MODUL 20PENDIDIKAN 20LINGKUNGAN 20SOSBUD 20DAN 20TEKNOLOGI 20FINAL

Document Sample
MODUL 20PENDIDIKAN 20LINGKUNGAN 20SOSBUD 20DAN 20TEKNOLOGI 20FINAL Powered By Docstoc
					           MODUL
   PENDIDIKAN LINGKUNGAN
SOSIAL BUDAYA DAN TEKNOLOGI




                        Oleh:
                 Drs. Suparlan, M.Ed




                    SKS: 2 (dua)
                 Semester: II (kedua)




FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
      UNIVERSITAS UTAMA JAGAKARSA
       Jalan Letjen TB Simatupang Nomor 152
         Tanjung Barat, Jakarta Selatan 12530
 Telepon: (021) 7890965, 7829919, 78831838, 7890634
                  Fax: (021) 7890966
                                  Kata Sambutan


Ibarat sebuah negara, kita menyadari sepenuhnya bahwa Universitas Tama Jagakarsa
termasuk adalah universitas yang masih sedang berkembang. Oleh karena itu, masih
banyak hal yang harus dilakukan untuk universitas ini. Salah satu di antaranya adalah
meningkatkan kemampuan dosen yang dapat menghasilkan produk ilmiah berupa tulisan
yang dimuat di berbagai media massa, atau bahkan diterbitkan dalam bentuk modul atau
pun buku ilmiah.

Upaya Drs. Suparlan, M.Ed untuk menulis dan menerbitkan modul untuk mata kuliah
yang diampunya patut mendapatkan sambutan kita semua. Sebagai dosen yang mengajar
di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, yang mahasiswanya banyak yang berasal dari
para guru dan calon guru yang sedang mengajar di sekolahnya, kami menyadari bahwa
penyusunan modul menjadi satu keniscayaan. Mengapa? Karena modul menjadi sumber
belajar yang sangat diperlukan. Sambil melaksanakan tugas mengajar, para mahasiswa
dapat belajar secara mandiri dengan membaca modul ini. Apalagi, selain materi kuliah
yang telah dirinci dalam 16 (enam belas) kali pertemuan dalam satu semester, di dalam
modul ini juga disertai pula dengan tes yang harus dikerjakan oleh mahasiswa. Tes ini
disusun pula untuk setiap kali pertemuan sebagai ter formatif yang harus dijawab oleh
mahasiswa, dan kemudian didiskusikan dalam pertemuan berikut sebagai appersepsi di
awal perkuliahan berikutnya. Selain itu, modul ini diharapkan juga dapat menjadi media
promosi bagi calon mahasiswa yang akan mengikuti kuliah di universitas ini. Semakin
banyak warga masyarakat yang akan memasuki universitas ini, semakin besarlah nama
baik universitas ini. Dengan demikian, secara bertahap universitas ini diharapkan akan
mengganti label dari universitas yang sedang berkembang menjadi universitas dapat
berdiri sejajar dengan universitas-universitas yang maju di negeri tercinta ini.

Kami berharap rintisan penulisan modul bagi mahasiswa ini segera dapat diikuti oleh para
dosen lain di seluruh universitas yang kita cintai ini. Amin.

                                           Jakarta, 20 Mei 2009

                                           Rektor,



                                           Prof. Drs. Tama Sembiring, SH, MM.




                                           1
                                                         Daftar Isi


1.  Pendahuluan .................................................................................................................. 3
2.  Kompetensi ................................................................................................................... 4
3.  Tujuan Pembelajaran ..................................................................................................... 4
4.  Kegiatan Pembelajaran.................................................................................................. 4
  4.1. Rincian Materi Pembelajaran ................................................................................ 4
  4.2. Uraian Singkat Materi Pembelajaran dan Contoh ................................................. 5
  4.3.   Tes Formatif Untuk Masing-masing Pertemuan ................................................ 27
  4.4. Umpan Balik ....................................................................................................... 33
5. Referensi ..................................................................................................................... 34
6. Lampiran ..................................................................................................................... 34
  6.1. Lampiran 1: Pendidikan Terbaik Di Dunia ......................................................... 34
  6.2. Lampiran 2: Artikel “Bangsa Jepang Yang Luar Biasa” ................................... 36
  6.3. Lampiran 3: Artikel Pilihan 3 Artikel Anak Tiri Bernama bernama Pendidikan41
  6.4. Lampiran 4: Artikel Pilihan 4 ............................................................................. 42
  6.5. Lampiran 5: Power Point .................................................................................... 50




                                                                 2
1.   Pendahuluan
     Education is not a preparation for life, education is life itself. Pendidikan bukanlah
     persiapan untuk kehidupan, pendidikan adalah kehidupan itu sendiri. Demikian
     John Dewey menegaskan pemikirannya tentang pendidikan. Dengan demikian,
     umur pendidikan sama dengan keberadaan manusia di muka bumi ini.

     Ketika Adam diciptakan oleh Tuhan, bersama itu pulalah proses pendidikan telah
     berlangsung, sebagai suatu sistem yang dibangun oleh Allah SWT. Adam diajari
     untuk dapat menyebutkan nama-nama yang ada di bumi, tempat kehidupan Adam
     dan keturunannya. Dengan demikian, yang dimaksud pendidikan sebenarnya
     memang dengan makna kehidupan itu sendiri.

     Tidak demikianlah halnya dengan malaikat dan iblis. Adam dapat menyebutkan
     nama-nama, sementara malaikat dan iblis tidak dapat menyebutkan nama-nama itu.
     Mengapa? Karena hanya manusialah yang telah memperoleh pendidikan, langsung
     dari Allah SWT. Itulah proses pendidikan yang dilakukan oleh manusia untuk
     pertama kalinya. Proses itu kemudian dikembangkan sendiri oleh manusia, karena
     manusia memiliki otak, faktot penentu kelebihan manusia dibandingkan dengan
     mahluk lain yang sama-sama diciptakan Allah SWT.

     Untuk menjadi manusia yang sempurna, manusia tidak boleh tidak memang harus
     belajar, atau harus memperoleh pendidikan. Manusia merupakan mahluk yang
     dapat diajar dan dapat mengajar. Animat educandum dan animal educancus.
     Manudia mahluk pembelajar, mahluk yang dapat dididik dan dapat mendidik.

     Untuk menjadi manusia saja, manusia memang tidak boleh berhenti belajar.
     Apalagi untuk menjadi guru yang akan mengajar. Untuk dapat melaksanakan tugas
     profesionalnya dengan baik, calon guru harus memiliki empat standar kompetensi
     guru, yaitu (1) kompetensi pedagogis, (2) kompetensi kepribadan, (3) kompetensi
     sosial, dan (4) kompetensi profesional. Kompetensi pedagogis adalah kompetensi
     guru yang terkait dengan penguasaan materi tentang teori belajar dan prinsip-
     prinsip pembelajaran yang mendidik, termasuk di dalamnya penguasaan materi
     tentang ilmu pendidikan. Siapa yang berhenti belajar, artinya ia telah mati.

     Mata kuliah Pendidikan Lingkungan Sosial Budaya dan Teknologi ini akan
     diajarkan kepada mahasiswa agar mahasiswa dapat menjadi bekal pengetahuan
     bagi para calon guru tentang berbagai aspek yang terkait dengan konsep dan dasar-
     dasar ilmu-ilmu pendidikan dalam konteks kehidupan manusia.

     Mata kuliah Pendidikan Lingkungan Sosial Budaya dan Teknologi yang akan Anda
     pelajari ini mencakup: (1) kondisi lingkungan sosial budaya dan teknologi dalam
     kehidupan masyarakat, dan (2) hubungan dan pengaruh timbal balik antara
     pendidikan dan kondisi sosial budaya dan teknologi itu sendiri. Kedua aspek
     tersebut akan menjadi materi utama yang akan dibahas dalam mata kuliah
     Pendidikan Lingkungan Sosial Budaya dan Teknologi.




                                           3
2.   Kompetensi
     Setelah mengikuti kegiatan perkuliahan dalam mata kuliah Pendidikan Lingkungan
     Sosial Budaya dan Teknologi ini, diharapkan mahasiswa dapat memiliki
     kompetensi sebagai berikut:

     2.1.  Memahami hakikat manusia dalam kehidupannya;
     2.2.  Memahami hakikat pendidikan dalam kehidupan manusia;
     2.3.  Memahami hubungan antara pendidikan dan kebudayaan;
     2.4.  Memahami pendidikan sebagai suatu sistem;
     2.5.  Memahami hak azasi manusia dalam memperoleh pendidikan;
     2.6.  Memahami pilar-pilar pendidikan;
     2.7.  Memahami teori nativisme;
     2.8.  Memahami teori empirisme;
     2.9.  Memahami teori konvergensi;
     2.10. Memahami kondisi sosial budaya dan teknologi sebagai lingkungan
           pendidikan;
     2.11. Memahami nilai-nilai sosial budaya dalam masyarakat;
     2.12. Memahami teknologi sebagai salah satu faset kebudayaan.

3.   Tujuan Pembelajaran
     3.1.  Menjelaskan makna pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia;
     3.2.  Menjelaskan makna pendidikan sebagai proses kehidupan manusia;
     3.3.  Menjelaskan hubungan antara pendidikan dengan kebudayaan;
     3.4.  Menjelaskan pendidikan sebagai suatu sistem;
     3.5.  Menjelaskan hak azasi manusia untuk memperoleh pendidikan;
     3.6.  Menjelaskan pilar-pilar pendidikan;
     3.7.  Menyebutkan tiga teori pendidikan;
     3.8.  Menjelaskan tokoh, pengertian, dan implikasi dari ketiga teori pendidikan;
     3.9.  Menyebutkan norma-norma sosial dan nilai-nilai budaya dalam masyarakat;
     3.10. Menjelaskan pengaruh norma-norma sosial dan nilai-nilai budaya dalam
           masyarakat terhadap proses pendidikan;
     3.11. Menjelaskan teknologi sebagai faset kebudayaan.

4.   Kegiatan Pembelajaran
4.1. Rincian Materi Pembelajaran

     Mata kuliah ini disampaikan kepada mahasiswa dalam 16 kali pertemuan dengan
     rindian materi pembelajaran, termasuk dua kali pertemuan untuk Ujian Tengah
     Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS) sebagai berikut:

      Pertemuan        Materi pembelajaran
      I                Informasi Mata Kuliah dan Kontrak Perkuliahan
      II               Hakikat Manusia dan Kehidupannya
      III              Hakikat Pendidikan dan Kehidupan Manusia



                                         4
      IV               Pendidikan dan Kebudayaan
      V                Pendidikan Sebagai Suatu Sistem
      VI               Hak Azasi Memperoleh Pendidikan
      VII              Pilar-pilar Pendidikan
      VIII             UTS
      IX               Teori Pendidikan: Nativisme
      X                Teori Pendidikan: Empirisme
      XII              Teori Pendidikan: Konvergensi
      XII              Lingkungan Pendidikan
      XIII             Nilai-nilai Sosial Budaya
      XIV              Kebudayaan dan Teknologi
      XV               Kritik Terhadap Pendidikan
      XVI              UAS dan Tugas Mandiri


4.2. Uraian Singkat Materi Pembelajaran dan Contoh

     Pertemuan I: Informasi Mata Kuliah dan Kontrak Perkuliahan

     Dalam pertemuan pertama ini mahasiswa akan menerima fotokopi silabus mata
     kuliah, agar secara dini mahasiswa dapat mengetahui apa saja yang akan dipelajari
     selama satu semester. Bahkan akan lebih baik jika mahasiswa menerima modul
     yang dapat dipelajari secara mandiri. Bagi mahasiswa tugas belajar, sebagai misal,
     mudul akan menjadi bahan ajar yang akan sangat membantu mahasiswa untuk
     dapat menguasai kompetensi yang diharapkan.

     Di samping itu, mahasiswa diminta untuk paling tidak memiliki satu buku referensi
     yang ada di dalam modul atau silabus mata kuliah. Mahasiswa harus melaporkan
     dan menunjukkan buku referensi apa yang dimiliki.

     Pertamuan pertama ini dilakukan dengan cara dialog. Kemudian antara dosen dan
     mahasiswa dapat melakukan kontrak perkuliahan, misalnya tingkat kehadiran
     mahasiswa 80%, kurang dari 80% mahasiswa tidak dapat mengikuti UTS dan
     UAS, dan sebagainya.

     Pertemuan II: Hakikat Manusia dan Kehidupannya

     Tuhan Yang Maha Esa adalah maha pencipta (khalik). Manusia adalah salah satu
     ciptaan Tuhan Yang Maha Esa (makhluk). Manusia adalah mahluk yang tertinggi
     derajatnya dibandingkan dengan makhluk lainnya. Ketinggian derajat tersebut
     ditentukan oleh tingkat ketakwaannya kepada sang khalik-Nya, karena Khalik-Nya
     telah memberikan otak kepada manusia. Namun manusia dapat menjadi serendah-
     rendahnya derajat tersebut jika manusia tidak menggunakan akal dengan sebaik-
     baiknya.

     Namun manusia akan menjadi manusia seutuhnya jika ia hidup dan diasuh oleh
     manusia dengan cara manusia. Contoh: cerita Kama dan Kamala, tentang mahluk
     manusia serigala. Ceritanya begini. Ada anak kembar yang baru dilahirkan di


                                          5
negeri antah berantah. Kedua bayi ini dibuang ke hutan, karena orangtuanya
merasa malu kepada masyarakat, lantaran bayi itu telah lahir dari hubungan zinah.
Kedua bayi itu dipelihara oleh serigala. Maka jadilah anak serigala. Dengan
instinknya, serigala memelihara kedua bayi itu, dan jadilah keduanya menjadi
manusia serigala.

Manusia dapat disebut sebagai mahluk pembelajar. Dengan otaknya, manusia
menyesuaikan dan mengembangkan peradaban manusia sesuai dengan
perkembangan zaman. Hasil karya manusia selalu berubah dan berkembang dari
zaman ke zaman. Bedakan sarang burung dan rumah manusia. Sarang burung tidak
mengalami perubahan. Bandingkan antara tangga rumah panggung di Kalimantan
dengan eskalator atau lift di gedung bertingkat di kota-kota besar.

Manusia sama sekali berbeda dengan binatang dalam kehidupannya. Manusia
dapat dan harus dididik karena memiliki akal. Sedang binatang hidup karena
instinknya. Oleh karena itu jika manusia dapat dan harus dididik, maka binatang
tidak dapat dididik. Manusia hanya dapat dilatih dengan instink tersebut.

Pertemuan III: Hakikat Pendidikan dan Kehidupan Manusia

Materi yang akan dibahas dalam pertemuan ini adalah tentang apa sesungguhnya
yang dimaksud dengan pendidikan itu, baik dari segi etimologis maupun
terminologis.

Dari segi etimologis (asal usul kata), pedagogy or paedagogy is the art or science
of being a teacher. The term generally refers to strategies of instruction, or a style
of instruction (wikipedia.com). Pendidikan adalah seni atau ilmu tentang bagimana
menjadi seorang guru. Istilah itu pada umumnya merujuk pada beberapa strategi
pengajaran atau gaya mengajar. Secara etimologis paedagogy berasal dari akar kata
Bahasa Latin “pais” artinya anak, dan “gogos” artinya membimbing. Dengan
demikian, pendidikan artinya membimbing anak. Paedagogy dalam Bahasa Inggris
dikenal dengan “education” yang juga berasal dari akan kata Bahasa Latim
“educare” yang artinya membawa keluar yang tersimpan di dalam jiwa anak, untuk
dituntun agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensinya.

Untuk memberikan wawasan tentang hakikat pendidikan, berikut ini disebutkan
beberapa definisi pendidikan dari beberapa ahli dalam tabel berikut.

Tabel III.1: Beberapa Definisi Pendidikan

 No.     Ahli Pendidikan                         Definisi Pendidikan
  1     Brubacher              Education should thought os as the process of man’s
                               reciprocal adjustment to nature, to his fellows, and
                               to the ultimates nature of the cosmos. Pendidikan
                               haru dipikirkan sebagai proses penyesuaian timbal
                               balik antara manusia dengan alam, dengan manusia
                               lain, dan dengan semesta alam.
   2    M.J. Langeveld         Mendidik adalah memberi pertolongan secara sadar
                               dan sengaja kepada anak (yang belum dewasa)


                                      6
                             dalam pertumbuhannya menuju ke arah kedewasaan
                             dalam arti dapat bertanggung jawab atas segala
                             tindakannya menurut pilihannya sendiri.
  3     Hoogveld             Mendidik adalah membantu anak supaya anak itu
                             kelak cakap menyelesaikan tugas hidupnya atas
                             tanggungan sendiri
  4     Sis Heyster          Mendidikadalah membantu manusia dalam
                             pertumbuhannya agar ia kelas mendapat kebahagiaan
                             batin yang sedalam-dalamnya yang dapat tercapai
                             olehnya dengan tidak mengganggu orang lain
  5     John Dewey           Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-
                             kecakapan yang fundamental secara intelektual dan
                             emosional ke arah alam dan sesama manusia.
  6     Ki Hajar             Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan
        Dewantara            perkembangan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran
                             (intelek) dan jasmani anak-anak, agar mereka dapat
                             memajukan kesempurnaan hidup, yaitu kehidupan
                             dan penghidupan anak-anak, selaras dengan alamnya
                             dan masyarakatnya.
  7.    D. Marimba           Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara
                             sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani
                             dan rohani si terdidik menuju terbentuknya
                             kepribadian yang utama.
  8     Sumantri             Pendidikan adalah memberi tuntutan kepada manusia
        Brojonogoro          yang belum dewasa untuk menyiapkan agar dapat
                             memenuhi sendiri tugas hidupnya atau dengan secara
                             singkat pendidikan adalah tuntunan kepada
                             pertumbuhnan manusia mulai lahir sampai
                             tercapainya kedewasaan, dalam arti jasmaniah dan
                             rohaniah.
  9     M. Noor Syam         Pendidikan adalah aktivitas dan usaha manusia untuk
                             meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina
                             potensi pribadinya, yaitu rohani (pikir, cipta, karsa,
                             rasa dan budi nurani) dan jasmani (penginderaan
                             serta keterampilan-keterampilan).
  10    UU Nomor 20          Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
        Tahun 2003           mewujudkan suasana belajar dan proses
        tentang Sistem       pembelajaran agar peserta didik secara aktif
        Pendidikan           mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
        Nasional             kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
                             kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
                             keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat,
                             bangsa dan negara.

