jbptunikompp gdl s1 2007 wawankurni 6520 bab ii by 2NP058

VIEWS: 32 PAGES: 15

									                                     BAB II

                           TINJAUAN PUSTAKA



2.1    Pengertian Laporan Keuangan

       Pada bagian ini penulis akan mengemukakan teori-teori mengenai earning per

share dan harga pasar saham di pasar modal. Namun sebelum mengemukakan hal

tersebut alangkah baiknya kalau penulis menerangkan pengertian laporan keuangan

terlebih dahulu, karena baik earning per share maupun harga pasar saham merupakan

subsistem dari laporan keuangan.

       Bagi investor yang akan menanamkan investasi di pasar modal seringkali

memusatkan perhatian pada kondisi keuangan perusahaan dalam melakukan

analisisnya. Karena dengan mengetahui kondisi keuangan perusahaan tersebut akan

memudahkan investor dalam meramalkan prospek profitabilitas di masa yang akan

datang. Adapun kondisi keuangan suatu perusahaan itu biasanya disajikan dalam

bentuk laporan keuangan.

       Pengertian laporan keuangan menurut Munawir (2002:19), dalam bukunya

yang berjudul Analisis Laporan Keuangan mengemukakan bahwa :

       “Laporan Keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang menghasilkan

       tiga laporan utama yaitu neraca, laporan laba rugi, dan laporan arus kas, dan

       sebagai tambahan dapat pula disusun laporan perubahan modal”.




                                        13
                                                                                  14




Sedangkan menurut Harry Supangkat (2003:37), dalam bukunya yang berjudul

Panduan Direktur Keuangan, mengemukakan bahwa :

       “Laporan keuangan adalah hasil akhir dari proses pencatatan, penggabungan,
       dan pengikhtisaran semua transaksi yang dilakukan perusahaan dengan semua
       pihak yang terkait dengan kegiatan usahanya dan peristiwa penting yang
       terjadi di perusahaan”.

       Laporan keuangan yang disajikan perusahaan itu berdasarkan atas prinsip-

prinsip akuntansi yang umum diterima yaitu terdiri dari neraca dan laporan rugi laba.

Neraca merupakan ringkasan mengenai posisi keuangan pada tanggal tertentu yang

menunjukan aktiva sama dengan kewajiban ditambah ekuitas. Di dalam neraca

tersebut kekayaan disajikan pada sisi aktiva, sedangkan kewajiban dan modal sendiri

pada posisi pasiva. Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa neraca adalah :

               Kekayaan = Kewajiban + Modal Sendiri


       Apabila neraca suatu perusahaan berkurang, maka belum tentu keadaannya

memburuk atau laba yang diperoleh berkurang. Karena untuk mengetahui berapa

laba yang diperoleh untuk perusahaan dapat dilihat dari laporan laba rugi perusahaan

tersebut.

       Laporan laba rugi merupakan ringkasan mengenai pendapatan dan biaya yang

selisih antara keduanya akan menunjukan laba atau rugi yang diperoleh perusahaan

selama periode tertentu.

                Laba/Rugi = Pendapatan – Biaya Operasional
                                                                               15




       Setelah memahami laporan keuangan perusahaan itu diharapkan seorang

investor dapat menghitung rasio-rasio keuangan untuk mengetahui apakah kondisi

dan prestasi keuangan perusahaan itu baik atau tidak. Adapun menurut Susan Irawati

(2006:35), dalam bukunya Manajemen Keuangan mengemukakan bahwa terdapat

beberapa bentuk dasar rasio keuangan antara lain :

   1. Rasio Likuiditas yaitu rasio yang digunakan sebagai alat ukur kemampuan

       perusahaan dalam membayar pinjaman jangka pendeknya pada saat jatuh

       tempo atau dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya

   2. Rasio Leverage yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur sampai berapa

       besar aktiva perusahaan dibiayai dengan hutang atau seberapa jauh

       perusahaan menggunakan hutangnya untuk jangka panjangnya

   3. Rasio Aktivitas yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur sampai seberapa

       besar efektivitas perusahaan dalam memanfaatkan sumber dananya

   4. Rasio Profitabilitas yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur sampai

       seberapa besar efektivitas perusahaan dalam mendapatkan keuntungan

   5. Rasio Penilaian yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur sampai seberapa

       besar kemampuan manajemen untuk menciptakan nilai pasar agar melebihi

       biaya modalnya.

