Embed
Email

bidakara sarasehan pendidikan karakter

Document Sample
bidakara sarasehan pendidikan karakter
Shared by: HC111110185329
Categories
Tags
Stats
views:
59
posted:
11/10/2011
language:
Indonesian
pages:
32
QOMARI ANWAR







Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

A. WHY:

 Mengapa harus ada pendidikan karakter

B. WHAT:

 Apa karakter

 Apa pendidikan karakter

C. WHEN:

 Kapan pendidikan karakter tepat diberikan

D. WHO:

 Siapa yang harus diberi pendidikan karakter

 Siapa yang harus bertanggung jawab melakukan

pendidikan karakter

E. HOW:

 Bagaimana melakukan pendidikan karakter



Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

 “Allah membuat perumpamaan sebuah negeri yang

dahulunya aman dan tenteram, rezeki datang kepadanya

melimpah ruah di semua penjuru, lalu penduduknya

mengingkari nikmat Allah, karena itu lalu Allah

membiarkan mereka merasakan pakaian kelaparan dan

ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat” (Q.S. An-

Nahl:112).



 “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Allah telah

membuat perumpamaan kalimat yang baik bagaikan pohon

yang baik, akarnya kuat menghunjam ke bumi, (ranting)

dan dahannya menjulang ke angkasa; pohon itu terus

berbuah setiap saat (tiada henti) atas izin Tuhannya. Allah

membuat perumpamaan seperti itu agar manusia

memperoleh peringatan” (QS Ibrahim 24-26)





Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

 Nabi Muhammad saw diperintahkan oleh Tuhan untuk

mengisahkan cerita dalam al-Qur‟an tentang para rasul,

seperti nabi Musa, Harun, Ismail, Nuh bahwa mereka

menyungkur bersujud dan menangis bila ditunjukkan ayat-

ayat Allah. Selanjutnya Allah memperingatkan:

“Maka datanglah sesudah mereka, generasi yang jelek, menyia-

nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, mereka

itulah yang jelas akan sesat. Kecuali orang yang bertaubat,

beriman, dan beramal salih. Maka mereka itu akan masuk surge

dan tidak mungkin dianiaya (dirugikan) sedikitpun”. (Q.S.

Maryam 59-60)



 Nabi bersabda: Ketahuilah bahwa dalam diri setiap kalian ada

”mudghoh” (segumpal daging), jika mudghoh itu bersih maka

semua yang ditampilkan oleh orang tersebut juga bersih (baik),

dan jika mudghoh itu rusak maka yang ditampilkan oleh orang

tersebut juga rusak (tidak baik). Ketahuilah bahwa yang disebut

mudghoh itu adalah al-qolb (hati). (Al-Hadist)

Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

.









PROSES

Output/kea

Input/kondisi daan yang

1.isi/materi diharapkan

saat ini:

-murid

2. Pendekatan/ -murid

-Mahasiswa metode/cara -Mahasiswa

-Pejabat 3.SDM (murid-guru) -Pejabat

-Akademisi 4.sarana/prasarana -Akademisi

-Masyakat 5.Peraturan -Masyakat

-Dll 6.Evaluasi -Dll

7.Dll









Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

.









PROSES

Output/kead

Input/kondisi aan yang

saat ini: Unkwon activities diharapkan

-murid -murid

-Mahasiswa -Mahasiswa

-Pendidikan -Pejabat

-Pejabat -Pelatihan

-Akademisi -Akademisi

-Pembimbingan -Masyakat

-Masyakat

-Dll -Pembiasaan -Dll

-Dll









Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

 Karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas SDM karena

turut menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter yang berkualitas

perlu dibentuk dan dibina sejak usia dini. Usia dini merupakan masa

emas namun kritis bagi pembentukan karakter seseorang.

 Thomas Lickona (seorang profesor pendidikan dari Cortland

University) mengungkapkan bahwa ada sepuluh tanda jaman yang

kini terjadi, tetapi harus diwaspadai karena dapat membawa bangsa

menuju jurang kehancuran. 10 tanda jaman itu adalah:



(1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja/masyarakat;

(2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk/tidak baku;

(3) pengaruh peer-group (geng) dalam tindak kekerasan, menguat;

(4) meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba;

alkohol dan seks bebas;

(5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk;

(6) menurunnya etos kerja;

(7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru;

(8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan kelompok;

(9) membudayanya kebohongan/ketidakjujuran, dan

(10) adanya rasa saling curiga dan kebencian antar sesama.

Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

NO ASPEK YANG DIBANDINGKAN PERINGKAT

1 . Buta huruf usia > 15 tahun 44 dari 49

2 Literasi Membaca 39 dari 41

3 Kemampuan berkomunikasi 49 dari 49

4 KKN dan Praktik Tak Etis 49 dari 49

5 Pengangguran generasi muda 48 dari 49

6 Daya tarik terhadap Iptek 34 dari 49

7 Pengembangan teknologi dan aplikasi 46 dari 49

8 Kemampuan alih teknologi 49 dari 49

9 Implementasi Tekno-informasi 47 dari 49

10 Literasi IPA 38 dari 42

11 Riset Dasar 45 dari 49

12 Indeks berkompetisi 59 dari 60

Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

Pengembangan KARAKTER di INDONESIA







PEMBENTUKAN: USIA DINI

(Banyak diserahkan pada pembantu)







PENGEMBANGAN: USIA REMAJA

(Lingkungan masyarakat tidak kondusif)







PEMANTAPAN: USIA DEWASA

(Terbentuknya low trust society)

Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

Akibat dari the existing situation









AKIBATNYA:

DATA TIDAK AKURAT, KEBIJAKAN TIDAK TEPAT, TIDAK

RELEVAN, DLL

Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

BANGSA INDONESIA

MENGALAMI KRISIS

KEPRIBADIAN ?







Dan perumpamaan kalimat

(kebijakan) yang buruk

bagaikan pohon yang buruk,

yang telah dicabut akar-

akarnya dari permukaan

bumi; tidak dapat tegak

sedikitpun. (Ibrahim:26)









Timbulkan Akibat Buruk:

- Karakter Bangsa Luntur

- Bencana Meluas Di Bidang:

- Krisis Politik - Ekonomi - Moneter -

Kepercayaan – Hukum - Dll

Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

 Menurut Simon Philips (2008), karakter adalah kumpulan tata nilai yang

menuju pada suatu sistem, yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku

yang ditampilkan. Sedangkan Doni Koesoema A (2007) memahami bahwa

karakter sama dengan kepribadian. Kepribadian dianggap sebagai ”ciri, atau

karakteristik, atau gaya, atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber

dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan,

 Sementara Winnie memahami bahwa istilah karakter memiliki dua pengertian

tentang karakter. Pertama, ia menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah

laku. Apabila seseorang berperilaku tidak jujur, kejam, atau rakus, tentulah

orang tersebut memanifestasikan perilaku buruk. Sebaliknya, apabila

seseorang berperilaku jujur, suka menolong, tentulah orang tersebut

memanifestasikan karakter mulia. Kedua, istilah karakter erat kaitannya

dengan „personality‟. Seseorang baru bisa disebut „orang yang berkarakter‟ (a

person of character) apabila tingkah lakunya sesuai kaidah moral.

 Sedangkan Imam Ghozali menganggap bahwa karakter lebih dekat dengan

akhlaq, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau melakukan perbuatan

yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak perlu

dipikirkan lagi.







 Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

 Dari pendapat di atas difahami bahwa karakter itu berkaitan

dengan kekuatan moral, berkonotasi „positif‟, bukan netral. Jadi,

„orang berkarakter‟ adalah orang yang mempunyai kualitas moral

(tertentu) positif. Dengan demikian, pendidikan membangun

karakter, secara implisit mengandung arti membangun sifat atau

pola perilaku yang didasari atau berkaitan dengan dimensi moral

yang positif atau baik, bukan yang negatif atau buruk. Hal ini

didukung oleh Peterson dan Seligman (Gedhe Raka, 2007:5) yang

mengaitkan secara langsung ‟character strength‟ dengan

kebajikan. Character strength dipandang sebagai unsur-unsur

psikologis yang membangun kebajikan (virtues). Salah satu

kriteria utama dari „character strength‟ adalah bahwa karakter

tersebut berkontribusi besar dalam mewujudkan sepenuhnya

potensi dan cita-cita seseorang dalam membangun kehidupan

yang baik, yang bermanfaat bagi dirinya, orang lain, dan

bangsanya



Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

 Pendidikan adalah proses internalisasi budaya ke dalam diri

seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan

masyarakat jadi beradab. Pendidikan bukan merupakan sarana

transfer ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi yakni sebagai

sarana pembudayaan dan penyaluran nilai (enkulturisasi dan

sosialisasi). Anak harus mendapatkan pendidikan yang

menyentuh dimensi dasar kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan

itu mencakup sekurang-kurangnya tiga hal paling mendasar,

yaitu: (1) afektif yang tercermin pada kualitas keimanan,

ketakwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur serta

kepribadian unggul, dan kompetensi estetis; (2) kognitif yang

tercermin pada kapasitas pikir dan daya intelektualitas untuk

menggali dan mengembang-kan serta menguasai ilmu

pengetahuan dan teknologi; dan (3) psikomotorik yang tercermin

pada kemampuan mengembangkan keterampilan teknis,

kecakapan praktis, dan kompetensi kinestetis.





Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

 Ki Hadjar Dewantara dari Taman Siswa di Yogyakarta

bulan Oktober 1949 pernah berkata bahwa "Hidup

haruslah diarahkan pada kemajuan, keberadaban,

budaya, dan persatuan”. Sedangkan menurut Prof.

Wuryadi, manusia pada dasarnya baik secara individu

dan kelompok, memiliki apa yang jadi penentu watak

dan karakternya yaitu dasar dan ajar. Dasar dapat

dilihat sebagai apa yang disebut modal biologis

(genetik) atau hasil pengalaman yang sudah dimiliki

(teori konstruktivisme), sedangkan ajar adalah kondisi

yang sifatnya diperoleh dari rangkaian pendidikan

atau perubahan yang direncanakan atau diprogram.



Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

 Selain memperkecil resiko kehancuran, karakter juga

menjadi modal yang sangat penting untuk bersaing dan

bekerja sama secara tangguh dan terhormat di tengah-

tengah bangsa lain.

 Karakterlah yang membuat bangsa Jepang cepat bangkit

sesudah kekalahannya dalam Perang Dunia II dan meraih

kembali martabatnya di dunia internasional.

 Karakterlah yang membuat bangsa Vietnam tidak bisa

ditaklukkan, bahkan mengalahkan dua bangsa yang secara

teknologi dan ekonomi jauh lebih maju, yaitu Perancis dan

Amerika.

 Pembangunan karakterlah yang membuat Korea Selatan

sekarang jauh lebih maju dari Indonesia, walaupun pada

tahun 1962 keadaan kedua negara secara ekonomi dan

teknologi hampir sama.

 Pembangunan karakterlah yang membuat para pejuang

kemerdekaan berhasil menghantar bangsa Indonesia ke

gerbang kemerdekaannya (Gedhe Raka, 1997 ).

Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

 “Selama dimensi karakter tidak menjadi bagian dari kriteria

keberhasilan dalam pendidikan, selama itu pula pendidikan

tidak akan berkontribusi banyak dalam pembangunan

karakter” (I Gedhe Raka)



 ”Dalam kenyataanya, pendidik berkarakterlah yang

menghasilkan SDM handal dan memiliki jati diri. Oleh

karena itu, jadilah manusia yang memiliki jati diri,

berkarakter kuat dan cerdas.”



 ”Pilar akhlak (moral) yang dimiliki (mengejewantah) dalam

diri seseorang, sehingga ia menjadi orang yang berkarakter

baik (good character), memiliki sikap jujur, sabar, rendah

hati, tanggung jawab dan rasa hormat, yang tercermin

dalam kesatuan organisasi pribadi yang harmonis dan

dinamis. Tanpa nilai-nilai moral dasar (basic moral values)

yang senantiasa mengejewantah dalam diri pribadi kapan

dan dimana saja, orang dapat dipertanyakan kadar

keimanan dan ketaqwaan

Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

 Nilai-nilai itu meliputi : (1). Ketuhanan yang maha Esa, (2) Kemanusiaan yang

adil dan beradap, (3) Persatuan Indonesia, (4) Kerakyatan yang dipimpin oleh

hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan (5) Keadilan

sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.



