Embed
Email

Menyoal Urgensi Mengunjungi Perpustakaan

Document Sample
Menyoal Urgensi Mengunjungi Perpustakaan
Categories
Stats
views:
15
posted:
11/8/2011
language:
Indonesian
pages:
4
Menyoal Urgensi Mengunjungi Perpustakaan

Oleh : H. Kliwon Suyoto.









Pengunjung perpustakaan di Indonesia rendah, demikian judul berita di H.U Analisa edisi 3

Juni 2011. Dikatakan pustakawan Universitas Gadjah Mada, Lasa HS melalui pemberitaan itu,

bahwa pengunjung Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Daerah di seluruh Indonesia relatif

rendah. "Tampaknya membaca dan akses informasi belum dirasakan sebagai kebutuhan sehari-

hari. Hanya 10 hingga 20 persen dari jumlah pengunjung yang datang meminjam buku," katanya.

Benarkah membaca dan akses informasi belum dirasakan sebagai kebutuhan?

Tunggu dulu, lihat dulu siapa yang membuat pernyataan. Pustakawan boleh jadi benar,

tentunya dengan cara pandang terhadap jumlah pengunjung ke perpustakaan. Tapi harus disadari

bahwa perpustakaan era kini sudah mengalami pergeseran paradigma. Perpustakaan tidak dapat

lagi diartikan sebatas sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku dan

terbitan lainnya, yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu dan digunakan pembaca

bukan untuk dijual (Sulistyo, Basuki: 1991).

Sebab era kini membaca aneka informasi untuk memperluas wawasan dan pengetahuan

tidak harus datang ke perpustakaan. Membaca dapat dilakukan dengan "duduk manis" di rumah

atau kantor berinternet, bahkan juga dapat dilakukan tanpa layar monitor, cukup menggunakan

ponsel. Jadi, rendahnya persentase jumlah pengunjung tidak dapat diartikan bahwa membaca dan

akses informasi belum dirasakan sebagai kebutuhan. Kebutuhan itu ada, bahkan cenderung

meningkat, hanya tidak membaca di perpustakaan. Bukankah 95% penduduk Indonesia pengguna

ponsel, membaca di "alam maya".

Aneh tapi nyata, agaknya itulah yang terjadi di kalangan pustakawan. Mereka terkesan

"menutup mata" dengan realita yang terjadi pada era perkembangan teknologi informasi dan

komunikasi (TIK). Silahkan klik tautan ini http://www.pnri.go.id/default.aspx, masuk ke situs milik

perpustakaan nasional. Di sana ada tayangan video yang menayangkan "Iklan Layanan

Masyarakat" atau Public Service Advertising (PSA), yang isinya berupa pesan dan harapan agar

masyarakat memanfaatkan perpustakaan sebagai "cara pinter untuk pinter".

Semua ini menggambarkan betapa kalangan pustakawan sangat "percaya diri" (PD) bahwa

perpustakaan masih menjadi tempat handalan untuk mengakses informasi. Saking PDnya, upaya

"mendongkrak" pengunjung pun dilakukan dengan cara yang terkesan "boros". Misalnya lewat

pembuatan dan penayangan paket PSA yang memerankan sejumlah pelawak kondang seperti Mat

Solar, Dian Pitaloka (Oneng), Tukul Arwana dan Kiwil. Belum lagi penyediaan sarana Perpustakaan

Keliling, yang hampir ada di setiap ibukota Dati II dan Pemko.



Tantangan

"Cara pinter untuk pinter, ya membaca" demikian ending statement PSA Perpustakaan

Nasional yang diperankan Tukul Arwana. Pesan ini benar, walau membaca tentu tidak harus ke

perpustakaan. Berbeda dengan ending statement PSA yang diperankan Mat Solar - Dian Pitaloka

"Perpustakaan, cara pinter buat pinter." Padahal, perpustakaan bukan satu-satunya tempat untuk

mendapatkan bacaan, internet kini lebih berperan multi, sehingga memungkinkan masyarakat

mendapatkan materi bacaan yang lebih leluasa, bahkan dengan cara yang lebih mudah dan

efisien. Tidak sekedar membaca, tetapi juga menyalin dan menyimpan. Lalu, untuk apa membaca

ke perpustakaan?

Fakta ini menjadi tantangan kalangan perpustakaan untuk mengolah informasi hard-copy

yang ada di perpustakaan menjadi soft-copy untuk diunggah (upload) ke situs internet agar dapat

diakses masyarakat secara luas. Apakah hal ini sudah dilakukan, minimal oleh para pihak yang

berkepentingan dengan perpustakaan? Faktanya, ketika kita masuk ke www.pnri.go.id tidak

satupun content yang dapat diakses leluasa. Situs ini lebih terkesan sebagai "pengiklan" aneka

buku, hanya menyajikan resensi buku, yang tidak memberi kesempatan masyarakat luas untuk

memanfaatkannya.