       Dengan demikian, bila seorang investor ingin meraih keuntungan akibat

penanaman modalnya, maka dapat dilakukan dengan menganalisis berbagai rasio

profitabilitas perusahaan tersebut.
                                                                              16




2.2    Pengertian Earning Per Share

       Dengan memahami laporan keuangan tersebut, selanjutnya dapat dihitung

earning per share yang akan dibagikan perusahaan. Dimana secara umum earning

per share dapat diartikan sebagai laba yang akan diperoleh pemegang saham per

lembar sahamnya. Tetapi untuk mengetahui definisi earning per share lebih lanjut,

maka ada beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para pakar. Definisi earning per

share menurut Darmadji & Fakhruddin (2006:195), menerangkan bahwa :

       “Earning Per Share merupakan rasio yang menunjukan bagian laba untuk

       setiap saham yang diperoleh investor.”

Sedangkan menurut Sawidji Widoatmodjo (2005:102), menerangkan bahwa :

       “Earning Per Share merupakan rasio antara pendapatan setelah pajak dengan

       jumlah saham yang beredar”.

       Dengan demikian bila seorang investor ingin meraih keuntungan berupa

earning per share, maka perlu memahami kondisi keuangan suatu perusahaan yang

disajikan dalam bentuk laporan keuangannya. Dan untuk mengetahui besarnya

keuntungan yang akan diterima pemegang saham per lembar sahamnya menurut

Warren Reeve Fess (2005:126), dalam bukunya “ Pengantar Akuntansi ” dapat

diperoleh dengan rumus :


                              Laba Bersih
           EPS =
                      Jumlah Saham Yang Beredar
                                                                               17




2.3.     Pengertian Saham

         Perusahaan dapat menawarkan saham kepada masyarakat melalui pasar modal

untuk memenuhi kebutuhan dana jangka panjangnya. Adapun saham yang diterbitkan

perusahaan tersebut berbentuk selembar kartas yang menerangkan bahwa pemilik

kertas tersebut merupakan pemilik perusahaan. Menurut Sawidji Widoatmodjo

(2005:54) mengemukakan bahwa :

         “Saham merupakan tanda penyertaan atau pemilikan seseorang atau badan

         dalam suatu perusahaan”.

         Sehingga dengan diterbitkannya saham di pasar modal, kebutuhan dana

jangka panjang perusahaan dapat terpenuhi. Selain itu para pemilik saham dapat

menikmati keuntungan baik berupa capital gain, dividen, maupun earning per share

yang akan dibagikan sesuai dengan besarnya penyertaan saham di dalam perusahaan.

Tanggung jawab pemegang saham ditentukan oleh seberapa besar penyertaan saham

yang ditanamkan di perusahaan tersebut. Dengan demikian pemegang saham

mempunyai hak memilih untuk setiap keputusan-keputusan yang memerlukan

pemungutan suara di dalam Rapat Umum Pemegang Saham. Menurut Darmadji &

Fakhruddin (2006:7) ada beberapa karakteristik yuridis bagi pemegang saham, antara

lain :

    1. Limited Risk, artinya pemegang saham hanya bertanggung jawab sampai

         jumlah yang disetorkan kedalam perusahaan.

    2. Ultimate Control, artinya para pemegang saham akan menentukan arah dan

         tujuan perusahaan.
                                                                                  18




   3. Residual Claim, artinya pemegang saham merupakan pihak terakhir yang

       mendapatkan pembagian hasil usaha perusahaan dan sisa asset dalam proses

       likuidasi perusahaan.

       Menurut Lampiran I Keputusan Direksi PT Bursa Efek Surabaya yang dikutip

oleh Pandji Anoraga dan Piji Pakarti (2001:52-53) dalam bukunya yang berjudul

Pengantar Pasar Modal, mengemukakan bahwa untuk dapat mencatatkan sahamnya

di bursa, emiten wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut :

   1. Pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum maupun sebagai

       perusahaan publik telah dinyatakan efektif oleh Bapepam.

   2. Laporan keuangan perusahaan untuk tahun buku terakhir diaudit dengan wajar

       tanpa syarat

   3. Jumlah saham yang dicatatkan minimal berjumlah 1.000.000 (satu juta)

       saham

   4. Jumlah pemegang saham, baik perorangan maupun lembaga minimal 200, dan

       pemegang saham masing-masing memiliki minimal 1 (satu) satuan

       perdagangan

   5. Wajib mencatatkan seluruh saham yang telah disetor penuh, sepanjang tidak

       bertentangan dengan ketentuan tentang persentase pemilikan saham oleh

       pemodal asing

   6. Perusahaan telah berdiri dan beroperasi sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun

   7. Dalam dua tahun terakhir mendapat laba operasi, tidak terdapat saldo kerugian

       pada posisi keuangan yang terakhir
                                                                                 19




