Docstoc

TAFSIR PERJANJIAN LAMA II

Document Sample
TAFSIR PERJANJIAN LAMA II Powered By Docstoc
					TAFSIR PERJANJIAN LAMA II
      KITAB SEJARAH
          OLEH :
      ORAL OKO, M.TH
             KITAB YOSUA
                    TEMA
Kitab Yosua adalah kitab yang militant, yang
melaporkan kemenangan- kemenangan
bangsa Israel dalam usaha menaklukan dan
memiliki negeri perjanjian.
               AYAT KUNCI:
               11:23,21:45
                PENULIS

 Pada ayat pertama kitab ini diperkenalkan
Yosua bin Nun.Ia dinyatakan sebagai
“pengganti” Musa dan dapat di simpulkan ia
diperkenalkan sebagai orang yang
mengumpulkan dan mencatat data yang
dimuat dalam kitab ini. Ada beberapa fakta
yang relevan yang berhubungan dengan
pengarang kitab Yosua adalah sebagai berikut:
 Yosua secara tegas disebutkan sebagai penulis dari bagian – bagian , misalnya, “
  Yosua menuliskan semuanya itu dalam hUkum Allah…..” ( Yosua 24:26 )
 Peristiwa – peristiwa yang melaporkan secara rinci hubungan pribadi antara
  Yosua dengan Tuhan kerap kali terdapat dalam kitab ini dan hal – hal tersebut
  mungkin sekali hanya diketahui oleh Yosua ( contoh: Yos
  1:1;3:7;4:2;5:2;6:2;7:10;8:1;dan 20:1 ).
 Pemaparan yang di utarakan sering sedemikian rupa rincinya sehingga hanya dapat
  dicatat oleh seorang saksi mata
 Penggunaan kata ganti orang “ kita” dalam pasal 5:6 menunjukan bahwa sekurang-
  kurangnya pengenalan ini merupakan suatu penyataan langsung dari Yosua.
 Beberapa pernyataan mengenai peristiwa-peristiwa sejarah menunjukan bahwa
  kitab itu di tulis sebelum Israel berbentuk kerajaan dengan demikian ditulis pada
  zaman Yosua, bukan pada masa kemudian. ( contoh: Yos 9:23; 13:6;15:63 dan
  16:10 adalah bagian – bagian yang memaparkan peristiwa yang mendahului Daud
  dan Salomo.)
 Kitab Talmud menyatakan bahwa Yosualah yang menulis seluruh kitab Yosua
  kecuali lima ayat terakhir
  L. Thomas Holdcroft, kitab- kitab sejarah hal 2
         TAHUN PENULISAN
 Kitab ini di tulis anatara 1390 SM- 1380 SM.
Pertimbangan : Kaleb saat menaklukan
Kanaan berumur 78 tahun. G.L. Archer :
waktu Kaleb meninggal Yosua berumur 104
Tahun. Tahun penaklukan Kanaan 1406 B.C .
Jadi sekitar 1380 BC Yosua meninggal dunia.
                 TUJUAN

1. Tujuan historis: Tuhan mengaruniakan tanah
   suci kepada umat Israel dengan segala
   janjinya. Bagaimana Tuhan memimpin
   bangsa Israel sehingga mereka memiliki
   tanah
2. Tujuan Teologis :
a) Kesetiaan Tuhan Allah, kepada janjiNya terhadap
    Israel
b) Hidup kemenangan adalah hidup percaya
    kepada Allah.
c) Supaya kita memperoleh pusaka I warisan
    berjuan dengan iman.
d) Pentingnya firman Allah yang tertulis
e) Kesucian Allah dan kejahatan manusia, Tuhan
    sungguh membenci dosa
3.Tujuan Kristologi: Yosua menggambarkan segi
  yang amat penting dari keselamatan yang di
  berikan Allah itu.
      LAMBANG YANG PENTING


a) .Kanaan: Merupakan lambang dari lebarnya dan
   panjangnya dan tingginya dan dalamnya ( Efesus
   3:18 ) hidup rohani kita didalam Kristus.
b) Sungai Yordan: bukan lambing kematian tubuh,
   tetapi lambing persekutuan kita dengan tubuh
   Kristus dalam kematianNya. Merupakan
   persekutuan yang hidup dengan Kristus.
c) Yosua: Lambang Yesus yang menjadi pemimpin
   keselamatan kita
      LINGKUP PEMBICARAAN KITAB YOSUA
Kitab Yosua memeparkan sejarah Israel selama
kurang lebih tiga puluh tahuan.
             PASAL 2
KOTA YERIKHO ADALAH SUATU RINTANGAN
YANG HEBAT TERHADAP GERAK MAJU ISRAEL,
KOTA ITU PERLU DI TAKLUKAN SEBELUM
DAERAH LAIN DAPAT DI REBUT. YOSUA
MENGUTUS DUA ORANG PENGINTAI UNTUK
MENGINTAI KOTA ITU.RAHAB BERHASIL
MENGALIHKAN PARA PENGEJAR PENGINTAI-
PENGINTAI ITU SEHINGGA MEREKA DAPAT
KEMBALI KEPADA YOSUA DAN MEMBERIKAN
LAPORAN.
APA ISI LAPORAN DARI DUA PENGINTAI?
TUHAN TELAH MENYERAHKAN SELURUH
NEGERI INI KE DALAM TANGAN KITA, BAHKAN
SELURUH PENDUDUK NEGERI ITU GEMETAR
MENGHADAPI KITA ( AYAT 24 ).
RAHAB MEMPERLIHATKAN IMAN DAN
PENYERAHANNYA KEPADA ALLAH MESKIPUN
ALKITAB SECARA KHUSUS MEMPERKENALKAN
SEBAGAI SEORANG PEREMPUAN SUNDAL.
RAHAB MEMBERIKAN PERLINDUNGAN
KEPADA MEREKA ,PENGINTAI BERIKRAR
BAHWA IA DAN KELUARGANYA AKAN
DILINDUNGI DARI KEBINASAAN YANG AKAN
MENIMPA KOTA YERIKHO. TANDA UNTUK
MENUNJUKAN STATUS ITU ADALAH TALI
KIRMISI YANG DI GANTUNGKAN PADA
JENDELANYA.
            PASAL 3
   SUNGAI YORDAN DISEBERANGI
Penyeberangan sungai Yordan didahului dan diikuti
oleh persiapan dan penyataan rohani dari umat Israel.
Para Imam berjalan seribu meter di depan rombongan
yang lain. Hal ini tidak berfungsi untuk memberikan
kesan kepada umat agar tetap melihat jarak yang patut
di hormati dari tabut yang suci itu, tetapi juga
memungkinkan seluruh umat yang berbaris
melihatnyadengan jelas . Pada saat kaki para imam
menyentuh air, Suangai Yordan secara ajaib terbelah,
dan umat melintasi dasar air yang kering. Peristiwa ini
luar biasa justru terjadi pada saat banjir musim semi.
 Pendapat beberapa para ahli:
Pengeringan sungai Yordan itu terjadi karena
runtuhnya pinggiran sungai yang tergantung
yang terdiri atas tanah liat beberapa kilo
meter ke utara.
Pada tahun 1927 sebuah tebing yang tingginya
46 meter yang mengganjur di atas sungai
Yordan runtuh sehingga selama 21 jam aliran
sungai di daerah yang lebih rendah terhenti.
          PASAL 4
  GUNDUKAN BATU PERINGATAN
Peristiwa penyeberangan sungai Yordan
didirikan dua gundukan batu peringatan yang
satu diletakan didasar sungai itu, sedang yang
lainya di Gilgal ( ayat 3 dan 20 ). Setiap
gundukan terdiri dari 12 batu dan gundukan
itu berperan sebagai tanda peringantan untuk
mengingatkan bangsa Israel di kemudian hari
atas kuasa Tuhan alam raya.
Gilgal: sebuah lingkaran dari batu – batu.
                APLIKASI



Apakah dalam kehidupan saya , saya mempunyai
  semacam tanda batu peringatan…..?
            PASAL 5
PERAYAAN PASKAH DI TANAH KANAAN
 Terbelahnya Sungai Yordan mengesankan raja
 Kanaan dan raja Amori. Peristiwa ini tidak hanya
 bermanfaat untuk maksud perpindahan bangsa
 Israel ke negeri perjanjian,tetapi ini juga sebagai
 perang urat saraf ( ayat 1 ).
 Setelah penyeberangan itu, Tuhan
 memerintahkan penyunatan nasional pada
 bangsa Israel.
 Mengapa ! apakah mereka tidak di sunat sebelum
 keluar dari Mesir ?
Alasanya: selama dalam pengembaraan hal ini
telah diabaikan oleh orang Israel. Dan bangsa itu
dianggap tidak berada dalam persekutuan
dengan Allah. Pembaharuan penyunatan
merupakan jenis pengumuman resmi bahwa
kedudukan Israel dengan Allah dipulihkan.Hal ini
juga memperbaharui perayaan paskah sesudah
selang waktu 39 tahun ( Bil 9:5 ). Empat hari
sesudah paskah bangsa Israel memakan makanan
hasil dari tanah perjanjian itu.
Ayat 13-15
Orang laki – laki dengan pedang yang
terhunus yang dilihat oleh Yosua sudah pasti
itu adalah Tuhan ( Ia menerima penyembahan
Yosua ), biasanya di anggap sebagai
penampakan pra-penjelmaan Tuhan Yesus (
salah satu dari beberapa Kristofani di PL ).
               PASAL 6
         PENAKLUKAN YERIKHO
Apa strategi Yosua yang dia pakai dalam penaklukan
kota Yerikho: bergerak maju ke arah barat, ini dapat
membuat musuh alami keretakan dan ini memisahkan
suku- suku yang berada di sebelah utara dan selatan.
    Allah menyatakan bahwa Yerikho harus di
musnakan sama sekali.sebenarnya kota itu harus
dikurbankan sebagai kurban bakaran kepada Yahwe.
Seluruh penduduk kota ( kecuali Rahab dan
keluarganya) semua binatang harus dibunuh, dan
setiap dan setiap logam berharga harus
dipersembahkan kepada Tuhan.
Ayat 24 Yosua mengumumkan suatu kutuk
yang membangun kembali Yerikho, tetapi hal
ini terus ditentang. I Raj 16:34 kota itu
dibangun oleh Hiel orang Betel.Pada masa raja
Ahab ada kebiasaan orang kafir untuk
mendapat suatu berkat dalam pembangunan
dengan memasukan anak yang masih hidup
dalam bejana lalu memasukan kedalam
fondasi.
              PASAL 7
DOSA AKHAN DAN KEKALAHAN ISRAEL DI AI
Setelah menang atas Yerikho, orang Israel
kembali ingin merebut kota Ai. Kota ini
berpenduduk kira – kira 12.000 orang. Ai
sekarang di sebut Wadi Kelt. Nama Ai berarti
reruntuhan. Dalam penyerbuan ini bangsa Israel
mengalami kekalahan yang memalukan ( ayat 5).
Yosua berdoa bersama-sama para tua-tua agar
dapat menemukan penyebab kegagalan
mereka.Yosua dibimbing oleh Allah untuk
menemukan orang yang melakukan kejahatan,
yaitu Akhan dari suku Yehuda ( ayat 16-19 ).
        Apa kesalahan Akhan?
  Ayat 21 menyimpan barang – barang hasil
  perang antara lain:
1. Jubah indah buatan Sinear
2. Dua ratus syikal perak
3. Sebatang emas lima puluh Syikal beratnya.
                 PASAL 8
              PENAKLUKAN AI
Setelah kasus dosa diperkemahan itu diselesaikan
dengan secepatnya maka dengan mudah orang israel
mengalahkan Ai.
Apa strategi Yusua:
Menyembunyikan 5000 prajurit agak jauh dari kota itu,
dan mengirim pasukan sisa untuk berperang. Sewaktu
pertempuran berlangsung,para penyerang pura-pura
kalah dan mundur, sehingga orang mendorong orang-
orang bertahan di Ai untuk keluar kota itu. Maka 5000
orang yang bersembunyi masuk ke kota dan
memusnakan semua yang ada. Ini merupakan siasat
militer yang pertama di pakai dalam kitab suci.
                PASAL 9
          AKAL ORANG GIBEON

Orang Gibeon menyadari tinggal sedikit waktu
mereka akan dihancurkan oleh orang Israel.
Rasa takut membuat mereka merencanakan
hal yang licik. Para utusan membuktikan
kelicikan mereka dengan cara berpakaian dan
perbekalan yang dibawanya, tetapi juga dalam
percakapan mereka dengan para tua-tua
Israel.
Adapun isi percakapan itu sbb:
Dengan gamlang memaparkan kemenangan Israel,
penyeberangan sungai Yordan, kemenangan yang
terjadi di Palestina. Yosua dan para tua- tua Israel
memperlihatkan terlalu tergesa-gesa untuk menerima
orang Gibeon dan membuat perjanjian untuk tidak
saling serang. Suatu kebiasaan yang berlaku untuk
orang - orang di dunia timur menerima makana yang di
tawarkan itu berarti terjalinnya persahabatan dan
perdamaian. Hukum musa Ul 20:10-20 ) musuh yang
ditaklukan tanpa pertempuran dan melalui suatu
perindingan tidak boleh dimusnakan.
Barang kali Yosua dan para tua-tua
    menjadi korban sanjungan
          PASAL 10
YOSUA MEREBUT SELATAN KANAAN
Raja Yerusalem Adoni-Zedek menghimpun lima raja al:
Raja Hebron ( Hoham), Raja Yarmut ( Piream ), Raja
Lakhis ( Yafia ), Raja Eglon ( debir ). Untuk menggempur
Gibeon. Orang-orang Gibeon meminta bantuan kepada
Yosua sesuai dengan kesepakatan. Yosua dengan penuh
semangat bersama pasukannya berjalan sepangnjang
41 km melakukan serangan mendadak kepada musuh.
Allah menyokong mereka dengan dengan mengirim
batu besar untuk menghancurkan musuh kemudian
Tuhan memperpanjang hari sehingga orang Israel
punya cukup waktu untuk melakukan penghancuran.
Tidak ada data mengenai cara yang dipakai
Allah untuk memperpanjang hari
kemungkinan ini terjadi melalui mujizat
pembiasan cahaya dari perubahan gerak
Bintang dan Planet. Penegasan ini ditemukan
dalam tradisi di Mesir, China, dan India. Dan
ini diperkuat oleh beberapa Astronom
modern.
          PASAL 11
BAGIAN UTARA KANAAN DIREBUT
                Hakim - Hakim
Pendahuluan
     Kitab Yosua berbeda sama sekali dengan Hakim-Hakim,
disini bangsa Israel menguasai negeri melalui kepercayaan
terhadap pribadi dan kuasa Allah. Tetapi dalam Hakim-
Hakim ketidaktaatan dan penyembahan berhala sering
nampak karena penolakan mereka terhadap Allah.
Sesudah kematian Yosua, Israel memasuki 350 tahun zaman
kegelapan. Sesudah zaman Yosua dan generasi yang
menaklukan dan memiliki tanah Kanaan “muncul generasi
yang lain yang tidak mengenal Allah dan apa yang
dilakukan-Nya bagi Israel” (2:10 lihat 2:7-10 dan Yos 24:31).
Hakim-Hakim dimulai dengan suatu
penjelasan tentang kemerosotan moral
bangsa Israel, dilanjutkan dengan enam siklus
penindasan dan pemberontakan, dan
disimpulkan dengan dua ilustrasi atau
gambaran tentang kemerosotan Israel
                  Judul

Judul dalam bahasa Ibrani “shopehetim”
artinya Hakim-Hakim atau para Hakim yang
merupakan tokoh utama dalam kisah ini.
Dalam Bahasa Yunani dipakai istilah “kritai”
yang artinya juga Hakim-Hakim.
                       Penulis

penulis kitab ini tidak diketahui, tetapi mungkin ini ditulis
oleh Samuel atau seseorang dari nabi yang menjadi
muridnya. Tradisi Yahudi menghubungkan Hakim-Hakim
dengan Samuel, dan ia adalah penyambung atau jembatan
yang penting antara periode Hakim-Hakim dan periode
Raja-Raja. Hal ini jelas dari 18 : 31 dan 20 : 17 dimana kitab
ini ditulis sesudah Tabut bergerak dari Shilo (1 Sam. 4 : 3-
11), Di ulangi dalam pharase “Pada hari itu tidak ada raja”
(17 : 6, 18 : 1, 19 : 1, 21 : 25).
Namun seberapa jauhkan tradisi ini dapat
dipercaya? Beberapa bukti menjelaskan
bahwa kitab Hakim-Hakim merupakan kitab
yang lebih kuno. Menurut 1:21, Bangsa Yebus
masih berada di Yerusalem ketika kitab
tersebut ditulis. Dengan demikian pastilah
kitab tersebut telah diedit sebelum peristiwa
yang tercataa di dalam II Sam.5:6 dst
(penawanan kota tersebut oleh Daud).
Dalam 1:29, dicatat bahwa orang-orang
Kanaan menghuni atau tinggal di Gezer, yang
menunjuk kepada suatu masa sebelum Firaun
memberikan tempat itu kepada Salomo (I
Raj.9:16). Bacaan seperti dalam 17:6; 18:1;
21:25, dengan jelas menyiratkan masa
sebelum pemerintahan Raja-Raja, sehingga
penulisan sejarah itu dilakukan setelah ada
raja di Israel.
Tema dan Tujuan Kitab Hakim-Hakim

