethyl lead (TEL) yang umum dipakai berbeda dengan TEL, Etanol

bisa terurai sehingga mengurangi emisi gas buang berbahaya.

Tak mengherankan pemakain Etanol di dunia makin dan makin Besar, Produksi etanol dunia untuk

bahan bakar diduga bakal meningkat dari 19 Milyar liter ( 2001) menjadi 31 Milyar liter ( estimasi

2006). Beberapa Negara di Brasil, Amerika Serikat, Kanada. Uni Eropa dan Australia sudah

menggunakan campuran 63% etanol dan 37% bensin. Sedangkan yang mengisi tangki Land Rover Pak Menteri

itu adalah gasohol Be-10, artinya porsi Bioetanol 10 % dan Bensin 90 %. Dengan porsi 10 % kerja mesinnya bisa

optimal, “kata Agus Eko Tjahyono. Kepala Balai Besar Teknologi Pati, Lampung.

Di Indonesia sendiri gasohol bukan barang baru, di Lampung, gasohol sudah bertahun – tahun

mengisi tangki mobil dan motor para pegawai Bali Besar. Tapi tak pernah dilirik pejabat Jakarta.

Teknologi ini mulai diteliti Balai Besar sejak 1983 dengan bantuan teknis dari lembaga penelitian Jepang,JICA.

Mereka terus mengembangkan teknologi itu dengan tekad mengubah sumber pati tak berharga itu – di lampung,

tiap kilogramnya, harganya tak lebih dari harga sepotong ubi goreng di Jakarta – menjadi bahan bakar bernilai

tinggi. Hasilnya ?”sekarang, gasohol ubi kayu kami termurah didunia. “kata Agus Eko Tjahyono.

Sumber Bioetanol memang tak Cuma singkong, bisa juga tebu,sagu,jagung,gandum,bahkan limbah

pertanian seperti jerami. Di Amerika yang banyak dipakai sebagai sumber pati adalah jagung,tapi

Agus yakin bahan bakar Bakar alternative dari singkongnya mampu bersaing di pasar.

Teknologi kami makin efisien. Ongkos Produksi lebih murah dari minyak tanpa subsidi, “ katanya

untuk skala kecil, kapasitas 60.000 liter per hari biaya produksinya Rp. 2.400, lebih rendah

dibandingkan dengan bensin yang berkisar Rp. 2.600. Menurut Agus, Gasohol juga bisa

mensejahterakan Petani. Contoh tahun 2004, konsumsi bensin 15 Juta Kilo liter. Jika 20 %nya

diganti gasohol BE-10, berarti menghemat 3 juta kiloliter bensin. Setiap liter alcohol. Dihasilkan dari

6,5 Kilogram Singkong artinya butuh 2 juta ton singkong dari lahan 100.000 hektare.

Apabila menggunakan singkong Varietas unggul Darul Hidayah hanya memerlukan lahan seluas

13.500 Ha. Dengan menanam singkong Varietas unggul dapat mengefisiensi :

1. Lahan

2. Bibit

3. Pupuk

4. biaya garapan( olah lahan )

5. penyiangan rumput

6. biaya panen

7. biaya angkut

8. Hasil panen lebih optimal dalam waktu yang lebih singkat sebesar 100 sampai 150 ton dalam jangka

waktu 1 tahun, dari pada singkong konvensional panen dengan hasil 100 - 150 ton dalam jangka waktu

4 tahun

Sedangkan untuk kebutuhan tersebut utnuk memenuhi pasokan kebutuhan lokal saja

BIGCASSAVA.COM hanya mengambil 30 % dari kebutuhan yang ada atau sekitar 100 ton singkong

segar/hari. Apabila target 100 ton singkong segar / hari diolah dalam bentuk chips singkong sebagai

bahan ½ jadi, maka bila 50% dari 100 ton diolah dengan cara padat karya, berdasarkan

pengalamn Pilot Project I per orang setiap harinya mampu menghasilkan Chip singkong segar

sebanyak 300 Kg, artinya apabila setiap harinya dilakukan produksi chip sebesar 50 Ton atau

50.000 kg berarti menyerap tenaga kerja sebanyak 167 orang pekerja/hari, dengan upah chips

sebesar Rp. 6.000/100. Dengan demikian seorang tenaga kerja chips yang bekerja dari jam 07.00

pagi s/d 13.00 siang akan memperoleh pendapatan sebesar Rp. 18.000/orang/hari.

Untuk mendukung Program pengembangan budi daya tanaman singkong Darul Hidayah di

Kabupaten Subang sehingga dapat terlaksana sebagaimana yang direncanakan, maka diperlukan

suatu upaya yang terintegrasi dan Sinergis antara Kopersai, Petani, dan Pemerintah Daerah

Kabupaten Sukabumi maupun Pemerintah Pusat, agar dapat tujuan pengembangan dan

pemberdayaan masyarakat petani dapat tercapai. Salah satu upaya yang harus dilaksanakan adalah

dengan cara memanfaatkan lahan – lahan tidur baik yang dikuasai Pemda maupun dinas

Perkebunan juga Dinas Kehutanan. Dimana berdasarkan hasil survey dan pertemuan dengan

beberapa instansi terdapat ribuan Ha lahan yang menganggur tidak dimanfaatkan secara optimal.

Untuk pupuk kandang BIGCASSAVA.COM telah bekerjasama dengan Koperasi Susu Perah Gunung

Gede Sukabumi& Peternak Ayam potong di Warung Kiara Kabupaten Sukabumi

Pemasaran singkong (segar, Gaplek, tepung ) diperuntukan :

1.Pakan Ternak Sapi Perah , yang sangat tinggi akan karbohidrat yang dapat membantu

menambah produksi susu.

2. Eksportir Gaplek Tepung untuk MEE & Asia khususnya China

3. Pabrik Tapioka

4. Pabrik Etanol

Budidaya Singkong Mekarmanik (varietas lokal manglayang) secara intensif.









Sistem pemupukan (per Hektar)





 Pupuk kandang 5 ton

 Pupuk Kimia (N : P : K) terdiri dari Urea 100kg, TSP 60 kg dan KCL 100 kg

( Awal tanam 1/3 : 1 : 1/3, umur 3 bulan ; 2/3 : 0 : 2/3)

 Pupuk hayati Golden Harvest 8 liter. ( Awal tanam 2 liter kemudian pada umur 2, 4 dan 6 bulan

masing-masing 2 liter)

 Rata-rata umbi yang dihasilkan 15kg per pohon.