       Setelah persyaratan-persyaratan tersebut terpenuhi, perusahaan tersebut dapat

menerbitkan sahamnya di pasar primer atau pasar perdana dengan nilai nominal yang

telah ditentukan dalam anggaran dasar perusahaan. Periode pasar primer berlaku saat

efek ditawarkan kepada investor selama penawaran umum. Setelah masa itu habis,

selanjutnya saham tersebut dapat ditawarkan di pasar sekunder dengan harga pasar

saham yang ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawarannya. Adapun

menurut Darmadji & Fakhruddin (2006:118), mengemukakan bahwa :

       “Pasar Primer merupakan pasar dimana perusahaan menerbitkan atau

       menawarkan saham pertama kali kepada publik dan harga saham telah

       ditetapkan pada harga tertentu”.

       Di Indonesia istilah pasar sekunder sering disamakan dengan nama bursa efek.

Seperti yang telah disebutkan dalam Undang-undang Pasar Modal no. 8 tahun 1995

pasal 1 ayat 4 memberikan pengertian bahwa bursa efek merupakan pihak yang

menyelenggarakan dan menyediakan sistem dan atau sarana untuk mempertemukan

penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek

diantara mereka.

       Di sisi kepentingan pemodal baik dalam hal membeli dan menjual saham

perusahaan, maka terdapat beberapa perbedaan antar pasar primer dengan pasar

sekunder antara lain :
                                                                                   20




                                     Tabel 2.1
                   Perbedaan Pasar Perdana dengan Pasar Sekunder

             Pasar Primer                             Pasar Sekunder

      Harga saham tetap                         Harga saham berfluktuasi sesuai
                                                  kekuatan supply dan demand
      Tidak dikenakan komisi                    Dibebankan komisi
      Hanya untuk pembelian saham               Berlaku untuk pembelian maupun
                                                  penjualan saham
      Pemesanan    dilakukan    melalui         Pemesanan    dilakukan    melalui
       agen penjualan                             anggota bursa (pialang/broker)
      Jangka waktu terbatas                     Jangka waktu tidak terbatas


       Sumber : Darmadji & Fakhruddin (2006:119) “Pasar Modal di Indonesia”



2.3.1. Harga Pasar Saham

       Pasar Sekunder atau pasar modal merupakan pasar yang digunakan pemodal

dalam melakukan jual beli efek setelah efek tersebut dicatatkan di bursa. Karena

harga pasar saham di pasar ini selalu dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran di

bursa saham, maka alangkah baiknya kalau investor memahami pengertian harga

pasar saham. Definisi harga pasar saham menurut Sawidji Widoatmodjo (2005:7)

mengemukakan bahwa:

       “Harga pasar saham adalah harga jual dari investor yang satu kepada investor

       yang lain setelah saham tersebut dicatatkan di bursa, baik bursa utama

       maupun OTC (Over The Counter Market)”.
                                                                                 21




Sedangkan menurut Sunariyah ( 2006 : 128 ) mengemukakan bahwa :

         “Nilai pasar saham adalah harga suatu saham pada pasar yang sedang

         berlangsung di bursa efek. Apabila bursa efek telah tutup maka harga pasar

         adalah harga penutupannya”.

         Untuk saham yang diperdagangkan secara aktif informasi penetapan harga

pasar biasanya mudah diperoleh, sebaliknya untuk saham yang tidak diperdagangkan

secara aktif harga pasar pun sulit diperoleh. Untuk itu informasi harga pasar saham

harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan sebagai

akibat dari kejadian tersebut.



2.3.2.    Saham Biasa

          Pemegang saham biasa perusahaan secara kolektif memiliki dan menanggung

resiko terakhir kepemilikan perusahaan. Apabila terjadi likuidasi, pemegang saham

biasa memilki hak atas sisa tuntutan terhadap aktiva perusahaan setelah tuntutan

kreditor dan pemegang saham preferen dipenuhi. Saham biasa sama halnya seperti

saham preferen tidak memiliki maturitas, namun pemegang saham biasa dapat

melikuidasi investasinya dengan menjual saham yang dimiliki pada pasar sekunder.