Sumber: Madyo Ekosusilo, 1987: 13 – 15.

Selain definisi tersbut, cobalah berusaha untuk memahami pandangan John Dewey
tentang pendidikan dalam tulisannya sebagai berikut: “In sum, I believe that the
individual who is to be educated is a social individual and that society is an


                                    7
organic union of individuals. If we eliminate the social factor from the child we are
left only with an abstraction; if we eliminate the individual factor from society, we
are left only with an inert and lifeless mass. Education, therefore, must begin with
a psychological insight into the child's capacities, interests, and habits. It must be
controlled at every point by reference to these same considerations. These powers,
interests, and habits must be continually interpreted--we must know what they
mean. They must be translated into terms of their social equivalents--into terms of
what they are capable of in the way of social service”.

Menurut John Dewey, pendidikan merupakan proses sosial. Individu yang akan
memperoleh pendidikan --- mulai sejak bayi yang dilahirkan --- berada dalam
kehidupan sosial yang tidak dapat dipisahkan dengan individu tersebut. Individu
tersebut disebut sebagai ”social individual” atau individu yang dalam kehidupan
sosial. Sedang masyarakat adalah satu kesatuan organik dari individual-individual.
Jika akan memisahkan faktor sosial dari individu, maka yang tertinggal adalah
hanyalah sebuah abstraksi. Sebaliknya, jika akan memisahkan faktor indovidu dari
masyarakat, maka yang tersisa adalah masyarakat tanpa kehidupan.

Kehidupan pada hakikatnya sebagai proses pendidikan yang sebenarnya (the true
educational process). Education is not preparation for life; education is life itself.
Pendidikan bukanlah persiapan untuk kehidupan; pendidikan adalah kehidupan itu
sendiri. Demikian John Dewey berpesan kepada kita.

Proses pendidikan telah membentuk manusia secara individual. Proses pendidikan
pulalah yang telah membentuk manusia sebagai komunitas, atau bahkan sebagai
bangsa dan negara. Kita dapat belajar dari sejarah kehidupan suatu bangsa,
katakanlah bangsa Jepang, yang melatarbelakangi bagaimana bangsa Jepang telah
mendidik bangsanya menjadi negara dan bangsa yang maju di dunia. Ketika
Jepang mengalami kehancuran karena kalah dalam Perang Dunia II, kaisar Jepang
menanyakan ”berapa guru yang masih tersisa”. Beliau tidak menanyakan berapa
tentara yang masih ada. Bukan pula kekayaan alam yang masih ada. Tetapi dengan
guru yang masih tersisa, bangsa Jepang mulai membangun bangsanya. Ternyata,
kemajuan suatu bangsa tidak ditentukan oleh melimpahnya kekayaan alamnya,
tetapi oleh kegigihan bangsa itu dalam perjuangan hidupnya.

Kehidupan manusia sejak penciptaan yang pertama sampai dengan saat ini dapat
diklasifikasikan dalam empat zaman atau era:

1.   Food Gathering
2.   Green Revolution
3.   Industrial Revolution
4.   Teknologi Informasi

Dalam era food gathering, manusia hidup dalam pola mengumpulkan bahan
makanan yang tersedia di alam. Kehidupannya masih nomaden atau berpindah-
pindah dari daerah yang satu ke daerah yang lain, susuai dengan kondisi bahan
makanan yang tersedia. Mereka hidup dalam gua-gua. Di samping mengumpulkan
bahan makanan, mereka juga hidup dengan berburu.



                                       8
Dalam era green revolution, manusia sudah hidup menetap (sedenter) dan telah
dapat membuka lahan untuk menghasilkan bahan makanan. Bahkan merka juga
telah membuka hutan untuk dikonversi menjadi sawah dan perkebunan untuk dapat
menghasilkan bahan makanan yang dibutuhkan. Ketika tanahnya sudah tidak subur
lagi untuk dapat menghasilkan bahan makanan, manusia juga telah berhasil dalam
melakukan program intensifikasi pertanian.

Dalam era industrial revolution, manusia telah menemukan berbagai mesin. Sistem
produksi tidak lagi dikerjakan dengan tangan atau memanfaatkan hewan, tetapi
telah menggunakan mesin. Berkat penggunaan mesin tersebut lahirlah jenis
pekerjaan yang dikenal dengan industri, yakni usaha untuk mengolah bahan
mentah menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi. Tingkat produktitas menjadi
melimpah (over production), dan oleh karena itu memerlukan perluasan pasar.
Pada era inilah lahir usaha negara produsen untuk menjual barangnya ke negara
lain. Mula-mula mereka mengadakan perdagangan dengan negara-negara itu.
Lama-kelamaan muncul gagasan untuk menguasai daerah tersebut sebagai daerah
jajahan. Maka lahirlah masa imperalisme, dengan membawa slogan 3 G’s, yaitu
(1) gold, (2) glory, dan (3) gospel. Gold dimaknai sebagai kekayaan, glory
dimaknai sebagai kejayaan, dan gospel dimaknai sebagai penyebaran agama dan
keyakinan.

Sejarah kehidupan manusia harus dapat menjadi bahan pelajaran bagi manusia.
Panggung sejarah manusia menunjukkan bahwa kehidupan manusia saat ini
merupakan gambaran dari usaha untuk menjadikan dirinya sebagai mahluk yang
tertinggi derajatnya agar manusia dapat menjadi khalifah di dunia ini.

Manusia memang unik. Manusia yang berhasil karena tempaan kesulitan hidupnya.
Tempaan hidup dapat berupa pengalaman, bahkan berupa cobaan hidup yang
menderanya. Mereka yang tahan terhadap tempaan hidup ini akhirnya akan
membentuk diri manusia yang sesungguhnya. Ada beberapa contoh bahwa
kehidupan sebagai proses pendidikan. Bacalah biografi beberapa orang penting.
Misalnya ”who’s who”, biografi para presiden, biografi para tokoh, biografi pada
penemu, dan sebagainya. Tuliskan kembali apa yang telah Anda baca. Silahkan
membuka lampiran 1: power point tentang refleksi dan tindakan.

Pertemuan IV: Pendidikan dan Kebudayaan

Pendidikan adalah pembudayaan. Demikian Fuad Hassan, mantan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan (Tonny D. Widiastono, Pendidikan Manusia
Indonesia, 2004: (52 – 87) menjelaskan tentang hubungan antara pendidikan dan
kebudayaan. Dengan kata lain, pendidikan merupakan proses transformasi budaya.
Pendidikan merupakan proses pewarisan budaya, dan sekaligus pengembangan
budaya. Jika kebudayaan diartikan sebagai produk masyarakat, maka pendidikan
adalah prosesnya. Jika kebudayaan sebagai“that complex whole which includes
knowledge, belief, art, morals, law, custom, and any other capabilities and habits
acquired by man as a member of society” atau kebudayaan merupakan satu
keseluruhan yang kompleks, termasuk di dalamnya pengetahuan, kepercayaan,
seni, moral, hukum, kebiasaan, seni, teknologi, dan banyak kemampuan lain dan
kebiasaan yang dimiliki manusia sebagai warga masyarakat, maka pendidikan


                                     9
adalah keseluruhan proses yang kompleks untuk menghasilkan semua itu. Proses
apa yang membentuk pengetahuan dalam masyarakat? Prose situ adalah
pendidikan. Proses apa yang membentuk kepercayaan dalam masyarakat? Sudah
tentu masyarakat pula yang membangunnya. Demikian seni, moral, hukum,
kebiasaan, dan kemampuan lain dalam masyarakat. Semuanya merupakan produk
dari satu proses yang dinamakan pendidikan. Singkat kata, “education enables
people and societies to be what they can be” Pendidikan menjadikan manusia dan
masyarakat mampu menghasilkan apa yang dapat mereka inginkan. Demikian Bill
Richardson menjelaskan peran pendidikan dalam melahirkan kemampuan tertentu
dalam masyarakat.

Untuk mewariskan budaya tersebut, proses pendidikan dilakukan melalui tiga
proses yang saling kait mengait yang tidak terpisahkan, yaitu: (1) pembiasaan
(habit formation), (2) pengajaran dan pembelajaran (teaching and learning
process), dan (3) peneladanan (role model). Dengan demikian pengertian
pendidikan jauh lebih luas dibandingkan dengan pengertian pengejaran. Pendidikan
adalah pembudayaan. Dengan kata lain, pendidikan adalah proses pembentukan,
pelestarian, dan pengembangan budaya dalam masyarakat. Pendidikan adalah
proses yang dirancang dan dilaksanakan agar masyarakat dapat menghasilkan
produk beruba budaya.

Immanuel Kant menyebutkan bahwa manusia merupakan animal educancum dan
animal educandus, mahluk yang dapat dididik dan dapat mendidik. Oleh karena
itu, maka sama sekali tidak benar jika ada pernyataan yang menyatakan bahwa
“anak itu tidak dapat dididik”. Tidak! Proses dan metode yang digunakanlah yang
kemungkan tidak tepat digunakan. Justru anak manusia akan menjadi manusia jika
melalui proses pendidikan, oleh manusia, dan dengan cara yang manusiawi,
melalui ketiga proses tersebut. Pemaknaan pendidikan ini menolak penyempitan
makna pendidikan sebagai peyekolahan, atau juga pendidikan sebagai pengajaran.
Proses pendidikan adalah proses kehidupan itu sendiri. Manusia terlibat dalam
keseluruhan proses pendidikan, baik yang dilakukan terhadap orang lain maupun
terhadap dirinya sendiri (Fuad Hassan, 2004: 53). Dalam pengertian inilah maka
UNESCO (United Nation for Educational, Scientific, and Cultural Organization)
menyatakan bahwa pendidikan berlangsung sepanjang hayat (lifelong education).
Konsep ini persis sama dengan konsep “belajar sepanjang hayat” atau “tholabul
ilmi faridhotun alal muslimin walmuslimat” atau “menuntut ilmu kewajiban bagi
muslimin dan muslimat”. Konsep ini juga persis sama bahwa “pendidikan
berlangsung sejak lahir (bahkan ketika masih dalam kandungan) sampai ke liang
lahat” (from the cradle to the grave).

Pendidikan sebagai proses pembentukan kebiasaan terutama terjadi dalam
pendidikan keluarga. Keluarga adalam lembaga pendidikan utama dan pertama.
Namun demikian, pembentukan kebiasaan juga dapat dikembangkan secara
sistematis di lingkungan sekolah. Dalam model sekolah berasrama, peserta didik
akan dituntut untuk mengikuti pola-pola perilaku yang akan dibentuk oleh lembaga
pendidikan itu. Tetapi perlu disadari bahwa pola-pola pembiasaan yang terjadi
dalam keluarga akan lebih kuat dibandingkan pola-pola yang dibentuk di luar
pendidikan keluarga. Ada pepatah yang mengingatkan bahwa “pendidikan di waktu
kecil ibarat mengukir di atas batu, pendidikan di waktu besar ibarat mengukir di


                                   10
atas air”. Artinya, proses pembentukan kebiasaan di waktu kecil akan sudah
dilakukan, tetapi hasilnya juga akan sudah diubah. Sementara pembentukan
kebiasaan di waktu besar akan lebih mudah dibentuk tetapi akan lebih mudah pula
berubah. Cobalah baca berbagai artikel pilihan yang terlampir dalam modul ini.

Proses pengajaran dan pembelajaran sebagian besar berlangsung dalam jalur
pendidikan formal atau dalam lembaga pendidikan sekolah. Proses ini memang
lebih bersifat formal, dalam arti dengan menggunakan pola-pola yang sudah
tersistem, baik dari aspek struktur persekolahannya, kurikulum, pendidik, tenaga
kependidikan, media, metode, dan alat peraga atau alat bantu pembelajaran yang
digunakan, serta sarana dan prasarana pendidikan yang diperlukan.

Manusia adalah pengemban budaya (culture bearer), dan manusia yang hidup
dalam tatanan masyarakatnya akan mewariskan kebudayaannya tersebut kepada
keturunannya. Proses pendidikan tidak lain merupakan proses transformasi budaya,
yakni proses untuk mewariskan kebudayaan kepada generasi muda.

Pengertian pendidikan jauh lebih luas dari pengertian pengajaran. Proses
pendidikan bukan hanya sebagai pengalihan pengetahuan dan keterampilan kepada
peserta didik (transfer of knowledge and skills) tetapi juga pengalihan nilai-nilai
sosial dan budaya (transmission of social and culture values and norms). Untuk
memperdalam pemahaman Anda tentang hal ini, cobalah buat tabel yang
membedakan antara keduanya. Baca buku referensi, dan cari materi yang terkait
dengan perbedaan pendidikan dan pengajaran.


Pertemuan V: Pendidikan Sebagai Suatu Sistem

Tuhan Yang Maha Esa menciptakan jagad raya dan seisinya sebagai suatu sistem.
Sistem Tata Surya diciptakan sebagai suatu sistem. Ada matahari, ada planet-planet
dengan bulan-bulannya. Salah satu planet tersebut adalah bumi dan bulan yang
selalu menyinari bumi di malam hari. Di dalam dan permukaan bumi terdapat
mahluk hidup, termasuk di dalamnya adalah manusia.

Manusia juga sebagai suatu sistem karena dibangun dari berbagai unsur yang
saling kait mengait tidak dapat dipisahkan. Dalam kehidupannya, manusia
membangun sistem sosial, ekonomi, politik, ideologi, dan sebagainya, termasuk
pendidikan. Kehidupan sosial manusia juga sebagai suatu sistem. Kehidupan
ekonomi juga sebagai suatu sistem. Kehidupan politik, budaya, ideologi, dan
semua aspek kehidupan manusia tercipta sebagai suatu sistem.

Dari kacamata kehidupan manusia sebagai sistem, aspek-aspek kehidupan manusia
itu menjadi susbsistemnya. Subsistem sebagai entitas dapat menjadi suatu sistem,
karena dia dibangun dari komponen-komponen yang saling kait-mengait. Sampai
ke suatu subsistem yang terkecil sekalipun ia dapat menjadi sistem tersendiri
sebagai suatu entitas. Katakanlah misalnya, mikroorganisme sebagai suatu sistem,
pembelajaran sebagai suatu sistem, penilaian sebagai suatu sistem, dan seterusnya.
Dengan demikian, apa yang terdapat dalam jagat raya ini merupakan suatu sistem.
Termasuk di dalamnya pendidikan di suatu negara, atau pendidikan nasional.


                                    11
        Pasal 1 butir 3 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
        menjelaskan pengertian pendidikan nasional sebagai suatu sistem sebagai berikut:

                    “Sistem pendidikan nasional adalah keseluruhan komponen pendidikan
                    yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan
                    nasional”.

        Pendidikan juga sebagai sistem, yang terdiri dari berbagai komponen yang saling
        kait mengait tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan
        pendidikan. Pendidikan sebagai suatu sistem dapat digambarkan sebagai berikut.



                                     Enabling inputs

                                        o Teaching and learning
                                           Learning time
                                           Teaching methods
                                           Assessment, feedback, incentives                     Outcomes
Learner Characteristics                    Class size
                                                                                                 o Literacy, numeracy
o   Aptitude                         o Teaching and learning materials                             and life skills
o   Perseverance                     o Physical infrastructur and facilities                     o Creative and emotional
o   School readiness                 o Human resources: teachers, principles,                      skills
o   Prior knowledge                    inspectors, supervisors, administrators                   o Values
o   Barriers to learning             o School governance                                         o Social benefits




                                                        Context

o Economic and labour        o Educational knowledge         o Philosophical standpoint of   o   National standards
  market conditions in the     and support infrastructure      teacher and learner           o   Public expectation
  community                  o Public resources available    o Peer effects                  o   Labour market demands
o Socio-cultural and           for education                 o Parental support              o   Globalization
  rreligious factors         o Competitiveness of the        o Time available for
o (Aid strategies)             teaching profession on the      Schooling and homework
                               labour market
                             o National governance and
                               management strategies



        Sumber: EFA Global Monitoring Report 2005, UNESCO, hal. 36.

        Berdasarkan bagan tersebut, mutu pendidikan menyangkut banyak variabel,
        dimensi, dan komponen yang saling kait-mengait dan pengaruh-mempengaruhi.

        Peserta Didik (learners). Peserta didik memiliki karakteristik yang amat beragam
        dari satu tempat ke tempat lain, sesuai dengan kondisi alam, sosial-ekonomi-
        budaya pendukungnya. Secara spesifik, karakteristik yang mempengaruhi mutu
        pendidikan antara lain adalah (a) kondisi sosial ekonomi keluarga, (b) kondisi
        sosial-budaya keluarga, (c) keterpencilan peserta didik karena faktor geografis, (d)
        kemampuan peserta didik dari aspek akademis dan nonakademisnya, dan (e)
        karakteristik lain yang menyangkut gender, disabilitas, ras dan etnisitas, dan
        sebagainya.




