Docstoc

Kritik untuk Kebijakan Stimulus Ekonomi Indonesia

Document Sample
Kritik untuk Kebijakan Stimulus Ekonomi Indonesia Powered By Docstoc
					        Kritik untuk Kebijakan Stimulus Ekonomi Indonesia


Dalam resesi ekonomi ini dimana pertumbuhan ekonomi Indonesia menurun
dalam kuartal I 2009 dan harga-harga komoditas terutama harga minyak jatuh
merupakan pertanda pemerintah harus melakukan intervensi pasar tidak hanya
tetap waktu tetapi juga tepat sasaran. Dengan rasio hutang Indonesia yang relatif
masih sehat sebagai syarat utama, maka adanya pelaksanaan situlus ekonomi
sehingga membebankan APBN Indonesia sampai defisit 2,5% tahun 2009 ini
adalah hal relatif wajar.


Maka Indonesia harus mengadakan pembangunan di segala bidang terutama
bidang-bidang yang langsung mengena di dalam perekonomian dan mempunyai
dampak berlipat ganda terhadap produktivitas masyarakat. Stimulus ekonomi
haruslah ditekankan pada pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, jembatan,
fasilitas produktivitas masyarakat, fasilitas pengembangan sumber daya manusia
dan stimulus di dalam bidang teknologi. Sehingga ketika krisis sudah selesai,
bangsa kita sudah siap bertarung di zona persaingan ekonomi dengan kekuatan
penuh yang dipersiapkan tahun ini dan juga stimulus ini dapat menggerakkan
pertumbuhan ekonomi secara sementara di dalam periode resesi ekonomi yang
sangat langka ini.


Tetapi nampaknya jalan stimulus di Kantor Menko Perekonomian dan Menteri
Keuangan rada memble nih. Sudah pertengahan tahun tetapi yg jalan masih sangat
sedikit. Birokrasi stimulus antara Depkeu dan K/L harus diperlancar dan
akuntabilitasnya harus dijaga untuk mengatasi hal ini. Harus ada Biro Stimulus
Pembangunan Ekonomi yg berada di bawah Menko Ekonomi dan Menkeu untuk
memudahkan jalannya stimulus ekonomi. Penjalanan stimulus ekonomi Indonesia
harus meniru China dimana efisiensi dan efektivitas sangat berbuah manis dan
dilaksanakan secara kuat pengawasan, tepat waktu, dan tepat guna dalam
menggerakkan ekonomi nasional Indonesia.


                                       1
                           Kekeliruan Kebijakan


Pembangunan di Indonesia berjalan dengan menjadikan pertumbuhan ekonomi
sebagai target yang harus dicapai. Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi
yang tinggi diperlukan investasi yang besar supaya perekonomian dalam negeri
menghasilkan output (produksi) yang semakin bertambah besar dari periode
sebelumnya. Karena keterbatasan tabungan nasional dalam membiayai investasi
(saving-investment gap), maka investasi asing (foreign investment) menjadi
prioritas penanganan pemerintah dalam menggenjot pertumbuhan ekonomi.
Dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, menurut pandangan ini, otomatis
kesempatan kerja semakin terbuka lebar, pendapatan masyarakat meningkat yang
digambarkan dengan terus bertambahnya pendapatan perkapita Indonesia.
Berdasarkan hal tersebut, saya menyoroti tiga macam indikator makro ekonomi,
yaitupertumbuhan ekonomi, pendapatan perkapita dan investasi asing.
Pengukuran pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita di Indonesia
menggunakan Produk Domestik Bruto/PDB (gross domestic product/GDP). PDB
Indonesia adalah nilai barang dan jasa yang dilakukan oleh seluruh faktor
produksi di Indonesia baik yang dimiliki oleh orang Indonesia sendiri maupun
oleh orang asing. Jadi PDB tidak menyangkut siapa yang memiliki faktor
produksi tetapi menyangkut siapapun yang memiliki faktor produksi di wilayah
Indonesia. Sedangkan angka pendapatan perkapita dihasilkan melalui membagi
PDB Indonesia pada suatu periode dengan jumlah penduduk Indonesia.
Investasi asing di Indonesia meliputi dua jenis, yaitu investasi sektor riil atau
biasa juga disebut investasi langsung (foreign direct investment/FDI) misalnya
investasi di sektor industri, pertanian, pertambangan, dan investasi sektor non riil
atau investasi tidak langsung (foreign indirect investment) berupa investasi di
sektor keuangan dan pasar modal (sektor moneter/sektor maya). Besarnya arus
modal asing masuk ke Indonesia, selain menggerakkan roda usaha sektor riil juga
diharapkan dapat memperbesar arus perputaran uang di pasar uang, menambah
kapitalisasi pasar modal/bursa saham Indonesia, serta memperbaiki/menutupi