Data lab. Ubikayu Mekarmanik (varietas lokal manglayang)

Pusat Penelitian Kimia - LIPI, No. 310/ULJAK/XII/2007



No Jenis/Kode Contoh Parameter Satuan Kadar Keterangan



1 Air % Berat 60,29 SNI 01-2891-1992



2 Pati %Berat 34,66 SNI 01-2891-1992

Singkong Basah

3 Gula Total % Berat 2,33 Luff Schoorl



AOAC

4 Serat Kasar % Berat 6,61

962.09(2000)



5 Pati % Berat 83,03 SNI 01-2891-1992



6 Gula Total % Berat 3,76 Luff Schoorl

Singkong Kering

AOAC

7 Serat Kasar % Berat 7,17

962.09(2000)



Pemesanan bibit :

Teguh Rahayu, telp. 08122040286; email : teguh_r@smsagrobost.com

Segera hadir! Bibit Mekarmanik 2









Ethanol Sebagai Bahan Bakar Kendaraan

Written by Arsjid Mulia



I. TEROBOSAN TEKNOLOGI.



Terobosan Bio –Teknologi, merupakan suatu revolusi iptek seperti ditemukannya

‘transistor’ yang merupakan pondasi dari industri microchip saat ini, ditemukannya

‘petroleum cracking’ yang mengembangkan industri BBM dan ‘petrokimia’, dan

ditemukannya mesin uap yang mengalirkan ‘revolusi industri’.



PT. Sumber Daya Hijau bersama PDBI dan rekan-rekan, berusaha memanfaatkan terobosan-terobosan

teknologi ini dalam industri bahan bakar kendaraan bermotor yang memakai Biomas, limbah pertanian

yang ramah lingkungan sebagai bahan baku.



II. ETHANOL SEBAGAI BAHAN BAKAR KENDARAAN.



Ethanol sebagai bahan bakar kendaraan bermotor sudah dipakai sejak per-mulaan abad ke 20 di Brazil,

Perancis, Jerman, Swedia, U.S.A, India, dsb.



Henry Ford melihat ‘Ethanol’ sebagai bahan bakar untuk kehidupan hari de-pan namun dalam

pengembangan lebih lanjut, BBM dari petroleum yang harganya lebih murah telah menjadi dominan.



Kini Ethanol dipakai secara luas di Brazil dan U.S.A. Semua kendaraan bermotor di Brazil, saat ini

menggunakan bahan bakar yang mengandung paling sedikit kadar ethanol sebesar 20 %. Pertengahan

1980, lebih dari 90 % dari mobil baru, dirancang untuk memakai ethanol murni.



Di U.S.A , lebih dari 1 trilyun mil telah ditempuh oleh kendaraan bermotor yang menggunakan BBM

dengan kandungan ethanol sebesar 10 % dan ken-daraan FFV (Flexible Fuel Vehicle) yang

menggunakan BBM dengan kand-ungan 85 % ethanol (E85, lihat halaman - 2).

Tahun 1999, ethanol merupakan pangsa pasar sebesar 1,2 % dari pasaran BBM.









III. BUTIR-BUTIR ALASAN PENTING MENGAPA ‘ETHANOL’.



3.1. Teknologi Revolusioner.



Selama ribuan tahun, hingga kini, manusia membuat ethanol (alkohol) dari tanaman pangan yang diberi

ragi, seperti buah anggur menjadi arak, barley jadi bir dan beras jadi sake, tergantung dari adat istiadat

setempat. Ethanol untuk konsumsi dunia besarnya 25,6 juta ton dimana nilai untuk non-minuman bernilai

US$ 10 miliar (harga sekarang).

Teknologi yang kini sudah maju, bukan saja mengkonversi hasil pangan menjadi ethanol tapi

mengkonversi bagian lain dari tanaman atau limbah pertanian menjadi ethanol dan produk-produk lain

yang dibuat dari ethanol. Penggunaan limbah pertanian sebagai bahan baku ethanol membuat harga

ethanol lebih rendah lagi.



3.2. Dengan dipakainya 2/3 lebih dari produksi dunia untuk bahan bakar kendaraan bermotor, maka

ethanol adalah bahan bakar non petroleum yang terbesar didunia.



Ini mencakup 41 % dari pasaran bensin di Brazil dan 1,2 % dari pasaran bensin di U.S.A. Potensi ethanol

di pasaran bahan bakar kendaraan bermotor di U.S.A adalah 570 juta ton atau 100 kali dari jumlah

produksi saat kini se-cara global, maka pasaran ethanol yang cukup murah (ex. limbah pertanian)

diperkirakan mencapai 2.000 juta ton (sama dengan 80 kali produksi dunia sekarang).



3.3 Bahan bakar dari minyak bumi adalah sumber utama polusi, sedangkan ethanol dari pertanian (bio-

ethanol) adalah bahan terbaharui (renewable), ramah lingkungan, mengurangi import BBM dan

khususnya buat Indonesia mengalirkan subsidi BBM kepada para petani yang miskin (sektor yang te-pat

menerimanya) melalui penciptaan lapangan kerja yang luas dan sustain-able di perkebunan tanaman

energi.









3.4. Alkimia Baru.



Proses bio dari limbah tanaman adalah permulaan dari perkembangan lebih lanjut pembuatan produk-

produk seperti lactic-acid dan lain-lain bahan kimia yang bernilai tinggi. (lih.lampiran I)





IV. STRATEGY.



4.1. Mempelajari teknologi-teknologi pembuatan ethanol yang siap pakai / proven.



4.2. Merencanakan dan membangun (under license) pilot project untuk menunjukan ke-ekonomian dan

kelancaran operasi proses dengan teknologi yang dipilih pada butir (4.1).



4.3. Pilot Project dirancang untuk mampu mengolah multi-crops (sebagai bahan baku ethanol: singkong,

jagung, bagasse, jerami).



4.4. Mengembangkan budi-daya singkong sedemikian rupa sehingga pro-duktivitas singkong menjadi

tinggi dan harga singkong menjadi lebih murah, karena 60 % harga ethanol ditentukan oleh harga bahan

baku.

V. CONTOH PROSES BIOMASS MULTI CROPS.



Di Thailand sedang dikembangkan pesat ‘Thermophilic Bacilli’yang mem-produksi lactate. Ini adalah

bahan penting untuk membuat polymer berupa bahan plastik, seperti polyacrylate, polyactide. (lih.contoh

Golf Tee dari Jagung).