                                                        12
Dengan alasan mutu pendidikan, banyak sekolah yang menerapkan tes masuk yang
ketat sebagai alat untuk menyeleksi peserta didik yang akan diterima di
sekolahnya. Ada dua karakteristik yang pada ujungnya digunakan untuk menilai
mereka. Pertama, kemampuan akademis peserta didik untuk jenjang pendidikan
menengah. Misalnya sekolah menerapkan peringkat hasil ujian akhir untuk
menerima siswa baru. Kedua, selain itu sekolah juga melihat kemampuan orang tua
siswa secara sosial ekonominya.

Sekolah yang telah sangat selektif dalam penerimaan siswa baru sebenarnya telah
berbuat terlalu egois, karena berfikir dan bertindak hanya untuk meningkatkan
mutu pendidikan di sekolahnya sendiri. Dengan seleksi seperti itu, maka
sesungguhnya sekolah memang akan menjadi sangat dimudahkan dalam
melaksanakan proses belajar mengajar di sekolahnya. Karena peserta didik yang
masuk di sekolah itu memang peserta didik pilihan. Sebaliknya, sekolah yang
menerima sisanya atau siswa dengan syarat yang lebih rendah, sekolah harus
bekerja lebih keras untuk meningkatkan mutu pendidikannya. Mengingat kondisi
seperti itu, sekolah yang bermutu pada hakikatnya yang menerima siswa dalam
kategori kemampuan yang rendah, tetapi dapat meningkatkan mutunya setara atau
lebih baik dari sekolah yang telah mengadakan seleksi dengan kategori lebih tinggi
tersebut.

Masukan (input). Yang termasuk dalam kategori atau dimensi ini adalah sumber
daya manusia (human resources): kepala sekolah, pendidik atau guru, pengawas
sekolah, pegawai Dinas Pendidikan, pegawai tata usaha sekolah, penjaga sekolah,
pengembang kurikulum, teknisi sumber belajar, dan sebagainya. Dimensi kedua
adalah sumber daya material (material resources) seperti buku pelajaran
(textbooks), bahan ajar (learning materials), ruang kelas (classrooms),
perpustakaan (library), fasilitas sekolah (school facilities). Dimensi lainnya adalah
lingkungan sekolah, antara lain adalah kepedulian pemerintah dan pemerintah
daerah, keterlibatan orangtua dan masyarakat terhadap penyelenggaraan
pendidikan.

Semua kategori masukan, baik sumber daya manusia maupun sumber daya
material, sesungguhnya akan menjadi sekedar penunjang, karena tanpa dikelola
dengan baik (school-level governance), semua masukan itu akan sia-sia. Guru yang
telah dilatih berkali-kali, para pegawai tata usaha yang juga telah diikutkan
inhouse-training, gedung sekolah yang mentereng, buku-buku pelajaran yang telah
dikirim dari pusat, dan sebagainya, hanya akan bermakna besar untuk
meningkatkan mutu pendidikan jika dikelola dengan kepemimpinan yang kuat,
dengan manajemen yang transparan dan akuntabel. Dengan kata lain, dimensi
masukan instrumental (instrumental input) dan masukan lingkungan
(environmental input) akan tergantung pada dimensi yang lain, yakni dimensi
proses.

Proses (processes). Dimensi yang dimaksud di sini adalah proses penyelenggaraan
pendidikan, terutama adalah proses belajar mengajar di dalam kelas. Dimensi ini
meliputi: (a) waktu yang benar-benar digunakan dalam proses pembelajaran (time
on task), (b) metode mengajar yang digunakan, (c) media yang dipakai, (d)



                                      13
penilaian yang digunakan untuk menilai proses pembelajaran, dan (e) besarnya
siswa dalam setiap kelas (class size).

Konteks (context). Dimensi ini sesungguhnya lebih banyak berasal dari masukan
instrumental, yang berasal dari faktor-faktor ekstern sekolah. Masuk dalam dimensi
ini misalnya adalah (a) kondisi sosial-ekonomi masyarakat, (b) faktor sosial-
budaya dan keagamaan, (c) infrastruktur dan sumber daya yang tersedia dalam
masyarakat, (d) persaingan profesi guru dalam bursa tenaga kerja, (e) tata kelola
pemerintahan, dan strategi manajemen pemerintahan, (f) semangat dan nilai-nilai
filosofi yang dianut guru dan siswa, (g) efek dari pertemanan sebaya, (h) dukungan
orangtua siwa dan masyarakat, (h) standar nasional yang ditetapkan, (i) harapan
masyarakat, (j) permintaan pasar tenaga kerja, dan (k) globalisasi.

Hasil pendidikan (outcomes). Hasil pendidikan terkait dengan tujuan pendidikan
nasional yang telah ditetapkan. Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan
filosofi pendidikan yang telah ditetapkan dalam Pembukaan UUD 1945. Hasil
pendidikan harus diukur dari tujuan tersebut, yang bukan hanya kecerdasan
intelektual semata-mata, tetapi kecerdasan komprehensif. Dalam hal ini, hasil
pendidikan terutama meliputi kemampuan baca-tulis-hitung (literacy, numeracy)
dan kecakapan hidup (life skills) untuk jenjang pendidikan dasar. Selain itu, pada
jenjang pendidikan menengah, yang hasil pendidikan adalah kemampuan
akademis, sikap, nilai-nilai, kecerdasan emosional, sosial, dan seni, serta kesiapan
untuk terjun dalam pasar kerja amat diperlukan pada semua jenis dan satuan
pendidikan, khususnya pendidikan menengah kejuruan.


Pertemuan VI: Hak Azasi Manusia Untuk Memperoleh Pendidikan

Hak azasi manusia merupakan hak yang melekat pada setiap individu manusia.
Hak azasi itu meliputi hak azasi dalam berbagai bidang, politik, ekonomi, budaya,
dan sosial, termasuk di dalamnya adalah hak azasi dalam bidang pendidikan.

       ”Everyone has the right to education ... Education shall be directed to the
       full development of human personality and to strengthening of respect for
       human rights and fundamental freedoms. It shall promote understanding,
       tolerance and friendship among all nations, racial or religious groups, and
       shall further the activities of the United Nations for the maintenance of
       peace” (art. 26 – Universal Declaration of Human Rights)

Setiap orang memiliki hak untuk memperoleh pendidikan. Pendidikan diarahkan
menuju pengembangan personalitas kemanusiaan secara penuh dan memperkuat
penghargaan terhadap kebebasan fundamental dan hak azasi manusia. Pendidikan
juga harus meningkatkan pemahaman, toleransi dan persahabatan antara semua
bangsa, kelompok agama dan ras, dan mendorong berbagai kegiatan PBB untuk
memelihara perdamaian (Pasal 26 Deklarasi Umum Hak Azasi Manusia).

Berdasarkan Deklarasi Umum Hak Azasi Manusia tersebut, setiap orang, baik laki-
laki maupun wanita, harus memiliki akses untuk memperoleh pendidikan. Oleh
karena itu, dalam pendidikan tidak boleh terjadi adanya bias gender. Dengan kata


                                     14
lain pemerataan pendidikan dasar yang bermutu merupakan hak azasi setiap orang.
Tidak boleh ada diskriminasi untuk memperoleh mutu layanan pendidikan bagi
semua warga negara.

Di dalam Konvensi Hak Anak (KHA) yang telah diratifikasi Pemerintah Indoensia
berdasarkan Keppres Nomor 26 Tahun 1990, ada empat hak anak yang harus
diberikan kepada anak, yaitu:

1.   Hak untuk bertahan hidup (right for survival);
2.   Hak perlindungan (right for protection);
3.   Hak berpartisipasi (right for participation); dan
4.   Hak tumbuh kembang (right for development)

Dalam dokumen tentang visi, misi, dan program yang harus diserahkan sebagai
calon presiden dan wakil presiden tahun 2004 – 2009, Susilo Bambang Yudoyono
dan M. Jusuf Kalla menyebutkan sepuluh hak dasar rakyat yang harus dipenuhi,
yaitu:

1.  Hak rakyat untuk memperoleh pekerjaan yang layak bagi kemanusiaan;
2.  Hak rakyat untuk memperoleh perlindungan hukum;
3.  Hak rakyat untuk memperoleh rasa aman;
4.  Hak rakyat untuk memiliki akses atas kebutuhan hidup (sandang, pangan, dan
    papan) yang terjangkau;
5. Hak rakyat untuk memperoleh akses atas kebutuhan pendidikan;
6. Hak rakyat untuk memperoleh akses atas kebutuhan kesehatan;
7. Hak rakyat untuk memperoleh keadilan;
8. Hak rakyat untuk berpartisipasi dalam politik dan perubahan;
9. Hak rakyat untuk berinovasi; dan
10. Hak rakyat untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut
    agamanya dan kepercayaannya itu.

Agar hak-hak dasar rakyat untuk memperoleh akses atas kebutuhan pendidikan,
Susilo Bambang Yudoyono dan M. Jusuf Kalla mengajukan beberapa agenda dan
program peningkatan akses rakyat terhadap pendidikan yang lebih berkualitas,
yaitu:

1.   Meningkatkan pelaksanaan wajib belajar 9 tahun;
2.   Memberikan akses yang lebih besar kepada kelompok masyarakat yang
     selama ini kurang dapat terjangkau oleh layanan pendidikan, seperti
     masyarakat miskin, masyarakat yang tinggal di daerah terpencil, masyarakat
     di daerah-daerah konflik, ataupun masyarakat penyandang cacat;
3.   Meningkatkan penyediaan pendidikan keterampilan dan kewirausahaan
     ataupun pendidikan nonformal yang bermutu;
4.   Meningkatkan penyediaan dan pemerataan sarana-sarana pendidikan dan
     tenaga pendidik;
5.   Meningkatkan kompetensi dan profesionalisme tenaga pendidik;
6.   Meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik agar lebih mampu
     mengembangkan kompetensinya;



                                     15
7.   Menyempurnakan manajemen pendidikan dan meningkatkan partisipasi
     masyarakat dalam proses perbaikan mutu pendidikan;
8.   Meningkatkan kualitas kurikulum dan pelaksanaannya yang bertujuan
     membentuk karakter dan kecakapan hidup, sehingga peserta didik mampu
     memecahkan berbagai masalah kehidupan secara kreatif dan menjadi manusia
     produktif.

Pertemuan VII: Pilar-pilar Pendidikan

UNESCO (United Nation for Educational, Scientific, and Cultural Organization)
mengingatkan tentang Empat Pilar Pendidikan, yaitu:

1.   Learning to know;
2.   Learning to do;
3.   Learning to be, dan
4.   Learning how to live together.

Empat pilar pendidikan tersebut memberikan indikasi bahwa hasil pendidikan
dewasa ini diarahkan untuk dapat menghasilkan manusia yang memiliki ciri-ciri
manusia paripurna sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.

Pertama, learning to know. Dalam pilar ini, belajar dimaknai sebagai upaya hanya
sebatas untuk mengetahui. Belajar ini termasuk dalam kategori sebagai belajar
pada tingkat yang rendah, yakni belajar yang lebih menekankan pada ranah
kognitif.

Kedua, learning to do. Dalam pilar ini, belajar dimaknai sebagai upaya untuk
membuat peserta didik bukan hanya mengetahui, tetapi lebih kepada dapat
melakukan atau mengerjakan kegiatan tertentu. Fokus pembelajaran dalam pilar ini
lebih memfokuskan pada ranah psikomotorik.

Ketiga, learning to be. Dalam pilar ketiga ini, belajar dimaknai sebagai upaya
untuk menjadikan peserta didik sebagai dirinya sendiri. Belajar dalam konteks ini
bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan potensi peserta didik, sesuai
dengan minat dan bakatnya atau tipe-tipe kecerdasannya (types of intelligence).
Howard Gardner menyebutkan ada delapan tipe kecerdasan, yang biasa disingkat
SLIM n BIL atau:

1.   spatial atau keruangan;
2.   language atau bahasa;
3.   interpersonal atau hubungan social;
4.   music atau musik;
5.   naturalist atau cinta alam;
6.   bodily kinesthetics atau olah raga atau gerak badan,
7.   intrapersonal atau melihat diri sendiri, dan
8.   logical mathematics atau logis matematis.

Keempat, learning how to live together. Pilar keempat ini memaknai belajar
sebagai upaya agar peserta didik dapat hidup bersama dengan sesamanya secara


                                      16
damai. Dikaitkan dengan tipe-tipe kecerdasan, maka pilar keempat ini berupaya
untuk menjadikan peserta didik memiliki kecerdasan sosial (social intelligence).

Peringatan UNESCO yang sangat merdu ini menyadarkan kita bahwa proses
belajar mengajar di dalam kelas bukan hanya diperlukan agar peserta didik dapat
memperoleh pengetahuan sebanyak-banyaknya semata-mata, tetapi harus lebih
banyak memperoleh pengalaman, diberikan kesempatan agar pada akhirnya dapat
melakukan atau mengerjakan sendiri. Dengan proses seperti itu, peserta didik dapat
menjadi dirinya sendiri sesuai dengan potensi bakat dan minat yang mereka miliki.
Di samping itu, yang tidak kalah penting adalah agar peserta didik mampu untuk
dapat hidup bersama dalam masyarakat yang semakin majemuk.

Peringatan UNESCO tersebut juga memberikan penegasan bahwa proses belajar
mengajar tidak hanya mementingkan hasil nya --- apalagi hanya dalam bidang
akademis ---, tetapi justru yang lebih penting adalah prosesnya.


Pertemuan VIII: UTS

Dalam pertemuan V ini, mahasiswa akan menjawab menjawab soal-soal berikut.

Bentuk True-False (B/S)

1.    Education is preparation for life; education is not a life itself. Demikian John
      Dewey menjelaskan makna pendidikan dalam kehidupan kita (B/S)
2.    Manusia adalah mahluk pembelajar (B/S)
3.    Manusia dapat dididik dan dapat mendidik (B/S)
4.    Manusia lebih rendah derajatnya dibandingkan dengan setan, karena setan
      dibuat dari api, sedang manusia hanya dibuat dari tanah (B/S)
5.    Menurut Organization for Economic Cooperation and Development (OECD),
      kualitas pendidikan terbaik di dunia adalah negara Amerika Serikat (B/S)
6.    Orientasi pendidikan kita dewasa ini masih menitikberatkan pada hasil
      daripada prosesnya (B/S)
7.    Pendidikan antara lain dapat diupayakan melalui habit formation (B/S)
8.    Pendidikan berlangsung sepanjang hayat, mulai dari buaian sampai ke liang
      lahat (B/S)
9.    Pendidikan dapat diupayakan melalui role model (B/S)
10.   Pendidikan dapat diupayakan melalui teaching and learning process (B/S)
11.   Pendidikan formal merupakan pendidikan yang berlangsung pada lembaga
      pendidikan sekolah (B/S)
12.   Pendidikan informal merupakan pendidikan yang berlangsung dalam lembaga
      kursus atau yang berlangsung dalam masyarakat (B/S)
13.   Jalur pendidikan meliputi pendidikan formal, nonformal, dan informal (B/S)
14.   Jenjang pendidikan meliputi SD, SMP, SMA (B/S)
15.   Jenis pendidikan meliputi pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan
      pendidikan tinggi (B/S)
16.   Satuan pendidikan meliputi pendidikan umum, pendidikan kejuruan, dan
      pendidikan kedinasan (B/S)



                                      17
17. Pendidikan merupakan proses transmission of social and cultural values and
    norms (B/S)
18. Pendidikan nonformal merupakan pendidikan yang berlangsung dalam
    keluarga (B/S)
19. Pendidikan sama dengan pengajaran (B/S)
20. Pengajaran merupakan proses transfer of knowledge and skills (B/S)
21. Pengertian pengajaran jauh lebih luas dibandingkan dengan pengertian
    pendidikan (B/S)
22. Pendidikan informal dikenal dengan pendidikan sekolah (B/S)
23. Pendidikan merupakan proses transformasi budaya (B/S)
24. Makna pengajaran jauh lebih luas dari makna pendidikan (B/S)
25. Kebudayaan adalah produk masyarakat (B/S)

Bentuk Short Essay Test atau Uraian Singkat

1.   Sebut dan jelaskan empat pilar pendidikan menurut UNESCO.
2.   Sebut dan jelaslah empat era sejarah peradaban manusia.

Pertemuan IX: Teori Pendidikan: Nativisme

Telah cukup banyak dibicarakan hal-ihwal tentang pendidikan, baik kaitannya
dengan hekikat kehidupan manusia, maupun kaitannya dengan kebudayaan sebagai
produk dari proses pendidikan.

Pada saat manusia mengalami tahap perkembangan, baik secara fisik maupun
rohaninya dalam proses pendidikan, muncullah pertanyaan mendasar tentang faktor
yang paling berpengaruh terhadap perkembangan itu. Apakah faktor bakat dan
kemampuan diri manusia itu sendiri, atau faktor dari luar diri manusia, ataukah
kedua faktor itu secara bersama-sama. Dari faktor yang pertama timbullah teori
yang disebut sebagai teori nativisme. Nativisme berasal dari kata ”nativus” artinya
pembawaan.

Teori nativisme dikenal juga dikenal dengan teori naturalisme atau teori
pesimisme. Teori ini berpendapat bahwa manusia itu mengalami
pertumbuhkembangan bukan karena faktor pendidikan dan intervensi lain di luar
manusia itu, melainkan ditentukan oleh bakat dan pembawaannya. Teori ini
berpendapat bahwa upaya pendidikan itu tidak ada gunanya dan tidak ada hasilnya.
Bahkan menurut teori ini pendidikan itu upaya itu justru akan dapat merusak
perkembangan anak. Pertumbuhkembangan anak tidak perlu diintervensi dengan
upaya pendidikan, agar pertumbuhkembangan anak terjadi secara wajar, alamiah,
sesuai dengan kodratnya.