Kitab Hakim-Hakim berfungsi untuk menunjukkan
bahwa Umat Tuhan membutuhkan seorang Raja yang
benar. Bangsa Israel yang hidup tanpa dipimpin oleh
Tuhan dan seorang raja yang diberi otoritas oleh Tuhan
menjadi hidup dalam kegelapan. Suatu phrase yang
dapat menjelaskan situasi pada saat itu ditulis sebagai
berikut, “Setiap orang yang melakukan yang benar
menurut pandangannya sendiri”. Dengan demikian
Kitab Hakim-Hakim memiliki tujuan yang negatif.
Berbeda dengan kitab Yosua yang
menggambarkan kedamaian sebagai akibat
ketaatan mereka terhadap firman Allah, kitab
Hakim-Hakim justru menggambarkan masa
kegelapan yang mereka alami sebagai akibat
pemberontakan mereka terhadap Tuhan.
    Dalam Kitab Hakim-Hakim terdapat suatu siklus atau “lingkaran
    setan” yang terus menerus terjadi di dalam kehidupan umat Tuhan
    (ps.3-16). Siklus itu dapat digambarkan sebagai berikut :
•   Orang Israel berbuat apa yang jahat di mata Tuhan, sehingga Tuhan
    menghukum mereka dengan cara menyerahkan mereka ke tangan
    bangsa-bangsa
•   Setelah mengalami penderitaan atau penindasan, umat Tuhan
    kembali mencari Tuhan
•   Tuhan menggerakkan Hakim-Hakim untuk membebaskan mereka
•   Setelah mengalami pembebasan, bangsa Israel hidup dalam
    keamanan dan kemakmuran
•   Setelah kematian seorang Hakim, bangsa Israel kembali
    meninggalkan Tuhan
Dalam kitab Hakim-Hakim kita bertemu dengan
masalah-masalah seperti yang dicatat dalam kitab
Hakim-Hakim (1:21, 27-36). Hal ini juga dicatat
dalam dalam kitab Yosua (10). Dalam Hakim-
Hakim kita menemukan laporan secara terperinci
tentang daerah-daerah yang belum ditaklukkan
spenuhnya oleh suku-suku Israel. Berbeda halnya
dengan laporan Yosua, dimana seluruh negeri
atau wilayah ditaklukkan oleh bangsa Israel (Yos.
10:40). Bagaimana kita dapat melihat kedua
laporan yang berbeda ini ? (bandingkan Yos.
11:22; 13:2-6; 15:63; 16:10; 17:12-13)
          Analisis Struktur

Struktur kitab Hakim-Hakim sangat jelas. Para
penafsir membagi kitab ini ke dalam tiga
bagian :
  Struktur kitab Hakim-Hakim sangat jelas. Para
  penafsir membagi kitab ini ke dalam tiga bagian :
• Dua bagian pertama atau prolog (1:1-2:15 dan
  2:6-3:6), mencatat bagian-bagian pendahuluan
  (1:1-3:6);
• Pokok utama, mencatat narasi tentang Hakim-
  Hakim besar dan Hakim-Hakim kecil dan masa
  kegelapan yang panjang (3:7-16)
• Dua bagian yang terakhir atau epilog (17-18 dan
  19-21), mencatat tentang kehancuran agama dan
  kebangkrutan moral
Analisis terhadap struktur narasi yang simetris
membangun bagian-bagian unit ke dalam suatu
keseluruhan secara koheren. Struktur ini
memberikan kesan bahwa kitab ini dihasilkan
oleh penulis tunggal dari pada beberapa redaktur.
Penulis dengan berhati-hati berusaha menyusun
suatu materinya untuk menggambarkan suatu era
kebobrokan dalam permulaan sejarah Israel
dengan sejumlah pokok penting yang significant
secara teologis.
Struktur kitab Hakim-Hakim memberikan kesan
yang kuat bahwa kegagalan Israel untuk
membasmi bangsa-bangsa yang ada dalam tanah
perjanjian mengakibatkan terjadinya kemunduran
dalam kehidupan mereka secara rohani,
terjadinya kemerosotan moral dan kekacauan
secara social. Kondisi ini terjadi ketika bangsa
Israel berusaha mengakomondasi kebiasaan-
kebiasaan bangsa kafir yang ada di Kanaan, dan
mereka berpaling dari kesetiaan mereka terhadap
perjanjian dengan Yahweh, Raja mereka.
Pada saat yang sama penulis menggambarkan
tentang kesetiaan dan belaskasihan Allah yang
besar, sehingga meskipun bangsa Israel secara
berulang-ulang melakukan pelanggaran demi
pelanggaran, Yahweh tetap membangkitkan
seorang Hakim untuk membebaskan mereka
dari penjajahan.
Dalam bagian epilog (pendahuluan) penulis
menjelaskan tentang situasi bangsa Israel yang
melakukan pelanggaran-pelanggaran ketika mereka
tidak memiliki seorang Raja (17:6; 18:1; 19:1; 21:25),
hal ini membuktikan bahwa kitab ini ditulis pada waktu
sesudah ada kerajaan dan dengan demikian kitab ini
bertujuan untuk memperkenalkan system kerajaan
(monarkhi) yang masuk ke dalam kepemimpinan Allah
atau Teokrasi. Suatu pengamatan yang teliti terhadap
struktur narasi penting untuk memperlihatkan
bagaimana tema-tema besar yang penting ini disusun
melalui materi-materi dalam kitab.
Prolog (1:1-3:6) dibagi kedalam dua bagian yaitu :
1:1-2:5 dan 2:6-3:6. Tiap bagian diperkenalkan
dengan phrase yang sama, “sesudah Yosua mati.
Israel berkata kepada Allah...” (1:1) dan “sesudah
Yosua meninggalkan bangsa Israel...” (2:6). Bagian
yang pertama (1:1-2:5) mereview keberhasilan-
keberhasilan dan kegagalan suku-suku Israel
seperti Yehuda, Benyamin, Manaseh, Ephraim,
Zebulon, Asher, Naptali, dan Dan dalam usaha
mereka untuk menduduki tanah Kanaan dalam
wilayah teritorial mereka sendiri.
Dari 1:27-36 menjadi jelas dimana mereka
malahan membiarkan suku-suku Kanaan tetap
tinggal diantara mereka. Pada teks 2:1-5
menginformasikan kepada Isarael bahwa
karena ketidak taatan mereka, yang
membiarkan bangsa-bangsa Kanaan tetap
hidup diantara mereka, maka bangsa-bangsa
itu akan menjadi jerat bagi mereka.
Dalam bagian yang kedua yaitu prolog (2:6-3:6), kitab ini
menyediakan suatu presfektif teologis bagi pengalaman sejarah
Israel selama periode Hakim-Hakim. Tema penting dalam bagian ini
ialah, tentang kegagalan Israel untuk mengusir bangsa-bangsa
Kanaan (2:1-13) dan terlebih dari itu kemurtadan Israel terhadap
Yahweh dengan beribadah kepada ilah-ilah bangsa Kanaan (2:12-
13). Akibat ketidaktaatan itu bangsa Israel terjerat kepada
kebiasaan Kanaan yang membahayakan mereka. Karena Israel telah
menyimpang dari Yahweh, Ia berulangkali harus menyerahkan
bangsa Israel ketangan musuh-musuh mereka yang dengan kejam
menjajah mereka. Di dalam penderitaan, mereka berseru kepada
Yahweh, yang berbelah kasihan dan membangkitakan seorang
Hakim untuk membebaskan mereka dari penderitaan dan
penindasan (2:16-18). Ini merupakan siklus kemurtadan, penjajahan
dan pembebasan yang terus menerus berputar dan merupakan
karakter utama kitab ini.
Narasi ini dengan jelas menggambarkan tentang
segala sesuatu dalam kehidupan bangsa Israel
kepada suatu lingkungan kemerosotan. Hal ini
nampak dalam berbagai cara, termasuk
perkembanganz kemerosotan agama dan moral
dalam kehidupan setiap Hakim itu sendiri, seperti
nampak dalam statemen pada bagian yang
kedua, “tetapi ketika Hakim mati, umat Allah
kembali melakukan kesalahan yang lebih besar
daripada yang dilakukan nenek moyang
mereka...” (2:19)
Paralel yang terdapat diantara pendahuluan dair kedua
bagian (prolog) dengan kedua bagian epilog itu sendiri
menunjukkan strukutur kitab Hakim-Hakim yang
semetris. Epilog (17-21) berisi dua cerita yang
menggambarkan kerusakan agama dan moral pada
masa Hakim-Hakim keduanya bersangkut paut dengan
Lewi. Dalam cerita yang pertama, kemerosotan agama
yang sangat serius ditunjukkan melalui suatu
penjelasan tentang penyembahan berhala yang terjadi
secara menyolok yang dikombinasikan dengan
oportunis agamawi dan kesalahan-kesalahan institusi
Lewi (17:1-18:31).
Cerita kedua secara jelas menggambarkan
dekadensi moral pada era itu melalui catatan
penyelewengan seksual dan pembunuhan
seorang gundik Lewi yang mengakibatkan
terjadinya perang di antara suku-suku Israel
yang menghancurkan suku Benyamin (19:1-
21:25)
  Simetris kitab ini juga dikonfirmasikan melalui
  sejumlah paralel diantara prolog dan epilog
  antara lain:
• Pada bagian yang pertama (prolog), Israel
  bertanya kepada Allah, “siapakah dari kami
  yang harus lebih dahulu maju menghadapi
  orang Kanaan, untuk berperang melawan
  mereka? Allah menjawab, “suku Yehudalah
  yang harus maju” (1:1-2)
• Dalam bagian yang kedua (epilog), Israel juga bertanya
  kepada Allah, siapakah yang terlebih dahulu maju
  berperang melawan suku Benyamin?” “Yehudalah yang
  harus pergi terlebih dahulu” (20:18). Paralel ini
  menjelaskan suatu kontras yang menekankan tentang
  kemunduran. Karena di dalam prolog Yehuda berhasil
  namun di dalam epilog Yehuda dikalahkan.
• Dalam prolog terdapat kerjasama dan kesatuan dalam
  bertindak diantara suku Yehuda dengan Simeon (1:3),
• Namun di dalam epilog terdapat konflik sebagaimana
  Yehuda menyerang Benyamin.
• Dalam prolog, Benyamin gagal mengusir suku Yebus dari negeri
  Yebus (1:21)
• Namun di dalam epilog Lewi justru dibela orang Yebus, kota orang
  asing, yang bukan kepunyaan Israel (19:12), Sementara Lewi
  menginap di rumah orang Yebus, maka bangsa Israel yang bukan
  penduduk Gibea melakukan tindakan-tindakan brutal terhadap suku
  Benyamin (19:22-28).
• Dalam prolog Israel menangis dihadapan Malaikat Allah sesudah
  bangsa itu membiarkan orang Kanaan tetap hidup karena ketidak
  taatan mereka (2:1-5).
• Dalam Epilog Israel menangis dan berpuasa dihadapan Allah,
  sesudah dua kali mengalami kekalahan pada suku Benyamin dan
  22.000 dan 18.000 orang Israel dibunuh. (20:21-23, 25-26)
Kitab ini juga menunjukkan suatu simetris
penting, yang berisi tentang enam unit narasi
dalam suatu konsentris kiasan.
• Otniel (3:7-11)
  Bertentangan dengan orang Israel, yang memberikan anak-anak
  perempuan mereka menjadi istri mereka (3:6), istri Otniel diberikan
  kepadanya sebagai hadiah karena dapat menguasai Kiriat sepher
  (Debir), dan kemudian memaksa dia untuk meminta sebidang tanah
  kepada ayahnya (1:11-15)
• Ehud (juga Samgar) (3:12-31)
  Ehud berkata, “Ada pesan rahasia yang kubawa kepada tuanku, raja
  (Moab)” (3:19-20), dan kemudian dengan dibantu orang-orang
  Efraim merebut tempat penyebrangan sungai Yordan dan
  membunuh musuhnya (3:28-30)
• Deborah, Barak, Yael (4:1-5:31)
  Seorang wanita menusuk musuhnya dengan patok sehingga tembus
  kepalanya dan setelah itu berakhirlah perang
•   Gideon
    Gideon berdiri melawan penyembahan berhala (6:1-32), tetapi dia bukan hanya
    memerangi musuhnya, tetapi juga memerangi pengikut-pengikut orang Israel di
    Sukot dan Pnuel (8:1-21). Sesudah ia diangkat menjadi raja (8:22-23), dia juga
    jatuh kepada penyembahan berhala yang dibuatnya sendiri (8:24-32)
•   C’. Abimelek (Tola, Yair) (8:33-10:15)
    Seorang wanita menimpakan batu kilangan ke kepala musuhnya (Abimelek) segera
    sesudah itu berakhirlah perang
•   B’. Yepta (Ibzan,Elon,Abdon) (10:6-12:5)
    Yepta mengutus pemberita kepada Raja (11:12-13) dan berhasil m,enguasai
    tempat penyebrangan sungai Yordan dengan membunuh empat puluh dua ribu
    orang efraim (12:1-6)
•   A’. Samson (13:-16:31)
    Samson mengambil istri orang asing, yang memaksa dia untuk memberitahukan
    kepada mereka rahasianya dan kesalahannya itu menjadi kehancurannya.
Analisa terhadap kitab
    Hakim-hakim
1. Penyebab terjadinya kemerosotan
    dan kegagalan bagi bangsa Israel
               (1-2)
Hakim-Hakim dimulai dengan sejarah singkat militer penerus sesudah kematian
Yosua. Tetapi mereka segera berbalik kepada kegagalan untuk melawan musuh-
musuhnya. Kekalahan bangsa Israel bukan disebabkan karena ketiadaan pemimpin
tetapi alasan bagi kegagalan mereka adalah kegagalan iman dan ketidaktaatan
terhadap Allah (2:1-3). Sikap kompromi membawa kepada konflik dan kehancuran,
Israel tidak mengusir penduduk asli (1:21, 27, 29, 30), sebaliknya melakukan
perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh penduduk Kanaan, mereka mengadakan
kawin kontrak dengan mereka. Allah-Allah Kanaan benar-benar menjadi jerat atau
perangkap bagi mereka (2:3). Hakim 2:11-23 adalah suatu pola yang sama yang
ditemukan dalam Hak. 3-16. Secara terperinci, kegagalan bangsa Israel itu
disebabkan oleh:
1.Kegagalan bangsa Israel untuk mengusirorang-orang kafir yang ada disekitar
mereka (1:21, 27, 29, 33)
2.Penyembahan berhala (2:12-13)
3.Perkawinan campur antara bangsa Israel dengan orang-orang kafir (3:5-6)
2. Siklus kegagalan bangsa Israel dan
tindakan penyelamatan Allah ( 3-16)
Dalam bagianini dijelaskan 7 kemurtadan, 6 perbudakan dan 6
pembebasan. Setiap siklus masing-masing memiliki lima langkah : dosa -→
Perbudakan -→ Keselamatan -→ Kefakuman. Disini juga di jelaskan
pemberontakan terus menerus, masa sunyi dan damai lebih panjang
daripada perbudakan. Dosa Israel terus terkonsentrasi dengan metode-
metode keselamatan Allah secara monoton.
7 (tujuh) siklus ini dihubungkan Gersia, sebagai suatu lingkaran dosa
(2:19), Israel diperhadapkan dengan pemberontakan dan ketidaktaatan
sebagai umat Allah yang gagal mendengar dari kesalahan mereka.
Pemberontakan berkembang, dan pemberontakan terus menerus, masa
sunyi dan damai lebih panjang daripada perbudakan. Dosa Israel terus
menerus, masa sunyi dan damai lebih panjang daripada perbudakan. Dosa
Israel terus terkonsentrasi dengan metode metode keselamatan Allah
secara monoton.
Para Hakim adalah pemimpin militer dan
sejarah selama periode ini, kurang lebih 13
orag Hakim ditemukan dalam buku ini dan
lebih dari 4 orang Hakim di temukan dalam
Kitab I Samuel (Eli, Sam, Joel, dan Abijah)
Tindakan-tindakan bangsa Israel terekam
hampir di seluruh bagian kitab ini, secara rinci
dijelaskan : (lihat juga diagram Hakim-Hakim)
           Siklus pertama (3:7 )

• Kejahatan bangsa Israel : hidup berdampingan dengan
  bangsa-bangsa kafir, dan hidup dengan cara hidup
  bangsa-bangsa itu. Mereka telah menjalin perjanjian-
  perjanjian dan kawin mengawin dengan bangsa kafir
  serta penyembahan berhala terhadap dewa-dewa (Baal
  dan Asterot)
• Hukuman Allah : Bangsa Israel ditindas oleh orang
  Mesopotamia selama 8 tahun
• Hakim Pembebas : Otniel -→ Israel mengalami masa
  damai 40 tahun
           Siklus kedua (3:12)