Definisi saham biasa menurut Darmadji & Fakhruddin (2006:7) mengemukakan

bahwa :

         “ Saham Biasa merupakan saham yang menempatkan pemiliknya paling

         yunior terhadap pembagian dividen, dan hak atas harta kekayaan perusahaan

         apabila perusahaan tersebut dilikuidasi”.
                                                                                  22




       Saham biasa yang diterbitkan perusahaan terdiri dari dua jenis yaitu saham

biasa jenis A dan saham biasa jenis B. Keduanya dikelompokan menurut kekuatan

hak suara atau prioritas tuntutan atas laba. Saham biasa jenis A memiliki prioritas

lebih dulu atas tuntutan terhadap dividen dibandingkan saham biasa jenis B,

sedangkan saham biasa jenis B memiliki keistimewaan hak suaranya dibandingkan

saham biasa jenis A.

       Pemegang saham biasa mempunyai hak memilih untuk setiap keputusan-

keputusan yang memerlukan pemungutan suara di dalam Rapat Umum Pemegang

Saham. Tanggung jawab pemegang saham ditentukan oleh seberapa besar penyertaan

saham yang ditanamkan di perusahaan tersebut. Menurut Darmadji & Fakhruddin

(2006:10), ada beberapa karakteristik yuridis bagi pemegang saham biasa antara lain :

   1. Dividen dibayarkan selama perusahaan memperoleh laba

   2. Memiliki hak suara dalam rapat umum pemegang saham

   3. Memiliki hak terakhir dalam pembagian kekayaan perusahaan jika perusahaan

       tersebut dilikuidasi

   4. Memiliki tanggung jawab terbatas terhadap klaim pihak lain sebesar proporsi

       sahamnya

   5. Memiliki hak mengalihkan kepemilikan sahamnya



2.3.3. Saham Preferen

       Saham preferen merupakan gabungan pendanaan antara hutang dengan saham

biasa. Apabila terjadi likuidasi, tuntutan pemegang saham preferen atas aktiva berada
                                                                                 23




pada urutan setelah kreditor namun sebelum pemegang saham biasa. Definisi saham

preferen menurut Darmadji & Fakhruddin (2006:7) mengemukakan bahwa :

       “ Saham Preferen merupakan merupakan saham yang memiliki karakteristik
       gabungan antar obligasi dan saham biasa, karena bisa menghasilkan
       pendapatan tetap (seperti bunga obligasi) tetapi juga bisa tidak mendatangkan
       hasil seperti yang dikehendaki investor”.

       Karena pemegang saham preferen memiliki hak prioritas di atas pemegang

saham biasa terhadap laba dan sisa asset apabila perusahaan tersebut dilikuidasi,

maka pemegang saham preferen biasanya tidak diberikan suara dalam manajemen

kecuali bila perusahaan tidak dapat membayar dividen saham preferen selama periode

tertentu. Menurut Darmadji & Fakhruddin (2006:10) ada beberapa karakteristik

yuridis bagi pemegang saham preferen, antara lain :

   1. Memiliki hak lebih dahulu memperoleh dividen

   2. Dapat mempengaruhi manajemen perusahaan terutama dalam pencalonan

       pengurus perusahaan

   3. Memiliki hak pembayaran maksimum sebesar nilai nominal saham lebih

       dahulu setelah kreditor apabila perusahaan tersebut dilikuidasi

   4. Kemungkinan dapat memperoleh tambahan dari pembagian laba perusahaan

       disamping penghasilan yang diterima secara tetap

   5. Dalam hal perusahaan dilikuidasi, memiliki hak memperoleh pembagian

       kekayaan perusahaan diatas pemegang saham biasa setelah semua kewajiban

       perusahaan dilunasi
                                                                                 24




2.4    Pengaruh Earning Per Share Terhadap Harga Pasar Saham

       PT.Telekomunikasi Indonesia Tbk., yang selanjutnya disebut TELKOM atau

Perseroan, merupakan perusahaan informasi dan komunikasi (InfoCom) serta

penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap (full service and network

provider) yang terbesar di Indonesia.. Dalam usianya yang ke-11 sebagai perusahaan

publik, PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk (Telkom) mencatat peningkatan nilai

kapitalisasi pasar (Market Capitalization) yang sangat tajam. Bila pada 14 Nopember

1995, yaitu ketika Telkom menjadi perusahaan publik, nilai kapitalisasi pasar Telkom

baru mencapai Rp 20,5 triliun, maka pada Nopember 2006 nilai tersebut menjadi

184,5 triliun, atau melonjak 800%.