Teori ini dipelopori oleh Schopenhauer, nama lengkapnya Arthur Schopenhauer
(February 22, 1788 – September 21, 1860), seorang ahli filsafat bangsa Jerman.
Dalam salah satu tulisannya Schopenhauer menjelaskan bahwa kebanyakan
pembelajaran adalah bersifat superfisial.

Of human knowledge as a whole and in every branch of it, by far the largest part
exists nowhere but on paper -- I mean, in books, that paper memory of mankind.


                                    18
Only a small part of it is at any given period really active in the minds of particular
persons. This is due, in the main, to the brevity and uncertainty of life; but it also
comes from the fact that men are lazy and bent on pleasure. Every generation
attains, on its hasty passage through existence, just so much of human knowledge
as it needs, and then soon disappears. Most men of learning are very superficial.
Then follows a new generation, full of hope, but ignorant, and with everything to
learn from the beginning. It seizes, in its turn, just so much as it can grasp or find
useful on its brief journey and then too goes its way. How badly it would fare with
human knowledge if it were not for the art of writing and printing! This it is that
makes libraries the only sure and lasting memory of the human race, for its
individual members have all of them but a very limited and imperfect one. Hence
most men of learning as are loth to have their knowledge examined as merchants to
lay bare their books.

Pandangan Schopenhauer didukung oleh Prof. Heymans dan sejalan pula dengan
pandangan J.J. Rousseau, penganut teori naturalisme.

Jean-Jacques Rousseau, (June 28, 1712 – July 2, 1778), lahir di Geneva,
Switzerland, seorang ahli filsafat politik.




         Schopenhauer                                      J.J. Rousseau
        (Wikipedia.com)                                  (Wikippedia.com)


Rousseau set out his views on education in Émile, a semi-fictitious work detailing
the growth of a young boy of that name, presided over by Rousseau himself. He
brings him up in the countryside, where, he believes, humans are most naturally
suited, rather than in a city, where we only learn bad habits, both physical and
intellectual. The aim of education, Rousseau says, is to learn how to live
righteously. This is accomplished by following a guardian who can guide his pupil
through various contrived learning experiences.




                                      19
The growth of a child is divided into three sections, first to the age of about 12,
when calculating and complex thinking is not possible, and children, according to
his deepest conviction, live like animals. Second, from 12 to about 16, when reason
starts to develop, and finally from the age of 16 onwards, when the child develops
into an adult. During this stage, the young adult should learn a skill, such as
carpentry. This trade is offered because it requires creativity and thought, but
would not compromise one's morals. It is at this age that Emile finds a young
woman to complement him.

The book is based on Rousseau's ideals of healthy living. The boy must work out
how to follow his social instincts and be protected from the vices of urban
individualism and self-consciousness.

Rousseau's account of the education of Emile is, however, not an account of
education of a gender-neutral "child." The education he proposes for Sophie, the
young woman Emile is destined to marry, is importantly different to that of Emile.
Sophie (as a representative of ideal womanhood) is educated to be governed (by
her husband) while Emile (as a representative of the ideal man) is educated to be
self-governing. This is not an accidental feature of Rousseau's educational and
political philosophy; it is essential to his account of the distinction between private,
personal relations and the public world of political relations. The private sphere as
Rousseau imagines it depends on the (naturalized) subordination of women in
order for both it and the public political sphere (upon which it depends) to function
as Rousseau imagines it could and should.

The education proposed in Émile has been criticized for being impractical, and the
topic itself (the education of children) has led the text to be ignored by many
studying Rousseau’s more “political” works. However, of particular interest to
anyone interested in Rousseau’s intentions in Émile is a letter he wrote to his
friend Cramer on October 13, 1764. In the letter, Rousseau answers the criticism
of impracticability: “You say quite correctly that it is impossible to produce an
Emile. But I cannot believe that you take the book that carries this name for a true
treatise on education. It is rather a philosophical work on this principle advanced
by the author in other writings that man is naturally good”.


Pertemuan X: Teori Pendidikan: Empirisme

Teori empirisme berlawanan dengan teori nativisme. Teori empirisme dikenal juga
sebagai teori optimisme. Teori ini juga dikenal sebagai teori tabula rasa, yang
menyatakan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan sebagai kertas putih. Dalam
perjalanan kehidupannya, kertas putih itu akan akan ”dipenuhi dengan lukisan”
dari semua pengalam dan pengaruh dari luar yang akan mempengaruhi
pertumbuhkembangan manusia. Dengan demikian, teori empirisme berpandangan
bahwa pertumbuhkembangan manusia ditentukan oleh faktor pengalaman yang
diperoleh melalui pendidikan.

Tokoh yang mendukung teori empirisme antara lain adalah John Locke dan David
Hume. Dalam hal ini, David Hume amat dikenal dengan teori tabula rasa. Teori ini


                                      20
memperoleh dukungan dari teori stimulus-respon atau teori behaviorisme yang
dipelopori oleh Pavlov (Rusia) dan Watson (Amerika Serikat). Teori ini
mengabaikan sama sekali aspek bakat dan pembawaan yang dimiliki peserta didik,
potensi kecerdasan peserta didik.

Teori ini menyarankan kepada pemerintah dan masyarakat agar menyediakan
lingkungan belajar yang kondusif untuk peserta didik. Penyediaan fasilitas belajar
yang lengkap dan memadai akan memberikan sebanyak mungkin pengalaman
belajar peserta didik.

Pertemuan XI: Teori Pendidikan: Konvergensi

Kedua teori tersebut kemudian digabungkan menjadi satu kesatuan, yang
kemudian dikenal dengan teori konvergensi.

Penggagas teori ini antara lain adalah William Stern.Teori ini berpendapat bahwa
selain manusia itu memang telah dibekali potensi dasar berupa bakat dan
kemampuan, tetapi bakat dan kemampuan itu akan dipengaruhi oleh ruang (space)
dan waktu (time). Dalam hal ini, William Stern percaya bahwa sejak lahir manusia
telah memiliki potensi. Jika potensi ini diibaratkan dengan bibit unggul, maka bibit
unggul itu akan akan tumbuh secara optimal jika bibit unggul itu ditanam di tempat
persemaian yang subur, dan memperoleh rawatan secara intensif. Teori ini
meyakini bahwa bakat dan pembawaan yang bagus akan berkembang secara
optimal apabila diberikan rangsangan faktor dari luar berupa pemberian
pengalaman belajar melalui proses pendidikan, pelatihan, dan pembimbingan.

Teori “dasar” dan “ajar” menurut Ki Hajar Dewantara pada hakikatnya sama
dengan teori konvergensi. Makna dasar tidak lain adalah bakat dan kemampuan.
Sementara ajar pada hakikatnya adalah proses mempengaruhi peserta didik, baik
dari lingkungan maupun proses pembelajaran dan pengajaran di lembaga
pendidikan, baik pendidikan formal, nonformal, maupun informal. Proses
pendidikan menurut teori ini

Pertemuan XII: Lingkungan Pendidikan

Lingkungan pendidikan dikenal juga sebagai miliu pendidikan. Dalam teori
empirisme, miliu pendidikan dipercaya mempunyai pengaruh yang sangat besar
terhadap keberhasilan proses pendidikan. Sementara teori nativisme menafikan
pengaruh lingkungan pendidikan, karena bakat dan pembawaan peserta didik
dinilai mempunyai pengaruh lebih dominan terhadap proses pertumbuhkembangan
manusia. Bagaimana pun juga, teori konvergensi sangat mengakui pengaruh bakat
dan pembawaan seseorang. Namun bukan satu-satunya. Pengaruh bakat dan
kemampuan akan bertemu denga pengaruh dari lingkungan belajar, intervensi
berupa pendidikan, pelatiha, pembimbingan. Pendek kata pertumuhkembangan
manusia dipengaruhi secara bersama-sama antara keduanya, yakni bakat dan
pembawaan serta pengaruh lingkungan pendidikan.

Lingkungan pendidikan antara lain berupa: (1) keadaan alam, misalnya pinggir
pantai, daerah pedalaman, pegunungan; (2) kondisi sosial ekonomi masyarakat,


                                     21
misanya keadaan sosial ekonomi yang rendah, mata pencaharian penduduk dalam
bidang pertanian, perkebunan, industri, perdagangan, jasa, dan sebagainya.

Lingkungan pendidikan pada hakikatnya dapat menjadi sumber pembelajaran.
Teori pembelajaran konstruktivisme mengajarkan kepada kita bahwa peserta didik
harus dapat membangun pemahaman sendiri tentang konsep yang diambil dari
sumber-sumber pembelajaran yang berasal dari lingkungan sekitar siswa.

Proses pendidikan seharusnya dapat menjadi agen pengembangan dan
pemberdayaan masyarakat, misalnya dalam pengembangan sosial ekonomi
masyarakat agar warga masyarakatnya lebih hemat, gemar menabung, memiliki
jiwa demokratis, dan menghormati hak azasi manusia, cinta damai dan menjunjung
nilai-nilai kebersamaan, menanamkan semangat kerja keras, semangat antikorupsi,
dan masih banyak lagi yang lainnya.

Pertemuan XIII: Nilai-nilai Sosial Budaya

Di dunia ini terdapat negara yang maju, di samping negara yang miskin.
Pertanyaan mendasar yang muncul kemudian adalah faktor apa yang menyebabkan
negara itu telah berkembang menjadi negara yang maju, sementara yang lain tidak?
Apakah karena faktor (1) umur negara itu, (2) sumber daya alamnya, atau (3)
faktor rasnya.

Ternyata, masyarakat negara yang maju memiliki nilai-nilai sosial budaya yang
dijunjung tinggi dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai sosial
budaya masyarakat itu adalah sebagai berikut.

1.   Etika, sebagai prinsip dasar dalam kehidupan sehari-hari
2.   Kejujuran dan integritas
3.   Bertanggung jawab
4.   Hormat pada aturan & hukum masyarakat
5.   Hormat pada hak orang/warga lain
6.   Cinta pada pekerjaan
7.   Berusaha keras untuk menabung & investasi
8.   Mau bekerja keras
9.   Tepat waktu

Setiap daerah atau tempat memiliki nilai-nilai social budaya yang berbeda-beda.
Penduduk suku terasing, sebagai contoh, ternyata telah memiliki nilai-nilai social
budaya yang cukup akrab dengan alam. Suku Kubu di Sumatera, konon dikenal
memiliki nilai-nilai social budaya yang sangat bermanfaat untuk melindungi alam
dari kerusakan oleh tangan-tangan manusia.

Negara Kesatuan Republik Indonsia (NKRI) dikenal menjadi negara nasional
(national state) yang memiliki lebih dari 200-an suku bangsa dengan bahasa
daerahnya masing-masing. Di Kabupaten Ende, Provinsi Nusatenggara Timur,
sebagai contoh, terdapat dua suku bangsa, yakni suku bangsa Ende dan suku
bangsa Lao, dengan bahasa daerahnya yang berbeda. Ja’o ata Ende (saya orang
Ende) adalah kalimat dalam Bahasa Ende.


                                     22
Di daerah suku Minang, sebagai contoh yang lain, dikenal dengan nilai-nilai sosial
yang masih kuat dipegang oleh masyarakat suku ini, yakni “hidup bersandi sarak,
sarak bersandi kitabullah” atau hidup bersendi hukum sarak, sarak bersendi
kitabullah. Masih banyak nilai-nilai sosial budaya yang perlu digali kembali untuk
dinilai mana-mana yang masih selaras dengan perkembangan zaman. Untuk ini
peran generasi muda perlu dibangkitkan untuk mampu memberikan penilaian
terhadap nilai-nilai sosial budaya masyarakat itu.

Pancasila dikenal sebagai kristalisasi butir-butir nilai sosial budaya, ideologi dan
politik Bangsa Indonesia. Dalam sejarah diriwayatkan bahwa butir-butir nilai
Pancasila itu telah digali dari nilai-nilai yang terdapat dalam bumi pertiwi kita
sendiri. Ketika Bung Karno dibuang ke Ende oleh Belanda, konon Bung Karno
menyempatkan untuk melakukan perenungan tentang nilai-nilai Pancasila itu di
bawah pohon Sukun. Saat ini tempat itu dinilai sebagai situs sejarah yang masih
dipelihara oleh rakyat Ende.

Pertemuan XIV: Kebudayaan dan Teknologi

Menurut Koentjaraningrat, teknologi merupakan salah satu faset dari 7 (tujuh) faset
kebudayaan. Dalam pertemuan ini akan dibicarakan tentang pengertian, wujud, dan
faset kebudayaan atau ranah kebudayaan.

Budaya atau kebudayaan berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) yang diartikan sebagai hal-
hal yang berkaitan atau dihasilkan dari budi dan akal manusia. Dalam bahasa
Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Bahasa Latin colere,
yang artinya mengolah atau mengerjakan. Dalam hal ini kebudayaan diartikan
sebagai usaha mengolah tanah atau bertani. Culture sering diterjemahkan dengan
"kultur" dalam bahasa Indonesia (www.id.wikipedia.org). Misalnya monokultur
artinya pertanian dengan satu macam jenis tanaman. Sebaliknya, polikultur artinya
pertanian dengan beberapa macam tanaman,

Para ahli antropologi telah melahirkan beberapa definisi kebudayaan, antara lain
sebagai berikut:
E. B. Tylor (1871) mendefinisikan kebudayaan sebagai “that complex whole which
includes knowledge, belief, art, morals, law, custom, and any other capabilities
and habits acquired by man as a member of society”. Dengan kata lain kebudayaan
merupakan satu keseluruhan yang kompleks, termasuk di dalamnya pengetahuan,
kepercayaan, seni, moral, hukum, kebiasaan, dan banyak kemampuan lain dan
kebiasaan yang dimiliki manusia sebagai warga masyarakat.
E Adamson Hoebel, dalam bukunya An Anthropology: The Study of Man,
menyatakan bahwa:
       “The integrated system of learned behavior pattern which are
       characteristic of the members of a society and which are not the result of
       biological inheritance ….culture is not noninstinctive … [culture] is wholly
       the result of social invention and is transmitted and maintatined solely
       through community communication and learning”.


                                      23
               Upacara kedewasaan dari suku WaYao di Malawi, Afrika
                    Sumber: www.id.wikpedia.org




                                       Foto
         Dadak Merak atau Singobarong, lengkap dengan jatilan (penari anak-
                anak) yang duduk di atas kepala singa atau harimau
                   (Sumber: Josko Petkovic dan Charlie Jebb)

Kebudayaan sangat erat kaitanyya dengan masyarakat (society). Kebudayaan
adalah produk dari masyarakat. Masyarakat telah melahirkan kebudayaannya
sendiri, yang unik, yang berbeda dari kebudayaan yang telah dihasilkan kelompok
masyarakat lain. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan
bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan
yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Herskovits memandang kebudayaan


                                  24
sebagai sesuatu yang turun temurun yang telah dilahirkan dari satu generasi ke
generasi berikutnya.

Sedang Andreas Eppink menjelaskan bahwa kebudayaan mengandung keseluruhan
pengertian, yang meliputi tata nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan
struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, yang merupakan keseluruhan
kristaliasasi intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas utama suatu masyarakat
(www.id.wipedia.org).

Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan merupakan hasil cipta,
rasa, dan karsa masyarakat. Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh
pengertian mengenai kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem
ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan
sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan
adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang
berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-
pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain,
yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan
kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, setiap masyarakat akan melahirkan
satu ciri kebudayaan yang unik, yang berbeda dengan kebudayaan yang lahir dari
masyarakat di daerh yang lain. Keunikan tersebut menjadi karakteristik
kebudayaan tertentu, dan menjadi esensi pembeda dengan kebudayaan lannya

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur
kebudayaan, antara lain sebagai berikut:

Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:

1.   alat-alat teknologi;
2.   sistem ekonomi;
3.   keluarga; dan
4.   kekuasaan politik.

Sementara Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:

1.   sistem norma yang memungkinkan kerja sama antara para anggota
     masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya;
2.   organisasi ekonomi;
3.   alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan
     (keluarga adalah lembaga pendidikan utama), dan
4.   organisasi kekuatan (politik).