• Kejahatan bangsa Israel : Setelah Otniel mati,
  bangsa Israel kembali meninggalkan Tuhan dan
  menyembah berhala, melakukan tindakan-
  tindakan yang tidak adil
• Hukuman Tuhan : Allah menyerahkan bangsa
  Israel kepada bangsa Moab dan menjajah mereka
  selama 18 tahun
• Hakim Pembebas : Ehud dan Samgar -→ Israel
  mengalami masa damai 80 tahun
            Siklus ketiga (4:1)
• Kejahatan bangsa Israel : Israel meninggalkan
  Tuhan
• Hukuman Tuhan : Bangsa Israel ditindas oleh
  orang Kanaan selama 20 tahun
• Hakim Pembebas : Debora dan Barak -→ Israel
  mengalami masa damai 40 tahun
           Siklus keempat( 6:1)
• Kejahatan bangsa Israel : Setelah 40 tahun
   menikmati kemakmuran, bangsa Israel kembali
   meninggalkan Tuhan
• Hukuman Tuhan : Bangsa Israel dijajah oleh orang
   Median selama 7 tahun
• Hakim Pembebas : Gideon -→ Israel mengal;ami
   masa damai 40 tahun
*. Malaikat Tuhan, siapa ? (6:11-12,20, 21, 22, 23;
   2:1, 4; 5:23; 13:3, 13, 15, 16, 18, 20, 21, 22)
           Siklus kelima (8:33)
• Kejahatan Bangsa Israel : Israel meninggalkan
  Tuhan dan kembali menyembah Baal
• Hukuman Tuhan : Terjadi perang saudara di
  dalam negara/ Abimelek selama 3 tahun
• Hakim Pembebas : Tola dan Yair -→ Israel
  mengalami masa damai tidak jelas
             Siklus keenam
• Kejahatan bangsa Israel : Melakukan dosa
  percabulan bakti
• Hukum Tuhan : Tuhan menyerahkan mereka
  ke tangan bangsa Amon selama 18 tahun
• Hakim Pembebas : Yefta dan kawan-kawan -→
  Israel mengalami masa damai tidak jelas
*. Nazar Yefta, apakah Yefta benar-benar
  mengorbankan putrinya? (11:30-31)
         Siklus ketujuh (13:1)
• Kejahatan Bangsa Israel : mereka
  meninggalkan Tuhan
• Hukuman Tuhan : Mereka digembeleng oleh
  bangsa Filistin selama 40 tahun
• Hakim Pembebas : Simson -→ Israel
  mnegalami masa damai 20 tahun
3. Gambaran tentang kemerosotan
 kerohanian bangsa Israel ( 17-21)
Bagian ini menggambarkan:
1) kemurtadan agama (17-18)
 2) kerusakan sosial dan moral (19-21) selama periode
Hakim-Hakim. Pasal 19-21 berisikan suatu laporan
tentang kerusakan moral dalam Alkitab, Hakim-Hakim
di tutup dengan suatu kalimat kunci yang dapat
memahami periode ini, “.....setiap orang melakukan
apa yang benar menurut pandangannya” (21:25)
Bangsa Israel tidak melakukan apa yang salah dalam
pandangan mereka, tetapi apa yang jahat di mata
Tuhan
Daftar dan penggolongan
      Hakim-Hakim
          a. Penggolongan

Hakim-Hakim dapat digolongkan kepada dua
kelompok besar yaitu:
Hakim besar dan Hakim kecil. Pembagian ini
didasarkan kepada:
Hakim besar, mereka yang membebaskan
bangsa Israel dari penindasan musuh dan
tulisan tentang riwayat mereka dijelaskan
dengan panjang lebar (Otniel, Ehud, Debora,
Gideon, Yefta, Simson)
   Hakim kecil, mereka
dijelaskan secara singkat
 saja (Samgar, Tola, Jair,
   Ebzan, Elon, Abdon)
   b. Panggilan seorang Hakim
Berdasarkan panggilan terhadap para Hakim,
kita dapat membedakannya ke dalam tiga
kelompok
1.Hakim-Hakim yang dipanggil oleh Tuhan
Kebanyakan dari para Hakim adalah orang-
orang yang dipanggil oleh Tuhan secara
langsung. Tuhan menangkap mereka,,
memperbaharui dan memperlengkapi
(Gideon, 6:11-23, 34)
2. Hakim yang dipilih oleh Masyarakat
   Ada Hakim yang secara langsung dipilih oleh
   tua-tua bangsa Israel seperti halnya Yefta,
   yang kemudian juga diperlengkapi oleh Tuhan
3.Hakim yang dipilih oleh diri sendiri
  Kelompok ini tidak dipanggil Tuhan ataupun
  dipilih oleh Masyarakat seperti halnya Tola
  dan Yair, yang bergerak secara spontan untuk
  menolong bangsa Israel.
Pokok –pokok penting
 dalam kitab Hakim-
       Hakim
   1. Kemurtadan bangsa Israel

Suatu pokok yang dominan dalam kitab Hakim-Hakim ialah
kegagalan bangsa Israel. Mereka tidak setia terhadap perjanjian
Allah pertama sekali ketika mereka memasuki tanah Kanaan. Allah
telah berjanji akan bersama dengan mereka dan akan memberikan
kemenangan selama mereka tetap setia dan taat kepada perintah-
Nya (Ul.7:1-5,17-26; 20:16-18). Israel diperintahkan oleh Musa
untuk mengahancurkan kebiasaan-kebiasaan orang Kanaan, yang
dapat menyesatkan mereka kepada penyembahan terhadap ilah-
ilah asing. Mereka tidak boleh membuat atau mengikta perjanjian
dengan bangsa Kanaan dan kawin mengawin dengan mereka.
Seperti halnya Musa, Yosuapun memperingatkan bangsa Israel agar
tidak duduk bersama dengan orang-orang Kanaan, sehingga
menjadi jerat bagi mereka (Yos. 23:12, 13).
Setelah masa kepemimpinan Yosua, setiap suku
bertanggung jawab untuk menduduki wilayahnya
masnig-masing dengan mengusir sisa-sisa orang
Kanaan (13:1; 18:3; band. Hak. 1). Sesudah
kematian Yosua merupakan waktu yang tepat
bagi bangsa Israel untuk menyelesaikan tugasnya
untuk menjadi suatu bangsa yang besar dimana
Yahweh memerintah sebagai raja bagi mereka
Pendudukan Tanah Kanaan membuat perubahan yang sangat besar dalam
kehidupan bangsa Israel. Dari suatu eksistensi dengan pola hidup
seminomadic (pola hidup yang berpindah-pindah) yang setiap hari
dicukupi dengan pemberian manna oleh Allah (5:12), umat itu sekarang
membutuhkan gandum dan ternak dan pengembangan ekonomi agraria.
Untuk mengerjakan hal itu dibutuhkan suatu pelajaran yang cermat
tentang waktu yang tepat, kapan harus menyemai, menabur dan menuai.
Pelajaran-pelajaran atau peraturan-peraturan mengenai hal tersebut
secara lebih jelas justru dapat mereka pelajari pada orang-orang Kanaan.
Bagaimanapun, bangsa Kanaan, memiliki kecakapan didalam masalah-
masalah pertanian. Tetapi bagi bangsa Kanaan, agricultural memiliki
hubungan yang sangat dekat dengan ritual-ritual dan praktek-praktek
agama mereka. Ilah-ilah Kanaan dipersonifikasikan dengan kekuatan alam.
Mereka melakukan ritual dengan memakai pelacuran bakti. Tindakan-
tindakan itu menjadi sesuatu yang esensial untuk menjamin kesuburan
gandum dan ternak-ternak yang mereka pelihara. Sebagai imbalannya,
maka ilah-ilah akan memberikan jaminan hujan dan masa panen yang
baik.
Pada sisi yang lain, prolog kitab Hakim-Hakim
menjelaskan bahwa bangsa Israel tidak menyelesaikan
tugas pendudukannya atas negeri Kanaan dengan
tuntas. (1:21-36), mereka tidak mentaati perintah Allah
(2:2), mereka mulai beribadah kepada ilah-ilah Kanaan
(2:1-13, 19) dan mereka mulai mengadakan
perkawinan campur dengan bangsa Kanaan (3:6).
Ketidak taatan bangsa ini disimpulkan dalam statement
Yahweh secara eksplisit bahwa, “bangsa ini telah
melanggar perjanjian-Ku” (2:20). Kalimat-kalimat yang
hampir senada diulangi secara terus menerus melalui
kitab ini.
Sesudah masa Gideon, narrator berkata, “kembalilah bangsa Israel berjalan serong dengan
mengikuti para Baal dan membuat Baal-Berit menjadi Allah mereka, dan tidak mengingat Yahweh,
Allah mereka yang telah melepaskan mereka dari tangan musuh yang ada di sekeliling mereka”
(8:33-34). Sejarah setiap hakim diperkenalkan melalui berbagai variasi phrase,”Bangsa Israel
melakukan apa yang jahat di mata Allah” (3:7, Otniel; 3:12, Ehud; 4:1, Debora; 6:1, Gideon; 10:6,
Yefta; 13:1, Simson). Mazmur 106:34-36 menyimpulkan masa para Hakim-Hakim dengan berkata

”Mereka tidak memunahkan bangsa
Bangsa,
Seperti yang diperintahkan Tuhan
Kepada mereka,
Tetapi mereka bercampur baur dengan
Bangsa-bangsa,
Dan belajar cara-cara mereka bekerja.
Mereka beribadah kepada berhala-berhala mereka
Yang menjadi perangkap bagi mereka”
               2. Kessetiaan Allah
Bertolak belakang dari gambaran yang jelas tentang penyimpangan
terhadap janji dan perintah Allah yang dilakukan oleh bangsa Israel, kitab
hakim-hakim juga menekankan kesetian Allah terhadap perjanjianNya.
Ketika malaikat Allah berbicara kepada bangsaIsrael di Bokim (2:1-5), dia
mengingatkan mereka bahwa Yahweh yang telah bebaskan mereka dari
Mesir dan yang telah menuntun mereka ke tanah perjanjian. Dia juga
menngingatkan mereka bahwa Ia tida akan pernah mengingkari janji-Nya
dengan mereka” (2:1).
      Ketika Israel menyimpang dari jalan Allah, Ia mendeklarasikan bahwa
ia tidak akan menghalau bangsa-bangsa itu dari hadapan mereka”(2:22),
tetapi tidak berarti bahwa Allah akan perjanjian-Nya dengan mereka.
Sebaliknya justru menunjukan kemurahan hati Allah. Sebagai akibat
penyimpangan bangsa Issrael terhadap janji-janji Allah, mereka diserahkan
ketangan musuh-musuh mereka, ini juga bukanberarti pelangaran janji
dari pihak Allah, tetapi lebih dari pada itu sebagai tindakan pendisiplinan
yang didisain untuk membawa bangsa Israel kepada pertobatan dan
memperbaharui ketaan mereka kepada Allah.
Para penafsir sering memberikan kesan bahwa siklus yang digariskan
dalam dua bagian prolog tentang ganjaran, pertobatan dan penyelamatan.
Bagaimanapun jika kita lihat dengan seksama akan menyatakan bahwa
disini tidak referensi terhadap pertobatan. Ganjaran akibat pelanggaran
mereka dijelaskan (ay.14-15, “Dia menjual mereka ke tangan musuh-
musuh mereka”.... mereka dalam tekanan yang berat...”), tetapi kemudian
ini diikuti, “kemudian Allah membangkitkan seorang Hakim, yang akan
menyelamatkan mereka dari tangan musuh-musuh mereka “ (16). Disini
tidak ada referensi yang menjelaskan pertobatan di antara penjelasan-
penjelasan tentang penghukuman dengan penjelasan-penjelasan
penyelamatan. Ketika seseorang kembali kepada cerita-cerita para Hakim,
itu memang nampak seperti kalimat pertobatan. Elemen-elemen dalam
siklus itu memang secara jujur mengatakan bahwa Israel berteriak kepada
Allah” dalam kesesakan mereka (3:9, pada masa Otniel, 3:15, pada masa
Ehud, 4:3, pada masa Debora, 6:6, 7, pada masa Gideon, 10:10, pada masa
Yepta)
Konklusi ini berakhir pada suatu asumsi bahwa
“berteriak atau berseru” (z’ q) yang dianggap
mengimplikasikan tentang pertobatan.
Bagaimanapun asumsi ini cukup penting. Suatu
studi tentang kata z’q memang dapat berarti,
“teriakan memohon pertolongan keluar dari
tekanan yang berat”. Dalam beberapa contoh,
berteriak dapat dihubungkan dengan pertobatan
(lihat Hak.10:10; I Sam.12:10), tetapi tentu ini
adalah dalam kasus tertentu, pertobatan itu tidak
inherent dengan istilah z’q
Ketika Allah membangkitkan seorang pembebas
(Hakim), bukanlah sebagai responnya terhadap
pertobatan bangsa Israel (jika memang bangsa itu
bertobat), tetapi keselamatan yang dikerjakan oleh
Allah ini lebih kepada penunjukkan kepada kesetiaan
Allah terhadap perjanjian-Nya. Dengan berulang kali
Allah bertindak di dalam kasih dan kemurahan-Nya
terhadap umat-Nya sebagai akibat penghukuman yang
diberikan karena pelanggaran mereka. Dari kitab
Hakim-Hakim jelas, bahwa pembebasan Allah tidak
terbatas (6:7-10; 10:11-14). Fakta ini nampak baik pada
penjajahan maupun pada masa damai yang diberikan
oleh Allah sebagai panggilan untuk bertobat.
Anugerah-Nya terhadap umat-Nya tidak berkesudahan. Dia tidak pernah
mengusir mereka dari tanah perjanjian dan tidak pernah menghancurkan
mereka, sebab dia tidak dapat mengingkari keadilan-Nya, tetapi pada sisi
yang lain dia secara terus menerus memangil bangsa itu kepada
pertobatan. Ini merupakan tindakan Allah yang konsisten sepanjang
Perjanjian Lama terhadap umat-Nya. Penulis kitab Raja-raja mencatat,
“Lalu Emgkau menyerahkan mereka ke tangan lawan-lawan mereka, yang
menyesakkan mereka, dan pada waktu kesusahan mereka berteriak
kepada-Mu, lalu Engkau mendengar dari langit dan karena kasih sayang-
Mu yang besar Kau berikan kepada mereka orang-orang yang
menyelamatkan mereka dari tangan musuh-musuh mereka. Tetapi begitu
mereka mendapat keamanan, kembali mereka berbuat jahat dihadapan-
Mu. Dan Engkau menyerahkan mereka ke tangan musuh-musuh mereka
yang menguasai mereka. Kembali mereka berteriak kepada-Mu dan
Engkau mendengar dari langit. Lalu menolong mereka berulang kali,
karena kasih sayang-Mu” (Neh.9:27-28)
Lebih lanjut Pemazmur berkata, “Banyak kali
dilepaskan-Nya mereka, tetapi mereka
bersikap memberontak dengan rencana-
rencana mereka, tenggelam dalam kesalahan
mereka. Namun Ia menilik kesusahan mereka
ketika Ia mendengar teriak mereka. Ia ingat
kepada Perjanjian-Nya karena mereka, dan
menyesal karena kasih setia-Nya yang besar”
(106:43-45)
      3. Kerajaan dan perjanjian
Kitab Hakim-Hakim secara konsisten menggambarkan Yahweh
sebagai Allah yang berdaulat atas Israel. Dia yang memberikan
tanah Kanaan ke tangan orang-orang Israel (1:2-4) dan juga yang
menyerahkan Israel ke tangan musuh-musuhnya, ketika Israel
merusak perjanjian (2:20). Dia yang mengijinkan Kanaan tetap
tinggal di tanah Kanaan dengan maksud menguji orang-orang Israel
(3:1). Dia juga yang memberikan musuh-musuh Israel ke tangan
mereka (seperti halnya raja Aram kepada Otniel, 3:10; Moab
kepada Ehud, 3:28; Jabin dan Sisera kepada Debora dan Barak; 4:7,
9, 14, 15, 23, orang-orang Median kepada Gideon; 6:7; 7:2, 9, 15,
22, orang Amon kepada Yepta, 11:32), Dia juga yang
“membangkitkan seorang Hkim” (2:16) dan yang menguasai
mereka dengan kuasa Roh-Nya untuk membebaskan umat-Nya
(Otniel, 3:10; Gideon, 6:34; Yepta, 11:29; Simon, 13:25; 14:6, 19;
15:14)
Tetapi ketika Allah membangkitkan seorang Hakim untuk
memimpin dan menyelamatkan bangsa Israel, Dia tidak
menyerahkan supramasi-Nya sebagai Hakim Agung
(band.Kej,18:25), sebagaimana penghargaan yang diberikan oleh
Yepta ketika ia berkata, “Tuhan, Hakim itu, Dialah yang menjadi
Hakim pada hari antara orang Israel dan bani Amon” (11:27)
   Dan ketika pada suatu tingkatan Hakim-Hakim memimpin
bangsa Israel dalam peperangan melawan musuh-musuh mereka,
tetapi pada tingkatan yang lain (level) Yahweh nampak dalam kitab
sebelumnya dalam kitab Yosua sebagai “Pahlawan Ilahi” yang
memimpin umat-umat-Nya berperang dan memberi kemenangan.
Ketika Debora, Barak dan Yael mengalahkan Jabin dan Sisera,
mereka berkata bahwa, “Tuhan mengacaukan Sisera” (4:15) dan,
“pada hari itu Tuhan menundukkan Yabin” (4:23).
Catatan tentang kemenangan yang ditulis dalam
bentuk Puisi mengatakan, “dari langit berperang
bintang-bintang, dari peredarannya mereka
memerangi Sisera” (5:20), Suatu ungkapan yang
menjelaskan bahwa Israel berperang dengan tangan
Allah. Dalam laporan atau catatan puisi yang sama,
Meroz (suatu kota di Naftali) dikutuk karena
penduduknya tidak datang memohon pertolongan
(suatu kota di Naftali) dikutuk karena penduduknya
tidak datang memohon pertolongan kepada Tuhan,
pertolongan Tuhan untuk memerangi musuh-musuh
mereka” yaitu melawan Yabin dan Sisera (5:23).
Kepada Gideon Yahweh mengatakan, bahwa
“dengan tiga ratus tentara Israel yang menghirup
air dengan membawanya kemulutnya, akan
kuselamatkan kamu, dan memberikan orang-
orang Median ke tanganmu” (7:7). Ketika Gideon
dan tentaranya mendekati kemah orang-orang
Median, maka “Tuhan membuat pedang yang
seorang diarahkan kepada yang lain” (15:18).
Dalam kitab Hakim-Hakim, Tuhan adalah “Tentara
Ilahai” yang memberikan kepada umat-Nya
kemenangan atas musuh-musuh-Nya.
Dalam kitab Hakim-Hakim kedaulatan Allah yang absolut
nampak dalam konsep tentang kekuasaan Allah sebagai
Hakim yang tertinggi, “Pahlawan Ilahi” dan Raja.
Kedaulatan Tuhan bukan hanya atas umat-Nya dan
tindakan-tindakan atas mereka, tetapi juga atas alam
semesta (4:7; 5:4, 5, 20, 21) dan atas bangsa-bangsa di
sekitar mereka (7:23). Pengakuan atas hal ini nampak
dalam respon Gideon bahwa ia adalah Hakim atas Israel,
Gideon memberikan respon, “Aku tidak akan memerintah
kamu, juga anak-anakku tidak akan memerintah kamu,
Tuhan akan memerintah kamu” (8:23). Pernyataan ini
merupakan inti berita kitab ini dan merupakan penegasan
sentral tentang Perjanjian dengan Tuhan: Tuhan adalah Raja
Ilahi, penguasa dan pembebas atas Israel
Dalam arah penekanan terhadap kedaulatan Allah, penulis
kitab ini (yang dengan jelas hidup dalam periode Raja-Raja,
barangkali hidup sebelum penguasaan Daud atas
Yerusalem, (1:21) juga mengakui bahwa
kemundurankerohanian dan moral yang terjadi pada masa
Hakim-Hakim disebut sebagai modifikasi tentang struktur
Teokrasi. Kerajaan yang ingin dibangun (Monarki) justru
membawa kekacauan. Pernyataan ini secara berulangkali
nampak dalam kalimat yang diulang-ulang,’pada zaman itu
tidak ada raja diantara orang Israel, setiap orang berbuat
apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (17:6;
18:1; 19:1). Penulis membuat kesimpulan tentang ide ini
pada pernyataannya pada akhir kitab ini (21:25).
Pandangan tentang absennya seorang raja manusia di
Israel sebagai penyebab terjadinya kekacauan dalam
hidup bangssa Israel tidaklah dapat diterima. Kalimat
kunci yang dicatat di atas tidak ditafsirkan seperti itu.
Kitab Hakim-Hakim tidak pernah bermaksud untuk
menjelaskan bahwa Allah anti monarkhi. Para penafsir
membangun landasan pada pasal 8-9 (penolakkan
Gideon sebagai Raja atas Israel pada satu sisi,dan
penegasannya yang positif terhadap kerajaan Yahweh
pada isi yang lain, 8:22-23), hal ini dikombinasikan
dengan permohonan laporan yang mendatangkan
malapetka tentang kerajaan Abimelekh dalam pasal 9.
Banyak penafsir yang menyakini bahwa
kecenderungan tyang mereka temukan di antara
pandangan yang positif tentang kerajaan dalam
pasal 17-21 dan dugaan yang bersifat negatif
terhadap kerajaan dalam pandangan yang
mereka temukan pada pasal 8-9, sehingga sikap
yang bertentang itu dapat dijelaskan hanya
melalui suau asumsi yang berbeda lapisan yang
berbeda pada teks. Sebagai solusi secara singkat,
penafsir yang lain memberikan argumentasi
bahwa pernyataan dalam pasal 17-21, adalah
sesuatu yang harus dipahami secara positif.
Banyak penafsir yang merupakan pokok penting
ini dalam perdebatan. Pasal 8-9 bukanlah secara
mendasar menolak kerajaan manusia, dan pasal
17-21, juga bukan memberikan kesan bahwa i
dalam kerajaan manusia itu sendiri terdapat
solusi dair persoalan Bangsa Israel. Pasal 8:22-23
tidak mengatakan, bahwa kerajaan manusia itu
salah, tetapi secara lebih tegas ingin mengatakan
pentingnya mengakui kerajaan Allah.
Dalam konteks ini ada penolakan terhadap kerajaan Yahweh yang
mempersembahkan atau memberikan kerajaan manusia kepada
Gideon yang dikombinasikan dengasn respon Gideon sebagaimana
yang dikatakannnya. Orang-orang Israel berkata, memerintahlah
atas kami, sebab engakulah yang menyelamatkan kami dari tangan
orang Median” (8:22). Pengakuan yang salah terhadap siapa yang
bertanggungjawab atas kemenangan bangsa Israel melawan orang
Median secara langsung bertentangan baik kepada panggilan
Gideon dalam peperangan sebelumnya ketika itu ia berkata, “Tuhan
telah menyerahkan perkemahan orang Median ke dalam
tanganmu” (7:15), seperti pernyataan Tuhan bahwa Israel tidak
perlu takut, “sebab Tuhan sendiri akan menyelamatkan mereka”
(7:2).
Dalam konteks ini, tidak ada yang lebih penting untuk dilakukan
oleh Gideon sehingga ia menolak proposal dari bangsa Israel dan
pada saat yang sama menegaskan bahwa tidak ada yang lebih
penting dari pada mengakui pemerintahan Tuhan atas umat-Nya.
Tuhan adalah pembebas Israel, dan Israel tidak boleh melupakan
hal ini. Kasus Abimelek anak Gideon yang kemudian menjadi raja
atas bangsa Israel (mengangkat diri sendiri), justru merupakan
sumber malapetaka bagi bangsa Israel. Hal ini memberikan evaluasi
bahwa ketika kerajaan itu didasarkan atas kejahatan dan ketidak
adilan maka kerajaan itu akan menjadi penyebab kehancuran bagi
bangsa itu. Apa yang dilakukan oleh Abimelek ini juga menjadi
model kerajaan yang ditemukan pada pemerintahan bangasa
Kanaan pada zaman itu.
Suatu evaluasi yang lebih jauh (kebelakang),
bukanlah ketika bangsa Israel belum memasuki
tanah Kanaan (ketika berada di dataran Moab)
Allah sendiri telah menetapkan peraturan-
peraturan bagi seorang Hakim dan seorang Raja
yang kelak akan memimpin bangsa Israel (Ul.17).
hal ini ingin menjelaskan bahwa dalam
kemahatahuan-Nya Tuhan sendiri telah memiliki
suatu perencanaan untuk mendirikan Kerajaan
bagi bangsa Israel. Tetapi tentulah Kerajaan
monarkhi yang tidak meniadakan Pemerintahan-
Nya ata bangsa Israel.
Pada sisi yang lain (kedelapan), bukanlah Raja-
Raja yang memerintah Bangsa Israel (Saul,
Daud, dan Salomo), gagal, ketika mereka
memerintah diluar apa yang Tuhan sudah
tentukan. Kerajaan mereka akan kokoh, jika
mereka tetap taat terhadap kepemimpinan
Allah atas mereka (bandingkan pengalaman
Saul, Daud, dan Salomo
              1. Jabatan Hakim