Pasaran lactic acid dunia bernilai US$ 80 juta. Jika harga lactic acid dapat ditekan melalui proses biomas

ethanol maka industri bio-degradable plastic akan cepat berkembang luas.









MENGEMBANGKAN PRODUKTIVITAS SINGKONG

(Bahan Baku Utama)

JANGKA PENDEK 200 Ha.

I. Eksperimen 2003 membuka jalan Ethanol yang murah

Mengingat harga Ethanol terutama ditentukan (60%) oleh harga singkong sebagai

bahan baku, maka usaha difokuskan kepada peninggian produktivi-tas per Ha, namun

pendapatan petani tetap lebih baik dari yang kini ada, walau harga singkong dapat

ditekan menuju ke tingkat harga Rp. 70 / Kg.

Dalam th. 2003, Ir. Arsjid Mulia, Ir. Harefah, Drs. Yordan Bangsaratoe, and Tukul

Sufianto (Anton) menanda tangani Perjanjian Kerja Sama untuk menanam Singkong dengan

menggunakan pertanian intensif agar produktivitas tanaman singkong per Ha di Lampung meningkat.

Dengan demikian pendapatan Petani diharapkan juga meningkat dan Industri Tapioka memperoleh bahan

bakunya lebih cukup, namun semuanya tetap layak usaha . Ethanol bisa dibuat dengan harga dibawah

Rp.1.600 / liter. Berarti sudah lebih murah dari harga bensin yang di subsidi yang kini dijual dengan

harga SPBU Pertamina Rp. 1,800 /liter (Pre-mium, oktan 88) Padahal ethanol murni mempunyai angka

oktan 115. Terobosan dalam pertanian ini harus menjadi terobosan bagi BPPT Sulusuban untuk men-jadi

ujung tumbak dalam memproduksi bahan bakar kendaraan Ethanol Singkong dan akhirnya menjadi

terobosan bangkitnya sektor riel seluruh Indone-sia.

Hasil panen 5 Januari 2004 dari cultivar ‘Aldira Plus’

menghasilkan produktivitas rata-rata sebesar 20.7 Kg.

per pohon, dimana hasil terbesar per pohon asalah 27

Kg umbi. (lihat foto terlampir). Usia panen adalah 12

bulan dan jumlah po-hon yang ditanam adalah 277

batang, dengan jarak tanam 1.5m x 1.0m. Produk-

tivitas ini setara dengan 120 Ton / Ha. Lampung rata-

rata saat ini = 12.4 ton per Ha.

Kondisi tanah adalah marginal (Podzolik, merah -

kuning) dan klimat tipe– C, menurut Olderman

Kadar pati yang diuji: 29 % untuk usia panen 12 bulan,

dan 21 % untuk usia panen 5 bulan.



II. Ke-Ekonomian

Dari eksperimen ini didapat perhitungan indikator keekonomian yang sangat menarik ( dari catatan biaya

yang dikeluarkan dan hasil penjualan ke pabrik tapioca)

Hasilnya sebagai berikut :

Investasi per Ha. = Rp. 12.7 juta, siklus proyek = 3.6 tahun ( 3 x panen). IRR = 68% ; ROI = 35%; dan

ROA = 85%

Pendapatan petani diproyeksikan = Rp. 7 juta / tahun, (tidak memiliki lahan) Jika petani memiliki lahan

1 ha. maka pendapatannya = Rp. 11.5 juta /tahun.

Harga singkong yang didapat diproyeksikan berada sekitar Rp. 70/Kg dengan pendapatan rata-rata petani

= Rp. 7.9 juta. (Lampung rata-rata Petani penghasilannya dibawah Rp. 7 juta)



III. Perlu Pilot Proyek yang lebih luas (200 Ha.)

Hasil dari eksperimen 2003 diatas cukup memberi harapan, oleh karena itu memerlukan konfirmasi lebih

lanjut untuk penanaman le-bih lanjut pada lahan yang lebih luas, 200 Ha. Melalui kerja sama dengan

partner strategik, yang mencakup budi daya singkong dan permodalan. Menurut para ahli hasil tanam

pada lahan yang lebih luas biasanya akan turun karena kemampuan mengontrol pada mutu pelaksanaan

budaya tanam singkong secara intensif menurun (mutu dan disiplin kerja petani). Pilot proyek ini sedang

dalam persiapan.

Hasil dari pilot proyek semacam ini akan sangat penting artinya, karena akan membuka jalan menuju

pelaksanaan program Penciptaan Lapangan Kerja se-cara nasional, khususnya menjawab pertanyaan

‘berapa biaya yang bisa dilak-sanakan untuk menerapkannya di seluruh Provinsi Lampung’ ?, yang

kemudian akan menjadi model untuk seluruh Indonesia.

Untuk memperluas lapangan kerja yang berkesinambungan diselu-ruh Nusantara maka didalam:



Jangka Panjang

Rencana Pembangunan 380 Kilang Ethanol @ 15.000 KL tersebar di seluruh Indonesia.









Lapangan Kerja buat: 380.000 petani/KK dan 2.280 sarjana.







Sekilas tentang Arsyid Mulia:



Beliau saat ini adalah direktur PT Sumber Daya Hijau yang mengkampanyaken penggunaan ethanol

sebagai energi alternatif. Beliau juga menjadi PresDir PDBI (Pusat Data Bisnis Indonesia). Pak Arsyid

Mulia adalah angkatan 1962 Teknik Fisika ITB.

Last Updated ( Monday, 12 April 2004 )





Comments

pak......didaerah saya banyak petani singkong, tolong beri saya desain peralatan untuk membuat ethanol

skala 100 Ltr/hari..terima kasih

Posted by Khairul Bahri, on Friday, 13 June 2008 at 12:15



tolong minta cara pembuatan bioetanol singkong dan berapa harga mesinya untuk skala industri kecil dan

jualnya kemana terimakasih

Posted by erik, on Wednesday, 11 June 2008 at 10:20



saya tertarik dengan usaha bio-ethanol, saya mau bertanya: bagaimana proses cara pembuatan bio-ethanol

dan berapa harga mesin pembuatan bio-ethanol dari skala rumah tangga sampai skala industri besar? dan

satu pertanyaan lagi: dimana?Ditoko apa? dan bagaimana saya dapat membeli mesin pembuatan bio-

ethanol? terima kasih, putra gunawan ( p_gun87@yahoo.com )

Posted by putra gunawan, on Thursday, 05 June 2008 at 5:38



minta info tentang cara pembuatan bioethanol skala kecil,semoga dapat membantu orang yang

memerlukannya.mengapa sampai sekarang belum dijalankan proyek ini???