                                         2
defisit neraca transaksi berjalan Indonesia yang selama ini selalu dialami
Indonesia.
Jika pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita serta arus masuk modal
asing ke Indonesia tinggi, apakah hal itu menggambarkan majunya perekonomian
Indonesia seperti yang biasanya diinginkan pemerintah dan para analis? Belum
tentu!
Tingginya pertumbuhan ekonomi dan meningkatnya pendapatan perkapita belum
menjamin baiknya atau majunya perekonomian nasional apalagi kalau
dihubungkan dengan tingkat kesejahteraan anggota masyarakat. Pertumbuhan
ekonomi yang tinggi di Indonesia sebelum era krisis, tidak menggambarkan
bahwa yang mengalami pertumbuhan adalah unit-unit usaha yang dimiliki oleh
sebagian besar masyarakat Indonesia, justru sebaliknya yang mendorong
pertumbuhan adalah unit-unit usaha yang dimiliki orang asing dan para
konglomerat. Jadi selama ini malah usaha milik orang asing yang ditumbuhkan
pemerintah bukan usaha dalam negeri, bukan pula usaha yang digeluti oleh
sebagian besar masyarakat tetapi usaha yang digeluti oleh para konglomerat.
Begitu pula dengan semakin meningkatnya pendapatan perkapita Indonesia tidak
menunjukkan bahwa meningkatnya pendapatan setiap warga negara Indonesia.
Adalah sungguh naif mengatakan pendapatan perkapita ini sebagai cermin
bertambahnya tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia. Di dalam PDB
terdapat milik orang asing yang kontribusinya cukup besar. Jadi bagaimana
mungkin PDB digunakan sebagai basis menghitung pendapatan perkapita bagi
warga negara Indonesia?
Jumlah yang besar dan terus bertambah dari investasi asing di Indonesia
membuktikanketergantungan yang besar perekonomian dalam negeri terhadap
luar negeri. Ini bukanlah hal yang menggembirakan apalagi bila dihubungkan
dengan kepercayaan luar negeri. Benarkah investasi asing menguntungkan bagi
Indonesia ?
Secara hitungan agregat dari nilai bersih (net) arus masuk modal asing (capital
inflow) ke Indonesia dengan arus pelarian modal ke luar negeri (capital outflow),
ternyata modal asing tidak menambah saving dalam negeri maupun memperbaiki

                                       3
neraca pembayaran Indonesia, tetapi yang terjadi nilainya negatif bagi Indonesia.
Angka-angka neraca pembayaran yang diterbitkan oleh IMF, selama periode
1973-1993, menunjukkan setiap 1 dolar Amerika yang masuk sebagai investasi
asing akan diikuti oleh keluarnya 10,19 dolar Amerika dari Indonesia.Artinya
setiap sekian miliar dolar Amerika investasi asing masuk ke Indonesia akan
diikuti sepuluh kali lipatnya uang yang keluar dari Indonesia
Investasi asing bagi perekonomian riil baik terhadap negara maupun masyarakat
sangat merugikan. Sekarang banyak investasi asing yang memasuki wilayah
publik serta sumber daya alam (SDA). Tentu dengan dikuasainya aset-aset
pelayan publik ataupun industri yang menguasai hajat hidup orang banyak
tersebut, maka pihak asing sangat dominan dalam mengatur supply dan
menentukan harga. Adalah sangat lucu kebijakan pemerintah sekarang dengan
mengupayakan “sekuat-kuatnya” untuk meningkatkan kepercayaan para investor
luar negeri terhadap perekonomian Indonesia agar mereka menanamkan modalnya
di Indonesia.
Kenapa lucu? Karena hal ini sama saja pemerintah menaruh kepercayan kepada
investor luar negeri agar mereka menggorok usaha-usaha ekonomi masyarakat
serta mencekik hak masyarakat terhadap pelayanan publik dan hak akan manfaat
dari sumber daya alam Indonesia. Kenapa harus digugat?
Jelas terlalu percayanya pemerintah dan para analis terhadap indikator makro
ekonomi tersebut, harus digugat. Pertama karena menyebabkan negara ini lalai
dan tidak waspada terhadap bahaya besar yang menimpa negara dan masyarakat
Indonesia. Kedua, kebijakan tersebut secara riil mencerminkan pembangunan
dilakukan untuk pihak asing dan pihak konglomerat dan bukan untuk
masyarakat. Ketiga, supaya     pemerintah      melakukan        kebijakan-kebijakan
pembangunan yang benar-benar bermanfaat bagi setiap individu masyarakat
Indonesia.




                                        4
                                       Solusi


Untuk mengetahui perkembangan pembangunan dan perekonomian, seharusnya
yang diutamakan dan menjadi target adalah indikator-indikator yang lebih
menyentuh     bagaimana     gambaran tingkat     kesejahteraan    masyarakat    yang
sebenarnya. Indikator tersebut misalnya terpenuhi tidaknya kebutuhan-kebutuhan
primer setiap warga negara. Hal ini bukan berarti mengabaikan pertumbuhan
ekonomi, tetapi hanya tidak menjadikannya sebagai target utama dan asas
pembangunan.
Memang untuk menghitung indikator-indikator tersebut dalam kondisi sekarang
cukup sulit, juga perlu definisi dan standar atas indikator tersebut. Tetapi ini harus
diusahakan, agar kita mendapatkan gambaran yang jelas dan riil sehingga
diharapkan kebijakan-kebijakan pemerintah tidak salah arah lagi.




                                          5

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:73
posted:11/8/2011
language:Indonesian
pages:5