• Jabatan Hakim merupakan figure sentral dalam seluruh
  kitab Hakim-Hakim. Jabatan ini bukanlah jabatan hakim
  yang dipahami secara umum, tetapi lebih kepada
  seorang pemimpin militer yang dipakai oleh Allah
  untuk membebaskan bangsa Israel dari penjajahan
  bangsa kafir. Kriteria-kriteria seorang hakim tidak
  ditentukan oleh kriteria-kriteria tertentu seperti
  seorang Nabi maupun Imam yang merupakan warisan
  dari nenek moyangnya. Jabatan ini dapat bersifat
  insidentil, sesuai dengan kebutuhan. Seorang Hakim
  tidak memiliki masa jabatan yang tetap.
                 2.Roh Allah
Roh Allah dalam kitab Hakim-Hakim merupakan
perlengkapan yang diberikan oleh Allah kepada seorang
Hakim dalam melaksanakan tugasnya. Hakim-Hakim yang
diangkat oleh Allah untuk menyelamatkan bangsa Israel
dari penjajahan bangsa asing adalah orang yang memiliki
kemampuan, kekuatan dan keberanian yang luar biasa.
Dalam Kitab ini dicatat, “Roh Tuhan menghinggapi”,...
atau,... “berkuasalah Roh Tuhan atasnya” (Otniel, 3:10
Gideon, 3:34, Simson, 13:25, 14:6,19, 15:14). Dalam
Perjanjian Lama kehadiran Roh Allah diberikan kepada
orang-orang tertentu dalam waktu-waktu tertentu untuk
tujuan-tujuan tertentu (band.Bill.27:18; Bil.11:17; I
Sam.10:6-10)
KITAB RUT
• Pendahuluan
  Kitab Rut merupakan suatu mutiara yang sangat
  berharga dalam perjanjian lama. Kitab Rut adalah
  mutiara yang terdapat di tengah- tengah semak belukar
  ( di tengah – tengah pemberontakan , kemerosotan
  moral, penyembahan ilah –ilah yang merupakan
  pemandangan yang lumrah pada saat itu.). Di tengah-
  tengah masa yang gelap dan penuh kemerosotal moral
  , terdapat mutiara yaitu Rut. Rut adalah sosok wanita
  yang sempurna ( 3:11), yang menunjukan kesetiaan
  dan cinta dan cinta kepada mertua yang terlebih
  kepada Allah Israel.
Kitab Rut dapat dibagi ke dalam dua tema
yaitu:
a. cinta yang ditunjukan ( ps 1-2 )
b. pahala atau akibat dari cinta yang di
    berikan (ps 3-4 ).
   1.Cinta yang ditunjukan (1-3)

Cerita Rut dimulai dengan kelaparan yang terjadi di
Israel, sebagai suatu tanda dan akibat dari
ketidaktaatan dan pemberontakan kepada Allah ( bd Ul
28-30). Seorang Israel yang bernama Elimelekh (
Allahku adalah Raja ), berangkat dari Betlehem ( rumah
roti ) suatu ironi dari arti kata jika di bandingkan
dengan situasi yang terjadi ) yang mencoba mencari
hidup ke negeri Asing ( Moab) , tetapi justru hanya
menemukan kematian bersama denga dua orang
anaknya ( Mahlon ( artinya “sakit” ) dan Kylon ( artinya
“merana” ).
Kedua anaknya meninggalkan dua orang wanita ( menjadi
janda ) Moab yaitu Orpha dan Rut. Naomi mendengar
bahwa kelaparan di Israel telah berakhir dan ia bermaksud
untuk kembali ke nenek moyangnya. Ia ( Naomi ) kembali
bukan sebagai Naomi tetapi sebagai Mara ( suatu refleksi
sikap iman terhadap kondisi yang dialaminya). Ia meminta
kepada kedua menantunya untuk tetap tinggal di Moab,
kerena bagi mereka yang berstatus janda tidak aman pada
waktu itu untuk tinggal di Israel. Orpa memilih untuk
meninggalkan Naomi, tetapi Rut berketetapan untuk
mengikuti Naomi dan mengikuti Yahweh , Allah Israel. Rut
meninggalkan bangsanya, budaya dan bahasanya karena
kecintaannya terhadap Naomi.
Kemalangan yang dialami oleh Naomi membuat dia
berfikir bahwa Allah telah menjadi musuhnya,dan ia
tidak mengetahui rencana Allah bagi hidupnya. Dalam
keadaan yang buruk ia membiarkan Rut melakukan
suatu pekerjaan yang hina dan berbahaya sebagai
sebagai pemungut sisa –sisa jelai di pertanian orang
Israel.Tetapi pemeliharaan Allah menuntun untuk
bertemu dengan seorang yang bernama Boas, yang
masih merupakan kerabat dan penebus ( Go’el ) bagi
Naomi.alam cerita ini nampaklah apa yang
dikatakanakan firman Tuhan, “ Allah adalah Bapa bagi
anak yatim dan pelindung bagi para janda” ( Maz 68:6
).
      2.Pahala - akibat cinta yang di
            tunjukannya(3-4)
• Pahala / akibat cinta yang di tunjukannya ( 3-4 )
  Rut mengetahui bahwa Boas adalah keluarga Naomi
  ,sehingga Naomi menyuruh Rut untuk pergi kepada
  Boas, tindakan Rut ini merupakan suatu permohonan
  kepada Boaz, dan supaya ia menghormati Mahlon
  yang telah mati dan menghormati firman Allah ( Bd Ul
  25:5-6 ). Boaz mengerti maksud Rut yang memint
  perlindungan atau minta ditebus ( 3:10-13). Boaz telah
  jatuh cinta kepada Rut dan menghargai keinginan Rut ,
  tetapi masih ada orang lain yang lebih berhak menjadi
  penebus bagi Rut, sehingga ia memberikan
  kesempatan bagi orang yang bersangkutan.
Dalam pemeliharaan dan rencana Allah, Boaz
pada akhirnya memiliki hak sebagai penebus bagi
Rut.Kerabat dekat yang tidak di sebutkan
namanya hanya bersedia menjadi penebus bagi
tanah Elimelek, tetapi tidak mau memperistri
perempuan Moab itu dan menyerahkan haknya
kepada Boaz. Pernikahan Rut dengan Boaz
menjadi puncak atau mahkota dalam cerita ini.
A. Nama
  Nama kitab sama dengan nama tokoh utama
  didalam cerita yang terdapat dalam kitab ini. Rut
  yang berarti “ persahabatan” nama yang tidak
  dikenal di tempat lain dalam perjanjian lama. Ia
  adalah perempuan asing yang menjadi salah satu
  wanita dalam perjanjian lama. Ia adalah
  perempuan asing yang menjadi salah satu wanita
  dalam garis silsilah bagi kelahiran juru selamat (
  Yesus Kristussss, Matius 1).
B. Penulis dan tanggal
   Penulis kitab ini tidak dikenal. Ajaran Talmud ( tradisi Yahudi ) menyebut
   Samuel sebagai penulis kitab ini. Tetapi hal itu tidaklah mungkin karena
   Samuel telah mati sebelum penobatan Salomo ( I Sam 25:1 ), dan
   kemungkinan kitab Rut ditulis selama pemerintahan Daud yang dapat
   dilihat dalam beberapa petunjuk antara lain:
• Pada zaman para hakim ( 1:1 ), menunjukan bahwa kitab ini ditulis
• Penulis menceritakan kebiasaan kuno yang tidak berlaku di Israel ( 4:7)
• Silsilah dalam kitab Rut hanya berhenti pada Daud ( 4:17-22 )
         Rut 4:18-22 memberikan silsilah dari Perez ke Boaz sampai kepada
   Daud.Jika kitab ini di tulis sesudah pemerintahan Daud, maka
   kemungkinannya adalah pada Salomo. Daud memerintah dari tahun 1011-
   971 B.C ( Samuel hidup sekitar tahun 1150 sampai dengan 1015 B.C
   sampai dengan tahun 1015 B.C.
C. Tujuan
   Kitab Rut menyediakan suatu keindahan tentang pemeliharaan
   Allah melalui kedaulatan yang tidak dapat dipikirkan manusia.
   Dalam kitab ini sangat nyata intervensi Allah yang mengendalikan
   kejadian – kejadian seperti yang terdapat dalam 2:12, 20, 3:10,13;
   4:14. Jika dalam kitab Hakim- hakim digambarkan dua ilustrasi
   tentang kemerosotan selama zaman para Hakim, maka didalam
   kitab Rut disediakan suatu ilustrasi tentang kebaikan dan kesetiaan.
   Kitab Rut menggambarkan iman dan ketaatan yang hidup ( 1:16-17;
   3:10 ) yang memimpin kepada berkat Allah 4:13,17.
         Rut juga mengajarkan bahwa orang kafir dapat percaya kepada
   Allah yang sesungguhnya ( tiga dari empat wanita dalam silsilah
   Yesus adalah orang kafir yaitu: Tamar, Rahab, dan Rut ). Kitab Rut
   menjelaskan bagaimana seorang kafir dapat menjadi angota dalam
   garis keturunan Daud ( 4:18-22).
D.Tema
  Tema kitab ini adalah penebusan, secara
  khusu hal itu dihubungkan dalam “ kerabat
  penebus” ( Go’el ). Tema ini ingin menunjukan
  kekuasaan dan kedaulatan Allah memelihara
  umat-Nya ( 2:12 ). Kitab ini juga menekankan
  pahala atau upah bagi orang – orang yang
  setia kepada Allah.
E. Kontribusi kepada Alkitab
• Sastra , Kitab Rut adalah kitab yang pendek tetapi memiliki
   makna yang sangat dalam. Kitab ini merupakan salah satu
   contoh sastra yang terbaik tentang cinta dan kesalehan.
• Sejarah, Kitab Rut menjadi jembatan antara Hakim – Hakim
   dengan Monarchi ( kata terkhir adalah “Daud” ). Kitab ini
   adalah gambaran keetiaan di tengah –tengah
   ketidaksetiaan.
• Doktrin, Kitab Rut mengajarkan bahwa orang- orang kafir
   tidak berada diluar jangkauan keselamatan.
• Moral, Kitab Rut menceritakan cita-cita yang tinggi tentang
   integritas dalam hubungan , persahabatan dan perkawinan.
    Kitab Rut adalah satu dari dua kitab yang diberi nama
    perempuan:
    Rut                                             Ester
•   Seorang wanita kafir              * Seorang wanita Yahudi
•   Tinggal diantara orang Yahudi * tinggal di antara orang
    kafir
•   Menikah dengan seorang Yahudi * Menikah dengan
    seorang kafir yg
    Dari keturunan Daud                        memerintah dlm
    suatu kerajaan
•   Suatu cerita ttg iaman dan berkat        * suatu cerita ttg
    iaman dan berkat
  Kitab Rut bertentangan dengan kitab Hakim –
  Hakim dalam berbagai hal:
Rut                               Hakim- Hakim
• Kesalehan,kebenaran,kesetiaan - kemerosotan
  moral
• Mengikuti Allah yg benar    - menyembah ilah
  asing
• Ibadah                      - kemunduran,
  ketidaksetiaan
• Cinta                       - Hawa nafsu
F. Kristus dalam kitab Rut
        Konsep tentang “ kerabat penebus” ( go’el ) adalah
   suatu gambaran yang penting tentang pekerjaan Kristus.
   Go’el harus:
• Dihubungkan melalui darah kepada orang yang ditebus ( Ul
   25:5,7-10: Yoh 1:14; Roma 1:3; fil 2:5-8; ibr 2:14-15.
• Mampu membayar harga tebusan ( 2:1; I Pet 1:18-19)
• Mau menebus ( 3:11; Yoh 10:15;ibr 10:7
• Memiliki kebebsan terhadap diri sendiri ( Kristus adalah
   manusia sejati yang bebas dari kutuk dosa ). Kata Go’el
   dipakai 13 kali dalam kitab yang pendek dan hal itu suatu
   gambaran yang jelas tentang pekerjaan Kristus sebagai
   mediator antara Allah dan manusia.
G. Isue dalam kitab Rut, apakah Alkitab
   memberikan tempat pada perkawinan
   campur.
G.Pokok- pokok penting dalam Kitab Rut
• Kedaulatan Allah dan keteguhan hati
• Jangkauan keselamatan Allah bagi semua
  bangsa.
   Catatan:
                    KITAB I SAMUEL
    Pendahuluaan