Posted by arief, on Thursday, 22 May 2008 at 12:31



mohon informasinya detail mengenai bau menyengat yang diakibatkan pembangunan industri etanol? apa

dampak kesehatan bagi manusia, lingkungan dan biota sungai? bagaimana solusi untuk menghilangkan

bau yg sangat mengganggu tsb? atas perhatian dan bantuannya saya ucapkan terima kasih

Posted by Pu3, on Monday, 28 April 2008 at 12:55



setiap sesuatu berlaku hukum sebab akibat, jika kita mempropagandakan pemakaian bio-energi. yang

nota bene barasal dari pertanian dan perkebunan. jk lahan dan hasilnya berlomba lomba di peruntukkan

untuk bio-energi sedangkan manusia jg butuh jg untuk lahan-pertanian yg dipakai untuk konsumsi

otomtis bahan2 konsumsi harganya melambung yang disebabkan penggunaan lahan dan hasilnya untuk

bio-energi. trus bagaimn nasib manusia/negara miskin??? harga kebutuhan pokok melambung?? manusia

tahan menghadapi panas tapi tak kan mampu menghadapi lapar dan kelaparan?? untuk apa berbuat

sesuatu yang mungkin dari satu sudut pandang menyelamatkan dunia tapi satu sisi yg lain malah

mengorbankan orang2 kecil/kemanusiannya dengan kelaparan.., jadilah pengembil keputusan dan

kebijakan yang slalu membawa keuntungan dan kemakmuran bagi seluruh mahluk bukan

segelintir...hiduplah dengan keadilan bukan keserakahan, kt semua bakal mati apa yang akan kt bawa saat

ajal menjemput selain amal kebajiakan tiap2 amal perbuatan kt akan dimintai pertanggung jawaban

sekecil apapun. kita diutus sbg kholifah untuk seluruh alam.

Posted by Riduwan, on Wednesday, 23 April 2008 at 8:13









Produksi Singkong Meningkat dengan Pupuk Organik

Ani Purwati



14 January 2007

Produksi singkong di Indonesia dapat meningkat dengan menambahkan bahan organik ke dalam tanah.

Bahan organik (kompos) yang ditambahkan ke dalam tanah berfungsi sebagai sumber unsur hara dan

memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Demikian disampaikan DR. Ir. Basuki Sumawinata dari

Fakultas Pertanian, Departemen Ilmu Tanah, Institut Pertanian Bogor (IPB) dalam sebuah seminar yang

diselenggarakan BPPT di Jakarta pada Desember 2006 yang lalu.



Organisme tanah, menurut Basuki, memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi. Lalu, melalui

asam humiknya, organisme ini dapat mempertahankan struktur tanah, sehingga sifat fisik tanah seperti

infiltrasi dan drainase baik untuk pertumbuhan tanaman.



Selain itu, asam humik juga memegang peranan penting dalam menonaktifkan senyawa racun seperti

aluminium. Sehingga walaupun tanah berjenis masam (seperti di Bogor), dengan bahan organik yang

cukup tinggi, ternyata tanaman singkong dapat berproduksi dengan tinggi.



Masih menurut Basuki, pada umumnya di kalangan petani berkembang pendapat bahwa singkong

merupakan tanaman yang boros mengambil unsur hara. Sehingga sering menyurutkan niat investor untuk

berkecimpung di bidang tanaman ini. Pendapat tersebut sejalan dengan hasil penelitian Kanapathy

(1974). Pnelitian ini menunjukkan bahwa unsur hara yang keluar dari siklusnya di tanah sebagai akibat

dari proses pemanenan pada tanaman singkong, lebih tinggi dibandingkan tanaman lahan kering lainnya

seperti kelapa sawit, karet, atau jagung.



Akan tetapi menurutnya, data penelitian tersebut sangat sulit diambil sebagai kesimpulan. Mengingat

total unsur hara yang terangkut saat pemanenan sangat tergantung pada kesuburan tanah dan jumlah

singkong yang diproduksi. Lalu Howler (1981), mengumpulkan informasi tentang kandungan unsur hara

yang diangkut per ton singkong yang dihasilkan.



Informasi itu menunjukkan bahwa jumlah unsur hara yang terangkut, erat hubungannya dengan

produktivitas. Sehingga jika bagian tanaman lainnya selain umbi dikembalikan lagi ke tanah, maka unsur

hara yang hilang sebenarnya jauh lebih kecil daripada tanaman seperti padi dan jagung. Apabila ampas

dari proses pembuatan tepung juga dikembalikan, maka unsur hara yang hilang akibat proses produksi

singkong ini sangat kecil.



Hasil penelitian Nijholt (1933) juga menunjukkan bahwa produksi singkong mencapai 52 - 64,6 ton

umbi. Jumlah ini sangat berbeda dengan produksi singkong di sekitar Bogor saat ini yang hanya berkisar

15-20 ton/hektar. Mengingat usaha budidaya singkong selalu menambahkan pupuk buatan dalam bentuk

urea, TSP/SP 36, dan kadang-kadang KCL, maka tentunya penurunan unsur hara tanah tidak terlalu

nyata.



Satu-satunya kemungkinan yang dapat menjadi dasar perbedaan produktivitas singkong yang sangat

nyata di Bogor menurut Bauski adalah penurunan kandungan bahan organik.



Sementara itu dijelaskannya lagi, produktivitas lahan rata-rata di Thailand meningkat 15 ton per hektar

pada 1995 menjadi 20,3 ton per hektar pada 2005. Hal ini juga memastikan peranan pemberian bahan

organik ke dalam lahan budidaya singkong sangat nyata meningkatkan produktivitas. Di mana pengusaha

tepung singkong di Khorat dan daerah lainnya mengkombinasikan usaha tepung singkong dengan usaha

biogas dan pengembalian bahan organik hasil dekomposisi dari sistem biogas.



Strategis hasilkan zat tepung

Peningkatan produksi singkong merupakan tindakan yang sangat strategis. Pemenuhan zat tepung untuk

konsumsi masih kekurangan. Sementara itu kebutuhan zat tepung sebagai bahan baku untuk biofuel juga

sangat besar. Sebagai salah satu tanaman penghasil zat tepung utama selain beras, singkong merupakan

tanaman yang sangat besar menghasilkan tepung per tahun. Selain itu dapat tumbuh di lahan yang kurang

subur.