 Nilai-nilai ini selaras dengan nilai-nilai 5 pilars characteristics :



1. Transendensi: Menyadari bahwa manusia merupakan ciptaan Tuhan yang maha Esa.

Darinya akan memunculkan penghambaan semata-mata pada Tuhannya yang Esa.

Kesadaran ini juga berarti memahami keberadaan diri dan alam sekitar sehingga mampu

memakmurkannya.



2. Humanisasi: Setiap manusia pada hakekatnya setara di mata Tuhan kecuali ilmu dan

ketakwaan yang membedakannya. Manusia diciptakan sebagai subjek yang memiliki

potensi.



3. Kebinekaan: Kesadaran akan ada sekian banyak perbedaan di dunia. Akan tetapi, mampu

mengambil kesamaan untuk menumbuhkan kekuatan



4. Liberasi: Pembebasan atas penindasan sesama manusia. Olehnya, tidak dibenarkan

adanya penjajahan manusia oleh manusia.



5. Keadilan: Keadilan merupakan kunci kesejahteraan. Adil tidak berarti sama, tetapi

proporsional.







Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

1.Kejujuran

2.Loyalitas dan dapat diandalkan

3.Hormat

4.Cinta

5.Ketidak egoisan dan sensitifitas

6.Baik hati dan pertemanan

7.Keberanian

8.Kedamaian

9.Mandiri dan Potensial

10.Disiplin diri dan Moderasi

11.Kesetiaan dan kemurnian

12.Keadilan dan kasih sayang



Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

Seorang intelektual profetik tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi berpikir bagaimana dapat memberikan

sebanyak-banyaknya bagi lingkungan.



1.Sadar sebagai makhluq ciptaan Tuhan. Sadar sebagai makhluq muncul ketika ia mampu memahami

keberadaan dirinya, alam sekitar, dan Tuhan YME. Konsepsi ini dibangun dari nilai-nilai transendensi.



2.Cinta Tuhan. Orang yang sadar akan keberadaan Tuhan meyakini bahwa ia tidak dapat melakukan

apapun tanpa kehendak Tuhan. Oleh karenanya memunculkan rasa cinta kepada Tuhan. Orang yang

cinta Tuhan akan menjalankan apapun perintah dan menjauhi larangan-Nya.



3.Bermoral. Jujur, saling menghormati, tidak sombong, suka membantu, dll merupakan turunan dari

manusia yang bermoral.



4.Bijaksana. Karakter ini muncul karena keluasan wawasan seseorang. Dengan keluasan wawasan, ia

akan melihat banyaknya perbedaan yang mampu diambil sebagai kekuatan. Karakter bijaksana ini

dapat terbentuk dari adanya penanaman nilai-nilai kebinekaan.



5.Pembelajar sejati. Untuk dapat memiliki wawasan yang luas, seseorang harus senantiasa belajar.

Seorang pembelajar sejati pada dasarnya dimotivasi oleh adanya pemahaman akan luasnya ilmu

Tuhan (nilai transendensi). Selain itu, dengan penanaman nilai-nilai kebinekaan ia akan semakin

bersemangat untuk mengambil kekuatan dari sekian banyak perbedaan.



6.Mandiri. Karakter ini muncul dari penanaman nilai-nilai humanisasi dan liberasi. Dengan pemahaman

bahwa tiap manusia dan bangsa memiliki potensi dan sama-sama subjek kehidupan maka ia tidak

akan membenarkan adanya penindasan sesama manusia. Darinya, memunculkan sikap mandiri

sebagai bangsa.



7.Kontributif. Kontributif nerupakan cermin seorang pemimpin.









Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

 Pendidikan holistik membentuk manusia secara utuh (holistik)

yang berkarakter, yaitu mengembangkan aspek/potensi spiritual,

potensi emosional, potensi intelektual (intelegensi & kreativitas),

potensi sosial, dan potensi jasmani siswa secara optimal.