         Kitab Samuel adalah kitab yang pertama dari ke enam buku,
    yang menceritakan tentang Raja-raja, atau kebangkitan dan
    kejatuhan kerajaan Israel.
•   Kitab I Samuel       - Kerajaan Saul (Naiknya dan keruntuhannya)
•   Kitab II Samuel      - Daud
•   Kitab I Raja-raja    - Salomo
•   Kitab II Raja-raja   - Raja-raja dari Iarael dan Yehuda dan sikapnya
    terhadap Nabi-nabi Allah
•   Kitab I Tawarikh     - Raja Salomo dan pembangunan Bait Allah
•   Kitab II Tawarikh    - Raja-raja dan Bait Allah
Kitab I dan II Samuel menceritakan suatu hikayat, yang
berturut-turut (berkesinambungan). Kisah ini dimulai
dengan kehidupan Samuel dan berakhir dengan
kehidupan Daud.
Kitab I dan II Samuel sebenarnya merupakan satu kitab.
Pembagiaan buku ini menjadi dua, mulai berlaku sejak
penterjemahan kedalam bahasa yunani (Septuaginta),
yang melakukan pada abad yang ke-3S.M. Kedua kitab
Samuel meliputi periode 150-160 tahun dalam sejarah
bangsa Israel.
                 1. Nama

Nama Samuel dipakai untuk kitab ini, oleh karena
Samuel merupakan tokoh yang lebih dikenal di
dalam kitab I Samuel. Samuel melaksanakan
masa peralihan dari theokrasi kepada monarkhi
di Israel. Ia mengurapi Raja-raja yang pertama di
Israel, yaitu : Saul, dan Daud. Orang-orang Israel
memandang Samuel sebagai seorang pemimpin
nasional, yang terbesar sesudah Musa.
2. Pengarang dan waktu penulisan

Meskipun nama Samuel diberi pada kitab ini, tidak
berarti bahwa Samuel adalah penulisnya. Samuel dapat
dianggap sebagai pengarang hanya untuk I Samuel 1-
24, sebabpasal 25 diberitahukan, bahwa Samuel telah
meninggal. Pasal-pasal berikutnya dianggap sebagai
pekerjaan nabi Gad dan Nathan atau juga seorang
bernama Abiathar, yang hidup bersama dengan raja
Daud, pada waktu Daud harus melarikan diri dari Saul.
Buku ini ditulis : ± 1000-950 BC.
       3. Latar belakang historis

Kitab-kitab Samuel menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi di
Israel selama 150 tahun. Titik tolaknya ada di dalam masa para
Hakim. Seorang yang bernama Eli, “menghakimi” Israel dari Silo.
Israel terus menerus diserang oleh orang Filistin. Mereka
menaklukan sebagiaan besar dari Israel dan menjaga, supaya orang
Israel jangan memilki senjata lagi, yaitu dengan melarang setiap
pandai besi. “orang Filistin menguasai segala sesuatu secara militer,
sehingga banyak peraturan-peraturan yang dibuat dan merupakan
beban yang sangat berat bagi rakyat”.
Eli, Samuel dan Raja Saul selalu berperang dengan orang Filistin,
tetapi baru pada masa Daud bangsa itu ditaklukan oleh orang Israel
sehingga mereka tidak menganggu orang Israel lagi.
        4.Tujuan kitab Samuel

           Kitab ini menjelaskan, apa yang perlu dan
cara apa yang (bagaimana) harus dipakai untuk
mendirikan suatu monarkhi, yang dituntut oleh Allah
dari bangsanya. Selain daripada itu dapat kita ketahui
perbuatan-perbuatan Allah terhadap Samuel terhadap
bangsa Israel sehingga dikabulkan permohonan mereka
akan seorang Raja . Kita juga bertemu dalam kitab ini
dengan kekudusan Allah, yang membawa Dia untuk
menghukum Raja-raja, apabila mereka tidak taat
kepada Allah.
Kitab I Samuel memiliki beberapa keunikan
yang tidak memiliki oleh kitab-kitab lain dalam
Perjanjian Lama:
1. Pemakai kata-kata “ichabod” yang berarti “kemuliaan Allah telah hilang
   atau dimana kemuliaan Allah?”
2. Catatan tentang sekolah Nabi, yang kemungkinan didirikan oleh Samuel
   (10:5; 19:18-24)
3. Kitab Perjanjian Lama yang memakai phrase “The Lord of hosts” atau “The
   Lord almaighty”, mucul 11 kali dalam I Samuel II Samuel, ex. 1:3. Istilah ini
   merupakan nama gelar Allah, dalam Perjanjian Lama itu dapat dipakai
   kepada: tentara perang (Kel.7:4; Mzm.44:9-10). Benda-benda penerang
   seperti Matahari, Bulan, bintang (Kej.2:1; Ul.4:19; Yes.40:26), makhluk
   sorgawi, seperti malaikat (Yos.5:14; I Raj.22:19; Mzm.148:2-3). Gelar “the
   lord of hosts” barang kali secra umum dapat dipahami sebagai suatu
   referensi yang menunjukan kepada kedaultan Allah atas seluruh
   kekuasaan diatas dunia ini. Dalam konteks ini “the lord of hosts” berbicara
   tentang Allah sebagai pahlawan atau tentara baik sebagai pahlawan di
   surge (Ul.33:2; Yos.5:14; Mzm.68:17-18; Hb.3:8) maupunsebagai tentara
   atau pahlawan bagi bangsa Israel (I Samuel.17:45).
4. Memberikan tempat yang penting terhadap Roh Kudus
   dan Doa.
5. Tidak seperti halnya kitan hakim-hakimyang secra
   eksplisit banyak mencatat tentang hukum taurat Musa,
   tetapi kitab ini tidak mencatatnya. Tetapi banyak
   bagian-bagian dan tindakan-tindakan yang sejajar
   dengan hukum taurat Musa seperti halnya, kurban-
   kurban, tabernakel, tabut Allah, Harun dan Lewi.
6. Dalam pasal yang mula-mula tentang Silosebagi tempat
   ibadah nasional yang penting dalam kehidupan bangsa
   Israel.
                 5.susunan

• Kedua kitab Samuel terdiri tiga bagian yang
  besar:
1. Kelahiran dan pelayanan Samuel (ps
                 1-8 )
 Samuel adalah seorang anak dari dua orang yang saleh,
 yakni Elkana dan Hana, pada suatu masa ditengah-tengah
 terjadinya keruntuhan moral dan agama di Israel, Elkana
 mengunjungi kemah suci di Silo tiap-tiap Tahun secra
 teratur, untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan
 (1:3).
      Lama Hana dalam keadaan mandul dan tidak ada anak.
 Karena doanya yang sungguh-sungguh, Tuhan memandang
 dia dalam dukacitanya dan Hanna melahirkan seorang anak
 dan dinamanya Samuel; artinya: “diminta dari Tuhan, dan
 didengarNya”. Untuk mengucapkan rasa terimakasihnya
 kepada Tuhan, Hanna mempersembahkan Samuel dibawa
 ke kemah suci dan kerumah Imam di Silo.
Keruntuhan moral dan agama juga Nampak pada
upacra keagamaan dalam Kemah Suci. Samuel harus
melayani Tuhan di Silo di samping anak-anak Eli, Hofni
dan Phineas, yang tidak lagi mengacuhkan undang-
undang Tuhan. Hofni dan Pinehas melakukan
perbuatan-perbuatan jahat di dalam Kemah Suci (2:17
dan 22) sebaliknya Samuel yang muda itu menjadi
seorang pelayan Tuhan yang baik (2:26). Walaupun
Samuel masih muda, Tuhan menyatakan diri kepada
dia. Samuel memperoleh satu peraturan penghakiman
atas rumah Eli dari Allah (3: 1). Bertepatang denga
peristiwa ini Samuel dipanggil oleh Tuhan sebagai Nabi
(3: 21).
Israel mencoba memerangi bangsa Filistin untuk membebaskan diri
dari penindasan. Terjadilah pertempuran di Afek, tetapi Israel
megalami kekalahan secarea total. Para tua-tua Israel bertanya, apa
sebabnya mereka menderita kekalahan ini. Akhirnya mereka
menarik kesimpulan bahwa tabut perjanjian harus diambil dari Silo
dandibawa serta berperang, untuk mengalahkan orang Filistin.
Ketika diketahui orang Filistin, bahwa tabut perjanjian ada di
tengah-tengah bangsa Israel, maka mereka takut terhadap “dewa
Israel” dan berperang mati-matian melawan orang Israel. Maka
terjadilah pertempuran kedua dengan kekalahan dipihak orang
Israel. 3000 orang Israel tewas, diantaranya juga Hofni dan Finehas
anak-anak Eli. Tabut perjanjian pun dirampas oleh orang Filistin
(Allah berperang bagi orang Filistin). Setelah berita itu disampaikan
kepada Eli, terkejut hingga rebahlah ia dari kursinya jatuh ke tanah
dan mati (pasal 4).
      Orang Filistin membawa tabut perjanjian ke kota-kota mereka. Lebih
dahulu Tabut tersebut ditaruh dalam rumah dagon (tempat berhala),
tetapi orang Filistin kena celaka karena kehadiran Tabut itu. Di Asdot Allah
membuktikan, bahwa ia lebih berkuasa dari pada dagon. Oleh karena itu
raja-raja Filistin memindahkan Tabut Allah le Gat dank e Ekron. Tetapi
Allah juga menghukum penduduk kota itu melalui penyakit (Allah
berperang bagi orang Filistin).
Menurut 3: 9-21, kepada Samuel telah dipercayakan jabatan Nabi Tuhan.
Dan Samuel mulai memberitahukan Firman Tuhan kepada bangsa Israel.
Setelah kematiaan Eli, Samuel menjadi Hakim di Israel selama 20 tahun.
Dan sejak itu Samuel bekerja sebagai Hakim dan Nabi ditengah-tengah
bagsa Israel. Melalui pelayanan Samuel di tengah-tengah situasi
penindasan orang filistin, bangsa Israel kembali kepada Tuhan.
Bangsa Israel mengalahkan bangsa Filistin dan merebut kembali kota-kota
yang diambil oleh Filistin mulai dari Ekron sampai ke Gat, Gilgal, dan
Mizpa.
A.Peristiwa-peristiwa yang menimbulkan
  peralihan dari system Teokrasi ke Monarkhi.
  Peristiwa-peristiwa yang menjadi penyebab
  masa peralihan dari Teokarasi kepada
  Monarkhi diceritakan dalam pasal 8. Peralihan
  itu datang atas permintaan bangsa Israel.
  Tuntan Israel dapat dibedakan atas tiga
  tuntutan:
1. Alasan Lahiriah

  Mereka telah melihat bahwa Samuel telah
  lanjut usia dan anak-anaknya melakukan
  perbuatan-perbuatan yang tidak bermoral
  sebagai Hakim di Israel. Sehingga bangsa Israel
  takut mereka tidak lagi memiliki seorang
  pemimpin.
2.Motif Yang Tidak Kelihatan

  Bangsa Israel ingin seperti bangsa-bangsa lain
  yang ada disekitar mereka yang memiliki
  seorang raja. Mereka berangapan bahwa
  bangsa-bangsa itu kuat oleh karena mereka
  memiliki seorang raja. Sehingga bangsa Israel
  menuntut seorang raja bagi mereka.
3.Motif Yang Tidak Kelihatan

  Bangsa Israel ingin seperti bangsa-bangsa lain
  yang ada disekitar mereka yang memiliki
  seorang raja. Mereka berangapan bahwa
  bangsa-bangsa itu kuat oleh karena mereka
  memiliki seorang raja. Sehingga bangsa Israel
  menuntut seorang raja bagi mereka.
B. Saul di angkat menjadi raja pertama
           di Israel (9:1-11:5)
1. Pengurapan Raja Saul Oleh Samuel
2. Pengurapan Oleh Roh Allah

        Untuk meneguhkan pengurapan dan untuk membuktikan
  bahwa hal itu berasal dari Tuhan, maka Samuel bernubuat. Tiga hal
  yang akan dialami Saul:
• Bertemu dengan dua orang dekat kuburan Rahel, yang
  memberitahukan bahwa keledai-keledai yang hilang telah
  ditemukan.
• Bertemu dengan tiga orang yang sedang pergi ke Betel untuk
  mepersembahkan kepada Tuhan. Mereka akan memberi 2 ketul
  roti.
• Bertemu dengan segolongan nabi di Gilgal yang sedang bernubuat,
  maka Roh Tuhan akan datang atas Saul, sehingga di juga turut
  bvernubuat (10:6).
3. Pangilan Bangsa Israel
   Samuel mengerahkan bangsa Israel di Mizpa.
   Di hadapan Tuhan mereka membuang undi
   untuk mendapatkan orang yang dipilih oleh
   Tuhan. Undi itu jatuh kepada suku Bnyamin,
   keluarga Saul dst,…
4. Pangilan di Mizpa (11:14)
        Penolakan terhad Saul (13-15)

     Sosok Saul sebagai seorang Raja adalah sosok yang ideal dan memiliki berbagai criteria antara lain:

1.   Saul memiliki keunggulan secra fisik (9:2)

2.Saul memiliki karakter yang baik :
• Tidak sombong (9:21, 10:22)
• Orang yang tabah (10:27)
• Bebudi luhur (11:13)
• Tangkas dan berani (11:6, 11)
• Orang yangmengasihi (16:21)

3.Diperlengkapi oleh Allah (10:6, 9, 10)

4.Memiliki bapa rohani dan sahabat rohani (10:26, 15:11, 35)
Dua peristiwa yang menyebabkan Saul
       ditinggalkan oleh Allah
 a.Ketika Saul bertindak menjadi seorang Imam (mempersembahkan
 kurban) tanpa menunggu kedatangan Samuel dalam peperangan melawan
 filistin tindakan saul ini merupakan pelanggaran terhadap perintah Allah.
 Samuel memberitahukan bahwa karena pelanggaran ini, kerajaan Saul
 tidak akan tetap.
 b.Saul tidak taat kepada perintah Tuhan ketika berperang melawan
 Amalek.
 Allah memerintahkan kepada Saul untuk mengalahkan bangsa Amalek
 secra tuntas. Bangsa Amalek harus ditumpas seluruhnya sebagai
 pengenapan dari janji Allah kepada bangsa Israel ketika bangsa Israel
 dalam perjalanan menuju tanah Perjanjian (Kel.17:8,14). Pada mulanya
 Saul memang taat terhadap firman Allah, sehingga ia dapat mengalahkan
 orang Amalek dari Hawila sampai ke Syur (15:7), tetapi Saul kemudian
 tidak mentaati firman Allah dengan membiarkan “Agag” (rajaAmalek)
 tetap hidup.
          Akibat dosa-dosa Saul, ia di tolak menjadi raja Israel
    (15:26, 28 bnd. 13:13-14). Hal ini bukan membuat Saul
    bertobat dan mencari Tuhan, sebaliknya:
•   Ia menutupi kesalahannya dengan kebohongan (15: 13)
•   Ia berdalih dengan alasan-alasan yang kelihatan “rohani”
    (15:21)serta menimpakan kesalahan kepada bangsa Israel.
•   Ia tidak lagi percaya kepada Tuhan (15:30)
•   Roh Tuhan undur dari Saul, sehingga Ia digangu oleh roh
    jahat (16:14)
      SAUL DAN SAMUEL(16:31)