Walaupun singkong merupakan tanaman yang relatif dapat tumbuh dan berproduksi pada lahan-lahan

yang marginal dan telah dikenal luas di Indonesia, namun data produksi singkong di Indonesia lebih

rendah daripada Thailand.



Hasil ini menjadi lebih nyata bila dibandingkan dengan data rendemen zat tepung terhadap singkong. Di

Indonesia, rendemen zat tepung pada singkong berkisar 16 persen – 17 persen. Sedangkan di Thailand

dapat mencapai rata-rata 19 persen. Padahal varietas singkong yang ditanam umumnya sama yaitu

Kasesat 4 dan UJ 4 dan 5.



Iklim dan tanah bervariasi

Singkong dapat tumbuh pada berbagai kondisi iklim dan tanah yang cukup bervariasi. Umumnya, para

peneliti yakin dengan suhu tanah rata-rata di atas 18 derajat Celcius. Sedangkan kebutuhan curah hujan

minimum harus di atas 1000 mm. Meski demikian ada juga yang berpendapat bahwa singkong dapat

tumbuh dengan baik pada lahan bercurah hujan lebih rendah dari 1000 mm asalkan dua bulan pertama

dari penanaman tidak mengalami kekurangan air.



Sebagai tanaman umbi-umbian, singkong membutuhkan drainase tanah yang baik seperti tanah bertekstur

lempung berpasir sampai lempung berliat. Akan tetapi beberapa data menunjukkan bahwa tanaman

singkong masih dapat berkembang baik pada tanah dengan kandungan liat yang tinggi.



Singkong juga jauh lebih toleran terhadap kemasaman tanah dan keracunan aluminium daripada tanaman

lahan kering lainnya seperti jagung dan kedelai. Tapi, kondisi yang paling optimum adalah bila singkong

berkembang pada tanah ber-pH 6 - 7. Hasil penelitian CIAT pada 1976 menunjukkan bahwa pada tanah

masam, umumnya singkong mengalami hambatan pertumbuhan. Itu disebabkan keracunan aluminium

atau mangan, kekurangan fosfor dan kalsium.



Kurangnya pemberian bahan organik, dan tidak dikembalikannya sisa-sisa tanaman juga menyebabkan

menurunnya aktivitas organisme tanah dan menurunkan kemantapan struktur tanah sehingga tanah

menjadi padat. Sebagai akibatnya, akar tanaman menjadi kurang berkembang. Terlebih lagi pupuk kimia

menjadi sangat beracun dan menurunkan produktivitas.



Sumber: http://beritabumi.or.id/berita3.php?idberita=642 . Diedit oleh: Ardi Bramantyo



DPD: Jadikan penggunaan energi alternatif gerakan nasional

30 Nov 2005 09:25:51



Panitia Ad Hoc II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) akan mendesak pemerintah menjadikan penggunaan

energi alternatif sebagai gerakan nasional.



Menurut Ikhwan Mansyur Situmeang, Staf DPD, mengungkapkan bahwa pernyataan tersebut

mengemuka dalam sesi rapat PAH II DPD. Rapat mengagendakan Laporan Tim Kerja PAH II DPD yang

mengadakan kunjungan kerja ke NTT dan Lampung. Rapat PAH II berlangsung di Ruang Rapat PAH II

Gedung DPD, Senayan, Senin (28/11)



Dalam laporannya, Kasmir Tri Putra (Lampung) dan M Lalu Yusuf (NTT) menyatakan, pengembangan

energi alternatif yang sudah berjalan di daerah tersebut adalah minyak jarak dan briket batu bara.



Menurut Kasmir, kunjungan kerja Tim Kerja PAH II DPD ke Lampung antara lain melihat pabrik

pengolahan briket batu bara dan bioethanol. Ia mengatakan, Balai Besar Teknologi Pati (B2TP) Badan

Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Lampung berhasil membuat bioetanol dari bahan baku

singkong atau ketela pohon sejak 1983, bekerja sama dengan lembaga penelitian Jepang, JICA.



Bioetanol jika dicampur dengan bensin premium (komposisi 10:90) memiliki kinerja lebih baik

ketimbang bensin premium maupun Petramax. Bensin campur bioetanol yang dinamakan Gashol BE-10

itu menghasilkan emisi karbon monoksida dari total hisrogen yang lebih rendah daripada yang dihasilkan

besnin premium dan petramax.



"Lokasi membuat etanol dengan prinsip fermentasi ini ada di Desa Selusuban, Bandar Jaya, Lampung

Tengah," tulis Situmeang dalam rilisnya.



Sebagai sumber biofuel, harga singkong Rp500 per kg merupakan nilai ekonomis yang bisa dijadikan

sebagai basis harga pasar, lebih baik daripada harga pasar singkong sekarang yang hanya Rp300 per kg.

Keadaan ini, kata Kasmir, patut menjadi perhatian. "Mengapa di tengah kita mencari energi alternatif

tetapi yang disubsidi justru BBM yang mau digantikan?."



Kasmir juga melaporkan potensi butu bara di Lampung yang masih sangat besar, hanya saja belum

dieksploitasi karena kualitas kalori batu bara yang rendah. "Kualitas batu bara seperti ini justru cocok

untuk briket. Kalau bisa dikembangkan, sekaligus kita mengembangkan batu bara."



Tungku briket batu bara yang paling layak dikembangkan terbuat dari tanah liat seharga Rp40 ribu per

unit. Jika ingin pengembangan tungku briket 1 juta, butuh subsidi cukup besar dengan catatan setiap

keluarga mendapat 2 unit tungku.



Kasmir juga menjelaskan potensi biothermal di Lampung yang mencapai 20 titik tetapi belum dilirik

menjadi sumber daya energi alternatif yang bisa dikembangkan lebih lanjut. "Jika proyek PLPB Bedugul

di Bali dibatalkan, Lampung sudah siap menggantikan dengan kapasitas 400 MW. Kalau ingin

dimasukkan dalam jalur kelistrikan Jawa-Bali, tinggal lempar kabel saja ke Suralaya."



Potensi yang juga belum dipahami dengan baik sebagai sumber daya energi alternatif, air di bendungan

dan waduk. Menurut Kasmir, yang belum dikembangkan pemanfaatannya, waduk yang besar-besar. Jika

dikampanyekan penggunaan energi alternatif ini, kata dia, banyak potensi yang bisa dikembangkan.