Sementara Koentjoroningrat menyebutkan adanya 7 (tujuh) unsur kebudayaan, atau
yang disebut sebagai faset-faset kebudayaan atau “mata bajak” kebudayaan, yakni:

1.   sistem kepercayaan;
2.   sistem kekerabatan dan organisasi sosial;
3.   sistem mata pencarian hidup;
4.   bahasa;


                                       25
5.   sistem ilmu pengetahuan;
6.   kesenian, dan
7.   peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi)

Pertemuan XV: Kritik Terhadap Pendidikan

Sejarah telah mengubah dunia demikian cepat. Pendidikan sebagai satu pranata
sosial telah berubah menjadi sistem persekolahaan yang dinilai semakin terlepas
dari akar-akar nilai sosial budaya dalam masyarakat. Beberapa kritik terhadap
sistem persekolahan dapat dicatat sebagai berikut;

1.   Penyempitan arti pendidikan menjadi persekolahan. Ivan Illich memberikan
     kritik dalam bukunya bertajuk ”Dschooling society’. Tokoh pendidikan luar
     sekolah ini memberikan kritik bahwa sekolah telah berubah menjadi dogma-
     dogma keagamaan, sebagaimana kutbah yang diberikan di tempat-tempat
     ibadah.
2.   Terkait dengan itu, bahkan muncul kritik bahwa sekolah telah menjadi
     semacam ”penjara” bagi anak-anak. Anak-anak merasa kehilangan masa
     untuk dapat bersenang-senangnya sebagai anak-anak. Sekolah tidak lagi
     sebagai masa untuk bersenang-senang sebagaimana makna awal yang
     sebenarnya pada arti kata sekolah, yakni ”escole” yang artinya ”the age of
     leasure”.
3.   Kritik paling populer dewasa ini adalah soal liberalisasi pendidikan.
     Pendidikan hanya dapat dinikmati oleh orang-orang kaya yang banyak
     duitnya. Sekolah yang berkualitas tinggi biayanya menjulang langit. Sekolah
     seperti itu didirikan oleh para korporat atau milyuner. Bahkan sekolah asing
     telah bebas dibuka di negara yang masih sedang berkembang. Itulah sebabnya
     terjadilah proses marginalisasi (peminggiran) anak-anak dari keluarga yang
     tidak mampu. Anak-anak dari keluarga tidak mampu menjadi pengemis di
     jalan-jalan raya, pengamen, pemulung, dan bahkan pekerja anak yang diperas
     tenaganya oleh pemilik modal di suatu industri.
4.   Koran Sindo tanggal 20 Mei 2008 telah memuat suara mahasiswa dengan
     tajuk ”Anak Tiri Bernama Pendidikan” yang ditulis oleh Lavinda, seorang
     mahasiswi jurnalistik Fikom Unpad. Sungguh, satu tulisan yang seharusnya
     dapat mengetuk nurani para pemimpin di tanah air. Tulisan ini sebenarnya
     sejalan dengan tulisan Sayidiman Suryohadiprojo, mantan Gubernur
     Lemhanas, yang menyatakan bahwa masalah mendasar pendidikan di negeri
     ini adalah (1) rendahnya komitmen para pemimpin terhadap pendidikan, (2)
     rendahnya anggaran pendidikan. Mahasiswa ini mengingatkan kita semua
     tentang kata-kata bijak dari Bapak Pendidikan Bangsa Vietnam, Ho Chi Minh,
     yang menyatakan bahwa ”No teacher, no education. No education, no
     economic and social development”. Tidak ada guru, tidak ada pendidikan.
     Tidak ada pendidikan, tidak ada pembangunan ekonomi dan sosial.
5.   Masih banyak kritik terhadap pendidikan yang sebenarnya dapat ditulis dalam
     modul ini, khususnya terhadap pendidikan di tanah air tercinta. Sebagai
     mahasiswa, diharapkan dapat lebih berfikir kritis terhadap semua
     permasalahan yang dihadapi dalam masyarakat, termasuk masalah
     pendidikan. Cobalah Anda mengamati kondisi pendidikan di masyarakat, dan



                                    26
          tuangkanlah dalam sebuah tulisan. Cobalah mengirimkan tulisan Anda ke
          media massa.

     Pertemuan XVI: UAS dan Tugas Mandiri

     Tugas Mandiri:

     1.   Berikan komentar singkat terhadap beberapa quotations berikut:
          a. Education is seen as a way to empower people, improve their quality of
               life and increase their capacity to participate in the decision-making
               processes leading to social, cultural and economic policies (UNESCO)
          b. Education is too important to be left only to government (US Secretary of
               Education)
          c. Education should allow children to reach their fullest potential in terms of
               cognitive, emotional and creative capacities (EFA Global Monitoring
               Report 2005, hal 30)
     2.   Cari dari internet atau dari buku yang Anda baca, miminal lima quotations
          tentang pendidikan dan kehidupan manusia dan kemudian tulis komentar
          Anda minimal dalam satu halaman kertas berukuran A4.
     3.   Tulis sebuah artikel pendidikan bertajuk bebas berupa karangan sendiri,
          dengan tema yang sesuai dengan materi mata kuliah ini.
     4.   Carilah artikel tentang pendidikan dari www.google.com, minimal tiga
          artikel, berilah komentar masing-masing setengah halaman ukuran A4.
     5.   Lakukan wawancara kecil dengan seorang guru. Tanyakan kesan dan pesan
          guru kepada Anda. Tulislah minimal dalam 1 (satu) halaman A4.
     6.   Buatlah kliping tentang artikel dari surat kabar, minimal 2 (dua) artikel, dan
          komentari dalam satu halaman.

     Pilihlah salah satu dari beberapa alternatif tugas tersebut. Nilai tugas mandiri ini
     mempunyai bobot 1, dan akan digabung nilai-nilai dari tes formatif (bobot 2) dan
     nilai UAS (bobot 3) untuk menentukan nilai akhir semester Anda. Lakukan tugas
     tersebut dengan penuh tanggung jawab.


4.3. Tes Formatif Untuk Masing-masing Pertemuan

     Tes Formatif Pertemuan II: Hakikat Manusia dan Kehidupannya

     Tes formatif dalam bentuk esai.

     1.   Manusia sebagai mahluk yang tertinggi derajatnya. Jelaskan dengan beberapa
          contoh yang membuktikan pernyataan tersebut.
     2.   Jelaskan perbedaan manusia dengan binatang!
     3.   Dapatkah binatang itu dididik? Jelaskan pendapat Anda.
     4.   Apa yang dapat dipetik dari cerita Kama dan Kamala.
     5.   Apa yang dimaksud manusia disebut sebagai mahluk pembelajar!

     Tes Formatif Pertemuan III: Hakikat Pendidikan dan Kehidupan Manusia



                                           27
1.   Jelaskan pengertian pendidikan atau pedagogi secara etimologis.
2.   Jelaskan pengertian pendidikan menurut UU Nomor 20 tentang Sistem
     Pendidikan Nasional.
3.   Jelaskan pendapat Dewey yang menyatakan pendidikan adalah proses sosial,
     proses kehidupan!
4.   Jelaskan apa pernyataan Kaisar Jepang ketika mendapati negaranya hancur
     lebur karena bom nuklir dalam Perang Dunia II.
5.   Panggung sejarah umat manusia ini telah melalui empat fase. Sebutkan dan
     jelaskan.

Tes Formatif Pertemuan IV: Pendidikan dan Kebudayaan

1.   Fuad Hassan menulis bahwa pendidikan adalah pembudayaan. Coba jelaskan
     apa maksudnya.
2.   Sebut dan jelaskan tiga proses pendidikan dalam kehidupan manusia.
3.   Apakah yang dimaksud lifelong education. Jelaskan kaitannya dengan
     pandangan Agama Islam tentang pendidikan.
4.   Apakah yang dimaksud animal educandum dan animal educandus. Siapakah
     yang menyakatan demikian?
5.   Pendidikan bukankah semata-mata sebagai ”transfer of knowledge” tetapi
     lebih sebagai “transmission of social and culture values and norms”. Jelaskan
     maknanya.

Tes Formatif Pertemuan V: Pendidikan Sebagai Suatu Sistem

1.   Tuhan telah menciptakan jagat raya ini sebagai suatu sistem. Jelaskan dengan
     kalimat Anda sendiri!
2.   Jelaskan pengertian sistem pendidikan nasional menurut UU Nomor 20 Tahun
     2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
3.   Sebutkan dan sedikit jelaskan komponen utama dalam sistem pendidikan
     nasional.
4.   Sebutkan komponen apa yang paling penting! Jelaskan alasan Anda.
5.   Komponen apa saja yang menurut Anda masih kurang mendapatkan
     perhatian? Jelaskan.

Tes Formatif Pertemuan VI: Hak Azasi Manusia Untuk Memperoleh
Pendidikan


1.   Terjemahkan dokumen PBB tentang hak azasi manusia dalam bidang
     pendidikan sebagai berikut.
     ”Everyone has the right to education ... Education shall be directed to the full
     development of human personality and to strengthening of respect for human
     rights and fundamental freedoms. It shall promote understanding, tolerance
     and friendship among all nations, racial or religious groups, and shall further
     the activities of the United Nations for the maintenance of peace” (art. 26 –
     Universal Declaration of Human Rights)




                                     28
2.    Sebutkan empat hak anak yang harus diberikan kepada anak menurut
      Konvensi Hak Anak yang telah diratifikasi dalam Keppres Nomor 26 Tahun
      1990!

Tes Formatif Pertemuan VII: Pilar-pilar Pendidikan

1.    Sebut dan jelaskan empat pilar pendidikan menurut UNESCO!
2.    Sebutkan delapan tipe kecerdasan ganda menurut Howard Gardner. Coba
      renungkan diri Anda. Kecerdasan apakah yang sesungguhnya Anda miliki?

Tes Formatif Pertemuan VIII: UTS (Tes II)

1.    Manusia dapat dididik dan dapat mendidik. Binatang demikian juga (B/S)
2.    Manusia sebagai mahluk pembelajar (B/S)
3.    Manusia harus dididik oleh manusia dan dengan cara manusia (B/S)
4.    Istilah pedagogi sama dengan pendidikan dalam Bahasa Indonesia, dan sama
      dengan education dalam Bahasa Inggris (B/S)
5.    Selaki waktu, pendidikan atas manusia dapat dilakukan dengan cara
      pemaksaan (B/S)
6.    Kaisar Jepang sangat menghargai keberadaan guru untuk membangun bangsa
      Jepang di masa depan (B/S)
7.    Pendidikan merupakan proses sosial, proses kehidupan itu sendiri. Demikian
      pendapat Kant (B/S)
8.    Pendidikan harus diberikan kepada anak sesuai dengan zamannya. Demikian
      pandangan Nabi Muhammad SAW (B/S)
9.    Secara keseluruhan, dunia dewasa ini kita berada pada era food gathering
      (B/S)
10.   Ungkapan gold, glory, dan gospel lahir pada era industrial revolution (B/S)
11.   Secara etimologis berasal dari kata ”paes” yang artinya membimbing, dan
      ”gogos” yang berarti anak (B/S)
12.   Pendidikan adalah pembudayaan. Demikian menurut Fuad Hassan (B/S)
13.   Lifelong education artinya pendidikan anak usia dini (B/S)
14.   Pendidikan semata-mata hanya dapat diartikan sebagai pemindahan ilmu
      pengetahuan dan teknologi (B/S)
15.   Pendidikan merupakan transmission of social dan culture values and norms
      (B/S).
16.   Sesungguhnya semua ciptaan ini dalam bentuk sistem (B/S).
17.   Pendidikan diciptakan sebagai suatu sistem (B/S)
18.   Guru merupakan salah satu komponen pendidikan yang penting (B/S)
19.   Proses pendidikan hanya dapat terjadi di gedung sekolah yang lengkap
      fasilitas pendidikannya (B/S)
20.   Semua manusia memiliki hak hidup (B/S)
21.   Pelaksanaan hak-hak azasi mansuia dapat melanggar hak azasi orang lain
      (B/S)
22.   Memperoleh pendidikan merupakan salah satu hak azasi menusia (B/S)
23.   Learning to know artinya pembelajaran untuk memperoleh pengetahuan (B/S)
24.   Learning to live together pembelajaran untuk memupuk diri menjadi dirinya
      sendiri (B/S)



                                    29
25. Learning to do artinya pembelajaran agar siswa bukan hanya mengetahui
    teori, tetapi juga dapat memiliki kecakapan tertentu (B/S)
26. Kecerdasan bodily kinesthetics perlu dikembangkan untuk memupuk bakat
    olah raga (B/S)
27. Kecerdasan interpersonal diperlukan bagi mereka yang ingin menjadi
    diplomat atau menjadi pedagang besar (B/S)
28. Kecerdasan language perlu dikembangkan bagi mereka yang akan meniti
    karir sebagai wartawan atau penulis buku (B/S)
29. Kecerdasan music perlu dikembangkan bagi mereka yang akan menjadi
    olahragawan (B/S)
30. Kecerdasan logical mathematics perlu dikembangkan bagi mereka yang akan
    menekuni karir sebagai ilmuwan (B/S).

Tes Formatif Pertemuan IX: Teori Pendidikan: Nativisme

1.   Jelaskan pandangan teori nativisme tentang pertumbuhkembangan manusia
     dalam kehidupannya.
2.   Sebutkan beberapa tokoh yang menganut teori nativisme dan bagaimana
     pendapatnya.
3.   Teori nativisme dikenal juga dengan teori pesimisme. Mengapa demikian?
4.   Bagaimana pendapat Anda terhadap teori nativisme tersebut. Berikan
     beberapa alasannya.

Tes Formatif Pertemuan X: Teori Pendidikan: Empirisme

1.   Jelaskan pandangan teori empirisme tentang pertumbuhkembangan manusia
     dalah kehidupannya.
2.   Sebutkan beberapa tokoh penganut teori empirisme dan bagaimana
     pendapatnya.
3.   Teori empirisme dikenal juga dengan teori optimisme. Mengapa demikian?
4.   Apa yang dimaksud dengan teori tabula rasa.
5.   Bagaimana pendapat Anda tentang teori empirisme. Jelaskan beberapa
     alasannya.

Tes Formatif Pertemuan XI: Teori Pendidikan: Konvergensi

1.   Jelaskan pandangan teori konvergensi tentang pertumbuhkembangan manusia
     dalam kehidupannya.
2.   Siapakah tokoh-tokoh penganut teori konvergensi.
3.   Apa pendapat Ki Hajar Dewantara tentang teori konvergensi.
4.   Bagaimana pendapat Anda tentang teori konvergensi. Jelaskan.
5.   Isilah tabel berikut untuk membedakan secara sekilas tentang tiga teori
     pendidikan.

  Aspek pembeda         Nativisme          Emipirisme         Konvergensi
 Penemu, atau
 tokoh penganut
 teori pendidikan



                                    30
 Inti teorinya



 Implikasi terhadap
 proses pendidikan
 yang
 diselenggarakan




Tes Formatif Pertemuan XII: Lingkungan Pendidikan

1.   Apakah yang dimaksud miliu pendidikan.
2.   Sebutkan yang miliu pendidikan yang Anda ketahui. Jelaskan.
3.   Daerah yang terpencil dewasa ini telah mulai mendapatkan perhatian dari
     pemerintah. Apa nasib anak-anak yang berasal dari daerah terpencil seperti
     itu?
4.   Mengapa pemerintah telah mengeluarkan kebijakan tentang SMP Satu Atap
     (Satap). Apa yang melatarbelakangi kebijakan tersebut?
5.   Lembaga pendidikan seharusnya dapat menjadi agen (pelaku) pemberdayaan
     masyarakat. Bukan malah sebaliknya. Jelaskan.

Tes Formatif Pertemuan XIII: Nilai-nilai Sosial Budaya

1.   Setiap masyarakat tertentu memiliki nilai-nilai sosial budaya masing-masing
     yang diwariskan secara turun temurun dari nenek moyangnya hingga saat ini.
     Berikan contoh nilai-nilai sosial budaya yang ada di daerah Anda.
2.   Berikan contoh bahwa umur negara, sumber daya alam, dan ras yang tinggal
     di negara tersebut tidak dapat menjadi faktor yang signifikan yang
     mempengaruhi kemajuan negara tersebut. Berikan beberapa contoh sebagai
     argumentasi.
3.   Apakah yang dimaksud “n ach”? Jelaskan.
4.   Sebutkan beberapa nilai sosial budaya dan teknologi yang besar pengaruhnya
     terhadap perkembangan suatu negara.

Tes Formatif Pertemuan XIV: Kebudayaan dan Teknologi

1.   Jelaskan pengertian etimologis kebudayaan!
2.   Bedakan antara monokultur dengan polikultur!
3.   Jelaskan definisi kebudayaan menurut E.B. Tylor (1981). Sebutkan unsur-
     unsur definisinya.
4.   Sebutkan empat komponen kebudayaan menurut Melville J. Herskovits.
5.   Sebutkan tujuh mata bajak kebudayaan menurut Koentjoroningrat. Jelaskan
     masing-masing faset kebudayaan tersebut.

Tes Formatif Pertemuan XV: Kritik Terhadap Pendidikan



                                   31
1.     Apakah yang dimaksud ”deschooling society” menurut Ivan Illich.
2.     Istilah sekolah berasal dari akar kata ”escole”. Apakah yang dimaksud
       ”escole” tersebut?
6.    ”No teacher, no education. No education, no economic and social
      development”. Apakah artinya? Siapakah yang menyatakan?