Pelanggran Saul terhadap firman Allah menjadi akhir dari
pemerintahannya atas bangsa Israel dan di mulainya pemerintahan
Daud. Seperti halanya Saul, Daud diangkat menjadi raja melalui
pengurapan Samuel. Daud dipilih melalui suatu proses pemilihan
yang dilakukan Samuel atas perintah Allah. Kreteria-kreteria Daud
sebagai seorang raja agaknya “bertentangan” dengan kreteria-
kreteria Saul. Pilihan Allah atas Daud disimpulkan oleh melalui
kreteria Allah seperti yang tertulis dalam I Samuel 16:7. Pemilihan
Daud nampaknya menjadi suatu pola yang sering tampak dalam
Perjanjian Lama (tidak berdasarkan kreteria-kreteria sazamanya),
untuk menegaskan bahha keberhasilan para pemimpin terletak di
tanggan Allah.
Dengan cara Tuhan, Daud memasuki Istana
sebagai seorang musikus yang diurapi oleh Allah
untuk memberikan kesembuhan bagi penyakit
yang dialami Saul. Kemenagan-kemenangan yang
dialami oleh Daud (puncaknya ketika Daud
mengalahkan Golat) menimbulkan amarah dan iri
hati bagi Saul. Saul menyususn suatu strategi
dengan tujuan untuk menyingkirkan Daud.
Strategi itu antara lain, memberikan putrid-
putrinya sebagai Istri Daud dengan meminta mas
kawin seratus kulit khatanorang Filistin (tujuan:
agar Daud terbunuh).
Allah melindungi Daud berkat pertolongan
Yonathan anak Saul, yang menjadi sahabat
sejati Daud (18:3; 20:16, 42; 23:18). Daud
terpaksa melarikan diri untuk menyelamatkan
diri dari Saul. Daud memiliki beberapa
kesempatan untuk membalas kejahatan Saul
dengan muda membunuhnya (24:4, 5; 26: 6),
tetapi Daud menghormati Saul sebagai raja
yang diurapi oleh Allah.
         Saul semakin membeci Daud oleh Karena:
•   Bangsa Israel semakin menyanjung Daud (18:6-7)
•   Kemenangan demi kemenagan yang dialami oleh bangsa Israel
    dibawah kepemimpinan Daud (18:13, 14, 30).
•   Karena Daud akan dinobatkan menjadi Raja (18:8)
•   Setelah penolakan atas diri Saul, ia mengalami berbagai kekalahan
    dan keadaan yang sulit (28-29) yang semakin diperburuk oleh;
•   Serang dari bangsa Filistin yang menyerang tentara Saul (28:1; 29:1)
•   Situasi jiwanya yang tergoncang (mengalami suat depresi) dan
    penuh dengan ketakutan (28:5)
•   Keadaan rohaninya, diman ia tidak m,endapat respon dari Tuhan
    yang mengakibatkan ia putus asa.
Sikap penolakan Tuhan terhadap Saul (tidak
menjawab seruanya), membuat Saul
mengambil langkah untuk bertanya kepada
peramal tentang situasi yang dihadapinya.
Tindakan Saul ini semakin memperburuk situsi
Saul oleh karena jawaban yang diterimanya
juga adalah kekalahan tentaranya serta
kematiaan yangakan segera dialaminya.
KITAB II SAMUEL
       1.Kerajaan Daud ( II Sam 1-24)

A. Daud Menjadi Raja Atas Yehuda Dan Israel

    Pengurapan Samuel atas Daud tidak berar4ti bahwa Ia secar langsung menjadi raja atas seluruh
    bangsa Israel. Ia harus menunggu sampai Saul mati. Sesudah kematiaan Saul, Daud belum dapat
    menguasai seluruh wilayah bangsa Israel oleh karena pelariannya kenegri bangsa Filistin pada masa
    hidup Saul. Daud harus menumbuhkan kepercayaan bangsa Israel kepadanya. Suku Yehuda dapat
    mengerti dan memahami situasi Daud, sehingga ketika ia kembali ke Hebron, bangsa yehuda
    menerima dan mengangkatnya menjadi Raja.
             Factor lain yang menghambat kedudukan Daud menjadi Raja ialah keturunan Saul yang
    masih hidup yaoitu Isybosetdan menjadi raja atas Israel. Daud harus beeperang denga keturunan
    Saul. Pada akhirnya setelah kurang dari tujuh Tahun memerintah atas Yehuda, Daud dapat
    memerintah atas seluruh Israel.
•   Ia dipilih oleh Tuhan dan diurapai oleh Samuel.
•   Pengurapan sebagai Raja atas Yehuda (II Sam.2:4)
•   Pengurapan atas sepuluh suku oleh tua-tua Israel (II Samuel.5:1-3)
            2. Masa keemasan dalam
               pemerintahan Daud

         Masa pemerintahan Daud atas bangsa Israel ditandai dengan
   masa keemasan. Kerajaan Israel mengalami kemakmuran dan
   kekuatan dalam berbagai aspek kehidupana. Masa keemasan itu
   dipengaruhi oleh strategi-strategi yang dibangun oleh Daud antara
   lain:
a. Daud mendirikan satu Ibu kota bagi bangsa Israel, yaitu Yerusalem
   (kota Sion, kota bangsa Yebus yang direbut 5:6-9).
b. Daud menjadikan Yerusalem menjadi pusat ibadah bagi bangsa
   Israel. Ia memindahkan tabut Allah dari Kiryat Yearim ke
   Yerusalaem(II Sam.6:1-dst). Pemusatan ibadah bagi bangsa Israel
   menjadi lambing bagi kesatuaan seluruh suku-suku Israel yang
   terpecah di berbagai tempat. Pemusatan ibadah di Yerusalem juga
   menjadi tanda kekuatan rohani bangsa Israel.
c. Daud mengadakan rekonsilisasi dengan bangsa-bangsa yang ada di sekitarnya.
d. Daud berdamai dengan seluruh keturunan Saul. Meskipun sikap Daud ini tidak
   ditanggapi seluruh anggota keluarga Saul (keturunan Saul), tetapi sikap Daud tetap
   menghormati mereka. Daud memberikan tanda-tanda kehormatan kepada
   mereka, meskipun tidak mendapat respon dari mereka (II Sam.9:9). Sikap keturnan
   Saul yang tidak menerima sambutan Daud dan berusaha menghambat
   pemerintahan Daud. Pada akhirnya harus membuat Daud untuk membunuh
   mereka.
e. Daud membangusn satu Negara yang kuat dan teratur:
• Ia membangung system administrasi yang baik dengan melibatkan banyak orang-
   orang yang terpelajar (II Sam.8: 16-18)
• Ia membangun system pertahanan militer yang kuat (II Sam.8:18)
• Membangun system pengadilan yang bersih, ia sendiri menjadi hakim Agung (II
   Sam.15).
   3.Masa krisis dalam pemerintahan
                  Daud
  Masa Krisis Dalam Pemerintahan Daud

      Pemerintahan Daud atas bangsa Israel juga
   mengalami krisis, yang disebabkan:
a. Dosa Daud sendiri (perzinahan, II Sam.11:1-27;
   kesombongan, II Sam.24:1-dst)
b. Perselisihan Daud dengan anak-anaknya (dosa
   anak Daud dan poligsmi, 15:1)
I RAJA-RAJA dan II RAJA-RAJA
                    Nama


Seperti kitab I & II Samuel, kitab I & II Raja-Raja
pada mula nya hanya merupakan satu kitab.
Pembagian kitab ini menjadi dua kitab dimulai
pada saat proses penterjemahaannya kedalam
bahasa Yunani (Septuaginta) pada Abad ke tiga
SM. Dalam Septuaginta, kitab ini disebut sebagai
kitab ketiga dan keempat kerajaan-kerajaan
(Basileon trita kai taterta)
Penulis dan Tahun Penulisan

Menurut tradisi Yahudi, kitab ini ditulis oleh Yeremia.Alasan ini
didasarkan banyaknya bagian-bagian yang sama dalam kitab ini dengan
kitab Yeremia.
(IIRaj.24 : 18-5:30 dengan Yer. 52:1-8). Kemungkinan pengarang kitab
ini sejaman dengan Yeremia, yaitu seorang nabi yang sangat perduli
dengan keadaan bangsa Israel yang tidak mendengarkan perintah-
perintah Allah.
Pengarang yang tidak dikenal ini menuliskan peristiwa-peristiwa yang
terjadi jauh sebelum kelahirannya, sehingga ia memakai sumber atau
catatan-catatan yang ada.
Seperti kitab riwayat Salomo dalam I Raj. 11:41, kitab sejarah Raja-Raja
Israel I Raj.15:23 dan kitab sejarah Raja-Raja Yehuda I Raj. 14:29
Kitab ini kemungkinan merupakan Ikthisar dari kerajaan-
kerajaan secara umum yang kemungkinan telah ditulis oleh
para nabi.
Sebagai contoh, sejarah pemerintahan Uzia yang dibuat oleh
Yesaya (II Taw.26:22). Dengan demikian, kitab ini dianggap
sebagai bagian sejarah kenabian yang dituli sebagai ikhtisar.
Dibawah inspirasi ilahi, Penulis memakai sumber-sumber ini.
Kitab ini dimulai dengan permulaan pemerintahaan raja
Salomo dan berakhir dalam pembuangan ke Babel, dimulai
dengan pembangunan Bait Allah dan diakhiri dalam
penghancuran Bait Allah. Kitab ini mencakup periode 400
tahun dan kitab ini telah selesai ditulis pada tahun 561 BC.
                            Tujuan

Kitab Raja-Raja memiliki tujuan untuk meneruskan sejarah Teokrasi
sampai kepada Pembuangan di babel. Raja-Raja Yehuda memimpin
kerajaannya sesuai dengan janji yang diberikan kepada Daud (II Sam.7 : 12-
16), sementara kerajaan Israel (utara) dikutuk oleh karena mereka
mengikuti jejak Yerobeam. Kitab ini menekankan peranan otoritas Allah
dan Firman-Nya sebagai tolak ukur pemerintahan suatu kerajaan dan
raja-raja yang memerintah. Meskipun seorang raja terkenal secara politis
(seperti Ahab), namun hal tersebut bukanlah menjadi ukuran bagi
perjalanan atau kemakmuran suatu bangsa yang dipimpin. Dalam kitab ini
ukuran seorang raja selalu disebut dalam kalimat, “melakukan apa yang
di mata Tuhan”(I Raj.15 : 11)
Banyaknya penekanan dalam Kitab ini, peda
pelayanan nabi Elia dan Elisa yang berfungsi
sebagai penghubung antara periode yang
terdahulu dan periode nabi.
Penulisan memberikan tekanan kepada kerajaan
Selatan sebagai kerajaan yang “benar” sesuai
dengan janji kepada Daud, tetapi juga bagi
pelanggaran-pelanggaran mereka.
Kitab ini juga menjelaskan tentang pembuangan
ke Babel sebagai penghukuman Allah atas bangsa
Israel yang tidak taat.
Analisis kitab Raja-raja
  I.KERAJAAN KESATUAN ( I RAJ 1:1-
              11:143)
a. Tahun terakhir pemerintahan Daud

Pada masa akhir pemerintahan Daud atau pada masa tuanya, Daud mengalami
kemerosotan baik secara fisik maupun dalam kebijakan-kebijakan pada
pemerintahannya.
Kondisi atau situasi ini dipakai oleh orang-orang disekitar Daud untuk mencari
keuntungan pribadi maupun kelompoknya.
Pada masa itu terjadi kelompok-kelompok “suksesi”( sebagai penerus atau
pengganti raja Daud) dengan masing-masing calon dari anak-anak Daud.
Perebutan kekuasaan atas tahta Daud tidak dapat dihindari.
Kelompok-kelompok itu dapat digambarkan sebagai berikut :

Yoab (Panglima Perang) + Abyatar (Imam Besar)  Adonai
VS
Natan (nabi) + Zadok (Imam Besar)  Salomo
B. Pemerintahan Salomo

  Tindakan yang dilakukan oleh Salomo pada awal pemerintahannya
  ialah pemusnahan musuh-musuhnya (Adonai, Abyatar dan Yoab),
  termasuk msuh-musuh ayahnya Daud (Simei). Salomo juga
  melaksanakan kebaktian dalam skala nasional bagi seluruh bangsa
  Israel di Gibeon dimana ia mendapat penyataan dari Tuhan Salomo
  memilih untuk meminta hikmat kepada Allah, atas pilihan yang
  ditawarkan kepadanya oleh Allah sendiri. Bahkan Allah memberikan
  segala sesuatu yang tidak diminta oleh Salomo.
Salomo menjadi seorang raja Israel yang
paling berhikmat dan memiliki banyak
kekayaan diseluruh wilayah kekuasaannya.
Salomo menjadi seorang raja yang sangat
terkenal bukan saja di wilayah kekuasaannya,
tetapi bagibangsa-bangsa disekitarnya.
c. Pembangunan Bait Allah

Pembangunan Bait allah, merupakan salah satu proyek raksasa yang
dilakukan oleh Salom, sebagai penggenapan janji Allah kepada ayahnya
Daud. Proyek pembangunan Allah ini mendapat dukungan financial
(bahan-bahan dan tenaga kerja) dari raja Tirus (Hiram).
Pembangunan bait Allah merupakan lanjutan dari pekerjaan Daud untuk
menjadikan Bait Allah di Yerusalem sebagai pusat ibadah bagi seluruh
bangsa Israel.
Pembangunan Bait Allah itu diselesaikan dalam waktu kurang lebih tujuh
tahun (6:37-38).
Bait Allah itu ditahbiskan oleh Salomo bersama seluruh bangsa Israel
dengan suatu perayaan yang sangat meriah selama tujuh hari (8:65-66)
Allah menyatakn diri kepada Salomo untuk
kedua kalinya yang menyatakan janji Allah atas
kerajaannya seperti yang telah dijanjikan oleh
Allah kepada Daud ayahnya.
Janji Allah baik terhadap Daud maupun
Salomo tetap, bahwa kelangsungan
kerajaannya tergantung kepada ketaatan
terhadap firman Allah.
d. Kejatuhan Raja Salomo

  Pentahbisan Bait Allah dan Penyataan Allah yang kedua kepada
  Salomo merupakan puncak dari kejayaan Salomo baik bagi Israel
  secara khusus maupun kepada bangsa-bangsa di sekitarnya.
  Disisi yang lain, keberhasilan Salomo merupakan ancaman dan awal
  kejatuhannya. Pergaulan Salomo dengan bangsa-bangsa lain
  sebagai usaha untuk memperkokoh kerjaaannya pada akhirnya
  menjadi jerat yang tidak disadarinya.
  Perkawinan demi perkawinan dengan wanita-wanita bangsa lain
  telah menjerat hatinya terhadap ilah-ilah lain.
Salomo juga membangun “bukit-bukit pengorbanan” atas bujukan
istrinya (11:7-8)
Tempat penyembahan kepada dewa-dewa Molokh.
Bukit-bukit pengorbanan itu bukan hanya tempat ibadah yang
bersifat pribadi bagi istri-istrinya tetapi juga menjadi tempat bagi
para pendatang yang berada di Israel

     Kejatuhan Salomo yang telah meninggalkan kasih setia Tuhan
juga disebabkan munculnya pergolakkan-pergolakkan dari
kelompok-kelompok tertentu dari dalam negri (Yerobeam) maupun
dinegri-negri yang di taklukan oleh Salomo (Edom,Rezon). Salomo
mati setelah memetintah atas seluruh Israel selama 40 tahun.
II. KERAJAAN YANG TERPECAH( I RAJ
      12-11 RAJ :25;II TAW 9-36 )


Kerajaan Israel terpecah menjadi dua :
kerajaan utara (Israel : ibu kota Samaria) dan
kerajaan Selatan ( Yehuda: ibu kota Yerusalem)
(Lihat daftar raja-raja Israel dan Yehuda)
           Hal-hal yang perlu dicatat dari seluruh raja-raja yang memerintah di Israel maupun di
     Yehuda :
1.     Keadaan kedua kerajaan ada dalam situasi perang

2.   Raja-raja melakukakn yang jahat dimata Tuhan, kecuali Yoas, Amazia, Uzia, Yosia (Raja Yehuda.
3    Yerobeam, dipiih atas nubuat Allah (11:29-38), tetapi ia tidak mentaati Firman Allah.
     Tetapi karna ketakutannya terhadap rakyatyang akan membelot jika ia mengijinkan mereka
     beribadah ke Yerusalem.
     Yerobeam juga membuat dua lembu emas sebagai ilah bagi bangsa Israel.
     Allah menegur Yerobeam melalui seorang nabi yang tidak disebutkan namanya dan oleh nabi Ahia.
     Yerobeam dikalahkan oleh abia raja Israel (II Taw.13:1-13). Iamemerintah selama 22 tahun.

4.   Ahab, merupakan Raja Israel yang terbesar ia memerintah selama 22 tahun.
     Kisah Ahab Terkait dengan Nabi Elia dengan mujijatnya.
        Elia melakukan beberapa mujijat dihadapan Ahab untuk
   mengembalikan iman bangsa Israel kepada Allah.
   Mujijat-mujijat itu antara lain :
1. Kekeringan selama tiga tahun  hujan atas doa Elia
2. Berperang dengan 450 nabi Baal di gunung Karmel

       II Raja-Raja dimulai dengan kisah pengangkatan Elia ke Sorga
  dan diakhiri dengan pembuangan bangsa Israel (kerajaan
  Selatan/Yehuda ke Babel).
  Dalam dua Raja-Rajan juga dijelaskan tentang kisah nabi Elisa
  sebagai murid dari nabi Elia.
  Dalam perikop ini (Pasal 2:19-6:7) dicatat berbagai mujijat yang
  dilakukan oleh Elisa
  Pasal 17  pembuangan 10 suku Israel ke Asyur
  (722 BC)

   I Raja-Raja 17, merupakan masa akhir dari
   kerajaan Israel, Allah menghukum mereka melalui
   bangsa Asyur Terjadi dalam dua face :
1. Penawanan 2 ½ suku ( Ruben, Gad, ½ suku
   manasye) ditawan lebih dahulu (I Taw. 5:25-26)
2. Penawanan suku yang lain dilakukan 13 tahun
   kemudian
Pembuangan bangsa Israel ke Asyur tidak pernah kembali dan
menjadi 10 suku yang hilang, tetapi pembuangan bangsa Israel
(Yahudi) ke babel pada tahun-tahun berikutnya mengalami
pemulangan.
Kerajaan Yehuda(dua suku) menjadi penerus bagi sejarah Israel


Pasal 18-25 merupakan akhir dari kerajaan Selatan (Yehuda) yang
dibuang ke babel.