Padahal, perpustakaan nasional sebagai bagian dari instansi pemerintah memiliki tanggung

jawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Harusnya, perpustakaan dapat menjadikan "alam

maya" sebagai perpustakaan on-line secara utuh. Tidak menyajikan informasi sebagian, yang di

balik itu "tersembunyi" harapan agar masyarakat datang ke perpustakaan. Perpustakaan jangan

berharap masyarakat datang ke perpustakaan, tidak harus mengeluh karena persentase

pengunjung hanya 10 – 20 %, juga tidak "membodohi" masyarakat lewat pesan: "Perpustakaan,

cara pinter buat pinter".

Kini bukan zamannya lagi orang datang ke perpustakaan. Ini suatu realita, yang mungkin

terasa pahit bagi praktisi perpustakaan. Tapi ini merupakan tantangan yang harus dihadapi sebagai

konsekuensi dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Walaupun semua ini kelak

berdampak pada nasib sejumlah perpustakaan - PT Balai Pustaka dan Perpustakaan Nasional serta

sejumlah Perpustakaan daerah Provinsi Kabupaten/Kota – namun inilah tantangan yang

mengharapkan para pihak terkait dengan perpustakaan legowo menerimanya.

Perpustakaan "On-line"

Perpustakaan on line saat ini bukanlah hal yang aneh lagi, bahkan sangat mungkin

diwujudkan dengan mengoptimalkan sejumlah website atau situs internet yang telah dimiliki.

Bukankah setiap Pemda - Provinsi, Kabupaten/Kota - saat ini telah memiliki website, yang dapat

diperankan menggantikan fungsi

perpustakaan? Cukup dengan menambahkan "perpustakaan" pada peta situs, diikuti

dengan mengunggah (upload) sejumlah informasi terkait dengan kepustakaan daerah dan dengan

pasti dapat diakses secara luas oleh siapa saja, kapan saja dan dimana saja.

Tidak hanya mengunggah informasi yang didukung dengan soft copy, tetapi juga mengolah

arsip hard copy menjadi soft copy untuk diunggah sebagai muatan perpustakaan pada website

milik Pemda. Kalau saja semua Pemda - Provinsi, Kabupaten/Kota - melakukan hal ini, minimnya

pengunjung perpustakaan tidak perlu dikeluhkan. Bahkan perpustakaan dalam bentuk fisik juga

dapat ditiadakan, yang tentunya akan memberikan manfaat penghematan APBD dan secara

akumulasi juga menghemat APBN, sehingga APBN dapat dialokasikan ke sektor lain, utamanya

sektor pendidikan nasional.

Adanya sejumlah perpustakaan on line Pemda - Provinsi, Kabupaten/Kota - juga dapat

dimanfaatkan www. balai pusta kaonline. com dan www.pnri.go.id untuk memperkaya

perbendaharaan perpustakaan nasional. Kondisi ini semakin memantapkan pandangan bahwa

mengunjungi perpustakaan era kini sudah tidak relevan lagi. Tidak hanya perpustakaan di daerah -

provinsi, Kabupaten/kota - juga perpustakaan di tingkat pusat yang selama ini dikelola oleh

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) dengan www.pnri.go. id sebagai websitenya.

Masalahnya, siapkah para pihak yang terkait dengan perpustakaan ini secara legowo menerima

kenyataan ini?



Dari sejumlah pandangan di atas, hampir dapat dipastikan bahwa eksistensi perpustakaan era kini

telah mengalami pergeseran dari secara fisik - bangunan, ruangan dan jajaran buku - menjadi

secara online. Pergeseran ini di satu sisi menjanjikan sejumlah penghematan anggaran (APBD dan

APBN), di sisi lain menjanjikan aneka kemudahan bagi masyarakat. Berkunjung ke perpustakaan

tidak perlu mendatangi fisik bangunan perpustakaan, cukup dengan mengakses sejumlah website

perpustakaan online. Terlebih ketika Menkominfo mengatakan, bahwa saat ini sudah 95%

masyarakat Indonesia memiliki ponsel. Artinya, minimnya jumlah pengunjung perpustakaan tidak

perlu dikeluhkan lagi.

Masalahnya kapan perpustakaan dapat mempersiapkan website dambaan sebagaimana

dibicarakan sebelumnya? Sebuah website perpustakaan yang menyajikan aneka informasi -

nasional, provinsi, kabupaten/kota - secara menyeluruh. Tidak sebatas informasi pemerintahan,

tetapi juga aneka potensi yang ada di seluruh penjuru nusantara. Perpustakaan online

memungkinkan siapa saja, kapan saja dan dari mana saja dengan mudah, cepat, hemat, praktis,

efektif dan efisien mendapatkan informasi yang dibutuhkan melalui website perpustakaan.

Tentunya tanpa keluhan kalangan pustakawan terhadap fenomena ini, Semoga !!. ***



*Penulis pemerhati masalah sosial dan ekonomi masyarakat tinggal di Tebingtinggi

Sumber:

http://www.analisadaily.com/news/read/2011/11/07/20545/menyoal_urgensi_mengunjungi_per

pustakaan/#.TrnrOHJiiqY

Senin, 07 Nov 2011


Related docs
Other docs by berita Perpust...
Penampilan Prima Pustakawan
Views: 18  |  Downloads: 0
Menyoal Urgensi Mengunjungi Perpustakaan
Views: 15  |  Downloads: 0
By registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!