Anggota DPD dari Jawa Tengah, Budi Santoso dalam tanggapannya, menyinggung pemakaian briket

batu bara yang bisa menimbulkan kanker paru-paru seperti di RRC.



Kasmir mengaku juga mempertanyakan masalah tersebut kepada kepala pabrik briket di Lampung. Kalau

melihat hasil tungku, kata dia, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sekalipun bukan dalam kapasitas

sebagai ahli kesehatan, hasil panas briket diyakini tak membahayakan.



Kasmir menegaskan, kampanye energi alternatif di masyarakat sudah menggaung, sehingga sangat layak

menjadi isu utama DPD ke depan. "Saya cenderung ingin menjadikan ini sebagai isu utama terutama

ketika DPD bertemu eksekutif, daripada ikut membahas isu lain yang hanya menjadi tong sampah DPR."



Sarwono Kusumaatmadja, anggota DPD dari DKI Jakarta menyatakan, bahan kunjungan kerja ini akan

menjadi Terms of Reference (ToR) dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Ia setuju akan

menjadikan energi alternatif sebagai isu utama DPD, karena alasan pengembangan energi alternatif ini

berbasis masyarakat dan desentralisasi sumber daya energi.

TUGAS MAKALAH

MATA KULIAH MASALAH KHUSUS AGRONOMI

PNA 620



PENINGKATAN PRODUKTIVITAS SINGKONG DENGAN TEKNOLOGI MUKIBAT SEBAGAI

SUMBER BAHAN BAKU BIOETHANOL









Oleh :

Purwanto

07/260162/PPN/3219









PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS GADJAH MADA

YOGJAKARTA

2007

A. Pendahuluan



Dalam sejarah, manusia tidak pernah lepas dari ketergantungan dengan energi. Konsumsi energi

dalam jumlah besar merupakan ciri dari peradaban modern. Sejak ditemukannya api manusia melai

merekayasa energi. Seiring dengan kebutuhan, tingkat rekayasa energi semakin besar. Hal ini tak pelak

menuntut pengeksploitasian sumber-sumber energi yang semakin besar dan gencar. Namun hal ini masih

terbatas pada sumber-sumber energi tak terbarukan (minyak bumi, gas alam dan Batubara) (Anonim,

2007).



Sejak beberapa tahun terakhir ini Indonesia mengalami penurunan produksi minyak nasional yang

disebabkan secara alamiah cadangan minyak pada sumur-sumur yang berproduksi. Dilain pihak

pertambahan penduduk telah mengakibatkan meningkatnya kebutuhan sarana transportasi dan aktivitas

industri yang berimbas pada peningkatan kebutuhan dan konsumsi bahan bakar sehingga untuk

memenuhinya Indonesia harus import.



Besarnya ketergantungan pada bahan bakar import semakin memberatkan Pemerintah. Ketika harga

minyak dunia terus meningkat seperti pada saat ini mencapai 90 $ US mengakibatkan semaikin berat

beban subsidi yang harus ditanggung Pemerintah sehingga harus dikurangi dan ini berakibat naiknya

harga bahan bakar minyak.



Melihat kodisi ini, Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia No. 5

tahun 2006 tentang kebijakan Energi Nasional untuk mengembangkan sumber-sumber energi alternatif

sebagai pengganti Bahan Bakar Minyak. Walaupun kebijakan ini menekankan penggunaan batubara dan

gas sebagai pengganti bahan bakar minyak, kebijakan tersebut juga menetapkan sumber daya yang dapat

diperbaharui seperti bahan bakar alternatif pengganti bahan bakar minyak. Selain itu, pemerintah serius

untuk mengembangkan bahan bakar nabati dengan menerbitkan INPRES No. 1 tahun 2006 tanggal 25

Juni 206 tentang penyediaan bahan bakar nabati (Biofuel) sebagai sumber bahan bakar (Martono dan

Sasongko, 2007).



Tabel 1. Jenis Tumbuhan Penghasil Energi



Jenis Tumbuhan Produksi Ekivalen

Minyak (Liter Energi(kWh per

per Ha) Ha)

Elaeis guineensis (kelapa sawit) 3.600-4.000 33.900-37.700

Jatropha curcas (jarak pagar) 2.100-2.800 19.800-26.400

Aleurites fordii (biji kemiri) 1.800-2.700 17.000-25.500

Saccharum officinarum (tebu) 2.450 16.000

Ricinus communis (jarak kepyar) 1.200-2.000 11.300-18.900

Manihot esculenta (ubi kayu) 1.020 6.600





Bahan bakar nabati yang dapat dikembangkan adalah biodiesel dan bioethanol. Bahan baku hayati

biofuel dapat berasal dari produk-produk dan limbah pertanian yang sangat berlimpah di Indonesia.



Saat ini teknologi yang berpeluang dikembangkan untuk pengadaan energi biofuel adalah produksi

ethanol. Ethanol memiliki kandungan oksigen lebih tinggi sehingga terbakar lebih sempurna, bernilai

oktan lebih tinggi, ramah lingkungan karena mengandung emisi gas karbon monoksida lebih rendah

dibandingkan dengan bahan bakar minyak (Anonim, 2007).

Tabel. 2 Konvensi biomasa menjadi bioethanol



Biomasa (kg) Kandungan gula (Kg) Jumlah hasil bioethanol Biomasa :Bioethanol

(Liter)

Ubi kayu 1.000 250-300 166,6 6,5 : 1

Ubi jalar 1.000 150-200 125 8:1

Jagung 1.000 600-700 400 2,5 : 1

Sagu 1.000 120-160 90 12 : 1

Tetes 1.000 500 250 4:1







Menurut Martono dan Sasongko (2007) Indonesia memiliki 60 jenis tanaman yang berpotensi

menjadi bahan bakar alternatif diantaranya kelapa sawit, kelapa, jarak pagar, kapuk yang bisa dijadikan

biodiesel untuk bahan bakar alternatif pengganti solar; dan tebu, jagung, singkong ubi serta sagu yang

bisa dijadikan bioethanol untuk dijadikan bahan bakar alternatif pengganti premium. Bahan baku biofuel

yang potensial untuk diukembangkan di Indonesia terutama adalah Ubi kayu.