 Membangun karakter itu harus dimulai sedini mungkin, atau

bahkan sejak dilahirkan, dan harus dilakukan secara terus

menerus dan terfokus,

 Pendidikan holistik juga untuk membentuk manusia pembelajar

sepanjang hayat yang sejati (lifelong learners).

 Di samping itu, pendidikan karakter juga mengembangkan semua

potensi anak sehingga menjadi manusia seutuhnya. Dalam hal ini,

perkembangan anak harus seimbang, baik dari segi akademiknya

maupun segi sosial dan emosinya. Pendidikan selama ini hanya

memberi penekanan pada aspek akademik saja dan tidak

mengembangkan aspek social, emosi, kreatifitas, dan bahkan

motorik. "Anak hanya dipersiapkan untuk dapat nilai bagus,

namun mereka tidak dilatih untuk bisa hidup.





Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

CIRI KURIKULUM PENDIDIKAN HOLISTIK

1. Spiritualitas adalah jantung dari setiap proses dan praktek

pembelajaran.

2. Pembelajaran diarahkan agar siswa menyadari akan keunikan dirinya

dengan segala potensinya. Mereka harus diajak untuk berhubungan

dengan dirinya yang paling dalarn (inner self, sehingga memahami

eksistensi, otoritas, tapi sekaligus bergantung sepenuhnya kepada

pencipta Nya.

3. Pembelajaran tidak hanya mengembangkan cara berpikir analitis/linier

tapi juga intuitif.

4. Pembelajaran berkewajiban menumbuhkembangkan potensi

kecerdasan jamak (multiple intelligences).

5. Pembelajaran berkewajiban menyadarkan siswa tentang

keterkaitannya dengan komunitasnya, sehingga mereka tak boleh

mengabaikan tradisi, budaya, kerjasama, hubungan manusiawi, serta

pemenuhan kebutuhan yang tepat guna (jawa: nrimo ing pandum; anti

konsumerisme).



Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

6. Pembelajaran berkewajiban mengajak siswa untuk menyadari

hubungannya dengan bumi dan "masyarakat" non manusia seperti hewan,

tumbuhan, dan benda benda tak bernyawa (air, udara, tanah) sehingga

mereka memiliki kesadaran ekologis.

7. Kurikulum berkewajiban memperhatikan hubungan antara berbagai pokok

bahasan dalam tingkatan transdisipliner8, sehingga hal itu akan lebih

memberi makna kepada siswa.

8. Pembelajaran berkewajiban menghantarkan siswa untuk menyeimbangkan

antara belajar individual dengan kelompok (kooperatif, kolaboratif, antara

isi dengan proses, antara pengetahuan dengan imajinasi, antara rasional

dengan intuisi, antara kuantitatif dengan kualitatif.

9. Pembelajaran adalah sesuatu yang tumbuh, menemukan, dan memperluas

cakrawala.

10. Pembelajaran adalah sebuah proses kreatif dan artistik.









Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

 Kunci sukses dalam menghadapi tantangan berat

dalam hidup itu terletak pada kualitas sumberdaya

manusia (SDM) Indonesia yang handal dan berbudaya.

 Oleh karena itu perlu implementasi penyelenggaraan

pendidikan holistik secara baik.

 beberapa hal yang mendapat penekanan lebih dalam

menerapkan model pendidikan karakter. Pertama,

"Knowing the good. Untuk membentuk karakter, anak

tidak hanya sekedar tahu mengenai hal-hal yang baik,

namun mereka harus dapat memahami kenapa perlu

melakukan hal tersebut. "Selama ini banyak orang

yang tahu bahwa ini baik dan itu buruk, namun mereka

tidak tahu apa alasannya melakukan hal yang baik dan

meninggalkan hal-hal yang tidak baik. Jadi masih ada

gap antara knowing dan acting,"

Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaanNya

(love Allah, trust, reverence, loyalty)

2. Tanggung jawab, Kedisiplinan dan Kemandirian

(responsibility, excellence, self reliance, discipline, orderliness)

3. Kejujuran/Amanah dan Arif

(trustworthines, honesty, and tactful)

4. Hormat dan Santun

(respect, courtesy, obedience)