Pasal-pasal ini menjelaskan tentang 8 raja yang masih memerintah
sebelum kerajaan Yehuda dihancurkan yaitu dari Hizkia s/d Zedekia
I TAWARIK
              PENDAHULUAN

     Dalam Alkitab, Tawarikh dibagi kedalam dua kitab,
namun dalam kitab Ibrani kedua kitab ini hanya merupakan
satu kitab.
Pembagian kitab ini kedalam dua kitab terjadi dalamproses
penterjemahan kedalam bahasa Yunani (Septuaginta).
Dalam bahasa Ibrani kitab ini terdiri atas vocal saja,
sedangkan bahasa Yunani ditambah konsonan, sehingga
kitab ini memiliki kosa kata yang sangat panjang.
Dengan alasan inilah maka kitab Tawarikh dibagi kedalam
dua kitab.
Dalam Matius 23:35, Tuhan Yesus memberikan pembagian kanon
Ibrani yang dimulai dari kematian Habel ( kitab Kejadian) sampai
dengan kematian imam Zakaria (kitab Tawarikh).
Pembagian ini tentu berbeda dengan pembagian kanon Protestan
seperti yang kita pahami saat ini yang mengakui versi Septuaginta.
     Sangat patut disayangkan, Gereja Kristen banyak yang
menganggap kitab ini hanya sebagai tambahan bagi kitab Raja-Raja
maupun kitab Samuel.
Kitab Tawarikh memiliki banyak parallel dengan kitab Samuel dan
Raja-Raja,tetapi kitab ini memiliki isi dan berita khusus yang
berbeda dengan kedua kitab tersebut di atas
    Nama dalam kitab Tawarikh
Dalam bahasa Ibrani kitab ini dapat berarti catatan
harian.
Dalam bahsa Ibrani “dibre hayyamim” (persoalan
sehari-hari) yang dianggap sejarah.
Hal ini sesuai dengan isi kitab yang menjelaskan
catatan yang dianggap penting dalam sejarah bangsa
Septuaginta disebut dengan “paraleipomenon” yang
berarti “segala sesuatu yang tertinggal”, hal ini sesuia
dengan isi kitab Tawarikh yang dianggap sebagai
pelengkap baik bagi kitab Samuel maupun bagi kitab
Raja-Raja.
                   Penulis

Menurut tradisi kitab ini di tulis oleh Ezra,
meskipun dalam litab tidak ada suatu
keterangan tentang penulis.
          Beberapa pertimbangan yang dapat ditemukan sebagai
     pendukung kitab I II Tawarikh ditulis oleh orang yang sama dengan
     penulis kitab Ezra dan Nehemia antara lain :
1.   Setelah kitab I II Tawarikh berakhir, dilanjutkan dengan kitab Ezra.
     Dua ayat terakhir dalam II Tawarikh, 36:22-23 (tentang keputusan
     Raja koresy) diulangi pada Ezra 1:1-3a.
2.   Dalam kitab Aphokryp (1 Edrash) yang mencakup isi dari I II
     Tawarikh, juga dilanjutkan dengan seluruh kitab Ezra dan diakhiri
     dengan Nehemia 7:38-8:12.
3.   Terdapat persamaan gaya bahasa dan perbendaharaan kata
     diantara dua kitab.
4.   Kedua kitab ini merupakan hasil karya pasca pembuangan di Babel,
     sehingga keduanya sangat menekankan tentang ibadah, jabatan-
     jabatan Imam dan silsilah sebagai kesinambungan generasi sebelum
     pembuangan kepada generasi sesudah pembuangan
Pertimbangan-pertimbangan tersebut diatas
tentu tidaklah secara otomatis menjadi bukti
yang dapat kita pakai untuk menyimpulkan
tentang penulis yang sama antara I II Tawarikh
dengan kitab Era-Nehemia.
Didalam kedua kitab ini pun ada banyak
perberdaan-perbedaan baik bersifat umum
maupun yang bersifat teologis, sesuai dengan
konteks masing-masing kitab.
          Waktu penulisan
Kitab ini ditulis sesudah kembali dari
pembuangan Babel ( I Taw. 6:15, 9:1,II
Taw.36:23)
           Cara Penulisan

Kitab ini ditulis dengan memakai berbagai
sumber atau melalui dokumen-dokumen
sejarah ( II Taw. 9:29, 13:22, 20:34)
                       Bentuk sastra

            Kitab Tawarikh memiliki bentuk sastra yang sangat luas.
     Dari sekian banyak bentuk sastra yang terdapat dalam kitab
     Tawarikh, dapat disimpulkan dalam empat kategori :
1.   Silsilah (1-8)
2.   Daftar-daftar (9:3-23, 11:10-17,12)
3.   Perkataan-perkataan/pidato-pidato,kothbah-kothbah dan doa-doa
4.   Berbagai bentuk sastra yang merupakan kutipan-kutipan dari kitab
     Samuel dan Raja-Raja.
     Kutipan-kutipan ini dapat dilihat secara hafiah, tetapi juga ada
     bagian-bagian yang diperluas, dikurangi atau dimodifikasi dalam
     bentuknya.
     (tiap bagian akan dijelaskan secara terperinci)
     Sumber penulisan kitab Tawarikh

           Dalam kitab ini dijelaskan berbagai sumber yang dipakai
     penulis dalam menulis kitabnya.
1.   Kitab tentang Raja-Raja Yehuda dan Raja-Raja Israel ( II Tawarikh
     16:11)
2.   Laporan-laporan tentang Nubuatan (“Ido pelihat” II Tawarikh 12:15)
3.   Sumber-sumber dari kitab Raja-Raja ( I Raj. 13:29, I Raj. 15:23, bnd.
     II Taw. 12:15 dan II Taw. 16:11)
4.   Surat-surat dan dokumen-dokumen resmi (I Taw. 28:11-12, II Taw.
     32 : 17-20, 56:22-23)
5.   Penulisan-para Nabi (I Taw. 29:29) dan lain-lain
     Sejarah kitab Tawarikh diragukan oleh para
Sarjana Alkitab Moderen oleh karna kitab ini
tidak fair dalam menyajikan materi yang diambil
dari kitab Samuel maupun kitab Raja-Raja.
Penulis dianggap mengubah berita-berita yang
juga terdapat dalam kitab lain sehingga memiliki
isi yang sangat berbede ( seperti penekanan
kepada kebaikan raja-raja tanpa mengekspos
Dosa-dosa mereka).
         Penulis dengan bebas mengubah atau menambah sumber-sumber
   yang dikutip dari Samuel dan Raja-Raja.
   Disamping itu , banyak terdapat perbedaan-perbedaan antara laporan
   Tawarikh dengan kitab Samuel maupun kitab Raja-Raja. (lihat lampiran)
   Perbedaan perbedaan ini tidak dapat menjelaskan ketidaksasihan sejarah
   Tawarikh.
   Perbedaan ini dapat dijelaskan :
1. Penulis Tawarikh memakai prinsip selektivitas untuk tujuan tertentu.
2. Penulis Tawarikh tidak langsung memakai sumber dari Samuel maupun
   Raja-Raja, tetapi memakai sumber dari luar Alkitab yang juga dipakai oleh
   kedua kitab itu.
3. Kemungkinan yang lain dalam menjelaskan perbedaan itu adalah
   terjadinya kesalahan juru tulis (II Raj. 24:8; II Taw. 36:9)
        Perbedaan-perbedaan angka yang terdapat
   dalam kitab Tawarikh -Raja-Raja dan Samuel
   antara lain :
1. Samuel 10:18 = 700 orang pengendara kuda  I
   Taw.19:18 = 7000 orang infantri
2. II Taw.36:9 = Usia Yoyakim 8 tahun ketika ia
   menjadi raja  II Raj.24:8 = 18tahun
3.I Raja-Raja 4:26 = Salomo membangun 40000 istal
   kuda  II Taw. 9:25 = 400 istal
4.I Taw. 11:11 = Yasobam membunuh 300 musuh 
   II Sam : 8 = membunuh 800 mus
Hal-hal ini timbul karena :
Kesulitan-kesulitan menyalin bilangan-bilangan pada salinan
Kadang-kadang tanda 0 dikurangi atau ditambah penyalin

Perbedaan antara catatan yang terdapat dalam kitab Tawarikh
dengan kitab Samuel terdapat pada teks yang banyak
diperdebatkan sampai saat ini adalah sebagai berikut :
I Tawarikh 21:1
Iblis bangkit melawan Israel Dan membujuk Daud untuk
menghitung orang Israel
II Samuel 24:1 bangkitlah murka Tuhan terhadap orang Israel :Ia
menghasut Daud melawan mereka” pergilah” hitunglah orang Israel
dan Yeuda
      Dalam kitab Tawarikh, Iblislah yang mendorong Daud untuk
melakukan sensus, dalam kitab Samuel, Allah sendiri yang mendorong
daud untunk menghitung jumlah oran Israel.
Jawab :
1.Jawaban yang paling umum yang pernah diberikan kepada perbedaan ini
ialah, bahwa Allah membiarkan orang-orang yang dikasihinya untunk
melakukan apa yang mereka inginkan, meskipun dihadapan Allah itu tidak
baik.
Contoh : kisah dalam Rm.1:21-22 dan IITes.2:8-16, supaya mereka
merasakan akibatnya, merekan akan kembali mencari Allah.
      Sama halnya dengan Daud, setelah memiliki perlengkapan perang
yang besar ia perlu didasarkan untuk tetap bergantung kepada Allah dan
bukan kepada perlengkapan atau kekuatannya sendiri.
Hal inilah yang menyebabkan mengapa Allah mengijinkan Iblis mendorong
Daud untuk melakukan sensus, dengan demikian dua perikop tersebut
tidak bertentangan.
2. Penulis Tawarikh menggambarkan betapa besar kehangatan murka Allah yang
   menyebabkan Daud melakukan sensus.
   Istilah Iblis sebenernya dapat diterjemahkan dengan kata lain “musuh atau lain”
   band.
          Za. 3:1-2 juga dalam Bil. 22:22, 32;1 I Sam.29:4; II Sam. 19:22; I Raj. 5:4;
   11:14, 23, 25; I Taw. 21:1 Mzm.109:6 yang diterjemahkan dengan kata “lawan” .
   Band Ayat-ayat berikut ini :
   I Raj.11:14 “kemudian Tuhan membangkitkan seorang “lawan” Salomo
   I Raj.11:23, Allah membangkitkan pula seorang “lawan” Salomo yakni Rezon bin
   Elyada
   I Raj.11:25 Dialah Rezon yang menjadi “lawan” Israel sepanjang umur Salomo
   Hal lain yang perlu diingat bahwa kehangatan murka Allah terhadap seseorang
   dapat menyebabkan munculnya seorang musuh bagi orang tersebut (Bil. 22:22;
   baca khusus Hakim 2:14, 20; 3:8; 10:7; II Raj. 13:3; 23:26)
Kedua teks tersebut dapat diterjemahkan
sebagai berikut :

Musuh bangkit Melawan Israel Dan
menyebabkan Daud melakukan sensus atas
orang Israel.
Amarah Tuhan kembali berkobar melawan
Israel dan ia menyebabkan Daud melawan
mereka, dan berkata:
           Pembagian kitab Tawarikh
1. Silsilah (1-9)
   Melalui silsilah ini penulis kitab Tawarikh ingin menjelaskan siapa bangsa pilihan
   Allah itu.
   Penulis kitab Tawarikh dengan teliti menjelaskan silsilah bangsa Israel seperti
   sebatang pohon besar yang memiliki akar dan cabang-cabangnya.
   Dengan teliti ia menyatakan cabang mana yang meneruskan berkat Allah, dan
   cabang mana yang keriting.
          Akar : Adam dan Hawa, dari situ timbul tiga cabang yaitu Sem, Ham, Yafet.
   Berkat diteruskan melalui Sem (1:17), Abraham (1:27), Ishak (1:28), Israel/Yakub
   (1:34, Yehuda (2:3), Isai (2:12), Daud (2:15),


   Pasal 3. Memuat daftar nama-nama raja Yehuda
   Pasal 4-8:1, memuat silsilah umum untuk 11 suku yang lain
   Pasal 9:2-34, memuat daftar penduduk Yerusalemsesudah kembali dari
   pembuangan
         Silsilah-silsilah dalam kitab Tawarikh dapat
   dikategorikan sebagai berikut:
1. Silsilah Linear : silsilah yang bersifat mendalam (I Taw.
   3:10), silsilah ini dijelaskan tidak lebih dari 4-5 generasi
2. Silsilah berkelompok : silsilah yang dibahas secara
   meluas (I Taw. 21:1)
3. Silsilah menurun : silsilah yang ditelusuri dari orangtua
   ke anak (ITaw. 9:39-44 band.silsilah Tuhan Yesus dalam
   Mat. 1:1-16)
4. Silsilah menaik : silsilah yang ditelusuri dari anak ke
   orang tua (I Taw. 9:14-16 band. Silsiilah Tuhan Yesus
   dalam Luk. 3:23-27)
     Tujuan pemakaian silsilah dalam perjanjian lama, secara khusus dalam
     konteks Tawarikh :
1.   Silsilah bangsa Israel dapat menunjukan hubungan bangsa Israel dengan
     bangsa-bangsa lain dan juga sekaligus menunjukan perbedaan bangsa
     Israel dengan bangsa-bangsa lain
2.   Untuk menjabatani kensenjangan-kesenjangan sejarah dalam periode
     sejarah bangsa Israel yang disebabkan peristiwa-peristiwa penting (missal,
     Air bah , peperangan-peperangan, hukuman Allah, pembuangan dan lain-
     lain)
3.   Untuk melakukan fungsi kronologis, seperti menetapkan peristiwa-
     peristiwa makro
4.   Untuk memberikan legitimasi kepada seseorang, missal : keturunan Musa
5.   Untuk memperkokoh dan mempertahankan kesatuan masyarakat Israel
6.   Untuk memajukan kesinambungan hidup umat Allah, ketika terjadi
     bencana besar mereka tetap terpelihara meskipun dalam pengasihan
      Pemerintahan Daud (10-29)
• Pasal 10, merupakan peliharaan, yang menceritakan
  tentang kematian Saul raja Israel yang pertama
• Pasal 11,12 Daud dan pemerintahannya
• Pasal 13,16 Tabut Allah dibawa Daud ke Yerusalem
• Pasal 17 Perjanjian Allah dengan Israel ( khususnya Yehuda)
  dan keluarga Daud
• Pasal 18-20, perjanjian Allah ditandai dengan berkat-berkat
  jasmani dan kemenangan-kemenangan
• Pasal 21 kejatuhan Daud, secara khusus tentang
  penghitungan Daud terhadap kekuatan bangsanya
• Pasal 22-29,persiapan-persiapan Daud untuk membangun
  Bait Allah dan sekaligus penekanan khusus dalam kitab
  Tawarikh
II. TAWARIKH
           I.Pembagian kitab
a. Pemerintahan Raja Salomo (1-9)
• Pilihannya : hikmat Allah (1)
• Usahanya : pembangunan Bait Allah (2-7)
• Kemuliaannya : pemberian Allah (8-9)
b. Sejarah kerajaan Yehuda-pembuangan ke
   Babel (10-36)
• Perpecahan (10)
• Pemerintahan 20 orang raja Yehuda ( 11-
   36:14)
• Pembuangan ke Babel (36:15-23)
     Pokok-pokok penting dalam kitab
               Tawarikh
a. Ibadah
    Ibadah merupakan salah satu berita dari kitab Tawarikh khususnya
    pada masa pasca pembuangan.
    Ibadah terdiri atas Ibadah yang bersifat Individual, atau bersifat
    kolektif dalam arti bersama (II Taw. 31:20-21, I Taw. 15:29). Ibadah
    itu dilakukan sesuai dengan ketetapan (kalender) yang berlaku.
    Ibadah itu dilakukan sebagai respon terhadap Allah.