       Pendapatan earning per share Telkom juga terus meningkat dengan CAGR

(Compound Annual Growth Rate) yang tinggi. CAGR disini merupakan suatu tingkat

pertumbuhan yang mewakili pertumbuhan tahunan. Pada tahun 1995 EPS Telkom

baru mencapai Rp 106, namun pada tahun 2005, angka tersebut melonjak menjadi Rp

396,51. Bahkan, pada tahun 2006, Telkom berhasil membukukan EPS senilai Rp

547,15 atau melonjak 37,99 % dibanding EPS Telkom pada tahun 2005 sebesar Rp

396,51. Dikarenakan antara earning per share dan harga pasar saham mempunyai

hubungan positif, maka setiap kenaikan earning per share ini akan diikuti dengan

kenaikan harga pasar saham.

       Direktur utama PT. Telkom Arwin Rasyid menyatakan rasa syukurnya bahwa

meskipun persaingan antar operator semakin meningkat akhir-akhir ini, namun

Telkom tetap mampu menjaga kinerja pertumbuhannya secara mengesankan. Bahkan,
                                                                                 25




karena kinerjanya yang terus meningkat, Telkom telah mendapatkan berbagai

pengakuan bergengsi di tingkat internasional, seperti menduduki urutan 12 dari 100

the Best Infotech di dunia versi majalah BusinessWeek serta urutan 42 dari 150

Perusahaan Berkinerja Terbaik di Asia. Dengan perkembangan dan prestasi seperti itu

tentu akan mempengaruhi tingkat keuntungan perusahaan maupun harga sahamnya di

pasar modal.

       Bagi investor yang akan menanamkan investasinya di pasar modal seringkali

memusatkan perhatian pada kondisi keuangan perusahaan yang biasanya disajikan

dalam bentuk laporan keuangan yang terdiri dari neraca dan laporan laba rugi.

Sehingga dengan memahami laporan keuangan perusahaan tersebut dapat

memudahkan investor dalam meramalkan prospek profitabilitasnya.

       Dengan memahami laporan keuangan tersebut, selanjutnya dapat dihitung

earning per share yang akan dibagikan perusahaan. Selain itu laporan keuangan

biasanya menyajikan harga pasar saham perusahaan, dimana harganya dipengaruhi

oleh faktor-faktor permintaan dan penawaran di pasar modal.

       Sebagaimana diketahui sebelumnya, EPS merupakan rasio yang menunjukan

berapa besar keuntungan yang diperoleh investor per lembar sahamnya. Jadi, dengan

mengetahui EPS kita bisa menilai berapa kira-kira potensi pendapatan yang bakal kita

terima, seandainya kita menjadi investor saham. Dengan demikian, EPS

mencerminkan pendapatan di masa depan. Di dalam perdagangan saham, EPS ini

sangat berpengaruh pada harga pasar saham. Sawwidji Widoatmodjo (2005:102)

mengemukakan:
                                                                                   26




       “Semakin tinggi EPS, maka semakin mahal harga suatu saham, dan

       sebaliknya”.

Sedangkan menurut Darmadji & Fakhruddin (2006:195-196) mengemukakan :

       “Semakin tinggi nilai EPS tentu saja menyebabkan semakin besar laba

       sehingga mengakibatkan harga pasar saham naik karena permintaan dan

       penawaran meningkat”.

       Selain itu, banyak teori dan studi empiris yang mendukung pernyataan bahwa

terdapat pengaruh faktor-faktor fundamental, utamanya pengaruh earning Per Share

terhadap harga pasar saham, salah satunya Eduardus Tandelilin (2001:236) yang

mengemukakan bahwa :

        “Jika laba perusahaan tinggi maka para investor akan tertarik untuk membeli

       saham tersebut, sehingga harga saham tersebut akan mengalami kenaikan”.

       Sehingga dari penjelasan diatas dapat diketahui hubungan antara earning Per

Share dengan harga pasar saham sangat erat.

       Setelah mengetahui besarnya earning per share yang diberikan perusahaan

dan harga pasar saham pada periode yang bersangkutan, selanjutnya dapat dilakukan

analisis statistik yang terdiri dari analisis regresi, analisis korelasi dan koefisien

determinasi. Analisis regresi dapat dilakukan dengan cara memprediksi seberapa jauh

earning per share dapat mempengaruhi harga pasar saham perusahaan. Analisis

korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan sebab akibat antara earning per

share harga pasar saham. Sedangkan koefisien determinasi digunakan untuk

mengetahui adanya faktor-faktor lain yang mempengaruhi harga pasar saham selain
                                                                                27




dari earning per share. Sehingga dengan melakukan analisis statistik tersebut dapat

diperoleh kesimpulan apakah earning per share dapat mempengaruhi harga pasar

saham atau tidak.

								
To top