B. Potensi Produksi Singkong Sebagai Penyedia Bahan Baku Bioethanol



Berdasarkan kontribusi terhadap produksi nasional terdapat sepuluh propinsi utama penghasil

singkong yaitu Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung, Sumatera Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku,

Sumatera Selatan dan Yogyakarta yang menyumbang sebesar 89,47 % dari produksi Nasional sedangkan

produksi propinsi lainnya sekitar 11-12 % (Agrica, 2007).



Indonesia termasuk sebagai negara penghasil ubi kayu terbesar ketiga (13.300.000 ton) setelah Brazil

(25.554.000 ton), Thailand (13.500.000 ton) serta disusul negara-negara seperti Nigeria (11.000.000 ton),

India (6.500.000 ton)dari total produksi dunia sebesar 122.134.000 ton per tahun (Bigcassava.com, 2007).



Potensi Pengembangan ubi kayu di Indonesia masih sangat luas mengingat lahan yang tersedia untuk

budidaya ubi kayu cukup luas terutama dalam bentuk lahan di dataran rendah serta lahan-lahan di

dataran tinggi dekat kawasan hutan. Dalam upaya penyediaan bahan baku yang besar dan kontinu untuk

bioethanol, pengusahaan ubi kayu perlu dilakukan dalam bentuk perkebunan dengan luas areal diatas

lima hektar mengingat selama ini belum diusahakan dan masih merupakan kebun sela atau tumpangsari

ataupun hanya merupakan kebun sambilan.



Permasalahan utama dalam produksi ubi kayu adalah produktivitas yang masih rendah yaitu 12,2

ton/ha (Agrica, 2007) dibandingkan dengan India (17,57 ton), Angola (14,23 ton/ha), Thailand (13,30

ton/ha) dan China (13,06 ton/ha) (bigcasssava.com, 2007). Disamping itu, produktivitas ubi kayu di

Indonesia masih sangat berfluktuatif. Di Daerah Istimewa Yogyakarta terutama di Kabupaten Gunung

Kidul dari tahun 1998 sampai dengan 2005 mengalami fluktuasi produktivitas anatar 127 kw/ha samapi

174 kw/ha dan produksi tertinggi sebesar 812.321 ton (Martono dan Sasongko, 2007)



Grafik 1. Trend Luas Panen Ubi Kayu (Hektar) di Kabupaten se Daerah Istimewa

Yogyakarta









Grafik 3. Trend ProduksiUbi Kayu (Hektar) Kabupaten Gunung Kidul

Tahun 1998 s/d 2005





Dalam upaya penyediaan bahan baku bioethanol, usaha yang perlu diperhatikan terutama adalah

peningkatan produksi dan produktivitas ubi kayu dengan masukan teknologi budidaya yang tepat.

Rendahnnya produktivitas disebabkan oleh pengunaan varietas lama dan produksinya masih sampingan.

Oleh karena itu dalam pengusahaannya perlu dilakukan secara perkebunan dengan bibit yang memiliki

kapasitas sink dan source yang kuat.



C. Peningkatan Produktivitas Ubi Kayu Melalui Teknologi Singkong Mukibat



Peningkatan produksi tanaman ubi kayu dapat dilakukan dengan pengusahaan secara perkebunan atau

pengusahaan dalam skala besar untuk memenuhi kebutuhan bahan baku untuk bioethanol dengan arah

pengembangan di lahan-lahan marjinal. Permasalahan utama dalam produksi ubi kayu adalah

produktivitas tanaman yang masih rendah.



Dalam upaya meningkatkan produktivitas tanaman ini perlu masukan teknologi yang dapat

meningkatkan hasil per tanaman ubi kayu. Teknologi yang memungkinkan untuk di introduksi dalam

rangka meningkatkan hasil adalah dengan menggunakan klon-klon ubi kayu yang mempunyai kapasitas

sumber yang besar atau dengan kombinasi antara klon yang mempunyai sumber besar dan lubuk yang

besar pula sehingga produktivitas tanaman meningkat, salah satunya adalah dengan menggunakan

teknologi mukibat.



Ubi kayu mukibat merupakan tanaman hasil sambung atau grafting antara ubi karet sebagai batang

atas dan ubi biasa sebagai batang bawah. Pemilihan ubi karet sebagai batang atas dengan dasar bahwa ubi

karet kapasitas sumber besar, daun besar, dan warna hijau tua, sehingga tanaman mempunyai luas daun

lebih luas dan laju fotosintesis lebih besar. Menurut Glodsworthy dan Fisher (1992) ubi kayu secara

bersama-sama mengembangkan luas daun dan akar yang secara ekonomi berguna sehingga persediaan

fotosintat/asimilat yang ada dibagi antara pertumbuhan daun dan akar. Hal ini berarti ada indek luas daun

optimum untuk pertumbuhan akar. Rekayasa meningkatkan keseimbagan antara sumber dan lubuk

dengan menggunakan teknik mukibat diharapkan dapat meningkatkan hasil tanaman.



Karakteristik daun ubi karet dengan daun besar dan hijau diharapkan dapat memanfaatlkan radiasi

sinar matahari secara efisien. Menurut Gardner et al., 1991) spesies tanaman budidaya yang efisien

cenderung menginvestasikan sebagian besar awal pertumbuhan dalam bentuk penambahan luas daun,

yang berakibat pemanfaatan radiasi matahari yang efisien. Cock (1992) menyatakan bahwa beberapa sifat

tipe tanaman yang akan memberikan hasil lebih tinggi yaitu luas daun terbesar harus tidak kurang dari

500 cm2, cabang pertama harus terbentuk enem bulan pertama setelah penanaman, dan umur daun

individual harus lebih dari seratus hari, sehingga tanaman akan memberikan keseimbangan optimum

antara luas daun (source) dan pertumbuhan akar (sink). Dengan demikian untuk meningkatkan hasil

tanaman dilakukan dengan meningkatkan laju pertumbuhan tanaman per satuan luas daun. Penggunaan

ubi karet sebagai batang atas dengan morfologi daun yang lebih luas dan hijau berarti mempunyai

kemampuan untuk mempertahankan fotosintesisnya sampai laju maksimum untuk jangka waktu yang

panjang. Pada tanaman ubi kayu penyimpanan dalam akar terjadi apabila daun secara fotosintesis aktif,

bukan pada saat laju fotosintesisnya menurun karena umur tanaman. Laju pertumbuhan yang meningkat

akan meningkatkan hasil umbi sampai dua kali lipat peningkatan laju pertumbuhan tanaman dan juga

akan meningkatkan LAI optimum. Menurut Alves (2002) pada tanaman singkong terdapat korelasi yang

positif antara luas daun atau lamanya luas daun terhadap hasil umbi, hal ini mengindikasikan bahwa luas

daun merupakan hal penting yang menentukan laju pertumbuhan tanaman dan laju akumulasi fotosintat

pada bagian penyimpanan pada tanaman singkong.