5. Dermawan, Suka menolong dan Gotong-royong/Kerjasama

(love, compassion, caring, empathy, generousity, moderation,

cooperation)

6. Percaya Diri, Kreatif dan Pekerja keras

(confidence, assertiveness, creativity, resourcefulness, courage,

determination, enthusiasm)

7. Kepemimpinan dan Keadilan

(justice, fairness, mercy, leadership)

8. Baik dan Rendah Hati

(kindness, friendliness, humility, modesty)

9. Toleransi, Kedamaian dan Kesatuan

(tolerance, flexibility, peacefulness, unity)





Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

 Suasana belajar yang efektif, menyenangkan,

dan dapat mengembangkan seluruh aspek

dimensi manusia secara holistik harus menjadi

prioritas untuk diterapkan.

 Caranya dapat menggunakan pendekatan

 Student Active Learning,

 Integrated Learning,

 Developmentally Appropriate Practices,

 Contextual Learning,

 Collaborative Learning, dan

 Multiple Intelligences



Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

Pendidik (guru) profesional dengan tugas

utama:

- mendidik,

- mengajar,

- membimbing,

- mengarahkan,

- melatih,

- menilai, dan

- mengevaluasi

peserta didik pada pendidikan anak usia dini

jalur pendidikan formal, dasar, dan pendidikan

menengah



Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

 .



Merubah sikap/

kepribadian menjadi

lebih baik & profesional,

sehingga dapat membe-

rikan manfaat besar

dalam mencerdaskan

bangsa







Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

1. Memiliki pengetahuan keagamaan yang luas

dan mengamalkannya dalam kehidupan

sehari-hari secara aktif

2. Meningkatkan kualitas keilmuan secara

berkelanjutan

3. Zuhud dalam kehidupan, mengajar dan

mendidik untuk mencari ridha Tuhan

4. Bersih jasmani dan rohani

5. Pemaaf, penyabar, dan jujur

6. Berlaku adil terhadap peserta didik dan semua

stakeholders pendidikan





Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

7. Mempunyai watak dan sifat robbaniyah

yang tercermin dalam pola pikir, ucapan,

dan tingkah laku

8. Tegas bertindak, profesional, dan

proporsional

9. Tanggap terhadap berbagai kondisi yang

mungkin dapat mempengaruhi jiwa,

keyakinan, dan pola pikir peserta didik

10. Menumbuhkan kesadaran diri sebagai da’i





Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

(1)

(8) Guru (2)

Media Selibriti/

elektronik Artis

FAKTOR

(7) BERPENGARU

Media (3)

H DALAM

Pejabat

cetak PEMBINAAN

KARAKTER



(6) (4) Tokoh

Kedua

orangtua (5) Teman masyarakat



sejawat









Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com

Ciri orang yang kuat imannya, antara lain:

(1) secara tulus dia patuh pada Tuhannya;

(2) dia tertib dan disiplin melaksanakan perintah dan

menjauhi larangan Tuhan, secara mahdhoh/ritual;

(3) memahami dan menghargai ajaran agama lain,

sehingga tercipta kehidupan yang toleran;

(4) memperbanyak kerjasama dalam bidang kehidupan

social.

(5) memiliki prilaku baik berdasarkan nilai agama yang

dianautnya

(6) menghindarkan diri dari prilaku yang tidak sejalan

dengan nilai agama yang dianutnya.

(7) dll.



Qomari Anwar: qomari9@yahoo.com


Related docs
Other docs by HC111110185329
Library_Master
Views: 0  |  Downloads: 0
TGM2
Views: 1  |  Downloads: 0
The 20Cold 20Equations
Views: 0  |  Downloads: 0
ResCenter_LendingLibraryLog22007
Views: 1  |  Downloads: 0
As 20We 20Sodomize 20America
Views: 24  |  Downloads: 0
Musikante1
Views: 9  |  Downloads: 0
Study_Skills
Views: 1  |  Downloads: 0
FixedAssetCommodityCodes
Views: 3  |  Downloads: 0
330
Views: 10  |  Downloads: 0
Press___Marketing_Pack_Word_to_Sept
Views: 0  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!