Tes UAS (Pertemuan XVI)

Tes tertulis dalam bentuk Benas Salah

1.    Seperti manusia, binatang dapat dididik (B/S).
2.    Biografi seorang tokoh dapat menjadi pembelajaran bagi kehidupan kita
      (B/S).
3.    Cerita Kama dan Kamala menunjukkan bahwa untuk menjadi manusia
      seutuhnya manusia harus dididik oleh manusia dan dengan cara manusia
      (B/S).
4.    Dari teori nativisme dan teori konvergensi lahirlah teori empirisme (B/S).
5.    Education enables people and societies to be what they can be. Pendidikan
      membuat manusia dan masyarakat menjadi apa yang mereka inginkan.
      Demikian pendapat Bill Richardson (B/S).
6.    Education for all (EFA) artinya pendidikan untuk semua anak usia sekolah
      (B/S).
7.    Education is a preparation for life; education is not a life itself. Demikian
      John Dewey berpesan kepada kita (B/S)
8.    Faset kebudayaan yang paling mudah diubah adalah teknologi (B/S)
9.    Kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa manusia (B/S).
10.   Keluarga adalah sebagai ”madrasatul ula” (B/S).
11.   Keluarga broken home dapat menjadi miliu pendidikan yang negatif terhadap
      pendidikan anak. Demikian implikasi dari teori empirisme (B/S).
12.   Kerja keras dan menghargai waktu merupakan beberapa nilai sosial budaya
      masyarakat yang maju (B/S).
13.   Korupsi menjadi musuh besar pembangunan suatu negara (B/S).
14.   Lingkungan pendidikan pada hakikatnya dapat menjadi sumber pembelajaran
      (B/S)
15.   Manusia adalah mahluk pembelajar (B/S)
16.   Manusia adalah pengemban budaya (culture bearer) dan sekaligus sebagai
      pewaris kebudayaan (B/S)
17.   Manusia dapat dididik dan dilatih. Binatang dapat dilatih saja (B/S).
18.   Manusia dapat dididik dan mendidik (B/S)
19.   Manusia lebih rendah derajatnya dibandingkan dengan setan, karena setan
      dibuat dari api, sedang manusia dibuat dari tanah (B/S)
20.   Manusia merupakan animal educancum dan animal educandus (B/S).
21.   Manusia sebagai mahluk pembelajar (B/S)
22.   Manusia sebagai mahluk yang tertinggi derajatnya (B/S).
23.   Manusia sebagai mahluk yang unik. Meski kembar sekalipun keduanya pasti
      akan berbeda (B/S)
24.   Menurut Organization for Economic Cooperation and Development (OECD),
      kualitas pendidikan terbaik di dunia adalah Negara Jepang (B/S)



                                     32
    25. Miliu atau lingkungan pendidikan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan
        pendidikan. Itulah inti teori nativisme (B/S).
    26. Nilai sosial budaya masyarakat di negara yang maju pada umumnya tidak
        tepat waktu (B/S)
    27. Nilai-nilai sosial budaya dan pendidikan menjadi faktor kunci apakah yang
        paling berpengaruh terhadap maju mundurnya suatu negara (B/S).
    28. Pendidikan antara lain dapat diupayakan melalui habit formation (B/S)
    29. Pendidikan berlangsung pada usia sekolah (B/S).
    30. Pendidikan berlangsung sepanjang hayat, mulai dari buaian sampai ke liang
        lahat (B/S)
    31. Pendidikan dapat diupayakan melalui role model (B/S)
    32. Pendidikan dapat diupayakan melalui teaching and learning process (B/S)
    33. Pendidikan formal merupakan pendidikan yang berlangsung pada lembaga
        pendidikan sekolah (B/S)
    34. Pendidikan informal merupakan pendidikan yang berlangsung dalam lembaga
        kursus atau yang berlangsung dalam masyarakat (B/S)
    35. Pendidikan meliputi pendidikan formal, nonformal, dan informal (B/S)
    36. Pendidikan merupakan proses transmission of social and cultural values and
        norms (B/S)
    37. Pendidikan merupakan transmisi budaya dalam masyarakat (B/S).
    38. Pendidikan nonformal merupakan pendidikan yang berlangsung dalam
        keluarga (B/S)
    39. Pendidikan sama dengan pengajaran (B/S)
    40. Pengajaran merupakan proses transfer of knowledge and skills (B/S)
    41. Pengertian pengajaran jauh lebih luas dari pengertian pendidikan (B/S).
    42. Pengertian pengajaran jauh lebih luas dibandingkan dengan pengertian
        pendidikan (B/S).
    43. Penyediaan fasilitas belajar yang lengkap untuk memberikan sebanyak
        mungkin pengalaman belajar peserta didik merupakan kebijakan pendidikan
        yang dilandasi oleh teori nativisme (B/S).
    44. Peran utama pendidikan adalah menemukan potensi dasar peserta didik untuk
        kemudian dikembangkan melalui proses pendidikan (B/S).
    45. Potensi otak manusia terkait erat dengan kelahiran kebudayaan dari suatu
        masyarakat (B/S).
    46. Proses pendidikan dilaksanakan melalui upaya habit formation, teaching and
        learning process, dan role model (B/S).
    47. Proses pendidikan seharusnya dapat menjadi agen pengembangan dan
        pemberdayaan masyarakat (B/S).
    48. Reading habit sebagian besar masyarakat Indonesia masih rendah
        dibandingkan dengan masyarakat Jepang (B/S).
    49. Sistem kepercayaan masyarakat merupakan faset kebudayaan yang paling
        sulit diubah (B/S).
    50. Teori ”dasar” dan ”ajar” dari bapak pendidikan nasional Ki Hajar Dewantara
        sebenarnya sama dengan teori nativisme (B/S).


4.4. Umpan Balik




                                      33
      1.   Tugas mandiri dan tes yang akan dinilai adalah: (A) tugas mandiri, (B) tes
           formatif, (C) UTS (ujian tengah semester), dan (D) UAS (ujian akhir
           semester).
      2.   Bobot A = 1, B = 2, C = 3, dan D = 4
      3.   Nilai Akhir Semester adalah (AX1) + (BX2) + (CX3) + (DX4) : 4.
      4.   Dengan skala 4, nilai tersebut dapat dipadankan sebagai berikut:
           Baik Sekali      = 80 – 100
           Baik             = 70 – 79
           Sedang           = 60 – 69
           Kurang           = < 60


5.     Referensi
      Abdul Latif. 2007. Pendidikan Berbasis Nilai Kemasyarakatan. Bandung: Refika
             Aditama.
      Madyo Ekosusilo, dkk. 1987. Dasar-dasar Pendidikan. Semarang: Effhar
             Publishing.
      Nurani Soyomukti. Pendidikan Berperspektif Globalisasi. Jogjakarta: Ar-Ruzz
             Media.
      Suparlan. 2004. Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, dari Konsepsi Ke Implentasi.
             Yogyakarta: Hikayat Publishing
      Suparlan. 2005. Menjadi Guru Efektif. Yogyakarta: Hikayat Publishing.
      Widiastono, Tonny D. Pendidikan Manusia Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku
             Kompas.


6.     Lampiran
6.1. Lampiran 1: Pendidikan Terbaik Di Dunia

                        PENDIDIKAN TERBAIK DI DUNIA
                             Oleh : Andri Aji Saputro
                          Sumber: cefb@yahoogroup.com

Tahukah Anda negara mana yang kualitas pendidikannya menduduki peringkat pertama di
dunia? Kalau Anda tidak tahu tidak mengapa, karena memang banyak orang yang tidak
tahu bahwa peringkat pertama kualitas pendidikan adalah Finlandia.

Kualitas pendidikan di negara dengan ibukota Helsinki, dimana perjanjian damai dengan
GAM dirundingkan, ini memang begitu luar biasa sehingga membuat iri semua guru di
seluruh dunia.

Peringkat pertama dunia ini diperoleh Finlandia berdasarkan hasil survey internasional
yang komprehensif pada tahun 2003 oleh Organization for Economic Cooperation and
Development (OECD). Tes tersebut dikenal dengan nama PISA mengukur kemampuan
siswa di bidang Sains, Membaca, dan juga Matematika. Hebatnya, Finlandia bukan hanya
unggul secara akademis tapi juga menunjukkan unggul dalam pendidikan anak-anak


                                          34
lemah mental. Ringkasnya, Finlandia berhasil membuat semua siswanya cerdas.

Lantas apa kuncinya sehingga Finlandia menjadi top momor 1 dunia? Dalam masalah
anggaran pendidikan Finlandia memang sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara
di Eropa tapi masih kalah dengan beberapa negara lainnya.

Finlandia tidaklah mengenjot siswanya dengan menambah jam-jam belajar, memberi
beban PR tambahan, menerapkan disiplin tentara, atau memborbardir siswa dengan
berbagai tes. Sebaliknya, siswa di Finlandia mulai sekolah pada usia yang agak lambat
dibandingkan dengan negara-negara lain, yaitu pada usia 7 tahun, dan jam sekolah mereka
justru lebih sedikit, yaitu hanya 30 jam perminggu. Bandingkan dengan Korea, ranking
kedua setelah Finnlandia, yang siswanya menghabiskan 50 jam perminggu.

Lalu apa dong kuncinya? Ternyata kuncinya memang terletak pada kualitas gurunya.
Guru-guru Finlandia boleh dikata adalah guru-guru dengan kualitas terbaik dengan
pelatihan terbaik pula. Profesi guru sendiri adalah profesi yang sangat dihargai, meski gaji
mereka tidaklah terlalu fantastis. Lulusan sekolah menengah terbaik biasanya justru
mendaftar untuk dapat masuk di sekolah-sekolah pendidikan dan hanya 1 dari 7 pelamar
yang bisa diterima, lebih ketat persaingainnya ketimbang masuk ke fakultas bergengsi
lainnya seperti fakultas hukum dan kedokteran!

Bandingkan dengan Indonesia yang guru-gurunya dipasok oleh siswa dengan kualitas
seadanya dan dididik oleh perguruan tinggi dengan kualitas seadanya pula. Dengan
kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan dan pelatihan guru yang berkualitas tinggi
tak salah jika kemudian mereka dapat menjadi guru-guru dengan kualitas yang tinggi pula.

Dengan kompetensi tersebut mereka bebas untuk menggunakan metode kelas apapun yang
mereka suka, dengan kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka
pilih sendiri. Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa
merupakan bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya
bahwa ujian dan testing itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa. Terlalu banyak
testing membuat kita cenderung mengajar siswa untuk lolos ujian, ungkap seorang guru di
Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang tidak bisa diukur dengan ujian.
Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk mengetahui kualifikasi mereka di perguruan
tinggi dan dua pertiga lulusan melanjutkan ke perguruan tinggi.

Siswa diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! Ini membantu
siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom, kepala
sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Dan kalau mereka bertanggungjawab mereka akan
bekeja lebih bebas. Guru tidak harus selalu mengontrol mereka.

Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri
informasi yang mereka butuhkan. Siswa belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri
informasi yang mereka butuhkan. Kita tidak belajar apa-apa kalau kita tinggal menuliskan
apa yang dikatakan oleh guru. Di sini guru tidak mengajar dengan metode ceramah, Kata
Tuomas Siltala, salah seorang siswa sekolah menengah. Suasana sekolah sangat santai dan
fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan menghasilkan rasa tertekan dan belajar
menjadi tidak menyenangkan, sambungnya.



                                             35
Siswa yang lambat mendapat dukungan yang intensif. Hal ini juga yang membuat
Finlandia sukses. Berdasarkan penemuan PISA, sekolah-sekolah di Finlandia sangat kecil
perbedaan antara siswa yang berprestasi baik dan yang buruk dan merupakan yang terbaik
menurut OECD.

Remedial tidaklah dianggap sebagai tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk
memperbaiki. Seorang guru yang bertugas menangani masalah belajar dan perilaku siswa
membuat program individual bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang
harus dicapai, umpamanya: pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu;
berikutnya, bawa buku, dan sebagainya. Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu
untuk menjawab dengan benar, yang penting mereka berusaha.

Para guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka,
jika kita mengatakan "Kamu salah" pada siswa, maka hal tersebut akan membuat siswa
malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar. Setiap
siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta membandingkan hasil
mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa lainnya. Jadi tidak ada sistem
ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar bangga terhadap dirinya masing-masing.

Ranking-rankingan hanya membuat guru memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu
yang dianggap terbaik di kelasnya. Kehebatan sistem pendidikan di Finlandia adalah
gabungan antara kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada
keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalau saya gagal dalam mengajar seorang
siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan pengajaran saya!
Benar-benar ucapan guru yang sangat bertanggungjawab.


6.2. Lampiran 2: Artikel “Bangsa Jepang Yang Luar Biasa”


                      BANGSA JEPANG YANG LUAR BIASA

                            Oleh Yuli Setyo Indartono
                          Mahasiswa S3 di Graduate School


Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu kala; namun berkisah
tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini berarti sesuatu yang mengherankan bila
disandingkan dengan kondisi keseharian di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri
dongeng yang sempurna, ada nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik
untuk disimak dan diaplikasikan di tanah air tercinta.

Tulisan ini merupakan fragmentasi keseharian saya, istri, dan beberapa kawan dekat kami
di Jepang.

01. Kantor pemerintahan dan pelayanan publik

Anda pernah meli hat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira situasi kantor
pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada "semut" yang diam termangu, apalagi membaca


                                          36
koran; seluruh karyawan kantor senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga
pulang larut malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam "semut-semut" yang
sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-jangan mereka sedang
ber-internet ria seperti kebiasaan saya di kampus. Ingin saya mengetahui makanan apa
gerangan yang dikonsumsi para pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk,
berkonsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah tersebut. Tata ruang
kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang
sama - tanpa sekat; semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca
koran, pasti akan ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan
aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat.

Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama
seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam-dalam dengan pola serius utuh
diselingi dengan senyuman. Saya hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang
mempelajari system pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka - para "semut" tersebut -
tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard upah di Jepang. Yang saya baca di
internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang
menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.

Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan fasilitas dari
Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan tersebut, saya harus mendatangi
kantor kecamatan (kuyakusho) atau walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen
harus diisi; khas Jepang: teliti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan saya
harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan sambilan (arubaito =
part time job), apakah anak anda tinggal bersama anda (untuk mengurus tunjangan anak),
dsb. Dan dalam banyak hal, pertanyaan-pertanya an tersebut cukup dijawab dengan lisan:
ya atau tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari "RT, RW, Kelurahan" dsb. Saya
percaya bahwa sistem yang baik selalu
mensyaratkan kejujuran.

Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan meningkat, sekaligus sangat efisien.
Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing yang kurang lancar berbahasa Jepang,
saya mendapatkan "fasilitas" diantar kesana-kemari pada saat mengurus berbagai
dokumen untuk mengajukan keringanan biaya melahirkan istri saya. Hal ini terjadi
beberapa kali. Seorang senior saya pernah mengatakan, begitu anda masuk ke kantor
pemerintahan di Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain hari
saya membaca prinsip "the biggest (service) for the small" yang kurang
lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk orang-orang yang kurang
beruntung.

Pameo "kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah" tidak saya jumpai di Jepang. Pada
suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho) saya diminta untuk menyerahkan surat pajak
penghasilan. Saya mengatakan bahwa saya sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan
surat yang sama ke bagian lain di kantor tersebut. Saya sudah siap dan pasrah seandainya
mereka menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat tersebut ke kantor kecamatan
sebelum saya pindah ke kota ini. Agak tertegun sekaligus lega mendapat jawaban bahwa
staf divisi tersebut akan mendatangi divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen
pajak saya sekian bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana. Ambil jalan yang
mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah yang saya jumpai di Jepang.


                                           37
Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami sempat terkejut
melihat tagihan listrik bulanan yang melonjak hingga 10 kali lipat. Setelah melakukan
pengusutan sederhana, tahulah kami bahwa ada kesalahan pencatatan meter listrik oleh
petugas - sebuah kesalahan yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya telpon
perusaah listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan kesalahan tersebut. Berkali-kali
kata sumimasen (yang bisa pula berarti maaf) keluar dari mulut operator telepon. Saya
menganggapnya sudah selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak
lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu, istri menelpon dari
rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk meminta maaf dan menarik slip tagihan.
Setibanya di rumah malam harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah
sekelas petugas lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah saya bahwa
dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi sabun dan shampo merk cukup
terkenal menyertai kartu nama petugas tersebut. Saya hanya berharap, waktu itu, bahwa
petugas pencatat yang keliru tidak akan bunuh diri. Karena kekeliruan dalam bekerja,
secara umum, menyangkut kehormatan di Negara ini.

Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di Jepang akan sebuah
paradigma "Bila anda datang ke kantor pada pukul 09.00 (jam resmi masuk kantor di
Jepang) dan pulang pada pukul 17.00 (jam resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan
dan kawan-kawan anda akan mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja". Saya
membuktikan pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda melintasi kantor walikota
(shiyakusho). Sebagian besar lampu di kantor itu masih menyala hingga pukul 20.00. Dan
beberapa kali saya jumpai staf kantor tersebut memasuki stasiun kereta, juga sekitar pukul
20.00. Hal ini berarti, mereka semua memiliki niat bekerja - versi Jepang.

02.Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian

Suatu kali pernah kami membeli sebungkus buah-buahan dengan bandrol murah; favorit
bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya sudah mengetahui bahwa ada sedikit
cacat (gores atau bekas benturan) pada permukaan beberapa buah-buahan - sesuai dengan
harga murah yang disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut,
penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi sedikit cacat pada
beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali memastikan niat kami membelinya. Sembari
tersenyum, tentu saja kami mengatakan "daijobu" (tidak apa-apa), karena kami sudah meli
hatnya dari awal. Beberapa kawan kami mengiyakan pada saat kami menceritakan
kejadian yang bagi kami cukup mengherankan ini; ini berarti sikap jujur tersebut tidak
dimonopoli oleh satu-dua pedagang. Mereka mengerti betul bahwa kejujuran adalah
prasyarat utama keberhasilan dalam berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat dalam
jumlah besar, bila nantinya akan kehilangan pelanggan.

Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu menerima uang kembalian
dalam jumlah yang utuh - sesuai dengan yang tertera pada slip pembayaran. Tidak kurang,
meski hanya satu yen (mata uang terkecil di Jepang). Tidak ada "pemaksaan" untuk
menerima permen sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan praktek
berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem perbankan Jepang yang
mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang dan vending machine (mesin penjual
otomatis) di se-antero Jepang. Meski bagi sebagian kalangan, uang kembalian terlihat
"sepele"; hal ini bisa menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual-beli .


                                            38
Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan karena "keriangan" anak-anak, pada
beberapa kasus, pak telur atau buah-buahan bisa meluncur ke lantai. Dua kali terjadi
beberapa telur dalam satu pak pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali melibatkan
buah yang mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, petugas supermarket melihat dan
segera mengganti barang-barang tersebut dengan yang baru. Padahal kami datang dengan
wajah lelah dan pasrah untuk membayarnya, karena kami menyadari benar bahwa ini
adalah kelalaian kami. Bahkan pada satu kasus, barang tersebut sudah dibayar istri saya.
Pada saat kami menerangkan bahwa ini semua ketidaksengajaan anak-anak kami, dengan
ramah petugas supermarket menyahut "daijobu yo" (tidak apa-apa).

Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia untuk sebuah
konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas supermarket di Jepang. Di
Jepang, bila anda menanyakan keberadaan sebuah barang, maka petugas tidak sekedar
memberi arah petunjuk pada anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa
dengan barang yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah memastikan
bahwa everything is ok. Hal ini tidak berarti bahwa jumlah petugas supermarket di Jepang
demikian banyaknya hingga mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam supermarket yang
sangat besar; justru sebaliknya, jumlah petugas selalu sesuai benar dengan kebutuhan, dan
mereka selalu bergerak - seperti semut. Di sebuah toko elektronik, seorang petugas yang
menjelaskan spesifikasi komputer yang anda tanyai adalah juga kasir tempat anda
membayar serta petugas yang melakukan packing akhir terhadap komputer yang anda beli.

03.Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi

Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di Kobe demi m eli hat
postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih gagah dibandingkan dengan petugas pos
di Indonesia. Benar, ini bukan metafora. Memang ada pula polisi di tingkat prefecture
(propinsi) yang gagah mengendarai motor besar bak Chip - ini jumlahnya sedikit. Namun
polisi kota besar seukuran Kobe - salah satu kota metropolis di Jepang, posturnya tidak
segagah polisi yang sering saya jumpai di jalan-jalan Republik. Anda tentu menganggap
saya sedang bergurau bila saya mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya
serupa benar dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau. Ini Kobe dan
Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek terbang tersebut dilengkapi
dengan boks besi di bagian belakang - mirip dengan petugas pengantaran barang kiriman.
Namun, sekali bapak atau mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya
melihat ada diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di negara dengan
sistem network yang sangat baik ini. Kemana pun anda lari, kesitu pula polisi dengan
uniform yang serupa akan menghampiri anda. Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum,
bahwa polisi di sini lebih pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision
maker) - kedua fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus berotot dan
berisi. Tak heran saya m eli hat mas-mas polisi muda berkacamata melakukan patroli
dengan bebek terbangnya. Mereka hanya perlu melihat, mengawasi, dan mengambil
keputusan. Selebihnya, sistem yang akan bekerja.

04.Lingkungan hidup dan transportasi

Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini hampir separuh
populasi Republik tercinta.


                                           39
Di sisi lain, wilayah negara ini didominasi oleh pegunungan yang sulit untuk dihuni.
Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya menduga bahwa Pemerintah Jepang memang
sengaja membiarkan kehijauan melekat pada daerah pegunungan tersebut. Tokyo adalah
kota besar dengan jumlah penduduk terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan
berbagai kota besar di mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya dataran yang bisa
dihuni, dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua hal: kerapian dan kebersihan.
Anda akan sangat kesulitan menjumpai sampah anthrophogenik (akibat aktivitas manusia)
di jalan-jalan di Jepang. Kemana mata anda memandang, maka kesitulah anda akan
tertumbuk pada situasi yang bersih dan rapi. Orang Jepang meletakkan sepatu/alas kaki
dengan tangan, bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja. Mereka menyadari
bahwa ruang (space) yang mereka miliki tidak luas, sehingga semuanya harus rapi dan
tertata. Sepatu dan alas kaki diletakkan dengan posisi yang siap untuk digunakan pada saat
kita keluar ruangan. Hal ini sesuai dengan karakteristik mereka yang senantiasa well-
prepared dalam berbagai hal. Kadang saya menjumpai kondisi yang ekstrim; seorang
pasien yang sedang menunggu giliran di depan saya berbicara dan menggerakkan anggota
tubuhnya sendiri. Saya tahu bahwa ruang periksa di hadapan kami bukan ditempati
psikiater ataupun neurophysicist. Belakangan saya tahu dari kawan yang belajar di bidang
kedokteran, boleh jadi pasien tersebut sedang mempersiapkan dialog dengan dokternya.

Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus, kereta (lokal, ekspres,
super ekspres), shinkansen, dan pesawat terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan
sarana transportasi di Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki
kendaraan sendiri - kecuali bila anda tinggal di country-side yang tidak memiliki banyak
alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen (kereta antar kota super ekspres)
mendominasi moda transportasi di Jepang. Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan
bahwa kepadatan lalu lintas kereta di Jepang hádala yang tertinggi di dunia. Di Jepang,
kereta dan shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal ini tidak menyebabkan polusi
udara di perkotaan, karena listrik diproduksi terpusat. PLTN sebagai salah satu sumber
pemasok utama energi listrik di Jepang, tentu saja, juga berkontribusi pada rendahnya
polusi udara karena, praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2. Nasehat "tengoklah dari kiri
dan kanan sebelum menyeberang jalan" mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan
bila anda menyeberang di tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu
lambang pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda akan selamat sampai
ke seberang - tanpa perlu menengok kiri dan kanan. Saat berkesempatan mengunjungi kota
besar lain di Asia, kebiasaan menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hampir
terserempet motor; lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota ini.

05.Kesehatan dan rumah sakit

Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih mampu memajukan
bangsa dan negaranya.

Mahasiswa di tempat saya belajar, Kobe University, wajib melakukan pemeriksaan
kesehatan (gratis) setahun sekali. Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat perhatian yang
tinggi dari pemerintah. Sebagai orang asing, mahasiswa pula, kami dianjurkan untuk
mengikuti program asuransi nasional. Dengan mengikuti program ini, kami hanya perlu
membayar 30% dari biaya berobat.



                                            40
Dari yang 30% tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya akan mendapatkan tambahan
potongan sebesar 80% (yang belakangan turun menjadi 35%) dari Kementrian Pendidikan
Jepang. Berstatuskan mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang jauh
lebih kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan rutin yang dikirimkan
oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya bahwa ongkos berobat kami selalu (jauh)
lebih besar dari premi asuransi yang saya bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu
asuransi nasional, datang ke rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi menjadi hal
yang menakutkan bagi keluarga kami di Jepang. Jangan membayangkan bahwa pihak
rumah sakit atau klinik swasta akan memberikan perlakuan yang berbeda kepada para
pemegang kartu asuransi - apalagi untuk kami yang mendapatkan kartu tambahan khusus
keluarga tidak mampu. Para dokter dan perawat melayani dengan keramahan yang tidak
berkurang serta prosedur yang sama sederhananya. Keramahan di sini berarti keramahan
yang sebenar-benarnya. Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar dari
rumah sakit di Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri melahirkan di rumah sakit
pemerintah di Ashiya, saya disodori formulir yang berisi opsi pembayaran: tunai, lewat
bank, dll. Tidak menjadi sebuah keharusan bagi seorang pasien untuk menyelesaikan
kewajiban pembayaran di hari dia harus keluar dari rumah sakit. Alhamdulillah kami
mendapatkan keringanan biaya melahirkan dari Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa
melenggang dari rumah sakit tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari Kantor Walikota
(setelah dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru datang dua bulan kemudian.

Saling percaya adalah kuncinya.

Diambil dari DetikForum


6.3. Lampiran 3: Artikel Pilihan 3 Artikel Anak Tiri Bernama
     bernama Pendidikan


                    ANAK TIRI BERNAMA PENDIDIKAN
                                    Oleh Lavinda *)
                           Koran Sindo, Tuesday, 20 May 2008

MOMENTUM kebangkitan nasional yang ditandai dengan pengukuhan nasionalisme
bangsa menyeruak seratus tahun lalu. Tepat pada 20 Mei 1908, Boedi Oetomo lahir
sebagai organisasi cikal bakal penggerak kebangkitan bangsa.

Ketika itu dr Soetomo beserta kaum muda berpendidikan lain memunculkan kesadaran
untuk melawan penjajah dan bangkit dari keterpurukan,kemiskinan,serta keterbelakangan.
Banyaknya kaum terpelajar di Indonesia kala itu merupakan faktor munculnya
kebangkitan nasional.Ini membuktikan bahwa pendidikan mampu membawa perubahan
bagi bangsa.

Pendidikan diibaratkan sebagai sekrup multiguna, karena mampu bersanding dengan
murid dari sektor-sektor lain. Sayang, pendidikan di negeri ini sering kali dianaktirikan.
Bidang ini belum menjadi prioritas dan dianggap tidak lebih penting dari sektor lain.


                                             41
Asumsi pun mengudara,”Apa sebegitu kurang seksinya dunia pendidikan ini sehingga para
penguasa enggan berinovasi?” Jawabannya hanya satu: entah.

Masalah itu sudah masuk ke ranah political will. Itulah yang akan menjadi gambaran nyata
arah ketertarikan penguasa. Lemahnya sistem pendidikan baik dari segi dana, fasilitas,
maupun sistem merefleksikan kemunduran negara. Indonesia belum mampu menciptakan
inovasi dalam sistem pendidikan.Anggaran pendidikan pun masih kurang. Pendidikan
layak hanya bisa dinikmati kalangan berpunya.

Pemerintah hanya mengalokasikan anggaran pendidikan sebesar 12% dari total APBN
2008. Pemerintah masih belum bisa menjalankan amanat Pasal 31 ayat 4 UUD 1945 hasil
amendemen keempat yang menyatakan negara memprioritaskan anggaran pendidikan
sekurang-kurangnya 20% dari APBN dan APBD. Atensi terhadap kesejahteraan guru pun
tak jauh berbeda.

Realitanya,masih ada saja guru yang diupah tidak lebih dari tiga ratus ribu sebulan.
Padahal, dalam konteks pendidikan, guru adalah ujung tombak. Mungkin itulah yang
menjadi landasan berpikir bagi Ho Chi Minh (bapak pendidikan Vietnam) yang
mengatakan ”No teacher no education. No education, no economic and social
development”. Premisnya sangat lugas dan jelas. Jika ditelisik ke massa silam, tak banyak
yang tahu bahwa banyak pahlawan tanah air kita mengawali kariernya sebagai guru.

Sebut saja Ir Soekarno, Bung Hatta, Jenderal Sudirman, Agus Salim, dan Suwardi
Suryaningrat yang lebih dikenal dengan Ki Hadjar Dewantara. Hal ini setidaknya
membuktikan bahwa bangsa kita besar dan bangkit karena pendidikan. Kebangkitan
pendidikan Indonesia dapat diwujudkan dengan mereformasi sistem pendidikan.
Pemerintah mesti sadar bahwa kecerdasan tidak semata-mata diukur oleh angka. Sistem
tidak perlu membuat pendidikan menjadi tumbal bagi kepentingan politis.

Selain itu, pemerintah harus memberi perhatian penuh terhadap kesejahteraan para pelaku
pendidikan. Pada dasarnya, bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai proses
sejarah. Penghargaan itu diwujudkan dengan mengembangkan pendidikan yang
menciptakan pemikiran-pemikiran terbaik bagi kebangkitan bangsa. Berantas kebodohan
dengan pendidikan.

Sesungguhnya kebodohan akan melahirkan berbagai bentuk penjajahan. Sama halnya
ketika Belanda dengan leluasa menjajah negeri ini selama berabad-abad, akibat kebodohan
yang mendarah daging. Kebodohan yang dibiarkan terus-menerus menggerogoti raga
bangsa sekian lama. Apatah ada kebangkitan nasional jika si empunya (pendidikan) kian
dianaktirikan dan tersingkir?

*) Mahasiswi Jurnalistik Fikom Unpad

6.4. Lampiran 4: Artikel Pilihan 4

                              MY PEDAGOGIC CREED

   John Dewey's famous declaration concerning education. First published in The
      School Journal, Volume LIV, Number 3 (January 16, 1897), pages 77-80.


                                           42
ARTICLE I--What Education Is

I believe that all education proceeds by the participation of the individual in the social
consciousness of the race. This process begins unconsciously almost at birth, and is continually
shaping the individual's powers, saturating his consciousness, forming his habits, training his ideas,
and arousing his feelings and emotions. Through this unconscious education the individual
gradually comes to share in the intellectual and moral resources which humanity has succeeded in
getting together. He becomes an inheritor of the funded capital of civilization. The most formal
and technical education in the world cannot safely depart from this general process. It can only
organize it or differentiate it in some particular direction.

I believe that the only true education comes through the stimulation of the child's powers by the
demands of the social situations in which he finds himself. Through these demands he is
stimulated to act as a member of a unity, to emerge from his original narrowness of action and
feeling, and to conceive of himself from the standpoint of the welfare of the group to which he
belongs. Through the responses which others make to his own activities he comes to know what
these mean in social terms. The value which they have is reflected back into them. For instance,
through the response which is made to the child's instinctive babblings the child comes to know
what those babblings mean; they are transformed into articulate language and thus the child is
introduced into the consolidated wealth of ideas and emotions which are now summed up in
language.

I believe that this educational process has two sides-one psychological and one sociological; and
that neither can be subordinated to the other or neglected without evil results following. Of these
two sides, the psychological is the basis. The child's own instincts and powers furnish the material
and give the starting point for all education. Save as the efforts of the educator connect with some
activity which the child is carrying on of his own initiative independent of the educator, education
becomes reduced to a pressure from without. It may, indeed, give certain external results, but
cannot truly be called educative. Without insight into the psychological structure and activities of
the individual, the educative process will, therefore, be haphazard and arbitrary. If it chances to
coincide with the child's activity it will get a leverage; if it does not, it will result in friction, or
disintegration, or arrest of the child nature.

I believe that knowledge of social conditions, of the present state of civilization, is necessary in
order properly to interpret the child's powers. The child has his own instincts and tendencies, but
we do not know what these mean until we can translate them into their social equivalents. We must
be able to carry them back into a social past and see them as the inheritance of previous race
activities. We must also be able to project them into the future to see what their outcome and end
will be. In the illustration just used, it is the ability to see in the child's babblings the promise and
potency of a future social intercourse and conversation which enables one to deal in the proper
way with that instinct.

I believe that the psychological and social sides are organically related and that education cannot
be regarded as a compromise between the two, or a superimposition of one upon the other. We are
told that the psychological definition of education is barren and formal--that it gives us only the
idea of a development of all the mental powers without giving us any idea of the use to which
these powers are put. On the other hand, it is urged that the social definition of education, as
getting adjusted to civilization, makes of it a forced and external process, and results in
subordinating the freedom of the individual to a preconceived social and political status.

I believe that each of these objections is true when urged against one side isolated from the other.
In order to know what a power really is we must know what its end, use, or function is; and this we
cannot know save as we conceive of the individual as active in social relationships. But, on the


                                                   43
other hand, the only possible adjustment which we can give to the child under existing conditions,
is that which arises through putting him in complete possession of all his powers. With the advent
of democracy and modern industrial conditions, it is impossible to foretell definitely just what
civilization will be twenty years from now. Hence it is impossible to prepare the child for any
precise set of conditions. To prepare him for the future life means to give him command of
himself; it means so to train him that he will have the full and ready use of all his capacities; that
his eye and ear and hand may be tools ready to command, that his judgment may be capable of
grasping the conditions under which it has to work, and the executive forces be trained to act
economically and efficiently. It is impossible to reach this sort of adjustment save as constant
regard is had to the individual's own powers, tastes, and interests-say, that is, as education is
continually converted into psychological terms.

In sum, I believe that the individual who is to be educated is a social individual and that society is
an organic union of individuals. If we eliminate the social factor from the child we are left only
with an abstraction; if we eliminate the individual factor from society, we are left only with an
inert and lifeless mass. Education, therefore, must begin with a psychological insight into the
child's capacities, interests, and habits. It must be controlled at every point by reference to these
same considerations. These powers, interests, and habits must be continually interpreted--we must
know what they mean. They must be translated into terms of their social equivalents--into terms of
what they are capable of in the way of social service.

ARTICLE II--What the School Is

I believe that the school is primarily a social institution. Education being a social process, the
school is simply that form of community life in which all those agencies are concentrated that will
be most effective in bringing the child to share in the inherited resources of the race, and to use his
own powers for social ends.

I believe that education, therefore, is a process of living and not a preparation for future living.

I believe that the school must represent present life-life as real and vital to the child as that which
he carries on in the home, in the neighborhood, or on the playground.

I believe that education which does not occur through forms of life, or that are worth living for
their own sake, is always a poor substitute for the genuine reality and tends to cramp and to
deaden.

I believe that the school, as an institution, should simplify existing social life; should reduce it, as
it were, to an embryonic form. Existing life is so complex that the child cannot be brought into
contact with it without either confusion or distraction; he is either overwhelmed by the multiplicity
of activities which are going on, so that he loses his own power of orderly reaction, or he is so
stimulated by these various activities that his powers are prematurely called into play and he
becomes either unduly specialized or else disintegrated.

I believe that as such simplified social life, the school life should grow gradually out of the home
life; that it should take up and continue the activities with which the child is already familiar in the
home.

I believe that it should exhibit these activities to the child, and reproduce them in such ways that
the child will gradually learn the meaning of them, and be capable of playing his own part in
relation to them.




                                                   44
I believe that this is a psychological necessity, because it is the only way of securing continuity in
the child's growth, the only way of giving a back-ground of past experience to the new ideas given
in school.

I believe that it is also a social necessity because the home is the form of social life in which the
child has been nurtured and in connection with which he has had his moral training. It is the
business of the school to deepen and extend his sense of the values bound up in his home life.

I believe that much of present education fails because it neglects this fundamental principle of the
school as a form of community life. It conceives the school as a place where certain information is
to be given, where certain lessons are to be ]earned, or where certain habits are to be formed. The
value of these is conceived as lying largely in the remote future; the child must do these things for
the sake of something else he is to do; they are mere preparation. As a result they do not become a
part of the life experience of the child and so are not truly educative.

I believe that the moral education centers upon this conception of the school as a mode of social
life, that the best and deepest moral training is precisely that which one gets through having to
enter into proper relations with others in a unity of work and thought. The present educational
systems, so far as they destroy or neglect this unity, render it difficult or impossible to get any
genuine, regular moral training.

I believe that the child should be stimulated and controlled in his work through the life of the
community.

I believe that under existing conditions far too much of the stimulus and control proceeds from the
teacher, because of neglect of the idea of the school as a form of social life.