Hasil penelitian Ahit et al., (1981) menunjukan bahwa penggunaan teknologi mukibat dapat

meningkatkan pertumbuhan tanaman dan hasil yang lebih tinggi yaitu tanaman memiliki stuktur tanaman

lebih tinggi, diameter akar yang lebat dengan bobot yang lebih tinggi serta LAI yang lebih tinggi

dibandingkan dengan tanaman ubi kayu biasa. De Bruijn dan Guritno (1990) menyatakan bahwa

peningkatan produksi ubi kayu sistem mukibat maningkat 30% dan bahkan dapat mencapai lebih dari 100

% tergantung pada kondisi wilayah penanaman.



D. Penutup



Penurunan produksi minyak bumi nasional dan kenaikan harga minyak dunia yang semakin tinggi

perlu disikapi dengan mencari sumber energi alternatif bersumber pada bahan terbaharui atau bahan

bakar nabati. Bioethanol berbahan baku singkong cukup potensial untuk dikembangkan mengingat masih

tersedianya lahan untuk budidayanya dengan didukung teknologi budidaya. Teknologi singkong

mukibat dapat dikembangkan untuk peningkatan produksi singkong untuk bioethanol. Penggunaan

teknologi mukibat dapat meningkatkan produksi singkong antara 30 % sampai dengan 100 %.









DAFTAR PUSTAKA



Agrica. 2007. Bensin Singkong. Lembaga Pers Mahasiswa AGRICA Fakultas Pertanian

Unsoed Purwokerto, Edisi XIX/Tahun XXI September 2007



Ahit, O.P.; S.E. Abit and M.B. Posas. Growth and development of Cassava Under The

Traditional and The Mukibat System of Planting. Annal of Tropical Research 3(3): 187-

198.



Alves, A.A.C. 2002. Cassava Botany and Physiology. CAB International.



Anonim. 2007. Saatnya Eksplorasi Bahan Bakar Hayati. http://www.bppt.go.id



Bigcassava.com. 2007. Proyek Pengembangan Budi Daya Singkong Varietas Darul

Hidayah Sebagai Upaya Meningkatkan Tarap Kehidupan Ekonomi Petani, Sekaligus

Mengintip Peluang Pengembangan Bahan Baku Biofuel. http://www.bigcassava.com



Cock, J.H. 1992. Ubi Kayu. in Goldsworthy, P.R. dan N.M. Fisher. 1992. Fisiologi

Tanaman Budidaya Tropik. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta



De Bruijn, G.H. and Bambang Guritno. 1990. Farmer Experimentation With Cassava

Planting in Indonesia. Departemen of Tropical Crop Science. Wageningen Agriculture

University, Netherlands



Gardner, F.P., R.B. Pearce dan R.L. Mitchell. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.

Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.



Goldsworthy, P.R. dan N.M. Fisher. 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Tropik. Gadjah

Mada University Press, Yogyakarta.



Martono, B. dan Sasongko. 2007. Prospek Pengembangan Ubi Kayu Sebagai Bahan Baku

Bioethanol. http://www.diy.go.id

China Akan Garap Produk SINGKONG WonogiriOleh admin

Kamis, 18 Januari 2007 06:20:17 Klik: 139

Saat ini, jelas Budiyasa, China kekurangan bahan baku bioethanol sebanyak 3,5 juta ton/tahun. Menurut

Budiyasa, kebutuhan itu akan bisa tercukupi di tiga daerah segitiga selatan tersebut. ”Kami sudah ke

Gunungkidul dan diperoleh informasi produksi singkong di Gunungkidul mencapai 800.000 ton/tahun.

Kekurangan itu bisa ditutup di dua daerah Wonogiri dan Pacitan.”

Lebih lanjut Budiyasa menjelaskan sistem yang dibangun adalah pola kerja sama antara BUMD dengan

UKM di China. ”Kerja sama awal akan berlangsung selama tiga tahun. Tahun kedua China akan ke

Wonogiri untuk menanamkan investasi dengan membangun pabrik. Pembangunan pabrik didasarkan atas

tercukupinya bahan baku. Untuk bibit singkong ICSME yang menyediakan dan petani bisa membeli di

BUMD.”

Konsultan Pertanian dan Pemerhati Biofuel, Suyono, memberikan analisis usaha tani budidaya ketela

pohon atau singkong.

Dia mengatakan untuk setiap hektare lahan membutuhkan biaya produksi senilai Rp 5,2 juta. Pendapatan

per hektare dengan produksi 20 ton mencapai Rp 12 juta, sehingga petani akan untung Rp 6,8 juta/ha.

Staf ahli utama bidang ekonomi, pembangunan dan keuangan Pemerintah Kabupaten (Pemkab)

Wonogiri, Damiri, menyatakan Pemkab menyambut positif investor negara asing. ”Bioethanol nanti

menjadi sumber energi alternatif dan saat ini sepertiga kebutuhan dicukupi oleh negara Vietnam. Jadi,

budi daya singkong ini cukup bagus dan menghasilkan.”

Asisten Bidang Pemerintahan dan Pembangunan, Suprapto, mengatakan produksi singkong di Wonogiri

saat ini mencapai 1 juta ton per tahun.

”Ketela pohon merupakan komoditi pertanian yang cukup penting di Wonogiri. Luas areal ketela pohon

di Wonogiri mencapai 73.000 ha per tahun. Saat ini, singkong dimanfaatkan untuk bahan baku industri

tapioka, pakan ternak dan bahan pangan.” - tus



SOLOPOS Edisi : Kamis, 18 Januari 2007 , Hal.VI


Related docs
Other docs by HC111110223557
Working 20Bibliography
Views: 1  |  Downloads: 0
customerreviews
Views: 1  |  Downloads: 0
Zaprosheni
Views: 106  |  Downloads: 0
TransitioningIAtoISO9001 2008RevDraft2
Views: 0  |  Downloads: 0
WebQuotes
Views: 0  |  Downloads: 0
1_Peter_Lesson_06_Final
Views: 0  |  Downloads: 0
10 malware
Views: 1  |  Downloads: 0
012000
Views: 10  |  Downloads: 0
ch12
Views: 1  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!