  Penulis kitab Tawarikh menjelaskan landasan Ibadah bangsa Israel
  yang di dasarkan kepada dua aspek :
• Sikap takut akan Tuhan (II Taw.6:31-33)
• Sebagai tanggapan terhadap kasih Allah (I Taw. 28:9, II Taw. 19:9)
Dengan demikian, ibadah Israel merupakan sikap batiniah yang
dinamis dihadapan Allah.
Ibadah itu Nampak dalam tindakan ritual (member
kurban,doa,puasa, dan lain-lain.band.II Taw. 29:12-19, 31-36, 32:13-
27, 34:12, 22-28)
Melalui kitab Tawarikh kita juga dapat melihat ekspresi ibadah
dalam berbagai sikap tubuh yang nampak dalam beribadah
(berlutut, mengangkat tangan, jatuh tersungkur sampai muka ke
tanah)
Dan ungkapan melalui perkataan yang terdengar seperti, puji-
pujian, ucapan syukur, doa yang terdengar, pengakuan-pengakuan
yang dilakukan oleh jemaah. (I Taw. 5:2-7:10), tetapi juga pada
tempat dan waktu yang tidak terbatas (II Taw. 6:12-23).
                      TIPOLOGI
Tipologi (PB : anti tipe)  hubungan antara peristiwa, tempat,
tokoh-tokoh, benda atau gagasan dalam perjanjian Lama yang
memiliki persamaan atau persesuaian dengan Perjanjian Lama
dalam periode yang telah lalu atau yang akan datang maupun
dalam Perjanjian Baru.
      Dalam kitab Tawarikh, (dalam pembangunan Bait Allah), Daud
digambarkan sebagai Musa yang kedua , Daud tidak diijinkan
membangun bait Allah, sama halnya seperti Musa yang tidak
diperkenankan memasuki Tanah perjanjian.
(I Taw. 22:8  Bil 20:2-11). Salomo  Yosua, sebagai pengganti dari
pendahulu mereka untuk menjalankan tugas dari Allah. (I
Taw.22:13, Ul. 31:6)
            C. “SELURUH ISRAEL”
istilah ini merupakan istilah yang sangat dominan dalam kedua kitab ini.
Berdasarkan catatan, dari 105 kali istilah ini dipakai dalam Perjanjian
Lama, 40 kali dipakai dalam kitab Tawarikh (7:8; 9:1, 30;10:1, 3, 16; 11:3,
10, 13; 12:1; 13:4,15 dst)
       Disamping itu, phrase ini dipakai dalam II Taw 10-36 sebanyak 13
kali, yang dalam konteksnya justru menjelaskan peristiwa setelah
kematian Salomo atau terpecahnya kerajaan Israel menjadi dua (kerajaan
utara dan kerajaan selatan).
Dalam pasal 29-36 phrase ini dipakai 5 kali, yang dalam konteksnya justru
menjelaskan peristiwa setelah kejatuhan kerajaan utara.
Dari kedua bagian ini jelaslah bagi kita bahwa secara politis, Israel bukan
lagi Negara kesatuan.
Penulis kitab Tawarikh ingin menunjukkan satu kesatuan bangsa Israel
bahkan setelah jatuhnya kedua kerajaan.
Melalui phraseini, penulis kitab Tawarikh ingin menekankan kesatuan
                  D. DOA
Doa merupakan pokok penting lainnya yang di
catat dalam kitab Tawarik .kedua kitab ini
mencatat doa –doa dari pemimpin atau raja
yang memimpin Israel.Dalam kitab ini ada
lima doa yang di catat:doa Daud ( I Taw 20:5-
17:16-27;I Taw 29:10-19);Doa Salomo ( II Taw
6:12-42); Yosafat ( II Taw 20:5-12); Hizkia ( II
Taw 30:18-19)
                       KITAB EZRA
Pendahuluan
        Kitab Ezra merupakan kesinambungan sejarah yang di catat
  pada akhir kitab II Tawarik. Kitab ini ingin menunjukan penggenapan
  janji Allah yang disampaikan kepada Yeremia ( 29:10-14), untuk
  membawa kembali umat-Nya dari pembuangan ke tanah perjanjian.
  Kisah pemulangan dalam kitab ini merupakan kisah Keluaran yang
  kedua , tetapi kisah ini lebih kecil karena kisah yang pertama yang
  mencakup seluruh bangsa Israel, sedang kisah ini hanya merupakan
  “sisa” yang kembali dari pembuangan.
        Allah tetap bersama-sama dengan umat-Nya meskipun Allah
  telah menghukum mereka dan Allah tetap mengingat perjanjian-
  Nya yang disampaikan kepada nenek moyang mereka. Mereka akan
  dipulihkan setelah mengalami penghukuman. Ezra menghubungkan
  pemulangan pertama dengan pemulangan kedua dari Babel.
  Pemulangan yang pertama dibawah pimpinan Zerubabel dan yang
  kedua ( satu decade kemudian) dibawah pimpinan Ezra.
  Kitab ini dibagi dalam dua bagian al:
• Pembangunan kembali bait Allah ( 1-6 )
• Pembaharuan umat Allah ( 7-10 )
  Kedua bagian ini dipisahkan oleh suatu masa
  yang panjang kurang lebih 58 tahun seperti
  yang dijelaskan dalam kitab Ester.
  Pembangunan bait Allah (1-6)
Raja Koresy ( raja Persia ) yang mengalahkan Babel tahun
539 BC. Mengeluarkan Dekrit bahwa orang – orang Israel
yang ada dipembuangan akan dikembalikan di negeri
mereka.Yesaya sudah menubuatkan hal ini dua abad
sebelumnya, bahwa Bait Allah akan dibangun kembalai dan
menyebutkan nama Koresy sebagai tokoh yang akan
mempelopori pemulangan itu. ( Yes 44:28-45:4)
Dari 2-3 juta penduduk yang ada dipembuangan , hanya
49.897 yang memilih untuk kembali sedangan yang lain
memilih untuk tetap tinggal di Babel daripada harus
kembali ke Yerusalem untuk memperbaiki kota dan Bait
Allah yang rusak.
Zerubabel seorang pemimpin Israel ( keturunan dari
raja Daud memimpin orang yang “sisa” yang tetap setia
untuk kembali ke Yerusalem Orang yang kembali itu
terdiri atas suku Yehuda, Benyamin dan para Lewi .
Suku- suku ini merupakan representative dari sepuluh
suku yang hilang yang tidak pernah kembali.Zerubabel
memenmpatkan prioritas yang tepat, Dia pertama-
tama membangun Altar dan mengadakan peyayaan
yang kudus sebelum ia membengaun bait Allah.
Pondasi bait Allah dibangaun 536 B.C, tetapi
munculnya musuh-musuh menyebabkabn
pembangunan terhenti dari tahun 534-529 BC.
Nabi Hagai dan Zakaria mendorong bangsa Israel untuk
kembali sa saikan melanjutkan pembangunan bait Allah
(5:1-2 ),pembangunan itu kemudian di lanjutkan di bawah
pimpinan Zerubabel dan Yosua ( imam besar).
Tetenai seorang gubernur Persia memprotes pembangunan
itu.dan mendesak agar dihentikan. Tetapi Raja Darius agar
mereka membuka dokomen yang pernah di keluarkan Oleh
Koeresy, sehinnga, sehingga pembangunan ini dapat di
lanjutkan dan dapat di selasaikan tahun 15,15
Factor factor yang mengham bat pembanguanbait Allah
dan tembok Yerusalem dalam kitanbain- baki AL
Pembaharuan umat Allah (7-10)

Jumlah yang lebih kecil yang kembali dari
pembuangan yang dipimpin Ezra pada tahun 457
bc. 81 tahun sesudah pemulangan yang pertama
dibawah pimpinan Zerubabel .Imam Ezra di beri
otoritas oleh raja Arthasastra I untuk membawa
umat kembali dari pembuangan yang disertai
dengan pemberian –pemberian sebagai bahan
atau perbekalan dalam pembangunan bait Allah
di Yerusalem.
Allah melindungi perjalanan dan pemberian – pemberian uamt ini yang
mereka terima dari bangsa Persia sampai ke Yerusalem. Rombongan ini
paling tidak menempuh jarak kurang lebih 2000 mil. Dalam rombongan itu
banyak terdapat banyak imam tetapi sedikit Lewi yang kembali dengan
Zerubabel dan Ezra ( 2:36-42, 8:15-19 ). Allah memakai Ezra untuk
membangun spiritual dan moral bangsa Israel. Ezra sungguh – sungguh
mendoakan bangsa itu, ketika ia menemukan bahwa banyak dari umat itu
( termasuk para imam) yang mengawini perempuan – perempuan dari
bangsa kafir ( 2:36-42,8:15-19).
      Selama kurang lebih 58 tahun masa antara Ezra 6 dan Ezra 7, bangsa
Israel mengalami kemunduran rohani dan Ezra berusaha membangkitkan
mereka.Umat Allah meresponi teguran Ezra dan segera membuat janji di
hadapan Allah.bahwa mereka akan hidup di hadapan Allah sesuai Firman.
Respond an pengakuan terhadap firman Allah melahirkan suatu
kebangunan rohani yang besar bagi umat Allah.
                 Nama kitab

Ezra berasal dari bahasa Aram yang dalam bahasa ibr
“Ezer” yang dapat berarti:” penolong” atau “Yahwe “
penolong. Nehemia dan Ezra pada mulanya merupakan
satu kitab, tetapi di bagi dalam dua kitab dalam proses
penterjemahan ke dalam bahasa Yunani( Septuaginta).
Kitab Tawarikh,Ezra, dan Nehemia merupakan satu
kesatuan sejarah yang berkesinambungan dalam
sejarah bangsa Israel. Dalam Septuaginta kitab ini
diberi nama Esdras Deuton atau Esdras kedua ( nama
kitab Apokrypha).
                  Penulis

Meskipun tidak di sebutkan secara spesifik,
tetapi Ezra merupakan kandidat yang paling
tepat sebagai penulis dari kitab ini. Tradisi
Yahudi menghubungkan kitab Ezra dan
bagian-bagiannya ( 7:28-9:15 ) kepada Ezra
sebagai penulis. Banyak data dan penjelasan-
penjelasan dalam kitab ini yang sangat dikenal
oleh penulis sebagai saksi mata dari peristiwa-
peristiwa merupakan yang ditulisnya sampai
kepada akhir kitab ini.
Seperti dalam kitab Tawarik, dalam kitab ini terdapat
suatu penekanan terhadap iman. Ezra adalah seorang
imam dari keturunan imam Harun( melalui Elieser,
Phinehas dan Zadok ( 7:1-5 ). Dia mempelajari
,mengajarkan dan mempraktekan hukum-hukum Tuhan
( 7:10-12 ). Dia juga memiliki akses kepada
perpustakaan dokumen – dokumen tertulis seperti
yang terdapat dalam kitab Tawarik.Ezra tidak
mempersoalkan untuk memakai bahan – bahan
tersebut dalam menulis Ezra 1-6 sebagaimana ia
menulis dalam Tawarik. Beberapa orang beranggapan
bahwa kitab ini disusun oleh Ezra berdasarkan catatan
pribadi Nehemia.
Ezra merupakan seorang figur atau tokoh yang takut
akan Tuhan , yang memiliki iman kepada Tuhan,
memiliki integritas moral dan menjauhkan kejahatan.
Dia sejaman dengan Nehemia ( Neh 8:1-9, 12:36) yang
tiba di Yerusalem pada tahun 444 BC.
     Tradisi berpegang bahwa Ezra mer upakan founder
di Sinagoge dimana kanon perjanjian lama disusun. Dia
juga dianggap sebagai kolektor yang menyusun kitab-
kitab ke dalam satu kitab. Ezra juga mengorganisir
bentuk – bentuk ibadah di Sinagoge
    Tanggal dan tempat peristiwa
Tabel hal 105

  Koresy mengalahkan Babel Persia tahun 539 BC dan
  mengeluarkan dekrit untuk mengembalikan bangsa
  Israel dari pembuangan tahun 538 BC.70 tahun bagi
  pembuangan seperti yang di nubuatkan oleh Yeremia
  dihitung dari tahun 606BC ( bukan tahun 586 BC) yaitu
  ketika bangsa Israel di deportasi pertama ke
  Babel.Pekerjaan Allah tidak di lanjutkan setelah 534BC .
  pekerjaan itu dimulai dengan pemerintahan Koresy dan
  berakhir di bawah pemerintahan Darius I. Dua raja
  lain yaitu Cambyses dan Smedis tidak disebutkan.
Nabi Hagai dan Zakaria melayani selama masa
Zerubabel , kira- kira 520 BC.Kisah Ester terdapat
dalama pemerintahan Xerxes dan Ezra melayani
selama masa pemerintaha Arthasasta I sebagai,mana
juga dalam nehemia.
    Bangsa Israel mengalami masa deportasi ke Babel
dalam tiga gelombang ( 606, 592, 586) dan tiga
gelombang pemulangan antara lain dibawah pimpinan
Zerubabel( 538 Bc), dibawah pimpinan Ezra ( 457 BC)
dan dibawah pimpinan Nehemia ( 444BC).Ezra
kemungkinan menulis kitab ini antara tahun 457 BC(
peristiwa dalam pasal 7-10 dan 444BC
KITAB NEHEMIA
               Kitab Ester
Kitab Ester adalah sebuah melodrama Kitab
ini dibacakan pada perayaan Purim (sekitar
bulan Maret) Dalam kitab ini nama Allah atau
pun nama YHWH tidak disebutkan. Namun,
itu tidak berarti bahwa tidak ada pimpinan
Tuhan di dalam kitab ini. Kejadian yang ada di
dalam kitab ini berlokasi di Susa,
ibukota Persia, pada musim dingin.
Kemungkinan besar kitab ini ditulis di Persia
setelah abad ke 5 SM.
• Kitab ini menceritakan perkawinan seorang
  perempuan Israel yang
  bernama Hadasa (mengganti namanya dengan
  nama Persia, Ester) dengan
  raja Ahasyweros. Ester terpilih menjadi
  seorang permaisuri menggantikan
  ratu Wasti yang dipecat karena berani
  membantah perintah dan mempermalukan
  raja Ahasyweros di hadapan tamu-tamunya.
Ester kemudian menjadi permaisuri di Kerajaan Persia.
Suatu ketika muncullah masalah ketika Haman, seorang
pejabat tinggi yang baru saja dinaikkan pangkatnya
membuat ulah. Haman mengeluarkan perintah agar semua
orang berlutut dan sujud kepadanya setiap kali ia lewat.
Perintah ini memberatkan orang Yahudi yang karena
agamanya hanya bersedia sujud kepada Tuhan. Salah
seorang Yahudi yang terkenal berani berbuat demikian
adalah Mordekhai, saudara Ester.
Haman sangat murka menyaksikan pembangkangan ini. Ia
menyusun muslihat untuk memusnahkan orang Yahudi.
Namun berkat pertolongan Ester, bangsa Yahudi berhasil
selamat dari rancangan itu. Bahkan akhirnya justru
Hamanlah yang menemukan ajalnya di tiang gantungan.
• kisah Ester
• Kitab Ester adalah kisah tentang orang Yahudi yang tinggal
  di kerajaan Persia dulu pada waktu Raja Ahasyweros. Mereka
  diselamatkan waktu ada rencana memusnahkan mereka. Peristiwa
  dalam kisah ini terjadi di kota Susa, salah satu kota penting di
  kerajaan Persia. Orang Yahudi yang tinggal di situ dan di beberapa
  daerah lain di kerajaan itu, adalah keturunan dari orang Yahudi yang
  dibuang ke Babilon beberapa tahun sebelumnya. Waktu orang
  Yahudi itu mendapat kesempatan untuk kembali ke tanah asal
  mereka, beberapa dari mereka memilih untuk tinggal di Babilon.
  Sesudah itu, Babilon menjadi bagian dari kerajaan Persia. Orang
  Yahudi tidak bercampur baur dengan suku lain di kerajaan itu dan
  mempertahankan adat, budaya, dan agama mereka. Karena itu,
  banyak orang lain membenci mereka
Kisah ini menceritakan seorang pejabat Persia yang
bernama Haman menjadi marah dengan seorang Yahudi yang
bernama Mordekhai. Akibatnya, Haman membuat rencana
membunuh semua orang Yahudi yang tinggal di kerajaan itu. Tuhan
menyelamatkan orang Yahudi melalui seorang wanita Yahudi yang
dipilih oleh Raja Ahasyweros menjadi istrinya dan ratu baru. Nama
wanita itu adalah Ester. Pada akhir kisah ini, Haman dibunuh dan
orang Yahudi diselamatkan, musuh mereka dimusnahkan dan
Mordekhai menjadi pejabat tertinggi di kerajaan itu, hanya raja
sendiri yang lebih tinggi. Semua orang Yahudi di seluruh kerajaan
Persia merayakan keselamatan yang ajaib itu. Sampai sekarang
orang Yahudi masih merayakan peristiwa ini tiap tahun pada Hari
Raya Purim. Purim jatuh sekitar satu bulan sebelum Paskah Yahudi.
Tiap kali orang Yahudi disiksa dan dianiaya, kisah ini memberi
harapan bahwa Tuhan akan menolong mereka
         Penulis dan tanggal


Gulungan kitab Ester (Megillah)
Tidak diketahui siapa yang menulis Kitab Ester ini,
tetapi diperkirakan seorang Yahudi yang tinggal di
kerajaan Persia, karena jelas si penulis itu tahu
adat dan kebiasaan Persia; dan tidak disebut
sama sekali tentang tanah Yudea atau kota
Yerusalem. Paling cepat kitab ini ditulis sekitar
tahun 460 SM, tidak lama sesudah peristiwa-
peristiwa ini terjadi.
               Latar belakang

Perjamuan antara Haman, Ester, dan Raja Ahasyweros
oleh Rembrandt (1660)
Pada waktu peristiwa dalam kisah ini terjadi, kerajaan
Persia cukup besar dan kuat. Kerajaan itu meliputi semua
tanah dari India di bagian timur sampai daerah
Etiopia/Sudan di bagian barat Kerajaan itu dibagi 127
propinsi atau wilayah. Memang perlu banyak pejabat dan
petugas pemerintah untuk mengurus daerah yang begitu
luas. Dalam Kitab Ester pejabat itu diberi beberapa jabatan:
misalnya pembesar, pegawai, bangsawan, biduanda, sida-
sida.
Waktu raja ingin mengeluarkan perintah atau titah untuk seluruh
kerajaan titah itu ditulis di kertas yang panjang. Kertas itu digulung
dan ujungnya ditutup dengan lilin yang meleleh. Kemudian raja
memasang segelnya, yaitu dia menekan lilin yang masih lembek itu
dengan cincin yang khusus yang dia selalu pakai. Pola cincin itu
tertinggal di lilin dan menjadi tanda bahwa raja yang mensahkan
surat itu. Segel raja itu adalah seperti tanda tangan yang dipakai di
dokumen dan surat sekarang. Kalau raja memberi cincin itu kepada
orang lain, berarti orang itu juga bisa mengeluarkan titah apa saja
dengan kuasa raja. Sesudah perintah atau titah ditulis, langsung
diterjemahkan ke dalam semua bahasa yang dipakai oleh semua
suku-suku yang ada di kerajaan itu. Beberapa bahasa itu memakai
abjad sendiri, jadi titah itu ditulis menurut abjad tiap bahasa. Lalu
pesuruh naik kuda dan membawa terjemahan titah itu ke setiap
wilayah kerajaan. Kalau raja sudah mengeluarkan titah, titah itu
sama sekali tidak bisa ditarik kembali (Ester 1:18, 8:8).
Berpesta adalah sebagian kehidupan sosial yang
penting untuk raja-raja Persia. Raja sering
membuat perjamuan atau pesta makan besar
untuk pejabatnya dan kadang-kadang juga untuk
masyarakat umum. Kalau banyak orang diundang,
pesta itu diadakan di luar di taman halaman yang
dihiasi khusus untuk pesta itu. Dalam Kitab Ester
ada 10 pesta yang disebut. Peristiwa utama
dalam kitab ini, yaitu Ratu Wasti menolak
perintah raja (Ester 1:12) dan permohonan Ester
kepada raja untuk menyelamatkan orang Yahudi
(Ester 7:2-4), keduanya terjadi pada waktu pesta.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1222
posted:11/10/2011
language:Indonesian
pages:231