I believe that the teacher's place and work in the school is to be interpreted from this same basis.
The teacher is not in the school to impose certain ideas or to form certain habits in the child, but is
there as a member of the community to select the influences which shall affect the child and to
assist him in properly responding to these influences.

I believe that the discipline of the school should proceed from the life of the school as a whole and
not directly from the teacher.

I believe that the teacher's business is simply to determine on the basis of larger experience and
riper wisdom, how the discipline of life shall come to the child.

I believe that all questions of the grading of the child and his promotion should be determined by
reference to the same standard. Examinations are of use only so far as they test the child's fitness
for social life and reveal the place in which he can be of the most service and where he can receive
the most help.

ARTICLE III--The Subject-Matter of Education

I believe that the social life of the child is the basis of concentration, or correlation, in all his
training or growth. The social life gives the unconscious unity and the background of all his efforts
and of all his attainments.

I believe that the subject-matter of the school curriculum should mark a gradual differentiation out
of the primitive unconscious unity of social life.




                                                  45
I believe that we violate the child's nature and render difficult the best ethical results, by
introducing the child too abruptly to a number of special studies, of reading, writing, geography,
etc., out of relation to this social life.

I believe, therefore, that the true center of correlation on the school subjects is not science, nor
literature, nor history, nor geography, but the child's own social activities.

I believe that education cannot be unified in the study of science, or so called nature study, because
apart from human activity, nature itself is not a unity; nature in itself is a number of diverse objects
in space and time, and to attempt to make it the center of work by itself, is to introduce a principle
of radiation rather than one of concentration.

I believe that literature is the reflex expression and interpretation of social experience; that hence it
must follow upon and not precede such experience. It, therefore, cannot be made the basis,
although it may be made the summary of unification.

I believe once more that history is of educative value in so far as it presents phases of social life
and growth. It must be controlled by reference to social life. When taken simply as history it is
thrown into the distant past and becomes dead and inert. Taken as the record of man's social life
and progress it becomes full of meaning. I believe, however, that it cannot be so taken excepting as
the child is also introduced directly into social life.

I believe accordingly that the primary basis of education is in the child's powers at work along the
same general constructive lines as those which have brought civilization into being.

I believe that the only way to make the child conscious of his social heritage is to enable him to
perform those fundamental types of activity which make civilization what it is.

I believe, therefore, in the so-called expressive or constructive activities as the center of
correlation.

I believe that this gives the standard for the place of cooking, sewing, manual training, etc., in the
school.

I believe that they are not special studies which are to be introduced over and above a lot of others
in the way of relaxation or relief, or as additional accomplishments. I believe rather that they
represent, as types, fundamental forms of social activity; and that it is possible and desirable that
the child's introduction into the more formal subjects of the curriculum be through the medium of
these activities.

I believe that the study of science is educational in so far as it brings out the materials and
processes which make social life what it is.

I believe that one of the greatest difficulties in the present teaching of science is that the material is
presented in purely objective form, or is treated as a new peculiar kind of experience which the
child can add to that which he has already had. In reality, science is of value because it gives the
ability to interpret and control the experience already had. It should be introduced, not as so much
new subject-matter, but as showing the factors already involved in previous experience and as
furnishing tools by which that experience can be more easily and effectively regulated.

I believe that at present we lose much of the value of literature and language studies because of our
elimination of the social element. Language is almost always treated in the books of pedagogy



                                                   46
simply as the expression of thought. It is true that language is a logical instrument, but it is
fundamentally and primarily a social instrument. Language is the device for communication; it is
the tool through which one individual comes to share the ideas and feelings of others. When
treated simply as a way of getting individual information, or as a means of showing off what one
has learned, it loses its social motive and end.

I believe that there is, therefore, no succession of studies in the ideal school curriculum. If
education is life, all life has, from the outset, a scientific aspect, an aspect of art and culture, and an
aspect of communication. It cannot, therefore, be true that the proper studies for one grade are
mere reading and writing, and that at a later grade, reading, or literature, or science, may be
introduced. The progress is not in the succession of studies but in the development of new attitudes
towards, and new interests in, experience.

I believe finally, that education must be conceived as a continuing reconstruction of experience;
that the process and the goal of education are one and the same thing.

I believe that to set up any end outside of education, as furnishing its goal and standard, is to
deprive the educational process of much of its meaning and tends to make us rely upon false and
external stimuli in dealing with the child.

ARTICLE IV--The Nature of Method

I believe that the question of method is ultimately reducible to the question of the order of
development of the child's powers and interests. The law for presenting and treating material is the
law implicit within the child's own nature. Because this is so I believe the following statements are
of supreme importance as determining the spirit in which education is carried on:

1. I believe that the active side precedes the passive in the development of the child nature; that
expression comes before conscious impression; that the muscular development precedes the
sensory; that movements come before conscious sensations; I believe that consciousness is
essentially motor or impulsive; that conscious states tend to project themselves in action.

I believe that the neglect of this principle is the cause of a large part of the waste of time and
strength in school work. The child is thrown into a passive, receptive, or absorbing attitude. The
conditions are such that he is not permitted to follow the law of his nature; the result is friction and
waste.

I believe that ideas (intellectual and rational processes) also result from action and devolve for the
sake of the better control of action. What we term reason is primarily the law of orderly or
effective action. To attempt to develop the reasoning powers, the powers of judgment, without
reference to the selection and arrangement of means in action, is the fundamental fallacy in our
present methods of dealing with this matter. As a result we present the child with arbitrary
symbols. Symbols are a necessity in mental development, but they have their place as tools for
economizing effort; presented by themselves they are a mass of meaningless and arbitrary ideas
imposed from without.

2. I believe that the image is the great instrument of instruction. What a child gets out of any
subject presented to him is simply the images which he himself forms with regard to it.

I believe that if nine tenths of the energy at present directed towards making the child learn certain
things, were spent in seeing to it that the child was forming proper images, the work of instruction
would be indefinitely facilitated.



                                                    47
I believe that much of the time and attention now given to the preparation and presentation of
lessons might be more wisely and profitably expended in training the child's power of imagery and
in seeing to it that he was continually forming definite, vivid, and growing images of the various
subjects with which he comes in contact in his experience.

3. I believe that interests are the signs and symptoms of growing power. I believe that they
represent dawning capacities. Accordingly the constant and careful observation of interests is of
the utmost importance for the educator.

I believe that these interests are to be observed as showing the state of development which the
child has reached.

I believe that they prophesy the stage upon which he is about to enter.

I believe that only through the continual and sympathetic observation of childhood's interests can
the adult enter into the child's life and see what it is ready for, and upon what material it could
work most readily and fruitfully.

I believe that these interests are neither to be humored nor repressed. To repress interest is to
substitute the adult for the child, and so to weaken intellectual curiosity and alertness, to suppress
initiative, and to deaden interest. To humor the interests is to substitute the transient for the
permanent. The interest is always the sign of some power below; the important thing is to discover
this power. To humor the interest is to fail to penetrate below the surface and its sure result is to
substitute caprice and whim for genuine interest.

4. I believe that the emotions are the reflex of actions.

I believe that to endeavor to stimulate or arouse the emotions apart from their corresponding
activities, is to introduce an unhealthy and morbid state of mind.

I believe that if we can only secure right habits of action and thought, with reference to the good,
the true, and the beautiful, the emotions will for the most part take care of themselves.

I believe that next to deadness and dullness, formalism and routine, our education is threatened
with no greater evil than sentimentalism.

I believe that this sentimentalism is the necessary result of the attempt to divorce feeling from
action.

ARTICLE V-The School and Social Progress

I believe that education is the fundamental method of social progress and reform.

I believe that all reforms which rest simply upon the enactment of law, or the threatening of certain
penalties, or upon changes in mechanical or outward arrangements, are transitory and futile.

I believe that education is a regulation of the process of coming to share in the social
consciousness; and that the adjustment of individual activity on the basis of this social
consciousness is the only sure method of social reconstruction.

I believe that this conception has due regard for both the individualistic and socialistic ideals. It is
duly individual because it recognizes the formation of a certain character as the only genuine basis


                                                   48
of right living. It is socialistic because it recognizes that this right character is not to be formed by
merely individual precept, example, or exhortation, but rather by the influence of a certain form of
institutional or community life upon the individual, and that the social organism through the
school, as its organ, may determine ethical results.

I believe that in the ideal school we have the reconciliation of the individualistic and the
institutional ideals.

I believe that the community's duty to education is, therefore, its paramount moral duty. By law
and punishment, by social agitation and discussion, society can regulate and form itself in a more
or less haphazard and chance way. But through education society can formulate its own purposes,
can organize its own means and resources, and thus shape itself with definiteness and economy in
the direction in which it wishes to move.

I believe that when society once recognizes the possibilities in this direction, and the obligations
which these possibilities impose, it is impossible to conceive of the resources of time, attention,
and money which will be put at the disposal of the educator.

I believe that it is the business of every one interested in education to insist upon the school as the
primary and most effective interest of social progress and reform in order that society may be
awakened to realize what the school stands for, and aroused to the necessity of endowing the
educator with sufficient equipment properly to perform his task.

I believe that education thus conceived marks the most perfect and intimate union of science and
art conceivable in human experience.

I believe that the art of thus giving shape to human powers and adapting them to social service, is
the supreme art; one calling into its service the best of artists; that no insight, sympathy, tact,
executive power, is too great for such service.

I believe that with the growth of psychological service, giving added insight into individual
structure and laws of growth; and with growth of social science, adding to our knowledge of the
right organization of individuals, all scientific resources can be utilized for the purposes of
education.

I believe that when science and art thus join hands the most commanding motive for human action
will be reached; the most genuine springs of human conduct aroused and the best service that
human nature is capable of guaranteed.

I believe, finally, that the teacher is engaged, not simply in the training of individuals, but in the
formation of the proper social life.

I believe that every teacher should realize the dignity of his calling; that he is a social servant set
apart for the maintenance of proper social order and the securing of the right social growth.

I believe that in this way the teacher always is the prophet of the true God and the usherer in of the
true kingdom of God.

How to cite this piece: Dewey, John (1897) 'My pedagogic creed', The School Journal, Volume
LIV, Number 3 (January 16, 1897), pages 77-80. Also available in the informal education
archives, http://www.infed.org/archives/e-texts/e-dew-pc.htm.




                                                   49
This article is available elsewhere under a GNU Free Documentation Licence. As a result
it has been reproduced here on the understanding that it is not subject to any copyright
restrictions, and that it is, and will remain, in the public domain.

6.5. Lampiran 5: Power Point


                                                                                      Perbedaan
        REFLEKSI & TINDAKAN                                                   negara berkembang (miskin)
                                                                                dan negara maju (kaya)
                 TO REFLECT & TO ACT
                                                                          • Umur negara?
          Pesan ini saya terjemahkan dari suatu tulisan                   • Sumber daya alam?
        berbahasa inggris yang saya terima melalui email
                      dari seorang kawan.                                 • Ras (warna kulit)?
        maaf bila salah/kurang tepat menerjemahkannya


 to reflect and to act . . . . . . . .                                to reflect and to act . . . . . . . .




                               Umur negara?                                • Di sisi lain –Singapura, Kanada, Australia & New
                                                                              Zealand– negara yang umurnya kurang dari 150
                                         • Contohnya negara India            tahun dalam membangun, saat ini mereka adalah
                                           dan Mesir, yang umurnya                 bagian dari negara maju di dunia, dan
                                           lebih dari 2000 tahun,                       penduduknya tidak lagi miskin
                                           tetapi mereka tetap
                                           terbelakang (miskin)




 to reflect and to act . . . . . . . .                                to reflect and to act . . . . . . . .




                                                                                             Sumber daya alam?
                         Sumber daya alam?
                                                                            • Ketersediaan sumber daya alam dari
       • Ketersediaan sumber daya alam dari                                    suatu negara juga tidak menjamin
          suatu negara juga tidak menjamin                                    negara itu menjadi kaya atau miskin
         negara itu menjadi kaya atau miskin




 to reflect and to act . . . . . . . .                                to reflect and to act . . . . . . . .




                                                                     50
    • Jepang mempunyai area yang                                       • Tetapi, saat ini Jepang menjadi raksasa
                 sangat terbatas.                                             ekonomi nomor dua di dunia.
           • Daratannya, 80% berupa                                     • Jepang laksana suatu negara “industri
         pegunungan dan tidak cukup                                      terapung” yang besar sekali, mengimpor
        untuk meningkatkan pertanian                                   bahan baku dari semua negara di dunia dan
                       & peternakan                                            mengekspor barang jadinya




to reflect and to act . . . . . . . .
                                                        to reflect and to act . . . . . . . .


                                                                   • Swiss juga mengolah susu dengan
              • Swiss tidak mempunyai perkebunan                     kualitas terbaik. (Nestle adalah salah satu
                coklat tetapi sebagai negara pembuat                 perusahaan makanan terbesar di dunia).
                coklat terbaik di dunia.
                                                                   • Swiss juga tidak mempunyai cukup
              • Negara Swiss sangat kecil, hanya 11%                 reputasi dalam keamanan, integritas, dan
                daratannya yang bisa ditanami.                       ketertiban – tetapi saat ini bank-bank di
                                                                     Swiss menjadi bank yang sangat disukai di
                                                                     dunia.




to reflect and to act . . . . . . . .                   to reflect and to act . . . . . . . .



          • Para eksekutif dari negara maju yang                          • Ras (warna kulit)?
            berkomunikasi dengan temannya dari                                          • Ras atau warna kulit juga bukan
            negara terbelakang akan sependapat                                            faktor penting.
              bahwa tidak ada perbedaan yang                                            • Para imigran yang dinyatakan
              signifikan dalam hal kecerdasan                                             pemalas di negara asalnya ternyata
                                                                                          menjadi sumber daya yang sangat
                                                                                          produktif di negara-negara
                                                                                          maju/kaya di Eropa




to reflect and to act . . . . . . . .                   to reflect and to act . . . . . . . .




                                                       51
                                                                                                         • Perbedaannya adalah
                                                                                                           pada sikap/perilaku
                                                                                                           masyarakatnya, yang telah
                                                                                                           dibentuk sepanjang tahun
                                                                                                           melalui
                                                                                                              KEBUDAYAAN &
       • Lalu……. apa yang menyebabkan                                                                         PENDIDIKAN.
                                    perbedaan itu?



to reflect and to act . . . . . . . .                                 to reflect and to act . . . . . . . .


                                                                                                 Prinsip Dasar Kehidupan
               • Berdasarkan analisis atas perilaku                              1.   Etika, sebagai prinsip dasar dalam kehidupan sehari-hari
                                                                                 2.   Kejujuran dan integritas
                                      maju,
                masyarakat di negara maju, ternyata                              3.   Bertanggung jawab
                                              sehari-
               bahwa mayoritas penduduknya sehari-                               4.   Hormat pada aturan & hukum masyarakat
                                                                                 5.   Hormat pada hak orang/warga lain
                                            prinsip-
                harinya mengikuti/mematuhi prinsip-
                                                                                 6.   Cinta pada pekerjaan
                                               berikut.
              prinsip dasar kehidupan sebagai berikut.                           7.   Berusaha keras untuk menabung & investasi
                                                                                 8.   Mau bekerja keras
                                                                                 9.   Tepat waktu




to reflect and to act . . . . . . . .                                 to reflect and to act . . . . . . . .




        • Di negara terbelakang/miskin/
                    terbelakang/miskin/
     berkembang, hanya sebagian kecil
     berkembang,                                                                          • Kita bukan miskin (terbelakang)
                                                                                                               terbelakang)
       masyarakatnya mematuhi prinsip                                                         karena kurang sumber daya
              dasar kehidupan tersebut
                                                                                             alam,
                                                                                             alam, atau karena alam yang
                                                                                                                 kita.
                                                                                                  kejam kepada kita.
                                                        mayoritas
                                                       tidak patuh




                                                         minoritas
to reflect and to act . . . . . . . .                                 to reflect and to act . . . . . . . .




             • Kita terbelakang/lemah/miskin karena perilaku kita
                                                                                  • Jika Anda tidak meneruskan pesan ini,
                 yang kurang/tidak baik akibat pendidikan yang                    tidak akan terjadi apa-apa pada diri Anda!!!
                                    kurang.                                   • Hewan peliharaan Anda tidak akan mati, Anda
             • Kita kekurangan kemauan untuk mematuhi dan                        tidak akan kehilangan pekerjaan, Anda tidak
               mengajarkan prinsip dasar kehidupan yang akan                    akan mendapat kesialan dalam 7 tahun, juga
               memungkinkan masyarakat kita pantas membangun
                                                                                            Anda tidak akan sakit.
                      masyarakat, ekonomi, dan negara.




to reflect and to act . . . . . . . .                                 to reflect and to act . . . . . . . .




                                                                     52
                                                                • Jika Anda mencintai negara kita, teruskan pesan
                                                                                              kita,
    • TETAPI….. jika Anda tidak meneruskan pesan                              teman-        Anda.
                                                                   ini kepada teman-teman Anda. Biarlah mereka
                                                                                                  ini.
                                                                                merefleksikan hal ini.
         ini, tidak akan terjadi perubahan apa-apa
        dalam negara kita. Negara kita akan tetap                    • Kita harus mulai dari mana saja. Kita ingin
                                                                                                  saja.
      berlanjut dalam Kebodohan dan Kemiskinan...                                     BERUBAH !
       serta akan menjadi lebih Bodoh serta Miskin
                             lagi.


                                                                    …….
                                                                dan ……. PERUBAHAN DIMULAI DARI
                                                                        DIRI KITA SENDIRI,
                                                               DIMULAI DARI HAL YANG KECIL DAN
                                                               LAKUKAN MULAI SAAT INI JUGA ...!!!
to reflect and to act . . . . . . . .                 to reflect and to act . . . . . . . .




                                                     53

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:85
posted:11/10/2011
language:Indonesian
pages:54